Anda di halaman 1dari 26

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI DINAS KESEHATAN KOTA PARIAMAN



CASE REPORT STUDY
PUSKESMAS NARAS

Gastroenteritis tanpa dehidrasi




OLEH:

Maulina, S. Farm (1341012110)
Nadia Romaneci, S. Farm (1341012114)
Rahmi Amini, S. Farm (1341012137)



PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2014
BAB I
ILISTRASI KASUS

1. PERJALANAN PENYAKIT
Nama : An. Z Alamat : PBB
Umur : 4 tahun 6 bulan BB : 18 Kg
Tanggal Pemeriksaan/Diagnose Resep
12-07-2014 Mencret 3 x
Muntah (-)
Demam (+)
D/ GE tanpa dehidrasi
PCT
Bicnat
B6
Oralit
Zink
2. RESEP
R/ PCT No. V
S3dd 1/2 tab
R/Na bicarbonat No. V
S3dd 1/3 tab
R/B6 No. VI
S2dd1tab
R/Oralit No. V
Sdd2bungkus
R/Zink No. X
S1dd1

BAB II
TINJAUAN PENYAKIT

1.1. Definisi
Gastroenteritis adalah peradangan pada lambung dan usus yang memberikan
gejala diare, dengan atau tanpa disertai muntah dan seringkali disertai peningkatan
suhu tubuh. Gastroenteritis atau diare adalah kekerapan dan keenceran BAB
dimana frekuensinya lebih dari 3 kali perhari dan banyaknya lebih dari 200 250
gram, dapat disertai dengan darah atau lendir.
Diare akut adalah diare yang onset gejalanya tiba-tiba dan berlangsung
kurang dari 14 hari. Menurut World Gastroenterology Organization global
guidelines 2005, diare akut didefinisikan sebagai pasase tinja yang cair/lembek
dengan jumlah lebih banyak dari normal, berlangsung kurang dari 14 hari. Sedang
diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.
Diare pada anak masih merupakan problem kesehatan dengan angka
kematian yang masih tinggi terutama pada anak umur 1-4 tahun, yang
memerlukan penatalaksanaan yang tepat dan memadai. Secara umum
penatalaksanaan diare akut ditujukan untuk mencegah dan mengobati, dehidrasi,
gangguan keseimbangan elektrolit, malabsorpsi akibat kerusakan mukosa usus,
penyebab diare yang spesifik, gangguan gizi serta mengobati penyakit penyerta.
Jenis Diare
Menurut WHO (2005) diare dapat diklasifikasikan kepada:
1. Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari.
2. Disentri, yaitu diare yang disertai dengan darah.
3. Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.
4. Diare yang disertai dengan malnutrisi berat (Simatupang, 2004).
Derajat dehidrasi dibagi dalam 3 klasifikasi : (Kemenkes RI, 2011)
a) Diare tanpa dehidrasi
Tanda diare tanpa dehidrasi, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau lebih :
- Keadaan Umum : baik
- Mata : Normal
- Rasa haus : Normal, minum biasa
- Turgor kulit : kembali cepat
Dosis oralit bagi penderita diare tanpa dehidrasi sbb :
Umur < 1 tahun : - gelas setiap kali anak mencret
Umur 1 4 tahun : - 1 gelas setiap kali anak mencret
Umur diatas 5 Tahun : 1 1 gelas setiap kali anak mencret
b) Diare dehidrasi Ringan/Sedang
Diare dengan dehidrasi Ringan/Sedang, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau
lebih:
- Keadaan Umum : Gelisah, rewel
- Mata : Cekung
- Rasa haus : Haus, ingin minum banyak
- Turgor kulit : Kembali lambat
Dosis oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama 75 ml/ kg bb dan selanjutnya
diteruskan dengan pemberian oralit seperti diare tanpa dehidrasi.
c) Diare dehidrasi berat
Diare dehidrasi berat, bila terdapat 2 tanda di bawah ini atau lebih:
- Keadaan Umum : Lesu, lunglai, atau tidak sadar
- Mata : Cekung
- Rasa haus : Tidak bisa minum atau malas minum
- Turgor kulit : Kembali sangat lambat (lebih dari 2 detik)
Penderita diare yang tidak dapat minum harus segera dirujuk ke Puskesmas untuk
di infus.

1.2. Epidemiologi Diare
Menurut Departemen Kesehatan RI (2003), insidensi diare di Indonesia
pada tahun 2000 adalah 301 per 1000 penduduk untuk semua golongan umur dan
1,5 episode setiap tahunnya untuk golongan umur balita. Cause Specific Death
Rate (CSDR) diare golongan umur balita adalah sekitar 4 per 1000 balita.
Kejadian diare pada anak laki-laki hampir sama dengan anak perempuan. Penyakit
ini ditularkan secara fecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. Di
negara yang sedang berkembang, insiden yang tinggi dari penyakit diare
merupakan kombinasi dari sumber air yang tercemar, kekurangan protein dan
kalori yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh (Suharyono, 2003).

