Post 680f84ee5c57a
Post 680f84ee5c57a
Sepulang sekolah, Firda menunggu di warung tempat dia sudah janjian sama Arman.
Namun sayangnya, Arman yang berada di parkiran. Harus menghadapi kekasihnya yang
mengamuk gak jelas di parkiran mobil. “Armaan! Tolong dengerin aku dulu! Jangan begini!”
Arman yang tas dan tubuhnya ditarik dari belakang oleh Diah. Sampai jadi pusat
perhatian orang-orang. Banyak orang menertawai Diah saat itu. “Hahaha, dasar cewe tolol
gak tau diri. Udah mah nyerahin memek ke orang lain. Masih aja minta didengerin, kocak!”
“Minimal tau malu, Diah! Otak selangkangan kagak bisa mikir sih! Cowo lu hatinya
udah hancur! Masih kagak mau diputusin!” teriak lagi salah satu anak seangkatan dengan
Arman. Diah dibanjiri hujatan dari banyak orang, terutama dari para murid pria di sana.
“Mandi orang mah, Diaah! Muka keling begitu sok mau selingkuh! Cakep kagak,
begaya nikung cowo berduit pula! Gak tau rasanya bersyukur luu!” Diah berusaha
mengabaikan hujatan dari orang-orang. Meski begitu, hatinya tetap sakit dihujat ramai.
Dia tetap lah seorang wanita, yang hatinya lemah ketika menerima hujatan dari
berbagai pihak. Arman yang buru-buru saat itu. Terpaksa meladeni Diah di parkiran. “Apa
lagi sih! Noh denger omongan mereka! Anjing lah emang! Muka lu udah kaya tembok!”
Diah seketika tersentak, karena cowo yang selama ini bersikap lembut. Bahkan sama
sekali gak pernah kasar sama dia. Bersikap sekeras itu kepadanya. “Ka—Kamu bentak aku?
Sayaang, kamu udah gak sayang sama aku? Kamu gak mau coba dengerin aku dulu kah?”
“Tingkah lu udah kaya orang di sinetron, Diah! Gua udah males sama lu! Udah cantik
juga enggak, banyak gaya, egonya tinggi, pake selingkuh pula! Gak ada bagus-bagusnya lu
sebagai cewe Diah!” bentak Arman saking emosinya sama Diah. Dia keluarin unek-uneknya.
Diah sebenarnya bukan hanya takut kehilangan Arman. Tapi takut kehilangan segala
kemewahan dan uang yang bisa dia dapatkan dari Arman. Gimana enggak? Diah
mendapatkan jatah 5 juta sebulan dari Arman. Belum kalo liburan atau jalan mingguan.
Total Arman bisa keluar 10 juta lebih untuk wanita seperti Diah. Arman yang
bucinnya udah hilang, logikanya mulai main kalo dia bertingkah bodoh. Padahal teman
temannya dari dulu, sudah sering ngomongin dia. Semenjak awal mereka pacaran kelas 10.
“Kamu kasar banget sih! Emang dipikir kamu ada bagusnya apaa! Kamu aja otaknya
tolol gak bisa ikutin pelajaran! Aku juga sebenernya malu yaa punya cowo hampir gak naik
kelas! Udah sekolah di tempat rendahan masih hampir gak naik kelas!” bentak Diah balik.
Arman saat itu tertawa terbahak-bahak, dengan mudah dia mengcounter omongan
Diah. “Masih mending gua hampir gak naik kelas di sekolahan jelek! Lah lu sampai
dikeluarin, hahaha! Anjiing ini anak gak ngaca! Udah gua bukan cowo lu mulai sekarang!”
Arman dengan tegas mutusin hubungan dengan Diah, hanya dalam 10 hari saja.
Hubungan mereka yang langgeng selama 2 tahun, dihancurkan oleh Firda hanya dalam 10
hari. Meski banyak kejadian kebetulan, tapi Firda adalah pelaku utama dari semua ini.
Meski begitu, Firda sebenarnya gak jauh lebih baik ketimbang Diah. Dia sama
binalnya dengan mantan kekasihnya Arman itu. Namun Firda punya banyak kelebihan lain.
Dia cantik, montok, kulitnya putih, dan wajahnya polos. Itu baru dari segi fisiknya saja.
Dari fisik Diah sudah kalah jauh cantiknya dari Firda. Belum lagi dari masalah sikap,
Diah selalu bicara dengan suara tinggi dan keras. Sementara Firda terbiasa bicara dengan
suara lembut, halus, dan bahasa yang sopan. Dari segi ego, Firda egonya sangat lah kecil.
Kehidupannya yang sulit, dan jarang dibantu orang lain. Membuatnya gak punya
keinginan besar kecuali menggapai cita-citanya. Dia yang sudah terbiasa masak, cuci baju,
cuci piring, dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Demi membantu orang tua.
Bagi dia bukan masalah untuk melayani kekasihnya seperti itu. Bagi seorang Firda,
melayani kekasih adalah salah satu bentuk cinta terbesarnya. Karena memang dia gak bisa
memberikan hal lain kecuali melayani dengan cinta. Dan Arman butuh gadis seperti itu.
Firda sudah menunggu selama 30 menit, tapi dia santai saja. Meski dia gak tau apa
yang terjadi, dia malah berbincang akrab dengan pemilik warung. “Nungguin siapa, Neng?
Tumben duduk diem di sini. Biasanya kamu langsung pulang jalan ke depan gang sana.”
Firda tertawa kecil, sambil mengangguk dengan sopan. Dia pun menjawab dengan
suara halus. “Ohh iyaa, Bu. Ada cowo yang ngajak saya pulang bareng, hehehe. Katanya
suruh nunggu di sini, biar gak jadi bahan omongan di sekolah. Iyaa begitu lah Bu, hehehe.”
“Waduuh, punya pacar baru yaa ternyata. Itu si Deni sekarang kemana? Kok gak
pernah keliatan sekarang? Udah putus? Apa dia pindah sekolah lagi?” tanya si Ibu pemilik
warung. Namun belum sempat menjawab, Arman sudah datang dengan mobil fortunernya.
“Aahh, temen saya udah dateng Bu. Besok lagi kita ngobrol yaa, Bu. Sampai ketemu
lagii.” Firda pun akhirnya masuk ke mobil Arman. Dan sejak saat itu dimulai lah hubungan
mesra mereka. Arman mengantar Firda pulang ke rumah, namun ujungnya ya belok dulu.
Cari tempat sepi yang jarang orang dan kendaraan lewat. Firda yang sudah sejak
kecil tinggal di sana. Tentu saja dia tau harus pergi kemana. Sepulang sekolah, di dalam
mobil di lingkungan tempat yang sepi itu. “Aaahhh… Aaahhh… Jadi kamu udah putus, Kak?”
Firda menggenjot kenceng kontol Arman yang duduk di jok belakang. Mereka sudah
pindah ke belakang. Agar lebih leluasa beradu kelamin. “Udah, Fir. Aahhh… Aahhh… Tadi
Diah ngamuk di parkiran, gak terima aku putusin. Hahaha, aku katain aja saking keselnya.”
“Hahaha… Aaahhh… Aaahhh… Kamu jahat, Kaak. Aaahhh… Tapi yaa mau gimana
lagi? Aaahhh… Kamu juga udah muak kan sama dia?” ucap Firda sambil menikmati kontol
Arman. Dari posisi ini, dia ngerasain kontol Arman yang menusuk dalam sampai mentok.
“Jahat kenapa? Lah dia duluan yang main ngentot sama cowo lain. Aahhh… Aahhh…
Mana pakai muncul video skandal pula. Aahhh.. Aahhh… Siaal, aku masih aja kesusahan
nahan genjotan kamu. Hahaha, aku seneng banget,” jawab Arman sambil tertawa kecil.
Arman pun mencipok bibir Firda, sambil kedua tangannya meremas habis kedua
toket Firda yang memantul naik turun. Meski begitu, Firda sebenarnya gak begitu puas
ngentot dengan Arman. Firda sendiri juga gak yakin bisa setia. Dia gak jauh beda dari Diah.
Itu alasan kenapa Firda, gak menunjukan sikap agresifnya kepada Arman. Dia hanya
ingin semuanya mengalir apa adanya. Agar jika terjadi sesuatu, dia gak terlalu malu.
“Hahaha, iyaudah Kak. Aaahhh… Aaahhh… Sekarang Kak Arman cari cewe baru aja yaa.”
Chapter 52
Setelah beradunya kelamin mereka selesai, Arman pun dengan penuh keberanian
mengajak Firda untuk menjalin hubungan. Dengan kondisi kontolnya masih menempel di
memek Firda. Arman menyatakan perasaannya, kepada gadis yang baru dia kenal 10 hari.
“Jadi gimana, Fir? Kita udah ngentot berkali-kali, aku pengen punya status sama
kamu. Takut ada cowo lain yang ngambil kamu duluan. Yang ada aku malah nyesel nanti,”
tanya Arman dengan penuh percaya diri. Dia sangat yakin akan diterima oleh Firda saat itu.
“Hmmm… Kalo seandainya aku mau, mungkin kita backstreet dulu aja yaa Kak.
Seenggaknya sampai 3 bulan ke depan. Soalnya masalah kamu dan Kak Diah lagi viral.
Tunggu reda dulu baru nanti kita terang terangan,” jawab Firda yang masih agak ragu.
Dia takut dianggap sebagai cewe pelakor, apa lagi Diah meski sudah dikeluarkan dari
sekolah. Namun teman-temannya yang banyak itu masih ada di sekolah. Khawatir nanti
terjadi hal yang gak menyenangkan. Firda pun memilih untuk backstreet jika Arman mau.
Arman pun terdiam sesaat, dia sempat kepikiran juga dengan perkataan Firda. “Iyaa,
kamu bener sih. Kalo gitu gak masalah kita pacaran sekarang. Tapi kita backstreet dulu
selama 3 bulan ke depan. Yang penting setiap hari, kontol aku nancep ke memek kamu.”
Firda pun tertawa kecil, dia mengangguk dan memutuskan menerima Arman saat
itu. “Okee, kalo kamu gak keberatan Kak. Aku terima kamu, Kak Arman. Aku akan berusaha
yang terbaik yang aku bisa. Kalo aku ada salah, tolong ingetin dan nasehatin aku yaa Kak.”
