Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

PEMERIKSAAN ATROPOMETRI (IMT)

DISUSUN OLEH :

ABDILLAH S.
NIM. 20001

ASUHAN KEPERAWATAN JUSTITIA PALU

TAHUN AJARAN 2021/2022


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat limpahan rahmat-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah dengan judul “Pemeriksaan
Atropometri (Imt)” dengan tepat waktu. Tidak lupa kami menyampaikan terima

kasih kepada Dosen yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam
pembuatan makalah ini.
Makalah ini disusun untuk memberikan pengetahuan dan menambah
wawasan bagi pembaca agar lebih mengetahui dan memahami hal-hal mengenai
pemeriksaan laboratorium elektrolit.

Semoga makalah ini bermanfaat untuk memberikan konstribusi kepada


Mahasiswa Akademi Keperawatan Justitia Palu. Dan tentunya makalah ini
masih sangat jauh dari sempurna. Untuk itu kepada dosen pembimbing kami
meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang
akan datang.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................

DAFTAR ISI..........................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang..................................................................................
B. Rumusan Masalah.............................................................................
C. Tujuan...............................................................................................

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Antropometri..................................................................
B. Konsep Pertumbuhan Sebagai Dasar Antropometri...... ..................
C. Keunggulan Dan Kelemahan Antropometri.....................................
D. Jenis-Jenis Antropometri Yang Di Ukur..........................................
E. Mengetahui Indeks Masa Tubuh......................................................

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan.........................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tubuh memerlukan energi untuk fungsi-fungsi organ tubuh, pergerakan
tubuh, mempertahankan suhu, fungsi enzim, serta pertumbuhan dan pergantian sel
yang rusak. Masalah nutrisi merupakan hal yang sangat berhubungan dengan
intake makanan yang diberikan pada tubuh.
Pengkajian dan penilaian kecukupan gizi atau nutrisi diperlukan untuk
mengetahui keseimbangan kebutuhan tubuh akan nutrisi dan kegunaannya.
Keseimbangan kebutuhan nutrisi pada seseorang dikatakan baik apabila asupan
nutrisinya seimbang dengan kegunaannya. Keseimbangan nutrisi dipengaruhi oleh
2 hal yaitu konsumsi makanan dan keadaan kesehatan tubuh.
Salah satu cara yang digunakan untuk mengkaji dan menilai angka kecukupan
nutrisi adalah dengan antopometri.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengertian dari antropometri?
2. Apa konsep pertumbuhan sebagai dasar antropometri?
3. Apa keunggulan dan kelemahan antropometri?
4. Apa saja jenis-jenis antropometri?
5. Bagaimana cara mengetahui indeks masa tubuh?
C. TUJUAN
1. untuk mengetahui pengertian antropometri.
2. Untuk mengetahui konsep pertumbuhan sebagai dasar antropometri
3. Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan antropometri
4. Untuk mengetahui jenis-jenis antropometri yang diukur.
5. Untuk mengetahui indeks masa tubuh.
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ANTROPOMETRI

Antropometri berasal dari kata anthropos dan logos (bahasa Yunani), yang
berarti tubuh manusia dan ilmu. Antropometri berasal dari kata antropo (manusia)
dan metri (ukuran). Antropometri yaitu studi yang berkaitan dengan pengukuran
tubuh manusia yang akan digunakan sebagai pertimbangan ergonomis dalam
memerlukan intraksi manusia. Artinya Konsep dasar yang harus dipahami dalam
menggunakan antropometri secara antropometri adalah konsep pertumbuhan.
Antropometri dilakukan pada anak-anak untuk menilai tumbuh kembang anak
sehingga dapat ditentukan apakah tumbuh kembang anak berjalan normal atau
tidak.
Antropometri merupakan bagian dari ilmu ergonomi yang berhubungan
dengan dimensi tubuh manusia yang meliputi bentuk, ukuran dan kekuatan dan
penerapannya untuk kebutuhan perancangan fasilitas aktivitas manusia.
Data antropometri sangat diperlukan untuk perancangan peralatan dan lingkungan
kerja. Kenyamanan menggunakan alat bergantung pada kesesuaian ukuran alat
dengan ukuran manusia. Jika tidak sesuai, maka dalam jangka waktu tertentu akan
mengakibatkan stress tubuh antara lain dapat berupa lelah, nyeri, pusing.
Antropometri merupakan pengetahuan yang menyangkut pengukuran
dimensi tubuh manusia dan karakteristik khusus lain dari tubuh yang relevan
dengan perancangan alat-alat / benda-benda yang digunakan manusia.
Antropometri dibagi atas dua bagian utama, yaitu:

