Anda di halaman 1dari 28

DEMAM TINGGI

Pria, 19 tahun, diantar ke Rumah Sakit dalam keadaan demam tinggi. Berdasarkan alloanamnesis dengan keluarga, kurang lebih 1 minggu ini penderita demam, nyeri kepala, dan muntah. Ada riwayat kejang demam saat usia 4 tahun. Pada pemeriksaan fisik ditemukan apatis dan rangsangan meningen positif. Dokter menduga pasien mengalami meningitis. Untuk menegakkan diagnosis diambil sampel cairan serebrospinal melalui Pungsi Lumbal dan menunjukkan kekeruhan. Sebagai seorang mukallaf, dalam keadaan seperti itu, dia tetap berkewajiban menajalankan syariat islam.

1 B13DEMAM TINGGI

TIU I. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANATOMI MAKROSKOPIK MENINGES

1. DURAMETER Durameter adalah pembungkus susunan syaraf pusat (otak dan medulla spinalis) paling luar yang terdiri dari jaringan ikat padat Dalam otak membentuk 5 sekat : Falx cerebri Tentorium cerebelli Falx cerebelli Diafragma sellae Kantong Meckelli Di antara lapis luar dan dalam terdapat sinus (venosus) duraemetris (system vena)

DURAMETER ENCEPHALI o Lapis Luar (lapis endosteal=lapis periosteal) Melekat erat ke periosteum tengkorak Perlekatan terkuat pada sutura dan basis crania Lapis luar melekat erat pada foramen occipital magnum
2 B13DEMAM TINGGI

Celah yang terbentuk antara lapis luar durameter dengan periosterum adalah CAVUM EPIDURAL, isi dari cavum epidural : Jaringan ikat jarang Sedikit lemak Plexus venosus Vena Arteri Vasa lymphatica Antara lapis dalam dan luar terjadi pembentukan sinus duraemetris

o Lapis Dalam (meningeal) Menghadap kearah arachnoidea Dilapisi mesotel Menghasilkan sedikit serosa berfungsi untuk lubrikasi permukaan dalam durameter dengan permukaan luar arachnoidea jadi gesekan teredam Anatara durameter dengan arachnoidea terdapat CAVUM SUBDURAL, mengandung : Sedikit serosa untuk meredam gesekan Menghubungkan vena cerebri superior kr sinus sagitalis superior : Bridging Vein

DURAMETER SPINALIS Mempunyai lapis luar dan dalam Lapis luar melekat pada : Foramen occipital magnum lanjut menjadi durameter encephali Periosteum VC 2-3 Lig. Longitudinal posterior Mempunyai cavum epidural dan subdural Setinggi os. Sacrale 2, duraeter spinalis membungkus filum terminale dan melekat pada os. Coccygeus Antara L2 dengan S2, cavum epidural diisi oleh caudal equine (untaian NN. Spinals) Paling bawah medulla spinallis setinggi VL2 da banyak NN. Spinals

2. PIAMETER Piameter adalah selubung tipis yang kayak dengan pembuluh darah dan langsung membungkus otak dan medulla spinalis Antara piameter dengan otak tidak ada rongga
3 B13DEMAM TINGGI

Di permukaannya ada vassa dan nervus Dataran luarnya ditutupi oleh villi arachnoidea

PIAMETER ENCEPHALI Membungkus seluruh permukaan otak dan cerebellum termasuk sulci dan gyri Fisura cerebri tranversa membentuk tela choroidea ventriculi III bergabung dengan ependyma untuk membentuk plexus choroideus ventriculi IV et lateralis PIAMETER SPINALIS Lebih tebal dan kuat, vasa tidak sebanyak piameter encephali VL3 tidak membungkus medulla spinalis (medulla spinalis ujungnya di VL2 atau VL1) dan membentuk filum terminale (benang) kemudian bergabung dengan durameter spinalis dan melekat pada os. Coccygeus dan fiksasi di medulla spinalis Terdiri dari dua lapis : Lapisan luar - Terdiri dari jaringan kolagen yang memanjang - Pada sisi segment medulla spinalis, membentuk lig. denticulatum berjalan antara radix anterior dengan radix posterior dan melekat pada n. spinalis Lapisan dalam - Melekat pada seluruh permukaan medulla spinalis dan membentuk sekat pada fisura mediana anterior

3. ARACHNOIDEA MATER Arachnoidea-mater selubung jaringan ikat tipis yang non vaskuler yang memisahkan durameter dan piameter Dipisahkan dengan duramater oleh cavum subdural yang berisi cairan serosa Dipisahkan dengan piameter oleh cavum arachnoidea yang berisi liquor cerebrospinalis ARACHNOIDEA ENCEPHALI Mengahadap durameter dilapisi oleh mesotel Tidak memasuki sulci dan gyri kecuali falx dan tentorium Permukaan yang menghadap kearah piameter punya pita-pita fibrotic halus : TRABECULA ARACHNOIDEA Bagian tertentu menonjol ke dalam sinus : VILLI ARACHNOIDEA Villi arachnoidea berkembang sesuai dengan usia : - Bayi : belum ditemukan
4 B13DEMAM TINGGI

< 3 tahun : masih jarang < 7 tahun : merata ditemukan

ARACHNOIDEA SPINALIS Ke cranial melalui foramen occipital magnum lanjut menjadi arachnoidea encephali Ke caudal membentuk filum terminale TIU II. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN FISIOLOGI DAN ALIRAN CAIRAN CEREBROSPINAL
Letak Pembentuk : Systema ventriculi cerebri, cavum subarachnoidea dan canalis centralis : Plexus choriodeus dari systema ventriculi cerebri (ventriculi latelaris, ventriculi tertius dan ventriculus quartus) sebagian kecil berasal dari cairan jaringan otak Sifat : Cairan jernih mirip cairan jaringan atau limfe dengan berat jenis 1.007. Mempunyai kandungan garam anorganis seperti dalam plasma darah: kadar Mg dan Cl lebih banyak, sedang kadar K dan Ca lebih sedikit. Kadar gulanya separuh dari yang ada dalam darah, kadar protein sangat sedikit, jumlah limfosit normal: 1-8/MM2. Dalam posisi berbaring tekanannya 100-150 mm air (tekanan akan naik jika batuk atau tekanan pada vena jugularis interna). Jumlah totalnya 140 ml. Sirkulasi : Pada otak: Dari ventriculus lateralis melalui foramen interventriculare (Monroi) berhubungan dengan ventriculus III kemudian melalui aquaeductus cerebri (Sylvii) masuk ke dalam ventriculus IV dan melalui foramen Magendi (di tengah atap ventriculus IV) dan foramen interventriculare (Luschka) (dipinggir atap ventriculus IV) masuk ke dalam cavum subarachnoidale dan cisternae. Pada medulla spinalis: Dalam cavum subarachnoidea spinalis dimana ke cranial berhubungan dengan ventriculus IV melalui foramen Magendie dan foramen Luschka. Sebagian besar LCS (liquor cerebrospinalis) akan diabsorbsi oleh vili arachnoidale, sebagian kecil memasuki celah perineuralis dari Nn.Cranialis et spinales dan berakhir pada saluran limfe. Aliran LCS dimungkinkan karena adanya denyut nadi vasa craniales et spinales dan adanya gerakan columna vertebralis. 5 B13DEMAM TINGGI

