0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan9 halaman

Uas Spki ResaMentari 41722006

Artikel ini membahas karakteristik partai politik ideal dan menganalisis sistem kepartaian di Indonesia, menyoroti kesenjangan antara konsep normatif dan realitas empiris. Fokus pada kaderisasi, rekrutmen, ideologi, dan transparansi keuangan menunjukkan bahwa banyak partai di Indonesia masih terjebak dalam praktik transaksional dan kurang memiliki integritas. Rekomendasi strategis disajikan untuk memperbaiki sistem kepartaian nasional agar lebih sesuai dengan prinsip demokrasi.

Diunggah oleh

shenglong1410
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan9 halaman

Uas Spki ResaMentari 41722006

Artikel ini membahas karakteristik partai politik ideal dan menganalisis sistem kepartaian di Indonesia, menyoroti kesenjangan antara konsep normatif dan realitas empiris. Fokus pada kaderisasi, rekrutmen, ideologi, dan transparansi keuangan menunjukkan bahwa banyak partai di Indonesia masih terjebak dalam praktik transaksional dan kurang memiliki integritas. Rekomendasi strategis disajikan untuk memperbaiki sistem kepartaian nasional agar lebih sesuai dengan prinsip demokrasi.

Diunggah oleh

shenglong1410
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Partai Politik Ideal Perspektif Teoritis Analisis Sistem Kepartaian Di Indonesia

Ideal Political Party: A Theoretical Perspective on the Analysis of the Party System in Indonesia

Resa Mentari

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Resa.41722006@mahasiswa.unikom.ac.id

ABSTRAK

Partai politik merupakan elemen fundamental dalam demokrasi. Sebagai penghubung antara
negara dan rakyat, partai memainkan peran penting dalam menciptakan pemerintahan yang
representatif. Namun dalam praktiknya, integritas partai politik seringkali dipertanyakan,
terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Artikel ini membahas ciri-ciri partai politik
yang ideal berdasarkan perspektif teori politik serta mengkaji kondisi aktual sistem kepartaian
Indonesia melalui pendekatan analisis kritis. Dengan fokus pada aspek kaderisasi, rekrutmen
politik, ideologi partai, dan transparansi keuangan, penulis menunjukkan adanya kesenjangan
antara konsep normatif partai politik dan kenyataan empiris di Indonesia. Penutup artikel ini
menyajikan rekomendasi strategis untuk mendorong perbaikan sistem kepartaian nasional.

ABSTRACK

Political parties are fundamental elements in a democracy. As a link between the state and the
people, parties play an important role in creating a representative government. However, in
practice, the integrity of political parties is often questioned, especially in developing countries
like Indonesia. This article discusses the characteristics of an ideal political party based on the
perspective of political theory and examines the actual conditions of the party system in
Indonesia through a critical analysis approach. Focusing on aspects of cadre development,
political recruitment, party ideology, and financial transparency, the author highlights the gap
between the normative concept of political parties and the empirical reality in Indonesia. The
conclusion of this article presents strategic recommendations to encourage improvements in the
national party system.

A. PENDAHULUAN
Dalam negara demokrasi, partai politik memiliki kedudukan sentral sebagai saluran
utama partisipasi politik rakyat. Melalui partai politik, rakyat menyalurkan aspirasi,
memilih wakilnya, serta ikut mempengaruhi arah kebijakan negara. Idealnya, partai
politik tidak hanya menjadi kendaraan kekuasaan, tetapi juga sebagai alat edukasi politik,
pelembagaan ideologi, dan penjaga nilai-nilai demokrasi.
Namun, di Indonesia, peran ideal tersebut masih sulit tercapai. Banyak partai justru
terjebak dalam praktik transaksional, minim kaderisasi, dan cenderung pragmatis tanpa
arah ideologis yang jelas. Kondisi ini menimbulkan krisis kepercayaan publik terhadap
partai politik. Untuk itu, penting kiranya menelaah kembali seperti apa gambaran partai
politik yang ideal dan sejauh mana sistem kepartaian di Indonesia saat ini mendekati
gambaran tersebut.

B. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi pustaka.

C. PEMBAHASAN

PARTAI POLITIK IDEAL DALAM PERSPEKTIF TEORI


Secara teoritis, partai politik ideal adalah partai yang mampu menjalankan fungsi-fungsi
fundamental dalam sistem politik secara konsisten dan akuntabel. Fungsi-fungsi tersebut
meliputi artikulasi dan agregasi kepentingan, sosialisasi politik, rekrutmen elite, dan
partisipasi elektoral. Menurut Maurice Duverger, partai politik seharusnya memiliki
struktur organisasi yang jelas, basis ideologi yang kuat, dan mekanisme kaderisasi
internal yang berjalan secara sistematis.
Partai politik ideal juga memiliki sistem rekrutmen yang meritokratis, yaitu memilih
calon legislatif atau eksekutif berdasarkan kemampuan, pengalaman, dan integritas,
bukan berdasarkan hubungan personal atau kontribusi materi. Platform partai juga harus
didasarkan pada ideologi yang konsisten, bukan hanya slogan kampanye. Selain itu,
partai ideal harus transparan dalam keuangan, termasuk dalam pengelolaan dana
kampanye, donasi politik, dan anggaran operasional partai.

 Fungsi Partai Politik


Partai politik ideal harus mampu menjalankan lima fungsi dasar, yaitu:

A. Artikulasi dan agregasi kepentingan: menyerap dan merumuskan aspirasi


masyarakat menjadi kebijakan politik.

B. Rekrutmen politik: menjaring dan menyiapkan kader untuk menjadi


pemimpin yang kompeten dan berintegritas.

C. Sosialisasi politik: menanamkan nilai-nilai politik kepada masyarakat dan


membentuk budaya demokratis.

D. Partisipasi politik: mendorong keterlibatan warga dalam proses politik


seperti pemilu dan musyawarah kebijakan.

E. Legitimasi kekuasaan: memberikan dasar legal dan moral terhadap


kekuasaan yang diperoleh melalui proses demokratis.

Di Indonesia, sebagian besar partai belum mampu menjalankan fungsi-fungsi ini


secara optimal. Rekrutmen politik masih didominasi oleh kekuatan modal dan
jaringan elit, sementara fungsi pendidikan politik sering diabaikan
 Tipologi Partai Politik
Tipologi partai politik dapat dilihat dari basis pembentukan, struktur organisasi,
dan orientasi politiknya. Maurice Duverger membedakan dua tipologi utama:

Partai kader: biasanya dibentuk oleh kalangan elite dengan jumlah anggota
terbatas. Fokus pada kualitas kader dan ideologi yang kuat.

Partai massa: terbuka untuk umum dengan basis massa luas. Tujuannya adalah
mobilisasi dukungan dalam jumlah besar.

Dalam perkembangannya, muncul pula partai personalistik, yaitu partai yang


dibentuk dan dikendalikan oleh tokoh tertentu. Partai semacam ini biasanya lemah
dalam kelembagaan dan sangat bergantung pada figur pemimpin.

Di Indonesia, mayoritas partai bersifat massa dengan kecenderungan


personalistik. Kegiatan partai sangat terpusat pada figur ketua umum dan sering
kali tidak memiliki sistem kaderisasi atau pengambilan keputusan
yang demokratis..

