Tanggung Jawab Game Online
Tanggung Jawab Game Online
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2022
i
ii
SKRIPSI
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2022
iii
TANGGUNG JAWAB PELAKU USAHA GAME
ONLINE TERHADAP KONSUMEN BERKAITAN
DENGAN PENUTUPAN GAME ONLINE
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2022
iv
Lembar Persetujuan Pembimbing
Pembimbing I
Pembimbing II
v
Panitia Penguji Skripsi
(NIP. 196111011986012001)
(NIP. 196104221986012001)
(NIP. 196001011986021001)
vi
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN
Yang Menyatakan,
vii
KATA PENGANTAR
Om Swastyastu,
Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,
Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya, Skripsi yang
banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Sekalipun demikian, penulis
berharap agar skripsi ini dapat memenuhi kriteria sebagai syarat untuk
bimbingan, bantuan dan motivasi dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan
1. Bapak Dr. Putu Gede Arya Sumerta Yasa, S.H.,M.Hum., Dekan Fakultas
2. Ibu Dr. Desak Putu Dewi Kasih, S.H,M.Hum., Wakil Dekan I Fakultas
3. Ibu Dr. A.A Istri Ari Atu Dewi, S.H.,M.H., Wakil Dekan II Fakultas
4. Bapak Dr. I Made Sarjana, S.H.,M.H., Wakil Dekan III Fakultas Hukum
Universitas Udayana.
viii
5. Bapak Dr. Made Gede Subha Karma Resen, S.H.,M.Kn., Koordinator
6. Bapak I Made Dedy Priyanto, S.H., M.Kn., Ketua Bagian Hukum Perdata
8. Ibu Prof. Dr. Ni Ketut Supasti Dharmawan, S.H., M.Hum., LLM. dosen
10. Dewan Penguji skripsi yang telah berkenan meluangkan waktunya untuk
11. Bapak/Ibu Dosen dan Pegawai Tata Usaha serta Perpustakaan Fakultas
12. Kedua orang tua penulis yakni Bapak I Nyoman Pasek, S.H, dan Ibu Ni
ix
penulis yakni Agus Eka Putra Wiradnyana Adi Tatar, S.H, yang selalu
13. Kepada Bagus, Rama, Githa, Feby, Risma, Shanty, Mayra, Wira, Dine,
Kelas ZE dan PK Hukum Perdata yang semenjak awal tumbuh dan ikut
dengan penulis.
17. Kepada Masashi Kishimoto author dari Naruto sebagai teman membaca
x
Akhir kata jika terdapat kekurangan di dalam penulisan skripsi ini mohon
untuk dimaafkan dan harapan penulis agar skripsi ini bisa memberi manfaat untuk
xi
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.................................................................................................... xi
ABSTRAK....................................................................................................... xv
ABSTRACT...................................................................................................... xvi
xii
1.7 Landasan Teoritis ..................................................................... 11
xiii
2.3.3 Hak dan Kewajiban Konsumen ..................................... 36
ONLINE ........................................................................................ 44
Online ..................................................................................... 44
Game Online............................................................................ 55
Online ..................................................................................... 59
Undangan ................................................................................ 62
xiv
4.1.1 Tanggung Jawab Pelaku Usaha Game Online
Perdata .......................................................................... 62
Konsumen .................................................................... 64
5.2 Saran......................................................................................... 69
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 71
xv
ABSTRAK
Pelaku usaha game online terhadap konsumen memiliki ikatan erat terkait
hak dan kewajiban. Mencermati persoalan tersebut diatas, yang menjadi
permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1). Bagaimana kedudukan hukum
konsumen game online dan pelaku usaha game online dalam perjanjian
microtransaction jasa game online ? dan (2). Bagaimana tanggung jawab pelaku
usaha game online terhadap penutupan game online dengan sistem free to play ?
Pentingnya melakukan penelitian ini untuk mengetahui mengetahui dan
mendalami tentang kedudukan hukum konsumen game online dalam perjanjian
microtransaction jasa game online serta untuk memberikan kontribusi terhadap
ilmu hukum pada bidang keperdataan agar nantinya berguna dan dapat
diimplementasikan pada masyarakat mengenai tanggung jawab pelaku usaha
game online.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum yuridis normatif
dengan jenis pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Bahan
hukum yang digunakan berupa data primer dan sekunder yang diperoleh melalui
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dalam tanggung
jawab pelaku usaha game online terhadap konsumen berkaitan dengan penutupan
game online merupakan bagian dari ranah hukum di Indonesia yang terdapat pada
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Undang-Undang No. 18 Tahun 1999
tentang Perlindungan Konsumen, dan Undang-Undang No.19 Tahun 2016 tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik, bahwa pelaku usaha game online wajib
mengganti rugi kerugian yang ditimbulkan oleh pihak pelaku usaha game online.
xvi
ABSTRACT
Online game business actors to consumers have close ties to rights and
obligations. Observing the problems mentioned above, the problems in this study
are: (1). What is the legal position of online game consumers and online game
business actors in the online game service microtransaction agreement? and (2).
What is the responsibility of online game business actors for closing online games
with a free to play system? The importance of conducting this research is to find
out and explore the legal position of online game consumers in online game
service microtransaction agreements and to contribute to legal science in the civil
field so that later it is useful and can be implemented in the community regarding
the responsibilities of online game business actors.
This study uses a normative juridical legal research method with a
statutory approach and a conceptual approach. The legal materials used are
primary and secondary data obtained through applicable laws and regulations.
Based on the results of the study, it can be concluded that the
responsibility of online game business actors to consumers related to the closure
of online games is part of the legal realm in Indonesia contained in the Civil
Code, Law no. 18 of 1999 concerning Consumer Protection, and Law No. 19 of
2016 concerning Electronic Information and Transactions, that online game
business actors are obliged to compensate for losses incurred by online game
business actors.
xvii
BAB I
PENDAHULUAN
informasi yang sangat pesat. Teknologi dan informasi dibutuhkan manusia untuk
digunakan dimulai dari radio, televisi, telepon, telegram, faximile, dan yang
dalam ruang lingkup sebagai media penyebaran informasi yang sangat luas untuk
dengan jarak ribuan mil jauhnya. Setelah berkembangnya internet, maka segala
1
Sukmawati, N., & Purwanto, I. (2019). TANGGUNG JAWAB HUKUM PELAKU
USAHA ONLINE SHOP TERHADAP KONSUMEN AKIBAT PEREDARAN PRODUK
KOSMETIK PALSU. Kertha Semaya : Journal Ilmu Hukum, 7(3), 1-14
1
2
aktifitas invididu yakni manusia yang membutuhkan waktu serta biaya mahal bisa
dilakukan secara efektif dan efisien. Pemanfaatan dan penggunaan internet inipun
besar dan potensi pertumbuhan pengguna internet yang tinggi membuat Indonesia
Maka dari itu beberapa pelaku usaha game asing turut berperan dalam
industri game di Negara Indonesia. Bisnis pada industri game ini lebih dahulu
diawali dengan adanya game jaringan atau game LAN (Local Area Network).
masing konsumen game online yang saling terhubung satu sama lain. Menurut
game yang berbasis jaringan internet atau yang lebih dikenal dengan game online.
