Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia.
Manusia yang berpendidikan tidak diperbolehkan bagitu saja dalam waktu yang
singkat, namun memerlukan suatu proses pembelajaran sehingga menimbulkan
hasil atau efek yang sesuai dengan proses yang telah dilalui. Sumber daya
manusia yang berpendidikan akan mampu mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni. Untuk mengembangkan fungsi pendidikan
tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional
sebagaimana tercantum dalam undang-undang nomor 20 Tahun 2006 tentang
sistem pendidikan nasional. Pencapaian standar isi yang telah ditetapkan oleh
materi pendidikan harus dilaksanakan dengan tujuan tercapainya pendidikan
secara kritis dan mandiri dari proses belajar mengajar.1
Di Indonesia, pemerintah telah menyelenggarakan pendidikan melalui
pendidikan formal. Rangkaian pendidikan formal mulai dari sekolah dasar,
sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi,
yang didukung dengan program wajib belajar 9 dan 12 tahun. Dalam setiap
jenjang pendidikan tersebut, matematika merupakan mata pelajaran yang wajib
diberikan kepada siswa. Hal ini sesuai dengan Badan Standar Nasional
Pendidikan yang menyatakan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan
kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta
didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, kritis, kreatif, serta kemampuan
bekerjasama.2
Tujuan pembelajaran matematika di Indonesia termuat dalam
Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006, tentang standar isi mata pelajaran
matematika lingkup pendidikan dasar dan menengah, mata pelajaran matematika
bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan memahami konsep matematika,

1
Makmur Hartono, Sahyar, 2012, Analisi Pemahaman Konsep dan Kemampuan
Pemecahan Masalah Fisika Pada Model Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Pembelajaran
Langsung Menggunakan Bantuan Peta Konsep (Medan: Pascasarjarana Universitas Medan), h. 44.
2
Depdiknas, 2006, Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk
Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (Jakarta: BSNP).

1
mengembangkan penalaran matematis, mengembangkan kemampuan
memecahkan masalah, mengembangkan kemampuan komunikasi matematis serta
mengembangkan sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan. Dari
rumusan tujuan di atas bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis
merupakan salah satu kemampuan dasar yang sangat penting untuk dimiliki
peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar.3
Kemampuan pemecahan masalah sangat penting dalam matematika, bukan
saja bagi mereka yang di kemudian hari akan mendalami atau mempelajari
matematika, melainkan juga bagi mereka yang akan menerapkannya dalam bidang
studi lain dan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, kemampuan
pemecahan masalah harus menjadi fokus dari matematika sekolah.
Berdasarkan pemaparan di atas, tampak bahwa salah satu tujuan
pembelajaran matematika adalah agar siswa memiliki kemampuan memecahkan
masalah. Akan tetapi, pada kenyataannya di Indonesia tujuan pembelajaran
tersebut belum tercapai dengan baik.
Pada saat ini diperlukan pembelajaran yang tidak hanya sekedar pemberian
informasi yang dilakukan oleh guru kepada siswanya, tetapi pembelajaran yang
melibatkan siswa secara aktif untuk mengeksplorasikan ide-idenya. Hal tersebut
untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa salah
satunya adalah pembelajaran dengan penemuan terbimbing. Pembelajaran dengan
penemuan terbimbing adalah pembelajaran dimana ide atau gagasan disampaikan
melalui proses penemuan. Siswa dapat mengasah kemampuan pemecahan
masalah matematisnya dan menemukan sendiri pola-pola dan struktur matematika
melaluidiskusi teman kelompok, menggunakan pengalaman siswa sebelumnya
dan bimbingan dari guru untuk mengembangkan kemampuan memahami ide atau
gagasan. Model penemuan terbimbing ini juga memberikan kesempatan kepada
siswa untuk berpartisipasi aktif sedangkan guru hanya sebagai fasilitator.
Salah satu pembelajaran dengan penemuan terbimbing adalah discovery
learning. Langkah-langkah operasional discovery learning yaitu sebagai berikut:
(1) stimulasi, (2) pernyataan atau identifikasi masalah, (3) pengumpulan data, (4)
pengolahan data, (5) pembuktian, (6) menarik kesimpulan. Melalui tahap-tahap
3
Depdiknas, 2006, Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk
Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (Jakarta: BSNP).

2
discovery tersebut, dapat disimpulkan bahwa salah satu pembelajaran yang
memfasilitasi siswa untuk dapat belajar memecahkan masalah matematis tersebut
adalah pembelajaran discovery learning (penemuan terbimbing). Pembelajaran
dengan penemuan terbimbing adalah pembelajaran dimana ide disampaikan
melalui proses penemuan. Jadi, siswa mengasah kemampuan pemecahan masalah
matematisnya dan menemukan sendiri pola-pola matematika melalui diskusi
kelompok.4

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah diatas, maka dapat
diidentifikasi beberapa permasalahan dalam proses pembelajaran matematika
sebagai berikut:
1. Proses pembelajaran di sekolah kurang mendukung siswa
mengembangkan kemampuan pemecahan masalah siswa
2. Guru masih menggunakan pembelajaran langsung yang berpusat pada
guru sehingga tidak meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa
3. Proses pembelajaran di sekolah kurang inovatif
4. Rendahnya kemampuan pemecahan masalah siswa
5. Matematika dianggap pelajaran yang sulit dan membosankan

C. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada batasan masalah diatas, maka rumusan masalah
yang akan diteliti adalah:
1. Bagaimana respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran
Discovery Learning pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linier Tiga
Variabel kelas X MAN Binjai?
2. Bagaimana pengaruh penerapan model pembelajaran Discovery Learning
terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa?

4
Kurniasih, I. dan Sani, B, 2014, Sukses Mengimplementasikan Kurikulum 2013
(Yogyakarta: Kata Pena), h. 68-71.

3
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, adapun tujuan penelitian sebagai
berikut:
1. Mengetahui respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran
Discovery Learning pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linier Tiga
Variabel kelas X MAN Binjai.
2. Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran Discovery Learning
terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa.

E. Manfaat Penelitian
Penulis mengharapkan semoga hasil penelitian ini dapat menjelaskan
mengenai pengaruh penerapan model pembelajaran Discovery Learning terhadap
kemampuan pemecahan masalah siswa pada pokok bahasan Sistem Persamaan
Linier Tiga Variabel sehingga dapat meningkatkan kualitas belajar mengajar.
Hasil penelitian ini juga diharapkan berguna bagi guru, peneliti dan siswa.
1. Bagi guru : dapat menjadi pedoman dan juga bahan referensi untuk
penerapan model-model pembelajaran yang cenderung melibatkan siswa
untuk aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
2. Bagi peneliti : dapat dijadikan referensi bagi peneliti selanjutnya yang
ingin mengkaji secara lebih dalam tentang meningkatkan hasil belajar
dengan menggunakan model pembelajaran khususnya pada pokok bahasan
Sistem Persamaan Linier Tiga Variabel di kelas X.
3. Bagi siswa : sebagai pengalaman belajar dan memberikan variasi model
pembelajaran yang melibatkan siswa untuk aktif dalam proses
pembelajaran, agar siswa dapat membangun komunikasi yang baik antar
siswa maupun antar guru dan siswa.

