Anda di halaman 1dari 82

PRESENTASI KASUS

RHINOSINUSITIS ALERGIKA

Winna Ekaputri
1320221143

KEPANITERAAN KLINIK
DEPARTEMEN ILMU ILMU ANESTESI DAN REANIMASI
RS TK. II DR A.K. GANI PALEMBANG 1
STATUS PASIEN
Nama : Ny. MJ
Umur : 59 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jalan Karya Sepakat, Palembang
Status : Menikah
Agama : Islam
Diagnosis pre operasi : Rhinosinusitis Alergika
Jenis pembedahan : Irigasi Sinus Maksilaris
Jenis anestesi : General Anestesi
Tanggal masuk : 19 Febuari 2015
Tanggal Operasi : 20 Febuari 2015
No.Rekam Medis : 297XXX
ANAMNESA
KELUHAN UTAMA
Hidung kanan tersumbat

KELUHAN TAMBAHAN
Bersin-bersin, pilek, terasa cairan tertelan di
tenggorokan, nyeri pada pipi, nyeri kepala, kepala
terasa berat, terasa penuh pada pipi

3
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien datang dengan keluhan hidung
kanan tersumbat sejak 4 bulan yang lalu.
Keluhan dirasakan hilang timbul, dan memberat
saat sore hari.
Saat pagi hari, pasien mengeluh bersin-
bersin yang disertai pilek encer dan banyak.
Keluhan bersin dan pileknya tersebut biasanya
mereda pada siang hari.

4
Pasien juga merasa seperti ada cairan tertelan di
tenggorok. Selain itu, pasien juga mengeluh adanya
nyeri pada pipi, nyeri kepala, kepala terasa berat, dan
terasa penuh pada pipi. Keluhan-keluhan tersebut
dirasakan terutama saat menunduk.
Pasien menyangkal adanya demam, batuk, nyeri
tenggorokan, nafas berbau busuk, suara sengau,
mimisan, gangguan penghiduan, gangguan penglihatan,
dan gangguan pendengaran.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Pasien pernah mengalami keluhan seperti ini
sebelumnya 2 tahun yang lalu. Saat itu pasien
mendapat obat tetes hidung dan obat tablet. Keluhan
sempat mereda namun timbul kembali beberapa bulan
kemudian.
Pasien memiliki riwayat hipertensi terkontrol,
dan pasien rutin minum obat amlodipin. Selain itu
pasien juga mempunyai alergi terhadap makanan laut.
Riwayat sakit jantung, diabetes mellitus, asma, dan
penyakit paru disangkal.

6
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Riwayat Hipertensi (+)Riwayat Asma (+) Riwayat
Alergi obat dan makanan (-)Riwayat Diabetes
mellitus (-) Riwayat TB Paru (-)

RIWAYAT OPERASI DAN ANESTESI


Pasien belum pernah mengalami tindakan
operasi dan anestesi
RIWAYAT KEBIASAAN
Merokok : disangkal
Minum alkohol : disangkal

LAIN-LAIN
Gigi goyang : disangkal
Gigi palsu : disangkal
Konsumsi obat-obatan tertentu: amlodipin
PEMERIKSAAN FISIK
Status generalis
Keadaan Umum : Sakit Ringan
Kesadaran : Compos mentis
Tinggi Badan: 156 cm Berat Badan: 50 kg

Tanda tanda vital :


Tek. Darah : 160/90 mmHg
Nadi : 84 x/menit
Respirasi : 20 x/menit
Suhu : 36.8 oC
Status Generalis
Kepala : Normochepal

Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil


isokor, reflek cahaya langsung +/+ normal, reflek cahaya
tidak langsung +/+ normal

Hidung : Bentuk hidung normal, septum anterior


normal, deviasi septum (-), nyeri tekan infraorbitalis
dextra (+), liang hidung lapang, sekret mukoid (+) pada
cavum nasi dextra, konka nasalis media dan inferior
dextra edema, livide.