 Sistem Kepartaian di Indonesia


Sistem kepartaian merujuk pada pola interaksi antar partai dalam satu sistem
politik. Giovanni Sartori mengklasifikasikan sistem kepartaian ke dalam tiga
bentuk utama:

A. Sistem satu partai, hanya satu partai yang berkuasa secara legal

B. Sistem dua partai, dua partai dominan yang bergantian memerintah

C. Sistem multipartai, banyak partai bersaing dan cenderung


membentuk koalisi
 Analisis Kesenjangan : Partai Ideal VS Realitas di Indonesia
Terdapat jarak yang besar antara partai politik ideal dan kondisi faktual di
Indonesia. Dalam hal kaderisasi, hanya sedikit partai yang memiliki program
pelatihan sistematis. Fungsi rekrutmen pun masih terjebak pada praktik
transaksional, di mana calon legislatif dipilih berdasarkan modal finansial, bukan
kapabilitas.

Dari segi ideologi, banyak partai tidak memiliki identitas yang jelas. Platform
kebijakan cenderung bersifat umum dan populis tanpa arah ideologis yang
konsisten. Hal ini menyebabkan partai mudah berpindah posisi hanya untuk
keuntungan elektoral.

Masalah lain yang mendasar adalah transparansi keuangan. Banyak partai tidak
melaporkan secara jujur sumber dana kampanye mereka. Padahal, akuntabilitas
keuangan sangat penting untuk mencegah politik uang dan korupsi.

ASPEK ASPEK PENTING DALAM INTEGRITAS PARTAI POLITIK

1. Kaderisasi Politik yang Terstruktur


Kaderisasi menjadi fondasi utama dalam menciptakan pemimpin politik yang
berkualitas. Partai ideal harus memiliki sistem pembinaan anggota yang
mencakup pendidikan politik, pelatihan kepemimpinan, dan pembentukan
karakter. Kader tidak hanya dilatih untuk menang dalam pemilu, tetapi juga untuk
memahami tata kelola pemerintahan dan etika politik. Sayangnya, di Indonesia
proses kaderisasi lebih sering bersifat elitis dan eksklusif, bahkan banyak politisi
muncul secara instan tanpa proses pembinaan yang memadai.

2. Rekrutmen Politik yang Terbuka dan Demokratis


Partai politik ideal seharusnya menerapkan sistem rekrutmen terbuka, kompetitif,
dan berdasarkan prestasi. Namun dalam praktiknya di Indonesia, rekrutmen
cenderung ditentukan oleh faktor kekeluargaan, kedekatan dengan elite partai,
atau kemampuan finansial calon. Praktik mahar politik juga memperparah
keadaan, karena hanya mereka yang mampu membayar yang mendapat
kesempatan maju sebagai caleg.

3. Ideologi dan Platform yang Konsisten


Setiap partai seharusnya memiliki identitas ideologis yang membedakannya dari
partai lain. Identitas ini menjadi dasar dalam merumuskan program dan kebijakan.
Dalam kenyataannya, banyak partai di Indonesia tidak menunjukkan konsistensi
ideologis. Beberapa partai bahkan berpindah haluan politik hanya demi
kepentingan elektoral, tanpa memperhatikan kesesuaian dengan prinsip dan nilai
yang mereka deklarasikan sebelumnya.

4. Transparansi dan Akuntabilitas Keuangan


Pengelolaan dana partai harus dilakukan secara transparan dan dapat diaudit oleh
publik. Negara sebenarnya telah memberikan bantuan dana kepada partai politik,
namun banyak partai yang tetap bergantung pada donatur besar atau sponsor
pribadi yang kerap menimbulkan konflik kepentingan. Rendahnya transparansi
menyebabkan potensi korupsi dalam tubuh partai semakin tinggi.