1.3. Etiologi
Infeksi (bakteri, protozoa, virus, dan parasit), alergi, malabsorpsi,
keracunan, obat dan defisiensi imun adalah kategori besar penyebab diare. Pada
balita, penyebab diare terbanyak adalah infeksi virus terutama Rotavirus.
Diare dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti Enterovirus (Virus ECHO,
Coxsackie, Poliomyelitis), Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus dan lain-lain;
infeksi bakteri seperti Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter,
Yersinia, Aeromonas dan sebagainya; infeksi parasit seperti cacing (Ascaris,
Trichiuris, Strongyloides), Protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lamblia,
Trichomonas hominis), jamur (Candida albicans).
Diare dapat juga disebabkan oleh intoleransi laktosa, alergi protein susu sapi
namun tetap sebagian besar diare disebabkan oleh infeksi. Di Indonesia, penyebab
utama diare adalah Shigella, Salmonella, Campylobacter, E. coli, dan Entamoeba
histolytica (Depkes RI, 2011).
Faktor makanan beracun, bahan sitotoksik, antasida yang mengandung
magnesium, dan senna dapat menyebabkan diare. Pada data terakhir 300 kasus diare
per 100 penduduk pada disebabkan kualitas makanan yang buruk. Penelitian di
Jakarta menunjukan bahwa tingkat kontaminasi E.coli masih tinggi pada makanan
saji tingkat kontaminasinya 12,2%, makanan baru matang 7,5%, bahan makanan
40,0% dan air 12,9%.25 Diare dapat disebabkan oleh semua antibiotik yang
dipengaruhi oleh besarnya dosis yang diberikan. Obat yang mempunyai efek samping
diare adalah NSAID, emetin, pencahar dan antimetabolit.

