FORMAT LAPORAN KEUANGAN UMKM
BERDASARKAN SAK EMKM
Pelaporan keuangan yang baik adalah salah satu kunci sukses UMKM untuk dapat bertahan
dan bertumbuh ditengah persaingan usaha yang semakin ketat saat ini. Namun sayang banyak
UMKM yang belum melek keuangan hingga abai dengan pelaporan keuangan usahanya, yang
berujung pada kesalahan dalam pengambilan keputusan keuangan perusahaan.
Untuk membantu UMKM dalam menyusun laporan keuangan yang terstandar dan bisa
dijadikan bahasa bisnis dengan pihak eksternal dan internal, pada 24 Oktober 2016 IAI
menerbitkan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro Kecil dan Menengah (SAK EMKM).
SAK EMKM dapat membantu UMKM dalam membuat kebijakan akuntansi serta penyajian
laporan keuangan. SAK EMKM menjadi salah satu pilar SAK yang berlaku di Indonesia, selain
SAK Umum dan SAK ETAP.
SAK EMKM: Why?
Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) disusun
untuk memenuhi kebutuhan pelaporan keuangan entitas mikro, kecil, dan menengah. Undang-
Undang yang relevan sebagai acuan pengaturan tentang definisi, kriteria, dan rentang
kuantitatif usaha mikro, kecil, dan menengah diantaranya adalah Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2008 (UU 20/2008).
Rentang kuantitatif sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 6 dalam UU No 20 Tahun 2008,
bahwa kriteria UMKM berdasarkan kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan adalah
sebagai berikut:
• Usaha Mikro: memiliki kekayaan bersih (tidak termasuk tanah dan bangunan) paling
banyak Rp50.000.000 atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak
Rp300.000.000;
• Usaha Kecil: memiliki kekayaan bersih (tidak termasuk tanah dan bangunan) antara
Rp50.000.000 dan Rp500.000.000 atau memiliki hasil penjualan tahunan antara
Rp300.000.000 dan Rp2.500.000.000;
• Usaha Menengah: memiliki kekayaan bersih (tidak termasuk tanah dan bangunan)
antara Rp500.000.000 dan Rp10.000.000.000 atau memiliki hasil penjualan tahunan
antara Rp2.500.000.000 dan Rp50.000.000.000.
Rentang kuantitatif modal usaha berdasarkan Kriteria PP No. 7 Tahun 2021 terdiri atas:
• Usaha Mikro memiliki modal usaha sampai dengan paling banyak Rp1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;
• Usaha Kecil rnemiliki modal usaha lebih dari Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)
sampai dengan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) tidak termasuk
tanah dan bangunan tempat usaha; dan
• Usaha Menengah merniliki modal usaha lebih dari Rp5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah) sampai tlengan paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh rniliar rupiah)
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
Rentang kuantitatif hasil penjualan tahunan berdasarkan PP No. 7 Tahun 2021 terdiri atas:
• Usaha Mikro memiliki hasil penjualan tahunan sampai dengan Paling banyak
Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah);
• Usaha Kecil memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.000.000.000,00 (dua
miliar rupiah) sampai dengan Paling banYak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar
rupiah); dan
• Usaha Menengah memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp15.000.o00.000,o0
(lima belas miliar rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima
puluh miliar rupiah).
Beberapa alasan yang mengijinkan UMKM boleh menggunakan SAK EMKM karena
• SAK ETAP dinilai masih terlalu berat untuk Usaha Mikro dan Kecil (Kebutuhan
ketersediaan Standar Akuntansi yang lebih sederhana karena keterbatasan SDM)
• Usaha Mikro dan Kecil dapat Bankable sehingga mendapatkan akses pendanaan dari
lembaga keuangan
• Amanah UU: Pasal 29 ayat 1 Undang-Undang No 1 Tahun 2013 tentang Lembaga
Keuangan Mikro mensyaratkan agar lembaga keuangan mikro melakukan dan
memelihara pencatatan dan/atau pembukuan keuangan yang sesuai dengan SAK yang
berlaku
Jenis Laporan Keuangan UMKM
Laporan keuangan UMKM lebih sederhana dari laporan keuangan perusahaan yang kategori
besar yang mengacu pada SAK Umum atau SAK ETAP. Pada umumnya laporan keuangan
terdiri dari 5, yaitu Laporan Posisi Keuangan, Laporan Laba Rugi, Laporan Arus Kas, Laporan
Perubahan Ekuitas, dan Catatan Atas Laporan Keuangan. Menurut SAK EMKM, laporan
keuangan UMKM minimum terdiri dari 3 jenis, yaitu :
1. Laporan Posisi Keuangan
2. Laporan Laba Rugi
3. Catatan Atas Laporan Keuangan
Laporan Posisi Keuangan
Laporan posisi keuangan atau yang biasa disebut Neraca adalah laporan keuangan yang
menyajikan informasi tentang aset, liabilitas, dan ekuitas entitas pada akhir periode pelaporan.
1. Aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh entitas sebagai akibat dari peristiwa
masa lalu dan yang dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan
diperoleh oleh entitas.
2. Liabilitas adalah kewajiban kini entitas yang timbul dari peristiwa masa lalu, yang
penyelesaiannya mengakibatkan arus keluar dari sumber daya entitas yang
mengandung manfaat ekonomi.
3. Ekuitas adalah hak residual atas aset entitas setelah dikurangi seluruh liabilitasnya
Dalam SAK EMKM Bab 4 dijelaskan bahwa Laporan Posisi Keuangan pada umumnya
mencakup akun-akun berikut ini:
1. kas dan setara kas;
2. piutang;
3. persediaan;
4. aset tetap;
5. utang usaha;
6. utang bank;
7. ekuitas
SAK EMKM tidak menentukan format atau urutan terhadap akun-akun yang disajikan.
Meskipun demikian, entitas dapat menyajikan akun-akun aset berdasarkan urutan likuiditas
dan akun-akun liabilitas berdasarkan urutan jatuh tempo.
Entitas dapat menyajikan aset lancar dan aset tidak lancar serta liabilitas jangka pendek dan
liabilitas jangka panjang secara terpisah di dalam laporan posisi keuangan.
Berikut ini adalah contoh format Laporan Posisi Keuangan untuk UMKM berdasarkan SAK
EMKM:
Laporan Laba Rugi
Laporan Laba Rugi menyajikan informasi kinerja keuangan entitas yang mencakup
Penghasilan dan Beban.
1. Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama periode
pelaporan dalam bentuk arus kas masuk atau kenaikan aset, atau penurunan
liabilitas yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi
penanam modal.
2. Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama periode pelaporan
dalam bentuk arus kas keluar atau penurunan aset, atau kenaikan liabilitas yang
mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak disebabkan oleh distribusi kepada
penanam modal.
Penghasilan (income) meliputi pendapatan (revenues) dan keuntungan (gains).
1. Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas
yang normal, yang dikenal dengan berbagai sebutan, misalnya: penjualan, imbalan,
bunga, dividen, royalti, dan sewa.
2. Keuntungan mencerminkan akun lain yang memenuhi definisi penghasilan namun
tidak termasuk dalam kategori pendapatan, misalnya: keuntungan dari pelepasan
aset
Beban mencakup beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang normal dan
kerugian.
1. Beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang normal meliputi,
misalnya, beban pokok penjualan, upah, dan penyusutan.