Mereka pun resmi pacaran, meski begitu hubungan mereka sama sekali gak berjalan
mulus. Iyaa karena Firda tidak sebaik yang Arman duga. Arman terlalu polos, untuk ukuran
gadis binal seperti dirinya. Meski begitu, Firda memilih untuk menyembunyikan semua ini.
Setelah resmi pacaran, mereka pun akhirnya pulang. Arman mengantar sampai ke
depan gang rumah Firda. Karena mobil gak bisa masuk ke dalam gang kecil itu. Firda pun
turun, sambil cipika cipiki dan mencium bibir Arman. Setelahnya Firda turun dari mobil.
Dan berjalan kaki ke rumahnya yang masih berjarak 300 meter dari sana. Hubungan
mereka terus berlanjut, sampai 5 hari kemudian. Tepatnya hari sabtu, Arman sudah janjian
sama Firda untuk pergi bareng. Di kencan pertama mereka, Arman ada banyak tuntutan.
“Sayang, nanti kamu jangan pakai bra yaa. Pakai kaos lengan panjang hitam aja, biar
gampang aku nenennya pas di bioskop. Sama pakai celana jeans, kaos lengan panjang kamu
masukin ke celana jeans,” ucap Arman melalui telfon. Firda pun senang hati menuruti.
“I-Iyaa, sayaang. Na—Nanti akuu pakai baju ketat yaa. Pakai jilbab hitam dan kaos
hitam, sama celana jeans. Bi—Biar nyenengin kamu, aku juga gak pakai celana dalam.” Firda
menahan desahannya, dia saat itu sedang nenenin calon suami kakak pertamanya itu.
Hal ini baru terjadi selama seminggu terakhir, calon suami kakaknya yaitu Rudi.
Menjebak Firda saat kakak dan keluarga besarnya sedang tidak di rumah. Firda bahkan
sudah memakai pakaian yang diminta Arman. Arman sudah bilang sejak 3 hari yang lalu.
Firda sudah rapi, dengan make up yang tipis namun terlihat cantik. Kaos lengan
panjang ketat warna hitam, cardigan warna abu-abu, kerudung warna hitam, dan celana
jeans warna biru muda. Namun di saat dia hendak berangkat menuju ke depan gang.
Rudi meminta jatah nenen seperti biasa, Rudi menyedot habis toket kanan Firda.
Diemut, dijilat, dihisap, lalu ditarik begitu kuat. “Aaahhh! A-Aduuh, aku kejatohan barang
sayaang. Aaahhh! Aduuh sakiitt! Aduuh! Aaahhh! Aaahhh! Sayaang, aku tutup dulu yaa.”
Arman seketika merasa khawatir, karena kekasihnya yang masih sangat dia cintai itu
mendesah kesakitan. “Kaki kamu ketiban apa, sayang? Aku udah mau berangkat nih, 1 jam
aku nyampe ke sana. Nanti di mobil aku cek kaki kamu kenapa yaa. Iyaudah aku tutup.”
“Ka—Kak Rudii nakaal. Aku lagi telfonan sama cowo aku. Kamu malah kencengin
nyedot toket aku. Aaahhh! Nanti ketauan Kak Rimma loh. Aaahhh! Kaak! Aaahhh! Kak Rudi
nakaal!” desah Firda sambil menegur Rudi. Namun bukannya berhenti atau dipelanin.
Rudi malah melepas kancing celana jeans Firda. Ditarik celana jeans Firda sampai
semata kaki. Di saat yang sama dia keluarin kontolnya yang masih tersimpan di dalam celana
jeans warna biru tuanya. Mulutnya sama sekali gak mau lepas dari toket kanan Firda itu.
“Salahin diri kamu, Firda. Kenapa kamu montok dan seksi banget. Apa lagi kalo kamu
lagi pakai jilbab. Aduuh, gak tahan rasanya. Pengen ngentotin kamu terus bawaannya.” Rudi
berganti menyedot toket kiri Firda. Dan dia paksa masukin kontolnya ke memek Firda.
“Aaahhh! Aku mau berangkat, Kaak. Cowo aku udah di jalaan. Aaahhh! Jangan
ngentotin aku pas mau kencan sama cowoku dong, Kak. Aaahhh! Aaahhh! Jangan digenjot,
Kaak! Kak Rudi gak pernah mau dengerin akuu!” jerit Firda yang mulai dientot oleh Rudi.
Rudi yang memiliki kontol berukuran 15 cm itu, berhasil membuat Firda pasrah dan
lemas. Kontolnya bergoyang maju mundur mengocok memek calon adik iparnya itu.
“Sssttt… Jangan berisik, kamu juga suka kan aku entot? Aahhh… Aahhh… Telat dikit aja.”
Firda yang memeknya mulai digenjot makin kenceng. Dia hanya bisa pasrah memek
dan toketnya dijamah habis oleh Rudi. “Ampuun, Kaak. Aaahhh! Aaahhh! Kontol Kak Rudi ini
looh! Selalu bikin memek aku langsung becek! Habis ini harus ke kamar mandi dulu deh!”
“Aahhh… Aahhh… Toket kamu lebih gede dari Rima. Wajah kamu lebih cantik dari
dia. Kulit perut dan toket kamu lebih mulus juga. Aahhh… Aahhh… Aku rasanya mau hamilin
kamu, sayaang,” jawab Rudi yang makin menggila. Dia percepat lagi genjotan kontolnya.
Ini sudah kali ketiga Rudi berhasil ngentotin calon adik iparnya. Pernikahan dirinya
dengan kakak kandung Firda, yaitu Rima. Sudah berada di depan mata, hanya dalam
hitungan bulan. Tak jauh berbeda dengan Firda, Rima mencari calon suami orang kaya.
Orang yang sudah mapan, meski usianya jauh lebih tua ketimbang Rima. Firda
berusia 16 tahun, sementara Rima berusia 20 tahun. Dan Rudi berusia 26 tahun, meski
begitu dia masih doyan dengan gadis yang usianya 10 tahun lebih muda dari dirinya itu.
“Ampuun! Ampuun! Aaahhh! Aaahhh! Kontol Kak Rudi ngobok ngobok memek aku
brutal banget! Aaahhh! Aaahhh! Cowo aku udah ke sini, Kaak! Aku gak mau dia nunggu
lamaa! Aaahhh!” Firda merasa sangat takut, memeknya mulai mengocor cairan deras.
Namun meski begitu, Rudi bukan pria yang tahan lama. Dia mengalami ejakulasi dini,
hanya kuat beberapa menit sampai ngecrot. Pertarungan mereka gak akan lama. Meski
begitu Firda juga sama seperti Rudi. Dia gak kuat menahan orgasme, dia juga cepat keluar.
Chapter 53
“Aahhh! Firdaa! Aahhh! Aahhh! Aku mau keluaar, Fiir! Aahhh! Aku ngecrot, Fiirr!
Aahhh! Aahhh! Aahhhhh!!” teriak Rudi disertai semburan spermanya. Dia telah creampie
memek calon adik iparnya itu untuk ketiga kalinya. Sementara Firda yang belum keluar.
Dia meminta Rudi untuk kembali melanjutkan genjotan kontolnya itu. “Ka---Kaak.
Tolong genjot vaginaku lagii. Aku udah mau keluaar barusan. Toloong, Kaak. Aku mohon
lanjut entot aku lagi. Aku bener bener gak tahan harus keluar! Jangan siksa aku, Kaak!”
Rudi seketika tertawa, di kala spermanya masih menyembur keluar di memek Firda.
“Hahaha, tadi katanya kamu gak mau dientot aku. Sekarang malah minta nambah. Sebentar,
Aahhh! Sperma aku masih keluaar, nanti kalo udah selesai aku genjot lagi. Puas rasanya.”
Di saat yang sama, Arman sudah berada dalam perjalanan. Jika jalanan lancar, dia
hanya butuh waktu 35 menit untuk sampai di rumah Firda. Namun jika jalanan macet, butuh
hampir 1 jam untuk sampai ke sini. Namun saking menikmatinya, Firda sampai lupa waktu.
Sudah 10 menit berlalu, sejak dia mematikan telfon dari Arman. Masih ada kontol
calon kakak iparnya di dalam memeknya sendiri. Rudi yang telah selesai ejakulasi, dia sangat
puas dan bangga bisa ngecrot di memek adik iparnya. Dia lanjut genjot memek Firda lagi.
“Aaahhh… Aaahhh! Gak mau dientot kalo lagi waras, Kaak. Aaahhh! Aaahhh! Kontol
Kak Rudi bikin aku gak waras! Namanya sange memang bikin orang jadi gak waras! Teruss,
Kaak! Sedikit lagii! Aaahhh!” jawab Firda yang mendesah keras. Dia berfokus ke orgasme.
Rudi terus mengobok ngobok memek gadis 16 tahun itu dengan kontolnya. Dengan
sisa tenaga yang dia punya, dia hentak terus dinding rahim adik iparnya yang montok. Dia
begitu bernafsu dengan jilbab hitam Firda, serta kedua toketnya yang begitu menonjol.
Meski tak menunjukkan belahan, namun menunjukkan lekukan tubuh gadis itu yang
sangat indah. Firda bahkan sudah lupa dengan Arman, seolah dia gak ingat sama sekali.
Kekasihnya sedang menuju ke sini. Dia hanya terus menikmati setiap genjotan kontol Rudi.
“Mau keluaar! Mau muncraat! Aaahhh! Enaak! Sumpah ini enak bangeet! Aaahhh!
Aku pengen dientot Kak Rudi lagii! Aku pengen ngentot sama kamu lagi, Kaak! Aku sayaang
Kak Rudii! Aaahhh! Aaahhh! AAAHHH!!!” teriak Firda yang akhirnya mencapai orgasme.
Pertarungan mereka berakhir setelah 13 menit, dari foreplay sampai ngentot dan
sama-sama keluar. “Wiih, muncrat banyak keluarnya. Senengnya ngentot sama kamu, kamu
bisa squirt. Kalo Rima mah gak bisa, orgasmenya gak keluar cairan. Sayang banget yaa.”
Firda yang masih berusaha mengatur nafas, dan cairan memeknya masih
menyembur keluar. Dia pun berkata, “Haahhh… Haahhh… I-Iyaa, gak tau kenapa aku kalo
keluar. Cairannya deres banget keluarnya. Aku berasa seneng habis orgasme banyak.”
