0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan8 halaman

Ilovepdf Merged

Penelitian ini menganalisis pengaruh variasi Terminal Temperature Difference (TTD) pada High Pressure Feedwater Heater (HPH) terhadap kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menggunakan simulasi GateCycle. Hasil simulasi menunjukkan bahwa variasi kedua memberikan efisiensi termal tertinggi sebesar 36,6469% dan biaya operasional paling ekonomis. Penurunan nilai TTD pada HPH dapat meningkatkan efisiensi pembangkit dengan mengurangi konsumsi bahan bakar.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan8 halaman

Ilovepdf Merged

Penelitian ini menganalisis pengaruh variasi Terminal Temperature Difference (TTD) pada High Pressure Feedwater Heater (HPH) terhadap kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menggunakan simulasi GateCycle. Hasil simulasi menunjukkan bahwa variasi kedua memberikan efisiensi termal tertinggi sebesar 36,6469% dan biaya operasional paling ekonomis. Penurunan nilai TTD pada HPH dapat meningkatkan efisiensi pembangkit dengan mengurangi konsumsi bahan bakar.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMODELAN PENGARUH TERMINAL TEMPERATURE

DIFFERENCE PADA HIGH PRESSURE FEEDWATER HEATER


TERHADAP KINERJA PLTU MENGGUNAKAN GATECYCLE

JURNAL
TEKNIK MESIN KONSENTRASI KONVERSI ENERGI

Ditujukan untuk memenuhi persyaratan


memperoleh gelar Sarjana Teknik

CHRISTOPHER PARSAULIAN ABIMANYU


NIM. 215060200111041

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
MALANG
2025
PENGARUH TERMINAL TEMPERATURE DIFFERENCE PADA HIGH PRESSURE
FEED WATER HEATER TERHADAP KINERJA PLTU MENGGUNAKAN PEMODELAN
GATECYCLE
(The Effect of Terminal Temperature Difference on High Pressure Feedwater Heater Performance
in Steam Power Plants Using GateCycle Modeling)

Christopher Parsaulian Abimanyu, Lilis Yuliati, Winarto


Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl. Mayjend. Haryono no.167, Malang 65145, Indonesia
Email: christopherabi@student.ub.ac.id

ABSTRAK

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) merupakan salah satu sumber utama energi listrik di
Indonesia. Efisiensi termal PLTU sangat dipengaruhi oleh kinerja komponen-komponen utama,
termasuk High Pressure Feedwater Heater (HPH). Salah satu parameter penting yang memengaruhi
kinerja HPH adalah Terminal Temperature Difference (TTD), yaitu perbedaan suhu antara uap jenuh
dan air sirkulasi keluar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi TTD pada HPH
terhadap kinerja PLTU menggunakan perangkat lunak simulasi GateCycle. Data operasional diambil
dari PLTU Paiton Unit 1, Jawa Timur, dengan kapasitas 400 MW. Metode penelitian melibatkan
pemodelan sistem PLTU berdasarkan data spesifikasi komponen dan parameter operasional
lapangan. Simulasi dilakukan dengan delapan variasi nilai TTD pada HPH untuk mengamati
perubahan efisiensi, heat rate, konsumsi bahan bakar, dan biaya operasional. Hasil simulasi
menunjukkan bahwa kondisi optimal diperoleh pada variasi kedua, dengan efisiensi termal tertinggi
sebesar 36,6469%, heat rate terendah sebesar 2,7286 kJ/kWs, dan biaya per kWh paling ekonomis
sebesar Rp 513,93/kW. Variasi ini menunjukkan bahwa penurunan nilai TTD pada HPH dapat
meningkatkan suhu fluida yang masuk ke boiler, sehingga mengurangi konsumsi bahan bakar dan
meningkatkan efisiensi pembangkit.
Kata Kunci: PLTU, Simulasi, GateCycle, Optimasi Sistem, HPH, TTD, Kinerja Pembangkit.

