Anda di halaman 1dari 27

http://ahlussunnah.web.

id

PERBEDAAN LANDASAN SYARI'AH


AGAMA IMAMIYYAH JA'FARIYYAH-ITSNAI 'ASYARIYYAH
Ditulis oleh: Abu Ja'far Al-Harits bin Dasril Al-Minangkabawy Dammaj-Sho'dah Robi'ul Awwal 1433 PENGANTAR .
Pembahasan tentang Syi'ah adalah pembicaraan yang tidak lepas dari kata "perselisihan". Hal itu disebabkan karena mereka adalah kaum yang banyak penyelisihannya dengan Al-Qur'an dan Sunnah, serta jauh dari pemahaman orangorang terdahulu dari kalangan shalafus sholeh. Alloh Ta'ala berfirman:


"Maka tidakkah mereka mendalami Al-Qur'an. Seandainya Al-Qur'an itu datang bukan dari Alloh, pastilah didalamnya mereka akan mendapatkan perselisihan yang banyak" (QS An-Nisa' ayat 82)


"Barangsiapa yang menyelisihi Rosul (Muhammad) setelah jelas petunjuk baginya, serta mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, maka Kami biarkan dia dengan (kesesatan) yang dipilihnya" (QS An-Nisa' ayat 125) Sementara shohabat Rosullulloh adalah kedudukan tertinggi kaum mukminin, Alloh meridhoi mereka dan meridhoi orang yang mengikuti jalan mereka. Alloh Ta'ala berfirman:

|Hal.1

http://ahlussunnah.web.id


"Orang-orang terdahulu lagi pertama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepadaNya. Alloh telah mempersiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, itulah kemenangan yang agung" (QS At-Taubah ayat 100) Pembahasan tentang Syi'ah adalah pembicaraan yang tidak lepas pertikaian keyakinan. Karena perselisihan keyakinan di kalangan mereka jugalah, maka tingkat penyimpangan pada sekte-sekte syi'ah menjadi berbeda-beda sebagian sekte ada yang sebatas kelompok sesat tapi masih dalam barisan muslimin, sebagian lagi lepas tidak ada hubungannya dengan Islam sama sekali, yang ada hanyalah pengakuan. Pembahasan tentang Syi'ah adalah pembicaraan yang tidak lepas dengan sekte Itsnai 'Asyariyyah yang dikenal juga dengan Imamiyyah, Ja'fariyyah dan mereka juga yang terlintas di benak ketika mendengar nama syi'ah. Pembahasan tentang Syi'ah adalah pembicaraan yang tidak lepas dari masalah taqiyyah, kedustaan yang diyakini sebagai bentuk peribadahan. Sebagaimana kita ketahui bahwa beberapa waktu lalu terjadi tragedi penginjakan mushaf oleh pengikut Hutsiyin, namun mirisnya sebagian orang masih mencari alasan untuk membela Hutsiyin dengan alasan bahwa hal itu adalah perbuatan oknum. Bagaimana bisa? Yang menyebarkan video tragedi tersebut justru pihak Hutsiyin sendiri, tanpa ada pengingkaran!!! Rofidhoh memiliki keyakinan yang busuk terhadap Al-Quran jadi tidak perlu heran mereka bisa melakukan hal yang demikian bahkan lebih dari itu!!! Karena hal-hal itulah tulisan1 ini disusun, setidaknya bisa memberi penjelasan tentang landasan yang dipakai oleh kaum tersebut untuk menopang keyakinan mereka. Sesungguhnya kebenaran dan hidayah hanya dariNya

AL-QUR'AN YANG SEMPURNA VERSI ITSNAI 'ASYARIYYAH


1

Mayoritas nukilan-nukilan Imamiyyah-Itsnai 'Asyariyyah dalam tulisan ini disadur dari risalah magister: "Mashodirut Talaqqy wa Ushulil Istidlalil 'Aqadiyyah 'Indal Imamiyyah-Itsnai 'Asyariyyah 'Ard wan Naqd" yang ditulis oleh Iman Sholih Al-'Ulwany, semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan.

|Hal.2

http://ahlussunnah.web.id

Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Imamiyyah terdahulu, pada pokok akidah mereka terdapat keyakinan bahwasanya Al-Qur'an yang menyebar di kalangan muslimin saat ini adalah Al-Qur'an yang kurang, adapun Al-Qur'an yang lengkap adalah Al-Qur'an yang dikumpulkan 'Ali yang terus turun-temurun dipegang oleh para Imam mereka. Itsnai 'Asyariyyah berkeyakinan bahwa Al-Qur'an tersebut sekarang berada di tangan Imam yang kedua belas, imam tersembunyi yang mereka tunggu-tunggu. Salim bin Qois Al-Hilaly2 mengisahkan bahwasanya setelah wafatnya Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa Sallam, Imam 'Ali Rodhiyallohu 'Anhu terus menerus di rumahnya memfokuskan diri dengan Al-Quran, merangkai dan mengumpulkannya. Maka dia tidak keluar dari rumahnya sampai selesai mengumpulkan Al-Qur'an yang ketika itu berada di lembaran-lembaran, kayu, tali-tali sandal, kulit atau dedaunan. Ketika semuanya telah berhasil dikumpulkan dan ditulis dengan tangannya -baik konteks ayat maupun tafsirnya, ayat-ayat yang telah dihapus dan penggantinya-, Abu Bakr mengirim utusan kepadanya agar keluar membai'at Abu Bakr (sebagai kholifah). Maka 'Ali Rodhiyallohu 'Anhu pun mengutus orang menyampaikan jawabannya: "Aku sibuk. Aku telah bersumpah untuk tidak memakai rida'3 kecuali untuk keluar sholat sampai aku selesai merangkai Al-Qur'an dan menghimpunnya", maka mereka membiarkannya beberapa hari. Kemudian 'Ali mengumpulkan Al-Qur'an tersebut dalam sehelai kain, memberi stempel, lalu keluar menjumpai orang-orang yang ketika itu berkumpul bersama Abu Bakr di masjid Nabi Shollallohu 'Alaihi wa Sallam. Maka 'Ali menyeru dengan suara tinggi: "Wahai manusia ! Sesungguhnya aku terus-menerus dalam kesibukan sejak meninggalnya Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam, baik dengan pemandian, kemudian dengan Al-Qur'an sampai aku mengumpulkan keseluruhannya dalam sehelai kain ini. Tidak satupun ayat yang Alloh turunkan kecuali telah kukumpulkan, dan tidak ada satu ayatpun kecuali Rosululloh pernah membacakannya kepadaku dan mengajarkan tafsirnya. Agar nanti kalian tidak mengatakan: "Dulu Kami lengah dari perkara ini". 'Ali lantas berkata kepada mereka: "Janganlah kalian berkata pada hari kiamat bahwa aku tidak pernah mengajak kalian untuk menolongku, dan aku tidak pernah mengingatkan kalian tentang hakku, tidak pernah menyeru kalian kepada kitabulloh, mulai dari pembukaan sampai penutup". Maka 'Umar berkata: "Betapa kami tidak

Mati tahun 85, sebagian pendapat mengatakan tahun 90. Riwayat ini disebutkan dalam bukunya AsSaqofiyah Hal 72-73. Disebutkan bahwa As-Saqofiyyah adalah buku pertama yang ditulis sebagai pegangan kelompok Syi'ah, dan merupakan sandaran pokok bagi buku-buku induk setelahnya. 3 Kain yang menyelubungi badan, seperti yang dipakai jama'ah haji