1. Antropometri Statis, dimana pengukuran pada manusia dilakukan dalam posisi


diam dan linier pada permukaan tubuh.
2. Antropometri Dinamis, dimana pengukuran dilakukan dengan memerhatikan
gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat pekerja tersebut melaksankan
kegiatannya.
B. KONSEP PERTUMBUHAN SEBAGAI DASAR ANTROPOMETRI
1. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
a. Pertumbuhan
Pertumbuhan dalam kehidupan manusia dimulai sejak janin dalam kandungan
berlanjut pada masa bayi, kanak-kanak dan pada masa remaja kemudian berakhir pada masa
dewasa. Pertumbuhan merupakan suatu proses yang berkelanjutan dan mengikuti perjalanan
waktu. Selama pertumbuhan terjadi perubahan ukuran fisik. Ukuran fisik tidak lain adalah
ukuran tubuh manusia baik dari segi dimensi, proporsi maupun komposisinya. Ukuran fisik
manusia dapat diukur. llmu yang mempelajari ukuran fisik pada bagian tubuh tertentu
dikenal dengan sebutan antropometri.
Pola pertumbuhan dibatasi oleh dua hal yaitu faktor genetik dan faktor
lingkungan. Faktor lingkungan seperti intake zat gizi, infeksi penyakit, sanitasi lingkungan,
pelayanan kesehatan dll. Pengukuran pertumbuhan secara antropometri akan berkait
dengan umur yang nantinya akan dipadukan dengan ukuran: berat badan, tinggi badan,
lingkar kepala, lingkar lengan atas dan lingkar dada. Berat badan untuk umur (BB/U)
merupakan indikator yang mendasar dan absah untuk penentuan keadaan gizi , terutama gizi
kurang. Panjang badan untuk umur (PB/U) untuk mengukur riwayat kekurangan gizi di masa
lampau. Berat badan untuk panjang badan (BB/PB) merupakan indikator yang kuat
untuk menentukan akibat gizi salah akut dan masa penyembuhannya. Pertumbuhan
dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti: kelenjar yang menghasilkan hormon
pertumbuhan , penyakit, keturunan, emosi, system syaraf, musim dan iklim, gizi, seluler,
social ekonomi. Faktor ras dapat mempengaruhi densitas tulang. Ras Afrika
memiliki densitas tulang yang tinggi, sehingga perbedaan ras memiliki hubungan yang
penting pada osteoporosis.
b. Perkembangan
Definisi perkembangan menurut Sinclair, D (1973) meliputi parameter psikologi,
idea dan pemahaman dan perolehan skill motorik dan sensory. Hurlock, B (1980)
dalam psikologi perkembangan menganggap penting dasar permulaan merupakan sikap
kritis karena dasar permulaan merupakan ataumengarah kepada penyesuaian diri pribadi atau
sosial bila sudah tua. Banyak para ahli psikologi memandang tahun pra sekolah merupakan
tahapan penting atau kritis dimana mulai diletakkan dasar struktural perilaku komplek yang
dibentuk dalam kehidupan. Perkembangan juga seperti pertumbuhan mengikuti suatu pola
spesifik dan dapat diramalkan mengikuti hukum arah perkembangan yang disebut hukum
cephalocaudal yang menjelaskan bahwa perkembangan menyebar keseluruh tubuh
dari kepala ke kaki dan hukum proximodistal yang menentapkan bahwa perkembangan
menyebar keluar dari titik poros sentral ke anggota tubuh. Perkembangan akan
mengikuti pola yang berlaku umum jika kondisi lingkungan mendukung. Setiap tahapan
perkembangan mempunyai perilaku karakteristik. Perkembangan sangat dibantu rangsangan.
Setiap tahapan mempunyai resiko. Perkembangan terjadi karena kematangan dan
pengalaman dari lingkungan serta perkembangan dipengaruhi oleh budaya. Namun disadari
tahap perkembangan anak berbeda seperti yang dikemukakan oleh beberapa pakar. Pola
