0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan35 halaman

Kompetensi Guru dan Efektivitas Pembelajaran

Skripsi ini membahas tentang kompetensi profesional guru terhadap efektivitas pembelajaran di SDN Arjowinangun 1 Kota Malang. Kompetensi profesional guru sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Guru perlu mengembangkan kemampuan untuk mengelola pembelajaran secara kreatif dan menyenangkan agar dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran yang baik dapat memb

Diunggah oleh

ATIKAH NUR
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan35 halaman

Kompetensi Guru dan Efektivitas Pembelajaran

Skripsi ini membahas tentang kompetensi profesional guru terhadap efektivitas pembelajaran di SDN Arjowinangun 1 Kota Malang. Kompetensi profesional guru sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Guru perlu mengembangkan kemampuan untuk mengelola pembelajaran secara kreatif dan menyenangkan agar dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran yang baik dapat memb

Diunggah oleh

ATIKAH NUR
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KOMPETENSI PROFESIONAL GURU TERHADAP EFEKTIVITAS

PEMBELAJARAN DI SDN ARJOWINANGUN 1 KOTA MALANG

SKRIPSI
Diajukan kepada
Universitas Kanjuruhan Malang
Untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar

OLEH
Hafilah Almas Rosiqoh
160401140158

UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
2021
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan sebagai bagian dari usaha untuk membina dan
mengembangkan manusia menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Akan
tetapi dalam prosesnya harus terarah dan bertujuan, yaitu dapat
mengarahkan anak didik (manusia) agar bisa sampai kepada titik optimal
kemampuannya. Sedangkan tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan
adalah terbentuknya kepribadian yang tangguh dan utuh sebagai manusia
individual dan sosial. Kualitas manusia yang di inginkan oleh bangsa Indonesia
adalah mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat di masa yang akan
datang. Di dalam menghadapi persaingan yang ketat tersebut, penyelenggara
pendidikan harus memiliki mutu yang terjamin. Oleh karena itu, peran guru
dalam hal ini sangat berperan dan memiliki kedudukan yang sangat penting
dalam meningkatkan pendidikan yang berkualitas. Itulah sebabnya guru harus
senantiasa mengembangkan kemampuan dirinya. Guru memiliki standar profesi
dengan menguasai materi serta strategi pembelajaran dan dapat mendorong
siswanya untuk lebih sungguh-sungguh dalam belajarnya. (Nuraidah, 2013)
Di dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional yang menjelaskan bahwa diperlukannya
pembaharuan sistem pendidikan nasional secara terencana, terarah dan
berkesinambungan untuk menjamin pemerataan, peningkatan mutu serta
relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan dalam menghadapi
perubahan kehidupan Lokal, Nasional, dan Global. Untuk menjamin
Sistem Pendidikan Nasional maka perlu mengembangkan dan
meningkatkan mutu pada lembaga pendidikan seperti sekolah, sebagai
tempat dalam melaksanakan suatu kegiatan yang berkaitan dengan
pengembangan mutu pendidikan serta pengembangan sumber daya
manusia yang berkualitas. Salah satunya adalah tenaga kependidikan yaitu
guru. Untuk menjamin kualitas pendidikan di sekolah, guru berpengaruh
bagi keefektivan didalam pembelajaran yang telah berlangsung. Aspek di
dalam pendidikan sangat penting, maka upaya dalam memperbaiki dan
meningkatkan kualitas pendidikan harus dilakukan secara terus menerus.
(Ihsan,dkk)
Pendidikan adalah salah satu aspek kehidupan yang sangat
fungsional bagi manusia dan memiliki kedudukan yang strategis dalam
mencerdaskan kehidupan bangsa. Di dalam menjalankan suatu lembaga
pendidikan, tentu di dalamnya terdapat pendukung agar lembaga tersebut
dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Pendukung tersebut salah
satunya yaitu adanya tenaga pendidik yang berkualitas. Jika di suatu
lembaga sudah lengkap tetapi belum memiliki tenaga pendidik yang
berkuallitas, maka lembaga tersebut tentunya akan berjalan kurang efektif.
Keefektifan sekolah menuntut perubahan sikap dan tingkah laku dari
seluruh aspek sekolah, baik kepala sekolah, guru, maupun staf tata usaha,
termasuk orang tua siswa dan masyarakat dalam memandang dan
memahami sekaligus memonitoring dan mengevaluasi dalam pelaksanaan
sekolah. (Harso, 2012)
Untuk mencapai hasil belajar yang optimal, guru merupakan salah
satu faktor penentu berhasil tidaknya suatu pembelajaran. Keberhasilan
penyelenggaraan pembelajaran sangat ditentukan oleh kesiapan guru
dalam mengelola pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus menciptakan
pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan. Untuk itu guru harus
memiliki ketrampilan mengelola pembelajaran. (Sutardi, 2016)
Secara konseptual guru sebagai tenaga pendidikan yang
profesional harus memenuhi persyaratan kompetensi untuk menjalankan
tugas dan wewenangnya sebagai pendidik, sementara kondisi di lapangan
masih sangat memprihatinkan baik secara kuantitas maupun kualitas dan
profesionalitas guru di masyarakat. Menurut Elliot dalam (Ismail, 2010)
kompetensi merupakan suatu kondisi dari kemampuan, keefektivan atau
kesuksesan. Kompetensi tersebut dibentuk dari adanya dua faktor, yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal tersebut berasal dari
potensi bawaan yang dimiliki sejak lahir. Sedangkan faktor eksternal
dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang membawa pada potensi tersebut.
Pada era abad -21 ini, lingkungan sekitar sangat berpengaruh bagi siswa,
salah satunya dalam memanfaatkan teknologi yang begitu pesat, guru
harus dapat menuntun siswa untuk memanfaatkan teknologi dalam
melaksanakan pembelajaran di sekolah. Kompetensi guru di era ini
sangat berperan, dimana guru dan peserta didik harus mampu bersaing
mengikuti arus perkembangan zaman. Guru juga harus dapat menjadi
fasilitator bagi siswa dan menjadi penunjuk jalan agar peserta didik tetap
memanfaatkan teknologi dengan baik.
Secara teori, guru yang memiliki kompetensi yang baik adalah
guru yang dapat memenuhi empat indikator di dalamnya, seperti
kompetensi paedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian dan
kompetensi profesional. Tugas seorang guru, tidak hanya menjadi pengajar
yang melakukan transfer of knowlegde, tetapi juga bertindak sebagai
wadah pedidikan yang melakukan transfer of values sekaligus sebagai
pembimbing yang memberikan pengarahan dan menuntun siswa dalam
mewujudkan cita-citanya. (Sudirman dalam (Evi,2019)
Sedangkan menurut (Lince, 2016) secara konseptual, guru sebagai
tenaga profesional harus memiliki kompetensi untuk melaksanakan
tanggung jawabnya secara profesional ketika berada di lapangan.