2. Kerugian mencerminkan akun lain yang memenuhi definisi beban namun tidak
termasuk dalam kategori beban yang timbul dari pelaksanaan aktivitas entitas yang
normal, misalnya: kerugian dari pelepasan aset
Laporan laba rugi entitas dapat mencakup akun-akun sebagai berikut:
1. pendapatan;
2. beban keuangan;
3. beban pajak
Berikut ini contoh format laporan laba rugi berdasarkan SAK EMKM :
Catatan Atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan memuat:
1. suatu pernyataan bahwa laporan keuangan telah disusun sesuai dengan ED SAK
EMKM;
2. ikhtisar kebijakan akuntansi;
3. informasi tambahan dan rincian akun tertentu yang menjelaskan transaksi penting
dan material sehingga bermanfaat bagi pengguna untuk memahami laporan
keuangan.
Berikut ini contoh format Catatan Atas Laporan Keuangan untuk UMKM berdasarkan SAK
EMKM:
PERPAJAKAN UMKM
KATEGORI UMKM SEBAGAI DASAR PENGENAAN PAJAK UMKM
Perlu dipahami, UMKM tidak hanya WP Pribadi saja tapi juga bisa sebagai WP Badan.
Sebelum membahas terkait terbaru dalam UU HPP dan tarif pajak UMKM terbaru berapa
persen, terlebih dahulu akan diulas apa saja kategori bahwa suatu usaha itu tergolong dalam
UMKM. Sebab hal ini akan memengaruhi bagaimana kewajiban pajaknya. Antara UMKM dan
Non-UMKM, kewajiban pajaknya berbeda.
Tidak semua usaha dapat dikategorikan UMKM. Ada kriteria tertentu jenis usaha itu termasuk
tergolong sebagai UMKM. Golongan UMKM ini pun harus dilihat dari berbagai aspek, mulai
dari jumlah pendapatan usahanya, hingga bagaimana operasional dari bisnis tersebut.
Menurut Undang-Undang No. 20 tahun 2008 tentang UMKM, penggolongan UMKM
dibedakan berdasarkan jumlah aset dan total omzet penjualan. Sedangkan menurut Badan
Pusat Statistik (BPS) Indonesia, penggolongan tersebut termasuk jumlah karyawan. Kategori
usaha yang tergolong sebagai UMKM adalah:
a. Kategori UMKM Berdasarkan Omzet
Kategori UMKM didasarkan dari berapa besar jumlah omzet yang didapatkan setiap tahunnya
tertera dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM.
1. Skala Usaha Mikro
Kriteria:
• Kekayaan bersih/aset (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) maksimal
Rp50.000.000 setahun
• Hasil penjualan/omzet maksimal Rp300.000.000 setahun
2. Skala Usaha Kecil
Kriteria:
• Kekayaan bersih/aset (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha)
maksimal >Rp50.000.000 – Rp500.000.000
• Hasil penjualan/omzet maksimal >Rp300.000.000 – Rp2.500.000.000
3. Skala Usaha Menengah
Kriteria:
• Kekayaan bersih/aset (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha)
maksimal >Rp500.000.000 – Rp10.000.000.000
• Hasil penjualan/omzet maksimal >Rp2.500.000.000 – Rp50.000.000.000
b. Kategori UMKM Berdasarkan Skala Usaha
Kategori UMKM juga dapat dibedakan berdasarkan skala usahanya untuk menentukan berapa
persen pajak yang harus dibayar, diantaranya adalah:
1. Kategori Usaha Mikro
• Tempat usaha tidak menetap atau bisa berpindah-pindah
• Jenis produk yang dijual dapat berubah sewaktu-waktu
• Belum memiliki izin usaha
• Tidak memiliki NPWP
• Belum melakukan pencatatan keuangan
• Masih mencampur keuangan pribadi dan hasil usaha
• Belum ada akses ke bank, tapi memanfaatkan pinjaman non-bank
2. Kategori Usaha Kecil
• Tempat usaha sudah menetap
• Jenis produk yang dijual tidak mudah berubah
• Sudah memiliki pengalaman berusaha
• Memiliki izin usaha
• Memiliki NPWP
• Mengelola administrasi keuangan sederhana
• Memisahkan keuangan pribadi dan uang hasi usaha
• Dapat mengakses modal ke bank maupun non-bank
3. Kategori Usaha Menengah
• Tempat usaha sudah menetap
• Jenis produk sudah tetap
• Memiliki NPWP perusahaan
• Memiliki izin usaha atau mendirikan perusahaan
• Punya SDM yang berpendidikan
• Memiliki manajemen SDM sesuai fungsi dan tugas masing-masing
• Melakukan administrasi keuangan dengan sistem akuntansi
• Memiliki akses modal ke perbankan maupun non-bank
• Melakukan pengelolaan organisasi perburuhan
Kelompok UMKM Berdasarkan Perpajakan
Perlu dipahami, UMKM terbagi menjadi 2 kategori berdasarkan berapa persen pajak yang
harus dibayarkan, di antaranya:
a. UMKM dengan penghasilan bruto tertentu
Jadi pajak UMKM dengan omzet atau peredaran bruto tertentu yang harus dibayarkan adalah
berapa persen? Sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2018, UMKM dengan
omzet bruto di bawah Rp4,8 miliar setahun dapat menggunakan tarif PPh Final sebesar 0,5%
dari penghasilan bruto. Sehingga ketentuan penyampaian SPT Tahunan PPh bagi UMKM
dengan penghasilan bruto tertentu ini mengikuti tata cara penyampaian SPT tahunan secara
umum. Namun perlu memerhatikan penyampaian informasi penghasilan bruto dan PPh yang
telah dibayar atas penghasilan tersebut. Informasi tersebut harus diisi pada bagian PPh Final
yang terdapat pada masing-masing SPT Tahunan PPh. Serta dilengkapi lampiran khusus daftar
rekap penghitungan peredaran bruto dan pembayaran PPh Final PP 23 Tahun 20218 tersebut.
b. UMKM dengan status PKP
UMKM dengan status Pengusaha Kena Pajak (PKP) ini artinya sudah memiliki omzet bruto
lebih dari Rp4,8 miliar setahun dan hanya boleh menggunakan tarif PPh normal. Tarif PPh
normal adalah sesuai Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, yakni
25%. Melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No. 1 Tahun 2020,
tarif PPh Badan turun menjadi 22% di 2020 dan 2021, lalu turun menjadi 20% di 2022, dan
tambahan 3% menjadi 17% khusus untuk Perseroan Terbuka (Tbk).
KEWAJIBAN PAJAK UMKM
Seperti yang sempat disinggung di atas, bahwa status usaha yang dijalankan memiliki
kewajiban pajak yang berbeda. Tentu saja, di sini tidak membicarakan untuk kategori jenis
usaha mikro, karena usaha mikro jelas-jelas bukan merupakan objek/subjek pajak. Sehingga
tidak memiliki kewajiban perpajakan atau tidak dikenakan pajak. Tapi, yang menjadi target
pajak adalah jenis Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dengan ketentuan jumlah omzet yang
sudah diharuskan membayar pajak.
Sebagai pengusaha UKM, inilah kewajiban perpajakannya yang dibayarkan perusahaan, yang
terdiri dari dua jenis pajak yakni pajak yang dibayarkan ataupun dilaporkan setiap bulannya
dan pajak yang dibayarkan serta dilaporkan setiap tahun atau pajak tahunan.
a. Pajak Bulanan
Pajak yang dibayarkan atau dilaporkan setiap bulannya biasa disebut Pajak Masa, terdiri dari:
1. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21
Jika UKM memiliki karyawan dengan jumlah pegawai termasuk dalam yang dikenakan pajak
penghasilan, wajib memotong PPh 21 dari gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran
dengan nama serta dalam bentuk apapun yang masih terkait dengan pekerjaan, jasa, juga
kegiatan yang dilakukan WP Dalam Negeri, pekerjanya tersebut. Kemudian menyetorkan hasil
pemotongan PPh 21 tersebut ke kas negara. Berikutnya perusahaan harus memberikan lembar
bukti potong atau bukti pemotongan PPh 21 ke karyawan atau yang bersangkutan tersebut.