perkembangan dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, fisik dan psikis yang menimbulkan
perbedaan tampilan dari setiap anak. Perkembangan mencakup rangsangan yang diberikan
kepada anak dan umumnya pencapaian perkembangan optimal tergantung rangsangan
(stimuli) dari luar dan umumnya anak mencapai perkembangan tertentu pada umur
yang lebih tinggi. Perkembangan mengikuti jalur pertumbuhan dan memiliki pola sesuai
dengan umur dan taraf perkembangan. Apabila beberapa taraf perkembangan tidak
dicapai oleh anak pada umur batas anak, maka perlu dicurigai bahwa anak-anak mengalami
kelambatan perkembangan dan perlu dikonsultasikan kepada ahlinya. Dengan demikian
pertumbuhan dan perkembangan tidak dapat dipindahkan dan harus berjalan beriringan.
Misalkan perkembangan kepala terjadi sangat cepat khususnya pada tahun pertama umur
bayi, karena otak berkembang sangat pesat. Perkembangan kepandaian bayi terutama
tergantung pada berfungsinya otak dan sistem syaraf serta rangsangan yang diterima anak.
Waktu dilahirkan bayi hanya dapat melakukan sesuatu terbatas untuk dirinya, tetapi
kemudian secara teratur semakin berkembang sampai mampu mengontrol tubuhnya
dan melakukan pekerjaan khusus. Tingkatan (fase-fase) perkembangan kemampuan anak
menurut umur perlu diketahui untuk dapat dipakai sebagai indikator perkembangan
kepandaian anak.
2. Factor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan
a. Faktor Internal (Genetik)
Gen yang terdapat di dalam nukleus dari telur yang dibuahi pada masa embrio
mempunyai sifat tersendiri pada tiap individu. Manifestasi hasil perbedaan antara
gen ini dikenal sebagai hereditas. DNA yang membentuk gen mempunyai peranan
penting dalam transmisi sifat-sifat herediter. Timbulnya kelainan familial,
kelainan khusus tertentu, tipe tertentu dari dwarfism adalah akibat transmisi gen
yang abnormal. Haruslah diingat bahwa beberapa anak bertubuh kecil karena
konstitusi genetiknya dan bukan karena gangguan endokrin atau gizi. Peranan
genetik pada sifat perkembangan mental masih merupakan hal yang
diperdebatkan. Memang hereditas tidak dapat disangsikan lagi mempunyai
peranan yang besar tapi pengaruh lingkungan terhadap organisme tersebut tidak
dapat diabaikan. Pada saat sekarang para ahli psikologi anak berpendapat bahwa
hereditas lebih banyak mempengaruhi inteligensi dibandingkan dengan
lingkungan. Sifat-sifat emosionil seperti perasaan takut, kemauan dan temperamen
lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan dibandingkan dengan hereditas.
1) Jenis kelamin.
Pada umur tertentu pria dan wanita sangat berbeda dalam
ukuran besar, kecepatan tumbuh, proporsi jasmani dan lain-lainnya sehingga
memerlukan ukuran-ukuran normal tersendiri. Wanita menjadi dewasa lebih
dini, yaitu mulai adolesensi pada umur 10 tahun, sedangkan pria mulai pada
umur 12 tahun.
2) Ras atau bangsa.
Oleh beberapa ahli antropologi disebutkan bahwa ras kuning
mempunyai hereditas lebih pendek dibandingkan dengan ras kulit putih.
Perbedaan antar bangsa tampak juga bila kita bandingkan orang Skandinavia
yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang Itali.
3) Keluarga.
Tidak jarang dijumpai dalam suatu keluarga terdapat anggota
keluarga yang pendek sedangkan anggota keluarga lainnya tinggi.
4) Umur.
Kecepatan tumbuh yang paling besar ditemukan pada masa fetus, masa
bayi dan masa adolesensi.

