Anda di halaman 1dari 43

RESPONSI

Demensia

Oleh:
Mokhamad Munif R.Q

115070100111026

Yeni Purnamasari

115070107111011

Yulia Nugrahanitya

115070107111038

Pembimbing:
dr. Gadis Nurlaila M.M, Sp.PD

LABORATORIUM / SMF ILMU PENYAKIT DALAM


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. SAIFUL ANWAR
MALANG
2016

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................................
1
1.1 Latar Belakang....................................................................................................
1
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................
2
1.3 Tujuan.................................................................................................................
2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................................
3
2.1 Sindroma Geriatri................................................................................................
3
2.1.1 Imobilisasi....................................................................................................
3
2,1,2 Inanition (Malnutrisi)....................................................................................
3
2.1.3 Imunosenescene.........................................................................................
4
2.1.4 Inkontinensia...............................................................................................
5
2.1.5 Infeksi..........................................................................................................
6
2.1.6 Impotensi.....................................................................................................
6
2.1.7 Gangguan Sensori.......................................................................................
7
2.1.8 Konstipasi....................................................................................................
8
2.1.9 Kemiskinan..................................................................................................
10
2.1.10 Gangguan Tidur.........................................................................................
11
2.1.11 Iatrogenic...................................................................................................
12
2.1.12 Instability....................................................................................................
13
2.1.13 Impairment of Memory...............................................................................
13
2.1.14 Isolation (Depresi)......................................................................................
14
2.2 Demensia............................................................................................................
14
2.2.1 Definisi Demensia........................................................................................
14
2.2.2 Etiologi ........................................................................................................
18

2.2.3 Epidemiologi dan Prevalensi Demensia.......................................................


20
2.2.4 Faktor Risiko Demensia ..............................................................................
21
2.2.5 Patogenesis Demensia................................................................................
22
2.2.6 Klasifikasi Demensia....................................................................................
24
2.2.7 Diagnosis Demensia....................................................................................
26
2.2.8 Penatalaksanaan Demensia........................................................................
30
2.2.9 Prognosis.....................................................................................................
34
BAB III KESIMPULAN.......................................................................................................
35
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................
39

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Perbedaan Demensia dan Delirium....................................................................


15
Tabel 2.2 Berbagai Pzenyebab Demensia.........................................................................
19

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Mekanisme dari Kerusakan White Matter oleh faktor resiko cardio
vascular dan A..................................................................................................................
25

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jumlah lansia atau lanjut usia di Indonesia saat ini semakin meningkat. Di
Indonesia sendiri pada tahun 2000, jumlah lansia meningkat mencapai 9,99%
dari seluruh penduduk Indonesia (22.277.700 jiwa) dengan umur harapan hidup
usia 65-70 tahun dan pada tahun 2020 di perkirakan akan mencapai 30 juta
orang dengan umur harapan hidup 70-75 tahun (Badan Penelitian Statistic, 1992

dalam Rusdi, 2010). Peningkatan jumlah penduduk lansia ini sebagai


konsekuensi dari peningkatan usia harapan hidup dan peningkatan harapan
hidup tentunya mempunyai dampak lebih banyak terjadinya gangguan penyakit
pada lansia salah satunya adalah demensia.
Demensia merupakan suatu kondisi penurunan dan gangguan kognitif
meliputi penurunan kemampuan mengingat dan berpikir, gangguan perilaku, dan
mood (Purnakarya, 2011). Menurut World Health Organization (1992) dalam
Jefferies dan Agrawal (2009) demensia adalah sindroma klinis yang meliputi
hilangnya fungsi intelektual dan memori yang sedemikian berat sehingga
menyebabkan disfungsi hidup sehari-hari. Selama proses penuaan, demensia
tidak dapat dihindari karena berkaitan dengan berbagai faktor gaya hidup. Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Purnakaya (2011) menunjukkan bahwa seseorang
dengan keluarga yang mempunyai riwayat demensia berisiko lebih tinggi
daripada yang tidak mempunyai riwayat demensia. Umumnya, peningkatan
prevalensi demensia terjadi bersamaan dengan pertambahan umur dan
peningkatan umur harapan hidup.
Menurut Basuki, dkk (2015), demensia ditandai dengan perubahan
perilaku, seperti mudah tersinggung, curiga, menarik diri dari aktivitas sosial,
tidak peduli dan berulang kali menanyakan hal yang sama. Penyebab demensia
adalah terganggunya beberapa fungsi otak akibat hilang atau rusaknya sel-sel
otak dalam jumlah besar termasuk zat-zat kimia dalam otak. Demensia dapat
disebabkan oleh penyakit Alzheimer, stroke, tumor otak, depresi, gangguan
sistemik (gizi, elektrolit, hormone, virus, alcohol). Orang yang berusia lebih dari
65 tahun akan mengalami kemunduran daya ingat dan daya pikir, namun tidak
berarti semua lanjut usia mengalami demensia (Azizah, 2011).
Menurut World Alzheimers Report (2009) dalam Tantomi,dkk (2013)
menyebutkan bahwa satu pertiga dari total penyebab demensia ini adalah
penyakit Alzheimer. Alzheimer merupakan penyebab kematian ke-9 di Amerika
Serikat. Kematian karena Alzheimer meningkat 32,8% dari tahun 2000 sampai
2004. Sedangkan kematian karena semua jenis demensia meningkat dari 49.558
kematian pada tahun 2000 menjadi 65.829 kematian pada tahun 2004. Di tahun
2005, kejadian demensia di Indonesia yaitu 606.100 orang (Alzheimers Asia
Pasifik, 2006 dalam Wardani, 2011). Sedangkan pada tahun 2006, dari 20 juta
orang lansia di Indonesia diperkirakan satu juta orang mengalami demensia
(Tantomi, dkk, 2013).

Oleh karena demensia di Indonesia masih tinggi maka pada makalah ini
akan dibahas lebih lanjut mengenai definisi, faktor resiko, patofisiologi, diagnosis,
dan terapi pada demensia Agar dapat menjadi referensi pembelajaran bagi
tenaga kesehatan khususnya dokter muda di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang.
1.2 Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.

Apa yang dimaksud dengan demensia?


Apa saja yang termasuk faktor resiko terjadinya demensia?
Bagaimana patofisiologi dari demensia?
Bagaimana menegakkan diagnosis demensia dengan tepat?
Bagaimana terapi pada demensia?

1.3 Tujuan Penulisan


1.
2.
3.
4.
5.

Mengetahui pengertian tentang demensia.


Mengetahui faktor resiko terjadinya demensia.
Mengetahui patofisiologi dari demensia.
Mengetahui cara menegakkan diagnosis demensia dengan tepat.
Mengetahui terapi pada demensia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sindroma Geriatri
Konseptualisasi sindrom geriatri

telah

berkembang dari waktu ke

waktu.Secara umum, sindrom didefinisikan sebagai sekelompok tanda


dan gejala yang terjadi bersama-sama dan mengkarakteristikkan kelainan
tertentu atau kumpulan gejala dan tanda yang terkait dengan proses
morbid, dan merupakan gambaran bersama suatu penyakit. Dengan
demikian, dalam penggunaan medis saat ini, sindrom mengacu pada pola

gejala dan tanda dengan mendasari pada penyebab tunggal yang mungkin
belum diketahui (Sharon et al.,2007).
2.1.1 Imobilisasi
A. Definisi
Keadaan tidak bergerak / tirah baring selama 3 hari atau lebih, dengan gerak
anatomik tubuh menghilang akibat perubahan fungsi fisiologik.
B. Faktor Resiko
Rasa nyeri, rasa lemah, kekakuan otot, ketidak seimbangan, masalah
psikologis, gangguan fungsi kognitif.

Terapi

Latihan fisik teratur

Mengubah posisi tubuh di tempat tidur

Mobilisasi dini

2.1.2 Inanition (Malnutrisi)


A. Definisi
Kelemahan nutrisi merujuk pada hendaya yang terjadi pada usia lanjut karena
kehilangan berat badan fisiologis dan patologis yang tidak disengaja. Anoreksia
pada usia lanjut merupakan penurunan fisiologis nafsu makan dan asupan
makan yang menyebabkan kehilangan berat badan yang tidak diinginkan Untuk
mengidentifikasi geriatri yang berisiko malnutrisi, dapat dilakukan Mini Nutritional
Assesment (MNA score) dengan nilai maksimum 30. Dikatakan normal/wellnourished apabila 24, berisiko malnutrisi/borderline dengan skor 17 - 23.5, dan
undernutrition dengan skor < 17.

B.

Faktor Resiko
Penurunan nafsu makan
Penurunan fungsi indera pengecapan/penciuman
Gangguan sistem organ
Isolasi/rasa kesepian
Kemiskinan
Demensia, depresi, dan kecemasan

C. Terapi
Pemberian makanan yang cukup dan sehat
Pemenuhan kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan, layanan kesehatan)
8

Dukungan dan perlindungan dari keluarga

2.1.3 Immunosenescence (Gangguan Imunitas)


A. Definisi
Kerusakan bertahap dari sistem kekebalan tubuh yang terjadi seiring proses
menua.
B.

Faktor Resiko
Paparan terhadap antigen secara kronik
Stress oksidatif
Hormon androgen
Malnutrisi

C. Terapi
Intervensi nutrisi (mikronutrien & makronutrien)
Latihan fisik rutin derajat sedang
2.1.4 Inkontinensia (Urin dan Alvi)
A. Definisi:
Keluarnya urin / feses yang tidak terkendali pada waktu yang tidak dikehendaki
(involuntary)

tanpa

memperhatikan

frekuensi

dan

jumlahnya,

yang

mengakibatkan masalah sosial dan higienis penderitanya.


