Anda di halaman 1dari 17

2.

4 Patofisiologi
Etiologi dari gangguan ini belum diketahui secara pasti. Namun terdapat
beberapa teori yang menjelaskan faktor yang diduga menyebabkan terjadinya
gangguan anxietas menyeluruh. Teori-teori tersebut antara lain:

A. TEORI BIOLOGIS
Susunan Saraf Otonom
Neurotransmiter
Penelitian genetika
Studi Pencitraan Otak
B. TEORI PSIKOLOGIS
Teori Psikoanalitik
Teori perilaku
Teori Eksistensi
A.

Kontribusi Ilmu Biologi


Area otak yang diduga terlibat pada timbulnya GAD adalah lobus
oksipitalis yang mempunyai reseptor benzodiazepine tertinggi di otak. Basal
ganglia, sistem limbik, dan korteks frontal juga dihipotesiskan terlibat pada
etiologi timbulnya GAD. Pada pasien GAD juga ditemukan sistem serotonergik
yang abnormal. Neurotransmiter yang berkaitan dengan GAD adalah GABA,
serotonin, norepinefrin, glutamate, dan kolesistokinin. Pemeriksaan PET
(Positron Emision Tomography) pada pasien GAD ditemukan penurunan
metabolisme di ganglia basal dan massa putih otak (Kaplan, 2015).
Lokus seruleus dan proyek raphe inti terutama menyalurkan impuls ke
sistem limbik dan korteks serebri. Dalam kombinasi dengan data dari studi
pencitraan otak, area ini menjadi fokus dari banyak pembuatan hipotesis
mengenai substrat neuroanatomis dari gangguan ansietas (Kaplan, 2015).
Selain menerima persarafan noradrenergik dan serotonergik, sistem
limbik juga mengandung konsentrasi tinggi reseptor GABA A. Studi ablasi dan
stimulasi pada primata selain manusia juga telah melibatkan sistem limbik dalam
timbulnya ansietas dan respon rasa takut. Dua area sistem limbik telah
mendapat perhatian khusus dalam literatur: meningkatnya aktivitas di jaras
septohippocampal, yang dapat menyebabkan ansietas; dan girus cingulate yang
dilibatkan terutama dalam patofisiologi gangguan obsesif kompulsif (Kaplan,
2015).
Korteks serebri frontalis terhubung dengan regio hipokampus, gyrus
cingulate, dan hipotalamus sehingga dapat terlibat dalam timbulnya gangguan

ansietas. Korteks temporalis juga terlibat sebagai lokasi patofisiologi gangguan


ansietas. Hubungan ini sebagian didasarkan pada kemiripan gambaran klinis dan
elektrofisiologi antara sejumlah pasien dengan epilepsi lobus frontalis dan pasien
dengan gangguan obsesif kompulsif (Kaplan, 2015).
Amigdala, merupakan pusat otak yang terletak dekat hippocampus,
memiliki koneksi anatomi penting yang memungkinkan untuk mengintegrasikan
informasi sensorik dan kognitif yang kemudian menentukan apakah akan ada
respon rasa takut. Secara spesifik, perasaan takut dapat diatur melalui hubungan
timbal-balik bahwa amigdala terbagi dalam area korteks prefrontal yang
mengatur emosi, yaitu korteks orbitofrontal dan anterior cingulate cortex. Namun,
ketakutan bukan hanya perasaan. Respons rasa takut juga dapat mencakup
respon motorik. Tergantung pada keadaan dan temperamen seseorang. Respon
motorik rasa takut diatur sebagian oleh hubungan antara amigdala dan
periaqueductal gray area dari batang otak (Stahl, 2013).

