Anda di halaman 1dari 69

RESUME BLOK 18

SKENARIO 1
Oleh: KELOMPOK D 1. Rose Vita Sari 2. Ayyub Erdianto 3. Robiatul Adawiyah 4. Niki Yulianti 5. Intan Nohabrilianti 6. Bangun Oktavian H 7. Bimanda Rizki N. 8. Trias Nindya Sari 9. Ririn Rakhmawati 10. Mahesa Permana K 11. Dessy Kusuma 12. Laili Candra 13. Teddy Tejomukti 062010101008 062010101009 062010101018 062010101026 062010101028 062010101031 062010101038 062010101039 062010101040 062010101046 062010101055 062010101062 062010101064

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER 2009

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

SKEMA BELAJAR SKENARIO 1 BENCANA


TRIASE

DISASTER MANAGEMENT

BLS (BASIC LIFE SUPPORT))

FRAKTUR DAN BLEEDING MANAGEMENT

TRAUMA ABDOMEN DAN TRAUMA THORAKS BENCANA SISTEM PENANGGULANGAN GAWAT DARURAT TERPADU (SPGDT)

SYOK

CPR (CARDIO PULMONER RESUSITION)

Jember |

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

TRIASE

Triase berkembang dari kebutuhan akan prioritas penanganan cedera pada prajurit di medan perang. Konsep ini diperkenalkan di Perancis pada awal abad ke19. Kata triase sendiri berasal dari bahasa Perancis Triage(trier) yang berarti pemilahan. Seiring perkembangan zaman, konsep ini terus berkembang dan dipergunakan hampir di seluruh dunia. Saat ini triase dipergunakan sebagai standar penyeleksian korban oleh unit-unit gawat darurat rumah sakit di berbagai negara. Definisi Triase adalah usaha pemilihan korban sebelum ditangani, berdasarkan tingkat kegawatdaruratan trauma atau penyakit dengan mempertimbangkan prioritas penanganan dan sumber daya yang ada. Tujuan Memberikan penanganan terbaik pada korban dalam jumlah yang banyak untuk menurunkan angka kematian dan kecacatan maupun resiko cedera bertambah parah. Prinsip Triase Pada keadaan bencana massal, korban timbul dalam jumlah yang tidak sedikit dengan resiko cedera dan tingkat survive yang beragam. Pertolongan harus diseduaikan dengan sumber daya yang ada, baik sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya. Hal tersebut merupakan dasar dalam memilah korban untuk memberikan prioritas pertolongan. Pada umumnya penilaian korban dalam triage dapat dilakukan dengan: 1. Menilai tanda vital dan kondisi umum korban 2. Menilai kebutuhan medis 3. Menilai kemungkinan bertahan hidup 4. Menilai bantuan yang memungkinkan 5. Memprioritaskan penanganan definitif 6. Tag warna Jember | 3

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Triase dilakukan tidak lebih dari 60 detik/pasien dan setiap pertolongan harus dilakukan sesegera mungkin. Kategori Setelah melakukan penilaian, korban dikategorikan sesuai dengan kondisinya dan diberi tag warna, sebagai berikut: 1. MERAH (Immediate) Setiap korban dengan kondisi yang mengancam jiwanya dan dapat mematikan dalam ukuran menit, harus ditangani dengan segera 2. KUNING (Delay) Setiap korban dengan kondisi cedera berat namun penganannya dapat ditunda 3. HIJAU (Walking Wounded) Korban dengan kondisi yang cukup ringan, korban dapat berjalan 4. HITAM (Dead and Dying) Korban meninggal atau dalam kondisi yang sangat sulit untuk diberi pertolongan

START (Simple Triage And Rapid Treatment) Dikembangkan oleh Hoag Hospital dan Newport Beach Fire department di Amerika Serikat, merupakan metode triase yang dapat digunakan kurang dari 60 detik dengan memberikan penilaian korban secara cepat berdasarkan: 1. 2. 3. Respirasi Perfusi (Sirkulasi) Status mental Penilaian ini cukup ideal pada keadaan banyak korban. Penilaian yang cepat memungkinkan personil pre-hospital dapat megevakuasi dengan segera korban yang membutuhkan perawatan intensif. Pertolongan diberikan pada korban dengan jalan napas yang tersumbat dan atau mengalami perdarahan arteri yang berat. Kategori START START mengklasifikasikan korban secara cepat dan lebih akurat ke dalam salah satu dari empat kategori untuk ditangani. Langkah awal dari START adalah memisahkan Jember | 4

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

korban yang sadar dan dapat berjalan. Mereka diminta untuk pindah ke tempat yang lebih aman, tempat yang telah ditentukan sebagai area bagi yang terluka. Korbankorban ini dikategorikan sebagai walking wounded dan diberi tag hijau. Mereka akan ditangani setelah korban yang lebih berat tertangani. Merah (Immediate) Menilai pernapasan setelah mereposisi jalan napas. Korban yang tergolong dalam kategori ini jika pernapasan lebih dari 30 kali/menit. Capillary refill melambat (lebih dari 2 detik), atau korban yang tidak dapat melakukan sebuah perintah sederhana. Kuning (Delayed) Semua korban yang tidak tergolong dalam kategori merah ataupun hijau. Hitam (Deceased) Tidak ditemukan adanya napas setelah membebaskan jalan napas.

Prosedur START Berikut ini merupakan langkah-langkah dalam melaksanakan START. 1. Menilai Pernapasan Nilai frekuensi napas dan adekuatnya pernapasan. Jika korban tidak bernapas periksa jalan napas, segera bersihkan jika ditemukan adanya sumbatan. Reposisi kepala dalam usaha membebaskan jalan napas harus memperhatikan kontrol pada servikal. Jika korban tidak bernapas spontan, korban dikategorikan Hitam. Jika korban bernapas lebih dari 30 kali/menit, korban dikategorikan Merah. Jika napas kurang dari 30 kali/menit, segera periksa perfusi. 2. Menilai Perfusi Cara terbaik menilai perfusi adalah menilai capillary refill di kuku. Jika capillary refill lebih dari 2 detik, menandakan sistem sirkulasi tidak adekuat, dikategorikan Merah. Jika capillary refill kurang dari 2 detik, segera periksa status mental. Jika capillary refill tidak dapat dinilai, palpasi arteri radialis, jika tidak teraba dapat

Jember |

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

berarti tekanan darah sistol dibawah 80 mmHg dan korban kemungkinan mengalami syok. Segera kontrol perdarahan dengan membebat tekan dan meninggikan ekstremitas bawah. Korban lain dapat dimintai pertolongan untuk melakukannya. 3. Status Mental Status mental dievaluasi pada korban dengan pernapasan dan perfusi yang adekuat. Untuk menilai, gunakan perintah sederhana seperti buka dan tutup mata atau genggam tangan saya. Jika korban tidak dapat mengikuti perintah dikategorikan Merah. Jika dapat mengikuti perintah maka korban dikategorikan Kuning. Pada penilaian ini, korban yang telah dikategorikan hijau dapat dinilai kembali.

Secara sederhana prosedur START dapat dilihat pada diagram berikut: START Triage Walking wounded are directed to go to treatment area. (All are triaged as Green ) Those unable to walk are assessed by the RPM method:

BLAC K

None

RESPIRATIONS <30 PULSE (radial) Present MENTAL STATUS (follows simple commands?) YELLO W

>30 RE D Absent RE D

No RE D

Jember |

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

DISASTER MANAGEMENT
Definisi Suatu proses yang berlanjut, dinamis dan terpadu untuk meningkatkan kualitas langkah-langkah yang berhubungan dengan observasi dan analisis bencana serta pencegahan dan kesiapsiagaan. Manajemen bencana merupakan seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana yang dikenal sebagai

Mekanisme 1. Mekanisme internal atau informal Unsur-unsur masyarakat di lokasi bencana yang secara umum melaksanakan fungsi pertama dan utama dalam manajemen bencana dan sering disebut dengan manajemen bencana alamiah, terdiri dari : keluarga, organisasi social informal(pengajian, pelayanan kematian), serta masyarakat local. 2. Mekanisme eksternal atau formal Organisasi yang sengaja dibentuk untuk tujuan manajemen bencana, contoh: BAKORNAS PB, SATKORLAK PB, SATLAK PB.

Jember |

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Tujuan Siklus Manajemen Bencana : (1) mencegah kehilangan jiwa; (2) mengurangi penderitaan manusia; (3) memberi informasi masyarakat dan pihak berwenang mengenai risiko (4) mengurangi kerusakan infrastruktur utama, harta benda dan kehilangan sumber ekonomis.

Secara umum kegiatan manajemen bencana dapat dibagi dalam kedalam tiga kegiatan utama, yaitu: 1. Kegiatan pra bencana yang mencakup kegiatan pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan dan peringatan dini. 2. Kegiatan saat terjadi bencana yang mencakup kegiatan tanggap darurat untuk meringankan penderitaan sementara, seperti kegiatan search and rescue (SAR), bantuan darurat dan pengungsian. 3. Kegiatan pasca bencana yang mencakup kegiatan pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Jember |

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Kegiatan pada tahap pra bencana ini selama ini banyak dilupakan, padahal justru kegiatan pada tahap pra bencana ini sangatlah penting karena apa yang sudah dipersiapkan pada tahap ini merupakan modal dalam menghadapi bencana dan pasca bencana. memperkecil dampak bencana. Kegiatan saat terjadi bencana yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana,untukmenanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan korban dan harta benda, evakuasi dan pengungsian, akan mendapatkan perhatian penuh baik dari pemerintah bersama swasta maupun masyarakatnya. Pada saat terjadinya bencana biasanya begitu banyak pihak yang menaruh perhatian dan mengulurkan tangan memberikan bantuan tenaga, moril maupun material. Banyaknya bantuan yang datang sebenarnya merupakan sebuah keuntungan yang harus dikelola dengan baik, agar setiap bantuan yang masuk dapat tepat guna, tepatsasaran, tepat manfaat, dan terjadi efisiensi. Kegiatan pada tahap pasca bencana, terjadi proses perbaikan kondisi masyarakat yang terkena bencana, dengan memfungsikan kembali prasarana dan sarana pada keadaan semula.Pada tahap ini yang perlu diperhatikan adalah bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi yang akandilaksanakan harus memenuhi kaidah-kaidah kebencanaan serta tidak hanya melakukanrehabilitasi fisik saja, tetapi juga perlu diperhatikan juga rehabilitasi psikis yang terjadi seperti ketakutan, trauma atau depresi. Dari uraian di atas, terlihat bahwa titik lemah dalam Siklus Manajemen Bencana adalah pada tahapan sebelum/pra bencana, sehingga hal inilah yang perlu diperbaiki dan ditingkatkanuntuk menghindari atau meminimalisasi dampak bencana yang terjadi.