“Iyaudah, besok lagi yaa. Aku tinggalin kamu di kamar. Takut ada keluarga kalian
yang pulang. Kamu juga mau ketemu sama cowo kamu kan. Sampai besok lagi.” Rudi pun
bangun, dia memakai pakaiannya kembali. Dan keluar dari kamar Firda yang lusuh itu.
Rudi langsung keluar rumah, jongkok dan gabung ngobrol sama tetangga yang lain.
Sementara Firda masih memegangi vaginanya, dia sedang menikmati sisa sisa cairan
memeknya yang masih keluar. Firda membutuhkan waktu 10 menit untuk bisa bangun lagi.
Dia sudah menghabiskan waktu selama 25 menit. Firda dengan sisa tenaga, dia
langsung bangun menuju ke kamar mandi. Dia memutuskan untuk mandi lagi, karena
seluruh tubuhnya terkena air liur Rudi. Dari toket, leher, perut, semua dijilatin oleh Rudi.
Dia yang sudah dandan menggunakan make up, terpaksa harus dandan lagi karena
make upnya luntur ketika mandi. Sudah 35 menit berlalu, ditambah berias sekenanya Firda
sudah menghabiskan waktu 45 menit. Firda pun memakai kembali pakaian yang tadi.
Kaos hitam lengan panjang, kerudung hitam, dan celana jeans ketat. Dia langsung
memasukkan hp serta dompet ke tas. Dan segera lari keluar menuju ke depan gang. Saat itu
para bapak-bapak sedang nongkrong menikmati hari liburnya. Mata mereka pun terfokus.
Mata mereka terfokus ke Firda yang berlari menuju depan gang. Tanpa
menggunakan bra, toket Firda bergerak memantul naik turun begitu indahnya. Para bapak-
bapak di sana seolah mendapatkan rezeki nomplok. Ngeliat toket gadis hijab berayun.
Firda seolah cuek, dia membiarkan semua lelaki yang menatapnya menikmati
pemandangan toketnya yang indah. “Biarin deh ahh! Dari pada telat nanti yang ada
dicurigain! Bodo amat udaah! Jangan sampai cowoku nunggu dan ngerasa curiga ke aku.”
Sampai akhirnya setelah 7 menit berlari, dia pun sampai ke depan gang. Tak lama
berselang, sekitar 3 menit kemudian Arman pun tiba di tempat mereka janjian. Saat itu Firda
masih kelelahan, tubuhnya masih lemas habis dientot Rudi. Dan kini dia harus berlari.
Arman pun berhenti tepat di depan Firda, dia turun dari mobil dan membukakan
pintu untuk Firda. “Kamu kenapa kecapean begitu? Kamu habis lari kah? Kamu keringetan,
sayang? Sampai basah kaosnya di bagian atas. Belahan toket kamu nyeplak tuh, hahaha.”
“Ma—Maaf, sayaang. Aku tadi ketiduran, kaki aku dipijet sama bapak. Dan ketiduran
40 menit. Bangun-bangun aku langsung lari ke sini. Aku masih lemes karena bangun tidur.
Dan sekarang kelelahan karena habis lari,” jawab Firda yang berhasil mencari alasan.
“Hahaha, iyaudah santai aja. Udah sekarang kamu masuk. Kita jalan nonton bioskop
yuk. Sama nanti makan di restaurant yang lagi viral.” Firda pun masuk ke mobil Arman. Di
dalam mobil, dia tersengal sengal karena kelelahan. Di sisi lain memeknya masih berasa geli.
Rudi berhasil memberikan kenikmatan yang sulit dilupakan bagi Firda. Selama di
perjalanan, Firda lebih sering terdiam bengong. Mengingat saat Rudi menghentak
memeknya satu jam yang lalu. Memeknya seketika sampai basah lagi, pengen dientot Rudi.
Sesampainya di mall, mereka pun menonton film action. Meski bioskop kondisinya
ramai, Firda dan Arman cuek saja ciuman di dalam bioskop. Bahkan Firda sampai sempat
nenenin Arman meski hanya beberapa menit. Karena Arman maksa minta nenen ke Firda.
Arman sama sekali gak curiga, meski Rudi seorang perokok berat. Firda berhasil
menghilangkan bau rokok di kedua putingnya itu. Sehingga Arman bisa menikmat toket
Firda tanpa rasa curiga dan terganggu. Firda merasa begitu lega, karena dia sekarang aman.
Setelah nonton film, mereka pun makan di restaurant jepang. Saat menunggu
pesanan, Arman ingin melihat kaki Firda yang katanya kejatuhan barang. “Gak kenapa
kenapa kaki kamu kok. Mungkin karena udah diurut yaa, bagus lah kamu baik-baik aja.”
Chapter 54
Firda pun mengangguk pelan, dia membenarkan apa yang dikatakan Arman barusan.
“Iyaa, sayaang. Tadi udah diurut sama Bapak. Jadinya bengkaknya udah hilang, lagian tadi
bengkaknya kecil kok. Barang yang jatuh juga ringan, tapi karena besi jadinya berasa sakit.”
Firda dengan pintarnya bisa mencari alasan lain. Yang langsung membuat Arman
percaya dengan perkataan Firda. “Bagus deh kalo gitu, aku kira kaki kamu sampai biru gitu.
Iyaudah kita makan dulu, nanti habis makan main ke rumah aku yuk. Rumah lagi kosong.”
“Hah? Main ke rumah kamu? Emangnya boleh? Papa sama Mama kamu gak ada di
rumah kah? Aku masih takut, dan aku ngerasa masih malu.” Firda sejujurnya gak pernah
main ke rumah cowonya. Baik Deni mau pun mantan-mantannya, sama sekali gak pernah.
“Iyaa lagi pada liburan ke luar kota, tapi aku gak ikut soalnya milih main sama kamu.
Sekalian kita ngentot di rumah aja biar leluasa. Aku udah sange, pengen genjot memek
kamu.” Firda pun gak punya pilihan, selain menuruti keinginan Arman main ke rumahnya.
Selesai makan, Arman mengajaknya berbelanja beli cemilan terlebih dahulu. Untuk
makanan mereka ketika di rumah. Meski hanya cemilan, jajanan mereka habis 300 ribu saat
itu. Jajanan hanya untuk satu hari saja, Arman memaksa Firda untuk beli banyak jajanan.
Ketika masuk, Firda disapa oleh beberapa orang yang gak dia kenali. Disapa oleh tiga
orang pembantu dan dua orang supir Arman. Kedua supir itu bernama Pak Wido dan Pak
Rafa. Mereka pangling melihat Arman bawa cewe baru ke rumah. Cewe yang lebih mulus.
Cewe yang lebih mulus dan montok. Mata mereka berdua sempat tefokus ke Firda
yang lewat. Mereka sampai geleng-geleng kepala ngeliat kemontokan tonjolan toket Firda.
“Gilaa, anaknya si Bos cewenya ganti. Bukan yang item lagi, yang sekarang montok bener.”
Pak Rafa yang mendengar perkataan Pak Wido, dia mengangguk dan setuju saat itu.
“Iyaa, akhirnya anak Bos matanya normal dia hahaha. Bening pula itu anak, kulitnya putih
bersih. Tonjolan toketnya itu loh, bikin ngiler parah. Cewe demenan kita modelan gini.”
Pak Rafa seketika libidonya langsung naik. Hanya dengan melihat sepintas Firda yang
melewati halaman rumah. Begitu juga Pak Wido, pikirannya udah kemana-mana. Bahkan dia
sampai berkhayal bisa masukin kontolnya ke memek Firda. Dan crot di dalem memek dia.
“Langsung ngaceng gua seketika, hahaha. Cewenya entotable banget sih. Semoga aja
ada kesempatan buat nyicip dikit pacarnya anak Bos.” Firda pun berlalu begitu saja, mereka
berjalan menuju ke kamar. Iyaa, Arman udah gak sabar pengen nelanjangin Firda saat itu.
Dan sesampainya di kamar, maka terjadi lah. Arman langsung melorotin celana jeans
Firda saat di belakang pintu. Bahkan saat pintu belum tertutup sempurna. Dikunci lah pintu
itu, hingga tersisa celana dalam hitam yang dikenakan Firda. Yang masih nutup memeknya.
Dari belakang Arman keluarin kontolnya. Dia singkap celana dalam renda warna
hitam itu ke samping kanan. Agar terbuka jalur masuk kontolnya ke memek Firda. Firda yang
memeknya masih basah, karena masih membayangkan betapa nikmatnya dientot Rudi.
Arman pun gak peduli, dia malah menggenjot memek Firda makin kenceng dan
ganas. “Maafin aku, sayaang. Tapi kontol aku ini, udah kangen sama memek kamu.
Seenggaknya ngecrot satu kali dulu. Aahhh… Aahhh… Enaakk… Memek kamu ngegrip.”
Suara becek percikan air langsung muncul dari dalam memek Firda. Meski begitu,
sayang sayang seribu sayang. Firda gak merasakan kenikmatan sebesar dia ketika dientot
oleh Rudi. Memek Firda memang terlampiaskan, tapi dia masih merasa kurang puas.
Permainan sudah berlalu 3 menit lamanya, mereka masih dalam posisi yang sama.
Firda merasa cairannya mulai mengalir keluar. Mengalir sampai ke selangkangan, bahkan
cairannya masih turun lagi ke paha kanannya. Firda hanya bisa diam pasrah saat itu.
Dia merasa ngentot di posisi ini, kontol Arman terasa kurang masuk. Sampai akhirnya
karena dia kurang merasa nikmat. Dia pun mengatakan ini. “Sa—Sayaang… Aaahhh…
Aaahhh… Bisa tiduran di kasur aja? So—Soalnya, kontol kamu kurang masuk sayaang.”
Firda saat itu merasa takut, jika rasa sangenya gak hilang. Sedangkan kekasihnya itu
sudah keluar duluan, dia akan sangat takut akan hal itu. Karena jika sampai terjadi, Firda
bisa kehilangan kontrol lagi. Rasa sange yang gak tertahan, bisa bikin dia jadi menggila.
“Aahhh! Aahhh! Se—Sebentar, sayang. Ini aku udah mau ngecrot. Gak tau kenapa
memek kamu berasa sempit banget ketimbang biasanya! Aahhh! Aahhh! Tahaan! Apa aku
yang emang lagi lemah hari ini?” jawab Arman yang menolak. Dia hampir keluar saat itu.
