Anda di halaman 1dari 6

www.isnad.

net

HUKUM-HUKUM SEPUTAR IBADAH QURBAN

Bagian Kedua
Ditulis Oleh: Ahmad Rifai bin Masud Al-Jawi

Beberapa Permasalahan Penting Berkaitan Dengan Ibadah Qurban:

Masalah pertama: Bolehkah mengganti hewan yang sudah diniatkan untuk berqurban dengan hewan yang lain atau menjualnya? Apabila menggantinya dengan yang lebih baik dari hewan yang pertama, kebanyakan ulama membolehkan. Demikian juga menjualnya kemudian menggantinya dengan yang lebih baik. Dalilnya hadits Aisyah:

.
Seandainya bukan karena kaummu (Quraisy) baru saja terlepas dari jahiliyyah, tentu akan aku infaqkan perbendaharaan Kabah di jalan Alloh, dan aku buat pintunya sejajar dengan tanah, dan akan kuperluas sampai ke Hijr Ismail. (muttafaq alaih) Telah dimaklumi bersama bahwa Kabah adalah semulia-mulia waqof di atas bumi ini, meskipun demikian, Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam ingin menggantinya dengan yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa sesuatu yang sudah diniatkan untuk Alloh secara umum boleh diganti dengan yang lebih baik. Demikian yang dirojihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu

www.isnad.net

Taimiyah dan lainnya sebagaimana dinukil oleh syaikhuna Yahya hafidzohulloh, dan beliau melemahkan hadits yang melarang hal tersebut. (At-Tajliyah:56-57, Fathul Allam:5/524)

Masalah kedua: Apabila hewan qurban disembelih setelah berakhirnya waktu ibadah qurban? Bila hewan qurban tersebut adalah qurban yang wajib, seperti bila pemiliknya bernadzar untuk berqurban dengannya;

Berkata Syaikh Utsaimin rohimahulloh: Apabila mengakhirkannya dengan sengaja maka tidak sah qurbannya, dan tidak diperintahkan untuk mengganti. Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam berkata:

.
Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada pada agama kita ini, maka amalan itu tertolak. (HR Muslim) Sedangkan apabila karena hal-hal yang tidak disengaja misalnya; karena lupa, atau tidak tahu hukum, atau karena hewannya kabur dan baru bisa ditangkap setelah berakhirnya waktu qurban, maka dia boleh untuk menyembelihnya dengan niat qurban, karena dia mempunyai udzur. Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam:

.
Barang siapa tertidur dari sholatnya atau lupa mengerjakannya, maka hendaklah dia segera sholat, tidak ada kewajiban baginya untuk menebus kecuali dengan itu. (muttafaq alaih) Bila qurban tersebut diniatkan untuk tathowwu (qurban yang sunnah), maka bila telah berakhir waktunya hilang kesempatan untuk berqurban, tapi boleh baginya untuk menyembelih dan membagikan dagingnya dengan niat shodaqoh. (fathul Allam:5/521-522)

Masalah ketiga: Haruskah menentukan hewan mana yang akan diqurbankan? Jumhur (kebanyakan) ulama berpendapat harusnya menentukan hewan yang mana yang akan dijadikan qurban. Dengan penentuan ini maka hewan yang sudah ditunjuk tidak boleh disembelih selain dalam rangka ibadah qurban, tidak boleh dijual, tidak boleh dicukur bulunya,

www.isnad.net

tidak boleh dijual anaknya, tidak boleh diminum susunya, kecuali bila lebih dari kebutuhan anaknya dan sebagainya. Akan tetapi mereka berselisih tentang bagaimana cara menentukannya. Sebagian berpendapat bahwa cara menentukannya adalah dengan ucapan seperti: ini qurbanku. Sebagian yang lain menentukannya dengan dibelinya hewan tersebut untuk qurban. Yang benar dalam masalah ini adalah bahwa hewan qurban ditentukan ketika menyembelihnya dengan niat untuk qurban, karena tidak adanya dalil yang menjelaskan tentang waktu penentuan ataupun lafadznya. Dengan demikian, maka tidak wajib untuk memenuhi hal-hal yang disebutkan oleh jumhur di atas, sehingga diperbolehkan untuk mencukur bulunya, meminum susunya dan seterusnya. Demikian dirojihkan oleh syaikhuna Muhammad bin Hizam hafidzohulloh. (Fathul 'Allam:523-524)

Masalah keempat: Hewan apakah yang paling afdhol untuk qurban? Yang paling afdhol untuk qurban adalah unta, kemudian sapi, kemudian kambing, kemudian gabungan dalam satu ekor unta, kemudian gabungan dalam satu ekor sapi. Dalilnya hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu 'anhu, bahwa Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam berkata:

.....
Barang siapa berangkat (menuju sholat Jumat) pada awal waktu, maka seakan-akan dia berqurban dengan seekor unta, dan barang siapa berangkat pada waktu kedua, maka seakan-akan dia berqurban dengan seekor sapi....(muttafaq alaih). Ini menunjukkan bahwasanya bershodaqoh dengan unta lebih besar pahalanya daripada bershodaqoh dengan sapi. Dan bershodaqoh dengan sapi lebih besar pahalanya daripada bershodaqoh dengan kambing. Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam telah menyebutkan bahwasanya pahala itu sesuai dengan kadar rasa capek atau nafkah yang dikeluarkan. (HR Al Bukhoriy (1787) dan Muslim (1211)). Dan juga karena yang paling afdhol untuk hadyi adalah unta, maka qurban diqiyaskan dengannya, karena sama-sama sembelihan. (Fathul 'Allam:5/30) Adapun syaikhuna Yahya hafidzohulloh, beliau merojihkan bahwa yang paling afdhol untuk qurban adalah kambing, karena Rosululloh berqurban dengannya, dan yang paling afdhol untuk

www.isnad.net

hadyi adalah unta, karena Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam berhadyi dengannya. (Faidah Mudawwanah min Durus Syaikhina bitarikh 25/11/131H )

