0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan21 halaman

DPRS Diabetes Melitus di Puskesmas Tumiting

Diunggah oleh

Wiwin distika
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan21 halaman

DPRS Diabetes Melitus di Puskesmas Tumiting

Diunggah oleh

Wiwin distika
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Diketahui bahwa Diabetes Mellitus bukan hanya dianggap sebagai gangguan metabolisme
karbohidrat namun juga menyangkut tentang metabolisme protein dan lemak yang diikuti
dengan komplikasi-komplikasi yang bersifat kronis (menahun), terutama yang menimpa struktur
dan fungsi pembuluh darah (Pranadji, 2000).

Tahun 2006, jumlah penyandang DM di Indonesia mencapai 14 juta orang. Jumlah itu, baru
50% penderita yang sadar mengidap, dan sekitar 30% di antaranya melakukan pengobatan
secara teratur. Menurut beberapa penelitian epidemiologi, prevalensi diabetes di Indonesia
berkisar 1,5 sampai 2,3, kecuali di Manado yang cenderung lebih tinggi, yaitu 6,1 %. Faktor
lingkungan dan gaya hidup yang tidak sehat, seperti makan berlebihan, berlemak, kurang
aktivitas fisik, dan stres berperan besar sebaga pemicu DM. Tapi, DM juga bisa muncul karena
faktor keturunan (Anonim, 2008).

Penyakit DM tipe 2 adalah penyakit gangguan hormonal yang dapat menimbulkan berbagai
macam komplikasi sehingga pengobatannya sangat komplek atau mendapatkan obat yang
bermacam-macam, hal ini yang dapat menyebabkan terjadinya Drug Related Problems (DRPs)
(Misnadiarly, 2006).

Sebuah penelitian di Inggris yang dilakukan pada salah satu unit perawatan umum
menemukan 8,8% kejadian DRPs pada 93% pasien darurat. Dapat dilihat juga dari catatan
sejarah bahwa di Amerika pada tahun 1997 terjadi 140 ribu kematian dari 1 juta pasien yang
dirawat di rumah sakit akibat adanya DRPs dari obat yang diresepkan (Cipolle et al., 1998).

Berdasarkan jurnal penelitian, di Puskesma Tumiting terdapat 24 sampel yang diambil


datanya dari rekam medik dengan metode purposive sampling periode januari sampai juni 2019.
Kejadian DPRS Paling banyak terjadi pada bulan Mei 2019.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Diabetes Melitus?

1
2. Apa yang dimaksud dengan DPRS ?
3. Jenis-jenis pengelompokkan DPRS?
4. Berapa kasus kejadian DPRS yang berada di Puskesmas Tumiting?
5. Kejadian DPRS apa saja yang terdapat Puskesma Tumiting?

1.3 Tujuan

Dalam makalah ini membahas tentang DPRS Diabetes Melitus yang terjadi di Puskesmas
Tumiting. Tujuan makalah ini utuk mengetahui berapa kasus DPRS dan Kejadian DPRS apa
saja yang berada di Puskesmas Tumiting.

1.4 Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan adalah metode kajian kepustakaan. Data-data yang
terdapat dalam makalah ini diambil dari berbagai sumber, di antaranya berupa jurnal ilmiah,
buku dan situs internet yang berkaitan dengan DPRS Diabetes Melitus.

1.5 Sistematika Penulisan


Sistem penulisan makalah ini terbagi menjadi tiga bab, yaitu:
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Metode Penulisan
1.5 Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Diabetes Melitus
2.1.1 Etiologi Dan Patofisologi Diabetes Melitus
2.1.2 Penyebab Dan Gejala Diabetes Melitus
2.1.3 Cara Pemeriksaan, Pengobatan, Dan Pecegahan
2.2 Pengertian DPRS
2.2.1 Pengelompokkan DPRS
2.3 Jumlah kasus DPRS yang berada di Puskesmas Tumiting
2.4 Kasus DPRS yang terjadi Puskesma Tumiting

2
BAB II PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Diabetess Melitus

Diabetes melitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme
kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan
gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin.
Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh
sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel
tubuh terhadap insulin (WHO, 1999).

2.1.1 Etiologi Dan Patofisologi Diabetes Melitus

Etiologi dari penyakit diabetes yaitu gabungan antara faktor genetik dan faktorl
ingkungan. Etiologi lain dari diabetes yaitu sekresi atau kerja insulin, abnormalitas
metabolik yang menganggu sekresi insulin, abnormalitas mitokondria, dan sekelompok
kondisi lain yang menganggu toleransi glukosa. Diabetes mellitus dapat muncul akibat
penyakit eksokrin pankreas ketika terjadi kerusakan pada mayoritas islet dari pankreas.
Hormon yang bekerja sebagai antagonis insulin juga dapat menyebabkan diabetes (Putra,
2015).