“Ja—Jangan keluar dulu, sayaang! Aku masih belum puass. Aaahhh… Aaahhh…
Kontol kamu masuknya gak dalem, sayaang. Aaahhh… Aaahhh… Gak sampai mentok kaya
biasanya. Kontol kamu kependekan kalo pakai posisi ini,” mohon Firda kepada Arman.
Namun Arman tak mendengarkan Firda, dia yang udah mau ngecrot itu. Lebih
mementingkan nafsu dan kepuasannya ketimbang kepuasan Firda. “Maafin akuu. Na—Nanti
kita ngentot lagi kalo udah keluar yaa. Aahhh! Aahhh! Sedikit lagii! Aahhh! Aahhhhh!!!”
Arman pun langsung ngecrot di memek Firda. Tanpa ganti gaya sama sekali, dalam 4
menit saja Arman langsung keluar. Nafsunya saat itu menggebu, namun daya tahannya
menurun. Entah apa yang terjadi kepada Arman. Firda seketika langsung merasa kecewa.
Firda pun merasa kecewa bukan main, dia lagi sange berat karena habis digenjot
kenceng oleh Rudi. Dan sekarang dia gak mendapatkan kepuasan dari Arman. “Sayaang!
Yaahh, masa udah keluaar. Aku masih sangee, aduuh mana kontol kamu udah ngecil lagi!”
“Hahaha, gak tau aku tiba-tiba ngecil gini. Kita nonton film dulu yuk. Tunggu 30
menit nanti gede lagi kok kontol aku. Seriusan nanti kita lanjut lagi yaa.” Arman menjanjikan
Firda, dan akhirnya dengan berat hati Firda menurut. Mereka mutusin untuk nonton film.
Chapter 55
Setelah selesai ngentot, Arman melakukan keputusan yang blunder. Iyaa, dia
memutuskan untuk nonton film dengan genre romance dewasa. Tujuan awalnya agar bisa
bikin kontolnya ngaceng lagi. Namun baru nonton 15 menit, Arman udah ketiduran aja.
Firda seketika merasa jengkel, dia menyaksikan adegan dewasa. Di mana sang
pemeran wanita dientot dengan posisi gendong. Digenjot dengan kontol berukuran 18 cm.
Seketika hasrat Firda memuncak bukan main. Dia udah gak bisa tahan nafsunya lagi saat itu.
Dia jadi berkeringat, dan memeknya terasa semakin basah. Sampai ketika Firda pun
merasa haus, dia pun keluar dari kamar. Dengan perasaan malu dia turun ke bawah menuju
dapur. Dia ingin mengambil air mineral untuk dia minum. Namun saat dia turun ke dapur.
Di sana sama sekali gak ada orang, kecuali Pak Wido yang lagi merokok di deket
pintu. Karena Firda masih orang baru, dia pun meminta izin. “Pak, maaf minta izin ambil
minum yaa. Saya soalnya haus banget, Arman di atas tidur jadi gak bisa nemenin saya.”
Pak Wido yang lagi merokok, dia seketika kaget dan memutar balik tubuhnya ke
belakang. “Ehh? I-Iyaa, Neng. Ambil aja gak apa-apa, gak usah malu-malu. Kalo yang dulu
biasanya manggil dari atas. Buat ambil air putih aja nyuruh nyuruh sambil teriak, hahaha.”
“O-Ohh, iyaa Pak. Itu kakak kelas saya, emang begitu orangnya. Kalo saya gak enak
kalo mau kaya gitu.” Firda pun meminum air mineral itu, dan karena sambil ngobrol. Firda
minum sampai belepotan, airnya sebagian tumpah ke kaos bagian belahan toketnya itu.
“Waduh, tumpah. Sebentar saya ambilin kain lap dulu yang, Neng. Tunggu sebentar,
seharusnya ada di sini sih.” Pak Wido langsung ambilin kain lap, dan dia berikan kepada
Firda. Seketika terlihat sangat jelas, belahan toket Firda yang menyeplak di kaos hitamnya.
Beserta kedua putingnya yang masih tegang, menyeplak sangat jelas di kaos lengan
panjangnya itu. “Ma—Makasih banyaak, Pak. Yahh, kaos saya basah. Mana saya gak bawa
baju ganti lagi. Gak apa-apa deh, nanti juga kering sendiri. Udah Pak, makasih banyak yaa.”
Pak Wido seketika matanya gak bisa lepas, terfokus ke belahan toket dan kedua
puting Firda. Sampai akhirnya Pak Wido memberanikan dirinya. “Hahaha, sama-sama Neng.
Waduuh, tegang banget kayanya tuh Neng. Bikin ngiler aja ngeliatnya, jadi kangen istri.”
Firda seketika terdiam, dia melihat kesempatan emas untuk memuaskan hasratnya.
Di saat Pak Wido melihat ke belahan toketnya, Firda melihat batang panjang dan besar yang
menonjol di balik celana panjang Pak Wido. Firda pun akhirnya saat itu tersenyum manis.
“Hehehe, beneran ngiler Pak? Nanti istri Bapak marah lagi kalo tau Bapak ngiler
sama sayaa. Emang istrinya ada di mana Pak?” tanya Firda sembari menggoda Pak Wido.
Pak Wido saat itu bagai kucing yang disodorin ikan asin. Bawaannya pengen nyergap aja.
“I-Istri saya di kampung, di Pekalongan istri saya. Aduuh, tegang banget saya ngeliat
kamu Neng. Liat tuh ke bawah, nonjol banget kan kaya toket Eneng ini. Hahaha,” jawab Pak
Wido yang ikut melempar godaan. Mereka pun saling jual beli godaan pada saat itu.
Firda yang udah sange bukan kepalang, dia pun akhirnya memberikan kesempatan
kepada Pak Wido. “Iyaudah, mumpung Arman lagi tidur nyenyak. Dia habis keluar tadi, tapi
saya bersih bersih dulu yaa Pak. Bapak tunggu sini aja, nanti saya turun lagi. Nanti di mana?”
Pak Wido pun langsung memberitahu tempat yang aman untuk mereka bermain. “Di
kamar saya aja, di sana seberang kolam renang. Saya tungguin di sini, jangan lama-lama yaa
Neng. Kalo kamar supir yaa di sana, saya sama Pak Rafa berdua tidurnya di kamar itu.”
Firda pun akhirnya naik ke atas, dia pengen langsung main tapi dia sadar. Di dalem
memeknya masih ada sisa cairan sperma Arman. Dia pun masuk ke dalam kamar mandi di
dalam kamar Arman. Tadi Arman belum sempat menghisap kedua toketnya waktu ngentot.
Jangankan dihisap, dibuka pun enggak toketnya tadi. Hanya diremas aja dari sisi luar
bajunya. Tapi sama Firda toketnya tetap dicuci, dia baru inget tadi di bioskop sempet
nenenin Arman. Iyaa Firda pun sudah seperti mandi, hampir setengah tubuh dibersihkan.
Selesai membersihkan badan, dia pun kembali turun ke bawah. Rupanya sekarang
lagi jam istirahat para pembantu di sana. Dia melihat Pak Wido masih jongkok di pintu. “Pak,
aku udah selesai. Yuk, anter aku ke kamar kamu Pak. Semoga gak ada yang liat kita.”
“Tenang, Neng. Jam segini semua lagi pada tidur istirahat. Sekarang kan jam 3 sore,
jam pada istirahat biasanya sampai jam 5. Yuk sini saya gandeng tangannya.” Mereka
berdua pun bergandengan tangan, sambil menuju kamar yang letaknya dekat kolam renang.
Sampai tiba lah Firda di kamar berukuran cukup luas itu. Di sana terdapat dua kasur
single bed, lampu kamar berwarna putih terang. Yang membedakan di sana gak pakai AC.
Tidak seperti kamar Arman, di sana hanya pakai kipas angin. Pak Wido mengunci pintu.
“Kamarnya luas yaa, Pak. Ada kamar mandinya juga di dalem. Tau gitu saya bersih-
bersih di sini aja. Sini, Pak. Mau nenen sama toket sayaa yaa? Sini hisap Pak.” Firda dengan
beraninya membuka kaos lengan panjangnya itu. Dia singkap ke atas hingga toketnya keluar.
Toketnya mencuat keluar, seketika Pak Wido bisa melihat toket tegang dan padat
berukuran 39D itu. “Wihh! Mantap beneer! Mimpi apa saya semalem, bisa ngeliat toket
seindah ini. Neng, sumpah ini toket paling indah yang pernah saya liat. Slurrrppp…”
Pak Wido pun langsung bersimpuh, dan menghisap toket kanan Firda terlebih
dahulu. Sementara Firda duduk di atas kasur, menikmati hisapan mulut bapak-bapak berusia
40 tahun itu. “Aaahhh… Yang kenceng langsung gak apa-apa, Pak. Aaahhh… Aaahhh…”
Firda mendesah pelan dan manja, sambil tangan kanannya mengelus rambut cepak
dan tipis Pak Wido. Puting Firda dijilatin begitu ganasnya oleh Pak Wido. Sembari Pak Wido
menggigit kecil puting itu saking gemasnya. Firda sempat gemetar ketika putingnya digigit.
“Aaahhh… Geli banget waktu kena gigi, Paak. Aaahhh… Enaakk… Aaahhh… Lebih
kenceng lagi, Paak. Tariik… Aaahhh… Tarik putingnya sayaa, Paak. I-Iyaa begitu. Aaahhh…”
Firda tak kuasa menahan desahannya, apa lagi kumis pria itu menambah sensasi geli.
Kumis tebal Pak Wido mengenai kulit mulus nan putih Firda. Menambah sensasi
nikmat dan geli di toketnya. Di sisi lain, tangan kanan Pak Wido juga gak diam. Dia
menjamah, meremas toket Firda dengan ganasnya. Sambil jari telunjuknya bermain di sana.
Chapter 56
Pak Wido menuruti apa yang Firda inginkan. Dia menyedot toket Firda dengan kuat,
lalu menarik puting Firda ke depan. Hingga puting Firda terlepas dari mulutnya. “Aaahhh!
Enaak banget, lagii Paak. Lagii, sedot kaya tadi lagi sayaang. Aaahhh! Iyaa enaak begitu Pak!”
Jari telunjuk kanan Pak Wido menggesek puting Firda terus menerus. Firda
menggelinjang bukan main, dia merasakan nikmat yang dia inginkan. Apa lagi Pak Wido
seorang perokok berat, hisapan mulutnya terasa begitu kuat dan penuh tekanan bagi Firda.
