Anda di halaman 1dari 5

I.

PENDAHULUAN
1.1 Teori Dasar
A. Permanganometri
Metode Permanganometri adalah suatu metode yang dilandaskan pada prinsip
redoks dan menggunakan larutan Kalium Permanganat sebagai suatu zat
pengoksidasi. Reagensia Kalium Permanganat telah banyak dipergunakan sebagai
agen pengoksidasi selama lebih dari 100 tahun. Reagen ini mudah diperoleh, tidak
mahal, dan tak memerlukan indikator kecuali bila larutan yang digunakan sangat
encer. Dalam teknik kimia sendiri, zat ini digunakan untuk menentukan kadar dari
suatu senyawa. Sebagai contoh dalam aplikasinya, permanganometri digunakan
untuk menentukan kadar besi dalam bijih besi, menentukan kadar Ca2+ dalam
kalsium karbonat pada proses pengolahan air, serta analisis kandungan limbah
cair produksi. Sehingga analisa permanganometri tidak hanya bermanfaat di skala
laboratorium namun juga di skala industri.
Kalium Permanganat (KMnO4) telah banyak digunakan sebagai agen
pengoksidasi selama lebih dari 100 tahun. Reagen ini dapat diperoleh dengan
mudah, tidak mahal, dan tidak membutuhkan indikator terkecuali untuk larutan
yang amat encer. Satu tetes permanganat 0,1 N memberikan warna merah muda
yang jelas pada volume dari larutan yang biasa dipergunakan dalam sebuah
titrasi. Warna ini dipergunakan untuk mengindikasikan kelebihan reagen
tersebut. Permanganat mengalami beragam reaksi kimia, karena Mangan(Mn)
dapat dalam kondisi +2, +3, +4, +6, +7.
Reaksi yang paling umum ditemukan dalam laboratorium adalah reaksi yang
terjadi dalam larutan-larutan yang bersifat asam 0,1 N atau lebih besar :
MnO4- + 8H+ + 5e- Mn2+ + 4H2O + Eo = +1,51 V ... (1)
Permanganat bereaksi secara cepat dengan banyak agen pereduksi
berdasarkan reaksi ini, namun beberapa substansi membutuhkan pemanasan atau
penggunaan sebuah katalis untuk mempercepat reaksi. Permanganat adalah agen
unsur pengoksidasi yang cukup kuat untuk mengoksidasi Mn (II) menjadi
MnO2 sesuai dengan persamaan:
3Mn2+ + 2MnO4- + 2H2O 5 MnO2(s) + 4H+ ... (2)

Kalium Permanganat bukanlah standar primer. Sangat sukar untuk


mendapatkan pereaksi ini dalam keadaan murni, bebas sama sekali dari mangan
dioksida.Apa lagi, air yang dipakai sebagai pelarut sangat mungkin masih
mengandung zat pengotor lain yang dapat mereduksi Permanganat menjadi
Mangan dioksida (MnO2). Adanya zat ini sangatlah mengganggu, karena akan
mempercepat penguraian dari larutan permanganat setelah didiamkan.
Reaksi Penguraian :
4MnO4- + 2H2O 4MnO2- + 3O2- + 4OH- ... (3)
Permanganat merupakan oksidasi yang cukup kuat untuk mengoksidasi Mn(II)
menjadi MnO2 menurut persamaan :
2MnO4- + 3Mn2+ + 2H2O 5MnO2 + 4H+ ... (4)
Reaksi ini lambat dalam larutan asam, tetapi sangat cepat dalam larutan netral.
Larutan Kalium Permanganat(KMnO4) dapat distandarisasikan dengan
menggunakan arsen (III) oksida atau Natrium Oksalat sebagai larutan standar
primer,larutan

standar

sekunder

meliputi

besi

logam,

dan

besi

(II)

etilenadiamonium sulfat ( etileradiamina besi (II) sulfat), FeSO4, C2H4(NH3)2SO4,


4H2O (Basset, J. dkk, 1984 : 212).
Larutan KMnO4 standar dapat juga digunakan secara tidak langsung dalam
penetapan zat pengoksida, terutama oksida yang lebih tinggi seperti logam timbal
dan mangan, oksida semacam itu sukar dilarutkan dalam asam atau basa tanpa
mereduksi logam itu ke keadaan yang lebih tinggi. Tidak praktis untuk menitrasi
zat ini secara langsung karena reaksi dari zat padat dengan zat pereduksi berjalan
lambat (Day, R. A dan Underwood, 1986).

