0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
57 tayangan117 halaman

Asuhan Keperawatan Pasien Apendisitis

Diunggah oleh

aelva deliana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
57 tayangan117 halaman

Asuhan Keperawatan Pasien Apendisitis

Diunggah oleh

aelva deliana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Ny.

R DENGAN POST OPERASI


LAPARATOMI ATAS INDIKASI APENDISITIS
DI RUANGAN RAWAT INAP BENDAH
RSUD SELASIH KAB. PELALAWAN
TAHUN 2021

OLEH :

ASTUTI, AMK
NIP. 19871112 201001 2 021

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SELASIH

KABUPATEN PELALAWAN
2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya,sehingga penulis dapat menyusun dan
menyelesaikan makalah ini dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN An. R DENGAN POST OPERASI LAPARATOMI ATAS INDIKASI
APENDISITIS”.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Makalah ini masih sangat
sederhana dan jauh dari sempurnaan ,karena keterbatasan kemampuan
penulisan.Untuk itu dengan segala kerendahan hati dan tangan terbuka ,penulis
mengaharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang sifatnya senantiasa
membangun dan melengkapi kesempurnaan makalah ini.. Harapan penulis
semonga Makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak,baik bagi penulis
sendiri ,maupun bagi pembaca di kemudian hari.
Akhir kata Harapan penulis semonga Makalah ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak,baik bagi penulis sendiri ,maupun bagi pembaca terutama dalam
menambah wawasan dan pengetahuan serta perkembangan ilmu keperawatan di
masa mendatang.

Pangkalan Kerinci, 17 September

2021

ASTUTI, AMK
NIP. 19871112 201001 2 021

i
ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulis ........................................................................................... 3
1.2.1 Tujuan Umum ............................................................................. 3
1.2.2 Tujuan Khusus ............................................................................ 3
1.3 Manfaat Penulis ......................................................................................... 4
1.3.1 Rumah Sakit ............................................................................... 4
1.3.2 Institusi Pendidikan .................................................................... 4
1.3.3 Klien dan keluarga ..................................................................... 4
1.3.4 Penulis ......................................................................................... 4
BAB II TINJAUAN TEORITIS
2.1 Konsep Dasar Appendisitis ....................................................................... 5
2.1.1 Defenisi Appendisitis .................................................................. 5

2.1.2 Anatomi Fisiologi ....................................................................... 7


2.1.3 Klasifikasi ................................................................................... 16
2.1.4 Etiologi ........................................................................................ 17
2.1.5 Manifestasi klinis ........................................................................ 18
2.1.6 Patofisiologi disertai Web of caution (WOC ) ............................ 20
2.1.7 Pemeriksaan penunjang............................................................... 21
2.1.8 Penatalaksaan keperawatan dan medis ....................................... 22
2.1.9 Komplikasi .................................................................................. 22
2.1.10 Indikasi dari laparatomi .............................................................. 22
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan
2.2.1 Pengkajian ................................................................................... 23
2.2.2 Diagnosa keperawatan ................................................................ 29
2.2.3 Intervensi keperawatan ............................................................... 30
2.2.4 Implementasi ............................................................................... 37
2.2.5 Evaluasi ................................................................................
37

BAB III TINJAUAN KASUS


3.1 Pengkajian ................................................................................................. 39
3.2 Diagnosa keperawatan ............................................................................... 57
3.3 Intervensi keperawatan ............................................................................... 56
3.4 Implementasi ............................................................................................. 61

BAB IV PEMABAHASAN
4.1 Pengkajian .................................................................................................. 72
4.2 Diagnosa keperawatan ................................................................................ 73
4.3 Intervensi keperawatan .............................................................................. 75
4.4 Implementasi ............................................................................................. 77
4.5 Evaluasi ...................................................................................................... 79

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ................................................................................................ 81
5.2 Saran .......................................................................................................... 82

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 : Anatomi usus kecil ..................................................................... 11

Gambar 2.2 : Anatomi usus besar.................................................................... 12

Gambar 2.3 : Anatomi apendiks ....................................................................... 14

Gambar 2.4 : Woc............................................................................................. 20


DAFTAR TABEL

Tabel 2.2.1 : Data biologis………………………………………………………….26


Tabel 2.2.3 : Intervensi secara teoritis…………………………………………….. 30
Tabel 3.1.5 : Data biologis………………………………………………………… 47
Tabel 3.1.13 : Analisa data………………………………………………………….. 55
Tabel 3.3 : Intervensi…………………………………………………………….. 56
Tabel 3.4 : Implementasi dan Evaluasi…………………………………………... 61
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada era Globalisasi saat ini banyak orang yang memiliki pola kebiasaan makan

makanan yang seperti cepat saji, rendah serat ,dan juga makanan yang pedas –

pedas. Boleh kita lihat kebanyakan atau mayoritas yang mempunyai kebiasaan

pola makan yang tidak sehat itu pada remaja dan dewasa. Sedangkan dari

dampak kebiasaan pola makan yang tidak sehat itu sangat banyak dan bisa

menyebabkan orang memiliki penyakit kronik dan sampai meninggal dunia pada

usia masih muda,salah satunya penyakit yang marak terjadi dikalangan remaja

dan dewasa pada saat ini yaitu apendisitis. (Syamsyuhidayat, 2005).

Istilah usus buntu yang dikenal di masyarakat awam adalah kurang tepat karena

usus yang buntu sebenarnya adalah sekum. Apendiks diperkirakan ikut serta

dalm system imun sektorik di saluran pencernaan. Namun, pengangkatan

apendiks tidak menimbulkan efek fungsi system imun yang jelas.

(syamsyuhidayat, 2005).

WHO (World Health Organization) menyebutkan insiden apendiksitis di Asia

dan Afrika pada tahun 2015 adalah 4,8% dan 2,6% penduduk dari total populasi.

Penelitian Asif (2014), di RS Kharian Islamabad di negara Pakistan pada 220

penderita gejala abdomen akut, proporsi apendiksitis akut memiliki jumlah

terbanyak yaitu 21,4%.

1
WHO (World Health Organization) menyebutkan insiden apendiksitis di Asia

dan Afrika pada tahun 2015 adalah 4,8% dan 2,6% penduduk dari total populasi.

Penelitian Asif (2014), di RS Kharian Islamabad di negara Pakistan pada 220

penderita gejala abdomen akut, proporsi apendiksitis akut memiliki jumlah

terbanyak yaitu 21,4%.

Dalam periode 2 tahun (1 Januari 2020 s/d 31 Desember 2021) di Kabupaten

pelalawan, khususnya RSUD Selasih terdapat kasus apendisitis. Perjalanan dari

mulai timbulnya gejala menuju perforasi terjadi begitu cepat. 20% kasus

perforasi apendiks terjadi 48 jam, bahkan dapat 36 jam setelah timbulnya gejala.

Hal ini menunjukkan bahwa timbulnya perforasi sangat cepat sehingga perlu

mendapatkan perhatian yang lebih serta penanganan yang tepat dari para dokter.

Dalam periode 1 tahun terakir ini (pada bulan januari-november 2020) di RSUD

Selasih khususnya menurut data rekam medis terdapat 156 kasus apendisitis.

Mayoritas terkena apendisitis yaitu laki-laki dewasa,kejadianya begitu cepat dan

perlu diperhatikan lebih dan penanganan yang tepat dari dokter.

Sesuai dengan hal diatas, Appendicitis merupakan masalah yang sangat serius

untuk diatasi maka penulis tertarik mengangkat judul “Asuhan keperawatan pada

pasien gangguan system pencernaan Appensitis”.

2
1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Menerapkan asuhan keperawatan secara komprehensif pada klien dengan post

laparatomi apendiksitis di Ruang Rawat Inap Bedah RSUD Selasih Tahun

2021.

1.2.2 Tujuan Khusus

Setelah melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan Post Laparatomi

Apendisitis penulis dapat :

1. Melakukan pengkajian pada klien dengan Post Laporatomi

Appendiksitis.

2. Mampu menegakan diagnose keperawatan pada klien dengan Post

Laparatomi Appendiksitis.

3. Mampu menetapkan intervensi pada klien dengan Port Laparatomi

Appendiksitis.

4. Mampu melakukan implenmentasi pada klien denga Post

Laparatomi Appendiksitis.

5. Mampu melakukan evaluasi pada klien dengan Post Laparatomi

Appendiksitis.

3
1.3 Manfaat Penulis

1.3.1 Rumah Sakit

Sebagai bahan masukan bagi Ruang Rawat Inap Bedah RSUD Selasih untuk

mengetahui cara pemberian asuhan keperawatan pada klien Post Laparatomi

appendiksitis sehingga meningkatkan mutu perawatan Klien rawat inap.

1.3.2 Klien dan keluarga

Bagi klien dapat bermanfaat untuk mempercepat pemulihan keadaan pasca

operasi. Bagi keluarga dapat menambah pengetahuan tentang bagaimana

menangani penyakit Appendisitis.

1.3.3 Penulis

Untuk menambah pengetahuan dan pengalaman penulis khususnya tentang

penyakit Appendicitis post Laparatomi.

4
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Konsep Dasar Appendisitis

2.1.1 Defenisi Appendisitis

Appendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing

(Appendiksitis ). Usus buntu sebenarnya adalah sekum(caecum). Infeksi ini bisa

mengakibatkan peradangan akut sehingga memerlukan tindakan bedah segera untuk

mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya. ( Wim de Jong et al, 2010).

Apendisitis merupakan inflamasi akut pada apendisitis verniformis dan merupakan

penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat. (Brunner&Suddarth, 2014).

Usus buntu atau apendis merupakan bagian usus yang terletak dalam pencernaan.

Untuk fungsinya secara ilmiah belum diketahui secara pasti, namun usus buntu ini

terkadang banyak sekali sel-sel yang berfungsi untuk mempertahankan atau imunitas

tubuh. Dan bila bagian usus ini mengalami infeksi akan sangat terasa sakit yang luar

biasa bagi penderitanya (Saydam Gozali, 2011).

Apendiks merupakan perluasan sekum yang rata-rata panjang adalah 10 cm. Ujung

apendiks dapat terletak di berbagai lokasi, terutama dibelakang sekum. Apendiksitis

merupakan penyakit bedah mayor yang paling sering terjadi, walaupun apendiksitis

dapat terjadi setiap usia (Gruendemann 2006).

Apendiktomi menurut Jitowiyono & Kristiyanasari (2010) adalah operasi untuk

mengangkat apendiksitis yang dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko

5
perforasi. Jadi appendiktomi adalah Apendiktomi adalah suatu tindakan pembedahan

untuk mengangkat apendiks, harus segera dilakukan tindakan untuk menurunkan risiko

perforasi apendiks, peritonitis. Sayatan dilakukan pada garis tegak lurus pada garis

yang menghubungkan spina iliaka anterior superior

(SIAS) dengan umbilicus pada batas sepertiga lateral (titik Mc Burney).

Laparatomi merupakan suatu potongan pada dinding abdomen dan yang telah

didiagnosa oleh dokter dan dinyatakan dalam status atau catatan medik klien.

Laparatomi adalah suatu potongan pada dinding abdomen seperti caesarean section

sampai membuka selaput perut (Jitowiyono, 2010).

Bedah laparatomi merupakan tindakan operasi pada daerah abdomen. Laparatomi yaitu

insisi pembedahan melalui pinggang (kurang begitu tepat), tapi lebih umum

pembedahan perut (Harjono, 1996). Ramali Ahmad (2000) mengatakan bahwa

laparatomi yaitu pembedahan perut, membuka selaput perut dengan operasi.

