Nama : Rozalia Nirwana
NIM : 049466041
Tugas : 2 Semester 3
Fakultas : FHISIP
Program Studi : D-4 Kearsipan
Mata Kuliah : ADPU4431
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, karunia,
dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Tak
lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan
mendukung kami dalam penyusunan makalah ini. Makalah ini membahas konteks Good
Public Governance hubungan antara pola kekuasaan dengan Perilaku Kepemimpinan
Transformasional dan penggunaan kewenangan. Terutama pimpinan negara yang
memiliki kekuasaan yaitu presiden.
Adapun sumber data yang kami gunakan dalam penyusunan makalah ini berasal dari
berbagai buku, artikel, dan sumber informasi lainnya yang relevan dengan tema yang
kami bahas. Kami berharap makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas
mengenai pentingnya menjaga lingkungan hidup di tengah-tengah perkembangan
teknologi dan industri.
Akhir kata, kami dengan rendah hati memohon maaf jika terdapat kekurangan dalam
penyusunan makalah ini. Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan
untuk perbaikan di masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi pembaca. Terima kasih.
TUJUAN
1. Menjelaskan pengertian Good Public Governance
2. Menjelaskan hubungan antara pola kekuasaan dengan Perilaku Kepemimpinan
Transformasional dan penggunaan kewenangan
3. Menjelaskan Bagimana dampak kekuasaan negara dengan perilaku
kepemimpinan terhadap konteks good public governance?
KAJIAN TEORI
Good Governance adalah suatu peyelegaraan manajemen pembangunan yang solid
dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien,
penghindaran salah alokasi dana investasi dan pencegahan korupsi baik secara politik
maupun secara administratif menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal dan
politican framework bagi tumbuhnya aktifitas usaha.
Good governance pada dasarnya adalah suatu konsep yang mengacu kepada proses
pencapaian keputusan dan pelaksanaannya yang dapat dipertanggungjawabkan secara
bersama. Sebagai suatu konsensus yang dicapai oleh pemerintah, warga negara, dan
sektor swasta bagi penyelenggaraan pemerintahaan dalam suatu negara.
Good Governance diIndonesia sendiri mulai benar – benar dirintis dan diterapkan sejak
meletusnya era Reformasi yang dimana pada era tersebut telah terjadi perombakan
sistem pemerintahan yang menuntut proses demokrasi yang bersih sehingga Good
Governancemerupakan salah satu alat Reformasi yang mutlak diterapkan dalam
pemerintahan baru. Akan tetapi, jika dilihat dari perkembangan Reformasi yang sudah
berjalan selama 15 tahun ini, penerapan Good Governance di Indonesia belum dapat
dikatakan berhasil sepenuhnya sesuai dengan cita – cita Reformasi sebelumnya. Masih
banyak ditemukan kecurangan dan kebocoran dalam pengelolaan anggaran dan
akuntansi yang merupakan dua produk utama Good Governance.
Prinsip Good Governance
Kunci utama memahami good governance adalah pemahaman atas prinsip-prinsip di
dalamnya. Bertolak dari prinsip-prinsip ini akan didapatkan tolak ukur kinerja suatu
pemerintahan. Baik-buruknya pemerintahan bisa dinilai bila ia telah bersinggungan
dengan semua unsur prinsip-prinsip good governance. Menyadari pentingnya masalah
ini, prinsip-prinsip good governance diurai satu persatu sebagaimana tertera di bawah
ini:
Partisipasi Masyarakat (Participation)
Semua warga masyarakat mempunyai suara dalam pengambilan keputusan, baik
secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga perwakilan sah yang mewakili
kepentingan mereka. Partisipasi menyeluruh tersebut dibangun berdasarkan
kebebasan berkumpul dan mengungkapkan pendapat, serta kapasitas untuk
berpartisipasi secara konstruktif. Partisipasi bermaksud untuk menjamin agar setiap
kebijakan yang diambil mencerminkan aspirasi masyarakat. Dalam rangka
mengantisipasi berbagai isu yang ada, pemerintah daerah menyediakan saluran
komunikasi agar masyarakat dapat mengutarakan pendapatnya. Jalur komunikasi ini
meliputi pertemuan umum, temu wicara, konsultasi dan penyampaian pendapat secara
tertulis. Bentuk lain untuk merangsang keterlibatan masyarakat adalah melalui
perencanaan partisipatif untuk menyiapkan agenda pembangunan, pemantauan,
evaluasi dan pengawasan secara partisipatif dan mekanisme konsultasi untuk
menyelesaikan isu sektoral.