B. Faktor risiko
Inkontinensia Urin:
* Kandung kemih hiperaktif (hyperactive bladder)
* Infeksi saluran kemih
* Keterbatasan aktivitas
* Gangguan neuropsikiatrik
* Gangguan lingkungan
Inkontinensia Alvi:
* Konstipasi
* Imobilitas
* Diet yang kurang baik
* Penggunaan laksans yang kurang tepat

* Gangguan neurogenik
C. Terapi
Inkontinensia Urin:
* Latihan otot dasar panggul
* Latihan kandung kemih
* Penjadwalan berkemih/latihan kebiasaan
* Farmakologis
* Operasi
* Penggunaan kateter
Inkontinensia Alvi:
* Diet tinggi serat
* Meningkatkan aktivitas/mobilitas penderita
* Evaluasi penggunaan obat-obatan laksans
* Penggunaan obat-obatan yang menyebabkan obstipasi.
2.1.5 Infeksi
A. Definisi

(Kecenderungan untuk Terinfeksi)

Keadaan yang terjadi akibat kolonialisasi agen infektif pada organisme


(inang/host) yang sesuai.
B. Faktor Resiko

Banyaknya penyakit komorbid kronik

Penurunan imunitas terhadap infeksi

Lingkungan yang tidak mendukung hidup sehat

Imobilisasi

C. Terapi
Antimikroba sesuai agen penyebab infeksi
Terapi terhadap penyakit komorbid
Perbaikan keadaan umum (nutrisi, hidrasi, oksigenasi, dll)
Vaksinasi

10

2.1.6 Impotensi
A. Definisi (wallace,2008)
1. Sexuality: aspek sentral dari manusia sepanjang usianya berputar sekitar
perilaku seksual, pengenalan gender, orientasi seksual, erotisme, kepuasan,
keintiman dan reproduksi.
2. Kesehatan sesksual: keadaan dimana kesehatan fisik, emosi, mental dan
sosial berkaitan dengan seksualitas seseorang.
3. Disfungsi seksual: gangguan sesorang dalam fungsi seksual yang normal
pada usianya
B. Faktor Resiko
Terdapat banyak barier dalam memenuhi kebutuhan seksual dari individu
geriartri. (Hajjar et al.,2004)
1.

individu geriatri lebih rentan untuk terkena kondisi medis yang menyebabkan
kecacatan, beberapa kondisi berkaitan dengan fungsi dan kesehatan
seksual yang normal, salah satu diantaranya depresi, penyakit jantung,
stroke dan afasia, penyakit parkinson, dan diabetes yang menyebabkan
pemenuhan kebutuhan seksual menjadi tergangu atau sulit.

2.

Pengobatan pada individu geriatri, terutama yang ditujukan untuk mengobati


penyakit komorbid yang dimiliki oleh individu geriatri, seperti antidepressan
dan antihipertensi, memiliki efek terhadap pemenuhan dari kebutuhan
seksual itu sendiri

3.

Perubahan fisiologi yang terjadi bersamaan dengan proses penuaan, seperti


kondisi vagina yang kering pada wanita serta disfungsi ereksi pada pria juga
membuat kebutuhan seksual susah untuk terpenuhi.

11

4.

Terdapat juga penghalang atau barrier dari lingkungan dalam masalah


kesehatan seksual pada individu geriatri.

2.1.7 Gangguan sensori (indera penglihatan, indera pengecapan dan indera


pendengaran)
A. Definisi
Indera penglihatan: Dimana perubahan sensori indera pengeliatan
pada pasien geriatri yang paling sering adalah presbiopia, dimana lensa
mata kehilangan sifat elastisitasnya sehingga menimbulkan penurunan
kemampuan mata untuk mengubah bentuk lensa untuk memfokuskan
melihat objek yang dekat serta penurunan kemampuan mata untuk
beradaptasi dengan cahaya.(Humes,2009)
B. Faktor resiko:
Sebagian besar faktor resiko dari penurunan kemampuan sensori
indera penglihatan, indera pendengaran serta indera pengecapan dan
penghiduan, berkaitan dengan proses fisiologis yang normal serta penyakit
komorbid yang dimiliki dan juga konsumsi obat dan riwayat merokok.
(Humes, 2009)

2.1.8. Konstipasi
A. Definisi
Menurut keriteria Rome III, konstipasi fungsional didefinisikan sebagai 2
dari

beberapa

kategori,

yakni:

feces

yang

keras

serta

untuk

mengeluarkannya dibutuhkan tenaga mengejan, sensasi rasa tidak puas

12

setelah buang air besar, penggunaan manuver digital, dirasakan sensasi


obstruksi anorektal atau halangan dengan 25%

bowel movement, serta

penurunan dalam frekuensi buang air besar (sebanyak tiga atau kurang dari
tiga dalam seminggu). Kriteria di atas harus terpenuhi selama 3 bulan
dengan gejala awal dirasakan 6 bulan sebelum diagnosis ditegakkan, jika
ada keluhan diare harus ada tanpa penggunaan laksatif, dan diagnosa untuk
sindrom usus iritabel harus tidak mencukupi. Konstipasi kronik adalah
aktivitas usus untuk mengeluarkan hasil metabolisme yang berupa feces,
dimana terdapat kesulitan dalam pasasenya serta frekuensi yang jarang,
dimana kondisiini bertahan lebih dari beberapa minggu atau lebih, ditandai
dengan pasase pengeluaran hasil metabolisme kurang dari 3 kali dalam
seminggu.
(Chronic Constipation: An Evidence-Based Review . Lawrence Leung,
MBBChir, FRACGP, FRCGP, . Taylor Riutta, MD, . Jyoti Kotecha, MPA,
MRSC and Walter Rosser, MD, MRCGP, FCFP)
B. Faktor Resiko
Konstipasi adalah keluhan yang umum dialami oleh pasien geriatri
dikarenakan adanya proses penuaan yang fisiologis serta polifarmasi.
Sementara itu konstipasi oleh karena penyakit komorbid diterapi dengan
memberikan terapi kausatif bagi penyakit komorbidnya atau mengurangi
faktor predisposisi. Dimana konstipasi yang primer tatalaksananya adalah
dengan pengaturan diet, pelatihan edukasi serta kebiasaan serta laxative
jika diperlukan. Faktor resiko untuk terjadinya konstipasi salah satunya
adalah jenis kelamin wanita, usia yang tua, inaktivitas, intake kalori yang
rendah, intake makanan berserat yang rendah seta faktor pendidikan yang
rendah. Insidens terjadinya konstipasi 3 kali lebih tinggi pada wanita, dan
13

wanita memiliki insidens 2 kali lebih tinggi mengunjungi dokter untuk keluhan
konstipasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa waktu yang diperlukan
untuk bowel transit lebih rendah pada wanita dibandingan pada pria, dan
banyak wanita yang mengeluh mengalami konstipasi di dalam siklus
menstruasinya. Konstipasi juga lebioh banyak dialami oleh ras yang berkulit
hitam dibandingkan ras berkulit putih sebanyak 1.3 kali lipat lebi banyak.
Konstipasi juga lebih sering diderita oleh mereka yang memiliki status
sosioekonomi yang rendah. Studi yang diperoleh dari data tempat praktek
seorang dokter umum di Inggris menunjukkan bahwa pasien berjenis
kelamin perempuan, berusia tua, memiliki komorbid berupa multipel
sklerosis, parkinson, serta dementia memiliki korelasi dengan terjadinya
konstipasi. Sementara obat2an yang berkaitan dengan keluhan konstipasi
termasuk salah satu diantaranya adalah, antasida yang mengandung
aluminium, diuretik, opioid, antidepressan, antispasmodik dan antikonvulsan.
Beta bloker serta calcium channel blocker juga berkaitan dengan konstipasi
tetapi bukan suatu faktor resiko yang independen.(Chronic Constipation: An
Evidence-Based Review . Lawrence Leung, MBBChir, FRACGP, FRCGP, .
Taylor Riutta, MD, . Jyoti Kotecha, MPA, MRSC and Walter Rosser, MD,
MRCGP, FCFP)
2.1.9. Kemiskinan
A. Definisi
Impecunity adalah suatu keadaan dimana seorang individu yang berusia
lanjut atau yang dikenal dengan geriatri, kehilangan kemampuannya secara
fungsional dan ekonomik oleh karena proses penuaan yang fisiologis.
Dimana hal ini merupakan salah satu gejala dalam sindroma geriatri atau
yang dikenal dengan geriatric giants.(Sherlock,2000)
14

B. Faktor Resiko
Poverty atau kemiskian pada individu dengan usia lanjut atau pasien
geriatri, disebabkan oleh karena banyak faktor:
1. Proses penuaan yang fisiologi, seperti penurunan dalam kemampuan indera
sensorisnya

seperti

indera

penglihatan,

indera

pengecapan,

indera

penghiduan dan indera pendengaran. Oleh sebab inilah, individu dengan


usia lanjut susah untuk mendapatkan pekerjaan, karena banyak lapangan
kerja membutuhkan tenaga serta keahlian dari individu yang berusia realtif
lebih muda
2. Kondisi komorbid yang menyertai, seperti penyakit kronik pada individu
geriatri.
3. Skill serta tenaga yang menurun, sehingga individu geriatri bukan
merupakan pilihan dari banyak lapangan kerja yang menyediakan pekerjaan.
Berbagai faktor resiko diatas menyebabkan, individu yang berusia relatif tua
atau individu geriatri kehilangan kesempatan memperoleh pekerjaan yang
menyebabkan tingkat produktivitas serta pemasukannya rendah dan
berlanjut pada kemiskinan atau poverty yang banyak dialami oleh individu
geriatri.