Telinga : Bentuk telinga normal, abses (-), edema (-),


nyeri tekan preaurikula dan postaurikula (-), serumen (+),
sekret (-), gangguan pendengaran (-), membrana timpani
intak (+/+).
Mulut dan gigi: Oral hygiene baik, bibir tidak kering, lidah bersih,
Mallampati 1

Leher : Trakea tidak deviasi, KGB dan tiroid tidak membesar

Jantung : Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Paru-paru : Suara napas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-

Abdomen : Bising usus (+) normal, nyeri tekan (-), hepar lien
tidak teraba

Ekstremitas: akral hangat, edema (-)


PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Hemoglobin : 12,6 g/dl Gol. Darah : B/ Rh +
Leukosit : 4.300/ul GDS : 85 mg/dl
Hematokrit : 37,8% SGOT : 31 Ul
Trombosit : 209.000/ul SGPT : 28 mg%
Masa Pendarahan : 4 Ureum : 23 mg%
menit Kreatinin :0,9 mg%
Masa Pembekuan : 2
menit
PEMERIKSAAN RADIOLOGI FOTO SINUS PARANASAL

POSISI WATERS POSISI LATERAL

14
KAJIAN SISTEM
Hilangnya Gigi : Ya
Masalah Mobilisasi Leher : Tidak
Leher Pendek : Tidak
Batuk : Tidak
Sesak Napas : Tidak
Sakit Dada : Tidak
Denyut Jantung Tidak Normal : Tidak
Muntah : tidak
Pingsan : tidak
Stroke : tidak
Kejang : tidak
Sedang hamil : tidak
Kelainan tulang belakang : tidak
KESIMPULAN
Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik
maka:
Diagnosis pre operatif: Rhinosinusistis Alergika
Status operatif : ASA II, Mallampati I
Jenis operasi : Irigasi Sinus Maksilaris
Jenis anestesi : General Anastesi
PENILAIAN JALAN NAPAS
1. Kondisi yang menyulitkan untuk intubasi
: Anomali kongenital
: Peradangan pada jalan napas Abses
Retropharyngeal, Epiglottitis
: Tumor didalam cavitas oral dan laring
PENILAIAN JALAN NAPAS

: Pembesaran Kelenjar
Tiroid

Deviasi tertekan kearah


lateral atau terjadi
kompresi pada lumen
PENILAIAN JALAN NAPAS
: Trauma laringeal, cervical, maxillofacial
: Disfungsi sendi temporomandibular
: scar luka bakar pada leher dan muka
PENILAIAN JALAN NAPAS
2) Interincisor gap : normal -> > 3 cm
PENILAIAN JALAN NAPAS
3) Mallampati : Kelas 3,4 -> menyulitkan
intubasi

Soft palate

Uvula
PENILAIAN JALAN NAPAS
Laryngoscopic view

grade 3,4 -> Menyulitkan intubasi


PENILAIAN JALAN NAPAS
4) Jarak Thyromental : > 6 cm
PENILAIAN JALAN NAPAS
5) Fleksi dan ekstensi jalan napas
PENILAIAN JALAN NAPAS
6) Pergerakan sendi temperomandibular (TMJ)

Grinding
LAPORAN ANESTESI
Pre Operatif
Puasa (+) selama 8
tidak ada
Informed Consent jam , pasien
pemakaian gigi
(+) dipuasakan mulai
palsu
pkl 23.00

IV line terpasang di taki

Kesadaran: Compos Mentis


Tekanan darah : 160/9 mmHg
Nadi : 84 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36,8 0C
PERSIAPAN PERALATAN
1) Laryngoscope : handle and blade
LARYNGOSCOPIC BLADE
Macintosh (curved) and Miller (straight) blade
Adult : Macintosh blade, small children : Miller
blade

Miller blade Macintosh blade


Endotracheal tube
1) Size of endotracheal tube : internal diameter
(ID)
Male: ID 8.0 mms . Female : ID 7.5 mms
New born - 3 months : ID 3.0 mms
3-9 months : ID 3.5 mms
9-18 months : ID 4.0 mms
2- 6 yrs : ID = (Age/3) + 3.5
> 6 yrs : ID = (Age/4) + 4.5
2) Material : Red rubber or PVC
3) Endotracheal tube cuff

High volume Low volume


Low pressure cuff High pressure cuff
4) Bevel
5) Murphys eye
6) Depth of endotracheal tube : Midtrachea
or below vocal cord ~ 2 cms
Adult -> Male = 23 cms ,Female = 21 cms
Children
Oral endotracheal tube = (Age/2) + 12
(cm)
Nasal endotracheal tube = (Age/2) + 15
(cm)
7) Tube markings

