Anda di halaman 1dari 76

NAPZA

O le h :
N u r N in d i a w a t y R iv a i
Yu n i H e n d r a t i
M a ri a N a t a li a Pu t r i

Pembimbing: dr. Happy Indah H, Sp KJ


(K)
S M F / L a b o ra t o riu m Ps i k ia t ri F KUB - R SS A M a la n g

Narkotika

Alkohol

NAPZA
Psikotropi
ka

Zat Adiktif

Narkotika:
Zat : Heroin(Putauw)
Ganja(Cimeng)
Kokain
Obat : Morfin, Kodein
Alkohol:
Zat : Bir, Vodka, Johnny Walker
Psikotropika:
Zat : Sabu(amfetamin), Ineks(amfetamin)
Obat : Sedatif/ Hipnotik: Pil koplo (Valium, Nipam, Lexo, Mogadon,
L)
Zat adiktif:
Tembakau, kafein, dan lain-lain

Double

BERDASARKAN EFEKNYA TERHADAP


PERILAKU YG DITIMBULKAN, NAPZA
DAPAT DIGOLONGKAN MENJADI
Depresan/Downer
Berfungsi mengurangi
aktifitas fungsional
tubuh
tenang, pendiam
bahkan tertidur dan
tidak sadarkan diri.
Contoh:
Opioid
(morfin,heroin/putauw,
kodein)
Sedatif (penenang)
Hipnotik (obat tidur)
Tranquilizer (anti
cemas) dan lain-lain

Stimulan/Upper
Dapat merangsang
fungsi tubuh dan
meningkatkan
kegairahan kerja
aktif, segar dan
bersemangat.
Contoh:
Amfetamin (shabu,
ekstasi)
Kafein
Kokain

Halusinogen
Menimbulkan efek
halusinasi yg bersifat
mengubah perasaan &
pikiran, seringkali
menciptakan daya
pandang berbeda
sehingga seluruh
perasaan dapat
terganggu.
Golongan ini tidak
digunakan dalam terapi
medis.
Contoh:
Kanabis (ganja)
LSD

TINGKAT PEMAKAIAN ZAT NAPZA

Coba-coba
: Memenuhi rasa ingin
tahu
Rekreasi
: Senang-senang
Situasional : Pada keadaan tertentu
Abuse
: Penyalahgunaan
Dependence : Ketergantungan
Addiction
: Kecanduan

MENURUT DSM V,
TERDAPAT 2 JENIS GANGGUAN YG TERKAIT
DNG PENYALAHGUNAAN ZAT (NAPZA), YAITU:

Gangguan
penggunaa
n zat

Intoksikasi
Akibat
reaksi zat
terhadap
tubuh

Akibat
terinduksi
zat

Withdrawal
Akibat sudah
ketergangtungan
tapi kemudian
mendadak tidak
pakai lagi

Gangguan
mental
lainnya yg
terinduksi
obat atau
zat

GANGGUAN PENGUNAAN ZAT

Diagnosisnya didasarkan pada bentuk perilaku


yg patologis terkait dengan penggunaan zat.

Terbagi dalam kelompok berdasarkan kriteria:


A. Ketidakmampuan mengendalikan diri
B. Fungsi sosial terganggu
C. Pemakaian berisiko
D. Farmakologi

KRITERIA DIAGNOSIS DSM-IV-TR UNTUK


PENYALAHGUNAAN ZAT
A. Suatu pola maladaptif penggunaan zat yang menimbulkan hendaya atau
penderitaan yang secara klinis signifikan, seperti dimanifestasikan oleh satu
(atau lebih) hal berikut, yang terjadi dalam periode 12 bulan :
1) Penggunaan zat berulang mengakibatkan kegagalan memenuhi
kewajiban peran utama dalam pekerjaan, sekolah, atau rumah (contoj:
absen berulang atau kinerja buruk dalam pekerjaan yang berhubungan
dengan penggunaan zat; absen, skors, atau dikeluarkan dari sekolah
terkait zat; penelantaran anak atau rumah tangga).
2) Penggunaan zat berulang pada situasi yang secara fisik berbahaya
(contoh: mengendarai mobil atau mengoperasikan mesin saat sedang
mengalami hendaya akibat penggunaan zat).
3) Masalah hukum berulang terkait zat (contoh: penahanan karena perilaku
kacau terkait zat).
4) Penggunaan zat berlanjut meski memiliki masalah sosial atau
interpersonal yang persisten atau rekuren yang disebabkan atau
dieksaserbasi oleh efek zat (contoh: berselisih dengan pasangan
tentang konsekuensi intoksikasi, perkelahian fisik).
B. Gejala tidak memenuhi kriteria Ketergantungan Zat untuk kelas zat ini.