1.4. Patofisiologi
Penyebab tersering diare pada anak adalah disebabkan oleh rotavirus.
Virus ini menyebabkan 40-60% dari kasus diare pada bayi dan anak (Simatupang,
2004). Setelah terpapar dengan agen tertentu, virus akan masuk ke dalam tubuh
bersama dengan makanan dan minuman.
Rotavirus yang tidak ternetralkan oleh asam lambung akan masuk ke
dalam bagian proksimal usus. Rotavirus kemudian akan masuk ke sel epitel
dengan masa inkubasi 18-36 jam, dimana pada saat ini virus akan menghasilkan
enterotoksin NSP-4. Enterotoksin ini akan menyebabkan kerusakan permukaan
epitel pada viliSel-sel epitel yang rusak akan digantikan oleh sel enterosit baru
yang berbentuk kuboid atau sel epitel gepeng yang belum matang sehingga fungsi
sel-sel ini masih belum bagus. Hal ini menyebabkan vili-vlli usus halus
mengalami atrofi dan tidak dapat menyerap cairan dan makanan dengan baik.
Cairan dan makanan tadi akan terkumpul di usus halus dan akan meningkatkan
tekanan osmotik usus. Hal ini menyebabkan banyak cairan ditarik ke dalam lumen
usus dan akan menyebabkan terjadinya hiperperistaltik usus. , menurunkan sekresi
enzim pencernaan usus halus, menurunkan aktivitas Na+ kotransporter serta
menstimulasi syaraf enterik yang menyebabkan diare. Cairan dan makanan yang
tidak diserap tadi akan didorong keluar melalui anus dan terjadilah diare (Ramig,
2004).
1.5. Faktor Resiko Diare pada Balita
Faktor Gizi
Sutoto (1992) menjelaskan bahwa interaksi diare dan gizi kurang
merupakan lingkaran setan. Diare menyebabkan kekurangan dan akan
memperberat diare. Oleh karena itu, pengobatan dengan makanan yang tepat dan
cukup merupakan komponen utama pengelolaan klinis diare dan juga pengelolaan
di rumah.
Berat dan lamanya diare sangat dipengaruhi oleh status gizi panderita dan
diare yang diderita oleh anak dengan kekurangan gizi lebih berat jika
dibandingkan dengan anak yang status gizinya baik karena anak dengan status gizi
kurang keluaran cairan dan tinja lebih banyak sehingga anak akan menderita
dehidrasi berat. Menurut Suharyono (1986), bayi dan balita yang kekurangan gizi,
sebagian besarnya meninggal karena diare. Hal ini dapat disebabkan karena
dehidrasi dan malnutrisi.
Faktor Sosial Ekonomi
Faktor sosial ekonomi juga mempunyai pengaruh langsung terhadap
faktor-faktor penyebab diare. Kebanyakan anak yang mudah menderita diare
berasal dari keluarga yang besar dengan daya beli yang rendah, kondisi rumah
yang buruk, tidak mempunyai sediaan air bersih yang memenuhi persyaratan
kesehatan, pendidikan orang tuanya yang rendah dan sikap serta kebiasaan yang
tidak menguntungkan. Karena itu edukasi dan perbaikan ekonomi sangat berperan
dalam pencegahan dan penanggulangan diare (Suharyono, 1991).
Faktor Pendidikan
Tingginya angka kesakitan dan kematian (morbiditas dan mortalitas)
karena diare di Indonesia disebabkan oleh faktor kesehatan lingkungan yang
belum memadai, keadaan gizi, kependudukan, pendidikan, keadaan sosial
ekonomi dan perilaku masyarakat yang secara langsung ataupun tidak langsung
mempengaruhi keadaan penyakit diare (Simatupang, 2004).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Erial, B. et al, 1994, ditemukan
bahwa kelompok ibu dengan status pendidikan SLTP ke atas mempunyai
kemungkinan 1,6 kali memberikan cairan rehidrasi oral dengan baik pada balita
dibanding dengan kelompok ibu dengan status pendidikan SD ke bawah
(Simatupang, 2004).
Faktor Umur Balita
Sebagian besar diare terjadi pada anak dibawah usia 2 tahun. Hasil analisa
lanjut SDKI (1995) didapatkan bahwa umur balita 12-24 bulan mempunyai resiko
terjadi diare 2,23 kali dibandingkan anak umur 25-59 bulan (Simatupang, 2004).
Faktor ASI
ASI eksklusif adalah pemberian air susu ibu bayi baru lahir sampai usia 6
bulan, tanpa diberikan makanan tambahan lainnya. Brotowasisto (1997),
menyebutkan bahwa insiden diare meningkat pada saat anak untuk pertama kali
mengenal makanan tambahan dan makin lama makin meningkat. Pemberian ASI
penuh akan memberikan perlindungan diare 4 kali daripada bayi dengan ASI
disertai susu botol. Bayi dengan susu botol sahaja akan mempunyai resiko diare
lebih besar dan bahkan 30 kali lebih banyak daripada bayi dengan ASI penuh
(Sutoto, 1992).
Faktor Jamban
Resiko kejadian diare lebih besar pada keluarga yang tidak mempunyai
fasilitas jamban keluarga dan penyediaan sarana jamban umum dapat menurunkan
resiko kemungkinan terjadinya diare. Berkaitan dengan personal hygiene dari
masyarakat yang ditunjang dengan situasi kebiasaan yang menimbulkan
pencemaran lingkungan sekitarnya dan terutama di daerah-daerah dimana air
merupakan masalah dan kebiasaan buang air besar yang tidak sehat (Simatupang,
2004).
Faktor Sumber Air
Sumber air adalah tempat mendapatkan air yang digunakan. Air baku
tersebut sebelum digunakan adalah yang diolah dulu, namun ada pula yang
langsung digunakan oleh masyarakat. Kualitas air baku pada umumnya tergantung
dari mana sumber air tersebut didapat.
Ada beberapa macam sumber air misalnya : air hujan, air tanah (sumur gali,
sumur pompa), air permukaan (sungai, danau) dan mata air. Apabila kualitas air
dari sumber air tersebut telah memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan peraturan
yang berlaku, dapat langsung dipergunakan tetapi apabila belum memenuhi
syarat, harus melalui proses pengolahan air terlebih dahulu.
Berdasarkan data survei demografi dan kesehatan tahun 1997, kelompok
anak-anak di bawah lima tahun yang keluarganya menggunakan sarana sumur gali
mempunyai resiko terkena diare 1,2 kali dibandingkan dengan kelompok anak
yang keluarganya menggunakan sumber sumur pompa (Simatupang, 2004).
1.6. Penatalaksanaan Terapi
Tujuan terapi :
Untuk mengatur diet, mencegah pengeluaran air yang berlebihan,
elektrolit, dan gangguan asam basa, menyembuhkan gejala, mengatasi penyebab
diare dan mengatur gangguan sekunder yang menyebabkan diare.
Pendekatan Umum:
Pengaturan diet adalah prioritas utama untuk pengobatan diare. Klinisi
merekomendasikan untuk menghentikan makanan padat selama 24 jam dan
menghindari produk-produk yang mengandung susu.
Apabila terjadi mual dan muntah tingkat sedang berikan diet residu rendah
yang mudah dicerna selama 24 jam.jika terjadi muntah dan tidak dapat dikontrol
dengan pemberian antiemetik, tidak ada yang diberikan melalui mulut. Pemberian
diet makanan lunak dimulai seiiring adanya penurunan gerakan usus. Pemberian
makanan sebaiknya diteruskan pada anak-anak dengan diare akibat bakteri akut.
Rehidrasi dan perbaikan air elektrolit adalah perawatan primer sampai
diare berakhir. Apabila muntah dan dehidrasi tidak parah, pemberian makanan
enteral merupakan metode yang terpilih.
Terapi farmakologis
Berbagai obat telah digunakan dalam pengobatan diare. Obat ini
dikelompokkan ke dalam beberapa kategori : Antimotility, adsorben, senyawa
antisekresi, antibiotik, enzim, dan mikrofba usus. Obat-obatan tersebut tidak
menyembuhkan tetapi hanya meringankan.