Z-79
Disposible (Do not reuse)
Oral/ Nasal
Radiopaque marker
3) Other equipments

3.1 Stylet
3.2 Oropharyngeal or nasopharyngeal airway

Oral airway
Nasal airway
3.3) Suction catheter
3.4) Slip joint
3.5) Face mask and self inflating bag

3.6) Magill forcep


3.7) Syringe
3.8) Lubricating jelly
3.9) Plaster for strap endotracheal tube

4. Monitoring success of endotracheal


intubation
4.1) Stethoscope
4.2) Endtidal - CO2
4.3) Pulse oximeter
Premedikasi
Fentanyl (1-3 g/kgBB), BB 50 kg
1x 50 = 50 3 x 50 = 150
Dosis yang diberikan 100 g
Ondansentron : 4-8 mg iv
SA 0,25 mg iv (1 amp)

Induksi
Propofol (2-2,5 mg/kgBB), BB 50 kg
2 x 50 kg = 100 2,5 x 50 kg = 125
Dosis yang diberikan 120 mg
Pelumpuh Otot
Atracurium/Tracrium (0.5-0.6 mg/kgBB), BB 50 kg
0.5 x 50 = 25 0.6 x 50 = 30
Dosis yang diberikan 30 mg

SA (Dosis 0,01-0,02mg/kgBB) 0.25mg (1 Amp)

Ondansetron (Dosis 8mg)

Maintenance (rumatan) : Sevofluran, N2O, Oksigen


Selesai dilakukan induksi, sampai pasien tertidur
dan reflek bulu mata hilang

Sungkup muka ditempatkan pada muka

N2O dan oksigen mulai diberikan bersamaan


dengan sevoflurane

Stadium anestesi sudah cukup dalam, rahang


sudah lemas

Mulai lakukan intubasi (ETT nomer 7 )


Maintenance
Oksigen : N2O : 2 L/menit : 2 L/menit = 1 : 1
Sevoflurane : 1-2vol%

Inj. Ondansentron: 8 mg
As Tranexamat : 500 mg
Tramadol 100 mg drip dalam RL 500cc
Input : infuse RL 2 x 500 ml
Output: perdarahan minimal 50 cc
INTRAOPERATIF (20 Februari 2015)
Tindakan Operasi : Irigasi Sinus Maksilaris
Tindakan Anestesi : General anestesi
Lama Operasi : 30 menit (09.05 09.35)
Lama Anestesi : 50 menit (08.55 09.45)
Jenis Anestesi :
General anestesi dengan teknik Semi Close Circuit
System dengan ETT No. 7 menggunakan O2 2L, N2O
2L, dan Sevofluran 1-2 vol%
Posisi : Supine
Pernafasan : Terkontrol
Infus : Ringer Laktat pada tangan
kanan 500cc
Premedikasi : Fentanyl 100g i.v
SA 0,25 mg i.v
Ondansetron 8 mg i.v
Induksi : Propofol 120 mg i.v
Relaksasi :Atracurium Besylate 30 mg
iv
Reverse : neostigmin : SA = 3 : 2
Rumatan : O2 2 L, N2O 2 L dan
Sevofluran 1-2 vol%
Medikasi tambahan : As Tranexamat 500 mg
Tramadol 100 mg drip dalam
RL 500cc
Intubasi : Laringoskop blade no 3
Endotracheal Tube No. 7
cuff (+)
Cairan : Cairan Masuk: RL 2 x 500 cc,
cairan keluar tidak dapat
dimonitoring tidak
dilakukan pemasangan
kateter.
TERAPI CAIRAN
MAINTENANCE OPERATIF
Dewasa : 2 ml/kgBB Dewasa
BB pasien : 50 kg Besar : 8 ml/kgBB/jam
Sedang : 6 ml/kgBB/jam
Kecil : 4 ml/kgBB/jam
2 x 50 = 100 ml
6 x 50 = 300 ml
PUASA Jam pertama : M + O + P (50%)
Jam Kedua : M + O + P (25%)
Jam pertama : 50%
Jam Ketiga : M + O + P (25%)
Jam Kedua : 25% Jam Keempat : M + O
Jam Ketiga : 25%

P = M X Jam Puasa = ml% Jam Pertama :


