BPJS

Sejarah Perjalanan UU BPJS
SEJARAH PERJALANAN JAMINAN SOSIAL DI INDONESIA

Tidak Ada Orang Kaya Dalam Dunia Kesehatan

Perjalanan Panjang UU SJSN

Adanya pengeluaran yang tidak terduga apabila seseorang terkena penyakit, apalagi tergolong penyakit berat yang menuntut stabilisasi yang rutin seperti hemodialisa atau biaya operasi yang sangat tinggi. Hal ini berpengaruh pada penggunaan pendapatan seseorang dari pemenuhan kebutuhan hidup pada umumnya menjadi biaya perawatan dirumah sakit, obat-obatan, operasi, dan lain lain. Hal ini tentu menyebabkan kesukaran ekonomi bagi diri sendiri maupun keluarga. Sehingga munculah istilah “SADIKIN”, sakit sedikit jadi miskin. Dapat disimpulkan, bahwa kesehatan tidak bisa digantikan dengan uang, dan tidak ada orang kaya dalam menghadapi penyakit karena dalam sekejap kekayaan yang dimiliki seseorang dapat hilang untuk mengobati penyakit yang dideritanya. Begitu pula dengan resiko kecelakaan dan kematian. Suatu peristiwa yang tidak kita harapkan namun mungkin saja terjadi kapan saja dimana kecelakaan dapat menyebabkan merosotnya kesehatan, kecacatan, ataupun kematian karenanya kita kehilangan pendapatan, baik sementara maupun permanen. Belum lagi menyiapkan diri pada saat jumlah penduduk lanjut usia dimasa datang semakin bertambah. Pada tahun Pada 2030, diperkirakan jumlah penduduk Indonesia adalah 270 juta orang. 70 juta diantaranya diduga berumur lebih dari 60 tahun. Dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2030 terdapat 25% penduduk Indonesia adalah lansia. Lansia ini sendiri rentan mengalami berbagai penyakit degenerative yang akhirnya dapat menurunkan produktivitas dan berbagai dampak lainnya. Apabila tidak aday ang menjamin hal ini maka suatu saat hal ini mungkin dapat menjadi masalah yang besar Seperti menemukan air di gurun, ketika Presiden Megawati mensahkan UU No. 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) pada 19 Oktober 2004, banyak pihak berharap tudingan Indonesia sebagai ”negara tanpa jaminan sosial” akan segera luntur dan menjawab permasalahan di atas. Munculnya UU SJSN ini juga dipicu oleh UUD Tahun 1945 dan perubahannya Tahun 2002 dalam Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, Pasal 28H ayat (1), ayat (2) dan ayat (3), serta Pasal 34 ayat (1)

dan ayat (2) mengamanatkan untuk mengembangkan Sistem Jaminan Sosial Nasional. Hingga disahkan dan diundangkan UU SJSN telah melalui proses yang panjang, dari tahun 2000 hingga tanggal 19 Oktober 2004. Diawali dengan Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2000, dimana Presiden Abdurrahman Wahid menyatakan tentang Pengembangan Konsep SJSN. Pernyataan Presiden tersebut direalisasikan melalui upaya penyusunan konsep tentang Undang-Undang Jaminan Sosial (UU JS) oleh Kantor Menko Kesra (Kep. Menko Kesra dan Taskin No. 25KEP/MENKO/KESRA/VIII/2000, tanggal 3 Agustus 2000, tentang Pembentukan Tim Penyempurnaan Sistem Jaminan Sosial Nasional). Sejalan dengan pernyataan Presiden, DPA RI melalui Pertimbangan DPA RI No. 30/DPA/2000, tanggal 11 Oktober 2000, menyatakan perlu segera dibentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat sejahtera. Dalam Laporan Pelaksanaan Putusan MPR RI oleh Lembaga Tinggi Negara pada Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2001 (Ketetapan MPR RI No. X/ MPR-RI Tahun 2001 butir 5.E.2) dihasilkan Putusan Pembahasan MPR RI yang menugaskan Presiden RI “Membentuk Sistem Jaminan Sosial Nasional dalam rangka memberikan perlindungan sosial yang lebih menyeluruh danterpadu”. Pada tahun 2001, Wakil Presiden RI Megawati Soekarnoputri mengarahkan Sekretaris Wakil Presiden RI membentuk Kelompok Kerja Sistem Jaminan Sosial Nasional (Pokja SJSN Kepseswapres, No. 7 Tahun 2001, 21 Maret 2001 jo. Kepseswapres, No. 8 Tahun 2001, 11 Juli 2001) yang diketuai Prof. Dr. Yaumil C. Agoes Achir dan pada Desember 2001 telah menghasilkan naskah awal dari Naskah Akademik SJSN (NA SJSN). Kemudian pada perkembangannya Presiden RI yang pada saat itu Megawati Soekarnoputri meningkatkan status Pokja SJSN menjadi Tim Sistem Jaminan Sosial Nasional (Tim SJSN - Keppres No. 20 Tahun 2002, 10 April 2002). “NA SJSN merupakan langkah awal dirintisnya penyusunan Rancangan Undang-undang (RUU) SJSN. Setelah mengalami perubahan dan penyempurnaan hingga 8 (delapan) kali, dihasilkan sebuah naskah terakhir NA SJSN pada tanggal 26 Januari 2004. NA SJSN selanjutnya dituangkan dalam RUU SJSN,” ujar Sulastomo, salah satu TIM Penyusun UU SJSN pada saat itu. Konsep pertama RUU SJSN, 9 Februari 2003, hingga Konsep terakhir RUU SJSN, 14 Januari 2004, yang diserahkan oleh Tim SJSN kepada Pemerintah, telah mengalami 52 (lima puluh dua) kali perubahan dan penyempurnaan. Kemudian setelah dilakukan reformulasi beberapa pasal pada Konsep terakhir RUU SJSN tersebut, Pemerintah menyerahkan RUU SJSN kepada DPR RI pada tanggal 26 Januari 2004. Selama pembahasan Tim Pemerintah dengan Pansus RUU SJSN DPR RI hingga diterbitkannya UU SJSN, RUU SJSN telah mengalami 3 (tiga) kali perubahan. Maka dalam perjalanannya, Konsep RUU SJSN hingga diterbitkan menjadi UU SJSN telah mengalami perubahan dan penyempurnaan sebanyak 56 (lima puluh enam) kali. UU SJSN tersebut secara resmi diterbitkan menjadi UU No. 40 Tahun 2004 tentang SJSN pada tanggal 19 Oktober Tahun 2004.

Dengan demikian proses penyusunan UU SJSN memakan waktu 3 (tiga) tahun 7 (tujuh) bulan dan 17 (tujuh belas) hari sejak Kepseswapres No. 7 Tahun 2001, 21 Maret 2001 . Lanjutan Implementasi UU SJSN hingga ke UU BPJS Setelah resmi menjadi undang-undang, 4 bulan berselang UU SJSN kembali terusik. Pada bulan Januari 2005, kebijakan ASKESKIN mengantar beberapa daerah ke MK untuk menguji UU SJSN terhadap UUD Negara RI Tahun 1945. Penetapan 4 BUMN sebagai BPJS dipahami sebagai monopoli dan menutup kesempatan daerah untuk menyelenggarakan jaminan sosial. 4 bulan kemudian, pada 31 Agustus 2005, MK menganulir 4 ayat dalam Pasal 5 yang mengatur penetapan 4 BUMN tersebut dan memberi peluang bagi daerah untuk membentuk BPJS Daerah (BPJSD). Putusan MK semakin memperumit penyelenggaraan jaminan sosial di masa transisi. Pembangunan kelembagaan SJSN yang semula diatur dalam satu paket peraturan dalam UU SJSN, kini harus diatur dengan UU BPJS. Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) pun akhirnya baru terbentuk. Pemerintah secara resmi membentuk DJSN lewat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 110 tahun 2008 tentang pengangkatan anggota DJSN tertanggal 24 September 2008. Pembahasan RUU BPJS berjalan alot. Tim Kerja Menko Kesra dan Tim Kerja Meneg BUMN, yang notabene keduanya adalah Pembantu Presiden, tidak mencapai titik temu. RUU BPJS tidak selesai dirumuskan hingga tenggat peralihan UU SJSN pada 19 Oktober 2009 terlewati. Seluruh perhatian tercurah pada RUU BPJS sehingga perintah dari 21 pasal yang mendelegasikan peraturan pelaksanaan terabaikan. Hasilnya, penyelenggaraan jaminan sosial Indonesia gagal menaati semua ketentuan UU SJSN yaitu 5 tahun. Tahun berganti. DPR mengambil alih perancangan RUU BPJS pada tahun 2010. Perdebatan konsep BPJS kembali mencuat ke permukaan sejak DPR mengajukan RUU BPJS inisiatif DPR kepada Pemerintah pada bulan Juli 2010. Bahkan area perdebatan bertambah, selain bentuk badan hukum, Pemerintah dan DPR tengah berseteru menentukan siapa BPJS dan berapa jumlah BPJS. Dikotomi BPJS multi dan BPJS tunggal tengah diperdebatkan dengan sengit.

Pro dan kontra keberadaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) akhirnya berakhir pada 29 Oktober 2011, ketika DPR RI sepakat dan kemudian mengesahkannya menjadi UndangUndang. Setelah melalui proses panjang yang melelahkan mulai dari puluhan kali rapat di mana setidaknya dilakukan tak kurang dari 50 kali pertemuan di tingkat Pansus, Panja, hingga proses formal lainnya. Sementara di kalangan operator hal serupa dilakukan di lingkup empat BUMN penyelenggara program jaminan sosial meliputi PT Jamsostek, PT Taspen, Asabri, dan PT Askes. Meski bukan sesuatu yang mudah, namun keberadaan BPJS mutlak ada sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), yang

mekanisme kerja dan kultur kelembagaan yang lama. Pasca Sah UU BPJS Perubahan dari 4 PT (Persero) yang selama ini menyelenggarakan program jaminan sosial menjadi 2 BPJS sudah menjadi perintah Undang-Undang. BUMN yang dipercaya mengemban tugas menyiapkan perubahan tersebut. Mengubah struktur.bahkan semestinya telah dapat dioperasionalkan sejak 9 Oktober 2009 dua tahun lampau. jalan terjal nan berliku menanti di depan. karena itu harus dilaksanakan. Sebuah kajian menyebutkan bahwa saat ini. Kemudian Pasal 62 ayat (1) UU BPJS menentukan PT Jamsostek (Persero) berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan pada tanggal 1 Januari 2014 BPJS Ketenagakerjaan dan menurut Pasal 64 UU BPJS mulai beroperasi paling lambat tanggal 1 Juli 2015. Perubahan yang dipersiapkan dengan cermat. Sebagai professional tentu mereka paham bagaimana caranya mengatasi berbagai persoalan yang timbul dalam proses perubahan tersebut. efisien dan lancar sesuai dengan rencana. Tahun 2012 merupakan tahun untuk mempersiapkan perubahan yang ditentukan dalam UU BPJS. Perjalanan tak selesai sampai disahkannya BPJS menjadi UU formal. dan bagaimana harus bertindak pada waktu yang tepat untuk membuat perubahan berjalan tertib efektif. Perubahan yang multi dimensi tersebut harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya agar berjalan sesuai dengan ketentuan UU BPJS. Pada saat mulai berlakunya UU BPJS. hanya terdapat sekitar 50 juta orang di Indonesia ini dilayani oleh Jaminan Sosial yang diselenggarakan oleh 4 BUMN penyelenggara jaminan sosial. . akan membuat perubahan BPJS memberi harapan yang lebih baik untuk pemenuhan hak konstitusional setiap orang atas jaminan sosial. Perubahan tersebut mencakup struktur. yang sudah mengakar dan dirasakan nyaman. berdasarkan data yang dihimpun oleh DPR RI dari keempat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berstatus badan hukumnya adalah Persero tersebut. mekanisme kerja dan kultur kelembagaan yang baru. meskipun hal tersebut ditentukan dalam Undang-Undang. Untuk itu diperlukan komitmen yang kuat dari kedua BUMN ini. Dewan Komisaris dan Direksi PT Askes (Persero) dan PT Jamsostek (Persero) ditugasi oleh UU BPJS untuk menyiapkan berbagai hal yang diperlukan untuk berjalannya proses tranformasi atau perubahan dari Persero menjadi BPJS dengan status badan hukum publik. fokus pada hasil dan berorientasi pada proses implementasi Peraturan Perundang-undangan secara taat asas dan didukung oleh pemangku kepentingan. Pasal 60 ayat (1) UU BPJS menentukan BPJS Kesehatan mulai beroperasi menyelenggarakan program jaminan kesehatan pada tanggal 1 Januari 2014. sering menjadi kendala bagi penerimaan struktur. Segudang pekerjaan rumah menunggu untuk diselesaikan demi terpenuhinya hak rakyat atas jaminan sosial. mekanisme kerja dan juga kultur kelembagaan.

