Anda di halaman 1dari 7

BAB 3 Keuangan Perilaku : Aplikasi dan Ilmu dalam Pelatihan dan Pendidikan Bisnis RASSOUL YAZDIPOUR Professor of Finance,

Craig School of Business, California State University, Fresno, and Academy of Entrepreneurial Finance JAMES A. HOWARD Professor of Finance and Director of Graduate Programs in Finance, University of Maryland University College

Pendahuluan
Slovic (1972: 779) mengutip dari The Money Game karya Adam Smith: Kamu -menghadapi- begitu banyak emosi, prasangka, bentakan, dan ini semua sangat bagus selama kamu mengetahuinya. Spekulan sukses tidak selalu memiliki gambaran yang lengkap tentang mereka sendiri, apa yang tumbuh dan semuanya, dalam pikiran mereka, tetapi mereka memiliki kemampuan untuk seketika menghentikan itu semua (emosi, prasangka, dsb) ketika intuisi mereka dan apa yang terjadi di Luar Sana secara tiba-tiba berubah (tidak seperti biasanya kilter). Jika kamu tidak tahu siapa dirimu, ini adalah suatu tempat mahal untuk mengetahuinya.

Teori keuangan tradisional secara langsung menyetujui gagasan laki-laki rasional, seseorang yang berbeda dari individu, seperti yang didiskusikan pada Jensen dan Meckling (1994). Konsep rational (constructturunan dari konsep) mengasumsikan bahwa individu, baik investor dan manager mampu untuk memahami teka-teki yang sangat rumit dan tetap memimpin perusahaan dengan optimis (Montier, 2002, p. xiii). Oleh karena itu, hasil penting dari pemikiran ini adalah konsep mengenai efisiensi pasar dan arbitrase (--pembelian dan penjualan secara simultan atas barang yg sama di dl dua pasar atau lebih dng harapan akan memperoleh laba dr perbedaan harganya), dengan teori utama dan implikasi praktis kepada investor dan pengambil keputusan keuangan perusahaan. Sejak publikasi karya penelitian(-seminal) milik Kahneman dan Tversky (Tversky and Kahneman, 1971; Kahneman and Tversky, 1979) dan juga Slovic (1972), terdapat tiga kritikan utama terhadap asumsi rasionalitas yang menjadi dasar bagi teori-teori keuangan modern, sebagaimana diajarkan dalam kelas di AS maupun luar negeri. Beberapa kritikan datang dari mahasiswa keuangan perilaku dan praktisi yang terus mengedepankan argumen bahwa teori keuangan tradisional dan konsep empiris gagal untuk menjelaskan dan/atau memprediksi banyak peristiwa dalam keuangan pasar dan perusahaan. Model yang kuat dibutuhkan agar mampu memprediksi secara akurat dan menjelaskan fenomena kehidupan nyata. Lebih jauh, peneliti terus mempublikasi kajian teori secara teliti dan argumen empiris mengenai gagasan utilitas (--fungsi/kegunaan) yang diharapkan (EU) dan hipotesis efisiensi pasar (EMH) dalam jurnal-jurnal keuangan mainstream. Jika ini merupakan pemandangan baik dari akademisi maupun pengalaman/praktisi, maka pendidik keuangan harus mulai secara sistematis menggabung perspektif perilaku ke dalam kurikulum. Dari sisi memberikan pelatihan manager masa depan dan para profesional di bidang investasi, dapatkah jurusan keuangan di setiap universitas mengklaim dirinya sebagai relevan dan dapat dipercaya dalam profesinya jika ia menghindar mengajarkan beberapa faktor yang paling berpengaruh dalam keuangan dan manajerial pasar di kehidupan nyata? Keuangan perilaku dapat, pada titik terkecil, melengkapi teori keuangan tradisional. Keuangan perilaku secara nyata melengkapi para profesional keuangan dengan seperangkat lensa baru, yang memungkinkan mereka memahami dan mengatasi banyak jebakan psikologi yang terbukti hadir mempengaruhi kognisi (pikiran) dan emosi manusia. Para profesional termasuk dewan (--boards) perusahaan dan manager, individu dan investor kelembagaan, manajer portfolio (administrasi), analis, penasihat, dan bahkan pembuat