|Hal.3

http://ahlussunnah.web.id

butuh kepada apa yang kamu ajak, sebab adanya Al-Qur'an yang bersama kami". Maka 'Ali pun masuk kerumahnya. Salim bin Qois juga meriwatkan, bahwa Tholhah4 bin 'Ubaidillah mendatangi 'Ali Radhiyallohu 'Anhu dan berkata: "Tolong beri tahu aku tentang Al-Qur'an yang ada padamu beserta tafsirnya, juga tentang ilmu halal dan haram, kepada siapa akan kamu serahkan ? Siapa pemegangnya setelahmu ?". 'Ali berkata: "Aku akan menyerahkannya kepada orang yang telah Rosululloh perintahkan kepadaku". Tholhah berkata: "Siapa dia ?". 'Ali menjawab: "Kepada washi5ku orang yang paling berhak bagi manusia setelahku: Al-Hasan anakku ini. Kemudian anakku Al-Hasan menjelang kematiannya akan menyerahkannya kepada anakku Al-Husein, kemudian akan terus kepada satu demi satu anak cucu Al-Husein sampai yang terakhir dari mereka mendatangi Rosululloh di telaganya. Mereka bersama Al-Qur'an dan AlQur'an bersama mereka, mereka tidak berpisah dengan Al-Qur'an dan Al-Qur'an tidak berpisah dengan mereka".6 Muhammad bin Al-Hasan Ash-Shoffar7 meriwayatkan dari Abu Ja'far Al-Baqir8, bahwasanya dia berkata: "Tidak seorangpun yang mampu mengaku bahwa dia telah mengumpulkan Al-Qur'an seluruhnya luar dan dalam, kecuali para washi". Abu Ja'far Al-Baqir juga mengatakan: "Tidak seorangpun yang mengatakan bahwa dia telah mengumpulkan seluruh Al-Qur'an sebagaimana yang Alloh turunkan, kecuali dia seorang pendusta. Orang yang mengumpulkan dan menghapal sebagaimana Alloh turunkan, hanyalah 'Ali bin Abi Tholib dan para Imam setelahnya".9 Masih banyak lagi riwayat-riwayat dusta yang menjelaskan keyakinan mereka tentang kurangnya Al-Qur'an yang tersebar di kalangan muslimin, sebagaimana ditulis oleh para ulama besar mereka yang lain seperti: Zainuddin Al-'Amily (Sirothol Mustaqim ila Mustahiqqil Qodim), Abu Manshur At-Thobrosy (Al-Ihtijaj), Abul Hasan Al-Qummy (Tafsir Al-Qummy), Al-Faidh Al-Kasyani (Tafsir As-Shofi), Al-Majlisi (Biharul Anwar) dan lainnya. Memang mereka berselisih pendapat dalam masalah selamatnya tidaknya Al-Qur'an yang ada di kalangan muslimin, dari perubahan dan rekayasa. Namun masalah tidak
4 5

Salah satu shohabat yang telah dikabarkan Rosululloh sebagai penghuni surga. Yaitu pemegang wasiat. Telah lewat penyebutan awal mula munculnya keyakinan ini di kalangan syi'ah dalam tulisan: "Rofidhoh-Hutsiyin Di Luar barisan Muslimin" 6 As-Saqofiyyah hal 110. 7 Salah satu ulama besar Imamiyyah, mati tahun 290 di Qumm, kunyahnya Abu Ja'far Al-A'roj. 8 Muhammad bin 'Ali bin Al-Husein bin 'Ali bin Abi Tholib 9 Basho'irud Darojat hal 213-214.

|Hal.4

http://ahlussunnah.web.id

lengkapnya Al-Qur'an yang ada sekarang adalah keyakinan yang disepakati Imamiyyah. Muhammad10 Thohir As-Sirozy mengatakan: "Semuanya sepakat bahwa beliau (maksudnya 'Ali) menghapal Al-Qur'an di zaman Rosululloh Shollallallohu 'Alaihi wa Sallam, sementara tidak ada selainnya yang hapal. Beliaulah orang pertama yang mengumpulkannya"11 Terdapat keanehan pada segolongan Imamiyyah yang berpendapat selamatnya AlQur'an12, karena nukilan-nukilan dari para Imam ma'shum yang mereka jadikan sebagai pegangan justru menunjukkan pendapat adanya perubahan dan rekayasa. Diantaranya: Jabir Al-Ju'fy13 mengatakan bahwa Abu Ja'far Al-Baqir mengisahkan: Rosululloh menyeru shohabatnya di Mina dan bersabda: "Wahai manusia, sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian dua perkara yang berat, apabila kalian berpegang teguh kepada keduanya maka kalian tidak akan tersesat: Kitabulloh dan keturunanku: Ahlu baitku. Karena keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya mendatangiku di telagaku". Kemudian Rosululloh berkata: "Wahai manusia, sesungguhnya aku meninggalkan bagi kalian apa-apa yang Alloh sucikan: Kitabulloh dan keturunanku serta Ka'bah Rumah Suci". Abu Ja'far lantas berkata: "Adapun Al-Qur'an maka mereka telah mengubahnya, sementara Ka'bah mereka hancurkan, anak-cucu ('Ali) mereka bunuh, seluruh titipan Alloh telah mereka binasakan".14 Al-'Ayyasyi15 meriwayatkan dari Daud bin Furqud dari orang yang menceritakannya dari Abu 'Abdillah Ash-Shodiq, dia berkata: "Seandainya Al-Qur'an dibaca sebagaimana diturunkan, maka kalian akan mendapatkan nama-nama kami disebutkan"16 Maisar meriwayatkan dari Abu Ja'far Al-Baqir, bahwasanya dia berkata: "Seandainya tidak ada yang ditambah atau dikurangi dari kitabulloh, tentulah tidak akan tersmbunyi hak-hak kami bagi orang yang berakal. Kalau Al-Qo'im17 kami telah bangkit kemudian berbicara, Al-Qur'an bakal membenarkannya".18
10 11

Ulama besar Imamiyyah di zamannya, dan termasuk guru Al-Majlisy, mati tahun 1098 Al-Arba'in fi Imamati A'immatit Thohirin hal 422. 12 Dengan mengatakan pendapat ini, mereka menyerang Ahlus Sunnah sebagai pembuat tuduhan palsu. Yang jelas buku-buku induk mereka sebagai saksi, dan taqiyyah bukanlah sesuatu yang asing pada mereka. 13 Mati tahun 128. Dulunya termasuk Saba'iyyah dan meyakini 'Ali akan kembali ke dunia (lihat AdhDhu'afa' wal Matrukin 1/ 28 karya Imam An-Nasa'iy) 14 Diriwayatkan oleh Ash-Shoffar dalam Basho'ir Darojat hal 433 15 Salah satu ahli tafsir Imamiyyah, mati tahun 320 16 Tafsir Al-'Ayyaswi jilid 1 hal 12-13. 17 Imam kedua belas 18 Tafsir Al-'Ayyaswi jilid 1 hal 12-13

|Hal.5

http://ahlussunnah.web.id

Diriwayatkan dari Abu 'Abdillah bahwasanya beliau mengatakan: "Sesungguhnya AlQur'an yang dibawa Jibril 'Alaihis Salam kepada Muhammad Shollallohu 'Alaihi wa Sallam, sebanyak tujuh belas ribu ayat"19 Salah satu ulama Imamiyyah: An-Nu'many -menyandarkan riwayatnya ke 'Ali- bahwa beliau berkata kepada Hudzaifah Ibnul Yaman: "Demi Yang jiwaku berada di tanganNya, setelah kematian anakku Al-Husein, umat ini akan terus menerus berada dalam kesesatan, kezholiman, kedukaan, kesewenangan, pertikaian dalam agama, perubahan dan penggantian apa-apa yang Alloh turunkan dalam kitabNya, munculnya bid'ah dan hilangnya sunnah".20 Yang jelas perselisihan mereka dalam masalah tersebut hanya perselisihan teoritis belaka, dalam prakteknya Al-Qur'an yang ada sekarang bukanlah sesuatu yang secara mutlak bisa dipakai sebagai pegangan. Seandainya Al-Qur'an lengkap menurut dugaan mereka- yang turun temurun dari 'Ali sampai Imam kedua belas mereka tidak berbeda dengan Al-Qur'an yang ada pada kaum muslimin, tentulah Itsnai 'Asyariyyah tidak perlu ngotot mempertahankan pengakuan mereka tersebut. Bahkan justru kengototan mereka tidak akan hilang, karena tidak ada satu ayatpun dari Al-Qur'anul Karim yang bermanfaat bagi mereka untuk mendukung mazhab mereka. Sebagai konsekwensi dari keyakinan tersebut maka pemahaman dan pengamalan AlQur'an haruslah dikembalikan kepada kabar-kabar yang dinukil dari para Imam ma'shum mereka yang diyakini sebagai "Al-Qur'an yang berbicara". Karena hanya merekalah yang tahu tentang Al-Qur'an serta tafsirnya, dan merekalah yang tahu perubahan dan penggantian dari Al-Qur'an yang beredar Na'udzubillah. Diantara hikayat yang disandarkan kepada 'Ali Rodhiyallohu 'Anhu bahwasanya dia berkata dalam masalah hukum: "Ini adalah kitabulloh yang diam. Akulah orang yang mengungkapkannya. Maka ambillah Al-Qur'an yang berbicara dan tinggalkanlah hukum dari kitabulloh yang diam sebab tidak ada yang bisa mengungkapkannya selainku".21 Juga riwayat yang disantarkan kepada Abu 'Abdillah Ash-Shodiq: "Alloh enggan untuk menjalankan segala sesuatu tanpa sebab. Maka Dia menciptakan sebab bagi segala sesuatu, diciptakan penjelasan bagi setiap sebab, dan bagi setiap penjelasan Dia ciptakan kunci, bagi setiap kunci Dia ciptakan ilmu, dan bagi setiap ilmu dia ciptakan pintu yang berbicara. Barangsiapa yang mengenal pintu itu maka dia telah
19 20

