0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan28 halaman

Tiara Buk Gek

Dokumen ini membahas gangguan pendarahan intra dan post partum, termasuk syok hemoragik, inersia uteri, dan retensio plasenta, yang merupakan masalah kesehatan serius bagi ibu dan janin. Pendarahan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan memiliki risiko tinggi di negara berkembang, dengan angka kematian ibu yang signifikan. Penanganan cepat dan pencegahan melalui edukasi kesehatan serta akses ke fasilitas medis yang memadai sangat penting untuk mengurangi dampak fatal dari kondisi ini.

Diunggah oleh

ttyara721
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan28 halaman

Tiara Buk Gek

Dokumen ini membahas gangguan pendarahan intra dan post partum, termasuk syok hemoragik, inersia uteri, dan retensio plasenta, yang merupakan masalah kesehatan serius bagi ibu dan janin. Pendarahan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan memiliki risiko tinggi di negara berkembang, dengan angka kematian ibu yang signifikan. Penanganan cepat dan pencegahan melalui edukasi kesehatan serta akses ke fasilitas medis yang memadai sangat penting untuk mengurangi dampak fatal dari kondisi ini.

Diunggah oleh

ttyara721
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

GANGUAN PENDARAHAN INTRA DAN POST PARTUM

(SYOK HEMORAGIC, INERSIA UTERI, RETENSIO PLASENTA, HEMORAGIC POST


PARTUMA)

DOSEN PEMBIMBING:Ns.Febrisnti Astuti M.kep

DISUSUN OLEH:

1. IMAN WAHYUDI
2. IFTIARA
3. NURUL FATIHAH SIRAJ

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MATARAM

PRODI S1 KEPERAWATAN

TAHUN 2025/2026
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul "Keganasan
Organ-Organ Reproduksi Kanker serviks, Kanker Endometrium, ovarium". Makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas “Keperawatan Kesehatan Reproduksi” dan diharapkan
dapat memberikan informasi serta menambah wawasan bagi para pembaca.

Dalam penyusunan makalah ini, kami menyadari masih terdapat kekurangan dan
keterbatasan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun
dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini. Kami mengucapkan terima kasih
kepada penulis yang telah membantu kami dalam penyusunan makalah ini.

Mataram 19 Maret 2025


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan Penulisan

BAB II PEMBAHASAAN

2.1 Definisi dan Epidemiologi Ganguan pendarahan intra dan post partum

2.2 Faktor Risiko Ganguan pendarahan intra dan post partum

2.3 Gejala Ganguan pendarahan intra dan post partum

2.4 Pencegahan Ganguan pendarahan intra dan post partum

2.5 Penanganan Ganguan pendaraha intra dan post partum

2.6 penatalaksanaan ganguan pendarahan intra dan post partum

2.7 patofisiologi ganguan pendarahan intra dan post partum

2.8 Definisi syok Hemoragic

2.9 Epidemiologi syok Hemoragic

2.10 faktor resiko syok Hemoragic

2.11 Gejala syok Hemoragic

2.12 Definisi inersia uteri

2.13 Epidemiologi inersia uteri

2.14 Faktor resiko inersia uteri

2.15 Gejala inersia urin


2.16 Definisi Retensio Plasenta

2.17 Epidemiologi Retensio Plasenta

2.18 Faktor resiko Retensio Plasenta

2.19. Gejala Retensio Plasenta

2.20. Definisi Hemoragic post partum

2.21 Epidemiologi Hemoragic post partum

2.22 Faktor resiko Hemoragic post partum

2.23 Gejala Hemoragic post partum

BAB lll PENUTUP

4.1 Kesimpulan

4.2 Daftar Pustaka


BAB l

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gangguan perdarahan intra partum adalah perdarahan yang terjadi selama


proses persalinan. Perdarahan ini dapat disebabkan oleh kondisi seperti abrupsi
plasenta, plasenta previa, atau trauma pada saluran lahir. Kejadian perdarahan ini
berisiko tinggi bagi ibu dan janin karena bisa menyebabkan syok hemoragik atau
gangguan oksigenasi pada janin. Gangguan perdarahan post partum adalah
perdarahan yang terjadi setelah kelahiran bayi. Perdarahan ini terjadi jika ibu
kehilangan darah lebih dari 500 ml setelah persalinan normal atau lebih dari 1000
ml setelah bedah sesar. Penyebab utama perdarahan post partum antara lain
adalah atonia uteri, retensio plasenta, trauma jalan lahir, dan gangguan koagulasi
darah. Perdarahan ini dapat bersifat primer (terjadi dalam 24 jam pertama) atau
sekunder (terjadi setelah 24 jam hingga 6 minggu). Jika tidak segera ditangani,
kondisi ini dapat berakibat fatal bagi ibu.

Gangguan perdarahan intra dan post partum masih menjadi masalah


kesehatan masyarakat yang serius, terutama di negara berkembang seperti
Indonesia. Berdasarkan laporan WHO, perdarahan post partum menyebabkan
sekitar 27% dari seluruh kematian ibu secara global. Di Indonesia sendiri, data
dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa perdarahan adalah penyebab
utama kematian ibu, dengan persentase sekitar 30–35% dari seluruh kasus
kematian ibu hamil dan melahirkan. Fenomena ini banyak terjadi di komunitas
pedesaan dan daerah terpencil, di mana akses ke fasilitas kesehatan yang
memadai masih terbatas. Banyak persalinan masih dilakukan di rumah tanpa
bantuan tenaga kesehatan profesional, sehingga keterlambatan dalam
menangani perdarahan menjadi faktor utama tingginya angka mortalitas. Selain
itu, faktor lain yang memperparah kejadian ini adalah rendahnya tingkat edukasi
ibu hamil mengenai tanda-tanda bahaya persalinan, keterbatasan transportasi
darurat, serta kurangnya stok darah di fasilitas kesehatan. Dalam banyak kasus,
ibu mengalami perdarahan hebat dalam perjalanan menuju rumah sakit atau saat
menunggu tindakan medis.

Peningkatan angka kejadian ini juga dipengaruhi oleh tingginya angka


kehamilan risiko tinggi, seperti preeklampsia, kehamilan dengan usia lanjut,
anemia selama kehamilan, serta keterlambatan dalam melakukan rujukan medis.
Upaya pencegahan melalui program edukasi kesehatan ibu, pelayanan antenatal
yang optimal, serta pelatihan petugas kesehatan dalam penanganan
kegawatdaruratan obstetri menjadi sangat penting untuk mengurangi angka
kejadian dan dampak fatal dari perdarahan intra dan post partum di masyarakat.

B. Tujuan Penulisan

1. Apa yang dimaksud dengan gangguan perdarahan intra dan post partum?

2. Apa saja penyebab terjadinya syok hemoragik, inersia uteri, retensio plasenta,
dan hemoragik

3. Pos partum?

4. Bagaimana manifestasi klinis dan patofisiologi dari masing-masing gangguan


tersebut?