2. PPh Pasal 23
Untuk PPh Pasal 23 lebih ditujukan kepada kategori usaha menengah. Kewajiban PPh 23 jika
perusahaan melakukan transaksi berupa pembayaran dividen/pembagian keuntungan kepada
pemegang saham yang berbentuk perusahaan dengan jumlah kepemilikan saham paling besar
25%. Lalu ketika perusahaan melakukan pembayaran royalti, pembayaran bunga pinjaman
selain pada bank, pembayaran hadiah, juga penghargaan dan bonus selain yang dipotong PPh
Pasal 21.
Kemudian jika perusahaan melakukan pembayaran sewa atas penggunaan harta, pembayaran
imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan dan
jasa lain yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 141/PMK.03/2015.
Jadi, perusahaan yang melakukan transaksi PPh 23 ini wajib memotong pajaknya dari WP
Orang Pribadi maupun WP Badan Dalam Negeri.
3. PPh Pasal 26
Kewajiban pajak bagi UKM berikutnya adalah PPh Pasal 26 apabila melakukan transaksi
dengan WP Luar Negeri. Transaksi tersebut berupa pembayaran gaji, jasa, dividen, bunga,
royalti, sewa, dan lainnya yang terdapat pada PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 23. Sehingga
perusahaan memotong PPh 26 atas transaksi tersebut dari WP Luar Negeri, baik itu WP Orang
Pribadi Asing maupun WP Badan Asing.
4. PPh Pasal 4 ayat (2)
UKM juga memiliki kewajiban PPh Pasal 4 ayat (2) adalah pajak penghasilan yang dikenakan
atas transaksi persewaan atas tanah dan/atau bangunan, pengalihan hak atas tanah dan/atau
bangunan, penghasilan atas usaha dari jasa konstruksi, dan dari dividen perusahaan yang
dibayarkan pada orang pribadi. Lalu pajak UMKM terkait pasal ini berapa persen? Untuk
pemotongan PPh 4 ayat (2) ini bersifat final, jadi penghasilan yang telah dipotong itu tidak
diperhitungkan lagi dalam SPT Tahunan PPh Badan.
5. PPh Final PP 23/2018 (Pajak UMKM)
Pengusaha UKM juga dikenakan PPh Final sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun
2018 tentang PPh atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh WP yang memiliki
peredaran bruto tertentu. Namun, PPh Final PP 23/2018 ini sebenarnya sifatnya lebih kepada
insentif bagi pelaku UKM, khususnya WP Badan yang boleh memilih jenis tarif PPh Final PP
23/2018 ini karena lebih kecil dibanding tarif PPh Badan normal yang di mencapai dobel digit.
WP Badan yang bisa menggunakan tarif PPh Final UMKM PP 23/2018 memiliki jangka waktu
berbeda-beda sesuai bentuk usahanya, apakah berbentuk CV, Koperasi, Firma, atau PT.
6. PPN
Bagi pengusaha UKM juga diwajibkan atas Pajak Pertambahan Nilai ( PPN ) ketika sudah
dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP). Meski WP Badan maupun WP Pribadi
Pengusaha memiliki omzet bruto di bawah Rp4,8 miliar, dapat memilih sebagai PKP. Sehingga
UKM yang telah menjadi PKP ini wajib menerbitkan Faktur Pajak dan dapat mengkreditkan
Pajak Masukan yang lebih bayar sebagai pengurang pajak pada penyampaian SPT Tahunan.
Atau, dapat mengkreditkan PPN terutang lebih bayar untuk masa pajak berikutnya maupun
melakukan restitusi atau pengembalian pajak lebih bayar.
b. Pajak Tahunan
Sedangkan kewajiban pajak yang dibayarkan atau dilaporkan secara tahunan atau disebut
Tahunan Pajak, adalah:
• PPh Badan
UKM dengan kategori pengusaha dengan skala usaha menengah dikenakan PPh Badan yang
dibayarkan setahun sekali atau melalui angsuran PPh Pasal 25 yang dibayarkan setiap bulan.
TARIF PAJAK UMKM
Setelah mengetahui kewajiban pajak apa saja yang berlaku bagi UMKM, khususnya UKM,
berikutnya ketahui tarif pajak UMKM berapa persen di bawah ini. Bicara pajak UMKM,
memang identik dengan Pajak Penghasilan ( PPh ) yang dikenakan pajak pelaku UMKM atau
biasa disebut pajak PP 23 UMKM.
Pajak UMKM atau Tarif PP 23 UMKM
Pajak UMKM atau PPh UMKM adalah jenis pajak penghasilan yang dikenakan terhadap
penghasilan di luar pekerjaan formal. PPh UMKM ini juga merupakan pajak penghasilan yang
bersifat final. Karena pengenaan pajak UMKM ini bersifat final, maka pajak penghasilan yang
harus dibayarkan sudah final, tidak dapat diikutsertakan dalam penghitungan PPh Terutang
tahunan. Pajak UMKM ini dikenakan atas penghasilan atau peredaran bruto setiap bulannya
dan harus dibayarkan atau disetorkan ke kas negara tiap bulan pula.
a. Objek Pajak UMKM
Dari penjelasan di atas, maka dapat diketahui bahwa pajak UMKM adalah pajak yang
dikenakan terhadap penghasilan dari penghasilan atau omzet/peredaran bruto usaha. Dengan
demikian, yang menjadi objek pajak UMKM adalah:
• Penghasilan dari usaha
• Peredaran bruto (omzet) setahun tidak melebihi Rp4,8 miliar setahun
• Omzet ditotal dari seluruh gerai/outlet, baik pusat atau cabang tidak lebih dari Rp4,8 miliar
setahun
b. Subjek Pajak UMKM
Bagaimana dengan subjek pajak UMKM ini? WP yang Dapat Menggunakan Tarif PPh Final
PP 23 adalah? Tarif PPh Final PP 23 Tahun 2018 ini tidak hanya berlaku bagi WP Badan
tertentu, tapi juga WP Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha. Lalu, siapa saja yang
masih boleh menggunakan tarif PPh Final UMKM 2018 juga berapa persen besarnya? Sesuai
dengan Pasal 3 ayat (1) PP 23/2018, WP berikut yang masih boleh menikmati PPh Final 0,5%:
• WP Orang Pribadi
• WP Badan berbentuk Koperasi, Persekutuan Komanditer (CV/Commanditaire
Vennootschap), Firma, atau Perseroan Terbatas (PT) yang memiliki atau memperoleh
penghasilan dengan peredaran bruto tidak lebih dari Rp4,8 miliar dalam satu tahun pajak
(setahun).
Artinya, baik Wajib Pajak Orang Pribadi maupun Wajib Pajak Badan, selama mendapatkan
penghasilan sesuai ketentuan dalam peraturan perpajakan pajak penghasilan, menjadi subjek
pajak UMKM.
c. Jenis Tarif PPh Final atau Tarif Pajak UMKM
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur pajak UMKM, ada dua jenis pajak
UMKM, namun peraturan terbaru statusnya menggantinya peraturan yang lama.
Apa saja dua jenis pp yang mengatur pajak UMKM?
1. Pajak UMKM Berdasarkan PP No. 46 Tahun 2013 Berapa Persen?
Awalnya, pajak UMKM ini diatur dalam PP 46 Tahun 2018 tentang PPh atas Penghasilan dari
Usaha yang Diterima atau Diperoleh WP yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Tarif PPh
Final UMKM sesuai PP 46 Tahun 2013 adalah 1% dari omzet atau peredaran bruto. Dengan
munculnya jenis pajak UMKM yang diatur dalam PP 23/2018, maka mencabut PP 46/2013.