Ushulul Kafy jilid hal 627. Al-Ghibah hal 143. 21 'Al-'Umdah karya Ibnu Thoriq hal 330.

|Hal.6

http://ahlussunnah.web.id

mengenal Alloh, dan barangsiapa yang mengingkari pintu itu maka dia telah mengingkari Alloh. Pintu itu adalah Rosululloh dan kami".22 Sebab itu jugalah mereka menganggap perkataan Imam mereka adalah sumber syari'at. 'Ali Husein Al-Makky mengatakan: "Seorang Imam termasuk sumber pensyari'atan karena ilmunya dari Rosululloh dan dari Al-Qur'an, bahkan ilmu AlQur'an berada padanya. Karena itulah perkataannya adalah perkataan Rosululloh, sementara perkataan Rosululloh adalah perkataan Alloh Subhanahu"23 Karena itulah Al-Kulainy dalam kitabnya Ushulul Kafy menulis bab: "Pengembalian masalah agama kepada Rosululloh dan para Imam". Singkat kata Al-Qur'an yang diyakini oleh Itsnai 'Asyariyyah tidak sebagaimana yang diyakini kaum muslimin. Baik dari sisi perubahan konteks, penghapusan ayat, maupun dari sisi pemalingan makna. Diantara contoh pengubahan konteks, sebagaimana disebutkan Al-Qummy dalam Muqoddimah Tafsirnya: Firman Alloh Ta'ala:


"Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan bagi manusia. Kalian melakukan amar ma'ruf nahi mungkar dan beriman kepada Alloh" (QS Ali 'Imron ayat 110) Diganti dengan:

...
"Kalian adalah para Imam terbaik " Firman Alloh Ta'ala:


"Sesungguhnya Alloh telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrohim dan keluarga 'Imron bagi alam semesta" (QS Ali ayat 'Imron 33) Diganti dengan:

...

22 23

Disebutkan Al-Hasan Al-Halaby dalam Basho'irud Darojat hal 75. Mu'taqodatus Syi'ah hal 117

|Hal.7

http://ahlussunnah.web.id

" keluarga Ibrohim dan keluarga Muhammad bagi alam semesta "24 Firman Alloh Ta'ala:


"Akan tetapi Alloh menjadi saksi atas (Al-qur'an) yang Dia turunkan kepadamu. Dia menurunkan dengan ilmuNya. Para malaikat pun menjadi saksi" (QS An-Nisa' ayat 166) Diganti dengan:

...
"Akan tetapi Alloh menjadi saksi atas (Al-qur'an) yang Dia turunkan kepadamu tentang 'Ali. Dia menurunkan dengan ilmuNya " Firman Alloh Ta'ala:


"Sesungguhnya orang-orang kafir dan yang berbuat zholim, Alloh tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjukkan mereka jalan yang lurus" (QS AnNisa' ayat 168) Diganti dengan:


"Sesungguhnya orang-orang kafir dan yang berbuat zholim terhadap hak-hak keluarga Muhammad, Alloh tidak akan mengampuni mereka " Firman Alloh Ta'ala:


"Dan orang-orang yang berkata: "Wahai Robb kami augerahkanlah kepada kami pasangan dan anak-anak kami sebagai penyejuk hati dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa" (QS Al-Furqon ayat 74) Diganti dengan:


24

Biharul Anwar jilid 92 hal 56

|Hal.8

http://ahlussunnah.web.id

" sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah Imam untuk kami dari orang-orang yang bertaqwa " Adapun masalah penyelewengan makna, maka perkara ini banyak sekali untuk dikumpulkan karena ini memang metode mereka, metode termudah bagi Imamiyyah untuk menyusupkan keyakinan mereka terutama dalam menghinakan musuh-musuh mereka dan mengangkat kedudukan 'Ali dan para imam mereka. Ni'matulloh Al-Jaza'iry mengatakan: "Sesungguhnya diantara ayat yang Alloh turunkan terdapat ayat-ayat yang gamblang atau mendekati, berisikan laknat terhadap bani 'Umayyah dan sekelompok para munafik, demikian juga terdapat ayat yang mencantumkan pujian-pujian terhadap Ahlul-Bait, maka mereka (para shohabat, sengaja mengangkat semuanya dari Al-Qur'an yang telah dikumpulkan 'Utsman karena takut dari celaan-celaan dan hasad terhadap Ahlul Bait".25 Beberapa contoh diantara penyelewengan makna yang dilakukan Imamiyyah-Itsnai 'Asyariyyah: Pada firman Alloh Ta'ala:


"Alloh mengatakan: "Janganlah kalian mengibadahi dua sembahan. Hanya Dialah satu-satunya yang berhak diibadahi. Maka takutlah kalian hanya kepadaKu" (QS AnNahl ayat 51) Versi mereka: Maksudnya Janganlah kalian mengambil dua Imam. Imam itu hanya satu26 Pada firman Alloh Ta'ala:


"Barangsiapa diantara mereka yang mengatakan: "Akulah sembahan selainNya". Maka orang itu akan Kami balas dengan jahannam" (QS Al-Anbiya' ayat 29) Versi mereka: Maksudnya barangsiapa yang menyangka sebagai imam, padahal dia bukan Imam.27 Maka orang itu akan Kami balas dengan jahannam Pada firman Alloh Ta'ala:

25 26

Nurul Barohin jilid 1 hal 529 Tafsir Nuruts Tsaqolain jilid 3 hal 60 27 Mustadrok Safinatil Bahr jilid 1hal 171 karangan 'ali An-Namazy

|Hal.9

http://ahlussunnah.web.id


"Barangsiapa yang buta (hatinya) dia dunia, maka di akhirat dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan yang lurus" (QS Al-Isro' ayat 87) Versi mereka: Ayat ini turun pada paman Rosululloh Al-Abbas dan anaknya (Ibnu 'Abbas). Pada firman Alloh Ta'ala:


"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Alloh adalah orang yang paling bertakwa" (QS Al-Hujurat ayat 13) Versi mereka: Orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Alloh adalah orang yang paling banyak melakukan taqiyyah. Pada firman Alloh Ta'ala:


"Maka perangilah para pemimpin kafir itu" (QS At-Taubah ayat 12) Versi mereka: Maksudnya Tholhah dan Az-Zubair28 Pada firman Alloh Ta'ala:


"Sebenarnya Al-Qur'an adalah ayat-ayat yang jelas di dada orang yang berilmu" (QS Al-Ankabut ayat 49) Versi mereka: Orang-orang yang diberi ilmu maksudnya adalah para Imam29 Pada firman Alloh Ta'ala:


"Dan Segala sesuatu telah Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauhul Mahfudz)" (QS Yasin ayat 12) Versi mereka: Maksudnya Kami kumpulkan pada 'Ali bin Abi Tholib30
28 29

Tafsir Al-'Ayyasi jilid 2 hal 77, tafsir At-thobrosi jilid 5 hal 11, Tafsir At-Thusy jilid 5 hal 214 Al-Bahrony dalam Al-Hada'iq An-Nashiroh Fi Ahkamil 'Uthroh Ath-Thohiroh jilid 1 hal 64

| H a l . 11

http://ahlussunnah.web.id

Pada firman Alloh Ta'ala:


"Begitu juga pohon terkutuk di dalam Al-Qur'an" (QS Al-Isro' ayat 60) Versi mereka: Maksudnya Bani Umayyah31 Pada firman Alloh Ta'ala:


"Sungguh jika kamu berbuat syirik (mempersekutukan Alloh) niscaya amalanmu akan terhapus" (QS Az-Zumar' ayat 65) Versi mereka: Maksudnya apabila engkau menyekutukan Abu Bakr dan 'Ali dalam kekuasaan32 Pada firman Alloh Ta'ala:


"Maka bumi (pada hari kiamat) menjadi terang-benderang dengan cahaya Robbnya, buku-buku amalan diberikan (kepada masing-masing), para nabi dan para saksi dihadirkan, kemudian ditentukan keputusan antara mereka secara adil dan mereka tidak dirugikan" (QS Az-Zumar ayat 69) Versi mereka: Maksud dari Robb adalah Imam di bumi33

AS-SUNNAH VERSI ITSNAI 'ASYARIYYAH


As-Sunnah merupakan riwayat yang sah34 dinukilkan dari Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan ataupun ketiadaan pengingkaran dari beliau terhadap sesuatu yang diketahuinya. Dalam keyakinan Itsnai 'Asyariyyah ada dua penyelisihan yang mencolok yaitu: Dimasukkannya perkataan yang dihikayatkan dari para Imam mereka, yang terbangun karena keyakinan akan kemaksum35an mereka. Sehingga sunnah para imam termasuk dalil dalam syari'at.

