Asuhan Keperawatan Pasien Apendisitis
Asuhan Keperawatan Pasien Apendisitis
OLEH :
ASTUTI, AMK
NIP. 19871112 201001 2 021
KABUPATEN PELALAWAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya,sehingga penulis dapat menyusun dan
menyelesaikan makalah ini dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN An. R DENGAN POST OPERASI LAPARATOMI ATAS INDIKASI
APENDISITIS”.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Makalah ini masih sangat
sederhana dan jauh dari sempurnaan ,karena keterbatasan kemampuan
penulisan.Untuk itu dengan segala kerendahan hati dan tangan terbuka ,penulis
mengaharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang sifatnya senantiasa
membangun dan melengkapi kesempurnaan makalah ini.. Harapan penulis
semonga Makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak,baik bagi penulis
sendiri ,maupun bagi pembaca di kemudian hari.
Akhir kata Harapan penulis semonga Makalah ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak,baik bagi penulis sendiri ,maupun bagi pembaca terutama dalam
menambah wawasan dan pengetahuan serta perkembangan ilmu keperawatan di
masa mendatang.
2021
ASTUTI, AMK
NIP. 19871112 201001 2 021
i
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulis ........................................................................................... 3
1.2.1 Tujuan Umum ............................................................................. 3
1.2.2 Tujuan Khusus ............................................................................ 3
1.3 Manfaat Penulis ......................................................................................... 4
1.3.1 Rumah Sakit ............................................................................... 4
1.3.2 Institusi Pendidikan .................................................................... 4
1.3.3 Klien dan keluarga ..................................................................... 4
1.3.4 Penulis ......................................................................................... 4
BAB II TINJAUAN TEORITIS
2.1 Konsep Dasar Appendisitis ....................................................................... 5
2.1.1 Defenisi Appendisitis .................................................................. 5
BAB IV PEMABAHASAN
4.1 Pengkajian .................................................................................................. 72
4.2 Diagnosa keperawatan ................................................................................ 73
4.3 Intervensi keperawatan .............................................................................. 75
4.4 Implementasi ............................................................................................. 77
4.5 Evaluasi ...................................................................................................... 79
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ................................................................................................ 81
5.2 Saran .......................................................................................................... 82
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 : Anatomi usus kecil ..................................................................... 11
Pada era Globalisasi saat ini banyak orang yang memiliki pola kebiasaan makan
makanan yang seperti cepat saji, rendah serat ,dan juga makanan yang pedas –
pedas. Boleh kita lihat kebanyakan atau mayoritas yang mempunyai kebiasaan
pola makan yang tidak sehat itu pada remaja dan dewasa. Sedangkan dari
dampak kebiasaan pola makan yang tidak sehat itu sangat banyak dan bisa
menyebabkan orang memiliki penyakit kronik dan sampai meninggal dunia pada
usia masih muda,salah satunya penyakit yang marak terjadi dikalangan remaja
Istilah usus buntu yang dikenal di masyarakat awam adalah kurang tepat karena
usus yang buntu sebenarnya adalah sekum. Apendiks diperkirakan ikut serta
(syamsyuhidayat, 2005).
dan Afrika pada tahun 2015 adalah 4,8% dan 2,6% penduduk dari total populasi.
1
WHO (World Health Organization) menyebutkan insiden apendiksitis di Asia
dan Afrika pada tahun 2015 adalah 4,8% dan 2,6% penduduk dari total populasi.
mulai timbulnya gejala menuju perforasi terjadi begitu cepat. 20% kasus
perforasi apendiks terjadi 48 jam, bahkan dapat 36 jam setelah timbulnya gejala.
Hal ini menunjukkan bahwa timbulnya perforasi sangat cepat sehingga perlu
mendapatkan perhatian yang lebih serta penanganan yang tepat dari para dokter.
Dalam periode 1 tahun terakir ini (pada bulan januari-november 2020) di RSUD
Selasih khususnya menurut data rekam medis terdapat 156 kasus apendisitis.
Sesuai dengan hal diatas, Appendicitis merupakan masalah yang sangat serius
untuk diatasi maka penulis tertarik mengangkat judul “Asuhan keperawatan pada
2
1.2 Tujuan
2021.
Appendiksitis.
Laparatomi Appendiksitis.
Appendiksitis.
Laparatomi Appendiksitis.
Appendiksitis.
3
1.3 Manfaat Penulis
Sebagai bahan masukan bagi Ruang Rawat Inap Bedah RSUD Selasih untuk
1.3.3 Penulis
4
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
Appendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing
Usus buntu atau apendis merupakan bagian usus yang terletak dalam pencernaan.