Kekuatan hisapan mulut Pak Wido, bahkan jauh lebih kuat dari hisapan mulut
Arman. Firda sampai menekan kepala Pak Wido berkali-kali. Dia ingin mulut Pak Wido
semakin menempel di toket kanannya itu. Nafsu Firda semakin meningkrat drastic saat itu.
Putingnya seketika basah kuyup, Pak Wido saking gemasnya dia sampai menjilati
seluruh bagian toket Firda. Tak terkecuali Aerola dan bagian pinggirnya. “Aaahhh… Bapaak.
Memek aku langsung basah, Pak. Yang diisep toket, yang basah memek. Aaahhh… Gelii.”
Pak Wido semakin mengganas, hasratnya untuk ngentot semakin menjadi-jadi. Dia
meremas toket kiri Firda makin kuat dan ganas. Bahkan, Firda sampai sedikit merasa sakit
saking kuatnya remasan tangan Pak Wido. Tangan kotor dan kapalan itu begitu beruntung.
Bisa meremas dan memainkan toket gadis berusia 16 tahun dengan lihainya. Setelah
puas menghisap toket kanan Firda, kini dia berpindah ke sisi kiri. Firda merasa merinding
sampai ke perut dan pinggang. Putingnya kanannya bahkan masih terasa geli saat itu.
“Aaahhh… Toket aku langsung basah kuyup kena air liur Bapak. Aaahhh… Aaahhh…
Bapak ngisepnya jorok, tapi aku sukaa. Hehehe, aku suka toketku penuh air liur begini.
Aaahhh…” Firda baru pertama kali ngerasain, seluruh toketnya basah penuh dengan air liur.
“Aaahhh… Aaahhh… Pengen dientot, Paak. Memek aku berasa makin geli. Padahal
yang dirangsang puting. Aaahhh…” Firda semakin terangsang, memeknya seketika makin
basah. Khawatir celana dalam dan celana jeansnya ikut basah, dia pun melepas celananya.
Sambil menikmati serangan demi serangan yang dilancarkan Pak Wido. Firda yang
duduk di pinggir kasur itu, mengangkat sedikit pantatnya. Melepas kancing celana jeansnya,
dan menurunkan celana jeans dan celana dalamnya sampai se mata kakinya saat itu.
Seketika Pak Wido bisa melihat belahan memek Firda yang basah. Pak Wido kaget,
ketika melihat memek Firda sudah benar-benar basah. Bahkan sampai ada cairan yang
menetes keluar. Menetes perlahan, berjatuhan mengenai sprei kasur tempat tidurnya.
Namun, meski begitu. Pak Wido malah makin bergerilya. Tangannya kini menjamah
kedua paha Firda. Dielus kedua pahanya itu, sambil mulutnya terus menyedot toket kiri
Firda. “Aaahhh… Gelinya sampai ke leher. Aaahhh… Aaahhh… Paakk… Enak banget, Paak.”
Namun Firda seketika tersentak kaget, saat sedang menyusui pria dewasa berusia 40
tahun itu. Jari tengah Pak Wido tiba-tiba memaksa masuk ke dalam memeknya. Firda yang
sudah basah bukan main, dengan mudah lubang itu ditembus dengan satu jari Pak Wido.
“Pe—Pelan dulu, Paak. Kalo langsung dikencengin aku yang ada bisa muncraat. Aku
berasa sangenya udah dari pas pergi sama Arman. Aaahhh! Paak… Jangan langsung
kenceng! Paak! Jangan dikencengin!” Pak Wido sama sekali gak mendengarkan Firda.
Dia langsung mengocok brutal memek basah itu. Seketika dalam hitungan detik saja,
memek Firda langsung becek. Suara percikan air dari memeknya muncul. Tak sampai di situ,
tiba-tiba Pak Wido menambahkan satu jarinya lagi masuk ke dalam lubang memek Firda.
“Paakk! Paakk! Aaahhh! Aaahhh! Ampuun, Paak! Saya nanti ngocor deres, Paak! Saya
nanti muncraat! Aaahhh! Ampuun!” Meski sudah berkali-kali minta ampun, Pak Wido sama
sekali gak memberi gadis itu ampun. Memeknya malah terus dikocok makin kenceng lagi.
Pak Wido pun melepas mulutnya dari toket kiri Firda. Setelah diam tanpa kata
selama beberapa menit, dia pun akhirnya merespon. “Maaf, Neng. Memeknya bersih dan
cantik banget. Mulus dan bening, belum pernah saya liat memek sebening ini, Neng.”
Pak Wido begitu bernafsu dengan Firda. Kini mulutnya yang baru saja selesai
menghisap toket Firda. Berpindah ke bawah menuju belahan memek Firda. Firda seketika
panik, dia berusaha menghentikan Pak Wido. Namun sayang, dia sudah terlambat saat itu.
Lidah Pak Wido sudah berhasil menyentuh klitorisnya. Kocokan kedua jarunya
semakin kuat, kini klitorisnya juga dihisap dan dijilati oleh pria berusia 40 tahun. “Aaahhh!!
Kacaauu!! Ini kacaauu!! Aaahhh!! Gelinya sampai berasa ke ubun-ubun!! Paak! Ampuun!”
Mata Firda seketika menghadap ke atas, tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat. Sampai
akhirnya Firda mengalami kejang-kejang. Saking gak kuasa menahan rasa nikmat sehebat itu
di vaginanya. Tangan kanannya menekan kepala Pak Wido, bibir dan tubuhnya tak selaras.
Mulut berkata sudah berhenti, tapi tubuh menginginkan kenikmatan yang lebih gila
lagi. Firda sampai memainkan puting kirinya sendiri dengan tangan kirinya. Cairan
memeknya mengocor deras, orgasmenya sudah gak bisa dia tahan. Dan akhirnya Firda…
“AAAHHH!!! AKU KELUAARR, PAAKK!!” Firda berteriak sangat keras, dan menyembur
lah dengan deras cairan orgasmenya. Cairan yang berbentuk seperti air seni bening itu,
langsung membasahi wajah Pak Wido. Gadis berjilbab hitam itu sudah tak mampu lagi.
Menahan jilatan dan hisapan lidah Pak Wido di memeknya. Pak Wido pun akhirnya
terhenti, ketika cairan memek Firda menembak telak ke wajahnya persis. Meski begitu, Pak
Wido tertawa puas. “Hahaha… Keluar deres banget, Neng. Enak banget yaa kocokan saya?”
“Ge—Gemeteran sayaa, Pak. Coba liat kaki aku, orgasme aku kali ini terlalu hebat
dan liar. Aaahhh… Bahkan memek aku masih terasa geli. Meski udah gak dijilatin lagi,” ucap
Firda mengakui kehebatan Pak Wido. Bagaimana pun, pria 40 tahun ini berpengalaman.
Jauh lebih punya pengalaman ketika Arman dan mantan kekasihnya Firda yang lain.
Setelahnya, tak lama Pak Wido berdiri sambil mengeluarkan kontolnya. Firda memandangi
kontol hitam, besar, berurat. Yang ukurannya jauh lebih besar ketimbang punya Arman.
“Emut, sayaang. Masukin ke mulut kamu, sedot yang kenceng. Saya pengen
ngerasain dihisap. Soalnya istri saya gak pernah mau ngisep punya saya. Kamu udah jelas
mau kan?” tanya Pak Wido dengan penuh harap. Firda pun tersenyum dan mengangguk.
Dia genggam dan dia kocok perlahan kontol yang berdiri tegak itu. “Siaap, Pak. Aku
akan balas dendam, Bapak udah bikin aku kelojotan. Kali ini aku yang bakal bikin Bapak
kelojotan habis.” Firda menjulurkan lidahnya, dan mulai menjilati lubang kencing Pak Wido.
Chapter 57
Lidahnya terus menari di lubang kencing Pak Wido dengan lembutnya. Bergerak naik
turun ke atas dan ke bawah. Dan berputar-putar di sekitar area lubang kontol itu. “Aahhh…
Geli banget, Neng. Hahaha, berasa sensitif banget yaa di sekitar lubang situ. Aahhh…”
Setelah belasan detik berkutat di sana, Firda mulai melahap kontol Pak Wido bagian
kepala. Kepala kontol itu dimasukkan ke dalam mulutnya. Dihisap perlahan, sambil lidahnya
terus menjilati lubang kontol Pak Wido. Pak Wido pun menikmati rasa geli di kontolnya.
Sambil mengelus lembut jilbab hitam yang dikenakan Firda. Namun tiba-tiba saat
sedang terdiam menikmati permainan mulut gadis itu. Terlintas pikiran jahat di kepala Pak
Wido. Dia mulai jadi gak sabaran, dan secara mendadak dia dorong kontolnya kuat kuat.
Hingga seluruh kontol Pak Wido masuk ke dalam mulut Firda. “Aahhh… Ini baru
enak, kamu kelamaan pakai acara pemanasan dulu. Tahan yaa, Neng. Kamu harus diajarin
cara nyepong yang bener. Lidahnya emang udah mantep, tapi permainannya terlalu lama.”
Firda tersentak kaget, karena tiba-tiba saja kontol Pak Wido yang tadi hanya
kepalanya saja yang masuk di mulutnya. Seketika seluruh kontol Pak Wido masuk ke dalam
mulut Firda. Saking panjangnya, Firda merasa kontol Pak Wido menyentuh kerongkongan.
Bagian yang lebih dalam lagi dari tenggorokan. Dan tanpa aba-aba sedikit pun, Pak
Wido langsung menggenjot kontolnya sangat cepat di mulut Firda. “Uggkhh!! Clcckkk!!
Clcckkk!! Slurrrppp!! Uggkkhh!!” Firda berusaha memberikan perlawanan sekuat mungkin.
Firda pun pasrah mulutnya digenjot. Meski sambil batuk-batuk dan sedikit tersedak,
dia hisap kontol Pak Wido sekuat tenaganya. Sambil lidahnya terus bergerak menjilati
bagian kontol yang bisa dia sentuh. Hisapan bibir Firda, berhasil bikin Pak Wido mengerang.
“Aahhh… Aahhh… Yang kaya gini enak banget, Neng. Aahhh… Aahhh… Saya liat di
film bokep ngisep kaya gini katanya enak. Dan ternyata bener. Aahhh… Aahhh… Maaf, Neng.
Mulutnya saya pake dan saya genjot,” ucap Pak Wido tertawa sambil mendesah pelan.