Game Online merupakan salah satu dari bentuk pemanfaatan informasi dan
teknologi saat ini yang dimainkan oleh seorang konsumen atau lebih
terjadi pada tahun 2001, disertai dengan mulai beroperasinya game online yang
bernama Nexia Online dengan jenis RPG (Role Playing Games) dibawa oleh PT.
Boleh Net. Walaupun demikian, awal dari ledakan bisnis game online dimulai
dengan kemunculan Ragnarok Online yang beroperasi mulai tahun 2003 dengan
Developer asal Korea Selatan Gravity dan pelaku usaha PT. Lyto Datarindo
Fortuna. Pada Tahun 2006-2008 game online mulai berkembang yakni terdapat
perubahan grafis yang lebih nyata. Pada tahun 2009-2013 merupakan era Game
3
FPS (First Person Shooting). Lalu pada tahun 2015-2016 merupakan era Mobile
Gaming. Kemudian pada tahun 2017 sampai sekarang merupakan era Game
berjenis MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) dan Battle Royale (Permainan
bertahan hidup) yang dimainkan dalam Platform Mobile ataupun pada Platform
Computer.2
konsumen game online melakukan pendaftaran online dengan mengisi syarat dan
bermain yang telah disediakan oleh pengelola game online. Jenis game lainnya
adalah jenis free to play. Game dengan jenis ini mudah untuk dimainkan,
konsumen game online hanya perlu mendownload installer (client) pada website
yang telah disediakan oleh pelaku usaha, lalu membuat akun untuk game yang
ingin dimainkan. Account ini yang akan digunakan oleh konsumen game online
untuk dapat mengakses lalu bermain game online tersebut. Untuk mendapatkan
pribadi dan menyetujui Terms and Agreement dan End-user License Agreement
(EULA) yang berisikan beberapa klausul mengenai hak dan kewajiban dari pelaku
usaha game online dan konsumen game online, serta hal-hal lainnya yang
berkaitan dengan layanan game. Berbeda dengan jenis game pay to play, setelah
memiliki account, konsumen game dapat langsung memainkan game online ini
2
Lubalu, Luiter dan Anak Agung Sagung Laksmi Dewi, (2019), Perlindungan Konsumen
Terhadap Pembelian Item Digital Dalam Aplikasi Game Online Di Indonesia, Jurnal Kontruksi
Hukum, 3(1), 212-216.
4
Game free to play ini hampir menguasai seluruh pasar industri game
online di Negara Indonesia. Hal tersebut dikarenakan konsumen game online bisa
memainkan game online jenis ini tanpa mengeluarkan modal diawal. Meskipun
konsumen game online dapat bermain secara gratis, tidak dimungkiri bahwa
pelaku usaha game online tidak mendapat keuntungan. Pada game free to play,
pelaku usaha game online tetap mendapatkan keuntungan dari penjualan barang
virtual item yang disediakan pada item mall di dalam game online. Item Mall
merupakan salah satu fitur yang disediakan oleh pelaku usaha game online, yang
game online lainnya, dengan kualitas yang beragam atau lebih bagus
dibandingkan dengan virtual item yang didapatkan konsumen game online dari
hunting.3
Konsumen game online yang berniat mendapatkan virtual item dari item
mall ini diharuskan mengisi voucher game online dengan nominal tertentu sesuai
dengan harga virtual item yang sudah ditentukan untuk dibeli. Jenis virtual item
dan harga yang ditawarkan juga beragam, mulai virtual item dengan durasi harian,
mingguan hingga permanen dengan harga mulai dari puluhan ribu hingga
mencapai ratusan ribu rupiah. Dengan disediakannya virtual item dengan kualitas
yang lebih baik oleh pelaku usaha game online, membuat sebagian besar
konsumen game online untuk menjadi yang terbaik didalam game online. Hal ini
pun membuat para konsumen game online tidak ragu-ragu untuk mengeluarkan
hingga menimbulkan persaingan antar pelaku usaha dalam industri game. Tidak
sedikit pelaku usaha game online yang menutup layanan game online yang
diakibatkan dari berkurangnya konsumen game online dari game online tersebut
baik pada platform PC, console, maupun mobile. Pada Tahun 2020 ini terdapat
game online yang tutup karena sudah sepi peminat, yaitu sebagai berikut:4
1. Mabinogi: Fantasy Life Sea. Game Online pada platform mobile dan
2. Fifa Online 3 Indonesia. Game online ini tutup pada tanggal 30 Juni
2020.
3. Mobius Final Fantasy. Game online pada platform mobile dan Game
4. Love Plus Every. Game online ini harus tutup pada bulan Agustus
Terdapat beberapa game online yang sempat populer pada masanya namun
Pelaku Usaha menutup layanan game online tersebut di Negara Indonesia antara
2. War Rock. Pelaku Usaha Game online ini adalah Megaxus dan tutup
3. Lineage 2. Pelaku Usaha Game online ini adalah Megaxus dan tutup
4. Grand Chase. Pelaku Usaha Game online ini adalah Megaxus dan
5. Seal Online. Pelaku Usaha Game online ini adalah Lyto dan tutup pada
6. Dragon Nest. Pelaku Usaha Game online ini adalah Gemscool dan
8. RF Online. Pelaku Usaha Game online ini adalah Lyto dan tutup pada
biaya yang tidak sedikit untuk membeli virtual item, baik virtual item dengan
durasi tertentu maupun virtual item yang berdurasi permanen akibat dari tidak
kejelasan mengenai klausula baku yang diatur oleh pelaku usaha game online
PENUTUPAN GAME”.
beberapa pokok permasalahan yang timbul dan akan dibahas sebagai berikut :
online?
permasalahan utama yang dibahas dalam penulisan penelitian ini, yaitu membahas
terkait tanggung jawab pelaku usaha game online terhadap konsumen game online
ONLINE“ terhindar dari label meniru, maka dalam ini penulis memiliki tanggung
Islam Negeri Ar-Raniry Darrusalam Banda Aceh 2019) dengan skripsi yang
berjudul “Jual Beli Game Online Dalam Persepektif Hukum Islam (Studi Pada
dengan kedudukan hukum konsumen game online dan pelaku usaha game
jawab pelaku usaha game online terhadap penutupan game online dengan
terkait mekanisme transaksi jual beli game online dan pandangan hukum islam
dengan kedudukan hukum konsumen game online dan pelaku usaha game
jawab pelaku usaha game online terhadap penutupan game online dengan
terkait pengaturan jasa layanan game online dan pengguna jasa game online di
9
dapat dilakukan apabila terjadi kerugian yang dialami pengguna jasa game
online.
Dari hasil kajian yang telah dirumusukan diatas dapat menjadi gambaran
tambahan yang bermanfaat apabila memiliki permasalahan yang sama dan dapat
mengemukakan:
boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua berupa keamanan hukum bagi
bersifat umum, individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan
konsistensi dalam putusan hakim yang lainnya untuk kasus serupa yang
telah diputus.”