Untuk fungsinya secara ilmiah belum diketahui secara pasti, namun usus buntu ini
terkadang banyak sekali sel-sel yang berfungsi untuk mempertahankan atau imunitas
tubuh. Dan bila bagian usus ini mengalami infeksi akan sangat terasa sakit yang luar
Apendiks merupakan perluasan sekum yang rata-rata panjang adalah 10 cm. Ujung
merupakan penyakit bedah mayor yang paling sering terjadi, walaupun apendiksitis
5
perforasi. Jadi appendiktomi adalah Apendiktomi adalah suatu tindakan pembedahan
untuk mengangkat apendiks, harus segera dilakukan tindakan untuk menurunkan risiko
perforasi apendiks, peritonitis. Sayatan dilakukan pada garis tegak lurus pada garis
Laparatomi merupakan suatu potongan pada dinding abdomen dan yang telah
didiagnosa oleh dokter dan dinyatakan dalam status atau catatan medik klien.
Laparatomi adalah suatu potongan pada dinding abdomen seperti caesarean section
Bedah laparatomi merupakan tindakan operasi pada daerah abdomen. Laparatomi yaitu
insisi pembedahan melalui pinggang (kurang begitu tepat), tapi lebih umum
Mansjoer (2000), laparotomi adalah pembedahan yang dilakukan pada usus akibat
terjadinya perlekatan usus dan biasanya terjadi pada usus halus dan usus besar. Jadi,
merupakan suatu peradangan pada bagian usus (Caecum) yang disebabkan karena ada
6
2.1.2 Anatomi Fisiologi
AMK;2011)
1. Mulut
Mulut (Oris) merupakan organ yang pertama kali dari saluran pencernaan yang
meluas dari bibir sampai ke istmus fausium yaitu perbatasan antara mulut dengan
a. Vestibulum Oris : Bagian di antara bibir dari pipi di luar ,gusi dan bibir bagian
b. Kavitas oris propia : Bagian di antara arkus alveolaris ,gusi ,dan gigi,memiliki atap
yang dibentuk oleh palantum durum (palatum keras )bagian depan palantum mole
Gigi
Anatomi gigi
Gigi dan geraham terletak dalam alveolus dentalis dari tulang maksiladan
akar.Akar gigi ditutupi oleh semen yang merupakan bagian tebesar dari gigi yang
7
Fisiologi gigi
Menguyah makanan ,pemecahan partikel besar menjadi partikel kecil yang dapat
yang dialami makanan pada waktu lincinkan ,dan membasahi makanan yang kering
3. Lidah
Anatomi lidah lidah terdapat dalam kavum oris, merupakan susunan otot serat lintang
Fisiologi lidah
a. Pangkal lidah : Terdapat epiglotis yang berfungsi menutup jalan pernafasab pada
b. panggal lidah : Fungsinya untuk mentukan rasa manis, pahit, asam dan asin.
4. Farin
8
Anatomi faring
Faring terbentang lurus antara basis kranii setinggi vertebrae servikalis VI, kebawah
setinggi tulang rawan krikoidea. Faring terbentuk dari jaringan yang kuat (jaringan otot
5. Esofagus
Anatomi esophagus
Panjangya kira –kira 25 cm, Posisi vertikel dimulai dari bagian tengah leher bawah
Fisiologi esophagus
Esophagus merupakan struktur organ pencernaan setelah mulut yang memiliki fungsi.
6. Lambung
Anatomi lambung
Lambung merupakan sebuah kantong muskel yang letaknya antara esophagus dan usus
halus, sebelah kiri abdomen dibagian diagfragma bagian depan pancreas dan limpa.
9
Fisiologi lambung
getah lambung
intrinsic bersama dengan factor ekstrinsik dari makana, membentuk zat yang
disebut anti –anemik yang berguna untuk pertukaran eritrosit yang disempan
dalam hati.
7. Usus Halus
10
Usus halus merupakan bagian dari system pencernaan makanan yang berpangkal pada
pencernaan yang paling panjang dari tempat proses pencernaan dan absorsip
intestinum minor dapat masuk karena adanya gerakan yang memberikan permukaan
Usus halus dan kelenjarnya merupakan bagian yang sangat pentig dari saluran
pencernaan karena disini terjadinya proses pencernaan yang terbesar dan penyerapan
usus halus.
b. menerima cairan empedu dan pangreas melalui duktus kholedukus dan duktus
pankreatikus.
protein menjadi asam amino, karbohidrat menjadi glukosa, lemak menjadi asam
lemak gliserol.
d. Mengabsobsi air garam dan vitamin, protein dalam bentuk asam amino,
vena-vena halus lalu dikumpulkan dalam vena besar bermuara ke dalam vena
porta langsung.
11
8. Usus Besar
luas atau berdiameter besar dengan panjang kira-kira 1,5 -1,7 meter dan
penampangan 5-5 cm. Lanjutan usus halus yang tersusun seperti huruf U
anus.
feses.