Mitigasi Bencana Kegiatan-kegiatan pada tahap pra bencana erat kaitannya dengan istilah mitigasi bencana yang merupakan upaya untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana. Mitigasi bencana mencakup baik perencanaan dan Jember | 9

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

pelaksanaan tindakan-tindakan untuk mengurangiresiko-resiko dampak dari suatu bencana yang dilakukan sebelum bencana itu terjadi, termasukkesiapan dan tindakan-tindakan pengurangan resiko jangka panjang. Upaya mitigasi dapat dilakukan dalam bentuk mitigasi struktur dengan memperkuat bangunan dan infrastruktur yang berpotensi terkena bencana, seperti membuat kode bangunan,desain rekayasa, dan konstruksi untuk menahan serta memperkokoh struktur ataupunmembangun struktur bangunan penahan longsor, penahan dinding pantai, dan lain-lain. Selain itu upaya mitigasi juga dapat dilakukan dalam bentuk non struktural, diantaranya seperti menghindari wilayah bencana dengan cara membangun menjauhi lokasi bencana yang dapatdiketahui melalui perencanaan tata ruang dan wilayah serta dengan memberdayakan masyarakat dan pemerintah daerah. Mitigasi Bencana yang Efektif Mitigasi bencana yang efektif harus memiliki tiga unsur utama, yaitu penilaian bahaya, peringatan dan persiapan. 1. Penilaian bahaya (hazard assestment); diperlukan untuk mengidentifikasi populasi dan aset yang terancam, serta tingkat ancaman. Penilaian ini memerlukan pengetahuan tentang karakteristik sumber bencana, probabilitas kejadian bencana, serta data kejadian bencana dimasa lalu. Tahapan ini menghasilkan Peta Potensi Bencana yang sangat penting untuk merancang kedua unsur mitigasi lainnya; 2. Peringatan (warning); diperlukan untuk memberi peringatan kepada masyarakat tentang bencana yang akan mengancam (seperti bahaya tsunami yang diakibatkan oleh gempa bumi,aliran lahar akibat letusan gunung berapi, dsb). Sistem peringatan didasarkan pada data bencana yang terjadi sebagai peringatan dini serta menggunakan berbagai saluran komunikasi untuk memberikan pesan kepada pihak yang berwenang maupun masyarakat. Peringatan terhadap bencana yang akan mengancam harus dapat dilakukan secara cepat, tepat dan dipercaya. Jember | 10

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

3. Persiapan (preparedness). Kegiatan kategori ini tergantung kepada unsur mitigasi sebelumnya (penilaian bahaya dan peringatan), yang membutuhkan pengetahuan tentang daerah yang kemungkinan terkena bencana dan pengetahuan tentang sistem peringatan untuk mengetahui kapan harus melakukan evakuasi dan kapan saatnya kembali ketika situasi telah aman. Tingkat kepedulian masyarakat dan pemerintah daerah dan pemahamannya sangat penting pada tahapan ini untuk dapat menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi dampak akibat bencana. Selain itu jenis persiapan lainnya adalah perencanaan tata ruang yang menempatkan lokasi fasilitas umum dan fasilitas sosial di luar zona bahaya bencana (mitigasi non struktur), serta usaha-usaha keteknikan untuk membangun struktur yang aman terhadap bencana dan melindungi struktur akan bencana (mitigasi struktur).

Mitigasi Bencana Berbasis Masyarakat Penguatan kelembagaan, baik pemerintah, masyarakat, maupun swasta merupakan faktor kunci dalam upaya mitigasi bencana. Penguatan kelembagaan dalam bentuk dalam kesiapsiagaan,sistem peringatan dini, tindakan gawat darurat, manajemen barak dan evakuasi bencana bertujuan mewujudkan masyarakat yang berdaya sehingga dapat meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana. Perwujudan Masyarakat atau komunitas yang berdaya dalam menghadapi bencana dapat diwujudkan melalui Siklus Pengurangan Risiko Berbasis Masyarakat/Komunitas berikut:

Jember |

11

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Sementara itu upaya untuk memperkuat pemerintah daerah dalam kegiatan sebelum/prabencana dapat dilakukan melalui perkuatan unit/lembaga yang telah ada dan pelatihan kepada aparatnya serta melakukan koordinasi dengan lembaga antar daerah maupun dengan tingkat nasional, mengingat bencana tidak mengenal wilayah administrasi, sehingga setiap daerah memiliki rencana penanggulangan bencana yang potensial di wilayahnya.

Bencana Bencana (disaster) merupakan suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu komunitas sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan dan yang melampaui kemampuan komunitas tersebut untuk mengatasi dengan menggunakan sumberdaya mereka sendiri. Bencana merupakan kombinasi antara ancaman (Hazard) dan kerentanan (Vulnerability). Ancaman yaitu fenomena, bahaya atau resiko, baik alami Jember | 12

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

maupun tidak alami yang dapat (tetapi belum tentu menimbulkan bencana diantaranya banjir, tanah longsor, kekeringan, wabah penyakit, konflik bersenjata dll. Sedangkan kerentanan adalah keadaan didalam suatu komunitas yang membuat mereka mudah terkena akibat buruk dari ancaman diantaranya kerentanan fisik, sosial, dan psikologi/sikap. Penanganan atau Manajemen Bencana (Disaster Management) Manjemen Bencana adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mengendalikan bencana dan keadaan daruat, sekaligus memberikan kerangka kerja untuk menolong masyarakt dalam keadaan beresiko tinggi agar dapt menghindari ataupun pulih dari dampak bencana. Tujuan dari Manajemen bencana diantaranya: 1. Mengurangi atau menghindari kerugian secara fisik, ekonomi maupun jiwa yang dialami oleh perorangan, masyarakt negara. 2. Mengurangi penderitaan korban bencana 3. Mempercepat pemulihan 4. Memberikan perlindunagan kepada pengungsi atau masyarakat yang kehilangan tempat ketika kehidupannya terancam.

Jember |

13

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Siklus Manajemen Bencana Untuk tujuan diatas diperlukan beberapa tahap dalam upaya untuk menangani suatu bencana 1. Penanganan Darurat; yaitu upaya untuk menyelamatkan jiwa dan melindungi harta serta menangani gangguan kerusakan dan dampak lain suatu bencana. Sedangkan keadaan darurat yaitu kondisi yang diakibatkan oleh kejadian luar biasa yang berada di luar kemampuan masyarakat untuk menghadapnya dengan sumber daya atau kapasitas yang ada sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok dan terjadi penurunan drastic terhadap kualitas hidup, kesehatan atau ancaman secara langsung terhadap keamanan banyak orang di dalam suatu kominitas atau lokasi. 2. Pemulihan (recovery);adalah suatu proses yang dilalui agar kebutuhan pokok terpenuhi. Proses recovery terdiri dari: Jember | 14

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

a. Rehabilitasi : perbaikan yang dibutuhkan secara langsung yang sifatnya sementara atau berjangka pendek. b. Rekonstruksi : perbaikan yang sifatnya permanen 3. Pencegahan (prevension); upaya untuk menghilangkan atau mengurangi kemungkinan timbulnya suatu ancaman. Misalnya : pembuatan bendungan untuk menghindari terjadinya banjir, biopori, penanaman tanaman keras di lereng bukit untuk menghindari banjir dsb. Namun perlu disadari bahwa pencegahan tidak bisa 100% efektif terhadap sebagian besar bencana.

4. Mitigasi (mitigation); yaitu upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak buruk dari suatu ancaman. Misalnya : penataan kembali lahan desa agar terjadinya banjir tidak menimbulkan kerugian besar. 5. Kesiap-siagaan (preparedness); yaitu persiapan rencana untuk bertindak ketika terjadi(atau kemungkinan akan terjadi) bencana. Perencanaan terdiri dari perkiraan terhadap kebutuhan-kebutuhan dalam keadaan darurat danidentifikasi atas sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Perencanaan ini dapat mengurangi dampak buruk dari suatu ancaman. Beberapa prinsip kesiap-siagaan antara lain Pengembangan jaringan informasi dan system jaringan Sistem Peringatan Dini (Early Warning System/EWS) Perencanaan evakuasi dan persiapan stok kebutuhan pokok (suplai pangan, obat-obatan dll) Perbaikan terhadap infrastruktur yang dapat digunakan dalam keadaan darurat, seperti fasilitas komunikasi, jalan, kendaraan, gedung-gedung sebagai tempat penampungan dll.

Azas penanggulangan bencana Kebersamaan dan sukarela Koordinasi dan integrasi Jember | 15

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Kemandirian Cepat dan tepat Prioritas Kesiapsiagaan Kesemestaan Penanggulangan bencana Pencegahan : upaya preventif dan mitigasi untuk meniminalkan dampak akibat bencana Tanggap darurat : penyelamatan, pemberian bantuan darurat (pangan, kesehatan dan tempat penampungan) Rehabilitasi : pemulihan fisik dan nonfisik akibat bencana. Rekonstruksi :perbaikan dan pembangunan kembali prasarana dan fasilitas umum. Mekanisme Penanganan Darurat Saat terjadi bencana, SATLAK mengendalikan tindakan penanggulangan dan melaporkan kepada SATKORLAK dan BAKORNAS PBP. Apabila eskalasi meningkat, atau lingkup bencana meliputi lebih dari 2 kabupaten/kota, maka kendali penanganannya langsung oleh SATKORLAK PBP. Jika bencana semakin meningkat dan berdampak nasional, maka BAAKORNAS PBP mengambil langkah penanganan secara koordinatif di tingkat pusat. Ada 3 jalur call for help 1. Jalur administrasi depdagri puskesmascamatbupatigubenurmendagri 2. Jalur administrasi depkes Puskesmasdinkes Kab/kotadinkes provdst 3. Jalur Rujukan medik PuskesmasRS. Kab/kotaRS.Provdst Pada tahap acute untuk Rapid Response sebaiknya dipakai JALUR 3 Jember | 16

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Penatalaksanaan Korban Bencana Massal 1. Pencarian dan penyelamatan (SAR) 2. Perawatan di Lapangan(Triase, pertolongan pertama, pos pelayanan medis lanjutan) 3. Pos Penatalaksanaan Evakuasi

Jember |

17

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

BLS ABCD

A. Airway, dengan control servikal (servical spine control) Yang pertama harus dilakukan adalah kelancaran jalan nafas. Ini meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan benda asing, fraktur tulang wajah, fraktur mandibula atau maksila, fraktur laring atau trakea. Usaha untuk membebaskan airway harus melindungi vertebra servikal. Dalam hal ini harus dimulai dengan melakukan chin lift atau jaw thrust. Pada penderita yang dapat berbicara, dapat dianggap bahwa jalan nafas bersih, walaupun demikian penilaian ulang terhadap airway harus tetap dilakukan. Penderita dengan GCS < 8 biasanya memerlukan pemasangan airway definitif. Selama memeriksa dan memperbaiki airway, harus diperhatikan bahwa tidak boleh dilakukan ekstensi, fleksi, atau rotasi dari leher. B. Breathing dan ventilasi Airway yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik. Pertukaran gas yang terjadi pada saat bernafas mutlak untuk pertukaran oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dari tubuh. Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru, dinding dada, dan diafragma. Setiap komponen ini harus dievaluaasi dengan cepat. Dada penderita harus dibuka untuk melihat ekspansi pernafasan. Auskultasi dilakukan untuk memastikan masuknya udara ke dalam paru. Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara tau darah dalam rongga pleura. Inspeksi dan palpasi dapat memperlihatkan kelainan dinding dada yang mungkin mengganggu ventilasi.

Jember |

18

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

C. Circulation (Bantuan Sirkulasi) Terdiri dari dua tahapan : 1. Memastikan ada tidaknya denyut jantung korban/pasien Ada tidaknya denyut jantung korban atau pasien dapat ditentukan dengan meraba arteri karotis di daerah leher korban atau pasien, dengan dua/tiga jari tangan (jari telunjuk dan tengah), raba dengan lembut kira-kira 5-10 detik. Jika teraba denyutan nadi, penolong harus kembali memeriksa pernafasan korban dengan melakukan manuver tengadah kepala topang dagu untuk menilai pernafasan korban atau pasien. Jika tidak bernafas lakukan bantuan pernafasan dan jika bernafas pertahankan jalan nafas. 2. Memberikan bantuan sirkulasi Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung selanjutnya dapat diberikan bantuan sirkulasi atau yang disebut kompresi jantung luar, dilakukan dengan teknik sebagai berikut : Dengan jari telunjuk dan jari tengah penolong menelusuri costa kanan atau kiri paling bawah sehingga bertemu dengan tulang dada (sternum). Dari pertemuan tulang dada diukur dua atau tiga jari ke atas. Daerah tersebut merupakan tempat untuk meletakkan tangan penolong dalam memberikan bantuan sirkulasi. Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak tangan di atas telapak tangan yang lainnya. Dengan posisi badan tegak lurus, penolong menekan dinding dada korban dengan tenaga dari berat badannya secara teratur selama 15 kali dengan kedalaman penekanan berkisar antara 1,2-2 inci (3,8-5 cm). Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada dan atau merubah posisi tangan pada saat melakukan kompresi.

Jember |

19

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian nafas adalah 30:2 dilakukan baik oleh satu dua penolong, (dilakukan 4 siklus/menit) untuk kemjudian dinilai apakah perlu dilakukan siklus berikutnya atau tidak.