PT Askes (Persero) mendapat penugasan untuk mengelola kepesertaan serta pelayanan kesehatan dasar dan rujukan . Penerima Pensiun (PNS. Veteran. Disamping itu. kontribusi kepada Pemerintah dapat dinegosiasi untuk kepentingan pelayanan kepada peserta dan manajemen lebih mandiri. status badan penyelenggara diubah menjadi Perusahaan Umum Husada Bhakti.Profil 4 BPJS PT Askes (Persero) “Berubah menjadi BPJS Kesehatan dan mulai beroperasi menyelenggarakan program jaminan kesehatan pada tanggal 1 Januari 2014 (Pasal 60 ayat (1) UU BPJS)” PT Askes (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara yang ditugaskan khusus oleh pemerintah untuk menyelenggarakan jaminan pemeliharaan kesehatan bagi Pegawai Negeri Sipil. Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1984. 1991 Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1991. 2005 Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1241/Menkes/XI/2004 PT Askes (Persero) ditunjuk sebagai penyelenggara Program Jaminan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin (PJKMM). 1992 Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1992 status Perum diubah menjadi Perusahaan Perseroan (PT Persero) dengan pertimbangan fleksibilitas pengelolaan keuangan. Sejarah singkat penyelenggaraan program Asuransi Kesehatan sebagai berikut : 1968 Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan yang secara jelas mengatur pemeliharaan kesehatan bagi Pegawai Negeri dan Penerima Pensiun (PNS dan ABRI) beserta anggota keluarganya berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 230 Tahun 1968. Penerima Pensiun PNS dan TNI/POLRI. 1984 Untuk lebih meningkatkan program jaminan pemeliharaan kesehatan bagi peserta dan agar dapat dikelola secara profesional. Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1984 tentang Pemeliharaan Kesehatan bagi Pegawai Negeri Sipil.A. dimana oleh Menteri Kesehatan RI pada waktu itu (Prof. kepesertaan program jaminan pemeliharaan kesehatan yang dikelola Perum Husada Bhakti ditambah dengan Veteran dan Perintis Kemerdekaan beserta anggota keluarganya. Dr. Siwabessy) dinyatakan sebagai embrio Asuransi Kesehatan Nasional. Perintis Kemerdekaan beserta keluarganya dan Badan Usaha lainnya. G. perusahaan diijinkan memperluas jangkauan kepesertaannya ke badan usaha dan badan lainnya sebagai peserta sukarela. Menteri Kesehatan membentuk Badan Khusus di lingkungan Departemen Kesehatan RI yaitu Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK). ABRI dan Pejabat Negara) beserta anggota keluarganya.

PT Askes (Persero) resmi ditunjuk menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang meng-cover jaminan kesehatan seluruh rakyat Indonesia yang tertuang dalam UU BPJS Nomor 24 tahun 2011. Dengan dikeluarkannya ijin operasional ini maka PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia dapat mulai menyelenggarakan asuransi kesehatan bagi masyarakat. termasuk menerima peserta baru (Pasal 62 ayat (2) huruf d UU BPJS)” Sejarah terbentuknya PT Jamsostek (Persero) mengalami proses yang panjang.10/2009 PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia selaku anak perusahaan dari PT Askes (Persero) telah memperoleh ijin operasionalnya. Sebagai tindak lanjut atas diberlakukannya Undang-undang Nomor 40/2004 tentang SJSN PT Askes (Persero) pada 6 Oktober 2008 PT Askes (Persero) mendirikan anak perusahan yang akan mengelola Kepesertaan Askes Komersial.2/1951 tentang kecelakaan kerja. baik menyangkut landasan hukum.ptaskes.33/1947 jo UU No. 2011 Terkait UU Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional di tahun 2011. PMP No. (sumber: www. Setelah mengalami kemajuan dan perkembangan.com) PT (Persero) JAMSOSTEK “Berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan pada tanggal 1 Januari 2014 (Pasal 62 ayat (1) UU BPJS)” “BPJS Ketenagakerjaan paling lambat mulai beroperasi pada tanggal 1 Juli 2015.15/1957 tentang pembentukan Yayasan Sosial Buruh. tatalakasana pelayanan dan tatalaksana organisasi dan manajemen. PMP No.5/1964 tentang pembentukan Yayasan Dana Jaminan Sosial (YDJS).2008 Pemerintah mengubah nama Program Jaminan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin (PJKMM) menjadi Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). diberlakukannya UU No.8/1956 tentang pengaturan bantuan untuk usaha penyelenggaraan kesehatan buruh. secara kronologis proses lahirnya asuransi sosial tenaga kerja semakin transparan. dimulai dari UU No. PT Askes (Persero) berdasarkan Surat Menteri Kesehatan RI Nomor 112/Menkes/II/2008 mendapat penugasan untuk melaksanakan Manajemen Kepesertaan Program Jamkesmas yang meliputi tatalaksana kepesertaan. bentuk .14/1969 tentang Pokok-pokok Tenaga Kerja. Peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No.48/1952 jo PMP No. Berdasarkan Akta Notaris Nomor 2 Tahun 2008 berdiri anak perusahaan PT Askes (Persero) dengan nama PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia yang dikenal juga dengan sebutan PT AJII 2009 Pada tanggal 20 Maret 2009 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor Kep38/KM.

Pemerintah juga menerbitkan UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.co. (sumber : www. yang mewajibkan setiap pemberi kerja/pengusaha swasta dan BUMN untuk mengikuti program ASTEK. Dengan penyelenggaraan yang makin maju.jamsostek.33 tahun 1977 tentang pelaksanaan program asuransi sosial tenaga kerja (ASTEK). Kiprah Perseroan yang mengedepankan kepentingan dan hak normative Tenaga Kerja di Indonesia terus berlanjut. anggota Polri dan PNS Dephan/Polri menjadi peserta Taspen (Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri) yang didirikan pada tanggal 17 April 1963 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1963. dengan memberikan kepastian berlangsungnya arus penerimaan penghasilan keluarga sebagai pengganti sebagian atau seluruhnya penghasilan yang hilang. Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) bagi seluruh tenaga kerja dan keluarganya. program Jamsostek tidak hanya bermanfaat kepada pekerja dan pengusaha tetapi juga berperan aktif dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian bagi kesejahteraan masyarakat dan perkembangan masa depan bangsa. yang mencakup Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). yang kini berbunyi: "Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan". .36/1995 ditetapkannya PT Jamsostek sebagai badan penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Terbit pula PP No. dimana Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) telah mengesahkan Amandemen tersebut.3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK). Sampai saat ini. akibat risiko sosial. pada tahun 1977 diperoleh suatu tonggak sejarah penting dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) No. Jaminan Kematian (JKM).id) PT (Persero) ASABRI “Menyelesaikan pengalihan program ASABRI dan program pembayaran pensiun ke BPJS Ketenagakerjaan paling lambat tahun 2029 (Pasal 65 ayat (1) UU BPJS)” Semula prajurit TNI. Manfaat perlindungan tersebut dapat memberikan rasa aman kepada pekerja sehingga dapat lebih berkonsentrasi dalam meningkatan motivasi maupun produktivitas kerja. Program Jamsostek memberikan perlindungan dasar untuk memenuhi kebutuhan minimal bagi tenaga kerja dan keluarganya.34/1977 tentang pembentukan wadah penyelenggara ASTEK yaitu Perum Astek. Selanjutnya pada akhir tahun 2004. Dan melalui PP No. yang berhubungan dengan Amandemen UUD 1945 dengan perubahan pada pasal 34 ayat 2. Tonggak penting berikutnya adalah lahirnya UU No.perlindungan maupun cara penyelenggaraan. PT Jamsostek (Persero) memberikan perlindungan 4 (empat) program.

Perusahaan Umum (Perum). Adanya kebijaksanaan Pemerintah untuk mengurangi jumlah prajurit secara besar-besaran dalam rangka peremajaan yang dimulai pertengahan tahun 1971. maka berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1991 bentuk usaha ASABRI dari Perusahaan Umum (Perum) dialihkan menjadi Perseroan Terbatas (PT). Ketika itu PN Taspen memperoleh kantor sendiri di Jl. Perbedaan Batas Usia Pensiun (BUP) bagi prajurit TNI. dan wewenang Menteri Keuangan pada Perusahaan Perseroan (Persero).Namun dalam perjalanannya.asabri. 4. (sumber : www. tugas. sehingga menjadi PT ASABRI (Persero). Untuk menindaklanjuti hal-hal tersebut dan meningkatkan kesejahteraan Prajurit TNI. Jumlah iuran yang terkumpul pada waktu itu tidak sebanding dengan perkiraan klaim yang akan diajukan oleh para Peserta. Anggota Polri dan PNS Dephan/Polri. dan Perusahaan Jawatan (Perjan) kepada Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara.id) PT TASPEN (Persero) “Menyelesaikan pengalihan program THT dan program pembayaran pensiun ke BPJS Ketenagakerjaan paling lambat tahun 2029 (Pasal 65 ayat (1) UU BPJS)” Pembentukan Program Tabungan Hari Tua Pegawai Negeri ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No 9 tahun 1963 tentang Pembelanjaan Pegawai Negeri dan Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1963 tentang Tabungan Asuransi dan Pegawai negeri. 64 Tahun 2001 tentang Pengalihan kedudukan. maka Dephankam (saat itu) berprakarsa untuk mengelola premi sendiri dengan membentuk lembaga asuransi yang lebih sesuai.co. yaitu Perusahaan Umum Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Perum ASABRI) yang didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1971 pada tanggal 1 Agustus 1971. anggota Polri yang berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1966 Pasal 1 dengan PNS yang berdasarkan UndangUndang Nomor 11 Tahun 1969 Pasal 9 2. Sifat khas prajurit TNI dan Polri memiliki risiko tinggi banyak yang berhenti karena gugur atau tewas dalam menjalankan tugas. . dan selanjutnya ditetapkan sebagai Hari Jadi ASABRI. PT ASABRI (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara yang berbentuk Perseroan Terbatas dimana seluruh sahamnya dimiliki oleh negara yang diwakili oleh Menteri Negara BUMN selaku Pemegang Saham atau RUPS berdasarkan PP No. 3. Dalam perkembangannya untuk meningkatkan gerak usaha. keikutsertaan prajurit TNI dan anggota Polri dalam Taspen mempengaruhi penyelenggaraan Program Taspen karena : 1. Merdeka no 64 Bandung.

H.01.Adapun proses pembentukan program pensiun pegawai negeri ditetapkan dengan Undangundang No 11 tahun 1956 tentang pembelanjaan Pensiun dan Undang-undang No 11 tahun 1969 tentang pensiun pegawai dan pensiun janda/duda serta undang-undang No 8 tahun 1974 tentang Pokok-pokok kepegawaian. PN Taspen diubah menjadi Perum Taspen yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor: KEP.04 Th 98 tanggal 17 September 1998 dan telah dimuat dalam Berita Negara RI Nomor 31 tahun 1999. badan hukum Perum Taspen diubah menjadi PT Taspen (Persero) sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar PT Taspen (Persero) Nomor 3 tahun 1982 tanggal 4 Januari 1982 yang mengalami beberapa kali perubahan.MBU/2008.com) .749/MK/V/II/1970. Perubahan terakhir ini memperoleh persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan Nomor C. Tambahan Berita Negara RI Nomor 2207 tahun 1999. S. semula sebesar Rp 10 miliar ditingkatkan menjadi sebesar Rp 12. S. Selanjutnya. dilakukan perubahan anggaran dasar yang merupakan penyesuaian modal dasar yang disetor 25% dari modal dasar sebesar Rp 400 miliar.50 miliar untuk memenuhi modal disetor 25% dari modal dasar sebesar Rp 50 miliar.. Berkas anggaran dasar telah disampaikan ke notaris dan telah disampaikan ke notaris dan telah dibuatkan akta notaris pada tanggal 24 November 2008 dengan nomor akta 06 dan saat ini masih menunggu persetujuan dari Menteri Hukum dan HAM (sumber : www. berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 1981. Nomor 53 tanggal 17 Maret 1988 dan telah diperbaiki dengan Akta Nomor 10 tahun 1998 tanggal 2 Juli 1998 di hadapan Zulkifli Harahap.2-14096-HT. S. Selanjutnya dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 1981 tentang Asuransi Sosial PNS maka dilakukan proses penggabungan program kesejahteraan pegawai negeri yang terdiri dari Program Tabungan Hari Tua dan Pensiun yang dikelola PN Taspen.H.H. Tambahan Berita Negara RI Nomor 2207 tahun 1999 Berdasarkan persetujuan pemegang saham dengan Nomor: KEP-17/DI.taspen. pengganti notaris Imas Fatimah. terakhir dengan Akta Notaris Imas Fatimah. Perubahan Anggaran Dasar dimaksud dalam rangka penyesuaian terhadap Undang-undang Nomor 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas yang menetapkan tambahan modal dasar yang disetor. Dengan pemberlakuan Undang-undang Nomor 9 tahun 1969 tentang bentuk-bentuk perusahaan negara.

