Anda di halaman 1dari 12

.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
Pada penelitian ini populasi yang dipakai adalah perusahaan manufaktur yang
tertera pada Bursa Efek Indonei (BEI). Data diperoleh dari website resmi Bursa Efek
Indonesia (www.idx.co.id). Kriteria sampel yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu purposive sampling sebagai berikut :

Table 4.1
Kriteria Penentuan Sampel Model Pertama dan Kedua
No. Kriteria Jumlah
1 Perushaan manufaktur yang tertera di Bursa Efek Indonesia 810
periode 2015-2019
2 Perushaan yang menyampaikan laporan tahunan dan laporan 585
keuangan yang sudah diaudit dengan waktu lima tahun
berturut turut dengan periode 2015-2019
3 Perushaan manufaktur yang dalam penyampaian laporan 440
keuangannya dalam bentuk rupiah.
4 Perushaan Manufaktur yang mengalami laba pada periode 340
2015-2019
5 Perushaan Mnufaktur yang memiliki kelengkapan data terkait 250
dengan variable penelitian
Jumlah sampel 250

Table 4.2
Kriteria Penentuan Sampel Model Ketiga
No. Kriteria Jumlah
1 Perushaan manufaktur yang tertera di Bursa Efek Indonesia 810
periode 2015-2019
2 Perusahaan Manufaktur yang menyampaikan laporan tahunan 585
dan laporan keuangan yang sudah diaudit dengan waktu lima
tahun berturut turut dengan periode 2015-2019
3 Perushaan Manufaktur yang dalam penyampaian laporan 440
keuangannya dalam bentuk rupiah
4 Perushaan Manufaktur yang mengalami kerugian pada 230
periode 2015-2019
5 Perushaan Manufaktur yang memiliki kelengkapan data 100
terkait dengan variable penelitian
Jumlah sampel 100
Sumber: Data Sekunder diolah tahun 2020
4.2 Statistik Deskriptif
Table 4.3
Statistik Deskriptif
Variabel Mean Median Maximum Minimum Standar
Deviasi
Model 1
PBV 0,675759 0,6575 0,8617 0,4129 0,5244
MOWN 0,661 0,234000 0,834 0,00152 0,193476
ROA 0,7681 0,9500 0,89810 0,454 0,7838
(CSR) 0,68198 0,76341 0,241758 0,868132 0,766570
Sumber: Data Sekunder yang diolah tahun 2021
Table 4.3 pada model pertama menunjukkan bahwa data Profitabilitas (Y), nilai
terendah yaitu 0,454, nilai tertinggi yaitu 0,89810 dengan nilai rata-rata yaitu
0,7681, artinya rata-rata profitabilitas yang dilakukan perushaan selama periode
penelitian sebesar 0,7681 atau 76,81% dengan nilai standar deviasi yaitu 0,6828.
Nilai rata-rata lebih besar daripada nilai standar deviasi menunjukkan penyimpangan
yang terjadi rendah. Dapat disimpulkan bahwa penyebaran data pada profitabilitas
terjadi secara merata.
Nilai Perusahaan (X1) nilai terendah yaitu 0,4129, nilai tertinggi yaitu 0,8617
dengan nilai rata-rata yaitu 0,6757 Dan nilai standar deviasi yaitu 0,5244. Dengan
nilai rata-rata lebih besar daripada nilai standar deviasi menunjukkan penyimpangan
yang terjadi rendah. Dapat disimpulkan bahwa penyebaran data pada intensitas aset
tetap terjadi secara merata.
Kepemilikan Menejerial (X2) nilai terendah yaitu 0,00152 dan nilai tertinggi
yaitu 0,834 dengan nilai rata-rata yaitu 0,661. Dan nilai standar deviasi yaitu
0,193476 Dengan nilai rata-rata lebih besar daripada nilai standar deviasi
menunjukkan penyimpangan yang terjadi rendah. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa penyebaran data pada intensitas persediaan secara merata.
Corporate social responsibility (X4) nilai terendah yaitu 14,19444 dan nilai
tertinggi yaitu 24,72310 dengan nilai rata-rata yaitu 20,63198 yang menunjukkan
rata-rata corporate social responsibility yang dilakukan oleh entitas selama periode
berjalan yaitu 20,63 dan nilai standar deviasi sebesar 1,966570. Dengan nilai rata-
rata lebih besar daripada nilai standar deviasi menunjukkan bahwa penyimpangan
yang terjadi rendah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyebaran data pada CSR
terjadi secara merata.Uji Korelasi Spearman dan Pearson Model Pertama
Table 4.6
Spearman dan Pearson Correlation Test Model Pertama