Sedangkan melihat kondisi riil di lapangan menyatakan bahwa masih
sangat memprihatinkan di dalam menjalankan tugasnya, baik secara
kualitas, kuantitas, maupun keprofesionalitasnya. Di era abad -21 ini, cara
belajar siswa dibandingkan dengan sebelumnya pun berbeda. Hal ini yang
menyebabkan tenaga kependidikan termasuk orang tua dan guru harus
bekerja keras agar dapat mengikuti perkembangan yang semakin pesat ini.
Terutama guru yang sudah berada sejak zaman pra digital mau tidak mau
harus mengikuti arus perkembangan zaman agar tidak ketinggalan zaman.
Di dalam menghadapi perkembangan tersebut, maka diperlukan adanya
strategi untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam menghadapi
tantangan di era ini sehingga dapat menghasilkan guru yang benar-benar
profesional seiring berjalannya waktu.
Sejalan dengan (Daryanto, 2013) Guru merupakan komponen yang
sangat menentukan keberhasilan suatu pendidikan karena dia menjadi
sebuah figur dalam proses pembelajaran. Meskipun paradigma baru
mengajar teacher centered menjadi student centered bukan berarti tugas
guru semakin berkurang. Malah justru semakin meningkat. Guru tetap
menentukan kualitas keberhasilan peserta didik terutama terkait dengan
pendidikan dan proses pembelajaran untuk mencerdaskan peserta didik,
karena kreativitas guru juga sangat diperlukan untuk mentransfer ilmu dan
juga menggali potensi peserta didik. Selain harus mewujudkan UU Sistem
Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 khususnya di pasal 3, ada dua hal
yang mendasari adanya perbaikan kurikulum 2006 menjadi kurikulum
2013 yaitu adanya tantangan internal dan eksternal yang harus dihadapi
Bangsa Indonesia di masa mendatang.
Tantangan Internal yang dimaksud dalam (Salirawati, M.Si, 2018)
adalah adanya tuntutan pendidikan yang mengacu pada 8 Standar Nasional
seperti standar isi, standar kurikulum, dan lain-lain. Selain itu,
melimpahnya jumlah SDM di usia produktif yang dianggap tidak
berkompeten di dalam dunia kerja sehingga dapat terjadi beban
pembangunan. Selain tantangan internal, pada tantangan eksternal pun
juga ada, termasuk dalam menghadapi bangsa di masa mendatang, banyak
sekali hal-hal yang harus dipersiapkan. Tantangan ini berhubungan dengan
arus globalisasi yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup,
lingkungan sosial, kemajuan teknologi dan informasi serta perkembangan
pendidikan di tingkat Internasional.
Menurut (Salirawati, 2018) untuk menghasilkan mutu SDM yang
lebih besar, maka diperlukannya kualitas guru yang mampu membawa
kejayaan bangsanya, tidak cukup hanya dengan sertifikat, tetapi juga harus
menampilkan kualitas itu di dalam kehidupan nyata sebagai seorang guru.
Kualitas itu harus di dampingi dengan niat dan motivasi juga. Karena
kejayaan bangsa adalah majunya sebuah pendidikan. Secanggih apapun
sebuah kurikulum, jika guru tidak dapat menggunakannya dengan baik dan
pola pikir guru masih tetap sama tidak berubah, maka hal ini juga tidak
akan berhasil mencapai tujuan yang di inginkan. Hal ini disebabkan oleh
guru yang merupakan sosok yang melaksanakan kurikulum secara
operasional di lapangan, baik dalam bentuk pengembangan RPP maupun
pembelajaran praktik di kelas.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa di dalam suatu
pembelajaran, guru sangat berperan aktif di dalamnya. Guru juga dapat
membuat suatu kegiatan pembelajaran yang efektif dan bermakna dengan
membuat rancangan pembelajaran yang efektif dan bermakna. Rancangan
tersebut tertulis dalam sebuah Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP).
Menurut Bararah (dalam Putria, Maula and Uswatun, 2020)
Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah suatu rancangan yang
akan diterapkan guru dalam proses pembelajaran di kelas. Di dalam RPP
tersebut memuat prosedur pembelajaran dari awal hingga akhir yang
sesuai dengan indikator dan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Hal tersebut bertujuan agar dapat memudahkan guru dalam melaksanakan
proses pembelajaran bersama peserta didik. Pada umumnya, proses
pembelajaran tersebut dilakukan di dalam suatu lembaga atau sekolah
Agar guru dapat membimbing, mengarahkan, memotivasi dan mengetahui
seberapa besar pemahaman siswa selama pembelajaran berlangsung.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir ini peran dan tugas guru yang telah
disebutkan sebelumnya mengalami perubahan yang dapat mengakibatkan
proses pembelajaran secara langsung diubah menjadi pembelajaran secara
daring dikarenakan suatu wabah yang menyerang seluruh dunia termasuk
Negara Indonesia.
Berkaitan dengan hal tersebut, guru dan orang tua sangat berperan
dalam meningkatkan kinerja dan profesionalismenya sehingga mampu
mendukung terwujudnya pendidikan yang berkualitas. Dengan demikian,
bangsa Indonesia tidak hanya hebat dalam mengirim TKW, tetapi juga
hebat mengirim masyarakatnya dalam kancah kompetitif di bidang
pendidikan, IPTEK, dan bidang-bidang lainnya.
Berdasarkan paparan data yang disampaikan oleh beberapa para
ahli, pembahasan ini menarik untuk dikembangkan karena pada kenyataan
di lapangan, guru sangat berperan aktif dalam meningkatkan kualitas
Bangsa di abad ke -21 ini sehingga peneliti mengambil judul tentang
“Kompetensi Profesional Guru Terhadap Efektivitas Pembelajaran
Di SDN Arjowinangun 1 Kota Malang”.
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti merumuskan beberapa fokus
data penelitian antara lain sebagai berikut :
1. Bagaimana Kompetensi Profesional Guru terhadap efektivitas
pembelajaran di SDN Arjowinangun 1 Kota Malang?
2. Bagaimana upaya yang dilakukan dalam meningkatkan efektivitas
pembelajaran di SDN Arjowinangun 1 Kota Malang?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian diatas, maka tujuan dari penelitian ini
adalah:
1. Untuk mengetahui kompetensi profesional guru terhadap efektivitas
pembelajaran di SDN Arjowinangun 1 Kota Malang
2. Untuk mengetahui upaya dalam meningkatkan efektivitas
pembelajaran di SDN Arjowinangun 1 Kota Malang
D. Landasan Teori
1. Pengertian Kompetensi Guru
Dalam suatu kegiatan belajar mengajar, Guru adalah seseorang
yang selalu berperan penting terhadap pelaksanaan pembelajaran. Di
dalam interaksi antara guru dengan siswa saat pembelajaran
berlangsung, maka perlu adanya kompetensi yang harus dimiliki
seorang guru untuk dapat menghasilkan suatu kegiatan yang efektif
dan efisien. Dari sinilah letak kompetensi guru sangat diperlukan.
Kompetensi tersebut merupakan suatu kemampuan yang harus dimiliki
guru agar dapat menghasilkan atau mencapai tujuan dengan baik.
Gronczi (1997) dan hager (1995) dalam (Daryanto, 2013)
Kompetensi guru menjelaskan bahwa “An integrated view sees
competence as a combination of knowledge, attitudes, skills, and
values displayed in the context of task perforrmance”. Dengan kata
