Anda di halaman 1dari 30

Depresi Pada Penyakit Kronis

Willy Kurniawan 11-2012-125

Latar Belakang
Depresi merupakan masalah kesehatan global yang penting karena prevalensi depresi yang cukup tinggi (2-15%), serta beratnya hendaya yang dapat ditimbulkan oleh depresi Penyakit kronis sendiri sering menjadi pencetus atau menjadi penyebab eksaserbasi depresi Munculnya depresi juga dapat memperburuk suatu penyakit kronis Depresi ditemukan 2 3 kali lebih sering pada penderita penyakit kronis 20% pasien dengan penyakit kronis mengalami depresi

Epidemiologi
Data hasil observasi yang dilakukan World Health Observation tahun 2007
Penyakit Kronis Prevalensi Depresi

Diabetes

7,3-11.3%

Arthritis

9,1-12.3%

Angina

12,9-17,2%

Asthma

15,9-20.3%

Epidemiologi
Data dari Celveland hospital menunjukkan prevalensi depresi pada penyakit kronis yang lain: Heart attack: 40%-65% Coronary artery disease (without heart attack): 18%-20% Parkinsons disease: 40% Multiple sclerosis: 40% Stroke: 10%-27% Cancer: 25% Diabetes: 25%

Epidemiologi
Depresi dapat terjadi pada semua usia Perempuan lebih banyak mengalami depresi dibandingkan pria

Definisi Depresi
Depresi didalam buku Synopsis of Psychiatry digolongkan kedalam gangguan mood (gangguan afektif), Seseorang yang mengalami depresi akan mengalami mood yang terdepresi / tertekan / dibawah keadaan normal

Etiologi
Faktor organobiologi Faktor genetik Faktor psikososial Faktor kepribadian Teori kognitif

Etiologi
Organobiologi
Neurotransmiter: serotonin , norepinefrin, dopamin, asetil kolin, GABA, glutamat, glisin Struktural: hipointens perivaskuler, vol hipocampus, nukleus kaudatus Fungsi: hipometabolisme bagian otak anterior

Genetik
Keluarga: 1 orang tua : anak beresiko 10-25%; 2 ortu: 20-50% Kembar: monozigot: 70-90%; dizigot:16-35% Kromosom: 2 pada lokus 18q,22q, CREB1 Polimorfik: promotor gen 5-HTTLPR

Etiologi
Faktor psikososial : terkait dengan peristiwa kehidupan dan stress lingkungan Faktor kepribadian : kepribadian histrionik, anankastik, dan ambang lebih mudah mengalami depresi

Faktor psikodinamik : Menurut Freud dan Karl Abraham : Gangguan selama fase oral Depresi terjadi karena kenyataaan atau bayangan hilangnya objek Introjeksi mengakibatkan terbangkitnya mekanisme pertahanan untuk mengatasinya Akibat kehilangan objek cinta, diperlihatkan dalam bentuk benci dan cinta, perasaan marah yang diarahkan pada diri sendiri

Etiologi
Teori Kognitif : berdasarkan postulat Aaron Beck menyatakan terdapat trias kognitif dari depresi, yaitu Pikiran (-) tentang diri Pikiran (-) tentang lingkungan Pikiran (-) tentang masa depan

Etiologi
Kognitif Kepribadian

Trauma Psikis Stressor Buruknya primary support group

Hendaya pekerjaan dan fungsi sosial

Genetik Organo biologi

Pengaruh Depresi
Keadaan depresi tentu saja berpengaruh pada kesehatan seseorang Beberapa hal yang ditemukan pada keadaan depresi:
Imbalans otonom Aktivasi Platelet dan disfungsi endotel Hormon dan sympathorenal : kortisol dan katekolamin meningkat Reaksi Inflamatorik meningkat : CRP meningkat

Depresi dapat memperlambat penyembuhan dan memperberat suatu penyakit, bahkan menjadi faktor predisposisi penyakit kronik

Perjalanan Penyakit
50% onset depresi pertama terjadi pada saat < 40 tahun, dihubungkan dengan adanya : riwayat gangguan mood di keluarga, gangguan kepribadian antisosial Episode depresi tanpa pengobatan: 6-13 bulan; dengan pengobatan :3 bulan Episode makin lama makin sering (dalam 20 tahun: 5-6 serangan)