Tegaknya Supremasi Hukum (Rule of Law)
Partisipasi masyarakat dalam proses politik dan perumusan-perumusan kebijakan
publik memerlukan sistem dan aturan-aturan hukum. Sehubungan dengan itu, dalam
proses mewujudkan cita good governance, harus diimbangi dengan komitmen untuk
menegakkan rule of law dengan karakter-karakter antara lain sebagai berikut:
Supremasi hukum (the supremacy of law), Kepastian hukum (legal certainty), Hukum
yang responsip, Penegakkan hukum yang konsisten dan non-diskriminatif, Indepedensi
peradilan. Kerangka hukum harus adil dan diberlakukan tanpa pandang bulu, termasuk
di dalamnya hukum-hukum yang menyangkut hak asasi manusia.
Transparansi (Transparency)
Transparansi adalah keterbukaan atas semua tindakan dan kebijakan yang diambil oleh
pemerintah. Prinsip transparansi menciptakan kepercayaan timbal-balik antara
pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan di
dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai. Tranparansi dibangun atas
dasar arus informasi yang bebas. Seluruh proses pemerintahan, lembaga-lembaga dan
informasi perlu dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan informasi
yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti dan dipantau. Sehingga
bertambahnya wawasan dan pengetahuan masyarakat terhadap penyelenggaraan
pemerintahan. Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan,
meningkatnya jumlah masyarakat yang berpartisipasi dalam pembangunan dan
berkurangnya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan.
Peduli pada Stakeholder/Dunia Usaha
Lembaga-lembaga dan seluruh proses pemerintahan harus berusaha melayani semua
pihak yang berkepentingan. Dalam konteks praktek lapangan dunia usaha, pihak
korporasi mempunyai tanggungjawab moral untuk mendukung bagaimana good
governance dapat berjalan dengan baik di masing-masing lembaganya. Pelaksanaan
good governance secara benar dan konsisten bagi dunia usaha adalah perwujudan dari
pelaksanaan etika bisnis yang seharusnya dimiliki oleh setiap lembaga korporasi yang
ada didunia. Dalam lingkup tertentu etika bisnis berperan sebagai elemen mendasar
dari konsep CSR (Corporate Social Responsibility) yang dimiliki oleh perusahaan. Pihak
perusahaan mempunyai kewajiban sebagai bagian masyarakat yang lebih luas untuk
memberikan kontribusinya. Praktek good governance menjadi kemudian guidence atau
panduan untuk operasional perusahaan, baik yang dilakukan dalam kegiatan internal
maupun eksternal perusahaan. Internal berkaitan dengan operasional perusahaan dan
bagaimana perusahaan tersebut bekerja, sedangkan eksternal lebih kepada bagaimana
perusahaan tersebut bekerja dengan stakeholder lainnya, termasuk didalamnya publik.
Berorientasi pada Konsensus (Consensus)
Menyatakan bahwa keputusan apapun harus dilakukan melalui proses musyawarah
melalui konsesus. Model pengambilan keputusan tersebut, selain dapat memuaskan
semua pihak atau sebagian besar pihak, juga akan menjadi keputusan yang mengikat
dan milik bersama, sehingga ia akan mempunyai kekuatan memaksa (coercive power)
bagi semua komponen yang terlibat untuk melaksanakan keputusan tersebut.
Paradigma ini perlu dikembangkan dalam konteks pelaksanaan pemerintahan, karena
urusan yang mereka kelola adalah persoalan-persoalan publik yang harus
dipertanggungjawabkan kepada rakyat. Semakin banyak yang terlibat dalam proses
pengambilan keputusan secara partisipasi, maka akan semakin banyak aspirasi dan
kebutuhan masyarakat yang terwakili. Tata pemerintahan yang baik menjembatani
kepentingan-kepentingan yang berbeda demi terbangunnya suatu konsensus
menyeluruh dalam hal apa yang terbaik bagi kelompok-kelompok masyarakat, dan bila
mungkin, konsensus dalam hal kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur.