lain diartikan bahwa kompetensi guru merupakan kombinasi kompleks
dari pengetahuan, sikap, keterampilan, dan nilai-nilai yang ditunjukkan
oleh guru dalam konteks kinerja tugas yang diberikan kepadanya.
Sejalan dengan definisi tersebut, Direktorat Tenaga Kependidikan,
Dikdasmen menjelaskan bahwa “kompetensi diartikan sebagai
pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam
kebiasaan berfikir dan bertindak.” Keseluruhan dari kompetensi
tersebut tentu harus dijalankan dengan sikap dan dengan kepribadian
guru yang baik. Apabila seorang guru memiliki sikap dan perilaku
yang baik maka dia juga akan memperlakukan siswanya dengan baik
bahkan seperti anaknya sendiri. Ketika siswa meperlakukan siswanya
dengan rasa cinta, maka siswa tersebut pasti akan menaruh
kepercayaan kepada gurunya. Melalui kepercayaan itu, guru akan
menjadi guru yang baik dan berwibawa dimata siswanya.
Adapun Menurut Danim (2011) mendefinisikan kompetensi
sebagai suatu bentuk refleksi dari pengetahuan, keterampilan, dan
nilai-nilai dasar dan diterapkan melalui pekerjaan sesuai dengan
standar kinerja yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam dunia kerja.
untuk menjadi tenaga pendidik yang profesional, tentunya harus
memiliki persyaratan khusus. Setidaknya, guru profesional harus
memiliki kualifikasi akademik, kompetensi sebagai agen
pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta dapat mewujudkan suatu
pendidikan nasional. Untuk itu, sebagai guru tidak hanya memiliki
kualifikasi yang baik, melainkan harus memiliki standar kompetensi
yang baik juga untuk menunjang aktivitas pembelajaran.
Sejalan dengan (Salirawati, 2018) yang mendefinisikan tentang
kompetensi yakni suatu kumpulan dari penugasan, keterampilan dan
sikap yang dapat dicapai seseorang setelah menyelesaikan suatu
pendidikan yang diampunya melalui kinerja yang ditampilkannya.
Sesuai dengan yang tercantum dalam UU No.14 Tahun 2005 yang
menjelaskan bahwa seorang guru yang profesional harus memiliki
empat jenis kompetensi inti di dalamnya, yaitu kompetensi pedagogik,
profesional, sosial dan kepribadian.
Berdasarkan beberapa landasan teori diatas dapat disimpulkan
bahwa kompetensi guru adalah seperangkat kualifikasi dari
pengetahuan, keterampilan, dan kinerja yang harus dimiliki seorang
guru dalam menciptakan suatu pembelajaran yang efektif dan
maksimal.
2. Kompetensi Profesional Guru
Menurut (Hasan, 2017) Kompetensi Profesional guru merupakan
suatu kompetensi yang berkaitan dengan kinerja seorang guru dalam
mengelola pembelajaran dengan efektif karena di dalam kompetensi
ini seorang guru harus menguasai materi secara luas dan mendalam
serta memiliki keahlian di dalam keterampilan pada bidang yang
ditekuni dalam menjalankan profesinya dengan baik. Untuk menjadi
seorang guru yang profesional dibutuhkan beberapa keahlian dan
untuk menjalankan profesi tersebut seorang guru harus memegang
pada pedoman sistem pendidikan yang telah tercantum di dalamnya.
Kualifikasi seorang guru tidak hanya berhenti sampai pada materi
pembelajaran saja, namun bagaimana seorang guru dapat
menciptakaan pembelajaran bermakna dan dapat berevolusi sesuai
perkembangan zaman yang semakin canggih.
Sejalan dengan Suyono & Hariyanto (2011:186) Kompetensi
profesional merupakan suatu kemampuan yang harus dikuasai oleh
guru dalam bidang pengetahuan, ilmu peengetahuan, teknologi, atau
seni dan budaya yang diampunya. Kemampuan yang harus dikuasi
tersebut meliputi : a) penguasaan materi pelajaran secara luas dan
mendalam sesuai dengan standar isi program satuan pendidikan, mata
pelajaran, dan kelompok mata pelajaran yang akan diampu, b) konsep
dan metode disiplin keillmuan, teknologi, atau seni yang relevan, yang
secara konseptual menaungi/ koheren dengan program satuan
pendidikan, mata pelajaran, atau kelompok mata pelajaran, atau
kelompok mata pelajaran yang akan diampu. Hal yang terpenting
disini adalah bahwa seorang guru harus dapat meningkatkan
kualifikasinya dalam keterampilan dan kompetensinya agar
pembelajaran yang awalnya terasa sukar dan kompleks dapat
terselesaikan dengan cara memberikan pembelajaran yang bermakna
bagi siswa.
Pengertian kompetensi profesional ini diperkuat oleh (Tabi’in,
2016) yang menjelaskan bahwa kompetensi profesional merupakan
suatu penguasaan pembelajaran dengan mendalam dan mencakup
penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah serta dapat
menguasai struktur dan metodologi keilmuannya. Dari setiap
kompetensi terdapat beberapa sub yang memiliki indikator esensial
sebagai berikut ;
1) sub kompetensi menguasai substansi keilmuan yang terkait
dengan bidang studi. Indikatornya adalah :
a) memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah
b) memahami struktur, konsep, dan metode keilmuan yang
koheren dengan materi ajar
c) memahami hubungan konsep antara mata pelajaran terkait
d) menerapkan konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari
2) Sub kompetensi menguasai struktur dan metode keilmuan.
Indikatornya adalah :
a) Menguasai langkah penelitian dan memperdalam materi
untuk dapat bertindak secara profesional dalam konteks
global.
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas dan juga penelitian dari
Gunawan dalam (Dalrohman,2016) kompetensi profesional guru sekolah
menengah atas dapat dirumuskan sebagai berikut:
1) Menguasai materi, struktur konsep, dan pola pikir keilmuan
yang mendukung mata pelajaran yang diampu, meliputi:
a) Memahami penguasaan materi mata pelajaran yang diampu
b) Memahami penguasaan struktur mata pelajaran yang
diampu
c) Memahami penguasaan konsep mata pelajaran yang
diampu
d) Memahami pola pikir keilmuan yang mendukung mata
pelajaran yang diampu
2) Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata
pelajaran yang diampu, meliputi:
a) Memahami standar kompetensi yang diampu
b) Memahami kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu
c) Memahami tujuan pembelajaran yang diampu
d) Memilih dan menggunakan metode pembelajaran
3) Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara
kreatif, meliputi:
a) Memilih materi pembelajaran yang diampu sesuai dengan
tingkat perkembangan peserta didik
b) Mengolah materi pelajaran yang diampu secara kreatif
sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik
3. Karakteristik Kompetensi Profesional
Menurut Suyono & Hariyanto (2011:187) menjelaskan bahwa guru
yang profesional adalah guru yang minimal memiliki empat kriteria
atau karakteristik, yaitu : a) Kemampuan profesional (professional
competencies)yaitu kemampuan inteligensi, sikap, dan prestasi kerja,
b) upaya profesional (professional efforts) yaitu upaya untuk
mentranformasikan kemampuan profesional yang dimiliki kedalam
tindakan mendidik dan mengajar secara nyata, c) waktu yang
dicurahkan untuk kegiatan profesional (teacher’s time) yang