12
aturan tersebut;
aturan yang bersifat umum mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh
dilakukan; dan kedua berupa keamanan hukum bagi setiap individu dari
umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau
1.7.2 Perjanjian
6
Marwan, Mas, Pengantar Ilmu Hukum, Bogor, Ghalia Indonesia. 2013, 40-41.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (selanjutnya disebut KUHPerdata)
memuat hukum perjanjian diatur dalam Buku III didalamnya tentang Perikatan,
dimana dalam tersebut mengatur dan memuat tentang hukum kekayaan yang
mengenai hak-hak dan kewajiban yang berlaku bagi orang-orang atau pihak
bahwa “suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau
Pasal 1338 menyebutkan perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai
undang-undang. Perjanjian yang sah adalah memenuhi unsur dalam Pasal 1320
KUHPerdata, yaitu :
seperti yang termuat dalam Pasal 1321 KUHPerdata yaitu tiada sepakat yang sah
paksaan (dwang) atau penipuan. Kemudian dalam hal ini apabila perjanjian
tersebut terdapat paksaan dari pihak lain maka perjanjian yang dibuat tersebut
dapat dibatalkan.
sebagai berikut :
13
a. Tanggung jawab berdasarkan unsur kesalahan, teori ini menyatakan bahwa
c. Praduga untuk tidak selalu bertanggung jawab, teori ini adalah kebalikan
prinsip yang kedua, yang dimana pelaku usaha tidak dapat diminta
resiko. Teori praduga untuk tidak bertanggung jawab hanya dikenal dalam
merugikan konsumen. Asas tanggung jawab ini lebih dikenal dengan nama
product liability.
bila ditetapkan secara sepihak oleh pihak pelaku usaha. Seharusnya pelaku
7
Kristiyanti, Celina Tri, 2014, Hukum Perlindungan Konsumen, cet. IV, Sinar Grafika, Jakarta,
(92)
14
1.8 Metode Penelitian
menganalisis suatu data dalam rangka menjawab masalah yang akan diteliti. 8
berpikir dan berbuat, yang dipersiapkan dengan baik untuk mengadakan penelitian
Jenis dari Penelitian yang digunakan dalam penyusunan ini adalah Yuridis
8
Soerjono Soekanto, 2012, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, UI Press, (6)
9
Peter Mahmud Marzuki, 2013, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta,
(194)
15
Dalam penelitian ini jenis pendekatan yang digunakan penulis
undang dan regulasi yang terkait dalam isu hukum yang sedang diangkat.
isu hukum.11
2 bagian yaitu :
10
Ibid, (93)
11
Ibid, (138)
16
a. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
Hukum Primer dan dapat membantu dalam memahami dan mengalisa pada
3) Hasil Penelitian.
a. Kamus Hukum;
b. Kamus Bahasa.
ini adalah Teknik Sudi Dokumen. Teknik Studi Dokumen dengan cara mencari,
yaitu melalui :
17
1. Pengumpulan Bahan Hukum Primer dilakukan dengan cara
terrhadap bahan hukum yang menjadi pokok persoalan sehingga diperoleh suatu
kesimpulan.
18
19
BAB II
pelaku usaha adalah setiap orang-perorang atau badan usaha, baik yang berbentuk
badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau
usaha yang termaksud dalam pengertian ini adalah perusahaan, koperasi, BUMN,
usaha dalam perlindungan bahwa saat ini paradigmanya, market in, yaitu menguji
pasar. Karena prosesnya lebih panjang dan biaya mungkin juga lebih besar, mau
tidak mau konsumen akan membayar lebih mahal. Komunitas pelaku usaha juga
berubah dari paradigma let be consumer beware yaitu konsumenlah yang harus
20
21
pasar.
tanpa adanya UU-PK, maka kini hak-hak konsumen secara mengikat menjadi
base) untuk menuntut hak-haknya. Ini membuat produsen lebih berhati-hati. Saat
hasilnya apabila dikaji lebih mendalam masih ada dalam kajian tersebut yang
juga mikro.
hak dan kewajibannya. Kelemahan ini terjadi karena kesadaran masyarakat akan
keberadaan hak konsumen dan kewajiban ini dirasa sangat kurang diketahui oleh
Dalam Pasal 1 ayat (3) UU-PK disebutkan bahwa pelaku usaha adalah setiap
orang perseorangan atau badan hukum yang didirkan dan berkedudukan atau
suatu produk yang berguna bagi konsumen, yaitu berupa barang dan/atau jasa.
setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi
yang diistilahkan barang dan/atau jasa adalah produk konsumen, yaitu barang
bagi para pelaku usaha dan sebagai keseimbangan berusaha atas hak-hak yang
diberikan konsumen, Dalam Pasal 6 UU-PK para pelaku usaha diberikan hak
untuk :
12
Zulham, Hukum Perlindungan Konsumen, 2013, Jakarta, Kencana (33)
23
kondisi dan nilai tukar barang dan atau jasa yang diperdagangkan.
sengketa konsumen.
d) Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila tidak terbukti secara hukum
bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan atau jasa
yang diperdagangkan.
tidak diksriminatif.
perjanjian.
dalam sisi lain yang “ditargetkan” untuk menciptakan “budaya” tanggung jawab
hak konsumen.
larangan. Perbuatan yang dilarang bagi para pelaku usaha diatur dalam Pasal 8
ketentuan yang bersifat umum bagi kegiatan usaha dari para pelaku usaha di
Indonesia.
25
a. Tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan
b. Tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan jumlah dalam
tersebut.
f. Tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket, keterangan,
nama barang, ukuran, berat/isi bersih, atau netto, komposisi, aturan pakai,
tanggal pembuatan, akibat sampingan, nama dan alamat pelaku usaha serta
dipasang/dibuat.
yang berlaku.
(2) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacat atau bekas
dan tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas
barang dimaksud.
(3) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan sediaan farmasi dan pangan yang
rusak, cacat, atau bekas dan tercemar, dengan atau tanpa memberikan
(4) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang
peredaran.
jasa yang tidak layak untuk digunakan, dipakai, bahkan dimanfaatkan oleh
konsumen.
dengan etika atau moral dalam melakukan suatu perbuatan. Selanjutnya menurut
menyebabkan timbulnya hak hukum bagi seorang untuk menuntut orang lain
sekaligus berupa hal yang melahirkan kewajiban hukum orang lain untuk
memberi pertanggungjawabannya.
menjadi dua macam, yaitu kesalahan dan risiko. Dengan demikian dikenal dengan
dikenal dengan tanggung jawab risiko atau tanggung jawab mutlak (strick
karena merugikan orang lain. Sebaliknya prinsip tanggung jawab risiko adalah
Hak dan kewajiban tidak dapat dipisahkan. Hak tidak akan muncul jika
telah terpenuhi hak-haknya. Tanggung jawab hukum dapat dilakukan jika pelaku
merupakan tanggung jawab yang berhubungan dengan hak dan kewajiban. Pelaku
hukum.
jawab hukum berdasarkan kesalahan terdapat pada pasal 1365 KUH Perdata
bahwa suatu tindakan dapat dihukum atas dasar perilaku yang berbahaya dan
atau kesengajaan.13
Tanggung jawab ini memiliki arti bahwa pihak tergugat tetap harus
tergugat. Menurut teori ini pihak pelaku usaha atau penyedia jasa yang
13
Suryawan, A.A Gede Govindha, 2017, “Perlindungan Konsumen Sebagai Pengguna
Jasa Penerbangan Atas Dimajukannya Jadwal Penerbangan”, Skripsi Fakultas Hukum Universitas
Udayana, Denpasar, (19)
membatasi maksimal tanggung jawab konsumen seperti dibatasi ganti
kerugiannya.14
dalam pengggunaan barang atau jasa dari pelaku usaha itu sendiri, pelaku usaha
dapat diminta tanggung jawab hukum oleh konsumen jika melakukan perbuatan
perbuatan yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Menurut Hans Kelsen
atas suatu perbuatan tertentu atau bahwa dia memikul tanggung jawab hukum,
subyek berarti bahwa dia bertanggung jawab atas suatu sanksi dalam hal
Maka dapat disimpulkan bahwa tujuan Tanggung jawab adalah ketika ada
subjek hukum yang melalaikan kewajiban hukum yang seharusnya dijalankan atau
melanggar hal yang sudah ditetapkan maka dibebani hak untuk bertanggung
jawab atas suatu sanksi dalam hal perbuatan yang dilanggar atau bertentangan.