Kesetaraan (Equity)
Kesetaraan yakni kesamaan dalam perlakuan dan pelayanan. Semua warga
masyarakat mempunyai kesempatan memperbaiki atau mempertahankan
kesejahteraan mereka. Prinsip kesetaraan menciptakan kepercayaan timbal-balik
antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin
kemudahan di dalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai. Informasi
adalah suatu kebutuhan penting masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan
daerah. Berkaitan dengan hal tersebut pemerintah daerah perlu proaktif memberikan
informasi lengkap tentang kebijakan dan layanan yang disediakannya kepada
masyarakat. Pemerintah daerah perlu mendayagunakan berbagai jalur komunikasi
seperti melalui brosur, leaflet, pengumuman melalui koran, radio serta televisi lokal.
Pemerintah daerah perlu menyiapkan kebijakan yang jelas tentang cara mendapatkan
informasi
Efektifitas dan Efisiensi (Effectiveness and Efficiency)
Untuk menunjang prinsip-prinsip yang telah disebutkan di atas, pemerintahan yang baik
dan bersih juga harus memenuhi kriteria efektif dan efisien yakni berdaya guna dan
berhasil-guna. Kriteria efektif biasanya di ukur dengan parameter produk yang dapat
menjangkau sebesar-besarnya kepentingan masyarakat dari berbagai kelompok dan
lapisan sosial. Agar pemerintahan itu efektif dan efisien, maka para pejabat
pemerintahan harus mampu menyusun perencanaan-perencanaan yang sesuai dengan
kebutuhan nyata masyarakat, dan disusun secara rasional dan terukur. Dengan
perencanaan yang rasional tersebut, maka harapan partisipasi masyarakat akan dapat
digerakkan dengan mudah, karena program-program itu menjadi bagian dari kebutuhan
mereka. Proses-proses pemerintahan dan lembaga-lembaga membuahkan hasil sesuai
kebutuhan warga masyarakat dan dengan menggunakan sumber-sumber daya yang
ada seoptimal mungkin.
Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas adalah pertangungjawaban pejabat publik terhadap masyarakat yang
memberinya kewenangan untuk mengurusi kepentingan mereka. Para pengambil
keputusan di pemerintah, sektor swasta dan organisasi-organisasi masyarakat
bertanggung jawab baik kepada masyarakat maupun kepada lembaga-lembaga yang
berkepentingan. Bentuk pertanggungjawaban tersebut berbeda satu dengan lainnya
tergantung dari jenis organisasi yang bersangkutan. Instrumen dasar akuntabilitas
adalah peraturan perundang-undangan yang ada, dengan komitmen politik akan
akuntabilitas maupun mekanisme pertanggungjawaban, sedangkan instrumen-
instrumen pendukungnya adalah pedoman tingkah laku dan sistem pemantauan kinerja
penyelenggara pemerintahan dan sistem pengawasan dengan sanksi yang jelas dan
tegas.
Visi Strategis (Strategic Vision)
Visi strategis adalah pandangan-pandangan strategis untuk menghadapi masa yang
akan datang. Para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jauh ke
depan atas tata pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia, serta kepekaan
akan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan tersebut. Selain itu
mereka juga harus memiliki pemahaman atas kompleksitas kesejarahan, budaya dan
sosial yang menjadi dasar bagi perspektif tersebut.
PEMBAHASAN
Di Indonesia ada 7 presiden yang pernah memimpin Indonesia dan berikut adalah gaya
kepemimpinan pemimpin Negara Indonesia dari masa ke masa.
