0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
231 tayangan26 halaman

Laporan Hipertensi di RSDH Cianjur 2024

Laporan ini membahas tentang pasien bernama TN. F yang dirawat dengan diagnosis hipertensi. Dokumen ini menjelaskan pengertian, klasifikasi, patofisiologi dan etiologi hipertensi.

Diunggah oleh

ayun28006
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
231 tayangan26 halaman

Laporan Hipertensi di RSDH Cianjur 2024

Laporan ini membahas tentang pasien bernama TN. F yang dirawat dengan diagnosis hipertensi. Dokumen ini menjelaskan pengertian, klasifikasi, patofisiologi dan etiologi hipertensi.

Diunggah oleh

ayun28006
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA TN. F DENGAN DIAGNOSA HIPERTENSI DI

RUANG EMERALD DI RSDH CIANJUR 2024

Tugas ini disusun sebagai salah satu bentuk penugasan dalam Praktik Klinik Keperawatan Dasar
Profesi (KDP)

Dengan dosen pembimbing : Ns. Solehudin, S. Kep, M. Kes, M. Kep

Nama : Gingin Tigin Nurgina

NIM : 18230500008

PROGRAM STUDY PROFESI NERS

UNIVERSITAS INDONESIA MAJU

Jl. Harapan No.50,RT.2/RW.7,Lenteng Agung, Kec. Jagakarsa,

Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 2610

2024
A. Konsep Penyakit Hipertensi

1. Pengertian Hipertensi

Hipertensi merupakan suatu kelompok penyakit tidak menular dimana terjadi


peningkatan tekanan darah sistolik diatas 130 mmHg dan tekanan darah diastolik
dibawah 90 mmHg. Hipertensi biasanya terjadi tanpa gejala yang jelas. Hal ini pada
akhirnya dapat menyebabkan kondisi lain mulai dari aritmia hingga serangan jantung
dan stroke. (AHA, 2020).

Hipertensi adalah suatu keadaan ketika seseorang mengalami peningkatan tekanan


darah diatas normal atau peningkatan abnormal secara terus menerus lebih dari suatu
periode, dengan tekanan sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas
90mmHg. (Aspiani, 2019).

2. Klasifikasi Hipertensi

Menurut (WHO, 2018) batas normal tekanan darah adalah tekanan darah sistolik
kurang dari 120 mmHg dan tekanan darah diastolik kurang dari 80 mmHg. Seseorang
yang dikatakan hipertensi bila tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan
diastolik lebih dari 90 mmHg.

Kategori Tekanan darah Sistolik Tekanan darah Diastolik

Normal < 120 mmHg < 80 mmHg

Prehipertensi 120 – 129 mmHg < 80 mmHg

Hipertensi stage I 130-139 mmHg 80-89 mmHg

Hipertensi stage II ≥ 140 mmHg ≥ 90 mmHg

Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya yaitu hipertensi primer dan hipertensi


sekunder (Aspiani, 2017). Hipertensi primer adalah peningkatan tekanan darah yang
tidak diketahui penyebabnya. Dari 90% kasus hipertensi merupakan hipertensi primer.
Beberapa faktor yang diduga berkaitan dengan berkembangnya hipertensi primer
adalah genetik, jenis kelamin, usia, diet, berat badan, gaya hidup. Hipertensi sekunder
adalah peningkatan tekanan darah karena suatu kondisi fisik yang ada sebelumnya
seperti penyakit ginjal atau gangguan tiroid. Dari 10% kasus hipertensi merupakan
hipertensi sekunder. Faktor pencetus munculnya hipertensi sekunder antara lain:
penggunaan kontrasepsi oral, kehamilan, peningkatan volume intravaskular, luka
bakar dan stres (Aspiani, 2017).

