Masa Depan dengan Bekal Ketakwaan".
ُث
َّم ِهَّل
ِل ُد َحْل
َو ا ْم اْلَح ْمُد ِلَّلِه
َل َأ
ْش َهُد أْن ال إ َه. اْلَح ْمُد ِلَّلِه
َل
إال اللُه َوْحَدُه ال َش ِريَك ُه
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah swt
Di hari yang yang mulya ini, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt.
Peningkatan takwa ini sangat penting dilakukan oleh kita mengingat hal tersebut merupakan
bekal hidup dalam kebahagiaan, baik kebahagiaan dunia maupun akhirat
وأشهُد أَّن َس ِّيَدَنا ُمَح َّمًدا َعْبُدُه
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah swt.,
Waktu terus berjalan maju tanpa bisa di hentikan. Untuk itu kita haruslah pandai
memanfaatkan waktu dengan baik. Kita harus menyadari Hari demi hari dilalui dengan
. َوَر ُس ْوُلُه اَّلِذْي اَل َنِبّي بعَدُه
berbagai macam kesalahan. Namun, hal itu dianggap angin lalu tanpa coba kita perbaiki di
kemudian hari. Memasuki tahun baru, sudah sepatutnya kita menengok apa saja yang telah kita
perbuat dan merencanakan perbaikan ke depannya.
َالَّلُهَّم َصِّل َوَس ِّلْم َعَلى َنِبِّيَنا
Allah swt telah berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Hasyr ayat 18:
َأ
ُمَح َّمدابن عبد الله َوَعَلى ِلِه
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap
orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah
kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah swt,
َأ
Kita harus memaafkan masa lalu. Memaafkan bukan berarti melupakan. Memaafkan menjadi
َو ْصَح اِبِه َوَمْن َتِبَعُهْم ِبِإْح َس اٍن
langkah awal untuk memperbaiki langkah di masa yang akan datang. Sementara masa kini
harus kita hadapi. Sebab, masa kini inilah yang ada persis di depan mata. Kita tak bisa
menghindarinya. Mau tidak mau, itu harus dihadapi dengan cara dan sikap sebaik mungkin.
َأ
، َّما َبْعُد.ِإَلى َيْوِم الِقَياَمِة
Adapun masa depan harus kita persiapkan. Persiapan menuju masa depan dimulai dengan
melihat mana yang perlu diperbaiki dari masa lalu yang telah kita lewati dan masa kini yang
tengah dihadapi. Seindah apapun kita merencanakan kehidupan , tetap kita isi dengan ketawaan,
karena hari esok itu pasti, tetapi kejadian didalamnya di luar rencana kita ,
Hadirin
ُك ُأ
َفِإِّني ْوِصْي ْم َوَنْفِس ْي ِبَتْقَوى
Pekerjaan yang tampaknya duniawi jika dilakukan untuk memenuhi kekuatan dalam beribadah
juga termasuk ibadah yang bernilai akhirat. Maka sesungguhnya kesempatan kita untuk
melaksanakan ibadah kepada Allah terbuka lebar. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah saw
mengingatkan kita agar memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.
: اْغَتِنْم َخ ْمًس ا َقْبَل َخ ْمٍس
، َش َباَبَك َقْبَل ِهَر ِمَك
، َوِصَّح َتَك َقْبَل َس َقِمَك
، َوِغ َناَءَك َقْبَل َفْقِرَك
، َوَفَر اَغَك َقْبَل ُش ْغِلَك
َوَحَياَتَك َقْبَل َمْوِتَك
Artinya: “Gunakan lima perkara sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum masa
tua, sehatmu sebelum sakitamu, kekayaanmu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum
kesibukanmu dan kehidupanmu sebelum kematianmu.” (HR Al Hakim)
Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan betul waktu yang 24 jam yang telah disediakan untuk
kita. Ini tidak lain agar kita betul-betul siap untuk menghadap Allah swt dengan bekal
ketakwaan yang telah saban hari kita tingkatkan. Semoga Allah swt memberikan kita kekuatan
dan kesempatan untuk terus memperbaiki masa depan sehingga kita dapat menghadap kepada
Allah swt dengan husnul khatimah.
َباَر َك اللُه ِلي َوَلُكْم ِفي
ْالُقْر آِن ْالَعِظْيِم َوَنَفَعِني
َوِإَّياُكْم ِبَما ِفْيِه ِمَن ْاآلَياِت
َأ
َوالِّذْكِراْلَح ِكْيِمُ .قْوُل
َقْوِلي َهَذا َفأْس َتْغِفُر اللَه
الَعِظْيَم ِإَّنُه ُهَو الَغُفْوُر
الَّر ِح ْيُم
Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau
bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat! (Redaksi) Khutbah I
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah, Di antara kewajiban yang harus
dilakukan seorang khatib dalam khutbah Jumatnya adalah senantiasa mengingatkan, mengajak,
dan berwasiat kepada jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt.
