Anda di halaman 1dari 30

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam perkembangan dunia informasi yang begitu pesat ini membuat
banyak orang mulai terbuka wawasan dan makin membaiknya tingkat sosial
ekonomi sehingga kebutuhan terhadap kualitas layanan penyedia jasa baik secara
personal maupun kelompok atau institusi, termasuk dokter dan rumah sakit
sebagai andalan penyedia jasa dibidang medis makin meningkat. Namun demikian
tidak semua orang sesungguhnya mengetahui atau setidaknya mengerti akan hak-
hak yang mestinya mereka dapatkan ketika sedang menerima penanganan dari
petugas medis di tempat-tempat pelayaan kesehatan, seperti tempat praktek
pribadi, klinik, rumah sakit dan lain-lainnya. Ketidaksesuaian antara premi yang
harus dikeluarkan pasien terhadap layanan yang diterima, sangat berpotensi untuk
menimbulkan suatu tuntutan sebagai cetusan rasa tidak puas.
Pasien sebagai konsumen kesehatan memiliki perlindungan diri dari
kemungkinan upaya pelayanan kesehatan yang tidak bertanggung jawab seperti
penelantaran. Pasien juga berhak atas keselamatan, keamanan dan kenyamanan
terhadap pelayanan jasa kesehatan yang diterimanya. Dengan hak tersebut maka
konsumen akan terlindungi dari praktek profesi yang mengancam keselamatan
atau kesehatan. Hak pasien yang lainnya sebagai konsumen adalah hak untuk
didengar dan mendapatkan ganti rugi apabila pelayanan yang didapatkan tidak
sebagaimana mestinya.
1,2

1
Masyarakat sebagai konsumen dapat menyampaikan keluhannya kepada
pihak rumah sakit sebagai upaya perbaikan rumah sakit dalam pelayanannya.
Selain itu konsumen berhak untuk memilih dokter yang diinginkan dan berhak
untuk mendapatkan opini kedua (second opinion), juga berhak untuk
mendapatkan rekam medik (medical record) yang berisikan riwayat penyakit
dirinya. Hubungan dokter - Pasien sudah ada sejak zaman nenek moyang kita.

1
Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Jakarta: 1997. Munim, Abdul.
2
Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik Edisi Pertama. Binarupa Aksara. Jakarta: 1997
2

Hubungan antara dokter dengan pasien berawal dari pola hubungan vertikal
paternalistik seperti hubungan bapak dan anak. Dokter di sini berupaya bertindak
sebagai bapak yang baik yang cermat, berhati hati dengan bekal pengetahuan
dan pengalaman untuk kesembuhan pasien. Dalam hubungan ini kedudukan
dokter lebih tinggi daripada pasien. Sekarang hubungan antara dokter dan pasien
semakin berkembang menjadi kontrak terapeutik dimana dalam hubungan itu
masing-masing pihak mempunyai hak dan kewajibannya.
1,2

UUD 1945 yang telah diamandemen, secara jelas dalam pasal 28 H
menyebutkan, bahwa setiap warga negara berhak mendapat pelayanan kesehatan
yang layak. Dan terkait hak hak pasien sendiri sudah diatur diantaranya dalam UU
No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, UU No 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan, dan UU No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.Selain itu hak-hak
pasien juga diangkat dalam Surat Edaran Direktorat Jendral Pelayanan Medis
Depkes RI No YM.02.04.3.5.2504 tentang Pedoman Hak dan Kewajiban Pasien,
Dokter dan RS; serta Deklarasi Muktamar IDI mengenai Hak dan Kewajiban
pasien dan Dokter. Sementara untuk kewajiban pasien diatur dalam UU Praktik
Kedokteran dan UU Perlindungan Konsumen.
1,2

Mengingat pentingnya hak-hak pasien maka kami mengangkat judul hak
pasien ditinjau dari sistem perundang-undangan di Indonesia dimana dalam
referat ini kami ingin menjelaskan bahwa betapa pentingnya untuk mengetahui
dan memahami tentang hak-hak pasien yang memang harus diatur dalam
perundang-undangan dalam rangka melindungi kepentingan pasien yang
seringkali tidak berdaya. Demikian juga hak tenaga medis diperlukan untuk
melindungi kemandirian profesi. Sementara kewajiban tenaga medis diatur untuk
mempertahankan keluhuran profesi dan melindungi masyarakat.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan hak pasien dan undang-undang di
Indonesia?
2. Bagaimanakah klasifikasi dari hak pasien?
3. Apa saja undang-undang yang berhubungan dengan hak pasien?
1
Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Jakarta: 1997. Munim,
2
Abdul. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik Edisi Pertama. Binarupa Aksara. Jakarta: 1997
3

4. Bagaimanakah contoh pelanggaran hak pasien ditinjau dari segi
perundang-undangan Indonesia?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan Umum
Mengetahui aspek medikolegal dan undang-undang yang berhubungan dengan
hak pasien di Indonesia.
Tujuan Khusus
1. Mengetahui definisi dari hak, pasien, hak pasien dan undang-undang.
2. Mengetahui klasifikasi hak pasien.
3. Mengetahui hak pasien atas informasi, rekam medik dan pelayanan medik.
4. Mengetahui undang-undang yang berhubungan dengan hak pasien di
Indonesia
5. Mengetahui contoh pelanggaran terhadap hak-hak pasien ditinjau dari segi
medikolegal dan undang-undang di Indonesia.
D. Manfaat Penulisan
1. Bagi Mahasiswa.
Meningkatkan kemampuan dalam penyusunan suatu makalah dari
beberapa sumber dan teknik penulisan.
Melatih kerjasama tim dalam penyusunan suatu makalah.
Menambah pengetahuan mengenai hak pasien ditinjau dari sistem
perundang-undangan di Indonesia.
2. Bagi instansi terkait
Menambah bahan referensi bagi dokter dalam memahami hak-hak pasien
ditinjau dari perundang-undangan di Indonesia
Menambah pengetahuan bagi dokter tentang undang-undang yang
berhubungan dengan hak pasien sehingga kasus pelanggaran terhadap hak
pasien dapat diminimalisir.
Menciptakan sikap saling menghargai hak-hak orang lain dan tercipta
kehidupan yang damai dan tentram.
4

3. Bagi pemerintahan
Sebagai dasar pertimbangan untuk menegakkan hukum dan keadilan terhadap
pelanggaran hak pasien dalam lingkungan masyarakat Indonesia.
4. Bagi masyarakat
Memberikan informasi dan pengetahuan kepada masyarakat tentang hak
sebagai pasien sehingga muncul sikap saling menghargai hak-hak orang lain
serta tercipta kehidupan yang damai dan tentram.