KRITERIA DIAGNOSIS DSM-IV-TR UNTUK


INTOKSIKASI ZAT
A. Berkembangnya sindrom spesifik zat yang reversibel akibat
baru saja mengkonsumsi (atau terpajan pada) suatu zat.
Catatan : Zat yang berbeda dapat menghasilkan sindrom
serupa atau identik.
B. Terdapat perubahan perilaku atau psikologis maladaptif dan
signifikan yang disebabkan oleh efek zat tersebut pada sistem
saraf pusat (contoh: agresif, labilitas mood , hendaya
kognitif, daya nilai terganggu, fungsi sosial atau okupasional
terganggu) dan timbul selama atau segera setelah
penggunaan zat.
C. Gejala tidak disebabkan suatu kondisi medis umum dan tidak
lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain.

Dari American Physiciatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. 4
Washington DC: American Physiciatric Association; copyright 2000.

th

ed, Text rev.

WITHDRAWAL (LEPAS ZAT)

Bervariasi, tergantung jenis zat


Tanda/gejala fi siologis yg mudah diketahui pd
pemakaian alkohol, opioid, sedativa, hipnotik
dan anticemas
Yang kurang tampak gejalanya: pada pengguna
stimulan, oleh karena ketergantungannya lebih
ke arah ketergantungan mental bukan fi sik

Gejala withdrawal (lepas zat), merupakan tanda dari suatu


ketergantungan
Ada 2 jenis ketergantungan terkait penggunaan zat:
Ketergantungan mental
Gejala: bingung, gelisah, rasa kehilangan sesuatu, craving.
Craving: dorongan yg kuat untuk memakai zat lagi yg bisa terjadi pada
setiap saat tetapi lebih sering pd lingkungan dimana dia pakai
sebelumnya.
Ketergantungan Fisik
Gejalanya: keringat dingin, keluar air mata, keluar lendir dari hidung,
linu-linu/nyeri yang hebat, kramp usus, diare, bisa terjadi delusinasi

CIRI/TANDA DUGAAN MEMAKAI ZAT

Pola tidur berubah


Nafsu makan berkurang
Manghindar, berlama-lama dalam kamar
Sikap lebih kasar, lekas tersinggung atau marah,
curiga mabuk.
Bekas suntikan pada lengan dan/atau kaki
Uang atau barang sering hilang
Prestasi menurun

NARKOTIKA
Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman
baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan
penurunan
atau
perubahan
kesadaran,
hilangnya
rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menimbulkan ketergantungan.

-UU RI No.92/1997

PEMBAGIAN NARKOTIKA (UU RI NO. 35/2009)


Golongan I
Untuk pengembangan Ilmu pengetahuan, bukan untuk
terapi (heroin, kokain, ganja)
Golongan II
Untuk pengetahuan, terapi, potensi tinggi ketergantungan
(morphin, petidin)
Golongan III:
Untuk ilmu pengetahuan, terapi, potensi rendah
ketergantungan
(kodein)

Kanabis
Nama Lain

Marijuana
Grass
Pot
Weed
The Mary Jane

Hemp
Chasra
Bhang
Ganja
Dagga
Sinsemilla

Nama lain untuk


menggambarkan tipe
Kanabis dalam
berbagai kekuatan

Diagnosis dan Gambaran Klinis


Efek fisik kanabis paling sering:
Dilatasi pembuluh darah konjungtiva
Takikardia ringan
Pada dosis tinggi hipotensi ortostatik
Efek lazim intoksikasi kanabis Nafsu makan meningkat (The
Munchies) dan mulut kering
Penggunaan berat penyakit respiratorik kronik dan kanker
paru
Penggunaan jangka panjang atrofi serebri, kerentanan
terhadap kejang, kerusakan kromosom, defek lahir, reaktivitas
imun terganggu, perubahan konsentrasi testosteron dan

GANGGUAN MENTAL & PERILAKU AKIBAT KANABIS

Intoksikasi Kanabis
Kriteria Diagnosis DSM-IV-TR untuk Intoksikasi Kanabis
A. Penggunaan kanabis baru-baru ini.
B. Perubahan psikologis atau perilaku maladaptif yg secara
klinis signifikan (cth., koordinasi motorik terganggu, euforia,
ansietas, sensasi waktu melambat, daya nilai terganggu,
penarikan sosial) yg timbul selama atau segera setelah
penggunaan kanabis.
C. Dua (atau lebih) tanda berikut timbul dalam waktu 2 jam
setelah penggunaan kanabis:
(1) injeksi konjungtiva
(2) peningkatan nafsu makan
(3) mulut kering
(4) takikardia
D. Gejala tidak disebabkan suatu kondisi medis umum dan
tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain.
Tentukan apakah:
Dengan gangguan persepsi
American Psychiatric Association Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorser: 4ed, Text rev:
Wahington DC: American Psychiatric Association, 2000

Gangguan mental & perilaku akibat Kanabis

TERAPI:
Bila anxietas
Khlordiazepoksid 10-50 mg
peroral dpt diulangi setelah 1 jam
Tempatkan pasien pd ruangan tenang untuk
mengurangi stimulasi
Antipsikotik untuk jangka pendek
-Haloperidol 5 mg/hari dlm dosis terbagi atau
-CPZ 25-150 mg peroral
Keadaan putus ganja pd umumnya ringan &
segera menghilang sendiri dlm waktu yg tidak
terlalu lama.

