Anda di halaman 1dari 9

Pemahaman Pedoman RTBL

UNTUK DESAIN ARSITEKTURAL


GEDUNG & PENATAAN LINGKUNGAN-BINAAN
Oleh : FX.Budiwidodo Pangarso *)
di sampaikan pada kuliah-tamu studio-A
Program Pasca Sarjana Arsitektur Unpar, tahun akademik 2012-2013.
Kamis, 31 Januari 2013; pukul 08:00 09:00
di Kampus Unpar, jalan Merdeka 30, Bandung.

LATAR BELAKANG
Fenomena kegiatan pembangunan gedung di wilayah Kabupaten/Kota terus meningkat secara kuantitatif,
kualitatif maupun kompleksitasnya. Keadaan ini berlangsung sejalan dengan kebijakan otonomi daerah yang
cenderung berusaha meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dalam situasi seperti ini, peningkatan kegiatan
pembangunan yang tanpa ditunjang dengan peraturan perundangan yang memadai dapat menimbulkan
kekhawatiran peningkatan ketidak-teraturan proses dan hasil pembangunan bangunan gedung yang memenuhi
persyaratan, baik secara administratif maupun secara teknis. Fenomena tersebut di atas, baik di wilayah
Kabupaten maupun Kota perlu diantisipasi dengan peraturan yang bersifat administratif dan teknis, sehingga
proses pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung dapat berlangsung tertib dan terwujud bangunan
gedung yang andal, serasi dan selaras dengan lingkungannya.
Pemberlakuan UU no.28 tahun 2002 tentang Bangunan dan Gedung telah mewajibkan tiap kegiatan
pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung baik yang dilakukan oleh Pemerintah, Swasta, Masyarakat luas
maupun Pihak Asing di wilayah Indonesia harus mengikuti peraturan tersebut. Pemerintah Pusat telah memfasilitasi
Pemerintah Daerah untuk menyusun Peraturan Daerah guna mewujudkan amanat UU tersebut termasuk PP no.36
tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU no.28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, sehingga Pemerintah
Daerah berkewajiban memiliki Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung, dan khususnya Peraturan
Bupati/Walikota mengenai Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan.
Sementara itu sampai saat ini, tahun 2012, masih banyak produk RTBL yang ada tetapi belum disahkan
atau belum dibuat Peraturannya oleh Bupati/Walikota, sehingga tidak memiliki dasar legalitas yang kuat di dalam
pelaksanaan pengaturan kawasan.
Proses penataan bangunan sesuai dengan UU no.28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung merupakan
proses awal yang penting, bukan hanya merencanakan melainkan juga pengendalian, bahkan termasuk
pemanfaatannya. Permasalahan yang ada saat ini, intervensi swasta dan masyarakat sangat besar dalam
pengembangan kawasan, bahkan kadang menjadi tidak konsisten dengan rencana tata-ruang dan bangunan yang
ada.

LANDASAN HUKUM teknis tata-ruang


1. Undang undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan dan
Gedung
2. Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang JALAN
3. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
(Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4725);
4. Undang-undang Nomor 01 Tahun 2011 tentang Perumahan dan
Kawasan Permukiman
5. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai
(Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 44, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3445);
6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 06/PRT/M/2007 tentang
Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan.
PENGERTIAN UMUM TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN
Beberapa pengertian yang perlu di pahami adalah sebagai berikut :
a.

Tata bangunan dan lingkungan, adalah suatu kondisi fisik/spasial lingkungan-binaan (built-environment)
yang pada area tersebut didapati berbagai fakta bentuk-fisik/spasial buatan manusia berupa bangunanbangunan (sarana dan prasarana lingkungan), berdampingan langsung dengan fakta bentuk fisik/spasial

1/9

yang alami (natural). Kedua fakta bentuk buatan dan alami tersebut saling jalin-menjalin, yang seringkali
jalinan bentuk buatan lebih mendominasi keberadaanya daripada jalinan bentuk-bentuk alami. Eksistensi
fakta bentuk buatan di latar belakangi kebutuhan hidup manusia, baik secara individual maupun secara
kolektif, dengan dilandasi norma-norma kehidupan individual maupun kolektif pula. Prinsip makna
penataan atau arti kata tata(-nan) adalah ketika kebutuhan dan norma kolektif lebih dominan daripada
kebutuhan dan norma individual.
b.

