Anda di halaman 1dari 48

Pleno Skenario 2

Blok Reproduksi

PSPD FK UNILA

PATOLOGI KEHAMILAN

Kelompok 6
Adelina Vilia Muhammad Yahya Shobirin Resti Fratiwi Fitri Anita Nur Charisma Billy Aditya Pratama Ellysabet Dian Y V S Merry Dame Cristy.P Ramayang Nastiti Estowo Yudha Adi Putra Suharto Anindia Putri Phartozy Silaen (1018011002) (1018011018) (1018011021) (1018011040) (1018011046) (1018011056) (1018011074) (1018011090) (1018011105) (1018011111) (1018011125)

Keguguran
Ny. Kimmy, 23 tahun. G1P0A0 hamil 18 minggu, datang dalam keadaan pucat dan lemah, pada pemeriksaan obstetrik ditemukan pendarahan dari vagina disertai dengan keluarnya bagian janin tubuh. Sebulan belakangan Kimmy mengalami letih, lesu, serta kepala pusing. Trimester I dia mengalami muntah-muntah yang bisa mencapai 10 kali sehari. Ny. Kimmy tidak pernah memeriksakan diri ke puskesmas dan tidak mengkonsumsi obat ataupun vitamin untuk tambah darah. RPD (-), RPK = ibu pasien mengalami hipertensi kronik, serta kakak perempuannya mempunyai riwayat kehamilan dismaturity dan meninggal karena mengalami eklampsia. Pemeriksaan vital sign didapatkan TD 150/90 mmHg, nadi 88 x/menit, RR 20 x/menit, T 370C. Konjungtiva anemis kanan dan kiri. Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 8 g/dl, proteinuria +1, dengan hasil pemeriksaan darah tepi anemia defisiensi zat besi. Dokter juga menyarankan bagian tubuh janin yang keluar untuk diperiksakan ke patologi anatomi

Identifikasi kasus

G1P0A0 Hamil 18 minggu


Ny. Kimmy

Trimester I

Muntah 10x/hari

Letih Lesu Kepala Pusing


1 bulan terakhir

Riwayat Ny.Kimmy

Riwayat keluarga Ny. Kimmy

Pemeriksaan vital sign

Pemeriksaan laboratorium

tidak periksa ke puskesmas

Ibu = hipertensi kronik

TD = 150/90 mmHg

Hb 8 g/dl

Tidak konsumsi obat atau vitamin penambah darah

Kakak perempuan = kehamilan dismaturity dan eklampsia

Nadi = 88 x/menit

Proteinuria +1

RR = 20 x/menit

T = 370C

Permasalahan
Hiperemesis Hipertensi dalam kehamilan Abortus Anemia defisiensi zat besi

patologi kehamilan

Hiperemesis

Hiperemesis
keadaan pada masa kehamilan dimana terjadi mual dan muntah yang berlebihan, kehilangan berat badan, serta terjadinya gangguan keseimbangan elektrolit. Kehamilan normal: -Emesis gravidarum berlangsung hingga usia 20 minggu kehamilan - emesis berlebihan, hingga 20 x/hari.

Mencegah hiperemesis
Tatalaksana hiperemesis
Tujuan dari penatalaksaan ini diantaranya adalah : Menurunkan rasa mual dan muntah Mengganti kehilangan cairan dan elektrolit Memenuhi kebutuhan nutrisi dan mengatasi kehilangan BB ibu hamil

Makan porsi sedikit tapi sering Makanan tinggi karbohidrat dan protein Hindari makanan berlemak dan pedas Minum yang banyak Konsumsi vit. B6

Perawatan hiperemesis di RS
Pemberian cairan intra vena Percutaneus endoscopic gastrotomy (nutrisi) Medikasi (metoclopramide, antihistamin)

patologi kehamilan

HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

Hipertensi
Adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah akibat vasospasme pembuluh darah, apabila dilakukan pengukuran akan menunjukkan angka 140/90 mmHg. Sebenarnya tidak ada etiologi yang jelas mengenai proses terjadinya hipertensi, tapi ada banyak teori yang menerangkan tentang mekanisme terjadinya hipertensi. Diantaranya ada 7 teori yang dipercaya

