P. 1
Profil Perempuan dan Anak Indonesia Tahun 2007

Profil Perempuan dan Anak Indonesia Tahun 2007

|Views: 5,939|Likes:
Dipublikasikan oleh Parjoko MD
GAMBARAN CAPAIAN BEIJING PLATFORM FOR ACTION 1995 YANG DIKAITKAN DENGAN PENCAPAIAN MDGs 2000.
GAMBARAN CAPAIAN BEIJING PLATFORM FOR ACTION 1995 YANG DIKAITKAN DENGAN PENCAPAIAN MDGs 2000.

More info:

Published by: Parjoko MD on Sep 28, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2013

pdf

text

original

No.

Tahun

Jumlah Kasus

Dilimpahkan ke
Kejaksaan (P21)

Persen

1.

1999

173

134

77,46

2.

2000

24

16

66,67

3.

2001

179

129

72,07

4.

2002

155

96

61,93

5.

2003

138

88

63,76

6.

2004

76

30

39,47

7.

2005

71

27

38,03

8.

2006

84

58

69,05

9.

2007

177

88

49,72

Sumber: Bareskrim Mabes POLRI, 2008.

Tabel 31. Jumlah Kasus dan Korban Perdagangan Orang di
Indonesia Tahun 2002–2007

Keterangan : *) Laki-laki dewasa sebanyak 331 orang dan perempuan 3 orang
**) Korban anak sebanyak 150 laki-laki, korban perempuan tidak ada data
***) Jumlah pelaku perempuan 101 orang laki-laki dan 139 orang perempuan

Sumber: Bareskrim Mabes POLRI, 2007.

Berdasarkan laporan media tahun 2005, jumlah trafficker yang diproses secara hukum
sebanyak 126 orang, 23 pelaku diajukan ke pengadilan, dan 16 terdakwa telah mendapat
vonis.

Korban

No. Tahun Jumlah

Kasus Dewasa Anak Jumlah
Pelaku

Keterangan

1.

2002

155

-

-

- UU No. 23/2002, KUHP

2.

2003

138

81

20

62 P21=88, Sidik = 50

3.

2004

68

95

-

83 P21=30, Sidik =46

4.

2005

71

125

18

83 P21=27, Sidik = 45

5.

2006

84

496

129

155 P21=58, Sidik = 26

6.

2007

177 334*) 150**)

240**) P21=58, Sidik = 84
Lidik = 5

50

Tabel 32.

Perkembangan Proses Hukum Pelaku Perdagangan
Orang (trafficker) di Indonesia Tahun 2004-2005.

No.

Tahun

Jumlah
Pelaku
(Orang)

Pengadilan
(orang)

Vonis
(orang)

Proses
Hukum
(orang)

1.

2004

151

53

53

98

2.

2005

126

23

16

110

Sumber: Diolah dari berbagai media cetak dan elektronik, 2005-2006.

Tabel 33. Jumlah Putusan Kasus Perdagangan Orang di Indonesia
Tahun 2003-2006.

No.

Tahun

Ter-dakwa

Vonis

Hukuman

1.

2003-2004

84

27

Hukuman yang dijatuhkan berkisar dari 5-6 bulan
hukuman penjara sampai tertinggi 4 tahun.

2.

2004-2005

53

44
9 *)

Hukuman yang dijatuhkan ada yang bebas,
divonis hukuman penjara dari 6 bulan sampai
tertinggi 13 tahun. Rata-rata hukuman: 3 tahun 3
bulan.

3.

2005-2006

23

16

Hukuman yang dijatuhkan tidak ada vonis bebas,
divonis hukuman penjara dari 3 bulan sampai
tertinggi 9 tahun.
Rata-rata hukuman: 2 tahun 5 bulan.

*) Tidak jelas vonis yang dijatuhkan
Diolah dari berbagai sumber (2006).

Pihak Kepolisian dan Kejaksaan – sesuai dengan kasusnya - semakin banyak yang
mendasarkan tuntutannya kepada dasar hukum yang relevan dengan tindak kejahatan para
trafficker, sehingga tuntutan hukum yang dikenakan diupayakan setinggi-tingginya. Di samping
mengggunakan KUHP untuk penuntutan, digunakan pula Undang-undang No. 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak, dan Undang-undang No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan
Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. Dengan disahkannya Undang-Undang
No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, maka pelaku
perdagangan orang (trafficker) akan dituntut menggunakan ancaman hukuman yang seberat-
beratnya.

Perdagangan orang juga menggunakan kedok pengiriman buruh migran ke luar negeri.
Menurut Human Rights Watch (2004), pelanggaran terhadap hak-hak buruh migran sebagai
pekerja rumah tangga (PRT) di Malaysia sudah berlangsung lama, dimulai sejak perekrutan,
pelatihan, transit, di tempat kerja, bahkan ketika kembali ke Indonesia. Buruh migran terjebak
dalam praktek perdagangan orang dan kerja paksa, ditipu untuk bekerja tidak sesuai dengan
yang ditawarkan, dikurung dan tidak menerima gaji, sementara dokumen ditahan agen atau
majikan.