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dapat dikelompokkan menjadi dua


golongan yaitu (WHO, 2018) :

1. Hipertensi Esensial atau Hipertensi Primer


Sebanyak 90-95 persen kasus hipertensi yang terjadi tidak diketahui dengan pasti
apa penyebabnya. Para pakar menemukan hubungan antara riwayat keluarga
penderita hipertensi (genetik) dengan resiko menderita penyakit ini. Selain itu
juga para pakar menunjukan stres sebagai tertuduh utama, dan faktor lain yang
mempengaruhinya. Faktor-faktor lain yang dapat dimasukkan dalam penyebab
hipertensi jenis ini adalah lingkungan, kelainan metabolisme, intra seluler, dan
faktor-faktor yang meningkatkan resikonya seperti obesitas, merokok, konsumsi
alkohol, dan kelainan darah.
2. Hipertensi Renal atau Hipertensi Sekunder
Pada 5-10 persen kasus sisanya, penyebab khususnya sudah diketahui, yaitu
gangguan hormonal, penyakit diabetes, jantung, ginjal, penyakit pembuluh darah
atau berhubungan dengan kehamilan. Kasus yang sering terjadi adalah karena
tumor kelenjar adrenal. Garam dapur akan memperburuk resiko hipertensi tetapi
bukan faktor penyebab.
3. Hipertensi Maligna
Hipertensi maligna merupakan peningkatan tekanan darah yang cepat dan berat
biasanya sampai >240/120 mmHg dengan disertai kerusakan organ (flea-bitten
kidney/ginjal seperti dimakan kutu).Keadaan ini yang paling sering terlihat pada
populasi pria ras Afrika-Amerika yang berusia muda. Secara klinis hipertensi
maligna ditandai oleh hipertrofi ventrikel kiri, papil edema dan perdarahan retina
disamping keluhan nyeri dada, dispnea, angina ataupun sakit kepala. Kerusakan
end-organ dapat bermanifestasi sebagai edema pulmonal, azotemia, perdarahan
retina, ensefalopati, kejang dan koma.
3. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak
di pusat vasomotor medula di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf
simpatis, yang berlanjut kebawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna
medula spinalis ke ganglia simpatis toraks dan abdomen. Rangsangan pusat
vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak kebawah melalui
sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron pre-ganglion
melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke
pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin yang akan
mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor, seperti kecemasan
dan ketakutan dapat mempengaruhi respons pembuluh darah terhadap rangsang
vasokonstriktor (Brunner & Suddarth, 2016).
Pada saat bersamaan ketika sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah
sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan
tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medula adrenal menyekresi epinefrin, yang
menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal menyekresi kortisol dan steroid
lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh
darah.Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal,
menyebabkan pelepasan renin (Brunner & Suddarth, 2016).
Renin yang dilepaskan merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian
diubah menjadi angiotensin II, vasokonstriktor kuat, yang pada akhirnya
merangsang sekresi aldosterone oleh korteks adrenal. Hormone ini menyebabkan
retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume
intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetuskan hipertensi (Brunner
& Suddarth, 2016).
PATHWAY HIPERTENSI
Sumber: hisan, IDOPUB, 2019

Faktor predisposisi

Merangsang pusat vasomotor

Merangsang neuron pre-ganglion untuk melepaskkan


asetilkolin

Merangsang serabut pasca ganglion ke pembuluh darah untuk melepaskan


norepinefrin

Kortisol dan steroid lainnya Kelenjar medula adrenal juga


disekresi oleh kelenjar korteks terangsang untuk menyekresi
adrenal epinefrin

Memperkuat Vasokonstriksi pembuluh


darah

Penurunan aliran darah ke ginjal

Pelepasan renin

Merangsang pembentukan angiotensin Imenjadi angiotensin II

Merangsang sekresi aldosteron

Retensi natrium dan air di tubulus

Peningkatan volume intravaskular


Hipertensi

Peningkatan retensi terhadap pemompaan darah ventrikel

Peningkatan beban kerja jantung

Hipertrofi ventrikel kiri

Gangguan Sirkulasi

Ginja Pembuluh darah Retina


Otak l
Sistemik Koroner
Spasme
Vasokonstriksi Arteriole
Obstruksi/ruptur
pembuluh darah Iskemi
pembuluh darah vasokonstriksi
ginjal Miocard
otak Diplopia
Afterload Nyeri akut
Blood meningkat
Stroke Flow Resti injuri
Hemoragik