Resistensi insulin pada otot adalah kelainan yang paling awal terdeteksi dari
diabetes tipe 1 (Taylor, 2013). Adapun penyebab dari resistensi insulin yaitu:

obesitas/kelebihan berat badan, glukortikoid berlebih (sindrom cushing atau


terapi steroid), hormon pertumbuhan berlebih (akromegali), kehamilan, diabetes
gestasional, penyakit ovarium polikistik, lipodistrofi (didapat atau genetik, terkait
dengan akumulasi lipid di hati), autoantibodi pada reseptor insulin, mutasi reseptor
insulin, mutasi reseptor aktivator proliferator peroksisom (PPAR γ), mutasi yang
menyebabkan obesitas genetik (misalnya: mutasi reseptor melanokortin), dan
hemochromatosis (penyakit keturunan yang menyebabkan akumulasi besi jaringan)
(Ozougwu et al., 2013).
Pada diabetes tipe I, sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun,
4
sehingga insulin tidak dapat diproduksi. Hiperglikemia puasa terjadi karena produksi
glukosa yang tidak dapat diukur oleh hati. Meskipun glukosa dalam makanan tetap
berada di dalam darah dan menyebabkan hiperglikemia postprandial (setelah makan),
glukosa tidak dapat disimpan di hati. Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup
tinggi, ginjal tidak akan dapat menyerap kembali semua glukosa yang telah disaring.
Oleh karena itu ginjal tidak dapat menyerap semua glukosa yang disaring. Akibatnya,
muncul dalam urine (kencing manis). Saat glukosa berlebih diekskresikan dalam urine,
limbah ini akan disertai dengan ekskreta dan elektrolit yang berlebihan. Kondisi ini
disebut diuresis osmotik. Kehilangan cairan yang berlebihan dapat menyebabkan
peningkatan buang air kecil (poliuria) dan haus (polidipsia).

Kekurangan insulin juga dapat mengganggu metabolisme protein dan lemak, yang
menyebabkan penurunan berat badan. Jika terjadi kekurangan insulin, kelebihan protein
dalam darah yang bersirkulasi tidak akan disimpan di jaringan. Dengan tidak adanya
insulin, semua aspek metabolisme lemak akan meningkat pesat. Biasanya hal ini terjadi
di antara waktu makan, saat sekresi insulin minimal, namun saat sekresi insulin
mendekati, metabolisme lemak pada DM akan meningkat secara signifikan. Untuk
mengatasi resistensi insulin dan mencegah pembentukan glukosa dalam darah,
diperlukan peningkatan jumlah insulin yang disekresikan oleh sel beta pankreas. Pada
penderita gangguan toleransi glukosa, kondisi ini terjadi akibat sekresi insulin yang
berlebihan, dan kadar glukosa akan tetap pada level normal atau sedikit meningkat.
Namun, jika sel beta tidak dapat memenuhi permintaan insulin yang meningkat, maka
kadar glukosa akan meningkat dan diabetes tipe II akan berkembang.

2.1.2 Penyebab Dan Gejala Diabetes Melitus

Diabetes sering disebabkan oleh faktor genetik dan perilaku atau gaya hidup
seseorang. Selain itu faktor lingkungan sosial dan pemanfaatan pelayanan kesehatan juga
menimbulkan penyakit diabetes dan komplikasinya. Diabetes dapat memengaruhi
berbagai sistem organ tubuh manusia dalam jangka waktu tertentu, yang disebut
komplikasi. Komplikasi diabetes dapat dibagi menjadi pembuluh darah mikrovaskular
dan makrovaskuler. Komplikasi mikrovaskuler termasuk kerusakan sistem saraf
(neuropati), kerusakan sistem ginjal (nefropati) dan kerusakan mata (retinopat)
(Rosyada, 2013).
Gejala dari penyakit DM yaitu antara lain:
5
1. Poliuri (sering buang air kecil)
Buang air kecil lebih sering dari biasanya terutama pada malam hari (poliuria),
hal ini dikarenakan kadar gula darah melebihi ambang ginjal (>180mg/dl), sehingga
gula akandikeluarkan melalui urine. Guna menurunkan konsentrasi urine yang
dikeluarkan, tubuh akan menyerap air sebanyak mungkin ke dalam urine sehingga
urine dalam jumlah besar dapat dikeluarkan dan sering buang air kecil. Dalam
keadaan normal, keluaran urine harian sekitar 1,5 liter, tetapi pada pasien DM yang
tidak terkontrol, keluaran urine lima kali lipat dari jumlah ini. Sering merasa haus dan
ingin minum air putih sebanyak mungkin (poliploidi). Dengan adanya ekskresi urine,
tubuh akan mengalami dehidrasi atau dehidrasi. Untuk mengatasi masalah tersebut
maka tubuh akan menghasilkan rasa haus sehingga penderita selalu ingin minum air
terutama air dingin, manis, segar dan air dalam jumlah banyak.
2. Polifagi (cepat merasa lapar)
Nafsu makan meningkat (polifagi) dan merasa kurang tenaga. Insulin menjadi
bermasalah pada penderita DM sehingga pemasukan gula ke dalam sel-sel tubuh
kurang dan energi yang dibentuk pun menjadi kurang. Ini adalah penyebab mengapa
penderita merasa kurang tenaga. Selain itu, sel juga menjadi miskin gula sehingga
otak juga berfikir bahwa kurang energi itu karena kurang makan, maka tubuh
kemudian berusaha meningkatkan asupan makanan dengan menimbulkan alarm rasa
lapar.
3. Berat badan menurun
Ketika tubuh tidak mampu mendapatkan energi yang cukup dari gula karena
kekurangan insulin, tubuh akan bergegas mengolah lemak dan protein yang ada di
dalam tubuh untuk diubah menjadi energi. Dalam sistem pembuangan urine,
penderita DM yang tidak terkendali bisa kehilangan sebanyak 500 gr glukosa dalam
urine per 24 jam (setara dengan 2000 kalori perhari hilang dari tubuh). Kemudian
gejala lain atau gejala tambahan yang dapat timbul yang umumnya ditunjukkan
karena komplikasi adalah kaki kesemutan, gatal-gatal, atau luka yang tidak kunjung
sembuh, pada wanita kadang disertai gatal di daerah selangkangan (pruritus vulva)
dan pada pria ujung penis terasa sakit (balanitis) (Simatupang, 2017).