ABSTRACT

Steam Power Plants (PLTU) are one of the primary sources of electrical energy in Indonesia.
The thermal efficiency of PLTU is significantly influenced by the performance of its main
components, including the High Pressure Feedwater Heater (HPH). One crucial parameter affecting
HPH performance is the Terminal Temperature Difference (TTD), which refers to the temperature
difference between saturated steam and circulating water outlet. This study aims to analyze the
impact of TTD variations in HPH on PLTU performance using GateCycle simulation software.
Operational data were collected from Paiton Unit 1 PLTU, East Java, with a capacity of 400 MW.
The research method involved modeling the PLTU system based on component specifications and
operational field parameters. Simulations were conducted with eight variations of TTD values in
HPH to observe changes in efficiency, heat rate, fuel consumption, and operational costs. The
simulation results indicate that optimal conditions were achieved in the second variation, yielding
the highest thermal efficiency of 36.6469%, the lowest heat rate of 2.7286 kJ/kWs, and the most
economical cost per kWh at Rp 513.93/kW. This variation demonstrates that reducing TTD values in
HPH enhances the temperature of fluid entering the boiler, thereby decreasing fuel consumption and
improving plant efficiency.
Keywords: Steam Power Plants, Simulation, System Optimation, HPH, TTD, Plant Performance.

1
1. Pendahuluan dibatasi pada kondisi steady state dengan
Energi listrik merupakan kebutuhan utama mengabaikan heat losses dan pressure drop
manusia yang memengaruhi hampir seluruh aspek sepanjang pipa. Tujuan utama penelitian adalah
kehidupan, termasuk sektor industri dan sosial. memvalidasi model PLTU dengan data
Selain itu, energi listrik juga menjadi salah satu operasional serta mengevaluasi dampak variasi
faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu TTD terhadap kinerja pembangkit.
negara. Energi listrik berperan sebagai pondasi Penelitian ini diharapkan memberikan
utama dalam mencapai tujuan pembangunan manfaat berupa peningkatan pemahaman tentang
karena memengaruhi berbagai sektor seperti pengaruh TTD terhadap efisiensi PLTU,
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), kontribusi dalam bidang teknik mesin khususnya
populasi penduduk, serta perubahan struktur konversi energi, serta menjadi referensi untuk
ekonomi [1]. Di Indonesia, kebutuhan energi penelitian lebih lanjut mengenai optimasi
listrik terus meningkat setiap tahunnya. parameter operasional pembangkit listrik.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral (ESDM), konsumsi listrik rata-rata 2. Metode Penelitian
per kapita mencapai 1.285 kWh pada tahun 2024, 2.1 Alat dan Bahan Penelitian
meningkat 9,54% dibandingkan tahun Pada penelitian ini, Heat & Mass Balance
sebelumnya. Untuk memenuhi kebutuhan ini, pada PLTU Paiton akan digunakan sebagai data
pemerintah mengembangkan berbagai existing PLTU, dimana nantinya data tersebut