5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Hak, Pasien dan Hak Pasien dan Undang-Undang
A.1. Hak
Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan
kebutuhan pribadinya sesuai dengan keadilan, moralitas dan legalitas. Setiap
manusia mempunyai hak asasi untuk berbuat, menyatakan pendapat,
memberikan sesuatu kepada orang lain dan menerima sesuatu dari orang lain
atau lembaga tertentu. Hak tersebut dapat dimiliki oleh setiap orang. Dalam
menuntut suatu hak, tanggung jawab moral sangat diperlukan agar dapat terjalin
suatu ikatan yangmerupakan kontrak sosial, baik tersurat maupun yang tersirat,
sehingga segala sesuatunya dapat memberikan dampak positif.
Pada kamus Bahasa indonesia, hak memiliki pengertian tentang sesuatu
hal yang benar, milik, kepunyaan, kewenangan, kekuasaan, untuk berbuat
sesuatu(karena telah ditentukan oleh undang-undang, aturan dan sebagainya),
kekuasaan yang benar atas sesuatu atau menuntut sesuatu, derajat, atau
martabat.
3

Hak menurut C. Fagin ( 1975) mengemukakan bahwa hak adalah tuntutan
terhadap sesuatu, dimana seseorang berhak seperti kekuasaan dan hak-hak
istimewa yang berupa tuntutan yang berdasarkan keadilan, moralitas atau
legalitas. Semakin baik kehidupan seseorang atau masyarakat, semakin perlu
pula pemahaman tentang hak-hak tersebut agar terbentuknya sikap saling
menghargai hak-hak orang lain dan tercipta kehidupan yang damai dan tentram.
3

A.2. Pasien
Kata pasien dari bahasa Indonesia analog dengan kata patient dari bahasa
Inggris. Patient diturunkan dari bahasa Latin yaitu patiens yang memiliki
kesamaan arti dengan kata kerja pati yang artinya "menderita.
3

Pasien juga dapat didefinisikan dengan seseorang yang menerima
perawatan medis.
Sedangkan UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah sakit, pasien
3
http://wikipedia.co.id diunduh tanggal 20 November 2010

6

didefinisikan dengan setiap orang yang melakukkan konsultasi masalah
kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan baik
secara langsung maupun tidak langsung kepada dokter atau dokter gigi.
A.3. Hak Pasien
Hak pasien pada prinsipnya tidak terlepas pula dengan hak-hak manusia
atau lebih dasar lagi hak asasi manusia. Hak asasi manusia tidak tanpa batas dan
merupakan kewajiban setiap negara atau pemerintah untuk menentukan batas-
batas kemerdekaan yang dapat dilaksanakan dan dilindungi dengan
mengutamakan kepentingan umum.
Hak dapat dipandang dari sudut hukum dan pribadi. Dari sudut hukum hak
mempunyai atau memberi kekuasaan tertentu untuk mengendalikan sesuatu.
Contohnya seseorang mepunyai hak untuk masuk restoran dan membeli makanan
yang diinginkannya. Dalam hal ini jika ditinjau dari sudut hukum orang yang
bersangkutan mempunyai kewajiban tertentu yang menyertainya yaitu orang
tersebut diharuskan untuk berperilaku sopan dan membayar makanan tersebut.
Dari sudut pribadi mempunyai hal yang harus diperhatikan yaitu pertimbangan
etis, cara seseorang mengatur kehidupannya, keputusan yang dibuat berdasarkan
konsep benar salah, baik buruk yang ada dilingkungan tempat ia hidup dan tinggal
dalam kurun waktu tertentu.
Kegunaan hak-hak :
1. Hak dapat digunakan sebagai pengekspresian kekuasaan dalam konflik
antara seseorang dengan kelompok.
Contoh: Seorang dokter mengatakan pada perawat bahwa ia mempunyai hak
untuk menginstruksikan pengobatan yang ia inginkan untuk pasiennya.
Disini terlihat bahwa dokter tersebut mengekspresikan kekuasaannnya untuk
menginstruksikan pengobatan terhadap pasien, hal ini merupakan haknya
selaku penanggungjawab medis.
2. Hak dapat digunakan untuk memberikan pembenaran pada suatu tindakan.
Contoh: Seorang perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatannya
mendapat kritikan karena terlalu lama menghabiskan waktunya bersama
pasien. Perawat tersebut dapat mengatakan bahwa ia mempunyai hak untuk
7

memberikan asuhan keperawatan yang terbaik untuk pasien sesuai dengan
pengetahuan yang dimilikinya. Dalam hal ini, perawat tersebut mempunayi
hak melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
pasien.
3. Hak dapat digunakan untuk menyelesaikan perselisihan. Seseorang
seringkali dapat menyelesaikan suatu perselisihan dengan menuntut hak
yang juga dapat diakui oleh orang lain.
Contoh: Seorang perawat menyarankan pada pasien agar tidak keluar
ruangan selama perawatan di rumah sakit. Pada situasi tersebut pasien
marah karena tidak setuju dengan saran perawat dan pasien tersebut
mengatakan pada perawat bahwa ia juga mempunyai hak untuk keluar dari
ruanagan bilamana ia mau. Dalam hal ini, perawat dapat menerima tindakan
pasien sepanjang tidak merugikan kesehatan pasien. Bila tidak tercapai
kesepakatan karena membatasi pasien, berarti ia mengingkari kebebasan
pasien.
A.4. Undang Undang
Undang-undang (atau disingkat UU) adalah Peraturan Perundang-undangan
yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama
Presiden. Undang-undang memiliki kedudukan sebagai aturan main bagi rakyat
untuk konsolidasi posisi politik dan hukum, untuk mengatur kehidupan bersama
dalam rangka mewujudkan tujuan dalam bentuk Negara. Undang-undang dapat
pula dikatakan sebagai kumpulan-kumpulan prinsip yang mengatur kekuasaan
pemerintah, hak rakyat, dan hubungan diantara keduanya.
Undang-undang (bahasa Inggris: Legislation - dari bahasa Latin lex, legis
yang berarti hukum) berarti sumber hukum, semua dokumen yang dikeluarkan
oleh otoritas yang lebih tinggi, yang dibuat dengan mengikuti prosedur tertulis.
3

B. Klasifikasi Hak Pasien

Hubungan kontraktual yang terjadi antara pasien dan dokter terjadi sejak
dokter menyatakan kesediannya yang dinyatakan secara lisan atau secara tersirat.
Konsekuensi hukum yang timbul sebagai akibat disepakatinya hubungan
3
http://wikipedia.co.id diunduh tanggal 20 November 2010

8

terapeutik antara dokter dan pasien adalah timbulnya hak dan kewajiban pada
masing-masing hak.
5

Hubungan dokter dan pasien secara khusus diatur antara lain dalam
Undang-undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Undang-undang
tentang Perlindungan Konsemen secara umum mengatur hak-hak konsumen,
sedangkan Undang-undang Praktik Kedokteran secara khusus mengatur hak-hak
pasien. Masing-masing pasal dari kedua undang-undang tersebut ternyata pada
prinsipnya mengatur hal yang sama, yaitu bahwa pasien sebagai konsumen berhak
untuk mendapat informasi yang benar, jelas dan jujur dari pelaku usaha yang
dalam hal ini adalah dokter. Untuk itu dokter mempunyai kewajiban
menyampaikan informasi sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 45 ayat
(3) Undang-undang Praktik Kedokteran. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan
secara jelas dan terperinci mengenai implementasi hak-hak pasien atas informasi
dokter sebagaimana ketentuan Pasal 45 ayat (3) Undang-undang Praktik
Kedokteran.
Sofwan Dahlan membagi hak pasien ini kedalam dua bagian yaitu :
1. Hak primer
Yang dimaksud dengan hak primer disini adalah hak memperoleh
pelayanan medik yang benar dan layak, berdasarkan teori kedokteran yang
telah teruji kebenarannya.
2. Hak sekunder
Hak sekunder adalah hak dimana pasien :
a. Memperoleh informasi medik tentang penyakitnya.
b. Memperoleh informasi tentang tindakan medik yang akan dilakukan
oleh dokter.
c. Memberikan konsen ( informed consent ) atas tindakan medik yang
akan dilakukan oleh dokter.
d. Memutuskan hubungan kontraktual setiap saat (sesuai azas kepatutan
dan kebiasaan).
e. Memperoleh rahasia kedokteran.
4
http://www.scribd.com diunduh tanggal 20 November 2010