2.1.10 Gangguan Tidur


A. Definisi
Gangguan tidur dapat dikategorikan menjadi: 1) rasa mengantuk berlebih
(excessive sleepiness), yang mungkin disebabkan oleh kesulitan dalam
memulai tidur, kesulkitan dalam mempertahankan fase tidur yang optimal,
terbangun sebelum waktunya, gangguan tidur lainnya serta fase tidur yang

15

terputus-putus. Terdapat berbagai tipe dari diagnosis gangguan tidur dan


gangguan tidur yang sering dilaporkan terjadi pada pasien geriatri adalah
apne tidur yang obstruktif atau sleep obstructive apne (OSA),insomnia, serta
restless legs syndrome.(Shen,2006)
B. Faktor Resiko
Faktor resiko terjadinya gangguan tidur pada pasien geriatri adalah:
1. Faktor psikis yang menjadi kondisi komorbid pada pasien geriatri
2. Konsumsi obat-obatan
3. Gangguan nyeri yang bersifat kornik, seperti osteoartritis dan proses
metastase
4. Kegagalan fungsi ventrikel kiri yang berkait orthopnea, dyspneu malam hari
yang bersifat paroksismal sehingga menyebabkan pasien terbangun dari
tidurnya
5. Pasien dengan penyakit paru kronik obstruktif, sehingga memperburuk
gejala hipoksemia, yang umumnya terjadi pada fasetidur
6. Pasien dengan keluhan infeksi saluran kencing bagian bawah yang dikenal
dengan gejala LUTS, termasuk diantaranya adalah pasein dengan
hiperplasia jinak dari kelenjar prostat.
7. Pasien dengan penyakit komorbid berupa parkinson, yang banyak
mengalami peningkatan frekuensi miksi serta memiliki kesulitan dalam
mengubah posisi tidurnya
8. Pasien dengan takiaritmia, penyakit refluk gastroesofageal,konstipasi serta
gangguan kulit berupa gatal.
2.1.11 Iatrogenic (Iatrogenesis)
A. Definisi:
Penyakit atau gejala yang timbul karena komplikasi atau reaksi obat yang
merugikan maupun setelah pembedahan atau prosedur medis lainnya.
(Darchy dkk,1998)
B. Faktor Risiko : (Pacala,2009)

16

1.
2.
3.
4.
5.

Multiple chronic disease


Multiple physicians
Multiple and inappropriate drugs
Hospitalization
Medical/surgical procedures
2.1.12. Instability (Instabilitas)
A. Definisi:
Berkurangnya kemampuan tubuh untuk menjaga keseimbangan sehingga
dapat meningkatkan risiko terjadinya jatuh. (Fried,2001)
B. Faktor Risiko: (Fried,2001)
1. Kelemahan
2. Gangguan penglihatan
3. Arthritis
4. Postural hypotension
5. Gait instability
6. Gangguan keseimbangan
7. Dizziness
8. Movement disorder
9. Gangguan kognisi
10. Environmental hazard
11. Riwayat jatuh sebelumnya
2.1.13 Impairment Of Memory
A. Definisi
Gangguan memori: kemunduran struktur anatomi dan fungsional yang
berkaitan dengan memori. (Inouye,2006)
1. Akut : delirium
Delirium merupakan penurunan fungsi kognitif dan atensi yang berssifat akut.
2. Kronik: demensia
Demensia merupakan menurun atau hilangnya kemampuan fungsi kognitif dan
B.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

memori.
Faktor risiko:
Usia
Jenis kelamin
Penyakit : diabetes, HT, obesitas, hipotensi
Riwayat keluarga
Depresi
Gaya hidup

2.1.14 Isolation (Depression)


A. Definisi
Keadaan di mana individu merasa tidak memiliki arti sosial, tidak
memiliki keterlibatan dengan orang lain, individu melakukan kontak sosial

B.
1.
2.
3.

dalam jumlah yang minimal dan gagal mejaga kualitas sosial yang baik.
(Kose,2005)
Faktor Risiko:
Illness & disability
Cognitive decline
Hidup sendiri
17

4.
5.
6.
7.

Hidup jauh dari keluarga atau anak/cucu


Decreased mobility due to illness
Retirement
Kehilangan keluarga atau teman

2.2 Demensia
2.2.1

Definisi Demensia
Demensia adalah berkurangnya kognisi pada tingkat kesadaran yang

stabil. Fungsi kognisi yang terserang demensia meliputi intelegensi umum,


pengetahuan dan memori, bahasa, pemecahan masalah, orientasi, persepsi,
atensi dan konsentrasi, daya nilai, serta kemampuan sosial. (Kaplan & Sadock,
2010). Gangguan ini dapat bersifat progresif atau statis, permanen atau
reversible. Potensi reversibilitas demensia berhubungan dengan kondisi
patologis yang mendasari dan ketersediaan serta penerapan terapi yang efektif. (
Kaplan &Sadock, 2010). Penurunan kemampuan kognitif dalam kasus ini,
mencakup berbagai fungsi kortikal termasuk di antaranya kapasitas memori,
pikiran, orientasi, komprehensi, kalkulasi, kemampuan belajar dan berbicara
serta kemampuan untuk mengambil keputusan. Selain gangguan kognitif,
deteriorisasi pada kontrol emosional, perilaku sosial, dan motivasi seringkali
menyertai demensia (WHO, 1992).
Penyakit Alzheimer (berkontribusi terhadap 60-70% kasus) merupakan
bentuk tersering dari demensia. Kontributor mayor lainnya adalah demensia
vaskular, demensia Lewy bodies, dan sejumlah penyakit lainnya yang berkaitan
dengan demensia frontotemporal. Adapun batasan jelas dari tiap subtipe
demensia masih kurang jelas, dan seringkali ditemukan kasus di mana pada 1
penderita, terdapat lebih dari 1 subtipe demensia (Alzheimers Disease
International, 2009). Penting pula membedakan demensia dengan delirium.
Delirium

merupakan keadaan

confusion (kebingungan), biasanya

timbul

mendadak, ditandai dengan gangguan memori dan orientasi (sering dengan


konfabulasi) dan biasanya disertai gerakan abnormal, halusinasi, ilusi, dan
penurunan afek. Untuk membedakan dari demensia, pada delirium terdapat
penurunan tingkat kesadaran selain dapat pula hyperalert. Delirium biasanya
berfluktuasi intensitasnya dan dapat menjadi demensia bila kelainan yang
mendasari tidak teratasi. Penyebab paling sering delirium meliputi ensefalopati
akibat penyakit infeksi, toksik dan faktor nutrisi, atau penyakit sistemik. Pasien
demensia secara khusus cenderung sering timbul delirium (PAPDI, 2015).
18

Tabel 2.1 Perbedaan Demensia dan Delirium

DEFINISI

SERANGAN

COURSE

DELIRIUM

DEMENSIA

Delirium adalah keadaan


darurat medis yang ditandai
dengan serangan akut dan
kebingungan yang
berfluktuasi/naik-turun,
gangguan terhadap
perhatian, pemikiran yang
tidak teratur dan / atau
penurunan tingkat
kesadaran.
Delirium tidak dapat
disamakan oleh demensia
yang sudah ada
sebelumnya; Namun, dapat
hidup berdampingan dengan
demensia.
Serangan mendadak : jam ke
hari
Dapat dipulihkan dengan
pengobatan
Sering naik-turun lebih dari
24 jam dan sering lebih
buruk di malam hari
Kewaspadaan yang naik-turun,
kesadaran, persepsi, pemikiran

Demensia adalah penurunan


yang bertahap dan progresif
terhadap dalam kemampuan
pemrosesan mental yang
mempengaruhi memori/ingatan
jangka pendek, komunikasi,
bahasa, penilaian, penalaran,
dan berpikir.
Demensia akhirnya
mempengaruhi memori jangka
panjang dan kemampuan untuk
melakukan tugas-tugas.
Kadang-kadang ada perubahan
suasana hati dan perilaku.

THINKING

FITUR
PSIKOTIK

POLA TIDUR
SUASANA HATI

Kesalahan persepsi dan ilusi

Terganggu tapi tanpa pola


yang ditetapkan.
Berbeda setiap malam nya
Ledakan emosional yang naikturun, marah, menangis, takut

Kemunduran bertahap selama


beberapa bulan ke tahun
Lambat, perkembangan kronis, dan
tidak dapat diubah
Penurunan kognitif terhadap
masalah ingatan ditambah satu
atau lebih dari hal-hal berikut:
aphasia, apraxia, agnosia, dan /
atau fungsi eksekutif.
Tanda-tandanya mungkin termasuk
delusi terhadap pencurian atau
penganiayaan dan / atau halusinasi
tergantung pada jenis demensia
nya
Mungkin akan terganggu dengan
seseorang individu
Pola yang terjadi hampir setiap
malam
Perasaan depresi terutama pada
awal demensia
Lazimnya, depresi dapat
meningkatkan demensia;
Namun, apatis adalah gejala
lebih umum dan mungkin

19

KEGIATAN
PSIKOMOTOR

PEDOMAN
SCREENING/ID
ENTIFIKASI

TES
LABORATORIU
M

Hiperaktif delirium:
agitasi/bergejolak, gelisah,
halusinasi
Hypoactive delirium:
unarousable / tidak dapat
dibangunkan, sangat
mengantuk
Delirium campuran:
kombinasi hiperaktif dan
hypoactive
Confusion Assessment
Method (CAM) - Sebuah
algoritma yang digunakan
untuk mengidentifikasi
delirium :
Identifikasi untuk delirium
adalah positif jika orang
memiliki fitur 1 & 2 ditambah
3 atau 4 seperti yang
tercantum di bawah ini.
(1) Adanya serangan akut
dan naik-turun DAN
(2) kekurangan perhatian
DAN LAINNYA
(3) berpikir tidak terorganisir
ATAU
(4) Perubahan tingkat
kesadaran
Kajian penyebab:
I WATCH DEATH
[Infections,Withdrawal, Acute
metabolic, Toxins, drugs,
CNS pathology, Hypoxia,
Deficiencies, Endocrine,
Acute vascular, Trauma,
Heavy metals]
Pemeriksaan delirium meliputi
tes berikut:
Hb, WBC, Na, K, Ca, O2
sats, gas darah, Urea,
Kreatinin, Tes Fungsi Liver,
X-ray dada, Urinalisis,
Alkohol / obat / identifikasi
toksikologi

bingung disertai dengan depresi.


Berkeliaran/ mencari keluar
gelisah atau
Suka menyendiri (mungkin
terkait dengan depresi).

