Anda di halaman 1dari 141

L/O/G/O

Obat Tetes
Sediaan Steril
Obat Topikal

www.themegallery.com
PEMBAGIAN SEDIAAN
CAIR
PER ORAL
ORAL
PARENTERAL
TOPIKAL

www.themegallery.com
CAIRAN
Adalah sediaan cair yang mengandung
satu atau lebih zat kimia yang terlarut,
terdispersi secara molekuler dalam pelarut
yang sesuai atau dalam campuran pelarut
yang saling bercampur

www.themegallery.com
KOMPONEN CAIRAN
SOLVENDUM = SOLUTE = ZAT TERLARUT
1. Zat Padat
2. Zat Cair

SOLVEN = PELARUT
1. Air
2. Alkohol
3. Minyak
4. Gliserol
5. Propilenglikol
www.themegallery.com
PENGGOLONGAN
CAIRAN
1. Berdasarkan cara pemberian cairan
Per Oral
Oral
Topikal
Parenteral
2. Berdasarkan jenis pelarut
air
alkohol
minyak
pelarut yang lain : propilen glikol, gliserol,
pelarut campur
www.themegallery.com
3.Berdasarkan tujuan penggunaan
Steril
parenteral dan penggunaan luar yaitu
pada pengobatan luka atau kulit terbuka.
1. Parenteral : Injeksi, Infus
2. Intra Peritonial (Pencuci darah)
3. Irigasi Kandung Kemih (Pembersih
kandung kemih)
Tidak Steril
1. obat dalam (Oral dan Per oral)
2. Topikal (untuk permukaan kulit utuh)
www.themegallery.com
4.Berdasarkan molekul
ion
Mikromolekular
mengadung keseluruhan mikro unit yang
terdiri dari molekul atau ion, seperti alkohol,
sukrosa, gliserol, ion Na dan ion
Makro Molekul
solutenya merupakan dispersi molekular
seperti pada larutan mikromolekuler.
Perbedaannnya hanya pada aspek Mr dan
ukuran partikel.
Contohnya : PGA, CMC
www.themegallery.com
1. Larutan Encer
Bila jumlah zat terlarut kecil
2. Larutan Pekat
Bila mengandung zat terlarut yang besar
3. Larutan Jenuh
Larutan yang mengandung jumlah
maksimum zat yang dapat larut dalam
pelarut pada tekanan dan suhu tertentu
4. Larutan Lewat jenuh
Jumlah zat yang terlarut melebihi batas
kelarutannya di dalam air pada suhu
kamar.
www.themegallery.com
OBAT-OBAT TETES
1.Obat tetes Oral
2.Obat tetes telinga (auricularies) = Otic
preparation
3.Obat tetes hidung ( guttae nasales)
4.Obat tetes mata (guttae opthalmicae)

www.themegallery.com
OBAT TETES ORAL
Biasanya merupakan larutan sejati atau
suspensi yang dimaksudkan untuk
pemakaian per oral
Biasanya untuk bayi dan anak-anak yang
susah menelan.

www.themegallery.com
Obat Tetes Telinga
Guttae auriculares = ear drops
Cairan pembawa bukan air
Harus mempunyai kekentalan yg sesuai
agar obat mudah melekat pada dinding
telinga
R/ Waxsol eare drops fl no I
S 3dd gtt I ads

www.themegallery.com
Obat tetes hidung
Guttae nasales = nasal drops
Sebagai vehiculum dipakai air
Tidsak boleh digunakan minyak lemak
atau minyak mineral
R/ lliadin P nasal drops fl no I
s 1 d d gtt I nasal

www.themegallery.com
OBAT TETES MATA
Adalah sediaan steril berupa larutan atau
suspensi, digunakan untuk mata, dengan
cara meneteskan obat pada selaput lendir
mata disekitar kelopak mata dan bola
mata
Adalah larutan steril bebas partikel asing,
merupakan sediaan yang dibuat dan
dikemas sedemikian rupa hingga sesuai
untuk digunakan pada mata
www.themegallery.com
Obat tetes mata banyak digunakan sebagai
:
1.Anti alergi
2.Anti bakteri
3.Anti virus
4.Glaucoma
5.Lokal anastesi

www.themegallery.com
SYARAT-SYARAT OBAT TETES MATA
1.Jernih = disaring
2.Isotonis, hipotonis, hipertonis
3.Isohidris => pH = pH cairan air mata
4.Steril
5.Stabilitas

www.themegallery.com
STERILITAS
Sediaan tetes mata HARUS steril.
Cara sterilisasi :
1.Filtrasi dengan menggunakan membran filter
steril ukuran pori : 0,45 m atau 0,2 m dan
langsung disaring kedalam wadah yang steril.
2.Pemanasan kering
3.Autocalving
4.Sterilisasi gas dengan etilen oksida.

www.themegallery.com
ZAT TAMBAHAN
1.Pengawet
2.Pengisotonis
3.Peningkat viskositas
4.Anti oksidan
5.Pendapar

www.themegallery.com
PENYIMPANAN, PENGEMASAN DAN
LABELING
Tetes mata dikemas dalam botol tetes
steril
Untuk tetes mata sekali pakai (dosis
tunggal) maka dikemas dalam syringe
steril tanpa jarum.
Sediaan disimpan pada temperatur kamar
atau di kulkas tapi bukan difreezer
www.themegallery.com
Sediaan obat
ophthalmologik

Obat mata (optalmika) :


1. Tetes mata (oculoguttae)
2. Salap mata (oculenta)
3. Pencuci mata (collyria)
4. Larutan perawat lensa kontak
5. Inserte

www.themegallery.com
Bahan obat yang digunakan pada
mata
(ophth almologik)
Midriatikum (obat pelebar /pendilatasi pupil) :
atropin, skopolamin, fenilefrin
Miotikum (obat pengecil/penyempit pupil) :
pilokarpin, fisostigmin, neostigmin dan paraxon
Antibiotika : kloramfenikol, tirotrisin
Anestesi lokal : kokain, tetrakain
Antiplogistik (menghambat radang) : seng sulfat,
kortikosteroid.

www.themegallery.com
Perhitungan isotonis
1. Penurunan titik beku
Suatu larutan dinyatakan isotonis dengan cairan
mata/darah jika membeku pada suhu 0,52 agar
isotonis, tambahkan NaCl/zat lain yang cocok.
0,52 - b1 C
Rumus B: =
b2
B = Bobot dalam gram dari zat yang ditambahkan
dalam 100 ml hasil akhir
b1 = Penurunan titik beku air oleh 1% zat berkhasiat
b2 = Penurunan titik beku air oleh penambahan 1% zat
yang ditambahkan
C = kadar zat berkhasiat dalam % b/v
www.themegallery.com
Perhitungan isotonis
2. Ekivalensi NaCl (E NaCl)