Fungsi

:-

Sebagai bumper antara susunan saraf pusat dengan tulang sekelilingnya Sebagai pengatur volume rongga tengkorak (jika volume otak atau darah naik, maka volume LCS akan menurun) Sebagai pemberi makanan terhadap susunan saraf pusat Sebagai media untuk membuang sisa metabolisme neuron

Aspek Klinik : 1. Jika terjadi sumbatan pada hubungan ventriculi cerebri bisa terjadi bendungan LCS dalam system ventriculi dan dapat terjadi hydrocephalus 2. Punksi lumbal Tujuan : Diagnostik LCS spinalis Cara : Jarum pungsi ditusukkan pada linea mediana posterior antara processus spinosus VL 3 dan VL 4. Tusukan ini tidak akan menciderai medulla spinalis, karena ujung bawah medulla spinalis berakhir setinggi VL 1 atau VL 2 Pada meningitis oleh karena bacteria, kadar glukosa pada LCS turun (oleh karena bekteria memakan glukosa) sedang kadar protein naik. Pada meningitis oleh karena virus kadar glukosa naik sedang kadar protein sedikit naik atau normal. 3. Punksi cisterna Tujuan : Diagnostik LCS otak Cara : Jarum pungsi ditusukkan antara atlas dengan os occipitale sehingga mencapai cisterna cerebellomedularis s.cisterna magna 4. Anestesi spinalis Tujuan : memblok rasa sakit didaerah yang disyarafi oleh Nn.Spinales lumbales et sacrales Cara : memasukkan cairan anestesi ke dalam cavum subarachnoidea spinalis sama persis dengan prosedur punksi lumbal

Warna Cairan serebrospinal normal tidak berwarna. Adanya warna pada cairan ini biasanya menunjukkan hal abnormal.

Xantokrom (kekuningan): perdarahan subarakhnoid, meningitis tuberkulosis, dan neonatus normal. Kuning: hiperbilirubinemia, hemolisis. Oranye: hiperkarotenemia, hemolisis. Merah muda: hemolisis. Hijau: hiperbilirubinemia, meningitis bakterial. Coklat: meningitis melanomatosis.

Hitung sel Cairan serebrospinal normal hanya mengandung 0-5 leukosit/mm3.

6 B13DEMAM TINGGI

Pada pasien meningitis purulen (bakterial), dapat ditemukan jumlah sel lebih dari 100-1000 leukosit/mm3. Jumlah sel lebih dari normal, tapi kurang dari 100, dapat ditemukan pada meningitis viral. Penyebab jumlah sel di cairan serebrospinal meningkat selain infeksi antara lain penyakit keganasan, perdarahan intraserebral, dan setelah serangan kejang. Dominasi sel netrofil atau sel polimorfonuklear (PMN) dapat ditemukan pada meningitis bakterial stadium awal. Dominasi eosinofil cukup sering berkaitan dengan meningitis atau ensefalitis oleh parasit. Sedangkan dominasi limfosit-monosit (mononuklear / MN) ditemukan pada meningitis viral, tuberkulosis, atau fungal. Protein Protein pada cairan serebrospinal normal mengandung 18-58 mg/dL protein. Peningkatan protein dapat terjadi akibat infeksi, perdarahan, multiple sclerosis, dan keganasan. Sedangkan protein yang rendah mungkin ditemukan pada bayi atau anak berusia di bawah 2 tahun dan pada intoksikasi air. Hipoproteinemia atau hipoalbuminemia tidak menyebabkan protein cairan serebrospinal menurun. Glukosa Glukosa pada cairan serebrospinal biasanya sama dengan 2/3 kali glukosa darah orang yang bersangkutan 2-4 jam sebelumnya. Satu-satunya penyebab peningkatan glukosa pada cairan serebrospinal adalah diabetes melitus. Namun glukosa cairan dalam kasus ini tidak pernah melebihi 300 mg/dL. Penurunan glukosa cairan serebrospinal biasanya disebabkan infeksi. Infeksi bakteri menyebabkan glukosa turun sampai sangat rendah, namun infeksi virus yang hanya menyebabkan glukosa turun sedikit. Pemeriksaan ini tidak selalu sensitif menyingkirkan infeksi karena 50% pasien meningitis menunjukkan kadar glukosa cairan serebrospinal normal. Kultur Untuk menyingkirkan atau mengkonfirmasi diagnosis infeksi, baik ensefalitis maupun meningitis, dapat dilakukan kultur cairan serebrospinal terhadap beberapa mikroorganisme. Mikroorganisme yang dimaksud antara lain pneumococcus, meningococcus, Haemophilus influenza (bakteri), Enterovirus (virus), Mycobacterium tuberculosis (tuberkulosis), dan Cryptococcus neoformans (fungal). Dalam kasus tertentu mungkin juga perlu diperiksa kemungkinan toksoplasmosis. Perbandingan hasil analisis cairan serebrospinal pada meningitis dari berbagai penyebab dapat dilihat pada gambar berikut.

7 B13DEMAM TINGGI

Selain pemeriksaan rutin di atas, kadang juga diperiksa uji aglutinasi lateks untuk Haemophilus influenza dan PCR (polymerase chain reaction). Aglutinasi lateks merupakan uji antigen-antibodi yang bermanfaat pada kasus meningitis Haemophilus yang sudah mendapat pengobatan sebagian; karena pemeriksaan kultur pada kasus ini mungkin memberi hasil negatif. Sedangkan PCR merupakan pemeriksaan paling sensitif untuk berbagai jenis penyebab infeksi sistem saraf pusat, namun biayanya masih cukup tinggi dan belum tersedia di seluruh laboratorium.