Penurunan Fatigue
Respon RAA Curah jantung
Nyeri
Intoleransi
akut
Rangsang aldosteron aktivitas

Retensi Na KELEBIHAN
VOLUME CAIRAN
4. Etiologi
Berdasarkan buku Brunner & Suddarth (2016) Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat
dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu :
a. Hipertensi Primer
Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data
penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya
hipertensi. Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik.
Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan
perifer. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:
- Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atautransport Na.
- Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkantekanan
darah meningkat.
- Stress Lingkungan.

- Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterisklerosis pada orang tua sertapelabaran


pembuluh darah.

Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan –
perubahan pada :

- Elastisitas dinding aorta menurun


- Katub jantung menebal dan menjadi kaku
- Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur
20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan
menurunnya kontraksi dan volumenya.
- Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena kurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi.
- Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer

Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data


penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya
hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1) Faktor keturunan Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah
penderita hipertensi.
2) Ciri perseorangan,
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah:
- Umur (jika umur bertambah maka TD meningkat )
- Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )
- Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )
3) Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah :
- Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr )
- Kegemukan atau makan berlebihan
- Stress
- Merokok
- Minum alkohol
- Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin)
b. Hipertensi Sekunder
Penyebab hipertensi sekunder adalah :
1) Ginjal
- Glomerulonefritis
- Pielonefritis
- Nekrosis tubular akut
- Tumor
2) Vascular
- Aterosklerosis
- Hiperplasia
- Trombosis
- Aneurisma
- Emboli kolestrol
- Vaskulitis
3) Kelainan endokrin
- DM
- Hipertiroidisme
- Hipotiroidisme
4) Saraf
- Stroke
- Ensepalitis
5) Obat – obatan
- Kontrasepsi oral
- Kortikosteroid
5. Komplikasi
Tekanan darah tinggi bila tidak segera diobati atau ditanggulangi, dalam jangka panjang
akan menyebabkan kerusakan ateri didalam tubuh sampai organ yang mendapat suplai
darah dari arteri tersebut.
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita hipertensi yaitu: (Aspiani, 2018)
a) Stroke terjadi akibat hemoragi disebabkan oleh tekanan darah tinggi di otak dan akibat
emboli yang terlepas dari pembuluh selain otak yang terpajan tekanan darah tinggi.
b) Infark miokard dapat terjadi bila arteri koroner yang arterosklerotik tidak dapat
menyuplai cukup oksigen ke miokardium dan apabila membentuk 12 trombus yang
bisa memperlambat aliran darah melewati pembuluh darah.
c) Hipertensi kronis dan hipertrofi ventrikel, kebutuhan oksigen miokardium tidak dapat
dipenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Sedangkan
hipertrofi ventrikel dapat menyebabkan perubahan waktu hantaran listrik melintasi
ventrikel terjadilah disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan resiko pembentukan
bekuan.
d) Gagal jantung dapat disebabkan oleh peningkatan darah tinggi. Penderita hipertensi,
beban kerja jantung akan meningkat, otot jantung akan mengendor dan berkurang
elastisitasnya, disebut dekompensasi. Akibatnya jantung tidak mampu lagi memompa,
banyak cairan tertahan diparu yang dapat menyebabkan sesak nafas (eudema) kondisi
ini disebut gagal jantung.
e) Ginjal, tekanan darah tinggi bisa menyebabkan kerusakan ginjal. Merusak sistem
penyaringan dalam ginjal akibat ginjal tidak dapat membuat zat-zat yang tidak
dibutuhkan tubuh yang masuk melalui aliran darah dan terjadi penumpukan dalam
tubuh.
6. Pemeriksaan Diagnostik

Penegakan diagnosis hipertensi didasarkan oleh anamnesis serta pemeriksaan fisik.


Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk mencari penyebab sekunder hipertensi serta
memastikan ada tidaknya komplikasi.

a) Anamnesis
Anamnesis menyeluruh diperlukan untuk penegakan diagnosis, penilaian progresi
penyakit serta risiko komplikasi penyakit kardiovaskular dan pemilihan terapi
antihipertensi. Anamnesis sebaiknya meliputi hal berikut.
b) Gejala
Sebagian besar pasien tidak bergejala. Jika bergela, gejala yang sering dikeluhkan
pasien berupa nyeri kepala. Gejala yang dialami terkait komplikasi seperti fatigue,
sesak nafas saat beraktifitas, kaki bengkak, kelemahan tubuh satu sisi, dan penglihatan
buram.
c) Riwayat Kejadian Kardiovaskular
Tanyakan kepada pasien apakah sebelumnya sudah didiagnosis hipertensi. Selain itu
tanyakan riwayat penyakit kardiovaskular sebelumnya yakni sindrom koroner akut,
gagal jantung, penyakit ginjal kronis, penyakit arteri perifer, sleep apneu, stroke,
transient ischemic attack, demensia.
d) Faktor Risiko
Faktor risiko perlu ditanyakan untuk menilai risiko komplikasi penyakit
kardiovaskular serta perencanaan terapi. Hal yang perlu ditanya yakni komorbid
terkait risiko penyakit kardiovaskular seperti diabetes, hiperkolesterol, gaya hidup
(inaktivitas fisik, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol)
e) Riwayat Konsumsi Obat
Hal ini perlu ditanyakan untuk penyesuaian jenis dan dosis antihipertensi pada pasien
yang sudah sering berobat untuk masalah hipertensi. Selain itu untuk penilaian ada
tidaknya konsumsi obat yang memiliki efek memicu kenaikan tekanan darah.
f) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik utama yakni pengukuran tekanan darah. Pemeriksaan fisik secara
lengkap juga perlu dilakukan untuk menilai ada tidaknya komorbid serta komplikasi.
7. Manifestasi Klinis Hipertensi
Menurut Tambayong (dalam Nurarif A.H., & Kusuma H., 2016), tanda dan gejala
pada hipertensi dibedakan menjadi :
1. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan
darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti
hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan darah tidak teratur.
2. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri
kepala dan kelelahan. Dalam kenyataanya ini merupakan gejala terlazim yang
mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. Beberapa pasien
yang menderita hipertensi yaitu :
a. Mengeluh sakit kepala, pusing
b. Lemas, kelelahan
c. Sesak nafas
d. Gelisah
e. Mual
f. Muntah
g. Epistaksis
h. Kesadaran menurun
8. Penatalaksanaan

Menurut Nurhidayat (2017) penanggulangan hipertensi secara garis besar dibagi


menjadi dua jenis yaitu:

a. Penatalaksanaan Non Farmakologis


1. Diet Pembatasan atau pewarnaan garam
Penurunan berat badan dapat menurunkan tekanan darah dengan penurunan
aktivitas rennin dalam plasma dan kadar aldosteron dalam plasma.
2. Aktivitas yang memantau untuk menghitung dalam kegiatan dan batasan medis
dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging, bersepeda atau
berenang.
3. mengurangi asupan garam
mengurangi asupan garam yang dapat dilakukan dengan cara melakukan diet
rendah garam atau dengan cara mengurangi konsumsi garam sampai dengan
2300 mg atau sama dengan satu sendok teh setiap harinya.
4. Batası konsumsi alkohol
Dalam konsumsi alkohol lebih dari 2 gelas per hari dapat meningkatkan tekanan
darah, sehingga dengan larangan atau larangan alkohol dapat membantu dalam
penurunan tekanan darah.
5. Menghindari merokok
Merokok juga dapat meningkatkan risiko komplikasi pada hipertensi seperti
jantung dan stroke. Di dalam kandungan utama rokok ierdapat tembakau, lalu di
dalamtembakau terdapat nikotin yang dapat membuat jantung bekerja lebih
keras karena dapat mempersempit pembuluh darah dan meningkatkan frekuensi
denyut jantung serta tekanan darah.
6. Penurunan stres
Menghindari stres pada penderita hipertensi dapat dilakukan dengan cara
relaksasi seperti relaksasi otot, yoga atau meditasi yang dapat mengontrol sistem
saraf sehingga dapat menurunkan tekanan darah yang tinggi.
b. Penatalaksanaan Farmakologi
Penatalaksanaan farmakologi menurut Saferi & Meriza (2018) yang menggunakan
obat-obatan, yaitu:
1. Diuretik (Hidroklorotiazid)
Diuretik ini dapat bekerja dengan cara mengeluarkan cairan berlebih dalam
tubuh sehingga daya pompa jantung menjadi lebih ringan.
2. Penghambat simpatetik (Metildopa, Klonidin dan Reserpin)
Obat-obatan jenis penghambat simpatetik ini berfungsi untuk menghambat
aktivitas saraf simpatis.
3. Betabloker (Metaprolol, Propanolol dan Atenolol)
Fungsi dari obat jenis betabloker ini adalah untuk menurunkan daya pompa
jantung, dengan kontraindikasi pada penderita yang mengalami gangguan
pernafasan seperti asma bronkial
4. Vasodilator (Prasonin dan Hidralasin)
Jenis vasodilator dapat bekerja secara pembuluh darah dengan relaksasi otot
pembuluh darah
5. Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor (Captopril)
fungsi utama dari obat jenis ini adalah untuk menghambat pesanan zat
angiotensin II dengan efek samping hipertensi akan mengalami batuk kering,
pusing pusing. , sakit kepala dan lemas
6. Penghambat Reseptor Angiotensin II (Valsartan)
Daya pompa jantung akan lebih ringan jika obat-obatan jenis penghambat
reseptor angiotensin II diberikan karena akan menghalangi penempelan zat
angiotensin II pada reseptor
7. Angiotensin kalsium (Diltiasem dan Verapamil) Kontraksi jantung
(kontraktilitas) akan terhambat
A. Konsep Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
Pengkajian keperawatan adalah pengumpulan, validasi, organisasi yang
sistematis dan berkesinambungan untuk informasi pendokumentasian data (Kozier dan
Erb’s, 2016). Menurut Doenges (2017) pengkajian keperawatan yang di lakukan
adalah :
a. Aktivitas/istirahat
Gejala : mengalami kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup.
Tanda : mengalami perubahan irama jantung, frekuensi jantung meningkat,
takipnea.
b. Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi, penyakit jantung coroner dan penyakit stroke,
palpitasi.
Tanda : Kenaikan tekanan darah, denyut nadi terasa kuat, takikardia, murmur
stenosis valvular, distensi vena jugularis, kulit pucat, sianosis, CRT >3detik.
c. Integritas ego
Gejala : perubahan suasana hati, gelisah, tangisan meledak, tegang, pernafasan
menghela, peningkatan pola bicara.
Tanda : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, stress.
d. Eliminasi
Gejala : mengalami gangguan atau riwayat penyakit ginjal.
Tanda : perubahan jumlah dan frekuensi buang air kecil dan besar.
e. Makanan atau cairan
Gejala : menyukai makanan yang mengandung tinggi garam, lemak serta
kolesterol, mual dan muntah, perubahan berat badan, serta riwayat penggunaan
obat.
Tanda : obesitas, berat badan normal, edema, glikosuria.
f. Neurosensori
Gejala : mengeluh pusing, sakit kepala, dan gangguan penglihatan.
Tanda : mengalami perubahan (status mental, orientasi, pola bicara, berfikir),
penurunan kekuatan genggaman tangan.
g. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : penyakit jantung koroner, angina, pusing.
h. Pernafasan
Gejala : dispnea, takipnea, batuk dengan/tanpa adanya sputum, riwayat merokok.
Tanda : stressi pernafasan, menggunakan otot bantu nafas, bunyi nafas tambahan
(krakles/mengi), sianosis.
i. Keamanan
Gejala : mengalami gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural.
b. Diagnosis Keperawatan
1) Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan
afterload, vasokontriksi, hipertrofi/rigiditas ventrikuler, iskemia miokard
2) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan suplai
dan kebutuhan oksigen
3) Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
4) Resiko cedera berhubungan dengan defisit lapang pandang, motorik atau persepsi
5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses
penyakit
c. Intervensi Keperawatan

