A.
Konsep Penyakit
1. Pengertian Hipertensi
Hipertensi (High blood pressure) merupakan suatu kelompok penyakit tidak menular
dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik diatas 130 mmHg dan tekanan darah
diastolik dibawah 90 mmHg. Hipertensi biasanya terjadi tanpa gejala yang jelas. Hal ini
pada akhirnya dapat menyebabkan kondisi lain mulai dari aritmia hingga serangan
jantung dan stroke. (AHA, 2020).
Hipertensi adalah suatu keadaan ketika seseorang mengalami peningkatan tekanan darah
diatas normal atau peningkatan abnormal secara terus menerus lebih dari suatu periode,
dengan tekanan sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90mmHg.
(Aspiani, 2014).
2. Klasifikasi Hipertensi
Menurut (WHO, 2018) batas normal tekanan darah adalah tekanan darah sistolik kurang
dari 120 mmHg dan tekanan darah diastolik kurang dari 80 mmHg. Seseorang yang
dikatakan hipertensi bila tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan
diastolik lebih dari 90 mmHg.
Kategori Tekanan darah Sistolik Tekanan darah Diastolik
Normal < 120 mmHg < 80 mmHg
Prehipertensi 120 – 129 mmHg < 80 mmHg
Hipertensi stage I 130-139 mmHg 80-89 mmHg
Hipertensi stage II 140 mmHg 90 mmHg
Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya yaitu hipertensi primer dan hipertensi
sekunder (Aspiani, 2014). Hipertensi primer adalah peningkatan tekanan darah yang tidak
diketahui penyebabnya. Dari 90% kasus hipertensi merupakan hipertensi primer.
Beberapa faktor yang diduga berkaitan dengan berkembangnya hipertensi primer adalah
genetik, jenis kelamin, usia, diet, berat badan, gaya hidup. Hipertensi sekunder adalah
peningkatan tekanan darah karena suatu kondisi fisik yang ada sebelumnya seperti
penyakit ginjal atau gangguan tiroid. Dari 10% kasus hipertensi merupakan hipertensi
sekunder. Faktor pencetus munculnya hipertensi sekunder antara lain: penggunaan
kontrasepsi oral, kehamilan, peningkatan volume intravaskular, luka bakar dan stres
(Aspiani, 2014).
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dapat dikelompokkan menjadi dua golongan
yaitu (WHO, 2014) :
1. Hipertensi Esensial atau Hipertensi Primer
Sebanyak 90-95 persen kasus hipertensi yang terjadi tidak diketahui dengan pasti
apa penyebabnya. Para pakar menemukan hubungan antara riwayat keluarga
penderita hipertensi (genetik) dengan resiko menderita penyakit ini. Selain itu
juga para pakar menunjukan stres sebagai tertuduh utama, dan faktor lain yang
mempengaruhinya. Faktor-faktor lain yang dapat dimasukkan dalam penyebab
hipertensi jenis ini adalah lingkungan, kelainan metabolisme, intra seluler, dan
faktor-faktor yang meningkatkan resikonya seperti obesitas, merokok, konsumsi
alkohol, dan kelainan darah.
2. Hipertensi Renal atau Hipertensi Sekunder
Pada 5-10 persen kasus sisanya, penyebab khususnya sudah diketahui, yaitu
gangguan hormonal, penyakit diabetes, jantung, ginjal, penyakit pembuluh darah
atau berhubungan dengan kehamilan. Kasus yang sering terjadi adalah karena
tumor kelenjar adrenal. Garam dapur akan memperburuk resiko hipertensi tetapi
bukan faktor penyebab.
3. Hipertensi Maligna
Hipertensi maligna merupakan peningkatan tekanan darah yang cepat dan berat
biasanya sampai >240/120 mmHg dengan disertai kerusakan organ (flea-bitten
kidney/ginjal seperti dimakan kutu).Keadaan ini yang paling sering terlihat pada
populasi pria ras Afrika-Amerika yang berusia muda. Secara klinis hipertensi
maligna ditandai oleh hipertrofi ventrikel kiri, papil edema dan perdarahan retina
disamping keluhan nyeri dada, dispnea, angina ataupun sakit kepala. Kerusakan
end-organ dapat bermanifestasi sebagai edema pulmonal, azotemia, perdarahan
retina, ensefalopati, kejang dan koma.
3. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di
pusat vasomotor medula di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf
simpatis, yang berlanjut kebawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula
spinalis ke ganglia simpatis toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor
dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak kebawah melalui sistem saraf
simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron pre-ganglion melepaskan
asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah,
dimana dengan dilepaskannya norepinefrin yang akan mengakibatkan konstriksi
pembuluh darah. Berbagai faktor, seperti kecemasan dan ketakutan dapat
mempengaruhi respons pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriktor (Brunner
& Suddarth, 2016).
Pada saat bersamaan ketika sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah
sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan
tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medula adrenal menyekresi epinefrin, yang
menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal menyekresi kortisol dan steroid
lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh
darah.Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal,
menyebabkan pelepasan renin (Brunner & Suddarth, 2016).
Renin yang dilepaskan merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian
diubah menjadi angiotensin II, vasokonstriktor kuat, yang pada akhirnya merangsang
sekresi aldosterone oleh korteks adrenal. Hormone ini menyebabkan retensi natrium
dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua
faktor tersebut cenderung mencetuskan hipertensi (Brunner & Suddarth, 2016).
PATHWAY
Sumber: hisan, IDOPUB, 2019
Faktor predisposisi
Merangsang pusat vasomotor
Merangsang neuron pre-ganglion untuk melepaskkan
asetilkolin
Merangsang serabut pasca ganglion ke pembuluh darah untuk melepaskan
norepinefrin
Kortisol dan steroid lainnya Kelenjar medula adrenal juga
disekresi oleh kelenjar korteks terangsang untuk menyekresi
adrenal epinefrin
Memperkuat Vasokonstriksi pembuluh
darah
Penurunan aliran darah ke ginjal
Pelepasan renin
Merangsang pembentukan angiotensin Imenjadi angiotensin II
Merangsang sekresi aldosteron
Retensi natrium dan air di tubulus
Peningkatan volume intravaskular
Hipertensi
Peningkatan retensi terhadap pemompaan darah ventrikel
Peningkatan beban kerja jantung
Hipertrofi ventrikel kiri
Gangguan Sirkulasi
Ginjal Pembuluh darah Retina
Sistemik Koroner
Spasme
Vasokonstriksi Arteriole
Obstruksi/ruptur
pembuluh darah Iskemi Miocard
pembuluh darah vasokonstriksi
ginjal
otak Diplopia
Afterload Nyeri akut
Blood meningkat
Stroke Flow
Hemoragik
Penurunan Fatigue
Respon RAA Curah jantung
Nyeri
Intoleransi
akut
Rangsang aldosteron aktivitas
Retensi Na KELEBIHAN
VOLUME CAIRAN
4. Etiologi
Otak
Berdasarkan buku Brunner & Suddarth (2016) Hipertensi berdasarkan penyebabnya
dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu :
a. Hipertensi Primer
Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data
penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya
hipertensi. Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik.
Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan
tekanan perifer. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya Resti injuri
hipertensi:
- Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atautransport
Na.
- Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang
mengakibatkantekanan darah meningkat.
- Stress Lingkungan.
- Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterisklerosis pada orang tua
sertapelabaran pembuluh darah.
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan –
perubahan pada :
- Elastisitas dinding aorta menurun
- Katub jantung menebal dan menjadi kaku
- Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun
menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
- Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena kurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi.
- Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer
Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data
penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya
hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1) Faktor keturunan Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya
adalah penderita hipertensi.
2) Ciri perseorangan,
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah:
- Umur (jika umur bertambah maka TD meningkat )
- Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )
- Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )
3) Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah :
- Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr )
- Kegemukan atau makan berlebihan
- Stress
- Merokok
- Minum alkohol
- Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin)
b. Hipertensi Sekunder
Penyebab hipertensi sekunder adalah :
1) Ginjal
- Glomerulonefritis
- Pielonefritis
- Nekrosis tubular akut
- Tumor
2) Vascular
- Aterosklerosis
- Hiperplasia
- Trombosis
- Aneurisma
- Emboli kolestrol
- Vaskulitis
3) Kelainan endokrin
- DM
- Hipertiroidisme
- Hipotiroidisme
4) Saraf
- Stroke
- Ensepalitis
5) Obat – obatan
- Kontrasepsi oral
- Kortikosteroid
5. Komplikasi
Tekanan darah tinggi bila tidak segera diobati atau ditanggulangi, dalam jangka panjang
akan menyebabkan kerusakan ateri didalam tubuh sampai organ yang mendapat suplai
darah dari arteri tersebut.