100 X 8 = 800ml% 100 + 300 + 400 = 800 ml
EKSTUBASI

Mengangkat keluar pipa endotrakea harus mulus dan tidak


disertai batuk dan kejang otot gangguan napas, hipoksia
sianosis

Menghindari reaksi spasme jalan napas


Menjelang akhir operasi diusahakan nafas spontan
dengan membantu usaha nafas sendiri secara
manual , diberikan reverse ( neostigmin : SA= 3 : 2)

Sevoflurane dan N20 dihentikan

Ekstubasi dapat dilakukan setelah napas spontan


normal kembali

02 (5-6 L) selama 2-3 menit diberi terus


POST OPERATIF
Pasien masuk ruang pemulihan dan setelah itu
dibawa ke Bangsal
Observasi tanda- tanda vital dalam batas normal

Kesadaran : Compos Mentis


TD : 150/85 mmHg
Nadi : 76x/min
Saturasi : 99%
Variabel Skor Skor Pasien

Gerak ke-4 anggota gerak atas perintah 2


Aktivitas Gerak ke-2 anggota gerak atas perintah 1 2
Tidak respon 0
Dapat bernapas dalam dan batuk 2
Respirasi Dispnea, hipoventilasi 1 2
Apnea 0
Perubahan < 20 % TD sistol preoperasi 2
Sirkulasi Perubahan 20-50 % TD sistol preoperasi 1 2
Perubahan .> 50 % TD sistol preoperasi 0
Sadar penuh 2
Kesadaran Dapat dibangunkan 1 1
Tidak respon 0
Merah 2
Warna kulit Pucat 1 2
Sianotik 0
Skor Total 9
9 : Pindah dari unit perawatan pasca anestesi
Oliver Wendel Holmes Sr
1846

an- aesthtos

Tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai


hilangnya kesadaran dan bersifat reversible ketika
melakukan pembedahan dan berbagai prosedur
lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh
Penekanan sistem saraf pusat adanya
induksi secara farmakologi secara
reversible

hilangnya nyeri di seluruh tubuh +


hilangnya kesadaran (sementara)

Injeksi
Relaksasi Otot Analgesia
Inhalasi
Ketidaksadaran

Anestesi Induksi, Maintenance, dan Pemulihan


Umum
Metode Anestesi Umum

PARENTERAL PEREKTAL

PERINHALASI
Inhalasi dengan
Inhalasi dengan respirasi
respirasi spontan
kendali
-Sungkup wajah
-Intubasi endotrakeal
-Intubasi endotrakeal
-Laryngeal mask airway
-Laryngeal mask airway
(LMA)
(LMA)

Anastesi intravena total (TIVA)


-Tanpa intubasi endotrakeal
-Dengan intubasi endotrakeal
Dewasa yang
memilih ETT dengan
anestesi Napas Terkendali
umum

Infant &
Pembedahan
anak usia nya luas
muda
Untuk tindakan
operasi yang
Indikasi lama
Anestesi Keadaan umum
Umum pasien cukup
baik (ASA I atau
Riwayat ASA II)
penderita
Penderita
toksik/ alergi
sakit mental
obat anestesi
lokal

Pembedahan
lama
Umur

Bahaya
kebakaran dan Status fisik
ledakan

FAKTOR YANG
MEMPENGARUH
I PILIHAN
Keinginan ANESTESI Posisi
pasien Pembedahan

Keterampilan Keterampilan
dan dan
pengalaman kebutuhan
dokter dokter
anestesiologi pembedah
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Anestesi Umum

RESPIRASI SIRKULASI JARINGAN

ZAT
LAIN
ANESTESTIKA
RESPIRASI
Pada setiap inspirasi sejumlah zat anestesika akan masuk
ke dalam paru-paru (alveolus)

Dalam alveolus akan dicapai suatu tekanan parsial


tertentu

Kemudian zat anestesika akan berdifusi melalui membrane


alveolus

tekanan parsial dalam alveolus sama dengan tekanan parsial


dalam arteri pulmonaris

Hal- hal yang mempengaruhi hal tersebut adalah:


Konsentrasi zat anestesika yang dihirup/ diinhalasi
Ventilasi alveolus
SIRKULASI
Perubahan tekanan parsial zat anestesika yang
jenuh dalam alveolus dan darah vena