NO Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Tindakan Keperawatan


1 Resiko tinggi terhadap penurunan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Perawatan Jantung
curah jantung b.d peningkatan selama …x/24 jam diharapkan keadekuatan Tindakan
afterload, vasokontriksi, jantung memompa darah untuk memenuhi Observasi
hipertrofi/rigiditas ventrikuler, kebutuhan metabolism tubuh meningkat. ● Identifikasi tanda/gejala primer
iskemia miokard Kriteria hasil : penurunan curah jantung (meliputi
● Kekuatan nadi perifer : Meningkat dyspnea, kelelahan, edema,
(5) orthopnea, paroxysmal nocturnal
● Left ventricular stroke work index dyspnea, peningkatan CVP)
(LVSWI) : Meningkat (5) ● Identifikasi tanda/gejala sekunder
● Stroke volume index (SVI) : penurunan curah jantung (meliputi
Meningkat (5) peningkatan berat badan,
● Palpitasi : Meningkat (1) hepatomegaly, distensi vena
● Bradikardia : Meningkat (1) jugularis, palpitasi, ronkhi basah,
● Takikardia : Meningkat (1) oliguria, batuk, kulit pucat)
● Lelah : Meningkat (1) ● Monitor tekanan darah ( termasuk
● Tekanan darah : Membaik (5) tekanan darah ortostastik, jika
● Pengisian kapiler : Membaik (5) perlu)
● Monitor intake dan output cairan
● Central Venous Pressure (CVP) ● Monitor saturasi oksigen
:Membaik (5) ● Monitor keluhan nyeri dada (mis.
intensitas, lokasi, radiasi, durasi,
presivitasi yang mengurangi nyeri)
● Monitor EKG 12 sandapan
● Monitor aritmia (kelainan irama
dan frekuensi)
● Monitor nilai laboratorium jantung
(,mis. elektrolit, enzim jantung,
BNP, NTpro-BNP)
● Periksa tekanan darah dan
frekuensi nadi sebelum dan sesudah
aktivitas

Terapeutik
● Posisikan pasien semi fowler atau
fowler dengan kaki kebawah atau
posisi nyaman
● Berikan diet jantung yang sesuai
(mis. batasi asupan kafein, natrium,
kolesterol, dan makanan tinggi
lemak)
● Fasilitasi pasien dan keluarga untuk
modifikasi gaya hidup sehat
● Berikan terapi relakasasi untul
mengurangi stress, jika perlu.
● Berikan dukungan emosional dan
spiritual