b. Faktor Eksternal (Lingkungan)


1) Gizi (Defisiensi vitamin, iodium dan lain-lain). Dengan menghilangkan vitamin
tertentu dari dalam makanan binatang yang sedang hamil, Warkany
menemukan kelainan pada anak binatang tersebut. Jenis kelainan tersebut dapat
diduga sebelumnya dengan menghilangkan vitamin tertentu. Telah dibuktikan
pula bahwa kurang makanan selama kehamilan dapat meningkatkan angka
kelahiran mati dan kematian neonatal. Diketahui pula bahwa pada ibu dengan
keadaan gizi yang jelek tidak dapat terjadi konsepsi. Hal ini disinggung pula
oleh Warkany dengan mengatakan The most serious congenital malformation
is never to be conceived at all.
2) Mekanis (pita amniotik, ektopia, posisi fetus yang abnormal, trauma,
oligohidrmnion). Faktor mekanis seperti posisi fetus yang abnormal dan
oligohidramnion dapat menyebabkan kelainan kongenital seperti clubfoot,
mikrognatia dan kaki bengkok. Kelainan ini tidak terlalu berat karena mungkin
terjadi pada masa kehidupan intrauterin akhir. Implantasi ovum yang salah,
yang juga dianggap faktor mekanis dapat mengganggu gizi embrio dan
berakibat gangguan pertumbuhan.

3) Toksin kimia (propiltiourasil, aminopterin, obat kontrasepsi dan lain-lain).


Telah lama diketahui bahwa obat-obatan tersebut dapat menimbulkan kelainan
seperti misalnya palatoskizis, hidrosefalus, disostosis kranial.

4) Bayi yang lahir dari ibu yang menderita diabetes melitus sering menunjukkan
kelainan berupa makrosomia, kardiomegali dan hiperplasia adrenal.
Hiperplasia pulau Langerhans akan mengakibatkan hipoglikemia. Umur rata-
rata ibu yang melahirkan anak mongoloid dan kelainan lain umumnya lebih
tinggi dibandingkan dengan umur ibu yang melahirkan anak normal. Ini
mungkin disebabkan oleh kelainan beberapa endrokin dalam tubuh ibu yang
meningkat pada umur lanjut, walaupun faktor lain yang bukan endokrin juga
ikut berperan.

5) Radiasi (sinar Rontgen, radium dan lain-lain). Pemakaian radium dan sinar
Rontgen yang tidak mengikuti aturan dapat mengakibatkan kelainan pada fetus.
Contoh kelainan yang pernah dilaporkan ialah mikrosefali, spina bifida,
retardasi mental dan deformitas anggota gerak. Kelainan yang ditemukan
akibat radiasi bom atom di Hiroshima pada fetus ialah mikrosefali, retardasi
mental, kelainan kongenital mata dan jantung.

6) Infeksi (trimester I: rubela dan mungkin penyakit lain, trimester II dan


berikutnya: toksoplasmosis, histoplasmosis, sifilis dan lain-lain). Rubela
(German measles) dan mungkin pula infeksi virus atau bakteri lainnya yang
diderita oleh ibu pada waktu hamil muda dapat mengakibatkan kelainan pada
fetus seperti katarak, bisu tuli, mikrosefali, retardasi mental dan kelainan
kongenital jantung. Lues kongenital merupakan contoh infeksi yang dapat
menyerang fetus intrauterin sehingga terjadi gangguan pertumbuhan fisis dan
mental. Toksoplasmosis pranatal dapat mengakibatkan makrosefali kongenital
atau mikrosefali dan renitinitis.