5
Dahlan S. Hukum Kesehatan Rambu-Rambu Bagi Profesi Dokter edisi 2. Badan Penerbit Universitas
Dipenogoro; 2000. hal.35

9

f. Memperoleh surat keterangan dokter bagi kepentingan pasien yang
bersifat non yustisial; seperti misalnya surat keterangan sakit, surat
keterangan untuk kepentingan asuransi, surat kematian dan sebagainya.
g. Hak atas second opinion
5

Hak pasien menurut World health Organization (WHO) yaitu :

a. Mendapatkan pelayanan medis tanpa mengalami diskriminasi
berdasarkan ras, suku, warna kulit, asal, agama, bahasa, jenis
kelamin, kemampuan fisik, orientasi seksual, aliran politik, pekerjaan,
dan sumber dana untuk membayar;
b. Menerima atau menolak untuk dilibatkan dalam penelitian, dan jika
bersedia ia berhak memperoleh informasi yang jelas tentang penelitian
tersebut;
c. Mendapat penjelasan tentang tagihan biaya yang harus dia bayar.
Sedangkan menurut The American Hospital Association dalam pernyataan
hak-hak pasien (Patients Bill of Rights) pada tahun 1973 tujuannya meningkatkan
kesadaran tentang pentingnya pemahaman hak-hak pasien yang akan dirawat RS
berupa :
1. .Pasien mempunyai hak untuk mempertimbangkan dan
menghargai asuhan keperawatan atau keperawatan yang akan
diterimanya.
2. Pasien berhak memperoleh informasi lengkap dari dokter yang
memeriksanya berkaitan dengan diagnosis, pengobatan dan
prognosis dalam arti pasien layak untuk mengerti masalah
yang dihadapinya.
3. Pasien berhak untuk menerima informasi penting dan
memberikan suatu persetujuan tentang dimulainya suatu
prosedur pengobatan, serta resiko penting yang kemungkinan
akan dialaminya, kecuali dalam situasi darurat.
5
Dahlan S. Hukum Kesehatan Rambu-Rambu Bagi Profesi Dokter edisi 2. Badan Penerbit
Universitas Dipenogoro; 2000. hal.35


10

4. .Pasien berhak untuk menolak pengobatan sejauh diizinkan
oleh hukum dan diinformasikan tentang konsekuensi tindakan
yang akan diterimanya.
5. Pasien berhak mengetahui setiap pertimbangan dari privasinya
yang menyangkut program asuhan medis, konsultasi dan
pengobatan yang dilakukan dengan cermat dan dirahasiakan
6. Pasien berhak atas kerahasiaan semua bentuk komunikasi dan
catatan tentang asuhan kesehatan yang diberikan kepadanya.
7. .Pasien berhak untuk mengerti bila diperlukan rujukan
ketempat lain yang lebih lengkap dan memperoleh informasi
yang lengkap tentang alasan rujukan tersebut, dan RS yang
ditunjuk dapat menerimanya..Pasien berhak untuk memperoleh
8. informasi tentang hubungan RS dengan instansi lain, seperti
instansi pendidikan atau instansi terkait lainnya sehubungan
dengan asuhan yang diterimanya.
9. Pasien berhak untuk memberi pendapat atau menolak bila
diikutsertakan sebagai suatu eksperimen yang berhubungan
dengan asuhan atau pengobatannya.
10. .Pasien berhak untuk memperoleh informasi tentang
pemberian delegasi dari dokternya ke dokter lainnya, bila
dibutuhkan dalam rangka asuhannya.
11. Pasien berhak untuk mengetahui dan menerima penjelasan
tentang biaya yang diperlukan untuk asuhan keehatannya.
12. .Pasien berhak untuk mengetahui peraturan atau ketentuan RS
yang harus dipatuhinya sebagai pasien dirawat.
6


C. Hak Pasien Ditinjau dari Perundang Undangan di Indonesia
C. 1. Undang undang tentang hak hak pasien
Dalam hubungan penyedia pelayanan kesehatan dan penerima pelayanan
kesehatan merupakan hubungan kontraktual dimana dalam hubungan tersebut
muncul pula hak dan kewajiban dari pihak-pihak tersebut. Pihak pemberi
6
http://edyworld.blogspot.com diunduh tanggal 15 November 2010
11

pelayanan kesehatan wajib memberikan layananan medik. Selain itu hak-hak
pasien juga diatur dan dilindungi dalam berbagai undang-undang antara lain :
a. Undang-Undang dasar 1945 (UUD 1945)
Pasal 28H
(1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin,
bertempat tinggal, dan medapatkan lingkungan hidup
baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan
kesehatan.
Pasal 34
(3) Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas
pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang
layak.
7

b. Undang-Undang RI No.36 tahun 2009 tentang kesehatan
1. Pasal 4
Setiap orang berhak atas kesehatan.
2. Pasal 5
(1) Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam
memperoleh akses atas sumber daya di bidang
kesehatan.
(2) Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh
pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan
terjangkau.
(3) Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung
jawab menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang
diperlukan bagi dirinya.
3. Pasal 6
Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang
sehat bagi pencapaian derajat kesehatan.
4. Pasal 7
Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan
edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan
bertanggung jawab.
5. Pasal 8
Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data
kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan
yang telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga
kesehatan.
6. Pasal 56
(1) Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian
atau seluruh tindakan pertolongan yang akan diberikan
kepadanya setelah menerima dan memahami informasi
mengenai tindakan tersebut secara lengkap.
7
http://dinkes.palembang.go.idhttp://indonesia.go.id diunduh tanggal 15 November 2010
12

(2) Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tidak berlaku pada.
a.penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara cepat
menular ke dalam masyarakat yang lebih luas;
b.keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri; atau
c.gangguan mental berat.
(3) Ketentuan mengenai hak menerima atau menolak
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
g. Pasal 57
(1) Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan
pribadinya yang telah dikemukakan kepada
penyelenggara pelayanan kesehatan.
(2) Ketentuan mengenai hak atas rahasia kondisi
kesehatan pribadi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tidak berlaku dalam hal:
a. perintah undang-undang;
b. perintah pengadilan;
c.izin yang bersangkutan;
d.kepentingan masyarakat; atau
e.kepentingan orang tersebut.
h. Pasal 58
(1) Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap
seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara
kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan
atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang
diterimanya.
(2) Tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan
tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan
kecacatan seseorang dalam keadaan darurat.
(3) Ketentuan mengenai tata cara pengajuan tuntutan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
7


c. Undang-Undang RI No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
Pasal 32
Setiap pasien mempunyai hak :
a. memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan
yang berlaku di Rumah Sakit;
b. memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien;
c. memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa
diskriminasi;
d. memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan
standar profesi dan standar prosedur operasional;
7
http://dinkes.palembang.go.id diunduh tanggal 15 November 2010
13

e. memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien
terhindar dari kerugian fisik dan materi;
f. mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang
didapatkan;
g. memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan
keinginannya dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;
h. meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada
dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di
dalam maupun di luar Rumah Sakit;
i. mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita
termasuk data-data medisnya;
j. mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara
tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan,
risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis
terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya
pengobatan;
k. memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang
akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang
dideritanya;
l. didampingi keluarganya dalam keadaan kritis;
m. menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang
dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya;
n. memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama
dalam perawatan di Rumah Sakit;
o. mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah
Sakit terhadap dirinya;
p. menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai
dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya;
q. menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah
Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai
dengan standar baik secara perdata ataupun pidana; dan
r. mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai
dengan standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
3
.