Gambar 1. Rasa takut dan Avoidance. Perasaan takut diregulasi oleh


hubungan timbal balik antara amigdala-ACC (Anterior Cingulate Cortex) dan
amigdala-OFC (Orbitofrontal Cortex). Overaktivasi dari jaras ini menimbulkan
rasa takut. Perasaan takut dapat diekspresikan melalui perilaku / respon motorik
yang

merupakan

hasil

hubungan

resiprokal

antara

amigdala-PAG

(Periaqueductal Gray).
Stimulasi sistem saraf otonom menimbulkan gejala tertentu, misalnya
kardiovaskular (contoh takikardi), muskular (contoh sakit kepala), gastrointestinal
(contoh diare), dan pernapasan (contoh takipneu). Manifestasi perifer ansietas ini
tidak khas pada gangguan ansietas dan tidak selalu berhubungan dengan

pengalaman subjektif ansietas. Saat ini telah menjadi pemikiran umum bahwa
ansietas sistem saraf pusat mendahului manifestasi perifer ansietas, kecuali jika
seorang pasien memiliki penyebab perifer spesifik, misalnya bila terdapat
feokromositoma. Sistem saraf otonom pada sejumlah pasien dengan gangguan
ansietas,

terutama

mereka

dengan

gangguan

ansietas,

menunjukkan

peningkatan tonus simpatik, beradaptasi lambat terhadap stimulus berulang, dan


berespon berlebihan terhadap stimulus sedang (Stahl, 2013).
Ada juga reaksi endokrin yang menyertai rasa takut, sebagian karena
hubungan antara amigdala dan hipotalamus, yang menyebabkan perubahan
dalam HPA (Hipotalamus-hipofisis-adrenal) axis, dan berhubungan dengan
tingkat kortisol. Kondisi kronis dan aktivasi persisten terhadap respon rasa takut
dapat menyebabkan peningkatan komorbiditas, yang meliputi meningkatnya
angka penyakit jantung koroner, diabetes tipe 2, dan stroke, serta juga
berpotensi terjadi atrofi hippocampal (Stahl, 2013).
Bukti yang konsisten menunjukkan bahwa banyak bentuk stres psikologis
yang meningkatkan sintesis dan pelepasan kortisol. Kortisol berfungsi untuk
untuk menyediakan kembali energi dan berkontribusi meningkatkan kesadaran,
kewaspadaan, fokus perhatian, dan pembentukan memori; menghambat
pertumbuhan dan sistem reproduksi; dan membatasi respon imun. Terlalu
banyak sekresi kortisol berkelanjutan dapat memiliki efek samping yang serius,
seperti hipertensi, osteoporosis, imunosupresi, resistensi insulin, dislipidemia,
diskoagulasi, dan pada akhirnya dapat menimbulkan aterosklerosis dan penyakit
kardiovaskular. Perubahan fungsi pada hipotalamus-hipofisis-adrenal-adrenal
(HPA) axis ditunjukkan pada PTSD. Pada pasien dengan gangguan panik,
ketumpulan respon hormon adrenocorticoid (ACTH) terhadap corticotropinreleasing factor (CRF) telah dilaporkan dalam beberapa penelitian (Kaplan,
2015).
Stimulasi sistem saraf otonom menyebabkan gejala kardiovaskular
tertentu (misalnya,takikardia), otot (misalnya, sakit kepala), gastrointestinal
(misalnya, diare), dan pernapasan (misalnya, takipnea). Sistem saraf otonom
dari
beberapa pasien dengan gangguan ansietas, terutama mereka dengan
gangguan panik, menyebabkan peningkatan tonus simpatik secara nyata,
adaptasi perlahan terhadap rangsangan berulang, dan berespon berlebihan
terhadap rangsangan moderat (Kaplan, 2015).

Pernapasan dapat berubah sebagai respon rasa takut, diatur sebagian


oleh hubungan antara amigdala dan inti parabrachial di batang otak. Respons
adaptif rasa takut adalah untuk mempercepat tingkat pernafasan untuk
meningkatkan kelangsungan hidup, tetapi bila berlebihan hal ini dapat
menyebabkan gejala yang tidak diinginkan seperti sesak napas, eksaserbasi
asma (Stahl, 2013).

Gambar 2. Respon Endokrin dan Pernapasan terhadap Rasa Takut.