7) Imunitas (eritroblastosis fetalis, kernicterus). Keadaan ini timbul atas dasar


adanya perbedaan golongan darah antara fetus dan ibu, sehingga ibu
membentuk antibodi terhadap sel darah merah bayi yang kemudian melalui
plasenta masuk ke dalam peredaran darah bayi yang akan mengakibatkan
emolisis. Akibat penghancuran sel darah merah bayi akan timbul anemia dan
hiperbilirubinemia. Jaringan otak sangat peka terhadap hiperbilirubinemia ini
dan dapat terjadi kerusakan.

8) Anoksia embrio (gangguan fungsi plasenta) Keadaan anoksia pada embrio


dapat mengakibatkan pertumbuhannya terganggu.

C. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN ANTROPOMETRI

A. Keunggulan Antropometri
Beberapa syarat yang mendasari penggunaan antropometri adalah:
a. Alatnya mudah didapat dan digunakan, seperti dacin, pita lingkar lengan atas,
mikrotoa, dan alat pengukur panjang bayi yang dapat dibuat sendiri dirumah.
b. Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif
c. Pengukuran bukan hanya dilakukan dengan tenaga khusus profesional, juga
oleh tenaga lain setelah dilatih untuk itu.
d. Biaya relatif murah
e. Hasilnya mudah disimpulkan karena mempunyai ambang batas.
f. Secara alamiah diakui kebenaranya.

B. Kelemahan Antropometri
a. Tidak sensitif, artinya tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu singkat
serta tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu seperti zink dan Fe
b. Faktor di luar gizi (penyakit, genetik dan penurunan penggunaan energi) dapat
menurunkan spesifikasi dan sensitifitas pengukuran antropometri
c. Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi,
akurasi dan validitas pengukuran antropometri.