kebijakan. Jebakan perilaku adan dan terjadi pada seluruh spektrum kebijakan karena merupakan fenomena psikologis heuristik (menemukan) dan bias (membelokan). Fenomena dan faktor ini pada dasarnya sistematis dan dapat menggerakkan pasar dalam waktu yang lama (berkepanjangan). Dibandingkan dulu, profesi keuangan masa kini lebih mampu untuk menjawab beberapa pertanyaan yang belum terpecahkan yang terjadi baik pada investor dan pembuat keputusan perusahaan. Keuangan perilaku mempertanyakan beberapa ide dasar seperti risiko dan ketidakpastian, atau apa yang Olsen (2009) sebut sebagai qualia, sebagaimana hal tersebut secara khusus berhadapan dengan beberapa isu kunci keuangan perusahaan seperti penilaian, merger dan akuisisi (M&As), penganggaran modal, struktur modal, kebijakan dividen (--keuntungan saham), tata kelola perusahaan, dan konflik instansi. Tujuan dari bab ini berlipat ganda (ada dua). Pertama, bab ini menekankan perlunya menyediakan pelajaran dan program latihan baru dalam pesatnya bidang keuangan perilaku. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun dari literature (--bahan bacaan) yang masih ada baik dari paradigma keuangan tradisional maupun perilaku. Petunjuk terang (--titik terang/hasil) dalam usaha ini akan menjadi kekosongan jelas bagi pedoman dunia nyata (--kekurangan yang terlihat dari panduan yang sudah ada) untuk banyak kasus manajerial dan investasi yang telah disebutkan di atas. Kedua, bab ini mendiskusikan elemen-elemen dan sumber daya penting yang dibutuhkan untuk membangun suatu mata kuliah keuangan perilaku yang cukup interaktif pada tingkat sarjana atau pascasarjana, berdasarkan pengalaman penulis dalam mendesain, membangun, dan mengajarkan beberapa mata kuliah. Sisa bab ini terdiri dari tiga bagian utama. Bagian pertama menyajikan ulasan singkat dan selektif dari literature bidang keuangan perilaku. Sintesa termasuk suatu diskusi berkaitan dengan konsep2 kunci, teori2, dan alat2 yang dipinjam oleh disiplin ilmu keuangan dari bidang studi psikologi. Bagian selanjutnya mendiskusikan bagaimana mengatur dan menempatkan ke dalam paket pembelajaran dan mata kuliah tentang keuangan perilaku. Bagian terakhir menyimpulkan bab ini dan membuat beberapa rekomendasi untuk pekeraan selanjutnya dalam area yang tumbuh pesat ini.

SUATU ULASAN LITERATUR DALAM KEUANGAN PERILAKU Bagian ini menyediakan suatu ulasan singkat dari beberapa teori dan dasar-dasar empiris keuangan perilaku. Diskusi meliputi fitur penting teori yang diambil terutama dari disiplin psikologi kognisi. Bab ini menyediakan suatu diskusi penelitian melibatkan empat tema: teori harapan, efek framing (--bingkai), heuristic dan bias, dan teori pengaruh. Teori Prospek (--Teori Harapan) Sebagai poin referensi dalam pembangunan teori prospek, Kahneman dan Tversky (1979) menggunakan versi klasik dari teori harapan utilitas (EU) yang dikemukakan Bernoulli pada 1738. Ini adalah konsep teori yang sama yang menjadi dasar rata-rata (-mean) berbasis varian pada teori portfolio modern milik Markowitz (1952). Berdasarkan studi empiris psikologi kognitif, Kahneman dan Tversky (1979) berpendapat bahwa evaluasi hasil keputusan bergantung dari referensi (referensi dalam konteks ini merujuk pada keadaan kekayaan saat ini), suatu prinsip yang bertentangan dengan bingkai kerja EU dan hence with teori portfolio modern. Bingkai kerja (--sudut pandang/ kacamata teori) EU adalah bebas referensi karena status kekayaan pembuat keputusan tidak masuk dalam proses keputusan atau penilaian. Malah, apa yang penting dalam EU adalah efek dari hasil keputusan terhadap status kekayaan akhir si investor. Hal ini sama dengan mengatakan bahwa utilitas secara langsung diturunkan dari hasil bukanlah perhatian teori EU. Apa yang paling penting, kemudian, adalah kontribusi utilitas tidak