2.1.3 Cara Pemeriksaan, Pengobatan, Dan Pecegahan

6
Macam pemeriksaan diabetes melitus yang dapat dilakukan yaitu: pemeriksaan
gula darah sewaktu (GDS), pemeriksaan gula darah puasa (GDP), pemeriksaan gula
darah 2 jam prandial (GD2PP), pemeriksaan hBa1c, pemeriksaan toleransi glukosa oral
(TTGO) berupa tes ksaan penyaring. Menurut Widodo (2014).

Pengobatan yang dapat dilakukan untuk penderita diabetes melitus yaitu dengan
terapi insulin, mengonsumsi obat diabetes, mencoba pengobatan alternatif, menjalani
operasi dan memperbaiki life style (pola hidup sehat) dengan memakan makanan yang
bergizi atau sehat, olahraga.
Macam-macam Obat Diabetes
Berikut ini adalah macam-macam obat diabetes yang biasa diresepkan oleh dokter :
1. Metformin
Metformin umumnya menjadi obat pertama yang diresepkan untuk penderita
diabetes tipe 2. Obat diabetes ini bekerja dengan mengurangi pembentukan glukosa di
organ hati dan meningkatkan fungsi insulin dalam mengendalikan kadar gula darah.
Konsumsi metformin dapat menimbulkan efek samping, seperti mual, sakit perut, perut
kembung, dan diare. Namun, efek samping tersebut akan berkurang seiring tubuh
beradaptasi dengan obat diabetes ini. Metformin bisa dikombinasikan dengan obat
diabetes lainnya atas anjuran dokter.
2. Sulfonilurea
Sulfonilurea merupakan obat diabetes tipe 2 yang berfungsi untuk menurunkan
kadar gula darah dengan cara merangsang pankreas memproduksi lebih banyak insulin.
Jumlah insulin yang terlalu banyak dalam tubuh terkadang menimbulkan efek samping,
yaitu hipoglikemia atau rendahnya gula darah yang ditandai dengan pusing, banyak
berkeringat, tubuh gemetaran, dan kesemutan.
Untuk mengurangi keparahan efek sampingnya, penderita diabetes yang mengonsumsi
sulfonilurea dianjurkan selalu makan dengan teratur. Jenis obat diabetes ini biasanya
dijadikan sebagai alternatif metformin atau bisa juga dikombinasikan dengan metformin.
3. Meglitinide
Cara kerja meglitinide sebenarnya sama dengan sulfonilurea, yaitu merangsang
pankreas agar menghasilkan lebih banyak insulin. Bedanya, meglitinide bekerja lebih
cepat daripada sulfonilurea dan tidak bertahan lama di dalam tubuh.
Efek samping yang dapat muncul dari obat diabetes ini pun mirip dengan sulfonilurea,
yaitu cepat menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan berat badan.
7
4. Thiazolidinediones
Obat diabetes yang satu ini memiliki cara kerja yang mirip dengan metformin,
yaitu mengurangi pembentukan glukosa di hati dan meningkatkan aktivitas insulin.
Salah satu contoh jenis obat golongan ini adalah pioglitazone.
Konsumsi thiazolidinediones diketahui dapat meningkatkan risiko terkena penyakit
jantung. Oleh karena itu, dokter juga akan memantau kesehatan jantung penderita
diabetes yang mengonsumsi obat ini.
5. Inhibitor DPP-4
Inhibitor DPP-4 mampu merangsang pelepasan insulin ketika gula darah
meningkat yang terjadi setelah makan dan menghambat pelepasan glukosa dari hati.
Kabar baiknya, obat diabetes ini jarang menyebabkan hipoglikemia.
Namun, inhibitor DPP-4 tetap mungkin untuk menimbulkan efek samping, misalnya
sakit tenggorokan, sakit perut, hidung tersumbat, diare, hingga pankreatitis akut.
Beberapa contoh obat diabetes dari golongan penghambat DPP-4 adalah alogliptin,
sitagliptin, dan linagliptin.
6. Inhibitor SGLT2
Obat diabetes ini memengaruhi fungsi penyaringan darah di ginjal dengan
menghambat kembalinya glukosa ke aliran darah. Glukosa yang berlebihan kemudian
akan keluar dari tubuh melalui urine. Contoh obat diabetes dari golongan ini adalah
empagliflozin dan dapagliflozin.
Konsumsi inhibitor SGLT2 bisa menimbulkan beberapa efek samping, seperti infeksi
saluran kemih dan infeksi jamur vagina. Namun, obat diabetes jenis ini diketahui bisa
mengurangi risiko terjadinya penyakit ginjal.
7. Agonis reseptor GLP-1 (Inkretin Mimetik)
Agonis reseptor GLP-1 (golongan obat inkretin mimetik) diresepkan dokter jika
obat-obatan diabetes melitus seperti yang sudah disebutkan di atas belum mampu
mengontrol kadar gula darah.Obat kencing manis ini diberikan melalui suntikan maupun
oral.GLP-1 merupakan salah satu jenis hormon inkretin yang dihasilkan tubuh.GLP-1
bekerja dengan cara merangsang pelepasan insulin oleh pankreas setelah makan. Obat
agonis reseptor GLP-1 bekerja dengan cara meniru kerja GLP-1 tersebut.Hormon
inkretin dapat merangsang pelepasan insulin setelah makan sehingga meningkatkan
produksi insulin dan menurunkan glukagon.
Nah, glukagon bekerja dengan cara merangsang hati mengeluarkan cadangan glukosa

