0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
244 tayangan6 halaman

Makalah PBT

Dokumen tersebut membahas mengenai peningkatan peran Pengawas Benih Tanaman (PBT) khususnya dalam pengujian laboratorium untuk sertifikasi benih. Peningkatan kompetensi PBT dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai pelatihan. Laboratorium benih juga perlu melakukan perbaikan berkelanjutan untuk mendapatkan akreditasi, sehingga pengujian mutu benih dapat dilakukan secara handal dan menjamin

Diunggah oleh

Endang Murwantini
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
244 tayangan6 halaman

Makalah PBT

Dokumen tersebut membahas mengenai peningkatan peran Pengawas Benih Tanaman (PBT) khususnya dalam pengujian laboratorium untuk sertifikasi benih. Peningkatan kompetensi PBT dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai pelatihan. Laboratorium benih juga perlu melakukan perbaikan berkelanjutan untuk mendapatkan akreditasi, sehingga pengujian mutu benih dapat dilakukan secara handal dan menjamin

Diunggah oleh

Endang Murwantini
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENINGKATAN PERAN PBT DALAM SERTIFIKASI BENIH

Endang Murwantini, S.P., M.P.


PBT Muda di Balai Besar PPMB-TPH

Peraturan terkait PBT


Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1995 tentang pembenihan
tanaman, Pasal 46 ayat 1 menyatakan bahwa “dalam rangka
pelaksanaan tugas pengawasan dibidang perbenihan tanaman, Menteri
mengangkat pengawas benih”. Dan Berdasarkan Peraturan Menteri
Pertanian nomor 81 Tahun 2012 tentang Pedoman Formasi Jabatan
Fungsional Pengawas Benih Tanaman, menyatakan bahwa Pengawas
benih Tanaman merupakan salah satu sumberdaya manusia pertanian
yang berperan penting dalam pembangunan pertanian khususnya dalam
penyediaan benih varietas unggul bersertifikat, karena mengawasi mutu
benih tanaman sejak proses produksi sampai dengan benih diedarkan
sehingga mutunya memenuhi standard an terjamin sampai ke petani.
Pengertian Pengawas Benih Tanaman (PBT) adalah jabatan fungsional
yang mempunyai ruang lingkup tugas, tanggungjawab dan wewenang
untuk melakukan kegiatan pengawasan benih tanaman yang diduduki
oleh Pegawai Negeri Sipil dengan hak dan kewajiban secara penuh yang
diberikan oleh pejabat yang berwenang

Peraturan terkait Sertifikasi Benih


Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 12 tahun 1992
tentang sistem budidaya tanaman, Sertifikasi adalah proses pemberian
sertifikat benih tanaman setelah melalui pemeriksaan, pengujian, dan
pengawasan serta memenuhi semua persyaratan untuk diedarkan. Pada
Pasal 13 ayat 2 menyatakan bahwa benih bina yang akan diedarkan
harus melalui sertifikasi dan memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh
Pemerintah.
Sedangkan menurut UU nomor 22 tahun 2019 tentang sistem budi daya
pertanian berkelanjutan dan Permentan no 12 tahun 2018 tentang
produksi, sertifikasi dan peredaran benih tanaman, definisi sertifikasi
adalah serangkaian pemeriksaan dan/atau pengujian dalam rangka
penerbitan sertifikat. Dan pada Pasal 30 ayat 2 UU nomor 22 tahun 2019
tentang sistem budi daya pertanian berkelanjutan berbunyi bahwa benih
unggul wajib memenuhi standar mutu, di sertifikasi dan di beri label.
Lebih lanjut, pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 44
tahun 1995 tentang pembenihan tanaman, Pasal 33 (1) menyatakan
bahwa untuk memenuhi standar mutu yang ditetapkan, produksi benih
bina harus melalui sertifikasi yang meliputi: a. Pemeriksaan terhadap: 1.
kebenaran benih sumber atau pohon induk; 2. petanaman dan
pertanaman; 3. isolasi tanaman agar tidak terjadi persilangan liar; 4. alat
panen dan pengolahan benih; 5. tercampurnya benih. b. Pengujian
laboratorium untuk menguji mutu benih yang meliputi mutu genetis,
fisiologis dan fisik. c. Pengawasan pemasangan label.
Sedangkan dalam Permentan no 12 tahun 2018 tentang produksi,
sertifikasi dan peredaran benih tanaman, pada pasal 19 mengatur
Prosedur sertifikasi benih bina melalui :
a. Pemeriksaan :
1. kebenaran benih sumber atau pohon induk;
2. petanaman dan pertanaman;
3. isolasi tanaman agar tidak terjadi persilangan liar;
4. alat panen dan pengolahan benih;
5. tercampurnya benih.
b. Pengujian laboratorium untuk menguji mutu benih yang terdiri atas
mutu fisik, fisiologis dan/atau tanpa kesehatan benih, sedangkan untuk
kemurnian genetic diambilkan dari hasil pemeriksaan lapangan.
c. Pengawasan pemasangan label.