Gangguan mental & perilaku akibat Kokain

Kokain digunakan dg cara :


-mengendus melalui lubang hidung (snorting)
-Menyuntik
-Merokok
-Diabsorpsi melalui mukosa
Efek khas pengguna kokain:
Elasi, euforia, peningkatan harga diri dan
peningkatan tugas mental dan fi sik.

Kriteria Diagnosis DSM-IV-TR untuk Intoksikasi Kokain


A. Penggunaan kokain yg belum lama
B. Perilaku maladaptif/perubahan psikologis yg bermakna secara
klinis yg berkembang selama atau segera setelah penggunaan
halusinogen.
C. Dua (atau lebih) tanda berikut selama atau segera setelah
penggunaan kokain:
(1) takikardia atau bradikardia
(2) dilatasi pupil
(3) peningkatan atau penurunan tekanan darah
(4) berkeringat atau mengigil
(5) mual atau muntah
(6) bukti adanya penurunan berat badan
(7) agitasi atau retardasi psikomotor
(8) kelemahan otot, depresi nafas, nyeri dada, atau aritmia
jantung
(9) kebingungan, kejang, diskinesua, distonia, atau koma
D. Gejala tidak disebabkan suatu kondisi medis umum dan tidak
lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain.
Tentukan apakah : Dengan gangguan persepsi
American Psychiatric Association Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorser: 4ed, Text rev: Wahington DC:

Kriteria Diagnosis DSM-IV-TR Keadaan Putus


Kokain
A. Penghentian/penurunan pemakaian kokain yang telah
lama & berat
B. Mood disforik dan 2 (atau lebih) perubahan fisiologis
berikut, timbul beberapa jam / hari setelah kriteria A:
(1) kelelahan
(2) mimpi yg tidak menyenangkan
(3) insomnia/hipersomnia
(4) peningkatan nafsu makan
(5) retardasi/agitasi psikomotor
C. Gejala dalam kriteria B menyebabkan penderitaan
yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi lain.
D. Gejala tidak disebabkan kondisi medis umum dan
tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental
lain.
American Psychiatric Association Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorser: 4ed, Text rev:
Wahington DC: American Psychiatric Association, 2000

Gejala pasca intoksikasi akut/pemakaian


kokain ringan-sedang disforia, anhedonia,
kecemasan, iritabilitas, kelelahan,
hipersomnolensi dan kadang agitasi
(hilang dalam 18 jam)
Pemakaian berat gejala hingga 1 minggu
Juga dapat disertai gagasan ingin bunuh diri

Terapi Gangguan mental & perilaku akibat Kokain


Pisahkan pasien dari lingkungan
sosial dimana pasien sering
mendapatkan kokain
Tes urin berkala yang tidak teratur
untuk memonitoring kelanjutan
abstinensi pasien
Terapi individu, terapi kelompok
dan terapi keluarga.

Terapi Gangguan mental & perilaku akibat Kokain


Farmakologis
Carbamazepine
detoksifikasi kokain serta efektif menurunkan
kecanduan
Dopamin agonis menurunkan kecanduan dan
menormalkan tidur
Amantadine 2x100mg
Bromocriptine 2x2.5mg

Opium Opiat/Opioid Berasal dari sari bunga


Opium,
Papaversomniferum,
mengandung
sekitar
20
alkaloid opium

OPIOID

Opioid Alamiah (Morfin, Opium,


Codein)
Opioid Semisintetik
(Heroin/Putaw, Hidromorfin)
Opioid Sintetik (Methadone,
Meperidine)

NEUROFARMAKOLOGI
Reseptor opioid- analgesia,
depresi napas, konstipasi, dan
ketergantungan obat
Reseptor- analgesi, diuresis,
sedasi

Reseptor- analgesia

OPIOID

INTOKSIKASI
A. Baru saja menggunakan opioid
B. Perubahan psikologis atau perilaku maladaptif secara
klinis (misal eforia inisial diikuti apatis, disforia,
agitasi, retardasi psikomotor, daya nilai terganggu
atau hendaya social, pekerjaan) yang terjadi saat
penggunaan atau segera setelah memakai zat.
C. Konstriksi pupil (atau dilatasi akibat anoksia karena
overdosis) dan satu/lebih tanda dari (saat memakai
atau segera setelah pakai) :
1) kesadaran menurun atau coma
2) bicara pelo/slurred
3) gangguan perhatian atau daya ingat
d.