12
9. Usus Buntu (sekum)
Usus buntu atau sekum (Bahasa latin:caecus ,”buta”) dalam isitilah anatomi
adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian
kolon menanjak dari usus besar. Organ ini ditemukan pada mamalia, burung,
Appendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. Infeksi pada organ ini
disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Appendisitis yang parah dapat
menyebabkan apendiks pecah dan bentuk nanah dalam rongga abdomen atau
Sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar dan berakir di anus.
ini kosong karena tinja disimpan ditempat yang lebih tinggi yaitu pada kolon
keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh dan
13
12. Anatomi dan Fisiologi Apendiks
lebar 0,3 - 0,7 cm dan isi 0,1 cc melekat pada sekum tepat dibawah katup ileosekal.
Pada pertemuan ketiga taenia yaitu : taenia anterior,medial dan posterior. Secara
klinis, apendiks terletak pada daerah Mc.Burney yaitu daerah 1/3 tengah garis yang
menghubungkan spina iliaka anterior superior kanan dengan pusat. Lumennya sempit
dibagian proksimal dan melebar dibagian distal. Namun demikian, pada bayi,
apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya.
Persarafan parasimpatis pada apendiks berasal dari cabang nervus vagus yang
simpatis berasal dari nervus torakalis X. Oleh karena itu, nyeri viseral pada
14
Fisiologi Apendiks
Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya dicurahkan
kedalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Lendir dalam apendiks bersifat
oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) yang terdapat disepanjang saluran
cerna termasuk apendiks ialah IgA. Immunoglobulin tersebut sangat efektif sebagai
karena jumlah jaringan limfa disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya
disaluran cerna dan diseluruh tubuh. Apendiks berisi makanan dan mengosongkan
diri secara teratur kedalam sekum. Karena pengosongannya tidak efektif dan
2.1.3 Klasifikasi
1. Apendisitis akut
Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang
15
kadang muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam
nyeri akan berpindah ketitik mcBurney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam
2. Apendisitis kronis
adanya riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang
jaringan parut dan ulkus lama dimukosa dan adanya sel inflamasi
5%.
2.1.4 Etiologi
dalam hidup mereka: pria lebih sering dipengaruhi wanita, dan remaja
lebih sering dari pada dewasa. Diantara beberapa faktor diatas, maka
16
yang paling sering ditemukan dan kuat dugaannya sebagai penyebab
1. Sumbatan lumen
keras.
3. Hyperplasia jaringan limfoid
tanda nyeri antara lain : Rovsing’s sign, Psoas sign dan Jump sign.
a. Apendiksitis
1) Nyeri samar-samar
3) Anoreksia.
17
4) Disertai demam dengan suhu 37,5-38,5˚C
5) Diare
6) Konstipasi
b. Apendiksitis perforasi
memberat.
4) Konstipasi BAB
penting.
9) Respirasi retraktif.
18
12) Rasa perih yang berbalik (menunjukan adanya inflamasi
peritoneal).
atau tersumbat, kemungkinan oleh fekalit (massa dank eras dan fases),
(Katz ,2009 ).
Kondisi obtruksi akan meningkat kan tekanan intraluminal dan
19
Sebenarnya tubuh manusia juga melakukan usaha pertahanan untuk
1. Laboratorium
Jumlah leukosit diatas 10.000 ditemukan pada lebih dari 90% anak
appendicitis.
20
3. Ultrasonografi Abdomen (USG)
4. CT-Scan
21
ditegakkan jika appendix dilatasi lebih dari 5-7 mm pada
mengeci.
2.1.7 Penatalaksaan
1. Keperawatan
2.2.1 Pengkajian
1. Indetitas klien
perkerjaan.
2. Alasan masuk
Biasanya klien waktu mau dirawat kerumah sakit denga keluhan sakit
yang sedikit atau tidak sama sekali, kadang –kadang mengalami diare
22
3. Riwayat kehehatan
Biasanya keluhan yang terasa pada klien yaitu pada saat post op
d. Pemeriksaan Fisik
merasakan nyeri.
e. Kepala
23
mendapatkan mata klien seperti mata panda karena klien tidak
f. Leher
Pada bagian leher biasanya juga tidak ada terdapat masalah pada
g. Thorak
1994).
h. Abdomen
24
Biasanya perut tidak ditemui gambaran spesifik. Kembung
periapedikular.
