Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN :THYPOID

DI RUANG FLAMBOYAN RSUD CIMACAN

Di susun

Oleh

Ahmad Heriawan J.0105.20.076

Asep Subhan J.01.05.20.052

Fitri Nurul Suci J.01.05.20.058

Rohendi J.01.05.20.066

KELAS RSUD CIAMACAN

PROGRAM STUDI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BUDI LUHUR CIMAHI

2020
TYPHOID

A. DEFINISI
Demam tifoid atau Typhoid Fever atau Typhus Abdominalis adalah
penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhii yang merupakan
bakteri gram negatif berbentuk batang yang masuk melalui makanan dan
minuman yang terkontaminasi (Tapan, 2004).
Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi oleh bakteri Salmonella typhii
dan bersifat endemik yang termasuk dalam penyakit menular (Cahyono, 2010).
Demam tifoid adalah infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella
typhii (Elsevier, 2013).
Jadi, demam tifoid merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh
bakteri gram negatif (bakteri Salmonella typhii ) yang menurunkan sistem
pertahanan tubuh dan masuk melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi. Aspek paling penting dari infeksi ini adalah kemungkinan
terjadinya perfusi usus, karena organisme memasuki rongga perut sehingga
menyebabkan timbulnya peritonitis yang mengganas.

B. ETIOLOGI
1. Salmonella typhii
2. S. Paratyphii A, S. Paratyphii B, S. Paratyphii C.
3. S typhii atau S. paratyphii hanya ditemukan pada manusia.
4. Demam bersumber dari makanan-makanan atau air yang dikontaminasi oleh
manusia lainnya.
5. Di USA, kebanyakan kasus demam bersumber baik dari wisatawan
mancanegara atau makanan yang kebanyakan diimpor dari luar.
Salmonella typii, Salmonella paratyphii A, Salmonella Paratyphii B,
Salmonella Paratyphii C merupakan bakteri penyebab demam tifoid yang
mampu menembus dinding usus dan selanjutnya masuk ke dalam saluran
peredaran darah dan menyusup ke dalam sel makrofag manusia. Bakteri ini
masuk melalui air dan makanan yang terkontaminasi dari urin dan feses
yang terinfeksi dengan masa inkubasi 3-25 hari.
Pemulihan mulai terjadi pada minggu ke-empat dalam perjalanan
penyakit. Orang yang pernah menderita demam tifoid akan memperoleh
kekebalan darinya, sekaligus sebagai karier bakteri. Jadi, orang yang pernah
menderita tipus akan menjadi orang yang menularkan tipus pada yang
belum pernah menderita tipus.

