Anda di halaman 1dari 43

Oleh :

Yosi siska
Apoteker angkatan IV
2013

Gagal
jantung
ketidakmampuan jantung dalam
berkontraksi (fungsi sistolik) atau
dalam berelaksasi (fungsi diastolik)
Atau
Jumlah darah yang dipompa oleh
jantung setiap menitnya (cardiac
output, curah jantung) tidak mampu
memenuhi kebutuhan normal tubuh
akan oksigen dan zat-zat makanan.
ETIOLOGI
Penyebab gagal jantung dapat diklasifikasikan
dalam enam kategori utama, yaitu:

Kegagalan yang berhubungan dengan
abnormalitas miokard, dapat disebabkan oleh
hilangnya miosit (infrak miokard, kontraksi yang
tidak terokoordinasi (left bundle branch block),
Kontraktilitas(kardiomiopati)).
Kegagalan yang berhubungan
dengan overload (hipertensi)
Kegagalan yang berhubungan dengan katup
Kegagalan yang disebabkan abnormalitas ritme
kardiak
Kegagalan yang disebabkan abnormalitas
perikard atau efusi perikard (temponade)
Kelainan kongenital jantung
Disfungsi sistolik (penurunan
kontraktilitas)
Disfungsi diastolik (Pembatasan d
alam Pengisian ventrikel)
Pengurangan massa
otot (misalnya, infark miokar)
Dilatasi kardiomiopati
Hipertrofi ventrikel
Tekanan darah yang terlalu
tinggi (misalnya
hipertensi, sistemik atau paru-
paru,aorta atau
stenosis katup pulmonal)
Volume overload (misalnya
regurgitasi katup jantung)
Peningkatan kekakuan ventrikul
ar
Hipertrofi ventrikel (misalnya kar
diomiopati hipertrofik)
Penyakit infiltratif miokard
(misalnya amiloidosis,
sarkoidosis,
endomyocardial fibrosis)
Iskemia dan infark miokard
Stenosis katup
mitral atau katup trikuspid
Penyakit Pericardial (misalnya,
perikarditis, tamponade
perikardial)

Secara garis besar, faktor kemungkinan
yang menyebabkan penyakit gagal
jantung adalah orang-orang yang
memiliki penyakit:
Hipertensi
Hiperkolesterolemia
Diabetes
Obesitas
Seseorang yang memiliki riwayat keluarga
penyakit jantung
Pola hidup yang tidak teratur dan kurang ber-
olah raga.
Klasifikasi gagal jantung
Sesak napas,
diperberat bila
berbaring, terutama
saat tengah malam.
Takipnea, takikardia,
terdengar bunyi
jantung ketiga saat
inspirasi
Retensi cairan pd
tungkai, asites
(kasus berat)
kenaikan JVP,
edema perifer..
Pembesaran jantung,
penurunan otot
skelet yg
menyebabkan
fatigue, kelelahan,
lemah.
PATOFISIOLOGI
Aktivasi neurohormonal terjadi dengan
peningkatan vasokonstriktor(renin,
angiostensin II, katekolamin) yang memicu
retensi garam dan air serta meningkatkan
beban akhir (afterload) jantung. Hal
tersebut mengurangi pengosongan
ventrikel kiri (LV) dan menurunkan curah
jantung, menyebabkan aktivasi
neuroendokrin yang lebih hebat, shg
meningkatkan afterload.
Dilatasi ventrikel
Terganggunya fungsi sistolik dan retensi
cairan meningkatkan volume ventrikel
(dilatasi). Jantung yang berdilatasi
tidak efisien secara mekanis. Jika
persediaan energi terbatas (misal
pada peny.koroner) bisa
menyebabkan gangguan kontraktilitas
dan aktivitas neuroendokrin.
Remodeling ventrikel kiri.
Remodeling ventrikel kiri yang progresif berhubungan
langsung dengan memburuknya kemampuan ventrikel
di kemudian hari.

Perubahan biologis pada miosit jantung.
Terjadi hipertrofi miosit jantung, perubahan komplek
kontraksi-eksitasi, perubahan miokard, nekrosis,
apoptosis, autofagi.