BLEEDING MANAGEMENT
PENGERTIAN PERDARAHAN Perdarahan adalah keluarnya darah dari sistem vaskuler. Kehilangan darah 1 liter dapat menimbulkan syok dan kematian. Pada anak anak, kehilangan darah lebih dari 0,5 liter darah amat berbahaya. KLASIFIKASI PERDARAHAN Berdasarkan letaknya, ada 2 jenis perdarahan, yaitu perdarahan internal dan eksternal. Perdarahan Internal Terjadi jika kulit tidak rusak dan biasanya tidak dapat terlihat. Tanda tanda dan gejalanya ialah: a. Darah dari mulut, atau rektum, atau darah dalam urin b. Perdarahan dari vagina tetapi bukan menstruasi c. Luka memar atau luka lebam d. Kulit lembab dan dingin e. Pupil mata melebar f. Mual dan muntah g. Kesakitan, perih, kaku, abdomen luka memar h. Patah iga atau memar pada dada Perdarahan Eksternal Darah terlihat disekitar luka. Pada umumnya, perdarahan dapat dihentikan dalam waktu 10 sampai 15 menit jika dilakukan pertologan yang tepat. Jember | 20

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Berdasarkan

jenis

saluran

darah

yang

cedera,

perdarahan

dapat

dikelompokkan menjadi perdarahan yang berasal dari vena, perdarahan dari arteri, dan perdarahan kapiler. Pada umumnya perdarahan dapat menyangkut 2 jenis saluran atau lebih. Arteri tekanan tinggi, berwarna merah terang dan menyembur keluar dari luka serentak dengan denyutan jantung. Vena tekanan rendah, berwarna merah gelap. Kapiler saluran darah kecil yang menyambungkan arteri dan vena. Darah berwarna merah dan mengalir perlahan-lahan. Biasanya dikaitkan dengan luka ringan. PENYEBAB PERDARAHAN Penyebab utama perdarahan ialah kerusakan pada saluran darah. Hal - hal seperti peralatan yang tajam, kecelakaan lalu lintas, tembakan serta peralatan pertukangan merupakan hal hal yang biasanya mengakibatkan perdarahan. Keadaan luka tersebut menentukan jenis luka yang dialami serta mempengaruhi bentuk perawatan yang diperlukan. FAKTOR RISIKO PERDARAHAN Seseorang yang mempunyai gangguan pada proses pembekuan darah berisiko tinggi untuk mengalami perdarahan. Orang tersebut akan mengalami perdarahan yang parah dan tidak terkendali walaupun luka yang dialami hanya kecil saja. GAMBAR LANGKAH LANGKAH PENANGANAN Penekanan pada daerah perdarahan

Jember |

21

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Pembebatan pada Daerah Perdarahan

Menaikkan Bagian di Atas Jantung Korban

Jember |

22

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Tourniquet - Dipakai sebagai langkah terakhir

FRAKTUR

Mekanisme trauma Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna, dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.

Jember |

23

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Patah tulang di dekat sendi atau mengenal sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi. Klasifikasi patah tulang Patah tulang dapat dibagi menurut ada tidaknya hubungan antara patahan tulang dengan dunia luar, yaitu patah tulang tertutup dan patah tulang terbuka yang memungkinkan kuman dari luar dapat masuk ke dalam luka sampai ke tulang yang patah. Patah tulang terbuka dibagi menjadi tiga derajat yang ditentukan oleh berat ringannya luka dan berat ringannya patah tulang. Patah tulang juga dapat dibagi menurut garis frakturnya, misalnya fisura, patah tulang sederhana, patah tulang kominutif pengecilan, patah tulang segmental,

Jember |

24

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Gambar Jenis patah tulang A. Fisura tulang disebabkan oleh cedera tunggal hebat atau oleh cedera terusmenerus yang cukup lama, seperti juga ditemukan pada retak stres pada struktur logam, B. Patah tulang serong, C. Patah tulang lintang, D. Patah tulang kominutit oleh cedera hebat. E. Patah tulang segmental karena cedera hebat. F. Patah tulang dahan hijau; periost tetap utuh. G. Patah tulang kompresi akibat kekuatan besar pada tulang pendek atau epifisis tulang pipa, H. Patah tulang impaksi; kadang juga disebut inklavasi, I. J. Patah tulang impresi, Patah tulang patologis akibat tumor tulang atau proses desiruktif lain.

* kominutif, L.: comminutivus = terpecah-belah, com- = disenai, * triklavasi, L.: inclavatio = diperas masre(bersoma, miwere = mengecilkan

Gambar Dislokasi pada patah tulang A. Dislokasi ad lalitudinem* berarti dislokasi ke arah lintang. B. Dislokasi ad longitudinem* sehingga tulang memanjang umpamanya karena tarikan traksi terlalu besar. Jember | 25

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

C. Dislokasi kum kontraktione* sehingga tulang menjadi pendek, umumnya disehabkan tarikan dan tonus otot. D. Contoh dislokasi ad longitudinem cum distractionem*, umpamanya pada palah tulang patela karena tonus m.kuadriseps femoris. E. Dislokasi ad aksim* sering ditemukan pada tulang panjang. Pada patah tulang distal femur sering ditemukan dislokasi kum kontraktione karena tarikan otot paha yang insersinya di tibia disertai dislokasi ad aksim karena otot gastroknemius yang kuat memfleksikan pecahan femur distal: diafisis femur (1), bagian distal femur yang dibengkokkan oleh tarikan otot gastroknemius (2), tibia yang ditarik ke arah proksimal oleh otot (lihat panah) (3), patela (4), liyamen patela (5), tarikan otof kuadriseps (6), tarikan m.gastroknemius menyebabkan dislokasi ad aksim pecahan femur distal (7), olot biseps femur dan otot di sebelah dorsal paha turut menyebabkan dislokasi dengan kontraksi (8). F. Dislokasi ad peripheriam karena rotasi. G. Kadang terdapat interposisi jaringan lunak di sela patah tulang yang menghalangi penyembuhan. H. Mungkin patah tulang disebabkan oleh tarikan pada in'sersi tendo otol atau ligamentum yang disebut patah tulang avulsi*. Contohnya ialah avulsi insersi tendo m.ekstensor digitorum profundus di (alang terminaljari tangan (H1) atau patah tulang mata kaki karena tarikan ligamentum kolateral bila terperleset dan keseleo kaki (H2).

* * * * * *

ad latitudinem, L.: lotitudo = lebarnya ad longiludinem, L.: longitudio = kepanjangan kam kontraktione, L.: cunr comractione, cum = disertai, contractio = pemendekan cum distractionenr, L.: distracrio = tarikan; dislokasi akibat tarikan dari dua pihak ad axiny L.: axis = sumbu avulsi, L.: avulsio = dirarik sampai terlepas

Jember |

26

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Ada juga patah tulang, yang biasanya berupa fisura, yang disebabkan oleh beban lama atau trauma ringan yang terus-menerus yang disebut fraktur kelelahan (stress fracture / fatigue fracture). Hal ini misalnya terjadi pada tungkai bawah di tibia atau tulang metatarsus pada tentara atau olahragawan yang sering berbaris atau berlari. Akan tetapi, fisura tulang lebih sering disebabkan cedera. Dislokasi atau berpindahnya ujung tulang patah disebabkan oleh berbagai kekuatan, seperti cedera, tonus atau kontraksi otot, dan tarikan. Sehubungan dengan patofisiologi dan perjalanan penyakitnya, patah tulang juga dibagi atas dasar usia pasien, yaitu patah tulang pada anak, patah tulang pada orang dewasa, dan patah tulang pada orang tua. Pola anatomis kejadian patah tulang dan penanganannya pada ketiga golongan umur tersebut berbeda. Orang tua lebih sering menderita patah tulang pada tulang yang osteoporotik, seperti vertebra atau kolum femur; orang dewasa lebih banyak menderita patah tulang panjang; sedangkan anak jarang menderita robekan ligamen. Penanganan patah tulang pada anak membutuhkan pertimbangan bahwa anak masih tumbuh. Selain itu, kemampuan penyembuhan anak lebih cepat dan karena itulah perpendekan serta perubahan bentuk akibat patah lebih dapat ditoleransi pada anak. Pemendekan dapat ditoleransi karena pada anak terdapat percepatan pertumbuhan. PENATALAKSANAAN Cari bantuan Panggil Ambulans Minta tolong orang orang untuk mengamankan area sekitar lokasi Sebelum ada pentalaksanaan jangan dievakuasi!

D RABC Lakukan BLS segera! Hingga semuanya Positif Lakukan evaluasi setiap saat

Bleeding Management Hentikan perdarahan

Jember |

27

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Bebat tekan atau tamponade

Tenangkan korban Yakinkan korban bahwa kalian akan merawatnya Jika perlu, kalian bisa meninggalkan korban untuk mencari material untuk pembidaian daerah persangkutan fraktur syarat : ABC harus positif. Sebelum ada pentalaksanaan jangan dievakuasi! Open fracture Daerah dengan kulit yang tidak intak. Closed fracture daerah dengan hematoma, nyeri, tidak bisa digerakkan (ingat prinsip pemeriksaan fisik diatas!) dan kelainan bentuk. Identifikasi Lokasi Persangkutan Fraktur -

Prioritas : FRAKTUR SPINAL

FRAKTUR TULANG KEPALA RUSUK

FRAKTUR EKSTREMITAS

Periksa sirkulasi di distal lokasi persangkaan fraktur. Tanda tanda rendahnya sirkulasi adalah : Denyut nadi yang lemah atau menurun terhadap denyut jantung Pengisian darah kapiler yang lambat

Jember |

28

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Tekanan kuku pada daerah persangkaan fraktur dan daerah yang tidak ada jejak lepaskan bersamaan jika terdapat hambatan sirkulasi maka kuku

daerah tanpa jejak akan lebih cepat kembali memerah daripada yang terjejas Longgarkan pakaian korban Longgarkan pakaian atau atribut yang menyesakkan korban. Sepatu tidak boleh dilepas kecuali akan digunakan untuk memfilkasi leher atau ada tanda perdarahan masif pada kaki. Tutupi luka Tutupi semua luka (termasuk luka bakar) pada daerah yang terjejas sebelum melakukan pembidaian. Jangan mencoba menekan tulang pada open frakture / donat sebelum membidai Jangan mencoba mengembalikan posisi fraktur ke posisi normal sudah berada di rumah sakit dengan peralatan lengkap. Bidai Cabang pohon, kayu, karton tebal atau semua benda padat yang rigid dapat digunakan. Lengan dan kaki korban yang normal dapat digunakan untuk kecuali berikan bidai cincin

mengimmobilisasi kaki yang fraktur. Pengikat Jaket, kaos, ponco atau semua material yang cukup panjang dan kuat untuk mengikatkan bidai. Mitella Bentuk segitiga dari robekan kain/ kaos. Digunakan untuk menutup atau fiksasi tambahan pada lokasi bidai.

Jangan mencoba melakukan reposisi pada lokasi fraktur hindari menggerakkan lokasi fraktur menghindari nyeri / komplikasi tambahan.

Jember |

29

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Position the Securing Materials Push the cravats under natural body curvatures, then gently move the securing materials up or down the limb until they are in proper position. Pembidaian Jika menemukan tiga bidai, letakkan di medial, lateral dan dorsal dari daerah yang disangka fraktur. Namun jika hanya dua bidai, letakkan pada daerah medial dan lateral saja. PRINSIP BIDAI DI PASANG DI 3 SISI DAN PANJANG BIDAI HARUS MELEWATI KEDUA SENDI PROKSIMAL DAN DISTAL TERHADAP LOKASI SUSPECT FRAKTUR. Jangan sampai ujung bidai menekan selangkangan atau axilla menghindari hambatan sirkulasi. Pelapis Berikan pelapis antara bidai dengan daerah yang akan dibidai. Berikan pelapis tambahan pada daerah yang sensitif, misal : Siku, pergelangan tangan, lutut, paha atau axilla Memfiksasi bidai Ikat bidai pada proksimal dan distal daerah fraktur. Ikat bidai pada proksimal dan distal sendi Ikat bidai secukupnya tanpa menghambat sirkulasi pada daerah yang dibidai. Periksa Sirkulasi Periksa daerah distal pembidaian sebelum dan sesudah pemasangan bidal periksa denyut, warna dan temperatur jika denyut menurun, warna memucat dan daerah distalnya dingin diduga ada hambatan sirkulasi longgarkan ikatan bidai namun tetap terfiksasi. Jika tidak ada fraktur pada siku, pasang mitella sedemikian hingga lengan dianggap oleh leher.

