0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan13 halaman

Kinerja Aspal Porus dengan Limbah LDPE

Studi ini membandingkan kinerja campuran aspal porus yang menggunakan limbah plastik LDPE dengan metode dry process dan wet process. Hasil pengujian menunjukkan bahwa metode dry process memenuhi spesifikasi untuk nilai VIM, VFB, dan MQ pada semua variasi limbah plastik, sedangkan metode wet process hanya memenuhi untuk nilai VIM dan VFB pada variasi 0% limbah plastik.

Diunggah oleh

AGUSTINUS AGUS
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan13 halaman

Kinerja Aspal Porus dengan Limbah LDPE

Studi ini membandingkan kinerja campuran aspal porus yang menggunakan limbah plastik LDPE dengan metode dry process dan wet process. Hasil pengujian menunjukkan bahwa metode dry process memenuhi spesifikasi untuk nilai VIM, VFB, dan MQ pada semua variasi limbah plastik, sedangkan metode wet process hanya memenuhi untuk nilai VIM dan VFB pada variasi 0% limbah plastik.

Diunggah oleh

AGUSTINUS AGUS
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STUDI PERBANDINGAN KINERJA CAMPURAN ASPAL PORUS YANG

MENGGUNAKAN LIMBAH PLASTIK LDPE (Low Density Polyethylene)


DENGAN DRY PROCESS DAN WET PROCESS METHOD
PERFORMANCE COMPARISON STUDY OF PORUS ASSET
MIXED USING LDPE (Low Density Polyethylene) PLASTIC WASTE
WITH THE DRY PROCESS AND WET PROCESS METHOD

Gualbertus Kombong Maramis1*), Sri Gusty2”*), Nur Khaerat Nur3”*)


1*)
Gualbertus Kombong Maramis, Mahasiswa Prodi Teknik Sipil, Universitas Fajar, Jl. Prof.
Abdurrahman Basalamah No. 101, Makassar, 99231.
2”*)
Dr. Sri Gusty, ST., MT, Dosen Prodi Teknik Sipil, Universitas Fajar, Jl. Prof. Abdurrahman Basalamah No. 101,
Makassar, 99231.
3”*)
Dr. Ir. Nur Khaerat Nur, ST., MT., IPM., ASEAN Eng, Dosen Prodi Teknik Sipil, Universitas Fajar, Jl. Prof.
Abdurrahman Basalamah No. 101, Makassar, 99231.
*)
Email: gualbertus120797@gmail.com, srigusty@gmail.com, enkha@unifa.ac.id