TIU III. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN KEJANG DEMAM 3.1 DEFINISI

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal >380). Kejang demam merupakan kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak berusia sekitar 3 bulan sampai 5 tahun tanpa disertai infeksi intracranial 3.2 ETIOLOGI

Etiologi kejang demam hingga kini belum diketahui. Demamnya sering disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), otitis media, gastroenteritis, pneumonia, bronkopneumonia, bronchitis, tosilitis, infeksi saluran kemih. Faktor Risiko Faktor risiko utama adalah demam. Faktor risiko lain diantaranya : Riwayat kejang demam pada keluarga
8 B13DEMAM TINGGI

Perkembangan terlambat Infeksi virus influenza A Anemia defisiensi besi Asfiksi neonatrium Vaksinasi Kadar natrium rendah 3.3 KLASIFIKASI

Ada 2 bentuk kejang demam (menurut Lwingstone), yaitu: 1. Kejang demam sederhana (Simple Febrile Seizure), dengan ciri-ciri gejala klinis sebagai berikut : Kejang berlangsung singkat, < 15 menit Kejang umum tonik dan atau klonik Umumnya berhenti sendiri Tanpa gerakan fokal atau berulang dalam 24 jam 2. Kejang demam komplikata (Complex Febrile Seizure), dengan cirri-ciri gejala klinis sebagai berikut : Kejang lama > 15 menit Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam. 3.4 EPIDEMIOLOGI

Kejang demam terjadi pada 2-4 % di Amerika Serikat, Amerika Selatan, dan Eropa Barat, sedangkan di Asia dilaporkan lebih tinggi. Kejang demam seringkali terjadi pada usia 6 bulan 3 tahun dengan insiden tertinggi pada usia 18 bulan. Sekitar 6-15% terjadi pada usia > 4 tahun. 3.5 PATOFISIOLOGI

Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam adalah lipoid dan permukaan luar adalah ionik. Dalam keadaan normal, membran sel neuron dapat dilalui oleh ion K, ion Na, dan elektrolit seperti Cl. Konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedangkan di luar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel maka terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron.
9 B13DEMAM TINGGI

Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang terdapat pada permukaan sel. Perbedaan potensial membran sel neuron disebabkan oleh : 1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler. 2. Rangsangan yang datangnya mendadak, misalnya mekanis, kimiawi, aliran listrik dari sekitarnya. 3. Perubahan patofisiologis dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan. Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1 derajat celcius akan menyebabkan metabolisme basal meningkat 10-15% dan kebutuhan oksigen meningkat 20%. Pada seorang anak yang berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh, sedangkan pada orang dewasa hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel lainnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter sehingga terjadi kejang. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang seorang anak. Ada anak yang ambang kejangnya rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38 derajat celcius, sedangkan pada anak dengan ambang kejang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40 derajat celcius.

10 B13DEMAM TINGGI

11 B13DEMAM TINGGI

3.6

MANIFESTASI KLINIS

Kebanyakan kejang demam berlangsung singkat, bilateral, serangan berupa klonik atau tonik-klonik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit anak terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf. Kejang demam dapat berlangsung lama dan atau parsial. Pada kejang yang unilateral kadang-kadang diikuti oleh hemiplegi sementara (Todds hemiplegia) yang berlangsung beberapa jam atau bebarapa hari. Kejang unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiplegi yang menetap.(Lumbantobing,SM.1989:43) Menurut Behman (2000: 843) kejang demam terkait dengan kenaikan suhu yang tinggi dan biasanya berkembang bila suhu tubuh mencapai 39o C atau lebih ditandai dengan adanya kejang khas menyeluruh tionik klonik lama beberapa detik sampai 10 menit. Kejang demam yang menetap > 15 menit menunjukkan penyebab organik seperti proses infeksi atau toksik selain itu juga dapat terjadi mata terbalik ke atas dengan disertai kekakuan dan kelemahan serta gerakan sentakan terulang. Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi diluar susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis, otitis media akuta, bronkitis, furunklosis dan lain-lain.
12 B13DEMAM TINGGI

3.7

DIAGNOSIS

Anamnesis : Demam (suhu > 380) Adanya infeksi di luar susunan saraf pusat (misalnya tonsillitis, tonsilofaringitis, otitis media akut, pneumonia, bronkhitis, infeksi saluran kemih). Gejala klinis berdasarkan etiologi yang menimbulkan kejang demam. Serangan kejang (frekuensi, kejang pertama kali atau berulang, jenis/bentuk kejang, antara kejang sadar atau tidak,berapa lama kejang, riwayat kejang sebelumnya (obat dan pemeriksaan yang didapat, umur), riwayat kejang dengan atau tanpa demam pada keluarga, riwayat trauma) Riwayat penyakit sebelumnya, riwayat penyakit keluarga, riwayat kehamilan ibu dan kelahiran, riwayat pertumbuhan dan perkembangan, riwayat gizi, riwayat imunisasi Adanya infeksi susunan saraf pusat dan riwayat trauma atau kelainan lain di otak yang juga memiliki gejala kejang untuk menyingkirkan diagnosis lain yang bukan penyebab kejang demam Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP, atau epilepsy yang kebetulan terjadi bersama demam.

Pemeriksaan fisik : Keadaan umum, kesadaran, tekanan darah ,nadi, nafas,suhu Pemeriksaan sistemik (kulit, kepala, kelenjer getah bening, rambut,mata , telinga, hidung, mulut, tenggorokan, leher, thorax : paru dan jantung, abdomen, alat kelamin, anus, ekstremitas : refilling kapiler, reflek fisiologis dan patologis, tanda rangsangan meningeal) Status gizi (TB, BB, Umur, lingkar kepala) Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium : pemeriksaan rutin tidak dianjurkan, kecuali untuk mengevaluasi sumber infeksi atau mencari penyebab (darah tepi, elektrolit, dan gula darah). Pemeriksaan Radiologi : X-ray kepala, CT scan kepala atau MRI tidak rutin dan hanya dikerjakan atas indikasi. Pemeriksaan cairan serebrospinal (CSS) : tindakan pungsi lumbal untuk pemeriksaan CSS dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. Pada bayi kecil, klinis meningitis tidak jelas, maka tindakan pungsi lumbal dikerjakan dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Bayi < 12 bulan : diharuskan. 2. Bayi antara 12 18 bulan : dianjurkan. 3. Bayi > 18 bulan : tidak rutin, kecuali bila ada tanda-tanda meningitis. Pemeriksaan Elektro Ensefalografi (EEG) : tidak direkomendasikan, kecuali pada kejang demam yang tidak khas (misalnya kejang demam komplikata pada anak usia > 6 tahun atau kejang demam fokal.