Gejala rasa takut dapat merupakan efek dari endokrin misalnya peningkatan
kortisol yang terjadi karena aktivasi amigdala-HPA axis. Perubahan pola
pernapasan terjadi karena aktivasi amigdala-PBN (Parabrachial Nucleus).
Sistem saraf otonom yang selaras dengan takut, dan mampu memicu
respon dari sistem kardiovaskular, seperti peningkatan denyut nadi dan tekanan
darah sebagai reaksi perlawanan dan untuk mempertahankan kelangsungan
hidup terhadap ancaman nyata. Respon otonom dan kardiovaskular ini dimediasi
oleh koneksi antara amigdala dan locus coeruleus. Ketika respon otonom terjadi
berulang-ulang dan kronis yang dipicu sebagai bagian dari gangguan ansietas,
dapat menyebabkan peningkatan resiko aterosklerosis, iskemia jantung,
hipertensi, infark miokard, dan bahkan tiba-tiba kematian (Stahl, 2013).
Ansietas tidak hanya terjadi oleh stimulasi eksternal, namun juga dapat
dipicu oleh memori seseorang. Kecemasan dapat dipicu secara internal dari
memori traumatis yang tersimpan dalam hippocampus dan dapat diaktifkan oleh
amigdala, sehingga timbul respon takut. Hal ini terjadi terutama pada kondisi
seperti gangguan stres pasca trauma (Stahl, 2013).

Gambar 3. Respon sistem otonom. Adanya respon otonom terjadi


karena hubungan resiprokal antara amigdala-LC (Locus Coerolus).
Pengolahan respon rasa takut diatur oleh berbagai jaras neuronal yang
melewati amigdala. Setiap jaras menggunakan neurotransmiter tertentu yang
bekerja pada reseptor spesifik. Tidak hanya beberapa neurotransmitter yang
terlibat dalam produksi gejala kecemasan di tingkat dari amigdala, namun
banyak obat ansiolitik yang bekerja pada sistem neurotransmitter spesifik untuk
meringankan gejala ansietas. Regulator neurobiologis dari amigdala, diantaranya
adalah neurotransmitter GABA, 5HT, dan NE, voltage-gated ca channel (Stahl,
2013).

Gambar 4. Hubungan antara gejala ansietas dengan regio otak, sirkuit, dan
neurotransmitter

yang

meregulasinya.

Gejala

ansietas

ketakutan

berhubungan dengan gangguan fungsi jaras amigdala-centered; neurotransmitter


yang mengatur jaras ini antara lain serotonin (5HT), asam -aminobutyric

(GABA), glutamat, corticotropin-releasing factor (CRF), dan norepinefrin (NE).


Selain itu, voltage-gated ion channel juga terlibat dalam jaras ini.

Gambar 5. Hubungan antara gejala ansietas dengan regio otak, sirkuit, dan
neurotransmitter yang meregulasinya. Gejala kekhawatiran berhubungan
dengan gangguan fungsi jaras cortico-striato-thalamo-kortikal (CSTC), yang
diatur oleh serotonin (5HT), asam -aminobutyric (GABA), dopamin (DA),
norepinefrin (NE), glutamat, dan voltage-gated ion channel.
Gejala inti kedua dari gangguan ansietas, melibatkan jaras lain yang unik
(Gambar 5). Khawatir, yang dapat mencakup penderitaan cemas, harapan
memprihatinkan, pemikiran bencana atau katastropik, dan obsesi, berkaitan
dengan jaras umpan balik / feedback cortico-striato-thalamo-kortikal (CSTC) dari
korteks prefrontal. Beberapa ahli berteori bahwa jaras umpan balik CSTC yang
serupa mengatur gejala seperti merenung, obsesi, delusi, dan semua gejala
tersebut menjadi jenis pikiran berulang. Beberapa neurotransmiter dan regulator
memodulasi jaras ini, antara lain serotonin, GABA, dopamin, norepinefrin,
glutamat, dan voltage-gated ion channel. Hal ini sangat tumpang tindih dengan
banyak neurotransmitter yang sama dan yang memodulasi amigdala. Sejak
berbagai genotipe untuk enzim COMT (katekol-O-metil-transferase) mengatur
ketersediaan dopamin di korteks prefrontal, perbedaan ketersediaan dopamin
dapat berisiko menimbulkan rasa khawatir dan gangguan ansietas. Hal ini
membantu untuk menentukan apakah seseorang "dilahirkan khawatir" ataukah
seseorang yang rentan untuk mengembangkan sebuah gangguan ansietas,
terutama bila di bawah tekanan (Stahl, 2013).