d. Undang Undang RI No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
a. Pasal 45
(1) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran
gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau
dokter gigi terhadap pasien harus mendapat
persetujuan.
(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diberikan setelah pasien mendapat
penjelasan secara lengkap.
(3) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) sekurang-kurangnya mencakup :
4
http://www.scribd.com diunduh tanggal 16 November 2010
14

a. diagnosis dan tata cara tindakan medis;
b. tujuan tindakan medis yang dilakukan;
c. alternatif tindakan lain dan risikonya;
d. risiko dan komplikasi yang mungkin
terjadi; dan
e. prognosis terhadap tindakan yang
dilakukan.
(4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dapat diberikan baik secara tertulis
maupun lisan.
(5) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran
gigi yang mengandung risiko tinggi harus
diberikan dengan persetujuan tertulis yang
ditandatangani oleh yang berhak memberikan
persetujuan.
(6) Ketentuan mengenai tata cara persetujuan
tindakan kedokteran atau kedokteran gigi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2),
ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) diatur dengan
Peraturan Menteri.
b. Pasal 46
(1) Setiap dokter atau dokter gigi dalam
menjalankan praktik kedokteran wajib
membuat rekam medis.
(2) Rekam medis sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) harus segera dilengkapi setelah pasien
selesai menerima pelayanan kesehatan.
(3) Setiap catatan rekam medis harus dibubuhi
nama, waktu, dan tanda tangan petugas yang
memberikan pelayanan atau tindakan.
c. Pasal 47
(1) Dokumen rekam medis sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 46 merupakan milik
dokter, dokter gigi, atau sarana pelayanan
kesehatan, sedangkan isi rekam medis
merupakan milik pasien.
(2) Rekam medis sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) harus disimpan dan dijaga
kerahasiaannya oleh dokter atau dokter gigi
dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan.
(3) Ketentuan mengenai rekam medis
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2) diatur dengan Peraturan Menteri.
d. Pasal 52
Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik
kedokteran, mempunyai hak:
15

a. mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang
tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 45 ayat (3);
b. meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
c. mendapatkan pelayanan sesuai dengan
kebutuhan medis;
d. menolak tindakan medis; dan
e. mendapatkan isi rekam medis.
9


C.2. Hak pasien atas informasi
Akhir-akhir ini keluhan masyarakat terhadap para dokter makin sering
terdengar, antara lain mengenai kurangnya waktu dokter yang disediakan untuk
pasiennya, kurang lancarnya komunikasi, kurang informasi yang diberikan
dokter kepada pasien atau keluarganya. Hal ini disebabkan meningkatnya taraf
pendidikan dan kesadaran hukum masyarakat, dimana masyarakat lebih
menyadari akan haknya seiring dengan munculnya ke permukaan masalah-
masalah hak manusia di seluruh dunia. Begitu pula dalam suatu kontrak
terapeutik antara dokter dengan pasien maka masing-masing pihak mempunyai
hak dan kewajibannya. Pasien mempunyai hak-hak yang harus dihormati oleh
para dokter. Dari berbagai hak yang sudah diketahui, salah satu hak pasien
yaitu mendapatkan informasi atau penjelasan yang merupakan hak pasien yang
paling utama bahkan dalam tindakan-tindakan khusus diperlukan persetujuan
tindakan medis yang ditandatangani oleh pasien dan atau keluarganya.
10

Hak pasien dalam mendapatkan informasi ini diatur dalam berbagai
undang-undang. Pada UU RI No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan di pasal ke
7 yang mengatakan bahwa pasien berhak mendapatkan informasi dan edukasi
tentang kesehatan dan pada pasal ke 8 mengatakan pasien juga berhak
mendapatkan informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan dan
pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan.
Selain dari UU tentang kesehatan, dituliskan juga di UU RI No. 44
tentang Rumah Sakit di pasal 32 bahwa pasien berhak memperoleh informasi
meliputi tentang tata tertib dan peraturan di rumah sakit, hak dan kewajiban
pasien di rumah Sakit, mengetahui diagnosis dan tata cara tindakan medis,
tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin
9
http://hukumkes.wordpress.com
10
Hanafiah JM, Amir Amri. Etika kedokteran dan hukum Kesehatan edisi 3. EGC; 1999


16

terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya
pengobatan.
Di UU RI No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran di pasal 52
mengatakan bahwa pasien yang akan menerima pelayanan pada praktik
kedokteran mempunyai hak untuk mendapatkan penjelasan yang lengkap
tentang tindakan medis.
Dari undang-undang tersebut didapatkan bahwa pasien berhak
mendapatakan informasi, baik diminta maupun tidak. Dalam pemberian
informasi, kadangkala agak sulit menentukan informasi yang mana yang harus
diberikan, karena sangat bergantung pada usia, pendidikan, keadaan umum
pasien dan mentalnya.
9
Namun pada umumnya pemberian informasi harus
diberikan dengan bahas yang dimengerti. Pasien berhak mendapat informasi
tentang penyakitnya, tindakan yang akan diambil, kemungkinan komplikasi
dan resiko-resikonya bahkan pasien berhak mendapat perincian biaya
pengobatannya. Dalam pemberian informasi ini, yang bertanggungjawab dalam
memberikan informasi ini adalah dokter yang bertanggungjawab terhadap
pasien tersebut karena dokter tersebutlah yang mengerti keadaan dari pasien
yang dirawatnya. Dan dalam setiap tindakan bahkan tindakan invasive seperti
tindakan operasi, pasien berhak mendapatkan informasi langsung dari dokter
yang akan melakukkan tindakan tersebut.
Informasi yang didaptkan oleh pasien haruslah lengkap karena informasi
tersebut dijadikan oleh pasien sebagai acuan untuk mengambil keputusan yaitu
menerima atau menerima tindakan medik. Bahkan dokter dapat dipersalahkan
jika informasi tidak diberitahu sama sekali. Informasi-informasi yang berhak
pasien atau keluarganya meliputi :
Alasan perlunya dilakukkan tindakan medik.
Sifat tindakan medik tersebut, yaitu :
a. Eksperimen
b. Bukan eksperimen
Tujuan tindakan medik tersebut, yaitu :
a. Diagnostik
9
http://hukumkes.wordpress.com


17

b. Terapeutik
c. Rehabilitatif
d. Promotif
Resikonya
Komplikasinya
Masih ada tindakan medik alternatif atau tidak
Kerugian yang akan atau mungkin dialami jika menolak tindakan medik
tersebut.
10

Yang tidak boleh dilupakan oleh pelaku pelayan kesehatan dalam
memberikan informasi kepada pasien tidak boleh bersifat memperdaya,
menekan, atau menciptakan ketakutan sebab ketiga hal itu membuat persetujuan
yang diberikan menjadi cacat hukum.
10