pembangkit listrik, di mana Pembangkit Listrik akan dijadikan acuan untuk menentukan apakah
Tenaga Uap (PLTU) menjadi salah satu sumber data pada PLTU sudah sesuai dengan data yang
utama energi listrik di Indonesia [2]. ada pada aplikasi GateCycle sehingga variasi TTD
Efisiensi PLTU sangat dipengaruhi oleh dapat dilakukan. Aplikasi GateCycle yang
kinerja komponen utamanya, termasuk High digunakan pada penelitian ini adalah versi 6.1.1
Pressure Feedwater Heater (HPH). Salah satu
parameter penting yang memengaruhi kinerja 2.2 Variabel Penelitian
HPH adalah Terminal Temperature Difference Pada penelitian ini, variabel yang digunakan
(TTD), yaitu perbedaan suhu antara uap jenuh dan ialah sebagai berikut:
air sirkulasi keluar. Nilai TTD yang optimal 1. Variabel Bebas
diperlukan untuk meningkatkan efisiensi termal Variabel bebas dari penelitian ini adalah
sistem pembangkit. Menurut [3], efisiensi termal nilai Terminal Temperature Difference (TTD)
PLTU dapat ditingkatkan melalui modifikasi pada High Pressure Feedwater Heater (HPH)
siklus Rankine dengan menambahkan massa alir yang divariasikan sebanyak delapan kondisi.
pada feedwater heater. [4] menyatakan bahwa Variasi dilakukan dengan mengubah nilai
modifikasi ini dilakukan dengan memanfaatkan TTD pada HPH 1, HPH 2, dan HPH 3. Nilai
uap ekstraksi dari turbin untuk memanaskan TTD yang digunakan pada setiap variasi
feedwater sebelum masuk ke boiler. Pemanasan ditentukan berdasarkan kondisi operasional
ini bertujuan untuk meringankan kerja boiler PLTU Paiton Unit 1.
dalam menghasilkan uap sehingga mengurangi 2. Variabel Terikat
konsumsi bahan bakar. Dalam penelitian ini variabel terikat
Feedwater heater berfungsi sebagai alat yang diamati adalah konsumsi bahan bakar,
penukar panas yang memanfaatkan energi dari uap heat rate, efisiensi.
ekstraksi turbin untuk meningkatkan suhu 3. Variabel Terkontrol
feedwater sebelum masuk ke boiler. Parameter Variabel terkontrol dari penelitian ini
TTD pada HPH menjadi salah satu faktor yang adalah luas permukaan feedwater heater,
menentukan efisiensi sistem pembangkit. Oleh reheater, superheater, economizer, air
karena itu, penelitian ini bertujuan untuk preheater, evaporator, compressor; daya
menganalisis pengaruh variasi TTD pada HPH bersih PLTU; nilai kalori batubara; serta
terhadap kinerja PLTU menggunakan perangkat koefisien perpindahan panas menyeluruh dari
lunak GateCycle. Data operasional diambil dari feedwater heater, reheater, superheater,
PLTU Paiton Unit 1 di Jawa Timur dengan economizer, air preheater, evaporator,
kapasitas 400 MW. compressor.
Rumusan masalah penelitian meliputi
pemodelan PLTU Paiton menggunakan GateCycle
dan analisis pengaruh TTD terhadap efisiensi, heat
rate, dan konsumsi bahan bakar. Penelitian ini
2
2.3 Prosedur Pengujian
m (kg/sec) P (kPa) T (K)
Komponen Penyimpanga Penyimpanga Progra Penyimpanga
Operasional Program Operasional Program Operasional
n n m n
Kondensor
Condensate Inlet 247,040 245,820 0,494% 8,700 8,640 0,690% 315,030 316,140 0,352%
Condensate Outlet 283,499 283,270 0,081% 8,700 8,640 0,690% 315,030 316,140 0,352%