Tiga neurotransmitter utama yang terkait dengan ansietas berdasarkan


studi hewan dan respons terhadap terapi oat adalah norepinefrin, serotonin dan
gamma-aminobutyric acid. Banyak informasi ilmu saraf dasar mengenai ansietas
diperoleh dari percobaan hewan yang melibatkan paradigma perilaku dan agen
psikoaktif. Salah satu model hewan untuk ansietas adalah uji konflik, yaitu hewan
diberikan stimulus yang positif (misalnya makanan) dan negatif (misalnya kejut
listrik). Obat ansiolitik (misalnya, benzodiazepin) cenderung memudahkan
adaptasi hewan pada situasi ini, tetapi obat lain (misalnya, amfetamin) merusak
lebih jauh respon perilaku hewan (Kaplan, 2015).
GABA dan Benzodiazepin
GABA (- Asam Aminobutirat) adalah salah satu neurotransmitter penting
yang berpperan dalam kecemasan dan mekanisme anxiolytic pada beberapa
obat yang digunakan dalam pengobatan gangguan cemas. GABA merupakan
neurotransmitter inhibisi penting pada otak dan biasanya beperan dalam regulasi
pada penurunan aktivitas neuron-neuron, termasuk di amygdala dan (coticostriato-thalamo-cortical). Benzodiazepin, merupakan anxiolytik yang paling
terkenal dan paling sering dikonsumsi, mekanisme kerjanya meningkatkan kerja
GABA pada tingkatan Amygdala dan tingkat kortex prefrontal dalam jaras CSTC
(cortico-striato-thalamo-cortical)

untuk

menghilangkan

kecemasan.

Untuk

mengetahui bagaimana GABA meregulasi lintasan otak pada kecemasan, dan


untuk mengetahui bagaimana benzodiazepin bekerja sebagai anxiolytik, hal
tersebut penting untuk memahami sistem neurotransmitter GABA, termasuk
bagaimana sintesa GABA, bagaimana kerja GABA pada sinaps, dan macam
reseptor GABA (Stahl, 2013).

Gambar 6. Produksi Gamma-Aminobutyric Acid (GABA)


Secara khusus, GABA diproduksi, atau disintesis, dari asam amino
glutamat (asam glutamat) melalui aksi enzim asam glutamat dekarboksilase,
atau GAD (Gambar 9-18). Setelah dibentuk pada neuron presinaptik, GABA
ditransporoleh inhibitor vesikular asam aminotransporter (VIAATs) ke vesikel
sinaptik, dimana GABA disimpan sampai dilepaskan ke sinaps selama
penghambatan neurotransmisi. Aksi GABA sinaptik ini dihentikan oleh presinaptik
GABA transporter (GAT), yang juga dikenal sebagai pompa GABA reuptake. Aksi
GABA juga dapat dihentikan oleh enzim GABA transaminase (GABA-T), yang
mengubah GABA menjadi zat inaktif (Stahl, 2013).

Gambar 7. Penghambatan Mekanisme Kerja GABA

Ada tiga jenis utama dari reseptor GABA dan berbagai subtipe. Jenis
utama adalah GABAA, GABAB, dan reseptor GABAC. Reseptor GABAA dan
GABAC keduanya merupakan ligand-gated kanal ion dan merupakan bagian dari
kompleks makromolekul yang membentuk inhibisi kanal klorida. Berbagai subtipe
reseptor GABAA adalah target benzodiazepin, obat sedasi, barbiturat, dan / atau
alkohol, dan terlibat dengan tonik atau neurotransmisi inhibisi fasik pada sinaps
GABA. Peran fisiologis reseptor GABAC belum diklarifikasi, tapiitu tidak muncul
sebagai target benzodiazepin. Reseptor GABAB, sebaliknya, merupakan anggota
dari kelas reseptor yang berbeda, reseptor yaitu, G-protein-linked. Reseptor
GABAB dapat berikatan dengan kanal kalsium dan / atau kalium, dan mungkin
terlibat dalam rasa sakit, memori, suasana hati, dan fungsi sistem saraf pusat
lainnya (Stahl, 2013).