Sedangkan menurut Arif

Mansjoer (2000), laparotomi adalah pembedahan yang dilakukan pada usus akibat

terjadinya perlekatan usus dan biasanya terjadi pada usus halus dan usus besar. Jadi,

dari referensi diatas yang di maksud dengan Appendiksitis

merupakan suatu peradangan pada bagian usus (Caecum) yang disebabkan karena ada

obstruksi yang mengharuskan dilakukannya tindakan bedah.

6
2.1.2 Anatomi Fisiologi

Beberapa struktur organ pencernaan sebagai berikut menurut (Drs.H.Syaifuddin,

AMK;2011)

1. Mulut

Mulut (Oris) merupakan organ yang pertama kali dari saluran pencernaan yang

meluas dari bibir sampai ke istmus fausium yaitu perbatasan antara mulut dengan

faring ,terdiri dari :

a. Vestibulum Oris : Bagian di antara bibir dari pipi di luar ,gusi dan bibir bagian

dalam.Bagian atas bawah vestibulum dibatasi oleh lipatan membrane mukosa

bibir ,pipi dan gusi.

b. Kavitas oris propia : Bagian di antara arkus alveolaris ,gusi ,dan gigi,memiliki atap

yang dibentuk oleh palantum durum (palatum keras )bagian depan palantum mole

(palantum lunak ) bagian belakang.

Gigi
Anatomi gigi

Gigi dan geraham terletak dalam alveolus dentalis dari tulang maksiladan

mandubula .Gigi mempunyai satu akar sedangkan geraham mempunyai 2-3

akar.Akar gigi ditutupi oleh semen yang merupakan bagian tebesar dari gigi yang

dilapisi oleh email.

7
Fisiologi gigi

Menguyah makanan ,pemecahan partikel besar menjadi partikel kecil yang dapat

ditelan tampa menimbulkan tersedak.proses ini merupakan proses mekanik pertama

yang dialami makanan pada waktu lincinkan ,dan membasahi makanan yang kering

dengan saliva serta mengaduk makanan sampai rata.

3. Lidah

Anatomi lidah lidah terdapat dalam kavum oris, merupakan susunan otot serat lintang

kasa dilengkapi dengang mukosa.

Fisiologi lidah

Lidah berperan dalam proses mekanisme pencernaan di mulut dengan mengerakan

makanan ke segala arah.

a. Pangkal lidah : Terdapat epiglotis yang berfungsi menutup jalan pernafasab pada

waktu menelan supaya makanan tidak masuk ke jala pernafasan .

b. panggal lidah : Fungsinya untuk mentukan rasa manis, pahit, asam dan asin.

c. ujung lidah : Membatu membolakbalikan makanan, proses berbicara, merasakan

makan yang dimakan, dan membantu proses menelan.

4. Farin

8
Anatomi faring

Faring terbentang lurus antara basis kranii setinggi vertebrae servikalis VI, kebawah

setinggi tulang rawan krikoidea. Faring terbentuk dari jaringan yang kuat (jaringan otot

melingkar). Fisiologi faring

merupakan orgzn yang menghubungkan rongga mulut

kerongkongan panjangya (kira –kira 12 cm).

5. Esofagus

Anatomi esophagus

Esofagus (kerongkongan ) merupakan saluran pencernaan setelah mulut dan faring.

Panjangya kira –kira 25 cm, Posisi vertikel dimulai dari bagian tengah leher bawah

faring sampai ujung bawah rongga dada di belakang trakea.

Fisiologi esophagus

Esophagus merupakan struktur organ pencernaan setelah mulut yang memiliki fungsi.

6. Lambung

Anatomi lambung

Lambung merupakan sebuah kantong muskel yang letaknya antara esophagus dan usus

halus, sebelah kiri abdomen dibagian diagfragma bagian depan pancreas dan limpa.

Lambung merupakan saluran yang dapat mengembang karena adanya

gerakan peristaltic terutama di daerah epigaster.

9
Fisiologi lambung

a. Fungsi penampungan makanan yang masuk melalui esophagus, menghancurkan

makanan dan menghaluskan makanan dengan gerakan peristaltic lambung dan

getah lambung

b. Fungsi bakterisid : Oleh asam lambung

c. Membantu proses pembentukan eritosit: lambung menghasilkan zat factor

intrinsic bersama dengan factor ekstrinsik dari makana, membentuk zat yang

disebut anti –anemik yang berguna untuk pertukaran eritrosit yang disempan

dalam hati.

7. Usus Halus

Gambar2.1UsusHalus (sumber: Yenicahyaningrum.wordpress.)

10
Usus halus merupakan bagian dari system pencernaan makanan yang berpangkal pada

pylorus dan berakir pada sekum.Panjangnya kira-kira 6 meter, merupakan saluran

pencernaan yang paling panjang dari tempat proses pencernaan dan absorsip

pencernaan. bentuk dan susunanya berupaka lipatan melingkar,Makanan dalam

intestinum minor dapat masuk karena adanya gerakan yang memberikan permukaan

yang lebih halus.

Fisiologi usus halus

Usus halus dan kelenjarnya merupakan bagian yang sangat pentig dari saluran

pencernaan karena disini terjadinya proses pencernaan yang terbesar dan penyerapan

lebih kurang 85% dari seluruh absorpsi, fungsi usus halus :

a. menyekresikan cairan usus :untuk menyempurnakan pengolahan zat makanan di

usus halus.

b. menerima cairan empedu dan pangreas melalui duktus kholedukus dan duktus

pankreatikus.

c. mencerna makanan: Getah usus dan pangkreas mengandung enzim pengubah

protein menjadi asam amino, karbohidrat menjadi glukosa, lemak menjadi asam

lemak gliserol.

d. Mengabsobsi air garam dan vitamin, protein dalam bentuk asam amino,

karbohidrat dalam bentuk monoksida. Makanan tersebut dikumpulkan dalam

vena-vena halus lalu dikumpulkan dalam vena besar bermuara ke dalam vena

porta langsung.

11
8. Usus Besar

Gambar 2.2 Usus Besar (sumber: Yenicahyaningrum.wordpress.)

Usus besar merupakan saluran pencernaan merupakan usus berpenampang

luas atau berdiameter besar dengan panjang kira-kira 1,5 -1,7 meter dan

penampangan 5-5 cm. Lanjutan usus halus yang tersusun seperti huruf U

terbalik mengililinggi usus halus terbentang dari valvula ilosekalis sampai ke

anus.

Fisiologi usus besar

a. Menyerap air dan elektrolit, untuk kemudian sisa massa membentuk

massa yang lembek yang disebut

feses.

b. menyimpan bahan feses.

c. tempat tinggal bakteri koli.

12
9. Usus Buntu (sekum)

Usus buntu atau sekum (Bahasa latin:caecus ,”buta”) dalam isitilah anatomi

adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian

kolon menanjak dari usus besar. Organ ini ditemukan pada mamalia, burung,

dan beberapa jenis reptile.

10. Umbai Caciang (Appendiks)

Appendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. Infeksi pada organ ini

disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Appendisitis yang parah dapat

menyebabkan apendiks pecah dan bentuk nanah dalam rongga abdomen atau

peritonitis (infeksi rongga abdomen).

11. Rektum atau anus

Sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar dan berakir di anus.

Organ ini berfungsi sebagai penyimpanan sementara fases. Biasanya rectum

ini kosong karena tinja disimpan ditempat yang lebih tinggi yaitu pada kolon

sehingga pada kolon penuh maka dari itu terjadinya BAB.

Anus merupakan lubang diujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah

keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh dan

sebagian lainnya dari usus (Syaifudin, 2011).

13
12. Anatomi dan Fisiologi Apendiks

Gambar 2.3 Apendiks (yayanakhya.Wordpress.com)


Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kirakira 10 cm (4 inci),

lebar 0,3 - 0,7 cm dan isi 0,1 cc melekat pada sekum tepat dibawah katup ileosekal.

Pada pertemuan ketiga taenia yaitu : taenia anterior,medial dan posterior. Secara

klinis, apendiks terletak pada daerah Mc.Burney yaitu daerah 1/3 tengah garis yang

menghubungkan spina iliaka anterior superior kanan dengan pusat. Lumennya sempit

dibagian proksimal dan melebar dibagian distal. Namun demikian, pada bayi,

apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya.

Persarafan parasimpatis pada apendiks berasal dari cabang nervus vagus yang

mengikuti arteri mesentrika superior dan arteri apendikularis, sedangkan persarafan

simpatis berasal dari nervus torakalis X. Oleh karena itu, nyeri viseral pada

apendisitis bermula disekitar umbilikus.

14
Fisiologi Apendiks

Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya dicurahkan

kedalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Lendir dalam apendiks bersifat

basa mengandung amilase dan musin. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan

oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) yang terdapat disepanjang saluran

cerna termasuk apendiks ialah IgA. Immunoglobulin tersebut sangat efektif sebagai

perlindungan terhadap infeksi.

Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh

karena jumlah jaringan limfa disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya

disaluran cerna dan diseluruh tubuh. Apendiks berisi makanan dan mengosongkan

diri secara teratur kedalam sekum. Karena pengosongannya tidak efektif dan

lumennya cenderung kecil, maka apendiks cenderung menjadi tersumbat dan

terutama rentan terhadapinfeksi ( Sjamsuhidayat, 2005).

2.1.3 Klasifikasi

Sedangkan menurut Sjamsuhidayat dan De (2005), apendisitis

diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :

1. Apendisitis akut

Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang

mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun

tidak disertai rangsangan peritoneum lokal. Gejala apendisitis akut nyeri

samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri visceral didaerah

epigastrium disekitar umbilicus. Keluhan ini sering disertai mual dan

15
kadang muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam

nyeri akan berpindah ketitik mcBurney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam

dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatic setempat.

2. Apendisitis kronis

Diagnosis apendisitis kronis baru dapat ditegakkan jika ditemukan

adanya riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang

kronik apendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Kriteria

mikroskopik apendisitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding

apendiks, sumbatan parsial maupun total lumen apendiks, adanya

jaringan parut dan ulkus lama dimukosa dan adanya sel inflamasi

kronik. Insiden apendisitis kronik. Insiden apendisitis kronik antara 1-

5%.

2.1.4 Etiologi

Penyebab appendicitis adalah adanya obstruksi


pada lumen

appendikeal oleh apendikolit, hyperplasia folikel limfoid submukosa,

fekalit (material garam kalsium, debris fekal ) atau parasit (Katz,

2009 )Apendisitis penyebabnya paling umum adalah inflamasi akut

pada kuadran bawah kanan dari rongga abdomen. Kira-kira 7% dari

populasi akan mengalami apendisitis pada waktu yang bersamaan

dalam hidup mereka: pria lebih sering dipengaruhi wanita, dan remaja

lebih sering dari pada dewasa. Diantara beberapa faktor diatas, maka

16
yang paling sering ditemukan dan kuat dugaannya sebagai penyebab

appendisitis adalah faktor penyumbatan oleh tinja/feces dan

hyperplasia jaringan limfoid.

Penyumbatan atau pembesaran inilah yang menjadi media bagi bakteri

untuk berkembang biak. Perlu diketahui bahwa dalam tinja/feces

manusia sangat mungkin sekali telah tercemari oleh bakteri/kuman

Escherichia Coli, inilah yang sering kali mengakibatkan infeksi yang

berakibat pada peradangan usus buntu (Anonim,2008). Adapun

penyebab lain terhadap apendisitis yaitu :

1. Sumbatan lumen

2. Kostipasi (kebiasaan memakan yang rendah serat) tinja yang

keras.
3. Hyperplasia jaringan limfoid

2.1.4 Manifestasi Klinis

Manifestasi Klinis menurut Lippicott williams &wilkins (2011) Nyeri

periumbilikal atau epigastik kolik yang tergeneralisasi maupun

setempat. Pada kasus apendisitis dapat diketahui melalui beberapa

tanda nyeri antara lain : Rovsing’s sign, Psoas sign dan Jump sign.

a. Apendiksitis

1) Nyeri samar-samar

2) Terkadang terasa mual dan muntah

3) Anoreksia.