D.JENIS-JENIS ANTROPOMETRI YANG DI UKUR


1. Berat Badan
Berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang terpenting karena
dipakai untuk memeriksa kesehatan anak pada semua kelompok umur, usia beberapa
hari, berat badan akan mengalami penurunan yang sifatnya normal, yaitu sekitar 10%
dari berat badan lahir. Hal ini disebabkan karena keluarnya mekonium dan air
seni yang belum diimbangi asupan yang mencukupimisalnya produksi ASI
yang belum lancar. Umumnya berat badan akan kembali mencapai berat badan lahir
pada hari kesepuluh. Pada bayi sehat, kenaikkan berat badan normal pada triwulan I
adalah sekitar 700 –1000 gram/bulan, pada triwulan II sekitar 500 – 600 gram/bulan,
pada triwulan III sekitar 350 – 450 gram/bulan dan pada triwulan IV sekitar 250 – 350
gram/bulan.
Dari perkiraan tersebut, dapat diketahui bahwa pada usia 6 bulan pertama
berat badan akan bertambah sekitar 1 kg/bulan, sementara pada 6 bulanberikutnya
hanya + 0,5 kg/bulan. Pada tahun kedua, kenaikannya adalah + 0,25 kg/bulan.
Setelah 2 tahun, kenaikkan berat badan tidak tentu, yaitu sekitar 2,3 kg/tahun.
Pada tahap adolesensia(remaja) akan terjadi pertambahan berat badan secara cepat
( growth spurt). Selain perkiraan tersebut, berat badan juga dapat diperkirakan
dengan menggunakan rumus atau pedoman dari Behrman (1992), yaitu :
Berat badan lahir rata-rata : 3,25 kg
Berat badan usia 3 – 12 bulan, menggunakan rumus :
Umur (bulan) + 9 = n + 9
22
Berat badan usia 1 – 6 tahun, menggunakan rumus :
( Umur(tahun) X 2) + 8 = 2n + 8
Keterangan : n adalah usia anak
Berat badan usia 6 – 12 tahun , menggunakan rumus :
Umur (tahun) X 7 – 5
2
Cara pengukuran berat badan anak adalah :
Lepas pakaian yang tebal pada bayi dan anak saat pengukuran. Apabila perlu,
cukup pakaian dalam saja.
Tidurkan bayi pada meja timbangan. Apabila menggunakan timbangan
dacin, masukkan anak dalam gendongan, lalu kaitkan gendongan ke timbangan.
Sedangkan apabila dengan berdiri, ajak anak untuk berdiri diatas timbangan injak
tanpa dipegangi.
Ketika minmbang berat badan bayi, tempatkan tangan petugas diatas tubuh
bayi (tidak menempel) untuk mencegah bayi jatuh saat ditimbang.
Apabila anak tidak mau ditimbang, ibu disarankan untuk menimbang berat
badannya lebih dulu, kemudian anak digendong oleh ibu dan ditimbang
Selisih antara berat badan ibu bersama anak dan berat badan ibu sendiri
menjadi berat badan anak. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat rumus berikut :
BB anak = (Berat badan ibu dan anak) – BB ibu
Tentukan hasil timbangan sesuai dengan jarum penunjuk pada timbangan.
Selanjutnya, tentukan posisi berat badan anak sesuai dengan standar yang
berlaku, yaitu apakah status gizi anak normal, kurang atau buruk. Untuk
menentukan berat badan ini juga dapat dilakukan dengan melihat pada kurva
KMS, apakah berada berat badan anak berada pada kurva berwarna hijau, kuning
atau merah.
1. Tinggi Badan ( Panjang badan)
Tinggi badan untuk anak kurang dari 2 tahun sering disebut dengan panjang
badan. Pada bayi baru lahir, panjang badan rata-rata adalah sebesar + 50 cm. Pada
tahun pertama, pertambahannya adalah 1,25 cm/bulan ( 1,5 X panjang badan
lahir). Penambahan tersebut akan berangsur-angsur berkurang sampai usia 9
tahun, yaitu hanya sekitar 5 cm/tahun. Baru pada masa pubertas ada peningkatan
pertumbuhan tinggi badan yang cukup pesat, yaitu 5 – 25 cm/tahun pada wanita,
sedangkan pada laki-laki peningkatannya sekitar 10 –30 cm/tahun. Pertambahan
tinggi badan akan berhenti pada usia 18 – 20 tahun.
Seperti halnya berat badan, tinggi badan juga dapat diperkirakan berdasarkan
rumus dari Behram (1992), yaitu :
Perkiraan panjang lahir : 50 cm
Perkiraan panjang badan usia 1 tahun = 1,5 Panjang Badan Lahir
Perkiraan panjang badan usia 4 tahun = 2 x panjang badan lahir
Perkiraan panjang badan usia 6 tahun = 1,5 x panjang badan usia 1 tahun
Usia 13 tahun = 3 x panjang badan lahir
Dewasa = 3,5 x panjang badan lahir atau 2 x panjang badan 2 tahun
Atau dapat digunakan rumus Behrman (1992):
Lahir : 50 cm
Umur 1 tahun : 75 cm
2 – 12 tahun ; umur (tahun) x 6 + 77
Cara pengukuran tinggi badan anak adalah :
Usia kurang dari 2 tahun :
Siapkan papan atau meja pengukur. Apabila tidak ada, dapat digunakan pita
pengukur (meteran)
Baringkan anak telentang tanpa bantal (supinasi), luruskan lutut sampai menempel
pada meja (posisi ekstensi)
Luruskan bagian puncak kepala dan bagian bawah kaki (telapak kaki tegak lurus
dengan meja pengukur) lalu ukur sesuai dengan skala yang tertera.
Apabila tidak ada papan pengukur, hal ini dapat dilakukan dengan cara memberi
tanda pada tempat tidur (tempat tidur harus rata/datar) berupa garis atau titik pada
bagian puncak kepala dan bagian tumit kaki bayi. Lalu ukur jarak antara kedua
tanda tersebut dengan pita pengukur. Untuk lebih jelasnya. Lihat gambar 1
Usia 2 tahun atau lebih :
Tinggi badan diukur dengan posisi berdiri tegak, sehingga tumit rapat,
sedangkan bokong, punggung dan bagian belakang kepala berada dalam satu garis
vertikal dan menempel pada alat pengukur.
Tentukan bagian atas kepala dan bagian kaki menggunakan sebilah papan
dengan posisi horizontal dengan bagian kaki, lalu ukur sesuai dengan skala yang
tertera.