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita hipertensi yaitu: (Aspiani, 2014)
a) Stroke terjadi akibat hemoragi disebabkan oleh tekanan darah tinggi di otak dan
akibat emboli yang terlepas dari pembuluh selain otak yang terpajan tekanan darah
tinggi.
b) Infark miokard dapat terjadi bila arteri koroner yang arterosklerotik tidak dapat
menyuplai cukup oksigen ke miokardium dan apabila membentuk 12 trombus yang
bisa memperlambat aliran darah melewati pembuluh darah.
c) Hipertensi kronis dan hipertrofi ventrikel, kebutuhan oksigen miokardium tidak dapat
dipenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Sedangkan
hipertrofi ventrikel dapat menyebabkan perubahan waktu hantaran listrik melintasi
ventrikel terjadilah disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan resiko pembentukan
bekuan.
d) Gagal jantung dapat disebabkan oleh peningkatan darah tinggi. Penderita hipertensi,
beban kerja jantung akan meningkat, otot jantung akan mengendor dan berkurang
elastisitasnya, disebut dekompensasi. Akibatnya jantung tidak mampu lagi
memompa, banyak cairan tertahan diparu yang dapat menyebabkan sesak nafas
(eudema) kondisi ini disebut gagal jantung.
e) Ginjal, tekanan darah tinggi bisa menyebabkan kerusakan ginjal. Merusak sistem
penyaringan dalam ginjal akibat ginjal tidak dapat membuat zat-zat yang tidak
dibutuhkan tubuh yang masuk melalui aliran darah dan terjadi penumpukan dalam
tubuh.
6. Pemeriksaan Diagnostik
Penegakan diagnosis hipertensi didasarkan oleh anamnesis serta pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk mencari penyebab sekunder hipertensi
serta memastikan ada tidaknya komplikasi.
a) Anamnesis
Anamnesis menyeluruh diperlukan untuk penegakan diagnosis, penilaian progresi
penyakit serta risiko komplikasi penyakit kardiovaskular dan pemilihan terapi
antihipertensi. Anamnesis sebaiknya meliputi hal berikut.
b) Gejala
Sebagian besar pasien tidak bergejala. Jika bergela, gejala yang sering dikeluhkan pasien
berupa nyeri kepala. Gejala yang dialami terkait komplikasi seperti fatigue, sesak nafas
saat beraktifitas, kaki bengkak, kelemahan tubuh satu sisi, dan penglihatan buram.
c) Riwayat Kejadian Kardiovaskular
Tanyakan kepada pasien apakah sebelumnya sudah didiagnosis hipertensi. Selain itu
tanyakan riwayat penyakit kardiovaskular sebelumnya yakni sindrom koroner akut, gagal
jantung, penyakit ginjal kronis, penyakit arteri perifer, sleep apneu, stroke, transient
ischemic attack, demensia.
d) Faktor Risiko
Faktor risiko perlu ditanyakan untuk menilai risiko komplikasi penyakit kardiovaskular
serta perencanaan terapi. Hal yang perlu ditanya yakni komorbid terkait risiko penyakit
kardiovaskular seperti diabetes, hiperkolesterol, gaya hidup (inaktivitas fisik, kebiasaan
merokok dan konsumsi alkohol)
e) Riwayat Konsumsi Obat
Hal ini perlu ditanyakan untuk penyesuaian jenis dan dosis antihipertensi pada pasien
yang sudah sering berobat untuk masalah hipertensi. Selain itu untuk penilaian ada
tidaknya konsumsi obat yang memiliki efek memicu kenaikan tekanan darah.
f) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik utama yakni pengukuran tekanan darah. Pemeriksaan fisik secara
lengkap juga perlu dilakukan untuk menilai ada tidaknya komorbid serta komplikasi.