Pada pembangunan lingkungan, terutama terhadap sarananya, proses perancangan tiap elemen fisiknya
di- lakukan oleh berbagai pihak khususnya oleh pihak pemilik (perorangan maupun lembaga) sesuai
dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing. Keragaman pihak yang terlibat sebagai pelaku
pembangunan menghasilkan keragaman wujud fisik yang terjadi. Untuk memperolah kualitas lingkungan
sesuai dengan yang dikehendaki, umumnya dilakukan melalui pendekatan rancang kawasan yang dalam
konteks perkotaan dikenal sebagai rancang kota (urban design).

c.

Bangunan adalah semua elemen dan struktur buatan manusia, yang diadakan sesuai dengan kebutuhan
hidup manusi baik secara individual maupun secara kolektif, baik memanfaatkan kaidah desain yang baik
maupun semata-mata fungsional belaka.

d.

Lingkungan adalah area fisik/spasial dengan ragam fakor alami maupun buatan, merupakan tempat
keberadaan bangunan-bangunan (sarana dan prasarana), yang pemanfaatannya diatur dan dilakukan oleh
manusia baik secara individual maupun kolektif, perseorangan maupun kelembagaan.

e.

Dalam PENATAAN dibutuhan INTEGRASI atas berbagai konflik kepentingan, yaitu antar:
bangunan dengan bangunan
bangunan dengan lingkungannya
bangunan dengan prasarana kota
lingkungan dengan konteks regional/kota
bangunan dan lingkungan dengan aktivitas publik
lingkungan dengan pemangku kepentingan (stakeholders)

PEMAHAMAN SUBSTANSI PER-MEN PU No.06/PRT/M/2007 tgl 16 MARET


2007
TENTANG PEDOMAN UMUM RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN
A. Pengertian Dasar
1.

2.

3.

4.

Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah panduan rancang bangun suatu
lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan
dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana
umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman
pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan.
Dokumen RTBL adalah dokumen yang memuat materi pokok RTBL sebagai hasil proses identifikasi,
perencanaan dan perancangan suatu lingkungan/kawasan, termasuk di dalamnya adalah identifikasi dan
apresiasi konteks lingkungan, program peran masyarakat dan pengelolaan serta pemanfaatan aset
properti kawasan.
Penataan bangunan dan lingkungan adalah kegiatan pembangunan untuk merencanakan,
melaksanakan, memperbaiki, mengembangkan atau melestarikan bangunan dan lingkungan/ kawasan
tertentu sesuai dengan prinsip pemanfaatan ruang dan pengendalian bangunan gedung dan lingkungan
secara optimal, yang terdiri atas proses perencanaan teknis dan pelaksanaan konstruksi, serta kegiatan
pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran bangunan gedung dan lingkungan.
Pembinaan pelaksanaan adalah kegiatan pengaturan, pemberdayaan, dan pengawasan yang ditujukan
untuk mewujudkan efektivitas peran para pelaku penyelenggara penataan bangunan dan lingkungan
(pemerintah, masyarakat dan dunia usaha) pada tahap penyusunan RTBL, penetapannya menjadi
peraturan gubernur/
bupati/walikota, pelaksanaan
pembangunan, dan
peninjauan kembali/evaluasi
terhadap penerapan RTBL.

B.
PERDA
BG &
Perda2
Lain
terkait

Kedudukan RTBL dalam


hirarki Peraturan
Perundangan Daerah
Kedudukan yuridis dokumen RTBL
dalam hirarki Perundangan
Daerah Kota / Kabupaten adalah
seperti gambar skema diatas.
Dokumen RTBL ditetapkan
dengan PERATURAN
BUPATI/WALIKOTA.

2/9

Pihak swasta atau masyarakat dapat menyusun RTBL atas dasar kesepakatan sendiri, asal tetap memenuhi
persyaratan yang berlaku pada kawasan ybs dengan persetujuan Pemda setempat.
Dengan demikian, RTBL akan efektif ketika dokumen RDTRK Kab/Kota dan RTRK sudah ada.