Pearson Correlation
Sp
MOW

earman Correlation
Variable PBV ROA CSR
N
-
PBV   -4,3469 0,2808
4,1117
MOWN 0,0046   1,9025 4,1889
ROA 0,049 0,001   0,036
CSR 0 1,546 0,002  
Sumber: Data sekunder yang diolah tahun 2021

Berdasarkan table 4.6 menunjukkan pada pearson correlation


diperoleh nilai probability di bawah 0,05 artinya adanya hubungan satu
variable dengan variable lain. Pada variable CSR dengan nilai probability
0,002 artinya adanya hubungan CSR dengan probability. Pada variable
kepemilikan menejerial dengan nilai probability 1,9025 artinya tidak
adanya hubungan probabiliti dengan kepemilikan menejerial. Pada
variable CSR dengan nilai kepemilikan menejerial 1,546 artinya tidak
adanya hubungan CSR dengan kepemilikan menejerial. Pada variable
CSR dengan nilai yaitu 0,0000 artinya adanya hubungan CSR dengan
intensitas persediaan.

4.2.1 Uji Korelasi Spearman dan Korelasi Pearson Pada Model Kedua
Table 4.7
Spearman dan Pearson Correlation Test Pada Model Kedua

Pearson Correlation
Spearman Correlation

Variable TA IAT IP CSR


TA 0,0000 0,7791 0,0001
IAT -2,8651 0,0000 0,0000
IP -0,0565 4,9562 0,0011
CSR
-5,2528 0,0000 4,8689

Sumber: Data sekunder yang diolah tahun 2021

Berdasarkan table 4.7 menunjukan nilai probability pada spearman


correlation > 0,05 artinya tidak adaya hubungan satu variable dengan
variable lain. Sedangkan pada pearson correlation diperoleh hasil nilai
probability intenistas aset tetap yaitu 0,0000 artinya adanya hubungan
intensitas aset tetap dengan tax avoidance. variable CSR dengan nilai
probability yaitu 0,0000 artinya adanya hubungan CSR dengan tax
avoidance. Variable intensitas persediaan dengan nilai probability 0,0000
artinya adanya hubungan intensitas persediaan dengan intensitas aset
tetap. Variable CSR dengan nilai probability 0,0000 artinya adanya
hubungan CSR dengan intensitas aset tetap. Variable CSR dengan nilai
probability 0,0011 artinya adanya hubungan CSR dengan intensitas
persediaan.

4.3 Teknik Analisis Data


4.3.1 Panel dataTeknik Pertama (Chow Test)
Tabel 4.8
Chow Test
Statistic d.f. Prob
Cross Section Cross Section Cross Section
Model
Chi Chi Chi
f f f
Square Square Square
Pertam 2,1061 105,75094 (49,196) 49 0,0002 0,0000
a
Kedua 2,0987 105,01073 (49,197) 49 0,0002 0,0000
Ketiga 2,7106 57,95872 (22,91) 22 0,0005 0,0000
Sumber: Data sekunder yang diolah tahun 2021

Berdasarkan table 4.8 menujukkan bahwa nilai uji chow yaitu dengan
nilai probability 0,0002 < 0,05 artinya H 0 tidak diterima dan H1 tidak
ditolak, maka menggunakan Fixed Effect Model.
Berdasarkan table 4.8 menujukkan bahwa nilai uji chow yaitu dengan
nilai probability 0,0002 < 0,05 artinya H 0 tidak diterima dan H1 tidak
ditolak, maka menggunakan Fixed Effect Model.
Berdasarkan table 4.8 menunjukkan bahwa nilai uji chow yaitu dengan
nilai probability 0,0005 < 0,05 artinya H0 tidak diterima dan H1 tidak
ditolak, maka menggunakan Fixed Effect Model.

