Anda di halaman 1dari 11

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi Osteoartritis Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif non inflamasi yang ditandai dengan degenerasi tulang rawan sendi, hipertropi tulang pada tepiannya dan perubahan membrane sinovial disertai dengan nyeri dan kekakuan. Osteoartritis merupakan suatu penyakit dengan perkembangan slow progressive, ditandai adanya perubahan metabolik, biokimia, struktur rawan sendi serta jaringan sekitarnya, sehingga menyebabkan gangguan fungsi sendi. Kelainan utama pada OA adalah kerusakan rawan sendi yang dapat diikuti dengan penebalan tulang subkondral, pertumbuhan osteofit, kerusakan ligamen dan peradangan ringan pada sinovium sehingga sendi yang bersangkutan membentuk efusi.4,5

3.2 Etiologi Osteoartritis Faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya osteoarthritis dipengaruhi oleh: 1. Umur Umumnya OA banyak ditemukan pada usia > 50 tahun, karena pembentukan kondrotin sulfa merupakan substansi dasar tulang rawan berkurang dan dapat terjadi fibrosis tulang rawan.4 2. Jenis kelamin Kelainan ini bisa ditemukan pada pria dan juga wanita, dimana OA primer banyak ditemukan pada wanita pasca menopause dab OA sekunder banyak ditemukan pada laki-laki. 3. Ras OA lebih sering terjadi pada orang asia terutama Cina, kemudian juga terjadi lebih banyak pada orang Eropa dan Amerika dari orang kulit hitam. 4. Genetik

OA banyak disebabkan oleh faktor keturunan, seperti ibu yang menderita OA akan menyebabkan anaknya mempunyai risiko 2 kali lebih besar menderita OA. 5. 6. 7. 8. Trauma Obesitas Pekerjaan Kepadatan tulang

3.3 Klasifikasi Oteoartritis 3.3.1 Osteoartritis primer Osteoartritis primer disebut idiopatik, yaitu OA yang kausanya tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik. a. Lokalisata : Lutut, Spinal apophyseal, Pinggul-pangkal paha, Tangan, Kaki, Lain-lain (bahu, siku, pergelangan tangan, dan pergelangan kaki). b. Generalisata Tangan (nodes heberden), Tangan, lutut dan spinal apophyseal (OA generalisata).

Gambar 3.1 Predileksi OA

3.3.2 Osteoartritis sekunder Osteoartritis yang didasari kelainan endokrin, inflamasi, displastik, kegagalan struktur, metabolik, pertumbuhan, mikro dan makro trauma, imobilitas yang terlalu lama serta faktor risiko lainnya, seperti obesitas dan sebagainya.14,30

3.4 Patogenesis dan Patologi Osteoartritis Pada OA terdapat proses degenerasi, reparasi, dan inflamasi yang terjadi dalam jaringan ikat, lapisan rawan, sinovium dan tulang subkondral. OA dipandang sebagai akibat dari proses penuaan yang tidak dapat dihindari. Tulang rawan sendi memiliki letak strategis, yaitu diujung-ujung tulang untuk melakukan dua fungsi, yaitu: menjamin gerakan yang hamper tanpa gesekan di dalam sendi berkat adanya cairan sinovium dan sebagai penerima beban, menebarkan beban keseluruh permukaan sendi sedemikian sehingga tulang dibawahnya dapat menerima benturan dan berat tanpa mengalami kerusakan.4,6,7 Kedua fungsi tersebut mengharuskan tulang rawan elastin dan memiliki daya regang yang tinggi. Kedua ciri ini dihasilkan oleh dua komponen utama tulang rawan, yaitu tipe khusus kolagen dan proteoglikan yang keduanya dihasilkan oleh kondrosit.4,6,7 Para pakar berpendapat bahwa OA merupakan penyakit gangguan homeostatis dari metabolism kartilago yang penyebabnya belum jelas. Seperti pada tulang rawan orang dewasa, tulang rawan sendi tidak statis, tulang ini mengalami pertukaran, komponen matriks tulang tersebut menjadi aus, diuraikan dan diganti. Kondrosit disini berguna untuk mempertahankan keseimbangan yang tidak saja mensintesis matriks tetapi juga mengeluarkan enzim (kolagenase dan

proteoglikanase) untuk menguraikan matriks. Oleh karena itu, kesehatan kondrosit dan kemampuan sel ini yang memelihara sifat essensial matriks tulang rawan untuk menentukan integritas sendi, dan hal ini yang terganggu pada penyakit osteoarthritis.4,6,7