5. Bagaimana langkah pencegahan dan penatalaksanaan yang tepat terhadap


gangguan perdarahan intra dan post partum?

C. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari gangguan perdarahan intra dan post partum, termasuk syok
hemoragik, inersia uteri, retensio plasenta, dan hemoragik post partum?

2. Apa saja faktor penyebab (etiologi) dari masing-masing gangguan perdarahan


tersebut?

3. Bagaimana manifestasi klinis dan patofisiologi dari gangguan perdarahan intra


dan post partum?

4. Bagaimana upaya pencegahan dan penatalaksanaan yang tepat dalam


menghadapi kasus-kasus tersebut?
BAB ll

PEMBAHASAN

2.1 Definisi dan Epidemiologi ganguan pendarahan intra dan post partum

Gangguan pendarahan intrapartum adalah perdarahan yang terjadi selama


proses persalinan, baik sebelum atau sesudah kelahiran bayi. Kondisi ini dapat
disebabkan oleh masalah seperti plasenta previa, solusio plasenta, atau robekan
jalan lahir yang mengakibatkan perdarahan yang dapat membahayakan ibu dan
bayi. Sedangkan gangguan pendarahan postpartum merujuk pada perdarahan
yang terjadi setelah kelahiran bayi, biasanya dalam 24 jam pertama. Pendarahan
ini sering kali disebabkan oleh atonia uteri, yaitu ketidakmampuan rahim untuk
berkontraksi dengan baik setelah melahirkan, retensio plasenta, robekan jalan
lahir, atau gangguan pembekuan darah. Keduanya memerlukan penanganan
medis yang cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

Kedua jenis pendarahan ini, baik intrapartum maupun postpartum,


memerlukan penanganan yang cepat dan efektif untuk mencegah komplikasi
yang lebih serius, seperti syok atau kematian ibu, serta untuk memastikan
keselamatan bayi yang baru lahir.

1. Pendarahan Intrapartum: Prevalensi: Pendarahan intrapartum terjadi pada


sekitar 1-2% dari seluruh persalinan. Meskipun jarang, pendarahan ini dapat
memiliki dampak serius pada ibu dan bayi jika tidak ditangani dengan cepat.
Plasenta previa terjadi pada sekitar 0,3-0,5% dari kelahiran. Prevalensinya lebih
tinggi pada wanita dengan riwayat persalinan caesar atau kelahiran sebelumnya.
Solusio plasenta terjadi pada sekitar 0,5-1% dari semua persalinan dan lebih
sering terjadi pada ibu dengan faktor risiko seperti hipertensi, trauma, atau
penggunaan obat-obatan tertentu. Robekan jalan lahir lebih sering terjadi pada
wanita yang melahirkan untuk pertama kali atau pada bayi dengan berat lahir
besar.

2. Pendarahan Postpartum: Prevalensi: Pendarahan postpartum merupakan salah


satu penyebab utama kematian ibu, terutama di negara-negara berkembang. Di
negara maju, angka pendarahan postpartum lebih rendah karena perawatan
medis yang lebih baik dan akses yang lebih mudah ke fasilitas kesehatan.Di
seluruh dunia, pendarahan postpartum terjadi pada sekitar 5-10% dari kelahiran,
dengan sebagian besar kasus terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan
(penyebab utama kematian ibu).

3. Penyebab utama: Atonia uteri (rahim yang tidak berkontraksi dengan baik)
adalah penyebab paling umum, menyumbang sekitar 70-80% dari kasus
pendarahan postpartum. Retensio plasenta terjadi pada 1-2% dari persalinan
dan dapat menyebabkan pendarahan berkelanjutan jika plasenta atau sebagian
plasenta tertinggal. Robekan jalan lahir terjadi pada 5-10% kelahiran vaginal dan
bisa menjadi penyebab pendarahan postpartum. Gangguan pembekuan darah
meskipun jarang, dapat menyebabkan pendarahan postpartum yang berat pada
ibu dengan kondisi medis seperti hemofilia atau trombositopati.

2.2 Faktor Risiko ganguan pendarahan intra dan post partum

Perdarahan intra dan post partum dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor
yang meningkatkan risiko terjadinya gangguan perdarahan selama atau setelah
persalinan. Beberapa faktor risiko tersebut bersifat spesifik pada kondisi ibu,
janin, maupun proses persalinan itu sendiri. Berikut ini adalah faktor-faktor risiko
yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan perdarahan
tersebut:

a. Faktor Risiko untuk Perdarahan Intra Partum:

1. Plasenta Previa: Kondisi di mana plasenta terletak pada bagian bawah


rahim dan menutupi jalan lahir, yang menyebabkan perdarahan saat
persalinan. Plasenta previa meningkatkan risiko perdarahan intra partum
yang signifikan.

2. Solusio Plasenta: Pemisahan plasenta dari dinding rahim sebelum waktunya,


yang mengganggu aliran darah ke janin dan menyebabkan perdarahan
hebat pada ibu.

3. Riwayat Seksio Sesarea (SC): Wanita dengan riwayat operasi seksio


sesarea memiliki risiko tinggi mengalami ruptur uterus atau solusio
plasenta, yang dapat mengakibatkan perdarahan berat selama persalinan.

4. Polihidramnion (Kelebihan Cairan Ketuban): Kondisi ini dapat meningkatkan


risiko trauma pada jalan lahir dan plasenta, serta dapat menyebabkan
perdarahan saat persalinan.

5. Kehamilan Multipel: Kehamilan dengan lebih dari satu janin berisiko tinggi
untuk mengalami distorsi pada jalan lahir, plasenta previa, dan solusio
plasenta, yang meningkatkan kemungkinan perdarahan.

6. Kelainan Letak Janin: Janin dengan letak sungsang atau lintang dapat
menyebabkan trauma pada jalan lahir atau plasenta, yang berisiko
menyebabkan perdarahan.

7. Usia Ibu yang Ekstrem: Ibu yang berusia sangat muda (kurang dari 20 tahun)
atau lebih dari 35 tahun lebih rentan terhadap komplikasi persalinan,
termasuk perdarahan.

8. Infeksi Rahim (Endometritis): Infeksi pada rahim selama atau setelah


persalinan dapat menyebabkan perdarahan akibat pembengkakan dan
kerusakan pada jaringan uterus.

b. Faktor Risiko untuk Perdarahan Post Partum:

1. Atonia Uteri: Kondisi di mana rahim tidak dapat berkontraksi dengan baik
setelah melahirkan, yang mengarah pada perdarahan yang tidak terkendali.
Ini adalah penyebab utama perdarahan post partum.

2. Robekan Jalan Lahir: Robekan pada serviks, vagina, atau perineum yang
terjadi selama proses persalinan dapat menyebabkan perdarahan yang
berlebihan setelah kelahiran.