Mini Mental Status Exam


(Folstein) mengukur fungsi
kognitif
Interpretasi Skor:
25-30 = biasa
20-24 = ringan
10-20 = moderat
<10 = gangguan parah
Clock Drawing Test (CDT)
Mini-Cog Identifikasi
Demensia
Interpretasi Skor:
0-2 = kemungkinan penurunan
kognitif yang tinggi
3 sampai 5 = kemungkinan
gangguan kognitif yang rendah
Jika masalah berkaitan dengan
perilaku, pertimbangkan untuk
menggunakan Cohen-Mansfield
Agitation Inventory (CMAI)

Pemeriksaan demensia meliputi tes


berikut:
CBC, TSH, glukosa darah,
Elektrolit, termasuk Ca

20

Kriteria diagnostik:
A. Gangguan kesadaran (yaitu,
pengurangan kejelasan
kesadaran terhadap lingkungan
sekitar) dengan kemampuan
untuk fokus berkurang,
mempertahankan atau
mengalihkan perhatian.
B. Perubahan kesadaran
(seperti kelemahan dalam
memori/mengingat, disorientasi,
gangguan bahasa) atau
pengembangan gangguan
persepsi yang tidak baik yang
dicatat sebagai perkembangan
KRITERIA DSMdemensia
IV
C. Gangguan berkembang
selama periode waktu yang
singkat (biasanya dari jam
sampai hari) dan cenderung
/naik-turun selama sehari.
D. Ada keterangan dari riwayat
sebelumnya, pemeriksaan fisik
atau temuan laboratorium
bahwa gangguan ini disebabkan
oleh akibat dari fisiologis
langsung dari suatu kondisi
medis umum.

LANGKAH
SELANJUTNYA

CATATAN

Kriteria diagnostik:
A. Perkembangan terhadap
beberapa kelemahan kognitif yang
diwujudkan oleh keduanya
1. penurunan memori (kemampuan
untuk mempelajari informasi baru
terganggu atau penurunan untuk
mengingat informasi yang dipelajari
sebelumnya).
2. satu (atau lebih) dari gangguan
kognitif berikut:
a) aphasia (gangguan bahasa)
b) apraxia (gangguan kemampuan
untuk melakukan kegiatan motorik
meskipun fungsi motorik utuh)
c) agnosia (kegagalan untuk
mengenali atau mengidentifikasi
objek meskipun fungsi sensorik
utuh)
d) gangguan pada fungsi eksekutif
(misalnya, perencanaan,
pengorganisasian, pengurutan,
peringkasan)

B. Penurunan kognitif dalam kriteria


di atas (Kriteria A1 dan A2) masingmasing menyebabkan penurunan
yang signifikan dalam fungsi sosial
atau pekerjaan dan merupakan
penurunan yang signifikan dari
tingkat sebelumnya.
Memberitahu:
Mengacu pada:
Dokter hadir secepatnya
Kehadiran Dokter
Geriatric Mental Health Outreach
(menganggap delirium
Team
sebagai darurat medis dan
Psychogeriatric Resource
mungkin memerlukan
Consultant (PRC) / konsultan
transfer ke Departemen
psikogeriatrik
Darurat)
Melibatkan:
Melibatkan:
Anggota tim internal termasuk
Anggota tim internal
Psychogeriatric Resource
termasuk Psychogeriatric
Consultant (PRP) [PIECES staf
Resource Person (PRP)
terlatih]
[PIECES staf terlatih]
Anggota keluarga
Anggota keluarga
Untuk masalah kekerasan atau pelecehan, ikuti protokol LTCH.

21

2.2.2

Etiologi

Penyebab demensia yang paling sering pada individu yang berusia diatas
65 tahun adalah (1) penyakit Alzheimer, (2) demensia vaskuler, dan (3)
campuran antara keduanya. Penyebab lain yang mencapai kira-kira 10 persen
diantaranya adalah demensia jisim Lewy (Lewy body dementia), penyakit Pick,
demensia frontotemporal, hidrosefalus tekanan normal, demensia alkoholik,
demensia infeksiosa (misalnya human immunodeficiency virus (HIV) atau sifilis)
dan penyakit Parkinson (Julianti dan Budiono, 2008).
Demensia adalah suatu sindrom yang umum dan mempunyai banyak
penyebab. Banyak jenis demensia yang melalui evaluasi dan penatalaksanaan
klinis berhubungan dengan penyebab yang reversibel seperti kelaianan
metabolik (misalnya hipotiroidisme), defisiensi nutrisi (misalnya defisiensi vitamin
B12 atau defisiensi asam folat), atau sindrom demensia akibat depresi. Pada
tabel 2.1 berikut ini dapat dilihat kemungkinan penyebab demensia (Kaplan and
Sadock, 2010).
Tabel 2.2 Berbagai Penyebab Demensia

Demensia Degeneratif

Penyakit Alzheimer
Demensia
frontotemporal

(misalnya; Penyakit Pick)


Penyakit Parkinson
Demensia Lewy Bodies
Ferokalsinosis
serebral

idiopatik (penyakit Fahr)


Kelumphan
supranuklear

Infeksi

Penyakit
penyakit

Prion

(misalnya

Creutzfeldt-Jakob,

bovine spongiform encephalitis,

Sindrom Gerstmann-Straussler)
Acquired immune deficiency

syndrome (AIDS)
Sifilis

yang progresif
Lain-lain

Penyakit Huntington
Penyakit Wilson
Leukodistrofi metakromatik
Neuroakantosistosis

Kelainan Metabolik

Trauma

Dementia

traumatic dementia
Subdural hematoma

pugilistica,

post

Kelainan jantung, vaskuler dan

22

Defisiensi vitamin (misalnya


vitamin B12, folat)
Endokrinopati (e.g.,
hipotiroidisme)
Gangguan
metabolisme

kronik
(contoh : uremia)

anoksia

Infark serebri (infark tunggak


mauapun mulitpel atau infark

lakunar)
Penyakit
(subcortical

Binswanger
arteriosclerotic

encephalopathy)
Insufisiensi
hemodinamik
(hipoperfusi atau hipoksia)

Kelainan Psikiatrik

Pseudodemensia

depresi
Penurunan
pada

Penyakit demielinisasi
pada

fungsi

kognitif

skizofrenia

tingkat

Sklerosis multiple

lanjut
Tumor

Tumor
metastase

Obat-obatan dan toksin


primer

maupun
(misalnya

meningioma atau metastasis

dari kanker payudara atau

Alkohol
Logam berat
Radiasi
Pseudodemensia
pengobatan

paru)

akibat
(misalnya

penggunaan antikolinergik)
Karbon monoksida

(Kaplan and Sadock, 2010)

2.2.3

Epidemiologi dan Prevalensi


Pada tahun 2005 penderita demensia di kawasan Asia Pasifik berjumlah

13,7 juta orang dan menjelang tahun 2050 jumlah ini akan meningkat menjadi
64,6 juta orang. Di kawasan Asia Pasifik mereka yang berusia di atas 60 tahun
dewasa ini berjumlah kurang dari 10% dari jumlah penduduk seluruhnya,
sedangkan yang berusia di atas 80 tahun berjumlah 1% dari jumlah penduduk.
Menjelang tahun 2050 angka-angka ini akan meningkat menjadi 25% untuk yang
berusia di atas 60 tahun dan 5% untuk yang berusia di atas 80 tahun.
Diestimasikan pada tahun 2050, populasi di atas 60 tahun di dunia akan menjadi
2 milyar. Efek negatif yang jelas dari populasi yang menua dengan cepat adalah

23

peningkatan jumlah orang dengan demensia. Antara 2-10% dari seluruh kasus,
onset demensia dimlai dari usia 65 tahun (WHO, 2012).
Insiden demensia meningkat secara bermakna seiring meningkatnya
usia. Setelah usia 65 tahun, prevalensi demensia meningkat dua kali lipat setiap
pertambahan usia 5 tahun. Secara keseluruhan prevalensi demensia pada
populasi berusia lebih dari 60 tahun adalah 5,6%. Penyebab tersering demensia
di Amerika dan Eropa adalah penyakit Alzheimer, sedangkan di Asia diperkirakan
demensia vascular merupakan penyebab tersering demensia. Tipe demensia
yang lebih jarang adalah demensia tipe Lewy body, demensia fronto-temporal
(FTD), dan demensia pada penyakit Parkinson (PAPDI, 2015).
Tanpa pencegahan dan pengobatan yang memadai, jumlah penderita
demensia akan terus bertambah, biaya yang dikeluarkan untuk merawat pasien
menjadi sorotan penting. Sebuah studi di Amerika Serikat menyebutkan bahwa
biaya yang dikeluarkan untuk penderita Alzheimer sangat tinggi, sekitar US$83,9
milyar sampai US$100 milyar pertahun (data di Amerika Serikat tahun 1996).
Biaya-biaya tersebut selain meliputi biaya medis, perawatan jangka panjang
(longlerm care), dan perawatan di rumah (home care), juga perlu diperhitungkan
hilangnya produktivitas pramuwerdha (caregivers). Dari segi sosial, keterlibatan
emosional pasien dan keluarganya juga patut menjadi pertimbangan karena
akan menjadi sumber morbiditas yang bermakna, antara lain akan mengalami
stres psikologis yang bermakna (PAPDI, 2009).

2.2.4 Faktor Risiko Demensia


Berikut ini adalah beberapa hal yang disebutkan dapat menjadi faktor
risiko demensia, secara khusus pada demensia Alzheimer :

Tingkat pendidikan yang rendah: risiko terjadinya penyakit Alzheimer lebih


tinggi pada orang dengan pendidikan rendah. Orang-orang yang lebih
sedikit mengeyam pendidikan memiliki risiko yang lebih tinggi menderita
demensia. Beberapa peneliti mempercayai pendidikan yang lebih lama
menyebabkan

manusia

memiliki

cognitive

reserve

sehingga

memungkinkan otak memiliki kompensasi yang lebih baik terhadap

perubahan yang terjadi pada otak itu sendiri.


Kehidupan sosial dan mental yang kurang aktif: berhubungan dengan
cognitive reserve yang rendah.

24

Penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, serta


berbagai faktor risiko timbulnya aterosklerosis dan gangguan sirkulasi

pembuluh darah otak.