2.3 Konsumen
bahwa Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/jasa yang tersedia
14
Kristiyanti, Celine Tri Siwi, 2019, Hukum Perlindungan Konsumen, cet VIII Sinar
Grafika Jakarta, (92)
30
dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain,
Bahasa Indonesia dari istilah Bahasa Inggris yaitu Consumer, secara harfiah
membeli barang tertentu atau menggunakan jasa tertentu” atau “sesuatu atau
seseorang yang menggunakan suatu persediaan atau sejumlah barang” dan ada
juga yang mengartikan sebagai “setiap orang yang menggunakan barang atau
jasa”15
a. Setiap Orang
Subjek yang disebut sebagai konsumen artinya setiap orang yang memiliki
natuurelijke person atau termasuk juga badan hukum (rechtspersoon). Hal ini
berbeda dengan pengertian yang diberikan untuk “pelaku usaha” dalam Pasal
Tentu hal yang tepat adalah tidak membatasi arti dari makna konsumen itu
b. Pemakai
15
Suud Wahyud, 2016, ”Perliindungan Hukum Konsumen”
http://newyorkermen.multiply.com/artikrl perlindungan hukum konsumen/item/ 30 diakses pada
tanggal 6 November 2021.
31
Sesuai dengan bunyi penjelasan Pasal 1 angka 2 UU-PK, kata “pemakai”
”pemakai” dalam hal ini tepat digunakan dalam rumusan ketentuan tersebut,
hasil dari transaksi jual beli. Artinya, sebagai konsumen tidak selalu harus
barang dan/atau jasa itu. Dengan kata lain, dasar hubungan hukum antara
konsumen dan pelaku usaha tidak perlu harus kontraktual (the privity of
contract).
berkonotasi barang atau jasa. Semula kata produk hanya mengacu pada
Sementara itu, jasa diartikan sebagai setiap layanan yang berbentuk pekerjaan
32
harus ditawarkan kepada masyarakat. Artinya, harus lebih dari satu orang. Jika
Barang dan/atau jasa yang ditawarkan kepada masyarakat sudah harus tersedia
di pasaran (dilihat dalam bunyi Pasal 9 ayat (1) huruf e UU-PK). Dalam
perdagangan yang makin kompleks dewasa ini, syarat itu tidak mutlak lagi
e. Bagi Kepentingan Diri Sendiri, Keluarga, Orang Lain, Makhluk Hidup Lain.
keluarga, oranng lain, dan makhluk hidup lain. Unsur yang diletakkan dalam
ini tidak sekadar ditujukan untuk diri sendiri dan keluarga, tetapi juga barang
dan/atau jasa itu diperuntukkan bagi orang lain (di luar diri sendiri dan
keluarganya), bahkan untuk makhluk hidup lain, seperti hewan dan tumbuhan.
Dari sisi teori kepentingan, setiap Tindakan memakai suatu barang dan/atau
jasa (terlepas ditujukan untuk siapa dan makhluk hidup lain), juga tidak
16
Kristiyanti, Celine Tri Siwi, 2018, Hukum Perlindungan Konsumen, Jakarta, Sinar
Grafika, (29).
33
f. Barang dan/atau Jasa itu tidak untuk Diperdagangkan.
hanya konsumen akhir. Batasan itu sudah biasa dipakai dalam peraturan
spiritual.
34
konsumen dalam menggunakan, memakai, dan pemanfaatan barang
kepastian hukum.
Asas tersebut menjelaskan bahwa antara konsumen dan pelaku usaha harus
dan pelaku usaha harus mengikuti asas-asas yang berlaku bila konsumen
pada hak dan kewajiban, karena ia selalu berinteraksi dengan orang lain dan ia
juga wajib pula menghormati hak dan kewajiban manusia yang lainnya. Demikian
halnya dalam hubungan antara produsen atau pelaku usaha dengan konsumen
dalam suatu perlindungan hukum terhadap konsumen. Dunia usaha yang penuh
akan persaingan telah mendorong para pelaku usaha untuk terus meningkatkan
usahanya baik dalam hal pengikatan pendapatan perusahaan maupun dalam hal
konsumen dengan tujuan agar abrang yang diproduksi oleh perusahaan dapat
35
Kehadiran UU-PK tersebut diharapkan untuk meningkatkan harkat dan
usaha yang bertanggung jawab. Menurut pendapat Celine Tri Siwi Kristiyanti
bahwa :
Membahas mengenai hak dan kewajiban, maka akan kembali pada hakikat
perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain
atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal.
menambahkan lagi beberapa hak seperti mendapatkan lingkungan hidup yang baik
dan sehat. Tujuan dari adanya perlindungan hukum kepada konsumen, hak
36
mendapatkan ganti kerugian, dan hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik
dan sehat. Tujuan perlindungan hukum kepada konsumen pada hakikatnya adalah
dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dari kondisi serta
c. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan
d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa
yang digunakan.
g. Hak untuk diperlakukan dan dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif.
menyatakan bahwa :
37
a. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian
keselamatan.
jasa
konsumen.
tersebut merupakan manifestasi hak konsumen dalam sisi lain yang “ditargetkan”
untuk menciptakan “budaya” tanggung jawab pada diri pelaku usaha. Hak dan
kewajiban konsumen merupakan dasar dari patokan untuk saling melengkapi dan
mengembangkan suatu produk atau jasa yang saling terkait diantara kedua belah
hal tersebut dilakukan agar tidak terjadi hal-hal yang dapat merugikan kedua belah
pihak.
38
communication protocol) untuk melayani milyaran pengguna di seluruh dunia. 17
Game Online atau sering disebut Online Games adalah sebuah permainan (games)
yang dimainkan di dalam suatu jaringan (baik LAN maupun Internet). 18 Game
dimainkan saat ini mulai dari kalangan anak-anak hingga remaja dan orang tua
Free to Play atau bermain gratis merujuk kepada permainan video yang
memberikan para pemain akses untuk bagian signifiikan dari konten mereka tanpa
membayar. Terdapat beberapa jenis permainan free to play, tetapi yang paling
mendasar secara cuma-cuma tetapi mengenakan biaya untuk fitur khusus atau
17
Riyadi, Herwan, 2022, “Kenalii Pengertian Internet Beserta Fungsi, Fasilitas dan
Manfaat Internet”, http://www.nesabamedia.com/2015/04/pengertian-dan-manfaat-dari-
internet.html diakses tanggal 8 Juli 2022
18
Andhika, Revi, 2012, “Sejarah Dan Perkembangan Game Online,
https://reviandhika95.wordpress.com/2012/10/12/sejarah-dan-perkembangan-game-online/ diakses
pada tanggal 8 Juli 2022
19
Purwanta, Mahendra Adi, 2012, Analisis Yuridis Terhadap Transaksi Atas Kebendaan
Virtual Pada Penyelenggaraan Permainan Online, Tesis, Fakultas Hukum, Universitas Indonesia,
(2)
20
Cambridge Dictionaries Onliine, video game, English
http://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/videogame?a=americanenglish&q=video
%20game. Diakses pada tanggal 7 Juli 2022.