Tidak akibat kondisi medik umum atau gangguan

OPIOID

PUTUS OBAT
A. Salah satu hal berikut
1. Penghentian penggunaan opioid yang telah lama
2. Antagonis opioid setelah penggunaan opioid
B. 3 atau lebih beberapa jam/hari setelah kriteria A:
1. Mood disforik
2. Mual muntah
3. Nyeri otot
4. Lakrimasi, rinorea
5. dilatasi popil, piloereksi, berkeringat
6. diare
7. menguap
8. demam
9. insomnia
C. Gejala kriteria B menyebabkan hendaya bermakna
D. Tidak ada penyebab lain

OPIOID

Onset dan lamanya gejala putus


1. Zat dengan lama kerja singkat sindrom putus
zat yang singkat dan kuat
2. Zat dengan lama kerja panjang sindrom putus
zat yang lama tapi ringan

Morfin,Heroin

Meperidin

onset 6-8jam setelah


onset cepat, puncak
dosis terakhir, setelah
8-12 jam menetap 4-5
1-2minggu pemakaian
hari
kontinyu
Puncak sindrom di
hari ke-2,menetap +710 hari sampai 6
bulan.

Metadon
onset 1-3 hari,
berakhir +10-14hari

OVERDOSIS

Bradik
ardia

Hila
ng
resp
on

OVER
DOSE
Hipo
tensi
Hipot
ermi

Kom
a

Pern
afas
an
lamb
at

REHABILIT
ASI

REHABILIT
ASI

ALKOHOL
Minuman yg mengandung etanol
Bir berkadar alkohol 2-5%
Anggur berkadar alkohol 10-14%
Wiski, vodka, brendi berkadar alkohol 4050%

HUBUNGAN ANTARA JUMLAH


MINUMAN KERAS (WISKI) YG
DIMINUM, KADAR ALKOHOL DALAM
DARAH & PENGARUHNYA
Jumlah
wiski yg
diminum
60-90 ml

Kadar
Pengaruhnya
alkohol dlm
darah
0,05%
Pengendalian diri &
kemampuan menilai
sesuatu berkurang
100-175 ml 0,1%
Cadel, sempoyongan,
kecekatan tangan
235-355 ml 0,2%
berkurang
430-770 ml 0,45%
Gerak motorik lamban
Kemampuan persepsi
800-1240
0,7%
hilang, koma
ml
Pernapasan & denyut

PENGARUH ALKOHOL
TERHADAP PENGGUNA
Hepar
: Perlemakan
Pankreas
: Pankreatitis
Sal. Cerna
: Gastritis & perdarahan
lambung
Otot
: Kelemahan
Darah
: Anemia
Kel. Endokrin
: Testosteron menurun
Jantung
: Aritmia
Imunitas menurun
Sistem pernapasan : Bronkitis
Hipertensi
SSP
: Ketergantungan, intoksikasi,
putus obat

Kategori dan Definisi Pola Penggunaan


Alkohol
Kategori
Peminum Sedang

Definisi
Pria, 2 minuman/hari
Wanita, 1 minuman/hari
Orang > 65 tahun, 1 minuman/hari

Peminum beresiko

Pria, > 14 minuman/minggu atau > 4 minuman


per kesempatan
Wanita, > 7 minuman/minggu atau > 3 minuman
per kesempatan

Peminum berbahaya
Beresiko mengalami konsukuensi simpang alkohol
Peminum merugikan
Alkohol menyebabkan kerugian fisik atau
psikologis

Kategori

Definisi

Penyalahgunaan
alkohol

1 peristiwa berikut dalam setahun: penggunaan


berulang yang mengakibatkan kegagalan memenuhi
kewajiban peran utama, penggunaan berulang dalam
situasi yang berbahaya, masalah hukum terkait alkohol
berlang (contoh: ditangkap saat mengemudi dalam
pengaruh alkohol), penggunaan berlanjut meski
mengalami masalah sosial atau interpersonal yang
disebabkan atau dieksaserbasi oleh alkohol
3 peristiwa berikut dalam setahun: toleransi;
peningkatan jumlah untuk mencapai efek; penurunan
efek dari jumlah yang sama; keadaan putus zat;
menghabisakn banyak waktu untuk memperoleh alkohol,
menggunakan, atau pulih dari efeknya; merelakan atau
mengurang aktivitas penting karena alkohol; minum lebih
banyak atau lebih lama dari yang diniatkan; hasrat
persisten atau tidak berhasilnya upaya untuk mengurangi
atau menggendalikan penggunaan alkohol; tetpa
menggunakan meski mengetahui adanya masalah
psikologis yang disebabkan atau dieksaserbasi alkohol