4.3.2 Panel DataTeknik Kedua (Hausman Test)


Table 4.9
Hausman Test
Cross-section random Chi-Sq. Statistik Chi-Sq. d.f. Probability.
Model Pertama 4,078149 4 0,3955
Model Kedua 3,047636 3 0,3483
Model Ketiga 2,456376 1 0,1170
Sumber: Data sekunder yang diolah tahun 2021

Berdasarkan table 4.9 menunjukkan hasil dari hausman test pada model
pertama yaitu dengan nilai probability 0,3955 > 0,05 artinya H0 tidak
ditolak dan H1 ditolak, maka teknik yang digunakan yaitu Random Effect
Model.
Berdasarkan table 4.9 menunjukkan hasil dari hausman test pada model
kedua yaitu dengan nilai probability 0,3483 > 0,05 artinya H 0 tidak ditolak
dan H1 ditolak, maka teknik yang digunakan yaitu Random Effect Model.
Sehinga teknik estimasi panel datayang digunakan adalah Random Effect
Model.
Berdasarkan table 4.9 hasil dari hausman test pada model ketiga yaitu
dengan nilai probability 0,1170 > 0,05 artinya H0 tidak ditolak dan H1
ditolak, maka teknik yang digunakan yaitu Random Effect Model. Sehinga
teknik estimasi panel datayang digunakan adalah Random Effect Model.

4.4 Uji Analisis Regresi


Table 4.10
Analisis Regresi Berganda Model Pertama dan Kedua
Variable Koefisien Standar T stastistik Probability
Error
IAT -0,124592 0,046592 -2,674110 0,0081
IP 0,006714 0,004510 1,488689 0,1382
KRF -0,015362 0,019269 -0,797265 0,4263
Log(CSR) -0,021627 0,007018 -3,081696 0,0024
C 0,731161 0,149211 4,900192 0,0000
Model Kedua
IAT -0,127989 0,077788 7,215247 0,0000
IP 0,006630 0,015201 -0,404650 0,6861
Log (CSR) -0,021878 0,036128 -3,495601 0,0006
C 0,734090 0,003846 -3,365758 0,0009
Sumber: Data sekunder yang diolah tahun 2021

Berdasarkan table 4.10 persamaan regresi pada model pertama adalah:


TAX AVOIDANCE= 0,731161 - 0,124592(IAT) + 0,006714(IP) -
0,015362(KRF) - 0,021627(CSR)
Constant 0,731161 menggambarkan tanda positif, bisa diartikan jika nilai
dari variabel intensitas aset tetap (X1), intensitas persediaan (X2), kompensasi rugi
fiscal (X3) dan CSR (X4) yang bernilai sama maka pengaruh terhadap tax avoidance
sebesar 0,731161.
Nilai koefisien IAT= -0,124592, nilai koefisien kompensasi rugi fiscal=
-0,015362 dan nilai koefisient CSR= -0,021627 menunjukkan tanda negatif,
sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai variabel intensitas aset tetap (X 1),
kompensasi rugi fiscal (X3 dan CSR (X4) terjadi kenaikan sebanyak satu satuan,
maka akan menurunkan nilai pada ETR sehingga nilai tax avoidance (Y) meningkat,
begitu sebaliknya.
Nilai koefisient IP= 0,006714 yang menunjukkan tanda positif. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa nilai variabel intensitas persediaan (X 2) terjadi penururnan
sebesar satu satuan, maka akan menaikkan nilai pada ETR sehingga nilai tax
avoidance (Y) menurun sebesar 0,006714 begitu sebaliknya.

Berdasarkan table 4.10 persamaan regresi pada model kedua adalah:


TAX AVOIDANCE=0,561259-0,126290(IAT)+0,004409(IP)-0,012944(CSR)
Constant 0,561259 menggambarkan tanda positif, bisa diartikan jika nilai
dari variabel intensitas aset tetap (X1), intensitas persediaan (X2), dan CSR (X4) yang
bernilai sama maka pengaruh terhadap tax avoidance sebesar 0,561259.
Nilai koefisien IAT= -0,126290 dan nilai koefisient CSR= -0,012944
menunjukkan tanda negatif, sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai variabel
intensitas aset tetap (X1) dan CSR (X4) terjadi kenaikan sebanyak satu satuan, maka
akan menurunkan nilai pada ETR sehingga nilai tax avoidance (Y) meningkat,
begitu sebaliknya.
Nilai koefisient IP= 0,004409 yang menunjukkan tanda positif. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa nilai variabel intensitas persediaan (X 2) terjadi penururnan
sebesar satu satuan, maka akan menaikkan nilai pada ETR sehingga nilai tax
avoidance (Y) menurun sebesar 0,004409 begitu sebaliknya.
Table 4.10
Analisis Regresi Model Ketiga
Variable Koefisien Standar t-statistik Probability
Error
C 0,290364 0,015053 19,29003 0,0000
KRF -0,028538 0,022084 -1,292242 0,1995
Sumber: Data sekunder yang diolah tahun 2021