menunjukkan intensitas waktu dari seorang guru yang di
konsentrasikan untuk tugas-tugas profesinya, d) kesesuaian antara
keahlian dan pekerjaannya (profesional relevancies).
Sedangkan menurut pendapat (Ekawati, 2017) menjelaskan bahwa
karakteristik kompetensi profesional guru adalah sebagai berikut :
a) Guru dapat mengembangkan tanggung jawab dengan sebaik-
baiknya
b) Guru dapat melaksanakan perannya dengan sukses
c) Guru dapat bekerja keras untuk mencapai tujuan pembelajaran
dalam pendidikan
d) Guru dapat melaksanakan perannya ketika proses pembelajaran
di kelas
Selanjutnya, karakterisik kompetensi profesional menurut pendapat
Gary dan Margareth yang dikutip oleh Mulyasa, (2017) adalah :
a) Memiliki kemampuan mengorganisasikan pembelajaran yang
bermakna dan menciptakan lingkungan yang lebih banyak
melibatkan siswa agar lebih aktif dalam pembelajaran
b) Memiliki kemampuan mengembangkan metode dan strategi
pembelajaran dengan baik terutama dalam menangani siswa
yang bermasalah
c) Memiliki kemampuan mengevaluasi dan memberikan umpan
balik terhadap siswa, memberikan respon positif dan bersifat
membangun agar siswa lebih dapat bersemangat terutama bagi
siswa yang lamban belajar
d) Memiliki kemampuan mengembangkan metode mengajar,
mengembangkan kurikulum yang lebih inovatif, dan
mempeluas ilmu pengetahuan dalam mengajar yang
profesional.
Berdasarkan beberapa teori diatas dapat disimpulkan bahwa untuk
menjadi guru yang profesional maka diperlukan adanya beberapa
kompetensi yang dapat digunakan sebagai acuan untuk menjadi guru
yang profesional. Antara lain dapat menguasai dan mendalami materi
pembelajaran dengan baik, dapat menggunakan metode pembelajaran
dengan inovatif dan menyenangkan, dapat mengembangkan kurikulum
menjadi kurikulum yang lebih bermakna, mampu mengembangkan
pembelajaran yang dapat melibatkan siswa di dalamnya, dapat
memberikan penguatan dan umpan balik terhadap siswa yang lamban
dalam belajar, serta dapat membuat pembelajaran bermakna sesuai
perkembangan zaman. Jika seorang guru belum memnuhi kriteria
tersebut maka pembelajaran belum tercapai secara maksimal. Dalam
meningkatkan keprofesionalannya, maka guru juga dapat
meningkatkan kompetensinya dengan melaksanakan pelatihan atau
seminar yang dilaksanakan di beberapa lembaga pendidikan.
4. Efektivitas Pembelajaran
Seorang guru adalah yang mampu memberikan rancangan
pembelajaran yang bermakna sehingga apa yang disajikan menjadi
efektif dan di terima oleh pembelajar, sedangkan peserta didik bertugas
menjadi wadah yang dapat membangun pengetahuan dan wawasan
dalam proses pembelajaran.Menurut Supardi dalam (Mutmainah,
2017)yang dimaksud dengan pembelajaran efektif adalah suatu
kombinasi yang tersusun atas unsur manusiawi, material, fasilitas,
perleengkapan dan prosedur yang diarahkan untuk mengubah perilaku
siswa ke arah yang lebih baik sesuai dengan potensi yang dimiliki
siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang sudah di tetapkan.
Menurut Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional pasal 1 menyatakan bahwa pendidikan
merupakan usaha sadar dan terencana untuk dapat mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mampu mengembangkan potensi dirinya untuk memilikikekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan untuk dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara.
Dalam Undang-Undang tersebut sudah menjadi landasan hukum
dan sudah dijelaskan bahwa kita semua yang bergerak di bidang
pendidikan memiliki tugas, kewajiban, dan tanggung jawab serta
amanah yang harus diemban dalam mengembangkan sistem
pendidikan dalam bangsa ini.
Jika pembelajaran ini dikemas dengan menarik dan menyenangkan,
maka peserta didik pun juga akan termotivasi dan dapat meningkatkan
kualitas belajarnya dengan baik. sejalan dengan Hernowo dalam
(Saefuddin, 2016) yang mengungkapkan bahwa “Learning is most
effective when it’s fun.” yang bermakna “suatu pembelajaran dapat
dikatakan efektif jika pembelajaran tersebut menyenangkan”.
Pembelajaran efektif (Saefuddin, 2016) adalah apabila tujuan
pembelajaran yang telah dirumuskan berhasil guna diterapkan dalam
pembelajaran. Pembelajaran dapat dikatakan efektif jika mampu
memberikan pengalaman baru, membentuk kompetensi peserta didik
dan menghantarkan mereka ke tujuan yang ingin dicapai secara
optimal. Selain itu, guru juga mampu merancang dan mengelola
pembelajaran dengan metode atau model yang tepat.
Sama halnya dengan pendapat Mulyasa dalam (Jamisah, 2018)
yang menyatakan bahwa pembelajaran yang efektif yaitu jika proses
pengajaran menggunakan waktu yang cukup sekaligus dapat
membuahkan hasil secara lebih tepat dan cermat serta optimal. Waktu
pengajaran yang sudah ditentukan sesuai dengan bobot materi
pelajaran maupun ketercapaian tujuan pembelajaran instruksionalnya
diharapkan dapat memberikan sesuatu yang berharga bagi peserta
didik.
Pengertian lainnya tentang efektivitas pembelajaran menurut
Syaiful dalam (Sirojuddin, 2011) adalah suatu perencanaan
pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya dalam mencapai suatu
tujuan pembelajaran. Suatu pembelajaran dapat dianggap efektif jika
tujuan yang berhasil dicapai adalah minimal 60%.
5. Indikator Pembelajaran Efektif
Efektivitas pembelajaran adalah suatu ukuran yang dapat
ditentukan dari minat siswa dalam proses pembelajaran yang sedang
berlangsung. Efektivitas pembelajaran dapat diukur sesuai dengan
tingkat keberhasilan siswa saat proses pembelajaran sedang
berlangsung. Ketika siswa tidak memiliki minat untuk mempelajari
sesuatu, maka hasilnya pun tidak akan sesuai dengan yang diharapkan.
Sebaliknya, jika siswa memiliki minat untuk mempelajari sesuatu,
maka hasilnya pun juga akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Oleh sebab itu, suatu pembelajaran dapat dikatakan sebagai
pembelajaran yang efektif ketika dapat diselesaikan dengan waktu dan
tujuan sesuai yang diharapkan.
Untuk memenuhi efektivitas pembelajaran sesuai dengan yang di
inginkan, maka ada beberapa indikator yang terdapat dalam efektivitas
pembelajaran menurut Ekawati (2017) diantaranya sebagai berikut:
a. Pengorganisasian pembelajaran dengan baik
b. Komunikasi secara aktif
c. Penguasaan dan antusiasme dalam pembelajaran
d. Sikap poitif terhadap peserta didik
e. Pemberian pujian dan nilai yang adil
f. Keluwesan dalam pendekatan pembelajaran
g. Hasil peserta didik yang baik
h. Melibatkan siswa secara aktif.
i. Menarik minat dan perhatian siswa
j. Membangkitkan motivasi siswa
k. Memanfaatkan alat peraga
Sedangkan menurut Baron (2010) mengemukakan bahwa
kriteria efektivitas meliputi :
1) Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran baik
2) Aktivitas siswa selama pembelajaran baik
3) Respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran positif
4) Hasil belajar siswa tuntas secara klasikal