Meski begitu Firda sama sekali gak mau kalah. Di awal dia memang tersedak, batuk,
dan kaget. Namun setelah satu menit berlalu dia mulai terbiasa. Berkali-kali kontol Pak Wido
menyodok kerongkongannya. Gadis yang sudah sering nyepong kontol banyak cowo itu.
Justru merasa semakin tertantang ketika mulutnya digenjot seganas itu. Firda terus
memberikan perlawanan, dia sedot kontol Pak Wido terus menerus. Meski kepalanya gak
bisa bergerak karena ditahan dan dipegangi, dia tetap bisa memberikan perlawanan hebat.
“Aahhh! Manteep! Aahhh! Aahhh! Rafaa kalo tau kamu sepongannya seenak ini,
Neng. Aahhh! Ngiri dia pasti minta gantian, hahaha. Aahhh! Aahhh! Enak banget, Neng!
Bikin sperma saya kaya ngalir ke ujung,” lanjut Pak Wido yang desahannya makin keras.
Kontol Pak Wido sudah basah kuyup penuh dengan air liur Firda. Pak Wido pun
menyadari bahwa dia salah telah meremehkan gadis 16 tahun itu. Karena setelah dua menit
dia menggenjot mulut Firda, dia malah yang berasa mau ngecrot lebih cepet dari biasanya.
Namun meski begitu, Pak Wido malah makin brutal menggenjot mulut Firda.
“Aahhh! Aahhh! Mulut Neng rapet dan sempit banget gilaa! Aahhh! Aahhh! Saya dulu
pernah disepong mantannya anak Bos yang dulu. Aahhh! Dan rasanya gak senikmat inii!”
Firda pun kaget ketika Pak Wido mengatakan hal begitu. Karena ternyata mantan
kakak kelasnya itu, wanita yang sering dijadikan panutan di sekolah. Juga pernah
menyepong kontol supir dari kekasihnya itu. Ternyata Pak Wido memang seorang predator.
Sampai akhirnya dua menit berlalu, sudah menit keempat Pak Wido menggenjot
mulut Firda. Dan sayangnya, dia gak bisa bertahan terlalu lama. “Aahhh! Aahhh! Maafin
saya, Neng. Saya udah ngeremehin Eneng! Malah saya yang jadi gak bisa tahan lama ini.”
Firda merasa senang dan tersanjung, sebagai hadiah terakhir. Dia mengumpulkan
tenaganya, dan menyedot kontol Pak Wido dengan semua tenaga yang dia rahangnya.
“Aahhh! Neeng! Neeng! Jangan kenceng-kenceng! Gilaa! Kenceng banget! Aahhhhh!!!”
Pak Wido seketika tak kuasa menahan cairan spermanya, keluar begitu saja dengan
sangat deras. 5 kali semburan sperma dia muntahkan di mulut Firda. Pak Wido sampai
gemeteran, tapi yang lebih gilanya lagi. Firda benar benar balas dendam kepada Pak Wido.
“Aahhhh!!! Neng, jangan disedot lagii! Ini lagi keluaar, Neeng! Neeng sperma saya
lagi keluaar! Aahhhh!! Neng udah gak waras ini maahh!! Neengg!!” Pak Wido kelojotan
bukan main, ketika sperma lagi keluar deras-derasnya. Firda malah terus menyedot kuat.
Bahkan saking gak kuat nahan hisapan mulut Firda, Pak Wido sampai berjuang
melepaskan kontolnya dari mulut Firda. Ketika setengah kontolnya berhasil dicabut. Firda
malah memeluk pinggang Pak Wido. Dia masukkan lagi semua kontol Pak Wido saat itu.
“Slurrppp!! Slurrrppp!! Slurrrppp!!” Suara hisapan mulut Firda begitu kuat dan
penuh tekanan. Pak Wido sampai menjambak kerudung Firda kuat-kuat. Mulutnya terbuka
lebar, erangannya gak bisa dia tahan saking nikmatnya. Firda memberikan pelajaran besar.
Dengan begitu berani, Firda melakukan deepthroat di kontol Pak Wido. Sampai
seluruh sperma Pak Wido tertelan dengan sendirinya. “Neeng! Ampuun, Neeng! Aahhh!!
Sinting!! Aahhh!! Gelinya gak ketahan Neng sumpah! Aahhh!! Mau keluar lagii! Aahhhh!!!”
Hanya dalam satu menit saja, Pak Wido akhirnya ngecrot lagi untuk kedua kalinya.
Mulut Firda terus mengocok kontol sepanjang 18 cm itu. Dia terlihat begitu menikmatinya.
Dia sama sekali gak merasa kasihan, dengan pria berusia 40 tahun itu. Firda menggila.
Pak Wido bahkan merasa hampir pingsan karena begitu kencengnya sepongan Firda.
Yang jadi masalah bagi Pak Wido, Firda tak mau berhenti menyedot kontolnya saat dia
sedang ejakulasi. Namun setelah beberapa detik, Firda pun akhirnya merasa kasihan.
Dia cabut kontol Pak Wido dari mulutnya, seketika Pak Wido langsung terduduk
jatuh di lantai kamar. “Buaahhh!! Hebaatt! Neng, saya sampai gemeteran begini badan.
Maafin sayaa, Neng! Saya minta ampun. Maafin saya udah ngeremehin Neng cantik ini.”
Firda pun menelan sperma Pak Wido dari ejakulasi keduanya. Hingga habis tak
tersisa sama sekali. Dan dia pun merespon perkataan Pak Wido. “Hehehe, gimana Pak?
Sampai kejang-kejang yaa? Saya balas dendam, tadi saya juga dibikin kejang kejang loh.”
“Hahaha, iyaa Neng. A-Aahhh… Masih berasa gelinya ini punya saya. Mantep deh
pokoknya. Besok besok gak lagi ngeremehin Neng Firda.” Firda pun tertawa lepas kala itu.
Pak Wido pun akhirnya mengakui kehebatan Firda, dan dia pun minta istirahat lebih dulu.
Bagi Pak Wido, sensasi ngecrot sampai dua kali di mulut Firda itu. Selamanya gak
akan pernah dia lupakan sampai mati. Hanya Firda seorang, gadis yang mampu membuat
Pak Wido kelojotan sampai minta ampun. Dan Firda merasa sangat bangga akan hal itu.
Chapter 58
Selesai menyepong kontol Pak Wido. Firda pun diminta menungging di atas kasur.
Mereka akan memulai peraduan kelamin mereka dengan gaya doggy style. Firda pun
menurut, dia di atas kasur itu menungging dan nyodorin memeknya untuk sang supir itu.
“Mantep, memeknya wangi dan bersih banget. Memek yang beneran dirawat
dengan sangat baik. Udah gak sabar yaa Neng pengen saya kontolin memeknya?” tanya Pak
Wido sambil pasang posisi di belakang Firda. Dia hendak memasukkan kontolnya saat itu.
“I-Iyaa, Pak. Saya udah pengen dientot dari tadi. Sebenernya kalo bisa, pengennya
saya gak usah foreplay segala. Pengen langsung dientot aja saya sama Bapak. Udah gatel
memek saya Pak,” jawab Firda yang gak sabar menunggu memeknya dimasukin kontol.
Pak Wido pun mulai masukin kepala kontolnya, karena memek Firda udah becek.
Hanya butuh hitungan detik, kepala kontol Pak Wido sudah masuk di dalam memek Firda.
“Uuhh, rapet banget Neng. Sebentar, saya dorong lagi yaa tahan. Gilaa rapet banget ini.”
Pak Wido mendorong lagi kontolnya, hingga setengah kontolnya berhasil masuk.
Firda pun seketika kegirangan memeknya dimasukin kontol 18 cm. “Aaahhh… Padahal baru
setengah, tapi memek saya berasa penuh Pak. Aaahhh… Dorong lagii, pentokin terus Paak.”
Pak Wido sedikit menarik kontolnya ke belakang, dan akhirnya dengan satu kali
dorongan. Dia hentak sekuat tenaga memek Firda. Hingga dia berhasil masukin kontolnya
sampai mentok ke dinding rahim Firda. Sayangnya gak semua kontol Pak Wido bisa masuk.
Masih ada sedikit terutama di bagian pangkalnya, yang masih berada di sisi luar.
Meski begitu, ini lebih cukup untuk membuatnya mendapat kenikmatan. Pak Wido menarik
kedua tangan Firda ke belakang, dia gunakan sebagai pegangan agar tetap stabil saat itu.
“Udah siaap yaa, Neng? Langsung saya kencengin nih. Satu… Dua… Tigaa…” Plakk!!
Pak Wido langsung menggenjot memek Firda dengan rpm tinggi. Firda yang udah ngerasa
sange berat dari tadi. Seketika dia kegirangan ketika memeknya digenjot kontol cowo lagi.
“Aaahhh! Enaakk! Kenceng banget genjotnyaa Paak! Aaahhh! Aaahhh! Memek saya
udah gelii karena dientot tapi gak sampai orgasme! Aaahhh! Teruss! Teruss Paak! Aaahhh!”
Dinding rahim Firda diobok obok dengan begitu ganasnya pakai kontol Pak Wido di kasur.
Terus menerus terkena hentakan kuat, Pak Wido melakukan rough di memek Firda.
Digenjot dengan rpm sangat tinggi, kontol Pak Wido bergerak keluar masuk mengocok
memek gadis berusia 16 tahun itu. Mata Firda sampai terpejam, memeknya langsung becek.
Plokk!! Plokk!! Plokk!! Plokk!! Plokk!! Plokk!! Plokk!! Plokk!! Plokk!! Plokk!! Plokk!!
Ini akan menjadi keberuntungan besar bagi Firda. Mengingat dia sudah bikin Pak
Wido ngecrot sampai dua kali. “Aahhh… Aahhh… Neengg… Maaf yaa kalo keluarnya agak
lama. Soalnya tadi kan udah dibikin ngecrot dua kali saya. Aahhh… Aahhh… Biar enak kita.”
Firda pun gak mempermasalahkan, dia memang lagi ingin dientot cukup lama oleh
lawan mainnya. “Ga—Gak apa-apa, Pak. Aaahhh! Saya emang lagi pengen orgasme berkali-
kali. Memek saya lagi gatel, pengen dientot kenceng dalam waktu lama! Aaahhh! Aaahhh!”