Berdasarkan table 4.10 persamaan regresi model ketiga sebagai berikut:


TAX AVOIDANCE= 0,290364-0,028538(KRF)
Nilai constant 0,290364 menggambarkan tanda positif, bisa diartikan jika
nilai dari variable kompensasi rugi fiscal (X3) yang bernilai sama maka pengaruh
terhadap tax avoidance sebesar 0,290364.
Nilai koefisien KRF= -0,028538 yang menunjukkan tanda negative, sehingga
dapat disimpulkan bahwa nilai variable kompensasi rugi fiscal (X3) terjadi kenaikan
sebanyak satu satuan maka akan menurunkan nilai ETR sehingga nilai tax
avoidance meningkat, dan sebaliknya.

4.5 Uji Normalitas


Table 4.11
Uji Normalitas
Model Jarque-Bera Probability
Pertama 0,223123 0,894436
Kedua 0,247088 0,883783
Ketiga 0,982266 0,611933
Sumber: Data sekunder yang diolah tahun 2021

Berdasarkan table 4.11 menunjukkan nilai probability pada model pertama,


kedua dan ketiga diatas 0,05 maka dapat diartika data pada model pertama, kedua
dan ketiga berdistribusi normal.

4.6 Uji Multikolinearitas


Table 4.12
Uji Multikolinearitas Model Pertama
IAT IP KRF CSR
IAT  1,000000  0,297241 -0,021884  0,257058
IP  0,297241  1,000000 -0,080027  0,205192
KRF -0,021884 -0,080027  1,000000  0,072645
CSR  0,257058  0,205192  0,072645  1,000000
Sumber: Data sekunder yang diolah tahun 2021
Berdasarkan table 4.12 menunjukkan nilai korelasi pada model pertama yaitu
variable IAT (X1), IP (X2), KRF (X3) dan CSR (X4) < 0,85 artinya tidak adanya
gejala multikolinearitas.
Table 4.13
Uji Multikolinearitas Model Kedua
IAT IP CSR
IAT  1,000000  0,297241  0,257058
IP  0,297241  1,000000  0,205192
CSR  0,257058  0,205192  1,000000
Sumber: Data sekunder yang diolah tahun 2021

Berdasarkan table 4.13 menunjukkan nilai korelasi pada model kedua


yaitu variable IAT (X1), IP (X2) dan CSR (X4) <0,85 artinya tidak adanya
gejala multikolinearitas.
Tabel 4.14
Uji Multiokolinearitas Model Ketiga
TA KRF
TA  1,000000  0,297241
KRF  0,297241  1,000000
Sumber: Data sekunder yang diolah tahun 2021

Berdasarkan table 4.14 menunjukkan nilai korelasi pada model ketiga


yaitu variable KRF (X3) < 0,85 artinya tidak adanya gejala multikolinearitas.

4.7 Kebaikan Model


4.7.1 Uji F
Table 4.15
Uji F Model Pertama
Model Pertama Model Kedua Model Ketiga
F-statistik 2,747219 2,792992 2,592871
Probabiliti (F-statistik) 0,000000 0,000000 0,000717
Sumber: Data Sekunder yang diolah tahun 2021
Berdasarkan Table 4.15 disimpulkan bahwa nilai F hitung yang
diperoleh pada model pertama yaitu 2,7472 > 2,4080 dengan nilai probability
0,0000 yaitu kurang dari nilai 0,05 artinya variabel bebas pada model regresi
secara satu-kesatuan mempengaruhi variabel terikat. Nilai F hitung yang
diperoleh pada model kedua yaitu 2,7929 >2,4080 dengan nilai probability
0,0000 yaitu kurang dari 0,05 artinya variable bebas pada model regresi secara
satu kesatuan mempengaruhi variable terikat. Nilai F yang diperoleh pada
model ketiga yaitu 2,592871 <3,92 dengan nilai probability 0,000717 yaitu
kurang dari 0,05 artinya variable bebas pada model regresi tidak berpengaruh
terhadap variable terikat,

