0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan8 halaman

Karakteristik dan Potensi Peserta Didik

Teks tersebut membahas tentang makna, karakteristik, dan potensi peserta didik. Ia menjelaskan bahwa peserta didik merupakan individu yang sedang mengembangkan potensialnya melalui pendidikan dengan bimbingan guru. Teks tersebut juga menjelaskan bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik berbeda yang dipengaruhi faktor bawaan dan lingkungan, sehingga guru perlu memahami perbedaan individu setiap

Diunggah oleh

Syifa Alfakhri3
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan8 halaman

Karakteristik dan Potensi Peserta Didik

Teks tersebut membahas tentang makna, karakteristik, dan potensi peserta didik. Ia menjelaskan bahwa peserta didik merupakan individu yang sedang mengembangkan potensialnya melalui pendidikan dengan bimbingan guru. Teks tersebut juga menjelaskan bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik berbeda yang dipengaruhi faktor bawaan dan lingkungan, sehingga guru perlu memahami perbedaan individu setiap

Diunggah oleh

Syifa Alfakhri3
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1   LATAR BELAKANG

Didasari pada perbedaan peserta didik satu sama lain, yang memiliki minat
kemampuan, kesenangan, pengalaman dan cara belajar yang berbeda. Oleh karena itu
kegiatan pembelajaran, kelas organisasi, materi pembelajaran, waktu belajar, alat
belajar, dan cara penilaian perlu keragaman kesesuaian dengan karakteristik peserta
didik.

Peserta didik memiliki potensi yang berbeda. Perbedaan peserta didik terletak pada
pola pikir, daya imajinasi, pengandaian dan hasil karyanya. Akibatnya, PBM perlu
diplih dan dirancang agar memberikan kesempatan dan kebebasan berkreasi secara
irasional untuk mengembangkan dan mengoptimalkan kreativitas peserta didik.

Untuk itu dalam hal ini, diperlukan pemahaman dari guru untuk mengetahui
perbedaan masing-masing peserta didik melalui strategi dan metode pembelajaran
yang tepat untuk peserta didik.

1.2   RUMUSAN MASALAH

Dari uraian diatas, didapatkan permasalahan :

1. Makna Peserta Didik

2. Karakteristik Peserta Didik

3. Potensi Peserta Didik

1.3   TUJUAN MAKALAH

Adapun tujuan dari makalah ini adalah :

1. Untuk mengetahui makna peserta didik

2. Untuk mengetahui karakteristik peserta didik

3. Untuk mengetahui potensi peserta didik

BAB II
PEMBAHASAN

2.1   Makna Peserta Didik

Menurut kamus Echols & Shadaly, individu adalah kata benda dari individual yang
berarti orang, perseorangan, oknum (Siti Hartinah : 2008). Manusia diciptakan
sebagai makhluk yang unik. Masing-masing diberi kelebihan dan kekurangan. Tidak
ada satu pun manusia yang hanya memiliki sisi positif. Sebaliknya, tidak ada manusia
yang hanya memiliki sisi negatif. Keinginan untuk menjadi diri sendiri itu ada pada
setiap manusia. Maka setiap peserta didik yang berada dalam ikatan pendidikan
dengan pendidiknya, adalah mereka yang kebebasannya ingin menjadi ”diri sendiri”.

Uraian tentang manusia dengan kedudukannya sebagai peserta didik harus


menempatkan manusia sebagai pribadi yang utuh. Dalam kaitannya dengan
kepentingan pendidikan, akan lebih ditekankan hakekat manusia sebagai wujud sifat
makhluk individu dan makhluk sosial, sebagai wujud jasmani dan rohani, dan sebagai
makhluk Tuhan dengan menempatkan hidupnya didunia sebagai persiapan
kehidupannya diakhirat. Dalam kegiatan kependidikan, sasaran yang kita harapkan
akan menjadi orang dewasa adalah peserta didik, mereka menjadi tumpuan harapan
agar menjadi manusi yang utuh, manusia bersusila dan bermoral, bertanggung jawab
atas kehidupan, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat.