13 B13DEMAM TINGGI

3.8

TATALAKSNA

A.Mengatasi kejang secepat mungkin Sebagai orang tua jika mengetahui seorang kejang demam, tindakan yang perlu kitalakukan secepat mungkin adalah semua pakaian yang ketat dibuka. Kepala sebaiknya miringuntuk mencegah aspirasi isi lambung. Penting sekali mengusahakan jalan nafas yang bebasagar oksigenasi terjamin. Dan bisa juga diberikan sesuatu benda yang bisa digigit sepertikain, sendok balut kain yang berguna mencegah tergigitnya lidah atau tertutupnya jalannafas. Bila suhu penderita meninggi, dapat dilakukan kompres dengan es/alkohol atau dapatjuga diberi obat penurun panas/antipiretik. B.Pengobatan penunjang Pengobatan penunjang dapat dilakukan di rumah, tanda vital seperti suhu, tekanan darah,pernafasan dan denyut jantung diawasi secara ketat. Bila suhu penderita tinggi dilakukandengan kompres es atau alkohol. Bila penderita dalam keadaan kejang obat pilihan utamaadalah diazepam yang diberikan secara per rectal, disamping cara pemberian yang mudah,sederhana dan efektif telah dibuktikan keampuhannya (Lumbantobing, SM, 1995). Hal inidapat dilakukan oleh orang tua atau tenaga lain yang mengetahui dosisnya. Dosis tergantungdari berat badan, yaitu berat badan kurang dari 10 kg diberikan 5 mg dan berat badan lebihdari 10 kg rata-rata pemakaiannya 0,4-0,6 mg/KgBB. Kemasan terdiri atas 5 mg dan 10 mgdalam rectiol. Bila kejang tidak berhenti dengan dosis pertama, dapat diberikan lagi setelah15 menit dengan dosis yang sama.Untuk mencegah terjadinya udem otak diberikan kortikosteroid yaitu dengan dosis 20-30mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. Golongan glukokortikoid seperti deksametasondiberikan 0,5-1 ampul setiap 6 jam sampai keadaan membaik. C.Pengobatan rumat Setelah kejang diatasi harus disusul dengan pengobatan rumat dengan cara mengirim penderita ke rumah sakit untuk memperoleh perawatan lebih lanjut. Pengobatan ini dibagiatas dua bagian, yaitu: 1.Profilaksis intermitten Untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari, penderita kejang demamsederhana diberikan obat campuran anti konvulsan dan antipiretika yang harus diberikankepada anak yang bila menderita demam lagi. Antikonvulsan yang diberikan ialahfenobarbital dengan dosis 4-5 mg/kgBB/hari yang mempunyai efek samping palingsedikit dibandingkan dengan obat antikonvulsan lainnya.Obat yang kini ampuh dan banyak dipergunakan untuk mencegah terulangnyakejang demam ialah diazepam, baik diberikan secara rectal maupun oral pada waktuanak mulai terasa panas. Profilaksis intermitten ini sebaiknya diberikan sampai kemungkinan anak untuk menderita kejang demam sedehana sangat kecil yaitu sampai sekitar umur 4 tahun. 2.Profilaksis jangka panjang Profilaksis jangka panjang gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis teurapetik yang stabil dan cukup di dalam darah penderita untuk mencegah terulangnya kejang dikemudian hari. Obat yang dipakai untuk profilaksis jangka panjang ialah:
14 B13DEMAM TINGGI

a.Fenobarbital Dosis 4-5 mg/kgBB/hari. Efek samping dari pemakaian fenobarbital jangka panjang ialah perubahan sifat anak menjadi hiperaktif, perubahan siklustidur dan kadang-kadang gangguan kognitif atau fungsi luhur. b.Sodium valproat / asam valproat Dosisnya ialah 20-30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. Namun, obat iniharganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan fenobarbital dan gejala toksik berupa rasa mual, kerusakan hepar, pancreatitis. c.Fenitoin Diberikan pada anak yang sebelumnya sudah menunjukkan gangguan sifatberupa hiperaktif sebagai pengganti fenobarbital. Hasilnya tidak atau kurangmemuaskan. Pemberian antikonvulsan pada profilaksis jangka panjang inidilanjutkan sekurang-kurangnya 3 tahun seperti mengobati epilepsi.Menghentikan pemberian antikonvulsi kelak harus perlahan-lahan dengan jalanmengurangi dosis selama 3 atau 6 bulan. D.Mencari dan mengobati penyebab Penyebab dari kejang demam baik sederhana maupun kompleks biasanya infeksi traktusrespiratorius bagian atas dan otitis media akut. Pemberian antibiotik yang tepat dan kuatperlu untuk mengobati infeksi tersebut.Secara akademis pada anak dengan kejang demam yang datang untuk pertama kalisebaiknya dikerjakan pemeriksaan pungsi lumbal. Hal ini perlu untuk menyingkirkan faktor infeksi di dalam otak misalnya meningitis.Apabila menghadapi penderita dengan kejang lama, pemeriksaan yang intensif perludilakukan, yaitu pemeriksaan pungsi lumbal, darah lengkap, misalnya gula darah, kalium,magnesium, kalsium, natrium, nitrogen, dan faal hati. E.Mencegah Terjadinya kejang dengan cara anak jangan sampai panas Dalam hal ini tindakan yang perlu ialah mencari penyebab kejang demam tersebut.Misalnya pemberian antibiotik yang sesuai untuk infeksi. Untuk mencegah agar kejang tidak berulang kembali dapat menimbulkan panas pada anak sebaiknya diberi antikonvulsan ataumenjaga anak agar tidak sampai kelelahan, karena hal tersebut dapat terjadi aspirasi ludahatau lendir dari mulut.Kambuhnya kejang demam perlu dicegah karena serangan kejang merupakanpengalaman yang menakutkan dan mencemaskan bagi keluarga. Bila kejang berlangsunglama dapat mengakibatkan kerusakan otak yang menetap (cacat). Ada 3 upaya yang dapat dilakukan : 1.Profilaksis intermitten 2.Profilaksis terus menerus dengan obat antikonvulsan tiap hari 3.Mengatasi segera jika terjadi serangan kejang

