Anda di halaman 1dari 15

BAB.

I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Korupsi adalah perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk
memberikan suatu keuntungan yang tidak resmi dengan hak-hak dari pihak lain
secara salah menggunakan jabatannya atau karakternya untuk mendapatkan suatu
keuntungan untuk dirinya sendiri atau orang lain, berlawanan dengan
kewajibannya dan hak-hak dari pihak lain (Blacks Law Dictionary, 2013)
korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk
keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintah|pemerintahan rentan korupsi dalam
prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk
penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan,
sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung
korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para
pencuri, dimana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali (
Wikeppedia, 2013)
Korupsi berdasarkan pemahaman pasal 2 Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1999 yang diubah menjadi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.
Korupsi merupakan tindakan melawan hukum untuk memperkaya diri
sendiri/orang lain (perseorangan atau sebuah korporasi) , yang secara langusung
maupun tidak langsung merugikan keuangan atau prekonomian negara, yang dari
segi materiil perbuatan itu dipandang sebagai perbuatan yang bertentangan dengan
nilai-nilai keadilan masyarakat.
Angka korupsi di Indonesia selama tahun 2012 menjadi perhatian dunia.
Indonesia bahkan tergabung dalam 60 besar negara terkorup di dunia versi
Transparansi Internasional. Seperti dilansir laman Transparansi Internasional,
Indonesia duduk di peringkat 118 dari daftar peringkat indeks persepsi korupsi
174 negara dunia. Namun jika mengacu poin tiap negara, Indonesia duduk di
posisi 56 negara terkorup. Indeks persepsi korusi di Indonesia mencapai poin 32.

Indonesia berjarak 24 poin dari Somalia yang jadi negara terkorup Indonesia
terpaut 58 poin dari Denmark yang dinilai sebagai negara paling bersih dari korusi
tahun 2012. ( Republika,2013)
Sangatlah memperhatinkan keadaan bangsa Indonesia saat ini yang terus
terkuras oleh perbuatan yang secara Nilai tidak ada sisi positifnya ini. Korupsi
ialah tindakan paling memiskinkan bangsa Indonesia oleh orang-orang yang
dipercaya untuk mewakili rakyat namun menghianati rakyat itu sendiri dengan
melakukan hina tersebut. Miris memang kalau memperhatikan media saat ini.
Boleh dikatakan setiap sudut dalam pemerintahan melakukan tindakan korupsi.
Oleh sebab itu penulis ingin menganalisa dan memperhatikan kemudian
mengamil kesimpulan dari korupsi yang terjadi pada bangsa Indonesia yang kita
Cintai ini. Berikut ini saya akan menganalisis dampak korupsi terhadap
lingkungan yang terjadi di Indonesia.

1.1 Rumusan Masalah


Dalam makalah ini akan dibahas dengan batasan masalah sebagai berikut
1. Keadaan Lingkungan hidup Indonesia
2. Korupsi pada Lingkungan Hidup
3. Dampak Korupsi Lingkungan Hidup indonesia
1.3 Tujuan Dan Manfaat Penulisan
1. Berdasarkan latar belakang diatas maka tulisan ini bertujuan untuk
mengetahui korupsi dan dampaknya bagi lingkungan hidup.
2. Dapat sama-sama menambah tulisan ini menjadi rujukan dan pengetahuan
dalam hal ekonomi anti Korupsi
1.4 Metodologi
Metodologi dalam pembuatan Paper ini adalah dengan metodologi
observasi media cetak nasional dan buku serta websait yang nantinya dianalisis
dan diolah melalui pemahaman yang dituangkan dalam paper ini.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Keadaan Lingkungan Hidup Indonesia.
Seiring dengan memburuknya kondisi lingkungan hidup di Indonesia dari tahun
ke tahun, jumlah sengketa yang muncul akibat kerusakan atau penurunan kualitas
lingkungan pun semakin bertambah.