Dalam bahasa Indonesia, makna, murid, pelajar dan peserta didik siswa merupakan
sinonim (persamaan), semuanya bermakna anak yang sedang berguru (belajar dan
pendidikan), anak yang sedang memperoleh pendidikan dasar dari sutu lembaga
pendidikan. Peserta didik adalah subjek utama dalam pendidikan. Dialah yang belajar
setiap saat.

Peserta didik merupakan seseorang yang sedang dikembangkan memiliki potensi


tertentu dengan bantuan pendidik (guru), ia mengembangkan potensinya tersebut
secara optimal. Istilah peserta didik merupakan sebutan bagi semua orang yang
mengikuti pendidikan dilihat dari tatanan makro. Menurut UU no.20 tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional, peserta didik adalah anggota masyarakat yang
berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia
pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

Dalam pengertian umum, anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh
dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan
pendidikan.sedangkan dalam arti sempit anak didik adalah anak (pribadi yang belum
dewasa) yang diserahkan kepada tanggung jawab pendidik (Yusrina, 2006)
Peserta didik menunjukkan seseorang manusia yang belum dewasa yang akan
dibimbing oleh pendidiknya untuk menuju kedewasaan. Peserta didik adalah
komponen masukan dalam sistem pendidikan, yang selanjutnya diproses dalam proses
pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan
pendidikan nasional.

Dari uraian tersebut di atas dapat diartikan bahwa yang dimaksud peserta didik adalah
individu manusia yang secara sadar berkeinginan untuk mengembangkan potensi
dirinya (jasmani dan ruhani) melalui proses kegiatan belajar mengajar yang tersedia
pada gambaran atau tingkat dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik dalam
kegiatan pendidikan merupakan obyek utama  (objek sentral), yang dia lah segala
yang berhubungan dengan aktivitas pendidikan yang diakhiri.

2.2   Karakteristik Peserta Didik

Setiap peserta didik memiliki ciri dan sifat atau karakteristik yang diperoleh
lingkungan. Agar pembelajaran dapat mencapai hasil yang optimal guru perlu
memahami karakteristik peserta didik. Karakteristik bawaan karakteristik yang
dimiliki sejak lahir baik menyangkut faktor biologi maupun faktor sosial psikologis
Untuk mengetahui siapa peserta didik perlu dipahami bahwa sebagai manusia yang
berkembnag menuju ke arah kedewasaan memiliki beberapa karakteristik.

Menurut Tirtaraharja, 2000 (Uyoh Sadullah, 2010: ) mengemukakan 4 karakeristik


yang dimaksudkan yaitu :

A. Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas sehingga merupakan
makhluk yang unik

B. Individu yang sedang berkembang. Anak mengalami perubahan dalam dirinya


secara wajar.

C. Individu yang membutuhkan bimbingan individu.

D. Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri dalam perkembangannya


peserta didik memiliki kemampuan untuk berkembang ke arah kedewasaan.

Dalam mengungkapkan ciri-ciri anak didik Edi Suardi (1984) mengemukakan 3 ciri
anak didik:

1. Kelemahan dan ketidakberdayaan.

Anak ketika dilahirkan dalam keadaan lemah yang tidak berdaya untuk dapat
bergerak harus melalui berbagai tahapan. Kelemahan yang dimiliki anak adalah
kelemahan rohaniah dan jasmaniah misalnya tidak kuat gangguan cuaca juga
rohaniahnya tidak mampu membedakan keadaan yang berbahaya ataupun
menyenangkan. Kelemahan dan ketidakberdayaan anak makin lama makin hilang
karena berkat bantuan dan bimbingan pendidik atau yang disebut dengan
pendidikan. Pendidikan akan berhenti manakala kelemahan dan ketidakberdayaan
sudah berubah menjadi kekuatan dan keberdayaan, yaitu suatu keadaan yang dimiliki
oleh orang dewasa. Pendidikan justru ada karena adanya ciri kelemahan dan
ketidakberdayaan tersebut.