Fisiologi normal remodelling A. Spiralis

7 teori tersebut adalah: -Teori kelainan vaskular plasenta -Teori iskemik plasenta, radikal bebas dan disfungsi endotel -Teori intoleransi imunologik -Teori defisiensi zat gizi -Teori adaptasi vaskular -Teori genetik -Teori inflamasi

Pembagian Hipertensi

Timbul < 20 minggu kehamilan

Timbul > 20 minggu kehamilan

Hipertensi kronik

Hipertensi kronik dengan superimposed Preeklampsia

Pre-eklampsia

Eklampsia

Hipertensi kronik
Timbul sebelum usia 20 minggu kehamilan Pertama kali didiagnosa pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu Hipertensi ini menetap hingga 12 minggu pasca persalinan Riwayat hipertensi Usia > 35 th multipara

Resiko Hipertensi Kronik

Pre-eklampsia
Muncul pertama kali setelah usia kehamilan > 20 minggu

Pre-eclampsia
Gejala khas pre-eklampsia adalah adanya protein uria disertai dengan tekanan darah yang tinggi

Ringan

Berat

Gejala proteinuria timbul secara berurutan, seperti berikut: Edema Hipertensi Proteinuria dan berlanjut dengan impending eclampsia Seperti gambar berikut ---

(+) Impending Eclampsia

(-) Impending Eclampsia

Urutan gejala Pre-eclampsia

Dikatakan pre-eklampsia berat apabila memiliki 1 atau lebih gejala eklampsia berat

Tatalaksana Pre-eclampsia

Rawat Jalan:
-Banyak istirahat - anti hipertensi -Periksa proteinuria

Rawat Inap:
-Beri anti hipertensi -Pencegahan kejang -Balans cairan -Pemantauan janin
Pada rawat jalan, anjurkan pasien untuk tidur miring agar tidak terjadi penekanan vena cava inferior dan tidak terjadi penurunan aliran balik ke jantung

Hipertensi kronik dengan Superimposed Preeklampsia


Timbul pada usia kehamilan < 20 minggu Memiliki gejala pre-eklampsia
Gejala neurologik Proteinuria, oligouria

Edem, gangguan visus

Gejala Pre-eklampsia

Eklampsia
Merupakan kasus akut dari preeklampsia yang di tambah dengan kejang menyeluruh dan koma. Kejang yang terjadi adalah kejang tonik klonik, dimulai dengan kejang tonik 15 20 detik lalu kejang klonik selama 1 menit. Nah, saat kejang, diafragma seolah terfiksasi sehingga nafas tertahan dan terjadi peninggian suhu badan

15 30 detik

1 menit

Tatalaksana Eklampsia
Sesuai ciri khas Eklampsia berupa kejang, maka diperlukan penanganan kejang menggunakan MgSO4 Berikut bagan pemberian MgSO4

Kejang awal (berikan selama 3 menit)

4 gr 20% (IV) dilanjutkan dengan pemberian 10gr 50% (IM)

Pencegahan (berikan tiap 6 jam hingga 6 jam PP atau bebas kejang)

5 gr 50% (IM)

Kejang lagi (1 kali saja)

2 gr 20% (IV)

Kejang lagi

Pentotal 5mg/kgBB (IV)

PATOFISIOLOGI

ABORTUS

Definisi
Abortus merupakan: berakhirnya suatu kehamilan sebelum janin mampu hidup diluar rahim (< 500 gram atau < 20-22 minggu) Menurut Hacker and Moore, 2001: Pengeluaran atau ekstraksi janin atau embrio yang berbobot 500 gram atau kurang dari ibunya yang kira kira berumur 20 sampai 22 minggu kehamilan

Etiologi
A. Kelainan telur faktor endogen seperti kelainan kromosom B. Penyakit ibu: Infeksi akut yang berat (pneumonia, thypus) Kelainan endokrin (kekurangan progesteron / disfungsi kelenjar gondok) Trauma Gizi ibu yang kurang baik Kelainan alat kandungan (Hypoplasia uteri, Tumor uterus, Serviks pendek, Kelainan endometrium) C. Faktor psikologis ibu D. Faktor lingkungan kebiasaan merokok, minum alkohol

E. Faktor eksogen virus, radiasi, zat kimia

Manifestasi Klinis
Terlambat haid atau amenore > 20 minggu Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jar. hasil konsepsi Rasa mulas atau kram perut di daerah simfisis, sering disertai nyeri pinggang akibat kontraksi uterus