Penatalaksanaan diare (menurut kemenkes RI)
1. Berikan Oralit
Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah
tangga dengan memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila tidak tersedia
berikan cairan rumah tangga seperti air tajin, kuah sayur, air matang. Oralit saat
ini yang beredar di pasaran sudah oralit yang baru dengan osmolaritas yang
rendah, yang dapat mengurangi rasa mual dan muntah. Oralit merupakan cairan
yang terbaik bagi penderita diare untuk mengganti cairan yang hilang. Bila
penderita tidak bisa minum harus segera di bawa ke sarana kesehatan untuk
mendapat pertolongan cairan melalui infus.
2. Berikan obat Zinc
Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Zinc
dapat menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Synthase), dimana
ekskresi enzim ini meningkat selama diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel
usus. Zinc juga berperan dalam epitelisasi dinding usus yang mengalami
kerusakan morfologi dan fungsi selama kejadian diare.
Pemberian Zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat
keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja,
serta menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya.(Black,
2003). Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa Zinc mempunyai efek
protektif terhadap diare sebanyak 11 % dan menurut hasil pilot study
menunjukkan bahwa Zinc mempunyai tingkat hasil guna sebesar 67 % (Hidayat
1998 dan Soenarto 2007). Berdasarkan bukti ini semua anak diare harus diberi
Zinc segera saat anak mengalami diare.
Dosis pemberian Zinc pada balita:
- Umur < 6 bulan : tablet ( 10 Mg ) per hari selama 10 hari
- Umur > 6 bulan : 1 tablet ( 20 mg) per hari selama 10 hari.
Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti.
Cara pemberian tablet zinc :
Larutkan tablet dalam 1 sendok makan air matang atau ASI, sesudah larut berikan
pada anak diare.
3. Pemberian ASI / Makanan :
Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada
penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah
berkurangnya berat badan. Anak yang masih minum Asi harus lebih sering di beri
ASI. Anak yang minum susu formula juga diberikan lebih sering dari biasanya.
Anak usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan
padat harus diberikan makanan yang mudah dicerna dan diberikan sedikit lebih
sedikit dan lebih sering. Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra
diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat badan.
4. Pemberian Antibiotika hanya atas indikasi
Antibiotika tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian
diare pada balita yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotika hanya bermanfaat
pada penderita diare dengan darah (sebagian besar karena shigellosis), suspek
kolera.
Obat-obatan Anti diare juga tidak boleh diberikan pada anak yang
menderita diare karena terbukti tidak bermanfaat. Obat anti muntah tidak di
anjurkan kecuali muntah berat. Obat-obatan ini tidak mencegah dehidrasi ataupun
meningkatkan status gizi anak, bahkan sebagian besar menimbulkan efek samping
yang bebahaya dan bisa berakibat fatal. Obat anti protozoa digunakan bila terbukti
diare disebabkan oleh parasit (amuba, giardia).
5. Pemberian Nasehat
Ibu atau pengasuh yang berhubungan erat dengan balita harus diberi
nasehat tentang :
1. Cara memberikan cairan dan obat di rumah
2. Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan bila :
- Diare lebih sering
- Muntah berulang
- Sangat haus
- Makan/minum sedikit
- Timbul demam
- Tinja berdarah
- Tidak membaik dalam 3 hari.






BAB III
SKRINING RESEP
3.1 PERSYARATAN ADMINISTRATIF
No. Kelengkapan Resep Ada Tidak Keterangan
1 Tanggal

12 Juli 2014
2 Nama, alamat, no. izin
praktek dokter
(Inscriptio)


Penulisan resep merupakan
dokter di puskesmas naras
3 Nama obat, jumlah dan
cara penyerahan obat
(prescription)

-
4 Aturan pemakaian obat
(signature)

-
5 Tanda tangan atau paraf
dokter (subcriptio)

-
6 Nama pasien

An. Z
7 Umur pasien

4 tahun 6 bulan
8 Alamat

PBB

3.2. KESESUAIAN FARMASETIK
Paracetamol
Bentuk sediaan : Tablet
Dosis dan Lama pemberian : Dewasa 3-4x/hr, anak 6-12 tahun atau 1 tab tiap 4-
6 jam, 2-5 tahun -1/2 tab tiap 4-6 jam.
Potensi : 500 mg
Stabilitas : Simpan ditempat sejuk (15 25 C) dan kering.
Cara pemberian : sesudah makan
Bicnat
Bentuk sediaan : Tablet
Dosis dan Lama pemberian :
Potensi : 500 mg
Stabilitas :
Cara pemberian :
Vitamin B6
Bentuk sediaan : Tablet
Dosis dan Lama pemberian : Anak 4 - 8 tahun : 0.6 mg tiap hari
Potensi :
Stabilitas :
Cara pemberian :
Oralit
Bentuk sediaan : Serbuk
Dosis dan Lama pemberian :
Potensi :
Stabilitas :
Cara pemberian :
Zink
Bentuk sediaan : Tablet dispersible
Dosis dan Lama pemberian :
Bayi (2-6 bulan): tablet (10 mg zinc) sekali sehari selama 10 hari (meskipun
diare telah berhenti)
Anak (6 bulan-5 tahun): 1 tablet (20 mg zinc) sekali sehari selama 10 hari
(meskipun diare telah berhenti).
Potensi : 20 mg
Stabilitas : Disimpan dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya matahari,
pada suhu di bwah 30C.
Cara pemberian : Pemberian dilakukan dengan cara melarutkan tablet dispersibel
dengan air secukupnya pada sendok ( 5 mL), kemudian diminumkan kepada
anak.