4.7.2 Uji Koefisien Determinasi (Adj/R2)


Model pertama dan kedua yang dilakukan dengan regresi linear
berganda maka digunakan nilai Adjusted R Square. Sementara pada model
ketiga dilakukan dengan regresi linear sederhana maka digunakan nilai R
Square. Hasil uji koefisien determinasi sebagai berikut:
Table 4.16
Uji Koefisien Determinasi
Model Pertama Model Kedua Model Ketiga
R2 0,426234 0,424373 0,395895
2
Adjusted/R 0,271083 0,272431 0,243209
Sumber: Data sekunder yang diolah tahun 2021
Berdarkan table 4.16 menunjukkan nilai Adj/R2 pada model pertama
yaitu 0,2710 atau 27,10%. Artinya bahwa variabel intensitas aset tetap (X 1),
intensitas persediaan (X2), kompensasi rugi fiscal (X 3) dan Corporate Social
Responsibility (X4) terhadap tax avoidance bisa dijelaskan pada regresi ini
sebesar 27,10% dan sisanya dijelaskan diluar variabel penguji yaitu sebesar
72,90%.
Berdarkan table 4.16 menunjukkan nilai Adj/R2 pada model kedua yaitu
0,2724 atau 27,24%. Artinya bahwa variabel intensitas aset tetap (X 1),
intensitas persediaan (X2), Corporate Social Responsibility (X4) terhadap tax
avoidance bisa dijelaskan pada regresi ini sebesar 27,24% dan sisanya
dijelaskan diluar variabel penguji yaitu sebesar 72,76%.
Berdasarkan table 4.16 menunjukkan nilai R square pada model ketiga
yaitu 0,395895 atau 39,58%. Artinya nilai variable kompensasi rugi fiscal (X 3)
terhadap tax avoidance dijelaskan dalam regresi ini sebesar 39,58% dan
sisanya dijelaskan diluar variable penguji yaitu sebesar 60,42%.

4.7.3 Uji t
Table 4.17
Uji t
Variabel Koefisien Standar t-Statistik Prob. Hasil
Eror
Model Pertama
C 0,731161 0,149211 4,900192 0,0000 -
IAT -0,124592 0,046592 -2,674110 0,0081 Diterima
IP 0,006714 0,004510 1,488689 0,1382 Ditolak
KRF -0,015362 0,019269 -0,797265 0,4263 Ditolak
LOG(CSR) -0,021627 0,007018 -3,081696 0,0024 Diterima
Model Kedua
C 0,734090 0,149028 4,925867 0,0000 -
IAT -0,127989 0,046354 -2,761133 0,0063 Diterima
IP 0,006630 0,004504 1,471875 0,1427 Ditolak
LOG(CSR) -0,021187 0,007004 -3,123602 0,0021 Diterima
Model Ketiga
C 0,290364 0,015053 19,29003 0,0000 -
KRF -0,028538 0,022084 -1,292242 0,1995 Ditolak
Sumber: Data Sekunder yang diolah, 2020