Boiler
Economizer Outlet 353,128 357,880 1,346% 18477,690 18420,000 0,312% 535,150 542,010 1,282%
Evaporator Outlet 2068,030 2030,120 1,833% 18966,060 18966,060 0% 633,150 542,010 14,395%
Steam Drum
353,128 357,860 1,340% 18420,000 18420,000 0% 630,470 632,010 0,244%
Outlet
HT Superheater
353,128 357,860 1,340% 16840,000 17153,160 1,860% 809,530 818,050 1,052%
Outlet
Reheater Outlet 325,641 322,200 1,057% 4206,000 4253,200 1,122% 809,850 809,230 0,077%

High Pressure Turbine

Main Outlet 1247485,320 1240688,520 0,545% 4340,000 4340,000 0% 625,120 628,900 0,605%

Intermediate Pressure Turbine

Main Outlet 247,040 245,820 0,494% 723,700 723,700 0% 585,380 581,390 0,682%
First Extraction 78141,240 78798,240 0,841% 1878,954 1878,954 0% 709,620 698,650 1,546%
Fourth Extraction 21218,760 21867,120 3,056% 784,500 784,500 0% 582,360 590,700 1,432%

Gambar 2.3 Validasi pemodelan PLTU Paiton


Low Pressure Turbine
Main Outlet 847083,960 842332,320 0,561% 0,009 0,009 0% 315,580 316,140 0,177%
First Extraction
Second Extraction
48269,520
31870,440
47721,960
31399,920
pada aplikasi GateCycle
1,134%
1,476%
430,000
234,000
430,000
234,000
0%
0%
520,200
479,160
526,080
475,840
1,130%
0,693%

Gambar 2.1 Skema pemodelan PLTU pada


Third Extraction 43495,200 43071,480 0,974% 80,000 80,000 0% 394,360 387,170 1,823%
Fourth Extraction 63320,760 63857,520 0,848% 55,900 55,900 0% 361,600 360,370 0,340%

GateCycle
HPH 7
Setelah memastikan bahwa setiap komponen
Extraction Inlet 114086,880 113647,880 0,385% 4340,000 4340,000 0% 625,120 628,900 0,605%

sudah sesuai dengan kondisi lapangan, Variasi


Boiler Feedwater
1247486,800 1240688,520 0,545% 19083,900 19083,900 0% 528,360 528,300 0,011%
Outlet

Proses pengujian dimulai dengan membuat akan dilakukan dengan mengacu pada model
HPH 6
Uap Ekstraksi
HPH6
78141,240 78798,240 0,841% 1878,954 1878,954 0% 709,620 698,650 1,546%

model pembangkit pada aplikasi GateCycle operasional yang telah divalidasi. Pada pemodelan
Boiler Feedwater
Outlet
1247486,760 1239684,100 0,625% 19083,880 19803,880 3,773% 480,000 482,300 0,479%

dengan acuan data P&ID terdapat pada PLTU operasional sebelumnya, setiap komponen bekerja
HPH 5
Uap Ekstaksi HPH
21218,760 21867,120 3,056% 784,500 784,500 0% 582,360 590,700 1,432%

Paiton. sesuai dengan parameter yang tersedia pada data


5
Boiler Feedwater
Outlet
1247477,040 1240688,520 0,544% 19083,800 19083,800 0% 438,550 439,960 0,322%

operasional, variasi terminal temperature


Deaerator

difference mengacu pada tabel berikut.


Uap Ekstaksi DEA
Boiler Feedwater
48269,520 47721,960

1247477,040 1240688,500
1,134%

0,544%
430,000

580,000
430,000

580,000
0%

0%
52,200

421,930
526,080

425,880
907,816%

0,936%
Outlet

LPH 3
Uap Ekstraksi
31870,440
TTD Pada
31390,920
1,505%
High Pressure
234,000 234,000
Feedwater
0% 479,160
Heater
475,840
(°C)
0,693%
LPH 3
Kondisi
Boiler Feedwater
Outlet
985771,440
HPH0,519%
980654,400
1 580,000
HPH 20%
580,000 393,850
HPH 0,449%
395,620
3
LPH 2
Operasional
Uap Ekstraksi
43495,200 43071,000
0 0,975% 80,000 80,000
0 0% 394,360
2.8 1,823%
387,170
LPH 2
Boiler Feedwater
Variasi 1
Outlet
985771,400 980654,400
3 0,519% 580,000 580,000
3 0% 362,370
5.8 0,411%
363,860

LPH 1
Variasi 62320,760
Uap Ekstraksi 2 63857,520
-32,466% 55,900 55,900
-3 0% 361,600
-0.20,340%
360,370
LPH 1
Boiler Feedwater
Variasi985771,440
Outlet 3 985771,440
3 0% 58,000 58,000
0 0% 354,450
2.8 0,014%
354,500

Hasil
Variasi 4395,600
Gross Power 396,081 0 0,122% 3 2.8
Efisiensi 35,900 36,612 1,983%

Variasi 5368,130
Nett Power 375,420
0 1,980% 0 5.8
Variasi 6 -3 0 2.8
Variasi 7 0 -3 2.8
Variasi 8 0 0 -0.2