2. Pajak UMKM Berdasarkan PP No. 23 Tahun 2018 Berapa Persen?
Dengan munculnya PP 23 Tahun 2018 tentang PPh atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima
atau Diperoleh WP yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu, maka hal-hal yang mengatur
pajak UMKM khususnya besar tarif pajaknya jadi berubah. Dalam PP 23 Tahun 2018 ini, besar
tarif PPh Final UMKM jadi lebih rendah atau turun separuhnya dibanding PP 46 Tahun 2013.
Jadi tarif PPh Final pajak UMKM sesuai skema PP 23 Tahun 2018 adalah 0,5% dari
peredaran/omzet bruto. Tarif PPh Final PP 23 Tahun 2018 ini bukanlah tarif yang berlaku
selamanya, tapi hanya untuk jangka waktu tertentu.
Apa Keuntungan Skema PP 23 Pajak UMKM?
Ada paradigma baru dalam pengenaan PPh Final Pajak UMKM sesuai PP 23 Tahun 2018 ini,
yaitu:
a. Administrasi lebih mudah
Dalam skema PP 23 Tahun 2018, terdapat Surat Keterangan yang menerangkan pemotongan
PPh Final sebesar 0,5% atas penghasilan Wajib Pajak UMKM dari nilai dasar pengenaan
pajaknya. Teknis ini semakin mempermudah Sobat Klikpajak mengurus administrasi karena
tidak perlu datang ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP). Wajib Pajak Badan selaku pemotong atau
pemungut PPh terus dibekali pembekalan dan pendampingan secara masif agar tidak terjadi
resistensi dalam penggunaan Surat Keterangan PP 23 Tahun 2018 ini.
b. Ada kepastian
Peraturan baru menegaskan bahwa sekali Wajib Pajak memiliki omzet di atas Rp4,8 miliar,
maka di Tahun tersebut dan seterusnya wajib menggunakan tarif PPh Pasal 17 dan mengadakan
pembukuan. Hal ini dianggap lebih memberikan kepastian hukum bagi Wajib Pajak dan
memudahkan skema penghitungan PPh.
c. Menjadikan PPh Final sebagai pilihan
Aturan sebelumnya, PPh Final berlaku atas penghasilan yang diperoleh dari transaksi sebelum
dikurangi biaya usaha sehingga Wajib Pajak tidak dapat mengakui kerugiannya. Skema
pemajakan ini dinilai sederhana dan tepat sasaran dan dijadikan sebuah opsi. Wajib Pajak
hanya perlu mengirimkan surat pemberitahuan ke pihak KPP terdaftar dahulu untuk
menggunakan metode PPh Final. Dengan demikian, pelaku UMKM lebih mudah memenuhi
kewajiban pajak karena lebih sederhana dan dinilai lebih adil serta dapat optimal memenuhi
kewajiban pajaknya.
d. Membuat pembukuan menjadi mudah
Melalui skema PP 23 pajak UMKM, Sobat Klikpajak berkesempatan untuk belajar pembukuan
dan menghitung laba bersih atas pengenaan PPh Final atas usahanya.
Aturan Pajak UMKM dalam Skema PP 23
Seperti yang sudah disinggung di atas, tidak semua wajib pajak atau pelaku usaha dapat
menggunakan tarif pajak UMKM. Berikut adalah aturan pajak UMKM dalam skema PP 23
Tahun 2018 dan siapa saja wajib pajak atau pelaku usaha yang dapat menggunakan tarif khusus
setengah persen ini:
a. Aturan Pajak UMKM PP 23 Tahun 2018
Sesuai penjelasan di atas bahwa pajak UMKM merupakan pajak yang dikenakan secara final
Sehingga PPh Final dalam skema PP 23 pajak UMKM ini tidak dapat dikreditkan di akhir tahun
pajak pada saat pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) PPh Tahunan. Setelah diterbitkannya PP
23 Tahun 2018, menyusul beleid baru dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor
99/PMK.03/2018 tentang Pelaksanaan PP 23/2018. Melalui PMK 99/2018 ini, maka Pajak
Penghasilan yang terutang dapat dilunasi dengan 2 cara, yaitu:
• Pertama, disetor sendiri oleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu.
• Kedua, dipotong atau dipungut oleh pemotong atau pemungut pajak yang ditunjuk sebagai
Pemotong atau Pemungut Pajak.
• Pemotong atau pemungut pajak tersebut berkedudukan sebagai pembeli atau pengguna jasa
melakukan pemotongan atau pemungutan pajak terhadap wajib pajak yang memenuhi
kriteria PP 23/2018 dengan tarif setengah persen.
Untuk menjadi perhatian, pemungutan/pemotongan PPh Final sesuai PP 23 Tahun 2018
sebesar 0,5% ini dipungut/dipotong terhadap WP yang sudah memiliki Surat Keterangan PP
23 Tahun 2018.
Tarif Pajak UMKM Sesuai Jenis-Jenis Pajak UMKM
Ada beberapa jenis pajak yang dikenakan pada UKM atau biasa disebut pajak UMKM.
Tergantung aktivitas perpajakan apa yang dilakukan atau menjadi kewajiban adminitrasi
perpajakan UKM tersebut seperti yang sudah dijelaskan di atas.
Beikut adalah tarif jenis-jenis pajak UMKM atau tarif jenis pajak yang dikenakan pada UMKM:
a. Tarif PPh Pasal 21
Sebagai UKM juga memiliki kewajiban memotong PPh 21 karyawan setiap bulannya.
Guna mengetahui berapa besar PPh yang harus dipotong perusahaan dari gaji karyawan dan
lainnya, dengan terlebih dahulu mengalikan Penghasilan Kena Pajak dengan tarif PPh Pasal 17.
Ini disebut sebagai tarif PPh progresif. Jadi, besar tarif PPh 21 yang terutang ditentukan dengan
mengalikan Penghasilan Kena Pajak dengan tarif PPh 17, yang diatur kembali dalam UU HPP
No. 7 Tahun 2021 yakni:
• 5% untuk penghasilan Rp0 – Rp60.000.000 per tahun
• 15% untuk penghasilan Rp60.000.000 – Rp250.000.000 per tahun
• 25% untuk penghasilan Rp250.000.000 – Rp500.000.000 per tahun
• 30% untuk penghasilan Rp500.000.000 – Rp5.000.000.000 per tahun
• 35% untuk penghasilan di atas Rp5.000.000.000 setahun
b. Tarif PPh Pasal 23
Sedangkan tarif PPh 23 dibedakan antara yang memiliki NPWP dan yang tidak memiliki
NPWP.
1. Tarif PPh 23 yang Memiliki NPWP
• 15% untuk dividen, royalti, bunga pinjaman, hadiah, penghargaan dan bonus
• 2% untuk sewa atas penggunaan harta, jasa
2. Tarif PPh 23 yang Tidak Memiliki NPWP
• 30% untuk dividen, royalti, bunga pinjaman, hadiah, penghargaan dan bonus
• 4% untuk sewa atas penggunaan harta, jasa
c. Tarif PPh Pasal 26
Tarif PPh 26 sebesar 20% dari penghasilan bruto yang diterima oleh orang asing atau badan
asing. Tapi tarif pemotongan PPh 26 ini dapat berubah menjadi lebih rendah, bahkan tidak
dikenakan pajak jika negara penerima penghasilan tersebut memiliki kerja sama Persetujuan
Penghindaran Pajak Berganda (P3B) atau Tax Treaty dengan Indonesia. Bagi penerima
penghasilan ini, wajib menunjukkan Surat Keterangan Domisili dari negara asalnya tersebut.
d. Tarif PPh Pasal 4 ayat (2)
Besar tarif PPh 4 ayat (2) dibedakan berdasarkan jenis usahanya hingga skala usaha, apakah
termasuk kualifikasi usaha kecil, atau bahkan tidak memiliki kualifikasi usaha.