Gambar 8. Reseptor GABA (Gamma Amino Butyrtic Acid)


Reseptor GABAA
Reseptor

GABAA

berperan

penting

dalam

memediasi

inhibisi

neurotransmisi dan sebagai target dari benzodiazepin sebagai anxiolitik. Setiap


subunit dari reseptor GABAAempat regio transmembran. Ketika lima subunit
berkelompok, membentuk sebuah reseptor GABAA intak dengan kanal klorida di
tengahnya. Ada banyak subtype reseptor GABAA yang berbeda, tergantung
subunit mana yang muncul. Subunitreseptor GABAA terkadang disebut juga
isoform, dan termasuk (dengan enam isoforms, 1 sampai 6 ), (dengan tiga

isoforms, 1 sampai 3), (dengan tiga isoforms, 1 sampai 3), , , , , and


(dengan tiga isoforms 1 sampai 3 ). Kepentingan untuk mendiskusikan ini
tergantung subunit mana yang muncul, dan fungsi dari reseptor GABA A yang
sangat signifikan (Stahl, 2013).
Sebuah
gagasan
sederhana

tentang

bagaimana

anxiolytics

benzodiazepine mungkin memodulasi keluaran berlebihan dari amigdala selama


respon

takut

pada

gangguan

kecemasan.

Kegiatan

amigdala

yang

berlebihan,secara teoritis diturunkan dengan meningkatkan fasik aksi inhibisi dari


PAMs benzodiazepine pada reseptor GABA postsynaptic dalam amigdala untuk
menumpulkan output fear-associated, sehingga mengurangi gejala ketakutan.
Benzodiazepin juga secara teoritis memodulasi outout berlebihan dari jaras
kekhawatiran

dengan meningkatkan tindakan interneuron inhibitor di sirkuit

CSTC, sehingga mengurangi gejala khawatir (Stahl, 2013).

Gambar 9. Aksi potensial terapeutik anxiolytik pada kecemasan


Alpha-2-delta ligand
Gabapentin dan pregabalin, juga dikenal sebagai 2 ligand, karena mereka
mengikat 2subunit dari N presinaptik dan P / Q VSCCs, memblok pelepasan
neurotransmitter eksitatori seperti glutamat ketika neurotransmisi berlebihan,

seperti yang disebutkan dalam amigdala untuk menyebabkan rasa takut


(Gambar 9-25A) dan di sirkuit CSTC menyebabkan khawatir. Secara hipotesis,
ligan 2 berikatan agar terbuka, VSCCs yang terlalu aktif dalam amigdala untuk
mengurangi rasa takut, dan di sirkuit CSTC

untuk mengurangi kecemasan.

2ligands, pregabalin dan gabapentin telah menunjukkan aksi anxiolytik dalam


gangguan kecemasan sosial dan gangguan panik, dan juga terbukti efektif untuk
pengobatan epilepsi dan kondisi sakit tertentu, termasuk nyeri neuropatik dan
fibromyalgia. 2 ligan memiliki mekanisme kerja yang berbeda dibandingkan
dengan serotoninreuptake inhibitor atau benzodiazepin, dengan demikian dapat
berguna bagi pasien yang tidak berespon dengan baik pada SSRI / SNRIs atau
benzodiazepin. 2ligands juga dapat dikombinasikan dengan SSRI / SNRIs atau
benzodiazepin pada pasien yang berespon parsial dan tidak dalam remisi (Stahl,
2013).

Gambar 10. Aksi Terapeutik dari Alpha-2-Delta Ligands


SEROTONIN DAN KECEMASAN
Karena gejala, sirkuit, dan neurotransmiter terkait dengan gangguan
kecemasan tumpang tindih secara luas dengan gangguan depresi. Hal tersebut
tidak mengherankan bahwa obat yang dikembangkan sebagai antidepresan telah
terbukti

pengobatan

yang

efektif

untuk

gangguan

kecemasan.