1. Kepemimpinan presiden Soekarno
Soekarno lahir pada 6 Juni 1902 di Jawa Timur, dari Raden Sukemi Sosrodihardjo dan
R.A Ida Nyoman Rai, yang saat itu termasuk dalam keluarga bangsawan dan
merupakan keluarga terhormat jika dilihat secara struktur sosial. Sebagai seorang
pemimpin, Soekarno disebut sebagai sosok yang sempurna, terlebih dalam memimpin
negara Indonesia yang sangat luas dan beragam ini. Soekarno tidak hanya
berkharisma dan berwibawa, tetapi ia juga seorang cendekiawan dan ideolog. Jika
melihat dari gaya kepemimpinannya, tidak diragukan lagi kalau Soekarno masuk dalam
golongan pemimpin bergaya kharismatik, yang mana dirinya memiliki daya tarik,
berwibawa serta energi yang luar biasa sehingga mampu mempengaruhi orang lain
untuk menjadi pengikutnya. Soekarno sangat ahli dalam mengubah presepsi orang lain
sehingga menjadi sama dengannya, serta mampu membuat mereka agar mau
mengikuti perintah dan keinginannya dengan senang hati.
Presiden Pertama Indonesia ini juga dikenal sebagai seorang dengan temperamen
yang meledak-ledak, tetapi mampu menularkan semangatnya yang besar ini kepada
orang lain. Ia mampu membakar semangat seluruh rakyat dan menginspirasi mereka
semua untuk berani melakukan hal yang diinginkan. Setiap orang yang mengikuti
pemimpin dengan gaya yang sama dengan Presiden Soekarno biasanya memiliki
keyakinan yang kuat bahwa pemimpinnya selalu benar, merasa sayang dan bangga
dengan pemimpinnya, memiliki motivasi yang kuat untuk terlibat dalam misi
kelompoknya, mau mematuhi pemimpin dan yakin bahwa mereka dapat berkontribusi
bagi kelompoknya.
Kepemimpinan Soekarno memiliki prestasi untuk Indonesia yaitu:
1. Semangat Revolusi yang Membuahkan Kemerdekaan
Keberhasilan pertama yang tidak akan pernah dilupakan dari Soekarno ialah
bagaimana ia mampu mengobarkan semangat revolusi di tengah-tengah
masyarakat Indonesia, yang mana hal tersebut akhirnya membawa Indonesia
kepada kemerdekaan di tahun 1945.
2. Gerakan Non-blok Di bawah kepemimpinannya, Soekarno tercatat berhasil
membentuk Gerakan Non-Blok (GNB) pada konferensi Asia-Afrika yang
dilaksanakan di Kota Bandung pada tahun 1955.
3. Menyatukan Papua Barat ke NKRI
2. Kepemimpinan presiden Soeharto
Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto adalah Presiden kedua Indonesia yang menjabat
dari tahun 1967 sampai 1998, menggantikan Soekarno. Di dunia internasional,
terutama di Dunia Barat, Soeharto sering dirujuk dengan sebutan populer “The Smiling
General” karena raut mukanya yang senantiasa tersenyum dan menunjukkan
keramahan. Meski begitu, dengan berbagai kontroversi yang terjadi, ia sering juga
disebut sebagai otoriter bagi yang berseberangan dengannya. Sebelum menjadi
presiden, Soeharto adalah pemimpin militer pada masa Hindia Belanda dan Kekaisaran
Jepang, dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal. Setelah Gerakan 30 September
1965, Soeharto kemudian melakukan operasi penertiban dan pengamanan atas
perintah dari Presiden Soekarno, salah satu yang dilakukannya adalah dengan
menumpas Gerakan 30 September dan menyatakan bahwa PKI sebagai organisasi
terlarang. Berbagai kontroversi menyebut operasi ini menewaskan sekitar 100.000
hingga 2 juta jiwa, namun jumlah ini patut dipertanyakan karena korban dari Gerakan
30 September.
Soeharto kemudian diberi mandat oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara
(MPRS) sebagai Presiden pada 26 Maret 1968 menggantikan Soekarno, dan resmi
menjadi presiden pada tahun 1968. Ia dipilih kembali oleh MPR pada tahun 1973, 1978,
1983, 1988, 1993, dan 1998. Pada tahun 1998, masa jabatannya berakhir setelah
mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei tahun tersebut, menyusul terjadinya kerusuhan
Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa. Ia merupakan
orang terlama yang menjabat sebagai presiden Indonesia.