F.Pengobatan Akut
15 B13DEMAM TINGGI

Dalam pengobatan akut ada 4 prinsip, yaitu : 1. Segera menghilangkan kejang 2. Turunkan panas 3. Pengobatan terhadap panas 4. Suportif Diazepam diberikan dalam dosis 0,2-0,5 mg/kgBB secara IV perlahan-lahan selama 5 menit. Bersamaan dengan mengatasi kejang dilakukan: 1.Bebaskan jalan nafas, pakaian penderita dilonggarkan kalau perlu dilepaskan 2.Tidurkan penderita pada posisi terlentang, hindari dari trauma. Cegah trauma padabibir dan lidah dengan pemberian spatel lidah atau sapu tangan diantara gigi 3.Pemberian oksigen untuk mencegah kerusakan otak karena hipoksia 4.Segera turunkan suhu badan dengan pemberian antipiretika (asetaminofen/parasetamol)atau dapat diberikan kompres es 5.Cari penyebab kenaikan suhu badan dan berikan antibiotic yang sesuai 6.Apabila kejang berlangsung lebih dari 30 menit dapat diberikan kortikosteroid untuk mencegah oedem otak dengan menggunakan cortisone 20-30 mg/kgBB ataudexametason 0,5-0,6 mg/kgBB. 3.9 KOMPLIKASI

Menurut Lumbantobing ( 1995: 31) Dan Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI (1985: 849850). Komplikasi kejang demam umumnya berlangsung lebih dari 15 menit yaitu : 1. Kerusakan Otak Terjadi melalui mekanisme eksitotoksik neuron saraf yang aktif sewaktu kejang melepaskan glutamat yang mengikat resptor MMDA ( M Metyl D Asparate ) yang mengakibatkan ion kalsium dapat masuk ke sel otak yang merusak sel neuoran secara irreversible. 2. Retardasi mental Dapat terjadi karena deficit neurolgis pada demam neonatus.

3.10

PROGNOSIS

Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal yang sebelumnya juga nomal. Jika tidak diterapi dengan baik maka akan: Kejang demam berulang Epilepsi Kelaianan motorik
16 B13DEMAM TINGGI

Gangguan mental dan belajar

3.11

PENCEGAHAN

Setelah kejang diatasi harus disusul dengan pengobatan rumat dengan cara mengirim penderita ke rumah sakit untuk memperoleh perawatan lebih lanjut. Pengobatan ini dibagi atas dua bagian, yaitu: 1. Profilaksis intermitten Untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari, penderita kejang demam sederhana diberikan obat campuran anti konvulsan dan antipiretika yang harus diberikan kepada anak yang bila menderita demam lagi. Antikonvulsan yang diberikan ialah fenobarbital dengan dosis 4-5 mg/kgBB/hari yang mempunyai efek samping paling sedikit dibandingkan dengan obat antikonvulsan lainnya. Obat yang kini ampuh dan banyak dipergunakan untuk mencegah terulangnya kejang demam ialah diazepam, baik diberikan secara rectal maupun oral pada waktu anak mulai terasa panas. Profilaksis intermitten ini sebaiknya diberikan sampai kemungkinan anak untuk menderita kejang demam sedehana sangat kecil yaitu sampai sekitar umur 4 tahun. 2. Profilaksis jangka panjang Profilaksis jangka panjang gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis teurapetik yang stabil dan cukup di dalam darah penderita untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari. Obat yang dipakai untuk profilaksis jangka panjang ialah: a. Fenobarbital Dosis 4-5 mg/kgBB/hari. Efek samping dari pemakaian fenobarbital jangka panjang ialah perubahan sifat anak menjadi hiperaktif, perubahan siklus tidur dan kadang-kadang gangguan kognitif atau fungsi luhur. b. Sodium valproat / asam valproat Dosisnya ialah 20-30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. Namun, obat ini harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan fenobarbital dan gejala toksik berupa rasa mual, kerusakan hepar, pancreatitis. c. Fenitoin Diberikan pada anak yang sebelumnya sudah menunjukkan gangguan sifat berupa hiperaktif sebagai pengganti fenobarbital. Hasilnya tidak atau kurang
17 B13DEMAM TINGGI

memuaskan. Pemberian antikonvulsan pada profilaksis jangka panjang ini dilanjutkan sekurang-kurangnya 3 tahun seperti mengobati epilepsi. Menghentikan pemberian antikonvulsi kelak harus perlahan-lahan dengan jalan mengurangi dosis selama 3 atau 6 bulan.

TIU IV. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PUNGSI LUMBAL DEFINISI Pungsi lumbal adalah suatu cara pengambilan cairan serebrospinal melalui pungsi pada daerah lumbal atau upaya pengeluaran cairan serebrospinal dengan cara memasukkan jarum ke dalam ruang subarachnoid. 4.2 TUJUAN Mengambil cairan serebrospinal untuk kepentingan pemeriksaan diagnostik maupun terapi Pemeriksaan cairan serebrospinal Mengukur tekanan cairan serebrospinal Mendeteksi adanya blok subarachnoid spinal Memberikan antibiotik intrathekal ke dalam kanalis spinal terutama kasus infeksi 4.1

4.3

INDIKASI

Kejang Paresis atau paralisis termasuk paresis Nervus VI Pasien koma Ubun-ubun besar menonjol Kaku kuduk dengan kesadaran menurun Tuberkulosis milier Untuk diagnostik Kecurigaan meningitis Kecurigaan perdarahan subarachnoid Pemberian media kontras pada pemeriksaan myelografi Evaluasi hasil pengobatan Untuk terapi Pemberian obat anti neoplastik atau anti mikroba intra tekal Pemberian anestesi spinal Mengurangi atau menurunkan tekanan cairan serebrospinal
18 B13DEMAM TINGGI

4.4

KONTRA INDIKASI

Syok atau renjatan Infeksi lokal disekitar daerah tempat pungsi lumbal Peningkatan tekanan intrakranial (oleh tumor, space occupying lesion, hidrosefalus) Gangguan pembekuan darah yang belum diobati

4.5

PERSIAPAN

a. Persiapan pasien Memberikan penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang lumbal pungsi meliputi tujuan, prosedur, posisi, lama tindakan, sensasi-sensasi yang akan dialami dan hal-hal yang mungkin terjadi berikut upaya yang diperlukan untuk mengurangi hal-hal tersebut. Meminta izin dari pasien atau keluarga dengan menandatangani formulir kesediaan dilakukan tindakan pungsi lumbal. Meyakinkan klien tentang tindakan yang akan dilakukan. b. Persiapan alat Bak steril berisi jarum lumbal, spuit dan jarum, sarung tangan, kassa dan lidi kapas, botol kecil (bila akan dilakukan pemeriksaan bakteriologis), dan duk bolong. Tabung reaksi Pengalas Desinfektan (iodin dan alkohol) Plester dan gunting Manometer Lidokain atau xilocain Masker, baju OK, tutup kepala Anestesi lokal Spuit dan jarum untuk memberikan obat anestesi lokal (lidokain 1% 2 x ml), tanpa epinefrin.