Status Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2004-2008 menunjukan kondisi


lingkungan yang memburuk dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008, peningkatan
polutan di udara maupun air semakin tinggi termasuk juga pencemaran limbah
domestik dan bahan berbahaya dan beracun (B3). Hasil pemantauan 35 sungai di
Indonesia yang dilakukan oleh 30 Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
Hidup (Bapedalda) Provinsi menunjukkan bahwa air sungai-sungai tersebut sudah

tercemar berat bila merujuk pada kriteria mutu air kelas dua. Sumber pencemar air
permukaan dan air tanah pada umumnya adalah industri, pertanian, dan rumah
tangga. Pencemar dari sektor industri pada tahun 2007 adalah sekitar 13 ribu
industri besar dan menengah, angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 29%
dari tahun 2004. Sedangkan industri kecil pada tahun 2007 yang berpotensi
melakukan pencemaran air permukaan dan air tanah sebanyak 94 ribu perusahaan.
Sementara untuk kualitas udara, hasil pengukuran kualitas udara tahun 2008
pada sepuluh Ibu Kota Provinsi di Indonesia mengalami kualitas udara tidak sehat
sebagai berikut, Jakarta (18 hari), Bandung (1 hari), Medan (9 hari), Pontianak (6
hari), dan Surabaya (8 hari). Selain itu pemantauan di 30 Ibu Kota Provinsi
dengan metode passive sampler menunjukkan bahwa konsentrasi NO2 maksimum
yang hampir melampuai baku mutu nasional terjadi pada tahun 2006 di Pontianak,
2007 di Denpasar dan 2008 di Padang dan Bandar Lampung. Kadar pencemar
udara di kota-kota tersebut 37 kali lipat di atas standard yang ditetapkan oleh
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Implikasinya, sebagai contoh kualitas udara
di Jakarta, masyarakat dapat menghirup udara dengan kategori baik rata-rata
hanya 22 hari dalam 1 tahun.
Di beberapa kota besar jumlah rata-rata sampah per hari meningkat setiap
tahunnya. Produksi sampah pada tahun 2007 meningkat dari 62,19 % menjadi
62,97 % atau meningkat sebanyak 2-4 % setiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh
meningkatnya jumlah penduduk dan sistem pengelolaan sampah yang tidak di
dukung sarana dan prasarana penunjang yang memenuhi persyaratan teknis
pengelolaan sampah yang baik. Selain itu ketiadaan regulasi nasional yang jelas
tentang pengelolaan sampah juga mengurangi upaya pengelolaan sampah yang
optimal.
Aktivitas industri di Indonesia, berdasarkan data Departemen Perindustrian tahun
2006 sebagaimana dikutip Kementerian Negara Lingkungan Hidup (2007),
menghasilkan 26.514.883 ton B3 yang tersebar di berbagai sektor industri. Di
sektor industri kimia hilir beredar 3.282.641 ton B3, industri kimia hulu sebanyak
21.066.246 ton, industri logam mesin tekstil aneka (ILMTA) sebanyak 1.742.996
ton, dan industri kecil menengah (IKM) sebanyak 423 ton. Indonesia juga
mengimpor B3 dari Jepang, China, Perancis, Jerman, India, Belanda, Korea,

Inggris, Australia, dan Singapura. Diperkirakan 2,2 juta ton limbah B3 diekspor
ke Indonesia tiap tahunnya, keadaan ini dapat menimbulkan bahaya bagi
lingkungan, keselamatan manusia dan juga mahluk hidup lainnya.
2.2 Praktik umum korupsi dibidang lingkungan
Tina Sreide, Peneliti Senior di Chr. Michelsen Institute di Bergen, Norwegia
membagi praktik umum korupsi Lingkungan yakni
1.2.1

Penyalahgunaan dana program.

Dalam laporan UNODC 2012, para ahli menunjukkan bagaimana korupsi


memfasilitasi kejahatan lingkungan termasuk perdagangan ilegal satwa langka,
persediaan air, eksploitasi minyak, kehutanan, perikanan dan pengelolaan limbah
bahan beracun dan berbahaya. ina Sreide, Peneliti Senior di Chr. Michelsen
Institute di Bergen, Norwegia, menguraikan soal korupsi dan arus modal terlarang
di sektor perminyakan dan berpendapat bahwa sebagian kerugian negara
diakibatkan oleh kelemahan tata kelola sektor perminyakan lokal.
Dengan adanya banyak 'pemain' dan uang yang berpindah antar batas negara,
korupsi di bidang perminyakan adalah masalah internasional,Pendapatan dari
sektor perminyakan yang dicuri digunakan untuk membeli kekuasaan dan
melemahkan mekanisme demokrasi.Beliau menyimpulkan bahwa "Tantangan
yang berhubungan dengan korupsi di bidang perminyakan terlalu besar untuk
diatasi sendiri oleh negara berkembang dengan struktur pemerintah yang lemah.
Tanggung jawab Politik terletak kuat di ibu kota-ibu kota seperti London dan
Washington, DC, dan negara-negara seperti Swiss dan Luksemburg, dimana uang
dapat disembunyikan dan dimana pemerintah membenarkan terjadinya praktik
penyaluran dana terlarang.
Salah satu kasus penyalahan dana program Lingkungan Hidup adalah
kasus korupsi Kepala Kantor