C. PATOFISIOLOGI
Bakteri Salmonella typhi bersama makanan/minuman masuk kedalam
tubuh melalui mulut. Pada saat melewati lambung dengan suasana asam (pH <
2) banyak bakteri yang mati. Keadaan-keadaan seperti aklorhidiria,
gastrektomi, pengobatan dengan antagonis reseptor histamin H2, inhibitor
pompa proton atau antasida dalam jumlah besar, akan mengurangi dosis
infeksi. Bakteri yang masih hidup akan mencapai usus halus. Di usus halus,
bakteri melekat pada sel-sel mukosa dan kemudian menginvasi mukosa dan
menembus dinding usus, tepatnya di ileum dan jejunum. Sel-sel M, sel epitel
khusus yang melapisi Peyer’s patch, merupakan tempat internalisasi
Salmonella typhi. Bakteri mencapai folikel limfe usus halus, mengikuti aliran
ke kelenjar limfe mesenterika bahkan ada yang melewati sirkulasi sistemik
sampai ke jaringan RES di organ hati dan limpa. Salmonella typhi mengalami
multiplikasi di dalam sel fagosit mononuklear di dalam folikel limfe, kelenjar
limfe mesenterika, hati dan limfe. (Soedarmo, dkk, 2012).
Setelah melalui periode waktu tertentu (periode inkubasi) yang lamanya
ditentukan oleh jumlah dan virulensi kuman serta respons imun pejamu maka
Salmonella typhi akan keluar dari habitatnya dan melalui duktus torasikus
masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Dengan cara ini organisme dapat mencapai
organ manapun, akan tetapi tempat yang disukai oeh Salmonella typhi adalah
hati, limpa, sumsum tulang belakang, kandung empedu dan Peyer’s patch dari
ileum terminal. Invasi kandung empedu dapat terjadi baik secara langsung dari
darah atau penyebaran retrograd dari empedu. Ekskresi organisme di empedu
dapat menginvasi ulang dinding usus atau dikeluarkan melalui tinja.
Peran endotoksin dalam patogenesis demam tifoid tidak jelas, hal tersebut
terbukti dengan tidak terdeteksinya endotoksindalam sirkulasi penderita
melalui pemeriksaan limulus. Diduga endotoksin dari Salmonella typhi
menstimulasi makrofag di dalam hati, limpa, folikel limfoma usus halus dan
kelenjar limfe mesenterika untuk memproduksi sitokin dan zat-zat lain. Produk
dari makrofag inilah yang dapat menimbulkan nekrosis sel, sistem vaskular
yang tidak stabil, demam, depresi sumsum tulang belakang, kelainan pada
darah dan juga menstimulasi sistem imunologik (Soedarmo, dkk, 2012).
Pada minggu pertama sakit, terjadi hiperplasia plaks Peyer. Ini terjadi pada
kelenjar limfoid usus halus. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu
ketiga terjadi ulserasi plaks Peyer. Pada minggu keempat terjadi penyembuhan
ulkus yang dapat menimbulkan sikatrik. Ulkus dapat menyebabkan perdarahan,
bahkan sampai perforasi usus. Selain itu hepar, kelenjar-kelenjar mesenterial
dan limpa membesar (Suriadi & Rita, 2006).
Komplikasi infeksi dapat terjadi perforasi atau perdarahan. Kuman
Salmonella typhi terutama menyerang jaringan tertentu, yaitu jaringan atau
organ limfoid seperti limpa yang membesar, juga jaringan limfoid di usus kecil
yaitu plak Peyer terserang dan membesar. Membesarnya plak Peyer membuat
jaringan ini menjadi rapuh dan mudah rusak oleh gesekan makanan yang
melaluinya. Inilah yang menyebabkan pasien tifus harus diberikan makanan
lunak, yaitu konsistensi bubur yang melalui liang usus tidak sampai merusak
permukaan plak Peyer ini. Bila tetap rusak, maka dinding usus setempat yang
memang sudah tipis, makin menipis, sehingga pembuluh darah ikut rusak
akibat timbul perdarahan, yang kadang-kadang cukup hebat. Bila berlangsung
terus, ada kemungkinan dinding usus itu tidak tahan dan pecah (perforasi).,
diikuti peritonitis yang dapat berakhir fatal
PATHWAYS

KUMAN SALMONELLA TYPHI, SALMONELLA


PARA TYPHI MASUK KESALURAN CERNA

SEBAGIAN DIMUSNAKHAN ASAM SEBAGIAN MASUK USUS HALUS


LAMBUNG
ILLEUM TERMINALIS
PENINGKATAN ASAM LAMBUNG MEMBENTUK LIMFOID FLAQUE
PEYERI
MUAL MUNTAH

INTAKE KURANG SEBAGIAN HIDUP DAN


MENETAP SEBAGIAN MENEMBUS
LAMINA PROPIA
DISFUNGSI MOTILITAS GASTROINTESTINAL PENDARAHAN
MASUK ALIRAN LIMPE
PERFORASI
MASUK DALAM KELENJAR
PERITONITIS LIMPE MESENTERIAL

