BANGGA MENJADI GURU
Peranan Strategis Guru Dalam Sistem
Pendidikan
By Uray Iskandar on Kamis, Oktober 6, 2016
Guru harus diberi keleluasaan dalam menetapkan dengan tepat apa yang digagas,
dipikirkan, dipertimbangkan, direncanakan dan dilaksanakan dalam pengajaran sehari-hari,
karena di tangan gurulah keberhasilan belajar peserta didik. Hal yang paling mutlak dilakukan
ketika awal menjadi guru adalah memahami tujuan umum pendidikan, mamahami karakter
peserta didik dengan berbagai perbedaan yang melatar belakanginya. Sangatlah penting untuk
memahami bahwa peserta didik belajar dalam berbagai cara yang berbeda, beberapa peserta
didik merespon pelajaran dalam bentuk logis, beberapa lagi belajar dengan melalui pemecahan
masalah (problem solving), beberapa orang peserta didik senang belajar sendiri daripada
berkelompok.
Menurut Daryanto (2013: 123) didalam proses pembelajaran para guru dituntut untuk
berasumsi, bahwa kehidupan masa depan peserta didik merupakan bagian dari perencanaan
pembelajaran. Hal ini dimaksudkan setiap perencanaan pembelajaran harus disusun dan
dirancang untuk membekali peserta didik dalam mengarungi kehidupannya di masa depan dan
sekaligus mempersiapkan peserta didik menjadi warga masyarakat dan bangsa yang mandiri.
Berikutnya pendapat Syaiful Sagala (2009:6) bahwa guru sebagai pendidik adalah
tokoh yang paling banyak bergaul dan berinteraksi dengan para peserta didik dibandingkan
dengan personel lainnya di sekolah. Guru bertugas merencanakan dan melaksanakan proses
pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan, melakukan
penelitian dan pengkajian dan membuka komunikasi dengan masyarakat. Guru juga turut
menggerakkan dan mendorong peserta didik agar semangat dalam belajar, sehingga semangat
belajar peserta didik benar-benar dapat menguasai bidang ilmu yang dipelajari. Disamping itu
juga guru harus membantu peserta didik untuk dapat memperoleh pembinaan yang sesuai
dengan bakat, minat dan kemampuan yang dimiliki.
Guru merupakan elemen kunci dalam sistem pendidikan, khususnya di sekolah. Semua
komponen lain, mulai dari kurikulum, sarana-prasarana, biaya, dan sebagainya tidak akan
banyak berarti apabila esensi pembelajaran yaitu interaksi guru dengan peserta didik tidak
berkualitas. Semua komponen lain, terutama kurikulum akan “hidup” apabila dilaksanakan
oleh guru.
Begitu pentingnya peran guru dalam mentransformasikan input-input pendidikan, sampai-
sampai banyak pakar menyatakan bahwa di sekolah tidak akan ada perubahan atau
peningkatan kualitas tanpa adanya perubahan dan peningkatan kualitas guru. Menurut
Ardana, dkk ( 2008:189) peranan agen perubahan itu menyediakan bantuan teknis, spesialis
atau penasehat dalam mengelola upaya perubahan, mendiagnosa kebutuhan, merencanakan
dan memimpin kegiatan dan menyumbangkan pengetahuan demi mengelola pengembangan
organisasi
Menurut Prihatin (2008:21) guru adalah ujung tombak dalam proses pendidikan, proses
belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan, karena peristiwa belajar mengajar
banyak berakar pada berbagai pandangan dan konsep. Tingkat kemampuan profesional guru
akan berpengaruh pada keberhasilan proses pendidikan itu sendiri.
Selanjutnya menurut Priansa (2014:108) kedudukan guru sebagai tenaga profesional
mempunyai visi terwujudnya penyelenggaraan pembelajaran sesuai dengan prinsip
profesionalisme untuk memenuhi hak yang sama bagi setiap warga negara dalam memperoleh
pendidikan yang bermutu. Kedudukan guru sebagai agen pembelajaran berkaitan dengan
peran guru dalam pembelajaran, antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekaya
pembelajaran dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik.
Mengingat peranan strategis guru dalam setiap upaya peningkatan mutu, relevansi dan
efisiensi pendidikan, maka pengembangan profesionalisasi guru merupakan kebutuhan.
Banyak kegiatan belajar mengajar yang tidak sesuai dengan tujuan umum pendidikan yang
menyangkut kebutuhan siswa dalam belajar, keperluan masyarakat terhadap sekolah dan mata
pelajaran yang dipelajari. Guru memasuki kelas tidak mengetahui tujuan yang pasti, yang
penting demi menggugurkan kewajiban. Idealisme menjadi luntur ketika yang dihadapi
ternyata masih anak-anak dan kalah dalam pengalaman.