Lingkungan Hidup Kabupaten Buru, JR

Latuconsina ditahan jaksa karena tersandung kasus dugaan korupsi pengadaan


alat-alat ukur senilai Rp 702.677.000,- . JR Latuconsina diduga melakukan tindak

pidana korupsi sebagai mana diatur dalam pasal 2 dan pasal 3 UU Korupsi, yakni
menyuruh melakukan dan memperkaya orang lain.
Pemkab Buru dituding turut bersalah, karena terus membiarkan Latuconsina
memegang posisi penting, mulai dari Sekretaris Korpri, Kabag Ekbang, dan
selanjutnya menjabat Kepala Kantor Lingkungan Hidup. Padahal sebelum
menduduki jabatan di atas, Latuconsina pernah diseret ke PN Ambon atas
dakwaan tindak pidana korupsi bersama Mahmud Tan saat ia masih menjadi
pimpro di Dinas Pertanian Kabupaten Buru.
Latuconsina disangkakan melakukan tindak pidana korupsi sebagai mana
diatur dalam pasal 2 dan pasal 3 UU Korupsi, yakni menyuruh melakukan dan
memperkaya orang lain. kasus korupsi yang melilit Latuconsina itu berawal dari
adanya Surat Perjanjian Kerja Kegiatan Pengadaan Alat-alat Ukur Nomor :
18/PPK-LH/SPK/VI/2010 tanggal 16 Juni 2010 dengan nilai kontrak Rp.
702.667.000, antara Jusdi dengan Direktur CV Elang Vital, Said Agil Boften.
Setelah mengikat kontrak tersebut, Jusdi melalui surat nomor : 46/LH/VII/2010
tanggal 2 Juli 2010 yang ditujukan Kepada Tim Pemeriksa Barang, meminta agar
dilakukan pemeriksaan terhadap barang yang dibeli Direktur CV. Elan Vital.
Dengan surat itu kemudian dibuat administrasi seakan-akan barang
tersebut sudah ada di Kantor Lingkungan Hidup, dibuktikan dengan adanya Berita
Acara Pemeriksaan Barang / Daerah Nomor : 122/027/PAN.BD.KB/VII/2010
tanggal 31 Juli 2010. Padahal, barang yang dimaksud belum ada di Kantor
Lingkungan Hidup. Pesanan barang kepada PT. Tridaya Prima itu melibatkan
campur tangan orang dalam di Kantor Lingkungan Hidup bernama La Ode
Adam Malik. Oknum ini disebut-sebut dekat dengan Direktur PT Tridaya Prima.
1.2.2

Penyuapan dalam penerbitan izin dan lisensi untuk eksploitasi


sumber daya

Pembalakan liar terjadi karena adanya daerah abu-abu dalam aturan mengenai
lisensi dan perizinan," sebut BapakTrio Santoso dari Direktorat Penyidikan dan
Perlindungan Hutan, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. "Para pelaku
pembalakan liar sebagian besar didukung dan dimodali oleh para pelaku kejahatan

transnasional. Kayu ilegal diselundupkan ke Malaysia, Singapura, Jepang, Cina


dan Eropa. Kayu dari Kalimantan dipanen secara ilegal, dijual ke China
sedimikian rupa sebagai kayu legal, lalu dipasarkan ke Eropa atau Amerika secara
sah.
Indonesia tidak bisa memerangi pembalakan liar sendiri karena praktik ini
merupakan kejahatan transnasional yang terorganisir. Hal ini membuat Indonesia
bergantung

pada

kerjasama

internasional,

terutama

dalam

memerangi

perdagangan kayu ilegal dan penguatan penegakan hukum di sektor kehutanan".