30 31

Al-Burhan fi Tafsiril Qur'an karya Al-Bahrony jilid 3 hal 4 Tafsir Al-'Ayyasi jilid 2 hal 297, Tafsir At-Thobrosi jilid 6 hal 434, Tafsir At-Thusy jilid 6 hal 493, dll 32 Al-Burhan fi Tafsiril Qur'an karya Al-Bahrony jilid 4 hal 73 33 Tafsir Al-Qummy jilid 2 hal 224, Tafsir As-Shofy jilid 4 hal 331 34 Untuk mengetahui sah tidaknya penukilan, dipelajari dalam ilmu hadits

| H a l . 11

http://ahlussunnah.web.id

Ditolaknya riwayat para shohabat Rosululloh kecuali beberapa orang-, yang terbangun karena keyakinan akan kekafiran mereka atau vonis bahwa mereka adalah para pendosa. Dampaknya: para ulama muslimin yang lain setelah para shohabat, lebih utama lagi untuk ditolak.

Sunnah Para Imam Telah disinggung sebelumnya bahwa Istnai 'Asyariyyah meyakini bahwa segenap ilmu syari'at berada pada Imam-imam mereka, dan mereka tidak berbicara dengan kekeliruan karena terjaganya mereka dari hal tersebut. Khulainy meriwayatkan dari Hammad bin 'Utsman dan selainnya, bahwasanya mereka mendengar Abu 'Abdillah Ash-Shodiq berkata: "Perkataanku adalah perkataan bapakku. Perkataan bapakku (Muhammad bin 'Ali) adalah perkataan kakekku ('Ali bin Al-Husein). Perkataan kakekku adalah perkataan Al-Husein. Perkataan Al-Husein adalah perkataan Al-Hasan. Perkataan Al-Hasan adalah perkataan Amirul Mukminin ('Ali bin Abi Tholib). Perkataan Amirul Mukminin adalah perkataan Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam. Perkataan Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam adalah perkataan Alloh 'azza wa Jalla".36 Al-Mazindany mengatakan: "Sesungguhnya hadits dari setiap para Imam yang disucikan, adalah perkataan Alloh. Tidak ada perselisihan dalam perkataan mereka37 sebagaimana tidak ada perbedaan dalam perkataan Alloh Ta'ala. Sisi kesatuannya terlihat jelas bagi orang yang akalnya selamat dan berkepribadian lurus. Karena alloh meletakkan ilmu dan rahasia-rahasia di dada Nabi Shollallohu 'Alaihi wa Sallam. Sementara Nabi Shollallohu 'Alaihi wa Sallam meletakkannya di dada 'Ali 'Alaihis Salam. Hal ini tanpa ada keterpautan dan perbedaan dalam jumlah dan cara -sampai perkataan Al-Mazindany- atas dasar ini, maka barangsiapa yang mendengar hadits dari Abu 'Abdillah, boleh baginya menyandarkan hadits tersebut ke bapaknya (Abu Ja'far Al-Baqir) atau kepada salah seorang dari kakek moyangnya, bahkan orang itu boleh mengatakan: "Alloh Ta'ala berfirman".38 Husein39 'Abdus Shomad Al-'Amily mengatakan: "Kami berpegang teguh dengan para imam yang dua belas dari ahlul bait Nabi serta menukil hadits-hadits dan pokok agama kami dari mereka tidak lain karena tetapnya kemaksuman mereka di sisi

35 36

Bersih dari dosa besar maupun kecil Ushul Kafy jilid 1 hal 53 37 Bahkan banyak sekali benturan dari riwayat-riwayat yang dihikayatkan dari para Imam mereka 38 Syarah Ushulul Kafy jilid 2 hal 225-226 (Lihat Mashodirut Talaqqy hal 386) 39 Mati tahun 984. Ulama fiqh dan ushul yang mumpuni di sisi mereka

| H a l . 12

http://ahlussunnah.web.id

kami. Karena seorang Imam harus maksum, agar aman dari munculnya kesalahan yang muncul darinya".40 Tertolaknya Hadits Para Shohabat Rosululloh Adapun masalah shohabat Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam, Itsnai 'Asyariyyah meyekini kesesatan mereka, terlebih karena riwayat-riwayat yang sah dari shohabat, tidak mendukung mereka. Diriwayatkan dari Buraid bin Mu'awiyyah dari Abu Ja'far bahwa beliau berkata: "Orang-orang telah murtad sepeninggal Rosululloh Shollallahu 'Alaihi wa Sallam, kecuali tiga: Al-Miqdad bin Aswad, Abu Dzar Al-Ghiffary dan Salman Al-Farisy. Kemudian setelah itu orang-orang mulai mengetahui dan bergabung dengan mereka".41 Dihikayatkan dari Abu 'Abdillah tentang keadaan orang-orang sepeninggal Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam: "Demi Alloh semuanya dalam kebinasaan kecuali tiga orang: Salman Al-Farisi, Abu Dzar dan Al-Miqdad, kemudian bergabung dengan mereka: 'Ammar, Abu Saasan Al-Anshory, Hudzaifah dan Abu 'Amroh, sehingga mereka menjadi tujuh orang".42 Dihikayatkan dari 'Ali bin Al-Husein 'Alahis Salam ketika dia ditanya tentang Abu Bakr dan 'Umar: "Merekalah orang pertama yang menzholimi hak-hak kami, mengambil warisan kami dan duduk di tempat kami. Kami lebih berhak dari mereka berdua. Semoga Alloh tidak mengampuni dan merahmati mereka. Keduanya kafir, dan kafir (juga) orang-orang yang loyal kepada mereka".43 Keyakinan mereka ini banyak tercantum dalam buku-buku induk mereka sebagaimana yang ditulis Al-'Ayyasy (dalam tafsinya), Al-Qummy (dalam tafsirnya), Al-Kasyany (tafsir As-Shofy), Al-'Amily (Mir'atul Anwar), Al-Huwaizy (Nuruts Tsaqolain), Muhammad Hujjatul Islam (Shohifatul Abror) dan banyak lagi selain mereka. Karena itulah mereka mendustakan riwayat-riwayat yang ada pada kaum muslimin. Ni'matulloh Al-Jaza'iry mengatakan dalam pembahasan shohabat-: "Jangan kamu heran dengan banyaknya riwayat-riwayat palsu. Karena mereka -setelah Nabi Shollallohu 'Alaihi wa Sallam- telah mengubah dan mengganti dalam agama ini perkara-perkara yang lebih besar dari perkara tersebut, seperti pengubahan mereka
40 41

Wushulul Akhyar ila Wushulul Akhbar hal 45 (Lihat Mashodirut Talaqqy hal 387-388) Al-Ikhtishos karangan Al-Mufid hal 6 42 Sumber yang sama 43 Biharul Anwarld 30 hal 145