langsung dari hasil keputusan, kepada utilitas keselurahan investor yang diturunkan dari konsumsi terakhirnya atau kekayaan. Hal ini secara jelas menentang sifat sangat dasar manusia dengan sekumpulan emosi, prasangka, dan bentakan seperti kutipan di atas oleh Slovin (1972). Untuk melihat ini, mempertimbangkan spekulasi dengan dua hasil: x dengan probabilitas p, dan y dengan probabilitas 1 p; dimana x 0 y. Juga mengasumsikan tingkat awal kekayaan (W) adalah titik acuan dalam contoh ini. Menurut EU, nilai spekulasi atau prospek adalah V = pu(W + x) + (1 p)u(W + y) Namun, menurut teori prospek, nilai spekulasi (atau prospek) adalah: V = (p)u(x) + (1 p)u(y) Dimana adalah fungsi probabilitas-berat. Nilai fungsi milik Kahneman dan Tvresky (1979) terlihat dalam Exhibit 3.1. Nilai dalam teori prospek didefinisikan dalam istilah keuntungan dan kerugian yang diharapkan dan bukan dalam istilah tingkat kekayaan akhir yang diharapkan. Juga, fungsi probabilitas-berat (p) tidak sama dengan probabilitas p, seperti dapat dilihat pada Exhibit 3.2.
Dasar dan Kunci Penting
(gambar)

Exhibit 3.1 Hipotetis Fungsi Nilai


Catatan: Fungsi nilai didefinisikan sebagai deviasi keuntungan dan kerugian dari titik acuan, dimana fungsi adalah cekungan untuk keuntungan dan cembungan untuk kerugian. Fungsi ini lebih curam kerugian dibandingkan keuntungan (loss aversion). Artinya, kerugian mengakibatkan rasa sakit jauh lebih hebat dibandingkan kebahagiaan yang ditimbulkan oleh keuntungan dalam jumlah yang sama.

Fitur Penting dalam Teori Prospek Teori prospek memiliki lima fitur penting, yang dibandingkan dan dikontraskan oleh para penganut teori portfolio modern. Orang-orang dalam teori variansi-mean (EU atau portfolio) memilih sejumlah alternative berdasarkan efek dari hasil pada tingkat kekayaan akhir mereka, sebagaimana dalam u(W+x) di atas. Dalam teori prospek, orang membuat pilihan berdasarkan efek(--dampak/pengaruh) hasil pada perubahan tingkat kekayaan saat ini, yaitu, perubahan relative pada titik acuan mereka (atau kekayaan saat ini), seperti dalam u(x) di atas. Dengan demikian, di bawah teori prospek, orang memilih berdasarkan kerugian dan keuntungan. (gambar)
Exhibit 3.2 Hypotesis Fungsi ProbabilitasBerat
Catatan: Menurut prospek teori, suatu probabilitas p memiliki suatu berat keutusan phi(p) malas cari symbol. Fungsi probabilitas berat jika kelebihan artinya probabilitas rendah, dan kekurangan maka probabilitas tinggi. Sumber: Gambar 4 of Kahneman and Tversky (1979). Gambar ini diproduksi atas ijin dari The Econometric Society. Keuangan Perilaku (gambar)

Exhibit 3.3 Fungsi Nilai Milik Kahneman and Tversky


Catatan: Grafik ini mengilustrasikan bahwa orang secara umum menolak risiko pada domain keuntungan dan menolak kerugian pada domain kerugian. Lebih jauh, kerugian mengakubatkan rasa sakit lebih besar dibandingkan kebahagiaan yang disebabkan oleh keuntungan dalam jumlah yang sama. (Courtesy of Professor Ralph Byrns.)

Orang-orang dalam bingkai kerja variansi-mean adalah menolak risiko pada seluruh pilihan mereka. Namun, dalam teori prospek, orang-orang adalah menolak risiko pada domain keuntungan dan pencari risiko dalam domain kerugian. Dalam teori prospek, dan seoerti dapat dilihat dari belitan (kurva) asli pada Exhibit 3.3, kerugian lebih menyakitkan (hampir dua kali lipat) dibandingkan kesenangan yang diturunkan dari keuntungan dalam besaran sama. Hal ini disebut loss aversion (menolak kerugian).