4
BAB II
LANDASAN TEORITIS

A. Kerangka Teori
Dalam kerangka teori akan dimuat beberapa teori-teori yang relevan dalam
menjelaskan masalah yang sedang diteliti. Kemudian kerangka teori ini digunakan
sebagai landasan teori atau dasar pemikiran dalam penelitian yang dilakukan.
Karena itu dalam penelitian ini peneliti menyusun kerangka teori yang memuat
pokok-pokok pemikiran.

1. Model Pembelajaran Discovery Learning


a. Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran sangat erat kaitannya dengan gaya belajar siswa dan
gaya mengajar guru. Sebagaimana pendapat dari Prastowo mengatakan bahwa
“Model pembelajaran adalah acuan pembelajaran yang secara sistematis
dilaksanakan berdasarkan pola-pola tertentu”.5 Pola dari suatu model
pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap
keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan
pembelajaran.6
Akibatnya pola dari suatu model pembelajaran menunjukkan kegiatan-
kegiatan apa yang harus dilakukan oleh guru. Seorang guru yang akan melakukan
pembelajaran di dalam kelas harus menggunakan model yang sesuai dengan
karakter siswa, karena penggunaan model yang baik akan membantu siswa dalam
menerima semua pengetahuan. Hal ini sesuai dengan pendapat Suprihatiningrum
yang menyatakan bahwa “Model pembelajaran merupakan suatu rancangan yang
di dalamnya menggambarkan sebuah proses pembelajaran yang dapat
dilaksanakan oleh guru dalam mentransfer pengetahuan maupun nilai-nilai kepada
siswa”.7

5
Prastowo, 2011, Penilaian Proses Belajar Mengajar (Jakarta: Kencana), h. 68.
6
Nana, Sudjana, 2011, Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya), h. 24.
7
Suprihatiningrum, 2010, Model-Model Pembelajaran (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya), h. 145.

5
Pada penelitian ini, model pembelajaran adalah suatu pola pembelajaran
yang tersusun secara sistematis dari awal hingga akhir kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Pada penelitian ini
peneliti menggunakan model pembelajaran Discovery Learning.

b. Pengertian Model Pembelajaran Discovery Learning


Model pembelajaran Discovery Learning pertama kali dikemukakan oleh
Jerome Bruner. Model ini mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan dan
menarik kesimpulan dari prinsip-prinsip umum. Dalam konsep perkembangan
kognitif yang dikembangkan oleh Bruner (dalam Wilis) menjelaskan bahwa:
“Model penemuan merupakan suatu cara untuk menyampaikan ide/gagasan lewat
proses menemukan”.8 Proses penemuan terjadi jika siswa dalam proses mental
yang dimaksud antara lain: mengamati, memahami, menjelaskan, mengukur, dan
membuat kesimpulan dalam menemukan materi dan prinsip.
Menurut Darsono “Discovery Learning adalah teori belajar yang mengatur
pembelajaran sedemikian rupa sehingga siswa memperoleh pengetahuan yang
sebelumnya belum diketahuinya”.9 Sedangkan Roestiyah menyatakan “Discovery
Learning adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi suatu konsep atau
prinsip. Proses mental tersebut misalnya mengamati, membuat dugaan,
menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Dalam teknik ini
siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri,
guru hanya membimbing dan memberikan arahan.10
Jadi, model pembelajaran Discovery Learning ialah suatu pembelajaran
yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui pendapat dengan
berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar siswa dapat belajar
sendiri.
Menurut Syah, dalam mengaplikasikan Model Discovery Learning di
kelas, tahapan atau prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar
mengajar secara umum adalah sebagai berikut:
1) Stimulation (stimulasi/pemberi rangsangan)
8
Ratna Wilis Dahar, 2011, Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran (Bandung: Erlangga), h.
80.
9
Max Darsono,2004, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta), h. 2.
10
Roestiyah, 2001, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta), h. 20.

6
Pertama-tama pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang
menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak
memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri.
Di samping itu, guru dapat memulai kegiatan proses belajar mengajar
dengan mengajukan pertanyaan anjuran membaca buku, dan aktivitas
belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
2) Problem statement (pernyataan/Identifikasi Masalah)
Setelah dilakukan stimulation, langkah selanjutya adalah guru memberi
kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin
agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran,
kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis
(jawaban sementara atas pertanyaan masalah). Permasalahan yang
dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau
hipotesis, yakni pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan
yang diajukan.
3) Data Collection (Pengumpulan data)
Ketika eksplorasi berlangsung, guru juga memberi kesempatan kepada
siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang
relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Tahap ini
berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar
tidaknya hipotesis. Dengan demikian siswa diberi kesempatan untuk
mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca literatur,
mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba
sendiri dan sebagainya. Konsenkuensi dari tahap ini adalah siswa
belajar secara aktif untuk menemukan suatu yang berhubungan dengan
permasalahan yang dihadapi. Oleh karena itu, secara tidak sengaja
siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah
dimiliki.
4) Data Processing (pengolahan data)
Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi dan sebagainya,
semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu
dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat

7
kepercayaan tertentu.11 Data Processing disebut juga dengan
pengkodean/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep
dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan
pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/penyelesaian yang perlu
mendapat pembuktian secara logis.
5) Verification (pembuktian)
Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi
dengan temuan alternatif dan dihubungkan dengan hasil data
processing.
Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan
berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau
pemahaman melalui contoh-contoh yang di jumpai dalam
kehidupannya. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran atau
informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan
terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah
terbukti atau tidak.
6) Generalization (menarik kesimpulan)
Tahap generalization/menarik kesimpulan adalah proses menarik
sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku
untuk semua kejadian atau masalah yang sama dengan memperhatikan
hasil verifikasi. Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-
prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan,
siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan
pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-
prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta
pentingnya proses pengaturan dan pengalaman-pengalaman itu.12

11
Djamarah, Syaiful Bahri, 2002, Rahasia Sukses Belajar (Jakarta : PT. Rineka Cipta),
h. 22.
12
Muhibbin, Syah, 2009, Psikologi Belajar (Jakarta : Rineka Cipta), h. 244.

8
c. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Discovery
Learning
Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan. Adapun
kelebihan dari model pembelajaran Discovery Learning adalah sebagai berikut:
1) Siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan
kemampuan untuk menemukan hasil akhir.
2) Siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab siswa mengalami
sendiri proses menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini
lebih lama diingat.
3) Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide yang lebih baik.
Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan
serta proses kognitif.
4) Pengetahuan yang diperoleh melalui model ini sangat pribadi dan
ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer.
5) Model ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri.13

Selain memiliki beberapa kelebihan, model pembelajaran Discovery


Learning juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya membutuhkan waktu
belajar yang lebih lama dibanding kan belajar menerima. Untuk mengurangi
kelemahan tersebut maka diperlukan bantuan guru. Bantuan guru dapat dimulai
dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan memberikan informasi secara
singkat. Pertanyaan dan informasi tersebut dimuat dalam Lembar Kerja Peserta
Didik (LKPD) yang telah dipersiapkan oleh guru sebelum pembelajaran dimulai.