Trauma otak: orang yang pernah trauma otak sedang (sampai
mengakibatkan hilangnya kesadaran) memiliki dua kali risiko terjadinya
demensia dibandingkan dengan orang yang tidak pernah memiliki trauma
otak dan hanya trauma otak ringan. Trauma otak berat meningkatkan

risiko sampai 4-5 kali.


Riwayat keluarga: Seseorang dengan riwayat keluarga pada anggota
keluarga tingkat-pertama (first-degree relative) mempunyai risiko dua
sampai tiga kali menderita penyakit Alzheimer, walaupun sebagian besar
pasien tidak mempunyai riwayat keluarga yang positif. Walaupun alel e4
Apo E bukan penyebab timbulnya demensia, namun munculnya alel ini
merupakan faktor utama yang mempermudah seseorang menderita
penyakit Alzheimer (PAPDI, 2009; Alzheimers Association 2013).

2.2.5

Patogenesis Demensia
Semua

saraf atau
kompleks

bentuk

demensia

adalah

dampak

hilangnya komunikasi antara sel-sel


dan banyak

faktor

dari

kematian

sel

ini. Otak manusia sangat

yang dapat mengganggu

fungsinya.

Telah

dilakukan beberapa penelitian yang sampai sekarang belum mendapatkan


gambaran yang jelas bagaimana demensia terjadi (Alagiakrishnan & Masaki,
2010).
Patologi dari penyakit vaskuler dan perubahan-perubahan kognisi telah
diteliti. Berbagai perubahan makroskopik dan mikroskopik diobservasi. Beberapa
penelitian telah berhasil menunjukkan lokasi dari kecenderungan lesi patologis,
yaitu bilateral dan melibatkan pembuluh-pembuluh darah besar (arteri serebri
anterior dan arteri serebri posterior). Penelitian-penelitian lain menunjukan
keberadaan lakuna-lakuna di otak misalnya di bagian anterolateral dan medial
thalamus, yang dihubungkan dengan defisit neuropsikologi yang berat. Pada
demensia vaskular, penyakit vaskular menghasilkan efek fokal atau difus pada
otak dan menyebabkan penurunan kognitif (Ladecola & Costantino, 2010).

25

Gambar 2.1 Mekanisme dari kerusakan white matter oleh faktor resiko
cardiovascular dan A (Ladecola & Costantino, 2010).
Stress oksidatif dan inflamasi yang diinduksi dari faktor-faktor tersebut
bertanggungjawab terhadap kerusakan dari fungsi unit neurovascular. Yang
menyebabkan hipoksia-iskemia, demyelinisasi axonal, dan penurunan potensi
perbaikan dari white matter dengan perubahan oligodendrycte progenitor cell.
Kerusakan dari white matter berkontribusi terhadap VCI dan AD (Ladecola &
Costantino, 2010).
Perjalanan penyakit yang klasik pada demensia adalah awitan (onset)
yang dimulai pada usia 50 atau 60-an dengan perburukan yang bertahap dalam
5 atau 10 tahun, yang sering berakhir dengan kematian. Usia awitan dan
kecepatan perburukan bervariasi diantara jenis-jenis demensia dan kategori
diagnostik masing-masing individu. Usia harapan hidup pada pasien dengan
demensia tipe Alzheimer adalah sekitar 8 tahun, dengan rentang 1 hingga 20
tahun. Data penelitian menunjukkan bahwa penderita demensia dengan awitan
yang dini atau dengan riwayat keluarga menderita demensia memiliki
kemungkinan perjalanan penyakit yang lebih cepat. Dari suatu penelitian terbaru
terhadap 821 penderita penyakit Alzheimer, rata-rata angka harapan hidup
adalah 3,5 tahun. Sekali demensia didiagnosis, pasien harus menjalani
pemeriksaan medis dan neurologis lengkap, karena 10 hingga 15 persen pasien
dengan demensia potensial mengalami perbaikan (reversible) jika terapi yang
diberikan telah dimulai sebelum kerusakan otak yang permanen terjadi (Kaplan
and Sadock, 2010),

26

Perjalanan penyakit yang paling umum diawali dengan beberapa tanda


yang samar yang mungkin diabaikan baik oleh pasien sendiri maupun oleh
orang-orang yang paling dekat dengan pasien. Awitan yang bertahap biasanya
merupakan gejala-gejala yang paling sering dikaitkan dengan demensia tipe
Alzheimer, demensia vaskuler, endokrinopati, tumor otak, dan gangguan
metabolisme. Sebaliknya, awitan pada demensia akibat trauma, serangan
jantung dengan hipoksia serebri, atau ensefalitis dapat terjadi secara mendadak
(Kaplan and Sadock, 2010). Meskipun gejala-gejala pada fase awal tidak jelas,
akan tetapi dalam perkembangannya dapat menjadi nyata dan keluarga pasien
biasanya akan membawa pasien untuk pergi berobat. Individu dengan demensia
dapat menjadi sensitif terhadap penggunaan benzodiazepin atau alkohol, dimana
penggunaan zat-zat tersebut dapat memicu agitasi, sifat agresif, atau perilaku
psikotik.
Pada stadium terminal dari demensia pasien dapat menjadi ibarat
cangkang kosong dalam diri mereka sendiri, pasien mengalami disorientasi,
inkoheren, amnestik, dan inkontinensia urin dan inkontinensia alvi. Dengan terapi
psikososial dan farmakologis dan mungkin juga oleh karena perbaikan bagianbagian otak (self-healing), gejala-gejala pada demensia dapat berlangsung
lambat untuk beberapa waktu atau dapat juga berkurang sedikit. Regresi gejala
dapat terjadi pada demensia yang reversibel (misalnya demensia akibat
hipotiroidisme, hidrosefalus tekanan normal, dan tumor otak) setelah dilakukan
terapi. Perjalanan penyakit pada demensia bervariasi dari progresif yang stabil
(biasanya terlihat pada demensia tipe Alzheimer) hingga demensia dengan
perburukan (biasanya terlihat pada demensia vaskuler) menjadi demensia yang
stabil (seperti terlihat pada demensia yang terkait dengan trauma kepala)
(Kaplan and Sadock, 2010).

2.2.6

Klasifikasi Demensia

Adapun klasifikasi demensia berdasarkan Group Health, terbagi menjadi:


A. Stadium Awal:
Lupa kejadian yang baru saja terjadi
Penurunan kemampuan dalam berhitung

27

Kesulitan menyelesaikan tugas, seperti merencanakan makan malam


untuk tamu, membayar tagihan, atau mengelola keuangan
Melupakan sejarah diri seseorang
Menjadi moody, khususnya dalam situasi sosial atau tantangan mental
B. Stadium Ringan:
Mulai kekosongan dalam ingatan, mulai membutuhkan bantuan dalam
aktivitas harian. Pada stadium ini terdapat gejala:
Tidak bisa mengulang alamat atau nomor telpon atau asal sekolah
sendiri
Bingung sekarang berada dimana dan hari apa
Memiliki permasalahan dalam berhitung
Membutuhkan bantuan memilih pakaian berdasarkan musim atau
tujuan
Masih mengingat hal detail mengenai dirinya dan keluarga
Tidak membutuhkan bantuan saat makan atau ke toilet
C. Stadium Lambat:
Ingatan menjadi semakin buruk, perubahan personalitas membuat
membutuhkan bantuan sehari-hari. Pada stadi ini, individu menjadi:
Ketidaksadaran akan kejadian yang baru terjadi disekelilingnya
Mengingat nama sendiri tapi kesulitan dengan sejarah diri sendiri
Dapat membedakan wajah familiar dan bukan familiar namun sulit

mengingat nama pasangan atau pramuwedha


Membutuhkan bantuan berpakaian, apabila tidak dibimbing, dapat
keliru seperti memakai piyama dalam pakaian harian atau memakai

sepatu dengan kaki yang salah


Perubahan pola tidur, seperti tidur sepanjang hari dan menjadi gelisah

pada malam hari


Membutuhkan bantuan ke kamar mandi
Semakin meningkatnya permasalahan dalam mengontrol kandung

kemih
Pengalaman personal dan kepribadian berubah termasuk menjadi
curiga dan berkhayal (seperti menganggap pramuwedha adalah
penipu) memaksa, mengulang kebiasaan (seperti meremas tangan

atau merobek tisu)


Cenderung keluyuran sendiri atau hilang

D. Stadium Akhir:
Pada stadium ini, akan didapatkan:
Masih dapat berbicara kata atau kalimat, namun membutuhkan
bantuan dalam keseharian, seperti makan atau menggunakan toilet

28

Kurangnya kemampuan untuk merespon lingkungan atau masuk

dalam percakapan
Kurangnya tersenyum, duduk tanpa bantuan, dan menggenggam

2.2.7

tangannya
Hilangnya kemapuan dalam mengontrol perpindahan:
- Refleks menjadi abnormal
- Otot menjadi kaku
- Gangguan menelan

Diagnosis Demensia
Evaluasi terhadap pasien dengan kecurigaan demensia harus dilakukan

dari berbagai segi, karena selain menetapkan seorang pasien mengalami


demensia atau tidak, juga harus ditentukan berat-ringannya penyakit, serta tipe
demensianya. Hal ini berpengaruh pada penatalaksanaan dan prognosisnya.
Diagnosis demensia ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis yang sesuai
dengan Diagnosis and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi keempat
(DSM-IV). Sehingga, diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang yang tepat (Rochmah, 2009).
2.2.7.1 Anamnesis
Kriteria

Diagnosis

Demensia

berdasarkan

American

Psychiatric

Association, tahun 2000 yang tertulis dalam Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders, 4th Edition (DSM-IV):
a. Muncul defisit kognitif multipel yang bermanifestasi pada kedua keadaan
berikut:
1. Gangguan memori (ketidakmampuan untuk mempelajari informasi
baru atau untuk mengingat informasi baru atau untuk mengingat
2.

informasi yang baru saja dipelajari)


Satu (atau lebih) gangguan kognitif berikut:
a. Afasia (gangguan berbahasa)
b. Apraksia (ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas motorik
walaupun fungsi motorik masih normal)
c. Agnosia (kegagalan untuk mengenali atau mengidentifikasi benda
walaupun fungsi sensorik masih normal)
d. Gangguan fungsi eksekutif seperti merencanakan, mengorganisasi,

berpikir runut, berpikir abstrak)


b. Defisit kognitif yang terdapat pada kriteria A1 dan A2 menyebabkan
gangguan bermakna pada fungsi sosial dan okupasi serta menunjukkan
penurunan yang bermakna dari fungsi sebelumnya.