Banyak guru enggan meningkatkan kualitas pribadinya dengan kebiasaan membaca
untuk memperluas wawasan. Jarang pula yang secara rutin pergi ke perpustakaan untuk melihat
perkembangan ilmu pengetahuan. Kebiasaan membeli buku menjadi suatu kebiasaan yang
mustahil dilakukan karena guru sudah merasa puas mengajar dengan menggunakan LKS (
Lembar Kegiatan Siswa) yang berupa soal serta sedikit ringkasan materi.
Dalam hal ini tidak bisa dijadikan alasan bahwa dengan sarana yang minimpun
sebenarnya dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin agar mendapatkan hasil yang bagus.
Terkadang kita juga harus memakai prinsip ekonomi yang ternyata dapat membawa kemajuan.
Yang sering dijumpai adalah sudah ada sarana tetapi tidak dimanfaatkan dengan sebaik-
baiknya. Peta dunia hanya dipajang di depan kelas, globe atau bola dunia dibiarkan berkarat
tidak pernah tersentuh, buku-buku pelajaran diperpustakaan dimakan rayap, alat-alat praktek
di laboratorium hanya tersimpan rapi di lemari tidak pernah dipergunakan. Media pengajaran
yang sudah ada jangan dibiarkan rusak atau berkarat gara-gara disimpan. Lebih baik rusak
karena digunakan untuk praktik peserta didik.
Cara belajar peserta didik yang berbeda-beda, memerlukan cara pendekatan
pembelajaran yang berbeda. Guru harus mempergunakan berbagai pendekatan agar anak tidak
cepat bosan. Kemampuan guru untuk melakukan berbagai pendekatan dalam belajar perlu
diasah dan ditingkatkan. Jangan cepat merasa puas setelah mengajar, tetapi lihat hasil yang
didapat setelah mengajar. Sudahkah sesuai dengan tujuan umum pendidikan. Perlu juga
dipelajari penjabaran dari kurikulum yang dipergunakan agar yang diajarkan ketika di kelas
tidak melenceng dari kurikulum yang sudah ditentukan.
Guru juga perlu membekali diri dengan pengetahuan tentang psikologi pendidikan
dalam menghadapai siswa yang berneka ragam. Karena tugas guru tidak hanya sebagai
pengajar, tetapi sekaligus sebagai pendidik yang akan membentuk jiwa dan kepribadian peserta
didik. Maju dan mundurnya sebuah bangsa tergantung pada keberhasilan guru dalam
mendidik. Pemerintah juga harus senantiasa memperhatikan tingkat kesejahteraan guru,
karena mutlak diperlukan kondisi yang sejahtera agar dapat bekerja secara baik dan
meningkatkan profesionalisme. Disamping itu juga yang sangat dibutuhkan oleh guru sekarang
adalah kegiatan pendidikan dan pelatihan yang masih serba kurang dan belum menyentuh
kepada semua guru.
Peran guru yang ditampilkan demikian, akan membentuk karakteristik peserta didik
atau lulusan yang beriman, berakhlak mulia, cakap, mandiri, berguna bagi agama, nusa dan
bangsa terutama untuk kehidupannya yang akan datang. Guru merupakan sebuah profesi, yang
hanya dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien oleh seseorang yang dipersipakan untuk
menguasai kompetensi guru melalui pendidikan dan/atau pelatihan khusus. Profesi guru
merupakan bidang pekerjaan yang dilaksanakan berdasarkan prinsip khusus.
Di dalam Undang- undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen disebutkan
bahwa prinsip-prinsip profesi guru adalah sebagai berikut:
1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme
2. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketaqwaan, dan akhlak
mulia
3. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas
4. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas
5. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan
6. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja
7. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan
belajar sepanjang hayat
8. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan
9. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan
dengan tugas keprofesionalan guru
Apabila kita mengamati di lapangan, bahwa guru sudah menunjukkan kinerja
maksimal di dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pendidik, pengajar dan pelatih.
Akan tetapi barangkali masih ada sebagian guru yang belum menunjukkan kinerja baik,
tentunya akan berpengaruh terhadap kinerja guru secara makro. Berkaitan dengan jabatan dan
profesi tadi, fenomena sekarang terlihat dibeberapa sekolah, masih terdapat guru yang memiliki
keahlian yang ditunjukkan dengan sertifikasi atau ijazah dan akta yang tidak sesuai dengan
mata pelajaran yang diajarkannya.
Guru yang bermutu niscaya mampu melaksanakan pendidikan, pengajaran dan
pelatihan yang efektif dan efisien. Mereka diyakini mampu memotivasi peserta didik untuk
mengoptimalkan potensinya dalam kerangka pencapaian standar pendidikan yang ditetapkan.
Kemampuan mengajar guru yang sesuai dengan tuntutan standar tugas yang diemban
memberikan efek positif bagi hasil yang ingin dicapai seperti perubahan hasil akademik, sikap,
keterampilan, dan perubahan pola kerja guru yang semakin meningkat.