2. Anak didik adalah makhluk yang ingin berkembang

Keinginan berkembang yang menggantikan ketidakmampuan pada saat anak lahir


merupakan karunia yang besar untuk membawa mereka ketingkat kehidupan
jasmaniah dan rohaniah yang lebih tinggi lebih tinggi dari makhluk
lainnya. Keinginan berkembang mendorong anak untuk giat, itulah yang
menyebabkan kemungkinan adanya atau pergaln yang disebut pendidikan. Tanpa
keinginan berkembang pada anak, akan menjadikan tidak ada kemauan tidak
mempunyai vitalitas, tidak giat bahkan barang kali menjadi malas dam tidak
menghiraukan.

3. Anak didik yang ingin menjadi diri sendiri.

Sepeti pernah mengemukakan bahwa anak didik itu ingin menjadi diri sendiri. Hal
tersebut penting baginya karena untuk dapat bergaul dalam masyarakat. Seseorang
harus merupakan diri sendiri, orang seorang atau pribadi. Tanpa itu manusia akan
menjadi manusia penurut, dan manusia yang tidak punya pribadi. Pendidikan yang
bersifatotoriter bahkan mematikan pribadi anak yang sedang tumbuh.

Secara garis besar karakteristik peserta didik dibentuk oleh dua faktor yaitu.

 Faktor bawaan merupakan faktor yang diturunkan dari kedua orang tua
individu yang menentukan karakteristik fisik dan terkadang intelejensi,
 Faktor lingkungan merupakan faktor yang menentukan karakteristik spiritual,
mental, psiko, dan juga terkadang fisik dan intelejensi. Faktor lingkungan dibagi
menjadi tiga yaitu

A. lingkungan keluarga,

Ø Pada lingkungan keluarga seperti motivasi dari kedua orang tua agar menjadi orang
yang sukses kedepannya dan tidak bisa kalah dengan kesuksesan orang tuanya,
kesuksesan teman orang tuanya, kesuksesan anak teman orang tuanya, ingin merubah
nasib keluarga yang melarat, motivasi sebagai kakak yang merupakan contoh bagi
adik-adiknya, motivasi sebagai adik yang tidak bisa kalah dengan kesuksesan
kakaknya.

B. lingkungan sekolah,
Ø Dari lingkungan sekolah seperti motivasi ingin menjadi juara kelas, motivasi ingin
kaya karena melihat orang tua temannya yang kaya, ataupun motivasi dari gurunya.

C. masyarakat lingkungan.

Ø Lingkungan masyarakat misalnya motivasi dari tetangganya yang sukses, motivasi


karena keluarganya selalu diremehkan masyarakat, ataupun motivasi karena
masyarakatnya diremehkan masyarakat lain.

Setelah mengetahui faktor-faktor tersebut guru dapat memahami bahwa peserta


didiknya digolongkan sebagai individu yang unik dan pilah karena peserta didik pada
hakikatnya terdiri dari individu-individu yang memiliki karakteristik yang berbeda-
beda. Adanya perbedaan individu dalam diri masing-masing peserta didik membuat
guru harus pandai-pandai menempatkan porsi keadilan dengan tepat pada setiap
peserta didiknya. Misalnya saja dalam pelajaran fisika, tentunya tidak semua siswa
berminat dalam pelajaran fisika, mungkin ada siswa yang berminat pada musik, lantas
guru tidak harus memaksanya untuk dapat menyukai fisika apalagi memaksakan agar
paham fisika lebih mendalam dengan memberikan soal dan tugas yang banyak dan
sulit ditambah lagi sanksinya. yang berat bila tidak dapat mengerjakan soal/tugas
tersebut.