3. Retensio Plasenta: Ketidakmampuan plasenta untuk keluar sepenuhnya


setelah kelahiran dapat menyebabkan perdarahan yang berkelanjutan.

4. Riwayat Perdarahan Post Partum Sebelumnya: Wanita yang memiliki


riwayat perdarahan post partum pada kehamilan sebelumnya lebih berisiko
mengalami perdarahan serupa pada kehamilan berikutnya.

5. Anemia pada Ibu: Ibu yang mengalami anemia berat memiliki kemampuan
yang lebih terbatas untuk mengatasi kehilangan darah, sehingga
meningkatkan risiko komplikasi pada perdarahan post partum.

6. Kehamilan yang Terlalu Cepat atau Terlalu Lama: Kehamilan yang terjadi
dalam interval waktu yang sangat singkat atau kehamilan yang melampaui
batas waktu dapat meningkatkan risiko terjad

2.3 Gejala ganguan pendarahan intra dan post partum

Gejala Perdarahan Intra Partum:


1. Perdarahan dari Saluran Genital: Perdarahan yang keluar sebelum atau
selama persalinan, bisa berupa darah segar yang banyak, terutama pada
kondisi seperti plasenta previa dan solusio plasenta.

2. Nyeri Perut: Pada kondisi seperti solusio plasenta, ibu bisa merasakan nyeri
hebat pada perut, yang disertai perdarahan.

3. Penurunan Gerakan Janin: Gangguan pada plasenta yang memengaruhi


suplai darah ke janin bisa mengurangi gerakan janin. Ibu mungkin
merasakan penurunan gerakan janin atau bahkan tidak merasakannya
sama sekali.

4. Tanda-Tanda Syok Hipovolemik: Jika perdarahan sangat banyak, ibu bisa


menunjukkan tanda-tanda syok, seperti tekanan darah rendah, denyut nadi
cepat, pusing, kulit pucat, dan lemas.

5. Cairan Ketuban Berdarah: Pada kasus tertentu, cairan ketuban bisa


tercampur darah, yang menunjukkan adanya gangguan pada plasenta atau
jalan lahir.

Gejala Perdarahan Post Partum:

1. Perdarahan Berlebihan: Perdarahan yang lebih dari 500 mL pada persalinan


pervaginam atau lebih dari 1000 mL pada seksio sesarea. Perdarahan ini
bisa berlangsung terus setelah kelahiran bayi dan plasenta.

2. Atonia Uteri: Rahim yang tidak berkontraksi dengan baik setelah melahirkan,
yang menyebabkan pembuluh darah tetap terbuka dan terjadi perdarahan
berkelanjutan.

3. Nyeri Perut: Nyeri yang hebat bisa muncul akibat retensio plasenta atau
robekan jalan lahir, yang sering disertai perdarahan.

4. Robekan Jalan Lahir: Robekan pada serviks, vagina, atau perineum akibat
trauma selama proses persalinan dapat menyebabkan perdarahan hebat
yang disertai nyeri dan pembengkakan.

5. Tanda-Tanda Syok Hipovolemik: Jika perdarahan sangat berat, ibu bisa


menunjukkan gejala syok seperti penurunan tekanan darah, denyut nadi
cepat, pusing, lemas, kulit dingin dan lembab.

6. Demam: Jika perdarahan disertai dengan infeksi seperti endometritis, ibu


bisa mengalami demam, menggigil, dan gejala infeksi lainnya.

7. Penurunan Produksi ASI: Perdarahan yang berat atau komplikasi pasca


persalinan dapat mengganggu produksi ASI pada ibu, sehingga ibu
kesulitan untuk menyusui.

2.4 pencegahan Ganguan pendarahan intra dan post partum dapat di cega dengan
beberapa cara yaitu :

1. Pemantauan kehamilan secara rutin pemantauan yang cermat selama


kehamilan dapat mengidentifikasi faktor risiko seperti plasenta previa, solusio
plasenta, atau kehamilan multipel, yang semuanya dapat meningkatkan risiko
perdarahan. Pemeriksaan ultrasonografi secara teratur dapat mendeteksi
kelainan plasenta atau posisi janin.

2. Manajemen risiko pada persalinan memastikan bahwa proses persalinan


dilakukan di fasilitas medis yang memadai dengan tenaga medis yang terlatih.
Jika ada risiko seperti letak janin yang tidak normal atau distosia persalinan,
tindakan seperti operasi seksio sesarea atau penggunaan alat bantu persalinan
yang tepat dapat mengurangi risiko trauma pada jalan lahir dan menghindari
perdarahan.

3. Pengelolaan plasenta dengan hati-hati menjaga kondisi plasenta dengan


memastikan bahwa plasenta keluar sepenuhnya setelah kelahiran sangat
penting untuk mencegah retensio plasenta. Jika diperlukan, penggunaan obat-
obatan untuk mendorong kontraksi rahim setelah kelahiran (misalnya oksitosin)
dapat membantu rahim untuk berkontraksi dengan baik dan mencegah
perdarahan.

4. Penggunaan obat-obatan uterotonik penggunaan obat-obatan uterotonik,


seperti oksitosin atau ergometrin, setelah persalinan untuk mendorong
kontraksi rahim yang efektif dan mencegah atonia uteri (rahim yang tidak dapat
berkontraksi dengan baik) adalah salah satu langkah pencegahan penting
terhadap perdarahan post partum.

5. Pencegahan infeksi pencegahan infeksi, terutama pada kasus endometritis


setelah persalinan, penting dilakukan dengan menjaga kebersihan selama dan
setelah proses persalinan. Penggunaan antibiotik profilaksis, terutama pada
kasus yang berisiko tinggi, juga dapat membantu mencegah infeksi yang dapat
memicu perdarahan sekunder.

2.5 penanganan ganguan pendarahan intra dan post partum

a. Penanganan Perdarahan Intra Partum:


1. Plasenta Previa:

 Pemantauan ketat selama proses persalinan.

 Jika perdarahan berat, seksio sesarea harus dilakukan untuk


menyelamatkan ibu dan bayi.

 Hindari vaginal examination pada plasenta previa untuk mencegah


perdarahan lebih lanjut.

 Pemindahan ibu ke rumah sakit dengan fasilitas lengkap jika terjadi


perdarahan hebat.

2. Solusio Plasenta:

 Segera lakukan seksio sesarea atau persalinan jalan lahir jika


memungkinkan, tergantung pada status ibu dan janin.

 Resusitasi cairan untuk mengatasi syok akibat kehilangan darah.

 Transfusi darah jika diperlukan untuk menggantikan volume darah yang


hilang.

3. Trauma Jalan Lahir (Robekan Jalan Lahir):

 Perbaikan luka pada serviks, vagina, atau perineum segera setelah


persalinan untuk menghentikan perdarahan.