25
2.2.1.1 Data Biologis
NO AKTIVITAS SEHAT SAKIT
MAKANAN
• Menu Biasanya klien suka makana yang Biasanya klien diberikan
pedas dan kurang serat. diet nasi lunak atau bubur
sumsum
MINUMAN
• Jumlah
Biasanya klien diharuskan
Biasanya klien sedikit minum air
banya minum air putih
putih
• Minuman kesukaan Tidak ada
Tidak ada
• Pantangan
Tidak ada
Tidak ada pantangan
26
ELIMINASI
BAB
• Frekuensi Biasanya klien tidak pernah Bab 1x/hari
dalam seminggu atau sering diare
Kecoklatan Kuning
• Warna
• Bau Khas
Khas
• Kesulitan
Bianya klien mengalamai biasanya tidak mengalami
konstipasi
konstipasi
BAK
• Frekuensi
5-6 x/hari 4-5 x/hari
Warna
• kuning Bening
Bau
•
Pesing
Konsistensi Pesing
• Cair
Kesulitan Cair
Tidak ada kesulitan
• Tidak ada kesulitan
DAN TIDUR
ISTIRAHAT
Lama tidur
1
2-3 jam /hari
Waktu tidur 8 jam / hari
2 malam
Pagi dan malam
27
3 Hal Keadaan tenang Keadaan tenang
yang
mempermud
Suara berisik Suara berisik,sesak saat tidur
ah tidur
3. Gosok gigi
4. Potong kuku
28
2.2.2 Diagnosa Keperawatan Menurut NANDA
Berdasarkan data-data hasil pengkajian, diagnose keperawatan yang
NANDA
Keamanan /Perlindungan,Kelas:1Infeksi,Halaman:405
29
2.2.3 INTERVENSI
NO DIAGNOSA NOC NIC
1. Nyeri akut berhubungan dengan agens Setelah dilakukan tindakan 1. Pain Management
cidera fisik (mis, Abses, amputasi, luka keperawatan selama 3 x 24 jam • Lakukan
bakar, terpotong, mengangkat berat, maka diharapkan nyeri pengkajian nyeri
trauma, prosedur pembedahan, olah raga berkurang. secara
berlebihah. Domain : 12 Tujuan : komprehensif
Kenyamanan • Pain Level, termasuk lokasi,
Kelas : 1 kenyamanan fisik • Pain control karakteristik,
Halaman: 469 NANDA • Comfort level KH : durasi frekuensi,
Batas Krakteristik kualitas dan
• Mampu mengontrol
1. Ekspresi wajah nyeri (mata kurang faktor presipitasi.
nyeri (tahu penyebab
pencahayaan, tanpak kacau, gerakan nyeri, mampu • Observasi
mata berpencar atau berada pada menggunakan tehnik reaksi nonverbal
satu focus, meringgis.) nonfarmakologi untuk dan
2. Mengekspresikan perilaku(mis, mengurangi nyeri, ketidaknyamana
gelisah, merengek, menagis, mencari bantuan) n.
waspada) • Gunakan
• Melaporkan bahwa
nyeri berkurang dengan teknik
menggunakan komunikasi
manajemen nyeri. terapeutik untuk
mengetahui
• Mampu
pengalaman
mengenali nyeri
nyeri pasien
(skala, intensitas,
• Kaji
frekuensi dan tanda
kultur yang
mempengaruhi respon nyeri
31
Evaluasi pengalaman nyeri
masa lampau
• Evaluasi
bersama pasien
dan tim
kesehatan lain
tentang
ketidakefektifan
kontrol nyeri
masa Iampau
• Bantu
pasien dan
keluarga untuk
mencari dan
nyeri) menemukan dukungan
Menyatakan rasa • Kontrol
nyaman setelah nyeri lingkungan yang
berkurang dapat mempengaruhi
nyeri seperti suhu
ruangan,
pencahayan dan
kebisingan.
• Kurangi
faktor presipitasi
nyeri.
• Pilih dan
lakukan penanganan
nyeri
(farmakologi,nonfarmakologi
32
dan inter personal)
• Kaji tipe dan
sumber nyeri untuk
menentukan
intervensi Ajarkan
tentang teknik non
farmakologi
• Berikan
anaIgetik untuk
mengurangi nyeri
• Evaluasi
keefektifan
kontrol nyeri
• Tingkatkan
istirahat
• Kolaborasika
n dengan dokter jika
ada keluhan dan
tindakan nyeri tidak
berhasil
• Monitor
penerimaan
pasien tentang manajemen nyeri
2. Analgesic
Administration
33
• Tentukan
lokasi, karakteristik,
kualitas, dan
derajat nyeri
sebelum pemberian
obat
• Cek instruksi
dokter tentang jenis
obat, dosis, dan
frekuensi
• Cek riwayat
alergi
• Pilih
analgesik yang
diperlukan atau
kombinasi dari
analgesik ketika
pemberian lebih dari
satu
• Tentukan
pilihan analgesik
tergantung tipe dan
beratnya nyeri
• Tentukan
analgesik pilihan,
rute pemberian, dan
dosis optimal
• Pilih rute
pemberian secara
34
IV, IM untuk
pengobatan nyeri
secara teratur
• Monitor vital
sign sebelum dan
sesudah pemberian
analgesik pertama kali
• Berikan
analgesik tepat
waktu terutama saat nyeri hebat
• Evaluasi
efektivitas
analgesik, tanda dan gejala
Pelambatan pemulihan pasca- bedah Setelah dilakukan tindakan 1. Perawatan area syatan
berhubungan hambatan mobilitas keperawatan selama 1x 24 jam • Control infeksi
(1998,2006,2013 ;LOE 2.1) : • Pemberian obat
Domain : 11 Keamanan Tujuan : 2. Manajemen nutrisi
/perlindungan • Pemuliahan • Terapi nutrisi
Kelas : 2 Cedera fisik pembedahan : 3. Manajemen nyeri
Halaman :429 Penyembuhan • Bantuan
Batasan Karakteristik KH : perawatan diri
1. Hambatan mobilitas • Mencapai kembali • Monitor
2. ketidaknyamanan tingkat energi para tanda-tanda vital
3. Tidak mampu melakukan pembedahan yang • Perawatan
aktivitas ditandai dengan klien tirah baring
tanpak mampu • Bantuan
beristirahat. perawatan diri
• Perawatan
35
• Menujukan pemulihan luka :Drainase
insisi pembedahan tertutup.