51

Masalah serupa juga menimpa pekerja migran Indonesia di Arab Saudi. Laporan
Human Rights Watch (2004) ‘Bad Dreams: Exploitation and Abuse of Migrant Workers in Saudi
Arabia’ menguraikan tentang eksploitasi dan pelanggaran terhadap hak-hak buruh migran di
Arab Saudi. Laporan tersebut mendokumentasikan praktek-praktek yang mirip perbudakan,
khususnya terhadap perempuan buruh migran PRT yang dikategorikan sebagai ‘kondisi
pelanggaran yang sangat serius’. Saat ini terdapat 8,8 juta orang asing bekerja di Arab Saudi
atau hampir 50 persen dari jumlah penduduk Arab Saudi. Sekitar 500.000 buruh migran di
antaranya berasal dari Indonesia yang sebagian besar perempuan. Menurut Konsulat Jenderal
RI Jeddah, mulai 1 Juni 2007, Kerajaan Arab Saudi akan melaksanakan deportasi para
overstayer termasuk yang berasal dari Indonesia diperkirakan jumlahnya mencapai 40.000
orang.

Pemerintah melalui Perwakilan RI di luar negeri bekerjasama dengan lembaga
internasional memberikan bantuan kepada pekerja migran Indonesia yang bermasalah.
Pekerja migran ditampung di Perwakilan RI, diberikan bantuan hukum dan bantuan
pemulangan ke Indonesia. Jumlah Pekerja Migran Bermasalah yang dipulangkan, selama
tahun 2007 sebanyak 36.315 orang, dan dipulangkan melalui 4 (empat) debarkasi, yakni
Tanjung Pinang, Batam, Karimun, dan Entikong. Selama tahun 2005 sampai dengan Januari
2008, telah dipulangkan 3.042 orang korban perdagangan orang, sebagian besar adalah
perempuan, termasuk bayi dan anak-anak, dan dipulangkan dari 8 negara. dan korban berasal
dari 27 provinsi di Indonesia (dengan dukungan dari International Organization Migration).

Tabel 34. Jumlah Korban Perdagangan Orang Yang Dipulangkan,
Tahun 2005-2007.

No.

Daerah Asal

Korban
(orang) No.

Keterangan

Korban
(orang)

1. Nanggroe Aceh Darussalam

22 I.

Jenis Kelamin:

2. Sumatera Utara

207

• Laki-laki

340

3. Sumatera Barat

6

• Perempuan

2.702

4. Jambi

11

Jumlah

3.042

5. Riau

5

6. Kepulauan Riau

9 II.

Negara Asal:

• Indonesia (domestik)

587

7. Sumatera Selatan

65

• Malaysia

2.305

8. Lampung

150

• Arab Saudi

49

9. Banten

64

• Singapura

28

10. DKI Jakarta

42

• Syria

11

11. Jawa Barat

629

• Jepang

27

12. DI Yogyakarta

4

• Kuwait

10

13. Jawa Tengah

370

• Taiwan

6

14. Jawa Timur

281

• Irak

4

15. Kalimantan Barat

707

• Lainnya

15

16. Sulawesi Utara

5

Jumlah

3.042

17. Sulawesi Tengah

13 III.

Kelompok Usia:

18. Sulawesi Selatan

46

• Bayi

5

52

No.

Daerah Asal

Korban
(orang) No.

Keterangan

Korban
(orang)

19. Sulawesi Tenggara

6

• Anak-anak

785

20. Sulawesi Barat

• Dewasa

2.252

21. Nusa Tenggara Barat

212

Jumlah

3.042

22. Nusa Tenggara Timur

118

23. Maluku

4

24. Lainnya

19

Jml

3.042

Sumber: IOM, 2008 (Januari).

Kepada korban perdagangan orang diberikan penampungan, bantuan medis, bantuan
hukum dan pemulangan ke daerah asalnya, serta diberikan berbagai bentuk upaya
pemberdayaan agar korban tidak terjebak kembali dalam perdagangan orang.

Tabel 35. Jenis Pendampingan Korban Perdagangan Orang,
Tahun 2005 – 2007.

No.

Jenis Pendampingan

2005
(orang)

2006
(orang)

2007
(orang)

1.

Perawatan Medis

492

1.186

2.782

2.

Perawatan Psikososial

531

1.315

3.042

3.

Bantuan Pemulangan

531

1.315

3.042

4.

Bantuan usaha ekonomi produktif

212

310

702

5.

Bantuan pendidikan dan ketrampilan

104

182

408

6.

Konseling lanjutan

287

754

1.259

Sumber: IOM, 2007, 2008 (Januari).