3.3. PERTIMBANGAN KLINIS
No Tinjauan
farmasetik
PCT BICNAT B6 ORALIT ZINK
1 Alergi -
2 Efek samping Penggunaan
jangka lama dan
dosis besar
dapat
menyebabkan
kerusakan hati
dan reaksi
hipersensitivitas.

3 Interaksi obat

BAB IV
ANALISIS DRUG RELATED PROBLEM
4.1. Masalah Terkait Obat (DRP)
Jenis DRP
Tanggal/bulan Ket. Rekomendasi
12-07-2014
Indikasi tidak
diterapi
-
Terapi tanpa
indikasi

Penggunaan Bicnat
untuk diare berat.
- BICNAT
- Vitamin B6
Dosis kurang -
Dosis berlebih

Efek samping yang
jarang terjadi Sensory
neuropathies, pusing
dan penurunan asam
folat
Vitamin B6 untuk anak
4 tahun 0,6 mg/hari
Gagal
mendapatkan
obat
-
Pilihan obat
tidak tepat
-
ESO -
Interaksi obat -



4.2. KERASIONALAN OBAT
No
.
Nama
Obat
Tepat
Indikasi
Tepat
Obat
Tepat
Pasien
Tepat
Dosis
Waspada
Efek
Samping
Keterangan
1 PCT


2 Bic Nat - - - - Pemberian Bicnat saat
diare berat
3 Vitamin
B6
- - - - Dosis Vit. B6 melebihi
dosis anak-anak umur 4
tahun
4 Oralit


5 Zink




















BAB V
TINJAUAN OBAT

1. Parasetamol (MIMS, 2013;PIO, 2007)
Komposisi: paracetamol 500 mg
Indikasi: Nyeri ringan sampai sedang (termasuk sakit kepala, mialgia,
keluhan sesudah imunisasi) serta menurunkan demam yang menyertai
infeksi bakteri dan virus
Dosis: Dewasa 3-4x/hr, anak 6-12 tahun atau 1 tab tiap 4-6 jam, 2-5
tahun -1/2 tab tiap 4-6 jam.
Kontra indikasi: Pasien dengan penyakit hati atau ikterus
Efek samping: Reaksi hematologi, erupsi kulit, mual, muntah, gangguan
hati, iritasi lambung
Interaksi obat: Antikoagulan, antidiabetik, antiaritmia, gout.
Farmakologi : Paracetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai
sifat antipiretik/analgesik. Sifat antipiretik disebabkan oleh gugus
aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan efek sentral. Sifat
analgesik paracetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai
sedang. Sifat antiinflamasinya sangat lemah hingga tidak digunakan
sebagai antiremetik. Pada penggunaannya per oral paracetamol diserap
dengan cepat melalui saluran cerna. Kadar maksimum dalam plasma
dicapai dalam waktu 30 menit sampai 60 menit setelah pemberian.
Paracetamol diekskresikan melalui ginjal,kurang dari 5% tanpa mengalami
perubahan dan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi.

2. Zink
Komposisi: Zinc sulphate monohydrate 54,9 mg yang setara dengan zinc
20 mg
Indikasi: Terapi pelengkap diare pada anak. Penggunaannya bersama
dengan garam rehidrasi oral


Dosis:
Bayi (2-6 bulan): tablet (10 mg zinc) sekali sehari selama 10 hari
(meskipun diare telah berhenti)
Anak (6 bulan-5 tahun): 1 tablet (20 mg zinc) sekali sehari selama 10
hari (meskipun diare telah berhenti). Pemberian dilakukan dengan cara
melarutkan tablet dispersibel dengan air secukupnya pada sendok ( 5
mL), kemudian diminumkan kepada anak
Farmakologi: Tablet zinc dispersibel untuk melengkapi pengobatan diare
pada anak-anak di bawah 5 tahun. Penggunaannya selalu disertai dengan
garam rehidrasi oral. Pengobatan diare ditujukan untuk pencegahan atau
pengobatan dehidrasi dan pencegahan gangguan nutrisi. Berikan zinc
sesegera mungkin pada awal diare bersama dengan garam rehidrasi oral.
Pemberian suplementasi zinc dapat menurunkan insidens diare 2-3 bulan
ke depan
Kontra indikasi: Hipersensitif.
Efek Samping: Toksisitas zinc secara oral pada orang dewasa dapat
terjadi akibat asupan zinc > 150 mg/hari ( 10 kali dosis yang
direkomendasikan) dalam jangka panjang. Dosis tinggi zinc dalam jangka
panjang dapat menurunkan konsentrasi lipoprotein dan absorpsi tembaga
Peringatan dan Perhatian: Selama diare masih berlangsung, selain
diberikan suplementasi zinc juga diberikan garam rehidrasi oral. Para ibu
menyusui dianjurkan untuk tetap menyusui atau meningkatkan frekuensi
menyusui anaknya selama dan setelah diare