Ketidak seimbangan nutrisi : kurang dari Setelah dilakukan tindakan Nutrition Monitoring
kebutuhan tubuh berhubungan dengan keperawatan selam 3 x 24 jam: • BB pasien dalam batas
ketidak mampuan mencerna Tujuan : normal
makanan. (1975,2000) Monutrional status : • Monitor adanya penurunan
Domain :2 Nutrisi Food and fluid Intake KH : berat badan
Kelas : 1 Makan 1. Mampu mengontrol nyeri • Monitor tipe dan jumlah
Halaman : 177 pada klien aktivitas yang biasa
2. Melaporkan bahwa nyeri dilakukan
• Monitor interaksi anak atau
berkurang orangtua selama makan
3. Mengatakan rasa nyaman Monitor lingkungan selama
setelah nyeri berkurang makan
Jadwalkan pengobatan dan
perubahan pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut
kusam, dan mudah patah
Monitor mual dan muntah
Monitor kadar
albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht
Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
Monitor pucat, kemerahan,
dan kekeringan jaringan
konjungtiva
36
Monitor kalori dan intake
nutrisi
Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik papila
lidah dan cavitas oral.
Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet
37
mengidentifikasi
halhal yang meningkan
tidur.
Risiko Infesksi Setelah dilakukan tindakan 1. Kontrol infeksi
(1986,2010,2013;LOE 2.1) keperawatan selama 3 x 24 Kontol\infeksi: intraoperasi
Domain:11 Keamanan jam 2. Perlinndungan infeksi
/Perlindungan : • perawatan luka
Kelas : 1 Infeksi Tujuan : • monitor tanda –tanda vital
Halaman : 405 • Keparahan infeksi • perawatan luka :tidak sembuh
KH : irigasi
• Kontrol • manajemen pengobatan
Risiko :Proses
infeksi
•pemulihan perawatan luka tekan
pembedahan
•:penyembuhan
pemulihan
pembedahan
:segera setelah operasi.
38
2.2.4 Implementasi
Implementasi merupakan tindakan yang sudah direncanakan dalam
2.2.5 Evaluasi
Tujuan dari evaluasi adalah untuk mengetahui sejauh mana
TINJAUAN KASUS
3.1 PENGKAJIAN
Nama : Ny.R
Umur : 33 Tahun
Status : Nikah
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Nama : Tn.A
Pekerjaan : Wiraswasta
Umur : 41 Tahun
No.MR : 499078
39
3.1.2 Alasan Masuk
Klien masuk ke IGD pada tanggal 31 Mai 2018 hari Kamis pukul
15:30 Wib,dengan alasan masuk perut sakit pada bagian kanan bawah
tidak pernah BAB selama 5 hari setelah itu pasien juga merasakan
bergerak.
40
S (severity) : Klien tanpak meringis, skala nyeri 5, nyeri yang
karena cuaca yang panas dan pasien tidak bisa bergerak dengan
bebas, klien haya tidur 2-3 jam di malam hari, klien merasakan
sebulan ini babnya sangat sulit dan sering kesakitan. Klien tidak
tubuh lainya.
41
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Genogram
Keterangan:
: Laki - Laki
: Perempuan
: Perempuan meninggal
: pasien
42
3.1.4 Pemeriksaan Fisik
Tanda Vital
TD :130/90 mmHg
Suhu :36,7·C
Pernafasan : 22x/menit
1. Kepala
• Rambut
ketombe.
jahitan.
• Mata
• Telinga
43
Inspeksi : Telinga klien terlihat simetris kiri dan
pendarahan.
pembengkakan.
• Hidung
terpasang NGT.
