Anda di halaman 1dari 65

WAWASAN NUSANTARA

SEBAGAI GEOPOLITIK
INDONESIA
• Kata “wawasan” berasal dari kata wawas (bahasa jawa) yang berarti melihat atau
memandang.
• Dengan demikian, wawasan nasional adalah cara pandang suatu bangsa yang telah
menegara tentang diri dan lingkungannya dalam eksistensinya yang serba terhubung
(melalui interaksi dan interalasi) dan dalam pembangunannya di lingkungan nasional
(termasuk lokal dan propinsional), regional, serta global.
BEBERAPA PRINSIP YANG MENJADI DASAR
PERKEMBANGAN SUATU WAWASAN NASIONAL :
• Paham kekuasaan,
• Geopolitik &
• Geostrategi”.
PAHAM KEKUASAAN :

1. Paham Machiavelli (Abad XVII)


2. Paham Kaisar Napoleon B (Abad XVIII)
3. Paham Jenderal Clausewitz (Abad XVIII)
4. Paham Feuerbach & Hegel
5. Paham Lenin (Abad XIX)
6. Paham Lucian W. Pye & Sydney
.
1 PAHAM MACHIAVELLI (ABAD XVII)

Menurut Machiavelli, sebuah negara akan bertahan apabila


menerapkan dalil-dalil berikut :
• Segala cara dihalalkan dalam merebut dan
mempertahankan kekuasaan
• Untuk menjaga kekuasaan rezim, politik adu domba
(devide et impera) adalah sah
• Dalam dunia politik (yang disamakan dengan kehidupan
binatang buas) yang kuat pasti dapat bertahan dan
menang.
2. PAHAM KAISAR NAPOLEON B
(ABAD XVIII)

• Napoleon (penganut machiavelli) berpendapat bahwa perang di


masa depan akan merupakan perang total yang mengerahkan
segala daya upaya dan kekuatan nasional. Dia berpendapat bahwa
kekuatan politik harus didampingi oleh kekuatan logistik dan
ekonomi nasional. Kekuatan ini juga perlu didukung oleh kondisi
sosial budaya berupa ilmu pengetahuan dan teknologi demi
terbentuknya kekuatan hankam untuk menduduki dan menjajah
negara-negara di sekitar prancis.
3. PAHAM JENDERAL CLAUSEWITZ
(ABAD XVIII)
• Clausewitz, menulis sebuah buku tentang perang “Vom Kriege” (tentang perang).
Menurutnya, perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain. Baginya, peperangan
adalah sah-sah saja untuk mencapai tujuan nasional suatu bangsa.
4. PAHAM FEUERBACH & HEGEL

• Paham materialisme Feuerbach dan teori sintesis Hegel


menimbulkan dua aliran besar barat yang berkembang
di dunia, yaitu kapitalisme di satu pihak dan komunisme
di pihak lain. Pada abad XVII paham perdagangan bebas
merupakan nenek moyang liberalisme sedang marak.
Saat itu orang kebanyakan berpendapat bahwa ukuran
keberhasilan ekonomi suatu negara adalah seberapa
besar surplus ekonominya, terutama diukur dengan
emas. Paham ini memicu nafsu kolonialisme negara
barat dalam mencari emas ke tempat lain.
5. PAHAM LENIN (ABAD XIX)

• Lenin memodifikasi paham Clausewitz.


Menurutnya, perang adalah kelanjutan politik
dengan cara kekerasan, bagi
Leninisme/komunisme, perang atau
pertumpahan darah atau revolusi di seluruh
dunia adalah sah dalam kerangka
mengkomuniskan seluruh bangsa di dunia.
6. PAHAM LUCIAN W. PYE & SYDNEY

• Yaitu adanya unsur-unsur subyektivitas dan psikologis dalam


tatanan dinamika kehidupan politik suatu bangsa, kemantapan
suatu sistem politik dapat dicapai apabila sistem tersebut
berakar pada kebudayaan politik bangsa yang bersangkutan.
Dengan demikian proyeksi eksistensi kebudayaan politik tidak
semata-mata ditentukan oleh kondisi-kondisi obyektif tetapi juga
subyektif dan psikologis.
TEORI-TEORI GEOPOLITIK