Dari beberapa kriteria atau indikator diatas dapat disimpulkan


bahwa untuk menjadi guru yang profesiona dan pembelajaran dapat
efektif maka ada indikator yang harus dikuasai oleh seorang guru
yaitu kemampuan dalam mengelola pembelajaran, kemampuan dalam
menguasai mata pelajaran, dapat berkomunikasi dengan baik, mampu
melibatkan siswa untuk aktif dalam pembelajaran, serta memiliki
sikap positif terhadap peserta didik.

6. Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Pembelajaran


Di dalam kegiatan proses pembelajaran, efektivitas pembelajaran
merupakan salah satu ukuran yang mendasari tercapainya tujuan
pembelajaran dengan baik atau tidak. Efektif atau tidaknya proses
pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar siswa. Selain itu ada juga
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran
menurut Herlina dalam (Jamisah, 2018) antara lain sebagai berikut :
a) Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam dirinya
sendiri seperti kepribadian, cita-cita, sikap, pengalaman yang
tidak ada rangsangan dari luar, tetapi timbul dari dalam dirinya
sendiri sesuai dengan kebutuhannya. Adanya faktor-faktor
yang mempengaruhi efektivitas pembelajaran itu sendiri
disebabkan oleh :
1) Motivasi/kebutuhan, ambisi, gaya belajar, kebiasaan belajar
a) Faktor fisik. Yang termasuk kedalam faktor fisikyaitu
kesehatan dan kesempurnaan tubuh.
b) Faktor eksternal
c) Faktor psikis
d) Faktorintelektual yaitu kecerdasan/inteligensi danbakat.
e) Faktor non intelektual yaitu minat.
b) Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari rangsangan
orang lain di lingkungan sekitarnya dan tidak berasal dari
dalam dirinya sendiri.
1) Lingkungan Sosial
Ada banyak sekali faktor yang berasal dari lingkungan yang
ada di sekitarnya, diantaranya adalah teman sebaya, sikap
keluarga, keadaan ekonomi keluarga, hubungan anggota
keluarga, pengajar, masyarakat, serta media massa. Faktor
tersebut sangat berpengaruh bagi keefektivan belajar di
dalam proses kegiatan pembelajaran.
2) Lingkungan Fisik
Adapun faktor yang berasal dari lingkungan fisik
yaitu suasana rumah, kondisi tempat belajar, sarana belajar,
dan waktu sekolah.
Peran orang tua, guru, serta masyarakat sangat
mempengaruhi tingkat keberhasilan siswa dalam
menjalankan suatu proses pembelajaran. Jika siswa
dikelilingi dengan lingkungan yang baik, maka siswa juga
akan membawa dampak yang baik, begitu juga sebaliknya,
jika siswa dikelilingi oleh lingkungan yang tidak baik,
maka dampak bagi siswa tersebut juga akan tidak baik.
E. Kegunaan Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat :
a. Menambah wawasan bagi perkembangan ilmu pengetahuan
b. Berkembang lebih lanjut setelah melalui beberapa penelitian yang
belum tercangkup.
2. Manfaat Praktis
Sedangkan secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat
memberikan manfaat dan berguna bagi berbagai pihak, antara lain :
a. Bagi peneliti
Dapat memberi pengetahuan dan pengalaman bagi peneliti setelah
melakukan penelitian ini. Serta sebagai bekal untuk peneliti untuk
dapat menerapkan kompetensi yang lebih baik ketika sudah menjadi
guru.
b. Bagi Guru
Selain bagi peneliti, penelitian ini juga bermanfaat bagi guru
sekolah dasar agar dapat menjadi bahan motivasi untuk meningkatkan
kemampuan mengajar di sekolah sehingga dapat berkualitas bagi
bangsa dan Negara.
c. Bagi Peserta Didik
Bagi peserta didik diharapkan dapat menjadikan pengetahuan di
dalam pembelajaran yang efektif dan berguna ketika di sekolah.
3. Kajian Empiris
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kajian empiris
merupakan suatu keadaan yang dapat dibuktikan melalui kejadian nyata
melalui observasi, penelitian, maupun melalui eksperimen.
Adapun beberapa percobaan sebelumnya yang dapat mendukung penelitian ini
adalah sebagai berikut :
Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu
Desain Subyek
No Nama Penulis Tahun Hasil Penelitian
Penelitian Penelitian
1. Tiwi Ekawati 2017 Jenis penelitian Semua Guru di Hasil penelitian ini adalah :
ini termasuk MTs Aulia pertama, kompetensi profesional
”Pengaruh dalam kategori Cendekia guru di MTs Aulia Cendekia
Kompetensi Kuantitatif Palembang Palembang dikategorikan sedang
Guru deskriptif. atau baik karena dari 45
Terhadap responden atau sebesar (47%)
Efektivitas yang mendapat skor pada
Pembelajaran kategori sedang. Kedua,
Di Mts Aulia efektivitas pembelajaran di Mts
Cendekia Aulia Cendekia Palembang
Palembang” dikategorikan sedang atau baik
karena dari 45 responden terdapat
30 responden atau sebesar (60%)
yang mendapat skor pada
kategori sedang. Ketiga, ada
pengaruh yang signifikan antara
kompetensi profesionl guru
terhadap efekktivitas
pembelajaran di Mts Aulia
Cendekia Palembang. Hal
tersebut berdasarkan hasil analisa
statistik menyatakan bahwa
perbandingan nilai “r” yang
terdapat pada rhitung(0,957)
adalahlebih besar dari pada
rtabelbaik pada taraf signifikansi
1% = 0,389 maupun taraf
signifikansi 5% = 0,301. Dengan
perbandingan 0,389 < 0,957 >
0,301.
2. Muhammad 2017 Kuantitatif guru ekonomi Hasil penelitian menunjukkan
Hasan dengan jenis Sekolah bahwa : (1) Kompetensi
data asosiatif Menengah Atas Profesional guru ekonomi
“Pengaruh kausal Negeri di Sekolah Menengah Atas Negeri
Kompetensi Kabupaten Gowa di Kabupaten Gowa berada pada
Profesional yang tersebar di kategori yang sangat tinggi; (2)
Guru 21 Sekolah Kinerja guru ekonomi Sekolah
Terhadap Menengah Atas Menengah Atas Negeri di
Kinerja Guru Negeri di Kabupaten Gowa berada pada
Ekonomi Kabupaten Gowa kategori sangat tinggi; dan (3)
Sekolah yang berjumlah Kompetensi profesional yang
Menengah 39 orang diukur oleh kinerja guru ekonomi
Atas Negeri Sekolah Menengah Atas Negeri
Di Kabupaten di Kabupaten Gowa memiliki
Gowa” kontribusi positif dan signifikan
tetapi memiliki hubungan yang
lemah antara variabel
Kompetensi Profesional Guru
dan variabel Kinerja Guru
ekonomi Sekolah Menengah Atas
Negeri di Kabupaten Gowa
3. Cut Fitriani, 2017 Metode Subjek penelitian Hasil penelitian menunjukkan:
Murniati AR, penelitian adalah para guru, (1) kompetensi yang dimiliki
Nasir Usman deskriptif Kepala Madrasah, guru dalam merencanakan
dengan Waka Madrasah pembelajaran dalam menyusun

“Kompetensi pendekatan dan siswa di MTs RPP, penyusunan silabus,

Profesional kualitatif Muhammadiyah merencanakan media dan sumber

Guru Dalam Kota Banda Aceh. pembelajaran serta merencanakan

Pengelolaan evaluasi pembelajaran sesuai

Pembelajaran dengan petunjuk yang ditetapkan,

di Mts tetapi ada beberapa guru

Muhammadiy mengajar tidak membuat

ah Banda perencanaan pembelajaran; (2)

Aceh” strategi profesional guru dalam


mengimplementasikan
pembelajaran yaitu: menguasai
materi, struktur, konsep dan pola
pikir keilmuan yang mendukung
mata pelajaran yang diajarkan.
Hal itu dilakukan dengan review
materi sebelum melanjutkan,
menyesuaikan materi dengan
media/ sumber belajar; dan (3)
evaluasi pembelajaran yang
diberikan guru sesuai dengan
tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan, yaitu mencakup nilai
karakter siswa, penilaian
kemampuan memahami konsep,
nilai keterampilan siswa dan nilai
sikap dalam proses pembelajaran.
Evaluasi dilakukan setiap selesai
satu materi pokok bahasan
pelajaran
4. Zulkefi MA 2017 Metode Guru akutansi di Berdasarkan uraian hasil dan
Latief., Kuantitatif Seluruh Madrasah pembahasan penelitian, maka
Ridwan dan deskriptif Aliyah Negeri di dapat disimpulkan sebagai
Calarce Kota Palu berikut : 1. Kompetensi
Totanan profesional dan pedagogik guru
secara bersama-sama

“Pengaruh berpengaruh signifikan terhadap

Kompetensi kinerja guru pada Madrasah

Profesional Aliyah di Kota Palu.

dan Pedagogik 2. Kompetensi profesional secara

Terhadap parsial berpengaruh signifikan

Kinerja Guru terhadap kinerja guru pada

Akutansi Pada Madrasah Aliyah di Kota Palu.

Madrasah 3. Kompetensi pedagogik cecara

Aliyah Negeri parsial berpengaruh tidak

Di Kota Palu” signifikan terhadap kinerja guru


pada Madrasah Aliyah di Kota
Palu
5. Nur Jamisah 2018 Metode Guru Akidah Hasil penelitian menunjukkan
kualitatif akhlak di MAS bahwa pembelajaran aqidah

“Efektivitas Lukman Hakim akhlak di MAS Luqman Al-

Pembelajaran Hakim masih kurang efektif.

