Anda di halaman 1dari 1

KATA PENGANTAR

Pekerjaan da'wah memang tak kenal kata usai. Ia senantiasa bergulir bersama
cepatnya pergantian waktu. Makhluk Allah yang bernama manusia hari-demi hari juga
terus mengalami perubahan. Perubahan itu sejatinya tak lepas dari dua bentuk;
perubahan menuju model manusia positif atau justeru sebaliknya. Model manusia
positif adalah mereka yang mengalami perubahan dari buruk menjadi baik, bodoh
menjadi berilmu, maksiat menjadi shalih, mubtadi' menjadi muttabi', ateis, kufur,
murtad, berubah menjadi mu'min muwahhid. Semoga kita semua termasuk mereka
yang tak kenal lelah mencapai idealisme itu, tentu dalam bimbingan-Nya.
Melalui Jurnal Da'wah edisi kedua ini, lagi-lagi kita tetap akan membuka
lembaran sejarah perjuangan da'wah Islam. Sebuah perjuangan da'wah yang diemban
dari generasi kegenerasi oleh orang-orang pilihan disetiap masanya. Jika dalam edisi
pertama kita banyak belajar dari sosok M. Natsir dan M. Iqbal sebagai tokoh yang
menghusung ide-ide tajdid dalam era modernisme yang memiliki pergerakan kental di
bidang politik praktis, pendidikan, da'wah, dan lain-lain, kini pembaca akan diajak
untuk menelaah secara positif tentang sosok Muhammad bin Adul Wahhab, Ahmad
Syurkati, dan Buya Hamka. Meski ketiganya tak sezaman, namun ide-ide keIslaman
yang dituangkan kedalam aktifitas sehari-hari menunjukkan benang merahnya.
Setidaknya kita akan dapat mengatakan; Muhammad bin Abdul Wahhab adalah guru
bagi Ahmad Syurkati, dan Ahmad Syurkati adalah guru bagi Buya Hamka.
Pembahasan lainnya yang akan kita simak selain seputar gerakan da'wah
mahasiswa STID Mohammad Natsir di pulau Bali, penelitian perda Syari'ah di
Bulukumba, lagi-lagi kita tetap pada posisi studi kritik atas fikiran-fikiran alam Barat
yang terkenal sumbang terhadap nilai-niai keIslaman yang shahih. Salah satunya,
adalah kritik teori Progresifisme yang dikembangkan Barat sebagai teori pendidikan.
Apakah ia dibangun murni untuk membentuk manusia-manusia yang baik, ataukah
hanya sebuah upaya untuk menggeser konsep-konsep pendidikan yang berakar pada
tradisi Islam yang fundamental itu. Kemudian jika dikaitkan dengan dunia perguruan
tinggi sebagai basis pendidikan atau pengkaderan, bagaimana seharusnya praktisi
pendidikan membaca problemaika itu semua.
'Ala kulli hall, usaha Tim Redaksi ini semoga tidak hanya berbuah sambutan
positif dari civias akademika Sekolah Tinggi Ilmu Da'wah Mohammad Natsir, namun
juga memiliki nilai di hadapan Allah. Dengan terus berharap masukan-masukan
membangun dari sidang pembaca sekalian, Jurnal Da'wah kedua ini berusaha kami
hadirkan sesuai dengan segala kondisi yang mengelilinginya. Terakahir kali, kami
ucapkan jazakumullah khairan katsieran kepada seluruh komponen yang turut serta
dalam mensukseskan penulin jurnal ini, semoga lebih baik lagi di masa yang akan
dating. Amin

Jakarta, 7 Mei 2009 / 11 Jumadil Ula 1430 H


Litbang STID Mohammad Natsir

Imam Taufik Alkhotob, S.Sos.I