Setelah seorang pasien mengetahui informasi-informasi yang didapat,
seorang pasien berhak untuk menerima atau menolak tindakan medis. Hak ini
diatur juga dalam UU RI No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan di pasal 56 dan
UU RI No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit . Tetapi hak pasien untuk
menolak tindakan medik tidak berlaku bila pasien yang mempunyai penyakit
menular, dalam gangguan mental barat, dan tidak sadarkan diri. Ketentuan ini
juga dituliskan pada UU RI No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan.
Izin seorang pasien sebelum dilakukkan tindakan medik sangatlah
diperlukan. Latar belakang diperlukannya izin pasien adalah karena tindakan
medik yang dilakukkan oleh dokter, hasilnya penuh dengan ketidakpastian dan
tidak dapt diperhitungkan secara matematik karena dipengaruhi oleh faktor-
faktor lain seperti virulensi penyakit, kepatuhan pasien, kualitas obat dll. Selain
itu hampir tindakan medik mengandung resiko dan bahkan untuk medik tertentu
selalu diikuti akibat yang tak menyenangkan.
Atas dasar itulah maka persetujuan pasien bagi tindakan medik menjadi
mutlak diperlukan, kecuali pasien dalam keadaan gawat darurat seperti syok.
Persetujuan tersebut dikenal dengan sebutan informed consent, sebab sebelum
diberikan, kepada pasien atau keluarganya harus diberikan informasi lebih
dahulu mengenai beberapa hal dari tindakan medik yang akan dilakukkan.
10
Hanafiah JM, Amir Amri. Etika kedokteran dan hukum Kesehatan edisi 3. EGC; 1999.
18

Informed consent itu sendiri berarti suatu pernyataan sepihak dari orang
yang berhak(yaitu pasien, keluarga atau walinya) yang isinya atau persetujuan
kepada dokter untuk melakukkan tindakan medik sesudah orang yang berhak
tersebut diberi informasi secukupnya. Sedangkan menurut Permenkes No. 585
tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan medik, informed consent didefinisikan
sebagai persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas dasar
penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukkan terhadap pasien
tersebut.
Diliat dari kacamata hukum perdata, hubungan antara penyedia dan
penerima layanan kesehatan merupakan hubungan kontraktual. Dalam rangka
memberikan layanan medik penyedia layanan medik wajib memperhatikan hak-
hak lain dari pasien baik yang timbul dari berbagai perturan perundang-
undangan yang berlaku.
Pada UU RI No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran di pasal 45
menyatakan dengan jelas bahwa setiap tindakan medik yang akan dilakukkan
dokter haruslah mendapatkan persetujuan tindakan medik yang merupakan hak
dari pasien. Dan dalam UU RI No 36 tahun 2009 tentang kesehatan pasal 7 dan
8 serta pada UU RI No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit menggambarkan
hak-hak pasien mendapatkan informasi. Pelaksanaan kedua hak tadi diwujudkan
dalam bentuk informed consent sehingga tindakan medik yang dilakukkan tanpa
informed consent merupakan pelanggaran hukum dan dokter sendiri dapat
dituntut atau digugat secara perdata.
Pada keadaan gawat darurat, informed consent tetap merupakan hal yang
penting walaupun prioritasnya diakui paling bawah. Prioritasnya yang paling
utama adalah tindakan menyelamatkan nyawa. Walaupun tetap penting, namun
informed consent tidak boleh menjadi penghalang atau penghambat bagi
pelaksanaan perawatan gawat darurat sebab dalam situasi krisis di mana dokter
berpacu dalam maut dan ia tidak mempunyai cukup waktu untuk menjelaskan
atau berdiskusi sampai pasien benar-benar menyadari kondisi dan kebutuhan
serta memberikan keputusannya.
19

Dokter juga tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu sampai
keluarganya datang. Kalaupun keluarga pasien telah hadir dan kemudian tidak
menyetujui tindakan dokter maka dokter tetap harus melakukkan tindakan segera
untuk menyelamatkan nyawa pasien.hal ini sesuai pula dengan Permenkes No.
585 tentang Persetujuan Tindakan Medik, bahwa dalam keadaan emergensi tidak
diperlukan informed consent.

C.3. Hak pasien atas rekam medik
Rumah Sakit memiliki fungsi utama untuk memberikan perawatan dan
pengobatan yang sempurna kepada pasien baik pasien rawat inap, rawat jalan
maupun pasien gawat darurat. Rekam Medis sangat penting dalam mengemban
mutu pelayanan medik yang diberikan oleh rumah sakit beserta staf mediknya.
Rekam Medis merupakan milik rumah sakit yang harus dipelihara karena
berfaedah bagi pasien, dokter maupun bagi rumah sakit.
Rumah Sakit bertanggung jawab untuk melindungi informasi yang ada di
dalam rekam medis terhadap kemungkinan hilangnya keterangan ataupun
memalsukan data yang ada di dalam rekam medis atau dipergunakan oleh orang
yang semestinya tidak diberi izin. Rekam Medis harus diberi data yang cukup
terperinci, sehingga dokter lain dapat mengetahui bagaimana pengobatan dan
perawatan kepada pasien dan konsulen dapat memberikan pendapat yang tepat
setelah dia memeriksanya ataupun dokter yang bersangkutan dapat
memperkirakan kembali keadaan pasien yang akan datang dari prosedur yang
telah dilaksanakan. Permasalahannya adalah para dokter tidak menyadari
sepenuhnya manfaat dan kegunaan Rekam Medis, baik pada layanan kesehatan
maupun pada praktek perorangan, akibatnya rekam medis dibuat tidak lengkap,
tidak jelas dan tidak tepat waktu. Karena itu, diperlukan acuan rekam medis
penyelanggaraan praktik kedokteran yang berkaitan dengan aspek hukum yang
berlaku untuk rumah sakit negeri, swasta, khusus, puskesmas,perorangan dan
pelayanan kesehatan lain. Rekam medis merupakan hal yang sangat menentukan
dalam menganalisa suatu kasus sebagai alat bukti utama yang kuat.
20

Berdasarkan pengertiannya Rekam Medis dapat dijelaskan dalam pasal 46
ayat 1 tentang UU praktik kedokteran, dalam permenkes nomer 749a tahun 1989
dan permenkes nomer 269 tahun 2008 menjelaskan bahwa rekam medis tersebut
merupakan suatu berkas yang berisi catatan dan dokumen yang dibikin oleh
dokter ataupun dokter gigi yang merawat yang berisi identitas pasien,
pemeriksaan yang telah dilakukan sebagai alat penunjang kesehatan,diagnosis,
pemberian pengobatan selama pasien sakit dan segala tindakan dan semua
pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien selama pasien mengalami
perawatan di Rumah sakit tersebut. Dan kelengkapan dari catatan tersebut
seperti foto rontgen, hasil laboratorium dan keterangan lain merupakan suatu
dokumen dari rekam medis tersebut.
11,12