17
4) Disertai demam dengan suhu 37,5-38,5˚C

5) Diare

6) Konstipasi

7) Nilai leukosit meningkat dari rentang normal.

b. Apendiksitis perforasi

1) Nyeri yang dirasakan di ulu hati, kemudian berpindah diperut

kanan bawah lalu nyeri dirasakan diseluruh bagian perut. Nyeri

dirasakan terus-menerus dan tidak menjalar, nyeri semakin

memberat.

2) Mual dan muntah sampai keluar lender

3) Nafsu makan menurun

4) Konstipasi BAB

5) Tidak ada flaktus

6) Pada auskultasi, bising usus normal atau meningkat pada awal

apendisitis dan bising melemah jika sudah terjadi perforasi.

7) Demam dengan suhu 37,5-38,5˚C

8) Temuan hasil USG Abdomen berupa cairan yang berada

disekitar appendiks menjadi sebuah tanda sonographik

penting.

9) Respirasi retraktif.

10) Rasa perih yang semakin menjadi.

11) Spasma abdominal semakin parah.

18
12) Rasa perih yang berbalik (menunjukan adanya inflamasi

peritoneal).

2.1.5 Patofisiologi disertai Web of caution

Appendiks terimflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlipat

atau tersumbat, kemungkinan oleh fekalit (massa dank eras dan fases),

tumor, atau benda asing. Proses imflamasi meninggkatkan

intraluminal, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat

secara progresif, dalam beberapa jamterlokalisasi di kuadrat kanan

bawah dari abdomen. Akhirnya appendiks yang terimflamasi menjadi

pus. Setelah dilihat penyebab dari appediksitis adalah adanya obstruksi

pada lumen appendikeal oleh apendikolit, hyperplasia folikel limfoid

submukosa, fekalit (material garam kalsium, debris fekal ) atau parasit

(Katz ,2009 ).
Kondisi obtruksi akan meningkat kan tekanan intraluminal dan

peningkatan perkembangan bakteri. Hal lain akan terjadi peningkatan

kogesif dan penuruna pada perfusi pada dinding apendiks yang

berkelanjutan pada nekrosis dan imflamasi, maka permukaan eksudat

terjadi pada permukaan serosa apendiks (santacroce,2009)

Dengan selanjutnya proses obtruksi, bakteri akan berproliferasi dan

meningkatkan tekanan intraluminal dan membentuk infiltrate pada

mukosa dinding apendiks yang disebut dengan apendisitis mukosa,

dengan manifestasi ketidak nyamanan abdomen.

19
Sebenarnya tubuh manusia juga melakukan usaha pertahanan untuk

membtasi proses peradangan ini dengan cara menutupi apendiks

dengan omentum dan usus halus sehingga terbentuk massa

periapendikular yang secara salah dikenal dengan istilah infiltrate

apendiks berlanjut kondisi apendiks akan meningkat risiko terjadinya

perforasi dan pembentukan massa periapendikular. perforasi dengan

cairan inflamasi dan bakteri masuk ke rongga abdomen lalu

memberikan respon imflamasi berbentuk periotenum atau terjadi pada

peritonitis. (Tzanakis, 2005).

2.1.6 Pemeriksaan penunjang

1. Laboratorium

Jumlah leukosit diatas 10.000 ditemukan pada lebih dari 90% anak

dengan appendicitis akuta. Jumlah leukosit pada penderita

appendicitis berkisar antara 12.000 - 18.000/mm3. Peningkatan

persentase jumlah neutrofil (shift to the left) dengan jumlah

normal leukosit menunjang diagnosis klinis appendicitis. Jumlah

leukosit yang normal jarang ditemukan pada pasien dengan

appendicitis.

2. Pemeriksaan Urinalisis membantu untuk membedakan

appendicitis dengan pyelonephritis atau batu ginjal. Meskipun

demikian, hematuria ringan dan pyuria dapat terjadi jika inflamasi

appendiks terjadi di dekat ureter.

20
3. Ultrasonografi Abdomen (USG)

Ultrasonografi sering dipakai sebagai salah satu pemeriksaan

untuk menunjang diagnosis pada kebanyakan pasien dengan gejala

appendicitis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sensitifitas

USG lebih dari 85% dan spesifitasnya lebih dari 90%.

Gambaran USG yang merupakan kriteria diagnosis appendicitis

acuta adalah appendix dengan diameter anteroposterior 7 mm atau

lebih, didapatkan suatu appendicolith, adanya cairan atau massa

periappendix. False positif dapat muncul dikarenakan infeksi

sekunder appendix sebagai hasil dari salphingitis atau

inflammatory bowel disease. False negatif juga dapat muncul

karena letak appendix yang retrocaecal atau rongga usus yang

terisi banyak udara yang menghalangi appendiks.

4. CT-Scan

CT scan merupakan pemeriksaan yang dapat digunakan untuk

mendiagnosis appendicitis akut jika diagnosisnya tidak

jelas.sensitifitas dan spesifisitasnya kira-kira 95-98%.

Pasienpasien yang obesitas, presentasi klinis tidak jelas, dan

curiga adanya abscess, maka CT-scan dapat digunakan sebagai

pilihan test diagnostik. Diagnosis appendicitis dengan CT-scan

21
ditegakkan jika appendix dilatasi lebih dari 5-7 mm pada

diameternya. Dinding pada appendix yang terinfeksi akan

mengeci.

2.1.7 Penatalaksaan

1. Keperawatan

a. Lakukan observasi TTV klien .

b. Baringkan pasien dalam posisi semi fowler.

c. Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan,

selama pasien dipuasakan. Bila tindakan operas

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan

2.2.1 Pengkajian

1. Indetitas klien

Biasanya indetitas klien terdiri Nama, umur, jenis kelamin, status,

agama, perkerjaan, pendidikan, alamat ,penanggung jawaban juga

terdiri dari nama,umur penanggung jawab ,hub.keluarga, dan

perkerjaan.

2. Alasan masuk

Biasanya klien waktu mau dirawat kerumah sakit denga keluhan sakit

perut di kuadran kanan bawah, biasanya disertai muntah dan BAB

yang sedikit atau tidak sama sekali, kadang –kadang mengalami diare

dan juga konstipasi.

22
3. Riwayat kehehatan

a. Riwayat kesehatan sekarang

Biasanya keluhan yang terasa pada klien yaitu pada saat post op

operasi, merasakan nyeri pada insisi pembedahan, juga bisanya

tersa letih dan tidak bisa beraktivitas atau imobilisasisendiri.

b. Riwayat kesehatan dahulu

Biasanya klien memiliki kebiasaan memakan makanan rendah

serat, juga bisa memakan yang pedas-pedas.

c. Riwayat kesehatan keluarga

Biasanya tidak ada pengaruh ke penyakit keturunan seperti

hipertensi, hepatitis , DM, TBC, dan asma.

d. Pemeriksaan Fisik

Biasanya kesadaran klien normal yaitu composmetis, E :4 V:5

M:6. Tanda-tanda vital klien biasanya tidak normal karena tubuh

klien merasakan nyeri dimulai dari tekanan darah biasanya

tinggi, nadi takikardi dan pernafasan biasanya sesak ketika klien

merasakan nyeri.

e. Kepala

Pada bagian kepala klien bisanya tidak ada masalah kalau

penyakitnya itu apenditis mungkin pada bagian mata ada yang

23
mendapatkan mata klien seperti mata panda karena klien tidak

bisa tidur menahan sakit.

f. Leher

Pada bagian leher biasanya juga tidak ada terdapat masalah pada

klien yang menderita apedisitis.

g. Thorak

Pada bagian paru-paru biasanya klien tidak ada masalah atau

gangguan bunyi normal paru ketika di perkusi bunyinya biasanya

sonor kedua lapang paru dan apabila di auskultrasi bunyinya

vesikuler. Pada bagian jantung klien juga tidak ada masalah

bunyi jantung klien regular ketika di auskultrasi, Bunyi jantung

klien regular (lup dup), suara jantung ketiga disebabkan osilasi

darah antara orta dan vestikular. Suara jantung terakir (S4)

tubelensi injeksi darah. Suara jantung ketiga dan ke empat

disebab kan oleh pengisian vestrikuler, setelah fase

isovolumetrik dan kontraksi atrial tidak ada kalau ada suara

tambahan seperti murmur (suara gemuruh, berdesir) (Lehrel

1994).

h. Abdomen

Pada bagian abdomen biasanya nyeri dibagian region kanan

bawah atau pada titik Mc Bruney. Saat di lakukan inspeksi.

24
Biasanya perut tidak ditemui gambaran spesifik. Kembung

sering terlihat pada klien dengan komlikasi perforasi. Benjolan

perut kanan bawah dapat dilihat pada massa atau abses

periapedikular.

Pada saat di palpasi biasnya abdomen kanan bawah akan

didapatkan peninggkatan respons nyeri. Nyeri pada palpasi

terbatas pada region iliaka kanan, dapat disertai nyeri lepas.

Kontraksi otot menunjukan adanya rangsangan periotenium

parietale. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasaka nyeri

diperut kanan bawah yang disebut tanda rofsing. Pada apendisitis

restroksekal atau retroileal diperlukan palpasi dalam untuk

menemukan adanya rasa nyeri. (Sjamsuhidayat 2005).

25
2.2.1.1 Data Biologis
NO AKTIVITAS SEHAT SAKIT

MAKANAN
• Menu Biasanya klien suka makana yang Biasanya klien diberikan
pedas dan kurang serat. diet nasi lunak atau bubur
sumsum

• Porsi Biasanya porsi makan klien tidak porsi 3x sehari


teratur
• Makanan kesukaan
Biasanya klien suka makanan pedas Tidak ada
seperti bakso,mie ayam
• Pantangan
Tidak ada pantangan
Tidak ada pantangan

MINUMAN
• Jumlah
Biasanya klien diharuskan
Biasanya klien sedikit minum air
banya minum air putih
putih
• Minuman kesukaan Tidak ada
Tidak ada
• Pantangan
Tidak ada
Tidak ada pantangan

26
ELIMINASI
BAB
• Frekuensi Biasanya klien tidak pernah Bab 1x/hari
dalam seminggu atau sering diare

Kecoklatan Kuning
• Warna

• Bau Khas
Khas
• Kesulitan
Bianya klien mengalamai biasanya tidak mengalami
konstipasi
konstipasi
BAK
• Frekuensi
5-6 x/hari 4-5 x/hari
Warna
• kuning Bening
Bau

Pesing
Konsistensi Pesing
• Cair
Kesulitan Cair
Tidak ada kesulitan
• Tidak ada kesulitan
DAN TIDUR
ISTIRAHAT
Lama tidur
1
2-3 jam /hari
Waktu tidur 8 jam / hari
2 malam
Pagi dan malam
27
3 Hal Keadaan tenang Keadaan tenang

yang

mempermud
Suara berisik Suara berisik,sesak saat tidur
ah tidur

4 Kesu 2x1/hari Hanya di lap


litan tidur
2-1x/hari 1 x selama di rawat

PERSONAL HYGINE Tidak ada Tidak ada


1. Mandi 2x1/minggu Selama dirawat belum pernah
potong kuku
2. Cuci rambut

3. Gosok gigi

4. Potong kuku

28
2.2.2 Diagnosa Keperawatan Menurut NANDA
Berdasarkan data-data hasil pengkajian, diagnose keperawatan yang

biasanya muncul pada klien dengan appendicitis adalah :

1. Nyeri akut berhubungan dengan agens cidera fisik (mis, Abses,

amputasi, lukabakar, terpotong, mengangkat berat, trauma, prosedur

pembedahan, olah raga berlebihah).Domain : 12

Kenyamanan ,Kelas : 1 kenyamanan fisik, Halaman: 469

NANDA

2.Pelambatan pemulihan pasca-bedah berhubungan hambatan

mobilitas (1998,2006,2013 ;LOE 2.1) Domain : 11 Keamanan

/perlindungan, Kelas : 2 Cedera fisik, Halaman :429

3.Ketidak seimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan ketidak mampuan mencerna makanan.