Gambar 2.4 Variasi TTD PLTU Paiton


Gambar 2.2 Parameter boiler yang di-input pada Setelah nilai variasi di-input pada aplikasi
aplikasi GateCycle GateCycle, maka simulasi dapat dilakukan dengan
menekan tombol “Run Cycle” pada aplikasi
Setelah input model selesai, parameter- GateCycle. Proses simulasi ini akan menghasilkan
parameter tiap komponen akan dimasukkan pada data mass flow, pressure, temperature, enthalpy,
aplikasi GateCycle berdasarkan data spesifikasi dan quality dari masing-masing aliran pada PLTU.
komponen yang terdapat pada PLTU Paiton.
Variabel yang dimasukkan harus sesuai
dengan parameter operasional lapangan untuk
menciptakan kondisi pemodelan yang akurat.
Model ini kemudian divalidasi untuk memastikan
kesesuaiannya dengan data lapangan, dengan
batas toleransi 2%. Jika validasi berhasil, maka
model dapat digunakan untuk lanjut ke tahap
variasi. Hasil validasi pemodelan dapat dilihat
pada tabel dibawah ini.

3
3. Hasil dan Pembahasan nilai ((m_s ) -̇ (m_1 ) ̇ ) dimana nilainya pada
3.1 Daya Bersih Variasi ketiga HPH pada perubahan nilai TTD
sebesar -3C lebih kecil daripada keadaan
operasional, meskipun begitu nilai h_1 pada
375,9 Variasi ketiga HPH pada perubahan nilai TTD
375,8 sebesar -3C jauh lebih tinggi daripada keadaan
Daya Bersih (MW)

375,7
375,6 operasional akibat suhu air umpan yang masuk ke
375,5 boiler lebih tinggi daripada keadaan operasional
375,4
375,3 sehingga kerja boiler dapat lebih ringan. Pada
375,2 Variasi ketiga HPH pada perubahan nilai TTD
375,1
375 sebesar -3C terjadi peningkatan massa alir yang
374,9
masuk pada HPH 7, meskipun ini akan
-4 -2 0 2 4
mengurangi massa ekstraksi yang masuk ke
TTD ( C) reheater, pada grafik tersebut dapat disimpulkan
bahwa dengan menurunkan TTD pada HPH dapat
Gambar 3.1 Pengaruh variasi TTD terhadap daya meningkatkan daya bersih yang dihasilkan.
bersih 3.2 Efisiensi