Jember |

30

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

- Jika siku diduga fraktur maka jangan memaksa melipat lengan sebagaimana cara diatas cukup fiksasi sesuai posisi awal ditemukan. Balutkan mitella pada lokasi fraktur lingkarkan pada leher ikat tambahan fiksasi pada badan korban. Jika tidak ada mitella fiksasi immobilisasi lengan ikatkan ujung lengan pada baju. Jika ketika ditemukan posisi lengan yang fraktur belum terlipat maka pertahankan posisi tersebut berikan bidai pada medial lateral dorsal daerah fraktur bidai melebihi sendi prosimal distalnya fiksasi tambahan pada batang tubuh korban. Jika ketika ditemukan posisi lengan yang fraktur sudah terlipat maka pertahankan posisi tersebut berikan bidai pada medial literal dorsal daerah fraktur bidai melebihi sendi prosimal distalnya fiksasi tambahan dengan menggantungkannya pada leher korban. Jika terdapat fraktur pada pergelangan tangan bidai berikan bantalan pada telapak tangan ikat telapak tangan dengan bantalan tersebut pada bidai fiksasi pada leher dan batang tubuh korban.

BAGAN KOMPLIKASI PATAH TULANG Komplikasi segera Lokal Kulit : abrasi, laseri, penetrasi Pembuluh darah: robek Sistem saraf : sumsum belakang, saraf tepi motorik dan sensorik Organ dalam: jantung, paru, hepar, limpa (pada fraktur kosta), kandung kemih (pada fraktur pelvis) Umum Rudapaksa multipel

Jember |

31

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Syok: hemoragik, neurogenik

Komplikasi dini Lokal Nekrosis kulit, gangren, sindrom kompartemen, trombosis vena, infeksi sendi, osteomielitisumum ARDS, emboil paru, tetanus

Komplikasi lama Lokal Sendi : ankilosis fibrosa, ankilosis osal Tulang : Gagal taut/taut lama/salah taut Distrofi refleks Osteoporosis pasca trauma Gangguan pertumbuhan Osteomielitis Patah tulang ulang Otot/tendo : penulangan otot, ruptur tendon Saraf : kelumpuhan saraf lamban

Umum Batu ginjal (akibat imobilisasi lama di tmpat tidur)

BAGAN KAIDAH EMAS PADA PENANGANAN PATAH TULANG Terlebih dahulu perhatikan adanya obstruksi jalan nafas, perdarahan syok, dan kesadaran, baru periksa patah tulang Pasang bidai terlebih dahulu di tempat kecelakaan untuk menghindari cedera jaringan lunak Hindari penanganan patah tulang yang tidak perlu

Jember |

32

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Perhatikan adanya cedera saraf, baik motorik maupun sensorik dan cedera pembuluh darah, terutama perdarahan di distal patah tulang, catat data dengan waktunya dan atur kontrol berkala

Perhatikan juga adanya cedera lain, seperti pneumotoraks, perdarahan dalam, dan tanda cedera otak saat pengawasan berikutnya Walaupun tidak ada deformitas dan gangguan gerakan, kemungkinan patah tulang selalu ada, perhatikan anamnesis, palpasi, dan sifat nyeri Reposisi harus dilakukan secepat mungkin, sedapat mungkin sebelum terjadi bengkak dan udem (kecuali pergelangan kaki) Nyeri kontinu sering disebabkan olah iskemia kulit atau iskemia seluruh anggota gerak Membelah gips sirkuler berarti membuka betul sampai kulit dan terlonggarkan Traksi harus sering ditengok untuk menghindari tarikan salah atau distraksi Yang tidak harus diimobilisasi harus bergerak secara teratur melalui mobilisasi dan latihan Fraktur terbuka selalu merupakan luka dan patah tulang terkontaminasi Tujuan penanganan ialah tercapainya faal tanpa gangguan, yang berarti: Untuk anggota gerak atas: faal tangan walaupun terjadi pemendekan atau dislokasi didalam batas tertentu Untuk anggota gerak bawah : berdiri stabil dan berjalan sendiri tanpa nyeri, pemendekan sedikit dapat diterima

Berikan

perhatian

dan

penanganan

kepada

penderita

sesuai

dengan

kepribadiannya Pemeriksaan rontgen terdiri atas dua foto yang diambil dari dua arah, sebaiknya foto ini juga diperiksa oleh anda sendiri karena andalah yang kenal sang penderita.

Jember |

33

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

TRAUMA ABDOMEN
Penilaian sirkulasi sewaktu primary survey harus mencakup deteksi dini dari kemungkinan adanya perdarahan tersembunyi pada abdomen dan pelvis pada pasien trauma tumpul. Trauma tajam pada dada diantara nipple dan perineum harus dianggap potensiil mengakibatkan cedera intraabdominal. Pada penilaian abdomen, prioritas maupun metode apa yg terbaik sangat ditentukan oleh mekanisme trauma, berat dan lokasi trauma maupun status hemodinamik px. Adanya trauma abdomen yg tidak terdeteksi tetap menjadi salah satu penyebab kematian yang sebenarnya dapat dicegah, selain trauma spinal. Sebaiknya jgn menganggap bahwa ruptur organ berongga maupun perdarahan dari organ padat merupakan hal yg mudah untuk dikenali. Seringkali pemeriksaan kita dipengaruhi oleh adanya intoksikasi alkohol, penggunaan obat-obat tertent, danya trauma otak maupun med spin yg menyertai, ataupun adanya trauma yg mengenai organ yang berdekatan seperti costa, tlg belakang maupun pelvis. Bisa juga kita mendapatkan adanya kehilangan darah yg bermakna di dalam rongga abdomen tanpa adanya perubahan yg dramatis dalam bentuk abdomen maupun tanda-tanda peritonitis yg jelas. Setiap px yg mengalami trauma tumpul pada dada baik karena pukulan langsung maupun deselerasi, ataupun trauma tajam, harus dianggap mungkin mengalami trauma viscera ataupun trauma vaskuler abdomen. Penilaian : Pd px yang mengalami hipotensi, sasaran dokter mula-mula adalah menentukan apakah ada/tidak trauma abdomen dan apakh ini yang mengakibatkan hipotensi. Anamnesa : Px yg megalami kendaraan bermotor : Kecepatan kendaraan, jenis tabrakan (depan dg depan, tabrakan samping, terserempet, tabrakan dari

Jember |

34

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

belakang ataupun terguling), berapa besar penyoknya bagian kendaraan kedalam ruang penumpang, jenis pengaman yang digunakan, ada/tidak air bag, posisi px dalam kendaraan, dan status penumpang lainnya. Keterangan ini dapat diperoleh langsung dari px, penumpng lain, polisi maupun petugas emergensi jalan raya. Informasi mengenai tanda vital, luka luka yg ada maupun respon terhadap perawatan pra RS harus dapat diberikan oleh petugas2 pra RS. Bila meneliti px dg trauma tajam, anamnesa yg teliti harus diarahkan pd waktu terjadinya trauma, jenis senjata yg dipergunakan (pisau, pistol, senapan), jarak dari pelaku(terutama penting pd shotgun, karena insiden trauma viscera berkurang bila jarak lebih dari 3m atau 10 kaki), jumlah tikaman atau tembakan, dan jumla perdarahan eksternal yg tercatat ditempat kejadian. Bila mungkin informsi tambahan harus diperoleh dari px mengenai hebatnya maupun lokasi dari setiap nyeri abdominalnya, dan apakh ada nyri alih ke bahu. Pemeriksaan fisik : 1) Inspeksi Umumnya px harus diperiksa tanpa pakaian. Abdomen bagian depan dan belakang, dada bagian bawah dan perineum diteliti apakah mengalami ekskoriasi atupun memar karena alat pengaman, adakah laserasi, liang tusukan, benda asing yg menancap, omentum ataupun bagian usus yg keluar, dan status kehamilan. Harus dilakukan log-roll agar pemeriksaan lengkap. 2)Auskultasi Yg peting adalah ada atau tidaknya bising usus tersebut. Darah bebas di retroperitoneum ataupun gastrointestinal dapat mengakibatkan ileus, yang mengakibatkan hilangnya bising usus. Cedera struktur yg berdekatan seperti iga, vertebra, maupun pelvis bisa juga mengakibatkan ileus walaupun tidak ada cedera intraabdominal. Karena itu hilangnya bising usus tidak diagnostik untuk trauma intraabdominal. Jember | 35

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

3)Perkusi Manuver ini mengakibatkan pergerakan peritoneum dan mencetuskan tanda peritonitis. Dg perkusi bisa kita ketahui adanya nada timpani karena dilatasi lambung akut di kwadran kiri atas ataupun adanya perkusi redup bila ada hemoperitoneum. 4)Palpasi Kekakuan perut yang involunter merupakan tanda yg bermakna untuk rangsangan peritoneal. Tujuan palpasi adalah untuk mendapatkan adanya nyeri lepas yang kadang-kadang dalam. Nyeri lepas sesudah tangan yang menekankita lepaskan dengan cepat menunjukkan peritonitis, yang biasanya oleh kontaminasi isi usus, maupun hemoperitoneum tahap awal. 5)Evaluasi luka tusuk Sebagian besar kasus luka tembak ditangani dengan laparotomi eksploratif karena insiden cedera intraperitoneal bisa mencapai 95%. Bila terbukti peritoneum tembus, px mengalami resiko lebih besar untuk cedera intraabdominal, dan banyak ahli bedah menganggap ini sudah indikasi untuk laparotomi. 6)Menilai Stabilitas Pelvis Penekanan secara manual pd SIAS ataupun crista iliaca akan menimbulkan rs nyeri maupun krepitasi yg menyebabkan dugaan pd fraktur pelvis pd px dg trauma tumpul. Harus hati2 krn manuver ini bisa menyebabkan atau menambah perdarahan yang terjadi. 7)Pemeriksaan penis, perineum dan rektum. Adanya darah pd meatus uretra menyebabkan dugaan kuat robeknya uretra. Infeksi pd skrotum dan perineum dilakukan untuk melihat ada tidaknya ekimosis ataupun hematoma dengan dugaan yang sama dengan diatas. Tujuan pemeriksaan rektum pd px dg trauma tumpul adalh untuk menentukan tonus sfingter, posisi prostat(prostat yg letaknya tinggi menyebabkan dugaan cedera uretra) dan menentukan ada tidaknya fraktur pelvis. Pada px dg luka tusuk, Jember | 36

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

pemeriksaan rektum bertujuan menilai tonus sfingter dan melihat adanya perdarahan karena perforasi usus. 8)Pemeriksaan Vagina Bisa terjadi robekan vagina karena fragmen tulang dari fraktur pelvis ataupun luka tusuk. 9)Pemeriksaan Glutea Regio glutealis memanjang dari krista iliaka sampai lipatan glutea. Luka tusuk di daearh ini biasanya berhubungan (50%) dengan cedera intraabdominal. INTUBASI : a) Gastric Tube : Tujuan terapeutik dari pemasangn ini sejak masa resusitasi adalah untuk mengatasi dilatasi lambung akut, dekompresi gaster sebelum melakukan DPL, dan mengeluarkan isi lambung yg berarti mencegah aspirasi. Adanya darah pd NGT menujukkan kemungkinan adanya cedera esofagus ataupun saluran gastrointestinal bagian atas bila nasofaring ataupun orofaringnya aman.