Masalah kelima: Bolehkah makan dari qurban yang diniatkan untuk nadzar? Orang yang bernadzar untuk berqurban, diperbolehkan baginya untuk makan dari qurban tersebut, karena nadzar tidak merubah hukum yang terkait dengan hewan qurban yaitu untuk disembelih dan dimakan. Nadzar hanya menjadikan qurban yang tadinya sunnah menjadi wajib. (Fathul 'Allam:5/535 )

Masalah keenam: Perbedaan niat orang-orang yang bergabung dalam satu sembelihan. Jika sebagian orang yang bergabung dalam satu sembelihan berniat untuk berqurban dengannya, sedangkan yang lain bergabung dengan niat untuk mendapatkan bagian dagingnya saja, bukan untuk qurban, maka orang yang berniat untuk qurban sah qurbannya, dan masingmasing mendapatkan sesuai apa yang dia niatkan. (Fathul 'Allam: )

Masalah ketujuh: Berqurban untuk orang lain tanpa sepengetahuannya. Apabila orang tersebut sudah meninggal, maka tidak disunnahkan untuk menghususkan suatu qurban atas nama yang telah meninggal itu. Karena Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam tidak pernah berqurban atas nama Khodijah, istri tercinta beliau, tidak pula atas nama Hamzah bin Abdil Muththolib atau yang lainnya. Yang beliau lakukan adalah berqurban atas nama beliau dan keluarga beliau. Dan secara otomatis masuk di dalam bilangan keluarga beliau siapa saja yang meninggal dari keluarga beliau dalam keadaan Islam, sehingga dengan demikian beliau berqurban atas nama yang telah meninggal tapi tidak secara khusus, dan yang seperti ini boleh. (Fathul 'Allam:5/538) Syaikhuna Yahya hafidzohulloh berkata: Tidak disyariatkan berqurban atas nama mayyit. Dan beliau menukilkan perkataan Ibnul Mubarok: Lebih aku sukai bila dia bershodaqoh atas namanya (mayyit) bukan berqurban. (At-Tajliyah:58)

Masalah kedelapan: Apabila mewakilkan orang lain untuk menyembelih, haruskah orang yang mewakilinya menyebut nama pemilik qurban ketika menyembelih?

www.isnad.net

Para ulama sepakat bahwa orang yang mewakili tidak wajib menyebut nama pemilik hewan qurban ketika menyembelih, dan apabila dia sebutkan namanya boleh-boleh saja.(Fathul 'Allam:5/539)

Masalah kesembilan: Bila mewakilkan seorang ahlul kitab dalam menyembelih qurban? Qurbannya sah, karena sembelihan ahlul kitab adalah sembelihan yang sah, sedangkan yang berqurban dengannya adalah si pemilik hewan tersebut. Akan tetapi hal yang seperti ini makruh menurut jumhur ulama. (Fathul 'Allam:5/539)

Masalah kesepuluh: Bolehkah seorang budak berqurban dari hartanya sendiri? Apabila diizinkan oleh tuannya boleh bagi budak untuk berqurban sendiri, dan bila tidak diizinkan maka tidak boleh. (Fathul 'Allam:5/539) Masalah kesebelas: Bolehkah berqurban untuk anak yatim dari harta anak yatim tersebut? Jika kebiasaan daerah setempat memang sudah dimaklumi bahwa anak yatim bila dia mampu untuk berqurban, diambilkan dari sebagian hartanya untuk berqurban oleh walinya, dan bahkan kalau tidak dilakukan yang demikian itu dia akan bersedih hati, maka yang demikian ini boleh. Dan bila kebiasaan setempat kebalikan dari itu, maka sebaiknya tidak diambil dari harta anak yatim untuk berqurban. Demikian dirojihkan oleh Syaikh Utsaimin rohimahulloh sebagaimana dinukil oleh Syaikh Ibnu Hizam hafidzohulloh. (Fathul 'Allam:5/539) Masalah kedua belas: Mana yang lebih utama; berqurban atau bershodaqoh seharga hewan qurban tersebut? Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata: "Menyembelih pada saat yang disyariatkan seperti hadyi dan qurban, lebih utama dari pada bershodaqoh dengan uang yang senilai atau lebih dari itu. Hal itu dikarenakan yang dimaksudkan oleh syariat pada saat-saat tersebut adalah penyembelihan dan pengaliran darah, yang mana itu adalah suatu ibadah yang digandengkan dengan sholat, sebagaimana firman Alloh Ta'ala:

]2: [
"Maka dirikanlah sholat untuk Robbmu dan berqurbanlah (untuk Robbmu)." (Al-Kautsar:2)

www.isnad.net

]: [
"Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadah (qurban)ku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Robb semesta alam." (Al-An'am:162) Oleh karena itu, bila ada orang haji tamattu' atau qiron kemudian dia bershodaqoh dengan uang yang berlipat kali dari harga seekor hewan yang seharusnya diqurbankan, maka shodaqoh tersebut tidak bisa menggantikannya. Demikian pula udhiyah (qurban bagi yang tidak haji)." (Fathul 'Allam:5/540)