Indonesia Corruption Watch berpendapat bahwa "hutan-hutan di Indonesia adalah
paru-paru dunia namun juga merupakan hutan-hutan yang paling cepat
menghilang di dunia. Kejahatan Hutan melibatkan sindikat kejahatan yang
berbasis di banyak negara".
Selain risiko ekologi, kejahatan hutan menyebabkan kerugian besar bagi
negara. Salah satu kajian kami memperkirakan bahwa kerugian negara mendekati
US $ 1 miliar pada tahun lalu - dimana estimasi ini adalah kerugian yang terjadi di
Kalimantan saja Menurut beliau, Pelaku kejahatan hutan harus diadili di bawah
undang-undang antikorupsi( Donald, 2010)
Untuk lebih efektif dalam upaya memerangi korupsi, para ahli menganjurkan
pendekatan terpadu yang menggabungkan peningkatan kerjasama antara lembaga
swadaya masyarakat, sektor swasta dan publik. Mereka setuju bahwa UNCAC dengan fokus yang komprehensif pada pencegahan korupsi, penegakan hukum
yang efektif, kerjasama internasional dan pengembalian aset - dengan mudah bisa
melengkapi perjanjian seperti Konvensi Basel tentang Limbah Berbahaya,
Konvensi Bamako atau CITES.
Salah satu contoh kasus korupsi ini adalah Terjadinya alih fungsi hutan
lindung di beberapa daerah di Sumatera yang telah menjebloskan sejumlah
anggota DPR adalah salah satu contoh nyata persekongkolan antar elite yang
korup dalam perusakan lingkungan hidup. Demikian pula, masuknya limbah
berbahaya dari negara tetangga yang mengancam kelestarian lingkungan hidup

(termasuk di dalamnya manusia), ke Indonesia, tentu bisa terjadi karena adanya


jalinan kerja korupsi yang melibatkan banyak pihak.

1.3

Dampak Korupsi Terhadap Lingkungan Hidup Indonesia.


1. Ilegal loging

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Indonesia melansir, para perusak hutan


mulai dari pimpinan perusahaan perambah hutan hingga oknum pejabat daerah
yang memberikan ijin penguasaan hutan dengan cara yang tidak beres
mengakibatkan kerugian pendapatan negara. Untuk Propinsi Riau misalnya,
karena salah urus terhadap hutan, negara dirugikan sampai Rp 926 miliar pada
tahun 2009. Aturan yang dilanggar, yakni Undang-undang (UU) Nomor 23 tahun
1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan UU Nomor 41 tahun 1999
tentang Kehutanan. Akibat pelanggaran tersebut terjadi potensi kerusakan hutan.
Selain itu muncul potensi kerugian negara akibat tidak dibayarnya Iuran Hasil
Hutan (IHH) atau Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) senilai Rp 924,146 miliar
serta Dana Reboisasi Rp 1,94 miliar pada areal tambang 573,65 hektar. (BPK
Kejar Perusak Hutan. Kompas, 21 Januari 2009)

Angka-angka di atas menunjukan potensi korupsi dan pencucian uang yang


bisa muncul akibat pengeloalaan sumberdaya hutan yang tidak terkontrol. Modusmodus kejahatan korupsi dan pencucian uang dalam pengelolaan sumber daya
hutan haruslah dihentikan sebelum kejahatan-kejahatan itu terus bergerak
menghabiskan

sumberdaya

hutan.

Dalam

usaha

meningkatkan

upaya

memberantasan kejahatan kehutanan yang meliputi ketentuan

ada sekitar 17 modus kejahatan kehutanan berakibat merugikan Negara. Dari


kajian Kebijakan Titik Korupsi dalam Lemahnya Kepastian Hukum pada
Kawasan Hutan, KPK menemukan adanya ketidakpastian definisi kawasan hutan
dalam UU no. 41 tahun 2009, PP no. 44 tahun 2004, SK Menhut no. 32 tahun
2001, dan Peraturan Menteri Kehutanan no. 50 tahun 2009. Situasi tersebut
memungkinkan terjadinya perlakuan memihak yang dapat dimanfaatkan untuk
8

meloloskan pelaku illegal logging dan illegal mining dari tuntutan hukum.
Kemungkinan perlakuan memihak ini dapat juga terjadi dari ketidakjelasan
kewenangan menentukan kawasan hutan antara pusat dan daerah terkait Rencana
Tata Ruang Wilayah

Temuan lain adalah direduksinya azas fair procedure dalalam proses penunjukan
kawasan hutan pada aturan-aturan pelaksanaan UU no. 41 tahun 1999 sehingga
melemahkan legalitas dan legitimasi 88,2% kawasan hutan (+ 105,8 juta ha) yang
sampai saat ini belum selesai ditetapkan. (Siaran Pers KPK, 3 Desember 2010)