7. Manifestasi Klinis Hipertensi
Menurut Tambayong (dalam Nurarif A.H., & Kusuma H., 2016), tanda dan gejala
pada hipertensi dibedakan menjadi :
1. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan
darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti
hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan darah tidak teratur.
2. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala
dan kelelahan. Dalam kenyataanya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai
kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. Beberapa pasien yang menderita
hipertensi yaitu :
a. Mengeluh sakit kepala, pusing
b. Lemas, kelelahan
c. Sesak nafas
d. Gelisah
e. Mual
f. Muntah
g. Epistaksis
h. Kesadaran menurun
8. Penatalaksanaan
Menurut Nurhidayat (2015) penanggulangan hipertensi secara garis besar dibagi
menjadi dua jenis yaitu:
a. Penatalaksanaan Non Farmakologis
1. Diet Pembatasan atau pewarnaan garam
Penurunan berat badan dapat menurunkan tekanan darah dengan penurunan aktivitas
rennin dalam plasma dan kadar aldosteron dalam plasma.
2. Aktivitas yang memantau untuk menghitung dalam kegiatan dan batasan medis dan
sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging, bersepeda atau berenang.
3. mengurangi asupan garam
mengurangi asupan garam yang dapat dilakukan dengan cara melakukan diet rendah
garam atau dengan cara mengurangi konsumsi garam sampai dengan 2300 mg atau
sama dengan satu sendok teh setiap harinya.
4. Batası konsumsi alkohol
Dalam konsumsi alkohol lebih dari 2 gelas per hari dapat meningkatkan tekanan
darah, sehingga dengan larangan atau larangan alkohol dapat membantu dalam
penurunan tekanan darah.
5. Menghindari merokok
Merokok juga dapat meningkatkan risiko komplikasi pada hipertensi seperti jantung
dan stroke. Di dalam kandungan utama rokok ierdapat tembakau, lalu di
dalamtembakau terdapat nikotin yang dapat membuat jantung bekerja lebih keras
karena dapat mempersempit pembuluh darah dan meningkatkan frekuensi denyut
jantung serta tekanan darah.
6. Penurunan stres
Menghindari stres pada penderita hipertensi dapat dilakukan dengan cara relaksasi
seperti relaksasi otot, yoga atau meditasi yang dapat mengontrol sistem saraf sehingga
dapat menurunkan tekanan darah yang tinggi.
b. Penatalaksanaan Farmakologi
Penatalaksanaan farmakologi menurut Saferi & Meriza (2013) yang menggunakan obat-
obatan, yaitu:
1. Diuretik (Hidroklorotiazid)
Diuretik ini dapat bekerja dengan cara mengeluarkan cairan berlebih dalam tubuh
sehingga daya pompa jantung menjadi lebih ringan.
2. Penghambat simpatetik (Metildopa, Klonidin dan Reserpin)
Obat-obatan jenis penghambat simpatetik ini berfungsi untuk menghambat aktivitas
saraf simpatis.
3. Betabloker (Metaprolol, Propanolol dan Atenolol)
Fungsi dari obat jenis betabloker ini adalah untuk menurunkan daya pompa jantung,
dengan kontraindikasi pada penderita yang mengalami gangguan pernafasan seperti
asma bronkial
4. Vasodilator (Prasonin dan Hidralasin)
Jenis vasodilator dapat bekerja secara pembuluh darah dengan relaksasi otot
pembuluh darah
5. Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor (Captopril)
fungsi utama dari obat jenis ini adalah untuk menghambat pesanan zat angiotensin II
dengan efek samping hipertensi akan mengalami batuk kering, pusing pusing. , sakit
kepala dan lemas
6. Penghambat Reseptor Angiotensin II (Valsartan)
Daya pompa jantung akan lebih ringan jika obat-obatan jenis penghambat reseptor
angiotensin II diberikan karena akan menghalangi penempelan zat angiotensin II pada
reseptor
7. Angiotensin kalsium (Diltiasem dan Verapamil) Kontraksi jantung (kontraktilitas)
akan terhambat