Berikut tarif PPh Pasal 4 ayat (2):
No. Jenis Penghasilan Tarif
1 Persewaan atas tanah dan/atau bangunan 10%
2 Pengalihan ha katas tanah dan/atau bangunan 2,5%
3 Pengalihan atas usaha Jasa Konstruksi:
a. Jasa Pelaksana Konstruksi:
– Kualifikasi usaha kecil 2%
– Kualifikasi usaha selain kecil 3%
– Tidak memiliki kualifikasi usaha 4%
b. Jasa Perencanaan & Pengawasan Konstruksi:
– Memiliki kualifikasi usaha 4%
– Tidak memiliki kualifikasi usaha 6%
4 Dividen yang dibayarkan kepada Orang Pribadi 10%
Catatan: Penentuan kualifikasi usaha dari perusahaan jasa konstruksi tertera pada Sertifikat
Badan Usaha (SBU) yang dimiliki perusahaan.
Begini cara mudah langkah-langkah Bayar Pajak Online di e-Biling
e. Tarif PPh Final PP 23/2018 ( Tarif Pajak UMKM )
Seperti yang sudah disebutkan di atas, besar tarif PPh Final PP 23/2018 adalah 0,5% dari
peredaran bruto. UKM yang termasuk dalam kelompok yang dapat menggunakan tarif PPh
Final PP 23/2018 sebesar 0,5% ini adalah WP Pribadi Pengusaha maupun WP Badan yang
memiliki peredaran usaha di bawah Rp4.800.000.000 dalam 1 tahun maupun yang memiliki
omzet bruto di atas Rp4,8 juta dengan jangka waktu sesuai ketentuan peraturan perundangan
perpajakan.
Bagi UKM yang omzet bruto di bawah Rp4,8 miliar atau lebih dari Rp4,8 miliar setahun dan
memilih melakukan pencatatan, dikenakan tarif PPh Final 0,5% dari peredaran bruto setiap
bulan, yang harus dibayarkan pula setiap bulannya. Namun, tidak selamanya UKM dapat
menikmati tarif PPh Final 0,5% dari omzet bruto ini. Berikut ketentuan penggunaan tarif PPh
Final UMKM 0,5% PP 23/2018:
• 7 tahun untuk WP Orang Pribadi
• 4 tahun untuk WP Badan berbentuk Koperasi, CV, atau Firma
• 3 tahun untuk WP Badan berbentuk Perseroan Terbatas (PT)
Jangka waktu penggunaan tarif PPh Final 0,5% tersebut terhitung sejak:
• Tahun Pajak WP terdaftar, bagi WP yang terdaftar sejak berlakunya PP 23/2018
• Tahun Pajak berlakunya PP 23/2018, bagi WP yang terdaftar sebelum berlakunya PP ini
Bagaimana jika jangka waktu penggunaan tarif PPh Final 0,5% sesuai PP 23/2018 sudah
selesai? Maka, WP dapat kembali menggunakan tarif PPh Final 1% sesuai PP 46/2013.
f. Tarif PPN
Besar tarif PPN yang dipungut dari penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena
Pajak (JKP) di dalam negeri, termasuk impor adalah 11%. Sesuai regulasi pajak terbaru dalam
UU HPP No. 7 Tahun 2021, tarif PPN dinaikkan. Selengkapnya baca Kenaikan Tarif PPN
Terbaru. Namun, untuk kegiatan ekspor dikenakan tarif PPN 0% alias bebas PPN.
g. Tarif PPh Badan
Tarif PPh WP Badan sebesar 25% dari Penghasilan Kena Pajak, yang berlaku sejak 2010 sesuai
UU PPh No. 36 Tahun 2008. Namun, khusus WP Badan berbentuk Perseroan Terbuka (Tbk),
Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 30 Tahun 2020 tentang
Penurunan Tarif PPh Bagi WP Badan Dalam Negeri yang Berbentuk Perseroan Terbuka.
Ilustrasi tarif pajak UMKM terbaru berapa persen
Dasar Penghitungan PPh Bagian dari Pajak UMKM
Perlu dipahami, wajib pajak UMKM itu bisa berupa WP Badan maupun WP Pribadi yang
melakukan kegiatan usaha/bisnis atau disebut WP Pribadi Pengusaha. Untuk mengetahui besar
PPh yang harus dibayarkan ke kas negara, UKM harus menghitung terlebih dahulu berapa
besar PPh Terutangnya. Guna mengetahui jumlah PPh Terutang, UKM harus mengetahui
Dasar Pengenaan Pajak (DPP) pajak penghasilannya, dengan cara:
Menghitung jumlah Penghasilan Kena Pajak, kemudian mengalikannya dengan tarif pajak
badan bagi WP Badan atau mengalikan dengan tarif pajak progresif PPh Pasal 17 ayat (1) bagi
WP Pribadi Pengusaha UMKM ataupun WP Badan yang memiliki kewajiban memungut PPh
21 karyawan harus memerhatikan pajak progresif WP Pribadi ini.
Namun sebelum itu, bagi WP Pribadi UMKM atau WP Badan yang memotong PPh 21
karyawan, harus mengurangkan penghasilan bruto dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak
(PTKP) untuk penghitungan PPh WP Orang Pribadi (WP OP).
Besar PTKP tergantung dari statusnya apakah WP termasuk memiliki tanggungan atau tidak
sesuai UU PPh No. 36/2008. Besar PTKP ini bisa berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi
yang ada dan ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) sebagai aturan
pelaksanaannya. Sesuai PMK Nomor 101/PMK.010/2016 tentang Penyesuaian Besarnya
Penghasilan Tidak Kena Pajak, berikut besar PTKP Orang Pribadi:
• Rp54.000.000 = PTKP untuk WP Orang Pribadi
• Rp4.500.000 = Tambahan PTKP untuk WP yang kawin
• Rp54.000.000 = Tambahan PTKP untuk seorang istri yang penghasilannya digabung
dengan penghasilan suami
• Rp4.500.000 = Tambahan PTKP untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga
semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan
sepenuhnya, paling banyak 3 orang untuk setiap keluarga
DASAR PENGHITUNGAN PPH BAGIAN DARI PAJAK UMKM
Rumus PPh Pajak UMKM Adalah Sebagai Berikut
a. Rumus untuk mencari Penghasilan Kena Pajak WP OP adalah:
• Penghasilan Kena Pajak = Penghasilan Neto – PTKP
b. Sedangkan rumus untuk mencari PPh Terutang adalah:
• PPh Terutang = Penghasilan Kena Pajak x Tarif PPh Pasal 17
c. Rumus pajak perusahaan (WP) Badan dalam hal ini UKM adalah:
• PPh Badan = Penghasilan Kena Pajak x Tarif PPh Badan
d. Jika untuk PPh Badan UMKM/UKM dengan tarif PPh Final, ada beberapa cara
penghitungan, yakni:
• Mekanisme PPh OP secara Umum
• PPh Final PP 23/2018
• Mekanisme Norma Penghitungan Penghasilan Neto (NPPN)
Contoh Perhitungan Pajak PPh Final UMKM Berapa Persen Besarnya:
Contoh 1
Pak Kelik sebagai pengusaha dengan omzet dalam setahun mencapai Rp3.500.000.000 dan
mendirikan usahanya pada tahun 2018. Artinya, Pak Kelik sebagai WP Prbadi yang melakukan
usaha dengan skala UKM dapat memanfaatkan tarif PPh Final 0,5% sesuai PP 23 Tahun 2018.