Gambaran Klinis
Gejala utama: Afek depresif Kehilangan minat dan kegembiraan, dan Berkurangnya energi Gejala lainnya: Konsentrasi dan perhatian berkurang Harga diri dan kepercayaan diri berkurang Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri Tidur terganggu Nafsu makan berkurang

Kriteria Diagnosis
Depresi ringan : 2 gejala utama + 2 gejala lainnya + hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial Depresi sedang : 2 gejala utama + 3 (sebaiknya 4) gejala lainnya + kesulitan nyata dalam pekerjaan dan kegiatan sosial Depresi berat tanpa gejala psikotik : 3 gejala utama + > 4 gejala lainnya + sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial dan pekerjaan Depresi berat dengan gejala psikotik : depresi berat + gejala psikotik Episode depresi harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, dalam keadaan sangat berat diagnosis dapat ditegakkan meskipun kurang dari 2 minggu

Assesment
Hamilton depression scale Patient Health Questionnaire (PHQ) 2 & 9 Pemeriksaan darah lengkap Pemeriksaan fungsi hati Pemeriksaan fungsi ginjal

HAM-D
HAM-D Scoring Instructions: Sum the scores from the first 17 items. 0-7 = Normal 8-13 = Mild Depression 14-18 = Moderate Depression 19-22 = Severe Depression 23 = Very Severe Depression

Diagnosis Banding
Gangguan mental organik Ansietas Skizofernia

Penatalaksanaan
Step 1 Step 2

All cases of depression Mild to moderte Dysthymia

Assesment Watchful waiting Support Monitoring Education

Low intensity psychosocial interventions Sleep Hygiene Medication

Step 3
Moderete to severe depression Step 2 cases with inadequate response to treatment Medication High intensity psychological interventions Combination of treatment

Step 4

Severe or psychotic depression RIsk tolife Severe self-neglect Complex social circumstances Treatment resistance Dual diagnosis with personality disorder, alchocol / substance misuse Medication High intensity psychological intervention ECT Combination of treatment Multidiciplinary care Intensive community treatment Hospotal treatment

Intervensi psikososial intensitas rendah


Guided self help Berolah raga Memperbaiki hygiene tidur

Intervensi Psikososial Intensitas Tinggi


Cognitive behavior therapy Problem solving therapy

Terapi Medikamentosa
Untuk terapi depresi pada penderita kronis perlu dipehatikan bebeberapa hal yaitu : mulailah dengan dosis kecil, tingkatkan dosis secara perlahan-lahan, monitor secara regular kadar obat antidepresan dan perhatikan tanda-tanda toksisitas dan perhatikan apakah ada perubahan terhadap fungsi kognitif dan perilaku. terapi antidepresan perlu diberikan pada: ada riwayat depresi sedang sampai berat sebelumnya depresi ringan dengan komplikasi depresi yang tidak membaik dengan terapi nonmedikamentosa

Terapi Medikamentosa
Sertalin 20-150 mg atau citalopram 10-40 mg selama 1-3 bulan, lalu dilanjutkan 4-9 bulan dan lalu dilakukan tapering off.8

Komplikasi
Ketergantungan alkohol Ketergantungan zat-zat Kecemasan Masalah pekerjaan dan masalah sekolah Konflik keluarga Gangguan hubungan dengan orang lain Bunuh diri Melukai diri sendiri

Prognosis
Prognosis suatu gangguan depresi tergantung kepada: Onsetnya faktor genetik primary support group adanya komorbiditas Penyakit kronis dengan depresi termasuk dalam suatu komorbiditas sehingga prognosis dalam keadaan ini tidak terlalu baik Meskipun demikian terapi yang baik pada penderita depresi pada penyakit kronis terbukti meningkatkan kualitas hidup dan harapan hidup pasien

Kesimpulan
Depresi dan penyakit kronis saling mempengaruhi satu sama lain Penderita penyakit kronis memiliki resiko 3-4 kali lebih tinggi untuk mengalami depresi Depresi pada penyakit kronis akan menurunkan kualitas hidup serta harapan hidup penderitanya, dan akan mempersulit manajemen suatu penyakit kronis Terapi depresi pada penyakit kronis harus diperhatikan dengan seksama, karena menurunnya fungsi berbagai organ tubuh membuat lebih rentan terhadap ES Terapi depresi pada penyakit kronis terbukti meningkatkan kualitas hidup penderita, mempercepat penyembuhan dan meningkatkan harapan hidupnya

SEKIAN dan TERIMA KASIH