Sesungguhnya,pengobatan awal untuk gangguan kecemasan saat ini adalah


obat yang dikembangkan dari antidepresan. Serotonin adalah neurotransmitter
kunci yang menginervasi amigdala serta semua elemen sirkuit CSTC, yaitu,
korteks prefrontal, striatum, dan thalamus, yang dapat mengatur rasa takut dan
khawatir. Antidepresan yang dapat meningkatkan serotonin denganmemblok
serotonin transporter (SERT) juga efektif dalam mengurangi gejala kecemasan
dan ketakutan pada setiap orang dengan gangguan kecemasan, seperti
gangguan cemas menyeluruh, gangguan panik cemas, gangguan kecemasan

sosial, dan PTSD. Agen tersebut dikenal sebagai SSRI (selektif serotonin
reuptake inhibitor), serta SNRIs (Rneuptake inhibitor serotonin-norepinefrin).
Parsial agonis Serotonin 1A (5HT 1A), buspirone, diakui sebagai anxiolytic, namun
bukan sebagai pengobatan untuk subtipe gangguan kecemasan. Aksi potensi
anxiolytik dari buspirone secara teoritis karena mekanisme parsial agonis 5HT 1A
di kedua reseptor 5HT1A presinaptik dan postsinaptik, sehingga meningkatkan
aktivitas serotonergik yang diproyeksi ke amigdala, prefrontal korteks, striatum,
dan thalamus (Stahl, 2013).

Gambar 11. Aksi Terapeutik agen serotonergik


Hiperaktifitas Noradrenergik pada kecemasan
Norepinephrin merupakan neurotransmitter lain yang menginput regulasi
penting ke amigdala dan ke prefrontal korteks dan thalamus pada jalur CTSC.
Keluaran

noradrenergik

yang

berlebihan

dari

loecus

coeruleus

dapat

menghasilkan manifestasi perifer dari autonom, namun dapat juga mencetuskan


gejala central seperti kecemasan dan ketakutan, seperti mimpi buruk, keadaan
waspada berlebihan, flashback, dan serangan panik. Aktivitas noradrenegik yang
berlebih dapat juga menurunkan efisiensi dalam memproses informasi di
prefrontal korteks dan jalur CTSC yang secara teoritis menyebabkan cemas.
Secara hipotesa, gejala ini disebabkan input noradrenergik yang berlebih ke
dalam reseptor 1 dan 1adrenergik di postsinaps amigdala atau prefrontal
korteks. Gejala kewaspadaan berlebihan seperti mimpi buruk dapat dikurangi
dengan pemberian 1adrenergik bloker seperti prazosin. Gejala takut dan cemas
dan cemas dapat dikurangi dengan pemberian norepinephrine reuptake inhibtor
(NET atau norepinephrine transporter inhhibitor). Efek klinis dari NET bisa
membingungkan, karena gejala dari kecemasan dapat memburuk sementara

akibat dari ketika aktivitas noradrenergik mulai naik, namun reseptor postsinaps
belum beradaptasi. Jika pemakaian NET diteruskan beberapa lama, dapat
menurunkan regulasi dan mendesensitasi norpepinephrine reseptor postsinaps
seperti 1reseptor, sehingga mengurangi gejala cemas dan takut untuk jangka
panjang (Stahl, 2013).