Rumus :

B = 0,9 E.C

www.themegallery.com
Contoh perhitungan isotonis
R/ Asam borat 0,3 % tb = 0,288
Aqua ad 100 ml
mfla gtt ophth.isotonis
Berdasarkan penurunan titik beku
Perhitungan isotonisnya, dengan NaCL sebagai zat
tambahan ( tb = 0,576), dengan rumus penurunan titik
beku, maka :
0,52 - (0,3 x 0,288)
B NaCl = = 0,75 g/100 ml
0,576

www.themegallery.com
Oculenta (salap mata)

Adalah gel dengan perubahan bentuk plastik,


yang digunakan pada mata
Dapat mengandung bahan obat dalam keadaan
tersuspensi, terlarut atau teremulsi
Dibuat steril atau miskin kuman
(angka kuman 0)
Tidak merangsang mata

www.themegallery.com
Mempunyai daya lekat yang baik pada mata
Kemampuan penyebaran yang memuaskan
Bersifat hidrofil tertentu distribusi obat
yang baik dalam kantung konyunktiva
Pengemasan : paling cocok dalam tube
Penyimpanan : wadah tertutup kedap mikroba
Preparat :
R/ Chloramphenicol salap mata 1% no. I
s t dd ods

www.themegallery.com
Collyria (pencuci mata)
Merupakan larutan dalam air yang
dimaksudkan untuk penggunaan pada mata
(pembilas mata)
Untuk mengobati tukak dan pencuci desinfektan
Dibuat menurut prinsip tetes mata dan harus
menunjukkan sifat mikrobakterial yang sama.
Disimpan dalam wadah tertutup kedap kuman
dan dingin
Periode pemakaian tidak melampaui 10 hari
setelah awal penggunaan
www.themegallery.com
Contoh
R/ Boorwater 3% fls I
sue
Komposisi : asam borat 3%
Aqua ad 300
Pembuatan : Larutkan asam borat dengan
pemanasan, dinginkan dan saring

www.themegallery.com
Larutan perawat lensa
kontak
Persyaratan kemurnian mikrobial = pencuci
mata
Berlaku pada sediaan untuk pembersihan dan
penyimpanan lensa kontak
Melindungi lensa kontak dari kekeringan selama
tidak dipakai
Merupakan sediaan isotoni dalam air
Dengan pengawetan
Pengawet : timersal dan klorheksidindiglukonat

www.themegallery.com
Inserte
Piringan kecil yang berisi bahan obat dan
diletakkan dalam kantung konyunktiva dan
melarut secara lambat

Bahan dasar : polimer bahan buatan yang


larut
Bahan berkhasiat : pilokarpin, atropin,
idoksuridin

www.themegallery.com
Sediaan Steril

www.themegallery.com
SEDIAAN STERIL
Steril adalah suatu keadaan dimana
suatu alat, bahan atau sediaan sama
sekali bebas dari mikroorganisme hidup
yang patogen maupun tidak, baik dalam
bentuk vegetatif maupun spora.
Sterilisasi adalah penghancuran secara
lengkap semua mikroorganisme hidup
dan spora-sporanya dari alat, bahan
atau sediaan.

www.themegallery.com
Cara Sterilisasi
Pemanasan kering
1). Pembakaran atau flambeer
2). Dengan udara panas (sterilisasi D)
Dilakukan dengan cara memanaskan alat atau
bahan didalam oven pada suhu 150C selama
1jam
Mikroba musnah akibat dehidrasi dan oksidasi
Contoh : ampul injeksi, erlenmeyer, vial, botol
infus, becker glass, talkum, ZnO, minyak,
paraffin, gliserol dll

www.themegallery.com
Pemanasan Basah
1). Dengan uap panas mengalir
Dilakukan dgn memanaskan alat, bahan atau
sediaan pada uap panas mengalir dengan suhu
100C selama 30 menit.

Mikroba musnah krn proses koagulasi protein yg


dimilikinya tetapi hanya membunuh bentuk
vegetatifnya saja.
Untuk penyempurnaannya dapat ditambahkan
bakterisida dalam bentuk pengawet (sterilisasi B).
Contoh : gelas ukur, kertas saring, tutup karet,
sedian larutan

www.themegallery.com
2). Dengan Uap panas bertekanan
(sterilisasi A)
Dilakukan dengan memanaskan alat, bahan
atau sediaan pada uap panas bertekanan 2
Atm dan suhu 121C selama 30 menit
menggunakan alat autoklaf.
Contoh : sediaan injeksi, tetes mata, infus,
gelas ukur dll

www.themegallery.com
3). Tyndalisasi
Dilakukan dengan cara pemanasan berulang-
ulang pada suhu 70-80C sebanyak 2-4 kali selama
30 menit dengan diselingi penyimpanan pada suhu
20-25C selama 16-24 jam.

Cara ini hanya untuk mematikan bentuk vegetatif


saja. Dilakukan untuk bahan atau sediaan yang
tidak tahan pemanasan dan karena suatu hal tidak
dapat menggunakan penyaring bakteri.
Contoh, emulsi, suspensi dll

www.themegallery.com
4). Pasteurisasi
Yaitu pemanasan pada suhu 70C yang dilakukan
hanya satu kali.
Cara ini hanya membunuh bentuk vegetatif saja.
Contoh : susu

5). Uperisasi
Pemanasan larutan pada waktu singkat pada suhu
150C kemudian segera didinginkan.

www.themegallery.com
Penyinaran
1). Dengan sinar Ultra violet
Yaitu gelombang elektromagnetik
dengan panjang gelombang 190-380 nm
dengan panjang gelombang optimal 254
nm.
Sumbernya adalah lampu merkuri dengan
daya tembus hanya 0,01-0,2 mm
Digunakan untuk sterilisasi ruangan.

www.themegallery.com
2). Sinar Gamma
Sumbernya adalah Co60 dan Cs137 dengan
aktivitas sebesar 50-500 kilocurie, memiliki
daya tembus yang sangat tinggi

Digunakan untuk mensterilkan alat-alat


kedokteran, alat logam, karet dan bahan-
bahan sintetis seperti polietilen

www.themegallery.com
Cara mekanis
Merupakan sterilisasi dengan penyaring bakteri
(sterilisasi C)
1). Filter permukaan atau filter ayakan
Menyaring mikroba menggunakan prinsip ayakan
yang didasari perbedaan ukurannya dengan ukuran
pori
Penyaring yang digunakan terbuat dari selulosa
asetat, selulosa nitrat, PVC, Polipropilen,
Polikarbonat dll. Ukuran porinya 0,22 um dengan
ketebalan 80-150 um.
Filter ini tidak dapat membebaskan larutan dari
pirogen atau virus.