Perubahan struktur ventrikel kiri.
Perubahan ini membuat jantung membesar,
mengubah bentuk jantung menjadi lebih sferis
mengakibatkan ventrikel membutuhkan energi lebih
banyak, sehingga terjadi peningkatan dilatasi
ventrikel kiri, penurunan cardiac output, dan
peningkatan hemodynamic overloading.
Penurunan fungsi jantung, dimana
jantung mengalami mekanisme
kompensasi yaitu :
1. Takikardia dan peningkatan kontraksi
melalui aktivasi sistem syarag simpatik
2. Mekanisme Frank-Starling, dimana
apabila terjadi peningkatan kontraksi
akan mengakibatkan peningkatan
volume
3. Vasokontriksi
4. Hipertrofi ventrikular
Pengurangan output kardiak dikarenakan
hormon syaraf menginisiasi kejadian inisial.
Senyawa ini meliputi angiostensin II,
norepinefrin, aldosteron, arginin vasopresin,
dan mediator inflamasi sitokin (ILN 6, ILN
1,dan TNF )
Faktor pengendapan yang dapat
menyebabkan keadaan kompensasi
menjadi dekompensasi yaitu, makanan
atau terapi obat, iskemia koroner, infeksi
pulmonari
Obat dapat mengendapkan atau
menyebabkan eksaserbasi gagal jantung,
karena efek inotropik negatif, kardiotoksik,
atau senyawa yang menahan natrium.
Penyebab seluruh kegagalan
Pompa jantung
A. Kelainan Mekanik
1. Peningkatan Beban Tekanan
a. Sentral (stenosis aorta)
b. Perifer (hipertensi sistemik, dll)
2. Peningkatan Beban Volume (regulasi katup, pirau, peningkatan
beban awal)

3. Obstruksi terhadap pengisian ventrikel (stenosis mitral atau
trikuspidal)
4. Tamponade Perikardium
5. Pembatasan Miokardium atau endokardium
6. Aneurisme ventrikel
7. Dissinergi
B

1. Primer
a. Kardimiopati
Lanjutan
b. Miokarditis
c. Kelainan metabolik
d. Toksisitas (alkohol, kobalt)
e. Presbikardia
2. Kelainan Disdinamik Sekunder (akibat kelainan mekanik)
a. Deprivasi oksigen (penyakit jangung koroner)
b. Kelainan metabolik
c. Peradangan
d. Penyakit sistemik
e. Penyakit paru obstruktif kronis
c. Perubahan Irama Jantung atau Urutan Hantaran
1. Tenang (standstill)
2. Fibrilasi
3. Takikardia atau bradikardia ekstrim
4. Asinkronitas listrik, gangguan konduksi
TERAPI GAGAL JANTUNG
Terapi Non Farmakologis
CHF Akut CHF Kronik
Meningkatkan oksigenasi
dengan pemberian oksigen
dan menurunkan konsumsi
oksigen melalui istirahat atau
pembatasan aktivitas.
Diet pembatasan natrium
Menghentikan obat-obatan
yang memperparah seperti
NSAIDs karena efek
prostaglandin pada ginjal
menyebabkan retensi air dan
natrium
Pembatasan cairan (kurang
lebih 1200-1500 cc/hari)
Olah raga secara teratur

Oksigenasi (ventilasi
mekanik)


Terapi non farmakologi
Berikan dukungan emosional dan
penjelasan sederhana mengenai penyakit
Penjelasan pentingnya agar selalu
memonitoring gejala seperti peningkatan
berat badan > 1kg/ hari, edema, sesak nafas
dll
Pengaturan aktivitas, jangan banyak
melakukan kegiatan yang berat
Menjelaskan jenis, dosis, waktu, dan cara
pakai obat serta hal-hal yang harus
diperhatikan selama pengobatan terutama
untuk digitalis dan diuretik
Membatasi Diet makanan, meliputi
pembatasan air dan garam

Terapi
terapi umum:
obati penyebab yang mendasari dan
aritmia bila ada.
kurangi asupan garam dan air.
pantau terapi dengan mengukur berat
badan setiap hari.
Obati faktor resiko hepertensi dan PJK dg
tepat
Terapi farmakologi
Diuretik (First line drugs)
Diuretik adalah dasar untuk terapi
sistomatik.
Tujuan: mengurangi afterload pada disfungsi
sistolik dan mengurangi kongesti pulmonal
pada disfungsi diastolic.
Efek samping utama adalah hipokalemia (
berikan suplemen Kalium atau diuretik hemat
kalium, seperti amilorid).
Spironolakton suatu diuretik hemat kalium
(antagonis aldosteron), memperbaiki
prognosis pada CHF berat.
Obat diuretik
Furosemid
indikasi : hipertensi, edema pada jantung, paru, ginjal,
hiperkalsemia
Dosis : awal 20 mg/hari, sampai didapatkan efek yang
diinginkan
konseling pasien : gunakan pada pagi hari pada saat
makan.
spironolakton
Indikasi : hipertensi esensial, edema, payah jantung
kongesif
indikasi : hipertensi esensial, edema, payah jantung
Dosis : 100 mg/hari
Konseling pasien : gunakan pada pagi hari pada saat
makan