2. Kemampuan Pemecahan Masalah


Menurut Krulik dan Rudnik (dalam Hasratuddin), masalah adalah suatu
situasi yang memerlukan pemecahan tetapi seseorang tidak mengetahui alat atau
alur yang jelas untuk memperoleh pemecahannya.Selanjutnya, menurut Sternberg
dan Been-Zeev (dalam Hasratuddin), suatu masalah disebut masalah matematika
jika prosedur matematika jika prosedur matematika seperti prosedur aritmatika
dan aljabar dibutuhkan untuk memecahkannya. Selanjutnya masalah Sternberg

13
Sri Esti Wuryani Djiwandono, 2004, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Gramedia), h. 173.

9
dan Been-Zeev (dalam Hasratuddin), suatu masalah disebut masalah matematika
jika prosedur matematika seperti prosedur aritmatika dan aljabar dibutuhkan
untuk memecahkannya.
Jadi, masalah matematika adalah suatu masalah yang diterima untuk
dianalisis dan mungkin dapat diselesaikan dengan metode-metode matematika.
Hal ini berarti, suatu masalah disebut masalah matematika bilamana pemecahan
masalah tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan metode atau prosedur
matematika.
Masalah rutin adalah suatu masalah yang semata-mata hanya merupakan
latihan yang dapat dipecahkan dengan menggunakan beberapa perintah atau
algoritma. Soal matematika seperti “Selesaikanlah: ( 5 x−4 ) + ( 7 x−20 ) =0 , x ∈ R”,
merupakan masalah rutin untuk semua siswa sekolah menengah karena apa yang
hendak dilakukan sudah jelas dan secara umum siswa mengetahui bagaimana
menghitungnya. Sedangkan masalah tidak rutin lebih menantang dan diperlukan
kemampuan kreativitas dari pemecahan masalah.
Dalam matematika pemecahan masalah (Problem Solving) memiliki
kekhasan tersendiri. Secara garis besar terdapat tiga macam interpretasi istilah
Problem Solving dalam pembelajaran matematika, yaitu:
a) Problem Solving sebagai Tujuan
Para pendidik, matematikawan, dan pihak yang menaruh perhatian pada
pendidikan matematika seringkali menetapkan problem solving sebagai salah
satu tujuan pembelajaran matematika. Bila problem solving ditetapkan atau
dianggap sebagai tujuan pengajaran maka ia tidak tergantung pada soal atau
masalah yang khusus, prosedur, atau metode, dan juga isi matematika.
Anggapan yang penting dalam hal ini adalah bahwa pembelajaran tentang
bagaimana menyelesaikan masalah (solve problems) merupakan “alasan
utama” (primary reason) belajar matematika.
b) Problem Solving Sebagai Proses
Pengertian lain tentang problem solving adalah sebagai sebuah proses
yang dinamis. Dalam aspek ini, problem solving dapat diartikan sebagai
proses mengaplikasikan segala pengetahuan yang dimiliki pada situasi yang
baru dan tidak biasa. Dalam interpretasi ini, yang perlu diperhatikan adalah

10
metode, prosedur, startegi dan heuristic yang digunakan siswa dalam
menyelesaikan suatu masalah. Masalah proses ini sangat penting dalam belajar
matematika dan yang demikian ini sering menjadi focus dalam kurikulum
matematika.14
c) Problem solving sebagai Keterampilan Dasar
Terakhir, problem solving sebagai keterampilan dasar (basic skill).
Pengertian problem solving sebagai keterampilan dasar lebih dari sekedar
menjawab tentang pertanyaan: apa itu Problem Solving? Ada banyak
anggapan tentang apa keterampilan dasar dalam matematika. Beberapa yang
dikemukakan antara lain keterampilan berhitung, keterampilan aritmatika,
keterampilan logika, keterampilan “matematika”, dan lainnya.15

Proses pemecahan masalah matematika berbeda dengan proses


penyelesaian masalah matematika. Perbedaan tersebut terkandung dalam istilah
masalah dan soal. Menyelesaikan soal atau tugas matematika belum tentu sama
dengan memecahkan masalah matematika. Apabila suatu tugas matematika
digolongkan sebagai masalah matematika apabila tidak dapat segera diperoleh
cara menyelesaikannya namun harus melalui beberapa kegiatan lainnya yang
relevan.
Polya (Dalam Hendiriana) merinci langkah-langkah kegiatan memecahkan
masalah sebagai berikut.
a) Kegiatan memahami masalah. Kegiatan ini dapat diidentifikasi melalui
beberapa pertanyaan:
1) Data apa yang tersedia,
2) Apa yang tidak diketahui dan apa yang tidak ditanyakan?,
3) Bagaimana kondisi soal? Mungkinkah kondisi yang dinyatakan dalam
bentuk persamaan atau hubungan lainnya? Apakah kondisi yang ditanyakan
cukup untuk mencari barang yang ditanyakan? Apakah kondisi itu tidak
cukup atau kondisi itu berlebihan atau kondisi itu saling bertentangan?
b) Kegiatan merencanakan atau merancang strategi pemecahan masalah .
kegiatan ini dapat diidentifikasi melalu beberapa pertanyaan:
14
Ibid., h. 62.
15
Ibid., h. 63-74.

11
1) Pernahkah ada soal serupa sebelumnya? Atau
2) Pernahkah ada soal serupa atau mirip dalam bentuk lain?
3) Teori mana yang dapat digunakan dalam masalah ini?
4) Pernahkah ada pertanyaan yang sama atau serupa? Dapatkah pengalaman
dan atau cara lama digunakan untuk masalah baru? Apakah harus dicari
unsur lain? Kembalilah pada definisi,
5) Andaikan masalah baru belum dapat diselesaikan, coba pikirkan soal serupa
dan selesaikan.
c) Kegiatan melaksanakan perhitungan. Kegiatan ini meliputi:
1) Melaksanakan rencana strategi pemecahan masalah pada butir 2),
2) Memeriksa kebenaran tiap langkahnya. Periksalah bahwa apakah tiap
langkah perhitungan sudah benar? Bagaimana menunjukkan atau
memeriksa bahwa langkah yang dipilih sudah benar?
d) Kegiatan memeriksa kembali kebenaran hasil atau solusi. Kegiatan ini
diidentifikasi melalui pertanyaan:
1) Bagaimanakah cara memeriksa kebenaran hasil yang diperoleh?
2) Dapatkah diajukan sanggahannya?
3) Dapatkah solusi itu dicari dengan cara lain?
4) Dapatkah hasil atau cara itu digunakan untuk masalah lain?
Dalam pembelajaran, Polya (Dalam Hendriana) mengemukakan beberapa
saran untuk membantu siswa mengatasi kesulitannya dalam menyelesaikan
masalah, antara lain:
a) Ajukan pertanyaan untuk mengarahkan siswa bekerja,
b) Sajikan isyarat ( clue atau hint ) untuk menyelesaikan masalah dan bukan
memberikan prosedur penyelesaian,
c) Bantu siswa menggali pengetahuannya dan menyusun pertanyaan sendiri
sesuai dengan kebutuhan masalah,
d) Bantu siswa mengatasi kesulitannya sendiri.
Bentuk soal pemecahan masalah matematik yang baik hendaknya memiliki
karakteristik sebagai berikut:
a) Dapat diakses tanpa bantuan alat hitung. Ini berarti masalah yang terlibat
bukan karena perhitungan yang sulit.