2. Lingkar kepala

Secara normal, pertambahan ukuran lingkar pada setiap tahap relatif konstan
dan tidak dipengaruhi oleh factor ras, bangsa dan letak geografis. Saat lahir,
ukuran lingkar kepala normalnya adalah 34-35 cm. Kemudian akan bertambah
sebesar + 0,5 cm/bulan pada bulan pertama atau menjadi + 44 cm. Pada 6 bulan
pertama ini, pertumbuhan kepala paling cepat dibandingkan dengan tahap
berikutnya, kemudian tahun-tahun pertama lingkar kepala bertambah tidak lebih
dari 5 cm/tahun, setelah itu sampai usia 18 tahun lingkar kepala hanya bertambah
+ 10 cm.
Adapun cara pengukuran lingkar kepala adalah :
Siapkan pita pengukur (meteran)

Lingkarkan pita pengukur pada daerah glabella (frontalis) atau supra orbita
bagian anterior menuju oksiput pada bagian posterior. Kemudian tentukan
hasilnya (lihat Gambar 1) Cantumkan hasil pengukuran pada kurva lingkar kepala

4. Lingkar Lengan Atas (Lila)

Pertambahan lingkar lengan atas ini relatif lambat. Saat lahir, lingkar
lengan atas sekitar 11 cm dan pada tahun pertama, lingkar lengan atas menjadi 16
cm. Selanjutnya ukuran tersebut tidak banyak berubah sampai usia 3 tahun.
Ukuran lingkar lengan atas mencerminkan pertumbuhan jaringan lemak dan
otot yang tidak berpengaruh oleh keadaan cairan tubuh dan berguna untuk menilai
keadaan gizi dan pertumbuhan anak prasekolah.
Cara pengukuran lingkar lengan atas sebagai berikut :
Tentukan lokasi lengan yang diukur. Pengukuran dilakukan pada lengan
bagian kiri, yaitu pertengahan pangkal lengan dan siku. Pemilihan lengan kiri
tersebut dengan pertimbangan bahwa aktivitas lengan kiri lebih pasif
dibandingkan dengan lengan kanan sehingga ukurannya lebih stabil. Untuk lebih
jelasnya lihat gambar 3.
Lingkarkan alar pengukur pada lengan bagian atas seperti pada gambar
( dapat digunakan pita pengukur). Hindari penekanan pada lengan yang diukur
saat pengukuran.
Tentukan besar lingkar lengan sesuai dengan angka yang tertera pada pita
pengukur
Catat hasil pada KMS
5. Lingkar Dada
Sebagaimana lingkar lengan atas, pengukuran lingkar dada jarangdilakukan.
Pengukurannya dilakukan pada saat bernapas biasa ( mid respirasi ) pada tulang
Xifoidius( insicura substernalis). Pengukuran lingkar dada ini dilakukan dengan
posisi berdiri pada anak yang lebih besar, sedangkan pada bayi dengan posisi
berbaring.
Cara pengukuran lingkar dada adalah :
Siapkan pita pengukur
Lingkarkan pita pengukur pada daerah dada seperti pada gambar 1
Catat hasil pengukuran pada KMS