Selama hampir 32 tahun pemerintahannya Soeharto meletakkan pondasi
pembangunan di Indonesia melalui Repelita. Dalam masa kekuasaannya, yang disebut
Orde Baru, Soeharto membangun negara yang stabil dan mencapai kemajuan ekonomi
dan infrastruktur. Dalam era ini masyarakat mendapati harga bahan-bahan pokok yang
terjangkau dan situasi keamanan dan ketertiban yang terjaga, juga tercapainya
Swasembada Beras. Hal ini ditandai dengan medali From Rice Importer to Self
Sufficiency dari Food and Agriculture Organization (FAO) pada 1984 yang diterima
Presiden Soeharto.
Soeharto juga merupakan sosok yang kontroversial karena membatasi kebebasan
warga negara Indonesia keturunan Tionghoa, menduduki Timor Timur, pemaksaan
asas tunggal Pancasila di berbagai bidang, dan disebut sebagai salah satu rezim paling
korup dalam sejarah dunia modern. Menurut Transparency International, estimasi
kerugian negara adalah sekitar 15–35 miliar dolar Amerika Serikat selama
pemerintahannya. Namun, hal ini tidak berhasil dibuktikan, bahkan Majalah Time kalah
dalam gugatan dan usaha lain untuk mengadili Soeharto gagal karena kesehatannya
yang memburuk. Setelah menderita sakit berkepanjangan, ia meninggal karena
kegagalan organ multifungsi di Jakarta pada tanggal 27 Januari 2008.
3. Kepemimpinan presiden Bj Habibie
Kepemimpinan yang berhasil meniscayakan adanya kemampuan untuk mewujudkan
suatu visi atau teori menjadi realitas. Semakin terwujud suatu visi atau teori dalam
realitas, semakin efektif pula suatu kepemimpinan telah dijalankan. Bacharuddin Jusuf
(BJ) Habibie ialah jelas sosok yang penuh dengan rekam jejak keberhasilan dan
milestone sebagai buah terwujudnya visi dan teori ke dalam realitas. Sosok
multidimensional yang berpulang di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, di usia 83 tahun
pada Rabu (11/9) itu meninggalkan begitu banyak jejak kepemimpinan. Bukan hanya
sebagai Presiden ke-3 Republik Indonesia, lelaki kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan,
25 Juni 1936 itu semasa hidupnya meninggalkan begitu banyak inspirasi yang patut
diteladani. Sebagai ilmuwan dirgantara, BJ Habibie merupakan manusia pertama bukan
hanya di Indonesia, melainkan juga di dunia, yang mampu memperlihatkan cara
mengitung gejala perambatan retakan sayap pesawat terbang secara acak atau dikenal
dengan istilah crack propagation onrandom hingga ke atom-atomnya.
Pencapaian itu membuat Habibie mendapat sebutan istimewa sebagai ‘Mr Crack’.
Bukan hanya itu, di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, para ahli dirgantara juga
mengenal Habibie yang melahirkan sejumlah teori terkait dengan pengembangan
teknologi canggih di bidang tersebut, Karena itu, saat melepas jasad BJ Habibie ke
peristirahatan terakhir diMakam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Presiden Joko
Widodo pun memberikan penghormatan takzim kepada sosok genius dalam dunia
dirgantara dengan penggilan istimewa tersebut. “Selamat jalan, Mr Crack.Selamat jalan,
sang pionir,” ucap Presiden Jokowi.
Selain sebagai ilmuwan dirgantara yang dikenal luas, BJ Habibie juga dikenal sebagai
muslim yang saleh. Sebagai pribadi muslim, banyak pula jejak kepemimpinan yang
ditinggalkan almarhum. Sama seperti pencetus teori relativitas Albert Einstein yang
berpendapat bahwa ilmu tanpa agama adalah buta dan agama tanpa ilmu lumpuh, BJ
Habibie pun meyakini bahwa ilmu pengetahuan, keimanan, dan ketakwaan harus
berada dalam satu kesatuan sinergis. Dalam konteks ini, jejak kepemimpinan Habibie
pun begitu fenomenal. Selain dikenal sebagai pendiri sekaligus Ketua Umum Ikatan
Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang pertama, BJ Habibie juga merupakan
sosok yang menginisiasi pendirian Bank Muamalat serta mengimplementasikan konsep
perbankan syariah di Indonesia yang diterimasecara luas oleh umat Islam di Indonesia
hingga hari ini.