Sedangkan menurut Gemala Hatta, Rekam medis merupakan kumpulan
dari semua fakta tentang kehidupan seorang pasien dan riwayat dari penyakitnya
seperti keadaan dari penyakit yang dideritanya hingga pengobatan yang telah
diberikan oleh parrtisi kesehatan, baik saat ini maupun penyakit sebelumnya.
Menurut Waters dan Murphy, Rekam medis merupakan suatu ikhtisar
yang berisi tentang informasi keadaan pasien, baik selama dalam masa
perawatan ataupun selama pemeliharaan kesehatan. Dan menurut Edna K.
Huffman 1992, Rekam medis merupakan rekaman atau catatan mengenai pasien
serta menjelaskan alasannya untuk dirawat guna mengidentifikasi, membenarkan
diagnosis dan pengobatan serta merekam hasilnya.
Sebagai alat komunikasi, rekam medis merupakan sebuah alat bukti
tertulis dari segala tindakan , baik untuk pasien, pelayanan kesehatan maupun
bagi pemberi pelayanan kesehatan. Selain itu juga berfungsi untuk melindungi
kepentingan hukum pasien dalam kasus-kasus kompensasi pekerjaan kecelakaan
pribadi atau malpraktek. Bagi Fasilitas Layanan Kesehatan, Rekam medis
merupakan sebagai alat bukti atas biaya pembayaran dan juga sebagai evaluasi
penggunaan suber daya. Sedangkan bagi pemberi pelayanan, Rekam medis
sangat membantu tenaga medis profesional dalam merawat pasien dan juga
dalam menyediakan data-data untuk penelitian maupun penyidikan bila
diperlukan.
10
10
Hanafiah JM, Amir Amri. Etika kedokteran dan hukum Kesehatan edisi 3. EGC; 1999.
11
Departemen Kesehatan RI., Pedoman Sistem Pencatatan Rumah Sakit (Rekam
medis/Medical Record , 1994)
12
Anonim, 2009, Definisi dan isi rekam medis sesuai permenkes
no:269/menkes/per/III/2008, rekamkesehatan.wordpress.com



21

Dalam UU. No. 29/2004 terdapat beberapa ketentuan yang berhubungan
dengan penyelenggaraan rekam medis, yaitu mengenai standar pelayanan,
persetujuan tindak kedokteran, rekam medis, rahasia kedokteran kendali mutu
serta kendali biaya. Adapun beberapa ketentuan-ketentuan yang berkaitan
dengan masalah rekam medis, yaitu pada pasal 45 ayat 5, pasal 46 ayat 1,2 dan
3, pasal 47 ayat 2, 49 ayat 2 dan pasal 79. Pada pasal-pasal tersebut dijelaskan
bahwa setiap dokter wajib untuk membuat rekam medis dan seharusnya segera
diselesaikan setelah pasien mendapatkan pelayanan tersebut. Pengisian rekam
medis bisa saja dilakukan oleh tenaga kesehatan lain (perawat, asisten, residen,
co-ass), namun dokter yang merawat pasienlah yang memikul
tanggungjawabnya. Perlu dingat bahwa kelengkapan dan keakuratan isi rekam
medis sangat bermanfaat, baik bagi perawatan dan pengobatan pasien, bukti
hukum bagi rumah sakit dan dokter, maupun bagi kepentingan penelitian medis
dan administratif.
9

Dalam pencatatan data rekam medis yang harus dilengkapi adalah identitas
pasien (nama), waktu dan tanda tangan dokter yang menangani saat itu. Hal ini
nantinya dapat berfungsi sebagai alat bukti bahwa telah dilakukan upaya yang
maksimal untuk menyembuhkan pasien dengan standar profesi kedokteran dan
yang nantinya dapat dijadikan alat bukti dalam proses penegakan hukum jika
dibutuhkan.
14

Sebelumnya ada beberapa perdebatan tentang siapa sebenarnya pemilik
dari rekam medik. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah hak pasien, karena
menyangkut dirinya namun ada pula juga yang beranggapan bahwa hal tersebut
merupakan milik dari rumah sakit. Berdasarkan pasal 47 UU No. 29 tahun 2004
tentang peraktik kedokteran dan Permenkes RI Nomor 269/Menkes/Per/III/2008
menyatakan bahwa rekam medis adalah milik sarana pelayanan kesehatan (pasal
12 ayat 1), sedangkan isi rekam medis adalah adalah milik pasien (pasal 12 ayat
2). Jadi dapat disimpulkan, rekam medis adalah milik health care proider
sedangkan isinya milik pasien.
10,13

9
http://hukumkes.wordpress.com

10
Hanafiah JM, Amir Amri. Etika kedokteran dan hukum Kesehatan edisi 3. EGC; 1999.
13
http://dinkes.demakkab.go.id/v2010/dokumen/uu_praktik_kedokteran.pdf diunduh tanggal
16 November 2010
14
http://rekamkesehatan.wordpress.com/ diunduh tanggal 16 November 2010


22

Kerahasiaan rekam medis harus selalu di jaga oleh dokter ataupun dokter
gigi dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan. Namun adapula UU praktik
kedokteran yang memberikan peluang pengungkapan informasi kesehataan, yaitu
dalam pasal 48 ayat 2, yaitu untuk kepentingan kesehatan pasien, untuk
memenuhui permintaan dari aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan
hukum,permintaan pasien itu sendiri dan terakhir berdasarkan ketentuan dari
undang-undang. Sedangkan penjelasan mengenai isi dari rekam medis hanya
boleh dilakukan leh dokter atau dokter gigi yang merawat pasien dengan izin
tertulis pasien atau berdasarkan peraturan perundang-undangan.
9,10,13


C.4 Hak pasien atas pelayanan medik
Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 juga tercantum jelas cita-
cita bangsa Indonesia yang sekaligus merupakan tujuan nasional bangsa
Indonesia. Tujuan nasional tersebut adalah melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi serta keadilan sosial.
Untuk mencapai tujuan nasional tersebut diselenggarakanlah upaya pembangunan
yang berkesinambungan yang merupakan suatu rangkaian pembangunan yang
menyeluruh terarah dan terpadu, termasuk di antaranya pembangunan kesehatan.
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang
harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita Bangsa Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945. Oleh karena itu maka disahkan UU yang
mengatur hak-hak tersebut, diantaranya:
UU kesehatan No.36 tahun 2009 merupakan salah satu Undang-Undang
yang dikeluarkan Pemerintah untuk menjalankan kewajibannya dalam bidang
kesehatan . Tetapi kebanyakan masyarakat luas belum mengetahui apa isi UU
tersebut, salah satunya adalah mahasiswa yang berasal dari golongan kesehatan.
Bila ditanya, sebagian besar mereka pasti menjawab tidak mengetahui isi dan
makna UU tersebut. UU tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah untuk
9
http://hukumkes.wordpress.com
10
Hanafiah JM, Amir Amri. Etika kedokteran dan hukum Kesehatan edisi 3. EGC; 1999.
13
http://dinkes.demakkab.go.id/v2010/dokumen/uu_praktik_kedokteran.pdf