12
b) Dapat diselesaikan dengan beberapa cara, misalnya bentuk soal yang open
ended.
c) Melukiskan idea matematik yang penting (matematik yang esensial).
d) Tidak memuat solusi dengan trik.
e) Dapat diperluas dan digeneralisasi (untuk memperkaya ekspolari).16

3. Materi Sistem Persamaan Linier Tiga Variabel


Materi artinya sesuatu yang menjadi bahan (untuk disajikan, dipikirkan,
dibicarakan, dan sebagainya).17 Sistem persamaan linear Tiga variabel (SPLTV)
adalah persamaan yang memiliki tiga persamaan linear yang masing-masing
memuat tiga variabel. Penyelesaian SPLTV dapat ditentukan dengan cara mencari
nilai variabel yang memenuhi ketiga persamaan linear tiga variabel tersebut.18
Dengan demikian, SPLTV dalam variabel x, y dan z dapat di tulis sebagai berikut.
a1 x+ b1 y + c1 z=d 1

{
a2 x+ b2 y + c2 z=d 2 dengan a , b , c , d ∈ R 19
a3 x+ b3 y + c3 z=d 3

Seperti halnya dalam SPLTV, penyelesaian atau himpunan penyelesaian


SPLTV dapat ditentukan dengan beberapa cara, di antaranya adalah dengan
menggunakan:
a. Metode Substitusi
b. Metode Eliminasi
c. Metode Gabungan (eliminasi dan substitusi).

Sebagai contoh, marilah kita coba untuk mencari solusi sistem persamaan
linier dengan tiga variabel berikut ini:
x+y–z =1 (1)
8x + 3y − 6z = 1 (2)
−4x − y + 3z = 1 (3)

16
Hendriana Heris, Utari Soemarmo, 2014, Penilaian Pembelajaran Matematika (Bandung:
PT Refika Aditama), h. 22.
17
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990, Kamus Besar Bahasa Indonesia
(Jakarta:
Balai Pustaka), h.566.
18
B.K Noormandiri, 2004, Matematika (Jakarta: Erlangga), h.112.
19
Sartono Wirodikromo, 2006, Matematika untuk SMA Kelas X (Jakarta: Erlangga), h.114.

13
a. Metode Eliminasi
Metode ini bekerja dengan cara mengeliminasi variabel-variabel di dalam
sistem persamaan hingga hanya satu variabel yang tertinggal. Pertama-tama, lihat
persamaan-persamaan yang ada dan coba cari dua persamaan yang mempunyai
koefisien yang sama untuk variabel yang sama.
x+y–z =1 (1)
−4x − y + 3z = 1 + (3)
−3x + 2z =2 (4)
Perhatikan bahwa persamaan (4) terdiri atas variabel x dan z. Sekarang
kita perlu persamaan lain yang terdiri atas variabel yang sama dengan persamaan
(4). Untuk mendapatkan persamaan ini, kita akan menghilangkan y dari
persamaan (1) dan (2). Dalam persamaan (1) dan (2), koefisien untuk y adalah 1
dan 3 masing-masing. Untuk menghilangkan y, kita kalikan persamaan (1) dengan
3 lalu mengurangkan persamaan (2) dari persamaan (1).
x+y−z =1 (1) → 3x + 3y − 3z = 3
8x + 3y − 6z = 1 (2) → 8x+ 3y − 6z = 1 –
−5x +3z =2 (5)
Dengan persamaan (4) dan (5), mari kita coba untuk menghilangkan z.
−3x + 2z = 2 (4) → −9x + 6z = 6
−5x + 3z = 2 (5) → −10x + 6z = 4 -
x=2 (6)
Dari persamaan (6) kita dapatkan x = 2. Sekarang kita bisa subtitusikan
(masukkan) nilai dari x ke persamaan (4) untuk mendapatkan nilai z.
−3(2) + 2z = 2
−6 + 2z = 2
2z = 8
z=8÷2
z=4
Akhirnya, kita substitusikan (masukkan) nilai dari z ke persamaan (1) untuk
mendapatkan y.
2+y−4=1

14
y=1−2+4
y=3
Jadi solusi sistem persamaan linier di atas adalah x = 2, y = 3, z = 4.

b. Metode Substitusi
Pertama-tama, marilah kita atur persamaan (1) supaya hanya ada 1
variabel di sebelah kiri.
x=1−y+z
Sekarang kita substitusi x ke persamaan
8(1 − y + z) + 3y − 6z = 1
8 − 8y + 8z + 3y − 6z = 1
−5y + 2z = 1 − 8
−5y + 2z = −7
Dengan cara yang sama seperti di atas, substitusi x ke persamaan (3).
−4(1 − y + z) − y+ 3z = 1
−4 + 4y − 4z – y + 3z = 1
3y − z = 1 + 4
3y − z = 5
Sekarang kita atur persamaan (5) supaya hanya ada 1 variabel di sebelah kiri.
z = 3y − 5 (6)
Kemudian, substitusi nilai dari z ke persamaan (4).
−5y + 2(3y − 5) = −7
−5y + 6y – 10 = −7
y = −7 + 10 = 3
Sekarang kita sudah tahu nilai dari y, kita dapat masukkan nilai ini ke persamaan
(6) untuk mencari z.
z = 3(3) − 5
z=9−5
z=4
Akhirnya, kita substitusikan nilai dari y dan z ke persamaan (1) untuk
mendapatkan nilai x.
x=1−3+4

15
x=2
Jadi, kita telah menemukan solusi untuk sistem persamaan linier di atas:
x = 2, y=3, z = 4.

c. Metode Grafik
Penyelesaian sistem persamaan linier dengan metode grafik dilakukan
dengan cara menggambar garis garis atau bidang planar yang merupakan
representasi dari persamaan-persamaan yang ada dalam sistem tersebut. Solusinya
adalah koordinat-koordinat yang merupakan titik potong dari garis-garis ataupun
bidang-bidang planar itu. Sebagai contoh, marilah kita lihat sistem persamaan
liniear dengan dua variabel berikut ini.
x+y =3
2x − y = −3
Gambar kedua garis dari persamaan-persamaan di atas yaitu:

Gambar Grafik Persamaan

Seperti terlihat pada grafik di atas, kedua garis itu bertemu (mempunyai
titik potong) pada titik (0,3). Ini adalah solusi dari sistem persamaan linier
tersebut, yaitu x = 0, y = 3. Untuk persamaan linier dengan tiga variabel, solusinya
adalah titik pertemuan dari tiga bidang planar dari masing-masing persamaan.20

B. Kerangka Fikir
Kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan yang harus
dimiliki seseorang untuk melangsungkan kehidupannya karena di kehidupan

20
http://www.idomaths.com/id/persamaan_linier.php

16
sehari-hari banyak ditemukan situasi yang merupakan contoh situasi pemecahan
masalah. Dalam pengajaran matematika, pemecahan masalah berarti serangkaian
kegiatan belajar untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Dalam sistem pembelajaran, tujuan merupakan komponen yang utama.
Segala aktivitas guru dan siswa, semestinya harus diupayakan untuk mencapai
tujuan yang telah ditentukan. Oleh karena itu, keberhasilan siswa mencapai tujuan
pembelajaran ditentukan oleh segala aktivitas guru dan siswa. Untuk mencapai
tujuan pembelajaran, guru dapat menggunakan model discovery learning, yaitu
suatu pembelajaran yang mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan dan
menarik kesimpulan dari prinsip-prinsip umum.
Atas dasar tujuan model discovery learning diduga dapat berpengaruh
besar terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa. Dengan demikian
diharapkan kemampuan pemecahan masalah siswa dengan menggunakan model
discovery learning menjadi lebih meningkat. Dan penelitian ini akan dilakukan
40 untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran discovery learning
terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi sistem persamaan
linier tiga variabel di kelas X MAN Binjai.

C. Pengajuan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari masalah penelitian yang perlu
diuji melalui pengumpulan data dan analisis data. Namun demikian, walaupun
hipotesis sifatnya hanya jawaban sementara, bukanlah berisi jawaban yang asal
jawaban. Sebab, walaupun sifatnya hanya sementara perumusannya harus
berdasarkan teori, sehingga benar-benar menjiwai penelitian ilmiah.21
Maka berdasarkan kerangka teori diatas dapat dirumuskan hipotesis
sebagai berikut :
Ho : Tidak ada pengaruh penerapan model pembelajaran discovery learning
terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi sistem
persamaan linier tiga variabel di kelas X MAN Binjai.

Wina Sanjaya, 2014, Penelitian pendidikan Jenis, Metode, Prosedur (Jakarta:


21

Kencana),h.196.

17
Ha : Ada pengaruh penerapan model pembelajaran discovery learning terhadap
kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi sistem persamaan
linier tiga variabel di kelas X MAN Binjai.

18
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu yaitu penelitian
yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari sesuatu yang
dikenakan pada subjek yaitu siswa dan dikatakan eksperimen semu sebab semua
kondisi-kondisi siswa di lapangan tidak dapat terkontrol secara keseluruhan.
Pelaksaanaannya melibatkan dua kelompok eksperimen, yaitu siswa yang
diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning dan
metode konvensional.

B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di MAN Binjai yang berlokasi di Jalan
Pekan Baru No.1A Rambung Barat Kota Binjai, Sumatera Utara 20735. Tempat
penelitian ini dipilih karena berawal dari studi pendahuluan, peneliti menemukan
permasalahan mengenai kemampuan pemecahan siswa yang kurang optimal.
Penelitian akan dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2019-2020
pada bulan Januari 2020. Penelitian ini dilakukan sebanyak empat kali pertemuan
pada kelas eksperimen. Sebelum penelitian dimulai, peneliti mengawali dengan
observasi untuk menemukan permasalahan yang dihadapi dalam proses
pembelajaran. Observasi dilaksanakan pada bulan Januari 2020.

C. Populasi dan Sampel


1. Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang
memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.22
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia,
benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-
peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu didalam suatu

22
Indra Jaya, 2010, Statistik Penelitian Untuk Pendidikan. (Medan: Cita Pustaka), h. 18.

19
penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X MAN
Binjai T.A 2019/2020, yang terdiri dari 4 kelas pararel.

2. Sampel Penelitian
Sampel adalah sebahagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut.23 Sampel merupakan bagian dari populasi yang menjadi objek
penelitian (sampel secara harfiah berarti contoh/perwakilan jumlah yang diteliti 24.
Sampel yang digunakan oleh peneliti adalah seluruh kelas X MIA 2 dan kelas X
MIA 3 MAN Binjai untuk dijadikan kelas eksperimen yang ditentukan dengan
cara random. Jumlah dari populasi adalah 128 dari kelas X MIA 2 sebanyak 31
siswa dan dari kelas X MIA 3 sebanyak 32 siswa.

D. Desain Penelitian
Penelitian ini melibatkan dua kelas eksperimen yaitu kelas eksperimen 1
pembelajaran Discovery Learning dan kelas eksperimen 2 metode pembelajaran
koncensional yang diberi perlakuan berbeda. Pada kedua kelas diberikan materi
yang sama yaitu SPLTV. Untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah
siswa diperoleh dari tes yang diberikan pada masing-masing kelompok setelah
penerapan dua perlakuan tersebut.

E. Definisi Operasional
1. Model pembelajaran Discovery Learning (penemuan) merupakan model
pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan kontruktivisme. Discovery
adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasi sesuatu konsep
atau prinsip. Yang dimaksud dengan proses mental tersebut antara lain
ialah: mengamati, mencerna, engerti, menggolong-golongkan, membuat
dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya.25

23
Ibid., h. 29.
24
Neliwati, 2018, Metode Penelitian Kuantitatif (kajian Teori dan Praktek) (Medan: CV
Widya Puspita), h. 113.
25
Roestiyah, NK, 2008, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: PT. Rineka Cipta), h.121.

20
2. Pemecahan masalah merupakan proses dimana individu menggunakan
pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman yang telah diperoleh untuk
menyelesaikan masalah pada situasi yang belum dikenal.26

F. Instrumen dan Pengumpulan Data


Sesuai dengan teknik pengumpulan data yang digunakan, maka instrumen
yang digunakan dalam penelitian ini adalah berbentuk tes. Tes adalah alat atau
prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam
suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. 27 Tes tersebut
terdiri dari tes kemampuan pemecahan masalah siswa yang berbentuk uraian
masing-masing berjumlah 8 butir soal. Dimana soal di buat berdasarkan indikator
yang diukur pada tes kemampuan pemecahan masalah siswa yang telah dinilai.
Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes untuk kemampuan
pemecahan masalah matematika berbentuk soal uraian sejumlah 8 butir soal. Soal
-soal tesebut disusun berdasakan indikator pemecahan masalah dan materi ajar
yang sedang dipelajari siswa, yaitu tentang SLTV. Bentuk instumen tes berupa
posttes. Lalu dibuat kisi-kisi sesuai dengan indikator.
Dari kisi-kisi dan indikator yang telah dibuat untuk menjamin validitas
dari sebuah soal maka selanjutnya dibuat pedoman penskoran yang sesuai dengan
indikator untuk menilai instrumen yang telah di buat. Adapun kriteria
penskorannya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.1
Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika

Aspek
No Pemecahan Indikator Skor
Masalah
Memahami Masalah
1 Diketahui  Menuliskan yang diketahui 4
dengan benar dan lengkap

26
HendrianA, Heris, dkk, 2017, Hard Skill dan Soft Skill Matematika Siswa (Bandung: PT
Rafika Aditama), h. 20.
27
Suharsimi Arikunto, 2012, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara), h.
67.