(1975,2000) Domain :2 Nutrisi, Kelas : 1 Makan, Halaman : 177

4.Gangguan pola tidur berhubungan dengan Imobilisasi. (1980, 1998,


2006, LOE 2.1)Domain : 4 Aktivitas /Istirahat ,Kelas : 1 Tidur

/istirahat, Halaman : 229

5.Risiko Infesksi (1986, 2010, 2013; LOE 2.1) Domain: 11

Keamanan /Perlindungan,Kelas:1Infeksi,Halaman:405

29
2.2.3 INTERVENSI
NO DIAGNOSA NOC NIC
1. Nyeri akut berhubungan dengan agens Setelah dilakukan tindakan 1. Pain Management
cidera fisik (mis, Abses, amputasi, luka keperawatan selama 3 x 24 jam • Lakukan
bakar, terpotong, mengangkat berat, maka diharapkan nyeri pengkajian nyeri
trauma, prosedur pembedahan, olah raga berkurang. secara
berlebihah. Domain : 12 Tujuan : komprehensif
Kenyamanan • Pain Level, termasuk lokasi,
Kelas : 1 kenyamanan fisik • Pain control karakteristik,
Halaman: 469 NANDA • Comfort level KH : durasi frekuensi,
Batas Krakteristik kualitas dan
• Mampu mengontrol
1. Ekspresi wajah nyeri (mata kurang faktor presipitasi.
nyeri (tahu penyebab
pencahayaan, tanpak kacau, gerakan nyeri, mampu • Observasi
mata berpencar atau berada pada menggunakan tehnik reaksi nonverbal
satu focus, meringgis.) nonfarmakologi untuk dan
2. Mengekspresikan perilaku(mis, mengurangi nyeri, ketidaknyamana
gelisah, merengek, menagis, mencari bantuan) n.
waspada) • Gunakan
• Melaporkan bahwa
nyeri berkurang dengan teknik
menggunakan komunikasi
manajemen nyeri. terapeutik untuk
mengetahui
• Mampu
pengalaman
mengenali nyeri
nyeri pasien
(skala, intensitas,
• Kaji
frekuensi dan tanda
kultur yang
mempengaruhi respon nyeri 

31
Evaluasi pengalaman nyeri
masa lampau
• Evaluasi
bersama pasien
dan tim
kesehatan lain
tentang
ketidakefektifan
kontrol nyeri
masa Iampau
• Bantu
pasien dan
keluarga untuk
mencari dan
 nyeri) menemukan dukungan
Menyatakan rasa • Kontrol
nyaman setelah nyeri lingkungan yang
berkurang dapat mempengaruhi
nyeri seperti suhu
ruangan,
pencahayan dan
kebisingan.
• Kurangi
faktor presipitasi
nyeri.
• Pilih dan
lakukan penanganan
nyeri
(farmakologi,nonfarmakologi

32
dan inter personal)
• Kaji tipe dan
sumber nyeri untuk
menentukan
intervensi  Ajarkan
tentang teknik non
farmakologi
• Berikan
anaIgetik untuk
mengurangi nyeri
• Evaluasi
keefektifan
kontrol nyeri
• Tingkatkan
istirahat
• Kolaborasika
n dengan dokter jika
ada keluhan dan
tindakan nyeri tidak
berhasil
• Monitor
penerimaan
pasien tentang manajemen nyeri
2. Analgesic
Administration

33
• Tentukan
lokasi, karakteristik,
kualitas, dan
derajat nyeri
sebelum pemberian
obat
• Cek instruksi
dokter tentang jenis
obat, dosis, dan
frekuensi
• Cek riwayat
alergi
• Pilih
analgesik yang
diperlukan atau
kombinasi dari
analgesik ketika
pemberian lebih dari
satu
• Tentukan
pilihan analgesik
tergantung tipe dan
beratnya nyeri
• Tentukan
analgesik pilihan,
rute pemberian, dan
dosis optimal
• Pilih rute
pemberian secara

34
IV, IM untuk
pengobatan nyeri
secara teratur
• Monitor vital
sign sebelum dan
sesudah pemberian
analgesik pertama kali
• Berikan
analgesik tepat
waktu terutama saat nyeri hebat
• Evaluasi
efektivitas
analgesik, tanda dan gejala

Pelambatan pemulihan pasca- bedah Setelah dilakukan tindakan 1. Perawatan area syatan
berhubungan hambatan mobilitas keperawatan selama 1x 24 jam • Control infeksi
(1998,2006,2013 ;LOE 2.1) : • Pemberian obat
Domain : 11 Keamanan Tujuan : 2. Manajemen nutrisi
/perlindungan • Pemuliahan • Terapi nutrisi
Kelas : 2 Cedera fisik pembedahan : 3. Manajemen nyeri
Halaman :429 Penyembuhan • Bantuan
Batasan Karakteristik KH : perawatan diri
1. Hambatan mobilitas • Mencapai kembali • Monitor
2. ketidaknyamanan tingkat energi para tanda-tanda vital
3. Tidak mampu melakukan pembedahan yang • Perawatan
aktivitas ditandai dengan klien tirah baring
tanpak mampu • Bantuan
beristirahat. perawatan diri
• Perawatan

35
• Menujukan pemulihan luka :Drainase
insisi pembedahan tertutup.
Ketidak seimbangan nutrisi : kurang dari Setelah dilakukan tindakan Nutrition Monitoring
kebutuhan tubuh berhubungan dengan keperawatan selam 3 x 24 jam: • BB pasien dalam batas
ketidak mampuan mencerna Tujuan : normal
makanan. (1975,2000)  Monutrional status : • Monitor adanya penurunan
Domain :2 Nutrisi Food and fluid Intake KH : berat badan
Kelas : 1 Makan 1. Mampu mengontrol nyeri • Monitor tipe dan jumlah
Halaman : 177 pada klien aktivitas yang biasa
2. Melaporkan bahwa nyeri dilakukan
• Monitor interaksi anak atau
berkurang orangtua selama makan
3. Mengatakan rasa nyaman  Monitor lingkungan selama
setelah nyeri berkurang makan
 Jadwalkan pengobatan dan
perubahan pigmentasi
 Monitor turgor kulit
 Monitor kekeringan, rambut
kusam, dan mudah patah
 Monitor mual dan muntah
 Monitor kadar
albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht
 Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
 Monitor pucat, kemerahan,
dan kekeringan jaringan
konjungtiva

36
 Monitor kalori dan intake
nutrisi
 Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik papila
lidah dan cavitas oral.
 Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet

Gangguan pola tidur berhubungan ,L Setelah dilakukan tindakan 1. Manjemen lingkungan


denganImobilisasi.(1980,1998,2006 keperawatan selama 3 x 24 2. pemberian obat
OE 2.1) jam 3. Terapi relaksasi
Domain : 4 Aktivitas /Istirahat : Tarik nafas dalam
Kelas : 1 Tidur /istirahat Tujuan : 4. Memandikan klien
Halaman : 229 • Anxiety reduction 5. memijat klien
Batasan karakteristik • Comfort level 6. menajemen nutrisi
1. Ketidak puasan tidur jelas • Rest :Extent and patten 7. manajemen nyeri
2. sering terjaga tanpa • Sleep :Extentan patten
penyebab mersa
3. Menyatakan tidak cukup KH :
istirahat. • Jumlah jam tidur
dalam batas normal 6-
8 jam
/hari
• Pola tidur ,kualitas
dalam batas normal .
• Mampu

37
mengidentifikasi
halhal yang meningkan
tidur.
Risiko Infesksi Setelah dilakukan tindakan 1. Kontrol infeksi
(1986,2010,2013;LOE 2.1) keperawatan selama 3 x 24  Kontol\infeksi: intraoperasi
Domain:11 Keamanan jam 2. Perlinndungan infeksi
/Perlindungan : • perawatan luka
Kelas : 1 Infeksi Tujuan : • monitor tanda –tanda vital
Halaman : 405 • Keparahan infeksi • perawatan luka :tidak sembuh
KH : irigasi
• Kontrol • manajemen pengobatan
Risiko :Proses
infeksi
•pemulihan  perawatan luka tekan
pembedahan
•:penyembuhan
pemulihan
pembedahan
:segera setelah operasi.

38
2.2.4 Implementasi
Implementasi merupakan tindakan yang sudah direncanakan dalam

rencana keperawatan. Tindakan mencakup tindakan mandiri dan

tindakan kolaborasi. (Tarwoto & Wartonah, 2011).

Pada tahap ini perawat menggunakan semua kemampuan yang

dimiliki dalam melaksanakan tindakan keperawatan terhadap klien

baik secara umum maupun secara khusus pada klien post

appendictomy pada pelaksanaan ini perawat melakukan fungsinya

secara independen. Interdependen dan dependen.

2.2.5 Evaluasi
Tujuan dari evaluasi adalah untuk mengetahui sejauh mana

perawatan dapat dicapai dan memberikan umpan balik terhadap

asuhan keperawatan yang diberikan. (Tarwoto & Wartonah, 2011).

Untuk menentukan masalah teratasi, teratasi sebagian, tidak teratasi

atau muncul masalah baru adalah dengan cara membandingkan

antara SOAP dengan tujuan, kriteria hasil yang telah di tetapkan.

Format evaluasi mengguanakan :

S : subjective adalah informasi yang berupa ungkapan yang didapat

dari klien setelah tindakan diperbaiki

O : objective adalah informasi yang didapat berupa hasil

pengamatan, penilaian, pengukuran, yang dilakukan oleh perawat

setelah dilakukan tindakan


37

A : analisa adalah membandingkan antara inormasi subjektif dan

objektif dengan tujuan dan kriteria hasil, kemudian diambil

kesimpulan bahwa masalah teratasi, masalah belum teratasi, masalah

teratasi sebagian, atau muncul masalah baru.

P : planning adalah rencana keperawatan lanjutan yang akan

dilakukan berdasarkan hasil analisa, baik itu rencana diteruskan,

dimodifikasi, dibatalkan ada masalah baru, selesai (tujuan tercapai).


38
BAB III

TINJAUAN KASUS

3.1 PENGKAJIAN

3.1.1 Identitas Klien

Nama : Ny.R

Umur : 33 Tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Status : Nikah

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Pendidikan : SMA

Alamat : Jl.Pintu Kabun


Penanggung Jawab

Nama : Tn.A

Pekerjaan : Wiraswasta

Umur : 41 Tahun

Hub .Keluarga : Suami

No.MR : 499078

Ruangan Rawat : Bedah Ambun Suri Lantai 2

Tgl Masuk RS : 31 Mai 2018

Tgl Pengkajian : 07 Juni 2018

Tgl Operasi : 01 Juni 2018

Diagnosa Medis : Post Op Laparatomi Apendiksitis

39
3.1.2 Alasan Masuk

Klien masuk ke IGD pada tanggal 31 Mai 2018 hari Kamis pukul

15:30 Wib,dengan alasan masuk perut sakit pada bagian kanan bawah

sejak 5 hari yang lalu, sebelumnya pasien berobat ke puskesmas lalu

setelah memakan obat dari puskesmas pasien merasa mual dan

muntah. Klien mengatakan pusing dan lemas,pasien juga mengatakan

tidak pernah BAB selama 5 hari setelah itu pasien juga merasakan

perutnya padat dan sakit.