Edukasi
● Anjurkan beraktivitas fisik sesuai
toleransi
● Anjurkan beraktivitas fisik secara
bertahap
● Anjurkan berhenti merokok
● Ajarkan pasien dan keluarga
mengukur intake dan output cairan
harian
Kolaborasi
● Kolaborasi pemberian obat
hipertensi, jika perlu
2 Intoleransi aktivitas b.d kelemahan, Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Energi
ketidakseimbangan suplai dan selama …x/24 jam diharapkan respon Observasi
kebutuhan oksigen fisiologis terhadap aktivitas yang ● Identifikasi gangguan fungsi tubuh
membutuhkan tenaga Meningkat. yang mengakibatkan kelelahan
Kriteria Hasil : ● Monitor kelelahan fisik dan
● Kemudahan melakukan aktivitas emosional
sehari – hari : Meningkat (5) ● Monitor pola dan jam tidur
● Kecepatan berjalan : Meningkat (5) ● Monitor lokasi dan
● Keluhan lelah : Menurun (5) ketidaknyamanan selama
● Dispnea saat aktivitas : Menurun (5) melakukan aktivitas
● Dispena setelah aktivitas : Menurun Terapeutik
(5) ● Sediakan lingkungan nyaman dan
● Frekuensi nadi : Membaik (5) rendah stimulus (mis. cahaya,
● Tekanan darah : Membaik (5) suara, kunjungan)
● Saturasi oksigen : Membaik (5) ● Lakukan latihan rentang gerak
● Frekuensi napas : Membaik (5) pasif dan/atau aktif
● Berikan aktivitas distraksi yang
menenangkan
● Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur,
jika tidak dapat berpindah atau
berjalan
Edukasi
● Anjurkan tirah baring
● Anjurkan melakukan aktivitas
secara bertahap
● Ajarkan strategi koping untuk
mengurangi kelelahan
Kolaborasi
● Kolaborasi dengan ahli gizi tentang
cara meningkatkan asupan
makanan.
3 Nyeri akut b.d peningkatan tekanan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Nyeri
vaskuler serebral selama …x/24 jam diharapkan tingkatan Observasi
nyeri klien Menurun. ● Identifikasi lokasi, karakteristik,
Kriteria Hasil : durasi, frekuensi, kualitas,
● Keluhan nyeri : Menurun (5) intensitas nyeri.
● Meringis : Menurun (5) ● Identifikasi skala nyeri
● Sikap protektif : Menurun (5) ● Identifikasi respon nyeri non verbal
● Gelisah : Menurun (5) ● Identifikasi faktor yang
● Kesulitan tidur : Menurun (5) memperberat dan memperingan
● Frekuensi nadi : Membaik (5) nyeri
● Pola napas : Membaik (5) ● Identifikasi pengetahuan dan
● Tekanan darah : Membaik (5) keyakinan tentang nyeri
● Proses berpikir : Membaik (5)
● Nafsu makan : Membaik (5) ● Identifikasi pengaruh dan budaya
● Pola tidur : Membaik (5) terhadap respon nyeri
● Identifikasi respon nyeri pada
kualitas hidup
● Monitor keberhasilan terapi
komplementer yang sudah
diberikan
● Monitor efek samping penggunaan
analgetik