SISTEM KEPARTAIAN DI INDONESIA : ANTARA HARAPAN DAN


REALITA

Indonesia menganut sistem multipartai dengan ambang batas parlementer


(parliamentary threshold) untuk menyederhanakan sistem. Namun, keberadaan
terlalu banyak partai menyebabkan fragmentasi suara rakyat dan kesulitan dalam
menciptakan pemerintahan yang stabil. Koalisi yang dibentuk cenderung
pragmatis dan berumur pendek, karena lebih mengutamakan kekuasaan dibanding
kesamaan visi dan misi.
Kondisi ini diperburuk oleh lemahnya kelembagaan partai yang sering kali
bergantung pada figur tertentu (personalistik). Sejumlah partai juga menunjukkan
kecenderungan oligarkis, di mana keputusan strategis hanya dibuat oleh segelintir
elite yang tidak selalu mewakili aspirasi anggota atau publik.
Di sisi lain, rendahnya partisipasi anggota dalam pengambilan keputusan partai
menjadi bukti lemahnya demokrasi internal. Banyak keputusan penting diambil
secara sentralistis oleh ketua umum tanpa mekanisme konsultasi yang jelas. Ini
menjadikan partai sebagai alat elit, bukan alat perjuangan rakyat.

ANALISIS KRITIS TERHADAP KESENJANGAN YANG TERJADI

Terdapat jarak yang cukup lebar antara konsep partai politik ideal dengan
kenyataan di Indonesia. Dalam hal kaderisasi, mayoritas partai belum memiliki
sistem pelatihan dan pendidikan politik yang mapan. Dalam aspek rekrutmen,
banyak calon anggota legislatif yang diusung bukan karena kapabilitas, tetapi
karena kekuatan modal atau kedekatan personal dengan petinggi partai. Ideologi
partai yang seharusnya menjadi panduan politik sering kali hanya dijadikan alat
retoris. Dan yang paling krusial, transparansi keuangan masih menjadi kelemahan
besar yang membuka peluang terjadinya korupsi politik.

REKOMENDASI STRATEGIS

Pertama, perlu adanya regulasi yang mewajibkan setiap partai membangun sistem
kaderisasi formal dan terukur, termasuk membuat sekolah partai yang berfungsi
untuk membina calon pemimpin.

Kedua, KPU dan Bawaslu harus meningkatkan pengawasan terhadap rekrutmen


politik dan pelaporan dana kampanye untuk mencegah praktik transaksional.

Ketiga, penyederhanaan sistem kepartaian perlu terus dilanjutkan, agar tidak


terjadi fragmentasi politik yang merugikan demokrasi.
Terakhir, penguatan pendidikan politik publik penting agar masyarakat tidak
hanya memilih berdasarkan popularitas, tetapi juga berdasarkan rekam jejak dan
ideologi partai.

KESIMPULAN

Partai politik ideal merupakan entitas yang berperan aktif dalam mencerdaskan
kehidupan bangsa, membina kader yang berintegritas, dan menjalankan fungsi
politik secara bertanggung jawab. Meskipun secara sistem, Indonesia telah
memiliki kerangka kelembagaan yang mendukung demokrasi, tetapi dalam
praktiknya partai-partai politik masih jauh dari gambaran ideal. Reformasi
internal partai, penegakan hukum yang konsisten, dan partisipasi masyarakat yang
kritis menjadi kunci untuk memperbaiki sistem kepartaian nasional. Hanya
dengan partai yang sehat, demokrasi Indonesia bisa berkembang secara
substansial, bukan hanya prosedural.

DAFTAR PUSTAKA
 Almond, G., & Verba, S. (1963). The Civic Culture: Political Attitudes and
Democracy in Five Nations. Princeton University Press.
 Duverger, Maurice. (1954). Political Parties: Their Organization and Activity in
the Modern State. Wiley.
 Sartori, Giovanni. (2005). Parties and Party Systems: A Framework for Analysis.
Cambridge University Press.
 Ufen, Andreas. (2018). “Political Party Reform in Indonesia.” Contemporary
Southeast Asia, Vol. 40(1), 55–83.
 Rahman, A. (2020). Demokrasi dan Partai Politik di Indonesia. Jakarta: Rajawali
Pers.
 Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia. (2023). Laporan Dana Kampanye
dan Bantuan Negara untuk Partai Politik.
 Bawaslu RI. (2024). Evaluasi Pengawasan Dana Politik di Pemilu 2024.

Anda mungkin juga menyukai