ABSTRAK
Perkerasan jalan merupakan lapis yang langsung bersentuhan dengan permukaan roda kendaraan.
Aspal merupakan senyawa hidrokarbon berwarna coklat gelap atau hitam pekat dibentuk dari unsur-
unsur asphathenes, resins, dan oils. Aspal pada lapis perkerasan berfungsi untuk bahan pengikat
agregat membentuk campuran. Aspal porus adalah jenis perkerasan untuk lapis permukaan dan
berfungsi sebagai drainase di bawah permukaan jalan. Sebagian besar plastik adalah polimer salah
satunya Polietilen dengan densitas rendah atau Low Density Polyetilen (LDPE), memungkinkan
memperkuat ketahanan aspal melalui reaksi dengan bahan sintetis. hasil pengujian perbandingan
kedua metode pencampuran aspal porus menggunakan Dry process dan Wet process, dengan variasi
limbah plastik 0%, 2%, 4%, 6%, 8%. Tidak memenuhi pengujian marsall kecuali pada metode dry
process yang memenuhi yaitu nilai VIM 0%, (3,89 kg/mm), nilai VFB 0% ,(75,43 kg/mm), nilai
MQ 0%, (2345,67kg/mm), 2%, (4516,67kg/mm), 4%, (105336kg/mm), 6%, (10444,4kg/mm), 8%,
(14087,2kg/mm).sedangkan Pada metode wet process tidak memenuhi pengujian marshall kecuali
hasil pengujian nilai VIM 0%, (3,29kg/mm), nilai VFB 0% (78,49kg/mm) 2%, (60,41kg/mm), nilai
MQ, 0%, (2345,67kg/mm), 2%, (4229,15kg/mm), 4% (10683,24kg/mm), 6%, (16699,48kg/mm),
8%, (24375,60kg/mm) memenuhi spesifikasi bina marga.
Kata Kunci: Aspal porus, plastik LDPE, marshall.
ABSTRACT
Pavement is a layer that is directly in contact with the surface of the vehicle's wheels. Asphalt is a
dark brown or dark brown hydrocarbon compound formed from the elements asphathenes, resins,
and oils. The asphalt in the pavement layer functions as a binder for aggregates to form a mixture.
Porus asphalt is a type of pavement for surface layers and serves as drainage below the road
surface. Most plastics are polymers, one of which is low density polyethylene or Low Density
Polyethylene (LDPE), which makes it possible to strengthen the resistance of asphalt through
reaction with synthetic materials. The results of the comparison between the two mixing methods of
porous asphalt using the Dry process and the Wet process, with variations of plastic waste 0%, 2%,
4%, 6%, 8%. Does not meet the Marsall test except for the dry process method that meets the VIM
value 0%, (3.89 kg / mm), VFB value 0%, (75.43 kg / mm), MQ value 0%, (2345.67 kg / mm), 2%,
(4516.67kg / mm), 4%, (105336kg / mm), 6%, (10444.4kg / mm), 8%, (14087.2kg / mm), while the
wet process method does not meet the Marshall test unless the VIM value test results are 0%,
(3.29kg / mm), VFB values 0% (78.49kg / mm) 2%, (60.41kg / mm), MQ values, 0%, (2345 , 67kg /
mm), 2%, (4229,15kg / mm), 4% (10683,24kg / mm), 6%, (16699,48kg / mm), 8%, (24375,60kg /
mm) meet the specifications bina marga.
Keywords: Porus asphalt, LDPE plastic, marshall.

1
PENDAHULUAN
Konstruksi perkerasan aspal yang digunakan berorientasi pada kekuatan (stabilitas tinggi)
dapat menggunakan gradasi rapat (dense-graded), untuk fleksibilitas dan durabilitas menggunakan
gradasi senjang. Sifat plastik yang ringan tetapi kuat, tahan air, harganya relatif murah dan
terjangkau oleh semua kalangan masyarakat. Namun, limbah plastik yang semakin menumpuk
belum dimanfaatkan sebaik mungkin. di sisi lain keberadaan plasik melimpah. Plastik memiliki
banyak manfaat tetapi juga memiliki sisi negatif khususnya limbah plastik. Jumlah sampah plastik
di Indonesia tahun 2019 diperkirakan mencapai 9,52  juta ton atau 14 persen dari total sampah yang
ada. hal itu limba plastik membuka peluang untuk dimanfaatkan dibidang konstruksi jalan
raya.Dengan estimasi plastik yang digunakan 2,5-5 ton/km jalan, maka limbah plastik dapat
menyumbang kebutuhan jalan sepanjang 190.000 km.
Aspal porus merupakan inovasi terbaru yang menjadi alternativ utama dalam meningkatkan
keselamatan pengguna jalan di Indonesia. Campuran aspal porus merupakan campuran yang
didesain sebagaimana sehingga setelah diproses serta dipadatkan akan membentuk suatu material
padat dengan rongga udara lebih besar dari 20% adalah aspal yang dicampur dengan agregat
tertentu yang aspal berongga merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan keselamatan di
jalan dan mengurangi kebisingan (noise reduction). Aspal berongga didesain untuk mendapatkan
kadar rongga yang besar untuk meneruskan aliran air ke saluran samping dan lapisan dasar yang
kedap air untuk mencegah air meresap ke lapis subbase dan badan jalan sehingga genangan air di
atas permukaan jalan yang seringkali terjadi setelah hujan dan mengganggu kelancaran arus lalu
lintas dapat diminimalisir.
Plastik Low Density Poliyethylene (LDPE) adalah jenis plastik termoplastik yang terbuat
dari minyak bumi.plastik LDPE ini memiliki destinasi rendah, yaitu antara (0,910-0,940)
gr/cm3,tidak reaktif pada temperature kamar,kecuali oksidator kuat dan beberapa jenis pelarut yang
dapat menyebabkan kerusakan (Wantoro et al., 2013).