39
lanjutan yang disebut premium. Kata freemium merupakan paduan kata yang
dibuat dengan mengombinasikan dua aspek dari model bisnis ini, yaitu free dan
premium. Untuk game freemium, para pemakai mendapatkan akses untuk sebuah
pertama kali.21
teknologi komputer dan jaringan komputer itu sendiri. Meledaknya game online
sendiri merupakan cerminan dari pesatnya jaringan komputer yang dah ulunya
berskala kecil (small local network) sampai menjadi internet dan terus
berkembangan sampai sekarang. Game Online saat ini tidaklah sama seperti
ketika game online diperkenalkan untuk pertama kalinya. Pada saat muncul
pertama kalinya tahun 1960, komputer hanya bisa dipakai untuk 2 orang saja
untuk bermain game online. Lalu munculah komputer dengan kemampuan time-
sharing sehingga pemain yang bisa memainkan game tersebut bisa lebih banyak
dan tidak harus berada di suatu ruangan yang sama (multiplayer game).
Pada tahun 1970 ketika muncul jaringan komputer berbasis paket (packet
based computer networking), jaringan komputer tidak hanya sebatas LAN saja
tetapi sudahh mencakup WAN dan menjadi Internet. Game online pertama kali
21
https://id.wikipedia.org/wiki/Free-to-play diakses pada tanggal 8 Desember 2021
40
untuk kepentingan militer yang akhirnya dilepas lalu diikomersialkan, game-game
ini kemudian menginspirasi game-game yang lain muncul dan berkembang. Pada
tahun 2001 adalah puncak dari demam dotcom, sehingga penyebaran informasi
Di Indonesia bisnis game online ini telah menambah sejak tahun 2001,
sejak meluncurnya game berjudul Nexia membuat para konsumen game online
dan juga masyarakat Indonesia semakin tertarik dengan dunia game online
kemudian mencoba bermain game online. Bisnis game online ini sendiri
merupakan salah satu bisnis yang dapat meraup untung sangat besar, sebagai
jumlah penduduknya yang banyak membuat Indonesia menjadi salah satu negara
yang sesuai dalam pengembangan bisnis game online. Pada tahun 2013 yang lalu,
di Indonesia terdapat sekitar 15 juta penggila game online. Namun dalam bisnis
game online ini, Para pelaku usaha game online membuat game online dengan
1. MMOG
online yang dapat dimainkan bersama oleh konsumen game online yang
22
Winulah, Ragan, 2016, Perliindungan Data Dalam Bentuk Akun Game Online Ditinjau
Dari Undang – Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Skripsi Fakultas Hukum Universitas
Islam Indonesia, Yogyakarta, (66)
41
jumlahnya hingga puluhan ribu orang sekaligus. MMOG meliputi beberapa
2. MOG
MOG merupakan singaktan dari Multiplayer Online Games. Game online ini
dapat dimainkan oleh beberapa orang saja. Jumlah pemain yang didukung
biasanya hingga 36 pemain saja. Dalam game online jenis pada saat ini
dunia.
Game online ini popular dan digemari karena hanya membutuhkan browser
42
BAB III
Indonesia sendiri sangat besar dan didukung jumlah penduduknya yang banyak
sehingga membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang sesuai dalam
pengembangan bisnis game online. Pada tahun 2015, di Indonesia telah terdaftar
400 pengembang game asli Indonesia dan menghasilkan lebih dari 1.000 judul
video game.23 Hal ini menimbulkan suatu kesempatan yang sangat besar bagi para
penggemar game online di Indonesia karena bisa memainkan game online tersebut
di Game Centre atau warnet yang ada dinegaranya. Di Indonesia pada tahun 2015
terdapat 15 juta pengguna game online, 400 pengembang game dan sedikitnya 20
online tidak saja dari kalangan anak, remaja namun juga kalangan dewasa.24
konsumen game online dapat membeli virtual item melalui pembayaran mikro.
23
Maulana, Adhi, 2013, “Industri Game Tanah Air Tumbuh Pesat”, dikutip dari
http://tekno.liputan6.com/read/734181/industri-game-tanah-air-tumbuh-pesat diakses pada tanggal
2 Desember 2021
24
Akbar Kurnia Wahyudi, 2012, “Indonesia punya 15 juta penggila game online”
http://inet.detik.com/read/2013/04/22/165457/2227269/654/indonesia-punya-15-juta-penggila
game- online diakses pada tanggal 6 Desember 2021
44
45
pada game online yang pada dasarnya berguna untuk membeli item yang bersifat
yang dibuat benar-benar terlihat optional, atau harus dibeli jika konsumen game
online tertarik untuk membelinya. Tujuan dari microtrasanction ini adalah untuk
menutup jarak antara konsumen game online yang memiliki banyak waktu luang
yang dihabiskan untuk game online dan konsumen game online yang memiliki
Virtual item adalah suatu peralatan yang memberikan manfaat yang dibeli
oleh seorang konsumen game online. Virtual item bisa berupa kosmetik pelengkap
seperti armor, tas, sepatu, senjata dan lain sebagainya (yang kemudian disebut
dengan istilah skins) yang banyak ditemukan didalam game, tergantung dari jenis
game yang dimainkan seperti genre FPS (First Person Shooter), RPG (Role Play
game online di Indonesia, khusus untuk virtual item saja, mencapai nilai profit
25
Putra, Muahammad Theo Rizki, & Gunadi, Ariawan, 2020, Legalitas Sistem Monetisasi
Lootbox Dalam Transaksi Game Online Berdasarkan Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2008
Jo Undang – Undang Nomor 19 Tahun 2016. Jurnal Hukum Adigama, 3(1), 1480-1503.
26
Tirto.id, 2019, “Mengenal Microtransaction dan Dampaknya Pada Industri Game”,
https://tirto.id/mengenal
microtransaction-dan-dampaknya-pada-industri-game-enUb, diakses:20 Desember 2020
sebesar Rp 15,7 trilliun.27 Pesatnya pertumbuhan industri game dalam pembelian
pelaku usaha game online, virtual currency sendiri adalah sebuah jenis uang
seringkali disebut dengan istilah virtual item merupakan salah satu bentuk
Virtual item adalah benda yang dibeli untuk digunakan dalam game online.