Karena Pak Kelik merupakan WP Pribadi yang dapat menggunakan fasilitas PPh Final
setengah persen hingga 7 tahun terhitung sejak 2018 dan berakhir pada 2024.
Contoh 2
CV BBB didirikan pada tahun 2021 dengan omzet Rp4.800.000.000 dalam setahun dan
memanfaatkan tarif PPh Final PP 23 Tahun 2018. Karena perusahaan BBB ini berbentuk CV,
maka hanya dapat memanfaatkan fasilitas tarif PPh Final 0,5% ini hingga 2020 saja.
Contoh 3
Perusahaan AAA merupakan WP Badan berbentuk Perserotan terbatas (PT) dengan omzet
sebesar RpRp4.800.000.000 setahun yang didirikan pada tahun 2020 dan memilih
menggunakan tarif PPh Final PP No 23 Tahun 2018.
Karena ketentuan WP Badan berbentuk PT hanya dapat menggunakan tarif PPh Final 0,5%
dari omzet selama 3 tahun, maka Perusahaan AAA hanya dapat menggunakan tarif PPh final
setengah persen ini hingga 2022 saja. Memasuki tahun keempat, yakni pada 2023 Perusahaan
AAA sudah harus menggunakan tarif PPh Badan Normal. Ilustrasi penghitungan dasar
pengenaan pajak UMKM adalah berapa persen
Cara Menghitung Pajak UMKM
Setelah mengetahui kategori UMKM yang dikenakan kewajiban pajak hingga besar tarif
pajaknya, sekarang bagaimana ketentuan cara menghitung pajak UMKM. Pelaku UKM yang
memiliki omzet bruto maksimal Rp4,8 miliar setahun dikenakan PPh Final 0,5% dari peredaran
bruto. Dengan tarif pajak setengah persen tersebut diharapkan dapat meringankan usaha kecil
dan menengah serta memunculkan banyak UKM baru. Untuk menghitung PPh Final PP
23/2018, caranya sangat mudah, yakni semua transaksi penjualan atau jasa bruto per bulan
dikali 0,5%.
Berikut beberapa contoh cara menghitung pajak penghasilan lainnya:
• Penjelasan tentang cara menghitung PPh OP dari mekanisme Umum, PPh Final PP 23/2018,
dan mekanisme NPPN
• Begini langkah-langkah penghitungan PPh Pedagang eceran
• Contoh lainnya cara menghitung PPh Badan
Peraturan Terbaru Pajak UMKM dalam UU HPP
Dalam peraturan terbaru mengenai PPh Final UMKM yang tertuang dalam Undang-Undang
No. 7 Tahun 2021, UKM dengan kriteria tertentu tidak dikenakan PPh Final. UMKM kriteria
tertentu artinya UMKM WP Pribadi yang memiliki peredaran bruto tidak mencapai
Rp500.000.000 atau di bawah Rp500 juta tidak dikenakan PPh Final UMKM PP 23/2018.
Lalu untuk pajak UMKM yang peredaran bruto lebih dari Rp500 juta berapa persen besarnya?
Melalui UU HPP ini, maka artinya pemerintah meningkatkan jumlah peredaran bruto kena
pajak.
Sehingga WP Pribadi pelaku usaha kelas mengah yang menggunakan tarif PPh Final Pp
23/2018 akan membayar pajak penghasilan lebih kecil karena nilai penghasilan bruto yang
dikenakan pajak berkurang Rp500 juta sebagaimana ketentuan omzet bruto kurang dari Rp500
juta bebas PPh Final UMKM PP 23 Tahun 2018.
Jadi, poin-poin syarat UMKM tidak dikenai PPh Final sesuai UU HPP adalah:
• Jumlah peredaran bruto atau omzet bruto tidak sampai Rp500 juta
• Menghitung pajak penghasilan dengan menggunakan tarif PPh Final PP 23/2018
Agar lebih mudah memahami perhitungan PPh Pribadi Pengusaha atau UMKM yang bebas
PPh, berikut ilustrasi perhitungannya:
Pak Kelik punya bisnis Katering. Katakanlah jumlah omzet Katering Pak Kelik setiap bulannya
sama, yakni Rp40.000.000 per bulan. Sehingga total omzet setahun adalah Rp480.000.000.
Dan memilih menghitung pajak penghasilan usahanya menggunakan tarif PPh Final 0,5%
berdasarkan PP No. 23 tahun 2018. Maka, perhitungan PPh Final 0,5% PP 23/2018 atas usaha
catering Pak Kelik adalah:
PPh Final = Tarif PPh Final x Peredaran Bruto
= 0,5% x Rp400.000.000
= Rp2.000.000 setahun
atau
= Rp2.000.000 : 12 bulan
= Rp166.666 sebulan
Karena dalam UU HPP ditetapkan peredaran bruto Tidak Kena Pajak sebesar Rp500.000.000,
maka Pak Kelik tidak perlu membayar PPh Final sebesar Rp166.666 tersebut.
Bagaimana jika jumlah omzet bruto setiap bulannya berbeda-beda? Pajak UMKM yang harus
dibayar berapa persen besarnya? Artinya, ada kalanya peredaran usaha yang didapat pada bulan
tertentu ternyata jumlahnya banyak. Untuk lebih mudah memahaminya, simak tabel
penghitungan Pajak Tuan A pengusaha Toko Kelontong pada Tahun Pajak 2022 seperti yang
diilustrasikan Kementerian Keuangan pada pengesahan RUU HPP menjadi UU berikut ini:
*Ilustrasi tabel via dokumentasi DJP Kementerian Keuangan
UKM Bayar PPh Lebih Rendah dengan UU HPP
Berdasarkan ilustrasi perhitungan di atas, jelas bahwa bebas pajak penghasilan pribadi ini
hanya diberikan pada WP Pribadi dengan skala usaha Usaha Mikro dan Usaha Kecil dengan
maksimal omzet bruto Rp500 juta saja. Bagaimana dengan WP Pribadi Pengusaha dengan
skala kecil dan menengah dengan omzet lebih dari Rp500 juta? Melalui UU HPP, bagi WP
Pribadi dengan skala Usaha Kecil dan Menengah atau UKM dengan omzet di atas Rp500 juta,
dapat menikmati PPh yang lebih rendah. Hal ini terlihat jelas dari ilustrasi di atas yang
menunjukkan bahwa Tuan A Pengusaha Toko Kelontong, sebagai pengusaha skala Usaha
Kecil tersebut mendapatkan beban pajak penghasilan yang harus dibayar menjadi berkurang
Rp2.500.000 dalam perhitungan menggunakan tarif PPh Final 0,5% PP 23/2018.
CARA BAYAR PAJAK UMKM
PPh Final UMKM langsung dibayarkan ketika penghasilan diterima dalam masa pajak. Ini
guna menyederhanakan mekanisme perpajakan dan mengurangi beban administrasi wajib
pajak, terutama bagi yang masih dalam tahap berkembang dan belum mampu
menyelenggarakan pembukuan keuangan dengan baik. Perhitungan PPh Final UMKM 0,5%
dari omzet bruto disetor ke kas negara setiap tanggal 15 bulan berikutnya dengan
mencantumkan Kode Akun Pajak 411128 dan Kode Jenis Setoran (KJS) 420. Setelah
mengetahui bagaimana cara menghitung PPh OP maupun PPh Badan, berikutnya adalah
membayarkan pajak pajak dari berbagai aktivitas perpajakan lainnya yang dilakukan UKM.
Jangan lupa, lakukan pembayaran pajak dengan cara yang mudah.