NYERI TEKAN MENEMBUS DAN MASUK


ALIRAN DARAH
NYERI AKUT
MASUK DAN BERSARANG
DIHATI DAN LIMPA

HEPATOMEGALI,
SPLENOMEGALI

INFEKSI SALMONELLA
TYPHI,PARA TYPHI &
ENDOTOKSIN

DILEPASNYA ZAT PIROGEN


OLEH LEUKOSIT PADA
JARINGAN YANG MERADANG

HIPERTERMI DEMAM TYPHOID


D. KLASIFIKASI
Menurut WHO (2003), ada 3 macam klasifikasi demam tifoid
dengan perbedaan gejala klinis:
a. Demam tifoid akut non komplikasi
Demam tifoid akut dikarakterisasi dengan adanya demam
berkepanjangan abnormalis fungsi bowel (konstipasi pada pasien
dewasa, dan diare pada anak-anak), sakit kepala, malaise, dan
anoksia. Bentuk bronchitis biasa terjadi pada fase awal penyakit
selama periode demam, sampai 25% penyakit menunjukkan adanya
resespot pada dada, abdomen dan punggung.
b. Demam tifoid dengan komplikasi
Pada demam tifoid akut keadaan mungkin dapat berkembang
menjadi komplikasi parah. Bergantung pada kualitas pengobatan dan
keadaan kliniknya, hingga 10% pasien dapat mengalami komplikasi,
mulai dari melena, perforasi, susu dan peningkatan ketidaknyamanan
abdomen.
c. Keadaan karier
Keadaan karier tifoid terjadi pada 1-5% pasien, tergantung umur
pasien. Karier tifoid bersifat kronis dalam hal sekresi Salmenella
typhi di feses.
(WHO, 2003)

E. MANIFESTASI KLINIK
Manisfestasi klinis dari demam tifoid adalah:
1. Gejala : Inkubasi rata-rata 10-14 hari.
2. Demam meninggi sampai akhir minggu pertama
3. Demam turun pada minggu ke empat, kecuali demam tidak tertangani akan
menyebabkan shock, stupor dan koma.
4. Ruam muncul pada hari ke 7-10 dan bertahan selama 2-3 hari.
5. Nyeri kepala
6. Nyeri perut
7. Kembung
8. Mual, muntah
9. Diare
10. Konstipasi
11. Pusing
12. Nyeri otot
13. Batuk
14. Epistaksis
15. Bradikardi
16. Lidah yang berselaput (kotor ditengah, tepi dan ujung merah serta tremor)
17. Hepatomegaly
18. Splenomegaly
19. Meteroismus
20. Gangguan mental berupa somnolen
21. Delirium