Berdasar pada Buku Pedoman Umum RTBL (PerMen PU no.06/PRT/M/2007), maka Kedudukan Peraturan
Bupati/Walikota tentang RTBL dalam konstelasi peraturan perundangan tata-ruang dan tata-bangunan &
lingkungan secara nasional adalah sebagaimana tergambar pada skema struktur perundangan di bawah ini :

3/9

C. Substansi Inti RTBL


1. Substansi/materi pokok
penataan.

Pada dokumen ini harus memuat 5 (lima)


materi pokok penataan, yaitu :
a. Program Bangunan dan Lingkungan;
b. Rencana Umum & Panduan Rancangan;
c. Rencana Investasi;
d. Ketentuan Pengendalian Rencana;
e. Pedoman Pengendalian Pelaksanaan.

a.
b.

c.

d.

2. Cakupan Kawasan Penataan


Dokumen RTBL dilaksanakan pada suatu
kawasan/ lingkungan bagian wilayah
kabupaten/kota, baik kawasan perkotaan
maupun perdesaan meliputi:
a. kawasan baru berkembang cepat;
b. kawasan terbangun;
c. kawasan historis yang dilestarikan;
d. kawasan rawan bencana;
e. kawasan gabungan atau campuran dari
keempat jenis kawasan pada butir (a),
(b), (c) dan/atau (d) di atas.

3. Jenis Penataan

Jenis penataannya meliputi :


a. Perbaikan kawasan,
b. Pengembangan kembali kawasan,
c. Pembangunan kawasan baru,
d.
Pelestarian/pelindungan kawasan

4. Rencana Umum Tata Bangunan


& Lingkungan
Rencana Umum tata bangunan dan lingkungan
memuat rencana peruntukan lahan makro dan
mikro, rencana perpetakan, rencana tapak,
rencana sistem pergerakan, rencana
aksesibilitas lingkungan, rencana prasarana
dan sarana lingkungan, rencana wujud visual
bangunan, dan ruang terbuka hijau.

5. Batasan Area Penataan

Kawasan perencanaan mencakup suatu


lingkungan/kawasan yang luasnya 5-60 hektar
(Ha), dengan ketentuan sbb :
a. Kota metropolitan dengan luas minimal
5 Ha.
b. Kota besar/sedang dengan luas 15-60
Ha.
c. Kota kecil/desa dengan luas 30-60 Ha.
Disamping itu penentuan batas dan luasan
kawasan perencanaan berdasarkan satu atau
kombinasi butir-butir di bawah ini:
a. Administratif,
b. Non-administratif, (traditional culturalspatialunits),
c. Kesatuan karakter tematis,
d. Kawasan campuran,
e. Jenis kawasan tertentu.

6. Konsep Dasar Penataan


Konsep dasar Penataan Bangunan dan
Lingkungan adalah :

Mengarahkan penyusunan visi dan


karakter perancangan.
Mengendalikan suatu intervensi desain
lingkungan sehingga berdampak baik,
terarah dan terukur terhadap suatu
kawasan yang direncanakan.
Mengintegrasikan desain elemenelemen kota yang berpengaruh pada
suatu perencanaan kawasan.
Mengarahkan indikasi program dan
desain penataan yang tepat pada tiap
subbagian kawasan yang direncanakan.