| H a l . 13

http://ahlussunnah.web.id

terhadap Al-Qur'an, mengubah kata-katanya, menghapus pujian-pujian terhadap keluarga Rosululloh dan para Imam yang disucikan, menghapus celan-celaan dan penampakan kejahatan para munafik".44 Jadi bagaimana hadits-hadits Itsnai 'Asyariyyah ? Itsnai 'Asyariyyah memiliki kitab-kitab hadits tersendiri, yang induknya sebanyak delapan judul (empat judul pertama ditulis sekitar abad ke tiga, dan sisanya setelah abad kebelas): 1) Al-Kafy (16199 hadits), karangan Muhammad bin Ya'qub Al-Kulainy 2) Man Laa Yahduruhul Faqih (9044 hadits), karangan Muhammad bin Babawaih Ash-Shoduq 3) Tahdzibul Ahkam (13590 hadits) dan 4) Al-Istibshor (5511 hadits) keduanya karangan Abu Ja'far Ath-Thusy 5) Al-Wafy, karangan Mala Muhsin Al-Faidh Al-Kasyany 6) Biharul Anwar Al- Jami'ah Li Dororil Akhbaril A'immatil Athhar, karangan Muhammad Baqir Al-Majlisy 7) Wasa'il Syi'ah ila Tahshil Masha'ilis Syari'ah, karangan Al-Harr Al-'Amily 8) Mustadrak Al-Wasa'il, karangan Husein An-Nury At-Thobrosy Tak ada konsep yang jelas dari mereka untuk membuktikan kebenaran riwayat yang dihikayatkan dari imam-imam mereka, karena memang ilmu hadits adalah ilmu yang mereka rekayasa belakangan sekitar abad ketujuh atau delapan, yang menyiratkan pengaruh hantaman Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat tahun 728) terhadap Ibnu Muthohhir Al-Hally dari sisi tersebut. Ketika itu beliau mengatakan: "Syi'ah tidak memiliki rantai periwayatan yang bersambung dari orang-orang yang dikenal sebagaimana rantai periwayatan pada Ahlus Sunnah sehingga orang-orang bisa meneliti rantai periwayatan tersebut"45 Penerimaan riwayat mereka mengandalkan hawa, patokan kebenaran hadits yang mereka pakai adalah kecocokan dengan syari'at mereka, yang cocok diambil walaupun periwayatnya adalah orang yang telah dikafirkan oleh Imamiyyah. Disamping itu, diantara periwayat terpercaya di sisi mereka ada yang sibuk dengan khomr, seperti Muhammad bin Abi' Abbad46, Abu Hamzah Tsabit bin Dinar Ats-

44 45

Al-Anwarul Nu'maniyyah jilid 1 hal 97 Minhaus Sunnah An-Nabawiyyah jilid 4 hal 18 46 Mu'jam Rijalil Hadits karangan Al-Kau'iy jilid 15 hal 278

| H a l . 14

http://ahlussunnah.web.id

Tsamaly47, 'Abdulloh bin Abi Ya'fur48, Abu Hurairoh Al-Bazzaz49, Al-Himyary yang digelari penyair Ahlul Bait50. Ada juga yang masyhur sebagai pemain catur, seperti Hafsh Ibnul Bakhtary51 Atau yang sholatnya tidak beres walaupun umurnya sudah mencapai enam puluh tahun, seperti Hammad bin 'Isa52 Atau yang ketahuan mencuri harta milik Imam Ma'sum mereka, seperti 'Ali bin Abi Hamzah Al-Batho'iny53 Disamping itu semua, kitab-kitab induk itu sendiri mengalami penambahanpenambahan sejak awal di keluarkannya. Misalnya Al-Kafy karangan Kulainy, buku yang disebutkan oleh penulisnya merupakan buku yang mendapatkan rekomendasi dari Imam kedua belas yang tersembunyi yang mengatakan ketika Al-Kafy dilihatkan padanya: "Al-Kafy cukup untuk Syi'ah kita"54. Bandingkan saja pernyataan ulama-ulama besar mereka. Husein bin Sa'id Al-'Amily (mati th 1067) mengatakan bahwa Al-Kafy terdiri dari lima puluh buku (pokok pembahasan)55, sementara enam abad sebelumnya Abu Ja'far At-Thusy (mati th 460) mengatakan bahwa Al-Kafy hanya terdiri dari tiga puluh buku (pokok pembahasan)56 Apakah dengan pondasi yang tidak sama, kita dan mereka masih dikatakan dalam bangunan yang satu ?? Ni'matulloh Al-Jazairy mengatakan: "Kami tidak bersatu bersama mereka yaitu ahlus sunnah- di atas ilah (Dzat yang berhak diibadahi) apapun, tidak di atas nabi manapun, dan tidak juga diatas seorang imam. Hal itu karena mereka mengatakan bahwa Robb mereka adalah yang memiliki nabi bernama Muhammad, dan kholifah setelahnya adalah Abu Bakr. Sementara kami tidak mengatakan kalau Robb seperti itu, tidak juga nabi yang begitu, bahkan kami katakan: "Robb yang kholifah nabiNya adalah Abu Bakr bukanlah Robb kami, dan nabi itu juga bukanlah nabi kami"57.

AL-QUR'AN DAN SUNNAH DUA PONDASI SYARI'AH


47 48

Ikhtiar Ma'rifatir Rijal karangan At-Thusi jilid 2 hal 455 Idem jilid 2 hal 516 49 Khulashotul Aqwal karangan Al-Hally hal 306 50 Ikhtiar Ma'rifatir Rijal jilid 2 hal 570 51 Rijalun Najasyi karangan An-Najasyi hal 134 52 Idem hal 142 53 'Uyun Akhbarir Ridho karangan Ash-Shoduq jilid 2 hal 34 54 Muqoddimah Al-Kafy hal 25 55 Roudhotul Jannat jilid 2 hal 114 56 Al-Fahrosat hal 161 57 Al-Anwarun Nu'amaniyyah jilid 2 hal 278

| H a l . 15

http://ahlussunnah.web.id

Diantara kesempurnaan hikmah Alloh, Dia tidak membiarkan hamba-Nya begitu saja, akan tetapi menurunkan bagi mereka petunjuk dan menjaga petunjuk itu dari kebatilan sampai hari kiamat. Barangsiapa yang mengikuti petunjuk maka dia termasuk hamba yang beruntung. Alloh Ta'ala berfirman:


"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan Kami pasti akan menjaganya" (QS Al-Hijr ayat 9)

*
"Sesungguhnya Al-Qur'an adalah Kitab yang mulia, tidak akan didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakang, diturunkan dari Hakiim (Dzat yang maha Bijaksana) lagi Hamidd (Dzat yang maha terpuji)" (QS Fushshilat ayat 41-42)

* * *
"Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya, sebagai petunjuk bagi orangorang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang mengimani perkara-perkara ghaib, menegakkan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka. Dan mereka beriman dengan (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) serta kepada kitab-kitab yang diturunkan sebelummu dan mereka yakin dengan keberadaan akhirat. Merekalah orang-orang yang berada di atas petunjuk dan merekalah orang-orang yang beruntung" (QS Al-Baqoroh ayat 2-5) Para shohabat adalah orang-orang yang paling memiliki perhatian penuh terhadap Al-Qur'an, penjagaan (baik di hati maupun tulisan) dan pengamalan. Telah masyhur di zaman Rosululloh sekalangan penghapal Al-Qur'an, diantaranya adalah para kholifah yang empat (Abu Bakr, Umar, 'Utsman dan 'Ali), Tholhah, Sa'ad bin 'Abi Waqqosh, Ibnu Mas'ud, Hudzaifah, Salim maula Abi Hudzaifah, Abu Hurairoh, Ibnu 'Umar, Ibnu 'Abbas, 'Amr Ibnul 'Ash, 'Abdulloh bin 'Amr, Mu'awiyyah, Ubay bin Ka'ab, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darda' dan lainnya58 Rohiyallohu 'Anhum Ajma'in. Disamping itu, Rasululloh sendiri menunjuk para penulis wahyu dari kalangan shohabat yang mulia, seperti: Abu Bakr, 'Umar, 'Utsman, 'Ali, Zaid bin
58