4.8 PEMBAHASAN
4.8.1 Pengaruh Intensitas Aset Tetap terhadap Tax Avoidance
Berdasarkan table 4.17 menunjukkan hasil variabel intensitas aset tetap
pada model pertama nilai probability yaitu 0,0081 dan pada model kedua yaitu
0,0063. yang mana nilai probability tersebut < 0,05, artinya variable intensitas
aset tetap berpengaruh secara probabilitas terhadap ETR dengan nilai
koefisien variable intensitas aset tetap pada model pertama yaitu -0,124592
dan pada model kedua -0,127989 yang artinya variable intensitas aset tetap
berpengaruh kearah negatif terhadap ETR, yang berarti intensitas aset tetap
berpengaruh positif terhadap tax avoidance. Hal ini dikarenakan semakin
bertambhanya intensitas aset tetap maka pengaruhnya terhadap ETR semakin
kecil, dengan ETR yang semakin kecil maka tingkat tax avoidance yang
dilakukan entitas semakin banyak. Hasil ini sesuai dengan H1, maka H1
diterima. Hal ini menunjukkan semakin bertambahnya intensitas aset tetap
maka semakin kecil nilai ETR sehingga mengindikasikan tax avoidance yang
dilakukan semakin besar. Intensitas aset tetap yang dimiliki entitas
menyebabkan timbulnnya biaya penyusutan yang merupakan salah satu beban
yang bisa mengurangi laba entitas sehingga dapat mempengaruhi pajak yang
akan dibayarkan (Noviyani & Muid, 2019).
Terkait dengan teori agensi mengenai adanya perbedaan kepentingan
antara manajemen selaku agen dengan pemerintah selaku prinsipal. Dimana
pemerintah menginginkan entitas dalam melaporkan labanya dalam jumlah
yang besar agar penerimaan pajak yang diperoleh semakin besar. Namun
manajemen selaku pihak yang mengelola usahanya menginginkan dalam
melaporkan laba dalam jumlah yang sedikit agar biaya pajak yang dikenakan
menjadi kecil. Agar manajemen dalam melaporkan laba dalam jumlah sedikit
dilakukan dengan cara memanfaatkan intensitas aset tetap yang dimiliki,
karena didalam aset tetap terdapat biaya depresiasi yang dapat mengurangi
penghasilan entitas, sehingga laba yang dilaporkan entitas menjadi rendah.
Hasil penelitian ini sejalan dengan Mildawati & Baihaqiqi (2019) yang
menyatakan bahwa entitas yang mempunyai aset tetap dalam jumlah yang
besar maka dalam pembayaran pajaknya menjadi lebih kecil, hal ini
dikarenakan entitas memanfaatkan keuntungan atas depresiasi aset tetap untuk
mengurangi beban pajak entitas. Menurut Noor et al., (2010) dalam Mildwati
& Baihaqiqi (2019) menyatakan intensitas aset tetap yang dimiliki
mempengaruhi pajak entitas hal ini dikarenakan adanya beban penyusutan
yang timbul ata aset tetap. Beban depresiasi telah diatur dalam undang-undang
tentang perpajakan yaitu Undang-Undang No 35 Tahun 2008 Pasal 6 ayat 1
menjelaskan depresiasi yang digunakan sebagai pengeluaran dalam
mendapatkan aset tetap berwujud dan amortisasi yang digunakan dalam
pengeluaran untuk mendapatkan aset tetap berwujud maka dapat digunakan
sebagai pengurang pajak. Sehingga entitas memanfaatkan aset tetap yang
menimbulkan biaya depresiasi yang bisa digunakan untuk mengurangi biaya
pajak yang akan dibayarkan. Hasil penelitian ini selaras dengan Purwanti &
Sugiyarti (2017), Noviyani & Muid (2019), Mildwati & Baihaqiqi (2019)
yang membuktikan bahwa intensitas aset tetap berpengaruh positif terhadap
tax avoidance. Namun hasil ini tidak selaras dengan Sulistiyanti & Nugraha
(2019) dan Nasution & Mulyani (2020) yang membuktikan intensitas aset
tetap berpengaruh negative terhadap tax avoidance.

4.8.2 Pengaruh Intensitas Persediaan terhadap Tax Avoidance


Berdasarkan table 4.17 menunjukkan hasil variabel intensitas
persediaan mempunyai nilai probability pada model pertama yaitu 0,1382 dan
pada model kedua yaitu 0,1427 yang mana nilai probabilitynya > 0,05 artinya
intensitas persediaan tidak berpengaruh terhadap ETR, dan nilai koefisien
pada model pertama yaitu 0,006714 dan pada model kedua yaitu 0,00439 yang
artinya variabel intensitas persediaan berpengaruh kearah positif terhadap
ETR. Sehingga hasil penelitian ini adalah intensitas persediaan tidak
berpengaruh terhadap tax avoidance. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis
kedua penelitian sehingga hipotesis kedua tidak diterima. Menunjukkan
apabila intensitas aset tetap yang dimilki entitas dalam jumlah yang besar
maka biaya biaya yang muncul dari persediaan dapat mengurangi laba entitas
sehingga nilai ETR yang dihasilkan lebih besar yang menunjukkan aktivitas
tax avoidance yang dilakukan oleh entitas berkurang.
Berdasarkan hasil penelitian yang dililakukan tidak searah dengan teori
agensi, hal ini dikarenakan tidak menggambarkan bahwa entitas menjurus
dalam melakukan penurunan laba. Sedangan manajemen selaku agen dalam
pelaporan laba dilaporkan dalam jumlah yang kecil agar beban pajak yang
dikenakan sedikit, sehingga keuntungan yang diperoleh entitas menjadi lebih
besar. Manajemen selaku pihak entitas memiliki intensitas persediaan untuk
mengatur operasional entitas agar entitas yang dimiliki tetap berjalan, dan
cenderung tidak melakukan meminimalkan biaya pajak yang akan dibayarkan.
Semakin intensitas persediaan yang dimiliki entitas dalam jumlah proporsi
yang besar maka laba yang dihasilkan entitas berkurang karena adanya biaya
tambahan atas persediaan tersebut.
Hasil ini searah dengan Nurlela et al,. (2020) yang menyatakan bahwa
entitas yang terdaftar dalam pengusaha kena pajak (PKP) wajib melaporkan
SPT PPN, pada SPT PPN terdapat pembelian yang telah dilaporkan entitas
dalam pelaporan pembelian yang dilakukan mencerminkan sebarapa besar
intensitas persediaan entitas sehingga entitas cenderung tidak melakukan tax
avoidance. Menurut Diandra & Hidayat (2020) yang menyatakan bahwa di
dalam UU perpajakan tidak memberikan intensif mengenai pajak untuk entitas
yang memiliki proporsi persediaan dalam jumlah yang banyak, maka biaya
yang ada dalam persediaan tidak dijadikan sebagai pengurang pajak. Hasil
penelitian ini tidak sajalan dengan Nasution & Mulyani, (2020) yang
menyatakan bahwa adanya biaya-biaya tambahan atas persediaan maka biaya
tersebut bisa dijadikan sebagai pengurang pajak sehingga entitas tidak perlu
melakukan tax avoidance.
Hasil penetian yang dilakukan searah dengan Diandra &
Hidayat(2020), Sukartha & Andhari (2017) yang membuktikan intensitas aset
tetap tidak berpengaruh terhadap agresivitas pajak. Dan tidak searah dengan
Nasution & Mulyani (2020) dan Jati & Dwiyanti 2019) yang menyarakan
inventory intensity berpengaruh positif terhadap tax avoidance.

