Anda di halaman 1dari 25

PENYAKIT DENGAN GEJALA

UTAMA MATA MERAH


DENGAN VISUS NORMAL

dr. Hj. Hasmeinah B, Sp.M


28 OKTOBER 2014
Pendahuluan

- Keluhan mata yang sering didengar : mata merah.


- Normal : sklera terlihat putih.
- Hiperemi konjungtiva - Bertambahnya asupan pembuluh darah.
- Berkurangnya pengeluaran darah
bendungan pembuluh darah.
- Mata terlihat merah akibat melebarnya
1. Pembuluh darah konjungtiva ( arteri konjungtiva posterior ) :
- Pengaruh mekanisme, alergi, infeksi.
- Di daerah fornik.
- Mudah digerakkan dari dasarnya.
2. Pembuluh darah peri kornea ( arteri siliaris anterior ).
- Radang kornea, benda asing kornea, jaringan uvea, glaukoma,
endoftalmitis, panoptalmitis.
- Warna : lebih ungu.
- Tidak ikut serta dengan pergerakkan konjungtiva karena
menempel erat dengan jaringan peri cornea.
PENYAKIT DENGAN GEJALA
UTAMA MATA MERAH DENGAN
VISUS NORMAL

I. Radang Konjungtiva.
II. Radang Palpebra.
III. Radang Sklera.
Tujuan Pembelajaran : untuk memahami

1. Gejala, tanda, penyebab dan terapi


radang konjungtiva.
2. Gejala, tanda, penyebab dan terapi
radang palpebra.
3. Gejala, tanda, penyebab dan terapi
radang sklera.
Konjungtiva
Membran Mukosa : 3 bagian.
- Konjungtiva tarsal.
- Konjungtiva Fornik.
- Konjungtiva bulbi.
- Konjungtiva bulbi :
menutupi sklera bagian depan bolamata, terikat longgar
dengan kapsul tenon, terikat kuat didaerah limbus dan
bergabung dengan kornea melalui membran bowman.
- Terdiri dari epitel dan substantia propria ( stroma ).
- Perdarahan : arteri Konjungtiva posterior arteri
siliaris anterior
- Kelainan konjungtiva sering menjadi penyebab
timbulnya gejala mata, permukaan mata secara reguler
terpajan dengan lingkungan luar dan mudah mengalami
trouma, infeksi, reaksi alergi yang merupakan sebagian
besar penyakit pada jaringan ini.
I. Radang Konjungtiva = konjungtivitis
Konjungtiva memberikan reaksi terhadap infeksi
atau non infeksi berupa :
1. Infeksi konjungtiva : pembesaran a. konjungtiva
posterior gambaran pembuluh darah
berkelok- kelok, merah, bagian perifer
konjungtiva bulbi menuju kornea, ikut bergerak
apabila konjungtiva digerakkan.

2. Sekret : air, mukoid, purulen.

3. Follikel
Tonjolan, 1 m.m, mirip vesikel.
Permukaan landai, licin, abu-abu kemerahan
pembuluh darah dari pinggir follikel naik kearah
puncak follikel. Terbentuk di forniks.
4. Papil Raksasa ( cabble stone ).
Tarsus superior polygonal tersusun berdekatan dengan
permukaan datar. Pembuluh darah berasal dari bawah sentral.

5. Flikten : Tonjolan : serbukan sel-sel radang kronik dibawah


epitel konjungtiva atau kornea mikro abses nekrosis.
Flikten umumnya kecil / lebih > 1 mm. Paling sering di limbus.

6. Membran :
- Masa putih padat menutupi sebagian kecil / besar /
seluruh konjungtiva.
- Konjungtiva tarsal.
- Endapan sekret yang mudah diangkat disebut pseudomembran.
- Masa putih koagulasi dan nekrosis konjungtiva, sehingga
sukar diangkat membran.