Manahil 'Urfan Az-Zarqony jilid 1 hal 242

| H a l . 16

http://ahlussunnah.web.id

Tsabit, Ubay bin Ka'ab, Kholid bin Walid, Mu'awiyah, dan Tsabit bin Qois, namun semuanya belum terkumpul dalam satu mushaf. Setelah Rosululloh meninggal, di zaman kekhalifahan Abu Bakr Rodhiyallohu 'Anhu pada tahun 12, terjadi peperangan di Yamamah dengan orang-orang murtad pengikut Musailamah Al-Kadzdzab. Pada peperangan tersebut terdapat penghapal Al-Qur'an dari kalangan shohabat yang terbunuh. Akhirnya 'Umar mendatangi Abu Bakr memintanya untuk mengumpulkan Al-Qur'an khawatir terlantar dengan terbunuhnya para penghapal. Zaid bin Tsabit mengatakan: "Abu Bakr mengutus orang (memanggilku) setelah berjatuhan korban perang Yamamah. Ketika itu 'Umar bin Khoththob disampingnya. Abu Bakr berkata: "'Umar mendatangiku dan mengatakan: "Sesungguhnya pembunuhan Qurro'59 berlangsung sengit pada hari Yamamah, aku khawatir kalau pembunuhan terhadap mereka semakin memuncak di medan-medan tempur sehingga kebanyakan Al-Qur'an bisa hilang. Aku berpendapat agar engkau memerintahkan untuk mengumpulkan Al-Qur'an". Maka kukatakan kepada 'Umar: "Bagaimana bisa aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam ?". 'Umar mengatakan: "Demi Alloh ini adalah sebuah kebaikan". Maka 'Umar terus-terusan membujukku sampai Alloh melapangkan dadaku untuk hal itu, maka aku berpendapat sebagaimana 'Umar berpendapat". Zaid berkata: "Abu Bakr mengatakan: "Engkau adalah seorang pemuda yang berakal, dan kami tidak ada tuduhan apa-apa (dari sisi amanah, hapalan maupun keakuratan dalam perkara Al-Qur'an) terhadapmu, dulu engkau menulis wahyu untuk Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam maka telusurilah Al-Qur'an dan kumpulkanlah". Demi Allah seandainya mereka menugaskanku untuk memindahkan salah satu bukit maka perkara tersebut tidak lebih berat bagiku daripada dia menyuruhku mengumpulkan Al-Qur'an. Aku katakan: "Bagaimana bisa kalian melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam ?". Abu Bakr mengatakan: "Demi Alloh ini adalah sebuah kebaikan". Maka Abu Bakr terus-terusan membujukku sampai Alloh melapangkan dadaku terhadap perkara yang Abu Bakr dan 'Umar berlapang dada. Maka aku menelusuri Al-Qur'an dan kukumpulkan dari pelepah korma, batu putih, dan hapalan orang-orang sampai aku mendapatkan akhir surat taubah pada Abu Khuzaimah Al-Anshory yang tidakku dapatkan pada selainnya

]821 : ... [

59

Penghapal Al-Qur'an dari kalangan shohabat, dalam riwayat lain disebutkan bahwa yang dimaksudkan 'Umar ketika itu adalah Salim maula Abi Hudzaifah

| H a l . 17

http://ahlussunnah.web.id

Sampai penutup surat Baro'ah. Lembaran-lembaran itu berada pada Abu Bakr sampai Alloh mewafatkannya, kemudian pada Umar semasa hidupnya, kemudian pada Hafshoh binti 'Umar Radhiyallohu 'Anha" (HR Bukhory 4402) 'Ali bin Abi Tholib Rodhiyallohu 'Anhu mengatakan: "Semoga Alloh merahmati Abu Bakr. Dialah yang pertama kali mengumpulkan Al-Qur'an diantara dua papan" (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, sanad hasan 30229) Sampailah ke zaman 'Utsman Rodhiyallahu 'Anhu, di masanya terjadi pengumpulan Al-Qur'an dalam satu bahasa yaitu bahasa Quraisy. Sementara dialek-dialek lain (dalam bahasa arab) yang sebagian shohabat meyakini bahwa dia mendengar langsung Rosululloh membacanya, maka dia bebas membaca untuk dirinya sendiri. Adapun yang tertulis dengan dialek yang lain, dibakar demi menutup celah pertikaian60 di kalangan muslimin. Anas bin Malik Rodhiyallohu 'Anhu mengatakan, bahwasanya Hudzaifah Ibnul Yaman datang menghadap 'Utsman. Di masa peperangan penduduk Syam bersama penduduk Irak dalam penaklukan Armenia dan Azerbaijan, Hudzaifah terkejut melihat perselisihan mereka dalam bacaan Al-Qur'an. Maka Hudzaifah berkata kepada 'Utsman: "Wahai Amirul Mukminin, susullah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Al-Kitab (Al-Qur'an) sebagaimana perselisihan Yahudi dan Nasrani. Maka 'Utsman menyurati Hafshoh: "Kirimkan lembaran-lembaran tersebut kepada kami, kami akan menyalinnya dalam mushaf-mushaf kemudian kami kembalikan kepadamu". Maka Hafshoh mengirimkannya ke 'Utsman, kemudian beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdulloh bin Az-Zubair, Sa'id bin Al-'Ash, dan 'Abdurrohman bin Al-Harits bin Hisyam untuk menyalin lembaran-lembaran tersebut kedalam mushaf-mushaf. Kemudian 'Utsman berkata kepada tiga orang Quraisy61: "Jika kalian berbeda dengan Zaid bin Tsabit tentang sesuatu di Al-Qur'an, maka tulislah dalam dialek Quraisy karena Al-Qur'an turun dengan bahasa mereka", kemudian merekapun melakukannya. Setelah semua yang di lembaran-lembaran disalin ke mushaf-mushaf, maka 'Utsman mengembalikan lembaran-lembaran tersebut ke Hafshof dan mengirim mushafmushaf salinan ke berbagai daerah, serta memerintahkan agar Al-Qur'an yang selainnya yang berada di lembaran atau mushaf untuk dibakar". (HR Bukhory 4802).

60

Sampai-sampai dengan tanpa disadari hampir terjerumus pada perbuatan kekafiran dengan mengatakan: "Al-Qur'anku lebih baik dari Al-Qur'anmu" (lihat Ash-Showa'iqul Mahroqoh karya Ibnu Hajar Al-Haitamy) 61 Yaitu: Sa'id, 'Abdulloh dan 'Abdurrohman

| H a l . 18

http://ahlussunnah.web.id

'Ali bin Abi Tholib Rodhiyallohu 'Anhu mengatakan: "Orang-orang berselisih di zaman 'Utsman Rodhiyallohu 'Anhu. Sampai-sampai seorang lelaki berkata kepada lelaki lain: "Yang aku baca lebih baik dari bacaanmu". Perkara tersebut sampai kepada 'Utsman Rodhiyallohu 'Anhu, maka kami mengumpulkan seluruh shohabat Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam, lantas dia berkata: "Sesungguhnya saat ini orang-orang telah berselisih tentang bacaan sementara kalian masih di tengahtengah mereka. Aku berpendapat untuk menyatukan mereka dalam satu bacaan". Maka pendapat kami menyatu dengan pendapatnya dalam masalah tersebut. Seandainya aku mengurus perkara yang dia urus, maka aku akan melakukan apa yang dia lakukan" (Sunan Al-Kubro Al-Baihaqy 2204, sanadnya hasan) Alloh pun menjadikan sunnah nabi-Nya sebagai penjelas Al-Qur'an sekaligus teladan yang nyata bagi orang-orang yang jujur dalam keimanannya. Alloh Ta'ala berfirman:


"Dialah yang mengutus seorang Rosul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menyucikan jiwajiwa mereka, serta mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah (sunnah) meski sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata" (QS AlJumu'ah ayat 2) Alloh Ta'ala berfirman:


"Dan Kami turunkan Az-Zikr (Al-Qur'an) kepadamu agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan agar mereka memikirkan" (QS An-Nahl ayat 44) Alloh Ta'ala berfirman:

*
"Katakanlah (wahai Muhammad): "Apabila kalian mencintai Alloh maka ikutilah aku, niscaya Alloh akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Alloh adalah Ghofur (Dzat Yang Maha Pengampun) dan Rohiim (Dzat Yang Maha Pemberi
| H a l . 19

http://ahlussunnah.web.id

Rahmat)". Katakanlah (wahai Muhammad): "Taatilah Alloh dan Rosul, jika kamu berpaling, ketahuilah Alloh tidak menyukai orang-orang kafir" (QS Ali 'Imron 31-32) Alloh Ta'ala berfirman:


"Sungguh pada diri Rosululloh terdapat suri teladan yang bagi kalian (yaitu) orangorang yang mengaharapkan perjumpaan dengan Alloh dan keselamatan di hari kiamat, serta banyak mengingat Alloh" (QS Al-Ahzab ayat 21) Penolakan sunnah Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam pada hakikatnya adalah mengingkari perintah Alloh 'Azza wa Jalla, Dia berfirman:


"Apa-apa yang datang dari Rosululloh maka ambillah. Dan apa-apa yang dia melarang kalian maka hentikanlah. Bertakwalah kalian kepada Alloh, sesungghuhnya Alloh memiliki azab yang sangat pedih" (Al-Hasyr ayat 7) Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam bersabda:


"Jangan sampai aku mendapatkan salah seorang dari kalian berbaring di atas ranjangnya kemudian datang kepadanya perkara yang aku perintahkan atau aku larang, lantas dia mengatakan: "Kami tidak tahu, apa yang kami dapatkan di Kitabulloh maka kami ikuti" (HR Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Rofi')62

. . .
"Akan ada seorang lelaki berbaring di atas ranjangnya, disampaikan kepadanya tentang haditsku, kemudian dia menjawab: "Antara aku dan kamu kitabulloh 'Azza wa Jalla-. Apa saja perkara halal yang kita dapatkan padanya maka kita halalkan. Apa saja perkara haram yang kita dapatkan padanya maka kita haramkan". Ketahuilah

62

Dishohihkan Syaikh Al-Albany

| H a l . 21

http://ahlussunnah.web.id

sesungguhnya apa yang diharamkan Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallamsebagaimana pengharaman Alloh" (HR Ibnu Majah dari Al-Miqdad bin Ma'di Karib)63 Para shohabat adalah orang-orang yang diridhoi Alloh dan merupakan saksi-saksi bagi umat manusia di hari kiamat kelak, dan saksi tentunya adalah orang-orang yang amanah dan adil.