PT Askes (Perero) terus berbenah menyesuaikan diri seiring perkembangan situasi dan kondisi baik secara bisnis asuransi maupun kebijakan pemerintah karena dalam hal ini status perusahaan adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ditambah dengan banyaknya masyarakat menengah yang jatuh miskn karena menderita penyakit. rakyat sudah bosan setiap kali mendengar dan menyaksikan di berbagai media perihal masih adanya rakyat miskin yang ditolak oleh pihak rumah sakit untuk berobat karena tiadanya biaya dari sang pasien. Oleh karena itu sebagai BUMN. Karena itu. di Indonesia. tentu saja dapat dimaklumi. PT Askes (Persero) melakukan serta menunjang program maupun kebijakan pemerintah . dengan adanya UU BPJS maka akan sangat membantu memberikan akses bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayan kesehatan. bakal segera terwujud pasca diundangkannya BPJS untuk menyelenggarakan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). seperti Kanada dan Jerman. Namun itu semua akan dapat terlaksana apabila semua bertekad secara sungguh-sungguh. Bahkan. jaminan pensiunnya bahkan jaminan kematian. yang merupakan harapan baru di tengah kehausan sebuah belaian nyata dari negara dalam bentuk jaminan sosial mendekati kenyataan. Pemerintah mempunyai tugas meyiapkan peraturan pemerintah (PP) dan peraturan presiden (Perpres) sebagai petunjuk pelaksanaan UU BPJS yang baru saja disahkan. kesungguhan komitmen menjadi penyelenggara jaminan sosial di bidang kesehatan bukan terjadi pada saat ini saja. yang dialamatkan kepadanya. Kebulatan tekad untuk berubah sudah terjadi sejak tahun 2004. dambaan dari seluruh rakyat Indonesia. Karena itu. Momentum itu menjadi titik balik perusahaan yang kini berusia 44 tahun ini untuk bertransformasi dan mempersiapkan diri. saat terbitnya UU SJSN yang menyebutkan PT Askes (Persero) adalah pengelola jaminan sosial di bidang kesehatan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional. tentu saja masuk akal. Dari masa ke masa. untuk jaminan hari tua. pada saat telah diketuknya UU BPJS. pensiun dan ketenagakerjaan. Kita pun sudah tidak ingin mendengar lagi manakala ada pensiunan yang terpaksa harus kembali menjadi pekerja kasar di hari tuanya. melaksanakan amanat undang undang dengan penuh komitmen. beberapa negara di antaranya juga memberi jaminan bagi mereka yang tidak mempunyai pekerjaan. Sebab idealnya seluruh rakyat Indonesia akan terlindungi ke dalam jaminan sosial Harapan ini. dengan disahkannya UU BPJS ini. diilhami oleh negara lain. Di negara-negara yang sudah lebih dahulu memberlakukan UU Jaminan Sosial itu. sebab. rasanya terlalu sedih untuk kembali dimunculkan ke permukaan. kehadiran UU BPJS ini yang disambut gembira oleh sejumlah masyarakat. rakyat telah mendapatkan jaminan kesehatan. Sudah berubah Pasca Terbitnya UU SJSN Bagi PT Askes (Persero). menjual apa yaBahkan sebutan dan plesetan "jamila" alias jatuh miskin lagi. Harus diakui.Askes Road to BPJS HARAPAN rakyat Indonesia yang menginginkan adanya jaminan sosial bagi kehidupan mereka. Keinginan ini.

terutama dalam penyelenggaraan asuransi sosial melalui penyediaan jaminan pemeliharaan kesehatan bagi pegawai negeri sipil (PNS).di bidang ekonomi dan pembangunan nasional.6 Tahun 1992 hingga saat ini. mulai dari sebuah badan yang berada dibawah komando Kementerian Kesehatan pada saat itu disebut Badan Pengelola Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK).22 dan 23 tahun 1984 dan berstatus BUMN. sehingga harus terus bermanfaat bagi masyarakat. Kemudian pada tahun 1992 masih berstatus BUMN terjadi pengalihan menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) berdasarkan PP No. bisnis proses yang sedari tahun 70-an diubah dan terus tumbuh-kembangkan hingga sekarang. PT Askes (Persero) memang telah mengalami berbagai perubahan secara signifikan. pada tahun 2004 PT Askes (Persero) ditunjuk sebagai penyelenggara Program Jaminan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin (PJKMM) dan bertugas mengelola kepesertaan serta pelayanan kesehatan dasar dan rujukan. dengan pola pembiayaan yang out of pocket yang mencapai 60-70 persen dari total pelayanan kesehatan maka sebagian besar rakyat kita dengan pola pembayaran fee for services atau dibayar langsung oleh pasien maka sudah jelas masyarakat kita tidak mampu mendapatkan pelayanan kesehatan. “Universal coverage JKN bisa dibilang adalah benang merah bagaimana cita-cita awal perusahaan ini saat didirikan tahun 1968. penerima pensiunan. diyakini akan mendukung upaya pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan derajat hidup masyarakat Indonesia. “Perubahan demi perubahan memang harus dilakukan PT Askes (Persero). Dalam hal ini memperoleh amanah untuk mengelola tatalaksana kepesertaan. Pada saat mendirikan BPDPK menteri kesehatan saat itu GA. dan kini hampir mencapai puncaknya menuju Jaminan Kesehatan Nasional yang terpatri dalam UU SJSN. lalu berubah mejadi Perusahaan Umum Husada Bakti berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Program ini pada tahun 2008 berubah nama menjadi Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). . PT Askes (Persero) telah dan terus mempersiapkan diri mendukung pencapaian target pemerintah untuk mewujudkan universal coverage diranah Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tahun 2014 nanti. mulai dari status perusahaan. Cita-cita Siwabessy itu kalau kita kaitkan dengan kondisi sekarang adalah benar. pelayanan dan organisasi dan manajemen. salah satu mantan Direksi PT Askes (Persero) di era 70-80 an. karena perusahaan ini adalah milik negara. Dan benar saja dengan apa yang terjadi sekarang. Siwabessy berpikir kesehatan suatu saat akan menjadi masalah dalam kehidupan manusia apabila tidak dikelola secara asuransi. PT Askes (Persero) memang telah mengalami berbagai pergantian status perusahaan. veteran dan perintis kemerdekaan beserta keluarganya juga masyarakat umum.” harap Sulastomo. Saya harap Duta Askes tidak pernah lelah dan gentar dalam upaya menuju masyarakat Indonesia yang sehat dan lebih baik. Transformasi Kesiapan Askes Pada perkembangannya. Termasuk pada saat ini penerapan UU No 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional yang mengisyaratkan PT Askes (Persero) sebagai badan penyelenggara. milik masyarakat . Dinamika bisnis pun turut serta mewarnai perjalanan PT Askes (Persero) sepanjang berdirinya perusahaan ini sejak tahun 1968.” jelas Direktur Utama PT Askes (Persero) I Gede Subawa.

“Dalam hal pelayanan. PT Askes (Persero) telah melakukakan berbagai perubahan dan penyesuaian yang mengacu pada prinsip penyelenggaraan asuransi sosial. kabupaten/kota. "Kebijakan pemegang saham menetapkan PT Askes (Persero) tidak lagi menyetorkan deviden dan surplus akhir tahun. Transformasi ini diawali dengan perubahan Anggaran Dasar Perseroan menjadi perseroan yang”nirlaba” yang menjalankan fungsi sosial seperti tercantum dalam pasal 26 Anggaran Dasar Perseroan. memperkuat organisasi pada tingkat cabang. baik rawat jalan maupun rawat inap. yang menurun dibanding tahun sebelumnya.” tegas I Gede Subawa. kami menjadikan program preventif sebagai salah satu strategi kunci untuk mempertahankan kinerja perusahaan sebagai bagian dari kampanye hidup sehat. dana yang dikembalikan itu digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta. dan penajaman pelayanan (hospitality). pihaknya telah melakukan perubahan struktur organisasi berbasis fungsi.40 tahun 2004. dan membangun Askes Center di tiap-tiap rumah sakit yang melayani peserta Askes. maka secara proaktif PT Askes (Persero) mempersiapkan diri untuk memenuhi amanat sebagaimana ditetapkan dalam pasal 52 UU SJSN. transformasi yang dilakukan PT Askes (Persero) dengan menyesuaikan beberapa 9 prinsip SJSN dalam penyelenggaran program perusahaan juga dilakukan si semua titik. I Gede Subawa melanjutkan bahwa transformasi yang dilakukan semata-mata menunjukkan bahwa PT Askes (Persero) siap sebagai Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Nasional. Dengan mempertajam sisi diagnosis dan pemeriksaan kesehatan secara berkala. dan juga dapat memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di luar wilayah domisili atau tempat tinggal peserta (prinsip portabilitas).” papar I Gede Subawa. perbaikan. semua penyesuaian telah dilakukan PT Askes (Persero) demi menunjang kebijakan pemerintah setelah hadirnya UU No. Peserta harus mendapatkan menfaat yang bersifat komprehensif (prinsip ekuitas).Dengan hadirnya UU Nomor 40 Tahun 2004 yang menunjuk PT Askes (Persero) sebagai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Tidak berhenti sampai disitu. Dan sepanjang tahun 2009. bisa dibilang adalah tahun terakhir fase transformasi." ujar I Gede Subawa. Selain itu. Jadi PT Askes (Persero) saat ini benar-benar hanya menyelenggarakan jaminan kesehatan sosial karena bisnis Askes komersial telah ditangani oleh PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia yang beroperasi sejak 1 April 2009. Tentu saja hal itu diikuti dengan peningkatan kompetensi SDM dan kemampunan Sistem Informasi Manajemen dengan master file nasional yangrealtime on line. . dan Sumber Daya Manusia (SDM). manajemen PT Askes (Persero) juga menempatkan tiga titik penting yang menjadi fokus pengembangan. “Prinsip-prinsip SJSN sudah menjadi bagian dari bisnis proses dalam menjalankan perusahaan. Perubahan inipun telah disetujui oleh pemegang saham dan disahkan oleh notaris. jumlah kunjungan perawatan kesehatan di semua lini. teknologi Informasi. Tahun 2010. Sepanjang tahun 2009 pula.

Melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait 4. Pelayanan Kesehatan Tertentu bagi TNI & Polri (UU BPJS Ps 60 ayat 2 huruf b) 5. Tata Cara Hubungan AntarLembaga (UU BPJS Ps 51 ayat 4) 6. Penerima Bantuan Iuran (UU 40 Ps 27 ayat 5) Peraturan Presiden : 1. PT Askes (Persero) akan secara proaktif memberi masukan kepada pemerintah sebagai regulator yang terkait dengan Rancangan Peraturan Pemerintah. perseroan yang menyiapkan materinya. Peraturan Pemerintah : 1. Menyiapkan SDM yang handal untuk masa depan Di tahun 2012. Keanggotaan Pansel Dewas & Direksi (UU BPJS Ps 28 ayat 3) Direktur Utama Askes I Gede Subawa mengungkapkan. Tata Cara Pengalihan Program (UU BPJS Ps 66) 2. Penyertaan Modal Pemerintah (UU BPJS Ps 45 ayat 2) 7. Gaji. Peraturan Presiden. Keputusan Presiden. Tata Kelola Aset Dana Jaminan Sosial (UU BPJS Ps 43 ayat 3) 3. dan Insentif bagi Dewas & Direksi (UU BPJS Ps 44 ayat 8) 6. Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif Peserta (UU BPJS Ps 17 ayat 5) 5. tahun berikutnya. Menyusun sistem dan prosedur aspek strategik dan aspek operasional untuk operasionalisasi BPJS Kesehatan 2. Pentahapan Kepesertaan (UU BPJS Ps 15 ayat 3) 2. Besaran dan tata Cara Pembayaran Iuran (UU BPJS Ps 19 ayat 5 huruf a) 3. "Nanti. Menyusun berbagai konsep untuk masukan dan usulan bagi penyusunan peraturan dan perundangan yang dibutuhkan dalam implementasi BPJS Kesehatan 3. Upah. Teknis Jaminan Kesehatan (UU 40 Ps 19-28) Keputusan Presiden : 1. . Tata Kelola Aset BPJS Kesehatan (UU BPJS Ps 41 ayat 3) 4.Roadmap Askes Menuju BPJS Perlu ditekankan bahwa Proses tranformasi PT Askes (Persero) menjadi BPJS Kesehatan. Berikut adalah peraturan perundangan yang dibutuhkan sebagai payung hukum BPJS sebagai Jaminan Kesehatan Nasional 2014. Askes berkomitmen untuk menyelesaikan rancangan materi tersebut sebelum November 2012. Diharapkan. Tata cara Pemilihan dan penetapan Dewas & Direksi (UU BPJS Ps 31) 4. Tata cara Pengenaan Sanksi Administratif Dewas & Direksi (UU BPJS Ps 53 ayat 4) 8. diperlukan hal-hal sebagai berikut: 1." ujarnya. pemerintah yang buat regulasinya. yakni 2013 sudah bisa disosialisasikan.

Padahal jaminan sosial khusus-nya pekerja yang mengiur untuk jaminan hari tua (JHT) seperti sedang berinvestasi untuk hari tua. Sosialisasi kepada masyarakat tentang BPJS. dulu kita kenal Keluarga Berencana (KB) sebagai gerakan nasional. “Jaminan sosial akan gagal jika hanya 40 persen masyarakat suatu bangsa memiliki paham atau mindset yang baik akan jaminan sosial. Namun. Odang Mochtar. PT Askes (Persero) belum bisa mensosialisasikan secara gencar dan detil misalnya tentang berapa iuran. Menurut Pengamat Jaminan Sosial. Kesehatan menjadi momok yang akan terus meneror masyarakat kita yang sangat rentan angka kesakitannya. menurut dia. yang ditakutkan. bukan instrument penyangga resiko.” ujar I Gede Subawa. Namun. Masih banyak pengusaha (yang ke depan akan menjadi penyetor wajib iuran pekerja-pekerjanya) memandang jaminan sosial menjadi instrument biaya.KESADARAN NASIONAL : Jaminan Sosial Sebagai Investasi Diri Jakarta : Persiapan pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional bidang Kesehatan tinggal setahun lagi. Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) akan dipandang sebagai komponen biaya. supaya semua lapisan masyarakat tahu hak dan kewajiban. Pemerintah harus menggalang kesadaran publik melalui gerakan nasional sadar jaminan sosial agar masyarakat mau menjadi peserta dan rela mengiur demi menikmati manfaat. Demikian yang disampaikan dalam diskusi terbatas di Universitas Paramadina (2/11). Ini setara dengan orangorang yang bekerja di Bursa Efek. Dengan jaminan kesehatan. 24 tahun 2011 belum satupun disahkan. jaminan sosial juga harus menjadi gerakan nasional. Misalnya. Apalagi jaminan kesehatan dan jaminan hari tua. Santoso.” jelas Odang. yang meredusir apa makna jaminan sosial ini. supaya kami bisa berkampanye manfaat jaminan sosial sesuai ketentuan yang ada. Untuk itu. dan tata cara pembayaran iuran adalah pokok utama.” ulas Haris E. tanpa adanya sosialisasi yang baik dan mendalam. . Nah. tata cara pendaftaran dan pembayaran karena berbagai peraturan turunan UU BPJS No. fasilitas kesehatan. Direktur Utama PT Askes (Persero) I Gede Subawa mengemukakan. “PP turunan ini penting menjadi pegangan kami. “Sosialisasi masih menjadi persoalan karena kita tahu pengetahuan masyarakat tentang jaminan sosial masih sangat rendah. banyak aturan penunjang yang belum rampung dan disosialisasikan. setidaknya akan melindungi mereka yang sulit mengakses pelayanan kesehatan akibat tidak ada biaya. Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional. Odang juga menambahkan perlunya sosialiasi yang mendalam serta edukasi yang baik soal jaminan sosial. Sementara itu. bahwa sosialisasi BPJS Kesehatan secara makro sudah mulai dilakukan oleh korporat.