 Stabilisasi ibu dengan pemberian cairan intravena dan transfusi darah


jika perlu.

 Pengawasan pasca persalinan untuk memastikan tidak ada perdarahan


lanjutan.

4. Distosia Persalinan (Kesulitan Persalinan):

 Jika terjadi distosia, lakukan tindakan yang tepat seperti seksio sesarea
untuk mengurangi risiko trauma dan perdarahan.

 Gunakan vacuum atau forceps jika perlu untuk membantu kelahiran dan
mengurangi risiko robekan jalan lahir.

b. Penanganan Perdarahan Post Partum:

1. Atonia Uteri (Rahim Tidak Berkontraksi):

 Massase fundus uteri untuk merangsang kontraksi rahim..


 Pemberian obat-obatan uterotonik seperti oksitosin, ergometrin, atau
misoprostol untuk membantu kontraksi rahim.

 Jika perdarahan berlanjut, pertimbangkan untuk melakukan transfusi


darah dan pengobatan lebih lanjut.

2. Retensio Plasenta (Plasenta Tidak Keluar Sepenuhnya):

 Lakukan pemeriksaan manual untuk memastikan bahwa plasenta


sudah keluar sepenuhnya.

 Jika plasenta tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta secara manual


atau dengan bantuan instrumen medis.

 Jika ada tanda infeksi, segera berikan antibiotik untuk mencegah


komplikasi lebih lanjut.

3. Robekan Jalan Lahir:

 Lakukan perbaikan jahitan pada robekan jalan lahir yang terjadi.

 Berikan analgesik untuk mengurangi nyeri.

 Lakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan tidak ada perdarahan


lanjutan dan memantau penyembuhan luka.

4. Syok Hipovolemik:

 Resusitasi cairan segera untuk menggantikan volume darah yang hilang.

 Transfusi darah jika kehilangan darah cukup besar.

 Monitor secara ketat tanda vital pasien dan lakukan stabilisasi


hemodinamik.

5. Infeksi (Endometritis):

 Jika terjadi infeksi pasca persalinan, seperti endometritis, segera


berikan antibiotik broad spectrum untuk mengatasi infeksi.

 Pemantauan suhu tubuh untuk mengidentifikasi demam atau gejala


infeksi lainnya.

6. Pencegahan dan Pemantauan Lanjutan:

 Lakukan monitoring ketat terhadap jumlah perdarahan, tanda-tanda


syok, dan kondisi vital ibu setelah persalinan.
 Berikan edukasi kepada ibu tentang tanda-tanda perdarahan atau
komplikasi lain yang harus diwaspadai setelah pulang rumah sakit.

2.6 penatalaksanaan ganguan pendarahan intra dan post partum

Penatalaksanaan gangguan perdarahan intrapartum dan postpartum


melibatkan tindakan medis untuk mengendalikan perdarahan, baik selama
persalinan (intrapartum) maupun setelahnya (postpartum). Tindakan ini
mencakup penilaian, resusitasi cairan, pemberian uterotonik, pengangkatan sisa
plasenta, dan penanganan trauma saluran genital.

1. Penatalaksanaan Perdarahan Intrapartum:

a. Penilaian: Mengevaluasi kondisi ibu dan janin, termasuk tanda-tanda syok,


kehilangan darah, dan penyebab perdarahan.

b. Resusitasi Cairan: Memberikan cairan intravena (IV) untuk mengganti cairan


yang hilang dan mencegah syok hipovolemik.

c. Pemberian Uterotonik: Obat-obatan seperti oksitosin atau metergine untuk


merangsang kontraksi rahim dan menghentikan perdarahan.

d. Pengangkatan Sisa Plasenta: Jika terdapat sisa plasenta yang


menyebabkan perdarahan, dapat dilakukan dengan tindakan kuret atau
manual.

e. Penanganan Trauma: Jika ada robekan atau luka pada saluran genital, perlu
dilakukan perbaikan dengan jahitan.

f. Transfusi Darah: Jika kehilangan darah masif, transfusi darah mungkin


diperlukan untuk menggan

2. Penatalaksanaan Perdarahan Postpartum:

a. Penilaian: Menilai penyebab perdarahan, misalnya atonof, sisa plasenta,


atau trauma saluran genital.

b. Resusitasi Cairan: Pemberian cairan intravena (IV) untuk mengganti cairan


yang hilang.

c. Pemberian Uterotonik: Obat-obatan seperti oksitosin atau metergine untuk


merangsang kontraksi rahim dan menghentikan perdarahan.

d. Pengangkatan Sisa Plasenta: Jika sisa plasenta menyebabkan perdarahan,


dapat dilakukan dengan tindakan kuret atau manual.

e. Penanganan Trauma: Jika ada robekan atau luka pada saluran genital, perlu
dilakukan perbaikan dengan jahitan.

f. Transfusi Darah: Jika kehilangan darah masif, transfusi darah mungkin


diperlukan untuk mengganti sel darah merah yang hilang.

2.7 patofisiologi ganguan pendarahan intra dan post partum

Patofisiologi gangguan perdarahan intra dan post partum mencakup


berbagai mekanisme yang menjelaskan bagaimana dan mengapa perdarahan
terjadi pada fase persalinan (intra partum) dan setelah melahirkan (post partum).
Berikut adalah penjelasan patofisiologi untuk masing-masing jenis gangguan
perdarahan tersebut:

1. Patofisiologi Perdarahan Intra Partum

a. Plasenta Previa: Pada plasenta previa, plasenta menutupi sebagian atau


seluruh pembukaan serviks. Ketika persalinan dimulai, plasenta yang
terletak di bawah rahim mengalami robekan atau pergeseran, menyebabkan
perdarahan. Perdarahan terjadi karena plasenta mengganggu aliran darah
dari pembuluh darah yang terletak di bagian bawah rahim dan serviks.

b. Solusio Plasenta (Pemisahan Plasenta Prematur): Pada solusio plasenta,


plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum waktunya, menyebabkan
perdarahan internal dan eksternal. Pemisahan ini memengaruhi suplai
oksigen dan nutrisi ke janin. Proses inflamasi yang terjadi saat plasenta
terlepas juga menyebabkan kontraksi rahim yang kuat, berisiko
menyebabkan perdarahan lebih banyak dan syok hipovolemik pada ibu.

c. Trauma pada Jalan Lahir: Pada trauma jalan lahir, robekan pada serviks,
vagina, atau perineum menyebabkan perdarahan langsung dari pembuluh
darah yang terputus akibat tekanan atau gesekan selama persalinan. Ini
bisa mengganggu mekanisme hemostasis yang normal dan mengarah pada
perdarahan berat.

d. Distosia Persalinan: Distosia, yaitu kesulitan dalam melahirkan, dapat


menyebabkan cedera pada jalan lahir, plasenta, atau rahim, yang akhirnya
memicu perdarahan. Ini bisa terjadi akibat posisi janin yang tidak normal
atau ketidakmampuan otot rahim untuk berkontraksi dengan baik, yang
mengarah pada robekan atau perdarahan.