B. Iodometri
Titrasi reduksi oksidasi (redoks) adalah suatu penetapan kadar reduktor atau
oksidator berdasarkan atas reaksi oksidasi dan reduksi dimana reduktor akan
teroksidasi dan oksidator akan tereduksi. Dasar dari cara iodometri adalah reaksi
kesetimbangan dari iodium dan iodide:
I2 + 2e

2I- ... (5)

dengan demikian 1 grol I2 = 2 grek. Titrasi dengan iodometri dapat dibagi menjadi
2 cara :

1. Cara langsung
Iodimetri merupakan analisis titrimetri yang secara langsung digunakan untuk
zat reduktor atau natrium tiosulfat dengan menggunakan larutan iodin atau dengan
penambahan larutan baku berlebihan. Kelebihan iodin dititrasi kembali dengan
menggunakan larutan tiosulfat.
Reduktor + I2 2INa2S2O3 + I2 NaI + Na2S4O6
2. Cara tidak langsung
Iodometri adalah analisa titrimetrik yang secara tidak langsung untuk zat yang
bersifat oksidator seperti besi III, tembaga II. Zatzat ini akan mengoksidasi
iodida yang ditambahkan membentuk iodin. Iodin yang terbentuk ditentukan
dengan menggunakan larutan baku natrium tiosulfat.
Oksidator + KI I2 + 2e
I2 + Na2S2O3 NaI + Na2S4O6
Dalam hal ini iodide sebagai perediksi diubah menjadi iodium. Iodium yang
terbentuk dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat. Cara iodometri digunakan
untuk untuk menentukan zat pengoksidasi, misalnya penentuan zat oksidator
H2O2. Pada oksidator ini ditambahkan larutan KI dan asam sehingga akan
terbentuk iodium yang kemudian dititrasi dengan Na2S2O3. Reaksi :
H2O2 + KI + HCl I2 + KCl + 2H2O
Pembakuan Larutan Na2S2O3
Pembakuan Larutan Na2S2O3 dengan Larutan Baku KIO3, Percobaan ini
menggunakan metode titrasi iodometri yaitu titrasi tidak langsung dimana mulamula iodium direaksikan dengan iodida berlebih, kemudian iodium yang terjadi
dititrasi dengan natrium thiosulfat. Larutan baku yang digunakan untuk
standarisasi thiosulfat sendiri adalah KIO3 dan terjadi reaksi:
Oksidator + KI I2
I2 + 2Na2S2O3 2NaI + Na2S4O6
Natrium tiosulfat dapat dengan mudah diperoleh dalam keadaan kemurnian
yang tinggi, namun selalu ada saja sedikit ketidakpastian dari kandungan air yang
tepat, karena sifat flouresen atau melapuk-lekang dari garam itu dan karena

alasan-alasan lainnya. Karena itu, zat ini tidak memenuhi syarat untuk dijadikan
sebagai larutan baku standar primer.
Pembakuan larutan natrium tiosulfat dapat dapat dilakukan dengan
menggunakan kalium iodat, kalium kromat, tembaga dan iod sebagai larutan
standar primer, atau dengan kalium permanganat atau serium (IV) sulfat sebagai
larutan standar sekundernya. Larutan thiosulfat sebelum digunakan sebagai
larutan standar dalam proses iodometri ini harus distandarkan terlebih dahulu oleh
kalium iodat yang merupakan standar primer. Larutan kalium iodat ini
ditambahkan dengan asam sulfat pekat, warna larutan menjadi bening. Dan
setelah ditambahkan dengan kalium iodida, larutan berubah menjadi coklat
kehitaman. Fungsi penambahan asam sulfat pekat dalam larutan tersebut adalah
memberikan suasana asam, sebab larutan yang terdiri dari kalium iodat dan klium
iodida berada dalam kondisi netral atau memiliki keasaman rendah. Reaksinya
adalah sebagai berikut :
IO3- + 5I- + 6H+ 3I2 + 3H2O
Indikator yang digunakan dalam proses standarisasi ini adalah indikator
amilum 0,5%. Penambahan amilum yang dilakukan saat mendekati titik akhir
titrasi dimaksudkan agar amilum tidak membungkus iod karena akan
menyebabkan amilum sukar dititrasi untuk kembali ke senyawa semula. Proses
titrasi harus dilakukan sesegera mungkin, hal ini disebabkan sifat I2 yang mudah
menuap. Pada titik akhir titrasi iod yang terikat juga hilang bereaksi dengan titran
sehingga warna biru mendadak hilang dan perubahannya sangat jelas. Penggunaan
indikator ini untuk memperjelas perubahan warna larutan yang terjadi pada saat
titik akhir titrasi. Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan.
Kompleks iodium-amilum memiliki kelarutan yang kecil dalam air, sehingga
umumnya ditambahkan pada titik akhir titrasi.

II. TUJUAN PRAKTIKUM


Adapun tujuan dari praktikum titrasi redoks ini adalah:
1. Untuk menentukan kadar Fe dalam FeSO4
2. Untuk menentukan kadar Cu dalam terusi