TIU V. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN MENINGITIS BAKTERIAL 5.1 DEFINISI

19 B13DEMAM TINGGI

Meningitis adalah infeksi pada meningen, yaitu selaput tipis yang membungkus otak dan jaringan saraf tulang belakang. Bermacam macam bakteri, virus, dan juga protozoa bisa meyebabkan terjadinya meningitis ini. Meningitis merupakan inflamasi pada selaput otak yang mengenai lapisan piamater dan ruang subarachnoid maupun arachnoid, dan termasuk cairan serebrospinal (CCS) (Hickey, 1997). Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meningen, yaitu membran atau selaput yang melapisi otak dan medulla spinalis, dapat disebabkan berbagai organisme seperti virus, bakteri ataupun jamur yang menyebar masuk kedalam darah dan berpindah kedalam cairan otak (Black & Hawk, 2005). Meningitis karena infeksi bakteri biasanya berlangsung secara akut dengan gejala-gejala seperti sakit kepala, otot leher yang kaku ( lebih dari 90% menunjukan gejala ini), rasa mual, muntah dan photophobia (sekitar 75%). Dari Gejala awal ini bisa di ikuti oleh rasa pusing yang berat sampai terjadinya koma. Meningitis akut bisa berlanjut tanpa disadari ke meningitis kronis dan juga radang otak (ensefalitis). Secara klinis definisi kronis dalam hal ini berarti berlangsung lebih dari 4 minggu. Meningitis kronis bisa berlangsung selama beberapa minggu sampai bulanan yang selalu di ikuti dengan peradangan otak.Terjadinya peradangan otak ( Ensefalitis) bisa di liat dari gejala pasien yang tidak berorientasi, Stupor, kejang-kejang, dan koma. Metode untuk mengetahui kekakuan otot leher adalah bisa di uji dengan tanda kernig (kernigs sign) atau tanda brudzinski ( brudzinskis sign). Metode yang paling gampang buat anak-anak dengan cara meyuruh mencoba mencium lututnya sendiri dalam keadaan duduk. Menguji tanda Kernig : Pasien berbaring menghadap keatas. Salah satu paha di lekuk kearah perut/abdomen.Tanda kernig positif bila lutut di coba di luruskan dan pasien merasa kesakitan.( gambar kiri) Menguji tanda Brudzinski : Jika pasien dalam keadaan berbaring di bungkukkan lehernya ke arah dada, pasien akan ssecara spontan melekukkan lututnya juga ke atas.(gambar kanan)

5.2

ETIOLOGI

Bakteri penyebab meningitis bakterial ini dibagi berdasarkan umur: Neonatus : E. coli, Salmonella -hemoliticus, Listeria monositogenes < 50 tahun : Haemophilus influenza, Meningococcus, Pneumococcus 5 20 tahun : Haemophilus influenza, Neisseria meningitidis, Streptococcus, Pneumococcus
20 B13DEMAM TINGGI

> 20 tahun : Meningococcus, Pneumococcus, Staphilococcus, Streptococcus, Lysteria

Bakteri :

Neisseria meningitidis (Anak dan remaja), Streptococcus pneumoniae ( Orang dewasa ), Haemophilus influenzae (Anak di bawah 4 tahun, karena ada vaksin Hib meningitis tipe ini menjadi jarang), Streptococcus agalactiae (Bayi yang baru lahir), Listeria monocytogenes (Pada bayi ato dewasa dgn Umur > 50), Mycobacterium tuberculosis (Tuberkulosa), Borrelia burgdorferi (Neuroborreliosis).

Virus :

Enterovirus, terutama Virus Echo dan Coxsacki Virus penyebab benguk ( mumps virus) Virus Herpes HIV

5.3 5.4

EPIDEMIOLOGI PATOFISIOLOGI

5.5

MANIFESTASI KLINIS

Tanda khasnya dikenal dengan trias : demam, kaku kuduk dan penurunan kesadaran Neonatus: sulit makan, lethargi, irritable, apnea, apatis, febris, hipotermia, konvulsi, ikterik, ubun-ubun menonjol, pucat, shock, hipotoni, shrill cry, asidosis metabolik, tampak lemah, malas, tidak mau minum, muntah-muntah, leher lemas, respirasi tidak teratur. Bayi dan anak-anak : kaku kuduk, opisthotonus, ubun-ubun menonjol (bulging fontanelle), konvulsi, fotofobia, cephalgia, penurunan kesadaran, irritable, lethargi, anoreksia, nausea, vomitus, koma, febris umumnya selalu muncul tetapi pada anak dengan sakit yang berat dapat hipotermia.

5.6

DIAGNOSIS

Dalam mendiagnosa Meningitis hasil lumbal puncture (LP, pungsi lumbal) sangat menentukan. Hal ini bukan saja bisa ditentukan apakah infeksi terjadi karena bakteri atau virus tetapi juga prognosis infeksi bisa terlihat.

21 B13DEMAM TINGGI

Hasil LP Secara makroskopis hasil LP sedikit memberikan gambaran akan infeksi..Liquor yang keruh menunjukkan infeksi bakteri,sedangkan jernih karena virus. Liquor

Bakteri Leukosit(sel darah putih) Protein Glukosa Laktat 1000 5000 sel/ul 100 500 mg/dl < 40 mg/dl >35 mg/dl

Virus 25 500 sel/ul 20 80 mg/dl > 40 mg/dl 10 20 mg/dl

Jika jumlah leukosit tetap rendah ( < 20/ul ) dibanndingkan dengan jumlah bakteri, maka prognosis infeksi tergolong buruk. Dalam banyak kasus, yaitu sekitar 60 sampai 90% hasil pemeriksaan mikroskop hasil LP sudah bisa menjelaskan/mendiagnosis penyebab meningitis. Oleh karena itu, pemeriksaan ini sangat penting di lakukan. Selain pemeriksaan mikroskopis, hasil liquor di gunakan untuk membuat kultur bakteri. Dengan demikian bisa terdeteksi dengan jelas tipe bakteri dan pembuatan antibiogram.