2. Leher
Inspeksi : Simetris kiri dan kanan, tidak ada bekas luka atau
jahitan .
3. Thorak
44
Paru-paru
whezing(- ), rhonki(-).
Jantung
clavicularis sinistra.
4. Abdomen
45
Inspeksi : Perut terlihat buncit, terlihat strechmark , terlihat
bersih.
9x/i.
5. Punggung
Punggung klien terlihat datar ,tidak ada bekas luka lecet atau
6. Ekstremitas
5555 5555
7. Genetalia
46
8. Intergumen
Pada kulit pasien warnanya sawo matang, tugor kulit bagus atau
MAKANAN
47
• Menu Nasi biasa MS
ELIMINASI BAB
• Frekuensi 1x dalam 3 hari 1x/hari
• Warna Kecoklatan Kuning
• Bau Khas Khas
• Kesulitan Padat Lembek
BAK
• Frekuensi
• Warna 5-6 x/hari 4-5 x/hari
Kuning pucat Putih bening
48
• Bau Pesing Pesing
Klien mengatakan ada riwayat alergi debu pada saat dia sudah
1. Prilaku Verbal
pengkajian.
49
2. Emosi
3. Persepsi penyakit
4. Konsep Diri
5. Adaptasi
1. Pola komunikasi
50
Klien mengatakan dia sangat mencintai anak dan suaminya
perumahan.
1. Keyakinan
Klien mengatakan dia lebih yakin kepada agama islam yaitu kepada
allah
2. Ketaatan beribadah
51
3.1.10 Data penunjang
WBC (5.0-10.0)
26.82(10ᶺ3/ul)
PT 10.2 Sec (9,5 -11,7)
APTT 32,5 Sec (28-42)
INR 0,94%
HTC 32.7(%)
Kimia Klinik II
52
NO Parameter Hasil Hasil Normal
d. Keterolak 3 x 30 mg
a. Data Subjektif
1) Klien mengatakan nyeri pada bagian perut kanan bawah klien karena
lagi panas .
53
10) Klien mengatakan sudah 7 hari gelisah untuk tidur dari pertama
11) Klien mengatakan hanya tidur 2-3 jam pada malam hari
b. Data Objektif
cuaca
5555 5555
5555 5555
TD :130/90 mmHg
N :120 x/i
RR :24 x/i
54
S :36,7 ˚C
12) Klien tanpak lukanya ada bekas berdarah terlihat diperban karena
55
sudah hari ke enam.
2.Klien mengatakan
nyeri
seperti ditusu-tusuk
mau bergerak
4.Klien mengatakan
tidak
DO :
1.Klien tanpak meringis
nyeri
2 DS : Pelambatan Trauma
1. Klien pemulihan pasca pada
. mengatakan bedah
gelisah dengan sisi bedah
kondisi area
pembedahan
2. Klien
mengatakan luka
berdarah saat
mau bergerak
DO :
1.Klien tanpak meringis
kesakitan ketika bergerak
2.Klien tanpak malas untuk
mobilisasi.
3. Klien
tanpak lukanya
ada bekas
berdarah terlihat
diperbanya.
4. klien
sudah hari ke 6
setelah operasi
5. Kekuata
n otot klien
5 5
5 5
57
kodisi cuaca lagi panas .
2. Klien mengatakan
belum mandi sejak 5 hari
yang lalu,hanya dilap oleh
keluarganya.
3. Klien mengatakan
sudah 7 hari gelisah untuk
tidur dari pertama dirawat
sampai sudah operasi.
DO :
1. Klien
tanpak kurang
ceria karena
kepanasan
disebabkan oleh
kondisi cuaca.
2. klien
tanpak matanya
seperti mata
panda karena
kurang tidur
sisi bedah.
58
3.3 INTERVENSI
1. Nyeri Akut berhubungan dengan agen Setelah dilakukan tindakan 1. Pain Management
pengkajian nyeri
Domain : 12 Kenyamanan Tujuan :
secara
Kelas : 1 kenyamanan fisik • Pain Level
komprehensif
Halaman: 469 NANDA • Pain Control
termasuk lokasi,
Batas Krakteristik • Comfrot Level
karakteristik,
1. Ekspresi wajah nyeri(mata kurang
KH :
durasi frekuensi,
pencahayaan,tanpak kacau,gerakan
• Mampu mengontrol nyeri
kualitas dan faktor
mata berpencar atau berada pada
• Mampu melaporkan
satu focus ,meringgis.) presipitasi.
bahwa nyeri berkurang
• Observasi
2. Mengekspresikan • Menyatakan rasa nyaman
reaksi nonverbal
perilaku(mis,gelisah,merengek,men setelah nyeri berkurang
dan
agis ,waspada) • Mampu mengenali nyeri
ketidaknyamanan.