• Geopolitik berasal dari kata “Geo” atau “bumi” dan politik = kekuatan yang
didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan dasar dalam menentukan alternative
kebijaksanaan untuk mewujudkan tujuan nasional.
• Sehingga geopolitik bisa diartikan sebagai politik yang tidak terlepas dari pengaruh
letak & kondisi geografis bumi yang menjadi wilayah hidup.
• Dalam hal ini maka manusia yang hidup di atasnya berperan sebagai penentu terhadap
bumi tempat dia berpijak, sebagai penentu pada tempat, wadah atau ruang di mana
mereka berada.
PAKAR-PAKAR GEOPOLITIK DAN
PENDAPATNYA :
1. Frederich Ratzel (teori ruang)
2. Rudolf Kjellen
3. Karl Haushofer
4. Sir Halford Mackinder
5. Sir Walter Raleigh & Alfred Thyer Mahan
6. W. Mitchel, A. Saversky, Givlio Douhet, dan John Frederik Charles Fuller
7. Nicholas J. Spykman
1. FREDERICH RATZEL (TEORI RUANG)
Pokok-pokok ajarannya adalah sebagai berikut:
• Dalam hal-hal tertentu pertumbuhan negara dapat dianalogikan dengan
pertumbuhan organisme yang memerlukan ruang lingkup, melalui
proses lahir, tumbuh, berkembang, mempertahankan hidup, menyusut,
dan mati.
• Negara identik dengan suatu ruang yang ditempati oleh kelompok
politik dalam arti kekuatan.
• Suatu bangsa dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya tidak
terlepas dari hukum alam.
• Batas wilayah suatu negara pada hakikatnya bersifat sementara. Apabila
ruang hidup negara sudah tidak dapat memenuhi keperluan, ruang itu
dapat diperluas dengan mengubah batas-batas negara baik secara damai
maupun melalui jalan kekerasan/perang.
2. RUDOLF KJELLEN

• Rudolf Kjellen melanjutkan teori Ratzel. Ia mengatakan bahwa negara itu tidak
saja merupakan suatu organisme, tetapi juga memiliki kemampuan intelektual.
Negara merupakan suatu sistem politik/pemerintahan yang meliputi bidang
geopolitik, ekonomi politik, demopolitik, sosial politik dan kratopolitik (politik
memerintah).
• Negara dalam mengejar kekuatan tidak boleh hanya mengikuti hukum ekspansi
saja atau bergantung pada pembekalan luar, melainkan harus mampu
berswasembada serta memanfaatkan kemajuan kebudayaan dan
teknologinya. Artinya, negara harus dapat meningkatkan kekuatan nasionalnya,
yaitu : ke dalam, untuk mencapai persatuan dan kesatuan yang harmonis, dan
ke luar, untuk memperoleh batas-batas negara yang lebih baik.
• Mengenai perebutan kekuatan kontinental dan maritim, Kjellen berpendapat
bahwa pada akhirnya kekuatan kontinental dapat mengalahkan
kekuatan maritim dan memperoleh kekuasaan pengawasan di lautan juga.
3. KARL HAUSHOFER

Pokok-pokok teori Karl haushofer didasarkan pada pandangan Ratzel


dan Kjellen (bersifat ekspansif) :
• Kekuasaan imperium daratan yang kompak akan mengejar
kekuasaan imperium maritim dan akan menguasai pengawasan
lautan
• Beberapa negara besar di dunia akan timbul (Jerman, Itali,
Jepang) dan akan menguasai Eropa, Afrika dan Asia barat.
4. SIR HALFORD MACKINDER

• Menganut “Konsep kekuatan”, pencetus Wawasan Benua, yaitu


konsep kekuatan di darat. “barang siapa dapat menguasai daerah
jantung, yaitu Eurasia (eropa dan Asia), ia akan dapat menguasai
pulau dunia, yaitu Eropa, Asia dan afrika. Selanjutnya, barang siapa
dapat menguasai pulau dunia akhirnya dapat menguasai dunia.
5. SIR WALTER RALEIGH & ALFRED THYER
MAHAN