3. Vit B6
Komposisi: tiap tablet mengandung piridoksin HCL 10 mg, 25 mg
Indikasi: Defisiensi piridoksin, Gangguan metabolik, Beberapa indikasi
lain namun belum terbukti dengan studi klinis yang terkontrol baik : terapi
jerawat, bermacam dermatosis, stimulasi nafsu makan, hiperlipidemia,
radiation sickness, hyperemesis gradivarum, vertigo, motion sickness,
psikosis, depresi terkait kehamilan dan penggunaan kontrasepsi oral,
hiperkinesia, acute chorea, chronic progressive hereditary chorea, tardive
dyskinesia, asma, absence seizures, sindrom amenorrhea-galactorrhea,
gyrate atrophy of the choroid and retina, idiophatic nephrolithiasis,
intoksikasi alkohol, dan untuk supresi laktasi postpartum, pencegahan
leukopenia akibat mitomycin, dan reversal of procarbazine neurotoxicity.
Dosis:
Pemberian : per oral, injeksi IM, IV dan subkutan. Rasa terbakar dapat
muncul pada sisi injeksi setelah pemberian IM atau Subkutan.
Untuk Indikasi Defisiensi Piridoksin :
Dewasa : dosis awalnya 2.5 - 10 mg perhari. Setelah gejala klinisnya
terkoreksi, sediaan multivitamin mengandung vitamin B6 2-5 mg perhari
harus diberikan selama beberapa minggu, Untuk terapi drug-induced
deficiency anemia atau neuritis, dosis awal 100-200 mg perhari selama 3
minggu diikuti dosis profilaksis oral 25-100 mg perhari.
Untuk Indikasi Dietary Requirements and Replacement :
Adequate intake rekomendasi National Academy of Sciences (NAS) : Bayi
sehat < 6 bulan 0.01 mg/kg tiap hari, Bayi sehat 6-12 bulan 0.03 mg/kg
tiap hari,
Recommended Dietary Allowance : Anak sehat 1 - 3 tahun : 0.5 mg tiap
hari, Anak sehat 4 - 8 tahun : 0.6 mg tiap hari, Anak sehat 9 - 13 tahun : 1
mg tiap hari, Lak-laki 14-19 tahun : 1.3 mg tiap hari, Perempuan 14-19
tahun : 1.2 mg tiap hari, Laki-laki dan perempuan dewasa 19-50 tahun :
1.3 mg tiap hari, Laki-laki >= 51 tahun : 1.7 mg tiap hari (Medscape,
2014).
Efek samping :
- Sistem saraf pusat : sakit kepala, kejang (mengikuti pemberian dosis IV
yang sangat besar), sensory neuropathy
- Endokrin & metabolik : penurunan sekresi serum asam folat
Gastrointestinal
- Mual Hepatik : Peningkatan AST Neuromuskular & skeletal : paresthesia
Lain-lain :reaksi alergi.


Interaksi obat:
- Levodopa : menurunkan efek levodopa, namun hal ini tidak muncul jika
dopa decarboxylase inhibitor juga ikut diberikan.
- Altretamine : menurunkan aktivitas altretamine.
- Phenobarbital & Phenytoin : menurunkan konsentrasi serum ke dua obat
tersebut. Hidralazin, isoniazid, penicillamine, kontrasepsi oral :
meningkatkan kebutuhan vitamin B6
Farmakologi: Piridoksin dikonversi menjadi bentuk aktif vitamin yang
bekerja sebagai koenzim dalam variasi reaksi yang luas dalam
intermediary metabolisme.

4. Oralit
Komposisi:
Oralit 200 :
Glukosa anhidrat 2,7 g
Natrium klorida 0,52 g
Trinatrium sitrat dihidrat 0,52 g
Kalium klorida 0,3 g
Indikasi: mencegah dan mengobati dehidrasi pada waktu muntaber, diare,
kolera
Dosis:
Dosis oralit bagi penderita diare tanpa dehidrasi :
Umur < 1 tahun : - gelas setiap kali anak mencret
Umur 1 4 tahun : - 1 gelas setiap kali anak mencret
Umur diatas 5 Tahun : 1 1 gelas setiap kali anak mencret
Dosis oralit bagi penderita diare dehidrasi ringan/sedang :
Dosis oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama 75 ml/ kg bb dan
selanjutnya diteruskan dengan pemberian oralit seperti diare tanpa
dehidrasi.
Kontra indikasi: obstruksi atau perforasi usus
Farmakologi : Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi penderita diare
untuk mengganti cairan yang hilang.
5. BICNAT
Komposisi: Sodium bicarbonate
Kelas terapi : Antidote, Alkalinizing agent
Bentuk sediaan : tablet 325 mg; 650 mg
Indikasi : Menghilangkan gangguan pencernaan, mulas, asam lambung,
atau sakit perut.
Dosis:
Pediatrik:
o Urinary Alkalinisasi
0-12 tahun: 1-10 mEq (84-840 mg) / kg / hari secara oral dalam dosis
terbagi; dosis harus dititrasi pada pH urin yang diinginkan. Lebih dari 12
sampai 18 tahun: 325-2000 mg oral 1 sampai 4 kali sehari. Satu gram
menyediakan 11,9 mEq (mmol) natrium bikarbonat dan Tujuan terapi
adalah untuk memperbaiki pH serum dan meningkatkan pH urin menjadi 8
untuk meningkatkan ekskresi ginjal dari zat beracun seperti salisilat atau
lithium. Jika peningkatan pH urin tidak memadai, meningkatkan natrium
bikarbonat dalam larutan untuk 100 sampai 150 mEq / L dapat
menyebabkan alkalinisasi lebih lanjut dari urin.
o Hyperuricemia Sekunder untuk Kemoterapi
0-12 tahun:
Parenteral: 120-200 mEq/m2/day diencerkan dalam cairan pemeliharaan
IV 3000 mL / m2 / day; titrasi untuk mempertahankan pH urine antara 6
dan 7.
Oral: 12 g/m2/day dibagi menjadi 4 dosis; titrasi untuk mempertahankan
pH urine antara 6 dan 7.
o Asistol
1 mEq / kg IV lambat pada awalnya, dapat mengulang dengan 0,5 mEq /
kg 10 menit kemudian satu waktu, atau seperti yang ditunjukkan oleh
status asam-basa pasien.