Ketergantungan
alkohol

GANGGUAN TERKAIT ALKOHOL DSMIV-TR

Gangguan Penggunaan Alkohol


Ketergantungan alkohol
Penyalahgunaan alkohol
Gangguan Terinduksi Alkohol
Intoksikasi alkohol
Keadaan putus alkohol
Tentukan apakah:
Dengan gangguan persepsi
Delirium pada intoksikasi alkohol
Delirium pada putus alkohol
Demensia persisten terinduksi alkohol
Gangguan amnesik persisten terinduksi alkohol
Gangguan psikotik terinduksi alkohol, dengan waham
Tentukan apakah:
Dengan onset saat intoksikasi
Dengan onset saat putus zat
Gangguan psikotik terinduksi alkohol, dengan halusinasi
Tentukan apakah:
Dengan onset saat intoksikasi
Dengan onset saat putus zat

Gangguan mood terinduksi alkohol


Tentukan apakah:
Dengan onset saat intoksikasi
Dengan onset saat putus zat
Gangguan ansietas terinduksi alkohol
Tentukan apakah:
Dengan onset saat intoksikasi
Dengan onset saat putus zat
Disfungsi seksual terinduksi alkohol
Tentukan apakah:
Dengan onset saat intoksikasi
Gangguan tidur terinduksi alkohol
Tentukan apakah:
Dengan onset saat intoksikasi
Dengan onset saat putus zat
Gangguan alkohol yang tidak tergolongkan
Dari American Physiciatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. 4th ed, Text rev.
Washington DC: American Physiciatric Association; copyright 2000.

KRITERIA DIAGNOSIS DSM-IV-TR UNTUK


INTOKSIKASI ALKOHOL
A. Baru-baru ini mengonsumsi alkohol.
B. Perubahan perilaku atau psikologis maladaptif yang secara klinis
bermakna (contoh: perilaku agresif atau seksual yang tidak pada
tempatnya, lanilitas mood, daya nilai terganggu, fungsi sosial atau
okupasional terganggu) yang timbul selama atau segera setelah ingesti
alkohol.
C. Satu (atau lebih) tanda berikut, timbul selama atau segera setelah
penggunaan alkohol:
1) Pembicaraan meracau
2) Inkoordinasi
3) Gaya berjalan tidak stabil
4) Nistagmus
5) Hendaya atensi atau memori
6) Stupor atau koma
D. Gejala tidak disebabkan suatu kondisi medis umum dan tidak lebih baik
diterangkan oleh gangguan mental lain.

KRITERIA DIAGNOSIS DSM-IV-TR UNTUK


KEADAAN PUTUS ALKOHOL
A. Penghentian (atau pengurangan) penggunaan alkohol yang sebelumnya berat dan
berkepanjangan.
B. Dua (atau lebih) hal berikut, yang timbul dalam beberapa jam samapai beberapa hari
setelah Kriteria A:
1) Hiperaktivitas otonom (contoh: berkeringat atau frekuensi denyut jantung lebih
dari 100)
2) Peningkatan tremor tangan
3) Insomnia
4) Mual atau muntah
5) Halusinasi atau ilusi visual, taktil, atau auditorik sesaat
6) Agitas psikomotor
7) Ansietas
8) Kejang grand mal
C. Gejala pada kriteria B menyebabkan penderitaan atau hendaya yang secara klinis
bermakna dalam fungsi sosial, okupasional, atau area fungsi penting lain.
D. Gejala tidak disebabkan suatu kondisi medis umum dan tidak lebih baik diterangkan
oleh gangguan mental lain.
Tentukan apakah:
Dengan gangguan persepsi

KRITERIA DIAGNOSIS DSM-IV-TR UNTUK


GANGGUAN TERKAIT PENGGUNAAN
ALKOHOL YANG TAK TERGOLONGKAN
Kategori gangguan terkait alkohol yang tak
tergolongkan diperuntukkan bagi gangguan yang
dihubungkan dengan penggunaan alkohol yang tidak
dapat diklasifikasikan sebagai ketergantungan alkohol,
penyalahgunaan alkohol, intoksikasi alkohol, putus
alkohol, delirium pada intoksikasi alkohol, delirium pada
putus alkohol, demensia persiten terinduksi alkhol,
gangguan amnesik persisten terinduksi alkohol,
gangguan psikotik terinduksi alkohol, gangguan mood
terinduksi alkohol, gangguan ansietas terinduksi
alkohol, disfungsi seksual terinduksi alkohol, atau
gangguan tidur ternduksi alkohol.
Dari American Physiciatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. 4th ed, Text rev. Washington DC:
American Physiciatric Association; copyright 2000.

PENANGANAN DAN REHABILITASI

PSIKOTROPIKA
Zat psikoaktif bukan narkotika yg
menyebabkan perubahan khas akitivitas
mental & perilaku.
-UU No.5 th. 1997

PENGGOLONGAN PSIKOTROPIKA

AMFETAMIN

1.
2.