3.1.3 Riwayat Kesehatan

a. Riwayat kesehatan sekarang

Saat dilakukan pengkajian pada Tanggal 07 juni 2018 pukul

12.00 wib klien mengatakan nyeri pada bagian kanan bawah

perut pasien karena akibat post appendiks, klien merasakan

pusing, klien juga mengatakan susah bergerak karena insisi

pebedahan, Skala nyeri 5 dengan penilaian PQRST yaitu : P

(Provokatif ) : Klien mengatakan timbul nyeri pada saat mau

bergerak.

Q (qualiti ) : Klien mengatan nyeri terasa seperti diiris-iris

setiap ingin melakukan aktivitas bergerak.

R (radiation ) : Klien mengatakan nyeri disekitar area abdomen

40
S (severity) : Klien tanpak meringis, skala nyeri 5, nyeri yang

dirasakan klien disertai nadi dan nafas cepat, klien merasa

tidak nyaman ketika nyeri datang.

T (Time ) : Klien mengatakan nyeri terasa hilang timbul, nyeri

dirasakan saat mau bergerak.

Klien mengatakan sulit untuk tidur karena nyeri yang

dirasakanya sangat mengganggu, klien merasakan gelisah

karena cuaca yang panas dan pasien tidak bisa bergerak dengan

bebas, klien haya tidur 2-3 jam di malam hari, klien merasakan

kuatir dengan kondisinya sekarang ini, karena klien

memikirkan anaknya yang tinggal dirumah yang memerlukan

ASI eklusif sehari-hari.

b. Riwayat Kesehatan Dahulu

Klien mengatakan dahulunya pernah mengalami penyakit magh

tetapi hanya berobat di puskesmas saja, kebiasaan klien suka

memakan yang pedas –pedas, sebelumnya pasen tidak pernah

mengalami penyakit yang sama seperti sekarang, tetapi pasien

sebulan ini babnya sangat sulit dan sering kesakitan. Klien tidak

pernah mengalami operasi pada bagian abdomen atau bagian

tubuh lainya.

41
c. Riwayat Kesehatan Keluarga

Keluarga klien mengatakan tidak pernah mengalami penyakit

yang sama dengan klien, tetapi dalam pihak keluarga tepatnya

pada ayah pasien mengalami penyakit asma, tetapi keluarga

tidak pernah atau tidak ada mengalami penyakit hipertensi,

Diabetes mellittus, Hepatitits dan Hipertensi.

Genogram

Keterangan:

: Laki - Laki

: Perempuan

: Laki – Laki meninggal

: Perempuan meninggal

: pasien

42
3.1.4 Pemeriksaan Fisik

Kesadaran : Composmetis E :4 V:5 M:6

Berat badan sehat : 54 kg

Berat badan sakit : 54 kg

Tinggi Badan :155 cm

Tanda Vital

TD :130/90 mmHg

Nadi :120 x/menit

Suhu :36,7·C

Pernafasan : 22x/menit
1. Kepala

• Rambut

Inspeksi : Klien memiliki rambut berminyak, berbentuk

agak ikal, kusam, terlihat agak kotor, terlihat ada

ketombe.

Palpasi : Klien tidak ada teraba benjolan, maupun luka

jahitan.

• Mata

Inspeksi : Mata klien tanpak seperti mata panda,

terlihat simetris kiri dan kanan.

Palpasi : Mata klien tidak ada nyeri tekan ,konjungtiva

anemis, sclera ikterik, reflek cahaya (+/+).

• Telinga
43
Inspeksi : Telinga klien terlihat simetris kiri dan

kanan, tidak terlihat luka lecet, ada sedikit serumen di

dalam telinga pasien, tidak ada terlihat lecet dan

pendarahan.

Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada terlihat

pembengkakan.

• Hidung

Inspeksi :Hidung klien terlihat bersih, tidak ada

pembekakan, tidak ada luka lecet, terlihat tidak

terpasang NGT.

Palpasi : Hidung klien tidak ada nyeri tekan .

• Mulut dan Gigi

Inspeksi : Mulut klien terlihat agak kotor, ada

terlihat karies, tidak ada stomatitis .

2. Leher

Inspeksi : Simetris kiri dan kanan, tidak ada bekas luka atau

jahitan .

Palpasi : Tidak ada pembengkakan pada leher pasien, tidak

ada teraba kelenjar getah bening, dan vena jugularis.

3. Thorak

44
 Paru-paru

Inspeksi : Dada klien terlihat simetris kiri dan kanan,

pengerakan dada normal, frekuensi nafas 22x/i, tidak

ada terliahat bekas luka atau lecet.

Palpasi : Tidak ada pembengkakan pada sekitar dada,

pergerakan dada sama ketika klien mengucapkan 7777,

getaran dinding dada sama.

Perkusi : Terdengar bunyi sonor pada kedua lapang paru.

Auskultrasi :Bunyi nafas vesikuler /normal,

whezing(- ), rhonki(-).

 Jantung

Inspeksi : Ictus kordis tidak terlihat ,tidak


terdapat sianosis.

Palpasi : Ictus kordis teraba di ICS 4 linea medio

clavicularis sinistra.

Perkusi : Terdengar bunyi redup ketika di perkusi.

Auskultrasi : Bunyi jantung klien regular (I lup II dup),

tidak ada murmur (suara gemuruh, berdesir).

4. Abdomen

45
Inspeksi : Perut terlihat buncit, terlihat strechmark , terlihat

luka jahitan, dan panjang luka 20 cm, kondisi jahitan terlihat

bersih.

Auskultrasi : Di dengar kan dengan stetoskop bising usus klien

9x/i.

Perkusi : Ada terdengar suara timpani ketika di perkusi.

Palpasi : Nyeri tekan pada bagian abdomen

kanan bawah bekas operasi.

5. Punggung

Punggung klien terlihat datar ,tidak ada bekas luka lecet atau

luka jahit,tidak ada ciri dekubitus pada klien.

6. Ekstremitas

Atas : Pada tangan sebelah kiri terlihat terpasang infuse.

Bawah: Pada kaki tidak ada ngangguan berjalan, tidak terlihat

adanya luka lecet atau parises, stremart.

Kekuatan otot : 5555 5555

5555 5555

7. Genetalia

Pada genetalia tidak terpasang kateter dan tidak ada melakukan

pemeriksaan pada area tersebut.

46
8. Intergumen

Pada kulit pasien warnanya sawo matang, tugor kulit bagus atau

lembab,ada luka laparatomi sebesar 20 cm.

3.1.5 Data Biologis

AKTIVITAS SEHAT SAKIT

MAKANAN

47
• Menu Nasi biasa MS

• Porsi porsi 3x sehari porsi 3x sehari

• Makanan kesukaan Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada pantangan


• Pantangan
pantangan
1 gelas/hari
MINUMAN
5-7 gelas /hari
• Jumlah
Tidak ada
Tidak ada Tidak ada
• Minuman kesukaan
Tidak ada
• Pantangan pantangan

ELIMINASI BAB
• Frekuensi 1x dalam 3 hari 1x/hari
• Warna Kecoklatan Kuning
• Bau Khas Khas
• Kesulitan Padat Lembek

BAK
• Frekuensi
• Warna 5-6 x/hari 4-5 x/hari
Kuning pucat Putih bening

48
• Bau Pesing Pesing

• Konsistensi Cair Cair

• Kesulitan Tidak ada Tidak ada kesulitan


kesulitan
ISTIRAHAT DAN
TIDUR 2-3 jam /hari malam
• Lama tidur 8 jam / hari
• Waktu tidur Pagi dan malam Keadaan tenang
• Hal yang Suara
mempermudah tidur Keadaan tenang
berisik,sesak saat
 Kesulitan tidur
tidur
Suara berisik
PERSONAL HYGINE Hanya di lap
1 x selama di rawat
• Mandi 2x1/hari
• Cuci rambut 2-1x/hari Tidak ada
Selama dirawat
• Gosok gigi belum pernah
• Potong kuku 2x sehari potong kuku
2x1/minggu

3.1.6 Riwayat Alergi

Klien mengatakan ada riwayat alergi debu pada saat dia sudah

melahirkan anak yang paling terakir.

3.1.7 Data Psikologis

1. Prilaku Verbal

• Cara Menjawab : Klien tanpak nyambung saat dilakukan

pengkajian.

• Cara Memberikan Informasi : Klien memberikan informasi

sangat jelas dan tidak bertele-tele.

49
2. Emosi

Klien sangat bisa dalam mengontrol emosinya, klien termasuk orang

yang bisa berfikir dengan rasional.

3. Persepsi penyakit

Klien berfikir penyakit yang dideritanya itu suatu pelajaran bagi

klien supaya tidak mau memakan makanan yang pedas –pedas.

4. Konsep Diri

Klien memiliki konsep diri yang sangat bagus .

5. Adaptasi

Klien sangat murah bergaul dengan masyarakat contohnya saja pada

klien yang berada satu ruangan dengan klien.

6. Mekanisme pertahanan diri

Klien memiliki pertahan diri kurang bagus Karen dia kurang

mempertahan kan kondisi tubuhnya sendiri agar supaya sehat.

3.1.8 Data Sosial

1. Pola komunikasi

Klien mengatakan sangat jelas, dengan bahasa Indonesia

2. Orang yang dapat membuat nyaman

Klien mengatakan dia sangat nyaman apabila berkumpul keluarga atau

ketika pergi jalan-jan sama keluarga.

3. Orang yang paling berharga bagi pasien

50
Klien mengatakan dia sangat mencintai anak dan suaminya

4. Hubungan dengan keluarga dan masyarakat

Klien mengatakan suka bergaul dengan masyarakat, klien salah

satu ibuk PKK, dan juga rumah klien berada di lingkungan

perumahan.

3.1.9 Data Spritual

1. Keyakinan

Klien mengatakan dia lebih yakin kepada agama islam yaitu kepada

allah

2. Ketaatan beribadah

Selama dirumah sakit pasien tidak pernah melakukan ibadah seperti

puasa ,sholat ,mengaji.

3. Keyakinan terhadap penyembuhan

Klien mengatakan sangat yankin bahwa sakitnya itu akan

disembuhkan oleh allah.

51
3.1.10 Data penunjang

1. Pemeriksaan darah lengkap

Tanggal pemeriksaan 01-06-2018 (Jum’at)

NO Parameter Hasil Nilai normal

HGB 12.2 (g/dl) Pria(13-16)wanita(12-14)

RBC 4.38(10ᶺ6/ul) Pria(4.5-5.5)wanita(4.0-5.0)

HTC 36.8 (%) Pria(40.0-48.0)wanita(37.0-43.0)

WBC (5.0-10.0)
26.82(10ᶺ3/ul)
PT 10.2 Sec (9,5 -11,7)
APTT 32,5 Sec (28-42)
INR 0,94%

HBG 10.3 (g/dl)

RBC 3.62 (10ᶺ6/ul)

HTC 32.7(%)

WBC 22.80 (10ᶺ3/ul)


PLT 631+ (10ᶺ3/ul) (150-400)

PCT 0,57 + (%)

 Kimia Klinik II

Tanggal pemeriksaan 01 –Juni -2018

52
NO Parameter Hasil Hasil Normal

Kalium 3.01 (3.5-5.5) (mᴇq/l)

Natrium 131.4 (135-147) (mᴇq/l)

Klorida 97.5 (100-106) (mᴇq/l)

3.1.11 Data Pengobatan

a. Ceftiaxon 2 x 1 hari /mg

b. Metronidazole 3 x 1 hari /mg

c. Ranitidin 2 x 1 hari /mg

d. Keterolak 3 x 30 mg

e. Infus RL 500 cc 20 tts

3.1.12 Data Fokus

a. Data Subjektif

1) Klien mengatakan nyeri pada bagian perut kanan bawah klien karena

insisi pembedahan sudah hari ke enam.