Pengujian Mutu Benih / Pengujian Laboratorium


Pengujian laboratorium merupakan salah satu dari prosedur sertifikasi
benih. Peraturan yang menjelaskan tentang pengujian laboratorium ini
adalah Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia nomor :
993/hk.150/c/05/2018 tentang Petunjuk Teknis Pengambilan Contoh
Benih dan Pengujian/Analisis Mutu Benih Tanaman Pangan.
Pada Pasal 52 ayat 2 Permentan no 12 tahun 2018 tentang produksi,
sertifikasi dan peredaran benih tanaman, menyatakan bahwa pengujian
laboratorium dilakukan oleh laboratorium yang kompeten di bidang uji
mutu benih sesuai dengan ruang lingkup pengujian.
Lembaga Lembaga sertifikasi adalah suatu lembaga penilai kesesuaian
yang dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan untuk
melakukan sertifikasi contohnya adalah Balai Pengawasan dan Sertifikasi
Benih (BPSB).
Hampir semua BPSB di setiap provinsi di Indonesia mempunyai
laboratorium dan PBT (analis) yang melaksanakan pengujian benih.
Sehingga harus ada peningkatan peran PBT dalam sertifikasi benih
terutama dalam hal pengujian laboratorium.

Peningkatan Peran PBT


PLT Direktur Perbenihan Tanaman Pangan (Dr. Ir. M. Takdir Mulyadi, MM)
dalam webinar yang membahas tentang “Peranan Uji Laboratorium untuk
Mendapatkan Jaminan Mutu Benih” menyatakan bahwa Laboratorim
benih pun harus melakukan “continual improvement” :
- Tahap awal : berdasarkan kewenangan tupoksi
- Proses : standar minimal peralatan, personel dan metode
- Kompeten : Akreditasi KAN ISO/IEC 17025 – kesetaraan hasil uji
Oleh karena itu, para PBT selaku motor penggerak harus lebih
meningkatkan peran mereka. Hal ini telah terbukti, karena sampai bulan
Juli 2021, status laboratorium benih (BPSB) adalah sebagai berikut :
- Terakreditasi = 27 lab BPSB
- Proses akreditasi = 3 lab BPSB
- Belum terakreditasi (akreditasi dicabut) = 1 lab BPSB
- Akreditasi dibekukan = 1 lab BPSB
- Belum terakreditasi = 1 lab BPSB
- Belum ada Laboratorium = 1 BPSB
Gambar 1. Status Akreditasi Laboratorium Penguji Benih (BPSB)