8
saat tubuh sedang kekurangan glukosa, misalnya saat berpuasa.Obat diabetes ini juga
membantu memperlambat pencernaan sehingga mencegah lambung cepat kosong dan
menahan nafsu makan.
8. Inhibitor Alfa-Glukosidase
Cara kerja inhibitor alfa-glukosidase agak berbeda dengan obat diabetes lainnya.
Inhibitor alfa-glukosidase bekerja dengan menghambat pemecahan karbohidrat dari
makanan menjadi glukosa untuk mengendalikan kadar gula darah.
Contoh dari obat diabetes ini adalah acarbose dan miglitol. Efek samping yang
umumnya ditimbulkan berupa sakit perut, diare, dan perut kembung.
9. Insulin
Pankreas penderita diabetes tipe 1 tidak bisa lagi memproduksi insulin, sehingga
insulin diberikan melalui suntikan untuk menjaga kadar gula darah dalam kondisi
normal.Suntik insulin adalah satu-satunya obat diabetes yang diberikan kepada penderita
diabetes tipe 1. Selain itu, penderita diabetes tipe 2 dan diabetes gestasional juga dapat
diberikan suntik insulin jika dibutuhkan.

2.2 PENGERTIAN DPRS

Drug related problems atau masalah terkait obat adalah peristiwa atau keadaan yang
melibatkan terapi obat yang benar-benar atau berpotensi mengganggu hasil kesehatan yang
diinginkan (pcne, 2017).

2.2.1 Pengelompokkan DPRS

DRPs menurut American Society of Hospital Pharmacists (ASHP)

Asuhan kefarmasian bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien


melalui pencapaian hasil terapeutik. Fungsi asuhan kefarmasian yang terpenting yaitu;
mengidentifikasi masalah terkait obat potensial dan aktual, menyelesaikan masalah
terkait obat yang sebenarnya, dan mencegah potensi masalah terkait obat.

Tabel 1. Kategori masalah terkait obat menurut ASHP


Jenis DRPs Penjelasan
Indikasi yang tidak diobati Permasalahan dapat terjadi jika pasien memiliki
masalah medis yang memerlukan terapi obat

9
(indikasi untuk penggunaan obat) tetapi tidak
menerima obat untuk indikasi tersebut.

Pemilihan obat yang tidak Permasalahan dapat terjadi jika pasien dengan
tepat indikasi tetapi menggunakan obat yang salah.

Dosis subterapeutik Permasalahan dapat terjadi jika pasien memiliki


masalah medis dengan terlalu sedikit obat yang
benar.
Gagal menerima obat Permasalahan dapat terjadi jika pasien memiliki
masalah medis yang merupakan akibat dari
tidak
menerima obat-obatan
Overdosis Permasalahan terjadi jika pasien memiliki
masalah medis yaitu mendapatkan perawatan
dengan terlalu banyak menerima dosis obat
(toksisitas).
Reaksi obat yang merugikan Permasalahan terjadi jika pasien memiliki
masalah medis yang merupakan hasil dari
reaksi obat yang merugikan.
Interaksi obat Permasalahan terjadi jika pasien memiliki
masalah medis yang merupakan hasil dari
interaksi dari obat-obat, obat-makanan, atau
obat -interaksi uji laboratorium.
Penggunaan obat tanpa Permasalahan terjadi jika pasien minum obat
indikasi tanpa indikasi medis yang sah
Sumber: (Pharmacists American Society of Hospital, 1996)

DRPs menurut Meyboom ABC

Sistem ini membedakan antara penggunaan obat yang tepat dan tidak tepat;
masalah terkait dosis dan tidak terkait dosis dan efek samping. Semua masalah
yang berhubungan dengan obat dapat diklasifikasikan dalam satu sistem dasar,
dengan memperhatikan karakteristik dan perbedaannya. Sistem ini membedakan
antara penggunaan obat yang tepat dan tidak tepat, masalah terkait dosis dan tidak
terkait dosis, dan efek samping tipe A ('aksi obat'), B ('reaksi pasien') dan C
10
('statistik'). Klasifikasi ini berfungsi dalam memilih metode studi dan untuk desain
strategi yang efektif dalam farmakovigilans (Meyboom et al., 2000)