Tapi, sebelum melakukan pembayaran pajak online, Sobat Klikpajak harus memiliki EFIN
terlebih dahulu. Jika belum punya EFIN, seperti ini Cara Mendapatkan EFIN online Untuk WP
Badan atau UMKM. Pembayaran PPh maupun PPN/PPnBM yang dipungut dapat dilakukan
secara daring, dengan terlebih dahulu membuat Kode Billing. Tidak perlu ke ATM,
pembayaran pajak dapat langsung dilakukan di e-Billing Klikpajak.
KETENTUAN DAN CARA LAPOR SPT PAJAK UMKM
Sebagai UMKM, selain membayar PPh dengan penghasilan bruto tertentu, juga wajib
menyampaikan SPT Masa PPh paling lambat 20 hari setelah Masa Pajak berakhir atau setiap
bulannya. Setelah melakukan pelaporan SPT Masa PPh, maka UMKM akan dianggap telah
menyampaikan SPT Masa PPh sesuai dengan tanggal validasi Nomor Transaksi Penerimaan
Negara (NTPN) yang tercantum pada Surat Setoran Pajak (SSP) atau sarana administrasi lain
yang dipersamakan dengan SSP. Namun, jika pelaku UMKM tidak memiliki peredaran usaha
pada bulan tertentu, maka tidak wajib menyampaikan SPT Masa PPh. Akan tetapi, jika pelaku
UMKM tersebut merupakan Pemotong atau Pemungut pajak, maka wajib menyampaikan SPT
Masa PPh atas pemotongan atau pemungutan PPh ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) terdaftar
paling lama 20 hari setelah Masa Pajak berakhir.
Ketentuan penyampaian SPT Tahunan UMKM dengan penghasilan bruto tertentu mengikuti
Tata Cara Penyampaian SPT Tahunan secara umum. Tapi yang harus diperhatikan adalah
terkait penyampaian informasi penghasilan bruto dan PPh yang telah dibayar atas penghasilan
tersebut. DJP menekankan, informasi tersebut harus diisi pada bagian PPh Final yang terdapat
pada masing-masing SPT Tahunan PPh, serta dilengkapi dengan Lampiran Khusus Daftar
Rekap Penghitungan Peredaran Bruto dan Pembayaran PPh.
Contoh Daftar Peredaran Bruto selama 1 Tahun Pajak:
Contoh daftar peredaran bruto 1 tahun pajak UMKM
Mereka yang masuk kategori UMKM dari aspek perpajakan adalah:
1. Hanya memiliki sumber penghasilan dari usaha dengan peredaran bruto tertentu
2. Tidak ada pemotongan/pemungutan PPh oleh pihak lain
Secara sederhana, berikut tahapan perpajakan bagi UMKM:
Untuk itu pelaporan SPT Tahunan UMKM, setidaknya ada beberapa hal yang harus disiapkan,
diantaranya:
1. Punya NPWP
Hal pertama yang harus dimiliki pelaku UMKM untuk dapat melakukan berbagai aktivitas
perpajakan adalah punya Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
Belum memiliki NPWP?
Ikuti syarat dan langkah-langkah cara membuat NPWP Pribadi dan NPWP Badan berikut ini:
• Syarat dan Cara Membuat NPWP Pribadi secara Online
• Syarat dan Cara Membuat NPWP Badan Online
Baca juga tentang ketentuan NIK KTP jadi NPWP
2. Memiliki EFIN
Untuk dapat melaporkan SPT Tahunan UMKM, harus memiliki nomor EFIN (Electronic
Identification Number).
Belum memiliki EFIN?
Berikut syarat dan tutorial cara membuat EFIN Pribadi dan EFIN Badan:
• Syarat dan Cara Membuat EFIN Pribadi Online
• Syarat dan Cara Membuat EFIN Badan secara Online
3. Menyiapkan Dokumen
Langkah selanjutnya dalam menyampaikan SPT Tahunan UMKM adalah menyiapkan
dokumen yang diperlukan, diantaranya:
a. Dokumen yang harus disiapkan WP Pribadi UMKM
Berikut adalah dokumen yang harus disiapkan saat lapor SPT Tahunan PPh Orang Pribadi
UMKM:
1. Formulir 1770
2. Laporan keuangan atas usaha atau neraca dan laporan laba rugi (jika menggunakan metode
pembukuan)
3. Laporan peredaran bruto/rekapitulasi bulanan peredaran bruto dan biaya (jika
menggunakan metode Norma Penghitungan Penghasilan Neto (NPPN)
4. Daftar perhitungan peredaran bruto (jika menggunakan perhitungan sesuai PP 23 UMKM
Tahun 2018)
b. Dokumen yang harus disiapkan WP Badan UMKM
Berikut adalah dokumen yang harus disiapkan saat lapor SPT Tahunan PPh Badan UMKM:
1. Formulir 1771
2. Laporan keuangan atau laba rugi dan neraca
3. Daftar penyusutan
4. Daftar peredaran bruto
5. Daftar pembayaran final UMKM PP 23 Tahun 2018
Cara Lapor SPT Pajak UMKM
Bagaimana cara pelaporan SPT Tahunan Pribadi pajak UMKM dapat menggunakan e-Filing
dan e-SPT setelah tahu berapa persen pajak yang harus dibayar? Disini mungkin yang jadi
pertanyaan, apa perbedaan eFiling dan eSPT? Kalau e-Filing pajak juga digunakan untuk
menyampaikan SPT secara online, mengapa WP masih menggunakan e-SPT? Jawabanya,
eSPT adalah aplikasi pengisian SPT yang disediakan DJP, Sedangkan e-Filing adalah suatu
cara penyampaian SPT yang dilakukan secara online yang real time melalui laman DJP
online atau ASP mitra resmi DJP yakni Klikpajak.id. Singkatnya, e-SPT adalah medianya,
adapun e-Filing adalah cara penyampaiannya.
Jadi antara eSPT dan eFiling saling berkaitan erat. e-SPT digunakan untuk mengolah data wajib
pajak, sedangkan e-Filing hanya digunakan untuk penyampaian pajak. Dengan begitu, eFiling
memudahkan WP Pribadi UMKM dalam menyampaikan SPT Tahunan, tidak perlu lagi datang
ke KPP. e-SPT atau e-Form berbentuk file dengan ektensi.xfdl yang pengisiannya dapat
dilakukan secara offline menggunakan aplikasi Form Viewer yang diunduh dari laman DJP.
Setelah SPT Tahunan dibuat, WP Pribadi UMKM dapat mengunggah atau upload SPT melalui
e-Filing. Bagi Wajib Pajak Pribadi UMKM, sebelum melaporkan SPT Tahunan online UMKM,
ada sejumlah tahapan yang harus dilakukan dan diperhatikan, yakni:
a. Me-install e-SPT
Agar bisa mengakses e-SPT dengan lancar, pastikan perangkat mumpuni dengan kondisi
seperti berikut:
• Perangkat keras (hardware)
• Processor: minimal Pentium III
• RAM: 32 Mb RAM
• Harddisk: Free Space 40 Mb
• Flashdisk/Harddisk Eksternal
• Koneksi internet yang menunjang
• Perangkat lunak (software)
• Microsoft Windows: minimal XP
• Microsoft Access: minimal Microsoft Office 2003
b. Kebutuhan sistem
1. Pastikan Kebutuhan Sistem sudah dipenuhi oleh komputer/ laptop yang digunakan untuk
mengunduh e-SPT DJP.
2. Silakan unduh file installer e-SPT dari situs www.pajak.go.id atau dari KPP
Pratama/KP2KP terdekat.