Amfetamin adl senyawa sintetik yg tergolong


perangsang SSP
Derivat amfetamin yg banyak disalahgunakan di
Indonesia:
3,4 metilen di-oksi met-amfetamin (MDMA) atau
ekstasi gol.desainer
Met-amfetamin(sabu) gol.klasik

Tablet/ kapsul ~ 60-250 mg


(rata-rata 120 mg )MDMA

NEUROFARMAKOLOGI
Amfetamin klasik
pelepasan
katekolamin,
terutama dopamin
dari terminal
prasinaptik poten
untuk neuron
dopaminergik yg
berjalan dari area
ventrak ke korteks
serebri dan area
limbik (jaras sirkuit
reward)
mekanisme adiktif
utama untuk

Amfetamin
desainer
pelepasan
katekolamin
(dopamin dan
norepinefrin) serta
serotonin
(nuerotransmiter
sebagai jaras
nuerokimiawi
utama untuk
halusinogen)
campuran efek
amfetamin klasik
+ halusinogen.

Diabsorpsi cepat secara oral


Mulai kerja yang cepat, biasanya dalam waktu
1 jam bila dikonsumsi per oral.
Dosis rendah sampai sedang: 5-50 mg secara
oral
Dosis tinggi : > 100 mg
secara IV

Dosis kecil Amfetamin


- Meningkatkan tekanan darah
- Denyut nadi> cepat
- Meningkatkan kewaspadaan
- Menimbulkan eforia
- Menghilangkan kantuk
- Menghilangkan rasa lelah & rasa
lapar
- Meningkatkan aktivitas motorik
- Banyak bicara

Dosis sedang amfetamin(20-50 mg)


-Menimbulkan tremor ringan
-Gelisah
-Insomnia
-Menekan nafsu makan
Dosis tinggi dlm waktu lama
-Dapat menimbulkan perilaku stereotipikal
yaitu perbuatan yg diulang terus-menerus
tanpa tujuan
-Tiba-tiba agresif
-Melakukan tindak kekerasan
-Waham curiga
-Anoreksia yg berat

Psikologis
Kegelisahan, disforia, insomnia,
iritabilitas,sikap bermusuhan, kebingungan.
Gejala gangguan ansietas : gangguan
ansietas menyeluruh, gangguan panik, ide
rujukan, waham paranoid, halusinasi.

DIAGNOSIS GANGGUAN TERKAIT AMFETAMIN (ATAU


LIR-AMFETAMIN) DSM-IV-TR
Gangguan Penggunaan Amfetamin
Ketergantungan amfetamin
Penyalahgunaan amfetamin
Gangguan Terinduksi Amfetamin
Intoksikasi amfetamin
Tentukan apakah:
Dengan gangguan persepsi
Keadaan putus amfetamin
Delirium pada intoksikasi amfetamin
Gangguan psikotik terinduksi amfetamin, dengan
halusinasi
Tentukan apakah:
Awitan saat intoksikasi
Gangguan psikotik terinduksi amfetamin, dengan
waham
Tentukan apakah:
Awitan saat intoksikasi
Gangguan mood terinduksi amfetamin
Tentukan apakah:
Awitan saat intoksikasi

Gangguan ansietas terinduksi amfetamin


Tentukan apakah:
Awitan saat intoksikasi
Disfungsi seksual terinduksi amfetamin
Tentukan apakah:
Awitan saat intoksikasi
Gangguan tidur terinduksi amfetamin
Tentukan apakah:
Awitan saat intoksikasi
Awitan saat putus zat
Gangguan terkait amfetamin yang tak
terinci
Dari American Physiciatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. 4th ed, Text rev.
Washington DC: American Physiciatric Association; copyright 2000.

KRITERIA DIAGNOSIS DSM-IV-TR UNTUK


INTOKSIKASI AMFETAMIN

A. Baru-baru ini mengonsumsi amfetamin atau zat terkait (contoh: metilfenidat).


B. Perubahan psikologis atau perilaku maladaptif yang secara klinis signifikan (contoh: euforia atau
penumpulan afek; perubahan sosiabilitas; hipervigilans; sensitivitas interpersonal; ansietas,
ketegangan, atau kemarahan; perilaku stereotipi; daya nilai terganggu; atau fungsi sosial atau
okupasional terganggu) yang timbul selama atau segera setelah penggunaan amfetamin atau
zat terkait.
C. Dua (atau lebih) hal berikut, timbul selama atau segera setelah penggunaan amfetamin atau zat
terkait:
1) Takikardia atau bradikardia
2) Dilatasi pupil
3) Tekanan darah meningkat atau menurun
4) Berkeringat atau menggigil
5) Mual atau muntah
6) Bukti penurunan berat badan
7) Agitasi atau retardasi psikomotor
8) Kelemahan otot, depresi napas, nyeri dada, atau aritmia jantung
9) Kebingungan, kejang, diskinesia, distonia, atau koma
D. Gejala tidak disebabkan suatu kondisi medis umum dan tidak lebih baik diterangkan oleh
gangguan mental lain.
Tentukan apakah:
Dengan gangguan persepsi