Dalam sirkulasi, sebagian zat anestesika diserap


jaringan dan sebagian kembali melalui vena

Koefisien partisi darah/ gas


Aliran
JARINGAN
Perbedaan tekanan parsial obat anestesika antara
darah arteri dan jaringan

JKPD otak, jantung, hepar, ginjal


Organ-organ ini menerima 70-75% curah jantung
hingga tekanan parsial zat anestesika ini meninggi
dengan cepat dalam organ-organ ini.
Intermediate otot skelet dan kulit
Lemak : jaringan lemak
JSPD relatif tidak ada aliran darah ligament
dan tendon
FAKTOR LAIN
Ventilasi >>> ventilasi >> cepat
pendalaman anestesi
Curah jantung >> tinggi curah jantung
lambat induksi dan pendalaman anestesia
Suhu >> turun suhu >> larut zat
anestesia pendalaman anestesia semakin
cepat.
STADIUM ANESTESI
Guedel
Pernafasan
Gerakan bola mata
Tanda pada pupil
Tonus otot dan
Refleks pada penderita yang mendapat
anestesi ether
Guedel (1920) membagi anestesi
umum dengan eter dalam 4 stadium
STADIUM II
STADIUM I (eksitasi /delirium) STADIUM III
(analgesia/disorientasi) Pernafasan irreguler, pupil
Induksi-hilang melebar dengan
(pembedahan)
kesadaran. Terdapat refleks cahaya (+), Mulai dari akhir
hilangnya rasa sakit. pergerakan bola mata tidak stadium II, dimana
teratur, lakrimasi (+), tonus pernafasan mulai
Berakhir saat hilang otot , diakhiri hilangnya
refleks bulu mata teratur.
refleks menelan dan
kelopak mata

STADIUM IV
(stadium paralisis)
(paralisis medula oblongata) Kegagalan pernapasan
diikuti kegagalan sirkulasi. TD tak dapat diukur,
denyut jantung berhenti kematian. Kelumpuhan
pernapasan tidak dapat diatasi dengan pernapasan
buatan.
I. Stadium analgesia /stadium disorientasi
mulai dari induksi sampai hilangnya kesadaran
- refleks bola mata mulai negative
- frekuensi pernafasan mulai tinggi
- pergerakan bola mata mulai (-)
- takikardi
- refleks masih positif

II. Stadium eksitasi/delirium


dilarang dilakukan rangsangan
- kesadaran menurun
- refleks bulu mata dan kelopak mata (-)
- nafas mulai teratur
- pupil mulai mid dilatasi
bila persiapan preanestesi krng baik, hati-hati spasme laring,
spasme glotis, gejala mual-muntah

III.Stadium operasi
pernafasan mulai teratur
refleks refleks negatif
Macam-Macam Teknik Anestesi
Open drop method untuk anestesik yang menguap

Semi open drop method mengurangi terbuangnya zat


anestetik digunakan masker

Semi closed method Udara yang dihisap diberikan


bersama oksigen murni yang dapat ditentukan kadarnya
kemudian dilewatkan pada vaporizer sehingga kadar zat
anestetik dapat ditentukan

Closed method udara ekspirasi dialirkan melalui soda


lime yang dapat mengikat CO2, sehingga udara yang
mengandung anestetik dapat digunakan lagi.
PERSIAPAN PRA ANESTESI
Mempersiapkan mental dan fisik secara optimal
anamnesis, px fisik, px lab
Merencanakan dan memilih teknik serta obat-
obat anestesi yang sesuai dengan fisik dan
kehendak pasien
Menentukan status fisik dengan klasifikasi ASA
(American Society Anesthesiology)
PEMERIKSAAN RUTIN INDIKASI

Pada semua pasien (periksa konsentrasi


Urinalisis
glukosa darah jika glukosa urine positif)

Pada semua wanita: pria > 40 tahun;