Gambar 12. Hiperaktivitas Noradrenergik pada Anxietas, Ketakutan, dan


Kewaspadaan
Studi Genetik
Studi genetic telah menghasilkan data yang solid bahwa sedikitnya beberapa
komponen genetic turut berperan dalam timbulnya gangguan ansietas. Hamper
separuh dari semua pasien dengan gangguan panic setidaknya memiliki satu
kerabat yang juga mengalami gangguan tersebut. Gmbaran untuk gangguan
ansietas lainnya, walaupun tidak setinggi itu, juga menunjukan danya frekuensi
yang lebih tinggi daripada kerabat derajat pertama pasien ang mengalaminya
daripada kerabat orang yang tidak mengalami gangguan ansietas. Walaupun
studi adopsi pada gangguan ansietas belum pernah dilaporka, data dari
pencatatav kembar juga menyokng hipotesis bahwa gangguan ansietas
setidaknya sebagian ditentukan secara genetic. Jelaslah bahwa terdapat
hubungan antara genetic dan gangguan ansietas tetapi tidak ada gangguan
ansietas yang tampaknya disebabkan abnormalitas Mendelian sederhana.
Laporan terkin telah menghubungkan sekitar 4 persen variablitas intrinsic
ansietas dalam populasi umum dengan varian polimorfik gen transporter
serotonin, yang merupakan tempat bekerjanya banyak obat serotonergik. Orang
dengan varian tersebut menghasilkan lebih sedikit transporter dan memiliki
tingkat ansietas yang lebih tinggi.
Studi Pencitraan Otak
Suatu kisaran studi pencitraan otak, yang hamper selalu dilakukan pada
gangguan ansietas spesifik, menghasilkan beberapa kemunginan petunjuk
dalam memahami gangguan ansietas. Studi structural, contoh computed
tomography (CT) dan magnetic reconance imaging (MRI) kadang-kadang
menunjukan peningkatan ukuran ventrikel otak. Pada satu studi, peningkatan ini
dihubungkan dengan lama waktu pasien mengkonsumsi diazepam. Pada satu
studi MRI, defek spesifik lobus temporalis kanan sitemukan pada pasien dengan
gangguan panic. Sejumlah studi pencitraan otak lainya melaporkan temuan
abnormal di hemisfer kanan tetapi tidak di hemisfer kiri; temuan ini mengesankan
bahwa beberapa tipe asimetri serebral dapat merupakan hal penting dalam
timbulnya gangguan ansietas pada pasien tertentu. Studi pencitraan otak
fungsional, contohnya positron emission tomography (PET), single photon
emission computed tomography (SPECT), dan elektroensefalografi (EEG) pada

pasien dengan gangguan ansietas melapotkan berbagai abnormalitas korteks


frontalis, area okipitalis dan temporalis, serta, di satu studi pencitraan saraf
fungsional menhubungkan nucleus kaudatus dalam patofisiologi gangguan
obsesif pasien dengan gangguan ansietas memilki keadaan patologi serebral
fungsional yang terlihat dan keadaan ini dapat merupakan penyebab relevan
gejala gangguan ansietas.
B. Kontribusi Ilmu Psikologis
Tiga kelompok teori psikologis utama : psikoanalitk, perilaku dan eksistensial
telah menyambung teori mengenai penyebab ansietas. Masing-masing teori
memiliki kegunaan konseptuas maupun praktis dalam terapi gangguan ansietas.
Teori Psikoanalitk.
Walaupun Sigmund Freud awalnya meyakini bahwa ansietas berasal dari
penumpukan libido fisiologis, ia akhirnya mendefinisikan kembali ansietas
sebagai sinyal adanya bahaya pada ketidaksadaran. Ansietas dipandang
sebagai akibat konflik psikik antara keinginan tidak disadari yang bersifat seksual
atau agresif dan ancaman terhadap hal tersebut dari super ego atau realitas
eksternal. Sebagai respon terhadap sinyal ini, ego memobilisasi mekanisme
pertahanan untuk mencegah pikiran dan perasaan yang tidak dapat diterima
agar tidak muncul ke kesadaran, semisal dengan menggunakan mekanisme
represi, bila berhasil maka terjadi pemulihan keseimbangan psikologis tanpa
adanya gejala anxietas. Jika represi tidak berhasil sebagai suatu pertahanan,
maka dipakai mekanisme pertahanan yang lain misalnya konvensi, regresi, ini
menimbulkan gejala. Saat ini banyak ahli neurobiology terus menyokong banyak
gagasan dan teori asli Freud . satu contoh adalah peran amigdala yang
meningkatkan respon takut tanpa rujukan apapun pada memori yang disadari
dan menyokong konsep Freud mengenai system memori yang tidak disadari
untuk respon ansietas. Dari perspektif psikodinamik, tujuan terapi bukanlah
menghilangkan semua ansietas tetapi meningkatkan toleransi terhadap ansietas
yaitu, kemampuan mengalami ansietas dan menggunakan sebagian sinyal untuk
menyelidiki konflik dasar yang telah menciptakannya. Ansietas muncul sebagai
respon terhadap berbagai situasi selama siklus kehidupan, dan upaya
menghilangkannya dengan cara psikofarmakologis mungkin tidak berfungsi