Perhatian : Gastric tube harus dimasukkan mll mulut (orogastric) bila ada kecurigaan fraktur tlg fasial ataupun fraktur basis kranii agar bisa mencegah tube msuk mll lamina kribiformis menuju otak. b) Kateter Urin : tujuan pemasangan adalah mengatasi retnsi urin, dekompresi buli2 sebelum melkukan DPL, dan untuk monitor urinary output sebagai slh 1 indeks perfusi jaringan. Hematuria menunjukkan adanya cedera traktus urogenitalis. Perhatian : Ketidakmampuan untuk kencing, fraktur pelvis yg tidak stabil, darah pd meatus uretra, hematoma skrotum ataupun ekimosis perineum maupun prostat yg letaknya tinggi pd colok dubur menjadi petunjuk agar dilakukan pemeriksaan uretrografi retrograd agar bisa diyakinkan tidak adanya ruptur uretra sebelum emasangan kateter. Bilaman pd primary survey maupun secondary survey kita ketahui adanya Jember | 37

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

robek uretra, mungkin harus dilakukan kateter suprapubik oleh dokter yg berpengalaman Pengambilan Sampel Darah dan Urin Pemeriksaan Radiology Pemeriksaan X ray untuk skrining trauma tumpul Pemeriksaan X ray untuk skrining trauma tajam Pemeriksaan dengan kontras yg khusus Pemeriksaan Diagnostik pd Trauma Tumpul Diagnostik peritoneal lavage FAST (Focused Assessment Sonography in Trauma) CT Pemeriksaan Diagnostik Pd Trauma Tajam Cedera torak bagian bawah Eksplorasi local luka dan pemeriksaan fisik serial dibandingkan dg DPL pd luka tusuk abdomen dpn Pemeriksaan fisik diagnostic serial dibandingkan CT dg dobel atau tripel contras pd cedera flank maupun punggung Indikasi Laparotomi Pd Org Dewasa : 1. Trauma tumpul abdomen dg hipotensi dan dugaan perdarahan intraabdominal secara klinis 2. Trauma tumpul abdomen dg FAS 3. Hipotensi pd luka tusuk tembus abdomen 4. Luka tembak menyebrang rongga peritoneum 5. Eviscerasi omentum atau usus 6. Perdarahan dari gaster, rektum atau traktus

urogenital luka tusuk 7. Adanya peritonitis 8. Udara bebas, udara retroperitoneal atau ruptur diafragma pd trauma tumpul Jember | 38

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

9. CT dg kontras memperlihatkan ruptur saluran cerna, cedera buli intra peritoneal, cedera pembuluh darah ginjal, ataupun kerusakan parenkim viscera sesudah trauma tumpul atau tajam.

Jember |

39

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

SISTEM PENANGGULANGAN GAWAT DARURAT TERPADU (SPGDT)

Pendahuluan Bencana merupakan peristiwa yang biasanya mendadak (bisa perlahan) disertai jatuhnya banyak korban dan bila tidak ditangani dengan tepat akan menghambat, mengganggu dan merugikan masyarakat, pelaksanaan dan hasil pembangunan. Indonesia merupakan super market bencana. Bencana pada dasarnya karena gejala alam dan akibat ulah manusia. Untuk mencegah terjadinya akibat dari bencana, khususnya untuk mengurangi dan menyelamatkan korban bencana, diperlukan suatu cara penanganan yang jelas (efektif, efisien dan terstruktur) untuk mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana. Ditingkat nasional ditetapkan Bakornas-PBP (sekarang Banas), Satkorlak-PBP dipropinsi dan Satlak-PBP dikabupaten kota. Unsur kesehatan tergabung didalamnya. Dalam keadaan sehari-hari maupun bencana, penanganan pasien gadar melibatkan pelayanan pra RS, di RS maupun antar RS. Memerlukan penanganan terpadu dan pengaturan dalam sistem. Ditetapkan SPGDT-S dan SPGDT-B (sehari-hari dan bencana) dalam Kepres dan ketentuan pemerintah lainnya. Disadari untuk peran jajaran kesehatan mulai tingkat pusat hingga desa memerlukan kesiapsiagaan dan berperan penting dalam penanggulangan bencana, mengingat dampak yang sangat merugikan masyarakat. Untuk itu seluruh jajaran kesehatan perlu mengetahui tujuan dan langlah-langkah kegiatan kesehatan yang perlu ditempuh dalam upaya kesiapsiagaan dan penanggulangan secara menyeluruh. Tujuan 1. Didapatkan kesamaan pola pikir / persepsi tentang SPGDT. 2. Diperoleh kesamaan pola tindak dalam penanganan ksus gadar dalam keadaan

Jember |

40

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

seharihari maupun bencana. Pengertian 1. Safe Community, (SC) : Keadaan sehat dan aman yang tercipta dari, oleh dan untuk masyarakat. Pemerintah dan teknokrat merupakan fasilitator dan pembina. 2. Bencana : Kejadian yang menyebabkan terjadinya banyak korban gadar, yang tidak da pat dilayani oleh unit pelayanan kesehatan seperti biasa, terdapat kerugian material dan terjadinya kerusakan infra struktur fisik serta terganggunya kegiatan normal masyarakat. 3. Pasien gadar adalah pasien yang berada dalam ancaman kematian dan memerlukan pertolongan segera. 4. SPGDT : Sistem penanggulangan pasien gadar yang terdiri dari unsur, pelayanan pra RS, pelayanan di RS dan antar RS. Pelayanan berpedoman pada respon cepat yang menekankan time saving is life and limb saving, yang melibatkan pelayanan oleh masyarakat awam umum dan khusus, petugas medis, pelayanan ambulans gadar dan sistem komunikasi. 5. PSC (Public Safety Center) : Pusat pelayanan yang menjamin kebutuhan masyarakat dalam hal-hal yang berhubungan dengan kegadaran, termasuk pelayanan medis yang dapat dihubungi dalam waktu singkat dimanapun berada. Merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan, yang bertujuan untuk mendapatkan respons cepat (quick re sponse) terutama pelayanan pra RS. 6. BSB (Brigade Siaga Bencana) : Satuan tugas kesehatan yang terdiri dari petugas me Jember | 41

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

dis (dokter, perawat), paramedik dan awam khusus yang memberikan pelayanan kese hatan berupa pencegahan, penyiagaan maupun pertolongan bagi korban bencana. 7. UGD (Unit Gawat Darurat) : Unit pelayanan di RS yang memberikan pelayanan pertama pada pasien dengan ancaman kematian dan kecacadan secara terpadu dengan meli batkan berbagai disiplin. 8. HCU (High Care Unit) : Unit pelayanan di RS yang melakukan pelayanan khusus bagi pasien dengan kondisi respirasi, hemodinamik dan kesadaran yang sudah stabil dan masih memerlukan pengobatan, perawatan dan pengawasan secara ketat. 9. URI (Unit Rawat Intensif) : Unit pelayanan di RS yang melakukan pelayanan khusus bagi pasien gadar yang menggunakan berbagai alat bantu untuk mengatasi ancaman kematian dan melakukan pengawasan khusus terhadap fungsi vital tubuh. SAFE COMMUNITY Pelayanan kasehatan di Indonesia beralih ke dan berorientasi pada paradigma sehat. Untuk mencapai hal tsb. dicanangkan program Safe Community oleh Depkes pada HKN 36 di Makassar. Adalah gerakan agar masyarakat merasa sehat, aman dan sejahtera dimanapun mereka berada yang melibatkan peran aktif himpunan profesi maupun masyarakat. Gerakan ini juga terkandung dalam konstitusi WHO. Mempunyai dua aspek, care dan cure, Care adalah adanya kerja-sama lintas sektoral terutama jajaran non kesehatan untuk menata perilaku dan lingkungan di masyarakat untuk mempersiapkan, mencagah dan melakukan mitigasi dalam menghadapi berbagai hal yang berhubungan dengan kesehatan, keamanan dan kesejahteraan. Cure adalah peran utama sektor kesehatan dibantu sektor lain terkait dalam upaya melakukan penanganan keadaan dan kasus-kasus gadar.

Jember |

42

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Kemampuan masyarakat melakukan pertolongan pertama yang cepat dan tepat pra RS merupakan awal kegiatan penanganan dari tempat kejadian dan dalam perjalanan ke RS untuk mendapatkan pelayanan yang lebih efektif di RS. Melalui gerakan SC diharapkan dapat diwujudkan upaya-upaya untuk mengubah perilaku mulai dari kelompok keluarga, kelompok masyarakat dan lebih tinggi hingga mencapai seluruh masyarakat Indonesia. Gerakan ini harus dikembangkan secara sistematis dan berkesinambungan dengan mengikutsertakan berbagai potensi. Gerakan ini ditunjang komponen dasar : Subsistem komunikasi, transportasi, yankes maupun non kesehatan termasuk biaya yang bersinergi. Sistem yang dikembangkan Depkes adalah pengembangan model dan pembuatan standar maupun pedoman yang diperlukan. Daerah memiliki peluang menyusun rencana kesehatan sesuai kebutuhan dan kemampuan masyarakatnya. Visi gerakan SC Menjadi gerakan di masyarakat yang mampu melindungi masyarakat dalam keadaan kedaruratan sehari-hari dan melindungi masyarakat dalam situasi bencana maupun atas dampak akibat terjadinya bencana, sehingga tercipta perilaku masyarakat dan lingkungan sekitarnya untuk terciptanya situasi sehat dan aman. Misi gerakan SC 1. Mendorong terciptanya gerakan masyarakat untuk menjadi sehat, aman dan sejahtera. 2. Mendorong kerja-sama lintas sektor dan program dalam gerakan mewujudkan masyarakat sehat dan aman. 3. Mengembangkan standar nasional dalam peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. 4. Mengusahakan dukungan pendanaan bidang kesehatan dari pemerintah, bantuan luar Jember | 43

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

negeri dan bantuan lain dalam rangka pemerataan dan perluasan jangkauan pelayanan kesehatan terutama dalam keadaan darurat. Menata sistem pendukung pelayanan ke sehatan pra RS dan playanan kesehatan di RS dan seluruh unit pelayanan kesehatan di Indonesia. Nilai dasar 1. SC meliputi aspek care (pencegahan, penyiagaan dan mitigasi), 2. Equity, adanya kebersamaan dari institusi pemerintah, kelompok/organisasi profesi dan masyarakat dalam gerakan SC. 3. Partnership, menggalang kerja-sama lintas sektor dan masyarakat untuk mencapai tu juan dalam gerakan SC. 4. Net working, membangun suatu jaring kerja-sama dalam suatu sistem dengan melibat kan seluruh potensi yang terlibat dalam gerakan SC. 5. Sharing, memiliki rasa saling membutuhkan dan kebersamaan dalam memecahkan se gala permasalahan dalam gerakan SC. Maksud Memberikan pedoman baku bagi daerah dalam melaksanakan gerakan SC agar terciptanya masyarakat sehat, aman dan sejahtera. Tujuan 1. Menggerakkan partisipasi masyarakat dalam gerakan SC dan menata perilaku masyarakat dan ingkungannya menuju perilaku sehat dan aman. 2. Membangun SPGDT yang dapat diterapkan pada seluruh lapisan masyarakat. 3. Membangun respons masyarakat pada pelayanan kesehatan dalam keadaan darurat

Jember |

44

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

melalui pusat pelayanan terpadu antara lain PSC dan potensi penyiagaan fasilitas ke sehatan serta peran serta masyarakat dalam menghadapi bencana. 4. Mempercepat response time kegadaran untuk menghindari kematian dan kecacadan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Sasaran yang ingin dicapai 1. Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kepedulian masyarakat dan profesi kese hatan dalam kewaspadaan dini kegadaran. 2. Terlaksananya koordinasi lintas sektor terkait dalam SPGDT, baik untuk keamanan dan ketertiban (kepolisian), unsur penyelamatan (PMK) dan unsur kesehatan (RS, Puskes mas, ambulans dll) yang tergabung dalam satu kesatuan dengan mewujudkan PSC. 3. Terwujudnya subsistem komunikasi dan transportasi sebagai pendukung dalam satu sistem, SPGDT. Falsafah dan Tujuan Organisasi dalam SC 1. Gerakan SC diwujudkan untuk memberikan rasa sehat dan aman dengan melibatkan seluruh potensi masyarakat serta memanfaatkan kemampuan dan fasilitas pada pelayanan kesehatan pra RS dan RS atau antar RS secara optimal. 2. Merubah perilaku mulai dari anggota keluarga, kelompok hingga yang lebih tinggi se cara berjenjang agar mampu menanggulangi kegadaran sehari-hari. 3. Ada visi, misi, tujuan dan sasaran. 4. Menggunakan motto time saving is life and limb saving dan kemampuan rehabilitasi

Jember |

45

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

pasca keadaan gadar sebagai bagian upaya mewujudkan rasa sehat dan aman bagi masyarakat. Ketentuan umum dalam pengorganisasian 1. Organisasi gerakan SC didaerah didasarkan pada organisasi yang melibatkan multi disiplin dan multi profesisi. 2. Terdapat unsur pimpinan/wakil, sekretaris, bendahara dan anggota. 3. Minimal melibatkan unsur keamanan dan ketertiban (kepolisian, penyelamatan/PMK dan kesehatan, dan kemudian dilibatkan unsur lain seperti keselamatan dan kesehatan kerja karyawan dan humas. Administrasi dan pengelolaan 1. Harus ada struktur serta uraian tugas, pembagian kewenangan dan mekanisme hubungan kerja dengan unit lain. 2. Unit kerja terkait al. jajaran kesehatan, kepolisian, PU, keselamatan kerja dan tenaga kerja, telekomunikasi, ormas (ORARI, RAPI, PMI dll). 3. Adanya ketetapan produk hukum, merupakan dasar mencapai visi, misi dan tujuan. 4. Adanya petunjuk dan informasi yang disediakan bagi masyarakat untuk mejamin kemu dahan dan kelancaran dalam memberikan pelayanan di masyarakat. 5. Ada PSC sebagai unit pelaksana yang berfungsi untuk respons cepat kegadaran di masyarakat. Staf dan pimpinan 1. Gerakan SC diselenggarakan oleh seluruh komponen masyarakat dengan kepala daerah menetapkan keberadaan organisasi ini dengan SK.