Aqidah Adapun faktor yang

Akhlak di mempengaruhi efektivitas

MAS Luqman pembelajaran aqidah akhlak di

Al-Hakim” MAS Luqman Al-Hakim terdapat


pada cara guru dalam mengajar
dan diri siswa itu sendiri.
Kemudian metode yang
digunakan oleh guru dalam
mengajar hanya metode ceramah
dan diskusi, dan diantara kedua
metode tersebut metode ceramah
lebih mendominasi, yang
membuat siswa merasa bosan
ketika proses belajar mengajar
berlangsung. Dalam penulisan
skripsi ini penulis berpedoman
pada buku karya ilmiah yang
diterbitkan oleh Fakultas
Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-
Raniry Darussalam Banda Aceh
2016.

Dari beberapa penelitian terdahulu yang telah diambil, yang menjadi


pembeda dengan penelitian sekarang adalah obyek yang diteliti yaitu beberapa
guru yang mengampu mata pelajaran yang berbeda-beda, sedangkan penelitian
terdahulu hanya terfokus pada satu bidang mata pelajaran. Perbedaan lainnya
dalam penelitian ini adalah teknik observasi yang dilakukan peneliti yaitu teknik
observasi menggunakan dokumentasi dan wawancara. Selain itu lokasi serta
subyek penelitian juga berbeda dengan penelitian sebelumnya.

BAB II
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian Kualitatif. Menurut
(Sugiyono, 2016) metode penelitian Kualitatif adalah metode penelitian
yang digunakan untuk meneliti objek ilmiah dengan teknik yang dilakukan
secara triangulasi (penggabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif,
dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan pada makna daripada
generalisasi.
Sedangkan pendekatan yang akan digunakan oleh peneliti adalah
pendekatan deskriptif. Bogdan dan Biklen dalam (Fitriani, AR dan Usman,
2017) menyatakan bahwa keberhasilan sebuah penelitian yang sifatnya
deksriptif ditentukan oleh ketelitian, kelengkapan catatan lapangan (field
note) yang telah disusun secara rapi melalui wawancara dan observasi
dengan mendalam. Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini
adalah Kepala Sekolah, Wakil Kurikulum, Guru, dan Siswa.
Alasan menggunakan penelitian kualitatif deskriptif adalah
dikarenakan ingin mengetahui Kompetensi profesional guru yang
dilakukan dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran di Sekolah
berdasarkan hasil observasi, wawamcara, dan dokumentasi.
B. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti di dalamnya adalah sebagai observer, dimana
penelitian sebagain rencana, pengamat dan pewawancara, mengumpulkan
data, menganalisis data serta penyusunan laporan. Alasan penelitian ini
adalah agar peneliti dapat mengetahui langsung peristiwa yang berkaitan
dengan masalah di dalam penelitian. Dalam penelitian kualitatif,
pengumpulan data dilakukan dengan kondisi yang alami (natural setting),
sumber data primer, dan teknik pengumpulan data pada observasi berperan
serta partisipasi di dalam pelaksanaan penelitian (participan observation),
wawancara mendalam (in depth interview) dan dokumentasi (Sugiono,
2017).
Sedangkan kehadiran peneliti di lapangan sangat penting dan
dilakukan secara optimal. Peneliti merupakan instrumen utama dalam
pengumpulan data. Peneliti juga harus terlibat dalam lingkungan yang
akan ditelitinya. Oleh karena itu, peneliti harus terjun ke lapangan untuk
mengamati situasi yang akan di teliti secara nyata dan mengumpulkan
data yang akan dibutuhkan. (Creswell, J., 2015)
C. Lokasi Penelitian dan Subjek Penelitian
Lokasi penelitian ini berada di SDN Arjowinangun 1 yang
bertempat di Jl. Raya Arjowinangun Kel. Arjowinangun, Kec.
Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur, 65133. Alasan peneliti
memilih SDN Arjowinangun 1 adalah karena masih minimnya penelitian
yang membahas tentang kompetensi profesional guru di Kota Malang.
Subjek penelitian ini adalah Kepala Sekolah, Waka Kurikulum,
beserta 4 guru kelas di SDN Arjowinangun 1. Dalam hal ini penulis
mengamati pelaksanaan pembelajaran yang telah diterapkan sesuai dengan
aturan yang di tetapkan oleh Kepala Sekolah.
D. Sumber Data
Menurut Sugiono (2017) berdasarkan yang diperoleh dari sumber
datanya, pengumpulan data dapat menggunakan dua sumber, yaitu sumber
data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer merupakan
sumber data yang diberikan langsung kepada pengumpul data. Dalam
penelitian ini, peneliti akan mengambil sebuah catatan wawancara,
observasi, dan dokumentasi melalui kepala sekolah, waka kurikulum, serta
beberapa guru kelas di SDN Arjowinangun 1 Kota Malang. Sedangkan
data sekunder merupakan suatu data yang diperoleh melalui sebuah proses
mempelajari dan memahami sesuatu yang dalam hal ini dapat bersumber
dari kajian literatur, dokumentasi dan beberapa buku. Dalam penelitian ini,
data sekunder yang akan diambil adalah melalui beberapa kajian literatur
dari beberapa sekolah dan dari penelitian-penelitian terdahulu.

E. Prosedur Pengumpulan Data


Menurut Sugiyono (2017), prosedur pengumpulan data merupakan
suatu penelitian yang memiliki langkah strategis didalamnya yang
memiliki tujuan untuk mendapatkan data. Jika dalam suatu penelitian tidak
mengetahui bagaimana prosedur suatu data, maka data tersebut akan tidak
sah atau tidak valid. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik
pengumpulan data yang berupa wawancara dan dokumentasi.
1) Wawancara
Teknik wawancara dalam pengumpulan data disini dapat diartikan
sebagai suatu proses tukar informasi antara dua orang melalui tanya jawab
dalam suatu topik tertentu. Dalam wawancara ini penelitian dilakukan
secara terstruktur dan tidak terstruktur. Wawancara terstruktur adalah
wawancara yang dilakukan secara terstruktur atau terencana mengenai
suatu hal yang ingin diperoleh dengan pasti. Sedangkan wawancara tak
terstruktur adalah wawancara yang dilakukan secara tidak terencana oleh
peneliti secara sistematis terhadap apa yang telah diperoleh sesuai dengan
pedoman. Sedangkan pedoman dalam wawancara yang digunakan hanya
sebuah garis besar permasalahan tanpa mengetahui lebih mendalam.
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara melalui face
to face atau bertemu langsung maupun melalui wawancara online
(menggunakan pesawat telepon). Wawancara ini akan dilakukan dengan
kepala sekolah dan beberapa guru kelas. Agar proses wawancara dapat
berjalan dengan efektif dan efisien, maka garis besar dalam topik
wawancara yang akan dilakukan adalah berhubungan dengan bagaimana
mengembangkan kompetensi Profesional guru di SDN Arjowinangun 1,
bagaimana pelaksanaan pembelajaran yang efektif menurut persiapan yang
dilakukan oleh guru kelas di SDN Arjowinangun 1, serta bagaimana
pembelajaran tersebut bisa berjalan efektif ketika kondisi tidak
memungkinkan untuk bertatap muka. Selanjutnya, wawancara tersebut
akan dikembangkan sendiri ketika berada di lapangan agar teruji lebih
valid, dan kemudian untuk menjamin keabsahan data maka akan dilakukan
triangulasi
2) Observasi
Observasi adalah bagian dalam pengumpulan data. Observasi
berarti mengumpukan data langsung dari lapangan (Sumiawan,2010).
Sedangkan menurut Zainal Arifin (dalam Kristanto,2018), observasi
adalah suatu proses yang dilalui dengan pengamatan kemudian pencatatan
yang bersifat sistematis, logis, objektif, rasional terhadap berbagai macam
fenomena baik dalam situasi yang sebenarnya maupun situasi buatan.
Observasi ini dilakukan oleh penelitian pada proses pelaksanaan
pembelajaran di kelas yang fokus penelitiannya adalah pembelajaran di
dalam kelas untuk mengetahui keefektifan pembelajaran yang dipengaruhi
oleh kompetensi profesional guru.
3) Dokumentasi
Dokumen merupakan suatu catatan peristiwa yang telah berlalu. Di
dalam penelitian kualitatif, studi dokumen dapat menjadi pelengkap dari
penggunaan observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti kualitatif.
Dokumen tersebut dapat berupa gambar, tulisan, atau karya seseorang.
Studi dokumen ini dilakukan dengan mengkaji dokumen yang berkaitan
dengan kesiapan guru dalam menyiapkan beberapa penunjang
pembelajaran. Dokumen-dokumen tersebut antara lain : Kurikulum dan
silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), serta daftar nilai siswa.
Dokumen tersebut dapat digunakan sebagai pelengkap dari wawancara dan
observasi yang telah dilakukan agar dapat memperoleh pengertian secara
mendalam.
F. Analisis Data
Analisis data menurut Sugiyono (2017) merupakan suatu proses
yang diperoleh dari hasil mencari dan menyusun suatu data secara
sistematis sehingga data tersebut dapat di susun ke dalam beberapa
kategori, kemudian dijabarkan, melakukan sintesa, menyusun kedalam
pola, serta membuat kesimpulan yang dapat dipahami oleh diri sendiri
maupun orang lain.
Menurut Milles dan Huberman dalam (Sugiyono,2017)
menjelaskan bahwa analisis data yang dilakukan secara kualitatif dapat
berlangsung terus-menerus sehingga data tersebut dianalisis dan
menghasilkan suatu data jenuh.
Berikut ini adalah langkah-langkah dalam analisis data dapat
digambarkan sebagai berikut :