E. MENGETAHUI INDEKS MASA TUBUH


A. Pengertian
IMT atau sering juga disebut indeks quatelet pertama kali ditemukan oleh
seorang ahli matematika Lambert Adolphe Jacques Quatelet adalah alat pengukur
komposisi tubuh yang paling umum dan sering dilakukan. Beberapa studi telah
mengungkapkan bahwa IMT adalah alat pengukuran yang berguna untuk
mengukur obesitas, dan telah direkomendasikan untuk evaluasi klinik pada
obesitas anak
Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut:
IMT = Berat Badan (kg)
Tinggi badan (m) x Tinggi Badan (m)
Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan FAO/WHO, yang
membedakan batas ambang untuk laki-laki dan perempuan. Batas ambang normal
laki-laki adalah 20,1-25,0 dan untuk perempuan adalah 18,7-23,8.
Kategori ambang batas IMT untuk Indonesia
Kategori IMT
Kurus
Kekurangan berat badan tingkat berat < 17,0
Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,1-18,5
Normal 18,6-25,0
Gemuk
Kelebihan berat badan tingkat ringan 25,1-27,0
Kelebihan berat badan tingkat berat >27,0
C. Kategori Indeks Massa Tubuh
Untuk orang dewasa yang usianya 20 tahun ke atas, IMT diinterprestasi
menggunakan kategori status berat badan standar yang sama untuk semua umur
bagi pria dan wanita. Untuk anak-anak dan remaja, interpretasi IMT adalah
spesifik mengikut usia dan jenis kelamin. (CDC, 2009)
Secara umum, IMT 25 keatas membawa arti pada obesitas. Standar baru untuk
IMT telah dipublikasikan pada tahun 1998 mengklasifikasikan BMI dibawah 18,1
sebagai sangat kurus atau underweight, IMT diatas 23 sebagai berat badan lebih
atau overweight, dan IMT melebihi 25 sebagai obesitas. IMT yang ideal bagi
orang dewasa adalah diantara 18,5 – 22,9. Obesitas dikategorikan pada tiga
tingkat : tingkat I (25-29,9), tingkat II (30-40), tingkat III (>40). (CDC, 2002)

Batas Ambang IMT Indonesia

Gender Kategori IMT (Kg/m2)

Normal Kegemukan
Tingkat Tingkat Berat
Kurus
Ringan
Pria <18 kg/m2 18-25 >25±27 >27 kg/m2
kg/m2 kg/m2
Wanita <17 kg/m2 17±23 >23±27
kg/m2 kg/m2

Keterangan :
- IMT < 17,0 : Keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan berat
badan tingkat berat atau Kurang Energi Kronis (KEK)
- IMT 17,0 – 18,4 : Keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan
berat
badan tingkat ringan (KEK Ringan)
- IMT 18,5 – 25,0 : Keadaan orang tersebut termasuk kategori normal
- IMT 25,1 – 27,0 : Keadaan orang tersebut disebut gemuk dengan kelebihan
berat
badan tingkat ringan
- IMT >27,0 : Keadaan orang tersebut disebut gemuk dengan kelebihan berat
badan tingkat berat. (Direktorat Gizi Masyarakat RI, 2000)
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Antropometri artinya ukuran dari tubuh. Antropometri merupakan bagian
dari ilmu ergonomi yang berhubungan dengan dimensi tubuh manusia yang
meliputi bentuk, ukuran dan kekuatan dan penerapannya untuk kebutuhan
perancangan fasilitas aktivitas manusia. Data antropometri sangat diperlukan untuk
perancangan peralatan danlingkungan kerja. Kenyamanan menggunakan alat
bergantung pada kesesuaian ukuran alat dengan ukuran manusia. Jika tidak sesuai,
maka dalam jangka waktu tertentu akan mengakibatkan stress tubuh antara lain dapat
berupa lelah, nyeri, pusing.
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer&Bate(2002)-Buku-ajar-keperawatan-medical-
bedah(penerjemah:waluyo,A.)Jakarta:EGC

Anda mungkin juga menyukai