21
Aspek
No Pemecahan Indikator Skor
Masalah
 Menuliskan yang diketahui
3
dengan benar tetapi tidak lengkap
 Salah menuliskan yang diketahui 2
 Tidak menuliskan yang diketahui 0
Skor Maksimal 4
 Menuliskan kecukupan data
2
dengan benar
Kecukupan Data
 Tidak Menuliskan kecukupan data
0
dengan benar
Skor Maksimal 2
Perencanaan
2  Menuliskan cara yang di gunakan 4
untuk memecahkan masalah
dengan benar dan lengkap.
 Menuliskan cara yang di gunakan
untuk memecahkan masalah 3
dengan benar tetapi tidak lengkap
 Menuliskan cara yang di gunakan
untuk memecahkan masalah yang 2
salah
 Tidak menuliskan cara yang di
gunakan untuk memecahkan 0
masalah
Skor Maksimal 4

Penyelesaian Matematika
3  Menuliskan aturan penyelesaian
6
dengan hasil benar dan lengkap
 Menuliskan aturan penyelesaian
dengan hasil benar tetapi tidak 5
lengkap
 Menuliskan aturan penyelesaian 4

22
Aspek
No Pemecahan Indikator Skor
Masalah
mendekati benar dan lengkap
 Menuliskan aturan penyelesaian
3
dengan hasil salah tetapi lengkap
 Menuliskan aturan penyelesaian
dengan hasil salah dan tidak 2
lengkap
 Tidak menulis penyelesaian soal 0
Skor Maksimal 6

Memeriksa Kembali

4.  Menuliskan pemeriksaan secara


4
benar dan lengkap
 Menuliskan pemeriksaan secara
3
benar tetapi tidak lengkap
 Menuliskan pemeriksaan yang
2
salah
 Tidak ada pemeriksaan atu tidak
0
ada keterangan
Skor Maksimal 4
Total Skor 20

Agar memenuhi kriteria alat evaluasi penilaian yang baik yakni mampu
mencerminkan kemampuan yang sebenarnya dari tes yang dievaluasi, maka alat
evaluasi tersebut harus memiliki kriteria sebagai berikut:
1. Validitas Tes
Perhitungan validitas butir tes menggunakan rumus product moment
angka kasar yaitu: 28
N ∑ xy −( ∑ x )( ∑ y )
r xy=
2 2
√ {( N ∑ x )−(∑ x) }{( N ∑ y )−(∑ y ) }
2 2

Keterangan:
28
Indra Jaya, Op. Cit, h. 122.

23
x = Skor butir
y = Skor total
rxy\ = Koefisien korelasi antara skor butir dan skor total
N = Banyak siswa
Kriteria pengujian validitas adalah setiap item valid apabila

r xy >r tabel r
(r tabel tabel diperoleh dari nilai kritis r product moment).
2. Reliabilitas Tes
Reliabilitas berarti kemantapan suatu alat ukur atau yang berhubungan
dengan masalah ketetapan hasil tes. Apabila tes tersebut dikenakan pada
sejumlah subjek yang sama pada waktu lain, maka hasilnya akan tetap sama.
Untuk menguji reliabilitas tes berbentuk uraian digunakan rumus alpha
sebagai berikut :

n ∑σi 2
r 11 = ( )(
n−1
1−
σt 2 )
2
( X)
∑ X − ∑N 2

σ 2=
t N
2
2(∑ Y )
∑ Y −
N
σ 2t =
N
Keterangan :
r11 : Reliabilitas yang dicari
∑σ i2 : Jumlah varians skor tiap-tiap item
σ t2 : Varians total
n : Jumlah soal
N : Jumlah responden
Nilai diperoleh dengan harga rtabel dengan taraf signifikansi 5%. Jika r11¿
rtabel maka item yang dicobakan reliabel. Kriteria reliabilitas tes dapat dilihat
pada tabel beikut ini :
Tabel 3.2 Tingkat Reliabilitas Tes
No. Indeks Reliabilitas Kalsisfikasi

1. 0,0 ≤r11¿0,20 Sangat rendah

24
2. 0,20 ≤r11¿0,40 Rendah

3. 0,40 ≤r11¿0,60 Sedang

4. 0,60 ≤r11¿0,80 Tinggi

5. 0,80 ≤r11¿1,00 Sangat Tinggi

3. Taraf Kesukaran
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu
sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi
usaha memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan
menyebabkan siswa menjadi putus asa dn tidak mempunyai semangat untuk
mencoba lagi, karena diluar jangkauan.29
B
P=
JS
Keterangan :
P : Indeks kesukaan
B : Banyak siswa yang menjawab soal itu dengan betul
JS : Jumlah seluruh siswa peserta tes
Tabel 3.3 Klasifikasi Tingkat Kesukaran Soal
Besar P Interpretasi

P ¿ 0,30 Terlalu Sukar

0,30 ≤ P< ¿ 0,70 Cukup (Sedang)

P≥ 0,70 Terlalu Mudah

4. Daya pembeda Soal


Untuk menentukan daya beda (D) terlebih dahulu skor dari siswa
diurutkan dari skor tertinggi sampai skor terendah. Setelah itu diambil 50 %
skor teratas sebagai kelompok atas dan 50 % skor terbawah sebagai
kelompok bawah. Rumus untuk menentukan daya beda digunakan rumus
yaitu:
29
Asrul, Rusydi Ananda, Rosnita, 2015, Evaluasi Pembelajaran (Bandung: Citapustaka
Media), h.148.

25
BA BB
D= − =P A −PB
JA JB
Dimana:
J = Jumlah peserta tes
JA = Banyak peserta kelompok atas
JB = Banyak peserta kelompok bawah
BA = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu
dengan           benar
BB   = Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu
PA   = tingkat kesukaran pada kelompok atas
PB   = tingkat kesukaran pada kelompok bawah30
Tabel 3.4 Klasifikasi Indeks Daya Beda Soal
No. Indeks daya beda Klasifikasi
1. 0,0 – 0,19 Jelek
2. 0,20 – 0,39 Cukup
3. 0,40 - 0,69 Baik
4. 0,70 – 1,00 Baik sekali
5. Minus Tidak baik
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pegumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dalam
bentuk tes. Tes tersebut digunakan sebagai alat pengukur kemampuan siswa dan
sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi tertentu. Tes yang digunakan
berupa post-test. Post-test diberikan kepada siswa pada saat selesai pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran pada penelitian. Soal dibuat
berdasarkan indikator kemampuan pemecahan masalah serta tujuan pembelajaran
yang akan dicapai.