4. Kepemimpinan presiden KH. Abdurahman Wahid
H. Abdurrahman Wahid (lahir dengan nama Abdurrahman ad-Dakhil; 7 September 1940
– 30 Desember 2009) atau yang akrab disapa Gus Dur, adalah tokoh Muslim Indonesia
dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999
hingga 2001. Kepemimpinan Gus Dur bergaya kharismatik-transformasional yang
dimana saat mengambil keputusan, Gus Dur menonjolkan sikap kharismatik yang
dimiliki tetapi tanpa adanya kekerasan dan tekanan militer.
Kelebihan gaya kepemimpinan Gus Dur
1. Meliburkan siswa pada saat bulan Ramadan
2. Menjadikan Hari Imlek dan Memperbolehkan Bahasa Tionghoa
3. Menyelesaikan Berbagai Macam Konflik di Indonesia
Kekurangan gaya kepemimpinan Gus Dur
1. Kasus Buloggate dan Korupsi
2. Memperbolehkan Bendera Bintang Kejora
3. Kepemimpinan presiden Megawati Soekarno Putri
Prof. Dr. Hj. Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri adalah Presiden
Indonesia yang kelima yang menjabat sejak 23 Juli 2001 sampai 20 Oktober 2004.
Megawati Soekarno putri meneruskan kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid
yang terhenti ditengah jalan. Dalam kepemimpinannya, Megawati lebih menonjolkan
kepemimpinan dalam budaya ketimuran. Megawati adalah seorang pemimpin yang
memiliki berkepribadian yang kuat. Tidak mudah dipengaruhi oleh siapa pun, jika tidak
sesuai dengan pikiran dan nuraninya tentang cita-cita NKRI. Baginya visi dan misi bagi
pemimpin bangsa ini tak bisa lain dari visi dan misi yang tertuang dalam pembukaan
UUD 1945. Perubahan visi dan misi yang berbeda dengan Pembukaan UUD 1945
justru harus dicegah.
Megawati merupakan seorang yang tenang dengan kepribadian yang cenderung
tertutup. Akan tetapi memiliki karakter dan wibawa yang kuat sebagai seorang
pemimpin. Hal tersebut dapat dilihat dari kecermatannya untuk memahami berbagai
konflik atau krisis yang terjadi dan kegigihannya dalam menekankan pemahaman anti
kekerasan. Selama kepemimpinannya, Megawati juga dikenal tegas dan berpegang
teguh pada prinsipnya yaitu berpolitik dengan ideologi, sesuai konstitusi, dan
mengutamakan kepentingan rakyat (Sihaloho, 2019). Sikap yang dimilikinya berhasil
membuat Megawati meraih berbagai prestasi selama menjabat sebagai pemimpin
bangsa.
6. Kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Merupakan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan era demokrasi. Presiden SBY
juga menegaskan, kalau dirinya cenderung untuk mengalah, lebih memilih melakukan
berkompromi dan membuat consensus, karna SBY tidak ingin kepemimpinan Yang
dijalankannya menjadi otoriter. SBY sosok pemimpin yang demokratis dalam
mengambil keputusan selalu mengajak beberapa perwakilan bawahan, tetapi
keputusan tetap berada di tangannya. SBY tipe pemimpin yang cermat dan berpikir
matang sebelum mengambil suatu keputusan. Prestasi yang penting dicatat semasa
kepemimpinan SBY yaitu keberhasilan menyelesaaikan batas maritim Indonesia
dengan 2 negara sahabat yaitu singapura dan Filipina.
7. Kepemimpinan presiden Joko Widodo
Joko Widodo atau yang dikenal dengan nama jokowi memiliki nama lengkap Ir. H. Joko
Widodo. Beliau lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 21 Juni 1961. Masa
kepemimpinan Jokowi mulai 20 Oktober 2014 sampai sekarang. Gaya kepemimpinan
presiden Jokowi yaitu ada tiga gaya kepemimpinan Jokowi yaitu yang pertama adalah
partisipatif yaitu selalu ikut atau terlibat dengan anggota saat akan mengambil
keputusan atau kegiatan seperti tindakan blusukan yang serimg di lakukannya. Kedua
yaitu karismatik yang dimana Jokowi dapat menyelesaikan masalah yang dapat
menarik perhatian orang lain. Ketiga yaitu transornasional yaitu mengukur hubungan
anggota dengan pemimpinnya sejauh apa.