• Mencetuskan gagasan “Wawasan Bahari”, yaitu kekuatan


lautan. Ia menyatakan bahwa barang siapa menguasai lautan
akan menguasai “perdagangan”. Menguasai perdagangan
berarti menguasai “kekayaan dunia” sehingga pada akhirnya
menguasai dunia.
6. W. MITCHEL, A. SAVERSKY, GIVLIO
DOUHET, DAN JOHN FREDERIK CHARLES
FULLER
• Keempat ahli geopolitik ini menyatakan bahwa
kekuatan di udara justru yang paling menentukan.
Sehingga muncul teori “Wawasan Dirgantara”
yaitu konsep kekuatan di udara. Kekuatan di udara
hendaknya mempunyai daya yang dapat diandalkan
untuk menangkis ancaman dan melumpuhkan kekuatan
lawan dengan menghancurkannya di kandangnya
sendiri agar lawan tidak berdaya.
7. NICHOLAS J. SPYKMAN

• Menghasilkan teori daerah batas (rimland), yaitu teori wawasan


kombinasi yang menggabungkan kekuatan darat, laut, dan
udara. Dalam pelaksanaannya, disesuaikan dengan keperluan dan
kondisi suatu negara.
GEOSTRATEGI
• Geostrategi diartikan sebagai Perumusan strategi
nasional dengan memperhitungkan kondisi &
konstelasi geografi sebagai faktor utamanya. Serta
perlu memperhatikan kondisi sosial, budaya, penduduk,
sumber alam, lingkungan regional maupun
internasional (global).
AJARAN WAWASAN NASIONAL
INDONESIA
• Dalam menentukan, membina, dan mengembangkan
wawasan nasionalnya, Bangsa Indonesia menggali
dan mengembangkan dari kondisi nyata yang
terdapat di lingkungan Indonesia sendiri. Wawasan
Nasional Indonesia dibentuk dan dijiwai oleh
pemahaman kekuasaan Bangsa Indonesia yang
berlandaskan falsafah Pancasila dan oleh pandangan
geopolitik Indonesia yang berlandaskan pemikiran
kewilayahan dan kehidupan Bangsa Indonesia.
BAGAIMANAKAN RUMUSAN BANGSA INDONESIA TENTANG
PAHAM KEKUASAAN, GEOPOLITIK DAN GEOSTRATEGI?

• Bangsa Indonesia tidak dapat menerima rumusan Karl


Haushofer dan rumusan-rumusan lain yang pada prinsipnya
sama karena bertentangan dengan Pancasila.
• Bagi Bangsa Indonesia, geopolitik merupakan pandangan baru
dalam mempertimbangkan faktor-faktor geografis wilayah
negara untuk mencapai tujuan nasionalnya.
• Geopolitik Indonesia dikembangkan sesuai dengan pancasila,
yang menolak unsur-unsur yang berbau ekspansionisme
maupun kekerasan
PAHAM KEKUASAAN BANGSA
INDONESIA :
Paham Perang dan Damai :
• “Bangsa Indonesia cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan”.
• Wawasan Nasional bangsa Indonesia tidak mengembangkan
ajaran tentang kekuasaan dan adu kekuatan, karena hal tersebut
mengandung benih-benih persengketaan & ekspansionisme.
PAHAM PERANG DAN DAMAI
TERSEBUT MENGANDUNG ARTI :
• Bangsa Indonesia cinta damai dan ingin bersahabat dengan semua
bangsa didunia serta tidak menghendaki terjadinya sengketa
bersenjata atau perang.
• Bangsa Indonesia berhasrat untuk selalu mengutamakan cara-cara
damai dalam setiap penyelesaian pertikaian nasional maupun
internasional.
• Walaupun cinta damai, namun Bangsa Indonesia lebih cinta
kemerdekaan dan kedaulatannya, perang adalah jalan terakhir yang
terpaksa harus ditempuh untuk mempertahankan ideologi dan
dasar Negara pancasila, kemerdekaan, dan kedaulatan Negara
Republik Indonesia serta kebutuhan Bangsa.
AJARAN WAWASAN NASIONAL
BANGSA INDONESIA MENYATAKAN
BAHWA:
• ideologi digunakan sebagai landasan idiil dalam menentukan politik nasional,
dihadapkan pada kondisi dan kostelasi geografi Indonesia dengan segala aspek
kehidupan nasionalnya.
• Tujuannya adalah agar Bangsa Indonesia dapat menjamin kepentingan bangsa dan
Negaranya di tengah-tengah perkembangan dunia.
GEOPOLITIK INDONESIA