F. PENGKAJIAN
1. Pengkajian
a. Riwayat keperawatan
Kaji gejala tanda meningkatnya suhu tubuh, terutama pada
malam hari, nyeri kepala, lidah kotor, tidak nafsu makan, epitaksis,
penurunan kesadaran.
1. Data bioragfi
Data biografi meliputi : nama, alamat,tanggal masuk rumah
sakit,diagnose medis, catatan kedatangan, keluarga yang dapat
dihubungi
2. Keluhan utama
Demam lebih dari 1 minggu, gangguan kesadaran : apatis
sampai somnolen dan gangguan saluran pencernaan seperti
perut kembung atau tegang dan nyeri pada perabaan, mulut
bau, konstipasi atau diare tinja berdarah dengan atau tanpa
lendir, anoreksia dan muntah.
3. Riwayat kesehatan sekarang
Mengapa pasien masuk rumah sakit dan apa keluhan utama
pasien, sehingga dapat ditegakan prioritas masalah keperawatan
yang dapat muncul.
4. Riwayat kesehatan dahulu
Apakah klien sudah pernah sakit dan dirawat dengan
penyakit yang sama
5. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada dalam keluarga klien yang sakit seperti klien.
6. Riwayat kesehatan lingkungan
Demam typoid ditemukan di negara sedang
berkembang dengan kepadatan penduduk tinggi serta
rendahnya tingkat kesehatan . keadaan cuaca tertentu pada
musim hujan sangat berpengaruh terhadap banyaknya kasus
typhoid yang terjadi. Sedangkan dari kepustakaan barat
dilaporkan terutama pada musim panas banyak ditemukan
kasus typhoid.
7. Riwayat psikososial
a) Intrapersonal ; perasaan yang dirasakan klien
(cemas,sedih)
b) Interpesonal ; hubungan dengan orang lain
8. Pola fungsi kesehatan
a) Pola nutrisi metabolisme
Biasanya nafsu makan klien berkurang karena
terjadi gangguan pada usus halus.
b) Pola istirahat tidur
Selama sakit pasien merasa tidak dapat istirahat
karena pasien merasakan sakit pada perutnya, mual,
muntah, kadang diare (swan dan england,2013)
2. PEMERIKSAAN FISIK
1) System kardiovaskuler
Takikardi , hipotensi, dan syok jika perdarahan , infeksi sekunder atau
septicemia
2) System pernapasan
Batuk non produktif, sesak nafas
3) System pencernaan
Umumnya konstipasi daripada diare, perut tegang, pembesaran limpa,
dan hati, nyeri perut perabaan, bising usus lemah atau hilang, muntah,
lidah typhoid dengan ujung dan tepi kemerahan dan tremor, mulut bau,
bibir kering, dan pecah-pecah.
4) System genitourinarius
Distensi kandung kemih, retensi urine
5) System syaraf
Demam, nyeri kepala, kesadaran menurun, kejang.
6) System lokomotor
Nyeri sendi
7) System endokrin
Tidak ada kelainan
8) System integument
Rose spot, dimana hilang dengan tekanan, ditemukan pada dada dan
perut, turgor kulit menurun, membrane mukosa kering.
9) System pendengaran
Tuli ringan atau otitis media.
(Dewi dan Meira,2016)
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Hematologi
Kadar hemoglobin dapat normal atau menurun bila terjadi penyulit
perdarahan usus.
b. Kimia darah
Pemeriksaan elektrolit, kadar glukosa, blood urea nitrogen dan kreatinin
harus dilakukan.
c. Imunorologi
Widal : pemeriksaan serologi ini ditujukan untuk mendeteksi adanya
antibody di dalam darah terhadap antigen kuman Salmonella typhi. Hasil
positif dinytakan dengan adanya aglutinasi. Hasil negative palsu dapat
disebabkan oleh karena antara lain penderita sudah mendapatkan terapi
antibiotika.
d. Urinalis
Protein: bervariasi dari negative sampai positif (akibat demam).
Leukosit dan eritrosit normal : bila meningkat kemungkinan terjadi
penyulit
e. Mikrobiologi
Sediaan apus dan kultur dari tenggorok, uretra, anus, serviks dan vagina
harus dibuat dalam situasi yang tepat. Pemeriksaan sputum diperlukan
untuk pasien yang demam disertai batuk-batuk. Pemeriksaan kultur darah
dan kultur cairan abnormal serta urin diperlukan untuk mengetahui
komplikasi yang muncul.
f. Radiologi
Pembuatan foto toraks biasanya merupakan bagian dari pemeriksaan
untuk setiap penyakit demam yang signifikan.
g. Biologi molekuler
Dengan PCR (Polymerase Chain Reaction), dilakukan dengan
perbanyakan DNA kuman yang kemudian diidentifikasi dengan DNA
probe yang spesifik. Kelebihan uji ini dapat mendeteksi kuman yang
terdapat dalam jumlah sedikit (sensifitas tinggi) serta kekhasan
(spesifitas) yang tinggi pula. Specimen yang digunakan dapat berupa
darah, urin, cairan tubuh lainnya serta jaringan biopsi.