29

Anamnesis mengenai keluhan sebaiknya dilakukan pada penderita dan


orang lain yang sehari-hari berhubungan langsung dengan penderita. Hal yang
paling penting untuk diperhatikan adalah apakah ada penurunan fungsi terutama
fungsi kognitif dibandingkan dengan sebelumnya. Anamnesis harus terfokus
pada onset, lamanya, dan bagaimana laju progresi penurunan fungsi kognitif
terjadi.
Berikut contoh anamnesis pada penderita demensia:
Pernahkah ada kesulitan ingatan, disorientasi, konsentrasi, dan apatis?
Adakah akibat fungsional atau sosial (pengucilan, malnutrisi, dan sebagainya)?
Adakah pemicu yang jelas, seperti cedera kepala?
Adakah kemunduran mendadak? Adakah pemicunya (misalnya perubahan
obat, penyakit lain, atau perubahan lingkungan)?
Adakah kemunduran gradual atau bertahap?
Adakah tanda-tanda hipotiroidisme?
Adakah tanda yang menunjukkan penyakit fisik?
Adakah tanda neurologis yang tidak biasa (misalnya ataksia, kelemahan,
mioklonus, nyeri kepala, atau gejala neuropati)?
Adakah tanda-tanda depresi? Hati-hati terhadap pseudodemensia. Gejala
depresi seperti insomnia dan kehilangan berat badan sering ditemukan pada
pseudodemensia akibat depresi, contohnya disebabkan oleh anggota keluarga
yang baru ini meninggal.
Riwayat penyakit dahulu juga perlu ditanyakan untuk mengetahui faktor
risiko.
Adakah riwayat penyakit lain sebelumnya, khususnya penyakit ateromatosa
dan faktor risikonya?
Riwayat stroke? Riwayat adanya stroke dengan progresi bertahap dan tidak
teratur mengarah pada demensia multi-infark.
Adakah riwayat kondisi neurologis lain sebelumnya?
Diarahkan pula untuk menanyakan faktor risiko seperti trauma kepala
berulang, infeksi susunan saraf pusat akibat sifilis (neurosifilis), intoksikasi bahan
kimia pada pekerja pabrik.
Riwayat pengobatan, antara lain,
Apakah pasien mengkonsumsi obat, khususnya penggunaan obat-obatan
jangka panjang, seperti sedatif, tranquilizer, dan sebagainya?
Apakah pasien sedang menjalani terapi untuk demensia (misalnya inhibitor
kolinesterase)?
Adakah tanda-tanda penyalahgunaan alkohol?
Riwayat keluarga juga harus dievaluasi, mengingat bahwa pada penyakit
Alzeimer, FTD, dan penyakit Huntington sebagai salah satu penyebab demensia
terdapat kecenderungan

familial. Riwayat sosial juga dievaluasi. Tentukan

deskripsi lengkap dari situasi sosial, orang yang merawat, dukungan, dan
keluarga (Gleadle, 2007; Rochmah, 2009).
30

2.2.7.2 Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan fisik pada pasien yang dicurigai demensia juga perlu
dilakukan. Selain pemeriksaan dari kepala hingga kaki, pemeriksaan neurologis
juga diperlukan untuk mencari keterlibatan sistem saraf dan penyakit sistemik
yang mungkin dapat dihubungkan dengan gangguan kognitifnya. Pemeriksaan
fisik khususnya yang perlu diperhatikan adalah pendengaran dan penglihatan.
Kesulitan

merespon

lingkungan

dapat

menyebabkan

kebingungan

dan

disorientasi pada pasien yang sering disalahartikan sebagai demensia. Pada


usia lanjut defisit sensorik seperti pada pendengaran dan penglihatan sering
terjadi.
Pemeriksaan neurologis antara lain pemeriksaan sensorik, motorik,
kekuatan dan tonus otot, tremor, dan refleks patologi. Umumnya penyakit
Alzheimer tidak menunjukkan gangguan sistem motorik kecuali pada tahap
lanjut. Kekakuan motorik dan bagian tubuh aksial, hemiparesis, parkinsonisme,
mioklonus, atau gangguan motorik lain umumnya timbul pada FTD, DLB, atau
demensia multi-infark. Pemeriksaan neurologis juga ntuk menemukan kelainan
yang mengindikasikan terjadi gangguan vaskuler (Rochmah, 2009).
Diperlukan pemeriksaan penunjang lain untuk menunjang diagnosis, salah
satunya penilaian status mental dengan Mini-Mental State Examination (MMSE),
yaitu untuk mengevaluasi dan konfirmasi penurunan fungsi kognitif dan dapat
digunakan untuk memantau perjalanan penyakit. Pemeriksaan ini tidak sensitif
pada demensia awal dan hasil akan berbeda dengan usia dan latar belakang
pendidikan. Pemeriksaan dengan skor maksimum 30 yang berisikan uji orientasi,
memori kerja dan memori episodik, komprehensi bahasa, menyebutkan kata,
dan mengulang kata (NCCC, 2003). Adapun pemeriksaan lain seperti Functional
Activities Questionnaire (FAQ) dan Activities of Daily Living (ADL) untuk
mengetahui status fungsional. Serta Geriatric Depression Scale and Single-Item
Depression Indicator untuk penilaian depresi (NCCC, 2003).
2.2.7.3 Pemeriksaan Penunjang
Tidak semua penderita yang diduga demensia melakukan pemeriksaan
laboratorium. Pemeriksaan laboratorium digunakan apabila terdapat dugaan
penyebab terjadinya demensia bersifat reversibel dan dapat diatasi seharusnya
tidak boleh terlewat. Pemeriksaan yang diperlukan adalah pemeriksaan fungsi
tiroid, kadar vitamin B12, darah lengkap, glukosa, elektrolit, dan VDRL Penyebab
sistemik

seperti

defisiensi

vitamin

B12,

intoksikasi

logam

berat,

dan

hipotiroidisme dapat menunjukkan gejala yang khas (Rochmah, 2009).


31

Pemeriksaan penunjang yang direkomendasikan adalah CT scan/MRI


kepala. Pemeriksaan ini dpaat mengidentifikasi tumor primer atau sekunder,
lokasi area infark, hematoma subdural, dan memperkirakan adanya hidrosefalus
bertekanan normal atau penyakit white matter yang luas. Abnormalitas white
matter yang luas berkolerasi dengan demensia vaskular. CT scan/MRI kepala
juga mendukung diagnosis penyakit Alzheimer, terutama apabila ditemukan atrofi
hipokampus selain adanya atrofi kortikal yang difus (Department of Family
Medicine, 2011).
Berdasarkan

Canadian

Consensus

Conference

on

Dementia,

pemeriksaan CT scan kepala direkomendasikan apabila terdapat kriteria:


Berusia kurang dari 60 tahun
Berlangsung dengan cepat, sekitar 1-2 bulan kemunduran fungsi
kognitif yang tidak bisa dijelaskan
Terdapat durasi demensia yang singkat (kurang dari 2 tahun)
Baru saja mengalami trauma kepala
Gejala neurologis yang tidak jelas, seperti terdapat onset sakit kepala
berat yang baru atau kejang)
Riwayat kanker, khususnya di area dan yang bersifat metastase ke
otak
Menggunakan antikoagulan atau riwayat perdarahan
Riwayat inkontinensia urin dan gangguan gaya berjalan awal pada
demensia
Terdapat tanda lokal baru, seperti hemiparesis atau refleks Babinski
Gejala kognitif yang tidak biasa atau atipikal, seperti afasia progresif
Gangguan gaya berjalan
2.2.8

Tatalaksana
Tujuan utama penatalaksanaan pada seorang pasien demensia adalah

mengobati penyebab demensia yang dapat dikoreksi dan menyediakan situasi


yang nyaman dan mendukung bagi pasien.
2.2.8.1 Tatalaksana Non Farmakologis
Jenis dukungan penderita dan keluarga serta pramuwedha akan
dibutuhkan seiring dengan progresivitas penyakit. Keluarga semestinya
menyadari penyakit ini berhubungan dengan defisit terhadap ingatan,
perilaku, suasana hati, dan fungsi, seperti inkontinensia, imobilitas, dan
kebingungan.
Berikut tujuan tatalaksana berdasarkan progresivitas penyakit:
Stadium Penyakit

Tujuan Terapi

32

Gangguan
kognitif
ingatan ringan

ringan/hilang

Early-stage Dementia

Mid-stage Dementia

Late-Stage Dementia
End-Stage Dementia

Pertahankan fungsi, keselamatan,


dan ketidaktergantungan
Mengurangi
atau
berhenti
medikasi
yang
berefek
menurunkan kognitif
Pertahankan fungsi, keselamatan,
dan ketidaktergantungan
Mengurangi
atau
berhenti
medikasi
yang
berefek
menurunkan kognitif
Pellihara fungsi, keselamatan, dan
ketidaktergantungan
Mengembangkan
ketrampilan
yang
mendukung
kehidupan
dirumah
dan
memperlambat
progresivitas
Pelihara
keselamatan,
kenyamanan, dan martabat
Mempertimbangkan dibawa ke
panti wedha

(Group Health, 2012)


Adapun berbagai tatalaksana non farmakologis, antara lain:
Program Intervensi Pramuwedha (Caregivers)
Kerjasama yang baik antara dokter dan pramuwedha (caregivers)
diperlukan. Sehingga diperlukan edukasi terhadap pasien, keluarga pasien,
serta pramuwerdha mengenai demensia dan tatalaksananya. Pramuwerdha
merupakan orang yang paling mengerti dengan kondisi pasien dari hari ke
hari

dan

bertanggung

jawab

terhadap

pemberian

obat

dan

makanan,mengimplementasikan terapi non farmakologis terhadap pasien,


meningkatkan status kesehatan umum pasien, serta memberikan waktu yang
sangat berarti sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup pasien
demensia.