www.themegallery.com
2). Filter kedalaman atau filter
adsorpsi
Filter ini terbuat dari selulosa, asbes,
gelas sinter, keramik, kieselguhr, atau
karbon aktif.
Cara ini dapat membebaskan larutan
dari pirogen dan virus.

www.themegallery.com
c. Cara Kimia
1). Dengan penambahan bahan pengawet
Contoh : Nipagin 0,2 %, nipasol 0,04 %, asam
benzoat 0,1-0,2 %, fenil merkuri nitrat 0,002
0,02 %, benzalkoniumklorida 0,005 0,01 %

2). Desinfektan
Seperti desinfektan tangan etanol 70 %,
isopropanol 80 % yang dikombinasi dengan senyawa
ammonium kuarterner. Biasa dilakukan untuk pra
operasi.

www.themegallery.com
3). Kemosterilisasi
Disebut juga teknik sterilisasi dingin.
Contoh : uap formalin untuk sterilisasi ruangan,
ozon untuk sterilisasi air minum tapi toksis untuk
manusia

d. Metoda Aseptis
Bukan cara sterilisasi tetapi adalah suatu cara
pencegahan pencemaran mikroba karena bahan
aktif tidak dapat disterilkan dengan pemanasan
kecuali dengan penyaringan.
Pada cara ini semua alat dan bahan lain harus
disterilkan sebelum pencampuran.

www.themegallery.com
MACAM-MACAM SEDIAAN
STERIL
Sediaan Injeksi dan infus (Sediaan parenteral)
1. Keuntungan dan Kelemahan sediaan parenteral
Keuntungan :
- Obat memiliki onset (mula kerja) yang cepat
- Efek obat dapat diramalkan dengan pasti
- Bioavaibilitas sempurna/hampir sempurna
- Kerusakan obat dalam saluran cerna dapat
dihindari
- Obat dapat diberikan kepada penderita yang sakit
keras
atau dalam keadaan koma

www.themegallery.com
Kelemahan
- Rasa nyeri pada saat disuntik, apalagi
kalau
harus diberikan berulang kali
- Memberikan efek psikologis pada penderita
yang takut disuntik
- Kesalah pemberian obat atau dosis hampir
tidak mungkin diperbaiki, terutama setelah
pemberian I.v
- Obat hanya dapat diberikan pada penderita di
rumah sakit atau ditempat praktek dokter

www.themegallery.com
2. Cara Pemberian Obat Parenteral
Subcutan (s.c) atau dibawah kulit
Intramuskular (I.m) , yaitu disuntikkan ke dalam
jaringan otot umumnya di paha atau pantat
Intravena (I.v), yaitu disuntikkan kedalam
pembuluh darah
Intraspina, yaitu disuntikkan ke dalam sumsum
tulang belakang
Intraperitonial, yaitu disuntikkan kedalam
rongga perut
Intraartikular, yaitu disuntikkan kedalam sendi
Intraderma, yaitu disuntikkan kedalam kulit

www.themegallery.com
Sediaan Injeksi (Obat
Suntik)
Injeksi
adalah sediaan steril berupa
larutan, emulsi atau suspensi atau
serbuk yang harus dilarutkan atau
disuspensikan lebih dahulu
sebelum digunakan, yang
disuntikkan dengan cara merobek
jaringan ke dalam kulit atau melalui
kulit atau selaput lendir.

www.themegallery.com
Klasifikasi Obat Suntik
1. Bentuk Sediaan
a. Larutan sejati dengan pembawa air
Contoh : Injeksi Vit.C, Papaverin HCl
b. Larutan sejati dg pembawa minyak
Contoh : Injeksi Menadion,
Testosteron propionat
c. Larutan sejati dg pembawa pelarut
campur
Contoh : Injeksi Fenobarbital Na

www.themegallery.com
d. Suspensi Steril dg pembawa air
Contoh : Injeksi Kortison Asetat
e. Suspensi steril dg pembawa minyak
Contoh : Injeksi Procain penicillin
f. Serbuk kering yg dilarutkan dlm pembawa air
sesaat sebelum digunakan
Contoh : Injeksi Ampicillin
g. Serbuk kering yg disuspensikan dlm pembawa
air sesaat sebelum digunakan
Contoh : Injeksi Streptomicin
h. Emulsi Steril
Contoh : Infus lemak

www.themegallery.com
2. Rute pemberian
a. Intravena
- diinjeksikan kedalam pembuluh darah vena
- Dalam jumlah kecil tidak mutlak isotoni dan
isohidri, tetapi dalam jumlah besar harus
- Tidak baik untuk zat aktif yang merangsang
dinding pembuluh darah dan menyebabkan
hemolisa
- Sediaan umumnya berbentuk larutan sejati
dg pembawa air
- Pemberian 10 ml atau lebih harus bebas
pirogen
- Lar. hipertoni digunakan utk pengobatan
varises
www.themegallery.com
b. Intramuskular
- disuntikkan ke dalam jaringan otot
- sediaan dalam bentuk larutan lebih
cepat diabsorpsi dibandingkan
suspensi dan emulsi
- umumnya disuntikkan pada paha
dan pantat
- Larutan sedapat mungkin isotoni
- zat aktif yang kerjanya lambat
serta mudah terakumulasi dapat
menimbulkan keracunan
Contoh : Injeksi Fenilbutazon

www.themegallery.com
c. Subkutan
- disuntikkan kedalam jaringan di
bawah kulit
- volume larutan tidak lebih 1 ml
- larutan sebaiknya isotoni dan
isohidri karena dapat
menimbulkan rasa nyeri atau
nekrosis dan absorpsi tidak
sempurna
- pemberian subkutan dalam jumlah
besar dikenal dg istilah
Hipodermoklise
Contoh : Injeksi Prokain Skopolamin

www.themegallery.com
d. Intrakutan
- disuntikkan kedalam kulit
- volume yang diberikan 0,1 0,2 ml
- ditujukan untuk diagnosa (Mantoux
test) atau propilaksis (imunisasi
cacar)
e. Intratekal, intraspinal, intradural,
intralumbal
- disuntikkan kedalam sumsum
tulang belakang
- larutan harus isotoni dan isohidri
- utk anastesi digunakan lar.
hipertoni

www.themegallery.com
Faktor-faktor yang
mempengaruhi absorpsi obat
suntik
1. Rute pemberian
2. Ukuran partikel
3. Polimorfisa
4. Bentuk sediaan
5. Pembawa
6. pH

www.themegallery.com
INFUS
Infus adalah sediaan steril yang berupa
larutan yang diberikan melalui intravena
tetes demi tetes dengan bantuan peralatan
yang cocok
Merupakan sediaan parenteral volum besar
(Large Volume Parenteral=LVP's)yang
diberikan untuk menambah nutrisi, cairan
tubuh atau elektrolit, volume 250 ml atau
lebih
www.themegallery.com
Infus tidak boleh mengandung zat bakteriostatik
Dikemas dalam wadah besar dosis tunggal