PENGUMPULAN DATA REDUKSI DATA (Data


(Data Collection) Reduction)

KESIMPULAN (Conclusion PENYAJIAN DATA (Data


Drawing /Verification) Display)

Gambar 2.1. Model analisis data kualitatif (Intractive Model)


(Sumber: Sugiyono, 2017)

Penjelasan tentang model analsis data menurut Milles dan Hubberman


adalah :

1. Pengumpulan data
Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan instrumen yang
telah dibentuk agar dapat membantu meningkatkan banyaknya data
yang diperoleh.
2. Reduksi Data
Semakin banyak data yang diperoleh di lapangan maka jumlah data
yang di dapat juga akan rumit dan kompleks. Seperti yang
dikemukakan oleh Sugiyono, (2017) bahwa reduksi berarti memilah,
merangkum dan memfokuskan suatu hal yang bersifat penting dan
membuang hal-hal yang tidak perlu yang bertujuan agar lebih
memudahkan peneliti dalam mengumpulkan informasi dan memiliki
gambaran tentang penelitian tersebut.
Di dalam mereduksi data pada penelitian kualitatif, peneliti akan
mendapatkan tujuan. Dan tujuan tersebut akan menghasilkan suatu
data temuan. Oleh karena itu, ketika peneliti melakukan suatu
penelitian dan menemukan sesuatu yang dipandang asing, yang belum
memiliki pola, maka hal itulah yang menjadi topik perhatian bagi
peneliti dalam melakukan reduksi data. Di dalam mereduksi data
membutuhkan kecerdasan serta wawasan yang tinggi. Oleh sebab itu,
peneliti dapat berdiskusi dengan teman atau ahli di dalam pelaksanaan
penelitian. Melalui diskusi tersebut maka akan menghasilkan data dan
wawasan yang lebih luas dan dapat dikembangkan, sehingga dapat di
reduksikan data- data yang memiliki nilai temuan dan pengembangan
yang signifikan (Noviani, 2018).
3. Penyajian Data
Setelah melakukan reduksi data, maka langkah selanjutnya adalah
menyajikan data. Di dalam penelitian kualitatif, menyajikan data dapat
dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar
kategori, flowchat, dan lain sebagainya. Penyajian dalam penelitian ini
merupakan kumpulan dari berbagai informasi yang di dapat setelah
melakukan observasi dan telah tersusun berdasarkan rumusan masalah
yang telah di tetapkan di dalam penelitian yaitu bagaimana kompetensi
profesional guru dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran di SDN
Arjowinangun 1 Kota Malang serta bagaimana upaya yang dilakukan
dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran di sekolah tersebut
sebagai seorang guru dalam ranah kompetensi profesionalnya. Dalam
penyajian data pada penelitian kualitatif biasanya menggunakan teks
berupa narasi.
4. Penarikan Kesimpulan
Adapun langkah terakhir di dalam analisis kualitatif yaitu
penarikan kesimpulan. Di dalam menyimpulkan suatu masalah pada
suatu data masih bersifat sementara, dan kemungkinan akan ada
perubahan ketika tidak ditemukan bukti yang kuat untuk mendukung
dalam tahap pengumpulan data berikutnya. Kesimpulan dalam
penelitian kualitatif ini merupakan temuan baru yang sebelumnya
belum pernah ada. Temuan tersebut dapat berupa deskripsi atau
gambaran obyek yang sebelumnya masih bersifat transparan atau
belum jelas sehingga ketika diteliti menjadi jelas, dapat berupa
hipotesis maupun teori.
Dalam penelitian ini setelah peneliti mengemukakan beberapa teori
mengenai kompetensi profesional guru, selanjutnya peneliti
mencantumkan indikator instrumen kompetensi profesional guru untuk
memudahkan dalam proses penelitian sebagai berikut :
Tabel 2.2 Kisi-Kisi Wawancara Kemampuan Profesional Guru
No Indikator Sub Indikator Butir Sumber Data
soal
1. Menguasai a. Memahami materi ajar dalam 1 Guru kelas
substansi keilmuan kurikulum
terkait bidang studi b. Memahami struktur, konsep, 2
dan metode keilmuan yang
koheren dengan materi ajar
c. Memahami hubungan konsep 3
antara mata pelajaran terkait
d. Menerapkan konsep 4
keilmuan dalam kehidupan
sehari-hari
2. Menguasai struktur a. Menguasai langkah 5 Kepala Sekolah
dan metode penelitian 6
keilmuan b. Memperdalam materi untuk
dapat bertindak secara
profesional.
3. Menguasai standar a. Memahami standar 7 Guru kelas
kompetensi dan kompetensi yang diampu
kompetensi dasar b. Memahami kompetensi dasar 8
mata pelajaran yang mata pelajaran yang diampu
diampu. c. Memahami tujuan 9
pembelajaran yang diampu
d. Memilih dan menggunakan 10
metode pembelajaran
4. Mengembangkan a. Memilih materi pembelajaran 11 Guru kelas
materi yang diampu sesuai dengan
pembelajaran yang tingkat perkembangan
diampu secara peserta didik
kreatif b. Mengolah materi pelajaran 12
yang diampu sesuai dengan
tingkat perkembangan
peserta didik

G. UJI KEABSAHAN DATA


Pada penelitian kualitatif , uji keabsahan data menurut Sugiyono,
(2017) meliputi uji transfereability, uji depenability, dan uji
konfirmasibility. Di dalam penelitian ini, peneliti menggunakan uji
kredibilitas dalam menguji keabsahan data. Setelah menguji
kredibilitas kemudian dilakukan triangulasi untuk mengetahui bahwa
data tersebut dapat meluas dan pasti.
Triangulasi sendiri dapat diartikan sebagai suatu penggabungan
dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah
diperoleh. Tujuan dari triangulasi dalam penelitian kualitatif ini adalah
memahami suatu obyek yang berada di sekitarnya. Dalam memahami
suatu obyek di sekitar, mungkin dapat bersifat tidak valid karena hal
tersebut tidak sesuai dengan teori dan hukum.
Dalam pengumpulan data, teknik triangulasi dapat dilakukan untuk
meningkatkan kekuatan pada data tersebut. Data yang diambil dari
teknik ini akan menghasilkan suatu data yang konsisten, tuntas dan
pasti. Sedangkan teknik di dalam triangulasi yang dipakai oleh peneliti
adalah sebagai berikut :