KRITERIA DIAGNOSIS DSM-IV-TR UNTUK


KEADAAN PUTUS AMFETAMIN
A. Penghentian (atau pengurangan) konsumsi amfetamin (atau
zat terkait) yang telah berlangsung lama dan berat.
B. Mood disforik dan dua (atau lebih) perubahan fisiologis
berikut, timbul dalam waktu beberapa jam sampai beberapa
hari setelah Kriteria A:
1) Kelelahan
2) Mimpi yang tidak menyenangkan dan sangat jelas
3) Insomnia atau hipersomnia
4) Peningkatan nafsu makan
5) Agitasi atau retardasi psikomotor
C. Gejala pada kriteria B dapat menyebabkan penderitaan atau
hendaya fungsi sosial, okupasional, atau area fungsi penting
lain.
D. Gejala tidak disebabkan suatu kondisi medis umum dan
tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain.
Dari American Physiciatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. 4th ed, Text rev. Washington DC:

KRITERIA DIAGNOSIS DSM-IV-TR UNTUK


GANGGUAN TERKAIT AMFETAMIN YANG TAK
TERGOLONGKAN
Kategori gangguan terkait amfetamin yang tak
tergolongkan adalah untuk gangguan yang
disebabkan oleh penggunaan amfetamin (atau
zat terkait) yang tidak dapat diklasifikasikan
sebagai
ketergantungan
amfetamin,
penyalahgunaan
amfetamin,
intoksikasi
amfetamin,
keadaan
putus
amfetamin,
delirium pada intoksikasi amfetamin, gangguan
psikotik terinduksi amfetamin, gangguan mood
terinduksi amfetamin, gangguan ansietas
terinduksi
amfetamin,
disfungsi
seksual
terinduksi amfetamin, atau gangguan tidur
terinduksi amfetamin.
Dari American Physiciatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. 4th ed, Text rev.

PENANGANAN DAN
REHABILITASI

SEDATIF-HIPNOTIK
Sedatif-hipnotik adalah penekan SSP
Dosis kecil: mengatasi ansietas
Dosis besar: dpt menginduksi tidur
Kelompok sedatif-hipnotik:
-benzodiazepin
- kloralhidrat
-barbiturat
- paraldehid
-bromida
-karbamat

SEDATIF-HIPNOTIK
Benzodiazepin yg sering disalahgunakan:
-nitrazepam
-bromazepam
-fl unitrazepam
-klonazepam
Benzodiazepin & barbiturat bekerja pd
reseptor GABA.
GABA adl neurotransmiter yg mempunyai
sifat menghambat kerja SSP.

SEDATIF-HIPNOTIK
Benzodiazepin mempunyai efek anti kejang &
relaksasi otot
Melalui pengaruhnya thd hipokampus &
amigdala benzodiazepin mempunyai efek
anti ansietas
Karena pengaruhnya pd formatio reticularis
&medula spinalis benzodiazepin berkhasiat
menginduksi tidur & relaksasi otot

PENATALAKSANAAN
Terapi intoksikasi sedatif-hipnotik:
-Terapi simtomatis: untuk mencegah penekanan pernafasan
&
menjaga agar fungsi kardiovaskuler tetap baik infus
NS
-Kumbah lambung bila sedatif-hipnotik ditelan tidak > 6
jam
-Beri pernafasan buatan & O2
Terapi keadaan putus sedatif-hipnotik
- Pada keadaan ketergantungan benzodiazepin
- Detoksifi kasi dilakukan dg cara rawat jalan, dosis
diturunkan
secara bertahap dalam waktu 4 minggu

ZAT ADIKTIF LAIN

Tembakau
Kaff ein
Inhalansia & solvent : lem, thiner, aceton, bensin

KAFEIN

Diagnosis
Kriteria Diagnosis DSM-IV-TR untuk
Intoksikasi Kafein
A. Riwayat baru saja mengonsumsi kafein, biasanya melebihi 250 mg (cth. Lebih dari 2-3 cangkir
kopi seduh).
B. Lima (atau lebih) tanda berikut, timbul selama atau segera
setelah penggunaan kafein
1) Gelisah
2) Gugup
3) Kegembiraan
4) Insmonia
5) Muka kemerahan
6) Diuresis
7) Gangguan gastrointestinal
8) Kedutan otot
9) Jalan pikiran dan bicara melantur
10)Takikardi/ aritmia jantung
11)Periode tidak mudah lelah
12)Agitasi psikomotor
C. Gejala pada kriteria B dapat menyebabkan penderitaan atau hendaya fungsi sosial, okupasional,
atau area fungsi penting lain yang signifikan secara klinis.
D. Gejala tidak disebabkan suau kondisi medis umum dan tidak lebih baik diterangkan oleh
gangguan mental lain (cth. Suatu gangguan ansietas.)