apapun dalam menyelesaikan situasi kehidupan atau hubungan internal yang


telah mencetuskan keadaan ansietas.
Teori Perilaku-Kognitif
Teori prilaku atau pembelajatan ansietas telah menghasilkan terapi yang paling
efektif untuk gangguan ansietas. Menurut teori ini, ansietas adalah respon yang
dipelajari terhadap stimulus lingkungan spesifik. Di dalam model pembelajaran
klasik, orang tanpa alergi makanan dapat menjadi sakit setelah di restoran
memakan kerang yang terkontaminasi. Pajanan berikutnya terhadap kerang
dapat menyebabkan orang ini merasa sakit. Melalui generalisasi, mereka dapat
menjadi tidak percaya pada makanan yang disiapkan orang lain. Contoh :
seorang dapat belajar untuk memiliki respon kecemasan internal dengan meniru
respon kecemasan orang tuanya.
Tabel 13.1-1
Manifestasi Perifer Ansietas
Diare
Pusing, kepala terasa ringan
Hiperhidrosis
Hipersefleksia
Hipertensi
Palpitasi
Midriasi pupil
Gelisah ( cth, berjalan mondar-mandir)
Sinkop
Takikardia
Kesemutan di ekstremitas
Tremor
Gangguan perut (seperti ada kupu-kupu)
Frekuensi, hesitansi, dan urgensi urin
Sebagai kemungkinan penyebab lain, mereka belajar memiliki respons internal
ansietas dengan meniru respons ansietas orang tua mereka (teori pembelajaran
social). Pada masing-masing kasus, terapi biasanya merupakan suatu bentuk
desensitisasi

dengan

pajanan

berulang

terhadap

stimulus

ansiogenik,

digabungkan dengan metodo psikoterapeutik kognitif.


Pada tahun-tahun belakangan ini, pendukung teori perilaku menunjukan
peningkatan minat terhadap pendekatan kognitif dalam mengonseptualisasi dan
menatalaksana gangguan ansietas, dan ahli teori kognitif mengusulkan
alternative teori pembelajaran tradisional model penyebab ansietas. Menurut
konseptualisasi keadaan ansietas nonfobik, pola piker yang salah, terdistorsi,

atau kontaproduktif menyertai atau mendahului perilaku maladaptive dan


gangguan emosi. Menurut satu model, pasien dengan gangguan ansietas
cendrung memperkirakan secara berlebihan derajat bahaya dan kemungkinan
kerusakan pada situasi tertentu serta cendrung meremehkan kemampuan
mereka dalam menghadapi ancaman yang dirasakan pada kesejahteraan fisik
atau psikologis mereka. Model ini menegaskan bahwa pasien dengan gangguan
panic sering memiliki oikiran akan hilangnya kendali dan talut mati yang
mengikuti sensasi fisiologis yang tidal dapat dijelaskan (seperti palpitasi,
takikarsi, dan kepala terasa ringan) tetapi mendahului dan kemungkinan
menyertai serangan panic.
Teori Eksistensial.
Teori eksistensial ansietas memberikan model untuk gangguan ansietas
menyeluruh, tanpa adanya stimulus spesifik yang dapat didentifikasi untuk
perasaan cemas kronisnya. Konsep pusat teori eksistensial menyeluruh adakah
bahwa orang menyadari rasa kosong yang mendalam si dalam hiduo mereka,
perasaan yang mungkin bahkan lebih membuat tidak nyaman daripada
penerimaan terhadap kematian yang tidak dapat dielakkan. Ansietas adalah
respons mereka terhadap kehampaan yang luas mengenai keberadaan dan arti.
Hal eksistensial seperti itu mungkin meningkat sejak perkembangn senjata
penghancur massa.