Virtual item yang dibeli atau dikirimkan melalui dunia virtual pada dasarnya
adalah properti yang sifatnya virtual. Penggunaan virtual item pada game online
menjadi virtual currency untuk membeli suatu virtual item yang disediakan
didalam game online. Virtual item itu disediakan didalam game online dengan
bentuk item mall dan tidak bisa didapatkan melalui dari game online itu sendiri
dan harus membeli dengan virtual currency. Untuk itulah fungsi dari voucher
game online sangat dibutuhkan oleh konsumen game online agar bisa
dimana itu sangat essensial dalam game online. Contohnya adalah saat bermain
27
Dicky Prastya, 2021, “Pendapatan Industri Game Di Indonesia Tembus Rp 30 Trilliun”,
https://www.suara.com/tekno/2021/09/21/210938/pendapatan-industri-game-di-indonesia-tembus-
rp-30-triliun-di 2021#:~:text=Pendapatan%20 industri%20game%20di%20Indonesia%20
mencapai%201%2C1%20miliar%20dolar,15%2C7%20triliun%20pada%202020. Diakses pada
tanggal 21 september 2021
46
game Lost Saga, di dalam game Lost Saga apabila ingin mempunyai virtual item
khusus secara permanen diharuskan untuk membeli voucher game online yang
setelah pembelian virtual item tersebut virtual item langsung masuk kedalam akun
konsumen game online. Sehingga apabila terjadi penutupan game online oleh
pelaku usaha maka virtual item yang sudah masuk kedalam akun konsumen game
sesuatu yang dapat dihaki atau dikuasai dengan menjadi objek hak seseorang.28
dalam artian ilmu hukum yakni segala sesuatu yang dapat menjadi objek hukum
dan barang-barang yang dapat menjadi milik serta hak setiap orang yang
Pengertian tentang benda juga telah diatur dalam Pasal 499 KUH Perdata
yaitu tiap-tiap barang dan tiap-tiap hak yang dapat dikuasai oleh hak milik. Selain
itu dalam Pasal 1 angka 4 UU-PK menyebutkan bahwa barang merupakan setiap
benda baik berwujud maupun tidak berwujud, baik bergerak maupun tidak
walaupun virtual item dalam game online, merupakan benda non-fisik, akan tetapi
28
Rahadia, Muhammad Arief. 2016, Konstruksi Nilai Barang Virtual Dalam Fenomena
Real Money Trade. Jurnal Pemikiran Sosiologi, Vol. 3 No.1, (39)
29
P.N.H Simanjutk, 2017, Hukum Perdata Indonesia, Jakarta, Fajar Interpratma Mandiri,
(178)
47
konsumen game online yang menjadi pemilik tetap mempunyai hak penuh atas
virtual item tersebut. Virtual item dalam game online dengan barang pada
dalam End User License of Agreement (selanjutnya disebut dengan EULA) yang
diberikan kepada para konsumen game online pada saat memulai memainkan
game online tersebut.31 EULA adalah suatu perjanjian yang mengatur mengenai
lisensi dari suatu program komputer kepada konsumen. EULA pada game online
berarti mengatur terkait dengan lisensi game online kepada konsumen game
maka muncul suatu EULA dengan menyediakan pilihan menyetujui atau tidak
menyetujui. Jika konsumen game online memilih tombol setuju, maka aplikasi
game online tersebut dapat dipasangkan pada perangkat yang digunakan. Jika
konsumen game online memilih tombol tidak setuju maka pemain tersebut tidak
perjanjiannya dibuat sepihak yang dalam hal ini adalah pelaku usaha game online
tersebut.
Contoh perjanjian jasa game online yang tercantum dalam EULA pada
salah satu pelaku usaha game online di Indonesia yaitu LytoGame mengatur
tentang :
30
Robby Desya Caesaryo, R., 2021, Perlindungan Hukum Terhadap Pemain Atas
Pembelian Barang Virtual Dalam Game Online Jenis Freemium Di Indonesia, Jurnal Kertha
Semaya, Vol. 9 No. 5, 848-863.
31
Iqbal, Muhammad dan Salam, 2015, Abdul, Analisis Hukum Jual Beli Virtual Property
Pada Permainan Dota 2 Yang Diselenggarakan Oleh Valve Melalui Steam Community Market,
Skripsi Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
48
1. Lyto menyediakan jasa-jasa online game dan komunitas (Jasa) yang
yang disediakan.
3. Untuk menggunakan jasa game online yang kami sediakan, anda harus
https://www.lytogame.com/download/.
jawab penuh atas semua biaya koneksi internet yang anda gunakan
www.lytogame.com
dahulu membaca ketentuan ini dan jika anda sudah menyetujui kami
49
8. Anda setuju untuk memberikan data yang benar, akurat, terbaru dan
lengkap tentang diri anda serta melakukan perubahan pada profil anda
jika ada perubahan. Anda bertanggung jawab atas data yang anda
berikan
9. Lyto berhak menolak atau menghapus nama ID, nama karakter, nama
10. Semua informasi dan data pribadi yang diberikan kepada Lyto akan
Undang.
password, kode pribadi dan email security anda sendiri. Anda juga
ID
50
oleh orang lain yang mengakibatkan kehilangan data permainan yang
pengguna ID.
14. Semua karakter, items dan semua unsur data permainan yang terdapat
dan Pemilik Hak Cipta. Apabila terjadi penutupan layanan game maka
Developer.
15. Segala bentuk kasus penipuan yang terjadi di dalam game yang
16. Lyto memiliki hak untuk mengaudit dan menghapus semua isi di
melanggar hak orang lain. Isi yang dimaksud antara lain, namun tidak
yang berlaku.
51
b. Pesan yang berisi cara, instruksi, maupun metoda melakukan
dalam bentuk apa pun semua materi yang memiliki merk dagang,
perusahaan tanpa ijin tertulis dari Lyto. Hal ini berlaku juga dalam hak
materi yang memiliki hak merk dagang, paten dan hak milik
18. Anda setuju tidak menggunakan fasilitas, server dan jaringan, yang
20. Anda bertanggung jawab penuh atas perbuatan dan tingkah laku
21. Anda setuju untuk membebaskan Lytogame serta mitra usaha dari
52
22. Perangkat lunak (software), website dan fasilitas lainnya yang
sistem operasi dan keamanan data komputer yang Anda gunakan agar
25. Anda setuju menggunakan atau memakai Jasa yang disediakan oleh
27. Anda wajib memeriksa website yang disediakan secara teratur untuk
melihat dan mengerti isi dari perjanjian ini terutama jika ada
perubahan.