7. Sikatrik
- Khas untuk Trakhoma.
- Garis-garis halus di konjungtiva tarsal superior.
Pembagian konjungtivitis
berdasarkan kausanya :

a. Konjungtivitis bakteri.
b. Konjungtivitis virus.
c. Konjungtivitis klamidia.
d. Konjungtivitis alergi.
a. Konjungtivitis Bakteri
Penyebab : gonokok, meningokok,
staphhylococcus aureus, streptococcus pneumoni,
hemophilus influenza dan escherichia coli.

Gambaran klinik :
Sekret purulen, khemosis konjungtiva, edema kelopak, kadang-kadang
disertai keratitis dan blefaritis. Papil pada konjungtiva, mata merah.
Pada optalmia neonatorum, yang disebabkan neisseria gonorrhoe :
28 hari kehidupan.

Mudah menular
Pengobatan : eritromisin, gentamisin,basitrasin,
atau penisilin.

Pemeriksaan : kultur
b. Konjungtivitis virus
Disebabkan infeksi virus : adeno virus.

Gambaran klinik :
- Demam, faringtitis.
- Sekret berair dan sedikit kental, mengenai satu atau dua mata.
- Adanya follikel konjungtiva dan pembesaran kelenjar
preaurikel.
- Edema kelopak mata, lacrimasi yang berlebihan.
- Pseudomembran
- Keratitis pungtata.

Pengobatan :
- Dapat sembuh sendiri tapi sangat menular.
- simtomatik dan antibiotik untuk mencegah
infeksi sekunder.
- Steroid : untuk mempercepat penyembuhan.
- Penyuluhan untuk menjaga hygiene.
c. Infeksi Klamidia : Berbagai serotipe klamidia trakhomatis merupakan
organisme intra cellular obligat.

Menyebabkan 2 bentuk infeksi mata :


1. Inclusion conjungtivitis.
Gambaran klinis :
konjungtivitis follikuler akut disebabkan oleh klamidia
okulo-genital pada orang dewasa, masa inkubasi : 18 30 tahun.
Pada bayi : konjungtivitis purulen yang disebut inclusion blennorrhoe.
Masa inkubasi 4 12 hari.
Sekret : Mukopurulent.

Terapi : antibiotik lokal tidak efektif.


Sistemik : terasiklin, sulfonamid, eritromisin.
Pasien harus dirujuk ke klinik penyakit menular seksual.
2. Trakhoma :
Penyebab kebutaan tersering di dunia. Tidak sering
terjadi di negara maju. Lalat rumah merupakan
vektor penyakit ini, mudah berkembang didaerah
padat penduduk, higiene yang buruk dan iklim kering dan panas.

Gambaran klinik :
Fibrosis sub konjungtiva, karena sering terjadi re infeksi.
Kebutaan : Karena parut kornea keratitis dan trikhiasis berulang.

Terapi :
Tetrasiklin, erithromisin : lokal / oral.
Azitromisin : sekali pemakaian
Komplikasi : Entropion & Trickhiasis Koreksi bedah
d. Konjungtivitis Allergi
Radang konjungtiva : reaksi hipersensitivitas
terhadap bahan alergen ( debu, tepung sari, obat, dll ).
Biasanya sembuh spontan.

Gambaran Klinis :
konjungtivitis vernal

Laboratorium :
sel eosinopil, sel plasma, limfosit, basopil.

Terapi : Steroid.
Jenis Konjungtivitis ditinjau dari
gambaran klinis yaitu :

1. Konjungtivitis kataral.
2. Konjungtivitis purulen, mukopurulen.
3. Konjungtivitis membran.
4. Konjungtivitis follicular ( termasuk trakoma ).
5. Konjungtivitis vernal.
6. Konjungtivitis flikten
II. Peradangan Palpebra :

1. Blefaritis :
infeksi khronik pada pinggir kelopak mata biasanya
bilateral. Ada 2 macam :
a. Skwamosa ( sebore ).
b. Ulceratif ( infeksi stafilokok ).

a. Blefaritis Skwamosa ( sebore ).