Hal ini menurutnya penting guna menyerap aspirasi publik terkait beban pengeluaran tambahan yang harus ditanggung masyarakat nantinya. di Jakarta. selain membahas aturan pelaksana. misalnya. Sehingga premi (iuran) jaminan kesehatan yang terjangkau bagi masyarakat sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bisa didapat. RPP tentang Penerima Bantuan Iuran sudah ditandatangani semua pemangku kepentingan. dokter umum. Menurut Muhaimin Iskandar.” kata Zuber. Sosialisasi Asuransi Kesehatan. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar. Sementara soal anggaran yang berkaitan dengan premi peserta dan jumlah penerima bantuan iuran tengah dihitung. Pemerintah menyiapkan 10 aturan pelaksana untuk memberlakukan Sistem Jaminan Sosial Nasional per 1 Januari 2014. Senin (1/10/2012). usai rapat kerja dengan Wamenkes. Karena itu.Telah disiapkan Sementara itu. Perlu! Jakarta : Anggota Komisi IX DPR RI. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengadakan rapat koordinasi di Kementerian Keuangan. Sementara RPP tentang Jaminan Kesehatan masih dalam proses harmonisasi. tim yang terdiri atas tim kesehatan dan tim ketenagakerjaan juga membahas infrastruktur dan anggaran. dan dokter spesialis. Zuber secara khusus meminta Kementerian Kesehatan mensosialisasikan kepada publik mengenai estimasi besaran iuran Jaminan Kesehatan. Agung Laksono menyatakan. dan infrastruktur. terdapat 10 aturan pelaksana yang tengah disiapkan. Nafsiah Mboi menyatakan. sehingga perhitungan biaya premi secara aktuaria pun rendah. bidan. tim membahas kebutuhan rumah sakit. 4 peraturan pemerintah. Jumat (9/11). dan Asosiasi rumah sakit di DPR. “Karena pada prinsipnya. Ikatan Dokter Indonesia. Zuber Safawi mendorong pemerintah melalui Kementerian kesehatan melakukan sosialisasi besaran premi (iuran) jaminan kesehatan bagi masyarakat sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Aturan itu meliputi 5 rancangan peraturan pemerintah (RPP). Dalam hal infrastruktur kesehatan. . Rapat yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut membahas aturan pelaksana. perhitungan keuangan. asuransi sosial memungkinkan subsidi yang luas. dan 1 keputusan presiden. serta Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi. bersama Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo.

TNI/Polri. Skenario tersebut adalah besaran iuran yang ditanggung penuh oleh negara untuk masyarakat tidak mampu atau penerima bantuan iuran (PBI). menurutnya seharusnya perhitungan iuran jaminan kesehatan (BPJS Kesehatan) juga tidak lebih dari Askes.” imbuhnya. Bekerja sama dengan pemerintah daerah. ICU.201 per orang per bulan.000. pelayanan medis. baik melalui program Jamkesmas maupun program asuransi lainnya.Sebelumnya Kemenkes mengusulkan dua skenario besar iuran. maka 2014 kita bisa langsung jalan. pendataan sangat penting karena tahap berikutnya Askes makin mudah dalam mendata penduduk yang menerima bantuan iuran dari pemerintah. 50. Lebih lanjut Politis PKS ini menegaskan tidaklah realistis protes Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang meminta premi/ iuran jaminan kesehatan sebesar Rp. Askes.500 per kepala per bulan. serta (6) biaya cadangan sebesar 5 persen. (6) biaya manajemen sebesar 5 persen. dan bebas biaya pemasaran yang mahal. Skenario pertama mengusulkan premi kesehatan sebesar Rp. HCU dan akomodasi perawatan.286 per orang per bulan. ICCU. terutama mereka yang sudah terlayani lewat Jamkesmas. tegas dia. Minggu (23/9). dan asuransi lainnya. Askes Mulai Mencicil Sejumlah Pekerjaan Menjelang beroperasinya badan pengelola jaminan sosial (BPJS) Kesehatan per 1 Januari 2014. (2) biaya rawat jalan tingkat lanjut di RS medis termasuk obat dan medis. kantor Divisi Regional Askes yang tersebar di seluruh Indonesia sudah melakukan pendataan warga. "Saat ini sebenarnya ada sekitar 130 juta penduduk Indonesia yang terlayani pelayanan kesehatannya. "Saya menilai dasar perhitungan tersebut juga berlaku bagi peserta umum atau non-PBI. praktik asuransi sosial memungkinkan untuk lebih murah. Gede menjelaskan. sedangkan skenario kedua (tinggi) diusulkan premi sebesar Rp. Alasannya.000 per orang per bulan.000. Apalagi. 19. (3) biaya rawat inap rumah sakit termasuk obat. bebas biaya rancangan paket asuransi (karena biasanya paket tunggal yang ditawarkan). (4) Penyesuaian Resiko Umur Populasi. karenanya.60. PT Askes (Persero) mulai mencicil pekerjaan. Jika data sudah rapi. Karena bebas biaya administrasi operasional untuk analisa data nasabah (kepesertaan wajib menurut UU/ sudah pasti). bahwa besaran premi Jamkesmas sekarang saja hanya Rp 6. Adapun komponen utama yang dihitung dalam estimasi tersebut meliputi : (1) Biaya rawat jalan tingkat I (puskesmas dan dokter umum per kapitasi)." kata Dirut Askes I Gede Subawa di sela acara "Jalan Sehat Askes Bersama Dahlan Iskan" di Semarang. 22. Sedangkan premi Askes per orang per bulan Rp 39. termasuk pekerja formal yang iurannya ditanggung oleh pemberi kerja serta sektor informal. . (5) penyesuaian pergeseran penyakit. yakni (1) moderat atau paling rendah dan (2) paling tinggi.

Pengamat kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany mengatakan. pekerjaan pendataan penduduk untuk BPJS tidak terlalu sukar karena selama ini ada lebih dari 234 kabupaten/kota yang sudah menyerahkan pengelolaannya kepada Askes. Dengan ini. Untuk memudahkan pendataan. maka kepesertaan BPJS akan segera terpenuhi. jika peserta hanya mendapat layanan di puskesmas dan rumah sakit kelas III.202 dinilai cukup. "Kinerja Askes selama mengelola layanan kesehatan di 230 kabupaten/kota bisa menjadi langkah yang tepat menuju BPJS 2014. kami akan lakukan pendekatan yang lebih intensif agar data tersebut bisa selesai sebelum 2014. menurut Gede. iuran peserta BPJS diperhitungkan berdasarkan rencana pengeluaran untuk penerima bantuan iuran (PBI). Dia lantas meminta seluruh jajaran di Askes untuk makin sering turun ke lapangan guna mendengar masukan dari masyarakat.Gede mengaku. "Untuk kabupaten/kota yang belum bekerja sama dengan Askes. besaran akan berpengaruh terhadap standar pelayanan kesehatan diterima peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)." tutur Gede. dan gubernur pun dapat mendorong pemda untuk membayar iur premi bagi seluruh masyarakatnya seperti telah dilakukan di 230 kabupaten/kota. besaran iuran untuk PBI akan memengaruhi kualitas dan standar layanan kesehatan. Sementara sektor non formal baru akan didata kemudian. Pasalnya. data penduduk sudah tersedia di kantor regional Askes di wilayah masing-masing. Menurut dia. peserta PBI tidak . lanjut Gede. "Untuk peserta Jamkesmas atau penerima bantuan iuran datanya sudah ada. wali kota. Sosialisasi akan terus kami lakukan. Iuran BPJS Pengaruhi Kualitas Pelayanan JAKARTA– Pemerintah diminta mempertimbangkan kembali besaran iuran untuk jaminan kesehatan nasional. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan memuji kinerja Askes dan yakin bisa bertransformasi sebagai BPJS Kesehatan pada 2014 untuk melayani jaminan kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia." ujar mantan Kepala Divisi Regional Jawa Tengah tersebut. “Layanan kelas III itu di rumah sakit pemerintah.” ungkap Thabrany di Jakarta kemarin." ujar Dahlan. karena di sektor nonformal itu banyak juga yang mampu secara ekonomi. Dengan demikian. Bupati. Pengeluaran untuk membayar dokter dan puskesmas yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp22. tentunya agar harapan masyarakat terhadap eksistensi BPJS Kesehatan bisa terpenuhi. Pada kesempatan ini. pihaknya akan memanfaatkan nomor induk kependudukan (NIK) sehingga tidak ada duplikasi data. data pekerja di sektor formal juga sudah jelas. yang nantinya akan diterima peserta yang ditanggung pemerintah. Karena itu.

Pendapatan dokter praktik mencapai Rp20–25 juta per bulan. langkah terbaik mengatasi polemik besaran iuran antara pemerintah dan IDI adalah meminta pemerintah daerah menaikkan anggaran kesehatan langsung ke puskesmas RSUD. “Pemerintah jangan berharap akan mendapat kualitas layanan yang memadai untuk peserta PBI. Dia mencontohkan sejumlah negara yang lebih memprioritaskan pemberian subsidi pada sektor layanan kesehatan dan pendidikan ketimbang subsidi BBM. iuran BPJS bisa lebih banyak dialokasikan untuk membayar upah dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang bertugas di klinik BPJS. Jadi. Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prijo Sidipratomo mengatakan. dia menekankan agar IDI melihat sudut pandang dan hasil perhitungan yang dilakukan pemerintah. Dengan demikian.000.”ucapnya. penetapan besaran iuran PBI seharusnya tidak diputuskan sepihak karena menyangkut hajat hidup orang banyak.bisa berharap bakal mendapat kualitas layanan yang memadai jika besaran iuran hanya diteta-kan senilai Rp22. Bahkan. pihaknya selalu membuka masukan dari berbagai pihak terkait persiapan pelaksanaan BPJS Kesehatan. dengan catatan mengurangi pemborosan belanja serta mencabut subsidi BBM dan listrik.”ujarnya. “Di negara-negara lain umumnya yang disubsidi itu bukan BBM. Thailand.” terangnya.202 per orang setiap bulan. Selain dokter.”imbuhnya. Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti mengatakan. Thabrany menjelaskan. sehingga ada kesamaan persepsi mengenai besaran iuran untuk peserta PBI. “Masih bisa didiskusikan. Menurut dia. Namun.”kata Ali. pada dasarnya pemerintah punya anggaran yang memadai untuk menaikkan besaran subsidi bagi peserta PBI. “Kita . Dia membantah jika masalah besaran iuran hanya terkait dengan kepentingan dokter. tapi jangan terlalu lama. layanan kesehatan bisa diberikan seluruh dokter praktik swasta dan hampir semua rumah sakit swasta. pemerintah mengaku tidak punya waktu banyak untuk membicarakan masalah tersebut lebih lama. Thabrany menambahkan. masyarakat penerima layanan kesehatan BPJS juga akan merasakan langsung dampak kebijakan itu.000 terbilang rendah jika dibandingkan dengan negara yang menerpakan model serupa. Selama ini umumnya upah dokter dan tenaga kesehatan lainnya masih jauh di bawah upah layak.saya begitu komprominya jika tetap bersikukuh di angka Rp22.202. Namun.“Saya kira kita perlu melihat sudut pandang dan perhitungannya.” tuturnya. karena ketentuan besaran iuran yang diatur dalam PP itu ditargetkan terbit akhir tahun ini.tuntutan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) agar pemerintah menaikkan iuran untuk PBI sebesar Rp60.“Dengan iuran sebesar itu. pihaknya mengaku sudah kerap kali melakukan komunikasi dengan IDI. lanjut Thabrany. Dia menilai. untuk keperluan membeli obat dan bahan habis pakai. pihaknya membuka ruang bagi IDI serta pihak lain yang keberatan untuk mendiskusikan besaran iuran yang dipatok pemerintah sebelum ditetapkan dalam peraturan pemerintah (PP). membayar iuran untuk penduduk sektor informal beserta keluarga sekitar Rp75. melainkan layanan kesehatan dan sektor pendidikan. termasuk soal ketentuan besaran iuran untuk PBI.

dulu kita kenal Keluarga Berencana (KB) sebagai gerakan nasional.“Jumlah iuran khusus peserta yang ditanggung pemerintah diperoleh dari hasil penelitian dan fakta yang ada. Namun.Wamenkes menyebutkan. menurut dia. Sosialisasi kepada masyarakat tentang BPJS. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Ali Ghufron Mukti mengatakan. Santoso. Nah. terbit paling lambat akhir tahun ini.bersedia untuk mendiskusikan masalah ini karena menyangkut kepentingan orang banyak. KESADARAN NASIONAL : Jaminan Sosial Sebagai Investasi Diri Jakarta : Persiapan pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional bidang Kesehatan tinggal setahun lagi. untuk penerima bantuan iuran (PBI) sudah disepakati sebesar Rp22.” ujarnya. Pemerintah harus menggalang kesadaran publik melalui gerakan nasional sadar jaminan sosial agar masyarakat mau menjadi peserta dan rela mengiur demi menikmati manfaat. Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional.” ungkap Wamenkes saat dihubungi SINDOkemarin. ada sejumlah poin penting yang diatur dalam perpres tersebut. fasilitas kesehatan. Pembahasan perpres di tingkat menteri koordinator bidang kesejahteraan rakyat sudah hampir rampung.” ulas Haris E. banyak aturan penunjang yang belum rampung dan disosialisasikan. Menurut dia. Demikian yang disampaikan dalam diskusi terbatas di Universitas Paramadina (2/11). Sementara itu.Perpres BPJS merupakan petunjuk pembiayaan jaminan kesehatan seperti diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 24/2011 tentang BPJS. bahwa sosialisasi BPJS Kesehatan secara makro sudah mulai dilakukan oleh korporat. jaminan sosial juga harus menjadi gerakan nasional. di antaranya soal besaran dan persentase iuran BPJS. Direktur Utama PT Askes (Persero) I Gede Subawa mengemukakan. supaya semua lapisan masyarakat tahu hak dan kewajiban. PT Askes (Persero) belum bisa mensosialisasikan secara gencar dan detil misalnya tentang . Jumlah tersebut dinilai sudah sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan dan kemampuan negara.Kami harap sudah terbit pada akhir tahun ini. “Sosialisasi masih menjadi persoalan karena kita tahu pengetahuan masyarakat tentang jaminan sosial masih sangat rendah. Misalnya. Pepres Segera Keluar Pemerintah menargetkan peraturan presiden (perpres) tentang petunjuk pelaksana pembiayaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. dan tata cara pembayaran iuran adalah pokok utama. Namun.202 per orang setiap bulan.“Saat ini tinggal beberapa poin penting yang belum selesai. ”kata Prijo.