2) Klien mengatakan nyeri seperti ditusu-tusuk

3) Klien mengatakan nyeri saat mau bergerak

4) Klien mengatakan tidak nyaman saat nyeri terasa

5) Klien mengatan merasakan pusing saat nyeri terasa

6) Klien mengatakan sulit bergerak karena sakit diarea luka jahitan.


7) Klien mengatakan gelisah dengan kondisi area pembedahan

8) Klien mengatakan luka berdarah saat mau bergerak

9) Klien mengatakan lingkungan tidak nyaman ,karena kodisi cuaca

lagi panas .
53
10) Klien mengatakan sudah 7 hari gelisah untuk tidur dari pertama

dirawat sampai sudah operasi.

11) Klien mengatakan hanya tidur 2-3 jam pada malam hari

b. Data Objektif

1) Klien tanpak meringis kesakitan ketika bergerak

2) Klien tanpak memengang abdomen yang sakit disertai menutup mata

rapat-rapat dan mengigit bibir bawah saat nyeri

3) Klien tanpak nafas cepat

4) Klien tanpak lemas

5) Klien tanpak gelisah karena takut lukanya akan menimbulkan nyeri

6) Klien tanpak malas untuk mobilisasi

7) Klien tanpak kurang ceria karena kepanasan disebabkan oleh kondisi

cuaca

8) klien tanpak matanya seperti mata panda karena kurang tidur

9) Kekuatan otot pasien

5555 5555

5555 5555

10) Klien tanpak skala nyeri 6 11) TTV

TD :130/90 mmHg

N :120 x/i

RR :24 x/i

54
S :36,7 ˚C

12) Klien tanpak lukanya ada bekas berdarah terlihat diperban karena

dipaksa untuk bergerak.

13) luka klien laparatomi 20 cm

3.1.13 Analisa Data

NO DATA MASALAH ETIOLOGI

1. DS : Nyeri Akut Agens cedera


1.Klien mengatakan nyeri pada
fisik
bagian perut kanan bawah klien
(pembedahan)
karena insisi pembedahan

55
sudah hari ke enam.

2.Klien mengatakan
nyeri

seperti ditusu-tusuk

3.Klien mengatakan nyeri saat

mau bergerak

4.Klien mengatakan
tidak

nyaman saat nyeri terasa

5.Klien mengatan merasakan

pusing saat nyeri terasa

DO :
1.Klien tanpak meringis

kesakitan ketika bergerak

2.Klien tanpak memengang


abdomen yang sakit disertai
menutup mata rapat-rapat dan

mengigit bibir bawah saat

nyeri

3.Klien tanpak nafas cepat

4.Skala nyeri (6)


5.TTV :
56
TD :130/90 mmHg
N :120 x/i
RR :24 x/i
S :36,7˚C

2 DS : Pelambatan Trauma
1. Klien pemulihan pasca pada
. mengatakan bedah
gelisah dengan sisi bedah
kondisi area
pembedahan
2. Klien
mengatakan luka
berdarah saat
mau bergerak
DO :
1.Klien tanpak meringis
kesakitan ketika bergerak
2.Klien tanpak malas untuk
mobilisasi.
3. Klien
tanpak lukanya
ada bekas
berdarah terlihat
diperbanya.
4. klien
sudah hari ke 6
setelah operasi
5. Kekuata
n otot klien

5 5

5 5

3 DS: Gangguan pola Halangan


1.Klienmengatakanlingkun lingkungan
gan tidak nyaman ,karena tidur

57
kodisi cuaca lagi panas .
2. Klien mengatakan
belum mandi sejak 5 hari
yang lalu,hanya dilap oleh
keluarganya.
3. Klien mengatakan
sudah 7 hari gelisah untuk
tidur dari pertama dirawat
sampai sudah operasi.
DO :
1. Klien
tanpak kurang
ceria karena
kepanasan
disebabkan oleh
kondisi cuaca.
2. klien
tanpak matanya
seperti mata
panda karena
kurang tidur

3.2 Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri Akut berhubungan dengan agens cidera fisik (pembedahan).

2. Pelambatan pemuliah pasca bedah berhubungan dengan trauma pada

sisi bedah.

3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan imobilisasi

58
3.3 INTERVENSI

NO DIAGNOSA NOC NIC

1. Nyeri Akut berhubungan dengan agen Setelah dilakukan tindakan 1. Pain Management

cidera fisik (pembedahan). keperawatan selama 1x24 jam : • Lakukan

pengkajian nyeri
Domain : 12 Kenyamanan Tujuan :
secara
Kelas : 1 kenyamanan fisik • Pain Level
komprehensif
Halaman: 469 NANDA • Pain Control
termasuk lokasi,
Batas Krakteristik • Comfrot Level
karakteristik,
1. Ekspresi wajah nyeri(mata kurang
KH :
durasi frekuensi,
pencahayaan,tanpak kacau,gerakan
• Mampu mengontrol nyeri
kualitas dan faktor
mata berpencar atau berada pada
• Mampu melaporkan
satu focus ,meringgis.) presipitasi.
bahwa nyeri berkurang
• Observasi
2. Mengekspresikan • Menyatakan rasa nyaman
reaksi nonverbal
perilaku(mis,gelisah,merengek,men setelah nyeri berkurang
dan
agis ,waspada) • Mampu mengenali nyeri
ketidaknyamanan.
(skala nyeri ,tanda-tanda

56
• Gunakan

teknik komunikasi

terapeutik untuk

mengetahui

pengalaman nyeri pasien.

• Kaji kultur
yang

mempengaruhi respon nyeri.

• Ajarkan
tentang teknik non

57
nyeri) farmakologi

• Tingkatkan istirahat

• Kolaborasikan dengan

dokter jika ada keluhan dan

tindakan nyeri tidak berhasil


2. Analgesic Administration

• Tentukan lokasi,

karakteristik, kualitas, dan derajat

nyeri sebelum pemberian obat 

Cek instruksi dokter tentang jenis

obat, dosis, dan frekuensi

• Cek riwayat alergi

• Pilih analgesik yang

diperlukan atau kombinasi dari


analgesik ketika pemberian lebih
dari satu

58
• Tentukan

pilihan analgesik

tergantung tipe dan

beratnya

nyeri

• Tentukan

analgesik pilihan, rute

pemberian, dan dosis

optimal

• Pilih rute
pemberian secara

IV, IM untuk pengobatan nyeri

secara teratur

• Monitor vital

sign sebelum dan

sesudah pemberian

analgesik pertama kali

59
• Berikan
analgesik tepat

waktu terutama saat nyeri hebat

• Evaluasi
efektivitas

analgesik, tanda dan gejala

2. Pelambatan pemulihan pasca bedah Setelah dilakukan tindakan 1. Perawatan area


syatan
berhubungan dengan hambatan mobilitas keperawatan selama 1x 24 jam :
• Control infeksi
(1998,2006,2013 ;LOE 2.1)
Tujuan : • Pemberian obat
Domain : 11 Keamanan /perlindungan • Pemuliahan pembedahan : 2. Manajemen
nutrisi
Kelas : 2 Cedera fisik Penyembuhan
• Terapi nutrisi
Halaman :429 KH :
3. Manajemen
Batasan Karakteristik • Mencapai kembali tingkat

1. Hambatan mobilitas energi para pembedahan nyeri 

2. ketidaknyamanan yang ditandai dengan klien Bantuan perawatan

3. Tidak mampu melakukan tanpak mampu


diri
aktivitas
• Monitor tanda-
60
beristirahat. tanda vital

• Menujukan pemulihan insisi • Perawatan tirah


pembedahan
baring

• Bantuan perawatan

diri

• Perawatan luka

:Drainase tertutup.
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan Tujuan Setelah dilakukan tindakan Sleep Enhancement
:
halangan lingkungan. keperawatan selama 1 x 24 • Determinasi efek-efek

jam : medikasi terhadap pola tidur
.(1980,1998,2006,LOE 2.1)

• Jelaskan pentingnya tidur yang
Domain : 4 Aktivitas /Istirahat

adekuat
Kelas : 1 Tidur /istirahat Anxiety reduction

Halaman : 229 Comfort level • Fasilitasiuntuk
KH :
Batasan karakteristik Rest :Extent and patten mempertahankan aktivitas

1. Ketidak puasan tidur Sleep :Extentan patten sebelum tidur (membaca,atau

2. sering terjaga tanpa jelas penyebab apa kebiasaan sebelum tidur).



3. Menyatakan tidak mersa cukup Jumlah jam tidur dalam

61
istirahat. •batas normal 6-8 jam /hari • Ciptakan lingkungan

Pola tidur ,kualitas dalam yang nyaman

batas normal .
• Kolaborasi pemberian
obat
Mampu mengidentifikasi
tidur
hal-hal yang meningkan

tidur.

3.4 IMPLEMENTASI

NO TGL/HARI WAKTU DIAGNOSA IMPLEMENTASI EVALUASI

1. 7-Juni -2018 12.30 Nyeri Akut 1. Pain Management DS:

62
Kamis Wib berhubungan • Melak 1. Klien mengatakan

dengan agen cidera ukan nyeri pada bagian perut

fisik pengkajian kanan bawah klien karena

nyeri secara insisi pembedahan sudah


(pembedahan).
komprehensif hari ke enam.

termasuk lokasi, 2. Klien mengatakan

karakteristik, durasi sulit bergerak karena sakit

frekuensi, kualitas dan faktor diarea luka jahitan.

presipitasi.
3. Klien mengatakan
gelisah
• Mengu
nakan teknik dengan kondisi
area
komunikasi terapeutik untuk
pembedahan
mengetahui pengalaman
DO :
nyeri pasien.
1. Klien tanpak meringis
• Menga
jarkan tentang

teknik non farmakologi.

63
2. Analgesic

Administration kesakitan ketika bergerak 2.

• Mentukan lokasi, Klien tanpak lemas

karakteristik, kualitas, dan


3. Klien tanpak gelisah
derajat nyeri sebelum
karena takut lukanya akan
pemberian obat
menimbulkan nyeri.
• Mencek instruksi

dokter tentang jenis obat, 4.Skala nyeri (5) area nyeri di

dosis, dan frekuensi bagian luka laparatomi di

• Mecek riwayat alergi bagian bawah kanan

abdomen

5.TTV :

TD :130/90 mmHg

N :120 x/i

RR :24 x/i

S :36,7˚C

Terapi yang diberikan oleh

64
farmasi :
Ceftiaxon 2 x 1 hari

/mg

 Metronidazole 3 x 1
hari /mg

 Ranitidin 2 x 1 hari
/mg

 Keterolak 3 x 30 mg

 Infus RL 500 cc 20
tts

A :Masalah sudah sebagian

teratasi karena

1.klien sudah diajarkan

bagaimana cara teknik

nonfarmakologi (teknik

relaksai yaitu dengan tarik

nafas dalam).