"Berjihadlah kalian di jalan Alloh dengan sebenar-benarnya. Dia telah memilih kalian. Dia tidak menjadikan kesukaran pada agama ini, agama bapak moyang kalian Ibrohim. Dia (Alloh) telah menamakan kalian muslimin sejak dahulu dan juga pada (Al-Qur'an) ini, agar Rosululloh menjadi saksi atas (perbuatan kalian dan kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia" (QS Al-Hajj ayat 78) Suatu ketika Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam mengabarkan kisah hari kiamat kepada para shohabatnya:

- -
"Nuh didatangkan pada hari kiamat, maka dikatakan kepadanya: "Apakah engkau telah menyampaikan (risalah) ?". Dia menjawab: "Iya wahai Robb". Maka umatnya ditanya: "Apakah dia telah menyampaikannya kepada kalian ?". Mereka menjawab: "Tidak ada seorang pemberi peringatan pun kepada kami". Maka dikatakan kepadanya: "Siapa saksi-saksimu ?". Maka Nuh menjawab: "Muhammad dan umatnya". Maka kalianpun didatangkan, lantas kalian bersaksi". Kemudian Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam membaca ayat -yang artinya-: "Demikianlah kami menjadikan kalian sebagai umat pertengahan" Beliau berkata: "Yakni adil"- "Agar kalian menjadi saksi-saksi atas (perbuatan) manusia dan Rosululloh menjadi saksi atas (perbuatan) kalian (QS Al-Baqoroh ayat 143)". (HR Bukhory dari Abu Sa'id Al-Khury) Walaupun makna ayat mencakup seluruh umat Islam, namun shohabat adalah yang paling orang-orang yang duluan masuk kedalamnya, karena merekalah yang diajak
63

Idem

| H a l . 21

http://ahlussunnah.web.id

bicara ketika ayat ini diturunkan dan merekalah orang-orang beriman yang sebenarbenarnya. Alloh Ta'ala berfirman:


"Orang-orang yang beriman, berhijroh dan berjihad di jalan Alloh, serta orang-orang yang memberi tempat kediaman dan perlindungan (kepada Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka mendapatkan ampunan dan rezki yang mulia". (QS Al-Anfal ayat 74) Para Shohabat adalah saksi-saksi yang menyampaikan syari'at Islam kepada kaum muslimin, merekalah yang hadir ketika ayat-ayat diturunkan, merekalah yang menyimak langsung dari mulut Rosululloh, merekalah orang-orang yang hidup dibawah bimbingan beliau. Imam Abu Zur'ah Rahimahulloh mengatakan: "Jika engkau melihat seorang lelaki yang melecehkan salah seorang dari shohabat Rosululloh, maka ketahui bahwa dia adalah zindiq64. Hal itu dikarenakan bahwa (sunnah) Rosul adalah haq, dan Al-Qur'an adalah haq, sementara yang menyampaikan Al-Qur'an dan sunnah kepada kita adalah para shohabat Rosululloh. Mereka (para zindiq) hanya ingin menjatuhkan kredibilitas para saksi kita agar mereka bisa membatalkan Al-Qur'an dan sunnah".65 Karena itulah, terdapat beberapa konsekwensi dari keyakinan sesat Syi'ah Imamiyyah-Itsnai 'Asyariyyah terhadap para shohabat Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam, diantaranya: Pendustaan terhadap Alloh yang telah memuji para shohabat dalam puluhan ayat Al-Qur'an. Tuduhan terhadap Rosululloh bahwa beliau tidak berhasil dalam dakwahnya66 Menimbulkan ketidakyakinan terhadap semua yang dinukil dari para shohabat

64 65

Menyembunyikan kekafiran dan menampak-nampakkan keimanan Tahdzibul Kamal jilid 19 hal 96 karya Al-Mizzy 66 Khumaini berkata dalam salah satu khutbahnya kepada bangsa Iran: "Setiap para nabi hanyalah datang untuk menegakkan keadilan tanpa kezholiman. Maka targetnya adalah menerapkan perkara tersebut di alam semesta, akan tetapi dia tidak berhasil. Bahkan sang penutup para nabi yang dulunya datang untuk memperbaiki manusia, mendidik mereka dan menerapkan keadilan tanpa kezholiman, sesungguhnya dia juga tidak diberi taufik (untuk itu). Sungguh orang yang akan berhasil dengan sebenar-benarnya, dan menerapkan keadilan tanpa kezholiman di seluruh penjuru dunia adalah AlMahdi Al-Muntazhor (yang ditunggu-tunggu)" Mukhtasor min Ahadits wal Khitobat Al-Imam AlKhumainy no 676

| H a l . 22

http://ahlussunnah.web.id

Membatalkan agama, karena dibangun di atas dua pondasi yang tidak terjamin Alloh tidak menegakkan hujjahnya atas manusia, karena tidak menyisakan orang untuk menyampaikan maksudNya kecuali Imam mereka-

TAQIYYAH TAMENG ITSNAI 'ASYARIYYAH MENENTANG SYARI'AH


Taqiyyah adalah "Menyembunyikan kebenaran dan menutup-tutupi keyakinan terhadap kebenaran tersebut. Serta menyembunyikan permusuhan terhadap para penyelisih dan meninggalkan penentangan terhadap mereka yang bisa menyebabkan bahaya terhadap dunia dan agama", sebagaimana didefinisikan salah satu ulama besar Imamiyyah Al-Mufid67. Taqiyyah di sisi mereka adalah suatu ibadah yang mulia, dengannyalah agama mereka bisa berkembang merasuk di kalangan manusia. Dihikayatkan dari Imam kedelapan 'Ali Ar-Ridho: "Tidak ada agama bagi yang tidak punya waro', dan tidak ada keimanan bagi yang tidak melakukan taqiyyah. Orang yang paling mulia di sisi Alloh adalah orang yang paling mengamalkan taqiyyah".68 Dihikayatkan dari Imam ketujuh Musa Al-Kazhim: "Apabila sampai kepadamu sesuatu dari kami atau yang disandarkan kepada kami, jangan kamu katakan: "Ini adalah bathil", walaupun kamu berseberangan dengannya. Karena kamu tidak tahu tentang apa yang kami katakan dalam sisi mana kami letakkan. Maka berimanlah dengan apa yang saya kabarkan kepadamu dan jangan tolak apa yang saya sembunyikan darimu".69 Dihikayatkan dari Imam keenam Abu 'Abdiilah Ja'far As-Shodiq, dari Sulaiman70 bin Kholid, Abu 'Abdillah 'Alaihis Salam berkata: "Wahai Sulaiman, sesungguhnya kalian berada dalam agama yang barangsiapa menyembunyikannya maka Alloh akan memuliakannya, sementara barangsiapa yang menyiarkannya maka Alloh akan menghinakannya"