2. Patofisiologi Perdarahan Post Partum


a. Atonia Uteri (Rahim Tidak Berkontraksi): Setelah melahirkan, kontraksi
rahim yang kuat seharusnya menghentikan aliran darah dari pembuluh
darah yang sebelumnya menghubungkan plasenta dengan rahim. Pada
atonia uteri, rahim tidak dapat berkontraksi dengan efektif, menyebabkan
pembuluh darah tetap terbuka dan perdarahan terus terjadi. Ini adalah
penyebab utama perdarahan post partum. Faktor penyebabnya bisa berupa
overstimulasi rahim, pengaruh obat-obatan, atau kelelahan otot rahim.

b. Retensio Plasenta (Plasenta Tidak Keluar Sepenuhnya): Jika plasenta tidak


keluar sepenuhnya setelah melahirkan, sisa plasenta dapat menyebabkan
perdarahan karena sisa jaringan plasenta yang menempel pada dinding
rahim masih mengaktifkan pembuluh darah yang tidak dapat
menyembuhkan diri dengan baik. Ini bisa mengarah pada perdarahan
berkelanjutan setelah persalinan.

c. Robekan Jalan Lahir: Robekan pada serviks, vagina, atau perineum akibat
proses persalinan yang traumatis mengganggu mekanisme hemostasis,
menyebabkan perdarahan dari pembuluh darah yang rusak. Jika robekan ini
tidak segera diperbaiki, perdarahan bisa berlanjut dan menambah risiko
infeksi.

d. Koagulopati (Gangguan Pembekuan Darah): Gangguan pembekuan darah,


seperti disseminated intravascular coagulation (DIC), dapat terjadi sebagai
komplikasi dari solusio plasenta atau infeksi post partum. Pada kondisi ini,
sistem pembekuan darah menjadi terganggu, menyebabkan perdarahan
yang tidak terkendali.

e. Infeksi: Infeksi pada rahim (seperti endometritis) dapat memperburuk


perdarahan post partum. Infeksi memicu respon inflamasi yang
meningkatkan pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis), yang
dapat menyebabkan perdarahan berlebihan. Pada kedua jenis perdarahan
ini, gangguan pada pembuluh darah, kontraksi rahim yang tidak adekuat,
atau cedera pada jalan lahir merupakan faktor utama yang menyebabkan
perdarahan yang berpotensi mengancam jiwa jika tidak segera ditangani.
Penanganan yang tepat untuk menghentikan perdarahan, baik dengan obat-
obatan, prosedur bedah, atau tindakan lainnya, sangat penting untuk
menyelamatkan ibu dan bayi.

2.8 Definisi syok Hemoragic

Syok hemoragik adalah kondisi medis yang terjadi ketika tubuh kehilangan
banyak darah (hemoragi), sehingga volume darah yang cukup untuk
mempertahankan tekanan darah dan suplai oksigen ke organ vital menjadi
berkurang. Hal ini dapat menyebabkan kegagalan organ dan dapat berakibat fatal
jika tidak segera ditangani. Syok hemoragik biasanya disebabkan oleh
perdarahan yang signifikan, baik dari luka luar, pendarahan internal, atau kondisi
medis tertentu seperti ulkus atau perdarahan gastrointestinal. Gejala syok
hemoragik meliputi penurunan tekanan darah, detak jantung yang cepat, kulit
dingin dan pucat, serta rasa pusing atau kebingungan. Penanganan segera
dengan transfusi darah, cairan intravena, dan stabilisasi medis sangat penting
untuk mencegah kerusakan organ lebih lanjut dan kematian.

2.9 Epidemiologi syok Hemoragic

Syok hemoragik adalah kondisi medis serius yang terjadi akibat


kehilangan darah yang signifikan, mengakibatkan penurunan tekanan darah dan
gangguan aliran darah ke organ vital. Syok hemoragik sering terjadi akibat
trauma, pendarahan gastrointestinal, atau perdarahan postpartum. Prevalensinya
cukup tinggi, terutama pada kasus trauma, di mana sekitar 40-50% kematian
akibat trauma disebabkan oleh syok hemoragik. Pendarahan postpartum juga
menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu di seluruh dunia.

Faktor risiko syok hemoragik meliputi usia, jenis kelamin, kondisi medis
tertentu, dan keterbatasan akses ke perawatan medis yang cepat, terutama di
negara berkembang. Angka kematian akibat syok hemoragik lebih tinggi di
negara berkembang karena keterlambatan penanganan, meskipun dapat
dikurangi dengan pengelolaan cepat melalui transfusi darah dan intervensi medis
yang tepat.

2.10 faktor resiko syok Hemoragic

faktor resiko syok Hemoragic meliputi:

1. Trauma atau Cedera Fisik kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, atau
cedera traumatis lainnya dapat menyebabkan perdarahan internal atau
eksternal yang besar, berisiko menimbulkan syok hemoragik.

2. Pendarahan Gastrointestinal penyakit seperti tukak lambung, varises


esofagus, atau perdarahan saluran cerna lainnya dapat menyebabkan
perdarahan yang berkelanjutan dan berat.

3. Pendarahan Postpartum perdarahan berat setelah persalinan, terutama


yang disebabkan oleh atonia uteri (ketidakmampuan rahim berkontraksi),
plasenta previa, atau retensio plasenta, dapat mengarah pada syok
hemoragik.

4. Gangguan Pembekuan Darah penyakit yang memengaruhi pembekuan


darah, seperti hemofilia atau trombositopati, meningkatkan risiko
perdarahan yang signifikan dan syok hemoragik.

5. Kondisi Medis yang Meningkatkan Kerentanannya hipertensi, penyakit


jantung, atau gangguan pembekuan darah meningkatkan risiko perdarahan
berat. Individu dengan kondisi ini lebih rentan terhadap syok hemoragik saat
terjadi perdarahan.

6. Usia Tua orang yang lebih tua mungkin memiliki respon tubuh yang lebih
lemah terhadap kehilangan darah dan lebih rentan terhadap syok hemoragik.

7. Kondisi Kehamilan atau Persalinany ibu hamil atau pasca-persalinan


berisiko mengalami pendarahan yang menyebabkan syok hemoragik,
terutama jika persalinan melibatkan komplikasi seperti ruptur plasenta atau
perdarahan postpartum berat.

8. Keterbatasan Akses ke Perawatan Medis di negara berkembang, di mana


akses ke fasilitas kesehatan dan transfusi darah terbatas, risiko kematian
akibat syok hemoragik lebih tinggi karena keterlambatan penanganan.