Telah disiapkan Sementara itu. Rapat yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut membahas aturan pelaksana. serta Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi. Dengan jaminan kesehatan. 24 tahun 2011 belum satupun disahkan. Odang Mochtar. tata cara pendaftaran dan pembayaran karena berbagai peraturan turunan UU BPJS No. di Jakarta. “Jaminan sosial akan gagal jika hanya 40 persen masyarakat suatu bangsa memiliki paham atau mindset yang baik akan jaminan sosial.” ujar I Gede Subawa. 4 peraturan pemerintah.berapa iuran. Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) akan dipandang sebagai komponen biaya. Padahal jaminan sosial khusus-nya pekerja yang mengiur untuk jaminan hari tua (JHT) seperti sedang berinvestasi untuk hari tua. Masih banyak pengusaha (yang ke depan akan menjadi penyetor wajib iuran pekerja-pekerjanya) memandang jaminan sosial menjadi instrument biaya. yang ditakutkan. terdapat 10 aturan pelaksana yang tengah disiapkan. Sementara soal anggaran yang berkaitan dengan premi peserta dan jumlah penerima bantuan iuran tengah dihitung. perhitungan keuangan. yang meredusir apa makna jaminan sosial ini. Odang juga menambahkan perlunya sosialiasi yang mendalam serta edukasi yang baik soal jaminan sosial. Nafsiah Mboi menyatakan. Jumat (9/11). bukan instrument penyangga resiko. bersama Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo. supaya kami bisa berkampanye manfaat jaminan sosial sesuai ketentuan yang ada. setidaknya akan melindungi mereka yang sulit mengakses pelayanan kesehatan akibat tidak ada biaya. dan infrastruktur. tanpa adanya sosialisasi yang baik dan mendalam. RPP tentang Penerima Bantuan Iuran sudah ditandatangani semua pemangku kepentingan. Apalagi jaminan kesehatan dan jaminan hari tua. dan 1 keputusan presiden. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengadakan rapat koordinasi di Kementerian Keuangan. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar. Untuk itu. Ini setara dengan orangorang yang bekerja di Bursa Efek. Pemerintah menyiapkan 10 aturan pelaksana untuk memberlakukan Sistem Jaminan Sosial Nasional per 1 Januari 2014. Menurut Pengamat Jaminan Sosial. Menurut Muhaimin Iskandar.” jelas Odang. Sementara RPP tentang Jaminan Kesehatan masih dalam proses harmonisasi. Aturan itu meliputi 5 rancangan peraturan pemerintah (RPP). Kesehatan menjadi momok yang akan terus meneror masyarakat kita yang sangat rentan angka kesakitannya. . “PP turunan ini penting menjadi pegangan kami.

" tuturnya. selain membahas aturan pelaksana.286 dan usulan DJSN sebesar Rp 27 ribu per orang per bulan. Dalam hal infrastruktur kesehatan. akhirnya Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat memutuskan iuran per bulan bagi Penerima Bantuan Iuran (PBI) dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sebesar Rp 22. bidan. dokter umum. Jumlah itu jauh lebih baik dibandingkan Jamkesmas yang hanya Rp 6500 per bulan per orang. "Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) menganut sistem asuransi sosial di mana perserta wajib beriuran kecuali orang miskin dan tidak mampu iurannya ditangggung pemerintah sebagaimana diatur dalam pasal 17 ayat 4 UU No 40/2004 tentang SJSN. [] Rp 22. sesuai dengan UU SJSN mengharuskan pemerintah untuk iuran juga sehingga perlu dianggarkan.201 untuk Penerima Bantuan Iuran Setelah melakukan pembahasan di Kementerian Kesehatan. sedangkan yang tergolong mampu akan membayarkan iuran yang jumlahnya akan ditentukan kemudian. rawat inap. dokter. pemerintah hanya akan menanggung untuk kalangan fakir miskin dan tidak mampu. Ditegaskan. Angka itu merupakan satu dari tiga skenario yakni kenaikan moderat dengan besaran Rp 19. "Angka Rp 22.4 juta jiwa pemerintah harus menyediakan anggaran anggaran Rp 25. dan dokter spesialis.201 per orang per bulan. tim yang terdiri atas tim kesehatan dan tim ketenagakerjaan juga membahas infrastruktur dan anggaran. rumah sakit.Agung Laksono menyatakan. Tahap pertama yang dibayarkan pemerintah adalah program jaminan kesehatan." tutur Agung. . "Juga dengan TNI/Polri yang selama ini iurannya 2 persen dari gaji. tim membahas kebutuhan rumah sakit." tutur Agung Laksono usai rapat koordinasi tingkat Menteri tentang Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan dan Besaran Iuran Jaminan Kesehatan di Kementerian Kesehatan. Jumat (31/8/2012).201 diperhitungkan komponen yang terurai mulai biaya obat. misalnya.68 triliun. Pemerintah menetapkan untuk tahun 2014 mendatang pemerintah telah menetapkan 96. Dalam pertemuan itu Agung juga mengusulkan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN dan RB) mempertimbangkan usukan kenaikan untuk iuran untuk PNS seandainya yang ditanggung adalah 3 orang anak (UU SJSN) karena sampai saat yang ditanggung hanya dua orang anak dengan besaran iuran 4 persen yang masing-masing ditanggung pemerintah dan peserta. akomodosi penyesuaian semua.

Berdasarkan UU No 36/2009 tentang Kesehatan. melalui mekanisme monitoring dan evaluasi yang ketat.Terkait dengan Jaminan Pelayanan Kesehatan yang dilakukan Jamsostek yakni sebesar iuran 3 persen untuk bujangan dan 6 persen bagi yang sudah berkeluarga yang semuanya dibayar pemberi kerja. Untuk itu kami mohon Kemenakertrans segera menyelenggarakan rapat Tripartit untuk menyepakati besaran iuran JK.kebijakan anggaran kesehatan perlu mendapatkan prioritas yang juga memadai." tuturnya. "Jadi. untuk menjamin keberlanjutan SJSN dalam jangka panjang. tetapi bermutu baik. . dalam keterangan pers-nya. anggaran kesehatan seharusnya dialokasikan minimal sebesar 5% dari APBN di luar gaji. Tahun 2019 diharapkan seluruh warga negara Indonesia sudah memiliki jaminan tersebut. Hai ini disampaikan oleh Anggota DPR RI Fraksi PKS Ecky Awal Mucharam. misalkan obat-obatan diberi yang paling murah. Ecky menambahkan. BPJS Kesehatan akan diupayakan untuk menanggung segala jenis penyakit. "Diharapkan juga dengan adanya penurunan tingkat kemiskinan maka besar iuran yang ditanggung pemerintah nilainya juga akan menurun. APBN 2013 Sudah Mengakomodasi SJSN Patut pula mendapat apresiasi. Universal coverage atau cakupan universal bagi jaminan kesehatan akan dilaksanakan bertahap mulai tahun 2014 hingga tahun 2019. namun dengan melakukan upaya efisiensi. ujar Ecky. Rabu. “Pemerintah diharapkan sungguh-sungguh untuk memastikan pelaksanaan SJSN melalui pembentukan BPJS tersebut agar dapat terealisasi secara efektif per 1 Januari 2014 dan dapat berkelanjutan”. sehingga program tersebut mampu memberi jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia. khususnya rumah sakit dan dokter. "UU No 40/2004 mengharuskan iuran dibayarkan oleh pekerja dan pemberi kerja dengan demikian layanan BPJS harus lebih baik dibandingkan dengan yang dilakukan PT Jamsostek. Menurutnya. di Jakarta. kebijakan belanja negara 2013 yang sudah mengakomodasi pelaksanaan SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional) dengan pengalokasian modal untuk pembentukan BPJS. yaitu memastikan efisiensi belanja kesehatan publik dan sistem kesehatan nasional. Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakan. Sementara itu. DPR akan meminta agar pelaksanaan SJSN dimasukkan dalam Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah dan juga meminta pemerintah menyiapkan pra-kondisi untuk implementasi SJSN." kata Agung. JPK hanya berlaku selama bekerja. sementara Jaminan Kesehatan menurut UU 40/2004 harus dilaksanakan seumur hidup. 29 Agustus 2012." kata Nafsiah. tetap harus ada upaya efisiensi.

dari pembahasan telah ditemukan nilai nominal premi yang harus dibayar oleh masyarakat sebanyak Rp27 ribu. Nominal itu dinilai telah layak untuk membayar gaji dokter dan layanan rumah sakit. Prinsip keputusan ini berbeda dengan Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja yang dipakai PT Jamsostek. yang termasuk dalam pekerja formal ialah pekerja swasta. Namun hingga kini. Dia menuturkan menimbang kemampuan fiskal. IDI sendiri tegas mengancam bakal melakukan demo jika bayaran dokter yang melayani pasien BPJS dianggap tidak layak." ujar Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Ali Ghufron Mukti di Jakarta. Diharapkan hasil keputusan Pokja ini bisa diterima oleh semua pihak. PBI adalah peserta BPJS . Adanya tarik ulur besaran premi diutarakan anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) Bambang Purwoko. dan TNI/Polri. yakni sebesar 5% dari gaji. Baik dari sisi buruh dan pengusaha. Menanggapi hal itu. Ini sudah menjadi kesepakatan final Pokja BPJS.“Tetapi sampai saat ini. tambahnya. kata Ghufron. "Iuran premi pekerja formal disepakati sebanyak 5%. Selasa (29/6). PNS. usulan itu mendapat tentangan dari beberapa pihak terkait. Kementerian Keuangan meminta iuran premi cukup sebesar Rp6 ribu atau sama dengan premi yang dibayarkan pemerintah dalam program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang tengah berjalan pada saat ini. hingga kini Pokja BPJS belum bisa menetapkan nilai nomimal dari premi yang harus dibayar. Terkait iuran premi bagi kalangan tidak mampu. Sejatinya. Kelayakan Premi Untuk Jamkesnas Terus Dikaji Kelompok Kerja (Pokja) Badan Penyelengara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menyepakati penentuan persentase iuran premi yang harus dibayar pekerja formal. Rincian komposisi pembayaran itu terdiri dari 3% dibayar oleh pemberi kerja (majikan) dan 2% ditanggung pekerja. UU itu mengamanatkan jaminan sosial pekerja dibayarkan seluruhnya oleh pemberi kerja. Adapun Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan rumah sakit meminta agar premi peserta BPJS minimal Rp49 ribu. Hal ini perlu mendapatkan penjelasan lebih lanjut dari pemerintah”. realisasi anggaran kesehatan dalam APBN hanya sekitar 2%. Walau persentase iuran premi telah dicapai titik temu. Sebagai tambahan. Wamenkes mengatakan iuran bersama merupakan jalan tengah agar setiap pihak tidak ada yang merasa diberi beban. Ghufron melontarkan telah disepakati peserta penerima bantuan iuran (PBI) pada 2014 nanti sebanyak 96 juta orang. lanjut Ghufron yang juga menjabat sebagai Ketua Pokja BPJS Kesehatan.

24 Tahun 2011. thalasemia. lanjutnya. dan hemodialisa.yang iuran preminya dibayar oleh pemerintah. Kegiatan lainnya adalah pemberian vaksin hepatitis B kepada rumah sakit. cuci darah. PT Askes melakukan negosiasi dengan seluruh rumah sakit untuk peningkatan tarif. Ghufron optimistis peraturan presiden (Perpres) terkait premi bisa disahkan pada September 2012 nanti. berperan aktif untuk memberi masukan kepada pemerintah terkait segala perundangan turunan UU BPJS. Salah satunya program medical check up di beberapa instansi pemerintah yang menjadi peserta Askes. Siap Menuju BPJS PT Askes melalui UU No. Pemerintah telah menunjuk PT Askes Tbk menjadi BPJS Kesehatan yang mengelola dana asuransi kesehatan masyarakat itu. kanker. PT Askes juga harus lebih mempersiapkan diri menjadi BPJS Kesehatan dengan berbagai upaya. Selain itu peningkatan pelayanan juga diperuntukan bagi peserta Askes Sosial yang menderita penyakit katastropik. sembari terus memberikan pelayanan yang maksimal kepada peserta. Sesuai dengan amanat UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). termasuk dengan peserta PBI yang berjumlah 96 juta orang. agar pelaksanaan BPJS nanti bisa berjalan dengan baik. Dengan tambahan premi sebesar 2 persen dari pemerintah. PT Askes (Persero) dapat memberikan perhatian khusus serta pelayanan yang semestinya dilakukan. dari tahun ke tahun peserta BPJS bakal terus ditingkatkan. PT Askes (Persero) menanggung biaya pengobatan penyakit-penyakit katastropik yang relatif mahal. Dengan demikian perpres ini bisa menjadi payung hukum ketika BPJS mulai beroperasi pada awal 2014. Upaya-upaya tersebut berupa. Jumlah itu. Anggota PBI terdiri dari kelompok masyarakat miskin dan pekerja informal berpenghasilan rendah. . Secara bertahap. Jika nominal dan persentase premi bisa disepakati oleh semua pihak. Dalam beberapa tahun terakhir. pada 2014 nanti seluruh masyarakat Indonesia harus sudah memiliki jaminan kesehatan (universal coverage). Kepala Pembiayaan Kesehatan Nasional Kemenkes Usman Sumantri menambahkan peserta jaminan kesehatan yang dikelola BPJS kesehatan pada 2014 nanti ditargetkan telah mencapai 121.000 orang. diamanahkan menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan. Untuk itu pada tahun 2012. PT Askes (Persero) juga melakukan upaya-upaya promotif dan preventif. Customer Focus Strategy menjadi andalan karena dengan prinsip tersebut segala upaya dalam peningkatan kepada peserta. Saat ini kegiatan ini berkembang menjadi program pengelolaan penyakit kronis pada 2010 yang selanjutnya menjadi program pengelolaan penyakit diabetes melitus (PPDM) dan hipertensi (PPHT).100. Dengan begitu. Saat ini PT Askes tengah memasuki masa transisi sebelum bertransformasi sepenuhnya menjadi BPJS pada 2014 nanti. sama bahkan lebih dari yang sekarang. seperti operasi jantung. Layak atau tidaknya seseorang menjadi peserta PBI juga akan dievaluasi setiap enam bulan.