METODE PENELITIAN
Penelitian dimulai sejak tanggal 1 september 2020, Lokasi penelitian pada Laboratorium
Teknik Sipil Universitas Fajar Makassar Jl. Prof. Abdurrahman Basalamah (ex Racing Centre) No.
101, Karampuang, Panakkukang Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90231, Indonesia.
Pengujian yang akan dilakukan aspal berongga ini meliputi komposisi campuran aspal
berongga (mix asphalt porous) dan pengujian briket aspal berongga. Setelah pengujian material dan
memenuhi spesifikasi untuk campuran aspal berongga, maka dibuat komposisi campuran untuk
pembuatan benda uji. Kompisisi campuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah

2
komposisi campuran sistem gradasi terbuka (open graded) yang mengacu pada ketentuan campuran
aspal berongga gradasi Ream dan Bina Marga.

Pembuatan Benda Uji


Pengujian yang akan dilakukan aspal berongga ini meliputi komposisi campuran aspal
berongga (mix asphalt porous) dan pengujian briket aspal berongga. pembuatan sampel aspal
minyak 5,5% dengan kandungan bahan peremaja Limbah plastik jenis Low Density Polyetilen
(LDPE) dengan subtitusi kombinasi limbah plastik dengan beberapa variasi yaitu 0%, 2%, 4%, 6%
dan 8%. menggunakan metode Dry Process dan Wet Process dengan masing-masing 10 jumlah
sampel.

HASIL DAN PEMBAHASAN


pengujian sifat fisik agregat yang digunakan dalam penelitian ini, secara keseluruhan

memenuhi standar yang diisyaratkan dalam pengujian mutu agregat . pengujian dilakukan di

Laboratorium Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Unifersitas Fajar Makassar.

Sifat Fisik Agregat Kasar


Hasil pengujian sifat fisik agregat kasar yang dilakukan sesuai metode pengujian Standar
Nasional Indonesia (SNI).
Tabel 1. Sifat-sifat fisik agregat kasar
No Pengujian Nilai interval Hasil Keterangan
1 Penyerapan (%) Maks. 3 1,58 Memenuhi

2 Berat jenis spesifik (%)


a. Berat jenis bulk Maks. 3 2,58 Memenuhi
b. Berat jenis SSD Maks. 3 2,62 Memenuhi
c. Berat jenis semu Maks. 3 2,69 Memenuhi
3 Keausan (%) Maks. 40 31,6 Memenuhi
4 Indeks kepipihan Maks. 25 24,8 Memenuhi
Sumber : hasil pengujian dan perhitungan laboratorium Teknik Sipil, UNIFA

Sifat-Sifat Agregat Halus


Hasil pengujian sifat fisik agregat kasar yang dilakukan sesuai metode pengujian Standar
Nasional Indonesia (SNI).

Tabel 2 Sifat-sifat fisik agregat halus


No Pengujian Nilai interval Hasil keterangan

3
1 Penyerapan (%) Maks. 3 2,46 Memenuhi
2 Berat jenis spesifik (%)
a. Berat jenis bulk Maks. 3 2,70 Memenuhi
b. Berat jenis SSD Maks. 3 2,76 Memenuhi
c. Berat jenis semu Maks. 3 2,89 Memenuhi
3 Kadar lumpur (%) Maks. 5 4,73 Memenuhi

Sumber : hasil pengujian dan perhitungan laboratorium Teknik Sipil, UNIFA

Penentuan Gradasi Gabungan


Peentuan gradasi gabungan dan mixdesign dalam penelitian ini dilakukan
dengan sistem trial graduation yang mengacuh pada sandar gradasi terbuka yang diisyaratkan oleh

spesifikasi bina marga tahun 2010 revisi 2.