65
2.klien sudah
diberikan

analgesic.

P:Intervensi dilanjutkan

66
2. 7-Juni -2018 13.00 Pelambatan 1. Melakukan Perawatan DS :
pemulihan pasca
Kamis WIB bedah area syatan 1.Klien mengatakan gelisah

• Control dengan kondisi


infeksi area

• Pemberia pembedahan .

n obat  2. Klien

mengatakan
Perawatan
luka berdarah
luka(Tuka
saat mau
verban).
bergerak.
2. Memanajemen nyeri
DO :
• melakuka
n teknik 1.Klien tanpak
meringis
relaksasi.
kesakitan ketika bergerak

2.Klien tanpak malas untuk

mobilisasi.

3. Klien
tanpak
67
diperbanya lukanya ada
bekas
Kekuatan otot pasien
berdarah
terlihat
5555 5555

5555 5555

A : Masalah sudah mulai

teratasi

1.klien sudah mulai

mengerakan tubuhnya

ditempat tidur.

2.klien sudah bisa

melakukan teknik relaksasi

ketika saat mau bergerak.

P : Intervensi dilanjutkan

68
3. 7-Juni -2018 14.30 Gangguan pola tidur Sleep Enhancement DS:
berhubungan dengan
Kamis WIB halangan lingkungan • Mendeterminasi efek-efek 1. Klien mengatakan

medikasi terhadap pola gelisah dengan kondisi area

pembedahan
tidur

• Menjelaskan 2. Klien mengatakan


pentingnya
susah tidur sejak 7 hari .
tidur yang adekuat
3. Klien mengatakan
• Memfasilitasi untuk
lingkungan tidak nyaman
mempertahankan aktivitas
karena kondisi cuaca panas
sebelum tidur
DO :
(membaca,atau apa

kebiasaan sebelum tidur). 1. Klien tanpak gelisah 2.

• Ciptakan lingkungan yang Klien tanpak sulit

nyaman
tidur

3. Klien tanpak kurang ceria

karena kepanasan

69
A: Masalah sebagian tersasi
P : Intervensi dilanjutkan

1. 8 –Juni -2018 09.50 Nyeri Akut 1. Pain Management DS :

Jum’at WIB berhubungan • Melak 1.Klien mengatakan nyeri

dengan agen cidera ukan pada bagian perut sebelah

fisik pengkajian kanan agak sudah mulai

nyeri secara
(pembedahan). berkurang
komprehensif
2. Klien mengatakan sudah

termasuk lokasi, mencoba berjalan tetapi

karakteristik, durasi
masih agak sakit
frekuensi, kualitas dan faktor
DO :
presipitasi.
1.Klien tanpak
meringis
• Mengu
nakan teknik kesakitan

komunikasi terapeutik untuk 2. Klien

mengetahui pengalaman tanpak sudah

nyeri pasien. mulai berjalan

70
• Menga untuk
jarkan tentang

teknik non farmakologi. imobilisasi


3. Analgesic
3. Skala
Administration nyeri sudah

71
• Mentukan lokasi, berkurang (3)

karakteristik, kualitas, dan 4. klien masuk hari ke

derajat nyeri sebelum 7 pasca operasi

pemberian obat 5.TTV :

• Mencek instruksi TD :90/60 mmHg

dokter tentang jenis obat, N :120 x/i

dosis, dan frekuensi RR :24 x/i

S :36,7˚C
• Mecek riwayat alergi
Terapi yang diberikan oleh

farmasi :

• Ceftiaxon 2 x 1

hari /mg

• Metronidazole 3 x 1

hari /mg

• Ranitidin 2 x 1 hari

72
/mg
• Keterolak 3 x 30 mg

• Infus RL 500 cc 20

tts

A :Masalah sudah teratasi


P:Intervensi dihentikan
pasien pulang

2. 8 –Juni -2018 11.50 Resiko pelambatan 1. Melakukan Perawatan 1.Klien mengatakan lukanya
pemulihan pasca
Jum’at WIB bedah area syatan sudah tidak

• Control berdarah lagi


infeksi
DO :
• Pemberian
obat 1. klien
sudah mulai
2. Memanajemen nutrisi
berjalan.
• Terapi
nutrisi 2. luka

3. Memanajemen nyeri klien

• Bantuan dibersihkan

73
perawatan diri  untuk mau siap

Monitor tanda- pulang.

tanda
3.luka klien tanpak sudah
tidak ada berdarah lagi.
vital
• Perawatan tirah baring A : Masalah teratasi P :

• Bantuan perawatan diri Intervensi intervensi

• Perawatan luka dihentikan klien pulang.

:Drainase tertutup.

3. 8 –Juni -2018 11.50 Gangguan pola tidur Sleep Enhancement DS:


berhubungan dengan
Jum’at WIB imobilisasi • Mendeterminasi efek-efek 1.Klien mengatakan sudah

medikasi terhadap pola mulai tidur malam

tadi,tetapi masih
tidur
terbagunbangun .
• Menjelaskan
pentingnya
DO :
tidur yang adekuat
1.Mata klien seperti mata
• Memfasilitasi untuk
panda.
mempertahankan aktivitas

74
sebelum tidur 2.Klien sudah mulai

(membaca,atau apa tampak bersemangat .

kebiasaan sebelum tidur). A: Masalah tersasi

• menciptakan P : Intervensi dihentikan


lingkungan
yang nyaman klien pulang.

75
BAB IV
PEMBAHASAN

Berdasarkan asuhan keperawatan yang telah dilakukan Asuhan Keperawatan pada

Klien Ny.R denga Post Apendisitis di Ruangan Rawat Inap Bedah

Lantai II Ambun Suri RSUD Dr.Achamad Mochtar Bukittinggi Tahun

2018 didapatkan pembahasan sebagai berikut :

4.1 Pengkajian

Berdasarkan Secara teori pada klien Ny.R ditemukan etiologi dan

tanda genjala yang didapat,penyebab dari apendisitis ini yaitu suatu

sumbatan fases/tinja yang lama kelamaan mengalami konstipasi

menyebabkan bakteri Escherichia coli mempunyai kesempatan untuk

berkembang biak dalam usus dan menjadi infeksi yang berakir pada

peradangan usus pada tubuh klien.Sedangkan pada waktu dikaji

emang sesuai dengan apa yang ada diteoritis, dan juga pada tanda

genjala yang didapat di teoritis nyeri pada bagian kuadran kanan

bawah abdomen klien, mual muntah, konstipasi, dan dilihat dari

leukosit klien yang tinggi, intinya pada tanda dan genjala yang

terdapat pada teoritis sesuai dengan temuan yang ada pada klien yang

dikelola. Pemeriksaan fisik klien tidak ada kesenjanga sama sekali

karena semua klien yang mengalami nyeri sedang salah satu cara

untuk mengenal rentang nyeri klien yaitu:

76
Menurut Hayward

Skala Keterangan
0 Tidak nyeri
1-3 Nyeri ringan
4-6 Nyeri sedang
7-9 Sangat nyeri, tetapi masih dapat dikontrol
dengan aktifitas yang biasa dilakukan
10 Sangat nyeri dan tidak bias dikontrol

Tersebut TTV sangat berpengaruh sekali terhadap tekanan darah

yang tinggi ,nadi yang cepat,nafas yang sesak karena menahan

sakit pada bagian abdomenya dan juga bisa suhu tubuh meningkat

Karena terpengaruh dari nyeri tersebut.

4.2 Diagnosa Keperawata

Pada tinjauan teoritis ditemukan 5 diagnosa keperawatan, yang tidak ada

dikasus tapi dia ada di teoritis yaitu:

1. Nyeri akut berhubungan dengan agens cidera fisik (pembedahan).

2. Pelambatan pemulihan pasca bedah (hambatan mobilisasi).

3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan halangan

lingkungan.

4. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

ketidak mampuan mencerna makanan.

5. Resiko infeksi.

77
Diagnosa yang dibuat pada tinjauan kasus ada 3 diagnosa yaitu:
Diagnosa pertaman, Nyeri akut berhubungan dengan agens cidera

fisik (pembedahan) data yang didapat kan saat pengkajian, luka

operasi sudah hari ke 6, luka jahit 20 cm, klien tanpak memengang

perutnya lalu meringis, gelisah, klien tanpak susah untuk bergerak,

tanda- tanda vital klien meningkat nadinya 120 x/menit, TD 130/90

mmHg, RR 22x/menit.

Diagnosa kedua, Pelambatan pemulihan pasca bedah (hambatan

mobilisasi) data yang didapatkan pada saat pengkajian, klien

sangat malas untuk mobilisasi, luka klien tanpak ada bekas darah

terlihat dari perbanya, klien tanpak meringis kesakitan.

Diagnosa ketiga, Gangguan pola tidur berhubungan dengan

halangan lingkungan, data yang didapat kan pada saat pengkajian,

klien mengatakan lingkungan tidak nyaman soalnya klien berada

di ruanga bangsal, klien mengatakan sudah 7 hari gelisah tidak bisa

tidur yaitu dari pertama masuk rumah sakit, klien tanpak kurang

ceria, mata klien tanpak seperti mata panda karena kurang tidur.

Diagnosa yang tidak ada di tinjauan kasus ada 2 yaitu:

1. Resiko infeksi

2. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

tubuh berhubungan dengan ketidak mampuan mencerna

makanan.

78
Kenapa tidak dibuat karena tidak ada data yang mendukung untuk menengakan

diagnosa tersebut, penulis hanya membuat sesuai dengan kebutuhan klien, dan dari

data yang di dapatkan hasil pengkajian.

4.3 Intervensi (Rencana Asuhan Keperawatan)

Dalam penyusunan rencana asuhan keperawatan penuli menggunakan

rencana keperawatan berdasarkan standar NIC-NOCNANDA.Dalam

kasus rencana keperawatan yang muncul

diantaranya adalah :

Untuk diagnosa Nyeri akut berhubungan dengan agens cidera fisik ( prosedur

pembedahan) dilakukan intervensi Pain Mangement dan

Analgesic Administration yang berdasarkan pada tinjauan teoritis ada 11 rencana

keperawatan, yaitu :

1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk

lokasi ,karakteristik ,durasi ,frekuensi,kualitas dan factor presipitasi.

2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan

3. Bantu klien dan keluarga klien untuk mencari dan menemukan dukungan

4. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu

ruangan ,pencahayaan dan kebisingan

5. Kurangi factor presipitasi nyeri

79
6. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi

7. Ajarkan tentang teknik non farmakologi : Napas dalam, relaksasi,

distraksi, kompres hangat/dingin.

8. Kolaborasi dalam pemberian analgetik.

9. Tingkatkan istirahat.

10. Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri

akan berkurang dan antispasi ketidak nyamanan dari prosedur

11. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesic pertama

kali.

Sedangkan menurut tinjauan kasus ada 11 rencana keperawatan

yang dilaksanakan ,yaitu :

1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan factor presipitasi.

2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan

3. Bantu klien dan keluarga klien untuk mencari dan menemukan dukungan

4. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu

ruangan ,pencahayaan dan kebisingan.

5. Kurangi factor presipitasi nyeri.

6. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi.

80
7. Ajarkan tentang teknik non farmakologi : Napas dalam, relaksasi,

distraksi, kompres hangat/dingin.

8. Kolaborasi dalam pemberian analgetik.

9. Tingkatkan istirahat.
10. Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama

nyeri akan berkurang dan antispasi ketidak nyamanan dari prosedur.

11. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesic pertama

kali

Dari hasil perbandingan antara rencana tindakan menurut tinjauan

teoritis dengan tinjauan kasus sesuai antara teoritis dengan kasus

apendiksitis.