Dapat juga ditambahkan antibiotik atau obat lainnya ke

dalam infus.
Penggunaan infus:

1) untuk terapi pemeliharaan pada pasien yang akan atau


sudah dioperasi
2) Untuk pasien yang tidak sadar dan tidak dapat
menerima cairan, elektrolit atau nutrisi secara oral
3) Untuk terapi pengganti pada pasien yang mengalami
banyak kehilangan cairan dan elektrolit yg berat

www.themegallery.com
Pada terapi pemeliharaan, pemilihan jenis bahan yg
ada diinfus yang akan diberikan pada pasien tergantung
pada lamanya infus diberikan, misalnya:
1) untuk pemberian kurang dari 3 hari, maka infus yg
diberikan cukup dengan larutan sederhana yg
mengandung air dan dektrosa secukupnya, dan
sejumlah kecil Na dan K
2) Pada pemberian 3-6 hari dapat diberikan infus dengan
nilai kalori yang tinggi
3) pada pemberian lebih dari satu minggu, digunakan infus
yg mengandung nutrisi lengkap parenteral utk
menyediakan semua nutrisi esensial (untuk menjaga
keadaan normal tubuh), dalam infus ini mengandung:
protein, karbohidrat, vitamin, mineral, elektrolit, dan air
yg cukup
www.themegallery.com
Untuk terapi pengganti, misal pada diare
berat, muntah2X
1) Kebutuhan air, normalnya adalah
sejumlah yg hilang (air kemih, keringat,
pernafasan). Untuk org dewasa: kurang
lebih 25-40 mL/kg BB atau 2 L per
meterpersegi luas permukaan tubuh
- anak-anak dan dewasa bertubuh kecil
membutuhkan air lebih banyak
dibandingkan org dewasa bertubuh besar,
kebutuhan air lebih erat kaitannya dengan
luas permukaan tubuh drpd dgn BB
www.themegallery.com
2) kebutuhan elektrolit
K+ adalah kation utama intrasel (berperan
dalam fungsi normal jantung dan otot
polos)
Kebutuhan per harinya: krg lbh 100 mEq

dan kehilangan perharinya krg lbh 40


mEq, shg untuk terapi pengganti
diperlukan minimal 40 mEq ditambah yg
diperlukan untuk pengganti
Na+ adalah kation utama ekstrasel,

penting dlm menjaga kenormalan cairan


ekstra sel
www.themegallery.com
3)kebutuhan kalori
dapat diberikan dekstrosa 5% pada terapi
pemeliharaan atau terapi pengganti

www.themegallery.com
SUSPENSI UNTUK INJEKSI
Digunakan jika zat aktif tidak larut dalam
pembawa
Dapat digunakan sebagai depo
Kadar partikel padat < 5%
Diameter partikel 5-10 mikrometer
Pembuatan dilakukan mensterilkan
masing-masing komponen sendiri-sendiri
dan dibuat secara aseptik, dan sterilisasi
akhir tidak boleh menggunakan penyaring
bakteri
www.themegallery.com
Sterilisasi bahan padat dapat
menggunakan sterilisasi panas kering
atau gas
Perlu diperhatikan laju sedimentasi
partikel tersuspensi
Laju endap partikel dapat dikurangi
dengan meningkatkan viskositas medium
suspensi

www.themegallery.com
Emulsi injeksi
Perlu emulgator (tidak boleh toksik),
contoh: gelatin, lecitin, polisorbat 80,
metilselulosa dan serum albumin
Injeksi phytomenadione (vitamin K)
menggunakan lesitin sebagai emulgator.

www.themegallery.com
PERBEDAAN INFUS DAN
INJEKSI
NO KRITERIA INJEKSI INFUS
1. Tujuan Terapi melalui Pengganti
Pemberian injeksi cairan
plasma,
elektrolit,
darah, kalori

2. Metoda Suntikan
Pemberian Tetesan

www.themegallery.com
NO KRITERIA INJEKSI INFUS

3. Alat Alat suntik Peralatan


infus
4. Volume Maks 20-30 Bisa sampai
Pemberian ml (lazim 10 beberapa ltr
ml)
5. Lama Maks 15-20 Bisa
Pemberian Menit (lazim beberapa jam
1 menit)
6. Pembawa Air, gliserin, Hanya air
propilen
glikol, minyak
lemak
www.themegallery.com
NO KRITERIA INJEKSI INFUS
7. Isohidri Bila memungkin Diperlukan
kan
8. Isotoni Bila memungkin Mutlak
Kan Perlu
9. Bebas Perlu jika per Mutlak
Pirogen kali suntik lebih Perlu
10 ml
10. Wadah Ampul, vial Botol Infus

www.themegallery.com
L/O/G/O

OBAT TOPIKAL
Obat topikal mrpkan salah satu bentuk obat
yg sering dipakai dalam terapi dermatologi.
Obat ini terdiri dari vehikulum (bahan
pembawa)
dan zat aktif.
Kecermatan memilih btk sediaan obat topikal
yg sesuai dgn kondisi kelainan kulit mrpkan
salah satu faktor yg berperan dlm
keberhasilan terapi topikal, di samping faktor
lain seperti: konsentrasi zat aktif obat, efek
fisika dan kimia, cara pakai, lama
penggunaan obat agar diperoleh efi kasi
yang maksimal dan efek samping minimal.
www.themegallery.com
Berbagai bentuk sediaan obat
topikal
Obat topikal= zat pembawa dan zat aktif
Zat aktif merupakan komponen bahan topikal
yg memiliki efek terapeutik
zat pembawa = bagian inaktif dari sediaan
topikal dapat berbentuk cair atau padat yang
membawa bahan aktif berkontak dengan kulit.
Idealnya zat pembawa mudah dioleskan,
mudah dibersihkan, tidak mengiritasi
Bahan aktif harus berada di dalam zat
pembawa dan kemudian mudah dilepaskan
www.themegallery.com
www.themegallery.com
www.themegallery.com
Cairan
Bahan pembawa dengan komposisi air
Jika bahan pelarutnya murni air disebut
sebagai solusio.
Jika bahan pelarutnya alkohol, eter, atau
kloroform disebut tingtura
Cairan digunakan sebagai kompres dan
antiseptik
Bahan aktif yang dipakai dalam kompres
biasanya bersifat astringen dan
antimikroba
www.themegallery.com
Indikasi cairan
Penggunaan kompres terbuka pada:
a. Dermatitis eksudatif; pada dermatitis akut
atau kronik yang mengalami eksaserbasi
b. Infeksi kulit akut dengan eritema yang
mencolok. Efek kompres terbuka ditujukan
untuk vasokontriksi yang berarti mengurangi
eritema seperti eritema pada erisipelas.
c. Ulkus yang kotor: ditujukan untuk
mengangkat
pus atau krusta sehingga ulkus menjadi
www.themegallery.com
Bedak
Sediaan topikal bbtk padat terdiri atas talcum
venetum dan oxydum zincicum dalam
komposisi yang sama
memberikan efek sangat superfisial karena
tidak melekat erat sehingga hampir tidak
mempunyai daya penetrasi
dipakai pada daerah yang luas, pada daerah
lipatan