Tabel 3. Analisa Gabungan Agregat

SIEVE NOMOR No. 1.5 No. 1 3/4 1/2 3/8 No. 4 No. 8 No. 16 No. 30 No.50 No.100 No. 200
BATU PECAH % PASS 100 100 81,47 63,13 43,80 26,20 13,73 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
85 % BATCH 85 85 69,2467 53,66 30,33 18,14 4,16533 0 0 0 0 0,00
PASIR % PASS 100 100,00 100 100,00 100,00 100,00 100,00 81,00 73,50 66,50 45,00 24,00
15 % BATCH 15 15 15 15 15 15 15 12,15 11,025 9,975 6,75 3,6
AGREGAT GABUNGAN 100 100 84,25 68,66 45,33 33,14 19,17 12,15 11,03 9,98 6,75 3,60
SPESIFIKASI 100 90-100 73-90 55-76 45-66 28-39,5 19-26,8 12-18,1 7-13,6 5-11,4 4.5-9 3 - 7'
Sumber: Hasil pengujian perhitungan laboratorium Teknik sipil, UNIFA

Gambar 1.Grafik gradasi gabungan agregat

Pada Gambar 1. grafik gradasi gabungan Terlihat bahwa rancangan agregat gabungan yang
dibuat dan diperoleh dalam penelitian ini berada dalam dalam interval spesifikasi yang telah
diisyaratkan oleh Bina Marga (2010). Sehingga diharapkan akan diperoleh campuran yang optimal.

Pengujian Marshall
Pengujian marshall dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik campuran beraspal

4
Tabel 4. Parameter Marshall Bina Marga
Parameter
NO Variasi Limbah Plastik Spesifikasi
Pengujian
0% 2% 4% 6% 8%
103,3 449,0
1 Stabilitas 243,50 412,50 511.00 MIN 13%
3 0
2 Flow 0,41 0,34 0,27 0,25 0,22 MIN 60%
3 VIM 3,89 10,41 12,63 7,91 10,65 3-5' (%)
4 VFB 75,43 52,07 46,86 59,12 51,06 MIN 1800 Kg
5 VMA 15,83 21,54 23,49 19,36 21,71 MIN 4,5 mm
Marshall 2345, 4516,6 10444, 14087, MIN 300
6 10536
Quitient 67 7 4 2 Kg/mm
Sumber: Hasil Pengujian Marshall Metode Dry Process (cara kering)

Hasil pengujian parameter marshall berupa stabilitas, VIM, VMA, VFB, Kelelehan (flow)
dan Marshall Quentiont (MQ) terhadap benda uji campuran aspal berongga yang menggunakan
metode Dry Process dengan tambahan limbah plastik LDPE 0%, 2% ,4% ,6%, 8%.

Tabel 5. Parameter Marshall Bina Marga


Parameter Variasi Limbah Plastik
NO Spesi fikasI
Pengujian 0% 2% 4% 6% 8%
1 Stabilitas 155,00 259,00 19,73 20,13 22,79 MIN 13%
2 Flow 0,41 0,38 0,27 0,18 0,13 MIN 60%
3 VIM 3,29 7,54 8,34 8,92 11,962 3-5' (%)
4 VFB 78,49 60,41 57,93 56,43 49,17 MIN 1800 Kg
5 VMA 15,31 19,31 19,73 20,13 22,79 MIN 4,5 mm
Marshall 2345,6 4229,1 10683,2 16699,4 24375,6 MIN 300
6 Quitient 7 5 4 8 0 Kg/mm
.Sumber: Hasil Pengujian Marshall Metode Wet Process (cara kering
Hasil pengujian parameter marshall berupa stabilitas, VIM, VMA, VFB, Kelelehan (flow)
dan Marshall Quentiont (MQ) terhadap benda uji campuran aspal berongga yang menggunakan
metode Wet Process dengan tambahan limbah plastik LDPE 0%, 2% ,4% ,6%, 8%.