H. Teknik Analisis Data


Untuk melihat tingkat kemampuan matematis siswa yang menggunakan
model Discovery Learning, data dianalisis dengan statistik deskriptif. Sedangkan
untuk melihat perbedaan kemampuan pemecahan masalah siswa data dianalisis
dengan statistik inferensial. Adapun teknik penganalisaan data pada penelitian ini
adalah:

30
Ibid., h. 213.

26
1. Analisis Statistik Deskriptif
Data hasil postes kemampuan pemecahan masalah dianalisis secara
deskriptif dengan tujuan untuk mendeskripsikan tingkat kemampuan pemecahan
masalah siswa setelah pelaksanaan pembelajaran Discovery Learning. Untuk
menentukan kriteria kemampuan berpikir kritis matematika siswa berpedoman
dengan kriteria yaitu: “Sangat Kurang Baik, Kurang Baik, Cukup Baik, Baik,
Sangat Baik”.Berdasarkan pandangan tersebut hasil postes kemampuan
pemecahan masalah siswa pada akhir pelaksanaan pembelajaran dapat disajikan
dalam interval kriteria sebagai berikut:
Tabel 3.5
Interval Kriteria Skor Kemampuan Penalaran Matematis
No Interval Nilai Kategori Penilaian

1 0 ≤ SKPM < 45 Sangat Kurang Baik

2 45 ≤ SKPM < 65 Kurang Baik

3 65 ≤ SKPM < 75 Cukup Baik

4 75 ≤ SKPM < 90 Baik

5 90 ≤ SKPM ≤ 100 Sangat Baik

Keterangan : SKPM = Skor Kemampuan Pemecahan Masalah

2. Analisis Statistik Inferensial


Setelah data diperoleh kemudian diolah dengan teknik analisis data
sebagai berikut:
a. Menghitung rata-rata skor dengan rumus:

X 
X
N

Keterangan :

X = rata-rata skor

X = jumlah skor

N = Jumlah sampel

27
b. Menghitung standar deviasi
Standar deviasi dapat dicari dengan rumus:
2

X
2
X 

SD 
N

 N 
Keterangan :
SD = standar deviasi
X
2


N tiap skor dikuadratkan lalu dijumlahkan kemudian dibagi N.
2
X 
 
 N  = semua skor dijumlahkan, dibagi N kemudian dikuadratkan.
c. Uji Normalitas
Untuk menguji apakah sampel berdistribusi normal atau tidak digunakan uji
normalitas liliefors. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1) Mencari bilangan baku
Untuk mencari bilangan baku, digunakan rumus:
X X
Z 1
 1

Keterangan :

X  rata-rata sampel
S = simpangan baku (standar deviasi)

2) Menghitung Peluang S  z  1

3) Menghitung Selisih F  z   S  Z  , kemudian harga mutlaknya


1 1

4) Mengambil L0 , yaitu harga paling besar diantara harga mutlak. Dengan

kriteria H ditolak jika 0 L 0


L
tabel

d. Uji Homogenitas
Uji Homogenitas sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Uji
homogenitas varians dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Uji
Barlett. Hipotesis statistik yang diuji dinyatakan sebagai berikut:
H0 : σ12 = σ 22 = σ 32 = σ 24 =  52
H1 : paling sedikit satu tanda sama dengan tidak berlaku

28
Formula yang digunakan untuk uji Barlett:
2 = (ln 10) {B – Σ (db).log si2 }
B = (Σ db) log s2
Keterangan :
db = n – 1
n = banyaknya subyek setiap kelompok.
si2= Variansi dari setiap kelompok
s2 = Variansi gabungan
Dengan ketentuan :
1) Tolak H0 jika 2hitung>2 tabel (Tidak Homogen)
2) Terima H0 jika 2hitung<2 tabel (Homogen)31
2 tabel merupakan daftar distribusi chi-kuadrat dengan db = k – 1 ( k =
banyaknya kelompok) dan α = 0,05.
e. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji kesamaan rata-rata postes (uji t dua
pihak). Hipotesis yang diuji berbentuk :
Ho : μ1 = μ2
Ha : μ1 ≠ μ2
Keterangan :
μ1: Tidak terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran discovery
learning terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi
sistem persamaan linier tiga variabel di kelas X MAN Binjai.
μ2: Terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran discovery learning
terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi sistem
persamaan linier tiga variabel di kelas X MAN Binjai.
Bila data penelitian berdistribusi normal dan homogen maka untuk
menguji hipotesis menggunakan uji t dengan rumus, yaitu :
x́ 1− x´2
t=
1 1
s
√ +
n1 n2
dimana s adalah standar deviasi gabungan yang dihitung dengan rumus :

31
Ibid., h. 264.

29
2 ( n1 −1 ) s 12 + ( n2−1 ) s 22
s=
n1+ n2−2
Keterangan :
t = harga t hitung
x́ 1 = Nilai rata-rata pretes siswa kelas eksperimen
x́ 2 = Nilai rata-rata pretes siswa kelas kontrol
n1 = Jumlah sampel kelas eksperimen
n2 = Jumlah sampel kelas kontrol
S12 = Varians kelas eksperimen
S22 = Varians kelas kontrol

s2 = Varians gabungan
Kriteria pengujian adalah : terima Ho jika−t 1−½α <t< t 1−½α dimana t 1−½α
didapat dari daftar distribusi t dengan dk = (n 1+n2-2) dan α = 0,05. Untuk harga t
lainnya Ho ditolak. Jika pengolahan data menunjukkan bahwa−t 1−½α <t< t 1−½α ,
atau nilai t hitung yang diperoleh berada diantara −t 1−½α dant 1−½α , maka H0
32
diterima. Dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan pemecahan masalah
dan kemampuan komunikasi matematis siswa pada kelas eksperimen I sama
dengan siswa pada kelas eksperimen II. Jika pengolahan data menunjukkan nilai
thitung tidak berada diantara −t 1−½α dant 1−½α , Hoditolak dan terima Ha, dapat
dimabil kesimpulan bahwa kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan
komunikasi matematis siswa pada kelas eksperimen I tidak sama dengan siswa
pada kelas eksperimen II.