Peningkatan kompetensi PBT di bidang pengujian laboratorium dilakukan


setiap tahun oleh Balai Besar PPMB-TPH, antara lain :
1. Bimbingan Teknis Petugas Pengambil Contoh Benih (PPC)
2. Bimbingan Teknis Analis Tingkat Dasar (Terkait pengujian untuk
data label)
3. Bimbingan Teknis analis Tingkat Lanjutan (terkait kalibrasi internal
peralatan dan pengujian khusus)
4. Uji Profisiensi (Penilaian unjuk kerja laboratorium)
5. Fasilitasi Penerapan Sistem Mutu dalam rangka Akreditasi
Laboratorium berdasarkan SNI ISO/IEC 17025-2017 (Persyaratan
Kompetensi Laboratorium).
6. Sinkronisasi Penerapan Sistem Mutu Laboratorium.
Peningkatan peran PBT dalam pengujian di laboratorium diantaranya
adalah dengan mencari, mengembangan dan menggunakan metode
pengujian yang lebih cepat, aplikatif dan valid. Beberapa metode hasil
pengembangan metode yang telah di cantumkan dalam peraturan
(KEPMENTAN No. 993/HK.150/C/05/2018 tentang Petunjuk Teknis
Pengambilan Contoh dan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan, dan
KEPMENTAN No 300/kpsts/SR.130/12/2016 tentang Pedoman Uji Mutu
Benih Hortikultura) antara lain :
- Validasi Trier (alat pengambil contoh benih) untuk mempermudah
tugas dalam pengambilan contoh benih padi.
- Benih kedelai dan kacang tanah yang awalnya diuji pada suhu
rendah (101-105oC) selama 17 ± 1 jam menjadi 1 jam pada suhu
130-133 oC
- Benih koro pedang yang dalam ISTA rules belum ada metode
ujinya, dapat diuji dengan menggunakan oven suhu rendah (101-
105oC) selama 17 jam ± 1 jam dengan penghancuran kasar
- Uji Cepat daya berkecambah benih kedelai dengan Uji TZ
(Tetrazolium) dari 8 hari menjadi 3 hari
- Daya berkecambah benih koro pedang dengan media pasir pada
suhu 25oC, dengan evaluasi pertama dilakukan pada hari ke-7 atau
ke-8 dan evaluasi terakhir pada hari ke-14
- Metode penetapan kadar air benih oyong dengan menggunakan
ove suhu rendah (101-105oC) selama 17 ± 1 jam dengan
penghancuran kasar dapat diterima sebagai metode acuan dan
dapat diterapkan di seluruh Laboratorium Pengujian Benih di
Indonesia
- Metode penetapan kadar air benih sawi dengan menggunakan
oven suhu tinggi (130-133oC) selama ½ jam dapat digunakan
sebagai metode acuan
- Hasil validasi pengujian daya berkecambah menunjukkan bahwa
penggunaan suhu 25 oC dapat menggantikan penggunaan suhu
O
berganti 2030 C suhu konstan 20oC atau 30oC karena tidak
melebihi angka toleransi menurut Tabel G5 (Miles, 1963) dan tidak
berbeda nyata pada taraf α 5% dengan uji LSD pada komoditas
sawi, cabai. kangkung, dan selada, bayam dan tomat serta kol dan
seledri
Kesimpulan
Pengujian laboratorium merupakan salah satu dari prosedur sertifikasi
benih. Laboratorim benih harus melakukan “continual improvement dan
peningkatan kompetensi PBT di bidang pengujian laboratorium dilakukan
secara berkelanjutan.

Sumber pustaka :
- Kepmentan Nomor 993 tahun 2018
- Kepmentan Nomor 300 tahun 2016
- Mulyadi., T. 2021. Pengujian Benih dan Mutu Benih. dalam Webinar “Peranan Uji
Laboratoris untuk Mendapatkan Jaminan Mutu Benih.
- Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 1995
- Permentan nomor 81 Tahun 2012
- Permentan Nomor 12 tahun 2018
- Undang - Undang nomor 12 tahun 1992
- Undang - Undang Nomor 22 tahun 2019
- Warjito. 2021. Pengembangan Metode Uji Laboratoris Mutu Benih dalam
Penyempurnaan Regulasi Perbenihan dan Pelayanana kepada Industri Benih.
dalam Webinar “Peranan Uji Laboratoris untuk Mendapatkan Jaminan Mutu Benih.

Anda mungkin juga menyukai