(skala nyeri ,tanda-tanda
56
• Gunakan
teknik komunikasi
terapeutik untuk
mengetahui
• Kaji kultur
yang
• Ajarkan
tentang teknik non
57
nyeri) farmakologi
• Tingkatkan istirahat
• Kolaborasikan dengan
• Tentukan lokasi,
58
• Tentukan
pilihan analgesik
beratnya
nyeri
• Tentukan
optimal
• Pilih rute
pemberian secara
secara teratur
• Monitor vital
sesudah pemberian
59
• Berikan
analgesik tepat
• Evaluasi
efektivitas
• Bantuan perawatan
diri
• Perawatan luka
:Drainase tertutup.
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan Tujuan Setelah dilakukan tindakan Sleep Enhancement
:
halangan lingkungan. keperawatan selama 1 x 24 • Determinasi efek-efek
•
jam : medikasi terhadap pola tidur
.(1980,1998,2006,LOE 2.1)
•
• Jelaskan pentingnya tidur yang
Domain : 4 Aktivitas /Istirahat
•
adekuat
Kelas : 1 Tidur /istirahat Anxiety reduction
•
Halaman : 229 Comfort level • Fasilitasiuntuk
KH :
Batasan karakteristik Rest :Extent and patten mempertahankan aktivitas
•
1. Ketidak puasan tidur Sleep :Extentan patten sebelum tidur (membaca,atau
61
istirahat. •batas normal 6-8 jam /hari • Ciptakan lingkungan
batas normal .
• Kolaborasi pemberian
obat
Mampu mengidentifikasi
tidur
hal-hal yang meningkan
tidur.
3.4 IMPLEMENTASI
62
Kamis Wib berhubungan • Melak 1. Klien mengatakan
presipitasi.
3. Klien mengatakan
gelisah
• Mengu
nakan teknik dengan kondisi
area
komunikasi terapeutik untuk
pembedahan
mengetahui pengalaman
DO :
nyeri pasien.
1. Klien tanpak meringis
• Menga
jarkan tentang
63
2. Analgesic
abdomen
5.TTV :
TD :130/90 mmHg
N :120 x/i
RR :24 x/i
S :36,7˚C
64
farmasi :
Ceftiaxon 2 x 1 hari
/mg
Metronidazole 3 x 1
hari /mg
Ranitidin 2 x 1 hari
/mg
Keterolak 3 x 30 mg
Infus RL 500 cc 20
tts
teratasi karena
nonfarmakologi (teknik
nafas dalam).
65
2.klien sudah
diberikan
analgesic.
P:Intervensi dilanjutkan
66
2. 7-Juni -2018 13.00 Pelambatan 1. Melakukan Perawatan DS :
pemulihan pasca
Kamis WIB bedah area syatan 1.Klien mengatakan gelisah
• Pemberia pembedahan .
n obat 2. Klien
mengatakan
Perawatan
luka berdarah
luka(Tuka
saat mau
verban).
bergerak.
2. Memanajemen nyeri
DO :
• melakuka
n teknik 1.Klien tanpak
meringis
relaksasi.
kesakitan ketika bergerak
mobilisasi.
3. Klien
tanpak
67
diperbanya lukanya ada
bekas
Kekuatan otot pasien
berdarah
terlihat
5555 5555
5555 5555
teratasi
mengerakan tubuhnya
ditempat tidur.
P : Intervensi dilanjutkan
68
3. 7-Juni -2018 14.30 Gangguan pola tidur Sleep Enhancement DS:
berhubungan dengan
Kamis WIB halangan lingkungan • Mendeterminasi efek-efek 1. Klien mengatakan
pembedahan
tidur
nyaman
tidur
karena kepanasan
69
A: Masalah sebagian tersasi
P : Intervensi dilanjutkan
nyeri secara
(pembedahan). berkurang
komprehensif
2. Klien mengatakan sudah
karakteristik, durasi
masih agak sakit
frekuensi, kualitas dan faktor
DO :
presipitasi.
1.Klien tanpak
meringis
• Mengu
nakan teknik kesakitan
70
• Menga untuk
jarkan tentang
71
• Mentukan lokasi, berkurang (3)
S :36,7˚C
• Mecek riwayat alergi
Terapi yang diberikan oleh
farmasi :
• Ceftiaxon 2 x 1
hari /mg
• Metronidazole 3 x 1
hari /mg
• Ranitidin 2 x 1 hari
72
/mg
• Keterolak 3 x 30 mg
• Infus RL 500 cc 20
tts
2. 8 –Juni -2018 11.50 Resiko pelambatan 1. Melakukan Perawatan 1.Klien mengatakan lukanya
pemulihan pasca
Jum’at WIB bedah area syatan sudah tidak
• Bantuan dibersihkan
73
perawatan diri untuk mau siap
tanda
3.luka klien tanpak sudah
tidak ada berdarah lagi.
vital
• Perawatan tirah baring A : Masalah teratasi P :
:Drainase tertutup.
tadi,tetapi masih
tidur
terbagunbangun .