• Wawasan Nusantara adalah merupakan Geopolitik


Indonesia.
• Pemahaman tentang Negara Indonesia adalah menganut
paham Negara kepulauan yang dikembangkan dari asas
archipelago, yang berbeda dengan pemahaman di Negara-
negara barat pada umumnya.
• Di barat: Laut berperan sebagai “pemisah” pulau,
• di Indonesia: Laut adalah “penghubung” sehingga wilayah
Negara menjadi satu kesatuan yang utuh sebagai “Tanah
Air” dan disebut Negara kepulauan.
WAWASAN NUSANTARA
ADALAH WAWASAN
NASIONAL INDONESIA
PENGERTIAN WAWASAN NUSANTARA

Menurut Pokja wawasan Nusantara, yang diusulkan menjadi


Ketetapan MPR dan dibuat di Lemhannas tahun 1999,
Wawasan Nusantara diartikan sebagai “cara pandang dan sikap
Bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang serba
beragam dan bernilai strategis dengan mengutamakan persatuan
dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam
menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara untuk mencapai tujuan nasional”.
WAWASAN :

merupakan konsep atau cara pandang dalam rangka mewujudkan cita-


cita dan tujuan nasional setiap bangsa tentang diri dan lingkungannya,
khususnya terhadap tanah air/geografinya. Di dalamnya juga dibahas
tentang hubungan antara bangsa dan tanah air yang menumbuhkan
berbagai teori yang meliputi :
• falsafah dan pandangan hidup
• pengaruh-pengaruhnya terhadap kehidupan bangsa berupa TAHG
dalam rangka mewujudkan cita-cita dan tujuan nasionalnya,
dengan berorientasi ke masa depan berdasarkan pada kondisi diri
dan (yang meliputi sejarah, budaya, falsafah, geografi dan
kepentingan nasionalnya)
NUSANTARA :

• diartikan Indonesia sebagai nusa (negara kepulauan yang


terletak di antara dua samudera (Hindia dan Pasifik) dan dua
benua (Asia dan Australia)).
• Dengan pemahaman terhadap tanah air, kondisi dan
keamanan geografinya serta hubungan dengan kehidupan
nasional dan internasional, maka akan menumbuhkan
kesadaran dan kecintaan terhadap : tanah airnya, bangsa dan
rakyatnya serta rela berkorban untuk mewujudkan nilai-nilai
Pancasila dan UUD 1945
• Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
secara terus menerus mengadakan interaksi dengan
lingkungannya demi terwujudnya hal-hal sebagai berikut :
• Satu kesatuan Wilayah yang serba Nusantara dan memadukan
segala anugerah dan kekayaannya
• Satu kesatuan bangsa yang menegakkan satu Ideologi, UUD dan
identitas
• Satu kesatuan sosial dan budaya atas Bhineka Tunggal Ika
• Satu kesatuan Ekonomi yang berdasarkan kekeluargaan.
• Satu kesatuan Hankam yang berdasarkan pengerahan seluruh
rakyat semesta, membina satu tertib hankam dan kewaspadaan
nasional.
POKOK-POKOK WAWASAN NUSANTARA
SEBAGAI WAWASAN DALAM MENCAPAI
TUJUAN PEMBANGUNAN NASIONAL
ADALAH WAWASAN NUSANTARA
YANG MENCAKUP :
PERWUJUDAN KEPULAUAN NUSANTARA SEBAGAI
SATU KESATUAN POLITIK DALAM ARTI BAHWA :