Teraputik
● Berikan teknik non farmakologis
untuk mengurangi rasa nyeri (mis.
TENS, hypnosis, akupresur, terapi
music, biofeedback, terapi pijat,
aromaterapi, teknik imajinasi
terbimbing, kompres hangat/dingin,
terapi bermain)
● Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis. suhu
ruangan, pencahayaan, kebisingan)
● Fasilitasi istirahat dan tidur
● Pertimbangkan jenis dan sumber
nyeri dalam pemilihan strategi
meredakan nyeri
Edukasi
● Jelaskan penyebab, periode, dan
pemicu nyeri
● Jelaskan strategi meredakan nyeri
● Anjurkan memonitor nyeri secara
mandiri
● Anjurkan menggunakan analgetik
secara tepat
● Ajarkan teknik nonfarmakologis
untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
● Kolaborasi pemberian analgetik,
jika perlu
4 Resiko cedera b.d defisit lapang Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Keselamatan Lingkungan
pandang, motorik atau persepsi selama …x/24 jam diharapkan risiko cedera Observasi
klien Menurun ● Identifikasi kebutuhan keselamatan
Kriteria Hasil : (mis. kondisi fisik, fungsi kognitif,
● Kejadian cedera : Menurun (5) dan riwayat perilaku)
● Luka/lecet : Menurun (5)
● Ekspresi wajah kesakitan : Menurun ● Monitor perubahan status
(5) keselamatan lingkungan
● Agitasi : Menurun (5) Terapeutik
● Iritabilitas : Menurun (5) ● Hilangkan bahaya keselamatan
● Gangguan mobilitas : Menurun (5) lingkungan (mis. fisik, biologi,
● Tekanan darah : Membaik (5) kimia), jika memungkinkan
● Frekuensi nadi : Membaik (5) ● Modifikasi lingkungan untuk
● Frekuensi napas : Membaik (5) meminimalkan bahaya dan risiko
● Pola istirahat/tidur : Membaik (5) Edukasi
● Nafsu makan : Membaik (5) ● Ajarkan individu, keluarga, dan
kelompok risiko tinggi bahaya
lingkungan
5 Kurang pengetahuan b.d kurangnya Setelah dilakukan tindakan keperawatan Edukasi Kesehatan
informasi tentang proses penyakit selama …x/24 jam diharapkan tingkat Observasi
pengetahuan klien Meningkat ● Identifikasi kesiapan dan
kemampuan menerima informasi
Kriteria Hasil : ● Identifikasi faktor-faktor yang
● Perilaku sesuai anjuran : Meningkat dapat meningkatkan dan
(5) menurunkan motivasi perilaku
● Verbalisasi minat dalam belajar : hidup bersih dan sehat
Meningkat (5) Terapeutik
● Kemampuan menjelaskan ● Sediakan materi dan media
pengetahuan tentang suatu topik : pendidikan kesehatan
Meningkat (5) ● Jadwalkan pendidikan kesehatan
● Perilaku sesuai dengan pengetahuan: sesuai kesepakatan
Meningkat (5) ● Berikan kesempatan untuk bertanya
● Pertanyaan tentang masalah yang Edukasi
dihadapi : Menurun (5) ● Jelaskan faktor risiko yang dapat
● Persepsi yang keliru terhadap mempengaruhi kesehatan
masalah : Menurun (5) ● Ajarkan perilaku hidup bersih dan
sehat
● Ajarkan strategi yang dapat
digunakan untuk meningkatkan
perilaku hidup bersih dan sehat
d. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah realisasi tindakan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan dalam pelaksanaan juga meliputi
pengumpulan data berkelanjutan, mengobservasi respon klien selama dan
sesudah pelaksaan tindakan, serta menilai ata yang baru.
e. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan aspek penting dari proses
keperawatan untuk mengambil kesimpulan apakah perencanaan harus
dihentikan, dirubah, atau dilanjutkan (Kozier dan Erb’s, 2018). Tahap evaluasi
merupakan penilaian keberhasilan dalam penggunaan proses keperawatan.
Evaluasi dibagi menjadi dua, yaitu : Tinjauan laporan klien harus mencakup
riwayat perawatan, riwayat pemeriksaan Kesehatan dan semua laporan
observasi, pengkajian Kembali terhadap klien berdasarkan tujuan kriteria yang
dapat diukur seperti mengukur tekanan darah, suhu, dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA

Aspiani. (2017). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Kardiovaskuler.


Jakarta: EGC.

Brunner, & Suddarth. (2016). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC

Doenges, EM., Mary, FM., Alice, CG. (2012) Rencana Asuhan Keperawatan
Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Jakarta :
EGC
Kozier & Erb’s. (2016) Fundamental of Nursing : Concept, Process, Practice,
Elsevier
Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2018). APLIKASI Asuhan Keperawatan
Berdasarkan. Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: Media Action.

Nurhidayat, Saiful. (2019). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hipertensi Dengan


Pendekatan Riset. Ponorogo. UNMUH Ponorogo

PPNI.2016.Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator


Diagnostik,Edisi 1.Jakarta:DPP PPNI

PPNI.2016.Standar Intervensi Keperawatan Indonesia:Definisi dan Tindakan


Keperawatan,Edisi 1.Jakarta:DPP PPNI

PPNI.2019.Standar Luaran Keperawatan Indionesia: Definisi dan Kriteria Hasil


Keperawatan, Edisi I.Jakarta: DPP PPNI

Wijaya, Andra Saferi & Yessie Mariza Putri. (2017). Keperawatan Medikal Bedah.
Yogyakarta: Nuha Medik

Anda mungkin juga menyukai