Pada waktu lalu PT Askes (Persero) selalu memberikan hibah langsung berupa ambulans dan alat-alat kesehatan kepada rumah sakit. tanggap serta informatif. Motto “Melayani Pelanggan Melampaui Harapan” merupakan senjata ampuh untuk memicu setiap Duta Askes memberikan layanan terbaik dengan sikapnya yang ramah. PT Askes (Persero) telah menghibahkan lebih dari 200 unit ambulans dengan kualitas yang bagus karena dilengkapi alat canggih. Angka ini berada diatas target tahun 2011 yang ditargetkan pada indeks 87. juga dilakukan penyempurnaan master file. dan semoga peserta merasa semakin bangga dan bermanfaat memiliki kartu Askes. Tingkat Kepuasan Peserta yang dilakukan oleh pihak ketiga (independen) diperoleh peningkatan Indeks Kepuasan Peserta yang sangat bermakna dari indeks 85.0. ataupun PPK dengan PT Askes (Persero). PPK. sehingga semuanya harus terkomputerisasi agar memudahkan jalannya proses bisnis di dalam perusahaan. Selain kartu ini akan lebih tahan lama.2 pada tahun 2011. Untuk menunjang SIM berbasis teknologi. . banyak wujud pelayanan excellence lainnya dikerjakan PT Askes (Persero) di sepanjang tahun. Untuk hibah langsung. dengan menggunakan jaringan VPN yang menjangkau 682 titik dengan kapasitas yang memadai di seluruh Indonesia sudah tersambung secara real time on line PT Askes (Persero) juga membuat call center Askes 500400 yang bertujuan semakin mendekatkan peserta dengan Askes. Indeks atau angka ini memberikan gambaran bahwa peserta Askes merasakan sangat puas dengan layanan yang diterimanya.7 pada tahun 2010 menjadi 87. Selain itu untuk memperlancar pertukaran informasi baik antara PT Askes (Persero) dengan peserta. juga memberi efek kebanggaan bagi pemiliknya. Program lainnya adalah program kemitraan. dan seluruh stake holder PT Askes (Persero). mulai tahun 2009 perusahaan terapkan pola baru yakni ada yang disebut hibah dan ada yang disebut dengan bantuan bersyarat. Tujuannya tentu saja untuk mempermudah kebutuhan informasi peserta misalnya seputar kartu peserta ber-barcode dan informasi mengenai dokter keluarga. Tahun Penentuan Grand strategy Askes di tahun 2012 masih tetap “fokus kepada pelanggan” yaitu ingin memberikan layanan terbaik kepada peserta dan mitra kerja Askes. Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) dengan peserta. PT Askes (Persero) mempergunakan suatu platform bernama ASTERIX.Sebagai wujud kesiapan PT Askes menyongsong Jaminan Kesehatan Nasional. Program besar yang dikerjakan lainnya adalah penggantian kartu peserta Askes yang tadinya berbahan kertas menjadi kartu berbahan plastik. Untuk itu sangat diperlukan persiapan terutama kompetensi yang dimiliki Duta Askes dalam memenuhi ekspektasi peserta. PT Askes (Persero) juga menerapkan Sistem Informasi Manajemen (SIM) berbasis teknologi informasi. 2012. Saat ini pula.

persiapan BPJS ini dirasa cukup berhasil dan memenuhi saasaran. Duta Askes dituntut untuk menunjukkan kesiapan diri. Sebagai perbandingan.Seluruh awak Askes pun tidak berhenti sampai disitu. Dan diharapkan penerapan SJSN inilah yang akan menjadi klimaks dari perjalanan panjang perusahaan ini. Jumlah itu berkurang sekitar 10 juta orang dari rencana awal yang ditetapkan sebanyak 96 juta orang. Pembangunan kesehatan negeri secara menyeluruh. Sedangkan rata-rata negara lower middle income mengalokasikan dana sebesar 4.2 di tahun 2012.2% anggaran belanjanya untuk program BPJS atau universal health coverage. . Ali Ghufron menjelaskan. Namun ia memastikan bahwa masyarakat miskin (poor) dan mendekati miskin (near poor) telah terjamin. nantinya akan ditingkatkan hingga 10 juta orang. Diharapkan 2019 sudah tercapai cakupan kesehatan universal yang menjangkau seluruh penduduk yang dikelola oleh BPJS Kesehatan. kinerja perusahaan sehat katagori AA. Tahun ini. adil. keterbatasan anggaran menjadi penyebab dikuranginya target awal penerima BPJS Kesehatan. PT Askes (Persero) pun terus bersikap proaktif untuk mendukung implementasi pelaksanaan program jaminan kesehatan dengan mendorong percepatan penyusunan peraturan perundangan sebagai pelaksanaan Undangundang Nomor 24 tahun 2011 tentang BPJS melalui upaya-upaya yang bersifat advokasi atau dengan memberikan masukan dan saran kepada pihak regulator terkait. karena sebagian dananya dipergunakan untuk membangun fasilitas kesehatan. Pengurangan target tersebut dirasa cukup realistis karena jumlah anggaran yang dimiliki terbatas.2 atau meningkat menjadi 88. masyarakat miskin di sana masih harus membayar lagi sekitar 40-60%. Setiap tahun. 2013. "Jumlahnya dikurangi hingga 10 juta orang dari rencana awal. semangat dan komitmen kerja keras yang semakin tinggi dalam mewujudkan sasaran utama perusahaan yaitu mempertahankan tingkat kepuasan peserta minimal 87. dan bermutu. 86 Juta Rakyat Di-Cover BPJS Kesehatan Pemerintah menetapkan jumlah warga yang dijamin BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan pada 2013 sebanyak 86 juta orang. fasilitas kesehatan baru bisa menjangkau sekitar 76. Jika dibandingkan dengan Filipina yang mengalokasikan sekitar 4% anggaran belanjanya untuk universal health coverage. Sedangkan di Indonesia hanya menambah rata-rata 30%. tambah Ali Gufron. dengan opini eksternal auditor Wajar Tanpa Pengecualian yang ke-20.4 juta orang melalui program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Indonesia hanya mengalokasikan 2." kata Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Ali Ghufron Mukti.3% dari anggaran belanjanya untuk universal coverage. Disamping terus menjaga dan meningkatkan kinerja perusahaan. Meskipun demikian.

Penghuni penjara dan panti yang miskin juga bisa mengakses asal mendapat rekomendasi dinas sosial. Sehingga hal ini menurutnya.809 dan secara kabupaten/kota akan kekurangan sekitar 64. "Namun penghitungan ini masih akan disempurnakan dengan menggunakan data tingkat hunian RS. farmasi) masih mencukupi dan seimbang. Pemenuhan Fasilitas Kesehatan Pemerintah melakukan kajian tentang kesiapan fasilitas kesehatan (faskes) untuk memberikan pelayanan rawat inap lanjutan secara nasional apabila 100 persen penduduk sudah menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.423 dan saat ini telah tersedia sebanyak 231. Provinsi seperti Jawa Barat. perawat. BPJS nantinya juga akan mencakup gelandangan dan orang miskin yang tidak punya identitas. bidan. hasil kajian kesiapan tenaga SDM ditemukan bahwa. Direncanakan juga akan dibangun RS pratama di 42 kabupaten/kota serta pembangunan puskesmas di 383 kecamatan yang belum punya puskesmas." kata Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti di Jakarta. secara disparitas provinsi tanpa melihat tingkat kepenuhan T T di RS akan terjadi kekurangan T T sebanyak 20. Sementara itu. Jawa Timur.000 tempat tidur lagi.6% dari 237 juta penduduk Indonesia. Jumat (11/5).167 tempat tidur.973 yang berarti masih ada kekurangan 10. Sedangkan Papua kelebihan. "Kesiapan jumlah tempat tidur ini dimasing-masing provinsi sangat bervariasi. Perhitungan kekurangan jumlah tempat tidur jika 100 persen penduduk punya jaminan kesehatan ini didasarkan pada estimasi WHO yaitu 1 tempat tidur per 1000 penduduk. Jawa Tengah." kata Wamenkes." katanya." ungkapnya. angka 86 juta tersebut sudah termasuk besar sebab jumlah penduduk miskin di Indonesia saja tidak sampai sebanyak itu. "Angka kemiskinan kita tahun 2010 sebanyak 12. . jika pesertanya belum mencapai 100 persen berarti jumlah yang ada masih mencukupi.Menurut Wamenkes. dokter umum. Ada yang justru kelebihan jumlah Tempat tidurnya dan ada yang kekurangan. "Dengan beroperasinya BPJS kesehatan diperkirakan akan diperlukan tempat tidur (TT) sebanyak 238. jadi kirakira ada 30 jutaan masyarakat miskin. dalam jangka pendek kebutuhan tenaga kesehatan inti (dokter spesialis. Jumlah tersebut sudah ditambah dengan jumlah penduduk pra miskin dan penduduk yang tidak memiliki penghasilan tetap. Lampung dan Sumatera Utara misalnya malah kekurangan. Saat ini masih dalam proses jika dilakukan penghitungan dengan cara ini tentunya akan menghasilkan penghitungan yang berbeda. Meski demikian.

tujuan akhir adalah penyelenggaraan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan dapat lebih baik dari sebelumnya dan seluruh masyarakat Indonesia memiliki atau terlindungi oleh jaminan sosial. kecepatan pertumbuhan tenaga kesehatan yang sesuai (dokter spesialis dan umum) tidak seimbang. Di samping itu. yang dipimpin Menko Kesra Agung Laksono di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Jakarta. sistem rujukan dan infrastruktur. pengaturan besaran iuran dan manfaat. pendidikan anak dan fasilitas dalam jangka panjang. . Gatot Subroto. Wakil Menteri Kesehatan Ali Gufron dan perwakilan dari seluruh kementerian dan lembaga terkait. komunikasi. Menurut Agung. preventif.Hanya saja kata Wamenkes. pembiayaan. Dikatakan. “Pokja BPJS Kesehatan akan menyiapkan roadmap kebutuhan supply side tentang fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan." kata Agung Selain itu. transformasi kelembagaan. spesialis yang mengalami hambatan karena letak geografisnya susah dan adanya risiko lain termasuk risiko stagnasi ilmu kedokterannya. manfaat kesehatan yang diberikan oleh BPJS Kesehatan bersifat komprehensif yakni promotif. 24 Tahun 2011." katanya. Manfaat kesehatan itu. terdapat masalah distribusi tenaga khususnya dokter umum. dan program. Demikian hasil Rapat Koordinasi tingkat menteri tentang Tindak Lanjut Pelaksanaan BPJS. dan sumber daya manusia dan capacity building. Inisiatif pun belum sesuai dengan risiko. penyelenggaraan kesehatan untuk orang miskin tidak terganggu. serta sistem rujukan. pemerintah pun sedang membahas roadmap transformasi PT Askes menjadi BPJS Kesehatan. "Jamkesmas akan mulai diserahkan kepada PT Askes mulai tahun 2013 sehingga pada saat BPJS Kesehatan yang akan dibentuk dan mulai beroperasi pada 1 Januari 2014. Menakertrans Muhaimin Iskandar. regulasi. empat pokja bidang BPJS Kesehatan akan membahas fasilitas kesehatan. dan rehabilitatif. Agung menjelaskan. Rabu (28/3). Keenam pokja tersebut terdiri dari dua pokja BPJS Ketenagakerjaan dan empat pokja BPJS Kesehatan. termasuk obat-obatan dan bahan medis habis pakai akan dirinci yang ditanggung dan yang tidak ditanggung. kuratif. sesuai dengan kebutuhan medis. Hadir dalam rapat itu antara lain. lanjutnya. Untuk itu saat ini sedang dilakukan upaya percepatan untuk keseimbangan pemenuhan kebutuhan dalam jangka panjang. Pemerintah Bentuk 6 Pokja BPJS Pemerintah membentuk enam kelompok kerja (pokja) dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sebagai implementasi Undang-undang No. Jln.