Firda pun sudah pasrah, dia dalam kendali penuh Pak Wido. Sementara di waktu
yang sama, Arman masih tertidur lelap di kamarnya. Namun Pak Rafa saat itu berniat untuk
masuk ke kamar para supir. Namun ketika hendak membuka pintu, pintu sedang terkunci.
Secara samar Pak Rafa mendengar suara desahan keras seorang wanita. Dia
tempelin telinganya di pintu kamar itu. “Hah? Ada cewe ngedesah? Si Wido ngentot sama
siapa tuh? Kok kagak ngajak-ngajak, aahh suee banget. Mana gua lagi pengen ngentot juga.”
Pak Wido semakin menggila, kocokan kontolnya makin bertambah cepat di memek
Firda. Cairan memek Firda menetes terus menerus ke sprei kasur. Kedua toketnya bergerak
memantul seiring dengan goyangan kontol Pak Wido di memeknya. Dia begitu menikmati.
“Enakan mana, Neng? Kontol saya apa kontol pacar Eneng? Aahhh… Aahhh… Tadi
katanya habis dientot anak si Bos tapi gak puas? Berarti enakan kontol saya dong? Jawab
jujur ayoo,” tanya Pak Wido yang ingin mendengarkan perbandingan dari mulut Firda itu.
“Aaahhh! Aaahhh! Enakan kontol punya Bapak! Masuknya dalem banget, Paak!
Paling enak pas memek saya dihentak sampai mentok. Aaahhh! Itu rasanya, bikin
melayaang! Aaahhh!” jawab Firda dengan jujur. Dia sama sekali gak beralasan ke Pak Wido.
Pak Wido pun merasa kegirangan, karena kontolnya dipuji lebih nikmat ketimbang
punya Arman. “Dulu Diah juga begitu, Neng. Aahhh… Aahhh… Dia bilang kontol saya lebih
enak dari anak si Bos. Hahaha, kasian banget. Semua cewenya pernah saya entot, Neng.”
Meski baru semenit berlalu pertarungan kelamin mereka. Namun Firda sudah
merasa gak sanggup untuk menahan gempuran kontol Pak Wido. “I-Iyaa, Pak. Aaahhh!
Wajar aja banyak cewe yang pengen dientot Bapak! Saya aja ketagihan dientot kaya gini!”
Di luar pintu, Pak Rafa bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas. Dia tertawa
licik, iyaa dia bisa menggunakan perbincangan mereka sebagai ancaman. Pak Rafa juga
punya hasrat dan keinginan besar untuk ngentotin Firda. Dia akan mengancam mereka.
Firda pun seketika tubuhnya bergetar, matanya dia paksa untuk tetap terbuka.
Membuat matanya terbelalak ke atas, cairan memeknya udah numpuk di kantung
kemihnya. Dia udah gak sanggup menahan gempuran kontol supir dari kekasih barunya itu.
“Aaahhh!! Aaahhh!! Ini yang aku inginkan! Lebih enak dari kontol Kak Rudi!
Genjotannya juga lebih kenceng! Teruss, Pak! Saya mau muncraat! Aaahhh!! Aaahhh!!
Hentak terus Paak meski saya keluaarr!! Aaahhh!! AAAHHHH!!!” teriak Firda sangat keras.
Firda pun akhirnya mencapai orgasme keduanya. Cairan memeknya mengalir keluar
dari sela sela kontol Pak Wido dan lubang memeknya. Cairan memek Firda berjatuhan ke
sprei kasur Pak Wido. Membasahi sprei sampai membentuk lingkaran saking banyaknya.
Sesuai dengan permintaan Firda, Pak Wido terus menggenjot memek Firda meski
sedang muncrat deres. Firda ingin merasakan sensasi dientot kontol gede sambil orgasme.
Dan dia mendapatkan sensasi kenikmatan yang dia inginkan. Sensasi yang luar biasa.
“Lagii!! Lagii, Paak! Bikin saya muncrat lagii! Aaahhh!! Aaahhh!! Ayoo, Paakk!! Lebih
kencengg! Lebih kenceng lagii!” Pak Wido sampai kebingungan, dia sudah menggenjot
memek Firda dengan kecepatan paling tinggi yang dia bisa. Tapi Firda meminta lebih.
“Gi—Gilaa kamu, Neng! Diah sama Rani aja udah kewalahan sampai minta ampun
digenjot sekenceng ini! Kamu malah minta lebih lagi! Waduuh, ini sih binalnya udah next
level. Susah buat diturutin,” jawab Pak Wido sambil tercengang melihat kelakukan Firda.
Chapter 60
Firda benar-benar layaknya orang kesetanan, meskin genjotan kontol Pak Wido
terasa sangat nikmat. Namun dia masih menginginkan rasa nikmat yang lebih. Pak Wido
sampai berkeringat, saking kencangnya dia menggenjot memek Firda. Sampai mulai lelah.
Meski begitu, gengsi dan rasa malu Pak Wido lebih besar. Jika dia sampai gak bisa
memuaskan gadis remaja seperti Firda. “Aaahhh!! Teruss, Paakk!! Aaahhh!! Enaknya sampai
ke seluruh badan. Kontol Bapak gede bangeet. Masuk dan nancepnya dalem dan enak!”
Firda tubuhnya benar-benar gemeteran tanpa henti. Dia menikmati genjotan kontol
Pak Wido di kala orgasmenya tadi. Ini membuat cairan di memeknya gak berhenti keluar.
Pak Wido pun melepas kedua tangan Firda. Dia ingin mengganti gaya ngentot mereka.
Pak Wido melepas kontolnya dari memek Firda. Lalu dia meminta Firda untuk ganti
posisi. “Kamu tiduran di kasur, Neng. Tapi posisi tidurnya menyamping. Saya pengen ganti
posisi, biar gak bosen ngedoggy kamu terus. Seenggaknya kamu udah keluar satu kali kan.”
“I-Iyaa, Pak. Sebentar saya pindah posisi dulu.” Firda pun menjatuhkan tubunya ke
kasur. Lalu dia berputar hingga posisi tubuhnya telentang. Dia kemudian tiduran
menyamping. “Udah, Pak. Ayoo, Pak. Masukin kontolnya lagi, jangan kelamaan cabut Pak.”
Pak Wido pun tiduran di samping Firda. Dia masukin lagi kontolnya ke dalam memek
Firda. Mereka kali ini menggunakan gaya spooning, ngentot dengan gaya tiduran
menyamping. Pak Wido mengangkat satu kaki Firda ke atas dan dia pegangin kaki itu.
“Mantaap, dari posisi mana pun. Memek kamu ini emang berasa sempit dan ngegrip
banget. Saya bakal bikin kamu muncrat lagi kedua kalinya.” Pak Wido kembali menggenjot
memek Firda dari samping. Firda pun saat itu sudah kehilangan sisi kewarasannya lagi.
Pak Wido langsung tancap gas, dia kembali mengganas seperti sebelumnya. Di posisi
ini tangan Pak Wido meremas toket kiri Firda dari belakang. Dia memainkan puting Firda
sambil menggenjot terus lubang memek gadis 16 tahun itu. Firda terlihat begitu menikmati.
Ditambah lidah Pak Wido juga ikut menjilati bagian punggung Firda. Dia ingin
menjlati bagian leher, namun gak bisa karena jilbab Firda masih terpasang. “Bikin saya
muncrat lagii, Paak! Aaahhh! Aaahhh! Saya ketagihan kontol Bapak! Aaahhh! Aaahhh!”
Kontol Pak Wido bergerak keluar masuk menyodok-nyodok memek Firda. Di sisi lain
Firda mulai kewalahan, energi dan staminanya mulai berkurang. Rasa geli yang terlalu besar
membuat tubuhnya bertambah lemas terus. Pak Wido terus menghentak memek Firda.
Dia semakin menggila, nafsunya yang sempat turun kini meningkat lagi. Seolah gak
bisa berhenti menggenjot memek gadis itu. “Aahhh! Neeng! Aahhh! Ini saya bentar lagi mau
keluaar! Tapi saya bikin Neng muncrat sekali lagi. Aahhh! Boleh keluar di dalem gak?”
Firda yang pikiran dan tubuhnya sudah dikuasai nafsu yang begitu tinggi. Dia sama
sekali gak memikirkan dampak panjang. Dia selalu mengizinkan setiap cowo yang berhasil
ngentotin dia untuk ngecrot di dalem memeknya. Dan tentu saja, dia memberi izin itu.
“Bo—Boleeh! Aaahhh! Aaahhh! Boleehh! Buat Pak Wido boleeh! Aaahhh! Aaahhh!
Memek saya becek lagi, Paak! Kontol Bapak makin kenceng ngobok ngobok memek saya.
Aaahhh!” jawab Firda memberikan izin. Pak Wido pun senang kegirangan bukan main.
“Makasih banyak, Neeng! Aahhh! Nanti kalo Neng ke sini lagi kita ngentot lagi yaa.
Aahhh! Aahhh! Maafin saya, Neng. Eneng terlalu menggairahkan. Jadinya saya pengen
nanem benih di rahim Eneng,” timpal Pak Wido mengungkapkan niat jahatnya kepada Firda.
Namun berbeda bagi Firda, dia menganggap perkataan Pak Wido sebagai sebuah
niat baik. Dia yang sudah terbiasa dicreampie, dia sangat maniak terhadap sperma lelaki.
Terutama lawan mainnya, dia selalu merasa kehangatan yang besar ketika dicreampie.
Dalam posisi ini, Firda dan Pak Wido sama-sama sudah kebelet. Firda cairannya
kembali numpung di kantung kemih. Pak Wido cairan spermanya juga menumpuk di ujung
kontolnya. Firda pun berucap dalam hati. “Maafin aku, Kaak. Kontol supir kamu nikmat.”
Sambil terus digenjot Pak Wido, Firda kembali berkata dalam hatinya. “Kontol supir
kamu jauh lebih nikmat dari punya kamu. Aku gak bisa berhenti, aku gak mau dia berhenti
genjot memek aku sayaang. Maafin aku, pacar kamu ini ketagihan kontol bapak bapak.”
Sampai akhirnya satu menit kemudian, lagi dan lagi Firda harus mengakui
kekalahannya. Dia gak kuat menahan hentakan kontol Pak Wido yang menggila. “Aaahhh!
Paakk! Teruss! Teruss! Mau keluaar, Pak! Enak banget kontol Bapak! Aaahhh! AAAHHH!!!”
