Anda di halaman 1dari 32

Konversi Trafik yang Dimuat ke Trafik yang Ditawarkan

Untuk keperluan pendimensian maupun analisa kinerja jaringan, diperlukan informasi trafik yang ditawarkan ke jaringan (offered traffic) Jenis trafik yang dapat diukur adalah carried traffic Diperlukan metoda untuk mengkonversi carried traffic ke offered traffic

EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Beberapa masalah yang dihadapi


Hasil konversi tidak selalu memuaskan (terutama apabila beban mencapai 80% atau lebih) Proses konversi tidak begitu sederhana; apalagi bila berkas termaksud tidak sempurna dan trafik yang ditawarkan tidak acak Ada masalah pengulangan panggilan yang sulit untuk dikuantifikasi secara tepat
EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Klasifikasi kasus
Trafik acak ditawarkan ke berkas sempurna Trafik acak ditawarkan ke berkas tak sempurna Trafik tidak acak ditawarkan ke berkas sempurna Trafik tidak acak ditawarkan ke berkas tidak sempurna

EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Rumus Dasar
Y = A (1 B)
Y = trafik yang dimuat (carried traffic) A = Offered traffic B = Kongesti

EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 1
Trafik acak dan berkas sempurna
B dapat dihitung menggunakan rumus rugi Erlang (B = B(N,A) = EN(A)) A dapat dihitung menggunakan rumus dasar dan rumus rugi Erlang serta informasi Y
Menyatakan A secara eksplisit sebagai fungsi Y dan N tidak dapat dilakukan

Digunakan relasi rekursif dari rumus dasar lalu diselesaikan secara iteratif
Ai+1= Y/(1-B(N,Ai))
EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 1 (cont.)
Sebagai harga permulaan, diambil A0 = Y Proses iterasi dilakukan hingga perbedaan antara A yang berurutan cukup kecil

EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 1 (cont.)
Contoh : Bila Y = 10,5 Erlang dan N = 15 saluran
Iterasi ke i Trafik Ai Kongesti : B(N,Ai)

0 1
2

10,5 11,02
11,16

0,0470 0,0593
0,0628

3
4 5

11,20
11,22 11,22

0,0639
0,0644 0,0644

EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 1 (cont.)
Hal-hal yang mempengaruhi validitas hasil konversi Tidak tepatnya jumlah saluran (n)
Akibat adanya saluran rusak atau sedang diisolir

Kepekaan akan trafik hasil konversi lebih besar dibandingkan trafik yang dimuat bila beban saluran tinggi Peluang pengulangan panggilan tidak diketahui
Yang diketahui : bila kongesti besar, maka peluang pengulangan panggilan juga besar dan sebaliknya Trafik yang ditawarkan hasil konversi merupakan trafik yang ditawarkan sebenarnya ditambah trafik yang ditawarkan akibat pengulangan panggilan
EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 1 (cont.)
Masalah pengulangan panggilan
Salah satu model sistem pengulangan panggilan Trafik yang ditawarkan pertama kali pada berkas aluran N adalah : A Panggilan yang tidak berhasil memiliki peluang mengulang sebesar : m Jumlah rata-rata percobaan pemanggilan per panggilan : p Kongesti (peluang blocking) : B Trafik yang ditawarkan merupakan trafik acak dan berkas merupakan berkas sempurna
EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

10

Kasus 1 (cont.)
Masalah pengulangan panggilan (2) Maka : B = B(N,Ap) Y = Ap(1-B)
p = 1/(1-Bm)

11

Jadi Y = A(1-B)/(1-Bm); atau A = Y(1-Bm)/(1-B)

EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 1 (cont.)
Masalah pengulangan panggilan (3) Prosedur memperoleh offered traffic 1. Cari harga A dengan cara konversi yang biasa dilakukan 2. Hitung harga trafik yang ditawarkan sebenarnya (A) dengan cara menentukan harga peluang mengulang (m)

12

EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 1 (cont.)
Masalah pengulangan panggilan (4) Contoh : Y = 5 Erlang, N = 10
m 0,0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 1,0 A 5,10 5,09 5,08 5,07 5,06 5,05 5,00
EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

13

Kasus 1 (cont.)
Masalah pengulangan panggilan (5) Bila Y = 9,0 Erlang dan N = 10 saluran
m 0,0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 1,0 A 16,52 15,77 15,02 14,26 13,51 12,76 9,00
EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

14

Kasus 2
Trafik acak dan berkas tidak sempurna
Rumus dasar tetap dipakai, tetapi B tidak dapat langsung dihitung menggunakan rumus rugi Erlang B dihitung menggunakan rumus interkoneksi
Bisa digunakan rumus modifikasi Palm-Jacobaeus karena memberikan hasil yang aman

15

Jadi, rumus-rumus yang dipakai :


Y=A(1-B) rumus dasar B=R(N)=EN(A0)/EN-k(A0) rumus modifikasi PalmJacobaeus Rumus dasar menjadi : Y=A(1- [EN(A0)/EN-k(A0)]) (*)
A0 = merupakan trafik acak EN(A0) = rumus rugi Erlang

EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 2
Trafik acak dan berkas tidak sempurna (2) Rumus (*) bisa dipakai untuk menghitung harga A0 secara iterasi :
A0(n+1)=Y/(1-B(N,A0))

16

Setelah Ao diketahui, R(N) dapat dihitung sehingga A dapat diperoleh dari relasi :
A=Y/(1-R(N))

EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 2
Trafik acak dan berkas tidak sempurna (3)
Algoritma konversinya : 1. Dengan harga Y tertentu, dilakukan iterasi untuk menghitung A0 dengan rumus
A0(n+1)=Y/(1-B(N,A0))

17

2. Setelah A0 diketahui, R(N) dihitung menggunakan rumus R(N)=EN(A0)/EN-k(A0)


Harga N dan k dari sistem interkoneksi harus diketahui

3. Bila R(N) sudah diketahui, maka harga A dapat dihitung dengan rumus A=Y/(1-R(N))
EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 2
Trafik acak dan berkas tidak sempurna (4) Bila faktor pengulangan panggilan dimasukkan Gunakan rumus A=Y(1-Bm)/(1-B) dimana B dihitung menggunakan rumus R(N) yaitu
B=R(N)=EN(A0)/EN-k(A0) m = peluang melakukan pemanggilan ulang (bila tidak berhasil)

18

EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 3
Trafik tidak acak dan berkas sempurna
Menggunakan Metoda Schehrer Trafik yang tidak acak dapat dianggap sebagai trafik luap dari berkas tertentu (kita sebut berkas primer) dan ditawarkan ke suatu berkas (kita sebut berkas sekunder) yang merupakan berkas sempurna
A(acak)

19

M1,V1

M2,V2

N1 (berkas sempurna)
Primer

N2(berkas sempurna)
Sekunder

EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 3
Trafik tidak acak dan berkas sempurna (2)
M1V1 dan z >1 (z=V/M); trafik ini ditawarkan ke berkas sekunder N2 (berkas sempurna) Beberapa relasi
Trafik yang dimuat di berkas primer :
Y1=A-M1 (**)

20

Trafik yang dimuat di berkas sekunder :


Y2=M1-M2 (***)

Variansi trafik luap dari berkas primer:


V1=M1[1-M1+{A/(N1+1+M1-A}] (***) (Remember Riordan)

Variansi trafik luap dari berkas primer:


V2=M2[1-M2+{A/(N1+N2+1+M2-A}] (****)

EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 3
Trafik tidak acak dan berkas sempurna (3)
Konversi yang akan dilakukan : diketahui Y2 (hasil pengukuran) dan N2, berapa M1? Menurut Schehrer (1976)
Momen trafik yang dimuat di berkas sekunder dalam momen Binomial (B) adalah sbb:
Y2=B1 dan Vd2=2B2+B1-(B1)2 (*****) dimana
Vd2=Variansi trafik yang dimuat di berkas sekunder B1= M1-M2 = Y2 (#) B2=(1/2)[V1-M1+(M1)2].{1-[(M2/M1)+{M2N2/(V1-M1+(M1)2)}]} (##) M1=A.EN1(A) (###) M2=A.EN1+N2(A) (####) EN(A) = merupakan rumus rugi Erlang dengan penawaran A (acak) dan N berkas sempurna
EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

21

Kasus 3
Trafik tidak acak dan berkas sempurna (4)
Untuk mencek, bila N1=0 (artinya trafik yang ditawarkan ke berkas sekunder adalah acak), maka :
M1=V1=A, sehingga dari (#) dan (##), diperoleh
Y2=B1=A-A.EN2(A) dan B2=(1/2)A{A-A.EN2(A).(1+N2/A)}

22

Bila dimasukkan ke rumus (*****), diperoleh


Vd2=A{A-AEN2(A)(1+N2/A)}+Y2-(Y2)2 Vd2=Y2-(Y2)2+(AY2-AEN2(A).N2) Vd2=Y2-(Y2)2+(AY2-N2(A-Y2)) Vd2=Y2-(A-Y2)(N2-Y2) Vd2=Y2-M2(N2-Y2), ini sama dengan rumus (5.9) di diktat
EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Trafik tidak acak dan berkas sempurna (5)


Langkah-langkah konversi 1. Dicek apakah trafik yang ditawarkan acak atau tidak
Gunakan rumus rekursif An+1=Y/(1-B(n,An)) A=M1, n=N2, Y=Y2 Secara iterasi akan diperoleh M1 Hitung variansi trafik menggunakan rumus (5.9), yaitu Vd2=Y2M2(N2-Y2)=Y2-(M1-Y2)(N2-Y2) Bila Vd2 sama (hampir sama) dengan variansi hasil pengukuran, maka trafik yang ditawarkan merupakan trafik acak, lalu langkah konversi dihentikan (Trafik yang ditawarkan: A=M1=V1). Bila tidak sama, lanjutkan ke langkah 2

Kasus 3

23

2.

Dari Y2 (hasil pengukuran) dan N2, tentukan N1 (bisa dimulai dari 1) dan hitung A yang memberikan Y2 dan N2 tersebut dengan rumus-rumus (#), (###),(####), yaitu : A=Y2/(EN1(A)-EN1+N2(A))
Hitung variansi trafik yang dimuat di berkas sekunder dengan rumus-rumus (*****),(#),(##),(###),(####),(#####), yaitu Vd2=2B2+B1-(B1)2
EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 3
Trafik tidak acak dan berkas sempurna (6) Langkah-langkah konversi (2) 3. Bandingkan harga variansi hasil perhitungan ini dengan harga variansi hasil pengukuran. Bila sama (hampir sama), hitung harga M1 dan V1 dari persamaan (###) dan (***) lalu langkah berhenti. Maka hasil konversi: trafik yang ditawarkan mempunyai harga : rata-rata M1 dan variansi V1. Bila tidak sama, naikkan harga N1 sebagai harga N1 yang baru untuk mulai lagi dengan langkah 2
EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

24

Kasus 3
Trafik tidak acak dan berkas sempurna (7) Contoh : suatu berkas terdiri dari 10 saluran dan merupakan berkas sempurna. Hasil pengukuran memberikan : trafik rata-rata yang dimuat : Y2=7,62 Erlang dan variansi trafik yang dimuat: Vd2=4,7 Erlang2. Berapa trafik yang ditawarkan ke berkas tersebut?

25

EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 3
Trafik tidak acak dan berkas sempurna (8) Langkah 1 Bila trafik yang ditawarkan dianggap acak, maka hasil konversi memberikan trafik yang ditawarkan sebesar 9,3 Erlang dan bila variansi trafik dimuat dihitung maka diperoleh 3,62. Nilai ini tidak sama dengan variansi trafik yang terukur, yaitu 4,7. Maka dapat disimpulkan trafik yang ditawarkan bukan trafik acak. Dengan demikian perlu dilanjutkan ke langkah berikutnya
EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

26

Trafik tidak acak dan berkas sempurna (9)


Langkah 1 dan 2 Langkah-langkah ini selalu membandingkan hasil perhitungan variansi yang dimuat dengan variansi hasil pengukuran. Bila sama (hampir sama), maka berhenti dan pada titik tersebut diperoleh harga rata-rata trafik yang ditawarkan (M1) dan variansi trafik yang ditawarkan (V1). Diperoleh hasil-hasil sbb:
Vd2=4,69 Erlang2 (variansi trafik yang dimuat di berkas sekunder, berbeda sedikit dengan hasil pengukuran (4,7 Erlang2) M1=10,8 Erlang Real system 2 V1=17,35 Erlang A=20 Erlang (trafik yang ditawarkan pada berkas primer) Sistem fiktif N1=10 saluran

Kasus 3

27

EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 4
Trafik tidak acak dan berkas tidak sempurna
Belum ada metoda konversi yang akurat Dengan memakai rumus modifikasi PalmJacobaeus, perhitungan variansi trafik yang dimuat di berkas sekunder dapat menggunakan rumus Schehrer. Sehingga, untuk konversi dari trafik yang dimuat di berkas sekunder (Y2) ke trafik yang ditawarkan ke berkas sekunder (M1) dapat digunakan metoda Schehrer Berbeda dengan metoda Schehrer yang sudah dijelaskan, untuk menghitung trafik luap dari berkas sekunder (M2) digunakan rumus rugi interkoneksi modifikasi Palm-Jacobaeus
EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

28

Kasus 4
Trafik tidak acak dan berkas tidak sempurna (2) Dalam pemakain rumus modifikasi PalmJacobaeus, digunakan relasi berikut :
Daya sambung = K = N1+N2 Jumlah saluran keluar = Nt=N1+N2

29

EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 4
Trafik tidak acak dan berkas tidak sempurna (3)
Dengan menggunakan rumus modifikasi Palm-Jacobaeus, maka metoda Schehrer yang diterapkan dalm kasus ini adalah sebagai berikut

30

1. Cek apakah trafik yang ditawarkan acak atau tidak dengan cara
Dari Y2 (hasil pengukuran) dan N2 serta daya sambung k2, hitung trafik yang ditawarkan M1 dengan rumus 11.1 dan 11.2 (di diktat), yaitu
R(N) = EN(A0)/EN-k(A0)

Y2=Ao(1-EN2(Ao))=A(1-R(N2))=A(1-[EN2(Ao)/EN2-k2(Ao)])
Dimana : A=M1, sehingga secara iterasi diperoleh Ao, maka akan diketahui pula R(N2) dan A(=M1)

Hitung variansi trafik yang dimuat dengan rumus (5.9) yaitu : Vd2=Y2M2(N2-Y2) = Y2-(M1-Y2)(N2-Y2)
A=M1 dan M2=A.R(N2).

Bila variansi hasil perhitungan ini sama (hampir sama) dengan variansi hasil pengukuran, berarti memang trafik yang ditawarkan merupakan trafik acak dan langkah berhenti. Bila tidak sama, teruskan ke langkah 2
EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 4
Trafik tidak acak dan berkas tidak sempurna (4)
2. Dari Y2 (hasil pengukuran) dan N2 serta k2, tentukan N1 (bisa dimulai dari 1) dan hitung A yang memberikan Y2 dan N2 tersebut. Dalam hal ini untuk R(N) dipakai rumus interkoneksi Palm-Jacobaeus dan untuk menghitung A dipakai relasi rumus berikut :
(Y1+Y2)=A(1-R(Nt))=A(1-[ENt(A)/ENt-K(A)]) A(1-[ENt(A)/ENt-K(A)])-Y1=Y2 A(1-[ENt(A)/ENt-K(A)])-A(1-EN1(A))=Y2 Maka A = Y2/(EN1(A)-[ENt(A)/ENt-K(A)])
Nt=N1+N2 M1=A.EN1(A) M2=A.ENt(A)/ENt-K(A)

31

Kemudian hitung variansi trafik yang dimuat di berkas sekunder dengan rumus-rumus Vd2=2B2+B1-(B1)2
EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

Kasus 4
Trafik tidak acak dan berkas tidak sempurna (5) 3. Bandingkan harga variansi hasil perhitungan ini dengan harga variansi hasil pengukuran.
Bila sama (hampir sama), hitung harga M1 dan V1 dari persamaan (###) dan (***), lalu langkah dihentikan. Maka hasil konversi : trafik yang ditawarkan mempunyai harga rata-rata M1 dan variansi V1. Bila tidak sama, naikkan harga N1 sebagai harga N1 baru untuk mulai lagi dengan langkah 2
EL372 - Tutun Juhana - Telematika EE Dept. ITB

32