Stimulasi Kognitif
Stimulasi kognitif menghasilkan dampak klinis yang positif pada fungsi

kognitif pederita demensia. Pada stadium awal, dokter harus mengusahakan


berbagai aktivitas dalam rangka mempertahankan status kesehatan pasien,
seperti melakukan latihan (olahraga ringan), mengendalikan hipertensi dan
berbagai penyakit lain, imunisasi terhadap pneumokokkal dan influenza,
higienitas mulut dan gigi, serta mengupayakan kacamata dan alat bantu
dengar apabila terdapat gangguan penglihatan atau pendengaran. Memakai

33

kacamata, alat bantu dengar jika dibutuhkan. Memakai walker dan quad
canes lebih dianjurkan dan pemakaian kursi roda sebaiknya dihindari. Serta
pemakaian alat lain yang mengkompensasi kemunduran kognitif pasien dan
ingatan termasuk modifikasi lingkungan, tugas sederhana, dan aktivitas yang
cocok.

Desain Lingkungan
Apabila

penderita

dipindahkan

ke

panti

wedha

merupakan

malapetaka bagi pasien yang tidak dapat mengingat dan memfamiliarkan


lingkungan baru. Untuk mengurangi reaksi malapetaka, sebaiknya ruangan
pasien memiliki jendela, kalender yang besar (ditandai dari hari ke hari), jam
yang besar, sebaiknya digital. Foto keluarga dan barang-barang personal
sebaiknya dibawa, dianjurkan pula untuk langganan koran. Kunjungan dari
keluarga dan teman yang rutin juga diperlukan.

Stimulasi Multisensorik dan Terapi Kombinasi


Demensia terkadang mengubah modalitas sensorik. Hal yang dapat

meningkatkan stimulasi multi sensorik dibutuhkan bervariasi peralatan seperti


efek cahaya, musik yang relax, perlengkapan pijat, wewangian yang
menciptakan lingkungan multisensorik.

Aktivitas Rekreasi
Aktivitas rekreasi memberikan kesempatan pada penderita demensia

untuk sibuk dalam aktivitas yang berarti dan terkadang digunakan untuk
memfasilitasi kebutuhan berkomunikasi, self esteem, pengertian identitas dan
produktivitas. Aktivitas

yang dilakukan sebagai ekspresi diri seperti

menggambar, bermain musik, seni, prakarya, memasak, bermain games dan


berinteraksi dengan hewan peliharaan. Pelatihan asah otak juga penting,
seperti bermain kartu dan menyusun puzzle. Pada fase lanjut, hal yang
sangat penting untuk memenuhi kebutuhan dasar pasien seperti nutrisi,
hidrasi, mobilisasi, dan perawatan kulit untuk mencegah ulcus decubitus
(Rochmah, 2009; SIGN 2006).
2.2.8.2 Tatalaksana Farmakologis
Pada demensia terjadi kemunduran kognitif dan terganggunya
fungsi. Gejala yang muncul pada demensia seperti agitasi, mudah marah,
gangguan tidur,berkhayal, halusinasi atau agresi. Abnormalitas dalam

34

neuron kolinergik menyebabkan perubahan patologis pada otak. Tacrine


(tetrahydroaminoacridine), donepezil, rivastigmin, dan galantamin adalah
kolinesterase inhibitor yang telah disetujui oleh U.S Food and Drug
Administration (FDA). Obat-obat tersebut menurunkan inaktivasi dari
neurotransmitter asetilkolin sehingga meningkatkan potensi neurotransmitter
kolinergik yang pada gilirannya menimbulkan perbaikan memori. Obatobatan tersebut sangat bermanfaat untuk seseorang dengan kehilangan
memori ringan hingga sedang yang memiliki neuron kolinergik basal yang
masih baik melalui penguatan neurotransmisi kolinergik (Julianti, 2008;
SIGN, 2006).
Donezepil ditoleransi dengan baik dan digunakan secara luas.
Takrin jarang

digunakan karena potensial menimbulkan hepatotoksisitas.

Tidak satupun dari obat-obatan tersebut dapat mencegah degenerasi neuron


progresif. Donepezil dimulai padadosis 5 mg perhari, dan dosis dinaikkan
menjadi 10 mg perhari setelah1 bulan pemakaian. Dosis rivastigmin
dinaikkan dari 1,5 mg 2 kali perhari menjadi 3 mg 2 kali perhari, kemudian
4,5 mg, hingga dosis maksimal 6 mg. Dosis dapat dinaikkan pada interval
antara 1-4 minggu. Sementara galantamin diberikan dengan dosis awal 4 mg
2 kali perhari, dinaikkan menjadi 8 mg dan kemudian 12 mg. Dosis dapat
dinaikkan pada obat-obatan tersebut pada interval antara 1 sampai 4
minggu, efek samping umumnya lebih minimal bila peningkatan dosisnya
dilakukan lebih lama. Pemakaian obat-obatan tersebut dapat meningkatkan
fungsi kognitif terutama pada penderita demensia ringan dan sedang. Selain
itu lebih dapat mempertahankan kemampuan untuk aktivitas kehidupan
sehari-hari, lebih sedikit timbul perubahan perilaku, lebih tidak tergantung
kepada pramuwedha dan lingkungan sekitar, serta dapat menunda masuk ke
panti werdha (Rochmah, 2009).
L-glutamate merupakan perangsang utama neurotransmitter pada
susunan syaraf pusat, hal ini melibatkan transmisi neuron, pembelajaran,
mengingat, dan plastisitas neuron. Peningkatan perangsangan aksi Lglutamate bermain peran dalam patogenesis Penyakit Alzheimer. Afinitas
rendah antagonis N-metil-D-aspartat seperti memantine dapat mencegah
perangsangan neurotoksisitas asam amino tanpa mencampuri aksi glutamat
yang penting dalam pembelajaran dan mengingat. . Diberikan pada

35

demensia sedang dan berat. Memantine diberikan 20 mg per hari (SIGN,


2006).
Antioksidan yang memberikan hasil yang cukup baik adalah alfa
tokoferol (vitamin E). Dengan mempertimbangkan stres oksidatif sebagai
salah satu dasar proses menua yang terlibat pada patofisiologi penyakit
Alzheimer. Vitamin E digunakan sebagai pencegahan primer demensia
dengan fungsi kognitif normal. Efek terapi vitamin E pada penderita
demensia maupun gangguan kognitif ringan hanya bermanfaat apabila
dikombinasi dengan kolinesterase inhibitor (Rochmah, 2009).

2.2.9 Prognosis
Prognosis demensia vaskular lebih bervariasi dari penyakit Alzheimer .
Pasien dengan penyakit alzheimer mempunyai angka harapan hidup rata-rata 410 tahun sesudah diagnosis dan biasanya meninggal dunia akibat infeksi
sekunder. Penyebab kematian lainnya untuk demensia secara umum adalah
komplikasi dari demensia, penyakit kardiovaskular dan berbagai lagi faktor
seperti keganasan (Sadock, 2007).

36

BAB III
KESIMPULAN
Demensia merupakan suatu sindroma penurunan kemampuan intelektual
progesif yang menyebabkan deteriorasi kognitif dan fungsional sehingga
mengakibatkan gangguan fungsi sosial, pekerjaan dan aktivitas sehari hari
(Alzheimers Disease International, 2009). Kondisi ini terutama muncul di usia
tua, sebagai akibat dari adanya sejumlah kelainan yang pada dasarnya
mempengaruhi kinerja otak manusia. Namun demikian, demensia bukanlah
bagian normal dari proses penuaan (WHO, 2012).
Demensia seringkali luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim
kesehatan. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal yang mudah dan
cepat, melainkan perlu waktu yang panjang sebelum memastikan seseorang
positif menderita demensia. Pasien dan keluarga juga sering menganggap
bahwa penurunan fungsi kognitif yang terjadi pada awal demensia (biasanya
ditandai dengan berkurangnya fungsi memori) merupakan suatu hal yang wajar
pada seorang yang sudah menua. Akibatnya, penurunan fungsi kognitif terus
akan berlanjut sampai akhimya mulai memengaruhi status fungsional pasien dan
pasien akan jatuh pada ketergantungan kepada lingkungan sekitamya. Saat ini
telah disadari bahwa diperlukan deteksi dini (PAPDI, 2009).
Proses

menua tidak

dengan

sendirinya

demensia. Penuaan menyebabkan terjadinya

menyebabkan

terjadinya

perubahan anatomi dan

biokimiawi di susunan syaraf pusat. Pada beberapa penderita tua terjadi


penurunan daya ingat dan gangguan psikomotor yang masih wajar, disebut
sebagai sifat pelupa benigna akibat penuaan (benign senescent forgetfullness).
Keadaan ini tidak menyebabkan gangguan pada aktivitas hidup sehari-hari (Buku
ajar Boedhi-Darmojo, 2009).
Penyakit Alzheimer (berkontribusi terhadap 60-70% kasus) merupakan
bentuk tersering dari demensia. Kontributor mayor lainnya adalah demensia
vaskular, demensia Lewy bodies, dan sejumlah penyakit lainnya yang berkaitan
dengan demensia frontotemporal. Adapun batasan jelas dari tiap subtipe
37

demensia masih kurang jelas, dan seringkali ditemukan kasus di mana pada 1
penderita, terdapat lebih dari 1 subtipe demensia (Alzheimers Disease
International, 2009).
Demensia merupakan suatu sindrom yang umum dan mempunyai banyak
penyebab. Kami mengelompokkan dalam Demensia Reversible dan Ireversible.
1. Penyebab Demensia Reversibel seperti penggunaan obat-obatan, kelainan
metabolik, dan kelainan psikiatrik.
2. Demensia Non-Reversibel terdiri dari penyakit degeneratif, infeksi, demensia
vaskuler, demensia traumatik.
Penyebab demensia yang reversibel maupun non-reversibel sangat
penting untuk diketahui. Untuk mengingat berbagai keadaan tersebut, berikut ini
dibuat jembatan keledai, sebagai berikut:"DEMENTIA". Drugs (Obat-obatan),
Emotional (gangguan emosi, misalnya depresi), Metabolik atau endokrin, Eye
and Ear (disfungsi mata dan telinga), Nutritional,Tumor dan Trauma, Infeksi,
Arteriosclerotik (komplikasi penyakit aterosklerosis, misal infark miokard, gagal
jantung) dan alkohol (Buku ajar Boedhi Darmojo, 2009).
Di bawah ini akan dijabarkan jenis-jenis demensia menurut Alzheimers
Association (2013). Demensia Alzheimer (AD), Demensia Vaskular, Demensia
dengan Lewy Bodies (DLB), Demensia Frontotemporal, Demensia Campuran
(mixed dementia.
Stadium dan Gejala Demensia
Adapun manifestasi dari demensia dapat dibagi ke dalam 3 stadium :
1. Stadium awal untuk 1-2 tahun pertama
2. Stadium menengah untuk 2-5 tahun berikutnya
3. Stadium akhir setelah 5 tahun berlangsung