www.themegallery.com
Salep

Sediaan semisolid berbahan dasar lemak


ditujukan untuk kulit dan mukosa
Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa
dibagi dalam 4 kelompok yaitu:
1. dasar salep senyawa hidrokarbon,
2. dasar salep serap,
3. dasar salep yang bisa dicuci dengan air
4. dasar salep yang larut dalam air

www.themegallery.com
Dasar salep
hidrokarbon
Dikenal sebagai dasar salep
berlemak seperti vaselin album
(petrolatum), parafin liquidum. Vaselin
album adalah golongan lemak
mineral diperoleh dari minyak bumi.
titik cair sekitar 10-50C, mengikat
30% air, tidak berbau, transparan,
konsistensi lunak.
www.themegallery.com
Sifat dasar salep
hidrokarbon
sukar dicuci, tidak mengering
dan tidak berubah dalam waktu lama
Salep ini ditujukan untuk memperpanjang
kontak bahan obat dengan kulit dan
bertindak
sebagai penutup
digunakan sebagai bahan emolien

www.themegallery.com
Dasar salep serap
bentuk anhidrat (parafin hidrofi lik dan lanolin
anhidrat [adeps lanae])
bentuk emulsi (lanolin dan cold cream) yang
dapat bercampur dengan sejumlah larutan
tambahan.
Adeps lanae ialah lemak murni dari lemak bulu
domba, keras dan melekat sehingga sukar
dioleskan, mudah mengikat air.
tidak cocok untuk sediaan kosmetik
Dasar salep serap juga bermanfaat sebagai
emolien
www.themegallery.com
Dasar salep yg dapat
dicuci dgn air
Dasar salep ini adalah emulsi minyak
dalam air
misalnya salep hidrofi lik.
lebih dapat diterima untuk dasar kosmetik
Dasar salep ini tampilannya menyerupai
krim karena fase terluarnya adalah air
dapat diencerkan dengan air dan mudah
menyerap cairan yang terjadi pada
kelainan dermatologi

www.themegallery.com
Dasar salep larut dalam
air
Disebut juga dasar salep tak berlemak terdiri
dari komponen cair
dapat dicuci dengan air karena tidak
mengandung bahan
tak larut dalam air seperti parafi n, lanolin
anhidrat
Contoh dasar salep ini ialah polietilen glikol.

www.themegallery.com
Pemilihan dasar salep untuk dipakai
dalam
formulasi salep bergantung pada
beberapa
faktor:
kecepatan pelepasan bahan obat dari
dasar salep, absorpsi obat, kemampuan
mempertahankan kelembaban kulit oleh
dasar salep, waktu obat stabil dalam dasar
salep, pengaruh obat terhadap dasar
salep
www.themegallery.com
Indikasi salep
Salep dipakai untuk dermatosis yang
kering
dan tebal (proses kronik)
Dermatosis dengan skuama berlapis,
pada ulkus yang telah bersih

www.themegallery.com
Kontraindikasi salep
Salep tidak dipakai pada radang akut,
terutama dermatosis eksudatif karena
tidak dapat melekat, juga pada daerah
berambut dan lipatan karena
menyebabkan perlekatan

www.themegallery.com
Krim
bentuk sediaan setengah padat yang
mengandung satu atau lebih bahan
obat terlarut atau terdispersi dalam bahan
dasar yang sesuai
Formulasi krim ada dua, yaitu sebagai
emulsi air dalam minyak (W/O), misalnya
cold cream, dan minyak dalam air (O/W),
misalnya vanishing cream

www.themegallery.com
Contoh krim W/O
R/ Cerae alba 5
Cetacei 10
Olei olivarum 60
Aquae ad 100

Contoh krim O/W


R/ Cerae lanett N
Olei sesami aa 15
Aquae ad 100

www.themegallery.com
Dalam praktik, umumnya apotek tidak bersedia
membuat krim karena tidak tersedia emulgator
dan pembuatannya lebih sulit dari salep
jika hendak menulis resep krim dan dibubuhi
bahan aktif, dapat dipakai krim yang sudah jadi,
misalnya biocream
Krim ini bersifat ambifi lik artinya berkhasiat
sebagai W/O atau O/W.
Krim dipakai pada kelainan yang kering, superfi
sial
Krim memiliki kelebihan dibandingkan salep
karena nyaman, dapat dipakai di daerah lipatan
dan kulit berambut

www.themegallery.com
Contoh emulsi O/W
R/ Acid salicyl 5%
Liq carb deterg 5%
Biocream 20
Aqua 40

Contoh emulsi W/O


R/ Acid salicyl 5%
Liq carb deterg 5%
Biocream 20
Ol. oliv 20

www.themegallery.com
Indikasi krim
Krim dipakai pada lesi kering dan superfi
sial,
lesi pada rambut, daerah intertriginosa

www.themegallery.com
Pasta
campuran salep dan bedak sehingga komponen
pasta terdiri dari bahan untuk salep misalnya
vaselin dan bahan bedak seperti
talcum, oxydum zincicum
Pasta merupakan salep padat, kaku yang tidak
meleleh pada suhu tubuh dan berfungsi sebagai
lapisan pelindung pada bagian yang diolesi
Efek pasta lebih melekat dibandingkan salep,
mempunyai daya penetrasi dan daya maserasi
lebih rendah dari salep
Indikasi pasta
Pasta digunakan untuk lesi akut dan superfi sial
www.themegallery.com
Bedak kocok

suatu campuran air yang di dalamnya


ditambahkan komponen bedak dengan bahan
perekat seperti gliserin
ditujukan agar zat aktif dapat diaplikasikan
secara luas di atas permukaan kulit dan
berkontak lebih lama dari pada bentuk sediaan
bedak serta berpenetrasi kelapisan kulit