Gambaran Klinis
50-100mg
Peningkatan kesiagaan
Peningkatan kinerja verbal dan motorik
Diuresis
Stimulasi otot jantung
Peningkatan peristaltik usus
Peningkatan sekresi asam lambung
Peningkatan tekanan

100mg
Euforia ringan (pendorong positif)
300mg
Peningkatan kecemasan dan disforia ringan (tidak bekerja sebagai pendorong pos
>1 gr
Pembicaraan yang melantur, konfusi, aritmia, kelelahan,
agitasi, tinitus, halusinasi visual ringan
>10 gr
Kejang tonik klonik umum, gagal

Putus Kafein
Gejala paling umum sakit kepala dan kelelahan
Gejala lain ansietas, iritabilitas, gejala depresi
ringan, kinerja psikomotor terganggu, mual,
muntah, ketagihan kafein, serta nyeri otot dan
kekakuan
Onset gejala putus kafein 12-24 jam setelah dosis
terakhir, gejala memuncak pada 24-48 jam dan
menghilang dalam 1 minggu
Pasien dengan gejala ansietas, aritmia jantung,
esofagitis, hentikan asupan kafein
Lebih baik untuk berhenti mengonsumsi produk
yang mengandung kafein dalam periode 7 sampai
14 hari daripada berhenti mendadak.

Kriteria Riset DSM-IV-TR untuk Keadaan Putus Kafein


A. Konsumsi harian kafein yang berkepanjangan
B. Penghentian mendadak konsumsi kafein atau pengurangan
Jumlah kafein yang dikonsumsi, yang segera diikuti sakit
kepala dan (satu lebih) gejala berikut:
1)Kelelahan atau rasa mengantuk yang nyata
2)Ansietas atau depresi yang nyata
3)Mual atau muntah
C. Gejala pada kriteria B dapat menyebabkan penderitaan
atau
hendaya fungsi sosial, okupasional, atau area fungsi
penting
lain yang signifikan secara klinis.
D. Gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari
suatu kondisi medis umum (cth. Migren, penyakit virus)

Penanganan
Farmakologis:
Analgesik, seperti aspirin, cukup untuk
mengendalikan sakit kepala dan nyeri otot
akibat kafein
Jika kurang maka dapat digunakan
benzodiasepin dalam dosis kecil untuk
waktu singkat, paling lama 7 sampai 10
hari.
Menurunkan dosis kafein secara bertahap
Menggunakan prosedur substitusi
menggantikan minuman berkafein
dengan minuman lain

NIKOTIN
Nikotin adalah zat yang bersifat adiktif
layaknya kokain dan Heroin ( The Surgeon
Generals Report 1988)

NEUROFARMAKOLOGIK
25% dari nikotin yang diinhalasi saat menghidap
rokok akan mencapai darah, melalui mana
nikotin mencapai otak dalam waktu 15 detik.
Waktu paruh 2 jam
Nikotin dianggap mempunyai sifat mendorong
positif dan adiktif karena nikotin mengaktivasi
jalur dopaminergik yang keluar dari area
tegmental ventral ke korteks serebral dan
sistem limbik

Tanda & Gejala Klinis Intoksikasi


nikotin
Ringan sedang:
- mual
- nyeri abdomen
- muntah
- Diare
- Nyeri kepala
- Pusing
- denyut jantung menurun

Berat:
Pusing hebat
Tekanan darah turun.
Frekuensi pernafasan menurun
Kejang
Mati karena gagal nafas

KRITERIA DIAGNOSIS DSM-IV-TR UNTUK PUTUS


NIKOTIN
A. Pemakaian nikotin setiap hari selama sekurangnya beberapa minggu
B. Penghentian pemakaian nikotin secara tiba-tiba atau pengurangan jumlah nikotin yang
digunakan diikuti oleh sekurangnya empat tanda berikut dalam 24 jam :
1. Mood diforik atau depresi
2. Insomnia
3. Iritabilitas, frustasi, rasa marah
4. Kecemasan
5. Sulit konsentrasi
6. Gelisah
7. Penurunan denyut jantung
8. Peningkatan nafsu makan dan penambahan BB
C. Gejala dalam kriteria B menyebabkan penderitaan yg bermakna secara klinis
D. Gejala bukan karena kondisi medis umum
Dari American Physiciatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. 4

th

ed, Text rev. Washington DC: American Physiciatric

Terapi
Intoksikasi nikotin
- Terapi simtomatis
- Untuk membantu ekskresi nikotin dpt dilakukan
asidifi kasi dg pemberian amonium khlorida 500 mg
tiap
3-4 jam
Keadaan putus nikotin
- Memerlukan dukungan lingkungan & konseling
- Bila perlu, berikan permen kunyah nikotin dg jml yg
makin menurun dlm wkt 3 minggu.
- Gabungan pengganti nikotin dengan behavior therapy
lebih berhasil

TERIMA KASIH