• Kebulatan wilayah nasional dengan segala isinya adalah satu


kesatuan wilayah, serta menjadi milik bersama bangsa
• Bangsa Indonesia yang beraneka ragam suku, agama dan
kepercayaan harus merupakan kesatuan yang bulat
• Secara psikologis Bangsa Indonesia harus merasa satu,
senasib, sebangsa, mempunyai satu tekad dalam mencapai
cita-cita bangsa.
• Pancasila adalah falsafah dan ideologi bangsa dan negara
• Hanya ada satu hukum nasional yang mengabdi kepada
kepentingan nasional.
PERWUJUDAN KEPULAUAN NUSANTARA SEBAGAI
SATU KESATUAN SOSIAL BUDAYA, DALAM ARTI
BAHWA :

• Masyarakat Indonesia adalah satu, harus ada tingkat kemajuan


masyarakat yang merata, selaras dengan kemajuan bangsa
• Budaya Indonesia hakikatnya adalah satu. Beragam budaya yang ada
menggambarkan kekayaan budaya bangsa.
PERWUJUDAN KEPULAUAN NUSANTARA SEBAGAI
SATU KESATUAN EKONOMI DALAM ARTI
BAHWA:

• Kekayaan wilayah nusantara adalah milik bersama bangsa, keperluan


hidup harus tersedia merata diseluruh tanah air
• Tingkat perkembangan ekonomi harus seimbang di seluruh daerah
PERWUJUDAN KEPULAUAN NUSANTARA SEBAGAI
SATU KESATUAN PERTAHANAN KEAMANAN
DALAM ARTI BAHWA :

• Ancaman terhadap satu daerah adalah ancaman terhadap seluruh


bangsa
• Tiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam
pembelaan negara
LANDASAN WAWASAN NUSANTARA :

1. Landasan Idiil :
Landasan Idiil Wawasan Nusantara adalah
Pancasila. Hal tersebut dikarenakan Pancasila
sebagai dasar negara. Termasuk mendasari
keberadaan Wawasan Nusantara. Pelaksanaan
Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara antara lain mensyukuri
anugerah konstelasi dan posisi geografi serta isi
dan potensi yang dimiliki oleh wilayah nusantara.
2. Landasan Konstitusional :
Landasan Konstitusional Wawasan Nusantara adalah
Undang-Undang Dasar 1945, karena UUD itulah
yang merupakan konstitusi dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Wujudnya antara lain dalam bentuk negara kesatuan
serta penguasaan oleh negara atas bumi, air dan
dirgantara.
UNSUR DASAR WAWASAN
NUSANTARA : (WADAH, ISI,TATA LAKU)
a. Wadah (Contour) :
Wadah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara meliputi seluruh wilayah Indonesia yang
memiliki kekayaan alam dan penduduk dengan aneka
ragam budaya. Setelah menegara dalam Negara
Kesatuan republik Indonesia, Bangsa Indonesia memiliki
organisasi kenegaraan yang merupakan wadah berbagai
kegiatan kenegaraan dalam wujud suprastruktur politik.
Sementara itu, wadah dalam kehidupan bermasyarakat
adalah berbagai lembaga dalam wujud infrastruktur
politik.
2. Isi (Content) :
“Isi” adalah aspirasi bangsa yang berkembang di masyarakat dan cita-cita serta
tujuan nasional yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945. untuk mencapai
aspirasi yang berkembang di masyarakat maupun cita-cita dan tujuan nasional
seperti tersebut di atas, bangsa Indonesia harus mampu menciptakan persatuan
dan kesatuan dalam kebhinekaan dalam kehidupan nasional.
Isi menyangkut dua hal essensial, yaitu :
• Realisasi aspirasi bangsa sebagai kesepakatan bersama serta pencapaian cita-
cita dan tujuan nasional
• Persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan yang meliputi semua aspek
kehidupan nasional.
3. Tata laku (Conduct) :

“Tata laku” merupakan hasil interaksi antara wadah dan isi, yang
terdiri dari tata laku batiniah dan lahiriah.
• Tata laku batiniah mencerminkan jiwa, semangat, dan
mentalitas yang baik dari bangsa Indonesia,
• Tata laku lahiriah tercermin dalam tindakan, perbuatan, dan
perilaku dari Bangsa Indonesia.