www.themegallery.com
Indikasi bedak kocok
dipakai pada lesi yang kering, luas dan superfi sial
seperti miliaria.
Beberapa contoh komposisi bedak kocok
R/ Oxidi zincici
Talci aa 20
Glycerini 15
Aguae ad 100
R/ Oxidi zincici
Talci aa 20
Gliserini 15
Aquae
Spirit dil. Aa ad 100
www.themegallery.com
Keuntungan penambahan spritus dilitus ialah
memberikan efek pendingin karena akan
menguap, dapat melarutkan bahan aktif yang
tidak larut dalam air, tetapi larut dalam alkohol,
misalnya mentholium dan camphora
bersifat antipruritik
Jika hendak menambahkan bahan padat
berupa bubuk hendaknya diperhitungkan
sehingga berat bahan padat tetap 40%
Misalnya,
jika ditambahkan sulfur precipitatum 20 gram,
maka berat oxydum zincicum dan talcum harus
dikurangi

www.themegallery.com
R/ Sulfuris precipitatum 20
Oxidi zincici
Talci aa 10
Glycerini 15
Aquae
Spiritus dil aa ad 100

www.themegallery.com
Pasta pendingin
disebut juga linimen merupakan campuran
bedak, salep dan cairan.
Sediaan ini sudah jarang digunakan karena
efeknya seperti krim

Indikasi
Pasta dipakai pada lesi kulit yang kering
Beberapa vehikulum yang merupakan
pengembangan dari bentuk dasar monofase
www.themegallery.com
Gel
sediaan setengah padat yang terdiri dari
suspensi yang dibuat dari partikel organik
dan anorganik.
Gel dikelompokkan ke dalam gel fase tunggal
dan fase ganda
Gelfase tunggal terdiri dari makromolekul
organik yang tersebar dalam suatu cairan
sedemikian hingga tidak terlihat adanya
ikatan antara molekul besar yang terdispersi
dan cairan.
Gel fase tunggal dapat dibuat dari
makromolekul
sintetik (misalnya karbomer) atau dari gom
alam (seperti tragakan).
www.themegallery.com
Karbomer membuat gel menjadi sangat jernih
dan halus
Gel fase ganda yaitu gel yang terdiri dari
jaringan partikel yang terpisah misalnya gel
alumunium hidroksida.
Gel ini merupakan suatu suspensi yang
terdiri dari alumunium hidroksida yang tidak
larut dan alumunium
oksida hidrat
Sediaan ini berbentuk kental, berwarna
putih, yang efektif untuk menetralkan asam
klorida dalam lambung

www.themegallery.com
Gel segera mencair jika berkontak dengan
kulit
dan membentuk satu lapisan. Absorpsi pada
kulit lebih baik daripada krim. Gel juga baik
dipakai pada lesi di kulit yang berambut
Berdasarkan sifat dan komposisinya, sediaan
gel memilliki keistimewaan:
a. Mampu berpenetrasi lebih jauh dari krim.
b. Sangat baik dipakai untuk area berambut.
c. Disukai secara kosmetika.

www.themegallery.com
Jelly
dasar sediaan yang larut dalam air,
terbuat dari getah alami seperti tragakan,
pektin, alginate, borak gliserin

www.themegallery.com
Losion
sediaan yang terdiri dari komponen obat
tidak dapat larut terdispersi dalam cairan
dengan konsentrasi mencapai 20%
Komponen yang tidak tergabung ini
menyebabkan dalam pemakaian losion
dikocok terlebih dahulu
Pemakaian losion meninggalkan rasa
dingin oleh karena evaporasi komponen
air
www.themegallery.com
Beberapa keistimewaan losion, yaitu
mudah
diaplikasikan, tersebar rata, favorit pada
anak.
Contoh losion yang tersedia seperti losion
calamin, losion steroid, losion faberi

www.themegallery.com
Aerosol
sediaan yang dikemas dibawah tekanan,
mengandung zat aktif yg dilepas pada
saat sistem katup yang sesuai ditekan
Sediaan ini digunakan untuk pemakaian
lokal pada kulit, hidung, mulut, paru
Komponen dasar aerosol adalah wadah,
propelen, konsentrat zat aktif, katup dan
penyemprot

www.themegallery.com
Foam aerosol
merupakan emulsi yang mengandung satu
atau lebih zat aktif menggunakan propelen
untuk mengeluarkan sediaan obat dari wadah
Foam aerosol merupakan sediaan baru obat
topikal
Foam dapat berisi zat aktif dalam formulasi
emulsi dan surfaktan serta pelarut
Sediaan foam yang pernah dilaporkan
antara lain ketokonazol foam dan
betametasone foam
www.themegallery.com
Keistimewaan foam:
1. Foam saat diaplikasikan cepat mengalami
evaporasi, sehingga zat aktif tersisa cepat
berpenetrasi
2. Sediaan foam memberikan efek iritasi
yang minimal

www.themegallery.com
Cat

bentuk lain solusio yang berisi komponen air


dan alkohol.
Penggabungan komponen alkohol dan air
menjadikan sediaan ini mampu bertahan
lama
Sediaan baru pernah dilaporkan berupa
solusio ciclopirox 8% sebagai cat kuku untuk
terapi onikomikosis

www.themegallery.com
MEKANISME KERJA
Farmakokinetik sediaan topikal secara umum
menggambarkan perjalanan bahan aktif
dalam konsentrasi tertentu yang diaplikasikan
pada kulit dan kemudian diserap ke lapisan
kulit, selanjutnya didistribusikan secara
sistemik.
Mekanisme ini penting dipahami untuk
membantu memilih sediaan topikal yang
akan digunakan dalam terapi
Perjalanan sediaan topikal setelah
diaplikasikan pada kulit tergambar pada
Gambar 2.
www.themegallery.com
Gambar 2 Penetrasi melalui tiga kompartemen kulit18
www.themegallery.com
Secara umum perjalanan sediaan topikal
setelah diaplikasikan melewati tiga
kompartemen yaitu: permukaan kulit,
stratum korneum, dan jaringan sehat
Stratum korneum dapat berperan sebagai
reservoir bagi vehikulum tempat sejumlah
unsur pada obat masih berkontak dengan
permukaan kulit namun belum
berpenetrasi tetapi tidak dapat dihilangkan
dengan cara digosok atau terhapus oleh
pakaian
www.themegallery.com
Unsur vehikulum sediaan topikal dapat
mengalami evaporasi, selanjutnya zat aktif
berikatan pada lapisan yang dilewati
seperti
pada epidermis, dermis
Pada kondisi tertentu sediaan obat dapat
membawa bahan aktif menembus
hipodermis
Sementara itu, zat aktif pada sediaan
topikal akan diserap oleh vaskular kulit
pada dermis dan hipodermis