10

Jejas kimiawi dan mekanis yang terjadi pada sendi merangsang terbentuknya molekul abnormal dan produksi degenerasi kartilago dalam cairan synovial sendi yang dapat mengakibatkan terjadinya inflamasi sendi, kerusakan sendi dan nyeri. Peningkatan degradasi kolagen juga dapat mengubah keseimbangan metabolism tulang rawan sendi, sehingga berakumulasi disendi dan menghambat fungsi tulang rawan sendi serta menyebabkan inflamasi sendi. Pada OA juga terjadi peningkatan proses finrinogenik dan penirinan fibrinolitik, sehingga menyebabkan penumpukan thrombus dan kompleks lipid pada pembuluh darah subkondral yang menyebabkan terjadinya iskemia dan nekrosis jaringan subkondral. Selanjutnya terjadilah pelepasan mediator kimia yang juga akan berakhir dengan proses inflamasi sendi.4,6 Peradangan atau inflamasi pada sendi inilah yang mengakibatkan nyeri pada sendi. Adanya osteofit yang menekan periosteum dan radiks saraf yang berasal dari medulla spinalis serta kenaikan tekanan intrameduler akibat stasis vena intrameduler karena remodeling pada trabekula dan subkondral juga menyebabkan sakit pada sendi.

11

Gambar 3.2 Tahapan Osteoartritis

Kelainan primer adalah penipisan dan fragmentasi kartilago artikularis, permukaan sendi yang secara normal licin berwarna putih menjadi irregular dan kuning. Hilangnya kartilago artikularis yang berlanjut menyebabkan pajanan tulang subkondral, yang terlihat sebagai focus berkilau pada permukaan sendi (eburnasi). Selain itu juga terjadi fibrosis, peningkatan pembentukan tulang berbentuk nodul (osteofit) dan perubahan kistik pada tulang yang terpajan. Pada stadium awal tulang rawan lebih tebal daripada yang normal tetapi seiring dengan perkembangan OA permukaan sendi menipis, tulang rawan melunak, integritaspermukaan terputus dan terbentuk celah vertikal (fibrilasi). Dapat terbentuk

12

ulkus

kartilago

dalam

yang

meluas

ke

tulang,

juga

timbul

daerah

fibrokartilaginosa.semua kartilago menjadi aktif dan kondrosit melakukan replikasi, membentuk kelompok dan menjadi hiposeluler.

3.5 Penegakan Diagnosis 3.5.1 Anamnesis Anamnesis berguna dalam menentukan diagnosis klinis dari penyakit osteoarthritis, didapatkan gejala klinis berupa nyeri sendi, kaku sendi, hambatan gerak sendi, krepitasi, pembengkakan sendi, deformitas dan perubahan gaya berjalan.

3.5.2

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik merupakan hal yang juga penting dilakukan dalam membantu

penegakan diagnosis osteoarthritis. Dimana pemeriksaan fisik digunakan untuk memastikan gejala yang diberitahukan oleh pasien dan melihat apakah sudah ada perubahan fisik akibat osteoarthritis tersebut.

3.5.3

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakan diagnosis

osteoartritis adalah pemeriksaan radiologi dan laboratorium, namun pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan pada osteoarthritis sekunder untuk mengetahui penyakit yang mendasari osteoarthritis tersebut.8 Pada pemeriksaan radiologi, yang dilakukan adalah pemeriksaan sinar-X atau rontgen, selain itu juga dapat dilakukan MRI namun jarang dilakukan.8 Gambarangambaran khas yang ditemukan pada foto sinar-X osteoartritis, yaitu: 1. Penyempitan celah sendi Penyempitan ini biasanya terjadi asimetris pada tempat yang menanggung beban maksimal, karena hilangnya kartilago pada tulang. Penyempitan secara progresif bisa menyebabkan kontak langsung antara tulang.9

13

Gambar 3.3 Penyempitan celah sendi pada OA

2.

Peningkatan densitas (sklerosis) Degenerasi tulang yang terjadi pada osteortritis menyebabkan terjadinya perubahan masa tulang pada sendi di permukaan tulang dan mengakibatkan timbulnya skelrosis pada tulang subkondral.9

Gambar 3.4 Peningkatan densitas pada OA

14

3.

Adanya osteofit Osteofit sering disebut dengan istilah taji dari tulang yang biasanya terbentuk pada daerah pinggir sendi. Hal ini merupakan respon perbaikan dari kerusakan kartilago.9

Gambar 3.5 Osteofit pada OA

4.

Adanya kista Kista subkondral adalah kantung yang berisi cairan yang berasal dari sendi yang kebanyakan adalah asam hyaluronic.9

Gambar 3.5 Kista pada OA

15

Melalui pemeriksaan radiologi juga dapat ditentukan grading Moll dari osteoartritis, yaitu: Grade 0 = normal Grade 1 = meragukan/ tidak jelas Grade 2 = OA minimal yaitu, osteofit minimal di dua tempat, sklerosis subkondral minimal, kista subkondral yang samar, celah sendi normal dan tidak ada deformitas di ujung tulang. Grade 3 = OA sedang yaitu, osteofit sedang, ada deformitas di ujung tulang dan celah sendi menyempit. Grade 4 = OA berat yaitu, osteofitnya besar, ada deformitas di ujung tulang, celah sendi hilang, ada sklerosis dan ada kista.

3.6 Penatalaksanaan Osteoatritis Tujuan dari penatalaksanaan pasien yang mengalami OA adalah untuk edukasi pasien, pengendalian rasa sakit, memperbaiki fungsi sendi yang terserang dan menghambat penyakit supaya tidak menjadi lebih parah. Penatalaksanaan OA terdiri dari terapi non obat (edukasi, penurunan berat badan, terapi fisik dan terapi kerja), terapi obat, terapi lokal dan tindakan bedah.4

3.6.1

Terapi Non Farmakologi Penatalaksanaan non-farmakologi berupa penerangan yaitu, agar pasien

mengetahui sedikit seluk-beluk tentang penyakitnya, bagaimana menjaga agar penyakitnya tidak bertambah parah. Kemudian terapi fisik dan rehabilitasi yaitu, untuk melatih pasien agar persendiannya tetap dapat dipakai dan melatih pasien untuk melindungi sendi yang sakit. Penurunan berat badan terutama yang berlebihan ternyata merupakan faktor yang akan memperberat penyakit OA. Oleh karenanya berat badan harus selalu dijaga agar tidak berlebihan. Apabila berat badan berlebihan, maka harus diusahakan penurunan berat badan, bila mungkin mendekati berat badan ideal.4

16

3.6.2

Terapi Farmakologi Terapi farmakologi pada OA bersifat simptomatik. Nyeri sendi sering dapat

dikontrol dengan hanya analgetik sederhana. Untuk nyeri yang parah dapat menggunakan dekstrapropoksifen hidroklorida, tramadol. Selain itu juga terapi topikal seperti krim analgetik juga bisa digunskan. NSAID dosis rendah juga bisa diberikan jika tidak ada kontraindikasi. NSAID bisa menurunkan nyeri dan dapat memperbaiki mobilitas.4

3.6.3

Terapi Bedah Terapi ini diberikan apabila terapi farmakologik tidak berhasil untuk

mengurangi rasa sakit dan juga untuk melakukan koreksi apabila terjadi deformitas sendi yang mengganggu aktivitas sehari-hari.4

3.7 Komplikasi Osteoartritis Penderita OA lutut, apabila tidak diberikan pertolongan yang cepat maka pada sendi tersebut dapat terjadi gangguan antara lain 1) gangguan pada waktu berjalan karena adanya pembengkakan akibat peradangan, 2) terjadi kekakuan pada sendi lutut karena peradangan yang berlangsung lama sehingga struktur sendi akan mengalami perlengketan, 3) terjadi atrofi otot karena adanya nyeri, maka penderita enggan melakukan gerak pada sendi lutut, sehingga apabila sendi lutut lama tidak digerakkan dapat menyebabkan otot-otot pada sendi lutut atrofi atau disuse atrofi. Otot dapat mengalami atrofi sampai 30 % dalam seminggu, sedangkan otot dalam keadaan istirahat akan kehilangan fungsi sebanyak 3 % per hari, 4) menurunnya fungsi otot akan mengurangi stabilitas sendi terutama sendi penumpu berat badan, sehingga dapat memperburuk keadaan penyakit dan menimbulkan deformitas. Penurunan fungsi otot selanjutnya dapat menurunkan kemampuan aerobik serta kapasitas fungsional.4

17

3.8 Prognosis Osteoartritis Prognosis osteoarthritis umumnya baik. Sebagian besar nyeri dapat diatasi dengan obat-obatan konservatif. Hanya pada kasus-kasus berat yang memerlukan operasi.10

3.9 Hubungan dengan kasus Kasus Tn. MR merupakan kasus osteoartritis yang berada pada lumbal yaitu L4-L5, yang sudah terdapat Tampak penyempitan rongga L4-L5, sklerotik (+) dan osteofit (+). Namun belum ada deformitas di ujung sendi. Sehingga dari gambaran tersebut masih belum bisa dikatakan pasti diagnosisnya adalah OA berat dengan grade 4.