Gambar 3.6 menunjukkan daya bersih yang


Efisiensi Siklus (%)
36,65
dihasilkan dari kondisi Variasi ketiga HPH pada
perubahan nilai TTD sebesar -3C cenderung
36,6
lebih besar bila dibandingkan dengan daya bersih
yang dihasilkan dari variasi lain. Daya bersih yang
dihasilkan pada Variasi ketiga HPH pada 36,55
-4 -2 0 2 4
perubahan nilai TTD sebesar -3C berkisar pada
TTD ( C)
nilai 375780,7kW. Sedangkan pada variasi lain
yang dilakukan cenderung masih dibawahnya.
Gambar 3.2 Pengaruh variasi TTD terhadap
Pada kasus ini nilai daya bersih yang berubah
efisiensi
dapat disebabkan karena perubahan entalpi yang
terjadi pada uap yang masuk ke turbin. Gambar menunjukkan efisiensi yang
dihasilkan dari Variasi ketiga HPH pada
𝑊𝑡𝑢𝑟𝑏𝑖𝑛𝑒 = 𝑚̇ 𝑠 (ℎ1 − ℎ3 ) + (𝑚̇ 𝑠 − 𝑚̇ 1 )(ℎ3 − ℎ2 ) perubahan nilai TTD sebesar -3C memiliki nilai
+ (𝑚̇ 𝑠 − 𝑚̇ 1 )(ℎ4 − ℎ5 ) paling tinggi bila dibandingkan dengan data
+ (𝑚̇ 𝑠 − 𝑚̇ 1 − 𝑚̇ 2 )(ℎ5 − ℎ6 ) Operasional dan Variasi lainnya. Efisiensi overall
+ (𝑚̇ 𝑠 − 𝑚̇ 1 − 𝑚̇ 2 − 𝑚̇ 3 )(ℎ6 yang didapatkan dari kondisi Variasi ketiga HPH
− ℎ7 ) pada perubahan nilai TTD sebesar -3C yaitu
+ (𝑚̇ 𝑠 − 𝑚̇ 1 − 𝑚̇ 2 −𝑚3̇ − 𝑚̇ 4 )(ℎ7 sebesar 36.6469%. Nilai efisiensi yang berubah
− ℎ8 ) disini dipengaruhi oleh daya yang dihasilkan dari
+ (𝑚̇ 𝑠 − 𝑚̇ 1 − 𝑚̇ 2 − 𝑚̇ 3 − 𝑚̇ 4 turbin.
− 𝑚̇ 5 )(ℎ8 − ℎ9 )
+ (𝑚̇ 𝑠 − 𝑚̇ 1 − 𝑚̇ 2 − 𝑚̇ 3 − 𝑚̇ 4 ̇
𝑊𝑛𝑒𝑡
− 𝑚̇ 5 − 𝑚̇ 6 )(ℎ9 − ℎ10 ) + (𝑚̇ 𝑠 𝜂𝑐𝑦𝑐𝑙𝑒 = 𝑥100%
̇
𝑄𝑖𝑛𝑝𝑢𝑡
− 𝑚̇ 1 − 𝑚̇ 2 −𝑚̇ 3 − 𝑚̇ 4 − 𝑚̇ 5
− 𝑚̇ 6 − 𝑚̇ 7 )(ℎ10 − ℎ11 ) 𝑊̇𝑡𝑢𝑟𝑏𝑖𝑛𝑒 − 𝑊̇𝑝𝑢𝑚𝑝
= 𝑥100%
̇
𝑄𝑖𝑛𝑝𝑢𝑡
Berdasarkan rumus diatas, diketauhi bahwa
daya turbin dipengaruhi oleh nilai entalpi serta Berdasarkan persamaan diatas, dapat
massa alir dari masing-masing uap ekstraksi. Pada diketauhi bahwa nilai efisiensi dipengaruhi oleh
perhitungan ini, nilai (m_s ) ̇ dijaga konstan daya yang dihasilkan oleh turbin, daya pompa, dan
seperti keadaan operasional pada keseluruhan kalor yang masuk. Setiap variasi dikondisikan
variasi. Dapat dilihat pada persamaan ini bahwa dengan nilai kalor masuk serta daya pompa yang
kombinasi yang tepat diperlukan untuk tetap. Variasi ketiga HPH pada perubahan nilai
menghasilkan daya yang terbaik. Seperti pada TTD sebesar -3C memiliki daya yang dihasilkan
4
oleh turbin paling tinggi bila dibandingkan dengan 3.4 Konsumsi Bahan Bakar
data Operasional maupun dengan Variasi lainnya
sehingga menyebabkan efisiensinya memiliki
nilai paling tinggi. Pada grafik tersebut dapat

Konsumsi Batu Bara


232,75
disimpulkan bahwa dengan menurunkan TTD
pada HPH dapat meningkatkan efisiensi siklus

(ton/h)
232,55
yang dihasilkan.
232,35
3.3 Heat Rate
232,15
-4 -2 0 2 4
TTD ( C)
Heat Rate (kJ/kWs)