www.themegallery.com
Jalur penetrasi sediaan
topikal
Penetrasi sediaan topikal melewati
beberapa macam jalur seperti pada
Gambar 3
Saat sediaan topikal diaplikasikan pada
kulit, terjadi 3 interaksi:
1. Solute vehicle interaction: interaksi bahan
aktif terlarut dalam vehikulum. Idealnya zat
aktif terlarut dalam vehikulum tetap stabil
dan mudah dilepaskan. Interaksi ini telah
ada dalam sediaan.
www.themegallery.com
2. Vehicle skin interaction: merupakan
interaksi vehikulum dengan kulit. Saat
awal aplikasi fungsi reservoir kulit
terhadap vehikulum
3. Solute Skin interaction: interaksi bahan
aktif terlarut dengan kulit (lag phase,
rising phase, falling phase)

www.themegallery.com
Gambar 3 Jalur penetrasi sediaan topikal19
www.themegallery.com
Penetrasi secara
transepidermal
Penetrasi transepidermal dapat secara
interseluler dan intraseluler. Penetrasi
interseluler merupakan jalur yang dominan,
obat akan menembus stratum korneum
melalui ruang antar sel pada lapisan lipid
yang mengelilingi sel korneosit. Difusi dapat
berlangsung pada matriks lipid protein dari
stratum korneum.
Setelah berhasil menembus stratum korneum
obat akan menembus lapisan epidermis
sehat di bawahnya, hingga akhirnya berdifusi
ke
pembuluh kapiler
www.themegallery.com
Penetrasi secara intraseluler terjadi
melalui difusi obat menembus dinding
stratum korneum sel korneosit yang mati
dan juga melintasi matriks lipid protein
startum korneum, kemudian melewatinya
menuju sel yang berada di lapisan bawah
sampai pada kapiler di bawah stratum
basal epidermis dan berdifusi ke kapiler

www.themegallery.com
Penetrasi secara
transfolikular
Analisis penetrasi secara folikular muncul
setelah percobaan in vivo.
Percobaan tersebut memperlihatkan
bahwa molekul kecil seperti
kafein dapat berpenetrasi tidak hanya
melewati sel-sel korneum, tetapi juga
melalui rute folikular.
Obat berdifusi melalui celah folikel rambut
dan juga kelenjar sebasea untuk
kemudian berdifusi ke kapiler
www.themegallery.com
Pada kulit utuh, cara utama penetrasi
sediaan
melalui lapisan epidermis, lebih baik
daripada
melalui folikel rambut atau kelenjar keringat,
karena luas permukaan folikel dan kelenjar
keringat lebih kecil dibandingkan dengan
daerah kulit yang tidak mengandung elemen
anatomi ini.
Stratum korneum sebagai jaringan keratin
akan berlaku sebagai membran semi
permeabel, dan molekul obat berpenetrasi
dengan cara difusi pasif

www.themegallery.com
Absorpsi sediaan topikal secara
umum
Saat suatu sediaan dioleskan ke kulit,
absorpsinya akan melalui beberapa fase:
a. Lag phase
Periode ini merupakan saat sediaan
dioleskan
dan belum melewati stratum korneum, se-

www.themegallery.com
www.themegallery.com
Mekanisme kerja sediaan
topikal
Secara umum, sediaan topikal bekerja melalui 3
jalur di atas (Gambar 3).
Beberapa perbedaan mekanisme kerja
disebabkan komponen
sediaan yang larut dalam lemak dan larut dalam
air
1. Cairan
Pada saat diaplikasikan di permukaan kulit, efek
dominan cairan akan berperan melunakkan
karena difusi cairan tersebut ke masa asing yang
terdapat di atas permukaan kulit; sebagian kecil
akan mengalami evaporasi

www.themegallery.com
Dibandingkan dengan solusio, penetrasi
tingtura jauh lebih kuat. Namun sediaan
tingtura telah jarang dipakai karena
efeknya mengiritasi kulit.
Bentuk sediaan yang pernah ada antara
lain tingtura iodi dan tingtura spiritosa.

www.themegallery.com
2. Bedak
Oxydum zincicum sebagai komponen bedak
bekerja menyerap air, sehingga memberi efek
mendinginkan.
Komponen talcum mempunyai daya lekat dan
daya slip yang cukup besar
Bedak tidak dapat berpenetrasi ke lapisan kulit
karena komposisinya yang terdiri dari partikel
padat, sehingga digunakan sebagai penutup
permukaan kulit, mencegah dan mengurangi
pergeseran pada daerah intertriginosa
www.themegallery.com
3. Salep
Salep dengan bahan dasar hidrokarbon
seperti
vaselin, berada lama di atas permukaan
kulit dan kemudian berpenetrasi. Oleh
karena itu salep berbahan dasar
hidrokarbon digunakan sebagai penutup
Salep berbahan dasar salep serap (salep
absorpsi) kerjanya terutama untuk
mempercepat penetrasi karena komponen
airnya yang besar
www.themegallery.com
Dasar salep yang dapat dicuci dengan air
dan
dasar salep larut dalam air mampu
berpenetrasi
jauh ke hipodermis sehingga banyak dipakai
pada kondisi yang memerlukan penetrasi
yang dalam

www.themegallery.com
4. Krim
Penetrasi krim jenis W/O jauh lebih kuat
dibandingkan dengan O/W karena komponen
minyak menjadikan bentuk sediaan bertahan lama
di atas permukaan kulit dan mampu menembus
lapisan kulit lebih jauh
Namun krim W/O kurang disukai secara kosmetik
karena komponen minyak yang lama tertinggal di
atas permukaan kulit. Krim O/W memiliki daya
pendingin lebih baik dari krim W/O, sementara
daya emolien W/O lebih besar dari O/W.

www.themegallery.com
5. Pasta
Sediaan berbentuk pasta berpenetrasi ke
lapisan kulit.
sediaan ini lebih dominan sebagai
pelindung karena sifatnya yangtidak
meleleh pada suhu tubuh
Pasta berlemak saat diaplikasikan di atas
lesi mampu menyerap lesi yang basah
seperti serum

www.themegallery.com
6. Bedak kocok
Mekanisme kerja bedak kocok ini lebih
utama pada permukaan kulit. Penambahan
komponen cairan dan gliserin bertujuan
agar komponen bedak melekat lama di atas
permukaan kulit dan efek zat aktif dapat
maksimal

www.themegallery.com
7. Pasta pendingin
Sedikit berbeda dengan pasta,
penambahan komponen cairan membuat
sediaan ini lebih mudah berpenetrasi ke
dalam lapisan kulit, namun bentuknya
yang lengket menjadikan sediaan ini tidak
nyaman digunakan dan telah jarang
dipakai