32
Sudjana, 2005, Metoda Statistika (Bandung : Tarsito), h. 238 – 239.

30
DAFTAR PUSTAKA

Makmur Hartono, Sahyar. 2012. Analisi Pemahaman Konsep dan Kemampuan


Pemecahan Masalah Fisika Pada Model Pembelajaran Berbasis Masalah
dengan Pembelajaran Langsung Menggunakan Bantuan Peta Konsep.
Medan: Pascasarjarana Universitas Medan.
Depdiknas. 2006. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk
Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: BSNP.
Rahmawati. 2016. Hasil TIMSS 2015 (Online). Tersedia di:
http://puspendik.kemdikbud.go.id. Diakses pada 14 Desember 2016.
Kurniasih, I. dan Sani, B. 2014. Sukses Mengimplementasikan Kurikulum 2013.
Yogyakarta: Kata Pena.
Prastowo. 2011. Penilaian Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Kencana.
Nana, Sudjana. 2011. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Suprihatiningrum. 2010. Model-Model Pembelajaran. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Ratna Wilis Dahar. 2011. Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Bandung:
Erlangga.
Max Darsono. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah , Syaiful Bahri. 2002. Rahasia Sukses Belajar. Jakarta : PT. Rineka
Cipta.
Muhibbin, Syah. 2009. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Sri Esti Wuryani Djiwandono. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Gramedia.
Hendriana Heris dan Utari Soemarmo. 2014. Penilaian Pembelajaran
Matematika. Bandung: PT Refika Aditama.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
B.K Noormandiri. 2004. Matematika. Jakarta: Erlangga.
Sartono Wirodikromo. 2006. Matematika untuk SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga.
http://www.idomaths.com/id/persamaan_linier.php
Wina Sanjaya. 2014. Penelitian pendidikan Jenis, Metode, Prosedur. Jakarta:
Kencana.
Indra Jaya. 2010. Statistik Penelitian Untuk Pendidikan. Medan: Cita Pustaka.
Neliwati. 2018. Metode Penelitian Kuantitatif(kajian Teori dan Praktek). Medan:
CV Widya Puspita.
Roestiyah, NK. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
HendrianA, Heris, dkk. 2017. Hard Skill dan Soft Skill Matematika Siswa.
Bandung: PT Rafika Aditama.
Suharsimi Arikunto. 2012. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara.
Asrul,Rusydi Ananda, Rosnita. 2015. Evaluasi Pembelajaran,Bandung:
Citapustaka Media.
Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Bandung : Tarsito.

31
LAMPIRAN

Mata Pelajaran : Matematika


Materi Pokok : Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel Kelaas/Semester :
X/1 Waktu : 20 menit
Nama Siswa :
Petunjuk:
1. Memulai dengan membaca basmallah
2. Tuliskan nama anda
3. Kerjakan terlebih dahulu soal yang menurut anda paling mudah
4. Jawablah soal dengan benar
SOAL
1. Jika diketahui harga 4 buku, 6 penggaris dan 2 pensil sama dengan
Rp.19.000, harga 3 buku, 1 penggaris sama dengan Rp. 7.000, dan 1
penggaris Rp. 1.000. Hitunglah berapa harga satu pensil?
2. Harga 2 buku tulis, 1 pensil, dan 3 penghapus adalah Rp 7.800. Harga 1
buku tulis, 3 pensil, dan 1 penghapus adalah Rp 8.400. Harga 3 buku tulis,
2 pensil, dan 2 penghapus adalah Rp 9.000. Berapakah harga 1 buku, 1
pensil, dan 2 penghapus?
3. Seorang penjual beras mencampur tiga jenis beras. Campuran beras
pertama terdiri atas 1 kg jenis A, 2 kg jenis B dan 3 kg jenis C dijual
dengan harga Rp 19.500. Campuran beras kedua terdiri dari 2 kg jenis A
dan 3 kg jenis B dijual dengan harga Rp 19.000. Campuran beras ketiga
terdiri atas 1 kg jenis B dan 1 kg jenis C dijual dengan harga Rp 6.250.
Harga beras jenis manakah yang paling mahal?
-Selamat bekarja-

32
KUNCI JAWABAN

1. Langkah 1 Misalkan : x = buku y = penggaris z = pensil


Langkah 2 Dik :
4x + 6y + 2z = 19.000 ... (1)
3x + y = 7.000 ... (2)
y = 1.000 ... (3)
Dik : z = ?
Langkah 3 : Selesaikan terlebih dahulu persamaan (2) dengan bantuan
persamaan (3), untuk mengetahui nilai x
3x + y = 7.000
3x + 1.000 = 7.000
3x = 7.000 – 1.000
3x = 6.000
x = 2.000 ... (4)
Langkah 4 : Menyelesaikan persamaan (1) dengan bantuan persamaan (3)
dan persamaan (4) yang dihasilkan dari perhitungan di atas untuk mencari
nilai z
4x + 6y + 2z = 19.000
4(2.000) + 6(1.000) + 2z = 19.000
8.000 + 6.000 +2z = 19.000
2z = 19.000 – 14.000
z = 2.500
Jadi. Harga sebuah pena Rp 2.500

2. Langkah 1 Misalkan : Buku tulis = x Pensil = y Penghapus = z


Langkah 2
Dik :

Dit : Harga 1 buku, 1 pensil, dan 2 penghapus?


Langkah 3 : Eliminasi peubah x pada persamaan (1) dan (2)

33
Langkah 4 : Eliminasi peubah x pada persamaan (2) dan (3)

Langkah 5 : Eliminasi peubah z pada persamaan (5) dan (4)

Langkah 6 : Substitusikan nilai y = 2.100 pada persamaan (5)

Langkah 7 : Substitusikan nilai y = 2.100 dan z = 1.500 pada persamaan


(2)

Jadi, harga 1 buku, 1 pensil, dan 2 penghapus adalah

3. Langkah 1 Misalkan : Jenis A = x Jenis B = y Jenis C = z


Langkah 2
Dik :
x + 2y + 3z = 19.500 ... (1)
2x + 3y = 19.000 ... (2)

34
y + z = 6.250 ... (3)
Dit : Jenis beras yang paling mahal?
Langkah 3 : Pilih salah satu persamaan, misalkan persamaan (3),
kemudian nyatakan salah satu variabelnya dalam bentuk variabel lainnya.
y + z = 6.250
z = 6.250 – y ... (4)
Langkah 4 : Nilai variabel z pada persamaan (4) menggantikan variabel z
pada persamaan (1)
x + 2y + 3z =19.500
x + 2y + 3(6.250 – y) = 19.500
x + 2y + 18.750 - 3y = 19.500
x – y = 750 ... (5)
Langkah 5 : Eliminasi peubah y pada persamaan (2) dan (5)

Langkah 6 : Substitusikan nilai y pada persamaan (3)


y + z = 6.250
3.500 + z = 6.250
z = 2.750
Langkah 7 : Substitusikan nilai y dan z pada persamaan (1)
x + 2y + 3z =19.500
x + 2(3.500) + 3(2.750) =19.500
x + 7.000 + 8.250 = 19.500
x = 4250
Harga jenis A adalah Rp 4.250, harga jenis B adalah Rp 3.500 dan harga
jenis C adalah Rp 2.750. Jadi jenis beras yang paling mahal adalah jenis
besar A`

35
36