2,734

2,732
Gambar 3.4 Pengaruh variasi TTD terhadap
2,73 konsumsi bahan bakar
2,728
Gambar 3.9 menunjukkan bahwa konsumsi
-4 -2 0 2 4
bahan bakar yang dibutuhkan dari kondisi Variasi
TTD ( C)
ketiga HPH pada perubahan nilai TTD sebesar -
3C memiliki nilai paling rendah, sedangkan
konsumsi bahan bakar pada variasi 5 memiliki
Gambar 3.3 Pengaruh variasi TTD terhadap heat
rate nilai yang paling tinggi bila dibandingkan dengan
kondisi operasional dan variasi lainnya. Nilai
Gambar 3.8 menunjukkan heat rate yang konsumsi bahan bakar dipengaruhi oleh daya yang
dihasilkan dari Variasi ketiga HPH pada dihasilkan dan efisiensi keseluruhan pembangkit.
perubahan nilai TTD sebesar -3C memiliki nilai Pada grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa
paling tinggi bila dibandingkan dengan data dengan menurunkan TTD pada HPH dapat
Operasional dan Variasi lainnya. Nilai heat rate mengurangi konsumsi bahan bakar yang
yang didapatkan dari kondisi Variasi ketiga HPH dihasilkan.
pada perubahan nilai TTD sebesar -3C yaitu
sebesar 2,7286 (kJ/kWs). Nilai heat rate yang 3.5 Biaya Operasional
berubah disini dipengaruhi oleh daya yang
dihasilkan dari turbin.
Biaya Operasional (miliar

𝑄̇𝑖𝑛𝑝𝑢𝑡 4,614
𝐻𝑒𝑎𝑡 𝑅𝑎𝑡𝑒 =
𝑊̇𝑛𝑒𝑡
Rp/hari)

4,609
Berdasarkan persamaan diatas, dapat
diketauhi bahwa nilai heat rate dipengaruhi oleh 4,604
daya yang dihasilkan oleh turbin, daya pompa, dan -4 -2 0 2 4
kalor yang masuk. Setiap variasi dikondisikan TTD ( C)
dengan nilai kalor masuk serta daya pompa yang
tetap. Variasi ketiga HPH pada perubahan nilai Gambar 3.10 Pengaruh variasi TTD terhadap
TTD sebesar -3C memiliki daya yang dihasilkan Biaya Operasional
oleh turbin paling tinggi bila dibandingkan dengan
data Operasional maupun dengan Variasi lainnya Gambar 3.10 menunjukkan biaya operasional
sehingga menyebabkan heat rate memiliki nilai yang dari Variasi ketiga HPH pada perubahan
paling rendah. Pada grafik tersebut dapat nilai TTD sebesar ketiga HPH pada perubahan
disimpulkan bahwa dengan menurunkan TTD nilai TTD sebesar -3C memiliki nilai paling
pada HPH dapat mengurangi nilai heat rate yang rendah bila dibandingkan dengat data
dihasilkan. Operasional dan Variasi lainnya. Nilai biaya