67 68

Syarh 'Aqo'idis Shoduq hal 261 Kasyful Ghummah hal 341 karangan Al-Aradbily 69 Rijalusl Kisyi hal 356 pada biografi 'Ali bin Suwaid 70 Al-Kafi jilid 2 hal 222, Ar-Rosa'il jilid 2 hal 185/ Al-Khumainy

| H a l . 23

http://ahlussunnah.web.id

Ash-Shodiq71 'Alaihis Salam berkata: "Kalau kamu bilang bahwa orang yang meninggalkan taqiyyah seperti orang yang meninggalkan sholat, maka sungguh kamu adalah orang yang benar" Dihikayatkan dari Imam kelima Muhammad Al-Baqir: "Apakah ada yang paling menyejukkan hatiku daripada taqiyyah ? Sesungguhnya taqiyyah adalah surganya orang-orang mukmin"72 Dihikayatkan dari Imam keempat 'Ali Zainal 'Abidin: "Alloh mengampuni setiap dosa orang-orang beriman dan menyucikannya di dunia dan akhirat, kecuali dua dosa: meninggalkan taqiyyah dan menyia-nyiakan hak-hak persaudaraan".73 Dihikayatkan dari Imam ketiga Al-Husein Asy-Syahid: "Kalau bukan taqiyyah, kita tidak bisa mengetahui mana yang penolong kita dan mana musuh kita"74. Yaitu kedustaan adalah ciri khas mereka. Dihikayatkan dari Imam pertama 'Ali bin 'Abi Tholib: "Taqiyyah adalah amalan mukmin yang paling utama. Karena dengannya terjaga jiwanya dan saudaranya dari para pendosa".75 Mereka juga menghikayatkan dari Rosululloh: "Permisalan orang beriman yang tidak melakukan taqiyyah, seperti jasad yang tidak ada kepalanya".76 Bahkan dihikayatkan juga bahwa beliau sendiri melakukan taqiyyah. Abu 'Abdillah mengatakan: Ketika 'Abdulloh bin 'Ubay bin Salul mati, Rosululloh menghadiri jenazahnya. Maka 'Umar berkata: "Bukankan Alloh melarangmu untuk berdiri di kuburannya ?". Beliau diam. Maka dia berkata lagi: "Wahai Rosululloh bukankan Alloh melarangmu untuk berdiri di kuburannya ?". Maka Beliau berkata: "Celaka kamu, apa kamu tahu apa yang akan kukatakan padamu. Sesungguhnya aku mengatakan: "Wahai Alloh isilah kerongkongannya dengan api, penuhkanlah kuburnya dengan api, dan antarkanlah dia ke neraka". Abu 'Abdillah 'Alahis Salam berkata: "Maka nampaklah dari Rosululloh perkara yang dibencinya".77

71

As-Saro'ir hal 479/ Ibnu Idris, Man Laa Yahdhuruhul Faqih jilid 2 hal 80/ Ibnu Babawaih, Biharul Anwar jilid 75 hal 412 72 Al-Kafy jilid 2 hal 220 73 Tafsir Al-'Asykari hal 164 74 Idem hal 162 75 idem 76 Idem 77 Al-Kafy fi Furu' jilid 1 hal 188

| H a l . 24

http://ahlussunnah.web.id

Karena itulah Imam Ahli hadits mereka Ibnu Babawaih78 Ash-Shoduq mengatakan: "Keyakinan kita tentang taqiyyah, bahwasanya hukumnya adalah wajib. Barangsiapa yang meninggalkannya, kedudukannya sama dengan yang meninggalkan sholat" Dia79 juga mengatakan: "Taqiyyah wajib. Tidak boleh diangkat hukumnya sampai keluarnya Al-Qo'im80. Barangsiapa yang meninggalkan taqiyyah sebelum beliau keluar, maka dia telah keluar dari agama Alloh, agama Imamiyyah, serta menyelisihi rosul dan para Imam". Taqiyyah mereka adalah taqiyyah munafik, dasarnya adalah kebencian terhadap syari'at Islam. Syaikh Muqbil Rahimahulloh mengatakan: "Sesuatu yang mesti diketahui bahwa taqiyyah Rofidhoh masuk dalam kemunafikan. Karena hukum taqiyyah diambil dari firman Alloh Ta'ala:


"Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang-orang kafir selain orang-orang beriman sebagai pemimpin. Barangsiapa yang melakukan hal tersebut, niscaya dia tidak akan memperoleh apapun dari Alloh. Kecuali untuk menjaga diri dari apa yang kemu takutkan dari mereka. Alloh mengikatkanmu akan diri Nya dan hanya kepada Allohlah tempat kembali". (QS Ali 'Imron ayat 28) Ayat tersebut dijelaskan oleh perkataan Alloh Ta'ala:


"Barangsiapa yang kafir setelah keimanannya (maka dia mendapat kemurkaan Alloh) kecuali orang-orang yang dipaksa sementara hatinya tenang dalam keimanan. Namun orang-orang yang hatinya merasa lapang dengan kekafiran, maka bagi mereka kemurkaan Alloh dan azab yang besar". (An-Nahl ayat 106) Batas paksaan adalah engkau betul-betul memastikan akan terjadi pada dirimu, hartamu atau kehormatanmu sesuatu yang tidak bisa kau pikul 81. Adapun "sifat
78 79

Al-I'tiqodat hal 114 Idem 80 Imam yang mereka yakini sebagai Imam Mahdi 81 Yakni diluar kemampuannya menahan.

| H a l . 25

http://ahlussunnah.web.id

bunglon" Rofidhoh tidak termasuk taqiyyah (yang diberi keringanan) sedikitpun, bahkan itu adalah kemunafikan"82. Dengan taqiyyah munafik inilah Imammiyyah menggauli kaum muslimin, sebagaimana Al-Harr Al-'Amily dalam kitab hadistnya menyebutkan bab: "Wajibnya menggauli kalangan awwam yaitu ahlus Sunnah- dengan taqiyyah"83, kemudian menyebutkan hikayat-hikayat mereka. Dengan taqiyyah munafik inilah Imammiyyah memiliki solusi atas hikayat-hikayat mereka yang saling bertabrakan. Al-Bahrony mengatakan: "Mayoritas bahkan seluruh perselisihan yang terjadi pada riwayat-riwayat kami, jika dipikirkan dan dipastikan maka semua itu muncul dari masalah taqiyyah"84. Walau pada hakikatnya sama saja mereka menuduh para Imam mereka menyembunyikan perintah Alloh, apalagi banyak riwayat-riwayat taqiyyah yang muncul tanpa unsur paksaan sama sekali. Maka jangan sampai prasangka baik dan sikap tidak peduli sebagian kaum muslimin terhadap kesesatan mereka menimbulkan penyesalan. Sudah menjadi modus musuh-musuh Islam bahwasanya mereka menyusupkan pemahaman dan keyakinan kepada kaum muslimin scara perlahan-lahan, karena jika mereka langsung mengumbarnya maka spontanitas akan muncul penentangan. Ihsan Ilahi Zhohir yang banyak berinteraksi dengan buku-buku mereka menyebutkan: "Sungguh kami juga melihat -setiap kali kami merujuk ke buku-buku kaum tersebutbahwasanya buku-buku tersebut terbagi ke dalam dua kelompok: Buku-buku yang hanya berisikan pengakuan-pengakuan belaka, dan buku-buku yang mengandung akidah pokok dan keyakinan-keyakinan yang hakiki. Buku-buku yang berisikan pengakuan-pengakuan belaka banyak menyebar di dekade-dekade terakhir. Betapa banyak para penulisnya melakukan kedustaan dan penipuan untuk menutup berbagai perkara di hadapan kaum muslimin"85 Faidah lain yang mereka peroleh dari taqiyyah, diantaranya: Menjawab keanehan hikayat-hikayat yang mereka nukilkan dari para imam yang terkadang menghalalkan sesuatu, dan pada hikayat yang lain mengharamkannya. Mereka mengatakan: "Ketika ini atau itu, sang imam menjawab dalam rangka taqiyyah".

82 83

Ilhad Khumainy hal 192 Wasa'il Syi'ah jilid 11 hal 470 84 Al-Hada'iq An-Nadhiroh jilid 1 hal 47 85 Syi'ah wat Tasyayyu' Firoq wa Tarikh hal 6

| H a l . 26

http://ahlussunnah.web.id

Membatalkan pujian-pujian 'Ali Rodhiyallohu 'Anhum dan anak cucunya kepada para shohabat Rosululloh Shollallohu 'Alaihi wa Sallam. Mereka mengatakan: "Itu semua dalam kondisi taqiyyah". Mendukung hikayat-hikayat dusta yang mendukung mazhab mereka, karena yang sesuai dengan akidah mereka diterima, sementara yang bertentangan: "Cuma taqiyyah". Kita tutup risalah pendek ini dengan perkataan Syaikh Muqbil Rahimahulloh dalam kitab Ilhadul Khumainy: "Telah kupaparkan kepadamu sebagian dari fitnah-fitnah Rofidhoh terhadap kaum muslimin, sementara yang tidak kusebutkan banyak masih banyak dan sangat banyak. Telah kupaparkan kepada kalian permusuhan Rofidhoh terhadap Islam dan muslimin, terus-menerus diantara muslimin -sampai ke zaman kita ini- bekerja keras (dalam menjelaskan), terlebih bahwa kebanyakan ahlus sunnah tidak mengetahui akidah rofidhoh yang menyimpang, disertai ketidaktahuan mereka terhadap akidah ahlus sunnah yang lurus. Maka kondisi muslimin hari ini lebih berbahaya, disebabkan ketidaktahuan ahlus sunnah dengan akidah sendiri"

| H a l . 27