Dewasa :
o Metabolik Asidosis
Parenteral:
Jika status asam basa tersedia, dosis harus dihitung sebagai berikut: defisit
0,2 x berat badan (kg) x dasar. Atau: HCO3 (mEq) = 0,5 x diperlukan
berat badan (kg) x [24 - serum HCO3 (mEq/L)]. atau Sedang asidosis
metabolik: 50 sampai 150 mEq natrium bikarbonat dilarutkan dalam 1 L
D5W untuk infus intravena pada tingkat 1 sampai 1,5 L/jam selama satu
jam pertama. Parah asidosis metabolik: 90-180 mEq natrium bikarbonat
dilarutkan dalam 1 L D5W untuk infus intravena pada tingkat 1 sampai 1,5
L / jam selama satu jam pertama. Jika status asam basa tidak tersedia,
dosis harus dihitung sebagai berikut: 2 sampai 5 mEq / kg IV infus lebih
dari 4 sampai 8 jam; dosis berikutnya harus didasarkan pada status asam
basa pasien.
Oral:
Asidosis metabolik Moderat: 325-2000 mg oral 1 sampai 4 kali
sehari. Satu gram menyediakan 11,9 mEq (mmol) natrium bikarbonat.
o Diabetic ketoasidosis
Meskipun natrium bikarbonat disetujui untuk pengobatan asidosis
metabolik, data yang menunjukkan bahwa penggunaan obat ini mungkin
berbahaya dalam pengaturan klinis tertentu seperti asidosis laktat, asidosis
dengan hipoksia jaringan, uremia, disfungsi jantung berat atau
penangkapan, dan ketoasidosis diabetik. Kebanyakan ahli hanya
memungkinkan untuk digunakan ketika perfusi jaringan dan ventilasi yang
maksimal dan pH arteri adalah 7.1 atau lebih rendah. Jika natrium
bikarbonat digunakan untuk mengobati diabetes ketoasidosis, dosis awal
adalah 50 mEq natrium bikarbonat dalam 1 L larutan IV yang tepat untuk
diberikan sekali. Terapi insulin mungkin meniadakan kebutuhan untuk
terapi bikarbonat karena akan meningkatkan pemanfaatan glukosa dan
menurunkan produksi keto.


o Urinary Alkalinisasi
Parenteral:
50 sampai 150 mEq natrium bikarbonat dilarutkan dalam 1 L D5W untuk
infus intravena pada tingkat 1 sampai 1,5 L / jam.
Oral:
325-2000 mg oral 1 sampai 4 kali sehari. Satu gram menyediakan 11,9
mEq (mmol) natrium bikarbonat dan Tujuan terapi adalah untuk
memperbaiki pH serum dan meningkatkan pH urin menjadi 8 untuk
meningkatkan ekskresi ginjal dari zat beracun seperti salisilat atau
lithium. Jika peningkatan pH urin tidak memadai, meningkatkan natrium
bikarbonat dalam larutan untuk 100 sampai 150 mEq / L dapat
menyebabkan alkalinisasi lebih lanjut dari urin.
