5
operasional dipengaruhi oleh konsumsi bahan optimal dibandingkan Variasi ketiga HPH
bakar yang digunakan. pada perubahan nilai TTD sebesar ketiga
HPH pada perubahan nilai TTD sebesar -3C.
𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑂𝑝𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙 (𝑅𝑝)
ℎ𝑎𝑟𝑖 4.2 Saran
𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑘𝑎𝑟 (𝑡𝑜𝑛) 𝑗𝑎𝑚 Saran dari penulis berdasarkan hal-hal yang
= 𝑥 24
𝑗𝑎𝑚 ℎ𝑎𝑟𝑖 belum dilakukan pada penelitian ini dan dapat
ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑎𝑡𝑢 𝑏𝑎𝑟𝑎 (𝑅𝑝) dilakukan pada penelitian yang akan datang antara
𝑥 lain:
𝑡𝑜𝑛
1. Penelitian pengaruh variasi terminal
Dapat disimpulkan bahwa Variasi ketiga temperature difference dengan dilanjutkan
HPH pada perubahan nilai TTD sebesar ketiga variasi on/off pada high pressure feedwater
HPH pada perubahan nilai TTD sebesar -3C heater
dapat mengurangi biaya operasional PLTU 2. Penelitian dengan memvariasikan terminal
sebesar ±5 juta rupiah per harinya. Pada grafik temperature difference tanpa mengabaikan
tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan energi kinetik dan potensial fluida.
menurunkan TTD pada HPH dapat
mengurangi biaya operasional yang
DAFTAR PUSTAKA
dihasilkan.
Mulyani, D., & Hartono, D. (2018). Pengaruh
4. Penutup efisiensi energi listrik pada sektor industri dan
komersial terhadap permintaan listrik di
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, Indonesia. Jurnal Ekonomi Kuantitatif
telah dibuat pemodelan untuk melakukan Terapan, 11(1), 1-17.
pengujian variasi dari terminal temperature Badan Pusat Statistik (2024) Kapasitas
difference yang digunakan pada feedwater heater.
Terpasang PLN menurut Jenis Pembangkit Listrik
Pemodelan variasi yang dilakukan dengan aplikasi
Gate Cycle menghasilkan kesimpulan sebagai (MW), 2020-2022
berikut: https://www.bps.go.id/id/statistics-
1. variasi Terminal Temperature Difference table/2/MzIxIzI=/kapasitas-terpasang-pln-
(TTD) pada High Pressure Feedwater Heater menurut-jenis-pembangkit-listrik--mw-.html.
(HPH) terbukti signifikan memengaruhi (diakses 20 Juni 2024)
kinerja pembangkit . Kondisi Subrata, A. F. J. Tugas Akhir–Tm 091486
optimal dicapai pada Variasi ketiga HPH Analisa Termodinamika Pengaruh Aliran Massa
pada perubahan nilai TTD sebesar -3C Ekstraksi Turbin Uap Untuk Feedwater Heaters
dengan penurunan TTD, menghasilkan: Terhadap Performa Pembangkit Listrik Tenaga.
a. Efisiensi siklus tertinggi
(36,65%), Pradigdo (2015) Simulasi Gate Cycle
b. Heat rate terendah (2.7286 Pengaruh Aliran Massa dan Posisi Ekstraksi
kJ/kWh), Turbine Terhadap Peforma Pembangkit Listrik
c. Daya bersih maksimal (375.780,7 Tenaga Uap 200 Mw PT.PJB Gresik Unit
kW), Pembangkit 3
d. Pengurangan konsumsi batubara
El-Wakil, M. M. (1985). Power Plant
dan biaya operasional (Rp
Technology. New York: McGraw-Hill.
513,93/kWh).
2. Penurunan TTD meningkatkan suhu air Nag, P. K. (2015b). Power Plant
umpan masuk boiler, mengurangi beban Engineering. New Delhi: McGraw Hill Education
termal boiler, dan meningkatkan efisiensi (India) Private.
siklus. Hasil ini sejalan dengan penelitian
sebelumnya yang menyatakan bahwa TTD Hedge, R.K. 2015. Power Plant Engineering.
rendah meningkatkan efektivitas pemanas air Uttar Pradesh: Pearson.
umpan. Variasi 8 juga menunjukkan kinerja
baik dengan efisiensi 36,63%, tetapi kurang
6
Moran, M. J., Shapiro, H. N., Stuart, D. B., &
Huang, T.-C. (2010). Fundamentals of engineering
thermodynamics. John Wiley & Sons.
Hatswell, C. R. (2008). Steam turbines for
electric power generation. Woodhead Publishing.
Munson, M. (2000). Power plant
engineering. McGraw-Hill.
Çengel, Y. A., Boles, M. A., & Kanoğlu, M.
(2014). Thermodynamics: An engineering
approach. New York, NY: McGraw Hill LLC.
Influence of Feed Water Heaters on the
Performance of Coal Fired Power Plants,
www.ijltemas.in/DigitalLibrary/Vol.5Issue3/115-
119.pdf. Accessed 5 Dec. 2024.
Kurnia, Akbar. “Simulasi Gatecycle
Pengaruh off Service High Pressure Heater
Terhadap Performa Pembangkit Listrik Tenaga
UAP 200 MW Pt. PJB Gresik.” Go to Start Page!,
1 Mar. 2015, repository.its.ac.id/41539/.
Parapa’, H. B. P. (2021). Dampak Perubahan
Parameter Closed Feedwater Heater terhadap Heat
Rate Losses pada PLTU Kapasitas 110
MW. CYCLOTRON, 4(1).
https://doi.org/10.30651/cl.v4i1.7012
https://www.minerba.esdm.go.id/harga_acua
n Accessed 13 Mar. 2025.

Anda mungkin juga menyukai