Pada prinsipnya perkembangan psikosis peserta didik selalu ke arah yang lebih baik
seiring dengan tingkat materi pelajaran yang diberikan juga semakin tinggi sehingga
membuat peserta didik terbiasa berpikir secara realistis dan sistematis. Tapi guru
mendukung dan membantunya mengembangkan potensi tersebut agar lebih
optimal. Peserta didik yang demikian tidak perlu mengajarkan fisika sampai
mendalam karena itu hanya akan membuatnya jenuh pada setiap pertemuan dan sudah
menjadi kompetensi guru untuk dapat menyadari hal ini, tetapi bisa juga divariasikan
konsep-konsep fisika yang berhubungan dengan bidang yang diminatinya, seandainya
peserta didik tersebut tidak mengerti paling tidak pasti ia akan menikmati proses
pembelajaran di kelasnya. Selain dengan cara itu guru juga bisa melakukan
pendekatan-pendekatan dalam proses pembelajaran terhadap peserta didiknya terlebih
dahulu dengan membaca situasi. Misalnya saja dengan memberikan kesempatan
kepada siswa yang pintar untuk melarang kepada temannya yang kurang
mengerti. Seperti itulah guru yang profesional.

2.3   Peran Guru Dalam mewujudkan Potensi Peserta Didik

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional


pasal 39 ayat (2) menyebutkan pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas
merancang dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,
melakukan pembinaan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian
kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Sedangkan dalam
pasal 32 ayat (1) disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi
peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran
karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan
dan bakat istimewa.

Agar pelayanan pendidikan yang selama ini diberikan kepada peserta didik mencapai
sasaran yang optimal, maka pembelajaran harus diselaraskan dengan potensi peserta
didik. Oleh karena itu guru perlu melakukan tracking potensi peserta didik.

Pemahaman tentang berbagai potensi peserta didik mutlak harus dimiliki oleh setiap
pendidik. Hal itu sejalan dengan tujuh prinsip penyusunan kurikulum tingkat satuan
pendidikan (KTSP), yaitu (1) Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
kepentingan peserta didik dan lingkungannya, (2) Beragam dan terpadu, (3) Tanggap
terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, (4) Relevan dengan
kebutuhan kehidupan, (5) Menyeluruh dan irasional, (6) Belajar sepanjang hayat, dan
(7) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

Agar kita dapat mengidentifikasi potensi peserta didik, cara yang paling mudah dan
sederhana adalah dengan mengajukan pertanyaan, ”Apa yang paling senang Anda
lakukan dan orang lain menilai hasilnya sangat bagus dan luar biasa?”. Sebagian
peserta didik mungkin menjawab suka mengerjakan Matematika. Itu artinya dia
memiliki kecerdasan logika. Sebagian siswa mungkin merasa senang apabila menulis
atau belajar bahasa asing. Artinya, dia memiliki kecerdasan linguistik. Sebagian lagi
mungkin senang bermain musik, dan sebagainya.

Dalam pembelajaran guru sebagai pendidik berinteraksi dengan peserta didik yang
memiliki potensi yang beragam. Untuk itu pembelajaran didorong lebih diarahkan
pada proses belajar kreatif dengan menggunakan proses berpikir divergen (proses
berpikir ke macam-macam arah dan menghasilkan banyak alternatif penyelesaian)
maupun proses berpikir konvergen (proses berpikir mencari jawaban tunggal yang
paling tepat). Dalam konteks ini guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator dari
pada pengarah yang menentukan segala-galanya bagi peserta didik. Sebagai fasilitator
guru lebih banyak mendorong peserta didik (motivator) untuk mengembangkan
inisiatif dalam menjajagi tugas-tugas baru.