BAB VI
PEMBAHASAN
Diare adalah adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair
atau setengah cair setengah padat, lebih dari 3 kali perhari, dapat disertai dengan
darah atau lendir, berlangsung kurang dari 14 hari. Pada kasus ini pasien berobat
ke puskesmas melalu poli anak dengan keluhan BAB 3x dan disertai demam.
Pengobatan yang diberikan yaitu paracetamol untuk mengatasi demam
dengan pemberian 3 x tablet (250 mg). dosis pct untuk anak <12 thn 10 mg
15 mg/kg BB PO q 4-6jam prn, tidak boleh lebih dari 2,6 g / hari (5dosis per hari)
(Medscape, 2014; IONI, 2008). Pada kasus ini dosis untuk anak dengan BB 18 kg
yaitu: 180 mg 270 mg.
Sodium bikarbonat digunakan untuk: Mengobati asidosis metabolik (suatu
kondisi di mana ada terlalu banyak asam di dalam tubuh) dan intoksikasi obat
tertentu, dan mengganti bikarbonat hilang karena diare berat. Sodium bikarbonat
adalah elektrolit. Ia bekerja dengan menetralkan kelebihan asam dalam darah. Hal
ini juga dapat menggantikan bikarbonat bila ada kekurangan dari tubuh (Drugs
2014). Pada kasus ini anamnesa pasien mengatakan bahwa pasien BAB 3x dan
didiagnosa diare tanpa dehidrasi, jadi pemberian NABIC tidak perlu diberikan
karena tidak ada indikasi atau gejala yang ada pada pasien.
Untuk mencegah dan mengobati dehidrasi pada diare, pasien diberikan
oralit. Dosis oralit bagi penderita diare tanpa dehidrasi : Umur 1 4 tahun : - 1
gelas setiap kali anak mencret.
Tablet zinc dispersibel 1 x 10 mg untuk melengkapi pengobatan diare pada
anak-anak di bawah 5 tahun. Penggunaannya selalu disertai dengan garam
rehidrasi oral (oralit). Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting
dalam tubuh. Zinc dapat menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide
Synthase), dimana ekskresi enzim ini meningkat selama diare dan mengakibatkan
hipersekresi epitel usus. Zinc juga berperan dalam epitelisasi dinding usus yang
mengalami kerusakan morfologi dan fungsi selama kejadian diare.
Pemberian Zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan
tingkat keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi
volume tinja, serta menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan
berikutnya (Black, 2003). Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa Zinc
mempunyai efek protektif terhadap diare sebanyak 11 % dan menurut hasil pilot
study menunjukkan bahwa Zinc mempunyai tingkat hasil guna sebesar 67 %.
Berdasarkan bukti ini semua anak diare harus diberi Zinc segera saat anak
mengalami diare (Depkes RI, 2011).
Multivitamin yang diberikan kemudian yaitu Vit B6 2 x 1 tab untuk
menambah asupan tubuh dan mengatasi mual pada anak. Dosis vitamin B6 untuk
anak 4 - 8 tahun : 0.6 mg tiap hari Vitamin B6 didalam tubuh berubah menjadi
piridoksal fosfat dan piridoksamin fosfat yang dapat membantu dalam
metabolisme protein dan asam amino.














BAB V
KESIMPULAN
5.1 KESIMPULAN
Obat yang diberikan yaitu Parasetamol, Bicnat, Vit. B6, Oralit dan Zink
DRP yang ditemukan yaitu dosis Vit. B6 lebih dari 0,6 mg/hari dan
penggunaan Bicnat harusnya untuk diare berat.

5.2 KONSELING PASIEN
Sarankan kepada ibu atau keluarga pasien cara memberikan cairan dan
obat.
Jelaskan kepada keluarga pasien kapan harus membawa kembali balita ke
petugas kesehatan bila : Diare lebih sering, muntah berulang, sangat haus,
makan/minum sedikit, timbul demam, tinja berdarah, tidak membaik
dalam 3 hari.
Jelaskan kepada keluarga pasien cara mencegah diare pada bayi, seperti :
memberi ASI penuh pada bayi selama 6 bulan, > 6 bulan beri ASI dan
makanan lunak lainnya, menggunakan air yang bersih, mencuci tangan
dengan sabun, hindari makan dan minum yang tidak bersih, rebus air
untuk minum, gunakan air bersih untuk memasak, menggunakan jamban,
membuang tinja bayi yang benar, memberi imunisasi, sarana membuang
air limbah yang baik.











DAFTAR PUSTAKA

American Society of Health-System Pharmacists.2011. AHFS DRUG
INFORMATION ESSENTIALS.Bethesda, Maryland.
BPOM, 2008.Informasi Obat Nasional Indonesia (IONI). Jakarta: CV. Sagung
Seto.
Black, R.E., Morris, S.S., and Bryce, JWhere and why are 10 million children
dying every year? Lancet . 2003, 361: 2226-2234.
Buku Saku Patofisiologi, Ed.3. Corwin, Elizabeth J., 2009. hal. 718-719

Departemen Kesehatan RI. 2007. Pelayanan Informasi Obat. Jakarta.

Depkes RI. 2011. Situasi Diare di Indonesia. Triwulan II. ISSN 2088-270x. bakti
husada.

Dipiro, Joseph, T. 2005. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth
Edition.The McGraw-Hill Companies, Inc.

Drugs.com. 2014. Sodium bicarbonat. http://www.drugs.com/cdi/sodium-
bicarbonate.html [Acc date : 16 Juli 2014].

IAI. 2011. ISO Farmakoterapi 2.PT.IAI Penerbitan : Jakarta.

ISFI. 2008. ISOFarmakoterapi. PT. ISFI Penerbitan : Jakarta.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Buletin diare. Indonesia: Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Buku saku petugas kesehatan. Indonesia :
Kementerian Kesehatan Repbulik Indonesia: 2011.

Medscape. 2014. Vitamin B6. http://reference.medscape.com/drug/vitamin-b6-
nestrex-pyridoxine-344425. [Acc Date: 16 Juli 2014]

MIMS. 2007. PT. Labi Laboratories Cikande : Jakarta.

Mutschler, ernest. 1991. Dinamika Obat. Farmakologi dan Toksikologi. Edisi V.
Bandung : Penerbit Erlangga ITB.

Ramig, R.F. Minireview. Pathogenesis of Intestinal and Systemic Rotavirus
Infection. Journal of Virology 2004; 78(19): 10213-10220.