Paling tidak ada tiga cara untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul
uang atau aset dari sebuah tindak pidana. Dalam kasus illegal logging ketiga
cara/modus/tipology tersebut dicontohkan seperti:

1. Placement (penempatan), merupakan tindakan menempatkan uang tunai dan


giro hasil kejahatan ke dalam sistem keuangan. Contohnya, uang tunai atau cek
hasil transaksi illegal logging disetor ke bank. Biasanya setoran dilakukan dengan
memecah uang hasil illegal logging dalam jumlah besar menjadi setoran-setoran
kecil.

Contoh lain: Uang tunai atau cek dari hasil illegal logging atau korupsi dideposito
ke rekening di bank local, atau digunakan untuk membeli polis asuransi jiwa.

2. Layering (pemindahan berlapis), merupakan proses pemindahan harta kekayaan


hasil kejahatan dari beberapa rekening atau lokasi tertentu sebagai hasil
placement. Contohnya uang hasil illegal logging, atau uang hasil korupsi/suap:
a. Ditransfer dari satu rekening ke rekening lain.
b. Ditempatkan di bank dan/atau yang langsung digunakan untuk membeli suatu
aset seperti truk, adakalanya truk ini kemudian dijual kembali untuk memperoleh
uang tunai.
c. Ditukarkan ke dalam mata uang asing atau sebaliknya.
d. Dimasukkan ke dalam safe deposit box di bank.

e. Diinvestasikan ke dalam bentuk portofolio saham

Contoh lain:

1. Melakukan transfer pembayaran kepada pembeli kayu illegal atau


transfer uang suap ke beberapa rekening di luar negeri
2. Menjual log illegal dengan menggunakan dokumen atau SKSHH palsu.
3. Integration (penggabungan), merupakan tindakan menggabungkan harta
kekayaan hasil kejahatan dengan harta kekayaan yang bukan berasal dari
hasil kejahatan. Contoh uang hasil illegal logging, illegal wildlife trade,
atau korupsi/suap yang telah diplacement atau dilayering diinvestasikan ke
dalam bisnis kelapa sawit atau bisnis properti, atau Langsung diinvestasikan
ke dalam bisnis pengangkutan atau jasa perkreditan (BPR).
4. Perusahaan/industri kehutanan (Pabrik Pulb dan Pabrik Kayu Lapis)
membeli/menggunakan kayu-kayu illegal (illegal logs) sebagai bahan baku
produksi
5. Uang tunai dari hasil illegal logging atau korupsi diinvestasikan dalam
bisnis resmi misalnya bisnis resort atau hotel.
6. Uang tunai hasil illegal logging atau korupsi/suap yang sudah ditempatkan
pada penyedia jasa keuangan di investasikan lagi pada bisnis transportasi
atau bisnis perkebunan kelapa sawit.
Penelusuran lalu lintas uang dalam pengejaran mata rantai pelaku dan aktor
intelektual dalam kejahatan illegal logging sangat mungkin untuk dilakukan
dengan menggunakan sitem anti pencucian uang. Dengan menggunakan sistem ini
pergerakan uang yang menjadi fokus pengejaran dan target penyelidikan.
Penyelidikan informasi Transaksi Keuangan dari Penyedia Jasa Keuangan (bank)
yang menjadi sumber dan tempat transaksi para pengusaha hutan mapuan dari
pengembangan kasus pembalakan liar dari penyidik