7. Prinsip Penataan Struktur


Ruang & Peruntukannya

Prinsip-prinsip Penataan Struktur Ruang &


Peruntukannya di pilah menjadi :
a. Dari sisi Fungsional meliputi penataan:
a) Keragaman tata guna yang seimbang,
saling menunjang (compatible) dan
terintegrasi
b) Pola distribusi jenis peruntukan yang
mendorong terciptanya interaksi
aktivitas
c) Pengaturan pengelolaan area
peruntukan penetapan distribusi
persentase jenis peruntukan lahan
mikro yang akan dikelola dan
dikendalikan oleh pemerintah daerah,
di antaranya Ruang Terbuka Hijau,
Daerah Milik Jalan (Damija), dan
fasilitas umum.
d) Pengaturan kepadatan pengembangan
kawasan
b. Dari sisi Fisik, meliputi:
a) Estetika, karakter, dan citra kawasan
b) Skala ruang yang manusiawi dan
berorientasi pada pejalan kaki serta
aktivitas yang diwadahi
c. Dari sisi Lingkungan, meliputi:
a) Keseimbangan kawasan perencanaan
dengan Penciptaan karakter lingkungan
yang tanggap dan integral dengan
karakter peruntukan eksisting
lingkungan sekitar;
b) Keseimbangan peruntukan lahan
dengan daya dukung lingkungan
Kelestarian ekologis kawasan dengan
Penetapan peruntukan lahan yang
tanggap terhadap topografi dan
kepentingan kelestarian lingkungan
dengan meminimalkan penyebaran
area terbangun dan perkerasan serta
beradaptasi dengan tatanan kontur
yang ada.

8. Pemrograman Bangunan &


Lingkungan
a.

Prinsip pemrograman dari setiap


materi Rencana Tata Bangunan dan

4/9

b.

c.

Lingkungan harus mempertimbangkan


aspek: Deskriptif, Substantif,
Normatif, dan kuantitatif.
Penyusunan program bangunan dan
lingkungan dilakukan melalui analisis
kawasan dan wilayah perencanaan
termasuk mengenai pengendalian
dampak lingkungan, dan analisis
pengembangan pembangunan
berbasis peran masyarakat, yang
menghasilkan konsep dasar
perancangan tata bangunan dan
lingkungan.
Penjabaran lebih lanjut dari
perencanaan dan peruntukan lahan,
yang memuat jenis, jumlah, besaran,
dan luasan bangunan gedung, serta
kebutuhan ruang terbuka hijau,
fasilitas umum, fasilitas sosial,
prasarana aksesibilitas, sarana
pencahayaan, dan sarana penyehatan
lingkungan, baik berupa penataan
prasarana dan sarana yang sudah ada
maupun baru.

b.

c.

d.

9. Komponen
Rancangan/Desain Kawasan,
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

meliputi :
Peruntukan Lahan;
Intensitas Pemanfaatan Lahan;
Tata Bangunan;
Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung;
Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau;
Tata Kualitas Lingkungan, meliputi:
TataIdentitas Lingkungan dan Tata
Orientasi Lingkungan;
Sistem Prasarana dan Utilitas
Lingkungan;
Pelestarian Bangunan dan Lingkungan.

10. Komponen Penataan


Bangunan & Lingkungan
a.
b.
c.
d.
e.
f.

adalah :
Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
Koefisien Lantai Bangunan (KLB)
Koefisien Daerah Hijau (KDH)
Koefisien Tapak Besmen (KTB)
Sistem Insentif-Disinsentif
Pengembangan
Sistem Pengalihan Nilai Koefisien Lantai
Bangunan (TDR=Transfer of
Development Right) Pengalihan ini
terdiri atas:
1) Hak Pembangunan Bawah
Tanah
2) Hak Pembangunan Layang
(Air Right Development)

11. Panduan Rancangan Kawasan


(Desain Detail Kawasan)
Bersifat melengkapi dan menjelaskan secara
lebih rinci rencana umum yang telah ditetapkan
sebelumnya, meliputi ketentuan dasar
implementasi rancangan dan prinsip-prinsip
pengembangan rancangan kawasan. Metoda
yang dipakai adalah melakukan segmentasi
kawasan menjadi lebih detail, bahkan
dianjurkan sampai kepada penataan tiap blok
perencanaan.

12. Panduan Rencana Investasi


Kawasan
a.