Wasiat takwa ini menjadi rukun khutbah Jumat yang apabila ditinggalkan oleh khatib maka
tidak sah khutbah Jumat yang disampaikannya. Sementara para ulama mendefinisikan takwa itu
sendiri sebagai اْمِتَثاُل َأَواِمِر اللِه َواْج ِتَناُب َنَواِهْيِه ِس ًّر ا َوَعاَل ِنَّيًة َظاِهًر ا َوَباِطًناYakni melaksanakan
segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya baik dalam keadaan sepi maupun
ramai, lahir dan juga batin. Oleh karenanya pada kesempatan Jumat kali ini, mari kita bersama-
sama menguatkan komitmen untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Takwa ini
sendiri akan menjadi pembeda bagi orang yang dimuliakan di sisi Allah. Orang yang bertakwa
akan mendapat prioritas kemuliaan di sisi Allah sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat
Al Hujurat ayat 13: ِاَّن َاْكَر َمُكْم ِع ْنَد اللِه َاْتٰقىُكْمArtinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di
antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa”. Ma’asyiral Muslimin Jamaah
Shalat Jumat rahimakumullah, Dalam Al-Qur’an, perintah untuk bertakwa kepada Allah swt
sangatlah banyak. Perintah ini juga banyak yang dipadukan dengan berbagai perintah untuk
terus memperkuat diri dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah swt dalam rangka
menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Di antaranya seperti disebutkan dalam Surat
Al-Hasyr ayat 18: َٰٓيَأُّيَها َّلِذيَن َءاَمُنو۟ا ٱ َّت ُقو۟ا ٱل َّل َه َوْلَتنُظْر َنْفٌس َّما َقَّدَمْت ِلَغٍد َوٱَّتُقو۟ا۟ا ٱل َّل َه ِإَّن ٱل َّل َهَخِبيٌۢرٌۢر ِبَما
َتْعَمُلوَنArtinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan
bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” Ayat
ini mengingatkan kita untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah sekaligus terus melakukan
evaluasi, muhasabah atau introspeksi diri dengan melihat apa yang telah kita perbuat di masa
lalu dan mempersiapkan masa depan agar lebih baik dari hari ini. Langkah ini bisa menjadi
wujud syukur atas karunia yang telah diberikan Allah kepada kita karena kita masih diberi
kesempatan untuk hidup di dunia ini sampai dengan penghujung tahun ini. Mudah-mudahan
dengan syukur ini, nikmat Allah akan terus ditambahkan kepada kita berupa karunia
dipanjangkan umur kita oleh Allah sehingga kita akan bisa terus beribadah dan berbuat baik
dalam kehidupan di dunia. Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah, Dalam
ayat ini juga disebutkan bahwa termasuk orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang selalu
memperhitungkan perbuatannya sendiri, apakah sesuai dengan ajaran agama atau tidak.
Sehingga jika kita lebih banyak melanggar larangan Allah, maka hendaklah kita berusaha
menutupnya dengan amal-amal saleh. Ayat ini memerintahkan manusia agar selalu mawas diri,
memperhitungkan segala yang telah dan akan diperbuatnya sebelum Allah menghitungnya di
akhirat nanti. Ayat ini pun ditutup dengan sebuah peringatan untuk bertaqwa kembali kepada
Allah, karena Dia mengetahui semua yang dikerjakan hamba-hamba-Nya, baik yang tampak
maupun yang tidak tampak, yang lahir maupun yang batin, tidak ada sesuatu pun yang luput
dari pengetahuan-Nya. Oleh karena itu, sebagai insan yang bertaqwa, mari kita senantiasa
melihat masa lalu kita di tahun ini dan mengkalkulasi, apakah lebih banyak kebaikan yang telah
kita lakukan dibanding dengan keburukan? Atau malah sebaliknya, banyak hal-hal yang buruk
kita lakukan sehingga kebaikan kita tertutup oleh keburukan di tahun ini? Introspeksi ini akan
menjadi modal bagi kita untuk mempersiapkan masa depan agar hal-hal yang buruk tidak
terjadi lagi. Nabi Muhammad saw pun mengingat kepada kita semua agar terus melakukan
perubahan-perubahan menuju kebaikan sehingga menjadi orang-orang beruntung. Jangan
sampai kita menjadi orang yang merugi apalagi sampai menjadi golongan orang celaka dengan
tidak memperbaiki masa depan ke arah yang lebih baik:
ِم ا ْي َخ
ْوُمُه ًر ْن َي َن اَك َمْن
َأ
َوَمْن. ْمِسِه َفُهَو َر اِبٌح
َأ
َواْش ُكُرْوُه َعلَى ِنَعِم ِه، َيْذُكْر ُكْم
ْك َل ْك الّٰل َأ، ُك
Artinya: “Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang
َيِزْد ْم َو ِذ ُر ِه َبْر
beruntung, Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang
merugi dan Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang
yang celaka." (HR. Al Hakim). Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah,
Saatnya di penghujung tahun ini kita juga mengamalkan pesan Khalifah Umar bin Khatthab:
ا وا َأ ُف ُك َق َل َأ
َح ِس ُب ْن َس ْم ْب ْن Artinya:
“Hitung-hitunglah dirimu sebelum kamu dihitung” Dalam hal ini, mengapa Sayyidina Umar
ُتَح اَس ُبْو
menilai bahwa evaluasi diri lebih dini akan menguntungkan kita pada kehidupan kelak? Karena
dengan mengevaluasi diri sendiri, kita akan mengenali kekurangan-kekurangan kita yang
diharapkan dapat diperbaiki sesegera mungkin. Kondisi ini akan meminimalkan kesalahan
sehinga tanggung jawab dalam kehidupan kita di akhirat nanti menjadi lebih ringan. Semoga
kita senantiasa diberikan rahmat oleh Allah swt agar masa depan kita di tahun yang akan datang
bisa lebih baik dari tahun ini. Amin. َباَر َك
Khutbah II
Sumber: https://islam.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-evaluasi-masa-lalu-siapkan-masa-depan-
EmrkK
___
Download NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap! https://nu.or.id/superapp
(Android/iOS)