Inhibitor ACE (Second Line drugs)
menghambat perubahan angiotensin I menjadi
menjadi angiotensin II, memotong respons
neuroendokrin maladaptif, menimbulkan
vasodilatasi dan menurunkan takanan darah.
penelitian besar acak dengan kontrol
menunjukkan obat golongan ini memperbaiki
gejala, kualitas hidup dan prognosis pada gagal
jantung yang nyata atau kerusakan fungsi
ventrikel kiri.
Obat ini dapat memicu gagal ginjal pada
stenosis arteri renalis bilateral (periksa ureum
dan kretinin).
efek samping lain yang paling banyak dijumpai
adalah batuk kering presisten sebanyak 15 %

Obat Inhibitor ACE
Captopril
Indikasi : hipertensi, gagal jantung, pasca
infrak miokard, dan diabetik
Dosis : gagal jantung (bersama diuretik,
digoksin, penyekat beta). Dosis awal 6,25
12,5 mg 2-3x/hari, dosis dapat dinaikkan
perlahan dalam interval paling sedikit 2
minggu sampai maksimum 150 mg/hari
dalam dosis terbagi bila cocok.
Konseling pasien :
captopril sebaiknya digunakan dalam
keadaan perut kosong (1 jam sebelum
makan atau 2 jam setelah makan), obat
disimpan di tempat yang sejuk dan kering.

Antogonis reseptor angiotensin II
misalnya losartan menghambat angiotensin
II dengan antagonisme langsung terhadap
reseptornya.
Efek dan manfaatnya sama seperti inhibitor
ACE.
Obat Antogonis reseptor
angiotensin II
valsartan
Indikasi : hipertensi, infark miokard dengan kegagalan
fungsi ventrikel kiri atau disfungsi sistolik ventrikel kiri.
Dosis :
-hipertensi : 80 mg sekali sehari
-Infark miokard : dosis awal 20 mg 2x sehari, dosis
dinaikkan setelah pemakaian beberapa minggu hingga
160 mg 2xsehari apabila dapat ditoleransi.
Konseling pasien :
- Penggunaan obat dengan atau tanpa makanan
- Hindari penggunaan bersama dengan suplemen garam
yang mengandung kalium
- Jangan mengemudikan kendaraan karena obat ini bisa
menyebabkan pusing dan mengantuk

BLOKER
seperti propanolol, metaprolol, dan karvediol,
sebelumnya dianggap kontraindikasi pada gagal jantung

namun demikian, katekolamin yang tinggi dalam
sirkulasi dan penurunan regulasi reseptor adrenergik sangat
berbahaya pada gagal jantung.

bloker (diberikan hanya pada pasien stabil,
dengan dosis yg sangat rendah, dinaikkan berharap),
membalikan keadaan ini dan memperbaiki status
fungsional serta prognosis.

Menurunkan kegagalan pompa serta kematian
mendadak akibat aritmia
Bisoprolol
Propanolol
Dosis : dewasa 2,5-5 mg
sehari sekali, dapat
ditingkatkan sampai 10
mg.
Konseling pasien :
hindari efedra, yohimbe ,
dan ginseng. Hindari
bawang putih. Makanan
tinggi kalsium dapat
mengurangi efek
hipotensif dari calsium
chanel blocker. Obat
dapat digunakan tanpa
makanan.

Indikasi : hipertensi,
angia pektoris, aritmia,
pencegahan infak
miokard
Dosis : oral dewasa 30-
120 mg/hari dalam 2-3
kali dosis terbagi
Konseling pasien : obat
diminum sebelum makan
Obat harus disimpan di
tempat yang terlindung
cahaya.

OBAT Bloker
Digoksin
(Memperbaiki kontraksi otot
jantung)

Memiliki efek inotropik positif pada irama
sinus dan menyebabkan perbaikan
simtomatik serta menurunkan tingkat
perawatan di Rumah Sakit, walaupun tidak
mempengaruhi tingkat mortilitas.
Mengatasi keadaan yang reversibel termasuk
tirotoksikosis.
Digitalis yaitu dapat memperkuat daya kontraksi
jantung yang lemah, sehingga memperkuat fungsi
pompa jantung sebagai digitalis jantung adalah
digoxin yang ber efek anatrop positif.
Zat-zat inotrop positif lainnya, seperti dopaminergika
(dopamin, ibapamin) tidak di anjurkan karena
kerjanya terlalu kuat tanpa memiliki efek inotrop
negatif. Obat-obat ini hanya digunakan i.v pada
keadaan akut.