5.7

TATALAKSNA

Terapi bertujuan memberantas penyebab infeksi disertai perawatan intensif suportif untuk membantu pasien melalui masa kritis. Sementra menunggu hasil pemeriksaan terhadap kausa diberikan obat sebagai berikut:

Kombinasi ampisilin 12-18 gram, kloramfenikol 4 gram, intravena dalam dosis dibagi 4 kali perhari. Dapat ditambahkan campuran trimetoprim 80 mg, sulfametoksazol 400 mg intravena atau seftriaxon 46 gram intravena.

Bila diketahui penyebabnya:

Meningitis yang disebabkan pneumococcus, meningococcus. Ampisilin 12-18 mg intravena dalam dosis terbagi perhari, selama minimal 10 hari atau hingga sembuh.

Meningitis yang disebabkan Haemophylus Influenza. Kombinasi ampisilin dan kloramfenikol seperti diatas,kloramfenikol disuntikkan intravena 30 menit setelah ampisilin. Lama pengobatan minimal 10 hari. Bila pasien alergi pada penisilin, berikan kloramfenikol saja.

22 B13DEMAM TINGGI

Meningitis yang disebabkan oleh enterobacteriaceae. Sefotaksim 12 gram intravena tiap 8 jam. Bila resisten terhadap sefotaksim,berikan: campuran trimetoprim 80 mg dan sulfametoksazol 400 mg per infuse 2 kali 1 ampul per hari selama minimal 10 hari.

Meningitis yang disebabkan Staphylococcus aureus yang resisten terhadap penisilin. Berikan sefotaksim atau seftriakson 6 12 gram intravena, bila pasien alergi terhadap penisilin: Vankomisin 2 gram intravena per hari dalam dosis terbagi.

Bila etiologi tidak diketahui. a. Pada orang dewasa berikan ampisilin 12 18gram intravena dalam dosis terbagi dikombinasi dengan kloramfenikol 4 gram per hari intravena. b. Pada anak ampisilin 400 mg/kgBB ditambah kloramfenikol 100 mg/kgBB/hari/intravena. c. Pada neonatus ampisilin 100 200mg/kkBB disertai dengan gentamisin 5 mg/kgBB perhari.

Terapi umum lainnya meliputi: Tirah baring, analgesik, antipiretik, antikonvulsan untuk kejang, dan terapi supportif untuk koma, syok, peningkatan tekanan intrakranial, gangguan elektrolit, dan gangguan perdarahan. Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa terapi awal kortikosteroid intravena dosis tinggi dengan antibiotik akan memperbaiki mobilitas dan mortalitas pada meningitis bakterial.

5.8 5.9

KOMPLIKASI PROGNOSIS

Meningitis yang disebabkan oleh neisseria lebih mudah diterapi dan bisa sembuh total tanpa meninggalkan gangguan tambahan, sementara oleh pneumokokkus atau streptokokkus grup b pada bayi lebih sulit dan ganguan yang fatal seperti kelumpujan

5.10

PENCEGAHAN

TIU VI. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN MUKALLAF


23 B13DEMAM TINGGI

Mukallaf adalah ism al-mafl (obyek) dari kallafayukallifutaklfan. Kallafa sendiri adalah bentuk transitif dari kalifa. Jika dikatakan kallafahu taklfan artinya amarahu bim fhi masyaqqah (memerintahkan kepadanya sesuatu yang mengandung masyaqqah[kesulitan]). Artinya, taklf adalah perintah yang mengandung kesulitan (masyaqqah).Dengan demikian, mukallaf secara bahasa adalah orang yang mendapat perintah yang mengandung kesulitan (masyaqqah). Abu Hilal al-Askari mengatakan, bahwa asal dari taklf dalam bahasa Arab adalah alluzm (beban/paksaan). Menurutnya, secara bahasa taklf adalah ilzm m yasyuqqu irdah alinsniyah (mengharuskan atau membebankan sesuatu yang memberatkan kehendak alami manusia). Jadi secara bahasa taklf adalah al-amru bi asy-syai wa ilzm bihi (memerintahkan sesuatu dan mengharuskannya). Mukallaf adalah orang yang mendapat taklf. Karenanya, secara bahasa mukallaf adalahalmulzam bim fhi masyaqqah (orang yang dibebani sesuatu yang mengandungmasyaqqah [kesulitan]). Istilah taklf dan mukallaf kemudian tampak menonjol dalam kajian ushul fikih dan fikih.Para ulama ushul membahas siapa yang menjadi obyek hukum (al-mahkm alayh) atau siapa yang mendapat beban hukum. Al-Mahkm alayh inilah yang mereka istilahkan sebagai mukallaf. Dari sini kemudian lahirlah makna istilah dari mukallaf. Pemaknaanmukallaf ini dilakukan dengan menggalinya dari nash yang berkaitan dengan siapa yang dibebani hukum syariah. Karenanya, definisi mukallaf tersebut menjadi definisi syari. Muhammad bin Abi al-Fatah al-Bali di dalam Al-Muthalli al Abw alFiqh mengartikanmukallaf sebagai pihak yang diseru dengan perintah dan larangan. Prof. Rawas Qalah Ji, di dalam Mujam Lughah al-Fuqah, mendefinisikan mukallaf sebagai pihak yang diseru dengan hukum-hukum syariah dan diharuskan (dibebani) untuk mengimplementasikannya.