Orang-orang dalam teori variansi-mean memperlakukan risiko secara objektif dengan kemungkinannya. Dalam teori prospek, orang-orang memperberat probabilitas rendah, tercermin dalam perilaku mereka secara terus-menerus memilih lotere dan pilihan asuransi. Teori variansi-mean bebas dari referensi, yaitu, pembingkaian alternative tidak mempengaruhi pilihan. Dalam teori prospek, pembingkaian menentukan pilihan, lebih jauh dibahas dalam bagian selanjutnya. Teori Prospek : Implikasi dan Contoh Mengingat sifat dari pengalaman keuangan perilaku, sebagian besar implikasi diturunkan dari teori yang bersifat eksperimental dan pragmatis. Implikasi bagi individu pengambil risiko: investor secara individu adalah pencari sekaligus penghindar risiko dalam waktu yang sama. Hal ini ditunjukkan dari perilaku mereka berinvestasi, dimana mereka membeli tidak hanya obligasi, reksa dana, dan polis asuransi (bersikap layaknya penghindar risiko), tetapi juga mereka membeli saham individu, pilihan, dan lotere (bersikap layaknya pencari risiko). Implikasi bagi para pemegang saham/portfolio : Baik investor individu maupun professional menjual pemenang terlalu cepat dan mempertahankan pecundang cukup lama, suatu fenomena yang terutama dikaitkan dengan perilaku keengganan merugi. Kerugian lebih menyakitkan (hampir dua kali lipat) dibandingkan kesenangan yang dihasilkan keuntungan pada besaran yang sama. Hal ini juga dikenal sebagai efek disposisi seperti yang diciptakan oleh Shefrin dan Statman (1985). Tipe perilaku ini tidak konsisten dengan pendekatan investasi normatif/tradisional yang berdasarkan pada kerugian pajak. Implikasi oleh produk berkualitas baik: Investor individu tidak memilih portfolio dengan klasifikasi baik. Kenyataannya, orang mengabaikan kovariansi diantara keamanan pengembalian dan memilih stokastik (--peluang, gambling) didominasi portofolio yang berada di bawah batas efisiensi. Implikasi untuk premi ekuitas: Keenganan merugi pada Teori Prospek juga menjelaskan mengapa ekuitas AS telah mengungguli obligasi AS sekitar 7% per tahun dalam waktu lama, sementara ini hanya boleh maksimal pada 1-2% menurut pandangan teori keuangan tradisional. Implikasi untuk struktur modal-hutang (juga dikenal sebagai keenganan berhutang): Teori struktur modal terutama didasarkan pada timbal-balik diantara dua faktor penting: manfaat pajak dan risiko tidak melunasi hutang. Menurut teori prospek, bagi beberapa perusahaan potensi kerugian karena kesulitan keuangan dapat terjadi lebih besar dibandingkan potensi keuntungan yang berasal dari manfaat pajak. Misalnya, perusahaan dengan rasio asset tak berwujud tinggi daripada total asset, misalnya penelitian dan pembangunan, perusahaan farmasi dan bioteknologi besar, dan bahkan perusahaan berteknologi tinggi lainnya masuk dalam kategori ini.

Efek Framing(--pembingkaian)
Berasal dari teori prospek milik Kahneman dan Tversky (1979), efek framing adalah faktor kunci psikologis lainnya yang secara serius mempertanyakan asumsi rasionalitas pada teori keuangan tradisional. Menurut Kahneman dan Tvresky, efek framing muncul dalam situasi pengambilan keputusan ketika perbedaan perumpamaan dan deskripsi pada masalah yang sama memunculkan beragam hasil (--outcomes) yang berbeda. Pilihan terkadang bergantung pada bagaimana alternative dibingkai (dijelaskan) dan disajikan, sesuatu yang tidak diijinkan dalam teori EU dan EMH. Seperti dicatat Tversky dan Kahneman (1981, p.453), Bingkai yang diadosi pembuat keputusan sebagian dikontrol oleh formulasi permasalahan dan sebagian lagi oleh norma, kebiasaan, dan karakteristik pribadi si pembuat keputusan. Tversky dan Kahneman (1981) menunjukkan bahwa setiap pilihan keputusan memiliki dua tahapan berbeda: (1) fase awal dimana aksi, kemungkinan terkait, dan hasil dari setiap pilihan keputusan dibingkai; dan (2) fase kedua dimana aksi, kemungkinan terkait, dan hasil dari setiap pilihan keputusan dievaluasi. Menurut Tversky dan Kahneman, banyak keputusan di dunia nyata dibingkai secara bebas (independen). Akibatnya, pada sebagian besar kasus, preferensi perintah seringkali terbalik (-berubah) jika keputusan digabungkan. Hasil yang dianggap positif atau negative relatif