10

2. Alih fungsi hutan lindung Ilegal


Indonesia Corruption Watch (ICW) merilis bahwa potensi kerugian negara dari
kejahatan di sektor kehutanan tahun 2011-2012 mencapai Rp691 Triliun. Modus
kejahatannya, alih fungsi lahan, contoh proyek kelapa sawit sejuta hektar. Kedua,
pemanfaatan hasil hutan secara tidak sah. Ketiga, penghindaran dan manipulasi
pajak (Lalola Estele, 2013)
potensi kerugian negara yang ditimbulkan dari 124 kejahatan, tetapi
penegakan hukum yang tidak tegas menjerat korporasi. Sebab, dari 124 kasus
mayoritas hanya mampu menjerat operator lapangan sebanyak 37 kasus.
Sedangkan, direktur ataupun anggota DPR hanya sebagian kecil, yaitu 20 dan 6
kasus saja. Demikian juga, korporasi belum dijerat sebagai pelaku kejahatan
dalam sektor kehutanan. Oleh karena itu, ICW menyarankan penegak hukum
menggunkan Undang-Undang (UU) Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU)
untuk menjerat korporasi dan UU Tindak Pidana Korupsi
salah satu kasus korupsi alih fungsi lahan adalah kasus Rusli zainal Gubernur
non aktif provinsi Riau kasus perizinan kehutanan yang dikeluarkan Rusli Zainal,
juga diduga merugikan negara lebih dari Rp3 triliun. Kasus kehutanan ini lebih
awal telah menyeret sejumlah pejabat lainnya. Para pejabat itu adalah mantan
Bupati Pelalawan, Tengku Azmun dan mantan Bupati Siak, Arwin AS dan
mantan Kadishut Riau, Burhanudin sekaligus mantan Bupati Kampar. Para
mantan pejabat itu lebih dulu menjalani hukuman.
Kasus lainya adalah Penyimpangan keuangan negara berupa pengalihan tanah
kosong menjadi lahan pertanian di Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan
Sunggal serta Kelurahan Padang Bulan Selayang I mencuat ke permukaan.
Dalam kasus pengalihan lahan seluas 170.000 meter itu sudah ditangani penyidik
Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut).
Kejati Sumut melihat adanya dugaan keterlibatan oknum Dinas Pendapatan
Kota Medan berinisial G, untuk memuluskan perbuatan tersebut.

Diduga

melibatkan oknum Dispenda Kota Medan yang tidak melakukan penelitian

11

kebenaran informasi yang tercantum dalam Surat Setoran Pajak Daerah Bea
Perolahan Hak Atas Tanah dan Bangunan (SSPD BPHTB ) dan kelengkapan
dokumen pendukungnya .Selain itu, Kejatisu melihat adanya pembuatan SSPD
BPHTB tanpa adanya SPPT PBB yang akan dipergunakan sebagai persyaratan
dalam permohonan hak atas tanah, sehingga terbitlah hak-hak atas tanah per
orangan yang mengakibatkan terjadinya beban pengeluaran dari kas Kantor
Pertanahan Kota Medan.
3. Pembuangan Limbah Ilegal
Salah satu kasus pembuangan limbah ilegal adalah PT AKE Sicanang Belawan,
Karena tidak melakukan pengelolaan sesuai ketentuan yang berlaku, BPD
Asosiasi Pengelolaan Limbah B3 Indonesia (APLI) Sumut mengadukan salah satu
perusahaan penghasil limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di kawasan
Sicanang Belawan ke Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumut.
Dari hasil investigasi lapangan yang dilakukan APLI Sumut, diketahui volume
limbah B3 PT AKE khusus dalam bentuk cair mencapai antara 100 sampai 200
drum per bulan. Bisa dibayangkan berapa banyak dalam setahun. Mengacu pada
UU Nomor 32 tahun 2009 tetang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup serta Peraturan Pemerintah No.85 Tahun 1999 tentang perubahan atas
Peraturan Pemerintah No.18 tahun 1999 tentang pengelolaan limbah B3, maka PT
AKE memiliki tanggung jawab penuh atas limbah yang dihasilkannya
Selain itu, karena termasuk sebagai perusahan penghasil limbah B3, maka
PT AKE diwajibkan untuk tunduk pada segala aturan yang berkaitan dengan
pengelolaan limbah B3, termasuk memiliki sistem pengelolaan dan bahkan
penampungan limbah B3. Atau bila bekerjasama dengan pihak pengelola limbah
B3 seharusnya mempunyai manifest (dokumen pengelolaan limbah B3),
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Peraturan Pemerintah RI
No.85 Tahun 1999 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah No.18 tahun
1999 tentang pengelolaan limbah B3.