Stabilitas
Berdasarkan spesifikasi Bina Marga Tahun 2010 Revisi 2 yang disyaratkan minimum 1800 kg.
Berdasarkan hasil pengujian, terlihat bahwa pada Gambar 2. dengan menggunakan metode Dry
Process nilai Bina Marga tidak memenuhi spesifikasi

5
Gambar 2. Grafik hasil pengujian Stabilitas Menggunakan Metode Dry Process(Cara kering)

Berdasarkan hasil pengujian, terlihat bahwa pada Gambar 3. dengan menggunakan metode
Wet Process Nilai Bina Marga tidak memenuhi spesifikasi.

Gambar 3. Grafik hasil pengujian Stabilitas Menggunakan Metode wet Process (Cara basah)

Kelelehan (flow)
Berdasarkan spesifikasi Bina Marga Tahun 2010 Revisi 2, nilai spesifikasi flow yang
disyaratkan yaitu minimal 4,5 mm. Terlihat pada gambar 4. dengan menggunakan metode Dry
process nilai Flow untuk spesifikasi pada Bina Marga tidak memenuhi.

6
Gambar 4. Grafik Hasil pengujian FLOW Menggunakan Metode Dry process (Cara kering)

Berdasarkan spesifikasi Bina Marga Tahun 2010 Revisi 2, nilai spesifikasi flow yang
disyaratkan yaitu minimal 4,5 mm. Terlihat pada gambar 5. dengan menggunakan metode wet
process nilai Flow untuk spesifikasi pada Bina Marga tidak memenuhi,

Gambar 5. Gafik Hasil Pengujian FLOW Menggunakan Metode Wet process (Cara basah)

VIM (Vold In The Mix)


Berdasarkan spesifikasi Bina Marga Tahun 2010 Revisi 2, nilai spesivikasi yang disyaratkan
yaitu 3-5%. Terlihat pada gambar dan pada gambar 6. yang menggunakan metode Dry Process
hanya variasi 0% yang memenuhi sedangkan variasi yang menggunakan variasi limbah plastik tidak
memenuhi.

7
Gambar 6. Grafik hasil Pengujian VIM Menggunakan Metode Dry Process (Cara Kering)

Berdasarkan spesifikasi Bina Marga Tahun 2010 Revisi 2, nilai spesifikasi yang disyaratkan
yaitu 3-5%. Terlihat pada gambar 7. dengan menggunakan metode wet process hanya 0% yang
memenuhi sedangkan variasi limbah plastik tidak memenuhi spesifikasi

Gambar 7. Grafik Hasil Pengujian FLOW Menggunakan Metode Wet Process (Cara Basah)

VFB
Berdasarkan spesifikasi Bina Marga Tahun 2010 Revisi 2, terlihat pada gambar 8. yang
menggunakan metode Dry Process variasi 0% dan variasi limbah plastik 6% memenuhi nilai
spesifikasi Bina Marga.

Gambar 8. Grafik Hasil Pengujian VFB Menggunakan Metode Dry Process(Cara kering)

Berdasarkan spesifikasi Bina Marga Tahun 2010 Revisi 2, nilai VFB yang disyaratkan yaitu
minimal 60%. Terlihat pada gambar 9 yang menggunakan metode wet process variasi 0% dan
variasi limbah plastik 2% memenuhi.

8
Gambar 9. Grafik Hasil Pengujian VFB menggunakan Metode Wet Process (Cara Basah)

VMA
Berdasarkan Spesifikasi Bina Marga Tahun 2010 revisi 2, nilai spesifikasi VMA yang
disyaratkan yaitu minimal 13%. Terlihat pada gambar 10. yang menggunakan metode Dry Process
Untuk variasi 0% dan variasi limbah plastik nilai VMA memenuhi spesifikasi yang disyaratkan.

Gambar 10. Grafik hasil pengujian VMA Menggunakan Metode Dry Process (Cara Kering)

Berdasarkan Spesifikasi Bina Marga Tahun 2010 revisi 2, nilai spesifikasi VMA yang
disyaratkan yaitu minimal 13%. Terlihat pada gambar 11. yang menggunakan metode Dry Process
Untuk variasi 0% dan variasi limbah plastik nilai VMA memenuhi spesifikasi yang disyaratkan.