Kedua hal tersebut akan mencerminkan identitas jati diri atau


kepribadian bangsa Indonesia berdasarkan kekeluargaan dan
kebersamaan yang memiliki rasa bangga dan cinta kepada bangsa dan
tanah air sehingga menumbuhkan nasionalisme yang tinggi dalam
semua aspek kehidupan nasional.
HAKIKAT WAWASAN NUSANTARA :

• adalah keutuhan Nusantara, dalam pengertian : cara pandang yang


selalu utuh menyeluruh dalam lingkup nusantara demi kepentingan
nasional.
• Hal tersebut berarti bahwa setiap warga bangsa dan aparatur negara
harus berpikir, bersikap, dan bertindak secara utuh menyeluruh demi
kepentingan bangsa dan negara indonesia.
• Demikian juga produk yang dihasilkan oleh lembaga negara harus
dalam lingkup dan demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia,
tanpa menghilangkan kepentingan lainnya, seperti kepentingan daerah,
golongan, dan orang- perorang.
ARAH PANDANG WAWASAN
NUSANTARA :
a. Arah Pandang ke Dalam :
• Arah pandang ke dalam bertujuan menjamin perwujudan
persatuan kesatuan segenap aspek kehidupan nasional, baik aspek
alamiah maupun aspek sosial.
• Arah pandang ke dalam mengandung arti bahwa Bangsa Indonesia
harus peka dan berusaha untuk mencegah dan mengatasi sedini
mungkin faktor-faktor penyebab timbulnya disentegrasi bangsa
dan harus mengupayakan tetap terbina dan terpeliharanya
persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan.
b. Arah Pandang ke Luar :
• Arah pandang ke luar ditujukan demi terjaminnya kepentingan
nasional dalam dunia yang serba berubah maupun kehidupan
dalam negeri serta dalam melaksanakan ketertiban dunia
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial,
serta kerja sama dan sikap saling hormat menghormati.
• Arah pandang ke luar mengandung arti bahwa dalam kehidupan
internasionalnya, Bangsa indonesia harus berusaha
mengamankan kepentingan nasionalnya dalam semua aspek
kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial budaya maupun
pertahanan dan keamanan demi tercapainya tujuan nasional
sesuai dengan yang tertera pada Pembukaan UUD 1945
ASAS WAWASAN NUSANTARA :

• Asas Wawasan Nusantara merupakan ketentuan-ketentuan


atau kaidah-kaidah dasar yang harus dipatuhi, ditaati,
dipelihara, dan diciptakan demi tetap taat dan setianya
komponen pembentuk bangsa Indonesia (suku bangsa atau
golongan) terhadap kesepakatan bersama.
• Harus disadari bahwa jika asas Wawasan Nusantara
diabaikan, komponen pembentuk kesepakatan bersama
akan melanggar kesepakatan bersama tersebut, yang berarti
bahwa tercerai berainya bangsa dan Negara Indonesia.
1. KEPENTINGAN YANG SAMA

• Ketika menegakkan dan merebut kemerdekaan, kepentingan bersama


Bangsa Indonesia adalah menghadapi penjajahan secara fisik dari bangsa
lain. Sekarang, Bangsa Indonesia harus menghadapi jenis “penjajahan”
yang berbeda dari negara asing. Misalnya, kehidupan dalam negeri
Bangsa Indonesia mendapat tekanan dan paksaan baik secara halus
maupun kasar dengan cara adu domba dan pecah belah bangsa dengan
menggunakan dalih HAM, demokrasi, dan lingkungan hidup. Sementara
itu, tujuan yang sama adalah tercapainya kesejahteraan dan rasa aman
yang lebih baik dari pada sebelumnya.
2. KEADILAN