23

menegakkan peraturan tentang kesehatan dan memberikan penjelasan tentang
kesehatan, pengaturan pemberian sediaan farmasi, serta aturan-aturan yang
mendukung segala kegiatan medis.
Pedoman UU kesehatan No.36 tahun 2009 adalah Pasal 28H ayat (1), dan
Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
yang isinya secara garis besar berisi tentang tanggung jawab negara untuk
menjamin kesejahteraan rakyatnya dengan cara penyediaan fasilitas kesehatan,
peraturan perundangan, serta persamaan hak dan keadilan warga negaranya.
Sedangkan bila dilihat dari sisi pertimbangan pemerintah UU ini mempunyai
pertimbangan yaitu : pertama; kesehatan merupakan hak asasi manusia dan
merupakan kesejahteraan yang harus diwujudkan, kedua; upaya prinsip kesehatan
yang nondiskriminatif, partisipatif, dan berkelanjutan, ketiga; upaya pembangunan
harus memperhatikan kesehatan masyarakat dan tanggung jawab semua pihak
baik pemerintah dan masyarakat. Dari ringkasan di atas kita dapat sedikit
mengerti isi UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 yang telah mencakup peraturan
kesehatan yang luas yang artinya seluruh tujuan dah harapan pemerintah telah
tercakupi dalam UU tersebut seperti tujuan dalam UUD 1945 yang telah
dimasukkan dalam UU No. 36 tahun 2009.
Oleh karena itu, setiap kegiatan dan upaya untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dilaksanakan berdasarkan prinsip
nondiskriminatif, partisipatif, perlindungan, dan berkelanjutan yang sangat
penting artinya bagi pembentukan sumber daya manusia Indonesia, peningkatan
ketahanan dan daya saing bangsa, serta pembangunan nasional.
Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya pada
mulanya berupa upaya penyembuhan penyakit, kemudian secara berangsur-angsur
berkembang ke arah keterpaduan upaya kesehatan untuk seluruh masyarakat
dengan mengikutsertakan masyarakat secara luas yang mencakup upaya promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang bersifat menyeluruh terpadu dan
berkesinambungan.
Dalam UU No.29 tahun 2004 dijelaskan tentang hubungan dokter dan
pasien telah terjalin sejak jaman dahulu. Hubungan ini merupakan hubungan
24

yang sangat pribadi karena didasarkan atas kepercayaan dari pasien terhadap
dokter. Pelaksanaan hubungan keduanya selalu diatur dengan peraturan-peraturan
tertentu agar terjadi keharmonisan dalam melaksanakan hubungan. Seperti
diketahui hubungan tanpa peraturan akan menyebabkan kesemerawutan dan
kesimpangsiuran salah satunya aspek hukum. Hubungan hukum antara dokter dan
pasien ini dimulai sejak pasien menyatakan keluhannya dan dokter menyatakan
kesanggupannya untuk mengobati pasien yang dinyatakan secara lisan (oral
statement), atau yang tersirat (implied statement).
Hubungan antara dokter dengan pasien berawal dari pola hubungan
vertical paternalistik seperti hubungan bapak dan anak yang bertolak dari
prinsipfather knows best yang melahirkan hubungan yang bersifat paternalistik.
Dokter disini berupaya bertindak sebagai bapak yang baik yang cermat,
berhati-hati dengan bekal pengetahuan dan ketrampilan yang diperolehnya
melalui pendidikan yang panjang dan sulit serta pengalaman yang bertahun-tahun
untuk kesembuhan pasien. Dalam hubungan ini kedudukan dokter lebih tinggi
daripada pasien karena dokter dianggap mengetahui tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan penyakit dan penyembuhannya. Pola ini menimbulkan
dampak positif berupa lahirnya konsep hubungan paternalistik ini sangat
membantu pasien, dalam hal pasien awam terhadap penyakitnya, sebaliknya dapat
juga timbul dampak negatif, apabila tindakan dokter yang berupa langkah-langkah
dalam mengupayakan penyembuhan pasien itu membatasi otonomi pasien.
Seiring perkembangan jaman pola hubungan yang vertikal paternalistik ini
bergeser ke pola horisontal kontraktual dimana hubungan 2 subyek hukum (pasien
dan dokter) berkedudukan sederajat. Hubungan hukum ini tidak menjanjikan
sesuatu (kesembuhan dan kematian), karena objek dari hubungan hukum itu
berupa upaya maksimal secara hati-hati dan penuh ketegangan oleh dokter dalam
mengupayakan kesembuhan pasien. Hubungan dokter dan pasien yang
dilaksanakan dengan rasa kepercayaan dari pasien terhadap dokter disebut dengan
istilah transaksi terapeutik. Transaksi terapeutik merupakan hubungan antara
dokter dengan pasien untuk saling mengikatkan diri dengan itikad baik dan saling
mempercayai.
25

Bila diamati secara umum Indonesia sekarang ini memasuki era krisis
malpraktek seperti yang terjadi di Amerika pada 2-3 dekade lalu. Hubungan
dokter dan pasien yang diwarnai keakraban dan saling percaya, sekarang ini tiba-
tiba menjadi hubungan yang saling curiga. Media massa ramai menayangkan
kasus-kasus klinik dengan outcome yang dramatis bagi pasien. Istilah
malpraktek tiba-tiba mencuat menjadi istilah populer. Masyarakat sekarang ini
memandang dokter sebagai seorang yang kurang bertanggung jawab dan tidak
kompeten serta makin komersialnya jasa kesehatan sebagai penyebab terjadinya
hal-hal yang tidak diinginkan (adverse event).
Profil dokter dan rumah sakit menjadi carut marut karena tuduhan-
tuduhan malpraktek tersebut. Seperti yang kita ketahui, bahwa: Setiap manfaat
yang akan kita dapati tentu akan mengalami sebuah resiko. Dan satu-satunya jalan
menghindari resiko adalah tidak berbuat sama sekali, kalimat ini merupakan
salah satu ungkapan yang memberikan hikmah bagi kita bahwa dalam hidup
manusia tidak lepas dari ketidaksengajaan atau kesalahan yang tidak dikehendaki
dalam menjalankan profesinya, tetapi sebagai tenaga medis yang menjalankan
profesinya dibawah Sumpah, seorang dokter tidak bisa membiarkan pasien yang
membutuhkan pertolongan untuk ditelantarkan. Seorang dokter dalam
memberikan pelayanan medik pada pasiennya, pada hakikatnya selalu dituntut
untuk lebih utamakan rasa puas pasiennya, yaitu dengan bertanggung jawab dalam
upaya penyembuhan pasien.
Demikian pula UU No.44 tahun 2009 tentang rumah Sakit Daerah sebagai
salah satu institusi pelayanan kesehatan merupakan bagian dari sumber daya
kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung penyelenggaraan upaya
kesehatan. Penyelenggaran pelayanan kesehatan di Rumah Sakit mempunyai
karakteristik dan organisasi yang sangat kompleks. Berbagai jenis tenaga
kesehatan dengan perangkat keilmuannya masing-masing berinteraksi satu sama
lain. Ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang berkembang sangat pesat
yang harus diikuti oleh tenaga kesehatan dalam rangka pemberian pelayanan yang
bermutu, membuat semakin kompleksnya permasalahan dalam Rumah Sakit. Pada
hakekatnya Rumah Sakit berfungsi sebagai tempat penyembuhan penyakit dan
26

pemulihan kesehatan dan fungsi dimaksud memiliki makna tanggung jawab yang
seyogyanya merupakan tanggung jawab pemerintah dalam meningkatkan taraf
kesejahteraan masyarakat.