2.11 Gejala syok Hemoragic

Gejala syok hemoragik dapat bervariasi tergantung pada tingkat


keparahan kehilangan darah, namun secara umum, gejala yang muncul meliputi:

1. Penurunan Tekanan Darah: Tekanan darah yang sangat rendah adalah


tanda khas syok hemoragik akibat kehilangan darah yang signifikan

2. Tingkat Nadi yang Cepat dan Lemah: Denyut jantung yang cepat (takikardia)
dan lemah adalah respons tubuh untuk mencoba mempertahankan aliran
darah ke organ vital.

3. Kulit Pucat atau Dingin: Kulit menjadi pucat atau terasa dingin akibat aliran
darah yang terbatas ke permukaan tubuh, menyebabkan penurunan suhu
tubuh.

4. Keringat Dingin: Pasien mungkin mengalami keringat dingin sebagai


respons terhadap penurunan aliran darah dan ketegangan fisik.

5. Kecemasan dan Kebingungan: Penderita sering kali merasa cemas, bingung,


atau bahkan kehilangan kesadaran ringan, akibat gangguan aliran darah ke
otak.

6. Pernapasan Cepat dan Dangkal: Pernapasan menjadi cepat (takipnea) dan


dangkal sebagai upaya tubuh untuk mengkompensasi penurunan oksigen
akibat syok.

7. Penurunan Output Urin: Volume urin yang rendah (oliguria) karena ginjal
menerima aliran darah yang lebih sedikit,

8. mengindikasikan fungsi ginjal yang terganggu.

9. Kelemahan dan Pusing: Penderita sering merasa sangat lemah atau pusing,
terutama saat berdiri, karena aliran darah yang terbatas ke otot dan organ
vital.

10. Tenggorokan Kering dan Mulut Kering: Gejala dehidrasi seperti mulut kering
dan haus meningkat, karena tubuh mencoba mempertahankan cairan.

2.12 Definisi inersia uteri

Inersia uteri adalah kondisi di mana rahim (uterus) tidak dapat


berkontraksi dengan baik setelah proses kelahiran, yang mengakibatkan tidak
adanya pengencangan atau pemampatan pembuluh darah di tempat plasenta
menempel. Hal ini dapat menyebabkan perdarahan pasca persalinan yang berat,
karena pembuluh darah yang terbuka tidak dapat tertutup dengan efektif. Kondisi
ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti persalinan yang terlalu lama,
penggunaan obat-obatan yang mempengaruhi kontraksi rahim, atau rahim yang
terlalu meregang akibat kelahiran bayi dengan ukuran besar atau kehamilan
ganda. Penanganan inersia uteri biasanya melibatkan pemberian obat-obatan
untuk merangsang kontraksi rahim atau, dalam beberapa kasus, tindakan bedah
untuk menghentikan perdarahan dan mengatasi masalah tersebut.

2.13 Epidemiologi inersia uteri

Inersia uteri adalah kondisi di mana uterus tidak dapat berkontraksi


secara normal setelah melahirkan, yang bisa menyebabkan pendarahan
postpartum (PPH). Terdapat dua jenis utama inersia uteri: inersia uteri primer
(ketidakmampuan rahim untuk berkontraksi setelah persalinan) dan inersia uteri
sekunder (ketika rahim gagal berkontraksi beberapa waktu setelah melahirkan).

a. Faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadian inersia uteri antara lain:
1. Kehamilan multipel: Kehamilan dengan lebih dari satu janin meningkatkan
risiko.

2. Kelebihan cairan ketuban: Juga dikenal sebagai polyhydramnios, yang


memberi tekanan lebih pada rahim.

3. Penggunaan obat-obatan yang mengganggu kontraksi rahim, seperti


oksitosin atau anestesi epidural.

4. Kelahiran bayi besar (makrosomia): Bayi yang lebih besar dari rata-rata
(lebih dari 4000 gram).

5. Riwayat persalinan sebelumnya yang tidak normal: Wanita yang sebelumnya


mengalami inersia uteri atau pendarahan postpartum.

Prevalensi kondisi ini bervariasi, namun insiden inersia uteri sekitar 1-5% dari
semua persalinan. Kejadian ini lebih sering pada wanita yang melahirkan dengan
cara caesar, atau pada wanita yang mengalami persalinan lama atau
menggunakan prosedur medis tertentu.

b. Pencegahan dan pengelolaan inersia uteri melibatkan:

Pemantauan ketat selama proses persalinan untuk mengidentifikasi tanda-tanda


kegagalan kontraksi. Pengelolaan yang tepat setelah kelahiran untuk
menghindari pendarahan dan komplikasi lainnya. Penggunaan obat-obatan
seperti oksitosin untuk membantu rahim berkontraksi pasca-persalinan. Jika
tidak ditangani dengan tepat, inersia uteri dapat menyebabkan komplikasi serius,
termasuk perdarahan postpartum yang dapat mengancam jiwa. Oleh karena itu,
pemantauan dan pengelolaan yang hati-hati sangat penting dalam kasus ini.

2.14 faktor resiko inersia uteri

Inersia uteri adalah kondisi di mana otot rahim tidak berkontraksi dengan
baik setelah melahirkan, yang dapat menyebabkan perdarahan postpartum yang
berbahaya. Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan
terjadinya inersia uteri antara lain:

1. Persalinan lama atau sulit: Persalinan yang lama atau membutuhkan


penggunaan alat bantu (seperti forceps atau vakum) dapat mengganggu
fungsi normal otot rahim.
2. Kehamilan multipel (hamil dengan lebih dari satu janin): Rahim yang lebih
besar dari normal untuk mengakomodasi lebih dari satu bayi bisa lebih sulit
untuk berkontraksi secara efektif setelah persalinan.

3. Distensi rahim yang berlebihan: Ini bisa terjadi pada kehamilan dengan bayi
besar (makrosomia), cairan ketuban yang berlebihan (polihidramnion), atau
pada kehamilan kembar.

4. Riwayat inersia uteri: Wanita yang pernah mengalami inersia uteri


sebelumnya memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya lagi pada
kehamilan berikutnya.

5. Penggunaan obat-obatan tertentu: Penggunaan obat-obatan seperti


oksitosin untuk mempercepat persalinan atau anestesi epidural yang kuat
dapat mengganggu kontraksi rahim.

6. Infeksi atau trauma pada rahim: Infeksi atau luka pada rahim akibat
tindakan medis selama persalinan dapat mempengaruhi kemampuannya
untuk berkontraksi.

7. Usia ibu: Wanita yang lebih tua mungkin memiliki risiko lebih tinggi terhadap
inersia uteri.

8. Polihidramnion: Cairan ketuban yang berlebihan dapat menyebabkan


peregangan rahim yang berlebihan, mengurangi kemampuannya untuk
berkontraksi dengan baik.

9. Kondisi medis yang mendasari: Penyakit tertentu, seperti diabetes atau


hipertensi, dapat mempengaruhi fungsi otot rahim dan meningkatkan risiko
inersia uteri.