4.8.3 Pengaruh Kompensasi Rugi Fiskal terhadap Tax Avoidance


Beradasarkan table 4.17 menunjukkan hasil variable kompensasi rugi
fiscal yang mempunyai nilai probability pada model pertama yaitu 0,4263 dan
pada model ketiga yaitu 0,1995 yang mana nilai probabilitynya >0,05 artinya
kompensasi rugi fiscal tidak berpengaruh terhadap tax avoidance dan nilai
koefisien pada model pertama yaitu -0,015362 dan pada model ketiga yaitu
-0,028538 yang berarti kompensasi berpengaruh positif terhadap ETR,
sehingga hasil penelitian ini adalah kompensasi rugi fiscal tidak berpengaruh
terhadap tax avoidance. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis tiga maka
hipotesis tiga tidak diterima. Sehingga variabel kompensasi rugi fiskal bukan
menjadi alasan yang bisa mempengaruhi perusahaan untuk tidak melakukan
tax avoidance.
Berdasarkan hasil penelitian ini tidak terkait dengan teori keagenan,
yang mana manejemen selaku agen tidak memanfaatkan kerugian ini untuk
melakukan penguranga beban pajak. Karena pada periode selanjutnya entitas
tetap harus membayar beban pajak pada periode sebelumnya selama lima
tahun berturut-turut. Perusahaan yang sedang mengalami kerugian fiskal
diindikasikan tidak melakukan tax avoidance hal ini dikarenakan kerugian
yang dialami perusahaan dapat dikompensasikan. Jika perusahaan tetap
melakukan tax avoidance maka akan berpengaruh terhadap citra perusahaan
yang menjadi negatif. Kebijakan pemerintah mengenai kompensasi rugi fiskal
bukan untuk dijadikan celah bagi perusahaan dalam menghindari pajak, tetapi
untuk meringankan beban perusahaan agar perusahaan tetap beraktivitas dan
tetap berkontribusi kepada pemerintah, karena perusahaan merupakan wajib
pajak (Sundari & Aprilina, 2017). Hasil ini searah dengan penelitian
Pajriyansyah & Firmansyah (2017) yang menyatakan bahwa banyak atau
sedikitnya kompensasi rugi fiskal yang terdapat pada entitas tidak memberikan
pengaruh dalam peningkatan atau penurunan pada tax avoidance. Entitas yang
mengalami kerugian bisa dimanfaatkan untuk mengurangi pajak dan terhindar
dari beban pajak, akan tetapi entitas tetap harus membayar utang pajak jika
pada periode selanjutnya entitas memperoleh laba neto yang mencukupi maka
bisa dipakai untuk kompensasi kerugian fiscal (Munandar et al., 2016).
Namun penelitian ini tidak sejalan dengan Mutiah Munawaroh & Sari (2019)
yang menyatakan bahwa entitas yang mengalami kerugian pada periode
sebelumnya akan tercatat untuk mengurangi biaya pajak yang akan
dibayarkan, dan entitas mendapatkan keringanan dalam membayar pajak
dengan waktu lima tahun, yang mana dimanfaatkan untuk mengurangi biaya
pajak entitas yang akan dibayarkan.
Penelitian ini searah dengan penelitian Rinaldi & Cheisviyanny (2015),
Munandar et al., (2016), Humairoh & Triyanto (2019) yang membuktikan
kompensasi kerugian fiscal tidak berpengaruh terhadap tax avoidance. Tetapi
tidak searah dengan penelitian (Mutiah Munawaroh & Sari, 2019) dan (Pratiwi
Nursehah & Heni, 2019).