Rencana investasi disusun berdasarkan


dokumen RTBL yang memperhitungkan

e.

kebutuhan nyata para pemangku


kepentingan dalam proses pengendalian
investasi dan pembiayaan dalam penataan
lingkungan/kawasan.
Rencana ini merupakan rujukan bagi para
pemangku kepentingan untuk menghitung
kelayakan investasi dan pembiayaan
suatu penataan atau pun menghitung
tolok ukur keberhasilan investasi, sehingga
tercapai kesinambungan pentahapan
pelaksanaan pembangunan.
Rencana Investasi merupakan arahan
program bangunan dan lingkungan yang
memuat program investasi jangka pendek
(1-5 tahun), jangka menengah (5-20
tahun) dan jangka panjang (minimal 20
tahun sampai waktu tertentu), yang disertai
estimasi biaya investasi, baik penataan
bangunan lama maupun rencana
pembangunan baru dan pengembangannya
serta pola pendanaannya.
Rencana ini menjadi alat mobilisasi dana
investasi masing-masing pemangku
kepentingan dalam pengendalian
pelaksanaan sesuai dengan kapasitas dan
perannya dalam suatu sistem wilayah yang
disepakati bersama, sehingga dapat
tercapai kerja sama untuk mengurangi
berbagai konflik kepentingan dalam
investasi/ pembiayaan.
Rencana investasi juga mengatur upaya
percepatan penyediaan dan peningkatan
kualitas pelayanan prasarana/sarana dari
suatu lingkungan /kawasan.

13. Program dan Rencana


Pengendalian

Program dan Rencana Pengendalian merupakan


langkah-langkah strategis agar desain kawasan
sesuai dengan yang diinginkan, yaitu terdiri
dari
a. Rencana Pengendalian administratif
b. Rencana pola insentif/disintensif atau
bonus
c. Rencana pengalihan intensitas
pembangunan
d. Kebijakan-kebijakan lain terkait dengan
situasi aktualnya.

14. Arahan Pengendalian


Pelaksanaan Pembangunan
Arahan Pengendalian Pelaksanaan ini memuat
antara lain :
a. Arahan materi teknis untuk
penyusunan Peraturan Daerah
b. Arahan yang bersifat performancebased
c. Arahan manajemen pelaksanaan
pembangunan.

D. Substansi Pendukung
Dokumen RTBL berfungsi sebagai dokumen pengendali
pembangunan dalam penyelenggaraan penataan
bangunan dan lingkungan untuk suatu
lingkungan/kawasan tertentu supaya memenuhi kriteria
perencanaan tata bangunan dan lingkungan yang
berkelanjutan meliputi:
a. Pemenuhan persyaratan tata bangunan dan
lingkungan;

5/9

b.
c.
d.

Peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui


perbaikan kualitas lingkungan dan ruang publik;
Perwujudan pelindungan lingkungan, serta;
Peningkatan vitalitas ekonomi lingkungan.

Produk Rencana Penataan Bangunan dan Lingkungan


berupa :
a. Rencana aksi/kegiatan komunitas (communityaction plan/CAP),

II.3.
TENTANG

b.
c.

Rencana penataan lingkungan (neighbourhooddevelopment plan/NDP),


Panduan rancang kota (urban-design
guidelines/UDGL).

Seluruh rencana, rancangan, aturan, dan mekanisme


dalam penyusunan Dokumen RTBL harus merujuk pada
pranata pembangunan yang lebih tinggi, baik pada
lingkup kawasan, kota, maupun wilayah.

PEMAHAMAN KETERKAITAN RTBL DENGAN PP No.36 / 2005

PERATURAN PELAKSSANAAN UU No.28 / 2002 TENTANG


BANGUNAN DAN GEDUNG

PER-MEN PU 06/2007 TTG PANDUAN

6/9

7/9
PER-MEN PU 06/2007 TTG PANDUAN UMUM RT

KETENTUAN SUBSTANTIF DAN ADMINISTRATIF/PROSEDURAL


Ketentuan substantif adalah semua ketentuan yang tersurat (dan tersirat), sedangkan ketentuan
administratif adalah pola proses adminstrasi penataan atau pola prosedur birokrasi sesuai yang berlaku di wilayah
Kabupaten/Kota terkait.
Pada prinsipnya, proses penataan bangunan dan lingkungan HARUS berazaskan kebenaran substansial
terlebih dahulu, agar dapat menjamin persyaratan Keselamatan, Kesehatan, Kenyamanan dan Kemudahan. Apabila
kebenaran substansial sudah ditetapkan sesuai kondisi fisik/spasial, kondisi normatif dan kondisi fungsionalnya,
baru dapat di susun atau ditetapkan proses administratif/proseduralnya.
Dengan demikian, perkara
penataan substansi penataan
bangunan dan lingkungan akan di
dukung atau dipercepat dengan
proses administrasi/prosedur birokrasi,
dan bukan sebaliknya yaitu proses
administrasi menghambat penataan
fisik/spasial yang pada umumnya
bergerak lebih cepat
perkembangannya.