H. PENATALAKSANAAN MEDIS DAN NON MEDIS


Penatalaksanaan pada demam tifoid adalah sebagai berikut:
1. Perawatan
Pasien dengan demam tifoid perlu dirawat di rumah sakit untuk isolasi,
observasi dan pengobatan. Pasien harus tirah baring absolut sampai
minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih 14 hari. Mobilisasi pasien
harus dilakukan secara bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien.
Pasien dengan kesadaran yang menurun, posisi tubuhnya harus di ubah –
ubah pada waktu tertentu untuk menghindari komplikasi pneumonia
hipostatik dan dekubitus. Defekasi dan buang air kecil perlu di perhatikan
karena kadang – kadang terjadi obstipasi dan retensi air kemih.
2. Diet
Makanan yang dikonsumsi adalah makanan lunak dan tidak banyak serat.
3. Obat
a. Obat - obat antimikroba yang sering dipergunakan ialah:
1) Kloramfenikol
2) Thiamfenikol
3) Ko – trimoksazol
4) Ampisilin dan Amoksilin
b. Obat – obat simptomatik:
1) Antipiretika (tidak perlu diberikan secara rutin)
2) Kortikosteroid (dengan pengurangan dosis selama 5 hari)
3) Vitamin B komplek dan C sangat di perlukan untuk menjaga
kesegaran dan kekutan badan serta berperan dalam kestabilan
pembuluh darah kapiler.
Secara fisik :
a. Mengawasi kondisi klien dengan : pengukuran suhu secara berkala setiap 4
– 6 jam.
b. Bukalah pakaian dan selimut yang berlebihan
c. Memperhatikan aliran udara di dalam ruangan
d. Jalan nafas harus terbuka untuk mencegah terputusnya suplai oksigen ke
otak yang akan berakibat rusaknya sel – sel otak.
e. Berikan cairan melalui mulut, minum sebanyak – banyaknya.. Tujuannya
agar cairan tubuh yang menguap akibat naiknya suhu tubuh memperoleh
gantinya.
f. Tidur yang cukup agar metabolisme berkurang
g. Kompres dengan air hangat pada dahi, ketiak, lipat paha.
I. ANALISA DATA KEPERAWATAN
DATA ETIOLOG PROBLEM
-suhu tubuh diatas normal Infeksi salmonella typhi,para Hipertermi
typhi dan endotoksin
-kulit merah
-kulit terasa hangat Dilepasny zat pirogen oleh
leukosit pada jaringan yang
meradang

-mual Salmonella dimusnahkan asam Disfungsi motilitas gastro


-muntah intestinal
lambung
-nyeri abdomen
Peningkatan asam lambung
-distensi abdomen
-asam lambung meningkat Mual muntah
-konstipasi
Intake kurang
-mengeluh nyeri Salmonella menetap diusus Nyeri akut
-tampak meringgis
perdarahan
-nadi meningkat
perforasi
-gelisah
-nafsu makan berubah peritonitis
-diaforesis
nyeri tekan

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermi b.d. proses penyakit d.d. suhu tubuh diatas normal,
kulit terasa hangat, kulit merah.
2. Disfungi motilitas gastrointestinal b.d berhubungan intoleransi
makanan d.d nyeri abdomen, merasa mual, asam lambung
meningkat, muntah, distensi abdomen, konstipasi
3. Nyeri akut b.d infeksi d.d mengeluh nyeri , tampak meringgis,
nadi meningkat, gelisah, nafsu makan berubah, diaforesis

K. RENCANA KEPERAWATAN
N DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONALISASI
O KEPERAWATAN
1 Hipertermi b.d. -Setelah Observasi
proses penyakit dilakukan -monitor suhu tubuh tiap 2 jam -mencegah
d.d. suhu tubuh tindakan 2x24 -monitor haluaran urine komplikasi se dini
diatas normal, kulit jam Terapeutik mungkin
peningkatan -sediakan lingkungan yang dingin
terasa hangat,kulit
suhu tubuh -longgarkan pakaian
merah
tidak terjadi -basahi dan kipasi permukaan tubuh Membuat rasa
lagi -berikan cairan oral nyaman
-suhu tubuh -ganti linen setiap hari
normal -lakukan kompres didahi
-hindari pemberian anti piretik/aspirin
Edukasi
-anjurkan tirah baring
Kolaborasi Menurunkan
-pemberian cairan dan elektrolit peningkatan
intravena metabolisme