DRPs menurut Cipolle/Morley/Strand


Klasifikasi DRPs Cipolle/Morley/Strand telah banyak digunakan. Menurut
sistem ini, DRPs diklasifikasikan ke dalam tujuh kategori berdasarkan sifat perbedaan
yang menyebabkan terjadinya: terapi obat yang tidak perlu, kebutuhan terapi obat
tambahan, terapi obat tidak efektif, dosis terlalu tinggi, dosis terlalu rendah, reaksi obat
yang merugikan (ADR) dan ketidakpatuhan. Kebutuhan terapi obat tambahan dapat
terjadi pada saat diagnosis tanpa indikasi dan Ketidakpatuhan dapat menjadi indikator
kurangnya akses ke obat yang diresepkan karena tidak terjangkau dan tidak tersedia,
kegagalan untuk memahami instruksi dan kesulitan dalam administrasi (Ayele &
Tesfaye, 2021).

DRP menurut Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE)

Penggunaan klasifikasi PCNE, penting untuk memisahkan masalah nyata dan


potensial. (yang mempengaruhi atau akan mempengaruhi hasil). Seringkali masalah
terkait obat (DRP) disebabkan oleh kesalahan tertentu, mis. kesalahan peresepan,
penggunaan obat, kesalahan administrasi atau tidak ada kesalahan sama sekali.
Kesalahan pengobatan pasti ada penyebabnya. Penyebab atau kombinasi penyebab dan
masalah dalam pengobatan yang nantinya akan menyimpulkan satu atau lebih
intervensi. DRPs menurut PCNE memiliki klasifikasi dasar 3 Domain Primer untuk
masalah, 9 domain primer untuk penyebab dan 5 untuk intervensi, 3 Domain primer
untuk penerimaan intervensi dan 4 domain primer untuk status DRPs

Tabel 2. Pharmaceutical Care Network Europe v9.00


Bagian Domain primer
Masalah Efektivitas Pengobatan
Keamanan Pengobatan
Penyebab Pemilihan Obat
Bentuk Obat
Pemilihan Dosis
Durasi Pengobatan
Bentuk Obat

11
Penyiapan Obat
Proses Penggunaan Obat
Terkait Pasien
Intervensi Tidak ada intervensi
Pada tingkat dokter penulis resep Pada
tingkat pasien
Penerimaan Intervensi Intervensi diterima
Intervensi tidak diterima
Status DRPs Tidak diketahui
Terselesaikan Sebagian
diselesaikan
Tidak terselesaikan
Sumber: (Schindler et al., 2021)

DRPs menurut Granada consensus

Menurut Granada consensus masalah terapi obat adalah masalah kesehatan yang
dihasilkan dari farmakoterapi. Dalam DRPs menurut Granada consensus diklasifikasikan
sebagai berikut: 1) Indikasi apabila pasien tidak menggunakan obat-obatan yang
dibutuhkan dan pasien menggunakan obat-obatan yang tidak dibutuhkannya; 2)
Efektivitas apabila pasien menggunakan pilihan yang salah; 3) Obat apabila pasien
menggunakan dosis, interval, atau durasi yang lebih rendah dari yang dibutuhkan; 4)
Keamanan apabila pasien menggunakan dosis, interval, atau durasi lebih besar dari yang
dibutuhkan; 5) Reaksi obat yang merugikan (Van Mil et al., 2004).

DRPs menurut Hepler-Strand


Dalam klasifikasi ini, DRPs diklasifikasikan sebagai berikut: 1) Pemilihan obat
yang tidak tepat; 2) Dosis Subterapeutik; 3) Kegagalan menerima obat, 4) Overdosis; 5)
Reaksi yang merugikan; 5) Interaksi obat dan 6) Penggunaan obat tanpa indikasi (Hepler
& Strand, 1990).

2.3 Jumlah kasus DPRS yang berada di Puskesmas Tumiting

Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 153 orang pasien DM tipe 2 dengan sampel
sebanyak 42 buah.
Gambaran karakteristik pasien DM tipe 2

12
Tabel 3. Gambaran Karakteristik Pasien

13
DM Tipe 2 dengan DRPs
Variabel Jumlah Persentase (%)
Jenis Kelamin
Laki-laki 13 46,90
Perempuan 29 53,10
Umur
20-60 14 33,33
> 60 28 66,67
Jaminan Kesehatan
JKN 42 100
Jaminan lain 0 0
Umum 0 0

Tabel 3 menunjukkan gambaran karakteristik pasien berdasarkan profil jenis kelamin,


umur, dan jaminan kesehatan di Puskesmas Tuminting periode Januari-Juni 2019.
Profil jenis kelamin
Kejadian DRPs pada pasien DM tipe 2 banyak terjadi pada perempuan sebesar 29 orang
(53,10%) dan pada laki-laki sebesar 13 orang (46,90%). Menurut Rahmawati & Sunarti tidak
ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan kejadian DRPs9 sedangkan menurut
Leslie et al., kejadian DM tipe 2 lebih rentan terjadi pada oranyang berjenis kelamin laki-
laki dibandingkan dengan perempuan, akan tetapi kenyataanya jenis kelamin perempuan
lebih banyak terkena DM tipe
2 dibandingkan laki-laki.10 Hal ini disebabkan perempuan mempunyai angka harapan
hidup lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki, sehingga perempuan lanjut usia yang
mengidap DM tipe 2 lebih banyak daripada laki-laki lanjut usia.11
Selain itu, menurut Willer et al., peningkatan lingkar pinggang pada perempuan sejalan
dengan bertambahnya umur dibandingkan pada laki-laki.12 Hal ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan secara prospektif pada perempuan di Jerman dimana
peningkatan
1 cm lingkar pinggang memiliki risiko terkena DM tipe 2 sebesar 31% per tahun.11