• Menjelaskan
pentingnya
DO :
tidur yang adekuat
1.Mata klien seperti mata
• Memfasilitasi untuk
panda.
mempertahankan aktivitas
74
sebelum tidur 2.Klien sudah mulai
75
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pengkajian
berkembang biak dalam usus dan menjadi infeksi yang berakir pada
emang sesuai dengan apa yang ada diteoritis, dan juga pada tanda
leukosit klien yang tinggi, intinya pada tanda dan genjala yang
terdapat pada teoritis sesuai dengan temuan yang ada pada klien yang
karena semua klien yang mengalami nyeri sedang salah satu cara
76
Menurut Hayward
Skala Keterangan
0 Tidak nyeri
1-3 Nyeri ringan
4-6 Nyeri sedang
7-9 Sangat nyeri, tetapi masih dapat dikontrol
dengan aktifitas yang biasa dilakukan
10 Sangat nyeri dan tidak bias dikontrol
sakit pada bagian abdomenya dan juga bisa suhu tubuh meningkat
lingkungan.
5. Resiko infeksi.
77
Diagnosa yang dibuat pada tinjauan kasus ada 3 diagnosa yaitu:
Diagnosa pertaman, Nyeri akut berhubungan dengan agens cidera
mmHg, RR 22x/menit.
sangat malas untuk mobilisasi, luka klien tanpak ada bekas darah
tidur yaitu dari pertama masuk rumah sakit, klien tanpak kurang
ceria, mata klien tanpak seperti mata panda karena kurang tidur.
1. Resiko infeksi
makanan.
78
Kenapa tidak dibuat karena tidak ada data yang mendukung untuk menengakan
diagnosa tersebut, penulis hanya membuat sesuai dengan kebutuhan klien, dan dari
diantaranya adalah :
Untuk diagnosa Nyeri akut berhubungan dengan agens cidera fisik ( prosedur
keperawatan, yaitu :
3. Bantu klien dan keluarga klien untuk mencari dan menemukan dukungan
79
6. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
9. Tingkatkan istirahat.
10. Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri
11. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesic pertama
kali.
3. Bantu klien dan keluarga klien untuk mencari dan menemukan dukungan
80
7. Ajarkan tentang teknik non farmakologi : Napas dalam, relaksasi,
9. Tingkatkan istirahat.
10. Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama
11. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesic pertama
kali
apendiksitis.
4.4 Implementasi
81
1. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
intervensi.
bahu tetap rileks, dada bagian atas tidak bergerak, dan biarkan
mengucupkan bibir.
menguncupkan bibir.
82
• Ulangi 5-10 kali, lakukan sehari 3-4 kali.
9. Meningkatkan istirahat.
10. Meberikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri
83
4.5 Evaluasi
Juni 2018 ) sampai hari sabtu (09 Juni 2018),didapatkan hasil bahwa
84
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
usus buntu atau umbai cacing yang mengalami konstipasi fases sehingga
infeksi akan menimbulkan nyeri akut pada bagian kanan bawah abdomen,
itu merupakan posisi letak umbai cacing tersebut.Maka dari itu penulis
bulan sampai klien pada saat itu dibawa ke rumah sakit dengan
keluhan lain seperti muntah dan susah tidur karena nyeri pada
abdomen .
85
• Nyeri akut berhubungan dengan agens cidera fisik ( prosedur
pembedahan).
mobilitasi.
lingkungan.
karena itu hanya membuang waktu saja, maka dari itu penulis
86
5.2 Saran
1. Bagi penulis
Padang.
informasi awal.
87
88
DAFTAR PUSTAKA
Yayanakhyar. Wordpress.com/2008/09/29/apendisitis.
215:337-348.
Brunner, Suddarth. (2014). Keperawatan Medikal Bedah Edisi 12. Jakarta : ECG.
Brunner dan Suddarth (Ed.8, Vol. 1,2), Alih bahasa oleh Agung
http://yenicahyaningrum.wordpress.com/ipa-viii/sistem-pencernaan-pada
manusia/sistem-pencernaan/organ-sistem-pencernaan/&xid.
Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma. 2015, Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC: Jogja: Mediaction
Publishing.
RSUP Dr.M Djamil Padang (1 Januari 2015 s/d 31 Desember 2016). kasus
Silent W. Acute Appendicitis And Peritonitis, In: Kasper D1, Fauci As, Longo
D1.
Sjamsuhidajat, R. dan De Jong W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
Medikal Bedah .
Syamsuhidayat, R., Jong, W.D. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi II. Jakarta :
EGC.
T. Heather Herdman, Shigemi Kamitsuru ; alih bahasa, Budi Anna Keliat. 2015,