terhadap hasil referensi yang dianggap netral. Memvariasikan titik acuan dapat mempengaruhi hasil menjadi positif atau negative dan akibatnya mengubah preferensi perintah diantara pilihan. Efek Framming: Implikasi, Aplikasi, dan Contoh Banyak keputusan pada prakteknya dibingkai secara independen dan preferensi perintah seringkali terbalik jika keputusan digabungkan. Implikasi langsung relevan dengan perilaku investasi yaitu orang mengubah pandangan mereka terhadap investasi dan pasar berdasarkan informasi dan data yang mungkin tidak ada kaitannya dengan investasi atau prinsip-prinsip pasar. Efeknya, orang mengabaikan kovariansi diantara keamanan pengembalian dan oleh karena itu memilih stokastik didominasi portofolio yang berada di bawah batas efisiensi (Shefrin and Statman,2003). Umumnya, orang mengevaluasi aksi mereka berdasarkan dampak langsung atas aksi itu, misalnya seperti kehilangan atau mendapatkan uang. Artinya, mereka menilai peristiwa dengan perhitungan mental yang hanya melihat dampak langsung dari aksi. Misalnya, perhitungan mental terkait dengan keputusan yang menerima perjudian termasuk menang atau kalah uang dalam perjudian tersebut dan meniadakan asset lain atau hasil dari perjudian sebelumnya. Orang mengadopsi perhitungan mental karena modus pembingkaian (--framing): (1) menyederhanakan evaluasi dan mengurai tekanan kognitif; (2) merefleksikan intuisi bahwa konsekuensi seharusnya akibat dari perbuatan; dan (3) sesuai dengan sifat dari pengalaman hedonis, yang lebih sensitive terhadap perubahan menyenangkan dan tidakmenyenangkan ketimbang keadaan yang tetap.

BingkaiKerja (--Pandangan/Kacamata) Heuristik dan Bias


Bingkai kerja heuristic dan bias dapat dianggap sebagai pengimbang model baku penentuan harga asset pada teori keuangan. Ketika menghadapi begitu banyak data dan informasi dan berbagai masalah dalam pengambilan keputusan, orang cenderung tidak mampu melakukan perhitungan kompleks optimis yang sebagaimana diharapkan dari mereka sesuai dengan teori keuangan baku/standard. Sebaliknya, mereka bergantung pada strategi kognitif yang jumlahnya terbatas atau heuristic yang menyederhanakan suatu scenario komplek yang sedang mereka hadapi untuk membuat keputusan. Heuristik adalah proses pengolahan informasi dengan pintas yang biasanya dihasilkan dari pengalaman seseorang pada suatu bidang kerja. Tentu, cara pintas penyederhanaan tersebut produktif dan memungkin manusia berfungsi dalam kehidupan seharihari. Pada dasarnya heuristic tidak sempurna serta mengakibatkan bias dan eror. Dalam teori tradisional, bias tidak sistematis diharapkan untuk memukul rata (-average) tingkat pasar sehingga tidak berdampak pada harga pasar. Penganut teori perilaku berpendapat, meskipun, baik heuristic dan bias sistematis, sehingga berpotensi ada untuk waktu lama dan ikut mempengaruhi harga. Tversky dan Kahneman (1974) diantaranya mengidentifikasi bias sistematik termasuk beberapanya didiskusikan di bawah ini. Representativeness (kemiripan) Menurut Tversky dan Kahneman (1974: 1124), banyak pertanyaan tentang peluang, yang dipikirkan banyak orang, dapat diklasifikasikan sebagai apa peluang objek A masuk kelas B? apa peluang peristiwa A berasal dari proses B?. Untuk menjawab pertanyaan ini, orang menggunakan heuristic representative, dimana probabilitas dievaluasi oleh sejauh mana A menyamai B. Misalnya, ketika A sangat mewakili B, peluang A berasal dari B juga sangat tinggi. Dalam beberapa kasus, heuristic representasi memabantu dalam mengevaluasi peluang ketika berhadapan dengan objek atau proses A dan B. Suatu contoh, ketika A sangat mewakili B, peluang bahwa A berasal dari B dinilai tinggi, dan sebaliknya. Masalahnya adalah keterwakilan (kemiripan) seharusnya tidak mempengaruhi penilaian probabilitas. Apa yang harus dipertimbangkan dalam penilaian probabilitas adalah probabilitas awal atau harga dasar. Yang terakhir ini tidak dipraktekkan dan melanggar aturan Bayes. Kesimpulannya, heuristic representative adalah sebuah fitur dibangun-di otak untuk memproduksi penilaian probabilitas secara cepat, dibandingkan dengan prosedur