Profil umur
Kejadian DRPs pada pasien DM tipe 2 terbanyak terdapat pada kelompok umur
>60 tahun sebesar 28 orang (66,67%), dan terendah pada kelompok umur 20-60 tahun
sebesar 14 orang (33,33%). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yosmar et al.,
terdapat hubungan yang signifikan antara faktor usia dan kejadian DRPs, dimana usia lebih

14
dari 60 tahun rentan terjadi DRPs.
Hal tersebut sesuai dengan data RISKESDAS tahun 2018 dimana terdapat
kecenderungan prevalensi DM tipe 2 akan meningkat dengan bertambahnya umur.
Peningkatan prevalensi DM terjadi pada usia >40 tahun dengan tanpa pengaturan diet yang
benar, akan terjadi penyusutan sel-sel beta pankreas yang menyebabkan sekresi insulin
berkurang.
Menurut Wilmot & Idris serangan DM tipe 2 pada orang dewasa lebih dikarenakan
penurunan kondisi fisiologis manusia yaitu, berupa proses penuaan yang diiringi oleh
perubahan neuro hormonal. Penurunan IGF-1 akan mengakibatkan penurunan ambilan
glukosa karena menurunnya sensitivitas.

2.4 Kasus DPRS yang terjadi Puskesma Tumiting

DRPs menurut Granada consensus


Proporsi penyakit penyerta
Proporsi penyakit penyerta pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Tuminting periode Januari
Juni 2019 ditunjukkan pada Tabel 2.

Tabel 4. Proporsi Penyakit Penyerta Pada Pasien DM Tipe 2 (N = 132)

Penyakit Penyerta Jumlah Persentase (%)


Gangguan vascular 32 24,24
Penyakit 23 17,42
muskuloskeletel dan
otot
Penyakit saluran nafas 20 15,15
Penyakit infeksi 19 14,39
Penyakit neurologic 15 11,36
Penyakit pencernaan 9 6,83
Penyakit alergi 7 5,31
Febris 6 4,54
Penyakit kulit 1 0,76

Penyakit penyerta yang paling banyak diderita pada pasien DM tipe 2 adalah penyakit
gangguan kardiovaskular sebanyak 32 orang (24,24%), penyakit muskuloskeletel dan otot
sebanyak 23 orang (17,42%), penyakit saluran nafas sebanyak 20 orang (15,15%),
penyakit infeksi sebanyak 19 orang (14,39%), penyakit neurologik sebanyak 15 orang

15
(11,36%), penyakit pencernaan sebanyak 9 orang (6,83%), penyakit alergi sebanyak 7orang
(5,31%), febris sebanyak 5 orang (11,90%) dan terendah pada penyakit kulit sebanyak 1 orang
(0,76%) dari 132 penyakit penyerta. diabetes melitus tipe 2, bahwa penyakit DM yang tidak
diobati akan menyebabkan berbagai macam komplikasi diantaranya adalah gangguan
kardiovaskular.16 Hampir semua pasien DM tipe 2 yang diteliti mengalami hipertensi yang
merupakan gangguan kardiovaskular. Hal ini disebabkan adanya komplikasi berupa
makroangiopati yaitu komplikasi pada pembuluh darah besar yang menyebabkan perubahan
tekanan darah.

Proporsi jenis antidiabetes


Proporsi jenis antidiabetes pasien DM tipe 2 di Puskesmas Tuminting periode Januari-
Juni 2019 ditunjukkan pada Tabel 3.

Tabel 5. Proporsi Jenis Antidiabetes pada Pasien DM Tipe 2 (N= 40)

Jenis Jumlah Persentase (%)


Antidiabetes Pasien
Metformin 29 72,50
Glibenklamid 2 5,00
Glimepirid 6 15,00
Akarbose 1 2,50
Mix insulin 2 5,00

Penggunaan obat antidiabetes pada pasien DM tipe 2 yang paling banyak adalah dari
golongan biguanid yaitu metformin untuk 29 orang (72,50%)
diikuti glimepirid untuk 6 orang (15%), glibenklamid dan mix Insulin masing- masing
untuk 2 orang (5%) dan terendah adalah akarbose untuk 1 orang (5%). Seluruh pasien
memperoleh obat antidiabetes yang diresepkan. Obat antidiabetes yang digunakan terdapat
dalam formularium yang digunakan di Puskesmas Tuminting.Pemilihan obat tergantung
tingkat keparahan dari penyakit yang diderita pasien.Obat yang paling banyak digunakan
sebagai obat pilihan utama adalah metformin.