Dosis digitalis
- Dewasa
dosis awal (da): 0,5-1,0 mg di bagi 2-3 kali
pemberian
dosis pemeliharaan(dp) : 0,2-0,4 mg/hari
- Anak-anak
bayi baru lahir 25 mikro gram/kg(da)untuk dp
1,5-12,0
sampai usia 1 bulan 30 (da) dan 10 untuk dp
1-2 tahun 25 untuk da dan 20 untuk dp
2-12 tahun 10 da dan 4 untuk dp

Dosis penunjang pada gagal jantung
- Digoxin 0,25 mg sehari,untuk pasien yang
lanjut usia dan gagal ginjal disesuaikan
- Dosis penunjang digoksin untuk fibrilasi atrium
0,25 mg
- Digitalis cepat diberikan untuk mengatasi
edema pulmonal akut yang berat :
- Digoxin : 1 1,5 mg iv perlahan - lahan
- Cedilanid : 0,4 0,8 mg iv perlahan - lahan

Pada gagal jantung berat dengan sesak
napas hebat dan takikardi lebih dari 120/menit,
biasanya diberikan digitalis cepat. Pada gagal
jantung ringan di berikan digitalis lambat.
Pemberian digitalis per oral paling sering
dilakukan karena paling aman.
Dengan pemberian oral dosis biasa, kadar
teurapeutik dalam plasma di capai dalam waktu
7 hari. Pemberian secara intra vena hanya di
lakukan pada keadaan darurat, harus dengan
hati hati dan secara perlahan lahan.

Memberikan konsultasi pada pasien untuk memastikan bahwa dia
mengerti tujuan dari pengobatan dan menggunakan obatnya
dengan tepat sehingga tercapai efek maksimum terapi dan
minimalisasi efek samping. Menjelaskan kepada pasien, alasan
pemberian setiap obat yang digunakannya serta hubungannya
dengan gejala dan keluhan yang dirasakannya.
Memberikan konsultasi pada pasien perihal
pola hidupnya (seperti diet, merokok dll) untuk memastikan
bahwa dia tidak mengkompromikan pengobatannya dalam cara
apapun.
Memastikan bahwa pasien mendapatkan saran dan obat yang
kontinu ketika keluar dari rumah sakit. Sebelum
pulang ke rumah, pasien harus mendapatkan petunjuk yang
detail mengenai pengobatannya termasuk penjelasan bagaimana
mendapat obat selanjutnya dan apa yang harus dilakukan jika
gejala yang muncul tidak terkontrol atau jika dia terkena efek
samping dari pengobatannya.
Memastikan prinsip-prinsip dari manajemen DRPs sudah berjalan
dengan optimal.
Konseling
Jelaskan pada pasien kenapa pengobatan selanjutnya
tidak mengontrol gejalanya dan memberikan jaminan
kepada pasien bahwa akan ada tindakan ke depannya
yang dapat dilakukan untuk mengontrol sakit dadanya.
Menjelaskan kepada pasien untuk mencoba dan
/atau melaksanakan
relaksasi sebisa mungkin kapanpun dengan tuju
an untuk mencegah terjadinya peningkatan
kebutuhan suplai oksigen kejantung
Penyimpanan obat yang harus tepat.
pasien diberitahu akan manfaatnya dalam menceg
ah memburuknya penyakit, mengurangi kemungkinan
perawatan di rumah sakit dan meningkatkan harapan
hidup.
Seorang Apoteker harus dapat menjelaskan kenapa
sampai terjadi
sakit/nyeri dada spesifik pada penderita PJK dan
bagaimana hubungannya dengan obat yang
dikonsumsinya.
pemberitahuan dan penjelasan kepada
penderita adalah upaya pencegahan
kekambuhan.
Olah raga yang teratur.
Melakukan pola makan yang benar.

KOMPLIKASI
Hipertensi
Farmakologi:
inhibitor ACE, -
blocker, dan
diuretik.
Jika
pengendalian
hipertensi tidak
berhasil setelah
optimalisasi
penambahan
suatu ARB atau
blokade chanel
kalsium generasi
kedua seperti
amlodipin (atau
dapat felodipin)
dapat digunakan

Angina
Farmakologi:
Nitrat &-blocker
Yang harus
diperhatikan
bahwa anti
anginal yang
efektif dari agen
ini dapat secara
signifikan
dibatasi jika
retensi cairan
tidak
dikendalikan
dengan diuretik;
sama
penggunaannya
pada hipertensi,
amlodipin dan
felodipin
menunjukkan
keamanan dalam
penggunaan

Fibrilasi Arteri
Farmakologis:
amiodarone
merupakan agen
yang lebih
disukai untuk
pengendalian
ritme
Meskipun
memiliki banyak
toksik
nonkardiak,
amiodarone tidak
memiliki
kardiodepresan
atau dampak
proaritmik yang
signifikan.
Dofetilide juga
aman dan efektif
pada kondisi ini.
Antiarritmik kelas
I harus dihindari.

Diabetes Melitus
Farmakologi:
metformin dan
thiazolidnedione
(TZD).
Penggunaan
metformin
kontraindikasi
bagi pasien yang
mengalami gagal
jantung yang
memerlukan
perlakuan
farmakologis
karena resiko
acidosis laktik.
TZD akan
digunakan pada
pasien simptom
kelas I atau II,
dan tidak
digunakan pda
pasien kelas III
atau IV.