Penanganan inersia uteri biasanya melibatkan pemberian obat-obatan


untuk merangsang kontraksi rahim atau tindakan medis lain, seperti pijatan pada
rahim atau tindakan bedah jika diperlukan.

2.15 Gejala inersia urin

1. Frekuensi Buang Air Kecil Berkurang: Meskipun tubuh memiliki banyak cairan,
volume urin yang dikeluarkan berkurang secara signifikan atau hanya sedikit.

2. Distensi Perut: Kandung kemih yang penuh dapat menyebabkan perasaan perut
buncit atau terisi penuh. Pada kasus yang lebih parah, ini dapat menyebabkan
ketidaknyamanan atau rasa sakit.

3. Peningkatan Tekanan Kandung Kemih: Seseorang mungkin merasa adanya


tekanan atau ketegangan yang besar di area kandung kemih, terutama jika
berusaha buang air kecil.

4. Inkontinensia Urin: Dalam beberapa kasus, retensi urin yang tidak dapat
dikendalikan dapat menyebabkan kebocoran urin (inkontinensia) karena
kandung kemih yang terlalu penuh.

5. Nyeri pada Saluran Kemih atau Panggul: Selain nyeri pada perut bagian bawah,
beberapa individu mungkin juga mengalami rasa sakit pada area panggul atau
saluran kemih sebagai akibat dari ketegangan otot atau distensi kandung kemih.

6. Rasa Cemas atau Khawatir: Mungkin ada kecemasan atau stres karena
ketidakmampuan untuk buang air kecil dengan normal, yang dapat
memengaruhi kualitas hidup.

7. Infeksi Saluran Kemih (ISK): Dalam kasus yang lebih parah, retensi urin dapat
memicu infeksi saluran kemih karena urin yang tertahan di kandung kemih
menjadi tempat berkembang biak bagi bakteri.

2.16 Definisi Retensio Plasenta

Retensio plasenta adalah kondisi di mana plasenta (ari-ari) tidak keluar


sepenuhnya dari rahim setelah kelahiran bayi, meskipun persalinan sudah selesai.
Hal ini dapat menyebabkan perdarahan postpartum yang berlebihan dan infeksi
jika tidak ditangani dengan cepat. Penyebabnya bisa berupa plasenta akreta,
gangguan kontraksi rahim, atau bagian plasenta yang tertinggal. Gejalanya
meliputi perdarahan yang berlebihan dan nyeri perut. Penanganannya bisa
mencakup manuver manual, kuretase, atau transfusi darah jika diperlukan.

2.17 Epidemiologi Retensio Plasenta

Retensio plasenta terjadi pada sekitar 0,5% hingga 3% kelahiran. Faktor


risiko meliputi usia ibu lebih dari 35 tahun, kehamilan multipel, riwayat retensio
plasenta sebelumnya, plasenta previa, kondisi medis seperti diabetes dan
hipertensi, serta intervensi obstetrik. Di negara berkembang, prevalensinya lebih
tinggi karena keterbatasan akses perawatan medis. Komplikasi yang dapat
timbul termasuk perdarahan postpartum, infeksi, dan morbiditas lainnya.

2.18 faktor resiko Retensio Plasenta


1. Usia Ibu: Ibu yang berusia lebih dari 35 tahun memiliki risiko lebih tinggi
mengalami retensio plasenta.

2. Kehamilan Multipel: Kehamilan kembar atau lebih dapat meningkatkan risiko


karena rahim yang lebih besar dan lebih banyak plasenta.

3. Riwayat Retensio Plasenta: Wanita yang pernah mengalami retensio plasenta


pada kelahiran sebelumnya lebih berisiko mengalaminya lagi.

4. Plasenta Previa: Kondisi di mana plasenta menutupi atau terletak dekat dengan
serviks, yang dapat menghambat pengeluaran plasenta.

5. Penyakit Medis: Kondisi seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan pembekuan


darah dapat meningkatkan risiko retensio plasenta.

6. Intervensi Obstetrik: Penggunaan alat bantu persalinan seperti vakum atau


forceps, serta prosedur medis yang dapat mempengaruhi pengeluaran plasenta.

7. Kelainan Rahim: Penyakit atau kelainan pada rahim seperti fibroid atau kelainan
anatomi lainnya dapat mempersulit pengeluaran plasenta.

8. Persalinan Prolonged (Lama): Persalinan yang berlangsung lama atau tidak


berjalan lancar bisa berisiko menyebabkan retensio plasenta.

9. Prosedur atau Manipulasi Selama Persalinan: Misalnya, manuver manual yang


dilakukan untuk membantu pengeluaran bayi atau plasenta bisa meningkatkan
risiko.

2.19 Gejala Rentesio

1. Perdarahan Postpartum Berlebihan: Salah satu gejala utama, yakni perdarahan


yang lebih banyak dari yang seharusnya setelah kelahiran bayi.

2. Nyeri Perut atau Panggul: Rasa sakit atau kram yang berlanjut setelah kelahiran,
terutama pada bagian bawah perut.

3. Tidak Ada Pengeluaran Plasenta: Plasenta tidak keluar dalam waktu yang wajar
setelah kelahiran bayi, biasanya lebih dari 30 menit hingga satu jam.

4. Rasa Tidak Tuntas: Ibu mungkin merasa bahwa rahim belum sepenuhnya
kosong meskipun sudah mencoba mengeluarkan plasenta.

5. Tanda-tanda Infeksi: Jika plasenta tertahan terlalu lama, dapat terjadi infeksi
rahim (endometritis), yang ditandai dengan demam, peningkatan denyut jantung,
dan rasa sakit pada perut atau panggul.

6. Peningkatan Tekanan atau Distensi Perut: Jika plasenta atau sebagian plasenta
tertinggal di dalam rahim, bisa terjadi distensi atau pembesaran rahim,
menyebabkan tekanan pada perut

7. Gejala-gejala ini memerlukan perhatian medis segera untuk menghindari


komplikasi serius seperti perdarahan yang berlebihan atau infeksi.

2.20 Definisi Hemoragic post partum

Hemoragic postpartum adalah perdarahan berlebihan setelah kelahiran


bayi, dengan kehilangan darah lebih dari 500 ml pada persalinan normal atau
lebih dari 1.000 ml pada persalinan caesar. Penyebab utamanya termasuk atonia
uteri (rahim tidak berkontraksi dengan baik), lacerasi jalan lahir, retensio plasenta,
ruptur uteri, gangguan pembekuan darah, dan plasenta previa atau abruptio.
Hemoragic postpartum memerlukan penanganan segera untuk mengontrol
perdarahan dan mencegah komplikasi serius.

2.21 Epidemiologi Hemoragic post partum

Prevalensi Global: Hemoragic postpartum terjadi pada sekitar 2% hingga


5% dari seluruh kelahiran dunia. Penyebab Utama Kematian Ibu: Hemoragic
postpartum merupakan penyebab utama kematian ibu, terutama di negara
berkembang, menyumbang sekitar 25% hingga 30% dari kematian ibu global.