Kejadian drug related problems (DRPs)


Kejadian DRPs pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Tuminting periode Januari- Juni
2019 ditunjukkan pada Tabel 6.

Tabel 6. Kejadian DRPs pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 (N=44)

16
Jumlah
DRPs Persentase (%)
Kasus
Butuh obat 26 59,09
Tidak butuh obat 6 13,64
Terapi tidak efektif 9 20,45
Dosis kurang 1 2,27
Dosis lebih 2 4,55

DRPs butuh obat


Kejadian DRPs butuh obat sebesar 26 kasus (59,09%) dari 44 kejadian DRPs yan terjadi
pada 42 orang pasien DM tipe 2. DRPs butuh obat terjadi karena proses pemantauan
terhadap ketepatan pemberian obat kepada pasien tidak berjalan dengan baik. Pasien tidak
mendapat terapi untuk keluhan yang dirasakan atau pasien tidak mendapat terapi walau nilai
hasil laboratorium diatas nilai normal. Pada kejadian ini terdapat 2 orang pasien DM tipe 2
yang membutuhkan tambahan obat, dimana pemeriksaan kadar gula darah diatas normal
tetapi tidak diberikan antihiperglikemia.

DRPs tidak butuh obat


Kejadian DRPs tidak butuh obat terdapat 6 kasus (13,64%) dari 44 kasus DRPs pada 42
orang pasien DM tipe 2. Permasalahan yang terjadi pada penelitian ini adalah adanya
pemberian allopurinol tanpa adanya pemeriksaan laboratorium dan pasien mendapat obat
gliseril guaiakolat tanpa keluhan batuk.Permasalahan lainnya adalah adanya pemberian
insulin dalam resep kronis pada pasien DM tipe 2 yang diketahui pemeriksaan gula
darahnya berturut-turut selama 3 hari masih dalam kisaran normal yaitu 120 mg/dL, 80
mg/dL dan 98 mg/dL. Pasien yang diberikan insulin pada kondisi gula darah normal
merupakan terapi tanpa indikasi medis yang sesuai. Pertimbangan terapi menggunakan
insulin yaitu apabila kadar gula darah pasien >300 mg/dL, digunakan sebagai salah satu
kombinasi dengan obat antidiabetes oral.

DRPs terapi tidak efektif


Diketahui bahwa terdapat 9 kasus DRPs (20,45%) terapi tidak efektif dari 44 kasus DRPs
pada 42 orang pasien DM tipe 2. Permasalahan ini terjadi karena adanya penggunaan 2
kombinasi terapi antidiabetes. Kombinasi salah satu terapi harusnya dihilangkan karena tidak
sesuai dengan panduan terapi. Menurut Perkeni, terapi farmakologi DM tipe 2 dimulai
dengan pemberian terapi tunggal. Apabila target A1C tidak tercapai selama 3 bulan maka
17
dapat digunakan 2 kombinasi terapi. Selanjutnya jika target A1C dengan 2 kombinasi terapi
tidak tercapai maka dilanjutkan dengan kombinasi 3 terapi yang jika target A1C masih tidak
tercapai, maka dilanjutkan dengan kombinasi injeksi.Permasalahan lain yang terjadi adalah
adanya pemberian metformin pada pasien chronic kidney disease (CKD) Stage 4 dengan
kadar kreatinin 8 (normal 0,6-1,3 mg/dL). Metformin kontra indikatif dengan pasien dengan
nilai serum kreatinin >1,5 mg/dL pada laki-laki atau >1,4 mg/dL pada perempuan.
Metformin tidak dapat diberikan pada pasien yang mengalami kerusakan ginjal karena secara
keseluruhan metformin diekskresikan di ginjal melalui urin dan feses.18 Kerusakan ginjal
dapat menyebabkan perpanjangan waktu bagi metformin berada didalam tubuh dan
dapat menyebabkan asidosis laktat.Permasalahan yang juga terjadi adalah adanya pemberian
asam mefenamat pada pasien riwayat gastritis tanpa disertai obat antigastritis. Hal ini akan
memperparah penyakit gastritis pasien. Selanjutnya terdapat pemberian kaptopril pada pasien
DM tipe 2 dengan komplikasi hipertensi dan keluhan batuk terus menerus, hal ini tidak tepat
karena menurut American Pharmacist Association, kaptopril memberikan efek samping
berupa batuk.

DRPs dosis kurang


Jumlah DRPs dosis kurang sebesar 1 kasus (2,27%) dan merupakan DRPs dengan nilai
terendah pada penelitian ini. Hal ini terjadi karena adanya pemberian dosis obat dibawah
dosis terapi sehingga efek yang dihasilkan tidak optimal. Permasalahan yang terjadi adalah
pemberian amoksisilin 2x500 mg sehari. American Pharmacist Association menyatakan
dosis amoksilin adalah 3x500 mg sehari, sehingga dosis yang diberikan tidak cukup untuk
menghasilkan dosis yang optimal.18

DRPs dosis lebih


Menunjukkan 2 kasus (4,55%) DRPs dosis lebih dari 44 kasus DRPs pada 42 pasien DM
tipe 2. Permasalahan yang terjadi pada kasus tersebut adalah adanya pemberian
siprofloksasin 3x500 mg. Menurut American Pharmacist Association dosis siprofloksasin
adalah 2x250-750 mg setiap 12 jam.18