Diagnosis Demensia
a)

Anamnesa

b)

Pemeriksaan fisik: Umumnya penyakit Alzheimer tidak menunjukkan


gangguan sistem motorik kecuali pada tahap lanjut. Kekakuan motorik dan
bagian tubuh aksial,hemiparesis, parkinsonisme,mioklonus,atau berbagai

38

gangguan motorik lain umumnya timbul pada FTD,Demensia dengan Lewy


Body (DLB),atau demensia multi-infark (Wiley, 2002).

c)

Neuropsikiatri
Fungsi pemeriksaan neuropsikologis ini untuk menentukan ada atau tidak
adanya gangguan fungsi kognitif umum dan mengetahui secara rinci pola
defisit yang terjadi. Tes psikologis ini juga bertujuan untuk menilai fungsi
yang ditampilkan oleh beberapa bagian otak yang berbeda-beda seperti
gangguan memori, kehilangan ekspresi, kalkulasi, perhatian dan pengertian
berbahasa.
Neuropatologi: CT Scan, MRI dan EEG ( Electroencephalography) untuk

mengidentifikasi aktifitas bangkitan yang suklinis. Sedang pada penyakit


alzheimer didapatkan perubahan gelombang lambat pada lobus frontalis yang
non spesifik (Stopford et al, 2008).
Penatalaksanaan Demensia dilakukan dengan pendekatan farmakologi
dan non-farmakologi. Diagnosis yang akurat sangat penting mengingat
progresifitas penyakit dapat dihambat atau bahkan disembuhkan jika terapi yang
tepat dapat diberikan. Tindakan pengukuran untuk pencegahan adalah penting
terutama

pada demensia

vaskuler. Pengukuran

tersebut

dapat

berupa

pengaturan diet, olahraga, dan pengontrolan terhadap diabetes dan hipertensi.


Obat-obatan yang diberikan dapat berupa antihipertensi, antikoagulan, atau
antiplatelet. Pengontrolan terhadap tekanan darah harus dilakukan sehingga
tekanan darah pasien dapat dijaga agar berada dalam batas normal. (Kaplan and
Sadock, 2010) Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor dan diuretik telah
dibuktikan

tidak

berhubungan

dengan

perburukan

fungsi

kognitif

dan

diperkirakan hal itu disebabkan oleh efek penurunan tekanan darah tanpa
mempengaruhi aliran darah otak. (Julianti dan Budiono, 2008).
Pengobatan penyakit alzheimer masih sangat terbatas oleh karena
penyebab dan patofisiologis masih belum jelas. Pengobatan simptomatik dan
suportif seakan hanya memberikan rasa puas pada penderita dan keluarga
(Smith and David, 2007). Pengobatan lain yang bisa digunakan seperti golongan
Inhibitor kolinesterase, Thiamin, Nootropik, Klonidin, Haloperidol.

39

Prognosis demensia vaskular lebih bervariasi dari penyakit Alzheimer .


Pasien dengan penyakit alzheimer mempunyai angka harapan hidup rata-rata 410 tahun sesudah diagnosis dan biasanya meninggal dunia akibat infeksi
sekunder. Penyebab kematian lainnya untuk demensia secara umum adalah
komplikasi dari demensia, penyakit kardiovaskular dan berbagai lagi faktor
seperti keganasan (Sadock, 2007).

40

DAFTAR PUSTAKA
Alafuzoff I, Arzberger T, Al-Sarraj S, et al. 2008. Staging of neurofibrillary pathology
in Alzheimers disease: a study of the BrainNet Europe Consortium. Brain
Pathol
Alzheimers Association. Policy Brief for Heads of Government: The Global Impact of
Dementia 20132050. 2013. p 1-8.
American Psychiatric Association, 2000. Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders, 4th Edition.
Basuki, D., & Soemah, E. N. (2015). HUBUNGAN USIA DENGAN TINGKAT
DEMENSIA PADA LANSIA MENURUT PEMERIKSAAAN PORTABLE
STATUS MENTAL EXAMINATION DI DESA KEMANTREN KECAMATAN
TULANGAN KABUPATEN SIDOARJO. JURNAL
KEPERAWATAN
SEHAT,11(01).
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. 2015. Demensia. hal: 3801-3808.
Chronic Constipation: An Evidence-Based Review . Lawrence Leung, MBBChir,
FRACGP, FRCGP, . Taylor Riutta, MD, . Jyoti Kotecha, MPA,
MRSC and Walter Rosser, MD, MRCGP, FCFP)
Darchy B, Le Miere E, Figueredo B, Bavoux E, Cadoux G, Domart Y. Patients
admitted to the intensive care unit for iatrogenic disease. Risk factors and
consequences. Rev Med Interne. 1998;19(7):470478. French
Department of Family Medicine, 2011. Approach to Dementia. Schulich School of
Medicine and Dentistry
Fried LP, Tangen CM, Walston J, et al. Frailty in older adults: evidence for a
phenotype. J Gerontol A Biol Sci Med Sci. 2001;56:M146M156
Gleadle J. 2007. Kondisi-kondisi: Neurologi. At a Glance Anamnesis dan
Pemeriksaan Fisik. Jakarta: Erlangga Medical Series
Group Health. 2012. Dementia and Cognitive Impairment Diagnosis and Treatment
Guideline. December 2012
Hajjar, R. R., & Kamel, H. K. (2004). Sexuality in the nursing home, part 1: Attitudes
and barriers to sexual expression. Journal of the American Medical Directors
Association, 5(2 Suppl.), S42S47. Evidence Level V: Review.)
Humes, L. E., Busey, T. A., Craig, J. C., & Kewley-Port, D. (2009). The effects of age
on sensory thresholds and temporal gap detection in hearing, vision, and
touch. Attention,
Perception
&
Psychophysics, 71(4),
860871.
http://doi.org/10.3758/APP.71.4.860)
Inouye SK. Delirium in older persons. N Engl J Med. 2006;354:11571165.

41

Jefferies, K and Agrawal, N. 2009. Early-Onset Dementia.


ContinuingProfessional Development. 15: 380-388.

Journal

of

Jeffrey L. Cummings. 2008. The Black Book of Alzheimers disease,Part 1.MD


Primary Psychiatry.
Kose N, Cuvalci S, Ekici G, et al. The risk factors of fall and their correlation with
balance, depression, cognitive impairment and mobility skills in elderly
nursing home residents. Saudi Med J. 2005;26:978981
Ladecola, Costantino. 2010. The overlap between neurodegenerative and vascular
factors
in
the
pathogenesis
of
dementia. Acta
neuropathol
journal,September; 120(3): 287-296, NewYork.
Lloyd-Sherlock (2000) Old age and Poverty in Developing Countries: New Policy
Challenges)
Maslim R. 2001. Buku saku Diagnosis Gangguan Jiwa rujukan ringkas dari PPDGJ
III. Jakarta; PT Nuh Jaya.
National Chronic Care Consortium (NCCC), 2003. Tools for Early Identification,
Assessment, and Treatment for People with Alzheimers Disease and
Dementia.
Nice. 2015. NICE clinical guideline 42: Dementia. United Kingdom. Hal 25.
Pacala JT. Prevention of iatrogenic complications in the elderly. Geriatrics. 2009.
Available
from:
http://www.merckmanuals.com/professional/sec23/ch342/ch342e.html.
Accessed January 18, 2016.
Rochmah W, Murti KH. 2009. Demensia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam hal 837844. Jakarta: Interna Publishing.
Sadock, Benjamin James; Sadock, Virginia Alcott. 2010. Delirium, dementia,
amnestic and cognitive disorders. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry:
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. Lippincott Williams &
Wilkins
Scottish Intercollegiate Guidelines Network (SIGN). Management of Patients With
Dementia. A National Clinical Guidline. 2006. Edinburgh 86: 1-53
Sharon K, Stephanie S, Mary ET, George AK. 2007. Geriatri syndromes: clinical,
Shen, J., Barbera, J., & Shapiro, C.M. (2006). Distinguishing sleepiness and fatigue:
Focus on definition and measurement. Sleep Medicine Reviews, 10(1), 63
76.)
Stopford CL, Snowden JS, Thompson JC, Neary D. 2008. Variability in cognitive
presentation of Alzheimers disease. Cortex 2008.
The American Geriatris Society. 55(5): 794-796

42

Tomb, A. 2004. Buku Saku Psikiatri, Delirium dan Amnestik serta Gangguan Kognitif
lainnya. EGC : Jakarta.
WHO. Dementia: A Public Health Priority. 2012. p: 1-102.
Wilcock G, Mobius HJ, Stoffler A. A double-blind, placebo-controlled multicentre
study of memantine in mild and moderate vascular dementia (MMM 500). Int
Clin Psychopharmacol 2002; 17

43