Anda di halaman 1dari 24

dr.

BAYU SARWO EDHIE


Dinas Kesehatan Kota Surakarta
- di AS Setiap tahunnya diperkirakan
mencapai 500.000 kasus.

- 10 % meninggal sebelum tiba dirumah sakit.


- di rumah sakit, 80 % dikelompokkan cidera
kepala ringan, 10 % cidera kepala sedang
dan 10 % cidera kepala berat.

- Lebih 100.000 penderita mengalami berbagai


tingkat kecacatan
 Cidera kepala primer melibatkan kerusakan
kulit, tulang dan jaringan otak(Donna,1992 )
 Kerusakan kulit dapat berupa laserasi,
hematoma, dan perlukaan pada kulit.
 Kerusakan tulang tengkorak dapat berupa
fraktur linier, depresed dan fraktur dasar
tengkorak yang bersifat terbuka maupun
tertutup.
Kerusakan trauma

Kulit kepala

Otak

Tulang kepala
 Perubahan respon ( bingung )
 Gangg nafas
 Sakit kepala
 Mual & muntah –proyektil
 Gangguan penglihatan
 Pupil tidak simetris
 Perubahan tanda vital
 Luka ( perubahan antomis tempat trauma)
 Darah / cairan keluar dari hidung dan telinga
 Memar dibelakang telinga ( battle sign)
 Memar di sekeliling mata ( racoon’ Eyes)
 Kehilangan kesadaran
 Postur abnormal
Kerusakan jaringan otak :
 Gegar otak
Cidera otak ringan dengan karakteristik :
1. disfungsi neurologis sementara,
2. hilang kesadaran < 5 menit atau tidak ada.
3. disorientasi dan bingung hanya beberapa
saat.
4. Sakit kepala, pusing, sulit konsentrasi, mual
muntah. Sering terjadi sindrom post
trauma.
1. perdarahan kapiler otak dan dapat
terjadi edema cerebral 2 – 3 hari post
trauma dapat meningkatkan tekanan
intra kranial.
2. Kontosio dapat berupa Coup atau
countracoup.
3. Defisit neurologis tergantung dari
luasnya cidera
 Hematoma epidural
Perdarahan yang terjadi di ruang epidural yaitu ruang antara tulang cranial
dengan lapisan duramater. Perdarahan ini terjadi karena robekan arteri
meningeal media atau meningeal frontal. Secara klinis terjadi hilang kesadaran
dg diikuti periode luccid, kesadaran menurun sampai coma.
 Hematoma sub dural
Perdarahan terjadi di ruang subdural yang terjadi karena robekan vena.
SDH akut, terjadi 24 – 48 jam dga gejala sekait kepala, ngantuk,
bingung,
dilatasi pupil & Fixed pupil ipsilateral.
SDH sub akut terjadi 2 hari – 2 minggu dengan gejala seperti pada
keadaan akut.
SDH Kronik terjadi gejala lebih dari 2 minggu.

 Hematoma intracerebral
Perdarahan terjadi di parenchym otak, seringkali terjadi berkaitan
dengan rotasi, berkembang secara cepat menjadi coma, dilatasi
pupil ipsilateral
No kategory kreteria

1 Cidera kepala •GCS : 13 – 15


ringan •Hilang kesadaran/amnesia < 30 menit.
•Tak ada fraktur tengkorak, tak ada kontosio &
hematoma cerebral

2 Cidera kepala •GCS : 9 – 12


sedang •Hilang kesadaran/amnesia >30 menit< 24jam.
•Dapat mengalami fraktur tengkorak

3 Cidera kepala berat •GCS : 3 – 8


•Hilang kesadaran dan/ amnesia lebih 24 jam.
•Meliputi kontosio cerebral, laserasi atau
hematoma intrakranial.
 Volume intra kranial selalu konstan
 TIK normal bukan berarti tidak ada lesi massa intra
kranial
 TIK 10 mmHg(136 H2O), tjd herniasi tekanan diatas
25 mmHg.
 Tekanan perfusi cerebral dipertahankan diatas 70
mmHg.
 Perdarahan intra cerebral / edema cerebral,
tekanan intra kranial meningkat dan terjadi
penurunan tekanan perfusi.
 Tubuh mempunyai reflek protektif (reflek Cushing) ----
tekanan perfusi tetap konstan. Seperti pada
peningkatan tekanan intracerebral, tekanan darah
sistemik meningkat untuk mengalirkan darah ke otak.
 Kondisi sangat kritis, kecepatan denyut jantung
menurun (bradycardi) dan akhirnya penurunan
kecepatan pernapasan.
 Pada penderita cidera kepala tekanan darah sistolik
tetap dipertahankan 100 – 110 mmHg untuk
mempertahankan tekanan perfusi 70 mmHg.
 Kelancaran jalan napas (airway )
 Bantuan napas dari mulut ke mulut akan sangat
bermanfaat (breathing).
 Status sirkulasi dapat dinilai secara cepat dengan
memeriksa tingkat kesadaran dan denyut nadi
(circulation).
 Setelah ABC stabil, transport ke rumah sakit
rujukan.
 Hentikan perdarahan
 Jika ada tulang patah jangan ditekan
- Jaringan robek jangan diangkat
- Tekan dengan kasa steril / bersih
 Kompres es daerah yang bengkat
 jika muntah miringkan ( waspadai patah
tulang leher )
Penanganan harus tepat dan cepat
 Penanganan awal sangat penting (menekan
morbiditas/angka kesakitan & mortalitas
angka kematian )

 Tujuan tidak hanya menolong jiwa tetapi


menyembuhkan penderita dengan kelainan
yang seminimal mungkin