Kejadian DRPs berdasarkan waktu

18
Kejadian DRPs berdasarkan periode waktu ditunjukkan pada Tabel 5. Tabel 5
menunjukkan kejadian DRPs paling banyak terjadi di bulan Mei. Namun angka tersebut
tidak mengindikasikan bahwa ada keterkaitan antara bulan dengan kejadian DRPs.Hal
tersebut didukung dengan data yang diperoleh dari laporan kunjungan pasien DM tipe 2 di
Puskesmas Tuminting, bahwa ada kenaikan jumlah kunjungan pasien DM tipe 2 pada bulan
Mei 2019 yaitu sebesar112 orang (31,38%) dan terendah pada bulan April yaitu sebesar 34
orang (9,52%) dari 357 orang pasien DM selama periode bulan Januari-Juni 2019. Adapun
beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya DRPs pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas
Tuminting adalah kurangnya informasi tentang pasien dan tidak tersedianya tenaga apoteker
yang dapat memberikan informasi maupun intervensi baik kepada dokter maupun pasien.
Informasi tentang pasien yang dimaksud adalah hasil laboratorium lengkap pasien, riwayat
penggunaan obat pasien, serta riwayat alergi terhadap penggunaan obat yang dicantumkan
dalam rekam medik

Tabel 7. Kejadian DRPs Berdasarkan Periode Waktu (N=44)

Bulan Jumlah Kasus Persentase (%)


Januari 4 9,09
Februari 3 6,82
Maret 10 22,73
April 5 11,36
Mei 16 36,36
Juni 6 13,64

19
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Penyakit diabetes melitus merupakan penyakit yang memiliki 2 tipe yaitu diabetes tipe 1
dan diabetes tipe 2. Pada diabetes tipe 1 berasal dari faktor genetik, lingkungan, usia dan faktor
lain dan pada diabetes tipe 2 faktornya antara lain gaya hidup dan obesitas

Dari kelima kategori kejadian DRPs yang diteliti, kejadian yang terbanyak ada pada
kategori butuh obat sebesar 59,05%. Dari penelitian ini diperoleh hasil kejadian DM tipe 2 pada
perempuan 53,10% dan pria 46,90%. Pasien DM tipe 2 paling banyak terjadi pada usia >60
tahun sebesar 66,67%. Penyakit penyerta yang paling tinggi adalah gangguan kardiovaskular
sebesar 24,24%. Obat antihiperglikemia yang paling banyak digunakan adalah metformin
sebesar 72,50%. Untuk kejadian DRPs pada tiap kategori diperoleh butuh obat sebesar 59,05%,
tidak butuh obat sebesar 13,64%, salah obat sebesar 20,45%, dosis kurang sebesar 2,27%, dan
dosis lebih sebesar 4,55%. Kejadian DRPs paling banyak terjadi pada bulan Mei 2019 sebesar
36,36%.

Permasalahan terkait obat (Drug Related Problems/DRPs) adalah peristiwa atau


keadaan yang melibatkan terapi obat yang nyata dan potensial. Berbagai jenis klasifikasi DRP
menjelaskan mengenai permasalahan tentang obat.
3.2 Saran
Untuk lebih meneliti kasus DPRS, Peran farmasi klinis sebagai asuhan kefarmasian
yang mana berorientasi pada pasien sangat penting dalam mengidentifikasi permasalahan obat.

20
DAFTAR PUSTAKA

Amrina Rosyada, I.T. 2013. Determinan komplikasi kronik diabetes melitus pada lanjut usia.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. vol. 7(9): 395-
401.
Bataha, R.G. 2016. Hubungan antara perilaku olahraga dengan kadar gula darah penderita
diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Wolang. ejournal Keperawatan. vol. 4(1):
1-7.

Fera Sartika, N.H. 2019. Kadar HbA1c pada pasien wanita penderita diabetes mellitus tipe 2 di
RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya. Borneo Journal Of Medical Laboratory
Technology. vol. 2(1): 97-101.

Kementrian Kesehatan. 2010) Petunjuk Teknis Pengukuran Faktor Risiko Diabetes Mellitus.
Jakarta: Kementrian Kesehatan RI.

Muliani, E.L. 2015. Penggunaan obat tradisional oleh penderita diabetes mellitus dan faktor-
faktor yang berhubungan di wilayah kerja Puskesmas Rejosari Pekanbaru Tahun 2015.
Jurnal Kesehatan Komunitas. vol. 3(1): 47-52.

Ozougwu, J.C., Obimba, K.C., Belonwu, C.D., & Unakalamba, C.B. 2013. The pathogenesis
and pathophysiology of type 1 and type 2 diabetes mellitus. Journal of Physiology and
Pathophysiology. vol. 4(4): 6-14. doi: 10.5897/JPAP2013.0001 ISSN 2I41-260X.

Ratnasari, N.I. 2018. Faktor risiko mempengaruhi kejadian diabetes mellitus tipe dua. Jurnal
Keperawatan dan Kebidanan Aisyiyah. vol. 14(1): 59-68.

21

Anda mungkin juga menyukai