“Kami masih belum bisa menyebutkan berapa besaran iuran untuk BPJS. jaminan hari tua (JHT). perusahaan.JHT. RPP Jaminan Hari Tua.Jaminan Kecelakaan Kerja. Jaminan Hari Tua. dan manfaat. RPP Jaminan Pensiun.” kata Muhaimin. "Konsep lainnya adalah transformasi PT Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan dan muatan subtansi peraturan pelaksanaan tentang penahapan kepesertaan. sekaligus sebagai pendukung peraturan operasionalnya. Agung mengatakan. BPJS Ketenagakerjaan akan dibentuk pada 1 Januari 2014 dan beroperasi paling lambat 1 Juli 2015 untuk menyelenggarakan program. Rabu (28/3).Sementara itu. Jaminan Pensiun. yang berarti pemerintah tidak akan menanggung seluruh biaya BPJS bagi masyarakat. dan masyarakat mampu. transformasi. iuran. Menakertrans Muhaimin Iskandar menjelaskan dua pokja BPJS Ketenagakerjaan terdiri dari Pokja I membahas tentang pembiayaan. . dan program kerja. sedangkan Pokja II mengenai regulasi. kelembagaan. Bahkan. Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) JKK.” ujarnya di kantor Kemnakertrans. serta Perpres Manfaat Jaminan Pensiun yang dapat digunakan dalam pembahasan di Pokja. Besaran Iuran Persiapan pelaksanaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang ditargetkan beroperasi pada 2014 masih menemui banyak kendala. konsep dalam pembiayaan BPJS menggunakan sistem gotong-royong. ia masih belum berani membuka besaran angka ataupun persentase tanggungan bagi seluruh pihak. jaminan pensiun (JP) dan jaminan kematian (JKm). Dia menambahkan. Salah satu masalah krusial yang menjadi bahan perdebatan panjang ialah soal besaran iuran yang akan ditanggung oleh pemerintah. dalam rapat koordinasi yang dipimpin Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono. RPP Jaminan Kematian. Muhaimin mengatakan. Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) sesuai dengan tugas dan fungsinya bersama dengan Kementerian terkait telah menyelesaikan 5 draf regulasi implementasi SJSN yaitu RPP Jaminan Kecelakaan Kerja. dan Jaminan Kematian “Kedua pokja BPJS ketenagakerjaan telah menyiapkan 3 konsep untuk mengantisipasi persiapan pembentukan BPJS Ketenagakerjaan. kedua pokja BPJS ketenagakerjaan telah menyiapkan konsep tentang pengaturan iuran dan manfaat jaminan kecelakaan kerja (JKK). Jakarta. JP dan JKm.

pada tahap awal BPJS akan mengelola program Jamkesmas terlebih dulu. Rencananya pada tahap awal pemerintah akan mengalihkan program jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) yang saat ini dijalankan Kementerian Kesehatan kepada BPJS.” ujar Ali. besaran iuran merupakan komponen yang sangat krusial karena akan banyak pihak yang harus disatukan agar semua mendapatkan manfaat yang sama dalam iuran tersebut. Rabu (1/6). dijamin tapi dibatasi. sehinga jelas berapa besaran iurannya. sebelum mengelola jaminan sosial lain. pemerintah tidak akan menggunakan uang iuran masyarakat untuk pelaksanaan BPJS bidang kesehatan karena pemerintah sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp4 triliun bagi infrastruktur BPJS. . "Nanti akan ada peraturan pemerintah (PP) yang mengatur program Jamkesmas oleh BPJS. Bahkan penghitungan juga harus dilakukan untuk melihat beban fiskal selama 25 tahun ke depan. setelah Rancangan Undang-Undang (RUU) BPJS rampung. pemerintah akan menyiapkan skema pembayaran iuran untuk pelayanan Jamkesmas. Realisasi anggaran tersebut tinggal menunggu keputusan DPR. Terdiri dari paket yang dijamin. Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) Haris E Santoso menjelaskan. keputusan iuran tersebut harus berjangka waktu yang lama. Ali menambahkan. Menurutnya. akhir bulan depan akan disepakati mengenai besar iuran tersebut. selama ini belum ada kesepakatan mengenai kategori untuk pekerja formal dan pekerja informal. Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron juga masih belum mau membeberkan berapa kisaran iuran yang harus dibayar baik oleh pemerintah ataupun masyarakat. pemerintah akan memberikan anggaran Rp 1 triliun untuk infrastuktur persiapan BPJS bidang kesehatan. Haris menyebutkan. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono mengungkapkan. Kelak. pemerintah sudah berancang-ancang menyiapkan program jaminan sosial yang akan dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).” ujar Agung. sehingga tidak setiap tahun bisa didemo untuk diganti. Nantinya. Iuran tersebut nantinya akan disesuaikan dengan paket layanan yang akan diberikan. dijamin tapi sebagian. tidak dijamin. Pasalnya. termasuk soal iuran maupun subsidi pemerintah. “Akhir bulan depan akan kami putuskan berapa besaran iurannya. ke depannya tidak sampai penduduk usia tua membebani usia muda. Dengan demikian. ”Kami tidak akan menggunakan uang iuran masyarakat satu sen pun bagi persiapan BPJS. akan dihitung berapa rata-rata gaji untuk PNS dan rata-rata gaji non PNS. [] BPJS Akan Kelola Jamkesmas Kendati belum ada ketok palu dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)." kata Agung.Agung juga mengatakan.

mengingatkan kembali betapa mahalnya biaya untuk penanganan kesehatan. soal iuran dan kepesertaan BPJS.7 tahun yang mengidap penyakit langka guillain-barre syndrome (GBS)? Akibat mengidap GBS. mahalnya biaya kesehatan di Indonesia sudah melampaui batas kekuatan ekonomi dari mayoritas masyarakat." tutur Agung. pemerintah dan DPR telah menyepakati beberapa materi penting dalam pembahasan RUU BPJS. dia hanya mengandalkan ventilator dan obat-obatan. Untuk bertahan hidup. Sebab. Menurut Hasbullah. Salah satu contoh ialah penderita gagal ginjal. karena tidak terkait langsung dengan tata kelola dari BPJS. pada acara 8 Eleven Show yang tayang di Metro TV. Tapi memang ada beberapa masalah yang masih belum ada titik temu. Pemutakhiran NIK saat ini sedang diproses Kementerian Dalam Negeri dan mulai bergulir tahun ini. "Misal soal bentuk badan hukum BPJS yakni badan hukum publik.Selain itu. gadis berusia 4. Besarnya biaya yang harus ditanggung membuat orangtua bocah malang tersebut angkat tangan. penyelenggaraan Jamkesmas nanti akan mengacu pada nomor induk kependudukan (NIK). Pemerintah memakai NIK guna menentukan kelompok masyarakat yang harus mendapat subsidi dan mereka yang mesti membayar iuran pelayanan Jamkesmas. Diperkirakan. Lagi pula masalah tersebut sudah diatur dalam UU Sistem Jaminan Sosial Nasional. Masih banyak penduduk Indonesia lainnya yang mengalami hal serupa. Agung optimistis RUU BPJS bisa segera rampung. kemarin. Bukan cuma Shafa yang mengalami kesulitan. DPR menginginkan pengaturan kepesertaan dan iuran harus tercantum dalam salah satu bab di RUU BPJS. Berobat tidak lagi Beratkan Kantong Mahalnya biaya kesehatan di Indonesia sudah melampaui batas kekuatan ekonomi mayoritas masyarakat. Ambil contoh. Sekelumit kisah yang diceritakan kembali oleh Hasbullah Thabrany. masyarakat miskin tetap mendapat subsidi pemerintah sehingga tak perlu membayar iuran Jamkesmas. Kondisi itu . saat ini hanya sekitar 1% dari total penduduk Indonesia yang bisa mengakses layanan pengobatan bila mengidap penyakit berat. biaya perawatan Shafa membengkak hingga Rp600 juta. agar menjadi rujukan bagi BPJS.A dapun mereka yang memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap akan dikenakan iuran. Untuk melakukan cuci darah selama dua kali seminggu. Adapun pemerintah menilai kepesertaan dan iuran BPJS tak masuk dalam materi RUU. Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Agung menegaskan. pasien harus mengeluarkan biaya sekitar Rp5 juta per bulan. Setelah dirawat selama kurang lebih 10 bulan di RS St Carolus. tubuh gadis kecil itu lumpuh total. MASIH ingat dengan kisah Shafa Aza lia.

cuci darah. Anggota Komisi IX DPR Rieke Diah Pitaloka berpendapat. Penyakit yang tidak dijamin. "Semua skema pembiayaan dilakukan dalam bentuk paket. kemarin. Gede mencontohkan perseroannya menyediakan obat-obat paten kanker yang terkenal mahal. Pertama ialah golongan penyakit yangseluruhnya dijamin. pihak yang ditunjuk pemerintah menjadi BPJS. Dirut PT Askes (Persero). proses pengobatan harus dilakukan dua kali. pelayanan keluarga berencana. Padahal. "Ada yang sekali cure (pengobatan) harga obatnya mencapai Rp180 juta. rawat jalan. I Gede Subawa mengatakan seluruh penyakit --termasuk penyakit berat-ditanggung perseroannya. berdasarkan prinsip awal.tentunya sangat memprihatinkan karena layanan kesehatan sejatinya menjadi hak dasar umat manusia. sampai di mana persiapan BPJS-asuransi kesehatan nasional. tindakan medis kosmetik merupakan salah satu jenis layanan kesehatan yang tidak dijamin. benefitnya dia dapat bekerja dan berpenghasilan.Hasbullah. Namun. jaminan kesehatan harus mengacu ke prinsipcost-effectiveness. yang digelar Media Indonesia di Jakarta. seperti upaya bunuh diri. Untungnya telah lahir UU No 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang memungkinkan seluruh lapisan masyarakat mendapat jaminan layanan kesehatan. Lantas apa yang harus kita lakukan untuk mengantisipasi hal itu? Salah satu cara terbaik ialah memiliki asuransi kesehatan. menurut Ghufron. Sayangnya. timbul pertanyaan apakah seluruh penyakit bisa ditanggung dalam skema pembiayaan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) selaku pelaksana SJSN? Hal itu sempat menimbulkan polemik. obat." paparnya. kalau orang ini penyakitnya diobati. "Contohnya. dan operasi. Kedua ialah golongan penyakit yang tidak dijamin. . Artinya biaya yang dikeluarkan harus sesuai dengan manfaat jangka panjang ke depan. Pemerintah sempat menyatakan penyakit kronis tidak ditanggung BPJS. Golongan lainnya ialah penyakit yang dijamin. baru sekitar 40% penduduk di Indonesia yang memiliki asuransi kesehatan. layanan yang diberikan BPJS Kesehatan tidak boleh lebih rendah atau minimal sama dengan layanan yang diberikan PT Askes sekarang. BPJS harus mengakomodasi seluruh jaminan kesehatan dasar yang meliputi penyuluhan. Selain itu. Dalam talk show itu Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti memberi kepastian bahwa pemeritah akan memasukkan seluruh jenis penyakit di skema pembiayaan yang ditanggungBPJS pada 2014 nanti. rawat inap. tetapi terbatas." papar I Gede dalam talk show Executive Forum bertema Bedah kesehatan. Dijamin BPJS Terkait dengan perdebatan itu. ialah penyakit yang dibuat sendiri. Oleh karena itu dia mengingatkan. seperti pemberian kacamata. "Nantinya bakal ada penggolongan penyakit yang dijamin pemerintah. tidak lagi fee for services.

Menko Kesra HR Agung Laksono menambahkan. Menko Kesra telah membentuk tim penyiapan pelaksanaan untuk masing-masing BPJS yang keanggotaannya lintas kementerian. iuran. Menurut Chazali. transformasi BUMN menjadi BPJS mengamanatkan tidak adanya pengurangan atau penurunan manfaat serta pelayanan. untuk menyelenggarakan SJSN dibutuhkan peraturan pelaksana dari UU SJSN dan UU BPJS yang telah ditetapkan pada November 2011 menggariskan bahwa peraturan pelaksana untuk BPJS Kesehatan harus dapat dilaksanakan dalam kurun waktu satu tahun. Tak terkecuali proses transformasi PT Jamsostek (Persero) menjadi BPJS Ketenagakerjaan." kata Ketua DJSN Chazali Situmorang dalam penjelasannya usai menyerahkan kelima draf RPP SJSN kepada Menko Kesra HR Agung Laksono di Jakarta. tim BPJS Kesehatan diketuai oleh Wakil Menteri Kesehatan dan tim. Selasa (6/3). . BPJS Ketenagakerjaan diketuai oleh Sekjen Kemenakertrans." kata Menko Kesra. Sementara itu. seperti tenaga kerja yang menjadi peserta Jamsostek misalnya. bahkan bisa lebih baik. Menurut Menko Kesra. Wakil Ketua Komisi IX DPR Ahmad Nizar Shihab mengatakan. "Tiga hal pokok yang diatur dalam draf rancangan peraturan pelaksana SJSN adalah kepesertaan. hak normatif peserta yang terakomodasi dalam program jaminan sosial. dan manfaat. yaitu RPP jaminan kesehatan. Sedangkan untuk BPJS Ketenagakerjaan harus dapat diselesaikan dalam kurun waktu dua tahun. akan tetap sama. dan rancangan peraturan presiden tentang manfaat pensiun. RPP jaminan hari tua. DPR Janji Tak Ada Penurunan Manfaat DPR menjamin transformasi badan usaha milik negara (BUMN) penyelenggara jaminan sosial menjadi badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) tidak akan menurunkan pelayanan dan manfaat program jaminan sosial." ujarnya. DJSN sebelumnya juga telah menyampaikan draf rancangan Perpres Jaminan Kesehatan dan RPP Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan. "Untuk menyiapkan regulasi tersebut. Kelima draf rancangan peraturan pelaksana SJSN.5 Draf RPP Telah Disiapkan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) telah menyiapkan lima draf rancangan peraturan pelaksana (RPP) Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). "Keduanya kini sedang dibahas oleh tim penyiapan pelaksanaan BPJS. RPP jaminan pensiun. Dalam hal ini. RPP jaminan kesehatan masyarakat.