12

Selain

itu,

juga

sesuai

Nomor.01/BAPEDAL/09/1995

dengan

tentang tata

Keputusan
cara

dan

Kepala

Bapedal

persyaratan

teknis

penyimpanan dan pengumpulan limbah B3, Keputusan Kepala Bapedal


Nomor.03/BAPEDAL/09/1995 tentang teknis pengelolaan limbah B3, Keputusan
Kepala Bapedal No.255/BAPEDAL/08/1996 tTentang tata cara dan persyaratan
penyimpanan dan pengumpulan minyak pelumas bekas.
Kemudian Surat Edaran Kepala Bapedal Nomor.08/SE/02/1997 tentang
penyerahan minyak pelumas bekas dan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara
No.2 Tahun 1985 tentang pengelolaan dan pemeliharaan lingkungan hidup.
Disebutkan, limbah B3 berupa pelumas bekas yang dihasilkan PT AKE tidak
disimpan sementara dengan baik dan benar, melainkan dibiarkan menumpuk di
atas tanah dalam drum. Oleh karena itu, sangat dimungkinkan tumpah dan
mencermari lingkungan, padahal minyak pelumas bekas mengandung banyak
unsur kimia di antaranya hydro karbon dan sulfur.
Kandungan dalam bahan kimia ini akan bertambah bila sudah menjadi oli
bekas karena telah melumasi logam-logam yang ada dalam mesin. Bila bahan ini
tidak disimpan dengan baik, maka kandungan-kandungan yang terdapat di
dalamnya akan melekat pada tanah atau bercampur dengan air. Bila sudah terbawa
air dan meresap ke dalam tanah, maka tanah dan air tersebut sudah tercemar
bahan-bahan kimia dan sisa logam dalam bentuk yang sangat halus sehingga tidak
terlihat oleh mata telanjang, namun sangat berbahaya bila masuk ke dalam tubuh
manusia, baik melalui air, udara maupun aneka jenis makanan.

4. Dokumen AMDAL Hasil Rekayasa.


AMDAL merupakan singkatan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
AMDAL merupakan kajian dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup,
dibuat pada tahap perencanaan, dan digunakan untuk pengambilan keputusan.
Hal-hal yang dikaji dalam proses AMDAL: aspek fisik-kimia, ekologi sosial eekonomi,

sosial-budaya,

dan

kesehatan

masyarakat

sebagai

pelengkap

studi kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. AMDAL adalah kajian
mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha

13

dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi
proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan
(Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan).
Salah satu kasus pemalsuan Dokumen AMDAL adalah Pencemaran lingkungan
yang menyebabkan matinya tanaman karet dan sawit warga di Indragiri Hulu,
Riau oleh aktifitas PT Riau Bara Harum ternyata sudah diprediksi jauh-jauh hari.
Menurut Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Riau, terjadinya masalah tersebut
berawal dari penyusunan dokumen Amdal yang sudah bermasalah.
Dari awal, sejak pengurusan dokumen Amdal, PT RBH sudah bermasalah dan
sekarang mengakibatkan matinya tanaman dan pencemaran lingkungan. Ini
sesuatu yang sudah diprediksi. kuat dugaan telah terjadi kebocoran limbah dari
lokasi PT Riau Bara Harum sehngga menyebabkan pencemaran lingkungan baik
ke sungai maupun ke perkebunan rakyat yang menyebabkan matinya karet dan
sawit. Ini bukti kelemahan pemerintah dalam pengawasan,
Kasus lain adalah penanganan AMDAL di Kalimantan Selatan paslnya
dokumen Amdal tanpa Prosedur dan ketentuan yang berlaku padahal banyak
tenaga teknisi yang terlibat dalam pembuatan nya. Akibatnya berdampak besar
pada kerusakan lingkungan dan berakibat 13 perusahaan terkena pencabutan
AMDAL dan harus segera menghentikan Aktivitas mereka.

14

BAB. III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
Status Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2004-2008 menunjukan kondisi
lingkungan yang memburuk dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008, peningkatan
polutan di udara maupun air semakin tinggi termasuk juga pencemaran limbah
domestik dan bahan berbahaya dan beracun (B3). Norwegia membagi praktik
umum korupsi Lingkungan yakni Penyalahgunaan dana program dan suat dan
penerbitan Lisensi yang merugikan. Dampak korupsi bagi lingkungan adalah
Pembabatan hutan secara semena-mena, alih fungsi hutan lindung tanpa
mempertimbangkan dampak negatifnya bagi lingkungan, masuknya limbah
barang berbahaya beracun (B3) secara illegal, terjadinya bencana banjir karena
pembangunan yang didasarkan pada dokumen AMDAL (Analisa Mengenai
Dampak Lingkungan) hasil rekayasa, mewabahnya berbagai ragam penyakit
karena pembuangan limbah yang semberono, dan sebagainya, bila ditelusuri di
dalamnya pasti terdapat aroma korupsi, kolusi, dan nepotisme

15