2 Disfungi motilitas -Setelah Observasi Untuk mendeteksi


gastrointestinal b.d dilakukan -identifikasi faktor penyebab mual tingkat keparahan
berhubungan tindakan 2x24 -monitor mual
intoleransi jam -monitor asupan nutrisi
diharapkan -identifikasi anti emetik untuk
makanan d.d nyeri
nafsu makan mencegah mual
abdomen, merasa
meningkat Terapeutik
mual, asam -mual tidak -kendalikan faktor lingkungan Mengurangi
lambung ada penyebab mual neurosensori
meningkat, -makanan -kurangi atau hilangkan keadan penciuman
muntah, distensi dihabiskan tiap penyebab mual terhadap bau yang
abdomen, kali diberikan -berikan makanan dalam jumlah kecil tidak sedap
konstipasi dan menarik
-berikan makanan dingin, cairan
bening,tidak ber bau& berwarna
Edukasi
-anjurkan istirahat dan tidur yang
cukup
-anjurkan sering membersihkan mulut
-ajarkan teknik non farmakologis
untuk mengatasi mual
Kolaborasi
-pemberian anti emetik

3 Nyeri akut b.d -Setelah Observasi Mendeteksi


infeksi d.d dilakukan -identifikasi, karakteristik, durasi, secara dini tingkat
mengeluh nyeri , tindakan 2x24 frekuensi, kualitas, intensitas nyeri nyeri
tampak jam -identifikasi skala nyeri
meringgis, nadi diharapkan -identifikasi respwon nyeri non verbal
meningkat, pasien tidak -identifikasi faktor yang memperberat
gelisah, nafsu mengeluh dan memperingan nyeri
makan berubah, nyeri -identifikasi pengetahuan dan
diaforesis -nadi normal keyakinan tentang nyeri
-tidak gelisah -monitor efek samping penggunaan
analgetik
Terapeutik
-berikan teknik non farmakologis
untuk mengurangi rasa nyeri
-kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri
-fasilitasi istirahat dan tidur
Edukasi
-jelaskan penyebab,priode, dan pemicu
nyeri
-jelaskan strategi meredakan nyeri
-anjurkan menggunakan analgetik
secara tepat
-ajarkan teknik non farmakologis
untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
-pemberian analgetik

DAFTAR PUSTAKA
Cahyono, J.B. Suharyo B. 2010. Vaksinasi, Cara Ampuh Cegah Penyakit Infeksi.
Yogyakarta: Kanisius

Damin, Sumardjo. 2009. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa


Kedokteran dan Program Strata I Fakultas Bioeksata. Jakarta: EGC

http://www.slideshare.net/septianraha/penatalaksanaan-medik. Diakses pada


tanggal senin, 3 maret 2014, 16:05 WIB

Muslim. 2009. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC

Rubenstein, David. et all. 2007. Kedokteran Klinis. Jakarta: Erlangga

Sukandarrumidi. 2010. Bencana Alam dan Bencana Anthoropogene. Yogyakarta:


Kanisius

Sidoyo Aru, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi keempat. Jakarta:
Internal Publishing

Tapan, Erik. 2004. Flu, HFMD, Diare pada Pelancong, Malaria, Demam
Berdarah, Tifus. Jakarta: Pustaka Populer Obor

Team Elsevier. 2013. Ferri’s Clinical Advisor 2013: 5 Books in 1. Philadelphia:


Elsevier, Inc

Tjay, Tan Hoan dan Raharja, Kirana. 2007. Obat-obat Penting: Kasiat,
Penggunaan, dan Efek – Efek Sampingnya. Ed 6. Jakarta: EGC

Weller, Barbara F. 2005. Kamus Saku Perawat. Jakarta: EGC.