Anda di halaman 1dari 3

Autisme

Mengapa autisme kini menjadi momok bagi banyak orang tua? Diduga karena jumlah angka
kejadiannya yang terus meningkat diseluruh dunia. Namun di Indonesia sendiri, belum ada data
yang menunjukkan secara pasti besarnya angka kejadian tersebut.

Survey data dari California Department of Developmental Service, AS, melaporkan bahwa
sampai Januari 2003, telah terjadi peningkatan kasus anak yang menderita autisme di Amerika
Serikat hingga 31%. Ikatan Dokter Anak AS dan Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit AS
bahkan menambahkan bahwa jumlah anak yang didiagnosis menderita autisme sekitar 1:166
anak. Padahal, 10 tahun yang lalu, angka kejadiannya hanya 1:2500 anak.

Autisme adalah gangguan perkembangan anak dalam hal berkomunikasi, interaksi sosial,
perilaku, emosi, serta proses sensoris. Seseorang yang menderita autisme hanya tertarik pada
aktifitas mental dirinya sendiri (misalnya melamun atau berkhayal) dan sangat menarik diri dari
kenyataan. Pada anak-anak, kelainan perilaku tersebut terlihat dari ketidakmampuan si anak
untuk berhubungan dengan orang lain. Seolah-olah mereka hidup dalam dunianya sendiri dan
pada beberapa kasus tertentu menggunakan bahasa atau ungkapan yang hanya dimengerti oleh
dirinya sendiri.

Gejala anak yang menderita autisme umumnya sudah tampak sebelum usia 3 tahun. Apa saja
gejalanya?
Tidak ada kontak mata yang mantap.
Kurang responsif terhadap lingkungan di sekitarnya.
Tidak mau bicara secara verbal.
Tidak mau berkomunikasi dengan bahasa tubuh, seperti tersenyum, merengut, dan
sebagainya.
Jika hal tersebut dialami si kecil, sebaiknya Anda waspada dan segera membawanya ke dokter,
psikolog, atau psikiater. Disarankan sebaiknya langsung berkonsultasi pada dokter yang ahli
menangani autisme untuk menentukan tes, tindakan atau pengobatan selanjutnya, dan
memberikan latihan khusus untuk si anak.

Gejala autisme disebut juga dengan spektrum autisme, yaitu gejala mulai dari yang ringan
sampai yang berat. Bertambahnya kasus autisme bukan hanya pada kasus autisme klasik, tapi
juga pada varian autisme yang lebih ringan, seperti sindroma Asperger dan atipikal autisme.

Sindroma Asperger adalah gangguan perkembangan dengan gejala berupa gangguan dalam
bersosialisasi, sulit menerima perubahan, suka melakukan hal yang sama berulang-ulang, serta
terobsesi dan sibuk sendiri dengan aktivitas yang menarik perhatian. Umumnya, tingkat
kecerdasan si kecil baik atau bahkan lebih tinggi dari anak normal. Selain itu, biasanya ia tidak
mengalami keterlambatan bicara.

Sedangkan atipikal autisme adalah jenis autisme yang tidak memenuhi kriteria gangguan autisme
yang disyaratkan oleh DSM-IV (panduan dalam menegakkan diagnosa gangguan mental).
Meskipun begitu, si kecil mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial dan berkomunikasi
secara timbal balik. Mungkin juga ia tidak menunjukkan gejala yang khas atau bisa juga gejala-
gejalanya lebih ringan dibandingkan penyandang autisme klasik.

Penyebab terjadinya autisme sebenarnya belum dapat diketahui, namun gangguan tersebut dapat
dikaitkan dengan faktor keturunan maupun kegagalan salah satu bagian dari otak yang
memproses rangsangan syaraf.

Salah satu penanganan anak dengan gangguan spektrum autisme adalah terapi perkembangan
terpadu. Terapi tersebut terdiri dari terapi okupasi dengan penekanan pada terapi Sensory
Integration yang dipadu dengan metode Floor Time. Namun, bila anak memerlukannya, masih
ditambah lagi dengan Strategi Visual. Terapi Sensory Integration dan Floor Time diberikan
setelah anak diketahui menyandang gangguan semua spektrum autisme. Sedangkan Strategi
Visual baru diberikan bila anak sudah benar-benar siap menerima terapi ini. Kesiapan tersebut
akan dinilai oleh terapis, dokter, atau psikolog yang menangani si anak.

Terapi Sensory Integration adalah terapi untuk memperbaiki cara otak menerima, mengatur, dan
memproses semua input sensoris yang diterima oleh pancaindera, indera keseimbangan, dan
indera otot. Anak yang mengalami gangguan perilaku, seperti autisme, akan mengalami kesulitan
dalam menerima dan mengintegrasikan beragam input yang disampaikan otak melalui inderanya.
Akibatnya, otak tidak dapat memproses input sensoris dengan baik. Dengan begitu, otak juga
tidak dapat mengatur perilaku anak agar sesuai dengan lingkungannya.

Melalui terapi Sensory Integration, kemampuan si kecil dalam menerima, memproses dan
menginterpretasi input-input sensoris, baik dari luar maupun dari dalam dirinya, akan diperbaiki.
Dengan begitu, dia dapat lebih baik dalam bereaksi terhadap lingkungannya.

Untuk meningkatkan kemampuan anak dalam bersosialisasi dan berkomunikasi, terapi Sensory
Integration harus dipadukan dengan metode Floor Time (bermain di lantai). Metode bermain
interaktif yang spontan dan menyenangkan bagi anak bertujuan untuk mengembangkan interaksi
dan komunikasi si kecil. Floor Time bertujuan membentuk komunikasi dua arah antara anak dan
lawan bicaranya, serta mendorong munculnya ide dan membantu anak mampu berpikir logis.
Agar bisa melakukan Floor Time dengan baik, orang tua perlu bimbingan psikolog yang paham
dan berpengalaman dengan metode tersebut.

Lalu, apa yang disebut dengan Strategi Visual? Umumnya, penyandang gangguan spektrum
autisme lebih mampu berpikir secara visual. Jadi, mereka lebih mudah mengerti apa yang dilihat
daripada apa yang didengar. Strategi Visual dipilih agar si kecil lebih mudah memahami
berbagai hal yang ingin Anda sampaikan. Biasanya, ia akan diperkenalkan pada berbagai
aktivitas keseharian, larangan atau aturan, jadwal, dan sebagainya lewat gambar-gambar.
Misalnya gambar urutan dari cara menggosok gigi, mencuci tangan, dan sebagainya. Dengan
Strategi Visual, diharapkan anak bisa memahami situasi, aturan, mengatasi rasa cemas, serta
mengantisipasi kondisi yang akan terjadi.