Klasifikasi Abortus
Abortus dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu: Ab. Spontan Ab. Kriminalis / Provocatus disengaja & tdk aman Ab. Septik Abortus spontan: penghentian kehamilan blm janin mencapai viabilitas (usia kehamilan 22 minggu) Tahapan Ab. Spontan: Ab. imminens kehamilan dapat berlanjut Ab. insipiens kehamilan tdk akan berlanjut & akan berkembang mjd Ab. inkomplit atau Ab komplit Ab. inkomplit sebagian hasil konsepsi telah dikeluarkan Ab. komplit seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan

(lanjutan>>)
Abortus Habitualis (Cunningham dkk.,2000): Abortus spontan yang terjadi berturut-turut 3x atau lebih

Ab. Kriminalis (unsafe abortion) Terminasi kehamilan yg tdk dikehendaki oleh wanita / pasangannya melalui cara yang mempunyai risiko thdp keselamatan jiwa wanita tsb dilakukan oleh individu yang tdk mempunyai pengetahuan & ketrampilan yg sangat diperlukan Serta, menggunakan peralatan yg tdk memenuhi persyaratan minimal bg suatu tindakan medis.
Misalnya, bahan dan tindakan yang digunakan: 1. Batang kayu, akar pohon kayu, tangkai daun yang bergetah, batang plastik dimasukan kavum uteri. 2. Pemijatan lgsg ke korpus uteri hingga terjadi memar di dinding perut, kandung kemih, adneksa/usus.

(lanjutan>>)
Abortus Septik: abortus yang mengalami komplikasi berupa infeksisepsis dapat berasal dr infeksi jika organisme penyebab naik dari saluran kemih bawah stlh abortus spontan atau abortus tdk aman. Sepsis cenderung akan terjadi jk terdapat sisa hasil konsepsi atau terjadi penundaan dlm pengeluaran hasil konsepsi. Sepsis merupakan komplikasi yang sering terjadi pada abortus tidak aman dengan menggunakan peralatan. Abortsi septik disebabkan mikroorganisme yang sangat virulen dan dibiarkan tidak diatasi, pasien dapat mengalami syok septik.

Patofisiologi

Diagnosis
Pemeriksaan ginekologi Inspeksi vulva perdarahan pervaginam, ada/tidak jar hasil konsepsi, tercium/tidak bau busuk dari vagina Inspekulo perdarahan dr cavum uteri, ostium uteri terbuka/sudah tertutup, ada/tidak jar. keluar dr ostium, ada/tidak jaringan berbau busuk dari ostium Vaginal toucher porsio masih terbuka/sudah tertutup, teraba/tidak jaringan dlm cavum uteri, besar uterus sesuai/lebih kecil dr usia kehamilan, tidak nyeri saat portio digoyang, tidak nyeri pd perabaan adneksa, cavum douglasi tidak menonjol dan tidak nyeri Pemeriksaan Penunjang Tes Kehamilan (+) bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu stlh abortus Pemeriksaan Doppler/USG utk menentukan apakah janin masih hidup Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion

Komplikasi
Komplikasi dari abortus sering terjadi abortus kriminalis, tidak menutup kemungkinan terjadi pada abortus spontan Komplikasi dini yang paling sering sepsis yang disebabkan oleh aborsi yang tdk lengkap, sebagian / seluruh produk pembuahan masih tertanam dalam uterus Infeksi tidak diatasi aborsi septik, Abortsi tidak diatasi pasien dapat mengalami syok septik. Komplikasi kedua setelah sepsis perdarahan. Kematian disebabkan oleh tidak tersedianya darah dan fasilitas rumah sakit yang memadai. Komplikasi fatal bendungan sistem kardiovaskuler oleh bekuan darah, gelembung udara, atau cairan; gangguan mekanisme pembekuan darah yang hebat (DIC) yg disebabkan oleh infeksi berat. Infeksi dpt menimbulkan kerusakan permanen di tuba falopii yang dapat menyebabkan kemandulan.