4.8.4 Pengaruh Corporate Social Responbility (CSR) Terhadap Tax Avoidance


Berdasarkan table 4.22 menunjukkan hasil variabel CSR mempunyai
nilai probability pada model pertama yaitu 0,0024 dan pada model kedua yaitu
0,0021 yang mana nilai probability <0,05 artinya CSR berpengaruh secara
probabilitas terhadap ETR dengan nilai koefisien pada model pertama yaitu
-0,021627 dan pada model kedua yaitu -0,021187 yang menunjukkan arah
negatif artinya variabel CSR berpengaruh kearah negatif terhadap ETR yang
berarti CSR berpengaruh positif terhadap tax avoidance. Yang mana
menunjukkan semakin tinggi nilai CSR yang dilakukan entitas maka semakin
rendah nilai ETR, yang artinya tax avoidance yang dilakukan perusahaan
semakin besar. Sehingga dirumuskan bahwa semakin tinggi nilai CSR yang
diungkapkan maka semakin tinggi tindakan entitas dalam melakukan tax
avoidance. Hasil ini searah dengan rumusan hipotesis keempat maka hipotesis
keempat tidak ditolak.
Sehubungan dengan teori legitimasi berhubungan dengan CSR yang
berpengaruh positif secara probabilitas terhadap tax avoidance. Dimana entitas
dalam aktivitas operasionalnya harus mematuhi segala peraturan yang ada di
masyarakat agar mendapatkan legitimasi dari masyarakat agar entitas tetap
bertahan hidup. Perusahaan dengan melakukan CSR maka akan mendapatkan
nilai yang baik atau reputasi yang baik dari masyarakat. Sehingga entitas
memanfaatkan CSR untuk melakukan tax avoidance. Entitas yang melakukan
kegiatan CSR mendapatkan citra yang bagus namun kegiatan CSR yang
dilakukan untuk menutupi tindakan tax avoidance yang dilakukan. Pemerintah
telah mengatur biaya biaya CSR yang dapat dijadikan sebagai pengurang
penghasilan entitas yaitu diatur dalam UU No 36 Tahun 2008 Pasal 6 ayat 1
dan PP No. 90 Tahun 2010.
Hasil penelitian ini searah dengan Hidayati & Fidiana, (2017) yang
menyatakan bahwa entitas yang melakukan kegiatan CSR semata-mata hanya
bentuk tanggung jawab social agar mendapatkan citra yang baik dari
masyarakat dan entitas menutupi tindakan tax avoidance yang dilakukan.
Entitas akan melakukan tax avoidance dimana hasil dari tax avoidance
tersebut akan diperuntukan kembali ke dalam kegiatan CSR (Wiguna & Jati,
2017), dan searah dengan Rizki & Fuadi (2019) yang menyatakan semakin
besar entitas dalam mengungkapkan kegiatan CSR maka semakin besar
tidakan tax avoidance yang dilakukan. Hal ini dikarenakan terdapat biaya-
biaya CSR yang bisa digunakan sebagai pengurang beban pajak. Sehingga
perusahaan memanfaatkan CSR untuk mengurangi beban pajak perusahaan
dan melakukan tax avoidance. Hasil penelitian Fitri et al., (2017) juga
menyatakan corporate social responsibility (CSR) berpengaruh terhadap
penghindaran pajak.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan Budhi & Dharma (2017), Sandra & Achmad (2018),
Sofianty & Lena (2020) yang menyatakan bahwa CSR berpengaruh negatif terhadap tax
avoidance yang mana semakin besar entitas dalam mengungkapkan CSRnya maka semakin
kecil tax avoidance yang dilakukan