Untuk diagnosa Pelambatan pemulihan pasca bedah berhubungan

dengan hambatan mobilitas ada 3 rencana asuhan keperawatn yaitu

sesuai dengan teoritis dan tinjauan kasus. Untuk diagnose gangguan

pola tidur berhubungan dengan halangan lingkungan ini rencana

asuhan keperawatanya sesuai dengan teoritis dan tinjauan kasus.

4.4 Implementasi

Implementasi keperawatan yang dilakukan juga sesuai dengan

rencana asuhan keperawatan yang telah disusun dan sesuai dengan

kondisi Ny.R Diagnosa keperawatan Nyeri akut berhubungan dengan

agens cidera fisik dan implementasi yang telah dilakukan, yaitu :

81
1. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan factor presipitasi.

2. Mengobservasi reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan.


3. Membantu klien dan keluarga klien untuk mencari dan menemukan dukungan.

4. Mengontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,

pencahayaan dan kebisingan.

5. Mengurangi factor presipitasi nyeri.

6. Mengkaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan

intervensi.

7. Mengajarkan tentang teknik relaksasi.

• Tarik nafas dalam melalui hidung secara perlahan, pertahankan

bahu tetap rileks, dada bagian atas tidak bergerak, dan biarkan

rongga perut bergerak naik.

• Keluarkan udara secara perlahan melalui mulut, dengan

mengucupkan bibir.

• Lakukan 3-4 kali.

• Pada tarikn nafas ke 4, keluarkan nafas secara maksimal.

• Tarik nafas secara maksimal ,tahan sampai 3-5 detik

• Keluarkan udara secara perlahan melalui mulut dengan

menguncupkan bibir.

82
• Ulangi 5-10 kali, lakukan sehari 3-4 kali.

8. Melakukan kolaborasi dalam pemberian analgetik.

9. Meningkatkan istirahat.
10. Meberikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri

akan berkurang dan antispasi ketidak nyamanan dari prosedur.

11. Memonitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian

analgesic pertama kali.

Untuk diagnose Pelambatan pemulihan pasca bedah berhubungan dengan

hambatan mobilitas implementasi yang dilakukan, yaitu:

1. Melakukan perawatan area syatan

• Terlebih dahulu dikaji apakah ada tanda-tanda infeksi.

• Setelah itu melakukan penukaran perban setiap hari.

• Memperhatikan luka jahitanya kebersihanya.

2. Manajemen Nyeri dengan menggunakan teknik relaksasi.

Untuk diagnosa gangguan pola tidur berhubungan dengan

halangan lingkungan implementasi yang dilakukan, yaitu:

1. Ciptakan lingkungan yang nyaman.

2. Menjelaskan pentingnya tidur yang adekuat.

3. Memfasilitasi untuk mempertahankan aktivitas sebelum tidur (membaca,atau

apa kebiasaan sebelum tidur).

83
4.5 Evaluasi

Setelah dilakukan implementasi selama 1x24 jam dari kamis (07

Juni 2018 ) sampai hari sabtu (09 Juni 2018),didapatkan hasil bahwa

Ny.R Mengalami kemajuan dimana Ny.R merasakan nyeri sudah

berkurang dengan skala nyeri menjadi 3,Ny.R sudah bisa berjalan

dan bisa mandi sendiri.

84
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien Ny.R dengan apendiksitis

dapat disimpulkan bahwa apendisitis merupakan penyakit peradangan pada

usus buntu atau umbai cacing yang mengalami konstipasi fases sehingga

menyebabkan penyumbatan dan memberikan kesempatan kepada bakteri

Escherichia coli berkembang biak sehingga menjadi infeksi akibat dari

infeksi akan menimbulkan nyeri akut pada bagian kanan bawah abdomen,

itu merupakan posisi letak umbai cacing tersebut.Maka dari itu penulis

melakukan asuhan keperawatan kepada klien Ny.R yaitu dari hasil :

1. Pengkajian yang dilakukan terdapat klien memang mengalami

nyeri akut pada kuadran kanan bawah abdomen klien, terdapat

juga klien mengalami konstipasi terhadap fases selama beberapa

bulan sampai klien pada saat itu dibawa ke rumah sakit dengan

keluhan lain seperti muntah dan susah tidur karena nyeri pada

abdomen .

2. Diagnosa yang ditemukan pada klien diambil dari keluhan klien

dan data yang ada pada klien.

85
• Nyeri akut berhubungan dengan agens cidera fisik ( prosedur

pembedahan).

• Pelambatan pemulihan pasca bedah berhubungan dengan hambatan

mobilitasi.

• Gangguan pola tidur berhubungan dengan halangan

lingkungan.

3. Intervensi yang dilakukan kepada klien berdasarkan pada

prioritas masalah yang ditemukan, tidak semua rencana tindakan

pada teoritis dapat ditegakan pada kasus kelolaan karena rencana

tindakan pada kasus harus disesuaikan dengan kebutuhan klien

atau keluhan klien.

4. Implementasi yang dilakukan kepada klien berdasarkan

kebutuhan klien, tidak semua tindakan harus di implementasikan

karena itu hanya membuang waktu saja, maka dari itu penulis

hanya melakukan implementasi sesuai kebutuhan klien.

5. Evaluasi hampir semua mencapai perkembangan, meski

pencapaian belum optimal karena intervensi dan implementasi

dihentikan karena klien pulang, maka untuk mencapai hasil yang

optimal juga perlu adanya kerjasama antara penulis dengan

klien, keluarga dan tim kesehatan lainya.

86
5.2 Saran

1. Bagi penulis

Memberikan pengetahuan dan memperkaya pengalaman bagi penulis dalam

memberikan dan menyusun asuhan keperawatan pada klien dengan post

laparatomi atas indikasi apendiksitis dan sebagai salah satu syarat

menyelesaikan pendidikan program studi DIII keperawatan Sekolah Tinggi

Ilmu Kesehatan (STIKes ) Perintis

Padang.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai masukan bagi institusi pendidikan dalam proses belajar

mengajar, khususnya tentang Karya Tulis Ilmiah Laporan Studi

Kasus dan memberikan sumbangan pikiran terhadap post

laparatomi atas indikasi apendiksitis yang kiranya dapat berguna sebagai

informasi awal.

3. Bagi Institusi Rumah Sakit

Sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan, terutama bagi

perawat yang ada dirumah sakit untuk mengambil langkah-langkah

melakukan asuhan keperawatan pada klien post operasi laparatomi

atas indikasi apendiksitis kebijakan dalam rangka upaya peningkatan

mutu pelayanan keperawatan.

87
88
DAFTAR PUSTAKA

Akhyar yayan, 2008, Apendisitis, diakses 19 April 2012 from http://www.

Yayanakhyar. Wordpress.com/2008/09/29/apendisitis.

Anonim, 2008, Iso farmakoterapi, 288-294, PT.ISFI Penerbitan, Jakarta.

Arif Muttaqin & Kumala Sari ,2011.Gangguan Gastrointestinal(Aplikasi asuhan

keperawatan medical bedah),Jakarta:Salemba medika.

Birnbaum BA, Wilson SR, 2000, Appendicitis at the millenium, Radiology

215:337-348.

Braunwald E, Hauser S1, Jameson Jl, 2005. Harrison’s Prinsiple Of Internal.

Medicine. 16th Ed. New York : The Mc Graw-Hill Companies.

Brunner & Suddarth. 2013, Keperawatan Medikal Bedah: Jakarta: EGC.

Brunner, Suddarth. (2014). Keperawatan Medikal Bedah Edisi 12. Jakarta : ECG.

Brunner dan Suddarth (Ed.8, Vol. 1,2), Alih bahasa oleh Agung

Waluyo…(dkk), EGC, Jakarta.

http://yenicahyaningrum.wordpress.com/ipa-viii/sistem-pencernaan-pada

manusia/sistem-pencernaan/organ-sistem-pencernaan/&xid.

Jurnal Kesehatan Tadulako Vol. 2 No. 2, Juli 2016 : 1-72

M.Tucker, 1998, Standart Perawatan Pasien: Proses Keperawatan,Diagnosa dan

Evaluasi, Edisi 5, Volumr 3,Jakarta:EGC.

Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma. 2015, Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC: Jogja: Mediaction

Publishing.
RSUP Dr.M Djamil Padang (1 Januari 2015 s/d 31 Desember 2016). kasus

apendisitis. data rekam medis .

Santacroce R, Craig S. 2007. Appendicitis. Available from:

http://www.emedicine.com [Accessed on May, 30th 2010].

Silent W. Acute Appendicitis And Peritonitis, In: Kasper D1, Fauci As, Longo

D1.

Sjamsuhidajat, R. dan De Jong W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.

Sjamsuhidajat & de jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah.Jakarta: EGC.

Smeltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G, 2002, Buku Ajar Keperawatan

Medikal Bedah .

Syamsuhidayat, R., Jong, W.D. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi II. Jakarta :

EGC.

Syaifuddin. 2011. Anatomi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan, Edisi

2. Jakarta: Salemba Medika.

T. Heather Herdman, Shigemi Kamitsuru ; alih bahasa, Budi Anna Keliat. 2015,

Diagnosa Keperawatan; Definisi & klasifikasi 2015=2017: Jakarta: EGC.

Tzanakis NE et al, 2005. A New Approach to Accurate Diagnosis of Acute

Appendicitis: world journal of surgery, April 2005, 1151-1156.

Williams, L & Wilkins. 2011. Nursing : Memahami Berbagai Macam Penyakit.


Alih Bahasa Paramita. Jakarta : PT. Indeks.

WHO. World Health Statistics 2015: World Health Organization; 2015.


OLEH :
SRIRAHAYU OKTAVIANI NIM
:1514401030
Appendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus
buntu atau umbai cacing ( apendiks ). Usus buntu
sebenarnya adalah sekum(caecum). Infeksi ini bisa
mengakibatkan peradangan akut sehingga memerlukan
tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang
umumnya berbahaya. ( Wim de Jong et al, 2010).
Adanya obstruksi pada lumen
appendikeal oleh apendikolit,
hyperplasia folikel limfoid
submukosa, fekalit (material garam
kalsium, debris fekal ) atau parasit
(Katz, 2009)
 Lakukan observasi TTV klien .
 Baringkan pasien dalam posisi semi fowler.

Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi


gangguan, selama pasien dipuasakan. Bila tindakan
operas
Identitas Klien Pendidikan : SMA
Nama : Ny.R Alamat : Jl.Pintu
Umur : 33 Tahun Kabun
Jenis kelamin: Perempuan
Status : Nikah
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu
Rumah Tangga
Alasan Masuk
Klien masuk ke IGD pada tanggal 31 Mai 2018
hari Kamis pukul 15:30 Wib,dengan alasan
masuk perut sakit pada bagian kanan bawah
sejak 5 hari yang lalu, sebelumnya pasien
berobat ke puskesmas lalu setelah memakan
obat dari puskesmas pasien merasa mual dan
muntah. Klien mengatakan pusing dan
lemas,pasien juga mengatakan tidak pernah
BAB selama 5 hari setelah itu pasien juga
merasakan perutnya padat dan sakit.
Abdomen

Inspeksi : Perut terlihat buncit, terlihat


strechmark , terlihat luka jahitan, dan panjang
luka 20 cm, kondisi jahitan terlihat bersih.
Auskultrasi : Di dengar kan dengan stetoskop
bising usus klien 9x/i.
Perkusi : Ada terdengar suara timpani ketika di
perkusi.
Palpasi : Nyeri tekan pada bagian abdomen
kanan bawah bekas operasi.

Anda mungkin juga menyukai