Anemia dalam Kehamilan

Definisi
Anemia merupakan: keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada dibawah normal Jadi, Anemia pada Ibu Hamil merupakan: suatu kondisi ibu hamil dengan kadar hemoglobin dibawah 11 gr % terutama pada trimester I dan trimester ke III atau kadar Hb

Etiologi
Menurut Manuaba, 1999: Etologi anemia defiensi besi pada kehamilan yaitu: Hipervolemia, menyebabkan terjadinya pengenceran darah Pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma Kurangnya zat besi dalam makanan Kebutuhan zat besi meningkat Gangguan pencernaan dan absorbsi Menurut Prawiroharjo, 2002: Penyebab tersering dr anemia adalah: kurangnya zat gizi yg diperlukan untuk sintesis eritrosit (Zat besi, Vit B13 dan As. Folat) Selebihnya adalah dari berbagai kondisi (Pendarahan, kelainan genetik, penyakit kronik, keracunan obat, keracunan Pb, dsb)

Manisfestasi Klinis
Wintrobe mengemukakan bahwa: manifestasi klinis dari anemia defisiensi besi sangat bervariasi, bisa hampir tanpa gejala, bisa juga gejala-gejala penyakit dasarnya yang menonjol, ataupun bisa ditemukan gejala anemia bersama-sama dengan gejala penyakit dasarnya Gejala-gejala dapat berupa: kepala pusing dan berkunang-kunang palpitasi perubahan jaringan epitel kuku gangguan sistem neuromuskular Lesu, Lemah, Lelah disphagia dan pembesaran kelenjar limpa. Pada umumnya sudah disepakati bahwa bila kadar hemoglobin < 7 gr/dl maka gejalagejala dan tanda-tanda anemia akan jelas

Derajat / Klasifikasi Anemia


Nilai ambang batas yang digunakan untuk menentukan status anemia ibu hamil (WHO; 1972), dibagi menjadi 3 kategori,yaitu: normal (11 gr/dl) anemia ringan (8-11 g/dl) anemia berat (kurang dari 8g/dl) Bersdasarkan penelitian; rata-rata kadar hb ibuhamil 11.28 mg/dl kadar hemoglobin terendah 7.63 mg/dl tertinggi 14.00 mg/dl.

Patofisiologi

Ibu hamil

Kebutuhan Fe

Intake Fe kurang dr yg dibutuhkan

Kadar Fe dlm darah

Gg. Sintesa heme

Gg. Akumulasi Hb pada eritrosit

Jumlah eritrosit dlm darah

Anemia Gejala 3L, dll

Kebutuhan Fe Ibu Hamil


Pada saat kehamilan

Meningkatnya darah ibu Terdapat dalam plasenta Untuk darah janin Jumlah

Jumlah kebutuhan Fe

500 mg 300 mg 100 mg 100 mg 900 mg

Resiko Anemia Defisiensi Fe pada Kehamilan


Anemia menyebabkan: Rendahnya kemampuan jasmani sel-sel tubuh tidak cukup mendapat pasokan O2. frekuensi komplikasi pada kehamilan & persalinan Gg. proses persalinan (inertia, atonia, partus lama, perdarahan atonis) Gg. pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infeksi & stress kurang, produksi ASI rendah) Gg. pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR, kematian perinatal, dll)

Diagnosa
Anamnesis: Riwayat keluarga Aktivitas semasa kehamilan Lingkungan Riwayat makan / kebutuhan Fe Farmakoterapi pemeberian tablet Fe

Pemeriksaan lab: Pemeriksaan darah sederhana untuk menentukan adanya anemia Hitung jenis darah komplit.

Pencegahan
Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan: pemberian suplemen Fe dosis rendah 30 mg pada trimester ketiga ibu hamil non anemik (Hb lebih/=11g/dl) ibu hamil dengan anemia defisiensi besi dapat diberikan suplemen Fe sulfat defisiensi asam folat dapat diberikan asam folat &vitamin B12

Penatalaksanaan
pemberian tambahan zat besi. Tablet zat besi mengandung ferosulfat, besi glukonat atau suatu polisakarida. Farmakodinamik: Tablet Fe akan diserap dengan maksimal, diminum 30 menit sebelum makan Kemampuan usus untuk menyerap zat besi terbatas, pemberian Fe dalam dosis yang lebih besar akan menyebabkan gg. pencernaan & sembelit. Fe dapat menyebabkan tinja menjadi berwarna hitam, dan ini adalah efek samping yang normal dan tidak berbahaya

Terimakasih