53
28. Lytogame berhak untuk mengambil tindakan hukum terhadap
29. Anda setuju untuk mentaati aturan main yang berlaku di masing-
EULA pada game online jika dilihat dari sudut pandang hukum di
Indonesia, maka perjanjian jasa game online yang tercantum dalam EULA tersebut
dapat ditinjau berdasarkan dalam Pasal 1320 KUHPerdata yaitu mengenai syarat
berkontrak yang berarti setiap orang bebas untuk mengadakan suatu perjanjian
dan bebas menentukan isi dari perjanjian tersebut sepanjang dilandasi dengan
klausula baku, yaitu bahwa klausula baku merupakan setiap aturan atau ketentuan
dan syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara
sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau
perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen. Ketentuan yang
32
Setiawan, I Ketut Oka, 2015, Hukum Perikatan, Jakarta Sinar Grafika, 61-68
54
memuat mengenai klausula baku dalam UU-PK dimaksudkan agar konsumen
memiliki kedudukan yang setara dengan pelaku usaha berdasarkan asas kebebasan
bersifat baku dan kemudian dituangkan dalam bentuk formulir dan hampir seluruh
pihak lain tidak memiliki peluang untuk bernegoisasi dan meminta untuk
melakukan perubahan.33
3.2 Hubungan Hukum antara Pelaku Usaha Game Online dengan Konsumen
Game Online
baik antara subjek hukum maupun antara subjek hukum dengan benda diatur oleh
hukum dan menimbulkan akibat hukum yakni hak dan kewajiban. Hukum
yang menjadi sasaran dari jalinan hubungan tersebut disebut objek hukum.34 Dari
bersifat dasar dari hukum. Disebut demikian oleh karena tidak mungkin ada satu
tatanan hukum tanpa subjek hukum dan seterusnya, sehingga setiap orang yang
33
Syamsudin, M. dan Ramadani, Fera Aditias, 2018, Perlindungan Hukum Konsumen
Atas Penerapan Klausula Baku, Jurnal Yudisial Vol. 11 No. 1, (94)
34
Rocky Marbun, 2011, Kiat Jitu Menyelesaikan Kasus Hukum, Jakarta, Visimedia, (132)
55
menuntut hak dari orang lain harus mengetahui dan memahami dengan benar
Dalam sebuah transaksi jual beli yang dilakukan dalam game online tentu
melibatkan pelaku usaha game online dan konsumen game online. Hak dan
kewajiban masing-masing pihak telah diatur sedemikian rupa dalam UU-PK. Hak
dalam Buku III KUHPerdata tentang Perikatan. Hak dan Kewajiban tersebut
online dan konsumen game online diwujudkan dalam bentuk pembelian voucher
bahwa suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih
mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Sedangkan dasar hukum
perjanjian lainnya terdapat dalam Pasal 1338 KUH Perdata tentang asas
pelaksanaan perjanjian jual beli tersebut, pertama pihak konsumen game online
dan pelaku game online, yang mengikatkan diri dalam perjanjian dengan adanya
pembelian voucher game online. Dua pihak tersebut yakni terikat dalam suatu
35
Jenia Mudha Dwi Siswanti, 2012, Tanggung Jawab Hukum Dalam Perjanjian Multi
Level Marketing Q.Net, Jember, Universitas Jember, (17)
36
Robby Desya Caesaryo, R., 2021, Perlindungan Hukum Terhadap Pemain Atas
Pembelian Barang Virtual Dalam Game Online Jenis Freemium Di Indonesia, Jurnal Kertha
Semaya, Vol. 9 No. 5, 848-863.
56
Pihak pengguna jasa yaitu konsumen game online menyanggupi membayar
sejumlah uang tertentu untuk membeli voucher game online yang dikonversi
menjadi virtual currency untuk membeli virtual item di dalam game online salah
pada game online, sedangkan pelaku usaha game online menyediakan jasa untuk
memenuhi dan memfasilitasi layanan yang ditawarkan untuk pengguna jasa yaitu
konsumen game online dalam suatu bingkai hukum perjanjian sebagaimana diatur
Hubungan hukum yang terjadi antara pelaku usaha game online dengan
konsumen game online adalah adanya hubungan hukum jual beli dalam bentuk
voucher game online yang dikonversi menjadi virtual currency untuk pembelian
virtal item. Sehubungan dengan pemenuhan hak dan kewajiban konsumen dalam
hal ini pemain game online dapat dilihat berdasarkan ketentuan dalam pasal 4 dan
Pasal 5 UU-PK.
dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta
c. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan
57
d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa
yang digunakan;
g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif;
lainnya.
keselamatan;
jasa;
58
baik dalam melakukan transaksi, yaitu membayar sesuai dengan nilai tukar yang
hak untuk memilih serta mendapatkan jasa tersebut sesuai dengan yang
diperjanjikan, hak informasi yang benar dan jujur, hak dengan pendapat dan
dan hak-hak lainnya sebagaimana yang telah diatur dalam peraturan perundang-
undangan lain.
tindakan yang dilakukan untuk memperoleh suatu akibat yang dikehendaki oleh
pelaku dan yang diatur oleh hukum. Tindakan ini dinamakan tindakan hukum.
jadi dengan kata lain, akibat hukum adalah akibat dari suatu tindakan hukum.
perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan
suatu benda dan pihak lain membayar harga sesuai yang telah dijanjikan. Maka
hubungan jual beli antara pelaku usaha game online dan konsumen game online
dikatakan telah terjadi antara kedua belah pihak pada saat mereka mencapai kata
dengan Pasal 1458 KUH Perdata bahwa jual beli itu dianggap telah terjadi antara
59
kedua belah pihak, seketika setelahnya orang-orang ini mencapai kata sepakat
diserahkan, maupun harganya belum dibayar. Dalam hubungan perdata ini, dasar
hukumnya adalah ketentuan KUH Perdata. Pasal 1457 KUH Perdata adalah suatu
perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan
suatu kebendaan dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah
1. Perjanjian.
3. Harga.
4. Barang.
dalam perjanjian antara pelaku usaha game online dan konsumen game online
masing pihak wajib melaksanakan hak dan kewajiban karena telah menyetujui isi
dari perjanjian tersebut, dimana hak dan kewajiban di dalam perjanjian dinamakan
prestasi.37 Maka bisa dikaitkan dengan pelaku usaha game online dan konsumen
game online dari hubungan hukum yang terjadi itu terciptalah akibat hukum
seperti adanya transaksi jual beli yang terjadi dengan cara pembelian voucher
game online lalu dikonversi menjadi virtual currency untuk pembelian virtual
item di dalam game online, namun yang terjadi adalah ketika sebelumnya sudah
37
Sa’adah, Nur, 2018, Akibat Hukum Pembuktian Perjanjian Tidak Tertulis, Jurnal
Pamulang Law Review, Fakultas Hukum Universitas Pamulang, No.2 Vol 1, 4
60
melakukan pembelian virtual item di dalam game online apabila terjadi penutupan
game online oleh pelaku usaha maka virtual item yang sebelumnya dibeli
menggunakan voucher game online lenyap bersamaan dengan akun game online
tersebut.
61
BAB IV
4.1 Tanggung Jawab Pelaku Usaha Game Online terhadap Penutupan Game
(KUHPerdata)
online berkaitan dengan penutupan game online ini dikaitkan dengan Pasal 1338
ayat (3) KUHPerdata. Pasal ini menyatakan bahwa tiap orang yang melakukan
perjanjian harus dilakukan dengan itikad baik. Dengan dimasukkanya itikad baik
di dalam pelaksanaan perjanjian berarti tidak lain harus menafsirkan perjanjian itu
menjadi 2 (dua) macam yaitu itikad baik subjektif yang merupakan kejujuran dan
diketahui bahwa suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. Itikad
baik disini merupakan bentuk kewajiban para pihak untuk memberikan informasi
62
63
pihak lain dan kewajiban untuk memeriksa atau meneliti segala sesuatu dengan
seksama.
Maka dalam Pasal 1338 ayat (3) erat kaitannya dengan pelaku usaha game
online karena seharusnya pelaku usaha game online diwajibkan untuk melakukan
tindakan itikad baik terhadap konsumen game online ketika terjadinya penutupan
game online dalam bentuk berupa ganti kerugian terhadap konsumen game online
online berkaitan dengan penutupan game online terdapat dalam ketentuan Pasal
38
Wijaya, I Gede Kusuma, and Nyoman Satyayudha Dananjaya, “Penerapan Asas
Itikad Baik Dalam Perjanjian Jual Beli Online”. Kertha Semaya : Journal Ilmu Hukum 6, No.