3. Jalankan file-file installer sampai selesai (installation complete) sesuai dengan urutannya
4. Pastikan Regional Setting komputer/laptop Anda sudah Indonesia
5. e-SPT sudah siap untuk dijalankan
c. Setting awal e-SPT
1. Koneksi ke Database, pilih DSN dengan nama “db1771_2010”
2. Input NPWP Hanya dilakukan pada saat database dibuka untuk pertama kali
3. Input Profil WP Data Profil WP bisa di-update kecuali untuk bagian NPWP
4. Login Aplikasi, User Name: Administrator, Password: 123
5. Memutakhirkan Tarif Pilih “Setting Tarif” dari menu “Utility”. Pastikan Tarif PPh Badan
yang tercantum 25%.
6. Namun bagi WP Badan UMKM, tidak perlu melakukan tahap install e-SPT saat
melaporkan SPT Tahunan di e-SPT Klikpajak.
Langkah selanjutnya, silakan input data e-SPT. WP Orang Pribadi (OP) yang melakukan
kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan WP Badan di Indonesia wajib menyelenggarakan
pembukuan.
Untuk sumber data SPT:
• Neraca/Laporan Posisi Keuangan
• Data mengenai harta, kewajiban, dan modal
• Dalam e-SPT, WP diwajibkan memasukkan laporan Laba – Rugi. yakni data mengenai
penghasilan dan biaya, serta penjualan dan pembelian.
Sumber data lainnya yang harus dimasukkan ke e-SPT misalnya data susunan
Pengurus/Komisaris.
Setelah sumber data SPT tersedia maka sudah bisa dilakukan input data pada e-SPT. Petunjuk
pengisian bisa dilihat pada file user manual e-SPT dalam format PDF yang termasuk dalam
paket instalasi.
Langkah-langkah pelaporan e-SPT
• Pilih Tahun Pajak yang akan dibuat file CSV-nya
• Simpan file CSV pada folder khusus untuk mempermudah pengarsipan Disarankan untuk
TIDAK mengubah nama file CSV hasil dari e-SPT
Bagi para UKM, mengisi dan mengurus pelaporan SPT Tahunan UMKM kadang terasa rumit
dan prosedural, apalagi bagi yang baru memulai usaha.
Formulir yang digunakan UKM untuk lapor SPT Tahunan pribadi UMKM adalah 1770.
Pengertian Formulir 1770 adalah SPT yang diperuntukkan bagi WP Orang Pribadi yang
melakukan:
1. Kegiatan usaha/pekerjaan bebas
2. Memperoleh penghasilan dari satu atau lebih pemberi kerja
3. Memperoleh penghasilan yang dikenai PPh Final dan/atau bersifat final
4. Dan/atau memperoleh penghasilan dalam negeri lainnya/luar negeri
Cara Lapor SPT Pajak UMKM bagi UKM PKP
Seperti dijelaskan di atas, kelompok UKM dengan omzet di atas Rp4,8 miliar setahun bisa
merupakan WP Badan dan wajib menjadi PKP. Disini tentu Anda sudah tahu pajak UMKM
yang harus dibayarkan berapa persen. Namun sebelum melaporkan SPT pajak, bagi WP Badan,
persiapkan dokumen-dokumen yang harus dilampirkan pada saat menyampaikan SPT.
Formulir yang digunakan UKM sebagai WP Badan untuk lapor SPT Tahunan Badan adalah
1771. Berikut cara lapor SPT Tahunan PPh UKM Wajib Pajak Badan PKP e-SPT pajak.
• e-SPT PPh Badan: Cara Lapor SPT Tahunan Badan 1771 di eSPT Tahunan Klikpajak
Lalu, bagaimana cara lapor SPT Masa PPN? Seiring berlakunya e-Faktur 3.0 mulai 1 Oktober
2020, pelaporan SPT Masa PPN wajib melalui e-Faktur web based. Jadi, lapor SPT Masa PPN
sudah tidak bisa lagi melalui DJP Online e-SPT atau e-Filing. Tapi harus melalui aplikasi e-
Faktur.
• Cara Lapor SPT Masa PPN di e-Faktur 3.0 Klikpajak
Tenggat waktu atau jatuh temponya pembayaran pajak dan pelaporan SPT pajak berbeda-beda
tergantung termasuk pajak bulanan atau tahunan.
a. Pajak Bulanan
Batas Waktu Pembayaran Pajak Bulanan:
• Batas waktu pembayaran PPh 21, PPh 23. PPh 26, dan PPh Pasal 4 ayat (2) paling lambat
tanggal 10 bulan berikutnya
• Batas waktu pembayaran PPh Final PP 23/2018 dan PPh 25 paling lambat tanggal 15 bulan
berikutnya
• Batas waktu pembayaran PPN paling lambat akhir bulan berikutnya
Batas Waktu Pelaporan SPT Pajak Bulanan/SPT Masa:
• Paling lambat 20 hari setelah akhir tahun pajak, untuk SPT PPh 4 ayat (2), PPh 15, PPh 21,
PPh 23/26, PPh 25, PPh 22
• Paling lambat 14 hari setelah masa pajak berakhir, untuk PPh 22 untuk pemungutan oleh
bendaharawan
• Akhir bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir, untuk SPT PPN & PPnBM,
b. Pajak Tahunan
Batas Waktu Pembayaran Pajak Tahunan:
• Batas waktu pembayaran PPh Badan paling lambat tanggal 30 April setelah akhir tahun
pajak.
• Jika tanggal jatuh tempo penyetoran pajak bertepatan dengan hari libur, penyetoran PPh
Badan dapat dilakukan paling lambat hari kerja berikutnya
Batas Waktu Pelaporan SPT Pajak Tahunan:
• Batas waktu penyampaian SPT Tahunan PPh Badan adalah paling lambat tanggal 30 April
setelah akhir tahun pajak.
• Jika tanggal jatuh tempo pelaporan bertepatan dengan hari libur, penyampaian SPT
Tahunan PPh Badan dapat dilakukan paling lambat hari kerja berikutnya
• Sedangkan pelaporan SPT Tahunan Pribadi UMKM dilaporkan paling lambat 31 Maret
setiap tahunnya untuk Tahun Pajak sebelumnya, atau 3 bulan setelah akhir Tahun Pajak.
Perlu diperhatikan, kekurangan pembayaran pajak yang terutang atau pajak kurang bayar
berdasarkan hasil pelaporan SPT Tahunan, maka harus dilunasi dengan SSP sebelum SPT PPh
tersebut dilaporkan kembali ke DJP. Lebih lengkapnya, lihat jadwal pembayaran dan pelaporan
SPT pajak pada kalender saku di Kalender Pajak Klikpajak.
Aturan Sanksi Pajak Terbaru
Perlu diingat, aturan pengenaan sanksi denda telat lapor atau bayar pajak sudah berubah.
Terbaru, ketentuan tarif sanksi pajak ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020
tentang Cipta Kerja. Berlaku tarif bunga sanksi administrasi pajak yang ditetapkan oleh
Menteri Keuangan yang perhitungannya mengacu pada suku bunga bank sentral Indonesia
(Bank Indonesia/BI 7 days repo reserve rate). Tarif bunga sanksi administrasi pajak yang
ditetapkan Kementerian Keuangan ini digunakan sebagai dasar untuk menghitung besar sanksi
pajak yang akan dikenakan pada wajib pajak yang tidak memenuhi ketentuan perpajakan
berlaku. “Jadi, tarif sanksi denda ini akan berbeda-beda setiap bulannya tergantung besar tarif
bunga sanksi administrasi pajak yang ditetapkan Menkeu.” Itulah penjelasan tentang pajak
untuk UMKM terbaru dan update tarif pajak UMKM berapa persen sesuai UU HPP.