- Berhubungan ketombe di kepala, alis, mata, telinga.
- Biasanya terdapat pytosporum ovale, walaupun bukan
penyebab.
- Gejala : iritasi, rasa panas, gatal.
pinggir palpebra :kemerahan, sisik melekat pada bulu
mata, sisik berminyak.
- Terapi : ditujukan pada ketombe di kepala, alis, telinga.
medicated shampo 2x seminggu 1 bulan.
Sisik-sisik di pinggir palpebra dibersihkan dengan
kapas.
Salep korticosteroid : pada kelopak mata sebelum
tidur.
b. Blefatitis Ulseratif
- Infeksi pinggir palpebra stafilokok.
- Anak-anak retardasi mental
- Gejala : - Kelopak mata merah lebih merah dari blefaritis skwamosa,
sisik-sisik kering.
- Sepanjang pinggir kelopak mata ulcerasi ditutupi kropeng ( krusta ).
- Bulu mata rontok chronis :distorsi kelopak mata.

Pengobatan :
- Perbaiki keadaan umum gizi dan kebersihan.
- Kropeng kapas lidi basah
salep antibiotik.

Penyulit :
- Konjungtivitis, keratitis superfisial, meibomitis.
- Blefaritis stafilokok : hordeolum dan chalazion.
2. Hordeolum
- Infeksi superatif akut kelenjar kelopak mata stafilokokus.
- Pembentukan nanah terdapat dalam lumen kelenjar meibom hordeolum
internum.
- Kelenjar Zeiss & Moll kearah kulit palpebra hordeolum externum.

Gejala : Sakit pada kelopak mata.

Pemeriksaan :
Benjolan setempat, kemerahan, mengkilat & nyeri tekan.

Pengobatan :
- Kompres hangat : 10-15 menit, 3-4 x sehari.
- Antibiotik : lokal dan oral.
- Hordeolum externum pecah sendiri.
- Nanah berhubungan dengan akar bulu mata cabut bulu mata.
- 48 jam tidak ada perbaikan : insisi.
- Hordeolum internum insisi.
3. Kalazion
- Peradangan granulomatosa kelenjar meibom
- Terjadi penyumbatan kelenjar meibom.
- Gejala : - Benjolan pada kelopak.
- Tidak hiperemi.
- Tidak nyeri tekan.
- Adanya pseudoptosis.
- Kelenjar preaurikuler tidak membesar.
- Kelainan refraksi.

Terapi :
- Kompres hangat.
- Antibiotik setempat.
- Infeksi sekunder insisi
III. Radang Sklera

1. Episkleritis
- Implamasi lapisan superfisial sklera.
- Menyebabkan rasa tidak nyaman ringan.
- Jarang berkaitan dengan penyakit sistemik.
- Sembuh sendiri.
- Terapi anti inflamasi topikal.
- Gejala berat ( jarang ) : anti inflamasi non steroid
sistemik.
2. Skleritis :
- Lebih serius dari episkleritis.
- Berhubungan dengan penyakit kolagen vaskuler
artritis reumatoid.
- Nyeri mata berat : inflamasi & ischemic.
- Khas : sklera membengkak.
- Hal-hal yang memperberat keadaan ini :
penipisan sklera, keratitis, uveitis, katarak, glaukoma.
DAFTAR PUSTAKA

E.S. Perkins, dkk, 1986. An Atlas of Diseases of The Eye. Third Edition. Churchill
Livingstoe, New York.

Ilyas, Sidarta, 2011. Ilmu Penyakit Mata. edisi keempat cetakan kesatu. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta,

Ilyas, Sidarta, 2002. Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa
Kedokteran. edisi kedua, CV Sagung Seto, Jakarta.

J. Kanski, Jack. 2009, Clinical Opthalmology. Edisi kedua. Butterworth Heinemann, USA.

James, B. Chris, C. Anthony, B. 2006. Lecture Notes Oftalmologi. edisi kesembilan,


Erlangga, Jakarta

Leitman, Mark W. 1993. Panduan Diagnosis dan Pemeriksaan Mata. edisi ketiga.
Binarupa Aksara, Jakarta.

Vaughan, D.G. Asbury, T. 2008, Oftalmologi Umum., edisi ketujuh belas, Widya Medika,
Jakarta.