Di luar yang sudah dipulangkan dengan bantuan IOM, tidak menutup kemungkinan ada
korban perdagangan orang yang dipulangkan dari luar negeri ke daerah entry point yang
terdekat. Hal-hal seperti ini banyak terjadi di kota-kota di daerah perbatasan dan di Bandara
Internasional Soekarno-Hatta Tangerang. Pemerintah RI akan terus meningkatkan
perlindungan kepada warga negara Indonesia di luar negeri, antara lain dengan melengkapi
layanan shelter serta bantuan layanan kesehatan dan psikososial di Perwakilan RI di luar
negeri.

5. Perempuan dan Konflik Bersenjata

Beberapa tahun terakhir ini, Indonesia banyak ditimpa bencana baik bencana alam
maupun bencana akibat konflik sosial yang menimbulkan dampak negatif bagi pengembangan
masyarakat Indonesia sebagai sumber daya pembangunan. Bencana tersebut mempunyai
dampak yang begitu luas dan bersifat jangka panjang, sehingga mempengaruhi sendi-sendi
kehidupan berbangsa dan bernegara. Bencana alam (sebagian Sumatera, Jawa, Nusa
Tenggara, dll) dan konflik sosial yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia seperti di Aceh,

53

Sampit, Poso, Ambon, dan Papua telah menyebabkan penduduk harus tinggal di pengungsian
yang tidak saja kehilangan nyawa dan harta benda tetapi juga menimbulkan trauma
berkepanjangan dan tidak ada kepastian masa depan.
Pada Oktober 2001, tercatat jumlah pengungsi di Indonesia sebanyak 1.330.271 jiwa
tersebar di 26 provinsi. Kemudian pada bulan Juni 2002, jumlah pengungsi menjadi 1.121.828
jiwa, dan tahun 2005 tersisa 266.876 jiwa dan tersebar di 12 provinsi. Menurut Dit. Kesehatan
Jiwa (2005), sekitar 70 persen pengungsi adalah wanita dan anak-anak.
Perempuan seringkali menjadi korban ganda, dimulai sejak menjadi pengungsi dan
terpaksa meninggalkan tempat tinggal karena harus mengikuti suami, ayah atau saudara laki-
laki yang mengungsi. Banyak perempuan ketika tiba di kamp pengungsian sudah berada
dalam keadaan trauma akibat berpisah dari anggota keluarga atau hilang ketika terjadi konflik.

Akibat bencana alam dan konflik sosial, banyak perempuan yang terpaksa menjadi
orang tua tunggal. Jika selama ini selalu bergantung kepada suami, berubah harus mencari
nafkah untuk menghidupi diri dan keluarganya sehingga secara fisik dan mental belum siap
untuk menjadi orang tua tunggal. Di samping tidak punya keterampilan di bidang ekonomi
produksi, kondisi ini diperparah pula dengan kondisi psikososial dan trauma yang dideritanya.
Karena derita ganda ini menyebabkan perempuan di daerah bencana perlu mendapat
pembinaan yang lebih serius agar mereka dapat kembali pulih kesehatan fisik dan
psikososialnya, serta mampu berusaha di bidang ekonomi untuk kehidupan keluarganya.

Undang-undang No. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan CEDAW, menetapkan Daerah
konflik merupakan daerah khusus, yang menurut Pasal 14 ayat (1) dinyatakan bahwa
negara-negara peserta wajib memperhatikan masalah-masalah khusus yang dihadapi oleh
perempuan di daerah pedesaan dan peranan yang dilakukan perempuan pedesaan demi
kelangsungan hidup keluarga mereka. Pedesaan disini dapat diartikan termasuk juga
pedesaan di daerah konflik dan atau pasca konflik. Selanjutnya pada Pasal 14 ayat (2)
dinyatakan bahwa negara wajib membuat peraturan yang menjamin hak-hak perempuan
pedesaan, antara lain: (i) hak untuk berpartisipasi dalam perluasan dan implementasi
perencanaan pembangunan di segala tingkat, (ii) hak untuk berpartisipasi dalam semua
kegiatan masyarakat.

Landasan Aksi Beijing berkaitan dengan perempuan dan konflik bersenjata adalah: (a)
Meningkatkan partisipasi perempuan dalam penyelesaian konflik di tingkat-tingkat
pengambilan keputusan dan melindungi perempuan-perempuan yang hidup dalam situasi
konflik bersenjata dan konflik-konflik lainnya atau di bawah pendudukan asing (b)
Mengurangi pembelanjaan untuk keperluan militer yang berlebih-lebihan dan melakukan
pengawasan terhadap persenjataan (c) Mempromosikan bentuk-bentuk penyelesaian
konflik tanpa kekerasan dan mengurangi kejadian-kejadian penyalahgunaan hak-hak asasi
manusia sewaktu terjadi konflik bersenjata (d) Mendorong sumbangan perempuan untuk
membina budaya perdamaian (e) Menyediakan perlindungan, bantuan dan pelatihan
kepada perempuan pengungsi (f) Memberikan bantuan kepada perempuan di negara-
negara jajahan dan daerah perwalian.
Masalah konflik ini tidak terdapat dalam MDGs.

54

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->