D. Kasus Ditinjau Dari Undang-Undang
Pada tanggal 7 Agusutus 20XX, PM memeriksa kesehatan di Rumah Sakit
OI Tengerang, Banten. PM mengeluhkan panas tinggi dan pusing kepala. PM
didiagnosis menderita demam berdarah oleh dr. I dan dr. H, dan disarankan rawat
inap, sembari diberikan suntikan.PM dikunjungi dr. H dan memberikan kabar
tentang perubahan thrombosit dari sebelumnya 27.000 menjadi 181.000.
Sepanjang hari ini, PM dihujani suntikan, tanpa pemberitahuan jenis dan tujuan
penyuntikan kepada pasien.
Kemudian Tangan kiri membengkak, suhu badan naik hingga mencapai 39
derajat. PM dikunjungi dr. H dan menginformasikan kepada pasien bahwa dirinya
terkena virus udara. Sejauh ini, tindakan medis berupa suntikan terus diberikan.
Kemudian PM disuntik 2 ampul dan terserang sesak napas selama 15 menit dan
diberikan oxygen. Saat yang sama hadir dokter jaga tanpa dr. H. Saat itu tangan
kanan PM pembengkakan dan meminta infus dihentikan dan suntikan serta obat-
obatan.
Keluarga PM meminta ketemu dr. H dan meminta penjelasan tentang
kondisi dan keadaan pasien termasuk penjelasan tentang revisi hasil lab. Saat yang
sama, PM mengalami pembengkakan di leher kiri dan mata kiri. Respon dr.H
lebih menyalahkan bagian lab. PM berniat pindah Rumah Sakit dan membutuhkan
data medis namun dipersulit manajemen RS OI. Di RS lain PM dimasukkan ruang
isolasi oleh karena virus yang menimpa dirinya dapat menyebar (disini fakta PM
terserang demam berdarah tidak terbukti, hanya saja PM telah terlanjur disuntik
bertubi-tubi ditambah infus di RS OI).
Undang-undang yang mendasari kasus PM ini adalah :
1. Berdasarkan UUD 1945 yang telah diamandemen, dalam hal ini PM tidak
mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak sebab prita di sarankan
rawat inap padahal seharusnya tidak perlu rawat inap.
27

2. Berdasarkan UU No. 29 tahun 2004 pasal 45 Ayat (1) dan ayat(3)
mengenai persetujuan dan penjelasan tindakan medis secara lengkap dan
Pasal 52 mengenai hak pasien dalam pelayanan pada praktik kedokteran.
Dalam kasus ini dr.H tidak memberikan informasi yang meliputi diagnosis
dengan tepat dan tata cara tindakan suntik, tujuan tindakan medis, risiko
dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan
yang dilakukan dan dr.H juga tidak meminta persetujuan untuk melakukan
tindakan medis tersebut.
3. Berdasarkan UU No. 36 tahun pada pasal 4 ayat (7) dan Pasal 5 mengenai
setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi. Dalam kasus ini PM
tidak mendapatkan informasi secara lengkap tentang data kesehatan
dirinya termasuk tindakan medis seperti suntikan dan obat-obatan yang
diberikan oleh dr.H.
4. Berdasarkan UU No. 44 Tahun 2009 Bab 4 pasal 32 mengenai pelayanan
kesehatan yang sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur
operasional. Pada kasus ini PM tidak mendapatkan pelayanan kesehatan
yang sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional
karena dr.H tidak memberikan penjelasan secara jelas mengenai tindakan
medis yang akan di berikan dan RS memberikan informasi yang tidak
benar tentang trombosit 27.000 sehingga PM harus dirawat inap .
5. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1981, Surat
Keputusan Pengurus Besar IDI No.319/PB/A4/88 dan PerMenKes no
290/MenKes/Per/III/2008 mengenai hak pasien sepenuhnya menentukan
apa yang hendak dilakukan terhadap tubuhnya dan adanya persetujuan
tertulis yang ditandatangani pasien. Dalam kasus ini PM tidak dijelaskan
secara jelas mengenai kesehatanya dan tindakan medis yaitu suntikan dan
obat-obatan yang akan diberikan kepadanya mengenai untung ruginya
tindakan tersebut. PM pun tidak dimintai persetujuan untuk dilakukannya
tindakan medis tersebut.
Kesimpulan : Dokter dalam pelaksanaan praktik harus mengetahui peraturan-
peraturan yang berlaku untuk menghargai hak-hak yang dimiliki pasien
28

sehingga dapat tercapai pelayanan kesehatan yang baik, teratur dan sesuai
dengan standar profesi dan standar prosedur operasional. Dan pasien
seharusnya juga mengetahui hak-haknya dalam mendapatkan pelayanan
kesehatan yang baik.



























29

BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Hak pasien sebenarnya merupakan hak yang asasi yang bersumber dari hak
dasar individual dalam bidang kesehatan, Meskipun sama fundamentalnya, hak
atas pelayanan kesehatan sering dianggap lebih mendasar. Dalam hal ini negara
berkewajiban untuk menyelenggarakan pemenuhan layanan kesehatan tersebut,
sehingga masyarakat dapat dengan mudah memenuhi kebutuhan layanan
kesehatan yang terjangkau, berkualitas, dan tersedia di seluruh wilayah Indonesia.
Hak hak pasien dan pengaturannya sudah tercantum dalam Undang
Undang Dasar maupun Undang Undang tentang kesehatan yang intinya
menjelaskan dan mengatur setiap pelanggaran pelanggaran Hak Pasien yang
terjadi. Jadi setiap adanya pelanggaran yang terjadi dapat di selesaikan secara
hukum.
B. Saran
1. Bagi pemerintah
Hendaknya pemerintah melakukan sosialisasi yang mendalam kepada
masyarakat tentang undang-undang atau peraturan yang mencakup hak-hak
pasien melalui berbagai media, seperti televisi, koran, ataupun radio.
Penjelasan tentang undang-undang atau peraturan tersebut disertai dengan
contoh konkrit tentang peristiwa yang terjadi di kehidupan nyata agar
masyarakat lebih menyadari tentang haknya sehingga peristiwa-peristiwa yang
menyangkut tentang pelanggaran hak pasien dapat berkurang.
Melakukan pengawasan terhadap instansi kesehatan terkait agar dalam
melakukan pelayanan terhadap masyarakat tidak mengabaikan hak-hak pasien
sehingga kasus-kasus yang dialami oleh pasien seperti dijelaskan di atas tidak
terjadi.
Undang-undang yang sudah dibuat harus diterapkan dengan nyata dan tidak
berat sebelah. Jangan terkesan cuek dengan pelanggaran-pelanggaran hak
30

yang terjadi. Pemerintah harus berani menindak tegas pihak yang terbukti
bersalah melanggar hak-hak pasien
2. Bagi tenaga kesehatan atau mahasiswa kedokteran atau akademi perawat
Sadar akan profesinya sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan yang wajib
menghormati hak-hak setiap pasien yang di tanganinya. Dokter mempunyai
kewajiban memberikan informasi yang jelas kepada pasien tentang penyakit
yang di dertita ataupun tindakan medis yang akan dilakukan terhadap
pasiennya.
Mempelajari lebih mendalam tentang keilmuan yang sesuai dengan
kompetensinya, sehingga kualitas penanganan terhadap pasien dapat
ditingkatkan.
Mempelajari atau minimal mengetahui tentang undang-undang dan peraturan
pemerintah yang mencakup tentang hak-hak pasien sehingga dalam
melakukan pelayanan kesehatan memenuhi hak yang dimiliki pasien.
3. Bagi pasien dan Bagi masyarakat
Agar pasien menyadari hak dan kewajiban pasien, sehingga dapat terjadi
hubungan terapetik yang baik antara dokter dan pasien.
Pasien diharapkan dapat memahami akan hak sebagai pasien, hak dokter, hak
rumah sakit sehingga muncul sikap saling menghargai hak-hak orang lain dan
tercipta kehidupan yang damai dan tentram.
4. Bagi Rumah sakit
Pasien merupakan konsumen. Selayaknya konsumen, yang berlaku sebagai
raja seharusnya pihak rumas sakit dapat melayani dan menghormati pasien.
Pasien mempunyai hak-hak yang harus dipenuhi, pasien bukanlah sapi
perahan untuk memperkaya diri.