Faktor Risiko:

a. Atonia Uteri (ketidakmampuan rahim berkontraksi dengan baik) adalah


penyebab utama perdarahan postpartum, bertanggung jawab untuk sekitar
70% hingga 80% kasus.

b. Faktor risiko lain termasuk kehamilan multipel, operasi caesar, usia ibu yang
lebih tua, gangguan pembekuan darah, dan riwayat perdarahan postpartum
sebelumnya.

c. Angka Kematian: Di negara berkembang, 100.000 hingga 150.000 kematian


ibu terjadi setiap tahun akibat perdarahan pasca persalinan.

d. Morbiditas: Hemoragic postpartum dapat menyebabkan syok hipovolemik,


infeksi (seperti endometritis), dan kerusakan organ vital pada ibu.
e. Tren di Negara Maju dan Berkembang:

f. Di negara maju, prevalensi lebih rendah berkat akses medis yang lebih baik
dan teknologi obstetrik

Di negara berkembang, prevalensi lebih tinggi, terutama karena


keterbatasan akses ke perawatan medis yang tepat dan fasilitas kesehatan yang
kurang memadai. Hemoragic postpartum tetap menjadi tantangan besar dalam
kesehatan ibu, dan pengelolaan yang cepat dan tepat sangat penting untuk
mengurangi risiko komplikasi dan kematian.

2.23 Faktor resiko Hemoragic post partum

1. Kehamilan Multipel: Risiko perdarahan postpartum lebih tinggi pada ibu dengan
kehamilan kembar atau lebih.

2. Riwayat Persalinan Sebelumnya: Ibu yang sebelumnya mengalami perdarahan


postpartum memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya lagi.

3. Operasi Caesa: Persalinan dengan operasi caesar meningkatkan risiko


perdarahan postpartum, baik akibat lacerasi atau atonia uteri.

4. Usia Ibu: Ibu yang lebih tua (lebih dari 35 tahun) berisiko lebih tinggi mengalami
komplikasi perdarahan.

5. Gangguan Pembekuan Darah: Kondisi medis seperti hemofilia atau penyakit von
Willebrand dapat meningkatkan risiko perdarahan postpartum.

6. Komplikasi Kehamilan: Diabetes gestasional, hipertensi, dan kondisi medis


lainnya meningkatkan kemungkinan terjadinya perdarahan postpartum.

2.23 Gejala Hemoragic post partum

1. Perdarahan Berlebihan: Kehilangan darah yang lebih dari 500 ml pada


persalinan pervaginam atau lebih dari 1.000 ml pada persalinan caesar.
Perdarahan yang berlebihan dan berkelanjutan adalah gejala utama.

2. Penurunan Tekanan Darah: Tekanan darah yang menurun secara signifikan


akibat kehilangan darah yang banyak, menyebabkan pusing atau bahkan
pingsan.

3. Tinggi Detak Jantung (Tachycardia): Untuk mengimbangi kehilangan darah,


tubuh meningkatkan detak jantung. Ini dapat menyebabkan denyut jantung lebih
cepat dari normal.

4. Peningkatan Keringat dan Kulit Dingin: Penderita mungkin merasakan keringat


berlebihan dan kulit yang terasa dingin atau lembap akibat penurunan sirkulasi
darah.

5. Kelelahan Ekstrem: Kehilangan darah dapat menyebabkan kelelahan berat,


pusing, atau perasaan lemah.

6. Penurunan Volume Urin: Karena berkurangnya aliran darah ke ginjal, volume urin
mungkin menurun.

7. Kram Perut atau Nyeri: Meskipun normal ada beberapa kram pasca persalinan,
nyeri berlebihan atau kram yang tidak berhenti bisa menjadi tanda perdarahan
internal.

8. Perubahan Mental (Syok): Jika perdarahan sangat berat, dapat terjadi syok
hipovolemik, yang ditandai dengan kebingungan atau kehilangan kesadaran.

BAB lll

PENUTUP
A. Kesimpulan

Gangguan perdarahan intra dan post partum merupakan komplikasi


obstetri yang berpotensi mengancam nyawa ibu bila tidak ditangani secara cepat
dan tepat. Syok hemoragik terjadi akibat kehilangan darah dalam jumlah besar
yang menyebabkan kegagalan perfusi jaringan. Inersia uteri, yaitu lemahnya
kontraksi rahim setelah persalinan, menjadi penyebab utama perdarahan post
partum primer. Retensio plasenta, yakni kegagalan pelepasan atau pengeluaran
plasenta, juga meningkatkan risiko perdarahan berat. Hemoragik post partum,
baik primer maupun sekunder, memerlukan diagnosis dini dan penanganan
agresif untuk mencegah morbiditas dan mortalitas ibu. Pencegahan, deteksi dini,
serta intervensi obstetri dan medis yang tepat sangat penting untuk mengurangi
kejadian dan dampak komplikasi ini

B. Saran

Dalam upaya menekan angka kejadian gangguan perdarahan intra dan post
partum, tenaga kesehatan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dalam
mendeteksi dini faktor-faktor risiko sejak masa antenatal hingga post partum.
Edukasi kepada ibu hamil juga sangat penting untuk memberikan pemahaman
mengenai tanda-tanda bahaya perdarahan serta pentingnya segera mencari
pertolongan medis. Penerapan manajemen aktif kala III (Active Management of
Third Stage of Labor/AMTSL) secara konsisten harus menjadi prosedur standar
di setiap fasilitas kesehatan untuk mencegah perdarahan post partum primer.
Selain itu, kesiapsiagaan fasilitas kesehatan perlu ditingkatkan dengan
memastikan ketersediaan obat-obatan uterotonik, fasilitas transfusi darah, serta
protokol penanganan kegawatdaruratan obstetri yang terstandarisasi. Pelatihan
berkala bagi tenaga kesehatan mengenai tata laksana perdarahan obstetri juga
harus dilakukan untuk memperbarui pengetahuan dan keterampilan, sehingga
dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan keselamatan ibu

Daftar Pustaka
Cunningham, F.G., Leveno, K.J., Bloom, S.L., Spong, C.Y., & Dashe, J.S. (2018). Williams
Obstetrics (25th ed.). McGraw-Hill Education.

Manuaba, I.B.G. (2010). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan Keluarga Berencana
untuk Pendidikan Bidan. EGC.

Prawirohardjo, S. (2014). Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo.

World Health Organization. (2012). WHO Recommendations for the Prevention and
Treatment of Postpartum Haemorrhage. WHO Press.

Saifuddin, A.B. (2002). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.Sentosa, I.R., & Wulansari, R.
(2018). Manajemen Perdarahan Post Partum. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 9(2), 45-52.

Anda mungkin juga menyukai