• Keadilan berarti kesesuaian pembagian hasil dengan andil, jerih payah usaha, dan kegiatan
baik orang perorangan, golongan, kelompok, maupun
3. KEJUJURAN

• Kejujuran berarti keberanian berpikir, berkata, dan bertindak sesuai realita


serta ketentuan yang benar biarpun realita atau ketentuan itu pahit dan kurang
enak didengarnya. Demi kebenaran dan kemajuan bangsa dan negara, hal ini
harus dilakukan.
4. SOLIDARITAS

• Solidaritas memerlukan rasa setia kawan, mau memberi dan berkorban bagi orang lain
tanpa meninggalkan ciri dan karakter budaya masing-masing.
5. KERJA SAMA

• Kerja sama berarti adanya koordinasi, saling pengertian yang didasarkan atas
kesetaraan sehingga kerja kelompok, baik kelompok yang kecil maupun
kelompok yang lebih besar, dapat tercapai demi terciptanya sinergi yang lebih
baik.
6. KESETIAAN TERHADAP
KESEPAKATAN BERSAMA

• Kesetiaan terhadap kesepakatan bersama untuk menjadi


bangsa dan mendirikan Negara Indonesia, yang dimulai, dicetuskan,
dan dirintis oleh Boedi Oetomo pada tahun1908, Sumpah Pemuda,
1928, dan Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.
• Kesetiaan terhadap kesepakatan bersama ini sangatlah penting dan
menjadi tombak utama terciptanya persatuan dan kesatuan dalam
kebhinekaan. Jika kesetiaan terhadap kesepakatan ini goyah apalagi
ambruk, dapat dipastikan bahwa persatuan dan kesatuan dalam
kebhinekaan Bangsa Indonesia akan hancur berantakan pula. Ini
berarti hilangnya Negara Kesatuan Indonesia.
KEDUDUKAN WAWASAN
NUSANTARA

• Wawasan Nusantara berkedudukan sebagai landasan


visional dalam penyelenggaraan kehidupan nasional.
• Wawasan Nusantara sebagai wawasan Nasional Bangsa
Indonesia merupakan ajaran yang diyakini kebenarannya
oleh seluruh rakyat agar tidak terjadi penyesatan dan
penyimpangan dalam upaya mencapai dan mewujudkan
cita-cita dan tujuan nasional.
WAWASAN NUSANTARA DALAM PARADIGMA
NASIONAL DAPAT DILIHAT DARI
STRATIFIKASINYA SEBAGAI BERIKUT :
• Pancasila sebagai falsafah, ideologi bangsa dan dasar negara
berkedudukan sebagai landasan idiil
• UUD 1945 sebagai landasan konstitusional
• Wawasan Nusantara sebagai visi nasional, berkedudukan
sebagai landasan visional
• Ketahanan Nasional sebagai konsepsi nasional, berkedudukan
sebagai landasan konsepsional
• Politik dan strategi nasional atau kebijaksanaan dasar nasional,
berkedudukan sebagai landasan operasional.
FUNGSI WAWASAN NUSANTARA

Wawasan Nusantara berfungsi sebagai pedoman, motivasi, dorongan serta rambu-


rambu dalam menentukan segala kebijaksanaan, keputusan, tindakan dan perbuatan
bagi penyelenggara negara di tingkat pusat dan daerah maupun bagi seluruh rakyat
Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
TUJUAN WAWASAN NUSANTARA
• Wawasan Nusantara bertujuan untuk mewujudkan nasionalisme yang
tinggi di segala aspek kehidupan rakyat Indonesia yang lebih
mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan individu,
kelompok, golongan, suku bangsa, atau daerah.