Firda mendesah sangat keras, dia berteriak bahkan terdengar seperti menjerit.
Orgasme ketiganya pun berhasil dia dapatkan. Cairan yang menumpuk di kantung kemihnya
tak bisa dia tahan. Menyembur keluar semua, meski tak sebanyak saat orgasme kedua.
Pak Wido dengan tergesa mencabut kontolnya lagi. Dia ingin mengganti posisi
ngentotnya lagi dengan Firda. Kali ini dia akan menggunakan gaya man on top. Dia
melakukan ini, agar semua benih spermanya bisa masuk sangat dalam membuahi Firda.
Firda pun telentang pasrah di atas kasur itu. Pak Wido memasukkan kontolnya lagi.
Dengan posisi man on top itu lah. Pak Wido menggunakan sisa tenaganya untuk
mengeluarkan spermanya. “Aahhh! Saya pengen hamilin kamu, Neng! Aahhh! Aahhh!”
“Kalo kamu hamil anak saya, bisa dipastikan kamu bakal jadi istri saya. Hahaha…
Aahhh! Aahhh! Lihaat, Neng. Memek kamu bakal saya isi penuh pakai sperma saya. Aahhh!”
ucapnya sambil tertawa puas, Pak Wido merasa menang karena akan creampie Firda.
“I-Iyaa, Paak. Aaahhh! Saya pasrah aja udah, Paak! Udah gak bisa gerak, gak apa-apa
kalo Bapak mau buntingin sayaa! Aaahhh! Aaahhh!” Namun Firda juga gak begitu bodoh.
Dia sudah pasang KB sesuai dengan saran Pak Agung. Guru yang pernah menghamili dia.
Dan tentu saja, Pak Wido gak akan bisa dengan mudah menghamili Firda. “Aahhh!
Aahhh! Saya mau ngecrot, Neeng! Aahhh! Aahhh! Udah mau keluaar, masih saya tahan!
Aahhh! Aahhh! Neeng! Neeng! Aahhh! Aahhh! Saya keluaar, Neng! Saya ngecrot! Aahhhh!!”
Pak Wido mengerang hebat, dan di saat yang sama dia memuntahkan spermanya di
dalam memek Firda. Kabar buruknya saat itu, ketika Pak Wido sedang menyemburkan
spermanya di memek Firda. Arman di dalam kamarnya sudah terbangun lagi di sore itu.
Dia menoleh ke sekeliling, dan sama sekali gak melihat Firda di dalam kamarnya.
Arman yang masih mengumpulkan kesadaran. Dia pun kebingungan. “Ini cewe gua kemana?
Lagi di kamar mandi kah? Tapi pintu kamar mandi kebuka? Coba gua cari di luar deh.”
Chapter 60
Arman pun mencuci mukanya terlebih dahulu. Muka bantalnya dia bersihkan
sebelum keluar kamar. Setelahnya dia mengambil handuk, dan mengeringkan wajahnya
yang basah. Selesainya dia pun segera keluar kamar. Arman sama sekali gak curiga ke Firda.
Dia yakin Firda masih berada di dalam rumah, saat Arman keluar dari kamarnya. Dia
mencari Firda di lantai dua terlebih dulu. Dia mencari di ruang keluarga lantai dua. Dan gak
menemukan Firda, dia menuju ke balkon. Siapa tau Firda sedang mencari angin di sana.
Namun Arman tetap gak menemukan Firda. Dia sampai menggaruk garuk kepalanya.
Bingung mencari keberadaan Firda ada di mana. “Duhh, ini anak kemana lagi? Mana baru
pertama kali ke sini. Pakai acara ngilang pula, ke dapur kali yaa? Haus atau laper kali dia.”
Akhirnya setelah 5 menit mencari Firda di lantai atas. Arman pun turun ke bawah,
ketika dia turun dia langsung bisa melihat ruang keluarga lantai satu. Namun Arman tetap
gak menemukan Firda di sana. Dia pun akhirnya berjalan mengarah ke dapur rumahnya.
Di sana situasi dapur masih sepi, waktu masih menunjukkan jam 4 sore. Dan ketika di
dapur, dia mendengar suara Firda. “Paak, makasih banyak yaa. Aku mau balik dulu ke kamar
Arman. Aku harus buru buru, aku udah ninggalin kamar terlalu lama. Jangan sampai…”
Firda pun berpas-pasan dengan Arman ketika masuk ke dapur. Firda tersentak kaget,
dia berdiri dengan kaki gemetar. “Sa—Sayaang? Ka—Kamu udah bangun?” Firda bergetar
ketakutan, saat dia berdiri di depan Arman. Sperma Pak Wido masih mengalir keluar.
Cairan sperma itu mengalir keluar dari memeknya. Arman pun menatap Firda penuh
kebingungan. Dia melihat dari ujung kaki sampai ujung kepala Firda. Dan Arman pun merasa
curiga, kenapa raut wajah Firda seolah terlihat ketakutan seperti itu. Arman pun bertanya.
“Kamu kenapa? Habis dari mana kamu? Kok keliatan gemeteran kaya ketakutan
gitu? Kamu habis melakukan sesuatu kah?” tanya Arman sambil terus memperhatikan Firda.
Arman melihat celana jeans Firda basah, Firda pun terlihat penuh keringat di tubuhnya.
“I-Iyaa, aku habis minum barusan. Terus diajak ngomong sama Pak Wido dan Pak
Rafa. Iyaa ditanya-tanya, dan gak berasa ngobrolnya kelamaan. Aku takut kamu marah aku
ngobrol lama sama mereka,” jawab Firda yang berbohong. Dia berusaha mencari alasan.
Sampai tiba-tiba Arman melihat puting Firda basah. Terlihat karena menyeplak di
kaos lengan panjangnya. Dan ada bercak bekas air di sana. “Terus kok puting kamu basah
begitu? Iyaa kalo cuma ngobrol mah gak apa-apa. Mereka emang ramah sama orang baru.”
Firda pun melihat ke kaosnya, dan dia lupa akan putingnya yang basah. Kedua
putingnya masih basah karena sebelum pergi kedua toketnya sempat dikenyot lebih dulu
oleh Pak Wido. “Ohh, iyaa sayaang. I-Inii tadi ketumpahan air, ini di belahan juga basah.”
Arman pun memegang kaos Firda di bagian belahan. Dan iyaa, di sana juga basah
sesuai dengan perkataan Firda. Namun yang membedakan kaos di bagian itu sudah kering.
Sementara yang di bagian puting masih basah, dan ketika dipegang terasa sangat lengket.
“Iyaa sih bagian belahan basah. Tapi ini udah kering, keliatan kesiram air tapi udah
kering. Ini kok bagian puting kamu masih belum kering? Bukannya ketumpahan airnya
barengan?” tanya Arman yang masih menggunakan logikanya. Iyaa gak sebodoh itu lah.
“Aku gak tau yaa. Mungkin karena aku masih horny berat. Hehehe, bi—bisa kita
lanjut ngobrolnya nanti? Aku kebelet buang air besar. Sama aku masih pengen ngentot
sama kamu,” jawab Firda yang mengajak Arman berhenti membicarakan tentang hal ini.
Arman pun menerima alasan Firda, di sisi lain menurut Arman. Di sini gak ada orang
yang bisa jadi selingkuhan Firda. Dari sudut pandang Arman, Pak Wido dan Pak Rafa adalah
orang baik. Mereka gak mungkin berbuat aneh kepada Firda. Jadi dia coba berpikir positif.
Akhirnya Firda dan Arman pun naik lagi ke lantai dua. Firda langsung masuk ke kamar
mandi, dia bilang ingin buang air besar. Namun yang terjadi dia membersihkan seluruh
tubuhnya. Dia menyabuni lubang memeknya, mencuci putingnya pakai sabun berkali-kali.
Dia gak ingin sampai air liur Pak Wido masih tercium di putingnya. Apa lagi Firda
mencium bau santer rokok filter ketika dia nenenin Pak Wido. Dia harus menyabuni puting
dan memeknya berulang kali. Sayangnya cairan pembersih kewanitaan yang biasa dia pakai.
Tertinggal di tas kecil yang dia taruh di kasur Arman. Karena sabun saja gak cukup
bagi Firda untuk membersihkan memeknya itu. Namun meski begitu, dia tetap
membersihkan berulang kali. Sampai dia rasa benar-benar bersih, baru lah dia bilas ulang.
Dia bilas sampai bersih dan dia keluar dari kamar mandi. Setelah keluar, Firda pun
tiduran di samping Arman yang masih menonton adegan dewasa di film itu. Firda sebelum
keluar sempat menghentikan sementara film tersebut. Dan mereka lanjut nonton lagi.
Firda pun nempelin toketnya ke lengan kiri Arman sambil berbicara dengan nada
manja. “Sayaang, aku masih sange. Masih pengen ngentot, sayaang. Masih pengen disodok
memek aku pakai kontol kamu. Ayoo ngentot lagii, sayaang. Gak tahan nih pengen ngewe.”
Arman pun tertawa kecil, melihat Firda yang minta dientot lagi. Firda sengaja
berpura-pura minta, agar gak dicurigai oleh Arman. Meski sebenarnya dia sudah puas
dientot gila gilaan oleh Pak Wido. “Kamu pengen aku entot lagi? Yaudah sini nungging.”
“Gak mau nungging, sayaang. Maunya digenjot dari atas, kamu yang di atas. Biar
kontol kamu masuknya dalem ke memek aku.” Firda kembali melepas celana jeans beserta
celana dalamnya. Dia mengangkang lebar-lebar, sambil membuka memeknya pakai dua jari.
“Iyaudah sini, yaudah kali ini pakai posisi kesukaan kamu.” Arman pun memasukkan
kontolnya ke dalam memek Firda. Dan mereka pun bersenggama lagi untuk kesekian
kalinya. Firda melakukan hal ini, hanya untuk menghilangkan rasa curiga dari Arman.
Firda adalah gadis yang begitu binal. Sampai harus mengatakan kebohongan demi
kebohongan demi menutupi kebinalannya yang tidak terkontrol itu. Meski begitu, gadis
berusia 16 tahun itu memang dipenuhi keberuntungan. Dia selalu lolos dari masalah.
Dia menggunakan sisi kebinalannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dari
kepuasan, materi, nilai, jabatan, kemudahan, dan berbagai hal lainnya lagi. Dan mari kita
saksikan berbagai petualangan binal Firda yang lebih gila lagi di season berikutnya.