Jember |

46

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

2. Organisasi dimaksud adalah PSC yang dibangun disetiap daerah. 3. Jumlah, jenis dan kualifikasi tenaga yang ditetapkan sesuai kebutuhan. Fasilitas dan Peralatan 1. Fasilitas yang disediakan harus dapat menjamin efektifitas bagi pelayanan kepada masyarakat termasuk pelayanan UGD di RS dengan waktu pelayanan 24 jam. 2. Sarana dan prasarana, peralatan dan obat yang disiapkan sesuai dengan standard yang ditetapkan Depkes. 3. Adanya subsistem pendukung baik komunikasi, transportasi termasuk ambulans dan keselamatan kerja. Kebijakan dan prosedur 1. Tertulis agar dapat dievaluasi dan disempurnakan. 2. Ditetapkan kebijakan pelayanan kasus gadar pra RS, RS dan rujukannya termasuk adanya perencanaan RS dalam penanganan bencana (Hospital disaster plan). 3. Ditetapkan adanya PSC ditiap daerah dan memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan kerja dan kegadaran sehari-hari. SISTEM PENANGGULANGAN GAWAT DARURAT TERPADU Umum Sistem yang merupakan koordinasi berbagai unit kerja (multi sektor) dan didukung berbagai kegiatan profesi (multi disiplin dan multi profesi) untuk menyelenggarakan pelayanan terpadu bagi penderita gadar baik dalam keadaan bencana maupun seharihari. pela-yanan medis sistem ini terdiri 3 subsistem yaitu pelayanan pra RS, RS dan antar RS.

Jember |

47

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Sistem pelayanan Medik Pra RS Dengan mendirikan PSC, BSB dan pelayanan ambulans dan komunikasi. Pelayanan sehari-hari : - PSC. Didirikan masyarakat untuk kepentingan masyarakat. Pengorganisasian dibawah Pemda. SDM berbagai unsur tsb. ditambah masyarakat yang bergiat dalam upaya pertolongan bagi masyarakat. Biaya dari masyarakat. Kegiatan menggunakan perkembangan teknologi, pembinaan untuk memberdayakan potensi masyarakat, komunikasi untuk keterpaduan kegiatan. Kegiatan lintas sektor. PSC berfungsi sebagai respons cepat penangggulangan gadar. - BSB. Unit khusus untuk penanganan pra RS, khususnya kesehatan dalam bencana. Pengorganisasian dijajaran kesehatan (Depkes, DInkes, RS), petugas medis (perawat, dokter), non medis (sanitarian, gizi, farmasi dll). Pembiayaan dari instansi yang ditunjuk dan dimasukkan APBN/APBD. - Pelayanan Ambulans. Terpadu dalam koordinasi dengan memanfaatkan ambulans Puskesmas, klinik, RB, RS, non kesehatan. Koordinasi melalui pusat pelayanan yang disepakati bersama untuk mobilisasi ambulans terutama dalam bencana. - Komunikasi. Terdiri dari jejaring informasi, koordinasi dan pelayanan gadar hingga seluruh kegiatan berlangsung dalam sistem terpadu. - Pembinaan. Berbagai pelatihan untuk meningkatan kemampuan dan keterampilan bagi dokter, perawat, awam khusus. Penyuluhan bagi awam. Pelayanan pada bencana, terutama pada korban massal - Koordinasi, komando. Melibatkan unit lintas sektor. Kegiatan akan efektif dan efisien bila dalam koordinasi dan komando yang disepakati bersama. - Eskalasi dan mobilisasi sumber daya. Dilakukan dengan mobilisasi SDM, fasilitas dan sumber daya lain sebagai pendukung pelayanan kesehatan bagi korban. - Simulasi. Diperlukan protap, juklak, juknis yang perlu diuji melalui simulasi apakah dapat diimplementasikan pada keadaan sebenarnya.

Jember |

48

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

- Pelaporan, monitoring, evaluasi. Penanganan bencana didokumentasikan dalam bentuk laporan dengan sistematika yang disepakati. Data digunakan untuk monitoring dan evaluasi keberhasilan atau kegagalan, hingga kegiatan selanjutnya lebih baik. Sistem Pelayanan Medik di RS 1. Perlu sarana, prasarana, BSB, UGD, HCU, ICU, penunjang dll. 2. Perlu Hospital Disaster Plan, Untuk akibat bencana dari dalam dan luar RS. 3. Transport intra RS. 4. Pelatihan, simulasi dan koordinasi adalah kegiatan yang menjamin peningkatan ke mampuan SDM, kontinuitas dan peningkatan pelayan medis. 5. Pembiayaan diperlukan dalam jumlah cukup. Sistem Pelayanan Medik Antar RS. 1. Jejaring rujukan dibuat berdasar kemampuan RS dalam kualitas dan kuantitas. 2. Evakuasi. Antar RS dan dari pra RS ke RS. 3. Sistem Informasi Manajemen, SIM. Untuk menghadapi kompleksitas permasalahan da lam pelayanan. Perlu juga dalam audit pelayanan dan hubungannya dengan penunjang termasuk keuangan. 4. Koordinasi dalam pelayanan terutama rujukan, diperlukan pemberian informasi kea daan pasien dan pelayanan yang dibutuhkan sebelum pasien ditranportasi ke RS tujuan. Hal-hal khusus 1. Petunjuk Pelaksanaan Permintaan dan Pengiriman bantuan medik dari RS rujukan. 2. Protap pelayanan Gadar di tempat umum. 3. Pedoman pelaporan Penilaian Awal/Cepat. Jember | 49

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

PUBLIC SAFETY CENTER Diadakannya PSC dilandasi aspek time management sebagai implementasi time saving is life and limb saving yang mengandung unsur kecepatan atau quick respons dan ketepatan berupa mutu pelayanan yang sesuai standar. Unsur kecepatan dipenuhi oleh subsistem transportasi dan komunikasi handal sedang unsur ketepatan dipenuhi oleh kemampuan melakukan pertolongan penderita gadar (PPGD) meliputi basic life support dan advance life support sesuai masalah yang dihadapi. Pelayanan bersifat gratis dan begitu sampai RS, berlaku sistem pembayaran yang berlaku. Awak ambulans PSC berstandar BLS dan ALS. Peran Dirjen Bina Yanmed Depkes Tujuan pembangunan kesehatan antaranya memperbaiki kualitas pelayanan diseluruh daerah dan seluruh fasilitas pelayanan. Pelayanan medik diberikan pada individu berupa upaya promotif, kuratif dan rehabilitatif yang bersifat continuum (terus menerus). Pela-yanan medik dasar berupa pencegahan primer (health promotion dan specific protection) oleh tenaga medik maupun non medik. Pencegahan sekunder berupa deteksi dini dan pengobatan serta pembatasan cacad, serta pencegahan tertier berupa rehabilitasi medik maksimal oleh dokter, dokter gigi dan tenaga kesehatan lain. Yanmed dasar merupakan basis dari sistem rujukan medik spesialistik. Hubungan Kebijakan Depkes dengan pelayanan pada masyarakat Arah dan kebijakan pembangunan kesehatan yang ditetapkan Menkes lebih menekankan pada upaya peningkatan dan pemeliharaan kesehatan tanpa mengabaikan pelayanan penyembuhan dan rehabilitasi untuk mencapai visi Indonesia Sehat 2010. Berdasar PP 25/2000 tentang kewenangan Pemerintah dan kewenangan propinsi dan Kepmenkes 130/2000 tentang Organisasi dan cara kerja Depkes, maka yanmed dalam pembangunan kesehatan memerlukan : 1. Penetapan pedoman sertifikasi teknologi yanmed.

Jember |

50

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

2. Penetapan pedoman penerapan, penapisan dan pengembangan teknologi dan standar etika medik. 3. Penetapan standar akreditasi sarana dan prasarana yanmed. 4. Penetapan standar pendidikan dan pendayagunaan tenaga kesehatan. 5. Penetapan pedoman pembiayaan yanmed. Paradigma yanmed unggulan menganut pada (mengacu pada dasar-dasar bangkes tsb.): 1. Pergeseran orientasi dari professional driven menjadi client driven, klien yang semula objek menjadi subjek pelayanan. Otonomi klien sangat diutamakan seperti pada informed consent yang berupa pemberian informasi timbal balik seimbang. Hubungan provider dan client merupakan dasar yanmed. Kepuasan klien merupakan fokus pelayanan yang menjamin kesembuhan, penurunan keluhan dan atau peningkatan kesehatan. Client driven approach merupakan lingkungan kondusif dalam menciptakan budaya mutu dari institusi yanmed. 2. Yanmed terintegrasi adalah pelayanan holistic-continuum yang akan meningkatkan mutu dan efisiensi pelayanan, termasuk pertimbangan biaya. Manajemen profesional memacu sinergi seluruh sumber daya. 3. Evidence based medicine adalah yanmed yang dilaksanakan profesional mengacu pada fakta yang benar, dapat dipercaya yang diinformasikan pada klien dan akan melandasi keputusan dan tindakan profesional yanmed. 4. Medicine by law. Industri pelayanan medik mengandung unsur ekonomi, sosial, profesional. Transaksi yanmed tidak sama dengan transaksi umum yang mengandung kepastian. Walaupun pasien ditangani lege artis dapat saja terjadi kematian dan kecacadan. Undang-undang perlindungan konsumen tidak dapat diterapkan dalam yanmed. Untuk itu hukum yanmed perlu dikembangkan secara adil baik dari sisi provider maupun klien. Hukum dan perundangan dalam yanmed tsb. sebagi landasan medicine by law yang merupakan risk management menuju pelayanan prima. Jember | 51