salah satunya pelayanan dan manfaat yang diterima peserta jaminan sosial saat ini." ujarnya. bahkan harus bertambah. Penundaan tersebut sebagai persiapan program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).penentuan harga obat generik menjelang BPJS Kesehatan harus mempertimbangkan daya beli masyarakat. melakukan koordinasi dengan pihakpihak terkait. Pengendalian Obat Menuju BPJS Kesehatan 2014 Sementara itu Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan belum berencana untuk menaikkan harga jual obat generik pada 2012. Hal ini juga memang diperlukan pemahaman yang sama tentang BPJS kesehatan yang diperuntukan bagi masyarakat seluruh Indonesia termasuk di dalamnya peserta lama yaitu PNS dan pensiunan PNS. serta menyiapkan SDM yang handal untuk masa depan. Yang terakhir ini antara lain adalah menyusun berbagai konsep untuk masukan dan usulan bagi penyusunan peraturan dan perundangan yang dibutuhkan. . Yaitu menyusun sistem. prosedur aspek strategik. Seperti diketahui. termasuk tenaga kerja. hingga akhir 2012 belum ada rencana untuk menaikkan harga jual obat generik."Dalam proses transformasi ini." ujarnya. Ini agar tidak terjadi salah persepsi tentang Askes dan BPJS. Saat ini. Karena itu. Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan. proses pembahasan Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS menghasilkan kesepakatan pembentukan BPJS Kesehatan (transofrmasi dari PT Askes (Persero) dan BPJS Ketanagakerjaan (transofrmasi dari Jamsostek). sejumlah hal tidak boleh berubah." kata Nizar yang juga Ketua Panitia Khusus RUU BPJS DPR ini di Jakarta. Kami khawatirkan jika tidak dikaji dengan matang akan berdampak pada sistem jaminan kesehatan nasional (SJSN). khususnya kelas menengah ke bawah. Namun. Menkes menyampaikan. "Kami akan mengupayakan hal tersebut. Direktur Utama PT Askes (Persero) I Gede Subawa meyakinkan bahwa sebelum UU BPJS disahkan November tahun lalu. "Kenaikan harga obat generik harus melalui kajian yang matang terlebih dahulu. kemarin. I Gede Subawa menjelaskan ada beberapa langkah yang telah disiapkan dalam proses transformasi PT Askes (Persero) menjadi BPJS Kesehatan. pemerintah sedang mengkaji pemberlakuan BPJS. program jaminan pemeliharaan kesehatan (JPK) yang diselenggarakan Jamsostek akan dipindahkan ke BPJS Kesehatan. dan aspek operasional. terdapat beberapa rekomendasi ke DPR salah satunya adalah manfaat peserta lama (yaitu PNS beserta keluarga) tidak boleh berkurang.

Direktorat Jenderal Hak Cipta.BPJS dibentuk sebagai tanggung jawab pemerintah untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat. Karena itu. sehingga harga produk obat menjadi mahal. Di sisi lain. Endang mengungkapkan. "Produsen obat di Tanah Air juga masih mengimpor bahan baku. Disisi lain. ungkap Endang.harga obat ini misteri sehingga pihaknya masih mencari cara bagaimana menurunkannya. Bagi rumah sakit selaku pemberi pelayanan kesehatan (PPK) bagi peserta. DPHO sendiri telah mendapatkan Hak Cipta Intelektual yang dilindungi UU dan terdaftar pada Departemen Kehakiman Republik Indonesia. pihaknya juga berharap industri farmasi berperan aktif saat BPJS Kesehatan mulai berlaku tahun 2014. adalah daftar obat-obat meliputi Obat Esensial Nasional (OEN). Direktur Utama PT Askes (Persero). perhimpunan profesi. PT Askes (Persero) membuat suatu standar obat yang disusun berdasarkan daftar obat-obatan. ini akan langsung mengontrol pasar obat.pembentukan BPJS yang direncanakan pada 2014 akan mendorong konsumsi obat di masyarakat secara luas. manfaat lain dari adanya DPHO ini adalah adanya jaminan mutu dan jaminan ketersediaan obat. Jika ini bisa dilakukan di rumah sakit besar. karena jenis obat yang dibutuhkan tetap dan tidak dipengaruhi oleh perubahan tenaga medis di rumah sakit. manfaat DPHO sangat terasa untuk mempermudah Instalasi Farmasi Rumah Sakit dalam pengadaan obat. obat generik. terutama golongan yang tidak mampu. terutama golongan yang tidak mampu. Bagi . Bersama tim penyusun obat yang melibatkan unsur terkait seperti farmakolog. Paten. Secara berkala dilakukan revisi dan evaluasi terhadap obat-obatan baik yang sudah tercantum dalam DPHO maupun obat-obat baru yang akan dimasukkan dalam DPHO. akan meningkat. Hal ini juga akan sangat membantu kontrol penggunaan dan harga obat. Merk. Daftar ini dikaitkan dengan harga tertinggi dari setiap obat yang disebut Daftar Plafon Harga Obat (DPHO). Selain itu penetapan DPHO bertujuan agar terlaksananya pelayanan obat yang efektif dan aman bagi peserta Askes. Karena itu. regulator (Dirjen Yanfar dan Badan POM) serta perwakilan dari Rumah Sakit Pendidikan Kedokteran. harga obat di Indonesia saat ini masih salah satu yang tertinggi di dunia. akan sangat membantu masyarakat karena dokter tidak bisa membuat resep sembarangan. Dengan adanya BPJS. DPHO yang telah diterbitan sejak tahun 1987 dan sampai saat ini DPHO sudah sampai pada edisi XXXI ini. PT Askes (Persero) yang ke depan akan menjadi BPJS Kesehatan telah memilihi sistem pengendalian obat yang sudah ada sejak tahun 1987. di pasaran juga ditemukan fenomena harga obat generik bermerek yang disamakan dengan obat paten. daya beli masyarakat secara luas.dia melanjutkan. spesialis dari organisasi profesi. pemerintah juga mempertimbangkan pengadopsian penerapan resep elektronik (electronic prescription) dari RSCM di semua rumah sakit di Indonesia. obat branded generik dan obat branded. serta adanya kepastian jenis dan harga obat yang dijamin." paparnya. Penyusunan DPHO merupakan salah satu upaya dalam kendali mutu dan biaya. Sistem tersebut. I Gede Subawa. Menurut dia. “Selain untuk melindungi peserta dari pemakaian obat yang efektif dan aman.

BPJS Kesehatan akan memberikan jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia. tetapi baru beroperasi paling lambat 1 Juli 2015." kata Menko Kesra Agung Laksono usai memimpin rapat koordinasi (rakor) tingkat menteri bidang kesra di Jakarta. Keputusan itu merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan Undang-Undang (UU) No 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). jumlah obat yang tercantum sebanyak 1646 item naik 1. Hingga pada DPHO Edisi XXXI Tahun 2012. Seperti diketahui bahwa akhir tahun 2011. pemerintah bersama DPR telah mengesahkan UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang merupakan turunan dari UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). "Dua BPJS yang segera beroperasi adalah BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. dengan cakupan peserta yang besar manfaatnya akan memperbesar posisi tawar sehingga harga obat tersebut akan lebih efisien dan sistem pembiayaan terkendali. 2 Triliun Modal Awal Dua BPJS Pemerintah akan mengalokasikan anggaran Rp 2 triliun dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk modal awal bagi dua badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS). Dijelaskan." tuturnya. Sedangkan bagi PT Askes (Persero). "BPJS Kesehatan akan dibentuk dan mulai beroperasi pada 1 Januari 2014. "Pemerintah nanti akan menyiapkan perangkat peraturan pelaksanaan UU Nomor 24 Tahun 2011 yang terdiri dari 8 peraturan pemerintah (PP). BPJS Kesehatan merupakan transformasi dari PT Askes (persero)." ujarnya.Industri farmasi. Selasa (10/1).67 % dari tahun 2011 (1. dan jaminan kematian. dan 1 keputusan presiden (keppres). UU Nomor 24 Tahun 2011 bersifat penetapan dan pengaturan kelembagaan yang akan menyelenggarakan kelima jaminan sosial bagi rakyat Indonesia. jaminan hari tua. "BPJS Ketenagakerjaan akan dibentuk 1 Januari 2014. jaminan pensiun. Sebelumnya PT Askes melaksanakan program pemerintah lewat jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) bagi sekitar 76 juta orang.619) dengan rincian obat nama generik 597 item dan obat dengan nama dagang / brand name sebanyak 1049 item. BPJS Ketenagakerjaan merupakan transformasi dari PT Jamsostek (Persero)." kata Agung. Obat-obatan tersebut berasal dari 87 pabrik yang didistribusikan oleh 23 distributor. manfaat DPHO dengan jumlah peserta yang besar merupakan potensi pasar tersendiri. .” jelas I Gede Subawa. Sedangkan BPJS Ketenagakerjaan menyelenggarakan program jaminan kecelakaan kerja. 7 peraturan presiden (perpres).

dan selanjutnya kesepakatan akan menjadi usulan untuk RPP khususnya terkait dengan Peraturan Presiden tentang Jaminan Kesehatan . Kementerian Pertahanan akan menyiapkan Peraturan Presiden tentang Pelayanan Kesehatan tertentu bagi anggota TNI/Polri bersama dengan Kementerian Kesehatan. Sebagaimana yang diamanatkan dalam UU BPJS bahwa ke depan." kata Agung. Juga melakukan supervisi pada proses transformasi PT Askes menjadi BPJS Kesehatan. akan segera menyelesaikan RPP PBI (Penerima Bantuan Iuran) yang juga sudah lama disiapkan. Untuk Kementerian Sosial dan TNP2K. dan jaminan kematian. hal ini akan terus kami bahas hingga menemukan titik temu. jaminan pensiun. PT Askes akan melakukan transisi pelaksanaan program Jamkesmas menuju BPJS Kesehatan." kata Agung menegaskan Askes – Jamsostek Siap Berkoordinasi Sementara itu. Kementerian BUMN dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi memberikan supervisi transformasi PT Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu. "Sementara itu.Delapan kementerian sebelumnya yang ditunjuk dalam pembahasan UU BPJS segera menyiapkan dan menyelesaikan regulasinya. jaminan hari tua. menurut Agung. Sedangkan Kementerian BUMN bersama Kementerian Kesehatan segera menyiapkan roadmap penyiapan aspek supply side. Dia menambahkan. Menurut Direktur Utama PT Askes (Persero). "Kementerian Kesehatan akan segera menyelesaikan Perpres tentang Jaminan Kesehatan yang sudah lama disiapkan. Untuk penyiapan regulasi dipimpin oleh Wakil Menteri Kesehatan yang segera membuat tim bersama kementerian/lembaga terkait. Jika di dalamnya terdapat perbedaan benefit atau iuran. lembaga Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) melakukan pekerjaan sesuai dengan tugas dan fungsinya membantu menyiapkan bahan regulasi itu. kepesertaan Jaminan Pelayanan Kesehatan (JPK) yang dimiliki Jamsostek akan dialihkan ke BPJS Kesehatan.” jelas I Gede Subawa . sebagai badan yang diamanahkan melaksanakan program jaminan kesehatan secara nasional. “Kami tentu siap dan akan terus berkoordinasi dalam proses peralihan kepesertaan dari JPK Jamsostek. Jamsostek sebagai BPJS Ketanagakerjaan hanya akan mengolola program jaminan kecelakaan kerja. Transformasi PT Asabri ke BPJS Ketenagakerjaan dilaksanakan secara bertahap sampai dengan 2029. seperti fasilitas kesehatan beserta tenaga medis yang diperlukan untuk menunjang jaminan kesehatan. PT Askes (Persero) dan PT Jamsostek (Persero) menyatakan diri mereka siap untuk berkoordinasi dalam rangka pengalihan program jaminan kesehatan yang dikelola Jamsostek ke BPJS Kesehatan.

Askes pada dasarnya siap dalam mengelola program jaminan kesehatan nasional yang diamanahkan UU BPJS. “Pada prinsipnya bisnis proses yang dijalankan Askes adalah sama dengan yang tertera dalam UU SJSN. Askes telah memiliki SDM dan sistem informasi teknologi yang nantinya akan siap menjalani program jaminan kesehatan secara nasional. yang nantinya akan berkoordinasi dengan kementerian terkait. Direktur Utama PT Jamsostek (Persero) Hotbonar Sinaga yang juga hadir dalam pertemuan ini menyambut baik koordinasi yang mungkin akan berlangsung hingga dua tahun ke depan. juga telah diadakan pertemuan antara DJSN – Askes – Jamsostek yang membahas tentang roadmap yang akan ditempuh dalam proses persiapan operasional BPJS Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan. Jakarta Pusat.” ujar Hotbonar Sinaga. Chazali Husni Situmorang. Empat hari sebelum diadakan pertemuan antara Askes dan Jamsostek ini. hanya merupakan peningkatan volume kerja. “ papar Chazali. “Tentu saja kami menyambut baik hal ini. DJSN juga telah membentuk Tim Adhoc untuk penyelesaian RPP. bersinergi dengan kementerian terkait dan mengintegrasikan berbagai kegiatan dalam pokja-pokja yang dibentuk oleh Askes dan Jamsostek. kami akan terus berkoordinasi dengan BPJS Kesehatan dalam hal ini PT Askes (Persero) untuk proses pengalihan jaminan kesehatan yang sudah kami kelola. RPerpres dan RKepres yg diamanatkan UU BPJS. Jadi bagi kami ini merupakan sebuah pekerjaan yang sudah biasa kami lakukan.” tambahnya. I Gede Subawa juga menambahkan. kedua BPJS yang berperan sebagai operator akan memberikan masukan dari masing-masing RPP. selama dua tahun ke depan. [] . dalam pengajuan draft RPP hanya bisa dilakukan oleh kementerian terkait.dalam Pertemuan antara Askes – Jamsostek (16/01) di Hotel Kawanua. Tujuannya agar penanganan atau proses persiapan lebih fokus dan lebih cepat dalam proses persiapan. Cempaka Putih. “Untuk ini dalam hal ini DJSN telah membuat dua tim kerja (Pokja) yang masing-masing bertugas untuk mem-back up dan men-support BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Ketua Dewan Jaminan Sosial Nasiona (DJSN) yang hadir dalam pertemuan ini menyatakan khusus untuk aspek legal operasional BPJS.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful