Anda di halaman 1dari 14

EPIDEMIOLOGI Diantara penyakit degenerative, diabetes adalah salah satu di antara penyakit tidak menular yang akan meningkat

jumlahnya di masa mendatang. Meningkatnya prevalensi diabetes mellitus di beberapa Negara berkembang, akibat peningkatan kemakmuran di Negara bersangkutan, meningkatnya pasien obesitas dan aktivitas fisik yang kurang. WHO memprediksi adanya peningkatan jumlah penyandang diabetes yang cukup besar untuk tahun-tahun mendatang.

Secara epidemiologic diabetes seringkali tidak terdeteksi dan dikatakan onset atau mulainya diabetes adalah 7 tahun sebelum diagnosis ditegakkan. Sehingga morbiditas dan mortalitas dini terjadi pada kasus yang tidak terdeteksi ini. Menurut penelitian epidemiologi di Indonesia, angka prevalensi diabetes berkisar antara 1,4 dengan 1,6 %, kecuali di dua tempat yaitu di Pekajangan 2,3% (desa dekat Semarang) , dan di Manado 6%. Tingginya prevalensi di Pekajangan ini disebabkan di daerah itu banyak perkawinan antara kerabat. Sedangkan di Manado, tingginya angka tersebut disebabkan oleh populasinya terdiri dari orang orang yang dating dengan sukarela, jadi agaknya lebih selektif.

Diperkirakan kira kira 30 tahun lagi angka kejadian diabetes pada penduduk Indonesia akan naik sebesar 40% dengan peningkatan jumlah pasien diabetes yang jauh lebih besar yaitu 86 138% yang disebabkan oleh : Factor demografi 1. Jumlah penduduk menigkat 2. Penduduk usia lanjut bertambah banyak 3. Urbanisasi makin tak terkendali Gaya hidup yang kebarat baratan 1. Penghasilan per kapita tinggi 2. Restoran siap saji 3. Teknologi canggih menimbulkan sedentary life, kurang gerak badan Berkurangnya penyakit infeksi dan kurang gizi Meningkatnya pelayanan kesehatan hingga umur pasien diabetes menjadi lebih panjang.

PENATALAKSANAAN DM Tujuan penatalaksanaan Jangka pendek hilangnya keluhan dan tanda DM, mempertahankan rasa nyaman dan tercapainya target pengendalian glukosa darah. Jangka panjang tercegah dan terhambatnya progresivitas penyulit mikroangiopati, makroangiopati dan neuropati. Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan mortalitas DM. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah, tekanan darah, berat badan dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien secara holistik dengan mengajarkan perawatan mandiri dan perubahan perilaku.

PILAR PENATALAKSANAAN DM 1. EDUKASI DM tipe II sangat terkait dengan pola hidup yang mapan. Untuk itu, perlu memberikan pemahaman kepada pasien mengenai penyakitnya. Hal ini guna menanamkan kesadaran pada pasien sehingga mendorong pasien untuk berperilaku yang sesuai untuk kesehatannya. Edukasi yang perlu diberikan adalah mengenai: Perjalanan penyakit DM Pentingnya pengendalian dan pemantauan DM dan cara-cara yang dapat dilakukan Penyulit DM dan resikonyacara mengatasi sementara keadaan gawat darurat Permasalahan khusus yang dihadapi, misalnya hiperglikemi saat kehamilan, dll

2. TERAPI GIZI MEDIS Terapi gizi medis merupakan salah satu terapi non farmakologis yang sangat direkomendasikan bagi penyandang diabetes. Terapi gizi medis ini pada prinsipnya

adalah melakukan pengaturan pola makan yang didasarkan pada status gizi diabetes dan melakukan modifikasi diet berdasarkan kebutuhan individual.

Tujuan terapi gizi medis : Kadar glukosa darah mendekati normal a. Glukosa puasa berkisar 90 130 mg/dl b. Glukosa darah 2 jam setelah makan < 180 mg/dl c. Kadar A1c < 7 % Tekanan darah < 130 / 80 mmHg Memperbaiki profil lipid a. Kolesterol LDL < 100 mg/dl b. Kolesterol HDL > 40 mg/dl c. Trigliserida < 150 mg/dl Berat badan senormal mungkin

Berikut adalah table komposisi makanan yang dianjurkan untuk pasien diabetes :

3. LATIHAN JASMANI Prinsip latihan jasmani bagi penderita diabetes, persis sama dengan prinsup latihan jasmani secara umum, yaitu : Frekuensi jumlah olahraga perminggu sebaiknya dilakukan dengan teratur 3 5 kali perminggu Intensitas ringan dan sedang (60 70 % maximum heart rate) Durasi 30 60 menit Jenis latihan jasmani yang bersifat aerobic dan mempergunakan otot otot besar untuk meningkatkan kemampuan kardiorespirasi.

Latihan jasmani yang teratur penting bagi kesehatan setiap orang Karena akan : Memberikan lebih banyak tenaga Membuat jantung lebih kuat Meningkatkan sirkulasi Memperkuat otot Meningkatkan kelenturan Meningkatkan kemampuan bernapas Membantu mengatur berat badan Memperlambat proses penuaan Memperbaiki tekanan darah Memperbaiki kolesterol dan lemak tubuh yang lain Mengurangi stress Melawan akibat-akibat kekurangan aktivitas

Berikut adalah beberapa contoh aktivitas fisik yang dapat dilakukan oleh pasien DM :

4. INTERVENSI FARMAKOLOGIS Intervensi farmakologis ditambahkan jika sasaran glukosa darah belum tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani. Intervensi tersebut dapat berupa : A. Obat Hipoglikemik Oral (OHO) Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 4 golongan : pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue) 1. sulfonylurea Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas, dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal dan kurang, namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. Untuk menghindari hipoglikemia berkepanjangan pada

berbagai keadaaan seperti orang tua, gangguan faal ginjal dan hati, kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular, tidak dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja panjang. 2. Glinid Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea, dengan penekanan pada meningkatkan sekresi insulin

fase pertama. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu: Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid (derivat fenilalanin). Obat ini diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui hati.

penambah sensitivitas terhadap insulin 1. tiazolidindion Tiazolidindion (rosiglitazon dan pioglitazon) berikatan pada Peroxisome Proliferator Activated Receptor Gamma (PPAR-), suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak. Golongan ini mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa, sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer. Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung klas I-IV karena dapat memperberat edema/retensi cairan dan juga pada gangguan faal hati. Pada pasien yang menggunakan tiazolidindion perlu dilakukan pemantauan faal hati secara berkala.

penghambat glukoneogenesis 1. metformin Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati (glukoneogenesis), di samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer. Terutama dipakai pada penyandang diabetes gemuk. Metformin dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum kreatinin > 1,5 mg/dL) dan hati, serta pasienpasien dengan kecenderungan hipoksemia (misalnya penyakit serebro- vaskular, sepsis, renjatan, gagal jantung). Metformin dapat memberikan efek samping mual. Untuk mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat atau sesudah makan.

penghambat absorpsi glukosa : penghambat glukosidase alfa Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus, sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan. Acarbose tidak menimbulkan efek samping hipoglikemia. Efek samping yang paling sering ditemukan ialah kembung dan flatulens.

B. Pemberian Insulin Insulin diperlukan pada keadaan: Penurunan berat badan yang cepat Hiperglikemia berat yang disertai ketosis Ketoasidosis diabetik Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik Hiperglikemia dengan asidosis laktat Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA,stroke) Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional yang tidak terkendali dengan perencanaan makan Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO

Jenis dan lama kerja insulin Berdasar lama kerja, insulin terbagi menjadi empat jenis, yakni: 1. insulin kerja cepat (rapid acting insulin) 2. insulin kerja pendek (short acting insulin) 3. insulin kerja menengah (intermediate acting insulin) 4. insulin kerja panjang (long acting insulin) 5. insulin campuran tetap, kerja pendek dan menengah (premixed insulin).

Efek samping terapi insulin 1. Efek samping utama terapi insulin adalah terjadinya hipoglikemia. 2. Penatalaksanaan hipoglikemia dapat dilihat dalam bab komplikasi akut DM. 3. Efek samping yang lain berupa reaksi imunologi terhadap insulin yang

dapat menimbulkan alergi insulin atau resistensi insulin.

Berikut adalah algoritma penatalaksanaan DM tipe 2 tanpa disertai dekompensasi

Berikut adalah algoritma pemberian kombinasi insulin dan OHO

Pencegahan DM tipe 2

PROGNOSIS Dubia Penyakit ini memiliki prognosis yang sangat tergantung dengan modifikasi life style dari penderitanya langsung. Tidak adanya usaha pengontrolan dari penderita akan membawa dampak yang sangat buruk bagi penderita tersebut, mengingat kompilkasi dari DM ini sangat banyak sekali.

Sumber : 1. Ipd fkui 2. Powers AC. Diabetes Mellitus. In: Kasper DL, Fauci AS, Longo DL, Braunwald E, Hauser SL, Jameson JL. Editors. Harrison Principal of Internal Medicine 16th edtition. New York: McGrawHill;2005. p 2152-80 3. PERKENI. Konsensus pengelolaan dan pencegahan diabete mellitus tipe 2 di Indonesia. 2006. 4. Rodbard, Helena W., 2007. American Association Of Clinical Endocrinologists Medical Guidelines For Clinical Practice For The Management Of Diabetes Mellitus. AACE.