Anda di halaman 1dari 2

Pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir Jogjakarta, Sleman, Bantul (Kartamantul) TPA Regional Kartamantul (Jogyakarta, Sleman, Bantul), Sebuah

Pilihan

Yogyakarta sebagai salah satu kota yang mengalami proses urbanisasi cukup pesat mengalami pemekaran fisik kota yang cukup berarti. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan konversi penggunaan lahan sebesar 2.025,78 Ha atau rata-rata berkisar 225 Ha per tahun. Selain itu, terjadi peningkatan jumlah penduduk dari tahun ke tahun yang tentunya akan menambah kepadatan penduduk sehingga akan terjadi perkembangan permukiman sampai ke luar kota. Kawasan yang berdekatan dengan Yogya, yakni Kabupaten Bantul dan Sleman secara perlahan berubah haluan dari desa ke kota. Hal ini ditunjukkan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir lahan pertanian di Sleman mengalami alih fungsi dari lahan pertanian ke lahan non pertanian sebanyak 253 Ha, sedangkan di Bantul sebanyak 85,75 Ha. Aglomerasi perkotaan tersebut memunculkan beragam persoalan diantaranya adalah persoalan dalam penyediaan pelayanan public, dalam hal ini penyediaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dalam operasionalnya, pembangunan TPA ini memerlukan biaya yang tidak sedikit dan kriteria khusus seperti lahan, jarak dari permukiman, dan arah angin. Dalam bidang persampahan ini, program terkait yang dilakukan oleh Sekretariat Bersama Kartamantul (Sekber Kartamantul) yakni pengelolaan TPA Piyungan. Adapun sumber pendanaan TPA ini dilakukan dengan cara Development Sharing, yaitu dengan berbagi alokasi anggaran dan besarnya biaya operasional didasarkan pada jumlah sampah yang dibuang pada TPA tersebut. Pada tahun 2001, dana alokasi bersama untuk pengelolaan sampah ini terkumpul sebanyak 1,7 miliar yang berasal dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Bantul dimana Yogyakarta sebagai penyumbang terbesar yang proporsinya didasarkan pada volume sampah yang dibuang pada TPA Piyungan. Dalam pembiayaan ini, Sekber Kartamantul tidak memiliki sumber dana sendiri melainkan menunggu anggaran pembangunan dari ketiga daerah tersebut. Ketika alokasi anggara pembangunan tersebut tidak ada, maka program yang disusun tidak akan berjalan, dalam hal mewujudkan pembangunan TPA Piyungan. Inilah sebenarnya yang menjadi kendala pembiayaan pembangunan TPA Piyungan. Adanya ketergantungan dana dari masing-masing daerah membuat program yang dibuat tidak berjalan lancar. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Sekber Kartamantul tidak serta merta dilaksanakan oleh daerah mengingat daerah sendiri memiliki keterbatasan anggaran dalam pembangunan. Strategi pembiayaan yang dilakukan dalam pembangunan TPA Piyungan ini dilakukan dengan mengadakan kerjasam dan perjanjian dengan donator asing, diantaranya

Pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir Jogjakarta, Sleman, Bantul (Kartamantul) penyediaan fasilitas publik: Yogyakarta Urban Development Project. Namum kenyataannya, aspek hubungan antar lembaga yang kuat tersebut kurang merangkul aspirasi masyarakat. Dalam hal ini, aspirasi masyarakat yang digali secara terus menerus akan mewujudkan perencanaan pembangunan yang benar-benar didasarkan pada analisis kebutuhan masyarakat. Adapun isu strategis yang dihadapi dalam mewujudkan TPA Piyungan ini adalah bagaimana memperbaiki peran dan kemampuan daerah dalam penyelenggaraan kerja sama antar daerah dan memilih model kerja sama yang sesduai, dimana aspirasi masyarakat juga dilibatkan. Untuk pembiayaannya sendiri, tidak hanya harus menunggu dari anggaran pembangunan masing-masing daerah, melainkan juga dapat dilakukan dengan sumber pembiayaan yang lain, diantaranya prinsip kemitraan pemerintah dengan badan usaha (menurut PP No. 13 Tahun 2010), salah satunya yaitu apabila pemerintah kurang berpengalaman dalam mengelola persampahan, maka sektor swasta dapat mengadopsi pengalaman lokal dan internasional dalam pengelolaan sampah, memperkenalkan teknologi yang efektif, misalnya: kerjasama Sekber Kartamantul dengan Shimizu Coporation Jepang dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi untuk pemanfaatan gas metana di TPA Piyungan.