LINGKUP SUBSTANSI
DAN WILAYAH
Lingkup substansi penataan
ini secara prinsip harus sesuai dengan arahan pada PP 36/2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU no 28/2002
tentang Bangunan Gedung, sebagai berikut :
(Paragraf 5 : Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) / Pasal 27 28)

Pengaturan persyaratan tata-bangunan sbg tindak lanjut RTRW Kab/Kota dan-atau RDTRKP,
digunakan dalam pengendalian pemanfaatan ruang suatu kawasan, untuk mewujudkan
kesatuan karakter serta kualitas BG dan lingkungan yang berkelanjutan.

RTBL disusun oleh Pemda, atau Kemitraan Pemda-Swasta-Masyarakat sesuai tingkat


permasalahan pada lingkungan/kawasan ybs.

Pola penataan BG dan L meliputi : Perbaikan, Pengembangan kembali, Pembangunan baru,


dan/atau Pelestarian; untuk Kaw.Terbangun, Kaw.yang dilindung/dilestarikan, Kaw.baru yang
potensial berkembang dan/atau Kaw.Campuran.
Secara sistematis, konsep harus mencakup gagasan yang komprehensif dan terintegrasi terhadap komponenkomponen perancangan kawasan, yang meliputi kriteria:
I.
Struktur peruntukan lahan;
V.
Sistem ruang terbuka dan tata hijau;
II.
Intensitas pemanfaatan lahan;
VI.
Tata kualitas lingkungan;
III.
Tata bangunan;
VII.
Sistem prasarana dan utilitas lingkungan;
IV.
Sistem sirkulasi dan jalur penghubung;
VIII.
Pelestarian bangunan dan lingkungan.
Penetapan atau pun pembagian blok pengembangan dapat didasarkan pada karakteristik:
i. Secara fungsional:
3)
Kemudahan implementasi dan
1) Kesamaan fungsi, karakter eksisting atau
prioritas strategi.
pun karakter yang ingin diciptakan;
iii. Dari sisi lingkungan (daya dukung dan
2) Kesamaan dan potensi pengembangan;
kelestarian ekologi lingkungan):
3) Kebutuhan pemilahan dan organisasi
1) Keseimbangan dengan daya dukung
pekerjaan serta strategi
lingkungan, dan perwujudan sistem
pengembangannya.
ekologis yang berkelanjutan;
ii. Secara fisik:
2) Peningkatan kualitas kehidupan ruang
1)
Morfologi blok;
publik melalui penyediaan lingkungan
2)
Pola/patternblok;
yang aman, nyaman, sehat dan menarik
serta berwawasan ekologis.

8/9

Demikian, pokok-pokok penting yang dapat dijadikan pedoman untuk memulai merencanakan penataan
bangunan dan lingkungan di kawasan perkotaan.
Semoga bermanfaat.

Bandung, 31 Januari 2013

Referensi :
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 06/PRT/M/2007
tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan.
Barnett, Jonathan., Urban Design as Public Policy, 1974., McGraw Hill Publication.
Cuthberth, Alexander R., The Form of Cities, 2006., Blackwell Publishing.
*) Dosen di jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Unpar sejak 1981.
Lektor Kepala, pada bidang Arsitektur Kota.
S1-Arsitektur 1980 di Unpar / S2-PWK 1987 di ITB.
Anggota asosiasi profesi perencana kota, Ikatan Ahli Perencana, bersertifikat
no 336/BSP-IAP/P/LPJKN/IV/2012 sebagai Ahli Utama Perencana Wilayah dan Kota.

9/9