adopsi pemikiran secara sadar. Manusia tidak sadar telah mengganti penilaian keterwakilan untuk penilaian probabilitas. Availability (--ketersediaan) Untuk memahami heuristic ketersediaan membutuhkan pengakuan bahwa orangorang tidak sepadan untuk mengingat peristiwa menonjol, yaitu peristiwa yang baru saja terjadi dan/atau mereka terlibat secara emosi, terutama pada masa lalu. Semakin menonjol suatu peristiwa, semakin besar kemungkinan seseorang mengingat peristiwa itu. Bias menghalangi orang untuk mempertimbangkan potensi lainnya dan terikat dengan hasil. Misalnya, seseorang bisa saja memperhitungkan risiko untuk dirampok di kota New York dengan mengingat beberapa insiden diantara teman dan keluarganya. Dengan heuristic ketersediaan, seseorang mencari ingatan mereka untuk informasi relevan. Masalahnya, tidak semua ingatan sama dapat diingat atau tersedia, yang mengarahkan pada kesalahan penilaian. Misalnya, semakin baru insiden dan semakin menonjol (dirampok di kota New York) akan berbobot lebih berat dan mengarah pada bias prediksi dan membelokkan penilaian atau perkiraan. Dengan demikian, bias jelas terlihat (--implicit) dalam heuristic ketersediaan mempengaruhi perkiraan akan risiko. Penahanan (--anchor jangkar), Penyesuaian, dan Kontaminasi Menurut Tversky dan Kahneman (1974), ketika membentuk perkiraan dan prediksi, orang biasanya mulai dengan beberapa nilai awal yang ditetapkan secara semena-mena (--arbitrary) dan menyesuaikan dari sana. Orang juga membuat perkiraan dengan memulai dari nilai awal yang kemudian disesuaikan untuk menghasilkan jawaban akhir. Nilai awal dapat disarankan dari formulasi (rumusan) masalah, atau itu (--nilai) merupakan hasil dari kalkulasi sebagian (beberapa masalah). Bagaimanapun juga, Tversky dan Kahneman (hal. 1128) berpendapat bahwa penyesuaian secara khusus tidak cukup dan Perbedaan titik awal menghasilkan estimasi berbeda yang bias mengarah ke nilai dasar. Hal ini disebut penahanan (penjangkaran). Anchoring terjadi ketika nilai awal diberikan kepada subyek, sebagaimana subyek mendasarkan estimasi mereka pada hasil pada beberapa perhitungan yang tidak lengkap. Menurut heuristic penjangkaran, informasi yang terlihat tidak relevan mampu menahan penilaian dan mengkontaminasi tebakan. Ketika seseorang mulai mengenal informasi yang tidak relevan dan menyesuaikan sampai mereka mendapatkan jawaban yang masuk akal, mereka di bawah penyesuaian. Orang-orang di bawah penyesuaian lebih teliti dalam situasi kognitif sibuk dan manipulasi lain yang membuat masalah semakin sulit. Orang-orang menolak bahwa mereka ditahan atau dikontaminasi, meskipun eksperimen menunjukkan demikan. Efek ini tidak berkurang atau hanya sedikit berkurang karena insentif finasial, instruksi eksplisit (tidak langsung) untuk menghindari kontaminasi, dan situasi dunia nyata. Efek Kontaminasi Sebagian besar informasi dapat bekerja dengan jalannya sendiri ke dalam penilaian kognitif (Chapman dan Johnson, 2002). Penjangkaran atau efek kontaminasi tidak dapat dikurangi (Tversky and Kahneman, 1974;Wansink, Kent, and Hoch, 1998). Beberapa contoh mengilustrasikan efek kontaminasi. Satu contoh adalah orang secara khusus memiliki kepercayaan diri yang hebat dalam melakukan penilaian berdasarkan kepercayaan dirinya itu. Misalnya peristiwa dimana subyek diberi probabilitas 2% terjadi 42,6% pada suatu waktu (Alpert dan Raiffa, 1982). Contoh lain adalah bias masa lalu, yang terjadi ketika seseorang, setelah mempelajari hasil yang mungkin terjadu, memberi estimasi lebih tinggi untuk prediksi hasil dibandingkan subyek yang memprediksi hasil tanpa pengetahuan tambahan. Bias masa lalu terkadang disebut efek aku-tahu-itu-semua-sepanjang. Bias masa lalu sagat penting dalam kasus hukum, dimana hakim atau juri harus menentukan apakah seorang terdakwa secara sah lalai meramalkan bahaya (Sanchirico, 2003). Contoh ketiga adalah fenomena angsa hitam (Taleb, 2007), yang artinya bahwa terkadang sebagian besar variansi dalam suatu proses berasal dari peristiwa sangat langka atau besar. Misalnya, mempertimbangkan suatu instrument keuangan yang dapat menghasilkan 10$ dengan peluang 98%, tetapi kehilangan $1000 dengan peluang 2%.