1. Triangulasi sumber
Pada teknik ini, sumber yang diperoleh untuk menguji
kredibilitas data yakni Kepala sekolah dan Guru Kelas. Pada
teknik ini dilakukan untuk menguji keabsahan data tentang
bagaimana cara guru dalam menyampaikan suatu pembelajaran
yang bermakna, bervariasi, dan efektif bagi peserta didik.
Kemudian data tersebut dianalisis sehingga menghasilkan suatu
kesimpulan.
Berikut ini adalah bagan dari triangulasi sumber :

KEPALA
SEKOLAH
WAWANCARA
WAKA
KURIKULUM

GURU KELAS

H. TAHAP PENELITIAN
1. Tahap Persiapan
Dalam tahap persiapan, peneliti melakukan penyusunan rancangan
yang akan diteliti. Penelitian yang akan dilakukan adalah menyangkut
tentang permasalahan yang berada dalam peristiwa yang sedang terjadi
dan dapat diverifikasi ketika penelitian berlangsung. Permasalahan
dalam penelitian tersebut ditentukan terlebih dahulu berdasarkan
pembiasaan ketika pembelajaran sedang berlangsung. Selain itu,
pengenalan lapangan juga sangat perlu agar dapat memudahkan
peneliti dalam melakukan penelitian dengan pasti. Pengenalan di
lapangan dimaksudkan untuk menilai keadaan, situasi, dan konteks
tersebut apakah sudah sesuai dengan masalah dan hipotesis yang
dipikirkan sebelumnya oleh peneliti. (Suryana, 2017).
Sebelum melakukan penelitian, hendaknya menyiapkan alat dan
bahan serta melengkapi prosedur penelitian yang telah diajukan.
Sebelum memulai penelitian, peneliti memerlukan izin untuk
mengadakan kontak dengan kepala sekolah yang akan dituju,
mengadakan kontak dengan subjek yang akan diteliti, dan kesehatan
yang cukup agar dapat meneliti dengan fokus. Jika perlu tape recorder
atau kamera foto dapat dijadikan sebagai bahan dalam penelitian agar
dapat lebih memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian di
lapangan (Noviani,2018).
2. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini adalah tahap yang paling penting dari sebuah
penelitian. Setelah peneliti melakukan persiapan sebelumnya, maka
peneliti akan memulai pelaksanaan sesuai dengan apa yang di
rencanakan sebelumnya agar penelitian tersebut dapat berjalan efektif
dan efisien.
3. Tahap Pengecekan data
Dalam tahap ini, pengecekan data dilakukan untuk memudahkan
peneliti dalam penyusunan laporan untuk ditinjau kembali mengenai
data observasi, wawancara dan dokumentasi yang telah diambil
sebelumnya. Dalam penelitian kualitatif, langkah-langkah tersebut
dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu ; 1) tahapan persiapan/pra-
lapangan, 2) tahapan pekerjaan lapangan, dan 3) tahapan analisis data.
Di dalam pendekatan kualitatif, tentunya ada perbedaan diantara tahap
pekerjaan lapangan serta analisis data.
4. Tahap Analisis Data
Dalam tahap analisis data, peneli akan mengumpulkan bermacam-
macam data yang telah dilakukan serta memaparkan secara intensif
setiap aspek sehingga data tersebut dapat dipahami dengan mudah.
Dalam penelitian kualitatif ini, pengumpulan data dilakukan secara
terus menerus hingga data tersebut menghasilkan data jenuh. Dengan
pengamatan yang akan dilakukan secara terus menerus tersebut maka
akan dilakukan variasi dari setiap penelitian yang diperoleh.

5. Tahap pelaporan
Dalam tahap ini merupakan tahap akhir dari sebuah penelitian yang
sebelumnya telah dikumpulkan menurut kategori data. Pada tahap ini,
peneliti menyimpulkan hasil dari kegiatan penelitian yang telah
dilakukan sebelumnya dan peneliti melakukan verifikasi atas data yang
sebelumnya sudah diperoleh sesuai bentuk pemecahan masalah yang
dilakukan. Laporan ini ditulis dalam bentuk pengerjaan skripsi.
Kesimpulan yang dilakukan ditulis dalam bentuk laporan. Setelah
menuliskan laporan, penulis melanjutkan dengan ketentuan penulisan
skripsi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.
DAFTAR RUJUKAN

Daryanto, D. (2013) Standard Kompetensi dan Penilaian Kinerja Guru


Profesional. Yogyakarta.

Fitriani, C., AR, M. and Usman, N. (2017) ‘KOMPETENSI PROFESIONAL


GURU DALAM PENGELOLAAN PEMBELAJARAN DI MTs
MUHAMMADIYAH BANDA ACEH’, Jurnal Administrasi Pendidikan :
Program Pascasarjana Unsyiah, 5(2), pp. 88–95.

Harso, M. (2012) ‘Educational Management Kepemimpinan, Pengaruh Sekolah,


Kepala Kinerja, D A N’, 1(1).

Hasan, M. (2017) ‘Pengaruh Kompetensi Profesional Guru Terhadap Kinerja


Guru Ekonomi Sekolah Menengah Atas Negeri Di Kabupaten Gowa’, Jurnal
Economix, 5(2), pp. 72–73. doi: 10.1002/jcop.21624.

Ismail, M. I. (2010) ‘Kinerja Dan Kompetensi Guru Dalam Pembelajaran’,


Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 13(1), pp. 44–63. doi:
10.24252/lp.2010v13n1a4.

Jamisah, N. (2018) ‘EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK DI


MAS LUQMAN AL-HAKIM’, Skripsi, (2), p. 97. doi:
10.1051/matecconf/201712107005.

Lince, R. (2016) ‘STRATEGI PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU


DALAM MENGHADAPI TANTANGAN DI ERA DIGITAL’, Prosiding temu
ilmiah nasional guru (ting) viii, (November), pp. 164–179.

Mutmainah (2017) ‘Perilaku Kepemimpinan, Iklim Sekolah Dan Sekolah Efektif’,


Jurnal Administrasi Pendidikan, 24(1), pp. 163–172.

Nuraidah (2013) Kompetensi Profesional Guru Untuk Meningkatkan Mutu


Pembelajaran Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sei Agul Medan, JKKP (Jurnal
Kompetensi Profesional Guru). doi: 10.21009/jkkp.051.02.
Putria, H., Maula, L. H. and Uswatun, D. A. (2020) ‘Analisis Proses Pembelajaran
dalam Jaringan (DARING) Masa Pandemi Covid- 19 Pada Guru Sekolah Dasar’,
Jurnal Basicedu, 4(4), pp. 861–870. doi: 10.31004/basicedu.v4i4.460.

Salirawati, M.Si, D. Das (2018) SMART TEACHING Solusi Menjadi Guru


Profesional. Edited by Nur Syamsiyah. Jakarta: Bumi Aksara.

Sirojuddin, A. (2011) ‘Hubungan Kompetensi Profesional Guru Dengan


Efektivitas Proses Pembelajaran di MTs. Annida Al-Islamy Rawa Bugel’.

Sugiyono, P. (2016) Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.


Bandung: CV. Alfabeta.

Sutardi, S. (2016) ‘Harmoni Sosial : Jurnal Pendidikan IPS Volume 3 , No 2 ,


September 2016 ( 188-198 ) Online : http://journal.uny.ac.id/index.php/hsjpi
Harmoni Sosial : Jurnal Pendidikan IPS’, PENGARUH KOMPETENSI GURU,
MOTIVASI BELAJAR, DAN LINGKUNGAN KELUARGA TERHADAP HASIL
BELAJAR MATA PELAJARAN EKONOMI, 3(2), pp. 188–198.

Anda mungkin juga menyukai