9
Gambar 11. Grafik hasil pengujian VMA Menggunakan Metode Wet Process (Cara Basah)
MQ
Pengujian marshall quetiont (MQ) Berdasarkan nilai spesifikasi marshall quetiont yang
disyaratkan yaitu minimal 300kg/mm. Terlihat pada gambar 12 yang menggunakan metode wet
process memenuhi spesifikasi yang disyaratkan.

Gambar 12. Grafik Hasil Pengujian Marshall Quitient Menggunakan Metode Dry Process (Cara Kering)

Pengujian marshall quetiont (MQ) Berdasarkan nilai spesifikasi marshall quetiont yang
disyaratkan yaitu minimal 300kg/mm. Terlihat pada gambar 13 yang menggunakan metode wet
process memenuhi spesifikasi yang disyaratkan.

10
Gambar 13. Grafik Hasil Pengujian Marshall Quitient Menggunakan Metode Wet Process (Cara Basah)

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian pemanfaatan limbah plastik LDPE (Low Density Poliyethylene)
terhadap Aspal Porus diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Hasil pengujian Marshall dengan menggunakan metode Dry Process penggunaan limbah plastik
LDPE sebagai additif pada benda uji dengan menggunakan metode Dry Process variasi 0%, 2%,
4% ,6% dan 8% sesuai spesifikasi Bina Marga tidak memenuhi karakteristik marshall hal itu
disebabkan karena variasi limbah plastik tidak layak digunakan kecuali pada Void in mineral
aggregate (VMA) dan Marshall Quetien (MQ).
2. Hasil pengujian Marshall dengan menggunakan metode Wet Process penggunaan limbah plastik
LDPE sebagai additif pada benda uji dengan menggunakan metode Wet Process variasi 0%, 2%,
4% ,6% dan 8% sesuai spesifikasi Bina Marga tidak memenuhi karakteristik marshall kecuali
pada Void in mineral aggregate (VMA) dan Marshall Quetien (MQ).
3. hasil pengujian perbandingan kedua metode pencampuran aspal porus menggunakan Dry
process dan Wet process, dengan variasi limbah plastik 0%, 2%, 4%, 6%, 8%. Tidak memenuhi
pengujian marsall kecuali pada metode dry process yang memenuhi yaitu nilai VIM 0%, (3,89
kg/mm), nilai VFB 0% ,(75,43 kg/mm), nilai MQ 0%, (2345,67kg/mm), 2%, (4516,67kg/mm),
4%, (105336kg/mm), 6%, (10444,4kg/mm), 8%, (14087,2kg/mm).sedangkan Pada metode wet
process tidak memenuhi pengujian marshall kecuali hasil pengujian nilai VIM 0%,
(3,29kg/mm), nilai VFB 0% (78,49kg/mm) 2%, (60,41kg/mm), nilai MQ, 0%, (2345,67kg/mm),
2%, (4229,15kg/mm), 4% (10683,24kg/mm), 6%, (16699,48kg/mm), 8%, (24375,60kg/mm)
memenuhi spesifikasi bina marga. Dari hasil yang diperoleh dilaboratorium menunjukan metode
Dry process menghasilkan kinerja marshall yang rendah, sedangkan metode Wet process terlihat
kinerja marshall lebih tinggi. Hal itu cara kering disebabkan oleh limbah plastik yang tidak

11
bercampur rata dengan agregat berbeda dengan cara basah limbah plastik tercampur rata dengan
aspal panas.

REFERENSI
Amirullah, 2019. Pemanfaatan Limbah Plastik Pada Campuran Aspal Berongga AC-WC Dengan
Dry Process Method.
Anggrainy V. 2015. Penggunaan Pecahan Limbah Beton Dan Batu Pecah Alam Dengan Bahan
Pengikat Liquid Asbuton Terhadap Karakteristik Kekuatan Aspal Porus Ditinjau Dari Hasil
Uji Cantanbro Test. Makassar. Jurnal Teknik Sipil. No. 1: 1.

ASTM. 1995. "Standard test method for tensile properties of thin plastic sheeting." In.: American
Society for Testing and Materials

Abtahi, Sayyed Mahdi, et.al.2011. Production of Polypropylene-rainforced Asphalt Concrete


Mixtures Based on Dry Procedure and Superpave Gyratory Compactor. Iranian Polymer
Journal.