Investasi ini seperti suatu risiko kemiskinan, tetapi terlihat seperti kemenangan yang mantap. Heuristics and Biases: Implikasi dan Contoh Heuristik dan bias memiliki beberapa implikasi, beberapa diantaranya akan didiskusikan di bawah ini: Implikasi bagi manajemen kontrak berdasarkan penampilan (performa): Manajer secara umum memilih skema insentif berdasarkan penampilan lebih sering dibandingkan yang diprediksi oleh teori baku. Ini dapat dikaitkan dengan sikap terlalu percaya diri. Karena terlalu percaya diri, manajer lebih memilih proyek berisiko karena mereka mengalahkan keganjilan. Hal ini bertentangan dengan teori baku, yang memprediksi hal itu, sebagai hasil dari peningkatan variansi, pemodal harus menawarkan kontrak yang kurang sensitive pada hasil kepada agen karena berdasarkan teori baku, agen diasumsikan tidak menyukai risiko. Menurut Camerer dan Lovallo (1999), beberapa bukti mendukung fenomena ini. Implikasi bagi pemilihan saham (--stock) karena bias ketersediaan: Orang dengan mudah dapat memanggil informasi yang baru saja terjadi, terutama dalam media dan perusahaan rilis, karena rekomendasi makelar atau penasehat yang memiliki ingatan segar. Seperti temuan Barber dan Odean (2008), saham yang memiliki tingkat terliput oleh media tinggi, tidak lagi ditonton selama dua tahun berikutnya. Implikasi bagi penilaian asset karena bias penjangkaran: Northcraft dan Neale (1987) meminta subyek untuk memberikan opini mereka pada nilai taksiran, urutan harga yang tepat, dan harga terendah yang akan mereka terima jika mereka adalah penjual. Penulis meminta informasi ini setelah memberikan detail sybyek dan informasi identic tentang rumah yang telah ditunjukkan. Satu-satunya informasi yang penulis ubah dalam kuliah ini adalah pemberian harga (faktor penjangkaran). Hasil menunjukkan bahwa penilaian individu terhadap rumah secara langsung berkaitan dengan harga yang diberikan kepada mereka.

Teori Pengaruh
Menurut Finucane, Alhakami, Slovic, and Johnson (2000), pengaruh heuristic ada pada bagaimana impresi subyektif dari kebaikan atau keburukan dapat berperan sebagai kemampuan heuristic yang memproduksi penilian persepsi secara cepat dan juga bias sistematis. Misalnya, seperti ditunjukkan oleh Ganzach (2001), seseorang menilai persedian yang mereka rasa sebagai baik jika memiliki risiko rendah dan pengembalian tinggi dan menilai persediaan mereka sebagai buruk jika memiliki pengembalian rendah dan risiko tinggi. Bagi persediaan yang tidak biasa, risiko dan pengembalian yang dirasakan berkorelasi negative (berbanding terbalik), sebagaimana diprediksi oleh dampak heuristic. Bagi persediaan biasa, risiko dan pengembalian yang dirasakan memiliki korelasi positif; persediaan yang lebih berisiko diharapkan menghasilkan pengembalian lebih tinggi, seperti yang diprediksi oleh teori ekonomi biasanya.