Ketentuan Tentang Mukallaf Di dalam pembahasan mukallaf ada dua hal penting: siapakah mukallaf itu dan bagaimana pelaksanaan hukumnya. Dari sisi pertama, mukallaf adalah seluruh manusia, baik Mukmin atau kafir, baik tua maupun anak-anak. Seluruh manusia dibebani atau diseru oleh Allah dengan seluruh hukum baik menyangkut urusan ushul seperti akidah maupun fur seperti ibadah, muamalah dll. Pandangan ini disepakati oleh Malik, asy-Syafii dan Ahmad. Kesimpulan ini diambil di antaranya dari ayat berikut:
24 B13DEMAM TINGGI

Katakanlah Muhammad, Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua. (QS al-Arf [7]: 158). Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan (QS Saba [34]: 28). Kedua ayat tersebut menyatakan, bahwa Muhammad tidak lain diutus untuk seluruh manusia. Artinya, risalah yang dibawa Muhammad itu diserukan kepada seluruh manusia, baik Muslim maupun non-Muslim. Tidak bisa dikatakan bahwa bagi non-Muslim seruan tersebut hanya menyangkut keimanan, yaitu seruan untuk mengimani risalah, dan tidak berkaitan dengan fur (hukum-hukum syariah). Sebab, keimanan pada risalah itu adalah keimanan pada risalah secara keseluruhan, baik pangkal maupun cabangnya.Mengkhususkannya pada pangkal saja harus didukung dengan nash yang mengkhususkan-nya. Padahal tidak ada nash yang mengkhusus-kannya. Apalagi banyak nash yang justru menjelaskan bahwa orang kafir juga diseru dan dibebani dengan hukum-hukum cabang. Contoh: Kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang musyrik, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat (QS Fushshilat [41]: 6-7). Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab, Kami dulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan tidak pula memberi makan orang miskin. (QS al-Mudatstsir [74]: 42-44) Orang-orang kafir, baik musyrik maupun ahlul kitab dinyatakan celaka karena tidak menunaikan zakat dan dimasukkan ke dalam neraka karena tidak mengerjakan shalat dan tidak memberi makan orang miskin. Itu artinya orang-orang kafir juga diseru dengan hukum-hukum cabang. Jadi mukallaf adalah seluruh manusia tanpa kecuali. Ini dari sisi siapa mukallaf itu. Dari sisi implementasi hukum, terdapat beberapa ketentuan. Pertama: pelaksanaan yang bersifat aktif. Dalam hal ini harus dilihat. Jika pelaksanaan hukum itu ditetapkan Islam sebagai syaratnya seperti shalat, puasa, haji, ibadah-ibadah lainnya, kesaksian di luar masalah harta (finansial), menjadi penguasa atau hakim bagi kaum muslim, maka dalam hal ini orang kafir tidak boleh melaksanakan hukum tersebut. Jika orang kafir melakukannya maka tidak akan diterima. Hal itu karena Allah telah menetapkan Islam sebagai syaratnya. Jika dalam pelaksanaannya tidak ditetapkan syarat Islam, seperti berperang bersama kaum Muslim, menjadi saksi dalam urusan harta, masalah sains dan teknologi, dsb, maka orang kafir boleh malaksanakannya.
25 B13DEMAM TINGGI

Kedua: pelaksanaan karena paksaan, yaitu mereka dipaksa untuk mengimplementasikan hukumhukum syariah. Dalam hal ini dibedakan antara hukum-hukum yang diserukan secara umum tanpa syarat iman dengan hukum-hukum yang diserai syarat iman kepada Islam. Jika hukum itu spesifik dengan mempersyaratkan iman kepada Islam, maka orang kafir tidak boleh dipaksa melaksanakannya. Jika mereka meninggalkannya, mereka tidak dikenai sanksi. Contoh: orang kafir tidak boleh dipaksa mengimani Islam dan tidak dikenai sanksi karena kekafiran mereka. Mereka tidak boleh dipaksa menunaikan shalatnya kaum Muslim. Mereka juga tidak dikenai sanksi atas pelaksanaan ibadah mereka yang berbeda dengan ibadahnya kaum Muslim. Mereka tidak boleh dipaksa ikut berjihad bersama kaum Muslim. Mereka juga tidak dipaksa meninggalkan daging babi dan khamr dan tidak dikenai sanksi karena memakan atau meminumnya. Jika iman tidak menjadi syarat sah pelaksanaanya dan tidak ada nash yang menunjukkan hukum itu tidak diterapkan terhadap mereka, maka mereka dituntut untuk mengimplementasikannya; hukum-hukum itu diterapkan atas mereka; mereka dipaksa tunduk pada hukum-hukum tersebut dan mereka akan dikenai sanksi jika melanggarnya.Contoh: hukum-hukum muamalah dan uqbt. Jadi, orang-orang kafir dituntut menerapkan seluruh hukum syariah, kecuali yang dikecualikan oleh dalil syariah. Dalilnya adalah karena Rasul juga menerapkan hukum-hukum tersebut terhadap orang-orang kafir. Dalam hal ini, Jabir bin Abdullah, misalnya, menuturkan: Nabi saw. pernah merajam seorang dari Bani Aslam dan seorang laki-laki dari Yahudi dan istrinya (HR Muslim). Ketiga: taklif atas mukallaf dari sisi pelaksanaan perbuatan itu secara langsung digugurkan dari anak yang belum balig, orang yang gila dan orang yang tidur lelap hingga ia bangun. Ini di dasarkan pada sabda Rasul saw.: : Pena (taklif hukum) diangkat dari tiga golongan: dari anak kecil hingga ia balig; dari orang tidur hingga ia bangun; dan dari orang gila hingga ia waras (HR Abu Dawud, an-Nasai, Ibn Majah, at-Tirmidzi dan al-Hakim). Makna rufia al-qalamu adalah diangkat taklif atau gugur taklif. Keempat: sanksi akan digugurkan dari mukallaf disebabkan alasan-alasan berikut: 1. Kehendaknya hilang karena dipaksa dengan paksaan yang mematikan atau yang setara hukumnya. 2. Jika lupa dan benar-benar tidak ingat akan kewajibannya.
26 B13DEMAM TINGGI

3. Jika perbuatan itu dilakukan dalam cakupan wilayah kekeliruan (khatha)tidak disengaja bukan karena kehendak (pilihannya). Hal itu didasarkan pada sabda Rasul saw.: Diangkat (sanksi) dari umatku karena kekeliruan, lupa dan dipaksa. (ath-Thabarani, adDaruquthni dan al-Hakim). Walhasil, mukallaf adalah seluruh manusia, baik Muslim maupun non-Muslim. WaLlh alam bi ash-shawb. [Yahya Abdurrahman]

27 B13DEMAM TINGGI

DAFTAR PUSTAKA

American Family Physician, 2003


Uddin J. 2009. Anatomi Susunan Saraf Manusia, cetakan ke 3, Universitas Yarsi

http://www.scribd.com/doc/51398344/Penatalaksanaan-kejang-demam-lengkap
http://hizbut-tahrir.or.id/2009/05/14/mukallaf/

Behrman,et al.Kejang-Kejang pada Masa Anak,dalam:Nelson Ilmu Kesehatan Anak,edisi 15 ,Jakarta:EGC,2000.

28 B13DEMAM TINGGI