Al-Hadidy, A.I dan Qiu,T.Y (2008). Effect of polyethylene on life flexible pavements,
Construction and Building Materials.

Andi Maal, Muh. Saleh Pallu, Nur Ali and Isran Ramli (2017). Experimental Study the
Performance of Asphalt Concrete Which using Plastics Powder Filler in Submersed Water
Conditions. International Journal of Civil Engineering and Technology, 8(7) 2017, pp. 686-
696

Bustamin Abd. Razak, Andi Erdiansa. 2016. Karakteristik Campuran AC-WC dengan
penambahan limbah plastik Low Densyti Polyethylene (LDPE).

Diansari, Sepriskha. 2016. Aspal modifikasi dengan penambahan plastik Low Liniear Density
Poly Ethylene (LLDPE) Ditinjau dari Karakteristik Marshall Dan Uji Penetrasi Pada Lapisan
Aspal Beton (AC-BC).

Dinas Pekerjaan Umum Dirjen Bina Marga, 2010. Persyaratan dan sifat-Sifat Agregat .
Dinas Pekerjaan Umum Dirjen Bina Marga, 2010. Pembagian Agregat Berdasarkan Ukuran
Butiran.
Diana.I Wayan.2000. Studi Rongga Menerus Dan Kinerja Permeabilitas Perkerasan Aspal Porus
Lapis Ganda

Khalid, H. & Perez Jimenez, F.K.,1994. “Performances Assessment of Spanish and British
Porous Asphalts. In Cabrera, J.G. & Dixon, J.R. (eds)”. Performance and Durability of
12
Bituminous Materials, Proceding of Symposium, University of Leeds, March 1994. London.

Marga, Direktorat Jenderal Bina. 2010. "Spesifikasi Umum Direktorat Jendral Bina Marga Edisi
2010 Revisi 2 Divisi 6." In.: Kementerian Pekerjaan Umum Indonesia.

Nasir M., Herman P., Nur A., Harianto T. 2013. Kinerja Campuran Aspal Berpori Dengan
Menggunakan Aspal Polimer Starbit Jenis E- 55. Surabaya. Jurnal seminar Nasional. Vol.
9. No. 1: 111-191.
Nugrohojati, E.,S 2002, Pengaruh penggunaan serat limbah plastik botol minuman sebagai
additive pada campuran HRA ditinjau dari ketahanan terhadap air.

Priyo Pratomo, Hadi Ali, Sepriskha Diansari (2016). Aspal Modifikasi dengan Penambahan
Plastik Low Linear Density Polyethylene (LLDPE) ditinjau dari karakteristik Marshall dan
uji Penetrasi pada Lapisan Aspal Beton (AC-BC). Jurnal rekayasa, Vol. 20, No. 3, 155-166
Road of Engineering Association of Malaysia. 2008. " Specification for Porous Asphalt." In.
Rosyada, M.,A dan Oftiana.,2013 Pengaruh penambahan plastik High Density Polyetilene (HDPE)
Dalam campuran laston.
Suhardi, Pratomo,Ali. 2016. Studi Karakteristik Marshall Pada Campuran Aspal Dengan
Penambahan Limbah Botol Plastik.

Sukirman, silvia, 1999. Perkerasan lentur jalan raya. Nova. Bandung.


Sukirman, Silvia. 2003. Aspal Beton Campuran Panas. Penerbit Granit: Jakarta.
Tjitjik W.S. 2009. Pengaruh Penambahan Plastik LDPE (Low Density Polyethilen) 111 Jurnal
ilmiah Teknik Sipil Pusat Penelitian Jalan dan Pengembangan Jembatan : Bandung. 17 hal
Widi Wantoro, Dyah Kusumaningrum, Bagus Hario Setiadji, Wahyudi Kushardjoko. 2013.
Pengaruh penambahan plastik bekas tipe low density polyethelene (LDPE) terhadap kinerja
campuran beraspal. Semarang : Jurusan Teknik Sipil - Universitas Diponegoro

13

Anda mungkin juga menyukai