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Hubungan kebijakan Depkes dengan PSC Menyediakan pelayanan prima pra RS. Menyediakan dokter yang memiliki kemampuan BLS dan ALS. Mengusahakan geomedic mapping yang merupakan pemetaan sumberdaya sarana dan prasarana kesehatan (SDM, biaya, teknologi) serta lokasi permasa-lahan, akan mempermudah koordinasi dan penggerakan sumberdaya kesehatan dan non kesehatan. Pelayanan yang baik terkait dengan komunikasi dan transportasi terutama dalam bencana. Koordinasi dengan polisi/SAR-PMK diperlukan. Koordinasi dengan unsur yang ditetapkan pemerintah yaitu Bakornas/Banas, Satkorlak, Satlak PBP hingga terjadi sinergi, efisiensi dan mutu penanggulangan. Strategi pembentukan dan pengembangan PSC 1. Administrasi dan manajemen. Pengembangan visi, misi, strategi, kebijakan dan langkah-langkah. Memuat berbagai peraturan perundangan pembagian tugas kewajiban kewenangan dan tanggung-jawab antara unsur struktural tingkat pusat, propinsi, kabupaten-kota, termasuk sarana-prasarana yang berhubungan dengan transportasi, maupun yankes pra RS hingga RS. Diperlukan peran serta awam, awam khusus, asuransi, yang akan terkait dalam mengatur prosedur dan hubungan kerja. Pengembangan standar pelayanan, skreditasi dan srtifikasi PSC dipelukan. Dikembangkan hubungan kerja-sama (partnership, networking, communicating, sharing) dengan instansi terkait yang berperan pada PSC. 2. SDM. Memacu sistem perencanaan pengadaan, pemanfaatan serta pengembangannya sehingga tercipta hubungan yang tepat, link and match, dengan kebutuhan setempat. SDM didapat dari pengembangan nasional atau daerah. Profesionalisme diatur perun-dangan. Dibuat ketentuan tentang sertifikasi, ijazah keahlian, akreditasi diklat serta penataan jabatan struktural dan fungsional yang proporsional. Dikembangkan emergency and disaster medicine untuk memenuhi kebutuhan daerah/nasional. 3. Teknologi. Pengembangan teknologi medik dan non medik dan penunjangnya. Jember | 52

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Melalui sistem penapisan, pemanfaatan, modifikasi serta penguasaannya terencana. 4. Pembiayaaan. Baik terhadap public goods, public private maupun private goods ditata melalui sistem prabayar seperti JPKM, asuransi, out of pocket, subsidi. Kata kunci perencanaan terbentuknya PSC, merupakan unsur essensial PSC yang akan menjamin terwujudnya SC, al: 1. Save community. 2. Time saving is life and limb saving. 3. Preparedness, prevention, mitigation, quick response dan rehabilitation. 4. Administrasi-manajemen, SDM, teknologi dan pembiayaan. TANGGAP DARURAT BENCANA Pengertian 1. Korban massal. Korban relatif banyak akibat penyebab yang sama dan perlu pertolongan segera dengan kebutuhan sarana, fasilitas dan tenaga yang lebih dari yang ter sedia. Tanpa kerusakan infra struktur. 2. Bencana. Mendadak / tidak terencana atau perlahan tapi berlanjut, berdampak pada pola kehidupan normal atau ekosistem, hingga diperlukan tindakan darurat dan luar bi asa untuk menolong dan menyelamatkan korban dan lingkungannya. Korban banyak, dengan kerusakan infra struktur. 3. Bencana kompleks. Bencana disertai permusuhan yang luas, disertai ancaman kea manan serta arus pengungsian luas. Korban banyak, kerusakan infra struktur, disertai ancaman keamanan. Masalah saat bencana 1. Keterbatasan SDM. Tenaga yang ada umumnya mempunyai tugas rutin lain 2. Keterbatasan peralatan / sarana. Pusat pelayanan tidak disiapkan untuk jumlah korban

Jember |

53

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

yang besar. 3. Sistem Kesehatan. Belum disiapkan secara khusus untuk menghadapi bencana. Fase pada Disaster Cycle 1. Fase Impact / bencana. Korban jiwa, kerusakan sarana-prasarana, infra struktur, tata- nan sosial sehari-hari. 2. Fase Acute Response / tanggap segera : a. Acute emergency response. Rescue, triase, resusitasi, stabilisasi, diagnosis, terapi definitif. b. Emergency relief. Mamin, tenda untuk korban sehat. c. Emergency rehabilitation. Perbaikan jalan, jembatan dan sarana dasar lain untuk pertolongan korban. 3. Recovery. Pemulihan. 4. Development. Pembangunan. 5. Prevention. Pencegahan. 6. Mitigation. Pelunakan efek bencana. 7. Preparedness. Kesiapan menghadapi bencana. Perlindungan diri bagi petugas - Prinsip Safety. a. Do no further harm. b. Safety diri saat respons kelokasi. Alat pengaman, rotator selalu hidup, sirine hanya saat mengambil korban, persiapan pada kendaraan, parkir 15 m dari lokasi (ke bakaran : 30 m, perhatikan arah angin). c. Safety diri ditempat kejadian. Minimal berdua. Koordinasi dengan fihak terkait, cara mengangkat pasien, proteksi diri. d. Safety lingkungan. Waspada bahaya yang mengancam.

Jember |

54

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

- Protokol Safety 1. Khusus. Atribut, tanda pengenal posko-ambulans, perangkat komunikasi khusus tim, jaring kerjasama dengan keamanan, hanya masuk daerah yang dinyatakan aman. Pada daerah konflik hindari menggunakan kendaraan keamanan, ambil jarak dengan petugas keamanan. Utamakan pakai kendaraan kesehatan / PMI. 2. Umum. Koordinasi dengan instansi setempat, KIE netralitas, siapkan jalur penyela matan diri yang hanya diketahui tim, logistik cukup, kriteria kapan harus lari. Posko Pelayanan Gadar Bencana 1. Penyediaan posko yankes oleh petugas yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Perhatikan sarat-sarat mendirikan posko. 2. Penyediaan dan pengelolaan obat. 3. Penyediaan dan pengawasan makanan dan minuman. Rapid Health Assessment (RHA) Pengertian Penilaian kesehatan cepat melalui pengumpulan informasi cepat dan analisis besaran masalah sebagai dasar mengambil keputusan akan kebutuhan untuk tindakan penanggulangan segera. Tujuan RHA Penilaian cepat sesaat setelah kejadian untuk mengukur besaran masalah kesehatan akibat bencana atau pengungsian, hasilnya berbentuk rekomendasi untuk digunakan dalam pengambilan keputusan penanggulangan kesehatan selanjutnya. Secara khusus menilai jenis bencana, lokasi, penduduk terkena, dampak yang telah / akan terjadi, kerusakan sarana yang menimbulkan masalah, kemampuan sumberdaya untuk mengatasi masalah, kemampuan respons setempat.

Jember |

55

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Ruang lingkup Medis, epidemiologis, lingkungan. Penyusunan instrumen Berbeda untuk tiap jenis kejadian, namun harus jelas tujuan, metode, variabel data, ke-rangka analisis, waktu pelaksanaan dan instrumen harus hanya variabel yang dibutuhkan. Variabel : Lokasi, waktu kejadian, jumlah korban dan penyebarannya, lokasi pengungsian, masalah kesehatan dan dampaknya (jumlah tewas, jumlah luka, jumlah kerusakan sarana, endemisitas setempat, potensi air bersih, kesiapan sarana yankes, ketersediaan logistik, upaya kesehatan yang telah dilakukan, fasilitas evakuasi, kesiapan tenaga, geografis, bantuan awal yang diperlukan, kemampuan respons setempat, hambatan yang ada). Pengumpulan data 1. Waktu. Tergantung jenis bencana. 2. Lokasi. Lokasi bencana, penampungan, daerah sekitar sebagai sumber daya. 3. Pelaksana / Tim RHA. Medis, epidemiologi, kesling, bidan/perawat, sanitarian yang bisa bekerjasama dan memiliki kapasitas mengambil keputusan. Metode RHA Pengumpulan data dengan wawancara dan observasi langsung. Analisis RHA Diarahkan pada faktor risiko, penduduk yang berisiko, situasi penyakit dan budaya lokal, potensi sumber daya lokal, agar diperoleh gambaran. 1. Luasnya lokasi, hubungan transportasi dan komunikasi, kelancaran evakuasi, rujukan dan pertolongan, dan pelayanan kesehatan. Jember | 56

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

2. Dampak kesehatan (epidemiologi). Angka kematian-luka, angka yang terkena dan perlu pertolongan, penyakit menular berpotensi KLB. 3. Potensi sarana pelayanan. Kemampuan sarana kesehatan terdekat. 4. Potensi sumber daya kesehatan setempat dan kemugkinan mendapatkan bantuan. 5. Potensi sumber air dan sanitasi. 6. Kesediaan logistik. Yang masih ada dan yang diperlukan. Rekomendasi Berdasar analisis. Segera disampaikan pada yang berwenang mana yang bisa diatasi sendiri, mana yang perlu bantuan. Obat-bahan-alat, medik-paramedik-surveilans-sanling, pencegahan-immunisasi, mamin, sanling, kemungkinan KLB, koordinasi, jalur komunikasi, jalur koordinasi, bantuan lain untuk mendukung kecukupan dan kelancaran pelayanan.

Keadaan atau Penyakit Trauma pada Sirkulasi SYOK Adalah sindrom klinis yang terjadi jika sirkulasi darah arteri tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan atau kegagalan sirkulasi darah perifer yang menyebabkan ketidakmampuan perfusi jaringan memberikan nutrisi ke sel dan membuang sisa-sisa metabolisme. Perfusi jaringan yang adekuat tergantung pada : a. Curah jantung b. Volume darah c. Tonus vasomotor perifer

Jember |

57

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Jika salah satu faktor penentu ini kacau, maka faktor lain tidak dapat melakukan kompensasi, maka akan terjadi syok. Awalnya tekanan darah arteri mungkin normal sebagai kompensasi peningkatan isi sekuncup dan curah jantung. Jika berlanjut, curah jantung menurun dan vasokonstriksi perifer meningkat. Pembagian Syok 1. Syok Hipovolumik Adalah syok yang terjadi akibat penurunan volume darah, plasma atau cairan tubuh. Tanda-tanda : a. Kesadaran menurun b. Nadi berdenyut lebih cepat (140 kali/menit) kemudian melemah, lambat dan menghilang. c. Merasa mual d. Kulit penderita dingin, lembab dan pucat e. Nafas dangkal dan kadang-kadang tidak teratur f. Pupil melebar Etiologi : 1) Perdarahan atau syok hemoragik misalnya akibat trauma 2) Kehilangan plasma misalnya akibat luka bakar, peritonitis 3) Kehilangan air dan elektrolit misalnya pada muntah dan diare Stadium syok dan gejalanya : a) Stadium pre-syok Cairan darah yang hilang 10-15% Gejala : Jember | Pusing Takikardi ringan Sistole 90-100 mmHg Mengeluh kedinginan Kulit pucat 58

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Urin pekat

b) Stadium ringan Cairan darah yang hilang 20-25% Gejala : Gelisah Keringat dingin Haus Takikardi > 100 kali/menit Sistole 70-80 mmHg

c) Stadium berat Cairan darah yang hilang 35-50% Gejala : Pucat, dingin Hiperpneu Kencing kurang Nadi tidak terasa Sistole 0-40 mmHg

Penatalaksanaan Syok a. Cari kausanya b. Letakkan pasien dengan posisi kaki diangkat 20 derajat sehingga sedikit lebih tinggi dari kepala, tubuh terlentang dan jangan digerak-gerakkan. c. Perhatikan tanda-tanda vital d. Pemberian cairan : 1) Kristaloid : NaCl isotonik NaCl hipertonik NaCl seimbang : Ringer laktat, Ringer asetat, Ringer hormosol

Sebaiknya diberikan pada saat permulaan syok, sebab : Jember | 59

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Efektif memulihkan volume vascular dalam waktu singkat Menurunkan viscositas mempercepat mikrosirkulasi NaCl seimbang + NaHCO3 efektif pada syok dengan asidosis 2) Koloid : Darah Plasma (albumin) Dekstan

Hal ini dilakukan bila setengah pemberian 2 liter cairan kristaloid pasien masih syok atau mula-mula baik tapi kemudian syok kembali dalam waktu dekat. Tapi bila syok sudah lama pemberian albumin akan merugikan karena albumin dapat keluar dari pembuluh darah dengan membawa air syok + urine jaringan 2. Syok normovolumik Syok yang terjadi bukan karena penurunan volume cairan tubuh. Pembagian syok normovolumik : a. Syok Anafilaktik Adalah syok yang disebabkan karena reaksi alergi, biasanya terjadi beberapa detik atau menit sesudah suntikan serum atau obat-obatan. Jarang sekali terjadi setelah pemberian oral. Reaksi dapat berkembang menjadi suatu kegawatan berupa syok, gagal nafas, henti jantung dan kematian mendadak. Obat-obatan yang sering mengakibatkan reaksi anafilaktik adalah golongan antibiotik penisilin, ampisilin, sealosporin, neomisin, tetrasiklin, kloramfenikol, sulfonamid, kanamisin, serum antitetanus, serum antidifteri dan antirabies. Alergi terhadap gigitan serangga, kuman-kuman, insulin, ACTH, zat radiodiagnostik, enzim-enzim, bahan darah, obat bius (prokain, lidokain), vitamin, heparin, makan telur, susu, cokelat, kacang, ikan laut, mangga, kentang, dll. Jember | 60