Dalam masa pemerintahannya presiden Jokowi telah mampu mulai meratakan
pembangunan yang ada di Indonesia yang dimana infrastruktur dibangun tidak lagi
hanya fokus di pulau Jawa tetapi di luar Jawa juga. Presiden Jokowi juga memiliki citra
seorang pemimpin yang dekat dengan mansyarakatnya serta presiden Jokowi juga
memberlakukan program sosial seperti KIP dan BPJS yang tentunya sangat membantu
masyarakat. Demikian identifikasi atau analisis gaya kepemimpanan presiden Indonesia
yang memiliki gaya dalam memimpin yang berbeda dan juga hasil kerja yang berbeda,
bagaimana pun gaya kepemimpinan presiden yang pernah memimpin di Indonesia
tentu sangat membawa pengaruh pada negara dan masyarakat Indonesia. Dibalik
kelemahan saat masa kepemimpinan presiden Indonesia, ada kelebihan dan
keberhasilan yang diraih tentunya merupakan hasil kerja keras pemimpin Negara.
KESIMPULAN
Good Governance diIndonesia sendiri mulai benar – benar dirintis dan diterapkan sejak
meletusnya era Reformasi yang dimana pada era tersebut telah terjadi perombakan
sistem pemerintahan yang menuntut proses demokrasi yang bersih sehingga Good
Governance merupakan salah satu alat Reformasi yang mutlak diterapkan dalam
pemerintahan baru. Akan tetapi, jika dilihat dari perkembangan Reformasi yang sudah
berjalan selama 12 tahun ini, penerapan Good Governance diIndonesia belum dapat
dikatakan berhasil sepenuhnya sesuai dengan cita – cita Reformasi sebelumnya. Masih
banyak ditemukan kecurangan dan kebocoran dalam pengelolaan anggaran dan
akuntansi yang merupakan dua produk utama Good Governance.
Akan tetapi, Hal tersebut tidak berarti gagal untuk diterapkan, banyak upaya yang
dilakukan pemerintah dalam menciptaka iklim Good Governance yang baik, diantaranya
ialah mulai diupayakannya transparansi informasi terhadap publik mengenai APBN
sehingga memudahkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam menciptakan
kebijakan dan dalam proses pengawasan pengelolaan APBN dan BUMN. Oleh karena
itu, hal tersebut dapat terus menjadi acuan terhadap akuntabilitas manajerial dari sektor
publik tersebut agar kelak lebih baik dan kredibel kedepannya. Undang-undang,
peraturan dan lembaga – lembaga penunjang pelaksanaan Good governance pun
banyak yang dibentuk. Hal ini sangatlah berbeda jika dibandingkan dengan sektor
publik pada era Orde Lama yang banyak dipolitisir pengelolaannya dan juga pada era
Orde Baru dimana sektor publik di tempatkan sebagai agent of development bukannya
sebagai entitas bisnis sehingga masih kental dengan rezim yang sangat menghambat
terlahirnya pemerintahan berbasis Good Governance.
Diterapkannya Good Governance diIndonesia tidak hanya membawa dampak positif
dalam sistem pemerintahan saja akan tetapi hal tersebut mampu membawa dampak
positif terhadap badan usaha non-pemerintah yaitu dengan lahirnya Good Corporate
Governance. Dengan landasan yang kuat diharapkan akan membawa bangsa
Indonesia kedalam suatu pemerintahan yang bersih dan amanah.
DAFTAR PUSTAKA
https://dlh.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/pengertian-prinsip-dan-penerapan-
good-governance-di-indonesia-99, (Opini ini pernah dimuat pada laman
https://retizen.republika.co.id/), https://katadata.co.id/berita/nasional/62304f5f44761/5-
contoh-tujuan-penulisan-makalah-yang-perlu-diketahui?page=2 ,
https://www.liputan6.com/hot/read/5522376/10-contoh-kata-pengantar-dalam-makalah-
yang-baik-dan-benar?page=2