www.themegallery.com
8. Gel
Penetrasi gel mampu menembus lapisan
hipodermis sehingga banyak digunakan pada
kondisi yang memerlukan penetrasi seperti
sediaan gel analgetik. Rute difusi jalur
transfolikuler
gel juga baik, disebabkan kemampuan gel
membentuk lapisan absorpsi.
www.themegallery.com
CARA PAKAI
Cara aplikasi sediaan obat topikal pada umumnya
disesuaikan dengan lesi pada permukaan
kulit.
Beberapa cara aplikasi sediaan topikal yaitu:
1. Oles
Pengolesan pada lokasi lesi merupakan cara
pakai sediaan topikal yang umum dilakukan.
Cara ini dilakukan untuk hampir semua bentuk
Sediaan
Banyaknya sediaan yang dioleskan disesuaikan
dengan luas kelainan kulit (tabel 2)

www.themegallery.com
Penambahan cara oles sediaan dengan
menggosok
dan menekan juga dilakukan pada obat
topikal dengan tujuan memperluas daerah
aplikasi namun juga meningkatkan suplai
darah pada area lokal, memperbesar absorpsi
sistemik. Penggosokan ini mengakibatkan
efek eksfoliatif lokal yang meningkatkan penetrasi
obat.18

www.themegallery.com
2. Kompres
Cara kompres digunakan untuk sediaan solusio.
Komponen cairan yang dominan menjadikan kompres
efektif untuk lesi basah dan lesi berkrusta.
Dua cara kompres yaitu kompres terbuka dan tertutup.
Pada kompres terbuka diharapkan ada proses
penguapan.
Caranya dengan menggunakan kain kasa tidak tebal
cukup 3 lapis, tidak perlu steril, jangan terlampau erat.
Pembalut atau kain kasa dicelupkan ke dalam cairan
kompres, sedikit diperas, lalu dibalutkan pada kulit
lebih kurang 30 menit.
Pada kompres tertutup tidak diharapkan terjadi
penguapan, namun cara ini jarang digunakan karena
efeknya memperberat nyeri pada lokasi kompres

www.themegallery.com
3. Penggunaan oklusif pada aplikasi
Cara oklusi ditujukan untuk meningkatkan
penetrasi sediaan; namun cara ini tidak
banyak digunakan.
Berbagai teknik oklusi menggunakan balutan
hampa udara seperti penggunaan sarung
tangan vinyl, membungkus dengan plastik
Teknik oklusi mampu meningkatkan
hantaran obat 10-100 kali dibandingkan
tanpa oklusi, namun lebih cepat
menimbulkan efek samping obat, seperti efek
atrofi kulit akibat kortikosteroid

www.themegallery.com
4. Mandi
Mandi atau berendam dianggap lebih
disukai
daripada kompres pada pasien dengan
lesi kulit luas seperti pada penderita lesi
vesiko bulosa. Contoh zat aktif yang pernah
digunakan untuk mandi seperti potassium
permanganate. Namun cara ini sudah tidak
dianjurkan lagi mengingat efek maserasi
yang ditimbulkan

www.themegallery.com
PRINSIP PEMILIHAN SEDIAAN9
1. Pada kulit tidak berambut, secara umum
dapat dipakai sediaan salep, krim, emulsi.
Krim dipakai pada lesi kulit yang kering
dan superfi sial, salep dipakai pada lesi
yang tebal (kronis).
2. Pada daerah berambut, losion dan gel
merupakan pilihan yang cocok.

www.themegallery.com
3. Pada lipatan kulit, formulasi bersifat
oklusif seperti salep, emulsi W/O dapat
menyebabkan maserasi sehingga harus
dihindari.
4. Pada daerah yang mengalami ekskoriasi,
formulasi berisi alkohol dan asam salisilat
sering mengiritasi sehingga harus
dihindari.
5. Sediaan cairan dipakai untuk kompres
pada
lesi basah, mengandung pus, berkrusta.
www.themegallery.com
www.themegallery.com
1. Sediaan topikal terdiri atas zat pembawa
dan zat aktif.
2. Idealnya suatu zat pembawa mudah
dioleskan, mudah dibersihkan, tidak meng-
iritasi dan menyenangkan secara kosmetik,
selain itu
zat aktif dalam pembawa mudah
dilepaskan.
3. Terdapat berbagai bentuk sediaan topikal
seperti: cairan, bedak, salep, krim, bedak
kocok, pasta, pasta pendingin.
4. Beberapa sediaan baru obat topikal: foam
aerosol, cat, gel.
www.themegallery.com
5. Secara umum sediaan topikal melewati
tiga jalur penetrasi yaitu interseluler,
transeluler, transfolikuler.
6. Mekanisme kerja sediaan topikal berupa
difusi pasif menembus lapisan kulit.
7. Cara pakai sediaan topikal pada
umumnya dioleskan pada permukaan
kulit, dan dengan penambahan cara lain
seperti ditekan, digosok,kompres, dan
oklusi.

www.themegallery.com
DAFTAR PUSTAKA
1. Wyatt EL, Sutter SH, Drake LA. Dermatological
pharmacology. In: Hardman JG, Limbird IE, eds.
Goodman and Gillmans the pharmacological
basis of therapeutic. 10th ed. New York:
McGraw Hill
2. Strober BE, Washenik K, Shupack JL. Principles
of topical therapy. In: Fitzpatrick TB, Eisen AZ,
Wolff K, Freedberg IM, Austen K, eds.
Dermatology in general medicine. 7th ed. New
York:McGraw-Hill
3. Sayuti I, Martina A, Sukma GE. Kepekaan jamur
Trichopyton terhadap obat salep, krim, dan obat
tingtur. Jurnal Biogenesis
www.themegallery.com
4. Sharma S. Topical drug delivery system:
A review. Pharmaceut. Rev. 2008;6:1-29.
5. Lipsker D, Kragballe K, Fogh K, Saurat
JH. Other topical medication. In: Bolognia
JL, Jorizzo JL, Rapini RP, eds.
Dermatology; 4th ed. London: Elsevier
Limited, 2006:2056-67.
6. Djuanda A. Pengobatan topikal dalam
bidang dermatologi. Yayasan Penerbitan
IDI. Jakarta, 1994.

www.themegallery.com
7. Ansel HC. Introduction to pharmaceutical
dosage forms. Georgia: Lea and Febiger,
1995: 489-95.
8. Lachman L, Lieberman HA, Kanig JL.
Semi padat. Dalam: Suyatmi S, Kawira J,
Aisyah HS, eds. Teori dan praktek farmasi
industri II. Edisi ke-3. Jakarta: UI Press,
1994: 1091-9

www.themegallery.com
9. Schaefer H, Redelmeier TE, Ohynek GJ,
Lademann J. Pharmacokinetics and
topical aplication of drugs. In: Wolf K,
Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA,
Paller AS, Leff el DJ, Fitzpatrick, eds.

www.themegallery.com
L/O/G/O

Thank You!

www.themegallery.com