• Hal tersebut bukan berarti menghilangkan kepentingan-kepentingan


individu, kelompok, suku bangsa, atau daerah. Kepentingan-
kekepentingan tersebut tetap dihormati, diakui, dan dipenuhi, selama tidak
bertentangan dengan kepentingan nasional atau kepentingan masyarakat
banyak.
KONDISI GEOGRAFI INDONESIA
Geografi : Wilayah yang tersedia dan terbentuk secara alamiah
demikian adanya oleh alam nyata. Kondisi geografis Indonesia
sebagai berikut :
• Panjang Indonesia 1/8 katulistiwa.
• Jarak Utara – Selatan ± 1888 km
• Jarak Barat – Timur ± 5110 km
• Terletak antara 6° LU & 11° LS, 95° BT – 141° BT.
• Terletak antara benua Asia, Australia, antara samudera Hindia &
Pasifik,  Posisi silang
• Jumlah pulau ± 17.508 pulau
• Luas lautan 2/3 dari selat wilayah Indonesia.
• Kalimantan & Irian Jaya tanahnya subur
• Tanah Indonesia mengandung kekayaan alam yang masih
potensial
• Distribusi penduduk tidak merata.
• Indonesia berada di posisi silang dunia. Jika diteliti lebih jauh posisi silang
Negara Indonesia tidak hanya mengenai segi fisik geografisnya saja tetapi
juga mengenai aspek-aspek kehidupan sosial.
POSISI SILANG MEMBAWA PENGARUH ASPEK FISIK DAN ASPEK
SOSIAL, DIANTARANYA :

• Demografi (kependudukan) : antara daerah yang berpenduduk padat


di Utara (RRC) dan daerah yang berpenduduk jarang di selatan
(Australia)
• Ideologi : antara Komunisme di Utara dan liberalismr di Selatan.
Indonesia tidak termasuk keduanya tetapi mewaspadainya. Ideologi
Indonesia adalah Pancasila
• Politik : antara demokrasi rakyat di Utara dan demokrasi parlementer
di di selatan
• Ekonomi : antara ekonomi terpusat di Utara dan ekonomi liberal di
Selatan
• Sosial : Antara Sosialisme di Utara dan individualisme di Selatan.
• Hankam : Sistem pertahanan kontinental di Utara dan sistem
Peratahan maritim di Selatan.
Hal ini berakibat pada keadaan dimana bangsa Indonesia dipaksa harus memilih
diantara dua alternatif.Yaitu:
• Membiarkan diri terus menerus menjadi obyek lalu lintas kekuatan-kekuatan dan
pengaruh-pengaruh dari luar yang setiap kali condong dan menggantungkan diri pada
kekuatan/ pengaruh yang terbesar, atau
• Ikut serta mengatur lalu lintas kekuatan-kekuatan & pengaruh-pengaruh tersebut
dengan ikut berperan sebagai subyek.
• Bangsa Indonesia memilih alternatif kedua, karena itu bangsa Indonesia dituntut
memiliki kemampuan untuk menciptakan kekuatan sentrifugal, yaitu
kemampuan untuk mengubah pengaruh dan kekuatan dari luar menjadi
kekuatan nasional yang dikendalikan sebagai kekuatan sentrifugal, kekuatan yang
berisikan sifat fisik dan mental yang tidak ekspansif
PENGARUH POSISI SILANG TERHADAP KEHIDUPAN
SOSIAL BANGSA INDONESIA :
• Bangsa Indonesia mempunyai sifat terbuka namun kemampuan
adaptasinya rendah sehingga sosial-budaya dari luar yang masuk tanpa
disaring lebih dulu.
• Adanya konflik dari Negara” tetangga maka langsung maupun tidak
langsung akan mengganggu pembangunan nasional.
• Adanya Negara” besar yang berusaha menanamkan pengaruhnya baik
di bidang politik maupun ideologi.
• Adanya kekayaan alam yang melimpah dan tenaga kerja yang murah
akan menjadikan daya tarik bagi Negara-negara lain yang tidak
mempunyai unsur-unsur tersebut.
• Dengan adanya hal tersebut, bangsa Indonesia
harus kuat lahir, batin, bersikap bebas aktif,
mampu mengadakan hubungan dengan segala
kekuatan yang melintasinya asalkan hubungan
itu tidak membahayakan keselamatan bangsa &
negara.
• Bersambung……