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Gejala klinik : Ringan : mata bengkak, hidung tersumbat, gatal di kulit, dan mukosa, bersin, biasanya timbul 2 jam setelah terpapar alergen. Sedang : gejalanya lebih berat selain gejala di atas di dapatkan bronkospasme, edema laring, mual, muntah, biasanya terjadi 2 jam setelah terpapar alergen. Berat : terjadi langsung setelah terpapar alergen, gejala seperti reaksi tersebut di atas hanya lebih berat yaitu bronkospasme, edema laring, stridor, nafas sesak, sianosis, henti jantung, disfagia, nyeri perut, diare, muntah-muntah, kejang, hipotensi, aritmia jantung, syok dan koma. Kematian disebabkan oleh edema laring dan aritmia jantung. Penatalaksanaan : Tindakan di bawah ini harus dilakukan secepat mungkin dengan urutan sebagai berikut : 1) Letakkan pasien dengan posisi Tredelenburg (kepala lebih rendah dai kaki) 2) Suntikkan segera adrenalin 1:1000 (preparat yang tersedia di pasaran dalam konsentrasi 1:1000) 3) Pantau terus tekanan darah dan nadi 4) Ulangi pemberian 0,3-0,4 cc adrenalin tiap 5-10 menit hingga tekanan sistolik mencapai 90-100 mmHg dan denyut nadi tidak melebihi 120 kali/menit. 5) Bila terjadi henti nafas, lakukan pernafasan buatan 6) Bila terjadi henti jantung lakukan pijat jantung (RJP) 7) Bersamaan dengan pemberian adrenalin, pernafasan buatan dan kompresi jantung luar lakukan pemasangan cairan infuse. Cairan boleh apa saja, tapi diusahakan kristaloid (NaCl, RL). Tetesan diberikan secara cepat (guyur). 8) Selama resusitasi berikan : - Antihistamin Jember | 61

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

- Kortikosteroid 9) Evakuasi penderita setelah keadaan penderita stabil 10) Hidrokortison atau dexametason diberikan bila penderita mengalami syok berat dan lama. 11) Jika penderita sudah terlihat membaik jangan langsung dipulangkan tetapi diobservasi terlebih dahulu. b. Syok Septik Adalah syok yang disebabkan keadaan septikemia baik akibat bakteri gram positif maupun gram negatif. Faktor yang dapat meningkatkan kepekaan terhadap infeksi bakteri akan mempermudah terjadinya syok septik, misalnya trauma, DM, penyakit hematologi, pengobatan dengan kortikosteroid atau obat sitotoksik dan imunosupresif, meningkatnya penggunaan alat-alat invasifseperti kateter. Keadaan yang dapat mempercepat syok septik misalnya pasca operasi saluran empedu, pasca operasi kebidanan. Gejala : 1) Tekanan darah secara klinis menghasilkan aliran darah yang adekuat pada sirkulasi koroner dan serebral, tekanan darah harus di atas nilai tertentu, yaitu tekanan arteri rata-rata 60 mmHg atau tekanan arteri sistolik 90 mmHg. 2) Tanda gangguan perfusi organ/jaringan yang terkena a. Kulit dingin dan sianosis b. Ginjal produksi urin menurun dan mungkin mengarah ke gagal ginjal. c. Hati mungkin menyebabkan hiperbilirubinemia (apabila terjadi dalam waktu yang lama) d. Otak kekacauan/kebingungan dan bila menetap dapat menyebabkan koma. e. Paru menimbulkan gejala sindrom gawat nafas dewasa.

Jember |

62

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Bila mengenai multi organ dapat menimbulkan asidosis metabolik oleh asam laktat yang menumpuk dalam darah (gejalanya hiperventilasi, fetor keton, dan penurunan kadar HCO3 dalam urin). Kadar laktat darah merupakan tanda buruk. 3) Tanda atau gejala infeksi sistemik serius yang mendasari terjadinya terjadinya syok septik tanda klinis septis berat (demam, menggigil, mual, muntah) Penatalaksanaan : 1) Pemberian cairan infuse dan antibiotik dosis setinggi mungkin. 2) Pemberian perawatan suportif dengan perbaikan pernafasan. Kortikosteroid tidak dianjurkan sebab efek dan mekanismenya tidak jelas. 3) Lakukan drainase jika ada abses atau pusat peradangan. c. Syok Neurogenik Adalah syok yang disebabkan oleh kegagalan resistensi arteri, sehingga darah tertimbun pada pembuluh darah yang berdilatasi, akibat perangsangan saraf atau psikis (misalnya : nyeri, ketakutan hebat, anestesi spinal, trauma spinal) Gejala dan tanda : pucat, berkeringat dingin, lemas, badan terasa melayang, kadang mual. Penatalaksanaan : 1) Pasien diistirahatkan dengan posisi kepala lebih rendah dari kaki. Bila pasien duduk dan tidak mungkin tidur, bungkukkan sambil meletakkan kepala di antara kedua lututnya. 2) Bila pasien masih pingsan cari penyebab lainnya. d. Syok Kardiogenik Adalah syok akibat ketidakmampuan jantung mengalirkan cukup darah ke jaringan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme basal akibat gangguan fungsi pompa jantung, curah jantung menurun, darah menumpuk di sistem

Jember |

63

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

vena sehingga tekanan vena meningkat, mengakibatkan tekanan perifer meningkat pula. Etiologi : 1. Gangguan ventricular ejection a. Infark miokard akut b. Miokarditis akut c. Komplikasi mekanik Regurgitasi mitral akut akibat ruptur atau disfungsi otot papilaris Ruptur septum intervenrikulorum Ruptur free wall Aneurisma ventrikel kiri Stenosis aorta yang berat Kardiomiopati Kontusio miokard

2. Gangguan ventricular filling a. Tamponade jantung b. Stenosis mitra c. Miksoma pada atrium kiri d. Trombus ball valve pada atrium e. Infark ventrikel kanan Faktor pencetus : 1. Iskemia atau infark miokard 2. Anemia : takikardi atau bradikardi 3. Infeksi : endokarditis, miokarditis, atau infeksi di luar jantung 4. Emboli paru 5. Kelebihan cairan atau garam 6. Obat penekan miokard seperti penghambat 7. Lain-lain : kehamilan, tirotoksikosis, anemia, stress (fisik/emosi), hipertensi akut. Jember | 64

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

Tanda-tanda : Pada sebagian pasien didapatkan sindrom klinis (hipotensi, tandatanda perfusi jaringan yang buruk yaitu oliguria dimana urin < 30 ml/jam), sianosis, ekstremitas dingin, perubahan mental serta menetapnya syok setelah dilakukan koreksi terhadap faktor-faktor nonmiokardial yang turt berperan memperburuk perfusi jaringan dan disfungsi miokard yaitu hipovolemia, aritmia, hipoksia, asidosis. Kriteria syok : Menurut Scheidt tekanan sistolik arteri < 80 mmHg, produksi urin < 20 ml/hari atau gangguan status mental, tekanan pengisian ventrikel kiri > 12 mmHg serta tekanan vena sentral > 10 mmH2O, keadaan ini disertai

manifestasi gelisah, keringat dingin, akral dingin dan takikardi. Penatalaksanaan : Tergantung penyebabnya, pada gagal jantung terapi ditujukan untuk mengurangi beban jantung.

Jember |

65

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

CARDIO PULMONER RESUSITION / RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP)


RESUSTASI Resustasi dapat diartikan sebagai dapat menghidupkan kembali atau memberikan hidup baru, atau dalam arti luas resustasi merupakan segala bentuk usaha medis yang dilakukan terhadap mereka yang berada dalam keadaan gawat darurat untuk mencegah kematian. Penyebab kematian itu berupa : kecelakaan lalu lintas, tenggelam, keracunan, shock, juga akibat serangan jantung dan kecelakaan rumah tangga.

INDIKASI Infrak jantung, serangan adams stroke, hipoksia akut, keracunan dosis obat, serangan stroke, vagal refleks, tengelam atau kecelakaan yang masih ada peluang untuk hidup.

KOMPLIKASI RJP Distensi lambung, patah tulang kosta, pneumothoraks, hemo thoraks, rusak jaringan paru, laserasi hati, emboli otak.

RJP GAGAL JIKA Pupil lebar terus menerus, penderita tetap koma, pernafasan (-) selama 2 jam, tiak ada sirkulasi selama 30 menit.

RJP BOLEH DI HENTIKAN JIKA Sirkukasi spontan dan efektif, respirasi kembali, ada tim yang lebih berwenang, ada dokter yang mengambil alih tangggung jawab, penderita

Jember |

66

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

ditampung di tempat yang lebih baik, penolong kelelahan, penyakit terminal (mis: hepatoma dan decomcordis) FAKTOR FAKTOR YANG MEMEPNGARUHI KEBERHASILAN RJP o Pengetahuan patofisiologi dan hentu nafas dan peredaran darah. o Kecepatan penerapan RJP o Efektifitas metode yang dipakai

TAHAP DAN LANGKAH RJP ADA TIGA, yaitu: o Basic live support / bantuan hidup dasar Difokuskan pada bantuan nafas dan sirkulasi, terdiri dari: A: airway control / kontrol jalan nafas B: breathing support / bantuan pernafasan yaitu ventilasi buatan dan oksigenasi secara buatan. C: circulasion support / bantuan sirkulasi yaitu menentukan ada tidaknya denyut nadi dan mengadakan sirkulasi buatan dengan kompres jantung o Advanced live support / bantuan hidup lanjut Yaitu memulai lagi sirkulasi yang spontan dan memantapkan sistem paru dan jantung dengan memulihkan transfer oksigen arteri mendekati normal. tahap ini terdiri dari: D:drugs and fluids yaitu pemberian obat obatan cairan melalui infuse intravena E:elektrocardioskopi F:fibrilasi treatment

Jember |

67

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

o Prolonged live support / bantuan hidup jangka panjang Yaitu pengelolaan intensif pasca resusitasi G:gauging / penilaian yaitu menentuakan dan memberi terapi penyebab kematian dan menilai sejauh mana bisa di selamatkan H:human mentation / mentasi manusia diharapkan dapat di pulihkan dengan resusitasi otak I:intensive care / perawatan intensif Dari ketiga tahap tersebut tahap kedua dan ketiga dilakukan di tempat yang mempunyaiinstrumen terapi yang lengkap misalnya d rumah sakit.

URUTAN DARI RJP: o Tentukan lokasi pijatan dngan telunjuk dan jari tengah menelusuri batas bawah iga sampai titik temu dengan sternum. o Tempelkan tumit tangan satunya diatas sternum tepat disamping telunjuk tersebut. o Tumit tangan satunya diletakkan diatas tangan yang sudah beradatepat dititik pijat jantung o Jari jari kedua tangan dirapatkan dan diangkat agar tidak ikut menekan o Penolong mengambil posisi tegak lurus diatas dada pasien dengan siku lengan lurus o Menekan sternum sedalam 4 5 cm o Setelah di beri pijatan 30 kali kemudian beri nafas bantuan 2 kali. o Dan seterusnya dengan perbandingan 30 pijatan 2 nafas o Bila pasien / korban telah bernafas letakkan posisi recovery.

Jember |

68

[RESUME SKENARIO 1 BENCANA] May 24, 2009

RESIKO RJP: o Vomiting o Miringkan kepala dan kelurkan muntahan lanjutkan CPR o Perhatikan pasien trauma jangan memiringkan kepala (resiko adanya fraktur servical) o Penularan infeksi o Belum ada bukti penularan HIV-AIDS karena CPR

Jember |

69