FBC
semua bedah mayor

Ureum, Creatinin,
Bedah mayor
Elektrolit

ECG Umur > 50 tahun

Foto Torak Umur > 60 tahun

Tes fungsi hati (Liver Bedah mayor pada pasien umur > 50
Function Test) tahun.
ASA
Pasien sehat tanpa kelainan organik, biokimia, atau
Kelas I
psikiatri.
Pasien dengan penyakit sistemik ringan sampai sedang,
Kelas II
tanpa limitasi aktivitas sehari-hari.
Pasien dengan penyakit sistemik berat, yang membatasi
Kelas III
aktivitas normal.
Pasien dengan penyakit berat yang mengancam nyawa
Kelas IV
dengan maupun tanpa operasi.
Pasien sekarat yang memiliki harapan hidup kecil tapi
Kelas V
tetap dilakukan operasi sebagai upaya resusitasi.
Pasien dengan kematian batang otak yang organ tubuhnya
Kelas VI
akan diambil untuk tujuan donor
E Operasi emergensi, statusnya mengikuti kelas I VI diatas.
Tabel Fasting Guideline Pre-operatif
Usia Pasien Intake Oral Lama Puasa (Jam) Puasa Yg Diberikan
Clear fluid 2
< 6 bln Breast milk 3 20 cc/kg
Formula milk 4
Clear fluid 2
6 bln 5 thn Formula milk 4 10 cc/kg
Solid 6
Clear fluid 2
>5 thn 10 cc/kg
Solid 6
2
Adult, op. Clear fuid
Puasa mulai jam
Pagi Solid
12 mlm
2
Adult, op. Clear fluid
Puasa mulai jam 8
Siang Solid
PRE MEDIKASI
Menimbulkan rasa nyaman bagi pasien
Memudahkan atau memperlancar induksi
Mengurangi jumlah obat-obat anestesi
Menekan refleks-refleks yang tidak diinginkan
(muntah/liur)
Mengurangi sekresi kelenjar saliva dan lambung
Mengurangi rasa sakit
NO. JENIS OBAT DOSIS (DEWASA)
SEDATIF:
Diazepam 5-10 mg
1 Difenhidramin 1 mg/kgBB
Promethazin 1 mg/kgBB
Midazolam 0,1-0,2 mg/kgBB
ANALGETIK OPIAT
Petidin 1-2 mg/kgBB
2 Morfin 0,1-0,2 mg/kgBB
Fentanil 1-2 g/kgBB
ANALGETIK NON OPIAT Disesuaikan
ANTIKHOLINERGIK:
3
Sulfas atropine 0,1 mg/kgBB
ANTIEMETIK:
4 Ondansetron 4-8 mg (iv) dewasa
Metoklopramid 10 mg (iv) dewasa
PROFILAKSIS ASPIRASI
Cimetidin
5
Ranitidine Dosis disesuaikan
Stetoscope untuk mendengarkan suara paru dan jantung.
S Scope Laringo-Scope: pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan usia
pasien. Lampu harus cukup terang.

Pipa trakea, pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon (cuffed) dan >5
T Tubes
tahun dengan balloon (cuffed).

Pipa mulut-faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa hidung-faring


A Airways (nasi-tracheal airway). Pipa ini menahan lidah saat pasien tidak sadar
untuk mengelakkan sumbatan jalan napas.

T Tapes Plaster untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut.

Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastik (kabel) yang mudah
I Introducer
dibengkokkan untuk pemandu supaya pipa trakea mudah dimasukkan.

C Connector Penyambung antara pipa dan peralatan anastesia.


S Suction Penyedot lendir, ludah dan lain-lainnya.
INDUKSI
ANESTESIA

INDUKSI
IINHALASI INDUKSI
INDUKSI INTRAMUSK
INTRAVENA ULAR

INDUKSI
MENCURI
OBJEK KRITERIA NILAI

1. Mampu menggerakkan 4 ekstremitas 2


Aktivitas 2. Mampu menggerakkan 2 ekstremitas 1
3. Tidakmampu menggerakkan ekstremitas 0

1. Mampu nafas dalam dan batuk 2


Respirasi 2. Sesak atau pernafasan terbatas 1
3. Henti nafas 0
1. Berubah sampai 20 % dari pra bedah 2
Tekanan Darah 2. Berubah 20-50% dari pra bedah 1
3. Berubah > 50% dari pra bedah 0

1. Sadar baik dan orientasi baik 2


Kesadaran 2. Sadar setelah dipanggil 1
3. Tak ada tanggapan terhadap rangsang 0
1. Kemerahan 2
Warna Kulit 2. Pucat agak suram 1
3. Sianosis 0
Nilai Total