8,(2018) 10-11
64
game online antara lain adalah meningkatkan hak-hak dari konsumen game online
jawab.
Pelaku Usaha dalam hal ini sebagai penyedia atau pengembang layanan
game online mempunyai suatu kewajiban sebagaimana yang diatur dalam Pasal 7
UU-PK yaitu :
tidak diksriminatif;
yang berlaku;
yang diperdagangkan;
perjanjian.
Bahwa dalam Pasal 7 UU-PK tersebut pelaku usaha game online wajib
untuk beritikad baik dengan memberikan kompensasi atau ganti rugi kepada
konsumen game online yang dirugikan atas kelalaian pelaku usaha game online
Nilai Kepastian Hukum dapat dilihat pada konsep ganti kerugian yang
telah diatur dalam UU-PK. Dalam ketentuan Pasal 19 UU-PK disebutkan bahwa :
diperdagangkan.
yang berlaku.
4) Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
5) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak
hukum yang umum berlaku dalam hukum perdata, bahwa ganti rugi hanya
usaha;
4) Telah ada putusan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap sehingga
terlihat secara jelas bahwa, untuk memperoleh keadilan, konsumen game online
yang secara nyata dirugikan pun harus tetap menempuh proses yang sangat sulit
dan panjang. Tindakan pelaku usaha game online dalam hal ini banyak
menyebabkan kerugian bagi pihak konsumen game online. Pihak konsumen game
online selama ini masih ada yang tidak mengerti apa saja yang menjadi hak
mereka dan kewajiban yang harus mereka dapatkan pada pada suatu pelaku usaha
4.2 Tanggung Jawab Pelaku Usaha Game Online terhadap Penutupan Game
Ketentuan pada Term of Agreement dan EULA yang dibuat oleh pelaku
pelaku usaha game online hanya sebatas menjaga kerahasiaan data-data pribadi
kerugian konsumen game online yang disebabkan oleh tindakan yang dilakukan
oleh pelaku usaha game online. Kondisi tersebut memperlihatkan kedudukan dari
pelaku usaha game online dan konsumen game online yang tidak seimbang.
konsumen game online berada pada posisi atau titik yang lemah yang menjadi
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Kedudukan hukum konsumen game online dan pelaku usaha game online
suatu perikatan, suatu hal tertentu dan suatu sebab yang halal. Hak dan
Dalam sebuah transaksi jual beli yang dilakukan dalam game online tentu
melibatkan pelaku usaha game online dan konsumen game online. Hak
Konsumen.
online dengan sistem free to play dalam Pasal 1338 ayat (3) Kitab
68
69
game online dan berkewajiban untuk memberikan ganti rugi kepada pihak-
pihak yang menderita kerugian yaitu konsumen game online dan dalam
Konsumen bahwa pelaku usaha wajib ganti rugi karena telah terjadi
kerugian pada pihak konsumen game online yang secara nyata dirugikan
pun harus tetap menempuh proses yang sangat sulit dan panjang. Tindakan
pelaku usaha game online dalam hal ini banyak menyebabkan kerugian
5.2 Saran
bagi konsumen game online, agar konsumen game online puas dengan
antara pelaku usaha dan konsumen yang baik dan seimbang, khususnya
biaya yang relative mahal. Dalam hal ini kebanyakan konsumen game
online yang dirugikan harus menerima apa adanya tanpa tahu haknya
Konsumen.
71
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Kristiyanti, Celine Tri Siwi, 2018, Hukum Perlindungan Konsumen, Jakarta Sinar
Grafika.
Zein, Yahya Ahmad, 2019, Kontrak Elektronik & Penyelesaian Sengketa Bisnis
E-Commerce, Bandung, Mandar Maju.
B. Skripsi/Tesis
Bhastira, Azrha Zhara, 2020, “Transaksi Jual Beli Item Dalam Game Online
Perspektif Hukum Islam Dan Perlindungan Konsumen”, Skripsi Hukum,
Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Medan.
Haris, Iyan Supiyan. 2015, Perlindungan Konsumen Bagi Pengguna Game Online
(Studi Komparatif antara Hukum Islam dan Undang-Undang No. 8 Tahun
1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Skripsi Hukum Bisnis Syariah,
Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
Malang.
C. Jurnal Ilmiah
Anjani, I., & Purwanto, I, 2020, Tanggung Jawab Pelaku Usaha Terhadap
Pencantuman Klausula Eksonerasi Pada Nota Laundry. Kertha Semaya :
Journal Ilmu Hukum, 8(3)
Darma Putra, K., & Sarjana, M. 2020, Pengaturan Konten Games Dan Tanggung
Jawab Pelaku Usaha Games Developer. Kertha Semaya : Journal Ilmu
Hukum, 8 (8).
73
Putera, Komang Aditya Darma, 2020, Pengaturan Konten Games Dan Tanggung
Jawab Pelaku Usaha Games Developer, Kertha Semaya Journal Ilmu
Hukum 8(8).
Saputro, M. Prayogi Eko dan Nova Anandha, Adhitya dan Muhammad Reza
Rizqi, 2019, Perilaku Konsumen Dalam Keputusan Pembelian Item Pada
Game Online PUBG Mobile, Jurnal Ekonomi dan Bisnis 2 (2).
Sukmawati, N., & Purwanto, I. 2019. Tanggung Jawab Hukum Pelaku Usaha
Online Shop Terhadap Konsumen Akibat Peredaran Produk Kosmetik
Palsu. Kertha Semaya : Journal Ilmu Hukum 7 (3),
Yulius, Rina, (2017), Analisis Perilaku Pengguna dalam Pembelian Item Virtual
Pada Game Online, Journal of Animation and Games Studies 3 (1).
Peraturan Perundang-Undangan
Internet
https://reviandhika95.wordpress.com/2012/10/12/sejarah-dan-
WITA.
http://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/videogame?
Melaluihttp://www.indogamers.com/read/22/12/2011/518/
diaksesMelaluiTrilliun”,https://www.suara.com/tekno/
2021/09/21/210938/
pendapatanindustrigamedindonesiatembusrp30triliundi2021#:~:text=Pen
dapatan%20industri%20game%20di%20Indonesia%20mencapai
%201%2C1%20miliar%20dolar,15%2C7%20triliun%20pada
Jendra, 8 Game Online Indonesia Yang Telah Tutup Layanan, Meski Sempat
Populer, (https://gamebrott.com/8-game-online-indonesia-yang-telah-
tutup-layanan-meski-sempat-populer), Diakses pada tanggal 29 Maret
2021 Pukul 21.03 WITA.
75
Riyadi, Herwan, 2022, “Kenalii Pengertian Internet Beserta Fungsi, Fasilitas dan
Manfaat Internet”, http://www.nesabamedia.com/2015/04/pengertian-dan-
manfaat-dari-internet.html diakses tanggal 8 Juli 2022 Pukul 19.37 WITA
Subari, Hilmy Ramadhan. Sedih ini 4 Game Online Yang Harus Tutup Server di
Pertengahan Tahun 2020”. https://duniagames.co.id/ discover/article/
sedih-ini-4-game-online-yang-harus-tutup-server-di-pertengahan-tahun
2020. Diakses pada tanggal 29 Maret 2021 pukul 21.10 WITA.