Bagaimana hal ini dapat diwujudkan dalam suasana pembelajaran yang dapat
dinikmati oleh peserta didik? Jawabannya adalah pembelajaran menggunakan
pendekatan kompetensi, antara lain dalam proses pembelajaran guru :

1. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bermain dan berkreativitas,

2. Memberi suasana aman dan bebas secara psikologis,

3. Disiplin yang tidak kaku, peserta didik dapat memiliki gagasan sendiri dan dapat
berpartisipasi secara aktif
4. Memberi kebebasan berpikir kreatif dan partisipatif secara aktif.

Semua ini akan memungkinkan peserta didik mengembangkan seluruh potensi


kecerdasannya secara optimal. Suasana kegiatan belajar-mengajar yang menarik,
interaktif, merangsang kedua belahan otak peserta didik secara seimbang,
memperhatikan keunikan tiap individu, serta melibatkan partisipasi aktif setiap
peserta didik akan membuat seluruh potensi peserta didik berkembang secara
optimal. Selanjutnya tugas guru adalah mengembangkan potensi peserta didik
menjadi kemampuan yang maksimal.

Ternyata, banyak sekali potensi yang dimiliki peserta didik. Tugas pendidik adalah
bagaimana agar potensi-potensi tersebut dapat berkembang secara maksimal, baik
melalui kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.

Pengembangan potensi siswa melalui kegiatan intrakurikuler dapat terwujud melalui


proses belajar yang melibatkan peserta didik secara aktif ( pembelajaran
aktif ). Dengan demikian, siswa terus mengasah kecerdasan logika saat merumuskan
ide-ide atau pendapat, kecerdasan bahasa saat menyampaikan secara lisan ide atau
pendapat tersebut, kecerdasan keuletan saat harus beradu argumen dengan teman,
kecerdasan intrapersonal saat harus menyesuaikan toleransi kepada yang lain, dan
seterusnya.

BAB III

PENUTUP

3.1   SIMPULAN

Menurut UU no.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, peserta


didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui
proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan
tertentu. Peserta didik menunjukkan seseorang manusia yang belum dewasa yang
akan dibimbing oleh pendidiknya untuk menuju kedewasaan.

Secara garis besar karakteristik peserta didik dipengaruhi oleh faktor bawaan dan
faktor lingkungan. Hal tersebut meruapkan dua faktor yang terbentuk karena fakta
yang berbeda, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu
bawaan dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Akan tetapi, semakin disadari
bahwa apa yang dirasakan oleh seorang anak, remaja, atau dewasa merupakan hasil
dari perpaduan anatara apa yang ada di antara faktor-faktor biologis yang diturunkan
dan pengaruh lingkungan.

Dalam pembelajaran guru sebagai pendidik berinteraksi dengan peserta didik yang
memiliki potensi yang beragam. Untuk itu pembelajaran didorong lebih diarahkan
pada proses belajar kreatif dengan menggunakan proses berpikir divergen (proses
berpikir ke macam-macam arah dan menghasilkan banyak alternatif penyelesaian)
maupun proses berpikir konvergen (proses berpikir mencari jawaban tunggal yang
paling tepat).

3.2   SARAN

Sebagai calon guru, diharapkan agar kita mengetahui karakter masing-masing peserta
didik dan dapat memahami bahwa setiap peserta didik memiliki potensi yang
berbeda. Sehingga sebagai calon guru nantinya kita dapat meningkatkan potensi yang
ada pada peserta didik.

Hatinah, Siti. 2008. Perkembangan Peserta Didik . Bandung: PT Refika Aditama.

Murip Yahya. 2008. Pengantar Pendidikan . Bandng: Prospek.

Sadulloh. Uyoh. 2010. Pedagogik (Ilmu Mendidik) . Bandung: PT Alifa Beta.

Suardi, Edi. 1984. Pedagogik . Bandung: Angkasa.

Yusrina. 2006. Pengaruh Pendidikan Agama Islam terhadap Pembentukan Akhlak


Siswa di SMP YPI Cempaka Putih Bintaro (Online)

Anda mungkin juga menyukai